Anda di halaman 1dari 11

Konsumsi nikel di Jepang pada tahun 2000

Metalurgi, Volume 23, No. I, Juli 2008

adalah 4% dengan kebutuhan sekitar 187.000

PEMANFAATAN POTENSI BIJIH NIKEL INDONESIA PADA SAAT INI DAN MASA MENDATANG
Oleh : Puguh Prasetiyo
Pusat Penelitian Metalurgi LIPI Kompleks Puspiptek, Cisauk, Tangerang

INTISARI
Bijih nikel dialam semesta digolongkan dalam dua jenis, yaitu: bijih nikel sulfida berada didaerah subtropis, dan bijih nikel oksida yang lazimnya disebut laterit berada di daerah khatulistiwa. Cadangan bijih nikel dunia sekitar 61% berupa laterit sedangkan kebutuhan nikel dunia yang berasal dari laterit sekitar 40%. Indonesia yang memiliki cadangan bijih nikel nomor dua (2) di dunia dan sampai tahun 1999 memasok kebutuhan nikel dunia sekitar 7%, mempunyai peran strategis untuk pemanfaatan laterit untuk memasok kebutuhan nikel dunia. Karena sumber daya alam laterit yang berlimpah maka negara-negara besar terutama yang bergabung dalam G8 sangat berminat untuk mengeksploitasi laterit di Indonesia, di antaranya Amerika Serikat (USA) melalui PT Pasific Nickel pada tahun 1970-an, Canada melalui PT INCO pada tahun 1970-an, Jepang mengimpor saprolit untuk bahan baku ferro nikel (FeNi), dan Canada melalui PT Weda Bay Nickel (WBN) pada tahun 1998. Karelia PT Pasific Nickel sampai saat ini tidak merealisasi maka pemerintah RI mengalihkan kepada PT BHP Australia pada tahun 1990-an untuk mengeksploitasi laterit di pulau Gag-Papua. Demikian juga dengan WBN yang ditunda walaupun menurut rencana pada tahun 2003 mulai melakulcan aklifitas penambangan, dan pada tahun 2004 mulai memproduksi NiS di Weda Halmahera untuk memasok 10% kebutuhan nikel dunia. Sejak maret 2006, WBN telah berpindah kepemilikan ke ERAMET Perancis. Berdasarkan uraian singkat di atas, dalam tulisan ini akan dikaji sampai sejauh mana potensi laterit yang telah dimanfaatkan, dan bagaimana prospeknya ke depan untuk laterit yang belum dimanfaatkan.

Hata Kunci laterit, eksploitasi, kebijakan ABSTRACT


There are two varieties of nickel one in the earth, nickel sulfide ore at the subtropical area and nickel oxide ore at the tropical area. The nickel oxide ore are mentioned laterite. The reserves of nickel in the earth are about 61% in the form of laterite and only 40% of word nickelsupply is form laterite. Indonesia has the abundant laterite in the world, the resource of nickel ore is the second in the world and only 7% to supply nickel in the world until 1999. It is the fact that Indonesia has the strategic part to supply nickel in the world. So G8 countries want to exploit laterite, in examples.' PT Pasific Nickel USA in 1970's will exploit laterite in Gag island Papua, PT INCO Canada in 1970's, Japan 'imported saprolit, PT Weda Bay Nickel (WBN) Canada in 1990's. Because PT Pasific Nickel did not realized, Indonesian Government moved the project to PT BHP Australia in 1990's. WBN planed to build plant in 2004 to produce NiS to supply 10% of nickel demand in the world from the exploitation of laterite at Weda Halmahera. WBN not yet realized the project and it was took over by ERAMET France since March 2006. From the illustration at the above, this paper will assigment the laterite have been exploited, and how the prospect of laterite not yet exploited in the future. Like or dislike, the fact is influenced by the Government's policy

I.PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang dikaruniai Allah Swt cadangan bijih nikel nomor dua di dunia seperti terlihat pada Tabel I. Bijih nikel tersebut adalah bijih nikel oksida yang lazim disebut laterit berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI), dan menyebar di beberapa tempat di berbagai pulau, al: Pasir

Mayang Kaltim-KaIsel, Pulau Sebuku Kalsel, Sultra-Sulteng, Pulau Obi Maluku, Halmahera (Pulau Gebe, Pulau Gee, Pulau Pakal, Bull, dan Weda), Papua (Pulau Gag, Kepulauan Waigeo, dan Pegunungan Cylops). Di mana kepulauan Waigeo dan Pegunungan Cy lops bukan KP (Kuasa Penambangan) PT Aneka Tambang. 1)

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

Eksploitasi laterit sudah dilakukan sejak era pemerintahan kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan pemerintahan RI. Laterit pertama kali ditemukan oleh E.0 Abendanon di Pomalaa Sulawesi Tenggara pada tahun 1909, dan aktifitas eksplorasi mulai dilakukan pada tahun 1934 oleh Oost Borneo Maatschappij (OBM) dan Bone Tolo Maatschappij (BTM). Dari hash eksplorasi oleh kedua perusahaan tersebut menunjukkan endapan bijih nikel di Pomalaa berkadar 33,5% Ni. Pada tahun 1938 dilakukan ekspor perdana saprolit ke Jepang sebanyak 150.000 ton/tahun oleh OBM, dan sampai saat ini masih dilakukan ekspor saprolit dari Pomalaa ke Jepang sekitar 250.000 ton/tahun (bahkan lebih) oleh BUMN PT Aneka Tambang. Pada era pendudukan Jepang (19421945), Pomalaa diambil .alih oleh Sumitomo Metal Mining Co. dan dibangun pabrik nikel matte. Pabrik tersebut belum sempat beroperasi karena dibom oleh sekutu pada perang dunia kedua (PD II). Pada era sekarang, Iokasi reruntuhan pabrik tersebut bersebelahan dengan pabrik kapur untuk memasok keperluan kapur pada pabrik FeNi (ferro nikel) PT Aneka Tambang. Pada tahun 1969-1975 perusahaan patungan antara Indonesia dengan Jepang bernama Indonesia Nickel Development CO., LTD (Indeco) mengadakan survei dan eksplorasi di Pulau Gebe Halmahera Tengah

yang bertujuan untuk membangun pabrik di Gebe. Setelah dilakukan studi kelayakan, ternyata dipulau Gebe tidak layak untuk pendirian pabrik, kemudian Indeco mengembalikan kontrak karya beserta hash surveil eksplorasi kepada pemerintah RI. Selanjutnya pemerintah memberi kuasa kepada PT Aneka Tambang untuk mengelola cadangan yang potensial di Pulau Gebe. Pada tanggal 15 Nopember s.d. 20 Desember 1977 dilakukan penelitian ulang oleh PT Aneka Tambang, yang bertujuan untuk mengeksploitasi cadangan laterit di Pulau Gebe. Pada tahun 1979 dilakukan ekspor perdana saprolit ke Jepang sekitar 460.000 ton/tahun untuk bahan baku pabrik ferro nikel (FeNi) milik Sumitomo di Hyuga Jepang. Sebelum penambangan nikel di pulau Gebe ditutup pada tahun 2003/2004, laterit dari Gebe yang berkadar nikel tinggi yang lazimnya disebut saprolit diekspor ke Jepang sekitar 800.000 ton/tahun (bahkan lebih), dan diolah di Pomalaa sekitar 290.000 ton/tahun. Sedangkan laterit yang berkadar nikel rendah yang lazimnya disebut limonit diekspor ke Australia sekitar 1 juta ton/tahun, yaitu limonit dengan persyaratan tertentu. Setelah tambang Pulau Gebe ditutup, PT Aneka Tambang mengeksploitasi laterit di Halmahera, yaitu Pulau Gee, Tanjung Buli, dan Moronoppo.

Tabel 1. Negara-Negara Dengan Potensi Cadangan Bijih Nike! (Sulfida dan Laterit) 2)
Country New Caledonia (laterite) Indonesia (laterite) Canada (sulfide) Cuba (laterite) Uni-Soviet (U.S.S.R) (sulfide&laterite) Total

% Total Known World Land-based Ni resources


(sulfide and laterite)

27 13 11 8 7 66

Untuk meningkatkan nilai tambah terhadap laterit, BUMN PT Aneka Tambang memproses saprolit menjadi ferro-nikel (FeNi) di Pomalaa. Pada tanggal 12 Desember 1973 mulai dibangun pabrik FeNi 1, dan mulai berproduksi pada tahun 1976 dengan kapasitas 4.500 ton Ni di dalam FeNi pertahun. Setelah adanya "Optimization Program" pada tahun

1987, kapasitas FeNi I bisa ditingkatkan menjadi 5.500 ton/tahun. Pada bulan Nopember 1994 dilakukan operasi percobaan pabrik FeNi II, dan pada Pebruari 1995 mulai berproduksi pabrik FeNi II dengan kapasitas 5.500 ton/tahun. Pada tahun 2006 telah beroperasi pabrik FeNi III dengan kapasitas 15.000 ton/tahun oleh PT Aneka Tambang di Pomalaa.

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

Pada tahun 1970-an pemerintah memberi izin kepada PT Inco dari Canada untuk eksplorasi dan eksploitasi laterit di SultraSulteng, pada tahun 1977 telah beroperasi pabrik untuk mengolah saprolit menjadi Nimatte di Soroako oleh PT INCO dengan kapasitas 35.000 Ni didalam Ni-matte/tahun. Tahun 1985 kapasitas ditingkatkan menjadi 45.000 ton/tahun, dan pada tahun 2003 kapasitasnya 68.000 ton/tahun. Dengan adanya PT Aneka Tambang dan PT INCO yang telah mengeksploitasi laterit, sampai tahun 1999 Indonesia hanya memberikan kontribusi sekitar 7% (lihat Tabel 2) untuk memasok kebutuhan nikel dunia. Kontribusi akan meningkat pada masa mendatang apabila PT BHP dan PT Weda Bay Nickel (WBN) di Weda Halmahera beroperasi. Di mana kedua PMA (Penanaman Modal Asing) tersebut telah mendapat izin dari pemerintah pada tahun 1990-an. Pada umumnya eksploitasi laterit di Indonesia yang telah dilakukan sejak tahun 1938 hingga saat ini hanya untuk mengambil saprolit, sedangkan limonit merupakan buangan kecuali limonit dengan persyaratan tertentu untuk diekspor ke Australia. Limonit maupun saprolit yang tidak memenuhi persyaratan untuk ekspor maupun saprolit untuk bahan baku pabrik FeNi Pomalaa, praktis tidak bermanfaat karena menjadi off grade ore yang merupakan produk buangan. Off grade ore limonit maupun off grade ore saprolit banyak terdapat dibekas penambangan laterit di Pomalaa Sultra dan Halmahera terutama di Pulau Gebe, Pulau Gee, Tanjung Buli dan Moronoppo. Kenyataan ini menunjukkan bahwa potensi laterit di tanah air belum dimanfaatkan secara optimal terutama oleh BUMN PT Aneka Tambang. Laterit bisa lebih dioptimalkan apabila off grade ore limonit bisa di blending (dicampur) dengan limonit dari tempat lain untuk bahan baku masa depan. Karena limonit belum diolah di Indonesia dan hal ini sesuai dengan UU Minerba yang telah disahkan baru baru ini yang melarang ekspor bahan baku, dan suatu keharusan untuk mengolah bahan baku di dalam negeri.

Tabel 2. Produksi Tambang Nikel Dunia (1.070.000 ton Ni) 1999 "
N e g Federasi Rusia Canada Rest of World Australia New Caledonia Africa
Indonesia

Cuba

II. EKSPLOITASI LATERIT

Laterit digolongkan menjadi dua jenis, yaitu saprolit yang berkadar nikel tinggi dan limonit yang berkadar nikel rendah. Lapisan laterit di alam dan prosedur ekstraksi nikel dari laterit secara ideal, dapat dilihat pada Gam bar 1 8 Dari Gambar 1 terlihat jelas bahwa endapan saprolit terletak di bagian bawah endapan limonit, dan dari pengalaman eksplorasi pada umumnya di daerah Sulawesi endapan saprolit lebih tebal daripada endapan limonit. Sedangkan di Maluku dan Papua endapan limonit lebih tebal daripada endapan saprolit. Untuk pengolahan saprolit digunakan cara metalurgi piro untuk menghasilkan produk FeNi atau Ni-matte. Sedangkan untuk pengolahan limonit digunakan jalur piro-hidro (proses Caron) atau jalur metalurgi hidro (proses HPAL=High Pressure Acid Leaching), dan di Indonesia belum ada pabrik yang mengolah limonit. Eksploitasi laterit yang dilakukan oleh PT Aneka Tambang dilakukan di Pomalaa dan Halmahera, yaitu mengambil saprolit untuk bahan baku pabrik FeNi di Pomalaa, ekspor saprolit ke Jepang untuk diolah menjadi FeNi, dan ekspor limonit dengan persyaratan tertentu ke Queensland Australia untuk diolah dengan proses Caron. Produk ferro-nikel (FeNi) Pomalaa seluruhnya diekspor ke berbagai negara untuk diproses menjadi stainless steel. Adapun pembeli FeNi adalah 55% negaranegara Eropa, 21% Korea Selatan, 16% Taiwan, dan 8% Jepang. 2) Dilakukan ekspor terhadap FeNi karena di Indonesia belum ada pabrik yang memproses FeNi menjadi stainless steel. Adapun jumlab laterit (limonit dan saprolit) dan FeNi yang diekspor dan karakteristik dari laterit untuk ekspor, dapat dilihat pada Tabei 3 dan 4.
)

'.

Metalurgi, Volume 23, No. 1,

2008

Arrn.MIN411( AITAI.Orrs - ti c ... <0:1 <0,1


.

151IP0ci Fa Phaciandilf

i
0".rfr4,1.

3S0

.0.3.
Id

0.1
,

40
I 51:1

2
la i

LI

ai

'LS

71

la tit
1. 1

Mel

...

14

w
io

lv
CO

In IS 15 ;.;

CO

CAI CL7 1
t,C2 ID

ikl
14

95
10 45 /a h.11.44

Lapisan laterit secara ideal di alam dan metode pengolahannya


Gambar 1.

PT INCO PMA (Penanaman Modal Asing) dan Canada yang melakukan eksploitasi laterit di Sultra-Sulteng terutama Sultra, bisa menjadi pelajaran bagi kita bagaimana PT INCO bisa bekerja dengan efisien dan hal ini bisa dilihat pada Tabel 5. Apabila PT Aneka Tambang dalam mengolah saprolit menjadi FeNi

di Pomalaa menggunakan saprolit dengan kadar 2,5% Ni+Co (19762006), PT INCO dalam mengolah saprolit menjadi Nimatte di Soroako justru menggunakan kadar 1,89% Ni setelah delapan (8) tahun beroperasi. PT INCO bisa melakukan hal

demikian karena terns menerus melakukan litbang (penelitian dan pengembangan) terutama litbang blending antara saprolit dari sebelah Timur (East Block = EB) pabrik Ni matte Soroako dengan saprolit dan sebelah Barat (West Block = WB) pabrik
Tabel

Ni matte Soroako. Pada awal operasi PT Inco menggunakan bahan baku saprolit dari WB. Mulai tahun 1981 sampai dengan saat ini menggunakan bahan baku saprolit dari hasil blending antara saprolit dari EB dengan saprolit dari WB.

3. Produksi dan Penjualan Nikel Tahun 1998-2000 8)

Satuan

Uraian

Vo ume
Vo ume

Volume
Produksi Penjualan Produksi Penjualan Bijih

Produksi Penjualan

3028869 2037783 3235285 2027737

Wmt

3233374 2329673
2000

ESaprolit

1999

1998

2107514 1238366 2094-467 1035465

2039810 Wet metric ton 1227218 mpas" diolah dari laporan tahunan PT Aneka Tambang tbIL 2000. Kompas, Jumat, 19 Oktober 2001, Kabupaten Kolaka'', artikel tentang OTONOMI. E

ELimonit

931355 799417 140818 992272 1193564 1102455 Ferran kel (FeNi) 10.189 9.221 9.140 8.451 8.610

Ton Ni 10.111

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

Table 4. Hasil Analisa Kimia dari Blending Saprolit untuk Bahan Baku Pabrik FeNi Pomalaa10)
Gabe Element High Grade (Saprolit) Grade (%) Low Grade (Limonit) Grade (%) High Grade (Saprolit) Grade (%)

Ni Co Fe Si02 MgO Basicity


Size of ore Moisture content

> 0.08 15-17 32-36 21-25 0,60-0,70 < 20 cm 34-38

2,3

> 0,10-0,16 35-43 max 14 6-8 < 20 cm 34 - 38

1,50 0

Kesuksesan PT Inc() yang ditunjukkan pada Tabel 5 terutama blending antara saprolit dari EB dengan saprolit dari WB, menunjukkan kepada kita bahwa PT Inco bisa mengoptimalkan pemanfaatan saprolit untuk bahan baku karena dukungan litbang. Blending antara saprolit dari EB dengan sarolit dari WB termasuk litbang yang sukses dan tepat. Indonesia, khususnya PT Aneka Tambang dapat seperti PT Inco apabila punya niat dan tekad. Misalnya mengoptimalkan pemanfaatan limonit, yaitu diawali dengan melakukan blending antara off grade ore limonit dengan limonit untuk bahan baku masa depan. Penelitian dilakukan terhadap daerah yang akan dieksploitasi sehingga pada saat dilakukan eksploitasi, off grade ore limonit yang berpotensi untuk

bahan baku proses Caron dikumpulkan tersendiri pada suatu tempat. Demikian juga untuk off grade ore limonit yang berpotensi untuk bahan baku proses HPAL. Dengan demikian off grade ore limonit yang dihasilkan minimum sehingga pemanfaatan laterit menjadi optimal. Disamping itu off grade yang berpotensi untuk bahan baku tersebut setiap saat bisa diambil apabila dibutuhkan untuk di blending dengan limonit dari tempat lain.
III. PROSPEK LATERIT KE DEPAN

Prospek laterit yang paling dominan adalah untuk stainless steel karena ada kenaikan konsumsi dan produksi stainless steel di dunia terutama di Asia, yaitu di Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang.

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

Tabel 5. Mine Quantities and Productivity 1981-1985) 6)


Parameter Ni in products, MM lbs. 1000's tonnes Plant Feed Grade, % Ni Ratio of MANS in Plant Feed MATERIAL QUANTITIES (MM Wet tonnes) : Stripping Run-of-Mine Mine, Civil Screening Station Produst Total Material Movement Plant Feed (DKP), MM dry t MANPOWER STATISTIC : Total Manpower MAJOR MINE EQUIPMENT : Total Nos.* Equipment Hours (1000's) PRODUCTIVITY : Tonnes Ni/Man year Kg Ni/Major Machine Hrs Kg Ni/Wet Tonne Material CASH COSTS RELATIVE TO 1981: Cost/Wet Tonne Material Movement Cost/kg Ni in Product 100 100 93 108 88 98 73 79 42 15 66 1.8 13 58 1.4 18 71 1.6 32 64 1.7 177 300 139 240 137 260 140 350 290 1310 1060 1030 1030 860 4.5 3.2 2.8 2.3 12.8 1.1 4.3 2.0 2.4 1.4 10.1 0.7 4.9 2.6 3.3 1.9 12.7 1.0 5.1 2.8 3.4 2.7 14.0 1.3 1981 43.9 20 2.09 0.20 1982 30.3 14 2.16 0.26 1983 40.3 18 2.09 0.43 1984 50.3 23 2.09 0.67 1985 25 1.89 1.75

2.6 15.2 1.4

1.8

Includes dozers, loaders, shovels and haul trucks in active mining fleet

Stainless steel pada umumnya diperoleh dari proses lanjutan FeNi, atas dasar kenyataan ini maka BUMN PT Aneka Tambang membangun pabrik FeNi III di Pomalaa, yaitu pabrik dengan kapasitas 15.000 ton Ni di dalam FeNi pertahun dengan investasi sekitar US $ 200 juta yang mulai beroperasi 2006. Selain untuk stainless steel, nikel banyak digunakan untuk berbagai macam keperluan oleh umat manusia, al: paduan nikel, pelapisan, baja paduan, pengecoran, paduan tembaga, dsb. Untuk keperluan tersebut pada umumnya digunakan nikel primer yang diperoleh dari pengolahan bijih nikel sulfida maupun laterit, misalnya: Ni-matte, FeNi, NiS, dan NiO. Di mana jumlah kebutuhan nikel primer adalah 90% produksi nikel primer dunia. Pemakaian nikel primer untuk stainless steel sangat spektakuler, dan hal ini bisa dilihat pada Tabel 6. Menurut Andrew Maurer dari ABARE Australia, konsumsi nikel dunia mengalami kenaikan rata-rata 3,5% pertahun, yaitu dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2000-

2005, dan diperkirakan dibutuhkan 1,31 juta ton pada tahun 2005. Konsumsi nikel primer mengalami kenaikan lebih dari 4%, di mana kebutuhan pada tahun 2000 sekitar 1,1 juta ton. Pada tahun 1999 konsumsi nikel mengalami kenaikan 5%.
label 6. Penyebaran Penggunaan Nikel Primer

di Dunia 10)
Penggunaan Stainless Steel Alloy Steel Nickel Alloys Copper Alloys Foundry Plating Other Persentase 65 8 11 2 3 9 2%

Prospek laterit yang paling dominan adalah untuk stainlees steel karena ada kenaikan konsumsi dan produksi stainless steel di dunia terutama di Asia, yaitu di Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Konsumsi nikel di Taiwan dan Korea Selatan pada tahun 2000 adalah 5,5% dengan kebutuhan sekitar 165.000 ton. Sedangkan

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Jul i 2008

Tabel 7. Outlook for Nickel 91


Wold Production Consumption Stocks Price -nominal - real a
U nit

1998 1035 1008 157 4631 4834 19971998

1999 p 1020 1055 123 6015 6159 19981999

2000 f 1100 1105 118 9000 9000 19992000 f

2001 f 1165 1153 130 8900 8674 20002001 f

2002 z 1210 1198 143 8500 8045 20012002 z

2003 z 1255 1238 161 8000 7348 20022003 z

2004 z 1290 1275 176 7500 6708 20032004 z

2005 z

kt kt kt US$/t US8/t

6108 2004-

Australia Production - mine b kt 134 130 161 211 228 240 254 - refined class I kt 60 70 99 145 160 169 181 - refined class li kt 19 9 17 14 12 12 12 - intermediate kt 103 79 102 108 112 115 119 Value of exports -nominal A$Im 1103 845 1777 2528 2481 2406 2360 - r e a l c A$/m 1143 865 1777 2466 2362 2234 2138 Pricel -nominal A$/t 8559 7203 12335 13450 12287 11395 10591 8727 - r e a l c A$1t 8870 7368 12335 13122 11695 10581 9595 a in 2000 US dollars. B. Nickel content of domestic mine production. C. in 1999-2000 Australian dollars. p Preliminary. f ABARE forecast. z ABARE projection. Source : Australian Bureau of Statistic; International Nickel Study Group; World Bureau of Metal Statistics; ABARE.

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

Konsumsi nikel di USA pada tahun 2000 adalah 4,5% dengan kebutuhan sekitar 157.000 ton. Sedangkan pada tahun 1999 konsumsi nikel mendatar dengan kebutuhan sekitar 150.000 ton. Konsumsi nikel di Eropa Barat pada tahun 2000 adalah 4% dengan kebutuhan sekitar 409.000 ton. Sedangkan pada tahun 1999 konsumsi nikel mengalami kenaikan 3%. kenaikan konsumsi nikel di Korea Selatan, Taiwan, Jepang, USA, dan Eropa Barat karena adanya peningkatan produksi dan konsumsi stainless steel. Sebagai gambaran dari kenaikan konsumsi nikel dunia dan kenaikan produksi tambang nikel di Australia (sulfida dan laterit) untuk memenuhi kenaikan konsumsi tersebut, dapat dilihat pada label 7. Karena kebutuhan nikel dunia yang terus meningkat seperti hasil kajian ABARE yang ditunjukkan pada label 7 di atas, maka investor internasional yang bergerak dalam bidang mineral sangat berminat untuk eksploitasi laterit di tanah air. Hal ini berarti potensi laterit pada masa kini dan masa mendatang untuk "membawa manfaat" bagi bangsa Indonesia masih sangat terbuka. Selain dengan PT INCO, pemerintah RI telah memberikan izin kepada investor internasional untuk mengeksploitasi laterit di Maluku dan Papua yang dominan dengan limonit. Para investor tersebut adalah PT Pacific Nickel, PT BHP, dan PT Weda Bay Nickel (WBN). Di mana ketiga perusahaan telah mendapatkan izin tersebut berencana mengolah limonit. PT Pacific Nickel dari USA mendapatkan izin pada tahun 1970-an dan telah melakukan eksplorasi di Papua, yaitu: Pulau Gag, Kepulauan Waigeo, dan pegunungan Cylops. Menurut rencana akan didirikan pabrik pengolahan limonit di Pulau Gag dengan proses Caron. Akan tetapi pada kenyataannya rencana tersebut belum terwujud sa mpai s eka rang. Ba hkan KP (Kuas a Penambangan) Pulau Gag dikembalikan ke pemerintah RI melalui PT Aneka Tambang. Pada tahun 1990-an antara PT Aneka Tambang dengan PT BHP Australia menanda tangani MOU (Memorandum of Understanding) untuk eksploitasi laterit Pulau Gag, yaitu dengan mendirikan pabrik pengolahan limonit di Gag atau Sorong dengan kapasitas 20.000 ton Ni-katoda/tahun dan 2000 ton Co

katoda/tahun dengan cara HPAL (High Pressure Acid Leaching). Bahkan pada tahun 1997 PT BHP sudah menyelesaikan bankable feseability study dan tinggal menunggu keputusan Presiden RI untuk memulai pembangunan. Ternyata sampai saat ini belum terealisasi. Pada tahun 1995, PT Strand mengindikasi daerah dengan potensi laterit di Weda Halmahera. Setelah mendapatkan "SIIP" dari pemerintah pada April 1996, dimulailah eksplorasi pada bulan Mei 1996. Pada bulan Pebruari 1998 dibentuklah PT Weda Bay Nickel (WBN) yang kepemilikan sahamnya adalah 90% PT Strand dan 10% PT Aneka Tambang. Di dalam perencanaannya WBN sudah melakukan bankable feseability study pada tahun 2002, akan mulai melakukan aktifitas penambangan pada tahun 2003 dan mulai berproduksi tahun 2004. Investasi proyek ini sekitar US$ 902 juta untuk memproduksi 60.200 ton Ni/tahun dan 5000 ton Co/tahun dalam bentuk Ni sulfida. Apabila proyek ini sudah berjalan maka 10% kebutuhan nikel dunia akan dipenuhi oleh WBN. Berdasarkan informasi dari Cobalt News edisi January 2003 yang diterbitkan oleh CDI (The Cobalt Development Institute), OMG dari USA yang merupakan penyandang dana utama proyek ini menghentikan pendanaannya mulai Desember 2002. Pada Maret 2006, WBN telah berpindah kepemilikan ke ERAMET Perancis. Dari uraian di atas, terlihat bahwa untuk mengeksploitasi laterit dibutuhkan dana yang tidak sedikit dan diperlukan "kemampuan teknologi". Pada kedua hal ini, pemerintah belum siap walaupun kekayaan laterit yang kita miliki berlimpah. Ketidaksiapan tersebut terutama pada kebijakan untuk masalah litbang yang membutuhkan dana. Sehingga pada saat perundingan dengan pihak asing, pemerintah tidak punya posisi tawar karena tidak mengetahui mau diapakan laterit tersebut. Sebagai contoh pentingnya litbang adalah PT lnco yang telah sukses mengoptimalkan pemanfaatan saprol it untuk bahan baku pabrik Ni matte di Soroako, yaitu dengan melakukan litbang blending antara saprolit dari EB dengan saprolit dari WB. Sedangkan PT Aneka Tambang yang boleh dikata belum melakukan litbang sampai saat ini belum mampu mengoptimalkan peman-

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

faatan limonit maupun saprolit. Hal .ini bisa dilihat pada bahan baku pabrik FeNi Pomalaa dari awal operasi tahun 1976 sampai tahun 2006 tetap menggunakan saprolit dengan kadar 2,2% Ni, dan secara kasat mata terlihat begitu berlimpah off grade ore basil eksploitasi laterit untuk mengambil limonit dan saprolit terutama off grade ore limonit di Pulau Gebe, Pulau Gee, Tanjung Bull, dan Moronopo. Dengan disahkan UU Minerba barubaru ini yang melarang ekspor bahan baku, dan suatu keharusan untuk mengolah bahan baku didalam negeri. Bisa menjadi peluang untuk melakukan litbang mengoptimalkan pemanfaatan limonit maupun saprolit terutama limonit di Maluku Utara, yaitu dengan melakukan penelitian blending antara off grade ore limonit dengan limonit untuk bahan baku masa depan.
IV. KESIMPULAN

UCAPAN TERIMAICASIH:

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Puslit Metalurgi-LIPI atas fasilitas yang diberikan, dan PT Aneka Tambang yang memberikan ijin kunjungan di proyek laterit di Indonesia Timur, yaitu: 1996 ke Pulau Gebe, 1997 ke Pomalaa Sultra, 1998 ke Obi, 1999 Ice Pulau Gee Buli Halmahera, 2000 Ice Pulau Bahulu Sultra, 2001 ke Pomalaa Sultra, 2002 Ice Pulau Bahulu Sultra, 2003 ke Tanjung Buli Halmahera, dan 2004 ke Sangaji Halmahera.
DAFTAR PUSTAKA 1.

Alcock, R., A. "The Character And Occurrence of Primary Resources Available to The Nickel Industry", INCO Limited, 2060 Flavelle Blvd Sheridan Park Research Center
Missisauga, Ontario, Canada, L5K 1 Z9.,

0. 0. 1. 2. 2.

I. Potensi laterit mempunyai prospek pada masa kini dan masa-masa mendatang karena kebutuhan nikel dunia yang terus meningkat terutama nikel untuk stainless steel. Kontribusi Indonesia untuk memasok kebutuhan nikel dunia sampai tahun 1999 hanya 7% walaupun cadangannya nomor dua di dunia. 2. Karena tidak ada dukungan litbang maka pemanfaatan limonit maupun saprolit dari eksploitasi laterit old' PT Aneka Tambang belum optimal. Hal ini bisa dilihat pada bahan baku pabrik FeNi Pomalaa dari awal operasi tahun 1976 sampai tahun 2006 tetap menggunakan saprolit dengan kadar 2,2% Ni, dan secara kasat mata terlihat begitu berlimpah off grade ore hasil eksploitasi laterit untuk mengambil limonit dan saprolit terutama off grade ore limonit di Pulau Gebe, Pulau Gee, Tanjung Bull, dan Moronopo. 3. UU Minerba yang baru disahkan bisa menjadi peluang untuk melakukan litbang mengoptimalkan pemanfaatan limonit maupun saprolit terutama limonit di Maluku Utara, yaitu dengan melakukan penelitian blending antara off grade ore limonit dengan limonit untuk bahan baku masa depan.

3.

3. 4.

4. 5.

5.

"Extractive Metallurgy of Nickel And Cobalt", Edited by GP. Tyroler and CA Landolt, The Metallurgy Society, 1988. Aneka Tambang., "An Overview September 1999". Brosur dari PT Aneka Tambang tentang Pomalaa dan Gebe. Cobalt News January 2003, the magazine is published by CDI (The Cobalt Development Institute) London-England. Daenuwy, A., Dalvi, A.D. "Development of reduction kiln design and operation at PT INCO (Indonesia)", Proceedings of The Nickel-Cobalt 97 International SymposiumVolume III August 17-20, Sudbury, Ontario, Canada. Dalvi, A.D., Guiny, J.D., and Osborne, R.C. 1986. " Developments at PT INCO's Indonesian Nickel Project", 25th Annual Conference of Metallurgists, Toronto, Canada. Data-data lepas tentang basil eksplorasi laterit di Pulau Gag, Kepulauan Waigeo, dan Pegunungan Cylops. Habashi, Fathi. 1997. "Nickel", Handbook of Extractive Metallurgy, Volume II, Department of Mining and Metallurgy, Laval University, Quebec City, Canada G IK 7P4., WILEY-VCH. Hari an "Ko mp a s". Maurer, Andrew. 2000. "Nickel Outlook to 2004-05", Minerals and Energy, volume three, Proceeedings of the National Outlook Conference, Canberra, 29 February-2 March. Pearce, M.O. 1997. "Towards 2000 and Beyond ........ a Bright Future for Nickel", Application and Materials Performance, Proceedings of the Nickel & Cobalt 97

Metalurgi, Volume 23, No. 1, Juli 2008

International Symposium-Volume IV, August 17-20, Sudbury, Ontario, Canada. 13. Slamet, Darmoko. 1997. "Development of N i c ke l In du s t r y i n K aw as an T i mu r Indonesia", Seminar And Work Shop on M em beram o R i ver C at chm ent Area Development: As a Growth Area in Eastern Part of Indonesia, Jakarta, April 7-8. 14. Weda Bay Minerals Inc. 2002. The Leading Second Generation Nickel Laterite Company", Research Report by David Williamson Associates Limited, 15 st Helen's Place, London. 15. Weda Bay Minerals inc. Halmahera Nickel Cobalt Project, Pre-Feseability Study, May. 16. Wedderburn, Bruce. 2005. "Recent Trends in Nickel Laterite Technology", Malachite Process Consulting, September. 17. Wiryokusumo, Y., Loebis, A.S. Badrujaman, T., Miraza, T. 1997. "Pornalaa Ferronickel Smelting Plant of PT Aneka Tambang", South-East Sulawesi Indonesia, Proceedings of The Nickel-Cobalt 97 International

Symposium- Volume III, August 17 - 20, Sudbury, Ontario, Canada.


RIWAYAT PENULIS

Puguh Prasetiyo, bekerja sebagai


staf peneliti pada Puslit MetalurgiLIPI sejak tahun 1986. Pendidikan SI lulus 1986 dari Jurusan Tambang ITB. Pada Maret s.d. September 1989 mengikuti training solvent ekstraksi Ni & Co di Jepang dengan sponsor JICA (Japan International Cooperation Agency) di Laboratorium Sumitomo di Niihama dan Kansai University Osaka. Pada Desember 1996 s.d. awal Maret 1997 melakukan riset solvent ekstraksi Ni & Co di Kansai University Osaka dengan sponsor JSPS (Japan Society Promotion of Science). 1998 s.d. 2001 sebagai peneliti utama " P e n g o l a h a n L a t e r i t D e n g a n C a r a Hydrometalurgi Untuk menghasilkan Logam Nikel dan Kobal" RUT VI (Riset Unggulan Terpadu) bidang ilmu kimia dan proses.