Anda di halaman 1dari 8

TUGAS KELOMPOK 3

AKTUALISASI KEMAMPUAN AWAL BELA NEGARA MELALUI


KESINAMBUNGAN INTEGRITAS DAN KINERJA ORGANISASI PELAYANAN
PUBLIK DALAM KERANGKA KERJA NILAI NILAI DASAR BELA NEGARA

PROGRAM PELATIHAN : PELATIHAN KEPEMIMPINAN PENGAWAS

MATA PELATIHAN : BELA NEGARA KEPEMIMPINAN PANCASILA

PENUGASAN : TUGAS KELOMPOK

NAMA PESERTA:

1. NENNY INDRAWATY, S.Pi, M.Si


2. RAMLAN, SH
3. RIRI RAHAYU, SE
4. RISDA FAUZANA, M. Env
5. SAFRIZAL, SE
6. SULAIMAN, SP
7. SUSANTY, SH
8. TIKA RAHMI SYAFITRI, SE, M.Ak
9. WAHYU ANUGRAH, ST
10. YEPI KURNIADI, SKM, M.KL

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA


PEMERINTAH PROVINSI RIAU
TAHUN ANGGARAN 2021
BAB I
PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
 Pada masa pendudukan Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian
pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan
Thailand. Berdasarkan Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Nomor 391 tanggal 9 Juni
1947, Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera. Pada masa
mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bukitinggi berperan sebagai kota
perjuangan dan ditunjuk sebagai Ibu Kota Negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke
tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang
dibentuk pada 19 Desember 1948 di Bukittingi, Sumatera Barat oleh Syafruddin
Prawiranegara.
 Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia tanggal 18 Desember 2006. Untuk mengenang sejarah
perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pemerintah Republik
Indonesia membangun Monumen Nasional Bela Negara di salah satu kawasan yang pernah
menjadi basis PDRI tepatnya di Jorong Sungai Siriah, Nagari Koto Tinggi, Sumatera Barat.
 Saat ini, kita sebagai ASN dituntut untuk meneruskan perjuangan tersebut melalui
implementasi dan aktualisasi Bela Negara dengan etika dan integritas serta nilai-nilai
Pancasila di kehidupan sehari-hari serta di tempat kita bertugas

II. DASAR HUKUM


a) Undang Undang Dasar Tahun 1945,
Pasal 27 ayat (3) mengamanatkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam upaya pembelaan negara”.
Pasal 30 ayat (1) mengamanatkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut
serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”
b) Undang Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara Pasal 9 ayat (1)
mengamanatkan bahwa “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
bela negara yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pertahanan negara”. Selanjutnya
pada ayat (2) Keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara, sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), diselenggarakan melalui:
 pendidikan kewarganegaraan;
 pelatihan dasar kemiliteran secara wajib;
 pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia secara sukarela atau secara
wajib; dan
 pengabdian sesuai dengan profesi (titik berat upaya bela negara oleh ASN)

c) Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Azazi Manusia pada pasal 68 yang
berbunyi Setiap warga negara wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

III. DEFINISI
Berangkat dari UU no 32 tahun 2002 sebagaimana tertuang pada poin B sebelumnya, maka
dapat ditarik kesimpulan terhada definisi Bela Negara.
• Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya
kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang
seutuhnya.
• Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh
sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran
• Aktualisasi adalah proses implementasi seorang individu dari minat, kreativitas, keinginan
untuk berkembang (dalam kaitannya dengan ASN bertujuan untuk meningkatkan prestasi
kerja)

IV. TEORI
a. Nilai-nilai dasar Bela Negara :
• Kecintaan kepada tanah air
• Kesadaran berbangsa dan bernegara
• Yakin kepada Pancasila dan Ideologi Negara
• Rela berkorban untuk bangsa dan Negara
• Memiliki kemampuan bela Negara baik secara psikis maupun fisik
• Semangat mewujudkan Negara yang berdaulat, adil dan makmur

Seorang pemimpin harus mempunyai nilai-nilai dasar bela Negara, selain itu juga harus
mempunyai Integritas yang sejatinya akan menghasilkan kebijakan yang akan tertuang
dalam regulasi yang dibuat untuk kepentingan rakyat, sehingga perlu ditekankan bahwa
segenap rencana kerja pemerintah (pusat dan daerah) merupakan perwujudan Bela
Negara sesuai tugas dan fungsinya masing masing dan menghasilkan output kinerja
pelayanan publik yang baik dan memuaskan

b. Kondisi Ideal Ketahanan Nasional


Untuk mendukung penerapan nilai-nilai bela negara tersebut diperlukan kondisi ideal
ketahanan nasional dalam bentuk Panca Gatra :

1. Gatra ideologi
Merupakan kondisi mental bangsa Indonesia yang berlandaskan keyakinan akan
kebenaran ideologi Pancasila
2. Gatra politik
Merupakan kondisi kehidupan politik bangsa yaitu demokrasi yang berlandaskan
Pancasila dan UUD NRI 1945 agar mampu memelihara stabilitas politik dan mampu
menerapkan politik luar negeri yang bebas aktif
3. Gatra ekonomi
Merupakan kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang berlandaskan demokrasi
ekonomi berlandaskan Pancasila untuk memeilhara stabilitas eknmi yang sehat dan
dinamis serta mampu menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing
tinggi dan meuwujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata
4. Gatra sosial budaya
Merupakan kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional
berlandaskan Pancasila, agar mampu membentuk dan mengembangkan masyarakat
Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, rukun, bersatu, cinta tanah air,
berkualitas, maju dan sejahtera kehidupan yang serba selaras, serasi dan seimbang dan
memiliki kemampuan untuk menangkal penetrasi asing yang tidak sesuai
5. Gatra pertahanan keamanan
Merupakan kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara agar
mampu memelihara stabilitas pertahanan keamanan negara yang dinamis, mengamankan
pembangunan dan hasilnya, serta mampu mempertahankan kedaulatan negara dan
menangkal segala bentuk ancaman
BAB II
AKTUALISASI KEMAMPUAN AWAL BELA NEGARA MELALUI KESINAMBUNGAN
INTEGRITAS DAN KINERJA ORGANISASI PELAYANAN PUBLIK DALAM KERANGKA
KERJA NILAI NILAI DASAR BELA NEGARA

Aktualisasi adalah proses implementasi seorang individu dari minat, kreativitas,


keinginan untuk berkembang (menurut perfilyeva), sedangkan menurut pratika (2014)
aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengembangkan bakat dan kapasitas diri.
Aktualisasi diri dalam kaitannya dengan Aparatur Sipil Negara dapat meningkatkan prestasi
kerja mereka. Untuk melakukan aktualisasi kemampuan awal Bela Negara diperlukan kesiapan
warga negara (dalam hal ini ASN peserta pelatihan)

Siap seperti apa? Siap secara FISIK dan PSIKIS. Tidak hanya aksi FISIK di lingkungan tempat
kerjanya masing-masing. Namun juga menunjukkan jati diri, sikap dan prilaku yang
berlandaskan nilai-nilai Bela Negara (PSIKIS)

Untuk itu dalam tugas kelompok ini kami mengambil aktualisasi dalam proses
Penganggaran APBD yang dimana kami rasa cukup kompleks dalam menggambarkan
Integritas dan kinerja organisasi pelayanan publik yang di tampung dalam wadah Tim
Anggaran Pemerintah Daerah atau biasa kita sebut dengan Tim TAPD. Berikut akan kami
paparkan siklus penganggaran :
Dalam proses perencanaan penggangaran tentunya di mulai dengan menyerap
Aspirasi aspirasi masyarakat yang dituang dalam wadah Musrenbang dengan melibatkan
seluruh komponen masyarakat / organisasi / stake holder terkait dimana dalam hal ini akan
berjalan secara demokratis yang juga termasuk dalam Gatra Politik serta nilai bela Negara kita
sebagai seorang pemimpin akan mengerti mana yang menjadi prioritas kita untuk
kemaslahatan masyarakat kita yang juga harus disandingkan dengan prioritas nasional dan
prioritas daerah kemudian sesuai dalam Gatra Ideologi dalam proses ini kita akan memilah
memilih mana aspirasi yang sesuai dengan ideologi bangsa kita dan memunculkan kegiatan
kegiatan yang dapat mempersatu bangsa dengan itu akan muncul nilai nilai dasar bela Negara
yang berbunyi semangat mewujudkan Negara yang berdaulat, adil dan makmur. Setelah
aspirasi dikumpulkan dalam bentuk RKPD akan dibahas dan dibuat rancangan KUA tentunya
kita juga bisa memasukkan selain hasil dari aspirasi aspirasi masyarakat kita juga bisa
memasukkan kreatifitas untuk kemajuan pelayanan public kita seperti contohnya pada OPD
Bapenda dimana mempunyai pelayanan public berupa Samsat. Untuk mendapatkan
penerimaan daerah yang tinggi kita harus punya inovasi inovasi untuk mewujudkan integritas
kita sebagai pelayan public serta kita harus membuat kemudahan kemudahan yang bisa
langsung dirasakan oleh masyarakat mengingat zaman sekarang sangat erat kaitannya
dengan IT, internet dan sebagainya. Dengan kenyamanan masyarakat dalam membayar pajak
tentu akan timbul Gatra ekonomi dimana pemerintah provinsi riau khususnya dapat menjaga,
memelihara kestabilan ekonomi serta dapat mampu menciptakan kemandirian ekonomi.
Seperti hal yang kita ketahui sampai saat ini proporsi penganggaran kita dalam APBD masih di
dominasi oleh Dana Transfer pemerintah pusat. Kemudian dalam mengusulkan kegiatan lain
seperti halnya dalam Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura dalam kegiatan
Pengembangan Komoditi dalam satu Daerah harus memperhatikan sosial budaya dan tipologi
daerah. Sebagai contoh, terkait pengembangan komoditi sagu yang sesuai dengan tipologi
daerah kabupaten Kepulauan Meranti dan apabila komoditi sagu tersebut dianggarkan
ditempat lain belum tentu akan berhasil dan cocok dengan sosial budaya di daerah tersebut.
Hal tersebut merupakan bagian dari Gatra Sosial budaya.

Selanjutnya dalam proses pembahasan APBD selesai, dilakukan harmonisasi dalam


bentuk penyelarasan peraturan perundangan dan tidak bertentangan dengan kepentingan
umum yang merupakan upaya untuk melindungi kepentingan bangsa dan negara yang
merupakan bagian dari gatra pertahanan dan keamanan. Sebelum menjadi Rancangan
Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah yang akan ditetapkan oleh Kepala Daerah, Biro
Hukum menyampaikan evaluasi ke Kementerian Dalam Negeri dan selanjutnya berkoordinasi
dengan Kementerian Keuangan dan dilanjutkan dengan penetapan Perda dan Perkada.
Pada proses pelaksanaan, sebagai contoh pada Dinas Kelautan dan Perikanan untuk
proses pemberian bantuan yang tepat sasaran guna menstabilkan ekonomi masyarakat yang
bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran masyarakat yang merupakan bagian
dari nilai-nilai dasar bela negara.

Kemudian pada proses Pertanggung jaawaban Keterbukaan Informasi sangat di


perlukan. Dengan melakukan pencatatan dan Pelaporan yang Jujur yang dilaksanakan dengan
sistem aplikasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Pusat yang pelaksana memberikan
banyak manfaat seperti pembayaran yang tepat waktu, tepat sasaran, pencatatan keuangan
yang lebih rapi dan terdokumentasi secara baik, meminimalisir terjadinya penyalahgunaan
uang negara yang dengan sendirinya ini merupakan salah satu bentuk dari bela negara dari
segi pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik.

Saat ini kami yang bekerja di lingkungan Pertanggungjawaban keuangan daerah ikut
terlibat langsung dalam pengembangan sistem SIPD permendagri 90 tahun 2020 , turut serta
menyusun konsep-konsep pembayaran secara non tunai yang dituangkan dalam Instuksi
Gubernur Nomor 1 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Transaksi Non Tunai di Lungkungan
Pemerintah Provinsi Riau. Sistem pembayaran secara non tunai adalah sebuah keniscayaan
dari kemajuan teknologi secara global. Transaksi non tunai memberikan efek yang positif bagi
pengelolaan keuangan daerah, terutama dalam pengelolaan belanja yang ada pada bendahara
perangkat daerah. Dengan melakukan pembayaran secara non tunai yang dilaksanakan
dengan sistem aplikasi yang dikembangkan oleh bank pelaksana memberikan banyak manfaat
seperti pembayaran yang tepat waktu, tepat sasaran, pencatatan keuangan yang lebih rapi
dan terdokumentasi secara baik, meminimalisir terjadinya penyalahgunaan uang negara yang
dengan sendirinya ini merupakan salah satu bentuk dari bela negara dari segi pengelolaan
keuangan daerah yang lebih baik.

Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan Dalam konteks pelayanan publik, integritas
organisasi pelayanan public akan meningatkan kepercayaan public. Sementara keberadaan
etika, kompetensi, akuntabiitas, dan tentunya transparansi yang menjadi pembangunan
integritas, juga akan meningkatkan kepuasan public.

Contoh selanjutnya :
Di UPT. Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang Disperindagkop UKM, dimana melakukan
pelayanan publik secara langsung ke masyarakat. UPT. PSMB merupakan salah satu
pemegang amanat UU 20 tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian sebagai
Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK). LPK adalah sebuah lembaga yang melakukan kegiatan
penilaian kesesuaian.
Penilaian kesesuaian seperti apa? Berdasarkan pergub 44 tahun 2020, UPT. PSMB
memiliki tupoksi untuk melakukan kegiatan pengujian dan sertifikasi mutu barang, secara
spesifik adalah kegiatan layanan pengujian komoditi, layanan kalibrasi peralatan dan sertifikasi
produk SNI. Dalam menjalankan operasional layanan tersebut, UPT. PSMB membuat dan
menerapkan sistem manajemen mutu yang berbasi ISO 17025 dan ISO 17065 dan persyaratan
peraturan relevan lainnya. Bahkan melalui komitmen yang tinggi, UPT. PSMB juga telah
memperoleh akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional terhadap 3 jenis layanan tersebut.
Melalui penerapan iptek, sistem manajemen tersebut disusun dan diterapkan dengan alur
kerja yang transparan. Seluruh SDM di dalamnya dituntut utk memiliki etika dan integritas
dalam melayani, menjaga kerahasiaan dan bersikap tidak memihak, menjunjung tinggi
profesionalitas dalam bekerja dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Melalui sikap dan perilaku tersebut sedikit banyaknya telah mencerminkan nilai-nilai bela
negara yang berkesinambungan dengan integritas melalui kinerja pelayanan publik yang baik.

BAB II
KESIMPULAN

I. KESIMPULAN

Sasaran dari pembinaan Bela Negara adalah untuk mendorong terciptanya rasa cinta
tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, kesetiaan pada ideologi Pancasila, rela
berkorban demi bangsa dan negara serta memiliki kemampuan awal menegakkan kedaulatan
bagsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD NRI 1945 demi mewujudkan cita-cita luhur
bangsa kita. Diharapkan melalui pembinaan tersebut dapat menciptakan ASN dengan
kepemimpinan yang memiliki integritas dan berlandaskan Pancasila serta nilai-nilai Bela
Negara.