Proses Perbenihan Ikan Mas di Indonesia
Proses Perbenihan Ikan Mas di Indonesia
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas dan berpotensi besar untuk usaha
budidaya berbagai macam jenis ikan air tawar sehingga mampu memproduksi dan
mengeksploitasi dan memenuhi kebutuhan akan sumberdaya perairan guna meningkatkan
kualitas pertumbuhan bagi masyarakat luas.
Ikan mas (Cyprinus carpio L.) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya perairan
tawar karena nilai jualnya yang cukup baik di pasaran. Kegiatan budidaya yang dilakukan mulai
dari perbenihan sampai pembesaran. Ikan mas dapat dibudidayakan pada berbagai media
budidaya seperti karamba jaring apung maupun kolam. Menurut Rukmana (2006), ikan mas
merupakan salah satu dari 15 jenis komoditas ikan yang ditujukan untuk peningkatan produksi
dan pendapatan petani, serta pemenuhan sasaran peningkatan gizi masyarakat.
Perbenihan ikan mas perlu untuk dilakukan dalam rangkaian proses budidaya perairan
tawar karena ketersediaan benih di alam yang tidak selalu ada secara terus menerus sementara
permintaan konsumen terhadap ikan mas terus meningkat. Pembenihan ikan mas relatif mudah
dilakukan karena ikan ini dapat memijah secara alami maupun buatan dengan teknik hipofisasi
atau penyuntikan hormon fisiologis. Ikan mas dapat memijah dengan baik secara alami apabila
lingkungan tempat budidaya dibuat menyerupai habitat asli ikan mas di alam.
B. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Adapun tujuan kegiatan praktik kerja lapang yang dilaksanakan di Balai Benih Ikan (BBI)
Ompo kabupaten Soppeng yaitu :
a. Untuk mengetahui kegiatan proses perbenihan
b. Untuk mengetahui masalah dan pemecahannya dalam perbenihan ikan mas.
c. Untuk mengetahui prosedur perbenihan ikan yang baik
2. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penyusun setelah melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapang
(PKL) antara lain :
a. Menambah pengetahuan tentang kegiatan perbenihan ikan
b. Dapat mengetahui masalah – masalah yang dihadapi dan cara memecahkannya.
c. Dapat melakukan kegiatan perbenihan ikan dengan baik
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Morfologi
Secara umum karakteristik ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak memanjang dan
sedikit memipih ke samping (compressed). Sebagian besar tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik
kecuali pada beberapa strain yang memiliki sedikit sisik. Moncongnya terletak di ujung tengah
(terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Pada bibirnya yang lunak terdapat dua pasang
sungut. Pada bagian dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) sebanyak tiga
baris berbentuk geraham. Memiliki sirip ekor menyerupai cagak (Pribadi dkk, 2002).
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L.
Tubuh ikan mas digolongkan (3) tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala
terdapat alat–alat seperti sepasang mata, sepasang celah insang, sepasang tutup insang, alat
pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000).
III. PELAKSANAAN
1) Persiapan
Persiapan kolam dilakukan sebelum kegiatan pemijahan dimulai karena dengan adanya
persiapan maka akan mendukung semua kegiatan pemijahan. Adapun persiapan yang dilakukan
adalah menyiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan serta kondisi kolam yang akan
digunakan untuk kegiatan pemijahan ikan mas.
2) Peralatan
- Pengeringan kolam dilakukan dengan cara mengeluarkan seluruh air kolam dengan menutup
pintu masuk air dan membuka pintu pengeluaran air hingga air kolam kering.
- Kolam dibiarkan terjemur sinar matahari selama ± 4–7 hari sampai tanah dasar retak retak.
- Pengeringan bertujuan memberantas hama, memperbaiki strukur tanah dasar dan membuang gas-
gas beracun.
Setelah dilakukan pengerinan tanah, kemudian dilakukan Pembalikan tanah yang bertujuan
untuk membalik tanah yang tadinya di atas menjadi di bawah dan sebaliknya dengan
menggunakan hand traktor agar tanah dasar kedap air, dan strukturnya baik. Kemudian
menggunakan cangkul untuk mengatur kemiringan kearah pintu pengeluaran air
b. Pemupukan
3 hari setelah pengolahan tanah maka dilakukan pemupukan yang bertujuan untuk
merangsang pertumbuhan plankton sebagai makanan tambahan bagi ikan. Pupuk yang digunakan
yaitu pupuk urea. Pemupukan ditebar secara merata keseluruh kolam dengan keadaan tersebar.
Dosis yang digunakan yaitu 250 Kg/ha dengan luas kolam 20x30 meter. Jadi pupuk yang
diberikan sebanyak 15 Kg.
Menurut Kadri (2008) cara pemupukan yaitu semua jenis pupuk setelah dicampur dan
diaduk sampai rata kemudian disebar secara merata ke seluruh kolam dengan keadaan kolam
macak-macak. Setelah dilakukan pemupukan, diusahakan tinggi air dalam kolam maksimum 10
cm selama 7 hari atau 2 minggu. Kemudian dilakukan pemupukan susulan setelah 14 hari.
Pemupukan pertama dengan ketinggian air dalam kolam berkisar 50–100 cm yang dilakukan
pada waktu hari cerah dan air kolam jernih.
Setelah pengelolaan tanah selesai, langkah selanjutnya yaitu pengisian air pada kolam yang
sudah siap pakai. Sebelum dilakukan pengisian air terlebih dahulu menutup pintu pengeluaran air
dan membuka pintu pemasukan air serta dipasangi saringan gunanya untuk menyaring kotoran-
kotoran dan hama. Tinggi air kurang lebih 60 cm. Lalu kolam dibiarkan selama 2–3 hari untuk
menumbuhkan pakan alami.
2. Pemilihan Calon Induk (Seleksi Induk)
Kegiatan pemilihan induk (seleksi induk) merupakan salah satu kegiatan yang sangat
penting dalam menetukan kualitas benih yang baik.
- Pertama-tama air pada kolam induk jantan dikurangi satu hari sebelumnya dengan membuka
pintu pengeluaran air dan memasang saringan agar ikan tidak keluar kolam
- Menyisahkan air dengan ketinggian ± 50 cm untuk mempermudah penangkapan
- Calon induk ikan mas jantan ditangkap satu persatu dengan menggunakan serok kemudian
dilakukan pengamatan
- Seleksi induk jantan dilakukan dengan pengamatan dengan memperhatikan ciri-ciri induk
berkualiatas baik sebagai berikut :
Kepala relatif kecil
Sisiknya tersusun rapi
Bila diraba, sisiknya halus, atau tidak kasar
Mulai matang gonad pada umur 8 bulan
Induk jantan minimal berumur 8 bulan dan berat diatas 0,5 gr/ekor
- Selanjutnya memilih induk jantan yang matang gonad dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Gerakan lincah dan tampak gesit
Badan tampak langsing
Jika diurut dari depan ke arah sirip ekor akan mengeluarkan spermanya berupa cairan kental
berwarna putih dari lubang kelamin
- Kemudian tidak cacat dan bebas dari penyakit
- Selanjutnya, calon induk ditampung di kolam induk yang telah disediakan
- Pertama-tama air pada kolam induk betina dikurangi satu hari sebelumnya dengan membuka
pintu pengeluaran air dan memasang saringan agar ikan tidak keluar kolam
- Menyisahkan air dengan ketinggian ± 50 cm untuk mempermudah penangkapan
- Calon induk betina ditangkap satu persatu dengan menggunakan serok kemudian dilakukan
pengamatan
- Seleksi induk betina dilakukan pengamatan dengan memperhatikan ciri-ciri induk berkualitas
baik sebagai berikut :
Sisiknya tersusun rapi
Kepala relatif kecil
Bila diraba, sisiknya halus
Respon terhadap pakan tambahan
Bertubuh gemuk atau tidak kurus
Saat berumur 1,5 tahun memiliki berat minimal 1,5 Kg
Mulai bertelur pada umur 1,5 tahun atau tidak bertelur sewaktu muda
- Selanjutnya memilih induk betina yang matang gonad dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Anus agak membengkak/menonjol dan berwarna kemerahan
Pergerakan ikan lamban
Pada malam hari biasanya meloncat-loncat
Jika diurut dari depan ke arah sirip ekor akan mengeluarkan telurnya yang berwarna kuning dari
lubang kelamin
- Tidak cacat dan bebas terhadap penyakit
- Selanjutnya calon induk ditampung di kolam yang telah disiapkan
Pemeliharaan sementara induk baru yang akan digunakan untuk mencegah masuknya
penyakit. Yang terdapat pada induk baru yang berasal dari luar. Kolam karantina ini juga
bertujuan untuk mengurangi kadar lemak pada ikan. Karatina induk dilakukan selama 2–3 hari.
Pakan yang dibutuhkan kepada induk harus sesuai dengan kebutuhkan baik dengan dosis
frekuensi, pemberian pakan serta kandungan nutrisi yang sesuai bagi perkembangan gonad.
Pemberian pakan dilakukan secara teratur yakni pagi, siang, dan sore.
Adapun pengukuran kualitas air minimal sekali seminggu, dan melakukan pergantian air
setiap 2x sebulan agar tetap bersih menjaga kemungkinan hama-hama dalam kolam tidak
berkembang biak.
4. Pemijahan
Pemasangan hapa ini bertujuan untuk membatasi pergerakan ikan pada saat memijah dan
mempermudah pemindahan induk setelah memijah. Ukuran hapa yang digunakan untuk
pemijahan ikan mas berukuran 3x5 m. Adapun teknik pemasangan hapa yaitu 4 buah patok yang
berupa bambu atau kayu ditancapkan pada kolam yang telah disediakan, 4 buah patok tersebut
gunanya sebagai tempat untuk mengikat tali yang terdapat disetiap sudut hapa, kemudian
diberikan pemberat agar hapa tidak mengapung di atas permukaan air.
b. Seleksi Induk
Sebelum pemijahan maka terlebih dahulu dilakukan penyeleksian induk agar pemijahan
dapat berhasil. Biasanya induk ditangkap dengan menggunakan jaring. Setelah itu induk
diseleksi kematangan gonadnya.
Setelah Induk Ikan diseleksi maka langkah selanjutnya yaitu pelepasan induk yang matang
gonad ke dalam hapa yang telah disediakan.
Menurut Zamrud (2002) biasanya waktu yang paling baik untuk pelepasan induk ikan mas
yakni pada pukul 09.00–10.00 WITA. Namun yang penyusun sering lakukan di lokasi yaitu
pelepasan dilakukan pada sore hari, karena pada sore hari suhu air rendah sehingga ikan tidak
mudah stress dan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Adapun perbandingan ikan mas
yang dilepas yaitu 1:3 artinya 1 ekor induk betina dan 3 ekor induk jantan.
c. Pemasangan kakaban
Pemasangan kakaban ini bertujuan sebagai tempat menempelnya telur-telur induk setelah
memijah. Kakaban yang dipakai berupa ijuk berukuran panjang 150 cm dan lebar 40 cm. Jumlah
kakaban yang digunakan disesuaikan dengan berat induk betina. Untuk 1 Kg induk betina
menghasilkan 40.000–60.000 telur, dan membutuhkan kakaban sebanyak 6–9 buah. Kakaban
disusun rapi diatas rakitan kayu yang tujuannya sebagai pelampung agar kakaban mengapung di
atas permukaan air, kakaban dipasang memanjang ke arah kolam.
c. Pemijahan
Setelah semua persiapan pemijahan selesai, induk-induk ikan mas tidak langsung memijah.
Secara alami ikan mas mempunyai waktu tersendiri untuk mijah, yaitu tengah malam, yang
dimulai sejak pergantian waktu sampai menjelang subuh. Terkadang ada juga yang setelah terbit
matahari masih memijah. Tanda terjadinya pemijahan secara visual yaitu air terdengar ribut
karena pada saat itu induk jantan dan induk betina akan saling kejar-kejaran. Proses pemijahan
yaitu induk jantan mengejar - ngejar induk betina ketika ia mencium bau ransangan dari induk
betina. Setelah induk jantan berhasil mendapatkan induk betina maka induk jantan akan
mengikutinya terus-menerus dengan cara mematuk-matuk di bagian perut induk betina, setelah
itu induk betina akan mengeluarkan telurnya dengan cara berenang di atas kakaban agar telur
yang dikeluarkannya menempel pada kakaban diikuti dengan induk jantan akan menyemprotkan
spermanya larut dalam air, maka disitulah telah terjadi proses mijah antara telur induk betina
dengan sperma induk jantan. Biasanya setelah induk betina bertelur akan tercium bau amis, bau
amis ini berasal dari telur itu sendiri dan akan muncul busa di permukaan air, busa itu muncul
karena pada telur-telur induk betina terdapat lendir. Pada umumnya ikan mas memijah pada
waktu malam antara pukul 02.00–05.00 WITA.
Setelah induk betina menempelkan telurnya pada kakaban yang ditandai dengan butiran
berwarna putih bening, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan yaitu sebagai berikut :
b. Penetasan
Penetasan telur yang dilakukan di kolam pemijahan yaitu dengan cara menenggelamkan
kakaban tujuannya agar telur-telur yang menempel pada kakaban tidak mengalami kekeringan,
karena apabila hal itu terjadi maka telur-telur yang menempel pada kakaban tidak akan menetas.
Adapun cara penetasan telur yaitu dengan meletakkan dua buah bambu di atas rakitan kakaban
yang mengapung, langkah selanjutnya yaitu keempat ujung bambu tersebut dipasangi patok yang
telah dibengkokkan ujungnya, patok tersebut berupa besi, agar dapat menenggelamkan kakaban
serta menahan kakaban berada di dalam air. Telur akan menetas menjadi larva 36 jam setelah
pemijahan.
Selanjutnya, setelah telur menetas kakaban segera diangkat. Adapun tanda-tanda telur
menetas yaitu terlihatnya larva–larva yang menempel di dinding kolam dan adapun telur-telur
yang berwarna putih berjamur itu bertanda bahwa telur tersebut tidak terbuahi dan tidak dapat
menetas. Namun, sebelum pengangkatan kakaban terlebih dahulu kakaban dibilas di dalam
kolam, tujuannya agar larva yang masih menempel di kakaban dapat berpindah ke kolam, setelah
itu kakaban dijemur di bawah sinar matahari, agar dapat dipergunakan kembali untuk kegiatan
pemijahan berikutnya.
Sedangkan pendederan yang penyusun lakukan di lokasi sebanyak 3 kali yaitu pada
pendederan I benih yang dipelihara yaitu sejak dari larva penetasan sampai benih berukuran 1–3
cm yang dilakukan selama 2 minggu. Pendederan I dilakukan di kolam pemijahan yang
merangkap menjadi kolam pendederan pertama dan benih yang dipelihara sebanyak benih yang
menetas di kolam tersebut.
Setelah itu selanjutnya benih dipindahkan lagi ke kolam pendederan III ukurannya sudah
mencapai 5–8 cm, bahkan ada yang ukurannya sudah mencapai 8–12 cm, jumlah benih yang
ditebar sebanyak 50–75 ekor/m² dengan luas kolam 25x35 m. Jadi jumlah benih yang dipelihara
yaitu sebanyak 43.750–65.625 ekor.
Benih yang berada di kolam pendederan I sudah bisa dilakukan panen selektif sedangkan
benih pada kolam pendederan II dan pendederan III dilakukan panen total. Panen yang kita
lakukan hanya tergantung dari permintaan pembeli.
Tapi berbeda dengan yang didapatkan oleh penyusun di lokasi praktik, telur–telur yang
telah dibuahi menjadi larva tidak diberi makan selama tiga hari karena memiliki kuning telur
sebagai cadangan makanannya. Dan baru makan setelah kuning telurnya habis yaitu pada hari
keempat, pakan yang berupa kuning telur diberikan selama 7 hari. Setelah larva berumur 10 hari
maka pakan yang diberikan berubah menjadi pellet tapi masih berupa pellet yang ditumbuk halus
sampai benih dipanen. Dosis pakan berupa kuning telur yaitu 3 butir/hari dan diberikan pada
pagi, siang, dan sore hari. .
Hama merupakan organisme yang sangat mengganggu bagi ikan budidaya. Hama berupa
predator, dan perusak. Pengontrolan dilakukan setiap hari, waktunya bisa bersamaan dengan
pemberian pakan tambahan. Benih yang terserang penyakit ditandai dengan pergerakannya
lamban atau tidak normal, dan tidak nafsu makan. Untuk menanggulangi hama lebih ditekankan
dengan cara pemberantasan hama.
Adapun hama yang sering ditemukan atau lolos masuk ke dalam kolam pemeliharaan yaitu
ikan liar, ular air, kepiting, dan keong. Hama yang berupa ikan liar, ular air, kepiting, dan keong
dapat ditanggulangi dengan cara menangkapnya satu persatu menggunakan jaring atau serok.
Panen selektif yang biasanya dilakukan di BBI Ompo yaitu ditangkap dengan
menggunakan waring. Panen selektif hanya dilakukan di pinggir kolam saja karena biasanya
benih ikan mencari makan di pinggir kolam. Setelah benih–benih ikan masuk ke dalam waring
maka benih tersebut diseser kemudian dimasukkan ke dalam ember yang diisi air hanya setengah
saja, dan satu orang lagi mengangkut benih tersebut ke tempat penampungan benih sementara.
Sedangkan panen total dilakukan apabila benih ikan sudah berumur empat minggu. Namun
terkadang juga lebih dari empat minggu tergantung dari permintaan pembeli. Panen total ini
dilakukan dengan cara penyurutan air hingga habis. Sebelum penyurutan air terlebih dahulu
dipasangi jaring pada saluran pembuangan agar benih–benih ikan tidak terbawa arus, serta dibuat
kemalir dan kubangan untuk mempermudah pemanenan. Pemanenan dilakukan mula-mula
dengan menyurutkan air kolam pendederan sekitar jam 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan–
lahan agar ikan tidak stress akibat tekanan air berubah secara mendadak, setelah air mulai surut
benih mulai ditampung di tempat penampungan sementara.
a. Pengemasan
- Alat dan Bahan
1) Air
2) Tabung Oksigen
3) Kantong Plastik Packing
4) Karet Gelang
5) Benih Ikan Mas
- Langkah Kerja :
1) Potong katong plastik dengan panjang 2 m
2) Ikat bagian tengah plastik dan masukkan salah satu bagian ke bagian yang lainnya sehingga akan
terbentuk kantong dua lapis
3) Isi kantong plastik 5–10 liter air bersih
4) Masukan benih yang akan diangkut
5) Buang udara dalam kantong, lalu masukan oksigen dalam tabung dengan selang kecil sampai
diperkirakan mencapai setengah bagian kantong tersebut
6) Ikat dengan karet gelang sampai rapat
7) Setelah benih dikemas sesuai dengan pesanan konsumen maka siap untuk didistribusikan
- Pembeli hanya memesan/tidak datang ke lokasi pemasaran. Biasanya pembeli seperti ini hanya
memesan beberapa jumlah benih yang mereka perlukan.
- Pemasaran melalui kelompok tani. Setelah panen dipasarkan melalui kelompok tani, mereka
biasanya datang sendiri ketempat pemasaran dan mengambil benih yang sudah dipanen. Setelah
itu mereka tebar di sawah dan akan memasarkan sendiri.
- Pembeli langsung datang ke lokasi, biasanya pembeli yang langsung ke lokasi pemasaran ini
berasal dari kabupaten Soppeng maupun luar kabupaten Soppeng. Biasanya sebelum pembeli
datang mereka terlebih dahulu memesan beberapa jumlah benih yang mereka butuhkan karena
terkadang benih tersebut habis disebabkan oleh banyaknya pembeli. Pemasaran di BBI Ompo
sangat lancar karena kualitas benih yang cukup tinggi sehingga disukai banyak orang.
1 1–3 cm 50–250
2 3–5 cm 250–500
3 5–8 cm 500–750
4 8–12 cm 750–1000
(Sumber: Data BBI O mpo, Soppeng. 2013)
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil kegiatan PKL yang dilaksanakan penyusun selama berada di BBI
Ompo, maka dapat disimpulkan bahwa :
- Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada perbenihan ikan mas yaitu, persiapan kolam, pemilihan
calon induk, pemeliharan induk, pemijahan, pasca pemijahan, pemeliharaan benih, pemanenan
benih dan distribusi benih.
- Ikan mas dapat dipijahkan secara alami, dan juga dapat dipijahkan secara semi buatan melalui
hormon rangsangan. Namun yang penyusun lakukan di lokasi praktik yaitu pemijahan secara
alami.
- Ikan mas baiknya dipijahkan pada ukuran 500 – 1 Kg jantan umur 6-8 bulan dan betina ukuran 2
– 4 kg dengan umur 1,5 – 2 tahun.
- Perbandingan jantan dan betina pada pemijahan secara alami menggunakan 3:1 yaitu 3 ekor
jantan dan 1 ekor betina.
- Larva yang dihasilkan dalam 1 kali pemijahan dapat mencapai 40.000 – 60.000 ekor/Kg induk
betina.
- Pendederan adalah kelanjutan pemeliharaan benih ikan mas dari hasil kegiatan perbenihan untuk
mencapai ukuran tertentu yang siap dibesarkan.
- Pemanenan dilakukan pada pagi hari hal ini dilakukan untuk menghidari terik matahari agar ikan
tidak stress.
B. Saran
1. Proses pembelajaran yang dilakukan di Balai Benih Ikan merupakan salah satu tempat yang baik
untuk lebih ditingkatkan dalam pengetahuan dan pemahaman dalam membekali diri khsuusnya
air tawar.
2. Pengetahuan dan pemahaman yang didapatkan untuk dapat dibuat dalam bentuk sertifikat atau
surat keterangan yang bisa dijadikan pegangan dalam menambah kompetensi keahlian yang
dapat dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Habitat
Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam
dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup
baik di daerah dengan ketinggian 150 - 600 m di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-
30 °C. pH air antara 7-8. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan
diperairan payau atau muara sungai yang bersalinitas 25-30% (Suseno, 1999).
2.3 Kebiasaan Makan
Pada umumnya umur 5 hari ikan mas memakan organisme renik berupa plankton. Larva ikan
mas memakan plankton nabati yang berukuran 100-300 mikron. Pada umur 5 hari tersebut
ukuran larva mencapai 6 mm–7 mm. Pada umur 1 bulan, ukuran normal larva mencapai 25 mm-
30 mm dan ukuran organisme yang bisa ditelan berkisar antara 0,5 mm-2,0 mm. Sekalipun ikan
mas menyukai makanan alami berupa plankton namun kebiasaan ini berubah secara berangsur-
angsur seirama dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Ikan mas dikenal sebagai hewan air
pemakan segala (omnivora). Ikan mas dewasa relatif rakus menelan semua jenis makanan alami
ataupun pakan buatan (Santoso, 1993).
b. Jantan
- Badan tampak langsing.
- Gerakan lincah dan gesit.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2. Umur
Sekalipun ikan mas di daerah tropis cenderung cepat matang gonadnya, tetapi umur yang
ideal yang layak dan produktif untuk dipijahkan adalah berkisar umur 2-4 tahun. Pada musim
hujan induk ikan mas yang umurnya kurang dari 1 tahun sudah dapat dipijahkan, tetapi pada
musim kemarau, induk-induk tersebut sebaiknya dirawat intensif dalam kolam induk (Arman,
1994).
3. Bentuk Badan
Bentuk badan Ikan Mas keseluruhan mulai ujung sirip ekor harus mulus, sehat, badan dan
sirip- siripnya tidak cacat (Santoso, 1993).
5. Sisik
Sisik induk yang baik tersusun secara teratur (kecuali strain kaper kaca) dan ukurannya relative
besar. Sisik yang terlihat kusam atau tidak cerah menandakan ia kurang baik atau terlalu tua
(Santoso, 1993).
BAB III
METODELOGI KERJA
Tabel 3.2 Bahan-bahan yang digunakan dalam melakukan praktek kerja lapangan di UPTD
PBPAT Batee Iliek.
No Bahan Fungsi
1 Induk Jantan Sebagai bahan untuk melakukan pemijahan
2 Induk Betina Sebagai bahan untuk melakukan pemijahan
3 Telur dan Larva Sebagai bahan perlakuan praktek kerja lapang
4 Kuning telur Sebagai pakan bagi larva ikan
5 Benih Ikan Mas Sebagai bahan perlakuan praktek kerja lapang
a. Observasi
Menurut Surachmad (1978), observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap gejala yang diselidiki. Dalam praktek kerja lapangan ini observasi dilakukan terhadap
berbagai kegiatan pembenihan, persiapan kolam, pemeliharaan kolam, pengeringan dasar kolam,
pemasangan kakaban, pengamatan ikan mas kawin, pencegahan hama dan penyakit, pemanenan
benih, cara perhitungan benih.
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengambilan data yang digunakan untuk memperolah informasi
langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari
responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit. Ada beberapa faktor yang akan
mempengaruhi arus informasi dalam wawancara, yaitu :
pewawancaraan, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara (Riduwan, 2002).
Wawancara pada praktek kerja lapangan ini meliputi sejarah berdirinya (BBI) di Batee Iliek,
letak umum, struktur organisasi, pembenihan ikan, pemasaran ikan, permasalahan yang dihadapi,
hasil yang dicapai dan lain sebagainya.
3.5.3 Pemijahan
Adapun tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam pemijahan sebagai berikut :
- Kolam atau bak yang akan dilakukan untuk pemijahan dibersihkan, dengan cara menguras
bagian dasar kolam.
- Hilangkan sisa-sisa kotoran pada bak pemijahan sebelumnya.
- Lumpur yang ada di dasar kolam diangkat.
- Dikeringkan kolam atau dibiarkan mengering selama satu hari.
- Diisi air pada kolam pemijahan.
- Dipasang hapa untuk tempat pemijahan.
- Kakaban dimasukan kekolam pemijahan sebagai subtrat telur hasil pemijahan.
- Dimasukkan induk yang sudah matang gonad atau induk yang sudah siap dipijah.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Misi
1. Menyediakan benih bermutu
2. Restocking dan pemberdayaan masy. Petani ikan
3. Pembinaan teknologi pembenihan dan pusat pendidikan dan pelatihan perikanan air tawar di
aceh
Tabel 4.1. Jenis sarana dan prasarana yang terdapat di UPTD Batee Iliek Kecamatan
Samalanga Kab. Bireuen.
- Pergerakan lambat.
- Bila perut distriping perlahan-lahan mengeluarkan cairan bening/kuning kemerahan atau bisa
Menurut Bachtiar (2002) menyatakan standarisasi Ikan Mas yang baik untuk diseleksi
adalah sebagai berikut :
- Badan hendaknya tidak keras
- Perut lebar dan datar
- Badan relatif tinggi
- Pangkal ekor relatif lebar dan normal
- Kepala relatif kecil dan moncong runcing
- Sisik agak besar dan teratur
- Lubang dubur relatif lebih dekat kepangkal ekor
4.5 Pemijahan
Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang di pijahkan di UPTD Pembenihan Budidaya
Perikanan Air Tawar Batee Iliek seberat 4 Kg. Induk yang digunakan sebagai bahan praktek
berjumlah 10 ekor (6 jantan dan 4 betina). Menurut hasil di lapangan bila pemijahan dilakukan
1:1 maka dikhawatirkan sperma induk jantan untuk pembuahan telur tidak cukup.
Proses kegiatan pemijahan yang dilaksanakan selama Praktek Kerja Lapangan di UPTD
Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek ada 2 hapa yaitu sebagai berikut :
N
Jenis Jantan Betina
O
1 Hapa 1 6 4
2 Hapa 2 5 4
Dalam proses pemijahan, pelepasan induk ikan mas jenis hapa 1 dan hapa 2 dilakukan sekitar
jam 14.30 Wib.
1. Yang lebih cepat melakuakan pemijahan yaitu hapa 2 yang 4 betina:5 jantan yang memijah
berkisar antara jam : 22.00 wib
2. Sedangkan hapa 1 dalam melakukan pemijahan sedikit lama dari pada ikan yang berada di
dalam hapa 2, di dalam hapa 1 yang 4 berina : 6 jantan melakukan pemijahan berkisar antara
jam 23.20 Wib.
Kondisi induk setelah berlangsungnya proses pemijahan sangat lemah, untuk itu perlu dilakukan
perawatan dimana induk harus segera dipindahkan ke kolam lain yang kualitas airnya memenuhi
syarat dengan suhu 26-28, DO 3-4 PPm dan pH 6,5-7, setelah pemijahan, pemindahan induk
jantan dan betina harus dilakukan untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, dan juga
mencegah induk memakan telur.
Untuk perawatan telur, untuk menjaga agar telur terhindar dari jamur yang di lakukan adalah
pemberian Malacyte Green (Mg). Malacyte Green (Mg) dilarutkan dengan air dalam ember
plastic dengan dosis 0,5 ppm di kalikan dengan jumlah luas bak pemijahan. Malacyte Green
(Mg) ditebar secara merata dalam air bak pemijahan dan dibiarkan selama 3 jam.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan di UPTD Pembenihan Budidaya
Perikanan Air Tawar Batee Iliek Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireun Provinsi Aceh,
Tanggal 10 Februari s.d 10 Maret 2013. Tentang Teknik Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus
carpio) dapat disimpulkan :
1. Kegiatan pembenihan meliputi tahap pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan, persiapan
kolam, penetasan, perawatan larva, pendederan.
2. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan larva terdiri dari pakan alami.
3. Sumber air yang dimanfaatkan oleh UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee
Iliek berasal dari air sungai pegunungan serta sumur bor. Kedua sumber tersebut sangat
menunjang keberadaan air di UPTD Batee Iliek.
5.2 Saran
1. Perlunya penambahan teknisi yang ahli dalam bidang kegiatan pembenihan Ikan air tawar,
khususnya pada pembenihan Ikan Mas, agar mahasiswa yang melakukan kegiatan pratikum
lapang, bisa lebih efektif dalam melakukan setiap kegiatan.
2. Perlu adanya peralatan laboratorium yang lengkap untuk menunjang proses budidaya di UPTD
Batee Iliek.
3. Perlunya diperbaharui pintu pengeluaran air dalam kolam yang menggunakan pipa goyang,
karena pintu air keluar sekarang tidak mengeluarkan air dasar, melainkan mengeluarkan air
permukaan.
4. Dari studi ini diharapkan akan terjalin kerja sama dengan instansi UPTD Batee Iliek secara
berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Amri, K. dan Khairuman. 2002. Menanggulangi Penyakit pada Ikan Mas dan Koi. Agro Media
Pustaka. Jakarta.
Arman, A. 1994. Budidaya ikan Air tawar. Kashiko Press: Jakarta
Bachtiar, Y. 2002.pembesaran ikan mas dikolam pekarangan agromedia Pustaka, Jakarta.
Gunawan. 1998. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas Dalam Sinar Tani. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Hasan, 1. 2002. Pokok- pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Riduwan, 2002. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian Alfabeta. Bandung.
Rukmana, R. 2003. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Mas. Penerbit Aneka Ilmu. Semarang.
Santoso, B. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Penerbit Khanisius. Yogyakarta.
Surachmad, W. 1978. Pengantar Penelitian Ilmiah-Dasar Metode Teknik. Penerbit Tarsito. Bandung.
Suseno, D. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, Jakarta : Penerbit Swadaya. Jakarta.
UPTD Batee Iliek, 2004. Data SOP UPTD Batee Iliek.Bireuen.