PELATIHAN NELAYAN
TUNA LONG LINE
MELAYARKAN KAPAL
O
L
E
H
MARJONI, S.Pi
SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI LADONG
NANGGROE ACEH DARUSSLAM
2006
A. PEDOMAN MAGNIT, VARIASI, DEVIASI DAN SALAH TUNJUK
1. PEDOMAN MAGNIT
Alat ini adalah penting bagi Ilmu Pelayaran dan gunanya untuk menentukan
arah atau haluan kapal dan membaring atas sebuah benda.
Pada pedoman magnet dibagi derajah-derajah (0 o – 360o), piringan pedoman
masih juga dibagi dalam 32 surat dan surat-surat mana terbagi dalam :
a. Surat Induk (4 buah)
b. Surat Induk Antara (4 buah)
c. Surat Antara (8 buah)
d. Surat Tambahan (16 buah)
Gambar Kompas
Arah jarum-jarum ke utara yang disebabkan oleh pengaruh magnetisme bumi,
selain itu bila pedoman ditempatkan dikapal, maka jarum-jarum megnet
dipengaruhi oleh magnet yang ada dikapal itu. Oleh karena itu dalam ilmu
pelayaran kita bedakan arti :
Utara Sejati : Ialah arah utara yang jatuh sama dengan arah derajah-
derajah pada peta.
Utara Magnetis : Arah utara jarum pedoman semata-mata pengaruh magnet
bumi.
Utara Pedoman : Arah jarum pedoman atas pengaruh magnet bumi dan
magnet besi kapal.
2. VARIASI
Variasi adalah sudut yang dibentuk antara utara sejati dengan utara megnetis.
US UM UM US
+ _
Variasi disebut Timur Bila Utara Magnetis berada disebelah Timur dari
Utara Sejati (Positif)
Variasi disebut Barat Bila Utara Magnetis berada disebelah Barat dari
Utara Sejati (Negatif)
KM
+ + + - - -
Besarnya variasi tergantung dari letak kita dibumi dan berubah untuk suatu
tempat tertentu dengan waktu yang berjalan.
Variasi setiap tahun perlu dikoreksi (perubahan tahunan).
Contoh : Variasi di Negeri Belanda tahun 1580 11,5 o T
Selanjutnya mengecil sampai 0o pada tahun 1663.
Pada tahun 1814 Variasi 22,5o B. Setelah itu berkurang setiap
Tahun hingga 7,5o pada tahun 1950
Pada peta-peta Admiralty terdapat sebutan “Decresing” artinya berkurang,
bilamana ada sebutan “Incresing” berarti bertambah.
Contoh I : Var = 9o W (1943) Decresing about 12’ anuality, berapa Variasi
untuk tahun 1959 ?
Jawab : Var 16 x 12’ = 192’ = 3o 12’
Var tahun 1959 = - 9o –(-3o12’) = 5o48’ W
Contoh II : Var = 5o W (1939) Incresing about 10’ anuality. Berapa Variasi
untuk tahun 1959 ?
Jawab : 1939 ke 1959 = 20 x 10’ = 200’ = 3o20’
Var tahun 1959 = +5o + (+3o20’) = 8o20’ E
3. DEVIASI
Deviasi : adalah perbedaan antara arah magnet dan penunjukan jarum
pedoman dikapal dinamakan kesalahan pedoman dikapal.
Besar kecil perubahan penunjukan jarum pedoman tergantung dari besar
kecilnya besin-besi yang mempengaruhi pedoman magnet.
Jadi Deviasi adalah sudut yang dibentuk antara Utara Magnet dengan Utara
Pedoman.
Deviasi Positif apabila Utara Pedoman terletak disebelah Timur.
Deviasi Negatif sebaliknya.
Devasi dapat dikoreksi dengan memutar-mutar haluan kapal sebanyak 22,5 o
dan daftar deviasi perlu dibuat untuk interval itu.
Contoh Daftar Deviasi
DAFTAR DEVIASI
HALUAN PEDOMAN
DEVIASI
SURAT DERAJAT
U 000 -2
UTL 022,5 -3
TL 045 -3
TTL 067,5 -2,5
T 090 -1,5
TGM 112,5 -0,5
TG 135 +0,5
SGM 157,5 +1,5
S 180 +2,5
SD 220,5 +3,5
BD 225 +3,5
BBD 247,5 +3
B 270 +2
BBL 292,5 +1
BL 315 0
UBL 337,5 -1,5
S M P P S M P M S M S P
Var = +4 Var = +4 Var = -4 Var = -5
Dev = +3 + Dev = -9 + Dev = -3 + Dev = +11 +
Semb +7 Semb -5 Semb 7 Semb +6
4. SEMBIR (SALAH TUNJUK)
Sembir : Perbedaan antara Utara Sejati dengan Pengukuran Jarum Magnet
yang ditempatkan dikapal atau sudut antara Utara Sejati dengan
Utara Pedoman.
Sembir = Variasi + Deviasi
Disamping perubahan haluan yang mengakibatkan pedoman deviasi juga
dipengaruhi oleh muatan-muatan dalam kapal yang baru saja diperbaiki
(docking).
5. HALUAN
Haluan : Sudut yang dibentuk oleh garis Utara Selatan dengan garis lunas
kapal dihitung dari Utara hingga kekanan arah jarum jam.
Utara Utara
Haluan
Haluan
Selatan Selatan
Bila haluan dinyatakan terhadap Utara Sejati, maka terdapat Haluan Sejati,
demikian pula terhadap Utara Magnetik atau Utara Pedoman maka haluannya
adalah haluan magnetik atau haluan pedoman.
UP US = Utara Sejati
UM US UM = Utara Magnet
UP = Utara Pedoman
HM Haluan dihitung menurut arah
ST HP Jarum Jam.
V HS HALUAN
D
Sudut US. P. H Haluan Sejati
Sudut UM. P. H Haluan Magnetis
Sudut UP. P. H Haluan Pedoman
Haluan Magnetis = Haluan Pedoman + Deviasi
Haluan Sejati = Haluan Magnetis + Variasi
= Haluan Pedoman + Sembir
Contoh Soal :
Pada Haluan Pedoman 130 o Kesalahan Pedoman (Deviasi) = +14 o dan
Variasi = 10o Barat.
Berapa Haluan Magnetis dan Pedoman ?
Jawaban dua macam, secara aljabar dan lukisan :
a. Secara Aljabar :
Haluan Pedoman = 130o
Deviasi = +14o +
Haluan Magnetis = 144o
Variasi = 10 B .
Haluan Sejati = 134o
b. Dengan Lukisan
UM US UP
- Tarik Arah Utara Sejati (US)
- Karena Variasi adalah 10o
arah UM ada disebelah kiri US
- Deviasi adalah Timur, jadi UP ada
disebelah UM
- Arah HP didapat karena ditarik
130o dari UP
Jadi Haluan Magnet = 144o
Haluan Sejati = 134o
B. BARINGAN
Untuk mendapatkan tempat kedudukan kapal, perlu diadakan peninjauan-
peninjauan dengan cara mengambil baringan-baringan. Dalam hal ini, dikapal
diperlengkapi suatu alat pembaring yang dipasang diatas pedoman dan dapat
berputar bebas. Maksudnya ialah untuk mengetahui arah garis baringan dari
kapal ke benda yang dibaring.
Garis Baringan : Ialah suatu garis yang arahnya dari mata sipenilik melalui
alat –alat pembaring hingga ketitik benda yang dibaring.
Arah baringan pedoman dari suatu benda adalah garis
baringan yang didapat langsung dengan cara membaca
dari mawar pedoman.
Baringan Pedoman : Ialah sudut yang dibentuk antara garis baringan dengan
(BP) arah Utara Pedoman.
Baringan Magnit : Ialah sudut yang dibentuk antara garis baringan dengan
(BM) arah Utara Magnet.
Baringan Sejati : Ialah sudut yang dibentuk antara garis baringan dengan
(BS) arah Utara Sejati.
Untuk melukis garis baringan diatas peta, maka baringan pedoman harus
diperhitungkan terlebih dahulu untuk mendapatkan baringan sejati.
Contoh :
BS
Benda BM
BP
Garis Baringan
BP
BM
Haluan BS
BP = 303o BP = 033o
D = +6o + D = -13o +
BM= 309o BM = 020o
V = -15o + V = +8o +
BS = 290o BS = 028o
Peringatan : Waktu Membaring
1. Benda-benda yang akan dibaring harus dicari dan dipilihkan antara lain :
a. Benda-benda yang betul-betul terlukis dipeta.
b. Benda-benda yang didarat, umpama : menara, pohon yang dikenal,
cerobong-cerobong pabrik, masjid, gereja dan lain-lain.
c. Benda-benda yang bergerak atau dapat berubah tempatnya, umpama
kapal suar, pelampung-pelampung dan lain-lain, adalah kurang baik, bila
akan dibaringkan ambillah sebagai baringan terakhir.
d. Benda-benda yang jauh dibaring terlebih dahulu, kemudian baru benda
yang dekat letaknya.
2. Besarnya sudut antara 2 garis baringan paling kecil 30 o dan tidak lebih besar
dari 90o.
3. Waktu membaring harus dikerjakan dengan cepat dan dalam saat yang
singkat.
Penentuan tempat dengan mempergunakan baringan
Pada pandangan-pandangan selanjutnya akan kita terima, bahwa titik-titik yang
dibaring akan berada sangat dekat, sehingga kita bolehlah menganggap bahwa
baringan memberikan “Loxodrom” yang berjalan dari tempat penilik ketitik
baringan. Jadi diatas peta, kita dapat menarik garis baringan dari titik yang
dibaring, dimana arahnya berbeda 180 o dengan arah daripada baringan sejati
titik itu, atau dengan kata lain bahwa melukis garis baringan diatas peta,
ditentukan dari titik benda yang dibaring kearah kebalikan daripada arah baringan
sejati tersebut.
Pada garis inilah tempat penilik, tetapi hanya satu baringan saja belum cukup
untuk dapat mengetahui dan menentukan suatu titik dari pada tempat penili.
C. IKHTISAR DAN MACAM BARINGAN
1. Baringan Silang
2. Baringan Silang dan Lintasan
3. Baringan dengan Lintasan
4. Baringan Istimewa
5. Baringan dengan Peruman
1. Baringan Silang
Baringan silang ialah membaring 2 benda atau lebih yang dikerjakan dalam
satu saat atau hampir bersamaan waktunya.
Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa penentuan tempat kapal yang sedang
berlayar tidak dapat ditentukan dengan baringan ini. Tetapi bilamana
baringan-baringan tersebut dikerjakan sedemikian cepatnya, sehingga
perpindahan tempat kecil sekali maka tempat kapal praktis dapat ditentukan
oleh baringan silang tersebut. Kita hanya harus memperhatikan urutan-urutan
daripada titik-titik yang dibaring.
Umpama : Kapal berlayar melalui garis PQ (lihat gambar) dimana pada jam
09.00 kapal berada di S.1, jam 09.02 di S.2 dan jam 09.04 di S.3.
Arah daripada garis-garis baringan B pada jam-jam tersebut berturut-turut
adalah BS.1, BS.2 dan BS.3 sedangkan garis-garis baringan A adalah
berturut-turut AS1, AS2 dan AS3.
Bila jam 09.00 kita membaring B dan Jam 09.02 membaring A, maka tempat
kapal berada dititik potong C dari garis-garis baringan BS1 dan BS2,
sedangkan pada jam 09.02 kapal kita sesungguhnya berada di S2. Tetapi
bilamana kita terlebih dahulu pada jam 09.00 kita membaring A dan kemudian
pada jam 09.02 baru membaring B, maka garis-garis baringannya adalah AS1
dan BS2. maka kapal kita berada di D, sedangkan sesunggguhnya kapal kita
berada di S2.
D terletak lebih dekat pada S2 dari pada C jadi bilamana kita berlayar
sepanjang pantai, serta ingin menentukan tempat kapal yang mendekati
kebenaran, maka pertama-tama kali kita baring lebih dahulu titik-titik benda,
yang arahnya membuat sudut terkecil dengan garis haluan kapal.
Tetapi bila ingin mendapat ketelitian yang lebih baik lagi, maka dalam hal
tersebut diatas kita baring terlebih dahulu benda A kemudian baru benda B
selanjutnya baru benda A lagi. Anggaplah bahwa baringan benda A tiap
menit berubah dengan nilai yang sama.
Umpama : jam 09.00 A dibaring 017o (garis baringan AS.1)
jam 09.02 B dibaring 084o (garis baringan BS.2)
jam 09.04 A dibaring 021o (garis baringan AS.3)
Dalam 4 menit baringan benda A berubah 4 0, jadi dalam 2 menit = 2o.
Jadi pada jam 09.02, baringan benda A adalah 019 o. Kita anggap sekarang
sebagai baringan silang pada jam 09.02. Benda A dibaring 019 o dan benda B
084o, dimana praktis tempat kapal ada di S2.
Contoh :
Baringan silang dengan 2 benda
Haluan kapal HS = 335o, Variasi = 1o Timur, Dev = +2o
I. Membaring lampu berhala BP = 312o
II. Membaring Tanjung Jabung BP = 262o.
Hitungan : V = +1o
D = +2o
St = +3o
Baringan I : Lampu berhala
BP = 312o
St = +3o +
BS = 315o
Baringan II : Tg. Jabung
BP = 262o
St = +3o +
BS = 265o
Contoh II. Baringan Silang dengan 3 Benda
Membaring 3 benda dalam satu saat dan titik silang dari 3 baringan tersebut
adalah kedudukan kapal. Jika garis baringan tadi tidak bertemu pada 1 titik,
maka buatlah lingkaran kecil dalam segi tiga yang sisi-sisinya terdiri dari garis
baringan tersebut. Titik-titik tengan daripada lingkaran kecil ini adalah tempat
kedudukan kapal.
Haluan Kapal HS = 010o, Variasi = +1o, Dev = -2o
I. Membaring Lampu Edam BP = 310o
II. Membaring Pulau Leiden BP = 265o
III. Mebaring Pulau Nyamuk BP = 231o
Hitungan V = +1o
D = - 2o +
St = - 1o
Baringan I : Lampu Edam
BP = 310o
St = -1o +
BS = 309o
Baringan II : Pulau Leiden
BP = 265o
St = -1o +
BS = 264o
Baringan III : Pulau Nyamuk
BP = 231o
St = -1o +
BS = 230o
2. Baringan Silang dengan Lintasan (Geseran)
Membaring 2 benda tak bersamaan waktunya, jadi dengan antara waktu,
kejadian ini misalnya, kita membaring sebuah benda dan kemudian benda
tersebut akan dibaring lagi sudah tidak kelihatan, selanjutnya kita melihat
benda yang lain.
Contoh :
Haluan Kapal HS = 270o, Variasi = +5o, Dev = -1o
Kecepatan Kapal 12 mil/jam
I. Jam 08.00 membaring pulau BP = 306o
II. Jam 08.40 membaring Mesjid BP = 332o
Hitungan V = -1o
D = +5o +
St = +4o
Baringan I jam 08.00
BP = 306o
St = +4o +
BS = 310o
Baringan II jam 08.40
BP = 332o
St = +4o +
BS = 336o
40 40
Jarak yang ditempuh kapal dalam 40 menit = ---- x 12 mil = ----- = 8 mil
60 5
Keterangan : Tariklah suatu garis dari titik benda baringan I // dengan HS
dan ukurlah jarak 8 mil, ialah kecepatan kapal dalam 40 menit,
kemudian dari titik A tariklah garis // dengan garis baringan I.
Titik silang dari garis baringan I yang dilintaskan adalah posisi
kapal.
3. Baringan dengan Lintasan (Geseran)
Baringan dengan lintasan ialah 1 benda dibaring dua kali dalam waktu yang
tidak sama.
Oleh karena kapal berlayar maka tempat antara dua saat pengambilan
baringan harus diketahui. Maka dari itu, pada tiap pengambilan baringan,
waktu harus dicatat dan jika perlu penunjukan log, guna untuk dapat
menentukan jauh yang telah dilayari antara baringan pertama dengan kedua.
Contoh :
Haluan Kapal HS = 105o, Var = 1,5 E, Dev = 3,5 W
Jam 19.00 Lampu Karang Koko dibaring BP = 170o
Jam 19.30 Lampu Karang Koko dibaring lagi BP = 257o
Kecepatan kapal 14 mil/jam.
Hitungan V = +1,5o
D = -3,5o +
St = -2o
Baringan I jam 09.00
BP = 170o
St = -2o +
BS = 168o
Baringan II jam 09.30
BP = 257o
St = -2o +
BS = 255o
Jarak yang telah ditempuh selama 30 menit =1/2 x14 mil = 7 mil
Keterangan : Tariklah suatu garis dari titik benda baringan // dengan garis
HS, sejauh 7 mil (hasil kecepatan ½ jam). Dari titik jarak
tersebut tariklah garus // dengan garis BS I. Titik silang dari
pada baringan II dengan garis baringan I yang dilintaskan
sejauh 7 mil adalah posisi kapal.
4. Baringan Istimewa
Adalah suatu benda dibaring 3 kali dengan waktu yang tidak sama. Sudut
antara garis haluan dengan garis baringan I = 26 ½ o, dengan garis baringan
II= 45o dan dengan garis baringan III = 90 o. Guna baringan ini untuk
mengetahui jarak kapal kebenda sebelum benda tersebut melintang kapal dan
juga untuk keamanan navigasi.
Bukti-bukti dalam segi tiga siku-siku
Bila sudut antara garis haluan dengan garis baringan I = a, garis baringan II =
b, serta jika AD adalah tegak lurus pada garis haluan BCD, maka BD=AD
Cotg a, CD = AD cotg b, jadi BC = AD (Cotg a – Cotg b). Bilamana
a = 26 1/2o, b = 45o, maka cotg a = 2 dan Cotg b = 1. Dalam hal ini teranglah
bahwa AD = BC serta CD = AD = BC.
Contoh : Haluan : HS = 260o
V = 0o, D = 12o
Kecepatan 8 mil/jam
Baringan I jam 10.00
Baringan II jam 10.30
BS I = 260o – 26½ o = 233,5o
BS II = 260 – 45o = 215o
Jarak antara Bar I dengan
Bar II = ½ x 8 mil = 4 mil
Jadi benda tersebut waktu melintang kapal dibaring BS = 260 o – 90o = 170o
atau BP = 168o dan jaraknya = 6 mil.
5. Baringan dengan menduga (Peruman)
Membaring I benda dan bersamaan mengukur dalamnya laut. Mengukur
dalamnya laut dapat dipakai alat-alat antara lain : galah duga, batu duga atau
Echosounder.
Setelah garis baringan dilukis diatas peta, maka dalamnya laut yang telah
diketahui jatuh sama dengan garis baringan tersebut adalah posisi kapal.
Dalam hal ini haruslah diingat, bahwa dalamnya laut yang diperoleh harus
diperhitungkan/diperbaiki terlebih dahulu, sehingga sama dengan dalamnya
laut yang tertulis diatas peta.
Perlu diterangkan, bahwa baringan dengan peruman akan memberikan hasil
yang dapat dipercaya, bila garis-garis diatas peta agak berdekatan satu sama
lain.
Contoh :
Kapal berlayar dengan HS = 312o, Var = -1o, Dev = -1o
Jam 19.00 membaring suar Idie, BP = 223 o dan pada saat itu echosounder
menunjukkan dalamnya lautnya 29 Mtr.
Hitungan :
V = -1o
D = -1o +
St = -2o
Baringan Suar Idie
BP = 223o
St = -2o +
BS = 221o