SENYUM IBU
Namaku Ani. Aku merupakan siswa yang tengah duduk di bangku SMA swasta di daerahku.
Menurut teman-teman ku, aku siswa yang sangat pendiam dan sangat rajin membaca. Aku hanya
memiliki beberapa teman yang bisa aku ajak bicara karena aku sulit bersosialisasi dengan orang
baru.
Aku mempunyai abang dan ayah, sedangkan ibu aku telah wafat sejak melahirkan ku. Aku hanya
mengetahui wajah ibu dari foto pernikahan ibuku dan ayahku. Ibuku sangat bahagia sekali saat
difoto tersebut dengan senyuman yang egitu lebar sehingga membuat aku tersenyum.
Aku selalu menyalahkan diriku karena meninggalnya ibuku. Aku selalu berpikir bahwa ibuku
meninggal karena melahirkanku. Aku begitu sedih dan merasa penuh penyesalan mengapa aku
dilahirkan didunia ini dengan mengorbankan nyawa ibuku sendiri.
Waktu aku kecil, ayah yang selalu mengajariku tentang hal sesuatu, dari mulai memasak,
menyuci, hingga bela diri. Ayahku ingin agar aku seperti ibuku yang bisa apapun dan baik hati.
Karena ayahku sering bercerita tentang ibuku yang penuh gembira melayani ayahku dan penuh
senyuman disetiap sudut rumah ini. Ayahku selalu mengatakan bahwa meninggalnya ibuku
bukan salahku, tetapi itu takdir yang telah ditentukan Tuhan.
Suatu ketika, aku menemukan album foto ibuku masa muda di lemari ruang tamu. Begitu lama
dan berdebu, aku membuka lembaran demi lembaran album tersebut dan mendapati foto ibuku
saat beliau muda.
Seperti yang telah diceritakan oleh ayahku, ibuku sangat berbeda dari ku, ibuku suka tersenyum
dengan senyuman manisnya yang memiliki gigi gingsul, serta matanya yang menyipit. Itulah
mengapa ayahku menyukai ibuku karena suka tersenyum bagaimanapun keadaannya.
Tetapi entah mengapa, sifat ibuku tersebut tidak turun kepadaku. Mungkin karena aku tidak
bertemu dengan ibuku sehingga sifat beliau tidak menular kepadaku. Ayahku mengatakan
kepadaku bahwa sebelum ibuku meninggal, ibuku menampilkan senyuman terbaiknya yang baru
kali itu ayahku melihatnya sehingga ayahku tahu bahwa ibuku sangat bahagia sekali saat
melahirkanku. Maka itulah ayahku suka mengatakan bahwa aku adalah anak kesayangan ibuku
jika ibuku masih hidup.
Aku memiliki abang yang berbeda usia 6 tahun. Abangku telah menempuh kuliah semester akhir
disalah satu universitas ternama di Indonesia. Abangku menupakan abang yang sangat aktif dan
suka bergaul satu sama lain. Abangku memiliki senyuman yang mirip dengan ibuku seperti yang
dikatakan oleh ayahku.
Pada suatu ketika, aku sedang menonton film kesukaanku di ruang tamu, abangku datang
menghampiriku. Abangku suka sekali mengajak aku berbicara dan aku hanya menganggukkan
kepala dan sedikit berbicara. Sehingga abangku bertanya kepadaku.
“Ni…mengapa kamu hanya diam saja ketika abangmu ini bercerita? Apakah hidupmu hanya
belajar dan nonton saja? Tidak ada pengalaman lainkah selain itu?. Ucap abangku
“abang kan tahu sendiri kalau ani seperti ini, ya gimana lagi.” Kata ani
“jika ibu masih hidup, pasti ibu sangat marah kepada mu. Ibu suka berbicara dan tidak suka
didiamkan”. Jawab Abangku
Lalu abangku melanjutkan ceritanya tentang hal-hal apa saja yang telah dia alami dan pergi
kekamar.
***
Suatu pagi, saat di meja makan. Abangku mengatakan kepada ayahku bahwa setelah wisuda dia
akan bekerja jauh dari sini. Dia tidak ingin dekat-dekat tempat tinggal karena dia ingin
mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya dan dia mengatakan bahwa dia masih muda dan
masih banyak waktu untuk mendapatkan pengalaman yang banyak.
Ayahku mengatakan setuju. Tetapi, terbesit dipikiran ayahku untuk mengkuliahkan aku jauh dari
tempat tinggal juga. Agar aku tidak hanya belajar saja, tetapi ayahku menginginkan aku agar aku
bisa aktif di dunia luar dan memiliki rasa simpati yang tinggi. Seperti ibuku, ayahku
menginginkan sekali aku seperti ibuku yang suka kegiatan luar dan memiliki jiwa social yang
tinggi.
Abangku sangat setuju sekali dengan ide dari ayahku tersebut.
“bagus tuh yah, dia hidupnya itu-itu aja terus. Mana mau berkembang dianya yah. Kalau ibu
masih hidup pasti ibu yang sangat setuju sekali” ucap abangku
“ayah, kalau ayah sendirian disini. Siapa yang ngurus ayah? Aku gamau yah. Nanti ayah kenapa-
kenapa gimana? Siapa yang bakal bantu ayah?” cetus ani
“Ani, kamu kira ayah ini ga bisa apa-apa? Sebelum ayah sama ibu mu, ayah sudah bisa pekerjaan
rumah, ga perlu kamu memikirkan ayah. Kan disini masih ada saudara-saudara ayah”. Ucap ayah
***
Diruangkan kelas yang rebut tampa guru, aku memikirkan kejadian tadi pagi, entah mengapa aku
tidak bisa meniggalkan ayahku sendirian. Sejak aku lahir sampai sekarang aku selalu bersama
ayahku. Tetapi, ayahku yang menyuruhku untuk pergi merantau seperti abangku agar aku bisa
menjadi kepribadian yang lebih baik. Apasalahnya jika kuliah dekat dengan tempat tinggalku
sekarang? Kan ga ada bedanya, tetap sama-sama menuntut ilmu.
Aku mendengarkan percakapan teman-temanku tentang ingin kuliah dimana, teman-teman ku
mengatakan bahwa mereka ingin kuliah yang jauh dari orang tuanya. Mereka ingin bebas dan
ingin mengetahui keadaan luar yang belum pernah mereka rasakan. Lalu mereka bertanya
kepadaku.
“Niy, lu mau kuliah dimana rencana?”. Ucap temanku
“Aku belum tau, masih mikir-mikir nihh”. Kata ani
Malampun tiba, aku memikirkan hal itu. Aku teringat kepada ibuku yang berada dialbum foto
yang aku temukan. Dia berfoto di Universtias ternama yang jauh dari tempat tinggal nya dengan
memakai toga dan memakai selempang bertulis Coumlaude. Difoto tersebut, ibuku seperti
mengatakan kepadaku bahwa aku harus keluar dari zona nyaman ini dan mencoba untuk kuliah
diluar. Maka dari itulah aku bertekad untuk melanjutkan perjuangan ibuku dan mengabulkan
permintaan ayahku.