Anda di halaman 1dari 9

c c

c
         
p
p
p
Sabtu, 23 September 2006
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mungkin kata-kata mutiara ini tak cukup
kuat untuk menahan kesedihan para korban bencana gempa bumi di Yogyakarta, 27 Mei
2006 lalu.p
Gempa yang memluluhlantakkan hampir sebagian besar kabupaten/kota di
Yogyakarta di pagi hari itu hingga kini mungkin memang masih terasa. Kita ingat
bagaimana musibah gempa berkekuatan 5,8 SR dan berdurasi hampir satu menit itu
menyedot perhatian nasional dan internasional. p
Bencana yang mengakibatkan lumpuhnya kegiatan perekonomian dan aktivitas
masyarakat selama beberapa waktu itu bahkan diplot sebagai salah satu bencana
terbesar. Bagaimana tidak, ribuan nyawa melayang dan ribuan bangunan runtuh. p
Namun, yang terjadi biarlah berlalu. Kini, secara perlahan tapi pasti, masyarakat
Yogyakarta kembali merajut puing-puing kehidupannya. Mereka tidak mau berlama-
lama larut dalam kesedihan dan berkomitmen untuk membangun kembali
Yogyakarta sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing.p
Sekadar diketahui, sektor pariwisata Yogyakarta saat ini kembali menggeliat. Meski
tertimpa bencana, secara "ajaib" Yogyakarta kembali pulih dan sudah bisa dikatakan
kondusif sebagai daerah tujuan wisata. Ini fakta. Daerah-daerah tujuan wisata di
Yogyakarta kini nyaris tak tampak lagi sebagai daerah yang pernah tertimpa
bencana. p
Di Malioboro, Keraton Kesultanan Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan,
Pantai Parangtritis serta sentra-sentra UKM yang menawarkan produk khas
Yogyakarta yang menjadi bagian dari paket wisata itu kini sudah tak terlihat lagi
sebagai tempat yang pernah tertimpa gempa bumi.p
Salah satunya adalah sentra usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi
keramik gerabah, di daerah Tirto/Kasongan, Bangunjiwo-Kasihan, Bantul,
Yogyakarta. Sentra UKM yang selama ini memproduksi beraneka ragam dan jenis
keramik gerabah ini kembali menggeliat. p
Pelaku usaha keramik gerabah di daerah yang bisa dinilai sebagai tujuan wisata
wajib dikunjungi di Yogyakarta ini mulai kembali berproduksi. Gempa bumi memang
meyesakkan, namun tak perlu diratapi, karena hidup terus berjalan. Mungkin ini
yang berada di benak para pelaku dan pengrajin usaha keramik gerabah di daerah
yang terkenal disebut Kasongan itu.p
Seperti diketahui, Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah di Yogyakarta
yang paling parah terkena dampa bencana gempa bumi. Ribuan nyawa melayang
dan banyak bangunan yang runtuh. Tak terkecuali sentra UKM keramik gerabah di
Kasongan, Bangunjiwo-Kasihan, di Bantul.p
Namun trauma musibah besar itu tampaknya tak menjadikan masyarakat,
khususnya pelaku dan penggrajin usaha keramik, duduk berdiam diri sambil
berpangku tangan. Ini berhasil dibuktikan oleh salah satu pengusaha keramik
gerabah asli Kasongan, Timbul Raharjo.p
Meski tempat produksi dan toko berbagai jenis keramik gerabahnya hancur akibat
gempa, secara perlahan tapi pasti Timbul bersama karyawan dan pengrajinnya
kembali berproduksi. Bahkan Timbul secara intensif terus mempertahankan
komunikasi dengan para pembeli produknya (buyers), baik di dalam maupun luar
negeri.p
Timbul menjadi salah satu pelopor kembali menggeliatnya sentra UKM keramik
gerabah di kasongan. Bahkan 10 hari pasca-gempa, dia sudah mengekspor satu peti
kemas ukuran 40 kaki (maksimal) ke Eropa. p
"Memang banyak bangunan (1 tempat produksi dan 4 toko) serta produk keramik
saya hancur akibat gempa. Namun saya kumpulkan produk-produk yang masih
bagus dan memperbaiki produk-produk yang rusaknya tidak terlalu parah ditambah
sedikit produksi baru untuk diekspor. Ini dalam rangka memenuhi pesanan sebelum
terjadinya gempa," kata Timbul.p
Ayah dua orang anak ini mengaku, para buyers di dalam dan luar negeri sangat
mengerti kondisi usahanya akibat gempa bumi tersebut dan memberikan dispensasi
atau keringanan. Sehingga, secara perlahan usahanya kini bisa kembali bangkit dan
para karyawan serta pengrajinnya juga dapat kembali bekerja.p
Menurut Timbul, penjualan keramik gerabahnya sudah bisa dikatakan kembali
normal, di mana sebanyak hampir 30 peti kemas dalam dua bulan terakhir bisa
diekspor. Keramik gerabahnya sebagian besar dikirim ke Italia, Belanda, Spanyol,
Jerman, Australia, dan Amerika Serikat. p
"Keramik gerabah Yogyakarta masih diminati buyers luar negeri, karena memliki
nilai seni yang sulit di produk sejenis dari negara lain. Selain itu, desain juga
menjadi salah satu nilai tambah," kata lulusan Sarjana S-2 yang juga staf pengajar
di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini. p
Pengusaha yang belum genap berusia 37 tahun ini mengatakan, pihaknya terus
berusaha menjadikan sentra UKM keramik gerabah Kasongan, Bantul, kembali
normal secara menyeluruh seperti sebelum gempa bumi. Selain produknya masih
diminati di pasar lokal dan internasional, sentra UKM keramik gerabah ini juga harus
tetap dipertahankan, karena juga merupakan salah satu tujuan wisata yang khas di
Yogyakarta.p
Dan hal ini pun sudah dikomunikasikan dengan Pemprov DI Yogyakarta dan
pemerintah pusat. Bahkan Departemen Perdagangan bekerja sama dengan Pemprov
DI Yogyakarta serta instansi terkait lainnya juga siap memberikan bantuan untuk
pemulihan secara terintegrasi dan komprehensif. (*/Andrian Novery) p
p

ppp

p  p
p
ppp  p  p p p  p  p ! p!p p"  #$%p&p  p
  p" 'p(%  p p p%p  p  p p% p" 'p p# !p! p
$  p % p# p ) p p! p! p # p  p   'p # p
  p  p  pp # p  p p! p  p p  p p*   p+ $ ,'pp
ppppp p # p! p$  p!p % p # p# p p p%p  p  p
 # p  p   'p # p  p   p! p!  p pp%!pp  p
 p  p  p p-p- p &p! )! p p! p  'pp
ppppp % p  p $  p p%!p # p   'p  p p!!p
 % p  p&   p p #p   'p p pp%.p p  pp
 p p&! pp p
)/p'pp
ppppp0p0 p1p0  #p2%!p! p1%p p p%p#  p   p p
  p !  pp%%p % p  p p pp! ! p p  p  p'p  p
p3
pp%!p % p!%pp p  p!p4% p! p  'p p   pp
%! p  p'p p    p p ppp  p  pp
   p  p%!p # 'p0  p pp%!p  p!  pp
%!5pp  p  p  p  p   'pp
ppppp6  pp  p% p p p p  p p*%% ,pp%!p   p
 % pp! p!# p 'p0  p! p  p p 'p2  p% p pp
+   p! p" p!   pp% p   pp"  p" ! p! p+ p p
  6p   'pp
ppppp0p0 p1p!  p  p!  p  p p !  p& p'p6&  ppp
  pp p   p p#  6p  p0 p1'pp
ppppp7 p  p  p# p!   p!p  p!%p  p%!p   p % 'p0p
  p%  p  % p  p6p8 &6p!  p p p p  p% p
 p%p p#  p pp p /p'p  p p p p
%!p &p! p#   'pp
ppppp2  p #p!p % p  p%p#  p ! p  pp  pp p ! p
 ) p!   pp p! p  'p

 pp


 p   p p p  p   p p
p p
 p pp
p
   p p  p  p 
pp p  p p p  p  p
p  p
 p  p p p
 p  p  p pp
   p p ppp  p pp p  p   p p

p
  p
p
p
p  p  p 
 p
p p p  p p
 
p p
 p p   p p
p p p p 

p p  p
 p
 p  pp
 p
 p

   p
 p p   pp
 p 
p p!
p p 
p
p
pp 
 p "pp 
p p p  p 

p 

p
p p
# p  p  
p  p
p p  p  p pp  p p$ p
 
p#p   p
 p  p p  p%p
p p p  p
p p
& p p pp
p pppp p  pp p p

pp
 pp p   p
 p p p
p  p
p  p
  p p 

p p p p' p  p(p p


 p
p
   p
 p   p
 p p
pppp  p

?  
   


p
Gerbang masuk daerah Kasongan (foto: ©2007 arie saksono)p

Kasongan adalah nama sebuah desa yang terletak di daerah dataran rendah bertanah gamping di
Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota
Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta.
Desa Kasongan merupakan sentra industri kerajinan gerabah. Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari
tanah liat atau tanah lempung. Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barang-
barang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang
sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku.
Dahulu, pembuatan gerabah di desa ini terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi
(wadah air minum), kendil (wadah untuk memasak), gentong (wadah air), anglo (kompor ± tempat
pembakaran dengan bahan bakar arang untuk memasak), dan sejenisnya.
Sejalan dengan perkembangan jaman, sekarang ini pembuatan gerabah tidak hanya terbatas pada
perabotan rumah tangga saja, namun juga barang-barang lain sejenis yang memiliki nilai jual tinggi di
pasaran.p

m   
        p
Pada masa penjajahan Belanda, salah satu daerah di sebelah selatan kota Yogyakarta pernah terjadi
peristiwa yang mengejutkan warga setempat, yaitu seekor kuda milik Reserse Belanda ditemukan mati di
atas lahan sawah milik seorang warga. Hal tersebut membuat warga ketakutan setengah mati. Karena
takut akan hukuman, warga akhirnya melepaskan hak tanahnya dan tidak mengakui tanahnya lagi. Hal
ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang telah dilepas inipun kemudian diakui oleh penduduk desa lain.
Warga yang takut akhirnya berdiam diri di sekitar rumah mereka. Karena tidak memiliki lahan
persawahan lagi, maka untuk mengisi hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Mereka
memanfaatkan tanah yang ada, kemudian mengempal-ngempalnya yang ternyata tidak pecah bila
disatukan, lalu mulai membentuknya menjadi berbagai fungsi yang cenderung untuk jadi barang
keperluan dapur atau mainan anak-anak. Berawal dari keseharian nenek moyang mereka itulah yang
akhirnya kebiasaan itu diturunkan hingga generasi sekarang yang memilih menjadi perajin keramik
untuk perabot dapur dan mainan hingga kini.p
p
Kesibukan sehari-hari warga
Kasongan (foto: ©2007 arie
saksono)p

p
Proses pembakaran tradisional
dengan bahan bakar sabut kelapa
(foto: ©2007 arie saksono)p

º
 º  p
Pada dasarnya proses
pembuatan gerabah dibagi
dalam dua bagian besar, yakni
dengan cara cetak untuk pembuatan dalam jumlah banyak (masal) atau langsung dengan tangan. Untuk
proses pembuatan dengan menggunakan tangan pada keramik yang berbentuk silinder (jambangan, pot,
guci), dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit tanah liat diatas tempat yang bisa diputar.
Salah satu tangan pengrajin akan berada disisi dalam sementara yang lainnya berada diluar. Dengan
memutar alas tersebut, otomatis tanah yang ada diatas akan membentuk silinder dengan besaran
diameter dan ketebalan yang diatur melalui proses penekanan dan penarikan tanah yang ada pada kedua
telapak tangan pengrajin.
Pembuatan gerabah atau keramik, mulai dari proses penggilingan, pembentukan bahan dengan
menggunakan perbot, hingga penjemuran produk biasanya memakan waktu 2-4 hari. Produk yang telah
dijemur itu kemudian dibakar, sebelum akhirnya proses finishing dengan menggunakan cat tembok atau
cat genteng. Sebuah galeri di Kasongan biasanya merupakan usaha keluarga yang diwariskan secara turun
temurun, mereka bekerja secara kolektif. Sekarang pembuatan keramik melibatkan tetangga sekitar
tempat tinggal pemilik galeri, namun pihak keluarga tetap bertanggung jawab untuk pemilihan bahan dan
pengawasan produksi.p

   
 p
Pada awalnya keramik ini tidak memiliki corak desain sama sekali. Namun legenda matinya seekor kuda
telah menginspirasi para pengrajin untuk memunculkan motif kuda pada banyak produk, terutama kuda-
kuda pengangkut gerabah atau gendeng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda, selain
dari motif katak, ayam jago dan gajah.
Perkembangan zaman dengan masuknya pengaruh modern dan budaya luar melalui berbagai media telah
membawa perubahan di Kasongan. Setelah kawasan Kasongan pertama kali diperkenalkan oleh Sapto
Hudoyo sekitar 1971-1972 dengan sentuhan seni dan komersil serta dalam skala besar dikomersilkan oleh
Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an, kini wisatawan dapat menjumpai berbagai aneka motif pada
keramik. Bahkan wisatawan dapat memesan jenis motif menurut keinginan seperti burung merak, naga,
bunga mawar dan banyak lainnya.p
Kerajinan gerabah yang dijual di desa Kasongan bervariasi, mulai dari barang-barang unik ukuran kecil
untuk souvenir (biasanya untuk souvenir pengantin), hiasan, pot untuk tanaman, interior (lampu hias,
patung, furniture, etc), meja kursi, dan masih banyak lagi jenisnya.
Bahkan dalam perkembangannya, produk desa wisata ini juga bervariasi meliputi bunga tiruan dari daun
pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya.p

Hasil produksi gerabah Kasongan di masa sekarang sudah mencakup banyak jenis. Tidak lagi terbatas
pada perabotan dapur saja (kendil, kuali, pengaron, dandang, dan lainnya) serta mainan anak-anak (alat
bunyi-bunyian, katak, celengan). Di kawasan Kasongan akan terlihat galeri-galeri keramik di sepanjang
jalan yang menjual berbagai barang hiasan dan souvenir. Bentuk dan fungsinya pun sudah beraneka
ragam, mulai dari asbak rokok kecil atau pot dan vas bunga yang berukuran besar, mencapai bahu orang
dewasa. Barang hias pun tidak hanya yang memiliki fungsi, tetapi juga barang-barang hiasan dekorasi
serta souvenir perkawinan.p

p
Pengepakan kerajinan buatan
warga Kasongan siap ekspor
(foto: ©2007 arie saksono)p

Salah satu produk yang


cukup terkenal adalah
sepasang patung pengantin
dalam posisi duduk
berdampingan. Patung ini
dikenal dengan nama Loro
Blonyo. Patung ini diadopsi dari sepasang patung pengantin milik Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa
Jawa, Loro berarti dua atau sepasang, sementara Blonyo berarti dirias melalui prosesi pemandian dan
didandani.
Namun demikian makna sebenarnya akan Loro Blonyo masih menjadi pertanyaan para pekerja di
Kasongan. Kepercayaan patung Loro Blonyo akan membawa keberuntungan dan membuat kehidupan
rumah tangga langgeng bila diletakkan di dalam rumah membawa pengaruh positif terhadap penjualan
sepasang patung keramik ini.p

p
(foto: ©2007 arie saksono)p

Wisatawan manca negara yang


menyukai model patung Loro
Blonyo, memesan khusus dengan
berbagai bentuk seperti penari,
pemain gitar, peragawati dan lain
sebagainya. Pakaiannya pun tidak
lagi memakai adat Jawa, selain
mengadopsi pakaian khas
beberapa negara, yang paling
banyak memakai motif Bali dan
Thailand, bahkan patung prajurit teracota dapat dijumpai di sini. Beberapa galeri keramik sekarang telah
menjual sepasang patung unik ini yang terus diproduksi dengan beberapa bentuk dan model yang
berbeda-beda.p

·   
 p
Di masa sekarang pengunjung dapat menjumpai berbagai produk kerajinan tangan selain gerabah.
Pendatang yang membuka galeri di Kasongan turut mempengaruhi berkembangnya jenis usaha kerajinan
di sini. Produk yang dijual masih termasuk kerajinan lokal seperti kerajinan kayu kelapa, kerajinan
tumbuhan yang dikeringkan atau kerajinan kerang. Usaha kerajinan Kasongan berkembang mengikuti
arus dan peluang yang ada. Namun demikian kerajinan gerabah tetap menjadi tonggak utama mata
pencaharian warga setempat. Kerajinan keramik dengan berbagai bentuk dan motif yang modern bahkan
artistik, dan berbagai kerajinan lainnya sebagai tambahan adalah daya tarik Kasongan hingga saat ini.
Kasongan kini telah menjadi tempat wisata yang menarik dengan barang indah hasil keahlian penduduk
setempat mengolah tanah liat.p

         ?   p
pp
' p%p p
 p  p  p
 p%pp

 p p p   p 
p p
 p   p
 p pp p  p
p p
 p  p  p p)pp*  pp
pp
pp
 p   p
 p p
 p  pp p  p p
p p p
  p + 
p  
p 
p 
 p  
p  p ,p   p 
p

 p  p#p p p p   p  p# p
 p
p p

p 
 p p

  p  p p 


p  p p pp
 p  p p 
 p  p  p
 p  p  p  p    p
    p  p 

p   p  p !  p p  "p



p !  p "p 
p !  p
p
 p   p p 
p  p  "p   p ! p  "p  p  &  p
* 
p 
p
 p  
 p p   p
 p
p  p p pp p
 #p  p p   &  p   p  p # p ! p  p # p 
  "p
 p p  p   p   
p   p ! p p 
p   p "p  p p
 p  p  p 
p   p  p  p   
 p p pp  p 
p
 #p  p 
p  p p  p 
p   p p p 
&
 p  p
 p p
p  p
p


 p  p  p  p   p p  p p p  p
p
 p-p   p  p p.  p p   p   p p  pp
p
  p   p p p
pp p  p   p p/   p  p
 ppp-p   p  pp
p
p  p  p  pp  p

p  p p  p
p   p p  p 
p  p p
p
  p p  p  p
p  p p p  p
p  p
p  p
p  p p  p  p
p pp  p p  p
p
p
  p  p  p
p p  p  p  p   p   p p  pp




 
p
 p p
p  p  p
 &
 p  p
p p  p
 p  p*   p  p  p  p 
  p p  p & p  p p
pp0 p p    p  p p
p p  p
 p  p
  p pp
pp   p
* p  p1231&1234p pp
 p
 p  pp p*p
, p! 
p  p p
"p  p

 p pp

 p
 p  p p
p 
 p p
 p p   p
 
p   p p  p  p
p  p   p
 p 

p
 p
p
   p p   p  p
p   p  p  p  p p
   p  p p  p  p  p
p

p p
 p    p  p
 p p p*  p p p  p1256 p

` `
   

  

!!!
! 
!  

!!
 ! !
" ##$%&'() 
! 
 !!
! ! 
! ! 
!*+,--.
!  
/0
  !
 1
!
!
 '
2&
!
   2)
! ! 1!3 
 4",---%!
1 
!!
)&
!!1
! 
!2
!! 2!
!!!
 
) 
M5",--6%!!
  
!&& 2
(
 "%
,  ! "
7%
+  !/!
. !!!
6  

 !!
 
!! !!8
  !/
/ !!
2  !!
 
!   

&' 
! ' " 
  ,--#( +%