0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
444 tayangan16 halaman

Rochette Bridge: Solusi Estetika

Dokumen tersebut membahas tentang Rochette bridge sebagai jenis resin bonded bridge yang dirancang oleh Rochette pada tahun 1973. Rochette bridge memiliki retainer logam dengan lubang perforasi untuk mendapatkan ikatan mekanis dengan resin sehingga memberikan retensi yang lebih baik dibanding jenis resin bonded bridge lainnya. Dokumen tersebut juga membahas indikasi, kontraindikasi, kelebihan dan kekurangan dari pembuatan Rochette bridge.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
444 tayangan16 halaman

Rochette Bridge: Solusi Estetika

Dokumen tersebut membahas tentang Rochette bridge sebagai jenis resin bonded bridge yang dirancang oleh Rochette pada tahun 1973. Rochette bridge memiliki retainer logam dengan lubang perforasi untuk mendapatkan ikatan mekanis dengan resin sehingga memberikan retensi yang lebih baik dibanding jenis resin bonded bridge lainnya. Dokumen tersebut juga membahas indikasi, kontraindikasi, kelebihan dan kekurangan dari pembuatan Rochette bridge.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ROCHETTE BRIDGE

Disusun Oleh : Kelompok 1


Dhira Archie Changgadaniswara 04031181823001
Syifa Azizah 04031181823002
Hana Salsabila Deaz Putri 04031181823004
Ragil Septiani 04031181823005
Annisa Tyas Adila 04031181823007
Rifdah Akhdani Siddik 04031181823008
Syaidah Happsi Monica 04031181823009
Maharani Khairunnisa 04031181823010
Diora Islamay Tasya 04031181823011
Kinanti Eka Juniarsih 04031181823012
Nola Rizky Adhalia 04031181823013
Ananda Haura Nuradnin 04031181823014
Fitri Alifa Putri Sosro Atmojo 04031181823015

Dosen Pengampu :
drg. Rani Purba, Sp. Pros.

Bagian Kedokteran Gigi dan Mulut


Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya
BAB I

PENDAHULUAN

Gigi tiruan sebagian cekat didefinisikan sebagai gigi tiruan sebagian yang

disementasikan ke gigi penyangga. Gigi tiruan ini umumnya dikenal dengan gigi

tiruan jembatan.1,2 Pembuatan gigi tiruan ini melibatkan gigi terdekat dari daerah

edentulous.1 Saat ini telah dikembangkan gigi tiruan jembatan jenis resin bonded

bridge yang lebih konservatif terhadap gigi penyangga dan daerah edentulous.3

Resin bonded bridge terdiri dari satu atau lebih pontik yang didukung oleh

retainer logam pada bagian lingual dan proksimal gigi penyangga yang bertumpu

pada perlekatan adhesif antara enamel yang di etsa dan logam tuang. 3,4 Rochette

bridge merupakan jenis yang pertama dari resin bonded bridge yang dikemukakan

oleh Rochette pada tahun 1973.1,2

Rochette mempublikasikan kasus kehilangan gigi dengan kondisi gigi

penyangga mengalami kegoyangan yang diakibatkan oleh kondisi jaringan

periodontal.3 Kondisi tersebut dilakukan perawatan dengan menggunakan rochette

bridge sebagai splint gigi yang mengalami kegoyangan.3,4 Retensi dari gigi tiruan

jenis ini didapatkan dari lubang-lubang perforasi di lingual retainer dan sayap

dimana material resin akan masuk ke lubang tersebut sehingga terjadi mechanical

lock.1 Prosedur preparasi pada rochette bridge dilakukan secara minimal dan tetap

mempertahankan ketebalan dari enamel untuk prosedur etsa asam.1 Preparasi

hanya dilakukan pada permukaan lingual sedangkan bagian fasial tidak


berpengaruh sehingga meningkatkan estetika sehingga diindikasikan untuk

penggantian gigi anterior.1,4

Kasus kehilangan gigi anterior permanen seringkali ditemukan pada pasien

usia muda.4 Pemilihan perawatan menggunakan rochette bridge

direkomendasikan untuk kondisi ini karena selain diuntungkan dalam hal estetika,

perawatan rochette bridge juga dapat mengurangi resiko kerusakan jaringan pulpa

karena prinsip preparasinya yang mempertahankan struktur enamel gigi.1,4


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resin Bonded Fixed Partial Dentures

Resin bonded fixed partial dentures ini adalah gigi tiruan sebagian cekat, yang

direkatkan ke penyangga menggunakan resin khusus. Composite resin bonded

atau gigi tiruan sebagian cekat dikembangkan dari teknik mikroretentif noninvasif

yang digunakan dalam restorasi kedokteran gigi.5

2.1.1 Indikasi5

Retainer abutment dari gigi tiruan sebagian cekat dengan permukaan

email yang memadai untuk dilakukan etsa sebagai retensi.

1. Splinting pada gigi yang mengalami gangguan periodontal.

2. Menstabilkan gigi-geligi setelah ortodontik (retainer permanen).

3. Pasien dengan gangguan medis, ekonomi rendah, dan remaja yang tidak

dapat bekerja sama dengan waktu terapi yang lama

4. Penempatan protesan sementara dalam waktu yang lama untuk menambah

prosedur bedah. Contoh : Anomali kraniofasial.

2.1.2 Kontraindikasi5

1. Pasien yang memiliki alergi terhadap metal alloys (Ni)

2. Abutment membutuhkan perbaikan.

3. Jarak oklusal yang tidak cukup untuk memberikan retensi gesekan 2

sampai 3 mm pada dinding aksial.

4. Overbite yang dalam.


5. Permukaan email tidak cukup untuk direkatkan retensi. Contohnya

terdapat karies yang luas dan memiliki daerah yang di restorasi.

6. Gigi insisivus dengan dimensi fasiolingual yang sangat tipis.

2.1.3 Keuntungan5

1. Mengurangi iritasi pulpa.

2. Konservatif dengan daya tarik atau kenyamanan yang disukai pasien.

3. Penurunan iritasi jaringan karena penempatannya di margin supragingiva.

4. Tidak memerlukan perubahan gips atau preparasi die yang dapat dilepas.

5. Mengurangi biaya dengan waktu kursi yang lebih sedikit.

2.1.4 Kekurangan5

1. Teknik dan preparasi gigi yang banyak.

2. Kesalahan di laboratorium tidak dapat diperbaiki dengan mudah.

3. Terdapat akumulasi plak

4. Tidak ideal untuk menggantikan lebih dari satu gigi.

2.1.5 Tipe-tipe resin bonded fixed partial dentures5

Berdasarkan teknik yang digunakan :

1. Rochette bridge

2. Maryland bridge

3. Cast mesh fixed partial dentures

4. Virginia bridge
2.2 Rochette Bridge

2.2.1 Definisi5,6

Rochette bridge adalah design gigi tiruan jembatan lama yang serupa

dengan Maryland bridge. Rochette adalah orang pertama yang mendesain

resin-bonded prosthesis pada 1973. Ia menggunakan sayap seperti retainer

dengan perforasi berbentuk funnel (corong) dengan basis mengarah ke

permukaan gigi. Dia juga menggunakan silane-coupling agent untuk retensi

tambahan. Ini merupakan salah satu desain yang diterima secara luas. Retainer

yang dietsa dan dilapisi dengan pyrolized silane menunjukkan 47% retensi

superior. Pada rochette bridge, perlekatannya dengan gigi abutment

menggunakan teknologi adhesif. Perbedaan besarnya adalah ikatan adhesif

terhadap sayap metal yang mendukungnya bersifat mekanis, tidak seperti

adhesi kimiawi dan mikromekanis yang digunakan pada maryland bridge.

2.2.2 Kelebihan6,7

1. Pulpa tidak berisiko saat preparasi

2. Tekniknya sebagian besar reversible dan jika bridge gagal cara alternatif

mengganti gigi yang hilang memungkinkan untuk dilakukan

3. Restorasi sementara tidak terlalu dibutuhkan

4. Tekniknya secara umum lebih murah dibanding bridge konvensional

5. Retensi resin komposit ke metal alloy bersifat mekanis, dengan cara

membuat lubang pada retainer. Resiko debonding pada metal atau resin

tergantung kekuatan resin dan bukan ikatannya.

6. Jika restorasi debond resementasi relatif mudah dilakukan


2.2.3 Kekurangan6,7

1. Karena metal plate ditambahkan ke permukaan gigi atau hanya

menggantikan bagiannya, ketebalan gigi meningkat, dan dapat (contohnya

pada hubungan insisif kelas I yang normal) menginterfensi oklusi kecuali

ruang dibuat lewat perawatan ortodontik atau dengan melakukan grinding

pada gigi yang berlawanan

2. Tepi retainer dapat menghasilkan ledge yang dapat menjadi tempat

berkumpulnya plak. Ini merupakan masalah, terutama pada penggantikan

gigi insisif bawah. Disana deposit plak dan kalkulus biasa terdapat pada

permukaan lingual sampai ke tepi gingiva. Serta adanya ledge hanya dapat

membuat pasien lebih sulit membersihkan area ini.

3. Sulit untuk memprediksi longevitas preparasi minimal bridge dan studi

klinis secara umum setuju bahwa mesti tingkat kesuksesan meningkat,

pada beberapa pasien hasilnya buruk. Pasien dapat diberi gigi tiruan

cadangan jika bridge lepas. Preparasi minimal bridge biasanya dapat

diresementasi jika mengalami debonding namun pasien bisa kehilangan

kepercayaan pada bridge dan hal tersebut dapat dimaklumi. Perawatan

alternatif harus dipertimbangkan.

4. Penggunaan lubang pada retainer membutuhkan penampang yang lebih

tebal dari alloy untuk kekuatannya. Ini dapat menjadi masalah oklusal atau

terasa bulky atau terlalu besar bagi pasien.


5. Kekurangan utama rochette bridge adalah resin terekspos melalui

perforasi metal yang mengalami tekanan eksternal, abrasi, dan kebocoran

marginal.

2.2.4 Indikasi6

Indikasi rochette bridge sama seperti maryland bridge, yaitu untuk

menggantikan gigi anterior yang hilang dimana gigi penyangga tidak

direstorasi. Namun, penggunaan rochette bridge terbatas dan paling sering

menjadi solusi sementara dari maryland bridge yang gagal.

2.2.5 Kontra indikasi3

1. Area edentulous yang terlalu panjang

2. Gigi penyangga mengalami gangguan periodontal

3. Gigi penyangga dengan mahkota klinis pendek

4. Permukaan lingual terabrasi ke dalam dentin

5. Restorasi besar
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Kasus

Pasien laki-laki usia 18 tahun mengalami anodontia parsial sehingga gigi

insisivus lateral (FDI 12) nya tidak ada. Pasien saat ini menggunakan gigi tiruan

lepasan. Pasien akan dibuatkan gigi tiruan jembatan 3 unit ,yaitu rochette bridge

pada gigi 11,12, dan 13.

Gambar 1 dan 2. Kehilangan gigi 12 ( tampilan fasial dan oklusal)

3.2 Prosedur Perawatan

Pembuatan gigi tiruan jembatan jenis rochette bridge biasanya membutuhkan

dua janji temu pasien dengan waktu laboratorium intervensi yang sesuai.

Pertemuan pertama harus melibatkan analisis yang cermat dari mulut pasien untuk

menentukan kesesuaian perawatan. Seperti halnya perawatan restoratif, pemilihan

kasus yang tepat sangat penting untuk memastikan keberhasilan.

Pertimbangan prinsip-prinsip desain dan penyangga yang tepat yang biasanya

digunakan dengan piranti cekat tradisional juga harus diterapkan pada gigi tiruan

jembatan jenis rochette bridge. Area edentulous yang terlalu panjang atau gigi
penyangga yang mengalami gangguan periodontal merupakan kontraindikasi.

Agar penggunaan gigi tiruan jembatan jenis rochette bridge berhasil, harus ada

area permukaan email yang cukup untuk memberikan retensi yang memadai. Gigi

penyangga dengan mahkota klinis pendek, permukaan lingual terabrasi ke dalam

dentin, atau restorasi besar juga merupakan kontraindikasi.

Kira-kira satu milimeter ruang dalam oklusi diperlukan untuk memberikan

ketebalan framework yang memadai. Jika ruang yang tersedia terbatas, dapat

dilakukan penghilangan 0,5 mm email dari fossa lingual gigi penyangga dan tepi

insisal gigi mandibula yang berlawanan. Gaya insisal langsung pada pontik harus

diminimalkan, meskipun pontik dapat dipertahankan dalam fungsi insisal.

Setelah dokter gigi menentukan bahwa kasus tersebut sesuai untuk perawatan,

dengan ruang yang cukup tersedia, gigi harus dipoles dan dibuat cetakan detail

lengkung gigi dengan menggunakan bahan cetak elastis.

Pemilihan shade untuk pontik harus mempertimbangkan tingkat translusensi

dari tepi insisal gigi penyangga. Variasi shade dan "bluing" insisal akan

dihasilkan dari pantulan logam melalui gigi penyangga yang translusen.Ekstensi

framework insisal dibuat seminimal mungkindan dapat pula digunakan opaquer

untuk mengantisipasi masalah ini. Setelah pemilihan shade, pasien dapat

dipulangkan. Cetakan dituangkan dalam die stone dan framework digambar pada

model (Gambar 3).


Gambar 3. Pembuatan outline framework pada cetakan.

Permukaan lingual gigi penyangga harus ditutup secara maksimal dengan tepi

retainer pada bagian proksimal menutupi marginal ridge dan supragingiva tepat

di dalam puncak curvature untuk mencegah over contouring. Tampilan insisal

logam baik dari konektor atau retainer harus diminimalisasi.

Framework dibuat dengan pelat logam tipis di atas permukaan lingual gigi

penyangga, retensi mekanis ditempatkan di logam. Pelat harus setebal 1/2 hingga

3/4 mm dan meruncing ke tepi knife-edge. Bar konektor yang menghubungkan

pontik ke pelat harus ditempatkan pada posisi yang memudahkan pembersihan

pasien, dan harus memiliki kekuatan dan kekakuan yang cukup untuk mencegah

metal fatigue. Jika banyak gigi penyangga yang digunakan, konektor harus

ditempatkan pada area kontak antara gigi yang berdekatan untuk mempertahankan

ruang embrasure gingiva. Retensi dalam framework dicapai dengan penempatan

enam hingga delapan lubang bundar dengan diameter kira-kira 1,0 mm di setiap

retainer. Lubang harus diberi jarak sedemikian rupa sehingga tidak

membahayakan kekuatan bar konektor. Porcelain adaptable/ non-

preciousalloydirekomendasikan untuk konstruksi framework karena kekakuan dan

biaya yang rendah.


Pontik dapat dibuat dari bahan estetik yang disesuaikan dengan laboratorium.

Porselen direkomendasikan, bagaimanapun, karena estetika dan daya tahannya

yang sangat baik. Konstruksi dari gigi tiruan jembatan jenis rochette

bridgetersedia di banyak laboratorium gigi komersial (Gambar 4).

Gambar 4. Gigi tiruan jembatan jenis rochette bridge dengan pontik porselen
menunjukkan retentive holes.

Pada pertemuan kedua dilakukan try-in dan perlekatan gigi tiruan jembatan.

Dokter gigi memeriksa kesesuain warna, kontur dan ukuran dari gigi tiruan

jembatan yang akan digunakan. Dilakukan pula pemeriksaan oklusi pada posisi

sentrik maupun saat gerakan ekskursif. Saat pemeriksaan kesesuaian ukuran dan

hubungan insisal, dokter gigi dapat menggunakan dental floss untuk menahan

gigi tiruan jembatan agar tidak jatuh (Gambar 5).

Gambar 5. Penggunaan dental floss untuk menahan gigi tiruan jembatan saat
proseudr try-in untuk memeriksa kesesuaian ukuran, fungsi dan estetika.
Perubahan warna yang disebabkan pantulan logam melalui gigi penyangga

akan tampak lebih jelas ketika gigi tiruan jembatan dipasang dengan resin. Jika

perubahan warna terlihat, dokter gigi dapat mempertimbangkan penggunaan resin

komposit yang lebih opak di permukaan bagian dalam framework retainer logam

saat memasang gigi tiruan jembatan.

Ketika gigi tiruan jembatan siap dipasang, permukaan lingual dan proksimal

gigi penyangga dipoles secara menyeluruh (Gambar 6). Setelah pasien diminta

untuk berkumur, gigi diisolasi dengan cotton roll dan kain kasa untuk mencegah

kontaminasi saliva, kemudian dikeringkan. Dokter gigi mengaplikasikan larutan

etsa ke seluruh permukaan yang akan ditutupi oleh framework logam dan

ditunggu selama 60 detik, dibilas selama 20 detik, kemudian dikeringkan dan

diisolasi kembali. Setelah itu diaplikasikan resin komposit self-polymerizing untuk

merekatkan gigi tiruan jembatan.

Gambar 6. Pemolesan permukaan enamel yang akan di-etsa.

Resin unfilled dicampur selama lima belas detik, diaplikasikan pada

permukaan email yang dietsa (Gambar 7), dan kelebihannya dibiarkan


(dianginkan). Resin filled berikutnya dicampur dan diaplikasikan selapis tipis ke

permukaan bagian dalam dari peralatan retainer (Gambar 8).

Gambar 7. Unfilled resin diaplikasikan pada permukaan enamel gigi


penyangga yang telah dietsa.Gambar 8. (Sebelah kanan) Cetakan jembatan dengan
filled resin siap untuk diinsersikan.

Peralatan kemudian langsung diletakkan ditempatnya menggunakan jari untuk

memastikan stabilitas.Gunakan explorer untuk membersihkan celah gusi dari resin

yang berlebih (harus hati-hati agar tidak mengganggu framework) (Gambar 9).

Gambar 9. Explorer digunakan untuk membuang kelebihan resinfilledketika


framework telah stabil secara utuh selama polimerisasi resinfilled.

Resin dibiarkan berpolimerisasi selama enam menit. Kemudian periksa

apabila ada kekurangan pada bagian retentivehole atau pinggiran (perifer) dari

framework. Jika ada perbedaan, tambahkan resin filled dipolimerisasi sebelum

selanjutnya dilakukan prosedur finishing.

Kelebihan resin dibuang menggunakan instrumen finishing resin komposit

konvensional, seperti finishingbur dan disc (Gambar 10). Hilangkan semua


kelebihan di embrasurgingiva. Setiap permukaan logam yang tergores selama

prosedur finishingmaka harus dipoles ulang. Framework yang telah selesai harus

memperlihatkan resin komposit hanya ada pada retentive hole (Gambar 11 dan

12). Sebelum perawatan selesai, pasien harus diberikan instruksi untuk perawatan

di rumah.

Peralatan harus diperiksa kelonggarannya setiap kali pemeriksaan rutin. Jika

ada kelonggaran, seluruh alat harus dilepas dan dipasang kembali. Semua sisa

resin komposit pada gigi penyangga harus dilepas dan kerangka dibersihkan

sebelumnya dipasangkan kembali. Analisis dan koreksi alasan pelepasan harus

dilakukan sebelum alat diganti.

Gambar 10. Disk sandpaper digunakan untuk membuang kelebihan resin dari
framework.

Gambar 11. Tiga unit gigi tiruan jembatan jenis rochette bridge pada
maksila(pandangan fasial setelah pemasangan).

Gambar 12. Jembatan 3 unit (pandangan lingual setelah pemasangan).


DAFTAR PUSTAKA

1. Rangarajan V, Padmanabhan TV, Textbook of Prosthodontics. 2nd edition.


India : Elsevier. 2017.
2. Veeraiyan DN., Ramalingam K., Bhat V. Textbook of Prosthodontics. India :
Jaypee Brothers Medical Publisher. 2003.
3. Denehy GE. Cast anterior bridges utilizing composite resin. The American
Academy of Pedodontics. 1982. 4(1) : 44-47
4. Vishnoi DR., Bele DA, Jain D. Resin bonded bridge : A forgotten first frontier
for an aesthetically critical edentulous space-A case report. 2015.14 (1) : 123 –
128
5. Nallaswamy, D. 2017. Textbook of Prosthodontics Second Edition. New
Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher.
6. Barclay, C.W; Walmsley, A.D. 1998. Fixed and Removable Prosthodontics.
Birmingham: Churchill Livingstone
7. Smith B, Howe L. Planning and making crowns and bridges. Abingdon, Oxon,
UK: Informa Healthcare; 2007.

Anda mungkin juga menyukai