Anda di halaman 1dari 45

Modul 5

MODUL 5

MODUL PENYELESAIAN SENGKETA KONTRAK

DIKLAT HUKUM KONTRAK KONSTRUKSI

TINGKAT DASAR

2016

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SUMBER DAYA AIR DAN


KONSTRUKSI
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya
validasi dan penyempurnaan Modul Sengketa Konstruksi dan Penyelesaian Melalui
Arbitrase sebagai Materi Substansi dalam Diklat Hukum Kontrak Konstruksi. Modul
ini disusun untuk memenuhi kebutuhan kompetensi dasar Aparatur Sipil Negara
(ASN) di bidang Konstruksi.

Modul Sengketa Konstruksi dan Penyelesaian Melalui Arbitrase disusun dalam 4


(empat) bab yang terbagi atas Pendahuluan, Materi Pokok, dan Penutup.
Penyusunan modul yang sistematis diharapkan mampu mempermudah peserta
pelatihan dalam memahami Sengketa Konstruksi dan Penyelesaian Melalui
Arbitrase. Penekanan orientasi pembelajaran pada modul ini lebih menonjolkan
partisipasi aktif dari para peserta.

Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Tim
Penyusun dan Narasumber Validasi, sehingga modul ini dapat diselesaikan dengan
baik. Penyempurnaan maupun perubahan modul di masa mendatang senantiasa
terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan
peraturan yang terus menerus terjadi. Semoga Modul ini dapat memberikan
manfaat bagi peningkatan kompetensi ASN di bidang Konstruksi.

Bandung, Oktober 2016


Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Sumber Daya Air dan Konstruksi

Dr. Ir. Suprapto, M.Eng.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi i


Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................................... i


DAFTAR ISI..................................................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................................ v
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ........................................................................................ vi
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................................. I-1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ I-1

1.2 Deskripsi singkat ............................................................................................................. I-1

1.3 Tujuan Pembelajaran ..................................................................................................... I-2

1.3.1 Kompetensi Dasar ........................................................................................... I-2


1.3.2 Indikator Hasil Belajar ..................................................................................... I-2
1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok ............................................................................ I-2

1.5 Estimasi Waktu ............................................................................................................... I-2

BAB II SENGKETA KONSTRUKSI .......................................................................................... II-1


2.1 Sengketa Konstruksi...................................................................................................... II-1

2.2 Hal-hal yang menimbulkan sengketa konstruksi di Indonesia ................................. II-4

2.3 Arbitrase Sebagai Sarana Penyelesaian .................................................................... II-5

2.3.1. Arbitrase sebagai bagian dari Alternatif ....................................................... II-5


2.3.3. Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) ............................................... II-9
2.4 Latihan ........................................................................................................................ II-11

2.5 Rangkuman .................................................................................................................. II-11

BAB III PROSES PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI ....................................... III-1


3.1 Pengantar ...................................................................................................................... III-1

3.2 Arbitrase ......................................................................................................................... III-2

3.2.1. Didalam Perjanjian terdapat klausula arbitrase. ........................................ III-3


3.2.2. Di dalam Perjanjian tidak terdapat klausula Arbitrase .............................. III-5
3.2.3. Menunjuk Arbiter dan Majelis Arbitrase ...................................................... III-5
3.2.4. Cara Penyusunan Permohonan. ................................................................. III-8
3.3 Proses Persidangan Arbitrase .................................................................................. III-13

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi ii


Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

3.4 Acara Yang Berlaku di Hadapan Majelis Arbitrase (MENURUT UU No. 30/1999) .....
....................................................................................................................... III-16

3.5 Pelaksanaan Putusan ................................................................................................ III-19

3.6 Latihan ....................................................................................................................... III-21

3.7 Rangkuman ................................................................................................................. III-22

BAB IV PENUTUP..................................................................................................................... IV-1


4.1 Kesimpulan .................................................................................................................... IV-1

4.2 Tindak Lanjut ................................................................................................................. IV-1

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... viii


GLOSARIUM.................................................................................................................................. ix

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi iii
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

DAFTAR TABEL

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi iv


Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.3.2 1 - Bagan alir Proses penanganan sengketa melalui arbitrase .... II-8

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi v


Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Deskripsi
Modul Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi Studi Kasu ini terdiri dari dua
kegiatan belajar mengajar. Sub kegiatan belajar pertama membahas tentang
sengketa konstruksi. Kemudian sub kegiatan belajar kedua membahas tentang
proses penyelesaian sengketa. Di akhir pembelajaran dilaksanakan evaluasi
yang menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta diklat setelah mempelajari
seluruh materi dalam Diklat ini.

Persyaratan
Dalam mempelajari modul ini peserta diklat sebelumnya perlu mempelajari
seluruh bahan ajar dalam Diklat Hukum Kontrak Konstruksi, dan membaca
modul ini disertai dengan memahami kebijakan/ peraturan terkait hukum
kontrak konstruksi yang berlaku.

Metode
Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah
dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara/Fasilitator,
diskusi/ tanya jawab, Focused Group Discussion dengan case study, serta
problem solving.

Alat Bantu/Media
Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan Alat
Bantu/Media pembelajaran tertentu, yaitu: LCD/projector, Laptop, white board
dengan spidol dan penghapusnya, bahan tayang, serta modul dan/atau bahan
ajar.

Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu
memahami dan mampu menjelaskan tata cara penyelesaian melalui Abritase.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi vi


Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di negara-negara maju, industri jasa konstruksi sudah berkembang demikian
pesatnya dan sudah menggunakan teknologi yang serba canggih. Para
penyedia jasa konstruksi di negara-negara tersebut sudah terbiasa untuk
bersaing secara ketat satu sama lain. Hampir semua penyedia jasa
konstruksi menguasai teknologi dan seluk beluk jasa konstruksi sehingga
perbedaan harga penawaran para penyedia jasa konstruksi (pada waktun
tender) tidak lagi berkaitan dengan perbedaan harga barang dan upah dalam
suatu pekerjaan, namun lebih kepada faktor efisiensi dalam mengerjakan
pekerjaaan konstruksi tersebut.

Di Indonesia sendiri, dikenal dengan adanya asas kebebasan berkontrak


didalam hukum perjanjiannya. Dengan adanya asas kebebasan berkontrak
yang banyak dianut dalam pembuatan perjanjian/kontrak konstruksi, maka
bentuk dan jenis kontrak konstruksi yang beragam dapat memicu adanya
permasalahan hukum. Sengketa yang ditimbulkan karena masalah jasa
konstruksi dapat diselesaikan di pengadilan dan dilaur pengadilan. Hanya
saja, pada tataran prakteknya kebanyakan kasus jasa konstruksi dalam
kontraknya diatur akan diselesaikan dengan perdamaian, persetujuan para
pihak dalam musyawarah, mediasi dan arbitrase. Dengan kata lain, dalam
suatu sengketa konstruksi, kebanyakan para pihak menyelesaikannya dalam
forum penyelesaian sengketa diluar pengadilan (Alternative Disputes
Resolution).

1.2 Deskripsi singkat


Mata Diklat ini membahas cara pnyelesaian sengketa kontrak melalui
Abritase.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi I-1
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

1.3 Tujuan Pembelajaran


1.3.1 Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan mampu
memahami dan mampu menjelaskan tata cara penyelesaian melalui
Abritase.
1.3.2 Indikator Hasil Belajar
Setelah pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu:
a) Memahami dan mampu menjelaskan sengketa konstruksi;
b) Memahami dan mampu menjelaskan proses abritase Nasional (proses
BANI)
c) Memahami dan mampu menjelaskan keputusan Bani.

1.4 Materi Pokok dan Sub Materi Pokok


Dalam modul Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi ini akan
membahas materi:
a) Sengketa konstruksi;
b) Proses abritase Nasional (proses BANI)
c) Keputusan Bani.

1.5 Estimasi Waktu


Alokasi waktu yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
untuk mata diklat “Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi” ini adalah 6
(enam) jam pelajaran (JP) atau sekitar 270 menit.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi I-2
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

BAB II
SENGKETA KONSTRUKSI

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan


Sengketa Konstruksi

2.1 Sengketa Konstruksi


Di negara-negara maju, industri jasa konstruksi sudah berkembang demikian
pesatnya dan sudah menggunakan teknologi yang serba canggih. Para
penyedia jasa konstruksi di negara-negara tersebut sudah terbiasa untuk
bersaing secara ketat satu sama lain. Hampir semua penyedia jasa
konstruksi menguasai teknologi dan seluk beluk jasa konstruksi sehingga
perbedaan harga penawaran para penyedia jasa konstruksi (pada waktun
tender) tidak lagi berkaitan dengan perbedaan harga barang dan upah dalam
suatu pekerjaan, namun lebih kepada faktor efisiensi dalam mengerjakan
pekerjaaan konstruksi tersebut.

Di Indonesia sendiri, dikenal dengan adanya asas kebebasan berkontrak


didalam hukum perjanjiannya. Dengan adanya asas kebebasan berkontrak
yang banyak dianut dalam pembuatan perjanjian/kontrak konstruksi, maka
bentuk dan jenis kontrak konstruksi yang beragam dapat memicu adanya
permasalahan hukum. Sengketa yang ditimbulkan karena masalah jasa
konstruksi dapat diselesaikan di pengadilan dan dilaur pengadilan. Hanya
saja, pada tataran prakteknya kebanyakan kasus jasa konstruksi dalam
kontraknya diatur akan diselesaikan dengan perdamaian, persetujuan para
pihak dalam musyawarah, mediasi dan arbitrase. Dengan kata lain, dalam
suatu sengketa konstruksi, kebanyakan para pihak menyelesaikannya dalam
forum penyelesaian sengketa diluar pengadilan (Alternative Disputes
Resolution).

Secara umum, perkembangan sengketa konstruksi di Indonesia berjalan


seiring dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri. Secara
singkat, terdapat 5 (lima) periodesasi perkembangan sengketa/klaim

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-1
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

konstruksi yang sejalan dengan sejarah perkembangan negara Indonesia,


yaitu :
1) Periode 1945-1950
Dalam periode awal kemerdekaan ini industri jasa konstruksi dapat dikatakan
belum tumbuh. Pelaku jasa konstruksi nasional sangatlah sedikit. Pada
umumnya pelaku jasa konstruksi yang besar adalah perusahaan-perusahaan
milik Belanda. Bangsa Indonesia ketika itu masih disibukkan dengan
pergolakan fisik melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.
Praktis pada periode ini bangsa Indonesia belum dapat membangun dan oleh
karenanya belum ada klaim konstruksi.
2) Periode 1951-1959
Dalam periode ini pun kita belum mulai membangun karena sistem
ketatanegaraan yang kita pakai menyebabkan pemerintah tidak pernah
stabil. Selain itu juga masih adanya gangguan dari golongan separatis yang
ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
seperti DI/TII, PERMESTA, PRRI, dll. Pemerintah belum mempunyai
rencana pembangunan yang definitif sehingga dalam periode ini pun belum
ada klaim konstruksi.
3) Periode 1960-1966
Dalam periode ini, melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Presiden secara
langsung memimpin dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan UUD
1945. Presiden Soekarno mulai melakukan pembangunan dengan
memimpin sendiri pembangunan itu. Pada periode ini, kita mencatat
pembangunan hotel megah (Hotel Indonesia, Samudera Beach,
Ambarukmo, Bali Beach), Jembatan Semanggi, Wisma Nusantara, Gelora
Bung Karno, Proyek Ganefo (sekarang komplek MPR/DPR). Industri Jasa
Konstruksi mulai bangkit namun terbatas pada perusahaan-perusahaan
Belanda yang dinasionalisasikan. Persaingan belum ada karena proyek-
proyek langsung ditunjuk Presiden. Sektor swasta baru mulai muncul dengan
satu dua perusahaan. Kontrak-kontrak konstruksi pada waktu itu masih
sangat sederhana sejalan dengan perkembangan teknologi pada periode ini.

4) Periode Pembangunan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-2
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Dalam periode ini untuk pertama kalinya Pemerintah mempunyai program


pembangunan yang terarah dan berkesinambungan yang dikenal dengan
istilah Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dan dimulai pada
tahun 1969.
Dapat dikatakan dalam periode inilah secara definitif mulai tumbuh Industri
Jasa Konstruksi. Perusahaan-perusahaan Belanda yang diambil alih pada
tahun 1959 dan bersatus Perusahaan Negara (PN) diubah statusnya menjadi
Persero. Pekerjaan tidak lagi dibagi tapi ditenderkan. Mulai terjadi persaingan
diantara BUMN. Kemudian swasta pun mulai bangkit, termasuk swasta
asing. Jenis kontrak konstruksi beragam dan sudah mulai kompleks, namun
klaim/sengketa konstruksi masih jarang terjadi, baru pihak swasta asing yang
menggunakannya.
5) Periode 1997-sekarang
Dalam periode ini, industri jasa konstruksi benar-benar lumpuh akibat krisis
moneter pada tahun 1997. Banyak proyek-proyek yang terbengkalai,
pengguna jasa tak mampu membayar penyedia jasa sehingga menyebabkan
banyaknya klaim/sengketa konstruksi yang timbul. Di tengah-tengah
kelumpuhan industri jasa konstruksi, Pemerintah membuat berbagai
peraturan perundang-undangan yang terkait jasa konstruksi. Peraturan
Perundangan tersebut antara lain UU No.18 Tahun 1999 Tentang Jasa
Konstruksi beserta 3 (tiga) peraturan pelaksanaannya :
PP No.28 Tahun 2000, PP No.29 Tahun 2000 dan PP No.30 Tahun 2000,
serta UU No.30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
sengketa.

Dari uraian tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa walaupun industri jasa
konstruksi kita telah berkembang selama kurang lebih 32 (tiga puluh dua)
tahun, klaim/sengketa konstruksi baru mulai muncul beberapa tahun terakhir
Walaupun sesungguhnya klaim/sengketa itu ada, hanya tidak muncul ke
permukaan, tidak dilayani dengan baik dan satu lain hal karena pengertian
yang keliru mengenai klaim/sengketa konstruksi.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-3
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

2.2 Hal-hal yang menimbulkan sengketa konstruksi di Indonesia


Pada dasarnya setiap kontrak konstruksi yang dibuat oleh para pihak harus
dapat dilaksanakan dengan sukarela berdasarkan itikad baik (Pacta Sunt
Servanda). Namun kenyataannya, banyak sekali pelanggaran kontrak
konstruksi yang terjadi, dengan para pihak memiliki argumennya masing-
masing. Persoalannya sekarang adalah bagaimana cara penyelesaian
sengketa konstruksi yang terjadi diantara para pihak. Oleh karena itu, dalam
setiap kontrak perlu dimasukkan klausula mengenai penyelesaian sengketa,
apabila salah satu pihak tidak memenuhi kontrak atau wanprestasi.
Sengketa konstruksi sesungguhnya dapat timbul antara lain karena klaim
yang tidak dilayani atau ditanggapi. Misalnya klaim mengenai keterlambatan
pembayaran, keterlambatan penyelesaian pekerjaan, perbedaan penafsiran
dokumen kontrak, dll. Selain itu, sengketa konstruksi dapat juga terjadi
apabila pengguna jasa ternyata tidak melaksanakan tugas-tugas
pengelolaan dengan baik dan mungkin tidak memiliki dukungan pendanaan
yang cukup. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sengketa konstruksi
timbul karena salah satu pihak telah melakukan tindakan cidera janji atau
wanprestasi terhadap kontrak konstruksi. Penyelesaian sengketa konstruksi
dapat ditempuh melalui forum pengadilan maupun diluar forum pengadilan,
berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa tersebut.

Penyelesaian sengketa melalui pengadilan adalah suatu pola penyelesaian


sengketa yang terjadi antara pihak yang diselesaikan oleh pengadilan, suatu
lembaga negara yang melaksanakan fungsi yudikatif, dan putusannya
bersifat mengikat. Prosedur dan prosesnya mengikuti peraturan Hukum
Acara Perdata yang berlaku di Indonesia. Sedangkan penyelesaian
sengketa melalui mekanisme alternatif penyelesaian sengketa (alternative
disputes resolution) adalah penyelesaian sengketa diluar forum pengadilan
yang disepakati oleh para pihak yakni musyawarah, mediasi, konsiliasi dan
arbitrase di Indonesia.

Masing-masing mekanisme penyelesaian sengketa tersebut memiliki


kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Para pihak yang terikat

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-4
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

dalam suatu kontrak konstruksi diberikan keleluasaan untuk menentukan


dan menyepakati mekanisme penyelesaian sengketa konstruksi yang
terjadi, dengan cara menuangkannya dalam suatu klausula penyelesaian
sengketa yang merupakan satu kesatuan dari kontrak konstruksi tersebut.

Pilihan penyelesaian sengketa konstruksi tersebut harus secara tegas


dicantumkan dalam kontrak konstruksi, dan sengketa dimaksud bukan
merupakan tindakan pidana. Dari pilihan-pilihan penyelesaian sengketa
tersebut, penyelesaian sengketa melalui forum arbitrase merupakan cara
yang paling sering ditempuh dalam menangani proses penyelesaian
sengketa konstruksi.

2.3 Arbitrase Sebagai Sarana Penyelesaian


2.3.1. Arbitrase sebagai bagian dari Alternatif
Penyelesaian Sengketa Prinsip kebebasan berkontrak (freedom of contract)
memiliki konsekuensi logis, yakni para pihak dalam suatu kontrak dapat
menentukan sendiri hal-hal sebagai berikut:
a) Pilihan hukum (choice of law) ;
Para pihak diberikan keleluasaan untuk menentukan sendiri tentang
hukum mana yang berlaku terhadap interpretasi kontrak tersebut.
b) Pilihan forum (choice of jurisdiction);
Para pihak dapat menentukan sendiri dalam kontrak tentang pengadilan
atau forum mana yang akan berlaku jika terjadi sengketa di antara pihak
dalam kontrak tersebut.
c) Pilihan domisili hukum (choice of domicile).
Dalam hal ini masing-masing pihak melakukan penunjukan dimanakah
domisili hukum dari para pihak tersebut

Jika para pihak tidak menentukan sendiri pilihannya, maka hukum


menyediakan kaedahnya untuk mengatur hal tersebut, yakni menentukan
hukum yang berlaku, menentukan pengadilan mana yang berlaku dan
menentukan domisili hukum mana yang akan dipakai.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-5
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Dalam kaitannya dengan choice of jurisdiction, terdapat beberapa pilihan


forum dalam proses penyelesaian sengketa. Pilihan itu antara lain adalah
proses penyelesaian sengketa melalui forum pengadilan dan proses
penyelesaian sengketa melalui forum alternatif penyelesaian sengketa (diluar
forum pengadilan).

Pada umumnya, penyelesaian sengketa melalui forum pengadilan


cenderung dirasa berbelit-belit, sangat teknis, lama dan mahal. Melihat
keadaan tersebut, masyarakat bisnis mulai berpaling pada bentuk
penyelesaian sengketa yang lain yakni alternatif penyelesaian sengketa dan
arbitrase.

Mekanisme alternatif penyelesaian sengketa (lebih dikenal dengan


Alternative Disputes Resolution/ADR) mengenal beberapa bentuk
penyelesaian sengketa diluar jalur pengadilan. Diantaranya adalah
negosiasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase, dan lain-lain. Diantara kesemuanya
itu, arbitrase adalah bentuk penyelesaian sengketa yang populer di dunia
jasa konstruksi.

Sejak pertengahan abad ke XIX (1848) arbitrase telah dikenal di Indonesia


dengan diberlakukannya kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata
(Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering/Rv). Dalam peraturan
perundang-undangan ini,pasal 615 sampai dengan pasal 661 memuat
ketentuan-ketentuan mengenai penyelesaian sengketa melalui arbitrase.
Pasal-pasal tersebut menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan
penyelesaian sengketa di antaranya mengenai kewenangan, fungsi dan
ruang lingkup arbitrase.

Sebenarnya Rv itu sendiri bersumber dari Rv Belanda, dan bukan merupakan


arti hukum yang sebenarnya. Mahkamah Agung Indonesia sendiri
mempertimbang Rv tersebut sebagai “pedoman”. Rv tidak memiliki kekuatan
hukum yang mengikat. Dapat dimengerti kemudian jika pada waktu itu
pengadilan di Indonesia umumnya memiliki kewenangan yang besar untuk

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-6
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

menerapkan dan menafsirkan ketentuan hukum tersebut terhadap praktik


arbitrase di Indonesia.

Kini, dengan pemberlakuan Undang-Undang No.30 Tahun 1999 Tentang


Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Indonesia untuk pertama
kali memiliki undang-undang arbitrase. Mungkin tidak biasa bagi banyak
negara bahwa undangundang itu juga mengandung ketentuan tentang
alternatif penyelesaian sengketa (ADR), kendati undang-undang tersebut
hanya memiliki 1 (satu) pasal saja mengenai ADR (yaitu pasal 6) dari
keseluruhan 82 (delapan puluh dua) pasal.

Ketentuan tentang alternatif penyelesaian sengketa pada kenyataannya


hanya mengatur masalah yang sangat mendasar. Sebagaimana telah luas
diketahui, alternatif penyelesaian sengketa merupakan cara penyelesaian
sengketa di luar pengadilan. Termasuk antara lain negosiasi, mediasi,
konsiliasi, atau cara-cara lain yang dipilih oleh para pihak. Namun undang-
undang arbitrase tidak menyebutkan mengenai hal-hal tersebut. Undang-
undang itu hanya menyatakan bahwa para pihak dapat menyelesaikan
sengketa dengan negosiasi. Jika negosiasi gagal, undang-undang
mensyaratkan para pihak untuk memilih mediasi. Jangka waktu untuk
melakukan mediasi adalah 30 (tiga puluh) hari. Undang-undang
mensyaratkan penyelesaian sengketa melalui mediasi harus didaftarkan
kepada Pengadilan negeri dimana mediasi dilakukan. Jika prosedur mediasi
gagal, para pihak dapat memilih untuk memasukkan sengketa mereka
kepada badan arbitrase atau arbitrase ad hoc.

Di Indonesia, telah banyak berdiri badan arbitrase yang mempunyai ruang


lingkup masing-masing. Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia (BAPMI)
memiliki ruang lingkup penyelesaian sengketa pada bidang pasar modal,
Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) secara umum memiliki ruang
lingkup bidang komersial, Badan Arbitrase Syariah yang memiliki ruang
lingkup perbankan syariah, dan lain-lain. Dalam penulisan karya tulis ini akan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-7
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

memfokuskan kajian kepada BANI karena di forum BANI inilah pokok


permasalahan utama yang akan dianalisa.

Berikut ini adalah bagan proses penanganan sengketa melalui arbitrase

2.3.2. Bagan alir Proses penanganan sengketa melalui arbitrase

KASUS
SENGKETA

BERHASIL
PENYELESAIAN
KUASA HUKUM Negoisasi
(STATEMENT)

BERHASIL GAGAL
PENYELESAIAN
Somasi
(STATEMENT)

GAGAL

ARBITRASE

ARBITRASE INSTITUSIONAL
AD HOC BANI

PROGRES
PERSIDANGAN

GAGAL
KEPUTUSAN KEPUTUSAN

Somasi KEPUTUSAN
BERHASIL

Gambar 2.3.2 1 - Bagan alir Proses penanganan sengketa melalui arbitrase

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-8
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

2.3.3. Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)


BANI didirikan di Indonesia atas prakarsa Prof.R.Subekti, Ketua Mahkamah
Agung dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia pada tahun 1977.
Berdirinya BANI telah direstui oleh Menteri Kehakiman, Ketua Mahkamah
Agung, Ketua BAPPENAS, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan
juga oleh Presiden Republik Indonesia. Ketua BANI yang pertama adalah
Prof.R.Subekti, SH (Mantan Ketua Mahkamah Agung). BANI telah memiliki
cabang-cabang di Surabaya, Medan, Denpasar dan Padang. BANI telah
menjalin kerja sama dan juga joint arbitration dengan badan-badan arbitrase
Jepang, Korea Selatan, Belanda, Philipina, Hongkong, Singapura, Kanada
dan Australia.
Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa secara tegas mencantumkan ketentuan tentang
eksistensi lembaga arbitrase, yaitu pada pasal 34 yang menyatakan bahwa
penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dilakukan dengan
menggunakan lembaga arbitrase nasional atau internasional berdasarkan
kesepakatan para pihak. Ditegaskan pula bahwa penyelesaian sengketa
melalui lembaga arbitrase dilakukan menurut peraturan dan acara dari
lembaga yang dipilih kecuali ditetapkan oleh para pihak.

BANI bertujuan untuk memberikan penyelesaian yang adil dan cepat dalam
sengketa-sengketa perdata yang timbul mengenai soal-soal perdagangan,
industri dan keuangan, baik yang bersifat nasional maupun internasional.
Dalam melakukan tugasnya BANI adalah bebas (otonom) dan tidak boleh
dicampuri oleh sesuatu kekuasaan lain. Perkara-perkara sengketa yang
menurut klausula arbitrase atau perjanjian arbitrase telah diserahkan oleh
para pihak yang bersengketa penyelesaiannya kepada lembaga arbitrase
seperti BANI tidak boleh lagi diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Negeri.
Hal ini secara tegas tercermin dalam pasal 11 Undang-undang Nomor 30
Tahun 1999 yang mengatakan adanya suatu perjanjian arbitrase tertulis
meniadakan hak para pihak untuk mengajukan penyelesaian sengketa yang
termuat dalam perjanjiannya ke Pengadilan Negeri. Selanjutnya Pengadilan
Negeri wajib menolak dan tidak akan campur tangan dalam suatu

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-9
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

penyelesaian sengketa yang telah ditetapkan melalui arbitrase kecuali dalam


hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh undang-undang.

BANI berwenang untuk memeriksa dan mengadili semua sengketa perdata


yang timbul dalam bidang perdagangan, industri dan keuangan, baik yang
bersifat nasional maupun internasional. Ketentuan mengenai wewenang
lembaga arbitrase dalam anggaran dasar BANI sesuai dengan pengertian
yang berkembang diluar negeri yang tercakup dalam pengertian
“Commercial Arbitration”. Para arbiter BANI terdiri dari orang-orang yang
memiliki keahlian dalam satu atau beberapa bidang seperti bidang
perbankan, asuransi, konstruksi, dan sebagainya serta mempunyai
pengalaman yang cukup lama dan mempunyai nama yang bersih dan
integritas yang tinggi. Proses persidangan di BANI berbeda dengan
persidangan dilembaga peradilan yang terbuka untuk umum, maka sidang-
sidang di BANI dilakukan “dengan pintu tertutup” yaitu sidang di BANI hanya
dihadiri oleh para pihak yang bersengketa yang dapat didampingi oleh kuasa
hukum masing-masing, dihadapan para arbiter. Tidak ada wartawan dan
tidak ada orang luar yang ikut hadir. Sifat tertutupnya sidang arbitrase
dimaksudkan untuk menjaga nama dan hubungan baik para pihak yang
bersengketa. Tujuannya adalah untuk melindungi kepentingan bisnis dan
nama baik pihak-pihak yang bersengketa.

Hal lain yang berkaitan dengan persidangan yang tertutup untuk umum,
adalah sifat rahasia dari keputusan arbitrase. Keputusan arbitrase tidak
dibacakan dimuka umum dan tidak disebarluaskan secara terperinci seperti
yang dilakukan dengan keputusan-keputusan Pengadilan, yang dapat
dikumpulkan dan dibukukan secara lengkap. Majelis Arbiter akan mengambil
keputusan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan setelah ditutupnya
pemeriksaan. Dalam Keputusandapat ditetapkan suatu jangka waktu dalam
mana putusan itu harus dilaksanakan. Dalam praktiknya putusan selalu
diambil berdasarkan ketentuan hukum dan berdasarkan keadilan dan
kepatutan.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-10
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

2.4 Latihan
1. Cara Penyelesaian sengketa kontrak konstruksi harus dicantumkan
dengan tegas dalam SSKK. (Benar atau Salah)

2. Proses Penyelesaian melalui pengadilan TIDAK dianjurkan untuk


menyelesaikan sengketa. (Benar atau Salah)

2.5 Rangkuman
Penyelesaian sengketa melalui pengadilan adalah suatu pola penyelesaian
sengketa yang terjadi antara pihak yang diselesaikan oleh pengadilan, suatu
lembaga negara yang melaksanakan fungsi yudikatif, dan putusannya
bersifat mengikat. Prosedur dan prosesnya mengikuti peraturan Hukum
Acara Perdata yang berlaku di Indonesia.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-11
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

BAB III
PROSES PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan


proses penyelesaian sengketa konstruksi

3.1 Pengantar
Di dalam Undang-Undang No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok
Kekuasaan Kehakiman, Pasal 2 ayat 1 antara lain dinyatakan bahwa
penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman diserahkan ke Badan-Badan
Peradilan dengan tugas pokok untuk menerima dan mengadili serta
menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya.

Perkara yang dimaksud dalam Pasal 2 (1) tersebut dibagi dalam perkara
pidana dan perkara perdata.

Di dalam Jurisdictie Volentario (UU No. 14 Tahun 1970) atau disebut


peradilan sukarela, tidak ada sengketa; yang ada hanya satu pihak saja dan
hal tersebut dikarenakan adanya kepentingan yang diciptakan oleh hukum
perdata misalnya pengangkatan anak, penetapan ahli waris, pemecatan atau
pembebasan seorang wali dan sebagainya.

Dalam kaitan ini urusan kepengadilan negeri menggunakan istilah


“Permohonan”

Di dalam Jurisidictie contentiousa atau peradilan sanggah atau peradilan


biasa, terdapat sengketa hukum antara dua pihak mengenai suatu hak yang
oleh satu pihak (penggugat) hak tersebut didalilkan ada padanya, sedangkan
menurut pihak lain (tergugat), dalil tersebut di sangkal. Dalam kaitan ini
urusan ke Pengadilan Negeri menggunakan istilah “Gugatan”.

Dalam kaitan dengan pelatihan ini, “arbitrase” termasuk didalam perkara


perdata.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-1
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan


umum, yang didasarkan pada suatu perjanjian arbitrase yang dibuat secara
tertulis oleh para pihak yang bersangkutan.

Namun didalam arbitrase, pihak yang mengajukan permohonan


Penyelesaian Sengketa melalui arbitrase (Pasal 1, ayat 5, UU No. 30 tahun
1999) disebut Pemohon tidak dinamakan Penggugat seperti dalam gugatan.

Pelaksanaan tindakan mengajukan permohonan arbitrase, tunduk pada


ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang No. 30 tahun 1999, tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

UU No. 30/1999 Pasal 2 menyatakan sebagai berikut:

“Undang-Undang ini mengatur penyelesaian sengketa atau beda pendapat


antara para pihak dalam satu hubungan hukum tertentu yang telah
mengadakan Perjanjian Arbitrase yang secara tegas menyatakan bahwa
semua sengekta atau beda pendapat yang timbul atau yang mungkin timbul
dari hubungan hukum tersebut akan diselesaikan dengan cara Arbitrase atau
Alternatif Penyelesaian Sengketa”.

3.2 Arbitrase
Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan
umum, yang didasarkan pada suatu perjanjian arbitrase secara tertulis oleh
para pihak yang bersengketa, atau Perjanjian Arbitrase tersendiri yang dibuat
para pihak setelah timbul sengketa (UU RI. No. 30/1999 Pasal 1 ayat 3).

Dengan adanya suatu kesepakatan dalam suatu perjanjian yang menyatakan


bahwa “Semua sengketa atau perbedaan pendapat yang timbul akan
diselesaikan melalui arbitrase” sudah cukup untuk menyatakan bahwa
penyelesaian sengketa akan diselesaikan melalui “arbitrase” dan bukan
diselesaikan melalui “Pengadilan”.

Pernyataan tersebut sekaligus menutup kemungkinan penyelesaian melalui


Pengadilan karena UU RI No. 30/1999 Pasal 3 menyatakan : “Pengadilan
Negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah
terikat dalam Perjanjian Arbitrase”.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-2
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Pengertian perjanjian arbitrase sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 30


/1999 Pasal 1 ayat 3 mengandung dua macam makna yaitu : pertama
didalam Perjanjian sudah ada klausula Arbitrase, dan kedua didalam
Perjanjian belum ada klausula Arbitrase.

Bila ternyata yang terjadi sesuai keadaan kedua, maka perjanjian arbitrase
dapat dibuat oleh para pihak yang bersengketa bila mereka
menghendakinya.

3.2.1. Didalam Perjanjian terdapat klausula arbitrase.


Dengan dicantumkannya klausula arbitrase dalam suatu perjanjian, berarti
sudah tidak ada keraguan lagi bagaimana cara menyelesaikan sengketa
antara para pihak dalam perjanjian tersebut, yaitu jelas menggunakan
arbitrase.

Seperti halnya dalam suatu pelaksanaan perjanjian, misalnya saja perjanjian


mengenai pembangunan suatu bangunan, maka apabila terjadi sengketa,
misalnya menyangkut masalah pembayaran yang tidak benar atau adanya
suatu perubahan dari suatu metode kerja yang menimbulkan perubahan-
perubahan biaya yang berakhir menjadi sengketa, maka langkah pertama
yang dilakukan oleh para pihak yang dirugikan adalah memberikan suatu
tegoran atau peringatan secara tertulis.

Tata cara pengajuan peringatan biasanya diatur dalam perjanjian atau


Syarat-Syarat Umum Kontrak, namun umumnya peringatan dibuat hingga
tiga kali dan berselang satu minggu atau dua minggu.

Dalam hal sampai dengan Peringatan Ketiga atau Peringatan Terakhir, pihak
yang dianggap merugikan tidak memberikan tanggapan atau tanggapannya
kurang menyakinkan, maka pihak yang dirugikan dapat kembali mengacu
pada pasal-pasal dalam Perjanjian.

Apabila dalam Perjanjian secara jelas disebutkan bahwa sengketa


diselesaikan oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) atau
diselesaikan dan diputus oleh BANI, maka jelas pihak yang dirugikan bisa
langsung membuat Permohonan ke BANI. Untuk itu wajib sebelumnya

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-3
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

memberikan surat pemberitahuan kepada pihak lawan bahwa Syarat


Arbitrase sesuai Pasal 8 dari UU RI No. 30/1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa, telah dipenuhi. Isi Pasal 8 ayat 1
menyatakan: Pemohon memberitahukan kepada Termohon dengan surat
tercatat, telegram, teleks, faximile, e-mail atau dengan buku ekspedisi bahwa
surat Arbitrase yang diadakan oleh Pemohon atau Termohon berlaku,
sedangkan Pasal 8 ayat 2 menyatakan bahwa syarat Pemberitahuan yang
dimaksud pada Pasal 8 ayat 1 diatas memuat dengan jelas :

a) Nama dan alamat para pihak;


b) Penunjukan pada klausula atau perjanjian arbitrase yang berlaku;
c) Masalah yang menjadi sengketa;
d) Dasar tuntutan dan jumlah yang dituntut;
e) Cara penyelesaian yang dikehendaki;
f) Jumlah Arbiter yang dikehendaki.

Namun apabila klausula arbitrase ternyata samar dalam menunjuk institusi


BANI sebagai institusi yang menyelesaikan dan memutus perkara, misalnya
klausulanya berbunyi sebagai berikut :

“Dalam hal terjadi sengketa akan diselesaikan menurut peraturan dan


prosedur BANI”.

Klausula tersebut hanya menyebut “diselesaikan menurut peraturan dan


prosedur BANI”, jadi hanya peraturan dan prosedur BANI yang digunakan,
namun tidak dengan sendirinya institusi BANI yang harus menyelesaikan
perkara tersebut.

Cara penyelesaian seperti itu dinamakan Arbitrase Ad Hoc dengan


menggunakan peraturan dan prosedur BANI.

Namun apabila klausula tersebut berbunyi sebagai berikut :

“Dalam hal terjadi sengketa akan diselesaikan dengan Arbitrase”, maka


dalam hal tersebut berarti para pihak tunduk pada UU No. 30/1999 dimana
untuk keperluan arbitrase para pihak masing-masing menunjuk seorang
Arbiter. Selanjutnya kedua Arbiter tersebut menunjuk seorang Arbiter ketiga

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-4
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

yang akan menjadi Ketua Majelis Arbitrase. Dalam hal ini terjadilah apa yang
disebut proses Arbitrase Ad Hoc.

Dalam hal para pihak tidak berhasil menunjuk Arbiter, maka Ketua
Pengadilan Negeri akan menunjuk Arbiter-Arbiter tersebut.

Selanjutnya proses Arbitrase mengikuti ketentuan-ketentuan tercantum


dalam UU RI. No. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase & Alternatif Penyelesaian
Sengketa.

3.2.2. Di dalam Perjanjian tidak terdapat klausula Arbitrase


Bila didalam Perjanjian tidak menyebut bahwa penyelesaian sengketa
diselesaikan melalui Arbitrase, maka kedua pihak dapat berunding dan
bersepakat bahwa sengketa mereka diselesaikan melalui Arbitrase dimana
kesepakatan tersebut harus dibuat dalam bentuk tertulis.

Selanjutnya apabila para pihak setuju menggunakan peraturan dan prosedur


BANI terjadilah suatu proses Arbitrase Ad Hoc dengan menggunakan
peraturan dan prosedur BANI. Dengan demikian kondisinya kembali seperti
yang diuraikan dalam butir 2.1 yaitu Arbitrase Ad Hoc dengan
pelaksanaannya tunduk pada UU No. 30 tahun 1999.

3.2.3. Menunjuk Arbiter dan Majelis Arbitrase


Tata cara penunjukan Arbiter sangat tergantung pada klausulanya. Bila
penyelesaian sengketa dilakukan oleh BANI, maka para Arbiter biasanya 3
(tiga) orang, dimana masing-masing pihak memilih seorang Arbiter.
Kemudian kedua Arbiter tersebut memilih Arbiter ketiga yang akan menjadi
Ketua Majelis Arbitrase. Majelis Arbitrase ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Ketua BANI.

Apabila para pihak menyetujui sengketa mereka diselesaikan melalui


Arbitrase, kemudian di tuangkan dalam suatu kesepakatan bersama, maka
selanjutnya adalah

a) Pihak I menunjuk Arbiter A yang menurut pendapatnya Arbiter tersebut


mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan sebaik-baiknya.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-5
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

b) Arbiter A memberitahukan persetujuannya kepada Pihak I dan Pihak II


dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak Arbiter tersebut
ditunjuk.
c) Pihak I memberitahukan Pihak II mengenai penunjukan Arbiter A
tersebut.
d) Kemudian Pihak II setelah menerima pemberitahuan tersebut
mempunyai waktu 30 hari untuk menunjuk Arbiter pilihannya, misalnya
Arbite.
e) Apabila dalam suatu waktu yang ditetapkan (30 hari) tersebut ternyata
Pihak II tidak menggunakan haknya untuk menunjuk Arbiter pilihannya,
maka hak tersebut gugur, dan Arbiter A menjadi Arbiter Tunggal.
f) Disamping itu Pihak II dapat juga menerima penunjukan Arbiter A, namun
apabila ternyata menurut pendapatnya Arbiter A tersebut mempunyai
masalah (maksudnya melanggar UU No. 30/1999 Pasal 12), maka Pihak
II dapat menyampaikan Hak Ingkarnya.

Pasal 12 tersebut berbunyi sebagai berikut :

Ayat (1) :

Yang dapat ditunjuk atau diangkat sebagai Arbiter harus memenuhi syarat-
syarat

a) Cakap melakukan tindakan hukum.


b) Berumur paling rendah 35 tahun
c) Tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai
dengan derajat kedua dengan salah satu pihak yang bersengketa
d) Tidak mempunyai kepentingan financial atau kepentingan lain atas
putusan arbitrase; dan
e) Memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif dibidangnya paling
sedikit 15 tahun

Ayat (2)

Hakim, jaksa, panitera dan pejabat peradilan lainnya tidak dapat ditunjuk atau
diangkat sebagai Arbiter.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-6
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Apabila Pihak I dan Pihak II sepakat atas penunjukan Arbiter-Abiternya,


langkah selanjutnya menjadi wewenang Arbiter A dan Arbiter B, untuk
menunjuk 1 (satu) orang Arbiter C yang akan menjadi Ketua Majelis
Arbitrase.

Apabila dalam waktu 14 hari Arbiter A dan B gagal menunjuk Arbiter lain
sebagai Ketua Majelis Arbitrase, maka Arbiter tersebut akan diangkat dengan
penetapan Ketua Pengadilan Negeri.

Setelah Majelis Arbitrase terbentuk, maka segera dikirimkan undangan oleh


Sekretaris Arbitrase untuk dilakukan sidang pertama.

Dalam sidang ini hadir Majelis Arbitrase, Pihak I dan Pihak II serta Panitera
Sidang. Biasanya pada pertemuan awal ini dibicarakan tata cara dan biaya-
biaya yang timbul untuk sidang yang akan dilaksanakan, serta bagaimana
penyelesaiannya.

Kemudian ditentukan kapan Pihak I harus memasukkan Permohonan


kepada Majelis Arbitrase (biasanya setelah para pihak menyelesaikan
pembayaran biaya sidang Arbitrase) dan sidang Arbitrase-pun dimulai.

Majelis Arbitrase terdiri dari seorang Ketua Majelis dan dua orang Anggota
Majelis. Pada hakekatnya Majelis Arbitrase dapat melaksanakan tugasnya
dengan tenang, sebab sesungguhnya keberadaannya serta apa yang
dilakukannya dilindungi oleh Undang-Undang.

Hal tersebut dinyatakan secara jelas dalam UU RI No. 30/1999 Pasal 21 yang
berbunyi :

“Arbiter atau Majelis Arbitrase tidak dapat dikenakan tanggung jawab hukum
apapun atas segala tindakan yang diambil selama proses persidangan
berlangsung untuk menjalankan fungsinya sebagai Arbiter atau Majelis
Arbitrase, kecuali dapat dibuktikan adanya itikad tidak baik dari tindakan
tersebut”.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-7
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

3.2.4. Cara Penyusunan Permohonan.


Penyusunan atau pembuatan Permohonan dalam penyelesaian sengketa
melalui Arbitrase dilakukan dengan cara mengajukan Permohonan tersebut
dari pihak yang merasa dirugikan, ditujukan kepada Ketua Majelis Arbitrase
untuk perkara yang bersangkutan. Selanjutnya rekaman surat tersebut
dikirimkan kepada Termohon untuk ditanggapi.

Bentuk Permohonan berupa suatu himpunan dokumen yang disusun secara


tertib dan mempunyai nilai kebenaran. Untuk itu Permohonan harus disertai
bukti-bukti untuk mendukung kebenaran dari tuntutan yang disampaikan.

Isi dari Permohonan terdiri dari 3 (tiga) bagian, yaitu :

3.2.4.1 Bagian Pertama, dinamakan : Persona Standi in Judicio; yang berarti


instansi mana yang berwenang untuk memeriksa.

Dalam hal ini yang dimaksud adalah Majelis Arbitrase, atau jika
institusinya jelas, umpamanya Badan Arbitrase Nasional Indonesia
(BANI) maka langsung ditujukan kepada institusi tersebut atau BANI.

Sesuai contoh adalah :

Kepada Yth. :

Ketua Badan Arbitrase Nasional Indonesia

Gedung Wahana Graha, Lantai II

Jl. Mampang Prapatan No. 2

Jakarta Selatan

Disamping itu termasuk dalam pengertian Persona Standi in Judicio adalah : identitas para
pihak.

Didalam contoh disebutkan :

- PT. Harkat, Jalan Pakubuwono No. 27 Jakarta; dan


- PT. Elang, Jalan Daan Mogot No. 90, Jakarta.
Semuanya harus ditulis secara jelas dan terang.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-8
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

3.2.4.2 Bagian Kedua : fundamentumpetendi atau posita


Didalam posita, Pemohon wajib menguraikan dasar-dasar permohonannya.
Semua kejadian di ceritakan mulai dari awal kegiatan (misalnya ditanda
tangani kontrak atau dimulainya suatu kegiatan pekerjaan), selanjutnya
semua kejadian-kejadian diuraikan secara jelas, teratur berurutan, terutama
kejadian yang mendukung tuntutan Pemohon.
Kejadian-kejadian tersebut akan lebih baik jika diceritakan secara terperinci
dan jelas. Ingat, penjelasan yang setengah-setengah akan memperlemah
tuntutan.
Didalam dunia hukum dimana tuntutannya samar dan tidak jelas atau tidak
menggambarkan kejadian perkara secara jelas dikenal dengan istilah
“obschuur libel”.
Kejadian tersebut diuraikan secara berurutan, disertai bukti-bukti yang
mendukung kejadian tersebut, hingga Termohon maupun Majelis Arbitrase
dengan mudah dapat mengerti. Apa yang ditulis tersebut di-istilahkan
Pemohon men”dalil”kan sesuatu.
Lampiran bukti biasanya diberi nomor, misalnya P1 (artinya bukti dari
Permohonan nomor 1).
Begitu juga keinginan Pemohon harus disampaikan dengan jelas, misalnya
kejadian tersebut telah mengakibatkan Pemohon menderita kerugian, oleh
karena itu Termohon harus segera membayar hak Permohon dan mengganti
kerugian yang timbul dengan segera.
Pemohon harus menguraikan pula kehendak-kehendak yang lain, apabila
ada, namun harus dengan pembuktian yang cukup.
Uraian-uraian yang jelas, terperinci serta mudah dimengerti inilah yang
disebut mendalilkan. Agar dalil tersebut mempunyai kekuatan maka perlu
disertai suatu bukti.
Didalam pasal 163 HIR terdapat azas:
“siapa yang mendalilkan sesuatu, dia harus membuktikannya”.
3.2.4.3 Bagian Ketiga : Petitum atau Tuntutan
Dilihat dari namanya saja adalah “Tuntutan”, tentu saja yang disajikan adalah
hal-hal yang diinginkan atau dituntut oleh Pemohon.
Dalam contoh, tuntutan tersebut adalah sebagai berikut :

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-9
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

a) Menyatakan termohon wanprestasi


b) Menyatakan penghentian pekerjaan oleh Pemohon pada tanggal 10
September 1997 adalah sah menurut hukum.
c) Menghukum dan memerintahkan Termohon untuk membayar kepada
Pemohon kerugian sebesar Rp. 2.200.000.000,-
d) Menghukum Termohon untuk membayar denda / bunga sebesar 20 %
per bulan sejak tanggal Permohonan ini sampai dengan semua ganti
kerugian berdasarkan Putusan Majelis dibayar lunas oleh Termohon.
e) Menghukum Termohon untuk membayar biaya Arbitrase.
Semua yang tertulis diatas disebut sebagai “tuntutanprimair” atau
“tuntutan pokok”.
Di samping tuntutan primair ada juga permohonan lain yang disebut “tuntutan
subsidair” atau tuntutan tambahan, dalam hal ini misalnya tuntutan mohon
keadilan.
Di dalam contoh ditulis :
“Apabila Majelis Arbiter berpendapat lain, demi keadilan, mohon putusan se-adil-
adilnya (ex aequo et bono)

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-10
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Contoh Permohonan :
Jakarta, …..Mei 2002
No.: …/ V / N /… / 2002

KepadaYth.:
Ketua Badan Arbitrase Nasioanal Indonesia
Gedung Wahana Graha, Lantai II
Jl. Mampang Prapatan No. 2
Jakarta Selatan

Hal : Permohonan Arbitrase

Dengan hormat,
PT. Harkat, beralamatdi Jalan Pakubuwono No. 27, Jakarta; dalam hal ini memilih
domisili hukum dikantor kuasanya, Kantor Advokat& Pengacara Nurhasyim &
Partners, berkedudukan di Jalan Dr. Saharjo No. 6 Jakarta (selanjutnya disebut
Pemohon), berdasarkan Surat Kuasa No. 101/H/IV/2002, tanggal 16 April 2002
(terlampir).
Dengan ini mengajukan Permohonan Arbitrase terhadap :
PT. Elang, beralamat di Jalan Daan Mogot No. 90, Jakarta (selanjutnya disebut
Termohon), untuk menyelesaikan sengketa dalam pelaksanaan Perjanjian
(BuktiP.1) untuk membangun Gedung Perkantoran Melati, dengan menggunakan
prosedur dan tata cara pemeriksaan Arbitrase yang dilaksanakan berdasarkan
aturan dan tata cara Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)
Permohonan ini disampaikan sesuai Syarat Arbitrase, dalam Pasal 35 dari
Perjanjian, yang antara lain berbunyi sebagai berikut :

“setiap masalah atau perbedaan pendapat yang timbul dalam Perjanjian ini
diselesaikan secara musyawarah. Dalam hal cara musyawarah belum dapat diatasi
akan diselesaikan dan diputus oleh BANI menurut peraturan dan prosedur Arbitrase
BANI, yangkeputusannya mengikat kedua pihak yang bersengketa sebagai
keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir”.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-11
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Bahwa Kuasa Pemohon telah mengirim surat No. 27/N/VII/2002, tanggal 18 April
2002 (Bukti P.2) kepada Termohon memberitahukan bahwa syarat Arbitrase sesuai
UU NO. 30 tahun 1999 Pasal 8, berlaku.
Adapun alasan-alasan yang menjadi dasar permohonan arbitrase ini adalah
sebagi berikut :
Pada tanggal 20 Desember 1996 Pemohon mulai melaksanakan pekerjaan
pembangunan Gedung Perkantoran Melati berlantai 3 (Bukti P.3) berlokasi di Jalan
Perintis kemerdekaan No. 11 Jakarta, dengan nilai kontrak Rp. 10.000.000.000,-
(belum termasuk PPN) dengan cara pembayaran berdasarkan prestasi Pemohon
setiap bulan. Masa membangun selama 12 bulan.
Pada bulan Agustus 1997 prestasi telah mencapai 60 % (Bukti P4).
Namun prestasi bulan Juni dan Juli 1997 belum dibayar oleh Termohon kepada
Pemohon masing-masing senilai Rp. 1.150.000.000,- dan Rp. 1.050.000.000,-
(Bukti P.5 dan P.6).
Sesuai perjanjian Pasal 25, Pemohon mulai tanggal 10 September 1997
menghentikan pekerjaan (Bukti P.7).
Pemohon telah memberikan peringatan I, tanggal 17 September 1997 peringatan
II, tanggal 1 Oktober 1997, dan peringatan III, tanggal 18 Oktober 19997 (Bukti P.8,
P.9, P.10). namun Termohon tetap tidak melakukan pembayaran kepada
Pemohon.
Dengan demikian terbukti Termohon telah melakukan tindakan Cidera Janji
(Wanprestasi).
Akibat tindakan Termohon, Pemohon mengalami kerugian sangat besar.
Untuk itu berdasarkan dalil-dalil yang dikemukakan Pemohon, mohon Majelis
Arbitrase menerima dan memeriksa Permohonan Arbitrase Pemohon dan
memutuskan sebagai berikut :
(1) Menyatakan Termohon wanprestasi;
(2) Menyatakan penghentian pekerjaan oleh Pemohon pada tanggal 10
September 1997 adalah sah menurut hukum;
(3) Menghukum dan memerintahkan Termohon untuk membayar kepada
Pemohon kerugian yang diderita sebesar Rp. 2.200.000.000,-;

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-12
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

(4) Menghukum Termohon untuk membayar denda bunga sebesar 20 % per


tahun terhitung sejak tanggal Permohonan ini sampai dengan semua ganti
kerugian berdasarkan Putusan Majelis dibayar lunas oleh Termohon.
(5) Menghukum Termohon untuk membayar biaya Arbitrase

Atau apabila Majelis Arbiter berpendapat lain, demi keadilan, mohon putusan seadil-
adilnya (ex aequo et bono).

Hormat kami,
Kuasa Pemohon

Nurhasyim , SH

3.3 Proses Persidangan Arbitrase


Apabila segala sesuatu yang di syaratkan untuk memulai suatu persidangan
arbitrase sudah cukup lengkap, maka proses Arbitrase diawali dengan
masuknya “Permohonan” dari Pemohon ke Sekretariat Arbitrase BANI.
Sekretariat tersebut beralamat tetap, yaitu di kantor BANI.

Untuk Arbitrase lain, maksudnya bukan melalui institusi Arbitrase seperti


BANI atau BAMUI; awal dari proses Arbitrase dimulai pada saat para pihak
mulai menunjuk Arbiter pilihannya.

Untuk proses arbitrase BANI, prosesnya berlangsung sebagai berikut :


3.3.1 Sekretariat menerima Permohonan dan melakukan pemeriksaan secara teliti
apakah BANI merupakan badan yang berwenang untuk memeriksa dan
memutus perkara tersebut atau tidak.
Pemeriksaan dilakukan dengan memeriksa apakah didalam Perjanjian
antara para pihak yang bersengketa terdapat klausula yang menyatakan
bahwa BANI adalah institusi yang ditunjuk atau dipilih untuk menyelesaikan
perkara atau tidak.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-13
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Bila didalamnya terdapat klausula tersebut, maka permohonan diterima,


namun bila klausula tersebut tidak ada maka permohonan akan ditolak.
Dengan diterimanya Permohonan tersebut, BANI membuatkan bukti tanggal
penerimaan pendaftaran.
Biasanya dibuat tanda penerimaan dokumen Permohonan, atau tanggal
penerimaan ditulis pada “arsip Permohonan” milik Pemohon, disertai
pemberian nomor perkara.
Selanjutnya membayar biaya pendaftaran dan untuk itu diberikan kwitansi
oleh Sekretariat.
3.3.2 Setelah menerima Permohonan tersebut, Ketua BANI akan membentuk
Majelis Arbitrase dengan ketentuan pihak Pemohon sudah menunjuk
seorang Arbiter dan Termohon telah menunjuk arbiter pilihannya, serta
kedua Arbiter ini telah pula menunjuk Arbiter ketiga yang akan bertindak
sebagai Ketua Majelis. Untuk itu Ketua BANI menerbitkan Surat Keputusan
atas terbentuknya Majelis Arbitrase tersebut.
Kemudian ditetapkan besarnya biaya arbitrase dengan suatu Surat
keputusan pula dari BANI yang disampaikan baik kepada Pemohon maupun
Termohon.
3.3.3 Apabila para pihak telah melakukan pembayaran biaya arbitrase yang
besarnya masing-masing separuh biaya arbitrase maka dibuatlah undangan
sidang yang pertama.
Ada kalanya pihak Termohon tidak mau membayar biaya arbitrase.
Apabila hal itu terjadi, BANI menyarankan agar biaya tersebut dibayarkan
dulu seluruhnya oleh pihak Pemohon agar sidang dapat dimulai. Biaya
tersebut akan dibebankan kepada Termohon dan dimasukkan dalam
putusan arbitrase.
3.3.4 Didalam undangan Sidang Pertama, dicantumkan hari, tanggal, waktu serta
tempat sidang tersebut.
Dalam Sidang Pertama, Termohon wajib memasukkan Jawaban atas
Permohonan dari Pemohon.
Setelah Sidang Pertama dinyatakan dibuka oleh Ketua Majelis Arbitrase
dimana Pemohon dan Termohon hadir, maka selanjutnya Majelis Arbitrase
menawarkan dulu kepada para pihak (Pemohon dan Termohon) untuk

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-14
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

berdamai. Apabila para pihak menyatakan bersedia berdamai, maka proses


perdamaian dapat berjalan terus (dilaksanakan kedua belah pihak diluar
jadual persidangan), disamping proses persidangan tetap berjalan
sebagaimana mestinya.
Dalam sidang Pertama ini Termohon selain menyampaikan jawabannya
dapat pula mengajukan tuntutan balik (yang dinamakan Permohonan
Rekonpensi) kepada Pemohon.
Apabila dalam Sidang Pertama, Pemohon tidak hadir, sedangkan Termohon
hadir, maka Permohonan dinyatakan gugur, sehingga tugas Majelis selesai.
Apabila dalam Sidang Pertama tersebut Termohon tidak hadir tanpa alasan
sah, maka Majelis dapat memanggil Termohon sekali lagi.
Paling lama 10 hari setelah pemanggilan kedua diterima Termohon, tanpa
alasan Termohon tidak juga datang di persidangan, pemeriksaan tetap di
teruskan, dan tuntutan Pemohon dikabulkan seluruhnya, kecuali jika tuntutan
tidak beralasan atau tidak berdasar hukum.
Namun bila pada sidang ini Termohon datang menghadap dan
menyampaikan Jawaban maka sidang dilanjutkan.
Selain itu dalam jawaban tersebut, Termohon dapat menyampaikan “Hak
Ingkar”, jika sekiranya Termohon mempunyai keyakinan bahwa Arbiter
pilihan Pemohon tidak memenuhi syarat-syarat sebagai Arbiter sesuai UU
No. 30 tahun 1999 Pasal 12.
Apabila Termohon dapat membuktikan tuntutan Hak Ingkar tersebut, maka
Arbiter yang bersangkutan harus diganti.
3.3.5 Apabila pada Sidang Pertama Termohon memasukkan Jawaban serta
melakukan tuntutan Rekonpensi, maka Ketua Majelis menentukan jadual
waktu sidang berikutnya, dimana pada saat itu Pemohon diminta untuk
memasukkan Tanggapan atas Jawaban (yang dinamakan Replik) dan
memberikan Jawaban atas Permohonan Rekonpensi.
3.3.6 Pada sidang selanjutnya Termohon memasukkan Tanggapan atas Replik
(dinamakan Duplik) dan menyampaikan Replik atas Rekonpensi.
Selanjutnya sidang digunakan oleh Majelis untuk mengajukan pertanyaan-
pertanyaan pada bagian-bagian yang tidak jelas baik kepada Pemohon
maupun Termohon. Pada saat Pemohon menyampaikan argumentasinya

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-15
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

pihak lain diberi hak untuk menyanggah, tentu saja sanggahan tersebut
harus dibuktikan.
Disini Pemohon ataupun Termohon diuji keterampilannya menyampaikan
argumentasi.

Pada saat Tanya Jawab tersebut, Majelis juga melakukan pemeriksaan atas
bukti-bukti yang disampaikan baik dari Pemohon maupun dari Termohon.
Bukti-bukti tersebut diuji kebenarannya serta keabsahannya.
Saat pengujian atas bukti Pemohon, Termohon wajib menyaksikan dan dapat
memberikan komentar atas bukti tersebut, demikian pula sebaliknya.
3.3.7 Setelah Majelis merasa Tanya Jawab telah cukup maka pada sidang
berikutnya Pemohon dan Termohon diminta untuk menyampaikan
Kesimpulan secara tertulis.
Jangka waktu antara persidangan yang satu dan persidangan berikutnya
berkisar antara 7 hari sampai 14 hari.
Apabila Majelis Arbitrase berpendapat bahwa persidangan sudah cukup,
maka persidangan dinyatakan ditutup.
Majelis mempunyai waktu paling lama 30 hari setelah persidangan ditutup
untuk membacakan Putusannya.

3.4 Acara Yang Berlaku di Hadapan Majelis Arbitrase (MENURUT UU No.


30/1999)
3.4.1 Pemeriksaan perkara secara tertutup. (Pasal 27)
3.4.2 Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia kecuali atas persetujuan
Majelis Arbitrase dapat digunakan bahasa lain atas permintaan para pihak.
(Pasal 28)
3.4.3 Para pihak mempunyai kesempatan yang sama dalam mengemukakan
pendapat. (Pasal 29 ayat 1)
3.4.4 Para pihak dapat diwakili oleh kuasanya. (Pasal 29 ayat 2)
3.4.5 Pihak ketiga dapat turut serta dan menggabungkan diri dalam proses
arbitrase, bila terdapat kepentingan yang terkait dan disetujui para pihak dan
Majelis Arbitrase. (Pasal 30)

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-16
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

3.4.6 Dalam suatu Perjanjian, para pihak bebas menentukan ketentuan acara
arbitrase sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang No.
30/1999. (Pasal 31 ayat 1)
3.4.7 Dalam hal tidak ditentukan dalam Perjanjian, Acara Arbitrase dilakukan
sesuai UU. No. 30/1999. (Pasal 30 ayat 2)
3.4.8 Dalam hal Arbitrase dilaksanakan sesuai butir 4.6 harus ada kesepakatan
mengenai jangka waktu dan tempat diselenggarakannya arbitrase, bila tidak,
Majelis akan menentukan.(Pasal 30 ayat 3)
3.4.9 Majelis dapat mengambil putusan provisional atau putusan sela. (Pasal 32)
3.4.10 Majelis dapat memperpanjang waktu tugasnya bila :
a. Diminta oleh salah satu pihak.
b. Akibat putusan sela.
c. Dianggap perlu oleh Majelis untuk kepentingan pemeriksaan.
(Pasal 33)
3.4.11 Penyelesaian sengketa arbitrase dapat dilakukan dengan menggunakan
Lembaga Arbitrase Nasional atau Internasional berdasarkan kesepakatan
para pihak dalam Perjanjian kecuali ditetapkan lain. (Pasal 34)
3.4.12 Majelis dapat memerintahkan agar dokumen/bukti, disertai dengan
terjemahandalam bahasa yang ditetapkan. (Pasal 35)
3.4.13 Permohonan harus diajukan secara tertulis, Permohonan secara lisan dapat
dilakukan bila disetujui para pihak atau dianggap perlu oleh Majelis Arbitrase.
(Pasal 36)
3.4.14 Tempat Arbitrase ditentukan oleh Majelis Arbitrase , kecuali ditentukan
Sendiri oleh para pihak. (Pasal 37 ayat 1)
a) Majelis dapat mendengar keterangan saksi/mengadakan pertemuan
diluar tempat Arbitrase bila dianggap perlu. (Pasal 37 ayat 2)
3.4.15 Pemeriksaan atas Saksi/Saksi Ahli dilakukan menurut Hukum Acara Perdata
(KUHPer). (Pasal 37 ayat 3)
a) Majelis dapat mengadakan pemeriksaan ketempat kejadian/objek
dimana sengketa timbul. (Pasal 37 ayat 4)

3.4.16 Dalam jangka waktu yang ditentukan Majelis, Pemohon menyampaikan


permohonan kepada Majelis.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-17
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

Surat Permohonan sekurang-kurangnya memuat :


a) Nama lengkap dan tempat tinggal/kedudukan para pihak.
b) Uraian singkat sengketa disertai bukti-bukti
c) Isi Permohonan.
(Pasal 38)

3.4.17 Termohon dalam waktu 14 hari sejak menerima salinan Pemohonan harus
menanggapi dan memberi Jawaban tertulis. (Pasal 39)
3.4.18 Salinan Jawaban diserahkan ke Pemohon atas perintah Majelis, dan
bersamaan dengan itu Pemonon dan Termohon di perintahkan menghadap
di muka sidang/Arbitrase paling lama 14 hari. (Pasal 40)
3.4.19 Bila lewat waktu 14 hari Termohon tidak menyampaikan Jawaban, diberi
waktu sesuai butir 4.18. (Pasal 41)
3.4.20 Dalam Jawaban atau selambat-lambatnya pada Sidang Pertama Termohon
dapat mengajukan tuntutan balas, dan Pemohon diberi kesempatan
menanggapi. Tuntutan balasan diperiksa dan diputus bersama pokok
sengketa. (Pasal 42 ayat 1)
3.4.21 Bila dipanggil secara patut sesuai butir 4.18 pada Sidang Pertama Pemohon
tidak hadir, surat tuntutannya dinyatakan gugur. Tugas Majelis selesai.
(Pasal 42 ayat 2)
3.4.22 a) Bila hari Sidang Pertama sesuai butir 4.18, Termohon tanpa suatu alas an
sah tidak menghadap, Majelis dapat memanggil sekali lagi.
b) Paling lama 10 hari setelah pemanggilan kedzua diterima Termohon, dan
tanpa alasan tidak datang di persidangan, pemeriksaan diteruskan, dan
tuntutan Pemohon dikabulkan seluruhnya, kecuali jika tuntutan tidak
beralasan/tidak berdasar hukum.
(Pasal 44)
3.4.23 a) Bila para pihak datang, terlebih dahulu Majelis menawarkan perdamaian.
b) Bila perdamaian berhasil, Majelis membuatkan Akta Perdamaian yang
final & mengikat para pihak.
(Pasal 45)

3.4.24 a) Bila perdamaian gagal, pemeriksaan dilanjutkan.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-18
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

b) Para pihak diberi kesempatan untuk menjelaskan secara tertulis pendirian


masing - masing serta mengajukan bukti.
c) Majelis berhak minta tambahan penjelasan secara tertulis, dokumen atau
bukti lain.
(Pasal 46)

3.4.25 a) Sebelum ada Jawaban dari Termohon, Pemohon dapat mencabut surat
permohonannya.
b) Setelah ada Jawaban dari Termohon, perubahan atau penambahan surat
tuntutan hanya diperbolehkan dengan persetujuan Termohon, sepanjang
perubahan tersebut menyangkut hal yang bersifat fakta saja, dan tidak
menyangkut dasar hukum dari Permohonan. (Pasal 47)
3.4.26 a) Pemeriksaan harus diselesaikan dalam waktu 180 hari sejak Majelis
terbentuk.
b) Dengan persetujuan para pihak dan bila diperlukan, jangka waktu dapat
diperpanjang.
(Pasal 48)

3.5 Pelaksanaan Putusan


Pada hari yang ditetapkan, yaitu 30 hari setelah pemeriksaan perkara
dinyatakan cukup dan pemeriksaan ditutup, maka Majelis Arbitrase
membacakan putusan arbitrase tersebut dihadapan persidangan.
Sesuai ketentuan Pasal 54, UU. No. 30, tahun 1999
Putusan Arbitrase harus memuat :
3.5.1 Kepala putusan harus berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha esa”.
3.5.2 Nama lengkap dan alamat para pihak.
3.5.3 Uraian singkat sengketa
3.5.4 Pendirian para pihak
3.5.5 Nama lengkap dan alamat arbiter
3.5.6 Pertimbangan dan Kesimpulan arbiter atau Majelis Arbitrase mengenai
keseluruhan sengketa.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-19
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

3.5.7 Pendapat tiap-tiap arbiter dalam hal terdapat perbedaan pendapat dalam
Majelis Arbitrase.
3.5.8 Amar putusan
3.5.9 Tempat dan tanggal putusan; dan
3.5.10 Tanda tangan arbiter atau majelis arbitrase.

Contoh isi dari amar putusan adalah misalnya sebagai berikut :

Memutuskan :

Dalam konpensi.

1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian;


2. Menyatakan Termohon dalam Konpensi telah melakukan ingkar janji
(wanprestasi)
3. Menyatakan penghentian pelaksanaan pekerjaan oleh Pemohon
dalam Kompensasi pada tanggal 10 September 1997 sah menurut
hukum;
4. Menghukum Termohon dalam Konpensi untuk membayar tagihan
Pemohon kepada Termohon sejumlah Rp. 2.200.000.000,-
5. Menghukum Termohon dalam Konpensi unuk membayar bunga akibat
keterlambatan Termohon selama 25 (dua puluh Lima) bulan. Yaitu
sebesar :
25/12/6%x Rp. 2.200.000.000,- = Rp. …………………
6. Menolak permohonan Pemohon selain dan selebihnya.

Dalam Rekonpensi
Menolak permohonan Pemohon dalam Rekonpensi secara keseluruhan.

Dalam Konpensi dan Rekonpensi :

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-20
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

1. Menghukum para pihak untuk membayar biaya yang timbul dalam


perkara ini mesing-masing seperdua bagian.
2. Menyatakan Putusan Arbitrase ini dalam tingkat pertama dan terakhir
serta mengikat kedua belah pihak.
3. Memerintahkan panitera sidang untuk mendaftarkan putusan arbitrase
ini di Kepaniteraan Pengadilan Negeri ……………… atas biaya
Pemohon.

Setelah mendapat kuasa dari Majelis Arbitrase putusan Arbitrase tersebut


diatas didaftarkan oleh Sekretaris Arbitrase, ke Panitera Pengadilan Negeri
domisili Termohon dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal
putusan diucapkan.(UU RI. No. 30/1999 Pasal 59 ayat 1)
Dalam hal Termohon merasa dirugikan atau kurang mendapat keadilan,
dapat melakukan permohonan pembatalan putusan arbitrase tersebut dalam
waktu paling lama 30 hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran
putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri (UU RI. No. 30/1999
Pasal 71).
Selanjutnya Ketua Pengadilan negeri dalam waktu paling lama 30 hari sejak
permohonan pembatalan harus sudah memberikan putusan. (UU RI. No.
30/1999 Pasal 72 ayat 3).
Terhadap Putusan Pengadilan Negeri dapat diajukan permohonan banding
ke Mahkamah Agung yang memutus dalam tingkat pertama dan akhir sesuai
UU. RI No. 30/1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
(UU RI No. 30/1999 Pasal 72 ayat 4).
Namun apabila semuanya berjalan baik, setelah pendaftaran ke Pengadilan
Negeri oleh Kuasa Majelis Arbitrase, sedangkan Termohon tidak mau
melaksanakan Putusan Arbitrase Pemohon dapat mengajukan permohonan
eksekusi kepada Pengadilan Negeri (UU RI. No. 30/1999 Pasal 61).

3.6 Latihan
1. Jelaskan dengan singkat Hukum apa yang berlaku untuk menyelesaikan
sengketa konstruksi!

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-21
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

2. Jelaskan dengan singkat mengapa penyedia barang/jasa dalam


pelaksanaan kontrak, memilih menyelesaian sengketa melalui arbitrase!
3. Jelaskan dengan singkat pengertian Arbitrase!

3.7 Rangkuman
3. Dalam Konpensi dan Rekonpensi :
a. Menghukum para pihak untuk membayar biaya yang timbul dalam
perkara ini mesing-masing seperdua bagian.
b. Menyatakan Putusan Arbitrase ini dalam tingkat pertama dan terakhir
serta mengikat kedua belah pihak.
c. Memerintahkan panitera sidang untuk mendaftarkan putusan
arbitrase ini di Kepaniteraan Pengadilan Negeri ……………… atas
biaya Pemohon.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi III-22
Modul 5

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan adalah suatu pola
penyelesaian sengketa yang terjadi antara pihak yang diselesaikan oleh
pengadilan, suatu lembaga negara yang melaksanakan fungsi yudikatif,
dan putusannya bersifat mengikat. Prosedur dan prosesnya mengikuti
peraturan Hukum Acara Perdata yang berlaku di Indonesia.
2. Sedangkan penyelesaian sengketa melalui mekanisme alternatif
penyelesaian sengketa (alternative disputes resolution) adalah
penyelesaian sengketa diluar forum pengadilan yang disepakati oleh
para pihak yakni musyawarah, mediasi, konsiliasi dan arbitrase di
Indonesia.
3. Dalam Konpensi dan Rekonpensi :
a. Menghukum para pihak untuk membayar biaya yang timbul dalam
perkara ini mesing-masing seperdua bagian.
b. Menyatakan Putusan Arbitrase ini dalam tingkat pertama dan
terakhir serta mengikat kedua belah pihak.
c. Memerintahkan panitera sidang untuk mendaftarkan putusan
arbitrase ini di Kepaniteraan Pengadilan Negeri ……………… atas
biaya Pemohon.

4.2 Tindak Lanjut


Diklat Hukum Kontrak Konstruksi merupakan pelatihan yang dapat
memberikan pembekalan dasar bagi para peserta untuk memiliki sikap,
pengetahuan dan keahlian dasar dalam Administrasi Kontrak Konstruksi.

Guna peningkatan wawasan, peserta disamping perlu mempelajari


kebijakan/ peraturan terkait, serta seluruh modul yang diberikan dalam
Diklat Hukum Kontrak Konstruksi, juga perlu membaca berbagai dokumen
kontrak maupun literatur terkait lainnya.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi IV-1
Modul 5

DAFTAR PUSTAKA

UU RI. No. 30/1999 tentang Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa

Peraturan Prosedur Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) edisi 2003

Buku Menegnal Klaim Konstruksi & Penyelesaian Sengketa Konstruksi


oleh H. Nazarkhan Yasin, Ir

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi viii
Modul 5 Penyelesaian Sengketa Kontrak Konstruksi

GLOSARIUM

DIPA : Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran


DPA : Dokumen Pelaksanaan Anggaran
KPA : Kuasa Pengguna Anggaran
LKPP : Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah
PA : Pengguna Anggaran
Pokja : Kelompok Kerja
PPK : Pejabat Pembuat Komitmen
PPTK : Pejabat Pengadaan dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
Satker : Satuan Kerja
ULP : Unit Layanan Pengadaan

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi ix