0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
173 tayangan46 halaman

Proses Perbenihan Ikan Mas di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang perbenihan ikan mas, mulai dari latar belakang, tujuan, tinjauan pustaka yang membahas morfologi ikan mas, dan pelaksanaan perbenihan ikan mas di Balai Benih Ikan Ompo yang meliputi persiapan kolam, pemilihan calon induk, dan proses pemijahan.

Diunggah oleh

puspita mattaliu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
173 tayangan46 halaman

Proses Perbenihan Ikan Mas di Indonesia

Dokumen tersebut membahas tentang perbenihan ikan mas, mulai dari latar belakang, tujuan, tinjauan pustaka yang membahas morfologi ikan mas, dan pelaksanaan perbenihan ikan mas di Balai Benih Ikan Ompo yang meliputi persiapan kolam, pemilihan calon induk, dan proses pemijahan.

Diunggah oleh

puspita mattaliu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

 

PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat luas dan berpotensi besar untuk usaha
budidaya berbagai macam jenis ikan air tawar sehingga mampu memproduksi dan
mengeksploitasi dan memenuhi kebutuhan akan sumberdaya perairan guna meningkatkan
kualitas pertumbuhan bagi masyarakat luas.
Ikan mas (Cyprinus carpio L.) dikenal sebagai salah satu komoditas budidaya perairan
tawar karena nilai jualnya yang cukup baik di pasaran. Kegiatan budidaya yang dilakukan mulai
dari perbenihan sampai pembesaran. Ikan mas dapat dibudidayakan pada berbagai media
budidaya seperti karamba jaring apung maupun kolam. Menurut Rukmana (2006), ikan mas
merupakan salah satu dari 15 jenis komoditas ikan yang ditujukan untuk peningkatan produksi
dan pendapatan petani, serta pemenuhan sasaran peningkatan gizi masyarakat.
Perbenihan ikan mas perlu untuk dilakukan dalam rangkaian proses budidaya perairan
tawar karena ketersediaan benih di alam yang tidak selalu ada secara terus menerus sementara
permintaan konsumen terhadap ikan mas terus meningkat. Pembenihan ikan mas relatif mudah
dilakukan karena ikan ini dapat memijah secara alami maupun buatan dengan teknik hipofisasi
atau penyuntikan hormon fisiologis. Ikan mas dapat memijah dengan baik secara alami apabila
lingkungan tempat budidaya dibuat menyerupai habitat asli ikan mas di alam.
B.            Tujuan dan Manfaat
1.             Tujuan
Adapun tujuan kegiatan praktik kerja lapang yang dilaksanakan di Balai Benih Ikan (BBI)
Ompo kabupaten Soppeng yaitu :
a.         Untuk mengetahui kegiatan proses perbenihan
b.         Untuk mengetahui masalah dan pemecahannya dalam perbenihan ikan mas.
c.         Untuk mengetahui prosedur perbenihan ikan yang baik
2.             Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari penyusun setelah melakukan kegiatan Praktik Kerja Lapang
(PKL) antara lain :
a.              Menambah pengetahuan tentang kegiatan perbenihan ikan
b.             Dapat mengetahui masalah – masalah yang dihadapi dan cara memecahkannya.
c.              Dapat melakukan kegiatan perbenihan ikan dengan baik
II. TINJAUAN PUSTAKA

A.           Morfologi

Secara umum karakteristik ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak memanjang dan
sedikit memipih ke samping (compressed). Sebagian besar tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik
kecuali pada beberapa strain yang memiliki sedikit sisik. Moncongnya terletak di ujung tengah
(terminal) dan dapat disembulkan (protaktil). Pada bibirnya yang lunak terdapat dua pasang
sungut. Pada bagian dalam mulut terdapat gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) sebanyak tiga
baris berbentuk geraham. Memiliki sirip ekor menyerupai cagak (Pribadi dkk, 2002).

Klasifikasi ikan mas menurut Saanin (1986) sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L.

Tubuh ikan mas digolongkan (3) tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor. Pada kepala
terdapat alat–alat seperti sepasang mata, sepasang celah insang, sepasang tutup insang, alat
pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000).

III. PELAKSANAAN

A.           Waktu dan Tempat


Pelaksanaan Praktik Kerja Lapang (PKL) yang berlangsung selama kurang lebih 4 bulan
mulai tanggal 31 Januari 2013 sampai dengan 26 Mei 2013. Adapun lokasi praktik yang
penyusun tempati, yaitu di Balai Benih Ikan (BBI) OMPO yang letaknya di :
Kelurahan : Lapajung
Kecamatan : Lalabata
Kabupaten : Soppeng
Provinsi : Sulawesi Selatan

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Kegiatan–Kegiatan Pembenihan Ikan Mas

1.             Persiapan Kolam


a.              Pengelolaanan Tanah Kolam

1)             Persiapan

Persiapan kolam dilakukan sebelum kegiatan pemijahan dimulai karena dengan adanya
persiapan maka akan mendukung semua kegiatan pemijahan. Adapun persiapan yang dilakukan
adalah menyiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan serta kondisi kolam yang akan
digunakan untuk kegiatan pemijahan ikan mas.

2)             Peralatan

Adapun peralatan-peralatan yang digunakan yaitu :


-     Hand Traktor
-     Cangkul

3)             Pengeringan Kolam

-     Pengeringan kolam dilakukan dengan cara mengeluarkan seluruh air kolam dengan menutup
pintu masuk air dan membuka pintu pengeluaran air hingga air kolam kering.
-     Kolam dibiarkan terjemur sinar matahari selama ± 4–7 hari sampai tanah dasar retak retak.
-     Pengeringan bertujuan memberantas hama, memperbaiki strukur tanah dasar dan membuang gas-
gas beracun.

4)             Pembalikan Tanah Kolam

Setelah dilakukan pengerinan tanah, kemudian dilakukan Pembalikan tanah yang bertujuan
untuk membalik tanah yang tadinya di atas menjadi di bawah dan sebaliknya dengan
menggunakan hand traktor agar tanah dasar kedap air, dan strukturnya baik. Kemudian
menggunakan cangkul untuk mengatur kemiringan kearah pintu pengeluaran air

b.             Pemupukan

3 hari setelah pengolahan tanah maka dilakukan pemupukan yang bertujuan untuk
merangsang pertumbuhan plankton sebagai makanan tambahan bagi ikan. Pupuk yang digunakan
yaitu pupuk urea. Pemupukan ditebar secara merata keseluruh kolam dengan keadaan tersebar.
Dosis yang digunakan yaitu 250 Kg/ha dengan luas kolam 20x30 meter. Jadi pupuk yang
diberikan sebanyak 15 Kg.

Menurut Kadri (2008) cara pemupukan yaitu semua jenis pupuk setelah dicampur dan
diaduk sampai rata kemudian disebar secara merata ke seluruh kolam dengan keadaan kolam
macak-macak. Setelah dilakukan pemupukan, diusahakan tinggi air dalam kolam maksimum 10
cm selama 7 hari atau 2 minggu. Kemudian dilakukan pemupukan susulan setelah 14 hari.
Pemupukan pertama dengan ketinggian air dalam kolam berkisar 50–100 cm yang dilakukan
pada waktu hari cerah dan air kolam jernih.

c.              Pengisian Air pada Kolam

Setelah pengelolaan tanah selesai, langkah selanjutnya yaitu pengisian air pada kolam yang
sudah siap pakai. Sebelum dilakukan pengisian air terlebih dahulu menutup pintu pengeluaran air
dan membuka pintu pemasukan air serta dipasangi saringan gunanya untuk menyaring kotoran-
kotoran dan hama. Tinggi air kurang lebih 60 cm. Lalu kolam dibiarkan selama 2–3 hari untuk
menumbuhkan pakan alami.
2.             Pemilihan Calon Induk (Seleksi Induk)

Kegiatan pemilihan induk (seleksi induk) merupakan salah satu kegiatan yang sangat
penting dalam menetukan kualitas benih yang baik.

    Seleksi Induk Jantan

-     Pertama-tama air pada kolam induk jantan dikurangi satu hari sebelumnya dengan membuka
pintu pengeluaran air dan memasang saringan agar ikan tidak keluar kolam
-     Menyisahkan air dengan ketinggian ± 50 cm untuk mempermudah penangkapan
-     Calon induk ikan mas jantan ditangkap satu persatu dengan menggunakan serok kemudian
dilakukan pengamatan
-     Seleksi induk jantan dilakukan dengan pengamatan dengan memperhatikan ciri-ciri induk
berkualiatas baik sebagai berikut :
      Kepala relatif kecil
      Sisiknya tersusun rapi
      Bila diraba, sisiknya halus, atau tidak kasar
      Mulai matang gonad pada umur 8 bulan
      Induk jantan minimal berumur 8 bulan dan berat diatas 0,5 gr/ekor
-     Selanjutnya memilih induk jantan yang matang gonad dengan ciri-ciri sebagai berikut :
 Gerakan lincah dan tampak gesit
      Badan tampak langsing
      Jika diurut dari depan ke arah sirip ekor akan mengeluarkan spermanya berupa cairan kental
berwarna putih dari lubang kelamin
-     Kemudian tidak cacat dan bebas dari penyakit

-     Selanjutnya, calon induk ditampung di kolam induk yang telah disediakan

b.             Seleksi Induk Betina

-     Pertama-tama air pada kolam induk betina dikurangi satu hari sebelumnya dengan membuka
pintu pengeluaran air dan memasang saringan agar ikan tidak keluar kolam
-     Menyisahkan air dengan ketinggian ± 50 cm untuk mempermudah penangkapan
-     Calon induk betina ditangkap satu persatu dengan menggunakan serok kemudian dilakukan
pengamatan
-     Seleksi induk betina dilakukan pengamatan dengan memperhatikan ciri-ciri induk berkualitas
baik sebagai berikut :
      Sisiknya tersusun rapi
      Kepala relatif kecil
      Bila diraba, sisiknya halus
      Respon terhadap pakan tambahan
      Bertubuh gemuk atau tidak kurus
      Saat berumur 1,5 tahun memiliki berat minimal 1,5 Kg
      Mulai bertelur pada umur 1,5 tahun atau tidak bertelur sewaktu muda
-     Selanjutnya memilih induk betina yang matang gonad dengan ciri-ciri sebagai berikut :
      Anus agak membengkak/menonjol dan berwarna kemerahan
      Pergerakan ikan lamban
      Pada malam hari biasanya meloncat-loncat
      Jika diurut dari depan ke arah sirip ekor akan mengeluarkan telurnya yang berwarna kuning dari
lubang kelamin
-     Tidak cacat dan bebas terhadap penyakit
-     Selanjutnya calon induk ditampung di kolam yang telah disiapkan

3.             Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan sementara induk baru yang akan digunakan untuk mencegah masuknya
penyakit. Yang terdapat pada induk baru yang berasal dari luar. Kolam karantina ini juga
bertujuan untuk mengurangi kadar lemak pada ikan. Karatina induk dilakukan selama 2–3 hari.

Pakan yang dibutuhkan kepada induk harus sesuai dengan kebutuhkan baik dengan dosis
frekuensi, pemberian pakan serta kandungan nutrisi yang sesuai bagi perkembangan gonad.
Pemberian pakan dilakukan secara teratur yakni pagi, siang, dan sore.
Adapun pengukuran kualitas air minimal sekali seminggu, dan melakukan pergantian air
setiap 2x sebulan agar tetap bersih menjaga kemungkinan hama-hama dalam kolam tidak
berkembang biak.

4.             Pemijahan

a.              Pemasangan Hapa

Pemasangan hapa ini bertujuan untuk membatasi pergerakan ikan pada saat memijah dan
mempermudah pemindahan induk setelah memijah. Ukuran hapa yang digunakan untuk
pemijahan ikan mas berukuran 3x5 m. Adapun teknik pemasangan hapa yaitu 4 buah patok yang
berupa bambu atau kayu ditancapkan pada kolam yang telah disediakan, 4 buah patok tersebut
gunanya sebagai tempat untuk mengikat tali yang terdapat disetiap sudut hapa, kemudian
diberikan pemberat agar hapa tidak mengapung di atas permukaan air.

b. Seleksi Induk

Sebelum pemijahan maka terlebih dahulu dilakukan penyeleksian induk agar pemijahan
dapat berhasil. Biasanya induk ditangkap dengan menggunakan jaring. Setelah itu induk
diseleksi kematangan gonadnya.

b.             Pelepasan Induk Jantan dan Induk Betina

Setelah Induk Ikan diseleksi maka langkah selanjutnya yaitu pelepasan induk yang matang
gonad ke dalam hapa yang telah disediakan.

Menurut Zamrud (2002) biasanya waktu yang paling baik untuk pelepasan induk ikan mas
yakni pada pukul 09.00–10.00 WITA. Namun yang penyusun sering lakukan di lokasi yaitu
pelepasan dilakukan pada sore hari, karena pada sore hari suhu air rendah sehingga ikan tidak
mudah stress dan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Adapun perbandingan ikan mas
yang dilepas yaitu 1:3 artinya 1 ekor induk betina dan 3 ekor induk jantan.
c. Pemasangan kakaban

Pemasangan kakaban ini bertujuan sebagai tempat menempelnya telur-telur induk setelah
memijah. Kakaban yang dipakai berupa ijuk berukuran panjang 150 cm dan lebar 40 cm. Jumlah
kakaban yang digunakan disesuaikan dengan berat induk betina. Untuk 1 Kg induk betina
menghasilkan 40.000–60.000 telur, dan membutuhkan kakaban sebanyak 6–9 buah. Kakaban
disusun rapi diatas rakitan kayu yang tujuannya sebagai pelampung agar kakaban mengapung di
atas permukaan air, kakaban dipasang memanjang ke arah kolam.

c.              Pemijahan
Setelah semua persiapan pemijahan selesai, induk-induk ikan mas tidak langsung memijah.
Secara alami ikan mas mempunyai waktu tersendiri untuk mijah, yaitu tengah malam, yang
dimulai sejak pergantian waktu sampai menjelang subuh. Terkadang ada juga yang setelah terbit
matahari masih memijah. Tanda terjadinya pemijahan secara visual yaitu air terdengar ribut
karena pada saat itu induk jantan dan induk betina akan saling kejar-kejaran. Proses pemijahan
yaitu induk jantan mengejar - ngejar induk betina ketika ia mencium bau ransangan dari induk
betina. Setelah induk jantan berhasil mendapatkan induk betina maka induk jantan akan
mengikutinya terus-menerus dengan cara mematuk-matuk di bagian perut induk betina, setelah
itu induk betina akan mengeluarkan telurnya dengan cara berenang di atas kakaban agar telur
yang dikeluarkannya menempel pada kakaban diikuti dengan induk jantan akan menyemprotkan
spermanya larut dalam air, maka disitulah telah terjadi proses mijah antara telur induk betina
dengan sperma induk jantan. Biasanya setelah induk betina bertelur akan tercium bau amis, bau
amis ini berasal dari telur itu sendiri dan akan muncul busa di permukaan air, busa itu muncul
karena pada telur-telur induk betina terdapat lendir. Pada umumnya ikan mas memijah pada
waktu malam antara pukul 02.00–05.00 WITA.

5.             Pasca pemijahan

Setelah induk betina menempelkan telurnya pada kakaban yang ditandai dengan butiran
berwarna putih bening, maka langkah selanjutnya yang akan dilakukan yaitu sebagai berikut :

a.              Pemindahan Induk


Induk yang telah memijah selanjutnya segera dipindahkan ke kolam pemeliharaan, karena
apabila induk tidak segera dipindahkan maka induk akan memakan telurnya sendiri yang
mengira bahwa telur itu adalah pakan. Selain itu induk mudah stress karena mengeluarkan
banyak energi pada saat memijah. Pemindahan induk ke kolam dilakukan pagi sekali dengan
cara memisahkan induk betina dan induk jantan.

b.             Penetasan

Penetasan telur yang dilakukan di kolam pemijahan yaitu dengan cara menenggelamkan
kakaban tujuannya agar telur-telur yang menempel pada kakaban tidak mengalami kekeringan,
karena apabila hal itu terjadi maka telur-telur yang menempel pada kakaban tidak akan menetas.

Adapun cara penetasan telur yaitu dengan meletakkan dua buah bambu di atas rakitan kakaban
yang mengapung, langkah selanjutnya yaitu keempat ujung bambu tersebut dipasangi patok yang
telah dibengkokkan ujungnya, patok tersebut berupa besi, agar dapat menenggelamkan kakaban
serta menahan kakaban berada di dalam air. Telur akan menetas menjadi larva 36 jam setelah
pemijahan.

c.              Pengangkatan kakaban

Selanjutnya, setelah telur menetas kakaban segera diangkat. Adapun tanda-tanda telur
menetas yaitu terlihatnya larva–larva yang menempel di dinding kolam dan adapun telur-telur
yang berwarna putih berjamur itu bertanda bahwa telur tersebut tidak terbuahi dan tidak dapat
menetas. Namun, sebelum pengangkatan kakaban terlebih dahulu kakaban dibilas di dalam
kolam, tujuannya agar larva yang masih menempel di kakaban dapat berpindah ke kolam, setelah
itu kakaban dijemur di bawah sinar matahari, agar dapat dipergunakan kembali untuk kegiatan
pemijahan berikutnya.

6.             Pemeliharaan Benih


a.              Pendederan
Menurut Cahyono (2000) pendederan dilakukan empat kali. Pendederan pertama dilakukan
dari benih ikan yang baru menetas (berukuran panjang sekitar 1 mm). Lama pendedran pertama
adalah 3 minggu, padat penebaran 150–250 ekor/m², kedalaman air 40–50 cm dan airnya tenang.
Pada saat panen ukuran ikan sudah mencapai 3 cm. Pemeliharaan ikan pada pendederan II, III,
dan ke IV masing–masing dilakukan selama 1 bulan. Padat penebaran benih ikan pada
pendederan kedua adalah 50–75 ekor/m². Dan kedalaman airnya 50–75 cm. Pada saat panen
ukuran ikan sudah mencapai 5 cm. Padat penebaran benih ikan pada pendederan ketiga adalah
25–50 ekor/m² dan kedalaman air 80–100 cm. Pada saat panen, ukuran ikan sudah mencapai 8
cm. Padat penebaran benih ikan pada pendederan keempat adalah 3–5 ekor/m² dan kedalaman
airnya 80–120 cm. Pada saat panen ukuran ikan sudah mencapai 12 cm. Pendederan sebaiknya
dilakukan pada kolam intensif dan terkontrol.

Sedangkan pendederan yang penyusun lakukan di lokasi sebanyak 3 kali yaitu pada
pendederan I benih yang dipelihara yaitu sejak dari larva penetasan sampai benih berukuran 1–3
cm yang dilakukan selama 2 minggu. Pendederan I dilakukan di kolam pemijahan yang
merangkap menjadi kolam pendederan pertama dan benih yang dipelihara sebanyak benih yang
menetas di kolam tersebut.

Setelah 2 minggu, dipindahkan ke kolam pendederan II ukurannya sudah mencapai 3–5


cm, di kolam ini dipelihara sebanyak 125 ekor/m². dengan luas kolam 25x30 m, sehingga jumlah
benih yang dipelihara sebanyak 93.750 ekor.

Setelah itu selanjutnya benih dipindahkan lagi ke kolam pendederan III ukurannya sudah
mencapai 5–8 cm, bahkan ada yang ukurannya sudah mencapai 8–12 cm, jumlah benih yang
ditebar sebanyak 50–75 ekor/m² dengan luas kolam 25x35 m. Jadi jumlah benih yang dipelihara
yaitu sebanyak 43.750–65.625 ekor.

Benih yang berada di kolam pendederan I sudah bisa dilakukan panen selektif sedangkan
benih pada kolam pendederan II dan pendederan III dilakukan panen total. Panen yang kita
lakukan hanya tergantung dari permintaan pembeli.

b.        Pemberian Pakan


Larva ikan yang baru menetas belum membutuhkan makanan tambahan dari luar karena
masih menyimpan makanan dalam tubuhnya berupa kuning telur (yolk egg). Makanan yang
diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Oleh karenanya makanan yang paling cocok
bagi benih yang habis kuning telurnya adalah plankton yang diperoleh dengan jalan pemupukan
dasar kolam (Susanto, 1987).

Tapi berbeda dengan yang didapatkan oleh penyusun di lokasi praktik, telur–telur yang
telah dibuahi menjadi larva tidak diberi makan selama tiga hari karena memiliki kuning telur
sebagai cadangan makanannya. Dan baru makan setelah kuning telurnya habis yaitu pada hari
keempat, pakan yang berupa kuning telur diberikan selama 7 hari. Setelah larva berumur 10 hari
maka pakan yang diberikan berubah menjadi pellet tapi masih berupa pellet yang ditumbuk halus
sampai benih dipanen. Dosis pakan berupa kuning telur yaitu 3 butir/hari dan diberikan pada
pagi, siang, dan sore hari. .

c.              Pengendalian Hama

Hama merupakan organisme yang sangat mengganggu bagi ikan budidaya. Hama berupa
predator, dan perusak. Pengontrolan dilakukan setiap hari, waktunya bisa bersamaan dengan
pemberian pakan tambahan. Benih yang terserang penyakit ditandai dengan pergerakannya
lamban atau tidak normal, dan tidak nafsu makan. Untuk menanggulangi hama lebih ditekankan
dengan cara pemberantasan hama.

Adapun hama yang sering ditemukan atau lolos masuk ke dalam kolam pemeliharaan yaitu
ikan liar, ular air, kepiting, dan keong. Hama yang berupa ikan liar, ular air, kepiting, dan keong
dapat ditanggulangi dengan cara menangkapnya satu persatu menggunakan jaring atau serok.

7.        Pemanenan Benih

-  Alat dan Bahan


a.    Waring
b.    Ember
c.    Saringan
d.   Seser
-  Kegunaan Alat dan Bahan
a.    Waring sebagai tempat penampungan benih sementara.
b.    Ember sebagai tempat untuk mengangkut benih ke tempat penampungan sementara.
c.    Saringan berguna untuk mengeluarkan air dalam kolam agar benih ikan tidak terbawa arus.
d.   Seser sebagai alat tangkap
Panen dapat dilakukan apabila ikan sudah mencapai ukuran 1-3 cm. Panen yang dilakukan
di lokasi ada 2 cara yaitu panen selektif dan panen total

Panen selektif yang biasanya dilakukan di BBI Ompo yaitu ditangkap dengan
menggunakan waring. Panen selektif hanya dilakukan di pinggir kolam saja karena biasanya
benih ikan mencari makan di pinggir kolam. Setelah benih–benih ikan masuk ke dalam waring
maka benih tersebut diseser kemudian dimasukkan ke dalam ember yang diisi air hanya setengah
saja, dan satu orang lagi mengangkut benih tersebut ke tempat penampungan benih sementara.

Sedangkan panen total dilakukan apabila benih ikan sudah berumur empat minggu. Namun
terkadang juga lebih dari empat minggu tergantung dari permintaan pembeli. Panen total ini
dilakukan dengan cara penyurutan air hingga habis. Sebelum penyurutan air terlebih dahulu
dipasangi jaring pada saluran pembuangan agar benih–benih ikan tidak terbawa arus, serta dibuat
kemalir dan kubangan untuk mempermudah pemanenan. Pemanenan dilakukan mula-mula
dengan menyurutkan air kolam pendederan sekitar jam 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan–
lahan agar ikan tidak stress akibat tekanan air berubah secara mendadak, setelah air mulai surut
benih mulai ditampung di tempat penampungan sementara.

8.             Pengemasan dan Distribusi Benih

a.              Pengemasan
-     Alat dan Bahan
1)   Air
2)   Tabung Oksigen
3)   Kantong Plastik Packing
4)   Karet Gelang
5)   Benih Ikan Mas
-     Langkah Kerja :
1)   Potong katong plastik dengan panjang 2 m
2)   Ikat bagian tengah plastik dan masukkan salah satu bagian ke bagian yang lainnya sehingga akan
terbentuk kantong dua lapis
3)   Isi kantong plastik 5–10 liter air bersih
4)   Masukan benih yang akan diangkut
5)   Buang udara dalam kantong, lalu masukan oksigen dalam tabung dengan selang kecil sampai
diperkirakan mencapai setengah bagian kantong tersebut
6)   Ikat dengan karet gelang sampai rapat
7)   Setelah benih dikemas sesuai dengan pesanan konsumen maka siap untuk didistribusikan

b.             Distribusi Benih

Pemasaran yang dilakukan di BBI Ompo yaitu ada 3 macam :

-           Pembeli hanya memesan/tidak datang ke lokasi pemasaran. Biasanya pembeli seperti ini hanya
memesan beberapa jumlah benih yang mereka perlukan.
-           Pemasaran melalui kelompok tani. Setelah panen dipasarkan melalui kelompok tani, mereka
biasanya datang sendiri ketempat pemasaran dan mengambil benih yang sudah dipanen. Setelah
itu mereka tebar di sawah dan akan memasarkan sendiri.
-           Pembeli langsung datang ke lokasi, biasanya pembeli yang langsung ke lokasi pemasaran ini
berasal dari kabupaten Soppeng maupun luar kabupaten Soppeng. Biasanya sebelum pembeli
datang mereka terlebih dahulu memesan beberapa jumlah benih yang mereka butuhkan karena
terkadang benih tersebut habis disebabkan oleh banyaknya pembeli. Pemasaran di BBI Ompo
sangat lancar karena kualitas benih yang cukup tinggi sehingga disukai banyak orang.

Tabel 2. Ukuran dan


Harga Benih No Ukuran (cm) Harga (Rp) Ikan Mas

1 1–3 cm 50–250

2 3–5 cm 250–500

3 5–8 cm 500–750

4 8–12 cm 750–1000
(Sumber: Data BBI O mpo, Soppeng. 2013)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A.           Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil kegiatan PKL yang dilaksanakan penyusun selama berada di BBI
Ompo, maka dapat disimpulkan bahwa :
-     Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada perbenihan ikan mas yaitu, persiapan kolam, pemilihan
calon induk, pemeliharan induk, pemijahan, pasca pemijahan, pemeliharaan benih, pemanenan
benih dan distribusi benih.
- Ikan mas dapat dipijahkan secara alami, dan juga dapat dipijahkan secara semi buatan melalui
hormon rangsangan. Namun yang penyusun lakukan di lokasi praktik yaitu pemijahan secara
alami.
- Ikan mas baiknya  dipijahkan pada ukuran 500 – 1 Kg jantan umur 6-8 bulan dan betina ukuran 2
– 4 kg dengan umur 1,5 – 2 tahun.
- Perbandingan jantan dan betina pada pemijahan secara alami menggunakan 3:1 yaitu 3 ekor
jantan dan 1 ekor betina.
- Larva yang dihasilkan dalam 1 kali pemijahan dapat mencapai 40.000 – 60.000 ekor/Kg induk
betina.
- Pendederan adalah kelanjutan  pemeliharaan benih ikan mas dari hasil kegiatan perbenihan untuk
mencapai ukuran tertentu yang siap dibesarkan.
- Pemanenan dilakukan pada pagi hari hal ini dilakukan untuk menghidari terik matahari agar ikan
tidak stress.

B.            Saran

1.      Proses pembelajaran yang dilakukan di Balai Benih Ikan merupakan salah satu tempat yang baik
untuk lebih ditingkatkan dalam pengetahuan dan pemahaman dalam membekali diri khsuusnya
air tawar.
2.      Pengetahuan dan pemahaman yang didapatkan untuk dapat dibuat dalam bentuk sertifikat atau
surat keterangan yang bisa dijadikan pegangan dalam menambah kompetensi keahlian yang
dapat dimiliki.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono. 2000. Budidaya Ikan Air tawar. Yogyakarta, penebar Swadaya.


Kadri. 2008. Pengolahan usaha perbenihan ikan Mas. Jakarta, PT Penebar Swadaya.
Saanin. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bandung. Bina Cipta.
Susanto. 1987. Budidaya ikan Mas di pekarangan. Jakarta, PT penebar Swadaya.
Susanto dan Rochdianto. 1999. Kiat Budidaya Ikan Mas di Lahan Kritis. Jakarta, Penebar Swadaya.
Zamrud. 2002. Ikan Pemeliharaan di Air Tawar. Makassar, CV Zamrud Nusantara.
BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang


Ikan Mas ( Cyprinus carpio ) adalah salah satu jenis ikan budidaya air tawar yang paling banyak
dibudidayakan petani baik budidaya pembenihan maupun pembesaran  dikolam perkarangan
ataupun air deras ( Running water ). Produksi Ikan Mas dapat mencapai rata-rata di atas ikan
konsumsi lainnya. Di kalangan petani maupun masyarakat, Ikan Mas telah lama dikenal dan
disukai sehingga pemasarannya tidak begitu sulit. Selain sebagai ikan budidaya, Ikan Mas
memiliki keunggulan, yaitu dapat dikembangbiakan hanya dengan perbaikan lingkungan atau
manipulasi lingkungan dan kawin suntik atau hypofisasi (Santoso, 1993 ).
       Usaha pembenihan Ikan Mas ( Cyprinus carpio ) dapat dilakukan dengan berbagi cara yaitu
secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin meningkatnya teknologi
budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan maka telah dilaksanakan penggunaan induk-
induk yang berkualitas baik. Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada
kondisi alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya pemijahan dengan
hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan teknik pembenihan buatan, penetesan
telur secara terkontrol, pengendalian kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan
pemurnian kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu dilakukan penyeleksian 
tehadap induk Ikan Mas ( Gunawan, 1998 ).
Ikan Mas ( Cyprinus carpio ) menyukai tempat hidup ( habitat ) berupa perairan tawar yang
airnya tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras. Ikan ini hidup dengan baik di daerah
dengan ketinggian 150-600 m dpl ( di atas permukaan laut ) dengan suhu berkisar antara 25-
300C. Meskipun tergolong ikan air tawar, Ikan Mas kadang ditemukan di perairan payau atau
muara sungai dengan selinitas sampai 25-30% ( permil ). Jika dilihat dari kebiasaan makannya,
Ikan Mas tergolong ikan omnivora, karena ikan ini merupakan ikan yang bisa memakan berbagai
jenis makan, baik yang berasal dari tumbuhan maupun binatang renik. Meskipun demikian,
pakan utamanya adalah yang berasal dari tumbuhan di dasar perairan dan daerah tepian ( Amri
dan Khairuman, 2002 ).
1.2    Tujuan Praktek Kerja Lapangan ( PKL )
Tujuan PKL antara lain :
a.    Praktek kerja lapangan bertujuan untuk mengetahui Teknik Pembenihan Ikan Mas ( Cyprinus
carpio ) dan untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung mengenai usaha pembenihan ikan
mas tersebut dilapangan.
b.    Untuk mengetahui bagaimana tahapan-tahapan dalam proses pembenihan.
c.    Mengetahui tahap-tahap reproduksi ikan dan prilaku kawin.
d.   Mengindentifikasi tahap-tahap reproduksi ikan saat bertelur dan prilakunya.

1.3    Manfaat  Praktek Kerja Lapangan ( PKL )  


       Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) ini diharapkan memperoleh pengalaman kerja di lapangan
dan memperluas wawasan berfikir khususnya di bidang budidaya perikanan serta mendapatkan
gambaran dan pengetahuan dalam Tehnik Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus carpio).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Marfologi Ikan Mas


       Pengenalan biologi ikan mas (Cyprinus carpio) penting artinya bagi keberhasilan dan
kelestarian usaha budidaya secara intensif. Pemahaman sistematika dan marfologi ikan mas,
jenis dan habitat, tingkah laku dan kebiasaan makan serta pertumbuhan ikan mas (Rukmana,
2003).         
       Menurut Amri dan Khairuman (2002), ikan mas dapat diKlasifikasikan sebagai berikut :
Filum : Chordat, Subfilum : Vertebrata, Superclas : Pisces, Kelas : Osteichthyes, Subkelas :
Actinopterygii, Ordo : Cypriniformes, Subordo : Cyprinoidae, Famili : Cyprinidae, Genus :
Cyprinus, Spesies : Cyprinus carpio.
 

                              Gambar 2.1 Ikan Mas (Cyprinus carpio)


       Ikan mas (Cyprinus carpio) menurut sejarahnya berasal dari daratan Cina dan Rusia. Ikan
mas mempunyai bentuk badan agak memanjang pipih ke samping (Commpresed) mulut (bibir)
berada diujung tengah (terminal), dapat disembulkan, lunak (elastis). Memiliki kumis 2 pasang,
kadang-kadang mempunyai sungut 1 pasang. Selain itu, tubuh ikan mas juga dilengkapi dengan
sirip.
       Sirip punggung (dorsal) berukuran relatif panjang dengan bagian belakang berjari-jari keras
dan sirip terakhir yaitu sirip ketiga dan keempat, bergerigi. Letak permukaan sirip punggung
berseberangan bengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip dubur (anal) yang terakhir bergerigi.
Linea lateralis (girat sisi) terletak dipertengahan tubuh, melintang dari tutup insang ke ujung
sampai ke ujung belakang pangkal ekor. Pharynreal teeth (gigi kerongkongan) terdiri dari 3
bagian yang berbentuk gigi geraham (Suseno, 1999).

2.2    Habitat   
       Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) di perairan tawar yang airnya tidak terlalu dalam
dan alirannya tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas dapat hidup
baik di daerah dengan ketinggian 150 - 600 m di atas permukaan air laut (dpl) dan pada suhu 25-
30 °C. pH air antara 7-8. Meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas kadang-kadang ditemukan
diperairan payau atau muara sungai yang bersalinitas 25-30%  (Suseno, 1999).
2.3    Kebiasaan Makan
Pada umumnya umur 5 hari ikan mas memakan organisme renik berupa plankton. Larva ikan
mas memakan plankton nabati yang berukuran 100-300 mikron. Pada umur 5 hari tersebut
ukuran larva mencapai 6 mm–7 mm. Pada umur 1 bulan, ukuran normal larva mencapai 25 mm-
30 mm dan ukuran organisme yang bisa ditelan berkisar antara 0,5 mm-2,0 mm. Sekalipun ikan
mas menyukai makanan alami berupa plankton namun kebiasaan ini berubah secara berangsur-
angsur seirama dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Ikan mas dikenal sebagai hewan air
pemakan segala (omnivora). Ikan mas dewasa relatif rakus menelan semua jenis makanan alami
ataupun pakan buatan (Santoso, 1993).

2.4    Strain Ikan Mas


       Menurut Suseno (1999) jenis-jenis Ikan Mas secara umum dapat digolongkan menjadi dua
kelompok, yakni Ikan Mas Konsumsi dan Ikan Mas Hias. Jenis Ikan Mas Konsumsi adalah jenis-
jenis Ikan Mas yang dikonsumsi atau dimakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi
yang berasal dari hewan. Sementara itu, jenis Ikan Mas Hias umumnya digunakan untuk
memenuhi kepuasan batin atau untuk hiasan (pajangan) dan dipelihara di kolam-kolam taman
atau akuarium.

1.    Ikan Mas Konsumsi


a.    Ikan Mas Punten
Ciri-ciri Ikan Mas Punten adalah Tubuh relatif pendek, tetapi bagian punggungnya lebar dan
tinggi. Karena itu, bentuk badan ikan mas punten terkesan membuntak atau bulat pendek (big
belly). Perbandingan antara panjang total dan tinggi badan adalah 2,3 - 2,4 : 1. Warna sisik hijau
gelap, mata agak menonjol, gerakan tubuhnya lambat, dan bersifat jinak.

b.    Ikan Mas Sinyonya


            Ciri-ciri Mas Sinyonya adalah Bentuk tubuhnya memanjang (long bodied form) dan
punggungnya lebih rendah dibandingkan dengan Ikan Mas punten. Perbandingan antara panjang
dan tinggi badannya sekitar 3,66:1. Sisiknya berwarna kuning muda seperti warna kulit jeruk
sitrus. Mata ikan yang masih muda agak menonjol, kemudian berubah menjadi sipit ketika ikan
sudah mulai tua.
c.    Ikan Mas Taiwan
       Ciri-ciri Mas Taiwan adalah bentuk badan yang memanjang dan bentuk punggung seperti
busur agak membulat. Sisiknya berwarna hijau kekuningan hingga kuning kemerahan di tepi
sirip dubur dan di bawah sirip ekor.

d.   Ikan Mas Merah


       Ciri khas dari Ikan Mas Merah adalah sisiknya yang berwarna merah keemasan. Gerakannya
aktif, tidak jinak, dan paling suka mengaduk-aduk dasar kolam. Bentuk badannya relatif
memanjang. Dibandingkan dengan ras sinyonya, posisi punggungnya relatif lebih rendah dan
tidak lancip, matanya agak menonjol.

e.    Ikan Mas Majalaya


       Ciri-ciri Ikan Mas Majalaya adalah Ukuran badannya relatif pendek dan punggungnya lebih
membungkuk dan lancip dibandingkan dengan ras ikan mas lainnya. Bentuk tubuhnya semakin
lancip ke arah punggung dan bentuk moncongnya pipih. Sisiknya berwarna hijau keabuan dan
bagian tepinya berwarna lebih gelap, kecuali di bagian bawah insang dan di bagian bawah sirip
ekor berwarna kekuningan. Semakin ke arah punggung, warna sisik ikan ini semakin gelap.

f.     Ikan Mas Yamato


       Ciri-ciri Ikan Mas mato Yamato adalah Bentuk tubuhnya memanjang. Sisiknya berwarna
hijau kecokelatan. Ikan mas ini banyak ditemukan dan dibudidayakan di Asia Timur, seperti
Cina dan Jepang.

g.    Ikan Mas Lokal


       Ciri-ciri Ikan Mas Lokal adalah Bentuk tubuh dan warnanya merupakan kombinasi dari
beberapa jenis ikan mas yang sudah ada. Secara umum, bentuk tubuhnya memanjang dan
matanya tidak sipit. Kemungkinan besar ikan ini muncul akibat perkawinan silang yang tidak
terkontrol dengan jenis-jenis ikan mas lain yang ada di masyarakat.
2.    Ikan Mas Hias
       Jenis-jenis Ikan Mas yang digolongkan ke dalam kelompok Ikan Mas Hias sebagai berikut:

a.    Ikan Mas Kumpay


     Ciri yang menonjol dari Ikan Mas Kumpay adalah semua siripnya panjang dan berumbai
sehingga tampak indah ketika sedang bergerak. Warna sisiknya sangat bervariasi, ada yang
putih, kuning, merah, dan hijau gelap. Bentuk badannya memanjang seperti Ikan Mas Sinyonya.

b.    Ikan Mas Kancra Domas


       Ciri-ciri Ikan Mas Kancra Domas adalah Bentuk tubuhnya memanjang. Gerakannya mirip
Ikan Mas Taiwan, yakni selalu aktif dan kurang jinak. Sisiknya berukuran kecil dan susunannya
tidak beraturan. Warna sisiknya bervariasi, ada yang biru, cokelat, atau hijau. Sisik punggungnya
berwarna gelap. Semakin ke arah perut, warnanya semakin terang keperakan atau ke emasan.

c.    Ikan Mas Kaca


       Ciri khas ikan ini adalah sebagian tubuhnya tidak tertutup sisik. Bagian yang tidak tertutup
sisik sepintas tampak bening, mirip kaca. Di sepanjang gurat sisi (linea lateralis) dan di sekitar
pangkal siripnya terdapat sisik berwarna putih mengilap. Sisik tersebut berukuran besar dan tidak
seragam.

d.   Ikan Mas Fancy


       Ciri-ciri Ikan Mas Fancy adalah Bentuk tubuh ikan mas ini memanjang. Sisiknya berwarna
putih, kuning, dan merah. Pada tubuhnya terdapat totol- totol berwarna hitam. Karena warnanya
yang bermacam-macam itulah Ikan Mas ini disebut Fancy.

e.    Ikan Mas Koi


       Ciri-ciri Ikan Mas Koi adalah Bentuk badannya bulat memanjang. Warna sisiknya beragam,
ada putih, kuning, merah menyala, hitam, atau kombinasi dari warna-warna tersebut.

2.5    Perbedaan Jantan dan Betina


Ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:
a.     Betina
-       Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
-       Gerakan lambat.
-       pada malam hari biasanya meloncat-loncat.
-       Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.

b.    Jantan
-    Badan tampak langsing.
-    Gerakan lincah dan gesit.
-           Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

2.6    Pemeliharaan Induk


Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100
kg induk memerlukan kolam seluas 500 m persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan
dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 m
persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam
tanah dengan dilapisi anyaman bamboo bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan
paralon dan dipasang saringnya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik
(Suseno, 1999).

2.7    Teknik Pembenihan Ikan Mas


1.    Pemeliharaan Induk
       Memilih induk yang baik merupakan salah satu cara meningkatkan produksi benih. Oleh
karena itu, pemilihan calon induk atau induk yang akan di kawinkan harus dilakukan dengan
baik dan benar (santoso, 1992)

2.    Umur
       Sekalipun ikan mas di daerah tropis cenderung cepat matang gonadnya, tetapi umur yang
ideal yang layak dan produktif untuk dipijahkan adalah berkisar umur 2-4 tahun. Pada musim
hujan induk ikan mas yang umurnya kurang dari 1 tahun sudah dapat dipijahkan, tetapi pada
musim kemarau, induk-induk tersebut sebaiknya dirawat intensif dalam kolam induk (Arman,
1994).
3.    Bentuk Badan
  Bentuk badan Ikan Mas keseluruhan mulai ujung sirip ekor harus mulus,  sehat, badan dan
sirip- siripnya tidak cacat (Santoso, 1993).

4.    Bagian Kepala


Bagian kepala induk ikan mas relatif lebih kecil dari bagian badannya. Tutup insang normal,
tidak terlalu tebal hingga berkesan mengembang. Panjang kepala minimal sepertiga dari panjang
badan. Apabila tidak sama, mungkin terjadi pelengkungan atau pemendekan tulang punggung.
Ini pun harus dihindarkan. Jika bagian tutui insang dibuka, tidak terdapat bercak putih (Santoso,
1993)

5.    Sisik
Sisik induk yang baik tersusun secara teratur (kecuali strain kaper kaca) dan ukurannya relative
besar. Sisik yang terlihat kusam atau tidak cerah menandakan ia kurang baik atau terlalu tua
(Santoso, 1993).

6.    Pangkal Ekor


       Pangkal ekor yang baik harus normal dan kuat, tidak memendek atau
melengkung.perbandingan panjang pangkal ekor dengan lebar atau tingginya harus lebih
panjanng. Induk ikan mas yang menandakan pangkal ekornya kurang normal (tinggi melebihi
panjangnya) sabaiknya disingkirkan dari penyeleksian (Santoso, 1993).

2.7.1   Pesiapan Kolam


          Kolam yang disediakan perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan Ikan Mas
(Cyprinus carpio), dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas, air tidak terlalu keruh, kadar
oksigen dalam air cukup, debit air cukup, dan suhu berkisar 25°C, diperlukan bahan penempel
telur seperti ijuk atau tanam air, jumlah induk yang ditebar tergantung dari luas kolam, sebagai
patokan seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi, pemberian makanan
dengan kandungan protein 25%. Untuk pelet diberikan secara teratur 2x sehari (pagi dan sore
hari) dengan takaran 2-4% dari jumlah berat induk ikan (Gunawan, 1998).
2.7.2   Pemeliharaan Kolam
            Pematang kolam yang rusak atau bocor karena ulah binatang lain seperti ular, belut,
kepiting air tawar, lingsang dan sebagainya. Harus diperbaiki dengan jalan menambal atau
dipadatkan dengan tanah liat. Perbaikan pematang yang bocor atau berongga sekaligus untuk
mencegah binatang-binatang tersebut bersembunyi  (Santoso, 1993).

2.7.3   Pengeringan Dasar Kolam


            Pengeringan harus dilakukan karena selain bertujuan mengupkan gas-gas beracun hasil
pembusukan yang mungkin terjadi terdapat dikolam, pemberantas hama penyakit maupun telot-
telor ikan buas seperti ikan gabus juga menimbulkan bau ampo yang dapat menggugah atau
menimbulkan hasrat induk untuk kawin (Santoso, 1993).

2.7.4   Pemasangan  Kakaban


  Setelah persiapan dan pekerjaan lainnya siap, langkah seterunya adalah memasang kakaban
(terbuat dari bulu ijuk sebagai penempel telur) sebelum induk-induk dimasukkan. Ukuran
kakaban yang digunakan bervariasi 1 x 0,4 m, 1,5 x 0,4 m atau 2 x 0,4 m tergantung pada
persediaan induk yang ada (Santoso, 1993).

2.8  Pegamatan Ikan Mas Kawin


          Waktu yang tepat untuk memasukkan induk-induk hasil seleksi kekolam pemijahan adalah
antara jam 09:00 atau 10:00 Wib. Pelepasan induk pada pagi hari akan lebih cepat terangsang
sehingga lebih cepat melakukan pemijahan. Perbandingan antara induk jantan dan betina adalah
dengan perbandingan berat 1:1 artinya jika induk jantan sebesar 4 kg, maka betinanyapun harus
4 kg juga. Dalam praktek induk jantan biasa jumlah lebih banyak dibandingkan dengan betina
karna kematanngan kelaminnya lebih cepat (Santoso, 1993).

2.9  Pencegahan Hama dan Penyakit


            Mencegah hama dan penyakit lebih baik dari pada mengobati. Begitu pula dalam usaha
pembudidayaan ikan. Sebab kadang-kadang ikan yang kita pelihara diserang oleh hama atau pun
penyakit secara mendadak.
            Sebenarnya hal ini dapat dicegah atau diberantas dengan cara -cara sebagai berikut :
-       Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
-       Peliharalah ikan yang benar-benar bebas dari penyakit.
-       Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas sesuai anjuran     
-       Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel. tiap kolam diberi satu pintu pemasukan.
-       Pakan yang diberikan harus cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
-       Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya di lakukan secara hati-hati dan benar 
(Santoso, 1993).
2.10     Pemanenan Benih
Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alatalat tangkap dan
sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana yang di siapkan diantaranya keramba,
ember biasa, ember lebar, seser halus sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai
penyimpanan benih sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar
benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih untuk
penyimpanan benih hasil panen.
Panen benih ikan dimulai pada pagi hari, yaitu antara jam 04.00 – 05.00 pagi dan sebaiknya
berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terik matahari
yang dapat mengganggu benih ikan kesehatan tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan
mengeringkan air kolam pendederan sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan
agar ikan tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut benih
mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam ember atau keramba.
Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat diperoleh dapat
mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.

2.10.1    Cara Perhitungan Benih


Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang di simpan dalam bak penyimpanan maka
sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara menghitung benih umumnya dengan
memakai takaran, yaitu dengan menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk
menghitung putihan, dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih
biasanya dengan cara:
a.    Penghitungan dengan sendok.
b.    Penghitungan dengan mangkok.

BAB III
METODELOGI KERJA

3.1    Waktu dan Tempat


Praktek Kerja Lapangan (PKL)  ini dilaksanakan pada tanggal 10 Februari s/d 10 Maret 2013 di
UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar  Batee Iliek Kecamatan Samalanga
Kabupaten Bireun Provinsi Aceh.

3.2    Alat dan Bahan


       Alat dan Bahan yang di gunakan dalam kegiatan PKL di UPTD Pembenihan Budidaya
Perikanan Air Tawar  Batee Iliek Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireun Provinsi Aceh antara
lain seperti yang tercantum dalam tabel di bawah ini :
Tabel 3.1 Alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktek kerja lapangan di UPTD PBPAT 
Batee iliek.
No Alat Fungsi
1 Cangkul  Alat untuk memperbaiki kolam yang rusak
2 Piring Tempat untuk meletakkan telur pada saat striping
3 Sapu lidi Untuk membersihkan bak pemijahan
4 Kakaban Sebagai tempat perekat telur pada saat pemijahan
5 Hapa Sebagai tempat pemijahan
6 Serok Alat untuk menangkap induk ikan
7 Timbangan   Alat untuk menimbang berat badan ikan
8 Hapa Sebagai alat untuk perawatan larva
9 Kolam Tempat untuk perawatan induk
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan praktek kerja lapangan sebagaimana tercantum
pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Bahan-bahan yang digunakan dalam melakukan praktek kerja lapangan di UPTD
PBPAT  Batee Iliek.
No Bahan Fungsi
1 Induk Jantan Sebagai bahan untuk melakukan pemijahan
2 Induk Betina Sebagai bahan untuk melakukan pemijahan
3 Telur dan Larva Sebagai bahan perlakuan praktek kerja lapang
4 Kuning telur Sebagai pakan bagi larva ikan
5 Benih Ikan Mas Sebagai bahan perlakuan praktek kerja lapang

3.3    Metode Pengambilan Data


Metode yang dipakai dalam praktek kerja lapangan ini adalah metode deskriptif. metode
deskriptif yaitu metode yang digunakan untuk melukiskan secara sistematis fakta atau
karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu, dalam hal ini bidang perikanan secara aktual
dan cermat (Hasan, 2002).

3.4    Teknik Pengambilan Data


Teknik yang dipakai dalam praktek lapang ini dengan mengabil dua macam data, yaitu data
primer dan data sekunder. Data primer didapat dari obsevasi, wawancara dan partisipasi aktif,
sedangkan data sekunder didapat dari perpustakaan atau dari laporan-laporan penelitian
terdahulu.

3.4.1   Data Primer


Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh orang yang
melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukanya. Data ini diperoleh secara
langsung dengan melakukan pengamatan dan pencatatan dari hasil observasi, wawancara dan
partisipasi aktif (Hasan, 2002).

a.      Observasi
Menurut Surachmad (1978), observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap gejala yang diselidiki. Dalam praktek kerja lapangan ini observasi dilakukan terhadap
berbagai kegiatan pembenihan, persiapan kolam, pemeliharaan kolam, pengeringan dasar kolam,
pemasangan kakaban, pengamatan ikan mas kawin, pencegahan hama dan penyakit, pemanenan
benih, cara perhitungan benih.

b.      Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengambilan data yang digunakan untuk memperolah informasi
langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari
responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit. Ada beberapa faktor yang akan
mempengaruhi arus informasi dalam wawancara, yaitu :
pewawancaraan, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara (Riduwan, 2002).
Wawancara pada praktek kerja lapangan ini meliputi sejarah berdirinya (BBI) di Batee Iliek,
letak umum, struktur organisasi, pembenihan ikan, pemasaran ikan, permasalahan yang dihadapi,
hasil yang dicapai dan lain sebagainya.

c.       Partisifasi Aktif


Bentuk partisifasi aktif ini merupakan suatu kegiatan dimana kita turut serat secara langsung
dalam semua kegiatan yang berkaitan dengan pembenihan, persiapan kolam, pemeliharaan
kolam, pengeringan dasar kolam, pemasangan kakaban, pengamatan ikan mas kawin,
pencegahan hama dan penyakit, pemanenan benih, cara perhitungan benih.

3.4.2   Data Sekunder


          Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan
penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Data ini, biasanya diperoleh dari perpustakaan
atau dari laporan-laporan penelitian terdahulu. Data sekunder disebut juga data tersedia.
Dalam praktek kerja lapangan ini data sekunder diperoleh dari laporan-laporan pustaka yang
menunjang, serta data yang diperoleh dari lembaga pemerintah, pihak swasta yang berhubungan
maupun masyarakat yang terkait dengan usaha pembenihan ikan mas (Hasan, 2002).

3.5    Prosedur Kerja 


Adapun prosedur kegitan yang akan dilakukan dalam proses pemijahan Ikan Mas yaitu :

3.5.1   Persiapan Kolam


Prosedur persiapan kolam yaitu :
-       Dikeringkan kolam atau bak tempat pemijahan, sebelum seleksi induk dilakukan.
-       Sambil menunggu tanah dasar kolam kering, pematang kolam diperbaiki dan diperkuat untuk
menutup kebocoran-kebocoran yang ada.
-       Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun
dolomit dengan dosis 25 kg per 100 meter persegi.
-       Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3
hari, kemudian air kolam ditambah sedidit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan
terus diatur sampai ketinggian 80-120 cm tergantung kepadatan ikan.

3.5.2    Seleksi Induk


Adapun tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam seleksi induk sebagai berikut :
-       Diseleksi tingkat kematangan gonad induk dengan meraba bagian perut induk betina.
-       Dipilih induk yang tidak cacat.
-       Ditimbang berat induk ikan mas.
-       Induk yang belum siap untuk dipijah dipisahkan dari induk yang sudah matang gonat.

3.5.3   Pemijahan
Adapun tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam pemijahan sebagai berikut :
-       Kolam atau bak yang akan dilakukan untuk pemijahan dibersihkan, dengan cara menguras
bagian dasar kolam.
-       Hilangkan sisa-sisa kotoran pada bak pemijahan sebelumnya.
-       Lumpur yang ada di dasar kolam diangkat.
-       Dikeringkan kolam atau dibiarkan mengering selama satu hari.
-       Diisi air pada kolam pemijahan.
-       Dipasang hapa untuk tempat pemijahan.
-       Kakaban dimasukan kekolam pemijahan sebagai subtrat telur hasil pemijahan.
-       Dimasukkan induk yang sudah matang gonad atau induk yang sudah siap dipijah.

3.5.4   Penetasan Telur


          Kegiatan penetasan telur dilakukan selama periode pengembangan telur hingga menetas,
telur yang sudah di buahi harus selalu di jaga supaya telur terhindar dari predator dan juga
kebersihan tempat pemijahan harus selalu terjaga, tehindar dari lumpur yang terbawa oleh air
yang bertujuan agar mudah dalam melakukan pemanenan benih pada saat pengangkatan hapa
dari dalam bak pemijahan.
3.5.5   Perawatan Larva
Setelah larva tidak menempel pada kakaban 2-3 hari kemudian) kakaban diangkat dan
dibersihkan. Namun larva tersebut belum membutuhkan makanan dari luar, ini disebabkan larva
yang baru menetas masih dibekali cadangan makanan berupa kuning telur (yolk sack) sebagai
makanan awal yang akan habis selama 3 hari.
Selanjutnya  Pemberian pakan untuk larva, satu butir kuning telur rebus untuk 100.000 ekor/hari.
Caranya kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada benih, perawatan 5-7 hari.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1          Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapangan


4.1.1    Sejarah Berdirinya BBI Batee Iliek Kecamatan Samalangga
UPTD Perbenihan Perikanan Air Tawar Provinsi Aceh dirintis sejak tahun 1993 yang masih
berbentuk Balai Benih Ikan (BBI) Batee Iliek dan baru pada tahun 2009 berganti menjadi Unit
Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perbenihan Perikanan Air Tawar Provinsi Aceh menurut
Peraturan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 27 Tahun 2009 dan pengangkatan
pejabat strukturalnya pada Bulan Juni  tahun 2011.
Keberadaan UPTD Perbenihan Perikanan Air Tawar Provinsi Aceh merupakan sarana yang
disediakan pemerintah untuk melayani kebutuhan masyarakat akan benih ikan air tawar di Aceh.
            UPTD Perbenihan Perikanan Air Tawar Provinsi Aceh juga merupakan areal yang
berfungsi sebagai kegiatan pembenihan ikan air tawar seperti ikan mas dan ikan nila yang
didistribusikan ke beberapa kabupaten. .

4.1.2        Letak Geografis dan Keadaan Sekitar


UPTD PBPAT Provinsi Aceh terletak di desa Pulo Baroh, Kecamatan Samalanga, Kabupaten
Bireun. UPTD PBPAT Batee Iliek terletak pada posisi 96o 21’ s/d 97o 21’ Bujur Timur dan 4o
58’ s/d 5o 18’ Lintang Utara. UPTD PBPAT Batee iliek yang terletak di Kabupaten Bireun
dengan batas-batas sebagai berikut:
-       Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka
-       Sebelah Selatan berbatasan dengan Bukit Barisan
-       Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Utara
-       Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pidie Jaya
A.  Lokasi
UPTD PBPAT Batee Iliek terletak di Desa Pulo Baroh, Kecamatan Samalanga, Kabupaten
Bireun dengan jarak tempuh :
-       7 Km dari Kota Kecamatan Samalanga
-       50 Km dari Ibukota Kabupaten Bireun
-       170 Km dari Ibukota Provinsi Aceh
B.  Pasok air
-       Irigasi dari bendungan air Batee Iliek . Bendungan di lokasi UPTD PBPAT Batee Iliek
(mengalir sepanjang tahun dalam kualitas dan kuantitas yang memadai untuk sebuah Balai Benih
Ikan).
-       Jarak dari sumber air 1 (satu) Km
-       Debit air antara 10-25 liter per detik
C.  Topografi
-       Datar bergelombang
-       Jenis tanah liat berpasir
D.  Luas UPTD PBPAT Batee iliek
-       Luas seluruh areal UPTD PBPAT Batee Iliek adalah 3 Ha
-       Luas Kolam 2 Ha
-       Luas daerah untuk perkantoran 1 (satu) Ha

4.1.3        Visi dan Misi UPTD PBPAT Provinsi Aceh


Visi
1.    Terwujudnya Sumberdaya Perikanan budidaya sebagai sumber utama penghidupan pendapatan
dan kesejahteraan yang berkelanjutan

Misi
1.    Menyediakan benih bermutu
2.    Restocking dan pemberdayaan masy. Petani ikan
3.    Pembinaan teknologi pembenihan dan pusat pendidikan dan pelatihan perikanan air tawar di
aceh

Tabel 4.1.        Jenis sarana dan prasarana yang terdapat di UPTD Batee Iliek Kecamatan
Samalanga Kab. Bireuen.

NO Jenis Sarana dan Prasarana Keterangan Keterangan


1 Kantor 1 Permanen
2 Aula Pertemuan 1 Permanen
3 Pos Jaga 1 Permanen
4 Rumah Dinas Kepala UPTD 1 Permanen
5 Rumah Dinas karyawan UPTD 4 Permanen
6 Gudang 2 Permanen
7 Indoor Hatchery 1 Permanen
8 Laboratorium 1 Permanen
9 Asrama/mess 1 Permanen
Sumber: UPTD Batee Iliek Kabupaten Bireuen, 2012

Tabel 4.2. Jumlah kolam di UPTD Batee Iliek.


NO Jenis Kolam Jumlah Keterangan

1 Kolam induk 10 Dinding beton


2 Kolam pemijahan 5 Dinding beton
3 Kolam  pendederan 14 Dinding beton

Sumber: UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek.

Tabel 4.3. Jenis ikan yang ada di UPTD Batee Iliek.


No Jenis ikan Jantan Betina Jumlah
1 Ikan mas 70 150 120
2 Ikan nila Wanayasa 350 1000 1350
3 Ikan nila gesit 400 - 400
4 Ikan nila merah 40 85 125
5 Ikan lele sangkuriang 100 50 150
6 Ikan nila sultana 300 900 1200
7 Grasscarp 10 5 15
8 Gurami 15 20 35
9 Patin 20 20 40
10 Bawal 10 16 26
Sumber: UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek.

Gambar : 4.1 Keadaan sekitar UPTD


4.1.4   Struktur Organisasi UPTD Batee Iliek
Struktur
organisasi di UPTD Batee Iliek terdiri dari Kepala UPTD, Sub bagian tata usaha, Kelompok
jabatan fungsional, seksi Standardisasi dan Pelayanan teknik produksi.
  SDM di UPTD PBPAT Provinsi Aceh
N Batee Iliek
o Pegawai SM D3 S1 S2 JLH
A
1 PNS 18 1 4 1 24
2 Tenaga Kontrak 3 - - - 3
                    

4.2              Teknik Pembenihan


4.2.1        Persiapan Kolam Pembenihan
Pada UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek persiapan kolam
pembenihan yang perlu dilakukan adalah pengeringan dasar kolam 5-7 hari. Hal ini bertujuan
untuk membasmi hama dan penyakit, perbaikan pematang, pembuatan kemalir, pembalikan
tanah dasar, pengapuran untuk mematikan ikan liar, penyakit dan hama. Pemupukan untuk
menumbuhkan makanan alami ikan. Pemupukan cukup dengan mempergunakan pupuk
anorganik (pupuk kandang) dengan dosis 250-500 g/m2. Pupuk organik (Urea dan TSP) dengan
dosis TSP 10 g/m2 dan urea 15 g/m2, kemudian dilakukan pemasukan air. Pintu pemasukan harus
dipasang saringan yang halus, untuk menjaga kompetitor dan predator yang tidak dikehendaki
pada saat pemasukan air.

Gambar 4.2 Persiapan kolam pembenihan

4.2.2        Pengadaan Calon Induk


Pengadaan  calon induk di UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek
Kabupaten Aceh Bireun didatangkan dari Suka Bumi. Pemeliharaan calon induk Ikan Mas jantan
dan betina dipelihara secara terpisah dalam kolam yang berukuran 15 x 25 m dengan kedalaman
air 80 cm, dan memilki ketinggian 100 cm, hal ini berguna untuk memudahkan dalam
penyeleksian induk dan juga menghindari dari perkawinan liar.
Menurut (Bachtiar, 2002) menyatakan standarisasi induk Ikan Mas yang baik adalah sebagai
berikut: Badan hendaknya tidak keras, Perut lebar dan datar, Badan relatif tinggi, Pangkal ekor
relatif lebar dan normal, Kepala relatif  kecil dan moncong runcing, Sisik agak besar dan teratur,
Lubang  dubur terletak relatif lebih dekat kepangkal ekor.
Ciri-ciri induk Ikan Mas betina yang siap dipijah antara lain adalah penggerakan lamban, pada
malam hari sering meloncat dan perut membesar dan buncit kearah belakang jika diraba terasa
lunak dan lubang anus agak membengkak atau menonjol dan memerah .
Sedangkan ciri-ciri Ikan Mas jantan yang siap dipijahkan adalah jika perut nya diurut/distriping
akan mengeluarkan sperma, setelah ikan siap memijah  biasanya 2-3 bulan kemudian ikan siap
dipijahkan kembali (Bachtiar, 2002).

4.3    Seleksi Induk


Seleksi induk Ikan Mas dilakukan untuk memilih tingkat kematangan gonad dan fekunditas atau
kemampuan menghasilkan telur. Dengan kata lain, seleksi induk ikan adalah memilih induk ikan
yang unggul dan telah siap untuk dipijahkan. Adapun proses seleksi induk selama praktek kerja
lapang di Balai Benih Ikan ( UPTD PBPAT ) Batee Iliek adalah sebagai berikut :
      Ciri-ciri induk jantan yaitu :
-  Perut ramping jika diraba terasa kasar.
-  Pada malam hari ikan sering meloncat-loncat.
-  Lubang anus agak terbuka dan merah.
-  Pergerakan agresif/lincah.
-  Jika distriping akan mengluarkan cairan putih kental (sperma).
-  Bobot tubuh 800-1500 gram
-  Umur 1-2 tahun

      Ciri-ciri induk betina yaitu :

- Perut buncit/membesar jika diraba terasa lunak.


- Pada malam hari ikan sering meloncat-loncat.

- Lubang anus agak terbuka dan memerah.

- Pergerakan lambat.

- Bila perut distriping perlahan-lahan mengeluarkan cairan bening/kuning kemerahan atau bisa

juga keluar telur.


- Bobot tubuh 2000 - 4000 gram.

- Umur 2-3 tahun.

       Menurut Bachtiar (2002)  menyatakan standarisasi Ikan Mas yang baik untuk diseleksi
adalah sebagai berikut :
-       Badan hendaknya tidak keras
-       Perut lebar dan datar
-       Badan relatif tinggi
-       Pangkal ekor relatif  lebar dan normal
-       Kepala relatif  kecil dan moncong runcing
-       Sisik agak besar dan teratur
-       Lubang dubur relatif lebih dekat kepangkal ekor

4.4    Persipan Kolam Pemijahan


       Pada saat persiapan kolam pemijahan, hal pertama dilakukan seperti pengeringan dasar
kolam, tujuannya untuk menguapkan gas-gas beracun dan untuk menetralisir pH. Lama
pengeringan sekitar 2-3 hari, ketika kolam dikeringkan dilakukan pembersihan kolam yang kotor
supaya kolam yang dipakai untuk pemijahan bersih. Setelah selesai pembersihan kemudian hapa
dipasang dalam kolam pemijahan beserta kakaban, selanjutnya diisi air sekitar 60-75 cm. Luas
kolam pemijahan di UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek berukuran 2
x 4 m.
Gambar 4.3 Persiapan bak pemijahan

4.5    Pemijahan
       Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang di pijahkan di UPTD Pembenihan Budidaya
Perikanan Air Tawar Batee Iliek seberat 4 Kg. Induk yang digunakan sebagai bahan praktek
berjumlah 10 ekor (6 jantan dan 4 betina). Menurut hasil di lapangan bila pemijahan dilakukan 
1:1 maka dikhawatirkan sperma induk jantan untuk pembuahan telur tidak cukup.
       Proses kegiatan pemijahan yang dilaksanakan selama Praktek Kerja Lapangan di UPTD
Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek ada 2 hapa yaitu sebagai berikut :

N
Jenis Jantan Betina
O
1 Hapa 1 6 4
2 Hapa 2 5 4

Dalam proses pemijahan, pelepasan induk ikan mas jenis hapa 1 dan hapa 2 dilakukan sekitar
jam 14.30 Wib.

1.    Yang lebih cepat melakuakan pemijahan yaitu hapa 2 yang 4 betina:5 jantan yang memijah
berkisar antara jam : 22.00 wib
2.    Sedangkan hapa 1 dalam melakukan pemijahan sedikit lama dari pada ikan yang berada di
dalam hapa 2, di dalam hapa 1 yang 4 berina : 6 jantan  melakukan pemijahan berkisar antara
jam 23.20 Wib.

Kondisi induk setelah berlangsungnya proses pemijahan sangat lemah, untuk itu perlu dilakukan
perawatan dimana induk harus segera dipindahkan ke kolam lain yang kualitas airnya memenuhi
syarat dengan suhu 26-28, DO 3-4 PPm dan pH 6,5-7, setelah pemijahan, pemindahan induk
jantan dan betina harus dilakukan untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, dan juga 
mencegah induk memakan telur.
Untuk perawatan telur, untuk menjaga agar telur terhindar dari jamur yang di lakukan adalah
pemberian Malacyte Green (Mg). Malacyte Green (Mg) dilarutkan dengan air dalam ember
plastic dengan dosis 0,5 ppm di kalikan dengan jumlah luas bak pemijahan. Malacyte Green
(Mg) ditebar secara merata dalam air bak pemijahan dan dibiarkan selama 3 jam.

Gambar 4.4 Pemberian Mg

4.6         Teknik Penetasan Telur


4.6.1   Wadah
          Adapun  kegiatan penetasan telur yang dilakukan pada saat praktek kerja lapangan di
UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek adalah sebagai berikut :
          Penetasan telur tetap dilakukan dalam bak pemijahan yang di beri hapa yang tujuannya
adalah untuk mempermudah proses pemanenan larva ikan. Telur yang sudah di buahi tersebut
akan menetas selama 48-56 jam atau 2-3 hari kemudian, telur yang tidak menetas dibuang
dengan airnya dan diganti dengan air baru.

4.6.2   Penetasan Telur


          Dengan beratnya induk Ikan Mas sampai 2 kg maka telurnya mencapai 200.000 butir telur
yang dipijah oleh ikan, dan dari jumlah telur yang menetas yang berhasil menjadi larva yaitu
mencapai 136.000 larva.
4.7         Perawatan Larva
Perawatan larva yang di lakukan di UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee
Iliek adalah, Setelah telur menetas semua, dalam tempo 2 sampai 3 hari, Larva yang baru
menetas tidak diberi makan karna masih memiliki makanan cadangan (kuning telur). Kakaban
yang di sediakan di dalam bak pemijahan di keluarkan kembali dari dalam bak pemijahan dan
kemudian di bersihkan. Hapa atau bak pemijahan di bersihkan dengan menggunakan sikat yang
tujuannya adalah supaya sirkulasi air yang baru mudah untuk masuk kedalam hapa.
Setelah 3 hari cadangan makanan ( kuning telur ) yang menempel pada larva ikan akan habis.
Dan di hari ke 4 larva ikan diberikan pakan telur yang sudah di rebus dan kemudian di ambil
kuning telur dan digosok dengan menggunakan saringan teh, lalu suspensi kuning telur tersebut
dimasukkan kedalam sprayer yang di campur dengan air. Semprotkan suspense kuning telur
dengan sprayer secara merata ke dalam happa setiap 2 jam sekali.

4.8         Pemanenan Larva


          Tehnik pemanenan larva yang di lakukan di Balai Benih Ikan UPTD Pembenihan
Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek adalah dengan cara happa tempat pemijahn yang
berada di dalam bak pemijahan digulung secara berlahan-lahan ke sudut happa agar larva yang
ada di dalam happa tidak tersangkut. Setelah larva terkumpulpada sudut happa, kemudian larva
di ambil dengan menggunakan piring plastic dan di masukkan ke dalam ember plastic yang telah
berisi air.
          Kemudian pindahkan larva ke kolam pendederan dengan cara menyatukan air di dalam
ember dengan air di dalamkolam secara berlahan, yang tujuannya adalah agar larva tidak merasa
tekejut dengan kondisi dan suhu perairan di dalam kolam pendederan.

4.9         Hama dan Penyakit


4.9.1        Hama
Berbagai jenis hama yang menyerang benih ikan mas sebagai berikut :
      Katak.
Katak sering memakan benih ikan mas yang masih berukuran larva.
      Ular.
Ular umumnya memakan benih ikan yang berukuran larva hingga benih ikan pada tahap
pendederan ketiga.
      Ikan Belut.
Umumnya memakan benih ikan yang berukuran larva hingga benih ikan  pada tahap pendederan
ketiga.
      Burung.
Umumnya memakan benih ikan yang berukuran larva hingga benih ikan pada tahap pendederan
ketiga dan adakalanya juga memangsa ikan yang berukuran besar.
      Ucrit.
Ucrit adalah larva dari kumbang air, bentuknya panjang seperti ulat dan warna tubuhnya
kehijauan ini memangsa benih ikan yang masih larva dan benih yang berukuran 2–3 cm.
      Notonecta.
Notonecta dikenal juga dengan sebutan daerah Aceh “lakoe ie”. Notonecta ini memangsa benih
ikan yang masih larva dan benih yang berukuran 2–3 cm.

4.9.2                    Penyakit


Pada UPTD  Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar Batee Iliek penyakit yang sering
menyerang ikan mas adalah jamur yang disebabkan oleh luka pada badan ikan. Penyakit dapat
disebabkan oleh luka goresan atau dikarenakan kualitas air yang buruk. Penyakit ini biasanya
menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian lainnya. Penyakit yang sering
menyerang benih ikan mas yaitu penyakit  Argulosis, penyebabnya adalah parasit yaitu sejenis
kutu Argulus sp atau dikenal dengan nama penyakit kutu ikan.
Gejala klinis serangan penyakit Argulosis adalah pendarahan di sekitar bekas gigitan. Kutu ikan
menempel pada tubuh ikan yang terinfeksi. Penanganan penyakit ini dapat dilakukan
perendaman dengan mengunakan Kalium permanganat  (PK) dengan dosis 3-5 ppm.
Gambar 4.5  Bakteri Argulus sp

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1   Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan di UPTD Pembenihan Budidaya
Perikanan Air Tawar  Batee Iliek Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireun Provinsi Aceh,
Tanggal 10 Februari s.d  10 Maret 2013. Tentang Teknik Pembenihan Ikan Mas (Cyprinus
carpio) dapat disimpulkan :
1.    Kegiatan pembenihan meliputi tahap pemeliharaan induk, seleksi induk, pemijahan, persiapan
kolam, penetasan, perawatan larva, pendederan.
2.    Pakan yang diberikan selama pemeliharaan larva terdiri dari pakan alami.
3.    Sumber air yang dimanfaatkan oleh UPTD Pembenihan Budidaya Perikanan Air Tawar  Batee
Iliek berasal dari air sungai pegunungan serta sumur bor. Kedua sumber tersebut sangat
menunjang keberadaan air di UPTD Batee Iliek.

5.2   Saran
1.    Perlunya penambahan teknisi yang ahli dalam bidang kegiatan pembenihan Ikan air  tawar,
khususnya pada pembenihan Ikan Mas, agar mahasiswa yang melakukan kegiatan pratikum
lapang, bisa lebih efektif dalam melakukan setiap kegiatan.

2.    Perlu adanya peralatan laboratorium yang lengkap untuk menunjang proses budidaya di UPTD
Batee Iliek.

3.    Perlunya diperbaharui pintu pengeluaran air dalam kolam yang menggunakan pipa goyang,
karena pintu air keluar sekarang tidak mengeluarkan air dasar, melainkan mengeluarkan air
permukaan.

4.    Dari studi ini diharapkan akan terjalin kerja sama dengan instansi UPTD Batee Iliek secara
berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Amri, K. dan Khairuman. 2002.  Menanggulangi Penyakit pada Ikan Mas dan Koi. Agro Media
Pustaka. Jakarta.
Arman,  A. 1994. Budidaya ikan Air tawar. Kashiko Press: Jakarta
Bachtiar, Y. 2002.pembesaran ikan mas dikolam pekarangan agromedia Pustaka, Jakarta.
Gunawan. 1998.  Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas Dalam Sinar Tani. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Hasan, 1. 2002. Pokok- pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Riduwan, 2002. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian Alfabeta. Bandung.
Rukmana, R. 2003. Pembenihan dan Pembesaran Ikan Mas. Penerbit Aneka Ilmu. Semarang.
Santoso, B. 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Penerbit Khanisius. Yogyakarta.
Surachmad, W. 1978. Pengantar Penelitian Ilmiah-Dasar Metode Teknik. Penerbit Tarsito. Bandung.
Suseno, D. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, Jakarta : Penerbit Swadaya. Jakarta.
UPTD Batee Iliek, 2004. Data SOP UPTD Batee Iliek.Bireuen. 

Anda mungkin juga menyukai