Anda di halaman 1dari 15

Berternak Ayam Kampung Secara Sehat Pendahuluan

Bagi masyarakat Indonesia, ayam


kampung sudah bukan hal asing.
Sejak kecil kita setiap hari bisa
melihatnya. Walau saat ini dikota-
kota besar sudah jarang terlihat
ayam kampung berkeliaran bebas,
bukan berarti keberadaannya
punah. Di pinggiran kota masih
banyak orang memelihara ayam
kampung. Baik dibudidayakan
secara sungguh-sungguh maupun
hanya sekedar peliharaan untuk
memanfaatkan sisa-sisa makanan
yang dibuang begitu saja.

Ayam kampung mempunyai nilai


gizi yang baik. Selain itu juga mempunyai rasa yang lebih khas dan nikmat
dibanding dengan jenis ayam pedaging maupun petelur. Serat yang liat dan kenyal
menjadi ciri utamanya.

Ayam kampung mempunyai keistimewaan dibanding yang lain, diantaranya adalah


ayam kampung lebih tahan terhadap penyakit. Tahan dan mudah menyesuaikan
dengan cuaca di Indonesia. Makanannya mudah, bahkan bila dipelihara ala kadarnya
cukup diberi makanan sisa-sisa dan dapat dilepas secara bebas. Namun demikian
dibutuhkan pengetahuan yang memadai bagi kita yang ingin beternak ayam
kampung baik dalam sistem pemeliharaan, pembuatan kandang, pemberian pakan
maupun merawat kesehatan agar ayam dapat berkembang secara sehat.

Sistem Pemeliharaan Ayam Kampung

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan ayam kampung adalah
peternak harus memilih calon induk yang baik yaitu: bulu mengkilat, kakinya segar
tidak kering, lebar tulang dubur 2-3 jari tangan, dan jarak antara akhir tulang dada
sampai tulang dubur 4-5 jari (semakin panjang perut, semakin baik sebagai tempat
menyimpan banyak telur di perutnya).

Langkah berikutnya yaitu cara pemeliharaan calon induk ayam kampung yang
diperoleh dari hasil tetasan.

A. Pemeliharaan Anak
Ayam (Umur 1-8 Minggu)

Anak ayam yang baru


menetas dari telur sangat
peka terhadap perubahan
suhu. Kandang ayam bisa
terbuat dari kotak kawat yang
diberi lampu atau di dalam kandang dibuatkan lingkaran seng dan diberi pemanas
lampu bohlam. Ukuran kandang disesuaikan dengan jumlah anak ayam yang
dipelihara. Kapasitas untuk anak ayam per m2 di dalam induk buatan adalah: 50
ekor untuk ayam umur 1-10 hari, 40 ekor ekor anak ayam umur 11-20 hari, dan 25
ekor untuk anak ayam umur 21-28 hari.Kandang harus sering dibersihkan dan
disemprot dengan desinfaktan. Letak tempat makan, tempat minum, dan pemanas
harus tersedia dengan baik dan nyaman agar dalam proses pemberian pakan tidak
bermasalah terhadap anak ayam. Misalnya lampu pemanas tidak boleh terlalu dekat.
Pemberian pakan dan minuman juga harus dicampur dengan vitamin.

b. Pemeliharaan Ayam Lepas Induk/Dara (Umur 9-20 Minggu)

Selama periode ini ayam harus


diberi pakan yang cukup sehingga
pada saat bertelur memiliki badan
yang sehat. Tempat minum yang
dibutuhkan sebanyak 2 buah (8
liter) untuk 50 ekor ayam. Satu
tempat pakan berdiameter 40 cm
cukup untuk 12-15 ekor ayam
dara. Tinggi tempat pakan
sebaiknya sejajar dengan pundak
ayam atau 2,5-5 cm di atas
pundaknya. Pemberian cahaya
tambahan juga diperlukan untuk
merangsang pembentukan hormon LH (luteinizing hormon) dan FSH (folicle
stimulant hormon) yang berfungsi dalam pembentukan telur. Kontrol kesehatan,
pemberian vaksinasi, dan sanitasi kandang juga diperlukan agar wabah penyakit
seperti cacing bulat, tetelo dan sebagainya dapat dicegah.

c. Pemeliharaan Ayam Dewasa (Umur Lebih dari 20 Minggu)

Ayam kampung betina yang


baik akan mulai bertelur pada
umur 22 minggu. Periode ini
ayam memerlukan sarang
untuk meletakkan telur.
Sebaiknya sarang telah
masuk ke kandang pada saat
ayam berumur 19 minggu.
Sarang diletakkan pada
tempat yang gelapdan
tenang. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi produksi
telur ayam adalah umur
dewasa kelamin, intensitas
bertelur, sifat mengeram, dan
pakan yang diberikan. Umur
dewasa ideal ayam kampung
untuk bertelur adalah 22-23 minggu dengan intesitas bertelur sebanyak 10-12 butir
dan setelah itu mengeram. Lama pengeraman biasanya 21 hari. Pemberian pakan
periode ini harus mencukupi sesuai kebutuhan. Diperlukan tempat pakan satu buah
yang berdiameter 40 cm untuk 12-15 ekor ayam, sedangkan tempat minum dua
buah (8 liter) untuk 50 ekor ayam. Selama periode bertelur ayam kampung
sebaiknya diberi kulit kerang yang telah dihancurkan atau dibuat tepung kira-kira
1,5 kg/100 ekor/minggu.

Kandang Ayam

Kandang merupakan unsur


penting dalam
menentukan keberhasilan
suatu usaha peternakan
ayam kampung. Oleh
sebab itu kandang harus
memenuhi berbagai syarat
yang dapat menjamin
kesehatan serta
pertumbuhan yang baik
bagi ayam yang dipelihara
sehingga ayam dapat
berproduksi sesuai harapan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kandang ayam adalah bentuk
kandang dan kondisi tempat, keadaan tanah, jenis ayam yang akan dipelihara,
bahan bangunan kandang, dan biaya.

Secara umum kandang dibedakan menurut sistem, bentuk dan bangunan. Bentuk
kandang yang biasa dibuat adalah kandang sistem ren dan sistem litter (postal).
Letak kandang sebaiknya terpisah agak jauh dari rumah tinggal agar ayam hidupnya
tenang, bagian depan sebaiknya menghadap ke timur sehingga cukup sinar
matahari.

a. Kandang sistem Ren

Kandang sistem ren


mempunyai halaman
pengumbaran sehingga ayam
dapat berjalan-jalan dengan
bebas, kandang ini terbagi
menjadi 2 bagian, yaitu
bagian pertama terdiri atas
kandang dengan atap beserta
perlengkapannya seperti
tempat pakan, tempat
minum, dan sarang untuk
bertelur. Bagian kedua berupa
lantai atau halaman umbaran
yang dibatasi pagar setinggi ±
2,5 m. Atap kandang terbuat
dari genting atau rumbia. Bahan dinding kandang dan pagar halaman umbaran
umumnya terbuat dari bambu, kayu, atau anyaman kawat Di halaman umbaran ini
sebaiknya terdapat rumput atau tumbuhan perdu sehingga ayam yang diumbar
dapat memakan hijauan namun banyak memerlukan tempat, dan jika terjangkit
penyakit penjalarannya lebih cepat.

Kandang Sistem Postal (Litter)

Bangunan kandang sistem


postal ini tidak mempunyai
halaman pengumbaran.
Setiap hari ayam selalu
berada di dalam kandang
yang beralaskan litter
(misalnya sekam padi dan
serutan kayu) Oleh karena itu
kandang sistem ini juga
disebut kandang sistem litter.

Keuntungan kandang sistem ini adalah menghemat tempat, tenaga, biaya, tata
laksana lebih mudah, dan ayam bisa mendapat tambahan vitamin B-12 dari
hamparan penutup lantai (litter). Pada ayam petelur, konvensi pakan cenderung
lebih baik. Demikian juga produksi telurnya lebih tinggi dan kulit telurnya lebih tebal.
Kekurangannya adalah apabila terjadi suatu penyakit maka penjalarannya sangat
cepat, terutama disebabkan adanya cacing dan parasit.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang meliputi:

1. Kebutuhan Ruang

Kebutuhan ruang untuk kandang ayam ditentukan oleh jenis ayam yang dipelihara,
periode kelompok umur, serta sistem kandang yang dipilih. Penempatan ruang bagi
ayam pada prakteknya juga perlu mempertimbangkan ketersedian lahan untuk
membangun kandang secara ekonomis.

2.Tempat pakan dan minum

Bentuk, ukuran dan jumlah peralatan pakan dan minum disesuaikan dengan umur
ayam. Tempat pakan dan minum terbuat dari papan /kayu, plastik, atau seng.
3. Tempat bertengger

Kandang ayam sistem ren atau


litter dapat disediakan tempat
bertengger yang terbuat dari
papan dengan ukuran panjang 35
cm/ekor dan tinggi 45 cm.
4. Tempat bertelur

Ayam kampung yang


dipelihara dengan sistem
postal/litter harus dilengkapi
dengan tempat bertelur yang
bertelur yang berukuran
35x45x40 cm dan alas kotak
diberi alas jerami/rambut.

5. Tirai kandang.

Pada malam hari/musim hujan,


bagian dinding kandang yang
terbuka perlu ditutupi tirai
(selimut) dari plastik sehingga
anak ayam yang belum tumbuh
bulu terlindungi dari hembusan
angin.

6. Indukan/pemanas.
Indukan dapat berbentuk bundar/persegi empat
dengan alat pemanas di tengah-tengah berguna
untuk menghangatkan ayam yang baru
menetas. Indukan yang berbentuk bundar
dapat memuat antara 375-450 ekor dengan
diameter ± 1,2 m yang berbentuk persegi
panjang dapat memuat 450-525 ekor.

7. Alat-alat kesehatan

Pada peternakan ayam


yang intensif perlu
disediakan alat-alat
kesehatan untuk
melakukan
pemeriksaan sedini
mungkin alat-alat
kesehatan tersebut
berupa gunting,
pinset, pisau,
pemotong, alat suntik / (spuit), kertas koran dan ember.

Pakan Ayam

Bahan pakan ayam harus mengandung zat-zat penting bagi pertumbuhan ayam
yaitu mengandung:

a. Karbohidrat

Merupakan senyawa organik yang


dibutuhkan oleh tubuh ayam untuk
menghasilkan energi. Dalam tubuh ayam
karbohidrat disimpan dalam bentuk
glikogen di dalam otot dan hati. Jika
berlebih senyawa ini akan diubah menjadi
lemak yang disimpan di bawah kulit dan di
sekeliling organ-organ dalam. Bahan pakan yang mengandung karbohidrat adalah
bekatul dan jagung.

b. Lemak

Berfungsi sebagai penghasil energi


dan pelarut vitamin A, D, E, dan K.
Kebutuhan lemak bagi ayam
kampung dapat dipenuhi antara
lain melalui pemberian minyak
biji-bijian, bungkil kacang, dan
bungkil kelapa.

c. Protein

Protein berfungsi vital sebagai pengganti sel-sel tubuh yang rusak dan sebagai
pembangun tubuh. Pemberian ransum dengan kadar protein yang cukup akan
mempercepat pertumbuhan. Kebutuhan protein bisa melalui pakan nabati dan pakan
hewani. Bungkil kelapa, bungkil kedelai, dan bungkil kacang tanah adalah contoh
pakan nabati sedangkan tepung ikan merupakan pakan hewani.

d. Mineral
Mineral dibutuhkan hanya sedikit namun mempunyai
peran penting bagi fungsi fisiologi tubuh ayam. Mineral
yang dibutuhkan antara lain adalah kalsium (Ca), fosfor
(P), Natrium (Na), besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn),
iodium (I), kobalt (Co), tembaga (Cu). Kebutuhan ayam
terhadap mineral secara lengkap dapat dipenuhi dengan
cara membeli mineral buatan pabrik, meskipun bisa
didapat dari pemberian pakan hijau-hijauan segar seperti
kangkung, bayam, kecambah, daun pepaya, daun lamtoro
dan sebagainya.

e. Vitamin

Sumber vitamin A untuk ayam


diperoleh dari jagung kuning, dan
hijauan segar; vitamin D dapat
diperoleh dari minyak ikan; vitamin E
diperoleh dari hijauan segar, vitamin
K diperoleh dari tepung ikan.
Kelompok vitamin B dapat diperoleh
dari biji-bijian. Vitamin C.

f. Air
Air yang diberikan kepada ayam harus
memenuhi kriteria air sehat seperti yang
diminum manusia.

g. Kombinasi bahan pakan

Jumlah pakan dan kandungan protein dalam


ransum berbeda-beda untuk setiap periode
pertumbuhan. Pada anak ayam umur 1-4
minggu, kandungan protein yang diberikan lebih
tinggi dari pada ayam dara untuk pertumbuhan.

Ransum untuk ayam berumur 5-9 minggu berupa


campuran pakan starter (dapat dibeli di took
sarana produksi ternak) dan dedak dengan
berbandingan 1:3. Ayam diberikan pakan 2 kali
sehari pukul 6.00-7.00 dan 15.00-16.00, sedang
pakan hijau diberikan pada siang hari.

Ransum yang diberikan untuk ayam kampung


umur 10-20 minggu terdiri dari dedak, jagung
giling dan konsentrat dengan perbandingan per
100 kg bahan pakan adalah dedak 25 kg, jagung giling 45 kg dan konsentrat 30 kg
ditambah hijauan segar sebanyak 18-20 gram/hari/ekor.

Untuk ayam berumur 21-80 minggu terdiri dari dedak 30 kg, jagung giling 40 kg dan
konsentrat 30 kg pada setiap 100 kg bahan pakan ditambah hijauan 20
gram/hari/ekor. Pakan diberikan 2 kali sehari dan hijauan diberikan siang hari.

g.Penyedian Ransum
Untuk menyusun ransum dengan kadar protein tertentu dapat dilakukan dengan
metode coba-coba. Diharapkan dengan metode ini ditunjang dengan pengalaman
serta ketekunan, nantinya akan diperoleh susunan ransum yang paling sesuai untuk
ayam kampung. Oleh karena itu perlu diketahui terlebih dahulu kandungan protein
dan energi masing-masing bahan yang akan disusun.

Contoh ransum anak ayam umur 1-8 minggu:


Jagung 20%; beras 25%; dedak halus 25%; bungkil kedelai 12%; kulit kerang 5%;
tepung ikan 12,5%; garam dapur 0,5%.

Contoh ransum ayam umur 9-12 minggu:


Jagung 40%; dedak halus 22%; bungkil kacang tanah 6%; kacang hijau 4%;
bungkil kelapa 5%; tepung tulang 1%; kapur 0,5%; kulit kerang 0,5%; daun pete
cina 0,75%; mineral campuran 7%; vigofac-6 0,15%.

h. Metode pemberian pakan

Pakan yang akan diberikan kepada ayam perlu ditempatkan dalam wadah tertentu
Sehingga memudahkan ayam mematuk pakan dan menjaga ransum tidak
bertebaran. Wadah disesuaikan dengan ukuran tubuh ayam.

Di antara metode pemberian pakan ayam adalah:

1. Metode All Mash

Pemberian ransum metode ini disebut juga


dengan metode tradisional yaitu dengan cara
pakan ditaburkan di bak pakan. Ransum dan
pakan yang diberikan tersebut sudah
mengandung semua unsur nutrisi yang
dibutuhkan. Metode inilah yang banyak
dikenal selama ini dan sudah sejak lama
diterapkan oleh peternakan ayam di
Indonesia.

2. Metode Prasmanan

Pemberian pakan dengan metode ini


disajikan layaknya manusia makan di
restoran yaitu ayam dihadapkan pada
beberapa macam bahan pakan baik itu
berupa bijian, bungkil, atau tepung ikan.
Kelebihan metode ini adalah bisa menunjang selera ayam karena ayam diberi
kebebasn untuk memilih bahan pakan yang disukai. Metode ini sering digunakan
untuk kepentingan penelitian terutama untuk mengetahui derajat kesukaan ayam
terhadap satu atau lebih bahan pakan baru yang akan digunakan kelak.

3.Metode Mash grain

Pemberian pakan dengan cara


gabungan disebut juga metode mash
gain. Prinsip metode ini tetap pada
ransum yang diberikan. Artinya
ransum diberikan mengandung
semua unsur nutrisi yang dibutuhkan
ayam hanya saja kandungan
proteinnya lebih diperbanyak.

Penyakit dan Pencegahannya

Pada umumnya ayam terserang


penyakit disebabkan karena virus,
bakteri, dan parasit yang dipengaruhi
oleh lingkungan kandang yang
lembab dan kotor, kekurangan vitamin, keracunan, tempat pakan dan minuman
yang kotor, dan sifat kanibal. Berikut ini adalah beberapa penyakit yang sering
menyerang ayam kampung dan cara pencegahnya.

1. Tetelo (Newcastle disease)

Merupakan penyakit yang ganas yang dapat


menimbulkan kematian pada ayam
kampung. Gejalanya adalah pada awal
penularan ayam terlihat lesu, mengantuk,
kepala selalu tertunduk, nafsu makan
berkurang, sayap terkulai kebawah, ayam
mencret dengan kotoran yang disertai lendir
berbau kadang disertai darah, ayam sulit
bernafas, batuk-batuk dan bersin. Gejala lain
pada ayam yang sudah berproduksi adalah
menurunnya produksi telur dan menipisnya
kulit telur, tubuh gemetar, kepala dan leher berputar-putar, ayam berjalan mundur
dan mengalami kelumpuhan.

Penyebab penyakit tetelo adalah virus totorturen. Dapat menyerang semua umur
ayam. Penyakit ini sulit sekali disembuhkan karena belum ada obat yang tepat,
kebersihan lingkungan harus dijaga, vaksinasi yang tepat dan teratur merupakan
cara pengendalian penyakit tetelo yang terbaik.
2. Berak Kapur

Penyebabnya adalah bakteri Salmonella


pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala penyakit ditunjukkan dengan kotoran
ayam berwarna putih, nafsu makan hilang,
sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap
lemah menggantung. Tindakan pemisahan
ayam yang sakit dan peningkatan sanitasi
kandang merupakan pencegahan terhadap
penyakit ini.

3. Pilek/snot

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri haemophilus gallinararum dan digolongkan


penyakit akut yang mudah menyebar. Gejala awal ayam selalu menggeleng-geleng
kepalanya untuk menghilangkan lendir dari hidungnya, yang lama-lama menjadi
kental dan bau busuk. Bagian muka dan mata ayam tampak membengkak, dapat
menimbulkan bunyi ngorok dan menyulitkan pernafasan, nafsu makan berkurang
sehingga berat badan ayam menurun. Di Penyebarannya melalui air minum, pakan,
udara, atau kontak langsung dengan ayam yang sakit. Pencegahannya dengan
menjaga sanitasi lingkungan kandang, hindari kandang yang kotor dan lembab.
Diusahakan agar kandang selalu mendapat sinar matahari yang cukup. Ayam yang
sakit harus diisolasi dan diobati dengan injeksi antibiotik streptomisin dengan dosis
150 mg/kg berat badan ayam selama 2-3 hari.

4. Cacingan

Penyakit ini disebabkan oleh cacing Ascaridia galli dan


cacing heterakis galline. Kedua cacing ini menyebabkan
anemia dan depresi pada ayam yang terserang. Gejala
umumnya adalah ayam pucat, kurus, lemah,
kehilangan nafsu makan dan pertumbuhan terhambat.
Pencegahannya adalah sanitasi lingkungan harus
kering dan bersih sehingga siklus cacing-cacing parasit
terputus, kandang dibersihkan dengan disinfektan. Seperti biosid, lisol, karbon, dan
kalium manganat. Cara lain dengan obat cacing pada anak ayam berumur secara
teratur mulai umur 35 hari. Pada ayam yang terkena cacingan dapat diobati dengan
piperazin sebanyak0,1 -0,2% dalam air minum.

5. Kutuan

Gejalanya antara lain ditandai


dengan ayam gelisah sering
menyisir/mematuk-matuk bulu
karena gatal kemudian ayam
sering mengibas-ibaskan bulunya.
Ayam terlihat tampak kurus dan
pucat. Penyebabnya adalah
serangan kutu dan tungau
sedangkan pencegahnya adalah
dengan sanitasi lingkungan harus
bersih, memisahkan ayam yang
terkena kutu dapat juga diobati
dengan karbonat yaitu sevin
dengan konsentrasi 0,15% yang diencerkan dengan air kemudian disemprotkan ke
tubuh ayam atau dengan pengasapan/fumigasi insektisida yang mudah menguap
misalnya nicotine sulfat/blackleaf 40. Pemakainya menurut anjuran yang terdapat
dalam label kemasan

Penutup

Ayam kampung banyak dipelihara masyarakat Indonesia karena dapat mencari


makan sendiri, sehingga biasanya pemeliharaannya dengan dilepas begitu saja tanpa
diperhatikan kesehatannya, pertumbuhan maupun produksinya.

Walaupun demikian, ternak ayam kampong memiliki potensi yang cukup besar
dalam mendukung ekonomi dan konsumsi protein hewani masyarakat. Untuk
menjadikan ayam kampung sebagai ternak komersial, maka produksinya perlu
ditingkatkan.

Pengetahuan yang cukup mutlak diperlukan agar ayam kampung tersebut tampak
sehat, badannya padat dan bebas dari penyakit yang akan menyerang. Uraian di
atas mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dalam hal pemeliharaan,
pemberian pakan dan pembuatan kandang bagi pembaca yang ingin beternak ayam
kampung secara sehat.
Tim

Tim Pengembang untuk materi Beternak Ayam Kampung Secara Sehat

Penulis : M. Djaenudin
Pengkaji Materi : Ir. Sri Hartinah,M.Si
Pengkaji Media : Uwes A Chaeruman, M. Pd

Pemimpin Produksi : Andi Sulistiono


Pemrogram : Aryo G. Suropati
Desain Grafis : Sukisno