Tahap I:
Menetukan kelas dari masing-
masing daerah tak bergigi
Rahang atas : Gigi yang hilang :
17, 15, 23,24
Klasifikasi Applegate Kennedy
kelas III modifikasi 2P
Rahang bawah : Gigi yang
hilang: 47, 48, 36, 37, 38
Klasifikasi Applegate Kennedy
kelas I
Indikasi Protesa :
Rahang Atas : GTSL resin akrilik
bilateral dengan perluasan basis
ke
distal
Rahang Bawah : GTSL resin
akrilik bilateral dengan perluasan
basis ke
distal.
Tahap I:
Menetukan kelas dari masing-
masing daerah tak bergigi
Rahang atas : Gigi yang hilang :
17, 15, 23,24
Klasifikasi Applegate Kennedy
kelas III modifikasi 2P
Rahang bawah : Gigi yang
hilang: 47, 48, 36, 37, 38
Klasifikasi Applegate Kennedy
kelas I
Indikasi Protesa :
Rahang Atas : GTSL resin akrilik
bilateral dengan perluasan basis
ke
distal
Rahang Bawah : GTSL resin
akrilik bilateral dengan perluasan
basis ke
distal.
Tahap I:
Menetukan kelas dari masing-
masing daerah tak bergigi
Rahang atas : Gigi yang hilang :
17, 15, 23,24
Klasifikasi Applegate Kennedy
kelas III modifikasi 2P
Rahang bawah : Gigi yang
hilang: 47, 48, 36, 37, 38
Klasifikasi Applegate Kennedy
kelas I
Indikasi Protesa :
Rahang Atas : GTSL resin akrilik
bilateral dengan perluasan basis
ke
distal
Rahang Bawah : GTSL resin
akrilik bilateral dengan perluasan
basis ke
distal.
I. Tahap I:
Menetukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi
Rahang atas : Gigi yang hilang : 17,16,13,12,11,21,22,23,24,26,27
Klasifikasi Kennedy kelas I Modifikasi 1
Rahang bawah : Gigi yang hilang: 42,41,31,32,33,34
Klasifikasi Kennedy kelas IV
Indikasi Protesa :
Rahang Atas : GTSL resin akrilik
Rahang Bawah : GTSL resin akrilik
Konstruksi
Rahang Atas: Gingival
Rahang Bawah: Paradental
Desain Cengkram
Rahang Atas: gigi 14,15,25 : ½ jackson gingival
Rahang Bawah: gigi 44,35 : ½ jackson paradental
II. Tahap II :
III. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
IV. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
V. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
VI. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
VII. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
VIII. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
IX. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
X. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
XI. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
XII. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
XIII. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
XIV. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
XV. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
XVI. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
XVII. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
XVIII. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
XIX. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
XX. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
XXI. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
XXII. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
XXIII. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
Tahap II: Menentukan macam
dukungan dari setiap sadel
Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
Tahap II: Menentukan macam
dukungan dari setiap sadel
Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinas
I. Tahap II: Menentukan
macam dukungan dari setiap
sadel
II. Rahang atas: menggunakan
dukungan kombinasi
III. Rahang bawah: menggunakan
dukungan kombinasi
Cetakan anatomis
Alat : Stock Tray ( bersudut,berlubang) , Bowl dan Spattle , alat standar,
Bahan Cetak : Alginate , air
Teknik Mencetak : Open Mouth Technique , Single Impression , Muko Statis
Cara Kerja:
Pasien diinstrusikan untuk berkumur
Coba Sendok cetak pada Pasien
Pasien duduk dengan posisi sedemikian rupa sehingga kepala dan punggung terletak
pada satu garis lurus, dataran oklusal sejajar lantai. Mulut pasien setinggi siku
operator
untuk rahang atas operator berdiri di belakang samping kanan pasien , dan untuk
rahang bawah operator berdiri di sebelah kanan depan pasien
Aduk bubuk alginate + air dengan ratio pabrik
Tempatkan alginate di sendok cetak
masukkan sendok cetak ke dalam mulut pasien dengan menempelkan bagian
posterior lebih dahulu lalu sedikit demi sedikit kearah anterior sampai seluruh gigi
terbenam alginate. untuk rahang bawah instruksikan pasien untuk mengangkat lidah
( garis tengah sendok cetak sejajar dengan garis tengah muka pasien)
selanjutnya pasien diinstruksikan mengucapkan “u” lalu dilakukan muscle trimming
dibagian bukal dan labial
setelah alginate setting , sendok cetak di keluarkan dari mulut
periksa hasil cetakan , bersihkan dengan air mengalir lalu lakukan desinfeksi dengan
menggunakan Natrium hipoklorit (NaOCl) untuk menghilangkan agen infeksi,
keringkan lalu cor dengan plester of paris
-> MODEL STUDI & SCP untuk rahang atas
-> MODEL KERJA untuk rahang bawah
Cetakan Fisiologis
rahang atas
Alat : Sendok cetak perseorangan akrilik( lansung) , Bowl dan Spattle , alat standar,
Bahan Cetak : Zinc oxide Eugenol pasta ( ZnOE )
Teknik Mencetak : OPEN MOUTH TEHNIQUE, SINGLE IMPRESSION, MUKO FUNGSIONAL,
MUKO STATIS
Cara Kerja:
Pembuatan sendok cetak perseorangan pada model studi menggunakan bahan akrilik
Pemeriksaan tepi , panjang, dan kecekatan sendok cetak perseorangan
Border molding SCP -> tepi - tepi s.c. ditambah green stick compound lalu di masukkan
ke mulut dengan teknik cetak muko fungsional
mencetak dengan ZnOE :
S.c. langsung di atas model bagian dalam s.c. di kerok, kecuali tepi-tepi s.c. &
posterior palatal seal.
Beri vaselin sekitar mulut pasien.
Aduk pasta, tempatkan pada s.c.
S.c. masukkan ke dalam mulut, ditekan.
Pasien disuruh melakukan gerakan-gerakan.
Bahan cetak mengeras, keluarkan dari dalam mulut.
Periksa hasil cetakan. Daerah yg tidak tercetak, dikerok lagi, tambah bahan cetak dan
cetak
Beading dan boxing
III. Tahap III: Penentuan Relasi Rahang
- Sebelum penentuan relasi rahang, tahap selanjutnya yang dilakukan adalah pembuatan
lempeng dan galangan gigit.
- Lempeng gigit dapat dibuat dari wax, lalu harus benar-benar menempel pada model kerja,
bentuknya sesuai dengan basis protesa, tepi-tepinya harus tepat, halus dan bulat.
- Galangan gigit dapat dibuat dari wax, caranya dengan memanaskan selapis wax merah lalu
digulung sesuai bentuk residual ridge lalu diletakkan pada daerah gigi yang hilang.
Kemudian tinggi serta lebarnya disesuaikan dengan sisa gigi yang masih ada.
Penentuan DV:
Pada pembuatan GT terlebih dahulu dicari DV fisiologis baru kemudian DV oklusal.
1. DV Fisiologis ditentukan dengan:
- DV diukur pada waktu mandibula berada dalam keadaan istirahat fisiologis.
- Posisi kepala saat pengukuran harus tegak (bidang Frankfurt sejajar lantai ), keadaan pasien
harus tenang, D.V. fisiologis sebagai pedoman / titik pangkal penentuan D.V. oklusal,
2. DV Oklusal ditentukan dengan:
- DV diukur waktu RA & RB dalam keadaan oklusi.
Jarak vertikal antara gigi atas dan bawah pada saat mandibula dalam keadaan istirahat
fisiologis biasa disebut
FREE WAY SPACE = D.V. FISIOLOGIS – D.V. OKLUSAL (± 2-4mm)
Penentuan RS:
IV. Tahap IV: Penyusunan gigi dan percobaan model malam
1. Melakukan pemilihan gigi terlebih dahulu dengan memperhatikan keselarasan antara :
- Warna gigi,
- Ukuran gigi,
- Bentuk gigi, dan
- Susunan gigi.
Penyusunan belom
2. Protesa malam dipasang dalam mulut pasien lalu perhatikan :
- Estetik : Periksa bentuk, warna, susunan gigi.
- Kecekatan : Periksa kontur basis gigi tiruan serta susunan gigi.
- Hubungan rahang : Dimensi vertikal oklusal & relasi sentris.
- GTSL akrilik dicoba tanpa cengkram.
- Perlu juga dilihat kedudukan dan kecekatan cengkram pada gigi penyangga.
Untuk penentuan palatat seal :
- Dilakukan pada waktu percobaan protesa malam / sebelum penyusunan gigi.
- Letak posterior palatal seal adalah pada vibrating line.
- Tepi gigi tiruan ditentukan di dalam mulut dan lokasinya dipindahkan pada model kerja.
V. Tahap V: insersi dan instruksi paska insersi
instruksikan pasien untuk berkumur
memerhatikan path of insertion, kedudukan klammer dan rest yang tidak menekan dan tidak
mengganggu oklusi
memeriksa kontak basis gigi tiruan dengan jaringan pendukung dengan menggunakan PIP
yang diulaskan pada permukaan plat lalu gigi tiruan dimasukkan ke dalam mulut. setelah
dikeluarkan dari dalam mulut maka pasta di daerah yang merupakan undercut/ tertekan akan
terhapus. daerah basis gigi tiruan dimana pasta terhapus dikurangi dengan pengasahan
sampai didapatkan kontak yang rata antara basis dan jaringan pendukung.
pemeriksaan tepi-tepi dan kontur gigi tiruan dengan PIP dalam keadaan mulut berfungsi.
pemeriksaan oklusi menggunakan artikulating papper yang di letakkan anatara gigi atas dan
bawah
Instruksi paska insersi
instruksikan pasien untuk menjaga kebersihan mulut pasien terutama pada daerah yang di
beri klammer untuk mencegah terjainya karies
instruksikan untuk rajin membersihkan gigi tiruan dengan bahan yang tidak abrasif dan
direndam dalam larutan denture oxygen cleaner (DOC)
melepas gigi tiruan pada malam hari agar memberi kesempatan mukosa untuk beristirahan,
dan gigi tiruan sebaiknya di rendam dalam air untuk mencegah perubahan dimensional dari
gigi tiruan