Anda di halaman 1dari 64

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
A. Latar Belakang.....................................................................................................1
B. Identifikasi Masalah...........................................................................................12
C. Batasan Masalah.................................................................................................13
D. Rumusan Masalah..............................................................................................13
E. Tujuan Penelitian...............................................................................................14
F. Manfaat Penelitian.............................................................................................15
BAB II.............................................................................................................................16
TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................16
A. Landasan Teori...................................................................................................16
1. Teori stewardship.............................................................................................16
2. Teori Enterprise Syariah..................................................................................17
3. Standar Akuntansi Keuangan Syariah..............................................................19
4. Pembiayaan Mudharabah.................................................................................22
5. Dana Pihak Ketiga............................................................................................24
6. Capital Adequacy Ratio (CAR).........................................................................26
7. Net Performing Financing (NPF).....................................................................26
8. Financing to Deposit Ratio (FDR)...................................................................27
9. Tingkat Bagi Hasil...........................................................................................28
B. Penelitian Terdahulu..........................................................................................28
C. Kerangka Konseptual........................................................................................34
D. Hipotesis Penelitian............................................................................................35
BAB III............................................................................................................................39
METODOLOGI PENELITIAN....................................................................................39
A. Pendekatan Penelitian........................................................................................39

v
B. Tempat dan Waktu Penelitian...........................................................................39
C. Definisi dan Pengukuran Variabel....................................................................40
D. Metode Pengambilan Sampel............................................................................45
E. Metode Pengumpulan Data................................................................................46
F. Metode Analisis Data..........................................................................................47
DAFTAR PUSTAKA

vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Pembiayaan dalam Produk Bank Syariah menurut Statistik Perbankan
Syariah, Januari 2020……………………………………………………………. 4

Tabel 2.1. Hasil Penelitian Terdahulu………………………………………...… 29

Tabel 3.1 Operasionalisasi dan Pengukuran Variabel ...……………………...… 44

vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Skema Al-Mudharabah………………………………...………….. 23

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual……………………………………...………. 35

Gambar 3.1 Teknik pemilihan model Regresi Data Panel………………...……….. 49

viii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perbankan syariah merupakan suatu sistem perbankan yang

berkembang berdasarkan sistem syariah (hukum islam). Sistem ini terbentuk

mengacu dengan larangan islam untuk memungut dan meminjam

berdasarkan bunga yang termasuk ke dalam riba dan investasi untuk unit

usaha yang dikategorikan haram, misalnya dalam makanan, minuman dan

usaha lainnya yang dilarang dalam islam yang mana hal tersebut tidak diatur

pada bank konvensional (Annisa dan Fernanda, 2017).

Dijelaskan juga dalam Al-Quran tentang hal-hal yang di halalkan

dan diharamkan dalam ayat :

ِ ِ ‫مِم‬
ُ‫ض َحاَل اًل طَيِّبًا َواَل َتتَّبِعُوا ُخطَُوات الشَّْيطَان ۚ ِإنَّه‬ ْ ‫َّاس ُكلُوا َّا يِف‬
ِ ‫اَأْلر‬ ُ ‫يَا َأيُّ َها الن‬
‫وء َوالْ َف ْح َش ِاء َوَأ ْن َت ُقولُوا َعلَى اللَّ ِه َما‬
ِ ‫الس‬
ُّ ِ‫﴾ ِإمَّنَا يَْأ ُم ُر ُك ْم ب‬١٦٨﴿ ‫ني‬ٌ ِ‫لَ ُك ْم َع ُد ٌّو ُمب‬
١٦٩﴿‫َ﴾اَل َت ْعلَ ُمون‬
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat

di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena

sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya

syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan

terhadap Allâh apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Baqarah:168-169).

Melalui ayat ini, Allah SWT memanggil seluruh umat manusia, baik

yang beriman ataupun manusia yang kufur kepada-Nya. Allah SWT

mengingatkan mereka akan anugerah berupa perintah kepada mereka untuk

1
2

memakan apa saja yang ada di bumi, baik yang berupa biji-bijian, sayuran,

dan buah-buahan, serta daging hewan dan binatang dengan dua kriteria: ً‫َحالَال‬

(yang dihalalkan bagi mereka), bukan barang yang diharamkan atau

didapatkan melalui cara yang haram seperti ghashab, mencuri dan lainnya.

Kedua, ً ‫ا‬J‫( طَيَّب‬yang baik), maksudnya bukan barang yang khabîts (buruk)

seperti bangkai, darah, daging babi dan barang-barang bersifat buruk

lainnya. (Minhal, 2012)

Pada ayat lain, Allah SWT mengarahkan perintah semakna secara

khusus kepada kaum Mukminin semata dengan berfirman:

ِِ ِ ِ ِ َّ
ُ‫ين َآمنُوا ُكلُوا م ْن طَيِّبَات َما َر َز ْقنَا ُك ْم َوا ْش ُك ُروا للَّه ِإ ْن ُكْنتُ ْم ِإيَّاه‬
َ ‫يَا َأيُّ َها الذ‬
‫َت ْعبُ ُدو َن‬
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik

yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allâh, jika benar-

benar hanya kepada-Nya kamu beribadah” (QS.Al-Baqarah:172).

Di sini, Allah SWT mengarahkan perintah ini secara khusus kepada

kaum Mukminin karena mereka sajalah pada hakekatnya yang dapat

mengambil manfaat dari perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya,

didorong keimanan mereka kepada-Nya. Allah SWT memerintahkan

mereka untuk mengkonsumsi yang baik-baik dari rezeki yang diberikan

kepada mereka dan bersyukur kepada Allah SWT atas kenikmatan yang

tercurahkan dengan cara mempergunakannya dalam ketaatan kepada Allâh

Azza wa Jalla dan bekal untuk tujuan itu. (Minhal, 2012)

Melalui UU No. 23 tahun 1999, pemerintah memberikan

kewenangan kepada Bank Indonesia untuk dapat menjalankan tugasnya


3

berdasarkan prinsip syariah. Selanjutnya adalah Undang-Undang Perbankan

Syariah Nomor 21 Tahun 2008 menerangkan bahwa perbankan syariah

adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang Bank Syariah dan Unit

Usaha Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, sertatata cara dan

proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Pembiayaan Mudharabah diharapkan dapat mendominasi

pembiayaan yang ada di bank syariah, karena dengan sistem bagi hasil

diharapkan lebih bisa menggerakkan usaha yang bersifat produktif, sehingga

tidak menutup kemungkinan untuk dapat menciptakan lapangan kerja yang

baru. Selain itu apabila jumlah pembiayaan tinggi, hal ini akan menarik

nasabah untuk lebih berani dalam menginvestasikan dana yang dimiliki ke

dalam pembiayaan mudharabah.

Mudharabah pada dasarnya membutuhkan rasa saling percaya yang

tinggi antara pemilik dana dan pengelola dana. Selain itu, pembagian

keuntungan harus dalam bentuk nisbah/persentase yang telah disepakati.

Apabila terjadi kerugian pada akad mudharabah, yang menanggung

kerugian itu hanya si pemilik dana, pengelola dana tidak menanggung

kerugian tersebut, kecuali kerugian itu terjadi akibat kesalahan yang

dilakukan si pengelola dana. Sedangkan rentan waktu yang digunakan

dalam akad mudharabah sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan

oleh kedua belah pihak.

Perkembangan trend pembiayaan bank syariah yang terjadi dari

tahun ke tahun menunjukkan bahwa pembiayaan jual beli (murabahah)

mendominasi pembiayaan berbasis bagi hasil (mudharabah dan


4

musyarakah) dan pembiayaan lainnya. Menurut data yang disajikan pada

Outlook Perbankan Syariah Indonesia (2020) hingga pada awal tahun 2020

porsi pembiayaan murabahah masih mendominasi pembiayaan perbankan

syariah. Total pembiayaan murabahah yang disalurkan oleh perbankan

syariah mencapai total 58.16% (Rp 122.48 Triliun), sedangkan pembiayaan

berbasis bagi hasil sebesar 41.84% yakni pembiayaan mudharabah sebesar

2.43% (Rp 5.11 Triliun) dan pembiayaan musyarakah sebesar 39.41% (Rp

82.98 Triliun). Masih rendahnya porsi pembiayaan bagi hasil atau

mendominasinya pembiayaan non bagi hasil terutama jual beli (murabahah)

merupakan fenomena global, tidak terkecuali di Indonesia. (Exelsa, 2017)

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataanya pembiayaan bank

syariah lebih dititik beratkan melalui skema murabahah, bahkan dapat kita

lihat pada tabel dibawah yang menunjukan bahwa pembiayaan murabahah

selalu memiliki nilai yang lebih besah daripada pembiayaan yang lainnya

dimana kalau dirata-ratakan, skema murabahahnya mencapai 76% persen.

Tabel 1.1 Pembiayaan dalam Produk Bank Syariah menurut Statistik


Perbankan Syariah, Periode 2016-2019
dalam Miliar RP
Indikator 2016 2017 2018 2019 Jan 2020
Mudharabah 7.577 6.584 5.477 5.413 5.110
Musyarakah 54.052 60.455 68.644 84.582 82.983
Murabahah 110.063 114.458 118.134 122.725 122.477
Total 171.692 181.497 192.255 212.720 210.570

Sumber: Statistik Perbankan Syariah, Januari 2020

Sebagian besar ulama dan pakar juga sependapat bahwa bank

syariah merupakan bank yang berprinsip utama bagi hasil, sehingga

pembiayaan bagi hasil seharusnya lebih diutamakan dan dominan


5

dibandingkan dengan pembiayaan non-bagi hasil. Sementara sebagian pakar

yang lain memandang wajar kecenderungan pembiayaan non-bagi hasil

bank syariah, khususnya pada tahap awal pengembangan mengingat

pelbagai kendala yang dihadapi (Ascarya dan Yumanita, 2007).

Pembiayaan bagi hasil adalah pola pembiayaan yang mencerminkan

spirit perbankan syariah. dengan alasan adalah sebagai berikut: Pertama,

pembiayaan bagi hasil dapat mengurangi peluang terjadinya resesi ekonomi

dan krisis keuangan. Hal ini dikarenakan bank syariah adalah institusi

keuangan yang berbasis aset (asset-based). Artinya, bank syariah

bertransaksi berdasarkan aset riil dan bukan mengandalkan pada kertas kerja

semata. Sementara disisi lain, bank konvensional hanya bertransaksi

berdasarkan paper work dan dokumen semata, kemudian membebankan

bunga dengan prosentase tertentu kepada calon investor. Kedua, investasi

akan meningkat yang disertai dengan pembukaan lapangan kerja baru.

Akibatnya tingkat pengangguran akan dapat dikurangi dan pendapatan

masyarakat akan bertambah. Ketiga, pembiayaan bagi hasil akan mendorong

tumbuhnya pengusaha atau investor yang berani mengambil keputusan

bisnis yang berisiko. Hal ini akan menyebabkan berkembangnya pelbagai

inovasi baru, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing bangsa ini.

Bila ditinjau dari sisi nasabah, nasabah akan membandingkan secara cermat

antara expected rate of return yang ditawarkan oleh bank syariah dengan

tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh bank konvensional (Ascarya dan

Yumanita, 2007).
6

Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa skema pembiayaan yang

tepat sebagai mesin akselerasi pembangunan kesejahteraan ekonomi

masyarakat adalah pembiayaan mudhârabah (bagi hasil), yang tentunya

harus dilaksanakan secara professional (Ascarya dan Yumanita, 2007).

Terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi pembiayaan

yang dilakukan oleh perbankan syariah yang berbasis bagi hasil, menurut

hasil penelitian-penelitian terdahulu diantaranya : dana pihak ketiga, tingkat

bagi hasil, net performing financing, financing to deposit ratio, dan capital

adecuaqy ratio, serta adapun faktor eksternal seperti inflasi serta suku

bunga.

Menurut Rivai dan Arifin, (2010) pembiayaan mudharabah adalah

perjanjian antara penanam dana (Shahibul Maal) dan pengelola dana

(Mudharib) untuk melakukan kegiatan usaha tertentu. Pembagian

keuntungan antara kedua belah pihak ditentukan berdasarkan nisbah yang

telah disepakati sebelumnya di awal akad. Pembiayaan mudharabah

dilakukan dengan adanya unsur kepercayaan.

Menurut Nurhayati dan Wasilah, (2012) menerangkan bahwa unsur

kepercayaan penting dalam akad mudharabah karena pemilik dana tidak

boleh ikut campur di dalam manajemen perusahaan atau proyek yang

dibiayai dengan dana pemilik dana tersebut, kecuali sebatas memberikan

saran-saran dan melakukan pengawasan.

Sistem bagi hasil lebih adil disebabkan oleh tingkat keuntungan yang

di distribusikan kepada pemilik modal disalurkan berdasarkan tingkat

keuntungan dari usaha yang dijalankan oleh mudharib. Sedangkan sistem


7

bunga tidak memandang dari sisi keuntungan atau kerugian usaha yang

dijalankan. Sistem bunga mewajibkan peminjam harus membayar cicilan

kredit beserta bunga atas pinjaman tersebut tanpa memperhatikan apakah

usaha yang dijalankan tersebut mengalami rugi atau untung (Adzimatinur et

al., 2015).

Dalam menyalurkan pembiayaan mudharabah, pihak bank

memperhatikan Dana Pihak Ketiga (DPK), Tingkat Bagi Hasil (TBH),

Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Perfoeming Financing (NPF), dan

Financing to Deposit Ratio (FDR). Serta dari segi eksternal seperti inflasi

dan suku bunga. Menurut Gift et al., (2016) dana pihak ketiga merupakan

dana yang dihimpun oleh bank yang berasal dari masyarakat. Dana pihak

ketiga adalah sumber dana bagi sebuah lembaga keuangan yang dihimpun

dari masyarakat yang kelebihan dana untuk disalurkan kepada masyarakat

yang kekurangan dana dalam bentuk penyaluran pembiayaan.

Pada penelitian yang dilakukan (Adzimatinur et al., 2015) pada

penelitiannya menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif

terhadap pembiayaan mudharabah. Hal serupa juga terdapat pada penelitian

(Anwar dan Miqdad, Muhammad, 2017), (Ali dan Miftahurrohman, 2016),

(Candera dan Herudiansyah, 2018), (Anwar dan Miqdad, Muhammad,

2017), (Kalkarina et al., 2016), (Rachmawati et al., 2019), (Gumilarty dan

Indriani, 2016) dan (Riset et al., 2013). Berbeda dengan penelitian yang

dilakukan (Annisa dan Fernanda, 2017) yang menunjukan Dana Pihak

Ketiga berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah dan pada


8

penelitian (Rachmawati et al., 2019) yang menunjukan Dana Pihak Ketiga

tidak berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.

Pada sistem bagi hasil, kinerja bank syariah bisa menjadi transparan

kepada nasabah, sehingga nasabah bisa memonitor kinerja bank syariah

atas jumlah bagi hasil yang diperoleh. Apabila jumlah keuntungan

meningkat, maka tingkat bagi hasil yang diterima nasabah juga akan

meningkat, demikian pula sebaliknya, apabila jumlah keuntungan menurun

tingkat bagi hasil ke nasabah juga akan menurun, sehingga semua menjadi

adil. Tingkat bagi hasil yang merupakan perolehan keuntungan dari usaha

dapat berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran pembiayaan

perbankan syariah. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat bagi hasil

berarti semakin tinggi keuntungan yang akan diperoleh bank dan akan

meningkatkan jumlah penyaluran pembiayaan (Ascarya dan Yumanita,

2007).

Pada penelitian yang dilakukan (Adzimatinur et al., 2015) dan

(Abdaliah dan Ikhsan, 2018) menunjukan bahwa Tingkat Bagi Hasil

berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah, sedangkan pada

penelitian (Gumilarty dan Indriani, 2016) menunjukan Tingkat Bagi Hasil

berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah. Lain halnya pada

penelitian (Sania Asri dan Syaichu, 2016) yang menunjukan Tingkat Bagi

Hasil tidak berpengaruh.

Modal merupakan aspek penting bagi perbankan, karena dengan

modal yang cukup, kepercayaan masyarakat terhadap bank dapat meningkat.

Kecukupan modal bank dapat dilihat melalui Capital Adequacy Ratio (CAR)
9

atau rasio kecukupan modal yang dihitung dengan membandingkan modal

bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Rasio ini

merupakan indikator kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktiva

akibat kerugian yang disebabkan aktiva yang memiliki risiko. Semakin

tinggi CAR maka semakin besar sumber daya finansial yang dapat

digunakan untuk keperluan pengembangan usaha dan mengantisipasi

potensi kerugian yang diakibatkan pembiayaan (Wardiantika dan

Kusumaningtias, 2014)

Pada penelitian terdahulu yang dilakukan (Anwar dan Miqdad,

Muhammad, 2017), (Annisa dan Fernanda, 2017) dan (Rachmawati et al.,

2019) menunjukan bahwa Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif

terhadap pembiayaan mudharabah. Lain halnya pada penelitian (Ali dan

Miftahurrohman, 2016) dan (Sania Asri dan Syaichu, 2016) yang

menunjukan Capital Adequacy Ratio berpengaruh negatif terhadap

pembiayaan mudharabah. Serta pada penelitian (Kalkarina et al., 2016) dan

(Aprilia et al., 2019) yang menunjukan hasil Capital Adequacy Ratio tidak

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.

Net Performing Financing akan memberikan pengaruh yang

signifikan negatif terhadap pembiayaan. Net Performing Financing

merupakan pembiayaan bermasalah sehingga semakin tinggi pembiayaan

bermasalah akan menurunkan jumlah pembiayaan itu sendiri. Hal ini

disebabkan saat terjadi pembiayaan bermasalah maka dana perbankan

syariah tidak dapat diputar dari satu nasabah ke nasabah lainnya.

Pembiayaan bermasalah yang tinggi menyebabkan bank harus menyiapkan


10

dana penghapusan yang lebih besar sehingga dapat menurunkan minat bank

untuk menyalurkan dana melalui pembiayaan (Adzimatinur et al., 2015).

Pada Net Performing Financing, penelitian yang dilakukan (Annisa

dan Fernanda, 2017) menunjukan bahwa Net Performing Financing

berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah, hal ini dukung pula

pada penelitian (Destiana, 2016), (Gumilarty dan Indriani, 2016) dan (Fadli,

2018). Berbeda pada penelitian (Adzimatinur et al., 2015) yang menunjukan

Net Performing Financing berpengaruh negatif terhadap pembiayaan

mudharabah, adapun pada penelitian (Ali dan Miftahurrohman, 2016),

(Candera dan Herudiansyah, 2018), (Kalkarina et al., 2016), (Sania Asri dan

Syaichu, 2016), (Rachmawati et al., 2019), (Aprilia., 2019) dan (Ardana dan

Wulandari, 2018) yang menujukan bahwa Net Performing Financing tidak

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah.

Financing to Deposit Ratio merupakan perbandingan antara

pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga. Maka dapat diduga bahwa Financing

to Deposit Ratio memberikan pengaruh yang signifikan dan positif terhadap

pembiayaan. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya Financing to

Deposit Ratio menunjukkan terdapat peningkatan pada pembiayaan

(Adzimatinur et al., 2015).

Lalu penelitian terdahulu pada Financing to Deposit Ratio yang

dilakukan (Adzimatinur et al., 2015) bahwa Financing to Deposit Ratio

berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah, hal ini di dukung

pula pada penelitian (Candera dan Herudiansyah, 2018). Namun pada

penelitian (Kalkarina et al., 2016) dan (Fadli, 2018) Financing to Deposit


11

Ratio berpengaruh negatif, lain hal pada penelitian yang dilakukan (Sania

Asri dan Syaichu, 2016) dan (Ardana dan Wulandari, 2018) yang

menunjukan Financing to Deposit Ratio tidak berpengaruh terhadap

pembiayaan mudharabah.

Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor ekonomi seperti inflasi

dan suku bunga. Pengaruh inflasi terhadap pembiayaan mudharabah juga

menggunakan perbandingan dengan simpanan konvensional yaitu apabila

laju inflasi naik, sementara tingkat suku bunga simpanan bank tetap, akan

mengakibatkan turunnya tingkat suku bunga riil perbankan. Kondisi ini

akan mempengaruhi perilaku penyimpanan. Para deposan akan mengurangi

simpanannya di bank dan akan mempengaruhi jumlah modal pembiayaan

yang akan disalurkan. Dengan demikian meningkatnya laju inflasi, dengan

tidak diikuti kenaikan tingkat bunga akan dapat mengakibatkan menurunnya

jumlah pembiayaan pada lembaga perbankan (Fauziah, 2016)

Pada penelitian terdahulu tentang inflasi yang dilakukan (Ali dan

Miftahurrohman, 2016) menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh positif

terhadap pembiayaan mudharabah, sedangkan pada penelitian (Kalkarina et

al., 2016). Namun pada penelitian yang dilakukan (Utami dan Sirine, 2016)

menunjukan inflasi berpengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah.

Sedangkan pada penelitian (Rachmawati et al., 2019) dan (Abdaliah dan

Ikhsan, 2018) menunjukan inflasi tidak berpengaruh. Selanjutnya pada

penelitian terdahulu tentang suku bunga yang dilakukan (Nisa Lidya

Muliawati, 2015) menunjukkan bahwa suku bunga berpengaruh positif

terhadap pembiayaan mudharabah, berbeda dengan penelitian yang


12

dilakukan (Ali dan Miftahurrohman, 2016) yang mendapatkan hasil negatif

terhadap pembiayaan mudharabah. Sedangkan pada penelitian (Ardana dan

Wulandari, 2018) menunjukan bahwa suku bunga tidak berpengaruh

terhadap pembiayaan mudharabah.

Berdasarkan fenomena dan research GAP, maka penulis mengambil

judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Mudharabah

Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2016-2019”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang sebelumnya, dapat diambil indentifikasi

masalah sebagai berikut :

1. Ketika dana pihak ketiga meningkat maka jumlah pembiayaan

meningkat pula, namun berbanding terbalik dengan jumlah pembiyaan

mudharabah yang selalu lebih kecil daripada pembiayaan yang lainnya

yang seharusnya pembiayaan bagi hasil (mudharabah) lebih menonjol

karena sebagai kekuartan dasar bank syariah itu sendiri.

2. Pada penjelasan sebelumnya menerangkan jika Capital Adequacy

Ratio, meningkat maka pada pembiayaan meningkat yang artinya

memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah. Namun

pada beberapa penelitian yang sudah disebutkan sebelumnya ada yang

mendapatkan hasil berpengaruh negatif ataupun tidak berpengaruh

terhadap pembiyaan mudharabah.

3. Pada penjelasan sebelumnya menerangkan jika Net Performing

Financing meningkat maka pada pembiayaan menurun yang artinya

memiliki pengaruh negatif terhadap pembiayaan mudharabah. Namun


13

pada beberapa penelitian yang sudah disebutkan sebelumnya ada yang

mendapatkan hasil berpengaruh negatif ataupun tidak berpengaruh

terhadap pembiyaan mudharabah.

4. Pada penjelasan sebelumnya menerangkan jika Financing to Deposit

Ratio meningkat maka pada pembiayaan meningkat yang artinya

memiliki pengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah. Namun

pada beberapa penelitian yang sudah disebutkan sebelumnya ada yang

mendapatkan hasil berpengaruh negatif ataupun tidak berpengaruh

terhadap pembiyaan mudharabah.

5. Semakin tinggi tingkat bagi hasil berarti semakin tinggi keuntungan

yang akan diperoleh bank seharusnya akan meningkatkan jumlah

penyaluran pembiayaan mudharabah. Namun yang terjadi malah

sebaliknya yang menunjukan jumlah pembiayaan mudharabah

cenderung lebih kecil tiap tahunnya.

C. Batasan Masalah

Beberapa batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Menggunakan Dana Pihak Ketiga, Capital Adequacy Ratio, Net

Performing Financing, Financing to Deposit Ratio dan Tingkat Bagi

Hasil sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi pembiyaan

mudharabah.

2. Mengambil objek penelitian perusahaan perbankan syariah yang

terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan periode 2016-2019.

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut :


14

1. Apakah Dana Pihak Ketiga berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah?

2. Apakah Capital to Adequacy Ratio berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah?

3. Apakah Net Performing Financing berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah?

4. Apakah Financing to Deposit Ratio berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah?

5. Apakah Tingkat Bagi Hasil berpengaruh terhadap pembiayaan

mudharabah?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk membuktikan secara empiris Dana Pihak Ketiga berpengaruh

terhadap pembiayaan mudharabah pada bank umum syariah periode

2016-2019.

2. Untuk membuktikan secara empiris Capital to Adequacy Ratio

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah pada bank umum

syariah periode 2016-2019.

3. Untuk membuktikan secara empiris Net Performing Financing

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah pada bank umum

syariah periode 2016-2019.

4. Untuk membuktikan secara empiris Financing to Deposit Ratio

berpengaruh terhadap pembiayaan mudharabah pada bank umum

syariah periode 2016-2019.


15

5. Untuk membuktikan secara empiris Tingkat Bagi Hasil berpengaruh

terhadap pembiayaan mudharabah pada bank umum syariah periode

2016-2019.

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi lading pengetahuan

dan pengalaman tentang perbankan syariah serta dapat menambah

wawasan tentang faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pembiayaan

mudharabah.

2. Bagi Akademik

Diharapan hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahan

referensi atau acuan bagi pihak universitas maupun kawan – kawan

mahasiswa lainnya mengenai pembiayaan mudharabah.

3. Bagi Pengelola Bank

Dapat memberikan informasi berguna agar lebih

meningkatkan kinerja bank dengan prinsip – prinsip yang ada dalam

memberiakan pembiayaan bagi hasil sehingga pembiyaan yang

diberikan dapat tersalurkna dengan baik.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Teori stewardship

Teori stewardship adalah teori yang dicetuskan oleh Donaldson

dan Davis. Menurut Donaldson dan Davis teori stewardship merupakan

teori yang menggambarkan situasi dimana para manajer tidaklah

termotivasi oleh tujuan-tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada

sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi, sehingga teori

ini mempunyai dasar psikologi dan sosiologi yang telah dirancang agar

para eksekutif sebagai steward termotivasi untuk bertindak sesuai

keinginan principal, selain itu perilaku steward tidak akan meninggalkan

organisasinya karena steward berusaha mencapai sasaran organisasinya.

Teori stewardship dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat

manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu

bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki integritas dan

kejujuran terhadap pihak lain. Dengan kata lain, teori stewardship

memandang manajemen dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-

baiknya bagi kepentingan publik maupun stakeholder (Zamrana dalam

Riyadi, 2014).

Teori stewardship dapat dipahami dalam produk pembiayaan

lembaga perbankan. Bank syariah sebagai principal yang

mempercayakan nasabah sebagai steward (pelayan) untuk mengelola

16
17

dana yang idealnya mampu mengakomodasi semua kepentingan bersama

antara principal dan steward yang mendasarkan pada pelayan yang

memiliki perilaku di mana dia dapat dibentuk agar selalu dapat diajak

bekerjasama dalam organisasi, memiliki perilaku kolektif atau

berkelompok dengan utilitas tinggi dari pada individualnya dan selalu

bersedia untuk melayani (Riyadi, 2014).

Teori stewardship juga menjelaskan bahwa eksekutif sebagai

pelayan (steward) dalam bank syariah dapat termotivasi untuk bertindak

dan melayani dengan cara terbaik pada prinsipalnya. Implikasi teori

stewardship dalam penelitian ini adalah bank umum syariah selaku

pengelola dana (mudharib) termotivasi untuk melayani pemilik dana

(shahibul maal) dengan sebaik-baiknya. Pengelola dana (mudharib)

menjaga kepercayaan pemilik dana (shahibul maal) dengan mengelola

dana yang dititipkan dalam bentuk pemberian pembiayaan berbasis bagi

hasil kepada debitur. Pembiayaan bagi hasil ini dapat berupa pembiayaan

mudharabah dan pembiayaan musyarakah yang memberikan imbalan

atau return berupa bagi hasil kepada pihak bank. Teori Stewardship juga

dipakai untuk menjelaskan hubungan antara tugas dan tanggung jawab

dewan direksi dengan Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Performing

Financing (NPF) dan Financing to Deposit Ratio (FDR) sehingga dan

pengaruhnya terhadap pembiayaan bagi hasil (Pramono, 2013).

2. Teori Enterprise Syariah

Dalam teori Enterprise Syariah aksioma terpenting yang harus

mendasari dalam setiap penetapan konsepnya adalah Allah SWT sebagai


18

Pencipta dan Pemilik Tunggal dari seluruh sumber daya yang ada di

dunia ini. Maka yang berlaku dalam teori Enterprise Syariah adalah

Allah SWT sebagai sumber amanah utama, karena Dia adalah pemilik

yang tunggal dan mutlak. Sedangkan sumber daya yang dimiliki

stakeholders pada prinsipnya adalah amanah dari Allah SWT yang di

dalamnya melekat sebuah tanggungjawab untuk menggunakan dengan

cara dan tujuan yang ditetapkan oleh Sang Pemberi Amanah. (Slamet

dalam Pramono, 2013).

Adapun ayat-ayat yang membawa implikasi penting dalam

penetapan konsep-konsep dalam teori Enterprise Syariah:

ِ ِ ِ ِ
َ ِ‫ك َما َذا يُْنف ُقو َن ۖ قُ ْل َما َأْن َف ْقتُ ْم م ْن خَرْيٍ فَل ْل َوال َديْ ِن َواَأْل ْقَرب‬
‫ني َوالْيَتَ َام ٰى‬ َ َ‫يَ ْسَألُون‬
ِ ِِ ‫ِ ٍ ِإ‬ ِ َّ ‫ني وابْ ِن‬ ِِ
ٌ ‫السب ِيل ۗ َو َما َت ْف َعلُوا م ْن خَرْي فَ َّن اللَّهَ به َعل‬
‫يم‬ َ ‫َوالْ َم َساك‬
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa

saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak,

kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang

yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat,

maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-

Baqarah:215).

ِ ِ ِ ‫لِْل ُف َقر ِاء الَّ ِذين ُأح‬


‫ض حَيْ َسُب ُه ُم‬ َ ‫ص ُروا يِف َسبِ ِيل اللَّه اَل يَ ْستَطيعُو َن‬
ْ ‫ض ْربًا يِف‬
ِ ‫اَأْلر‬ ْ َ َ
‫َّاس ِإحْلَافًا ۗ َو َما‬ ِِ ِ ‫اهل َأ ْغنِياء ِمن الت‬ ِ
َ ‫اه ْم اَل يَ ْسَألُو َن الن‬ َ ‫َّعفُّف َت ْع ِر ُف ُه ْم بس‬
ُ ‫يم‬ َ َ َ َ ُ َ‫اجْل‬
ِ ِِ ‫ِ ِ ٍ ِإ‬
ٌ ‫تُْنف ُقوا م ْن خَرْي فَ َّن اللَّهَ به َعل‬
‫يم‬
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan

Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu

menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta.


19

Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta

kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu

nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha

Mengatahui.” (QS.Al-Baqarah:273).

Utamanya adalah bahwa ayat-ayat tersebut membimbing kita

pada suatu pemahaman bahwa dalam harta kita sebenarnya tersimpan hak

orang lain seperti: hak para fakir miskin, anak-anak terlantar, dan ibnu

sabil (Pramono, 2013).

Dengan demikian, dalam pandangan teori Enterprise Syariah,

distribusi kekayaan (welth), atau nilai tambah (value-added ) tidak hanya

berlaku pada partisipan yang terkait langsung atau yang memberikan

kontribusi kepada operasi perusahaan, tetapi pihak lain yang tidak terkait

langsung dengan bisnis yang dilakukan perusahaan atau pihak yang tidak

memberikan kontribusi keuangan dan skill (Triyuwono dalam Pramono,

2013).

3. Standar Akuntansi Keuangan Syariah

a. PSAK No. 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah

Dalam PSAK No. 101 (Revisi 2015) tanggal efektif 1 Januari

2017 dijelaskan bahwa PSAK No. 101 ini bertujuan untuk mengatur

penyajian dan pengungkapan laporan keuangan untuk tujuan umum

(general purpose financial statements) untuk entitas syariah yang

selanjutnya disebut “laporan keuangan”, agar dapat dibandingkan

baik dengan laporan keuangan entitas syariah periode sebelumnya

maupun dengan laporan keuangan entitas syariah lain. Pengakuan,


20

pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi dan peristiwa

tertentu diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

(PSAK) terkait.

Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-

komponen berikut ini:

1) laporan posisi keuangan;

2) laporan surplus defisit underwriting dana tabarru’;

3) dikosongkan;

4) laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain;

5) laporan perubahan ekuitas;

6) laporan arus kas;

7) laporan sumber dan penyaluran dana zakat;

8) laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan; dan

9) catatan atas laporan keuangan.

b. PSAK No. 105 Akuntansi Mudharabah

Menurut PSAK No.105 Tahun 2007, Mudharabah adalah

akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama

(pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan pihak kedua

(pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan dibagi

di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan kerugian finansial

hanya ditanggung oleh pemilik dana.

1) Akuntansi Pemilik Dana PSAK No. 105


21

Dana mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana

diakui sebagai investasi mudharabah pada saat pembayaran kas

atau penyerahan aset nonkas kepada pengelola dana.

Adapun pengukuran investasi mudharabah adalah

sebagai berikut:

a) investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar

jumlah yang dibayarkan;

b) investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas diukur

sebesar nilai wajar aset nonkas pada saat penyerahan:

(1) jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya

diakui, maka selisihnya diakui sebagai keuntungan

tangguhan dan diamortisasi sesuai jangka waktu akad

mudharabah.

(2) jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya,

maka selisihnya diakui sebagai kerugian

2) Akuntansi Pengelola Dana PSAK No. 105

Dana yang diterima dari pemilik dana dalam akad

mudharabah diakui sebagai dana syirkah temporer sebesar

jumlah kas atau nilai wajar aset nonkas yang diterima. Pada

akhir periode akuntansi, dana syirkah temporer diukur sebesar

nilai tercatatnya.

Jika pengelola dana menyalurkan dana syirkah temporer

yang diterima maka pengelola dana mengakui sebagai aset


22

sesuai ketentuan pada paragraf 12 - 13. (Pada paragraf pertama

dan kedua di point 1, Akuntansi Pemilik Dana PSAK No. 105).

4. Pembiayaan Mudharabah

Kata Mudharabah secara etimologi berasal dari kata darb. Dalam

bahasa arab, kata ini termasuk diantara kata yang mempunyai banyak

arti. Diantaranya memukul, berdetak, mengalir, berenang, bergabung,

menghindar berubah, mencampur, berjalan, dan lain sebagainya. Menurut

Asnaini Mudharabah merupakan bentuk kerja sama antara dua pihak atau

lebih, dimana salah satu pihak sebagai shahibul maal (pemilik modal)

yang dalam pembiayaan adalah bank, dan pihak yang lain sebagai

mudharib (pengelola) dalam hal ini adalah nasabah (Asnaini dan Herlina,

2017).

Asnaini dan Herlina (2017) juga nyebutkan bahwa mudharabah

terbagi menjadi dua jenis, yaitu :

a. Mudharabah Muthlaqah

Mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerja sama antara Shahibul

maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi

oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis. Dalam bahasa

fiqh ulama salafus saleh sering kali dicontohkan dengan ungkapan

if’al ma syi’ta (lakukan sesukamu) dari shahibul maal ke mudharib

yang memberi kekuasaan sangat besar.

b. Mudharabah Muqayyadah
23

Mudharabah muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted

mudharabah/specified mudharabah adalah kebalikan dari

mudharabah muthlaqah. Mudharib dibatasi dengan batasan jenis

usaha, waktu atau tempat usaha. Adanya pembatsan ini sering kali

mencerminkan kecenderungan umum shahibul maal dalam

memasukan jenis dunia usaha.

Perjanjian
Bagi Hasil

Nasabah Bank Syariah


(Mudharib) (Shahibul Maal)

Proyek/
Usaha

Pembagian/
Keuntungan

Modal

Gambar 2.1 Skema Al-Mudharabah (Asnaini dan Herlina, 2017)

Secara umum landasan syariah pembiayaan mudharabah lebih

mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Landasan syariah

pembiayaan mudharabah menurut MUI yaitu fatwa DSN MUI No.

07/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan Al-Mudharabah (Qardh).

Adapun terdapat juga dalam ayat – ayat Al-Qur’an berikut ini.

ْ َ‫ض َيْبَتغُو َن ِم ْن ف‬
… ‫ض ِل اللَّه‬ ْ ‫ض ِربُو َن يِف‬
ِ ‫اَأْلر‬ ْ َ‫آخ ُرو َن ي‬
َ ‫…و‬
َ
“… dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian

karunia Allah ‫( ”…ﷻ‬QS. Al-Muzammil:20).


24

Yang menjadi argumen dari surah di atas adalah adanya kata

yadhribuna yang sama dengan akar kata mudharabah yang berarti

melakukan sesuatu perjalanan usaha.

ِ ْ َ‫ض وابَتغُوا ِمن ف‬ ِ ِ ِ


َ‫ض ِل اللَّه َواذْ ُك ُروا اللَّه‬ ْ ْ ‫فَِإ َذا قُضيَت الصَّاَل ةُ فَا ْنتَش ُروا يِف‬
ْ َ ِ ‫اَأْلر‬
‫َكثِ ًريا لَ َعلَّ ُك ْم ُت ْفلِ ُحو َن‬
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka

bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak

supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah:10)

ٍ َ‫ضتُم ِمن عرف‬ ‫ِإ‬ ِ ْ َ‫لَيس علَي ُكم جنَاح َأ ْن َتبَتغُوا ف‬


‫ات‬ َ َ ْ ْ ْ َ‫ضاًل م ْن َربِّ ُك ْم ۚ فَ َذا َأف‬ ْ ٌ ُ ْ َْ َ ْ
‫فَاذْ ُكُروا اللَّهَ ِعْن َد الْ َم ْش َع ِر احْلََر ِام ۖ َواذْ ُك ُروهُ َك َما َه َدا ُك ْم َوِإ ْن ُكْنتُ ْم ِم ْن َقْبلِ ِه‬
ِ
َ ِّ‫لَم َن الضَّال‬
‫ني‬
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan)

dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat,

berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan

menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan

sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang

sesat.” (QS. Al-Baqarah:198)

Surah Al-Jumu’ah:10 dan Al-Baqarah:198 sama-sama

mendorong kaum muslimin untuk melakukan upaya perjalanan usaha.

5. Dana Pihak Ketiga

Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan dana dari masyarakat yang

dititipkan kepada bank syariah, yang penarikannya dapat dilakukan setiap

saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada bank dengan media

penarikan tertentu. Dana yang dihimpun dari masyarakat merupakan


25

sumber dana terbesar yang diandalkan oleh bank (mencapai 80%-90%).

Dana pada bank syariah juga sedapat mungkin mampu dimanfaatkan oleh

bank untuk kegiatan operasional bank syariah. Menurut Dendawijaya,

(2009) dalam (Sari, 2017) dana pihak ketiga terdiri atas beberapa jenis,

yaitu:

a. Giro (Demand Deposit)

Giro adalah dana pihak ketiga pada bank yang penarikannya

dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro,

dan surat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara

pemindahbukuan. Dalam pelaksanaannya, giro ditatausahakan oleh

bank dalam suatu rekening yang disebut rekening Koran.

b. Deposito (Time Deposit)

Deposito atau simpanan berjangka adalah dana pihak ketiga

pada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan dalam jangka

waktu tertentu berdasarkan perjanjian. Berbeda dengan giro, dana

deposito akan mengendap di bank karena para pemegangnya

(deposan) tertarik dengan tingkat bunga yang ditawarkan oleh bank

dan adanya keyakinan bahwa pada saat jatuh tempo (apabila dia

tidak ingin memperpanjang) dananya dapat ditarik kembali.

c. Tabungan

Tabungan adalah simpanan pihak ketiga pada bank yang

penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu.

Program tabungan yang pernah diperkenankan pemerintah sejak


26

tahun 1971 adalah tabanas, taska, tappelpram, tabungan ongkos naik

haji, dan lain-lain.

6. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Menurut Dendawijaya (2009) dalam (Sari, 2017) Capital

Adequacy Ratio yaitu kekayaan suatu bank terdiri dari aktiva lancar dan

aktiva tetap yang merupakan penjamin solvabilitas bank, sedangkan dana

(modal) bank dipergunakan untuk modal kerja dan penjamin likuiditas

bank bersangkutan. Dana bank adalah sejumlah uang yang dimiliki dan

dikuasai suatu bank dalam kegiatan operasionalnya. Menurut Peraturan

Bank Indonesia Nomor 3/21/PBI/2001, bank wajib menyediakan modal

minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut risiko yang

dinyatakan dalam Capital Adequacy Ratio (CAR). Capital Adequacy

Ratio (CAR) adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh seluruh

aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga,

tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank

disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank,

seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain .

7. Net Performing Financing (NPF)

Non performing financing (NPF) adalah rasio antara pembiayaan

yang bermasalah dengan total pembiayaan yang disalurkan oleh bank

syariah. berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia

kategori yang termasuk dalam NPF adalah pembiayaan kurang lancar,


27

diragukan, dan macet. Menurut Antonio (2001) pengendalian biaya

mempunyai hubungan terhadap kinerja lembaga perbankan, sehingga

semakin tinggi tingkat pembiayaan bermasalah (ketat kebijakan kredit)

maka akan semakin kecil jumlah pembiayaan murabahah yang disalurkan

oleh bank, dan sebaliknya. Semakin ketat kebijakan kredit/analisis

pembiayaan yang dilakukan bank (semakin ditekan tingkat NPF) akan

menyebabkan tingkat permintaan pembiayaan murabahah oleh

masyarakat turun (Sari, 2017).

8. Financing to Deposit Ratio (FDR)

Financing to Deposit Ratio (FDR) merupakan kemampuan bank

dalam menyediakan dana dan menyalurkan dana kepada nasabah, dan

memiliki pengaruh terhadap profitabilitas. Nilai FDR menunjukkan

efektif tidaknya bank dalam menyalurkan pembiayaan, apabila nilai FDR

menunjukkan prosentase terlalu tinggi maupun terlalu rendah maka bank

dinilai tidak efektif dalam menghimpun dan menyalurkan dana yang

diperoleh dari nasabah (Riyadi, 2014).

Dalam menyalurkan pembiayaannya, perbankan syariah harus

tetap mengacu pada standar yang diberlakukan oleh Bank Indonesia

dalam bentuk ratio pembiayaan yang disalurkan terhadap total dana yang

dihimpun (Financing to Deposit Ratio). Menurut Amborita (2013) Loan

to Deposit Ratio (istilah konvensional) atau dalam istilah syariah

Financing to Deposit Ratio dapat dijadikan indikator utama dalam

menilai fungsi intermediasi perbankan. Semakin tinggi penyaluran

pembiayaan/kredit menggunakan dana pihak ketiga, maka fungsi


28

intermediasi berjalan dengan sangat baik. sebaliknya, rendahnya

penyaluran pembiayaan/ kredit menggunakan dana pihak ketiga

menunjukkan fungsi intermediasi tidak bejalan lancar. Karena dana pihak

ketiga tidak disalurkan kembali kepada masyarakat (Candera dan

Herudiansyah, 2018).

9. Tingkat Bagi Hasil

Dalam teori ketidakpastian (uncertainty) yang salah satunya

menjelaskan tentang ketidakpastian dalam bisnis dan investasi, para

pelaku akan menghadapi salah satu dari tiga kemungkinan yang ada,

yaitu untung, rugi, atau tidak untung dan tidak rugi. Dan ketiga hal ini

dapat terjadi terutama pada pembiayaan bagi hasil mudharabah dan

musyarakah yang termasuk dalam Natural Uncertainty Contracts (NUC)

dimana kontrak ini tidak memberikan kepastian return baik dari segi

jumlah (amount) maupun waktunya (timing) karena sangat bergantung

pada hasil investasi. Tingkat return investasinya bisa positif, negatif, atau

nol (Karim dalam Gumilarty dan Indriani, (2016)

Tingkat bagi hasil (equivalen rate), adalah rata-rata tingkat

imbalan atas pembiayaan mudharabah dan musyarakah bagi bank syariah

pada saat tertentu (Andraeny dalam Pramono, 2013).

Tingkat bagi hasil juga dapat didefinisikan perbandingan antara

bagi hasil yang diterima dengan jumlah pembiayaan berbasis bagi hasil

bank syariah (Pramono, 2013).

B. Penelitian Terdahulu
29

Penelitian-penelitian terdahulu yang telah dilakukan digunakan

sebagai bahan perbandingan dan referensi dalam penelitian ini, antara lain:

Tabel 2.1. Hasil Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti Judul Penelitian Metodologi Penelitian Hasil Penelitian

1 Fauziyah Faktor-Faktor Metode Penelitian : TBH Berpengaruh


Adzimatinur, Sri yang Vector Error Correction Positif terhadap
Hartoyo dan Memengaruhi Model (VECM) pembiayaan bagi
Ranti Wiliasih Besaran hasil
tahun 2015 Pembiayaan Variabel Independen : DPK Berpengaruh
Perbankan TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR Positif terhadap
Syariah di Variabel Dependen : pembiayaan bagi
Indonesia Pembiayaan Bagi Hasil hasil
NPF Berpengaruh
Negatif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
ROA Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
BOPO Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
FDR Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
2 Chairul Anwar Pengaruh Dana Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
dan Muhammad Pihak Ketiga Regresi Data Panel Positif terhadap
Miqdad tahun (DPK), Capital pembiayaan bagi
2017 Adequacy Variabel Independen : hasil
Ratio (CAR), TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR CAR Berpengaruh
Return On Asset Variabel Dependen : Positif terhadap
(ROA) Terahadap Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
hasil
30

ROA Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
Pembiayaan hasil
Mudharabah
Pada
3 Suci Annisa dan PENGARUH DPK, Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
Dedi Fernanda CAR, NPF DAN Regresi Linier Berganda Negatif terhadap
tahun 2017 ROA TERHADAP pembiayaan bagi
PEMBIAYAAN Variabel Independen : hasil
MUDHARABAH TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR CAR Berpengaruh
DAN Variabel Dependen : Positif terhadap
MUSYARAKAH Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
PADA BANK hasil
SYARIAH
MANDIRI NPF Berpengaruh
PERIODE 2011- Positif terhadap
2015 pembiayaan bagi
hasil
ROA Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
4 Herni Ali dan DETERMINAN Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
Miftahurrohman YANG Regresi Linier Berganda Positif terhadap
tahun 2016 MEMPENGARUHI pembiayaan bagi
PEMBIAYAAN Variabel Independen : hasil
MURABAHAH TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR NPF Tidak
PADA Variabel Dependen : Berpengaruh
PERBANKAN Pembiayaan Bagi Hasil terhadap
SYARIAH DI pembiayaan bagi
INDONESIA hasil
CAR Berpengaruh
Negatif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
ROA Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil

BOPO Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
Inflasi
Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
Interest
Berpengaruh
Negatif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
31

GDP Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
5 Mister Candera Analisis Faktor Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
dan Gumar Yang Trimming Positif terhadap
Herudiansyah Mempengaruhi pembiayaan bagi
tahun 2018 Total Variabel Independen : hasil
Pembiayaan TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR FDR Berpengaruh
Perbankan Variabel Dependen : Positif terhadap
Syariah Yang Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
Dimediasi Oleh hasil
Variabel Aset
NPF Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
ASSET
Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
6 Rina Destiana Analisis Dana Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
tahun 2016 Pihak Ketiga dan Regresi Linier Berganda Positif terhadap
Risiko Terhadap pembiayaan bagi
Pembiayaan Variabel Independen : hasil
Mudharabah dan TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR NPF Berpengaruh
Musyarakah Variabel Dependen : Positif terhadap
Pada Bank Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
Syariah di hasil
Indonesia
7 Samira FAKTOR-FAKTOR Metode Penelitian : CAR Tidak
Kalkarina, Sri YANG Analisis Deskriptif dan Berpengaruh
Rahayu dan MEMPENGARUHI Regresi Data Panel terhadap
Annisa Nurbaiti PEMBIAYAAN pembiayaan bagi
tahun 2016 BERBASIS BAGI Variabel Independen : hasil
HASIL PADA TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR
NPF Tidak
BANK UMUM Variabel Dependen :
Berpengaruh
SYARIAH DI Pembiayaan Bagi Hasil
terhadap
INDONESIA
pembiayaan bagi
(STUDI KASUS
hasil
PADA BANK
UMUM SYARIAH DPK Berpengaruh
YANG Positif terhadap
TERDAFTAR DI pembiayaan bagi
BEI) hasil
8 Gittrys Ratu ANALISIS Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
Mashita PENGARUH DPK, Regresi Linier Berganda Positif terhadap
Gumilarty dan NPF, ROA, pembiayaan bagi
Astiwi Indriani PENEMPATAN Variabel Independen : hasil
tahun 2016 DANA TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR NPF Berpengaruh
PADA SBIS, DAN Variabel Dependen : Positif terhadap
TINGKAT BAGI Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
HASIL TERHADAP hasil
32

ROA Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
PD SBIS Tidak
Berpengaruh
terhadap
PEMBIAYAAN pembiayaan bagi
BAGI HASIL hasil
TBH Berpengaruh
Negatif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
9 Aida Sania Asri ANALISIS Metode Penelitian : TBH Tidak
dan Syaichu FAKTOR-FAKTOR Analisis Kuantitatif Berpengaruh
tahun 2016 YANG terhadap
MEMPENGARUHI Variabel Independen : pembiayaan bagi
PEMBIAYAAN TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR hasil
BERBASIS BAGI Variabel Dependen :
FDR Tidak
HASIL PADA Pembiayaan Bagi Hasil
Berpengaruh
PERBANKAN
terhadap
SYARIAH DI
pembiayaan bagi
INDONESIA
hasil
PERIODE 2010-
2014 CAR Berpengaruh
Negatif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
NPF Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
SWBI
Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
10 Windasari OPTIMALISASI Metode Penelitian : DPK Tidak
Rachmawati, PEMBIAYAAN Regresi Linier Berganda Berpengaruh
Abdul Karim dan MURABAHAH terhadap
Abdul Manan BERPRINSIP BAGI Variabel Independen : pembiayaan bagi
tahun 2018 HASIL PADA TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR hasil
BANK SYARIAH Variabel Dependen :
Inflasi Tidak
DI INDONESIA Pembiayaan Bagi Hasil
Berpengaruh
2010 - 2015
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
NPF Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
33

CAR Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
11 Sasma Aprilia FAKTOR YANG Metode Penelitian : CAR Tidak
dan Dewa Putra MEMPENGARUHI Regresi Data Panel Berpengaruh
Khrisna PEMBIAYAAN terhadap
Mahardika BAGI HASIL Variabel Independen : pembiayaan bagi
tahun 2019 PADA BANK TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR hasil
UMUM SYARIAH Variabel Dependen :
NPF Tidak
DI INDONESIA Pembiayaan Bagi Hasil
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
DPK Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
12 Isnu N dan ANALISIS Metode Penelitian : DPK Berpengaruh
Mahfudz tahun FAKTOR-FAKTOR Regresi Linier Berganda Positif terhadap
2016 YANG pembiayaan bagi
MEMENGARUHI Variabel Independen : hasil
PEMBIAYAAN TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR FDR Berpengaruh
PADA BANK Variabel Dependen : Positif terhadap
UMUM SYARIAH Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
(STUDI PADA hasil
BANK UMUM
SYARIAH TAHUN ROA Berpengaruh
2012-2015) Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
NPF Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
Inflasi
Berpengaruh
Negatif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
13 Abdaliah dan PENGARUH Metode Penelitian : TBH Berpengaruh
Adhisyahfitri TINGKAT BAGI Regresi Linier Berganda Positif terhadap
Evalina Ikhsan HASIL, TINGKAT pembiayaan bagi
tahun 2018 SUKU BUNGA, Variabel Independen : hasil
JUMLAH TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR Inflasi Tidak
KANTOR, DAN Variabel Dependen : Berpengaruh
UKURAN BANK Pembiayaan Bagi Hasil terhadap
TERHADAP pembiayaan bagi
JUMLAH hasil
DEPOSITO
MUDHARABAH Jumlah Kantor
PADA Berpengaruh
PERBANKAN Positif terhadap
SYARIAH pembiayaan bagi
hasil
34

size Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
14 Achmad Agus Pengaruh Metode Penelitian : FDR Berpengaruh
Yasin Fadli Financing to Regresi Linier Berganda Negatif terhadap
tahun 2018 Deposit Ratio pembiayaan bagi
(FDR) dan Non- Variabel Independen : hasil
Performing TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR NPF Berpengaruh
Financing (NPF) Variabel Dependen : Positif terhadap
terhadap Bagi Pembiayaan Bagi Hasil pembiayaan bagi
Hasil hasil
Deposito
Mudharabah
pada Bank
Syariah Mandiri
15 Nisa Lidya ANALISIS Metode Penelitian : Kurs Berpengaruh
Muliawati dan PENGARUH Regresi Linier Berganda Negatif terhadap
Tatik Maryati INFLASI, KURS, pembiayaan bagi
tahun 2015 SUKU BUNGA Variabel Independen : hasil
DAN BAGI HASIL TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR
Interest
TERHADAP Variabel Dependen :
Berpengaruh
DEPOSITO PADA Pembiayaan Bagi Hasil
Positif terhadap
PT. BANK
pembiayaan bagi
SYARIAH
hasil
MANDIRI 2007-
2012 Inflasi
Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
16 Yudhistira Tingkat Suku Metode Penelitian : BOPO
Ardana dan Bunga, Kinerja Regresi Linier Berganda Berpengaruh
Wulandari Keuangan dan Negatif terhadap
tahun 2018 Tingkat Bagi Variabel Independen : pembiayaan bagi
Hasil Deposito TBH,DPK,NPF,ROA,ROA,FDR hasil
Pada Perbankan Variabel Dependen :
FDR Tidak
Syariah Pembiayaan Bagi Hasil
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
NPF Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
ROA Berpengaruh
Positif terhadap
pembiayaan bagi
hasil
Interest Tidak
Berpengaruh
terhadap
pembiayaan bagi
hasil
35

C. Kerangka Konseptual

Berikut kerangka konseptual hubungan antara variabel dependen

dengan variabel independen dapat digambarkan pada gambar 2.2 berikut ini :

Dana Pihak Ketiga


(X1 ) H1

Capital Adequacy H2
Ratio (X2 )

Net Performing H3 Pembiayaan


Financing (X3 ) Mudharabah
H4
Financing to Deposit
Ratio (X4 )
H5

Tingkat Bagi Hasil


(X5 )

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan teori dan pemikiran terdahulu yang telah diuraikan

sebelumnya, maka penelitian ini akan mencoba pengaruh dana pihak ketiga,

capital adequacy ratio, net performing financing, financing to adequacy ratio

dan tingkat bagi hasil terhadap pembiayaan bagi hasil, dengan rumusan

hipotesis sebagai berikut :

1. Pengaruh Dana Pihak Ketiga terhadap Pembiayaan Mudharabah

Dana pihak ketiga adalah sumber dana bagi sebuah lembaga

keuangan yang dihimpun dari masyarakat yang kelebihan dana untuk

disalurkan kepada masyarakat yang kekurangan dana dalam bentuk

penyaluran pembiayaan.
36

Pada penelitian yang dilakukan (Adzimatinur et al., 2015) pada

penelitiannya menyatakan bahwa Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif

terhadap pembiayaan mudharabah. Hal serupa juga terdapat pada

penelitian (Anwar dan Miqdad, Muhammad, 2017), (Ali dan

Miftahurrohman, 2016), (Candera dan Herudiansyah, 2018), (Anwar dan

Miqdad, Muhammad, 2017), (Kalkarina et al., 2016), (Rachmawati et al.,

2019), (Gumilarty dan Indriani, 2016) dan (Riset et al., 2013).

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang didapat yaitu :

Ha1: Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif terhadap Pembiayaan

Mudharabah.

2. Pengaruh Capital Adequacy Ratio terhadap Pembiayaan Mudharabah

Modal merupakan aspek penting bagi perbankan, karena dengan

modal yang cukup, kepercayaan masyarakat terhadap bank dapat

meningkat. Kecukupan modal bank dapat dilihat melalui Capital

Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal yang dihitung dengan

membandingkan modal bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko

(ATMR). Rasio ini merupakan indikator kemampuan bank untuk

menutupi penurunan aktiva akibat kerugian yang disebabkan aktiva yang

memiliki risiko. Semakin tinggi CAR maka semakin besar sumber daya

finansial yang dapat digunakan untuk keperluan pengembangan usaha dan

mengantisipasi potensi kerugian yang diakibatkan pembiayaan.

Pada penelitian terdahulu yang dilakukan (Anwar dan Miqdad,

Muhammad, 2017), (Annisa dan Fernanda, 2017) dan (Rachmawati et al.,


37

2019) menunjukan bahwa Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif

terhadap pembiayaan mudharabah.

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang didapat yaitu :

Ha2: Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif terhadap Pembiayaan

Mudharabah.

3. Pengaruh Net Performing Financing terhadap Pembiayaan Mudharabah

Net Performing Financing akan memberikan pengaruh yang

signifikan negatif terhadap pembiayaan. Net Performing Financing

merupakan pembiayaan bermasalah sehingga semakin tinggi pembiayaan

bermasalah akan menurunkan jumlah pembiayaan itu sendiri.

Pada penelitian (Adzimatinur et al., 2015) yang menunjukan Net

Performing Financing berpengaruh negatif terhadap pembiayaan

mudharabah.

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang didapat yaitu :

Ha3: Net Performing Financing berpengaruh negatif terhadap

Pembiayaan Mudharabah.

4. Pengaruh Financing to Deposit Ratio terhadap Pembiayaan Mudharabah

Financing to Deposit Ratio merupakan perbandingan antara

pembiayaan dan Dana Pihak Ketiga. Maka dapat diduga bahwa Financing

to Deposit Ratio memberikan pengaruh yang signifikan dan positif

terhadap pembiayaan. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya

Financing to Deposit Ratio menunjukkan terdapat peningkatan pada

pembiayaan.
38

Lalu penelitian terdahulu pada Financing to Deposit Ratio yang

dilakukan (Adzimatinur et al., 2015) bahwa Financing to Deposit Ratio

berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah, hal ini di dukung

pula pada penelitian (Candera dan Herudiansyah, 2018).

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang didapat yaitu :

Ha4: Financing to Deposit Ratio berpengaruh positif terhadap

Pembiayaan Mudharabah.

5. Pengaruh Tingkat Bagi Hasil terhadap Pembiyaan Bagi Hasil

Tingkat bagi hasil yang merupakan perolehan keuntungan dari

usaha dapat berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran

pembiayaan perbankan syariah. Hal ini dikarenakan semakin tinggi

tingkat bagi hasil berarti semakin tinggi keuntungan yang akan diperoleh

bank dan akan meningkatkan jumlah penyaluran pembiayaan

Pada penelitian yang dilakukan (Adzimatinur et al., 2015) dan

(Abdaliah dan Ikhsan, 2018) menunjukan bahwa Tingkat Bagi Hasil

berpengaruh positif terhadap pembiayaan mudharabah.

Berdasarkan uraian diatas maka hipotesis yang didapat yaitu :

Ha5: Tingkat Bagi Hasil berpengaruh positif terhadap Pembiayaan

Mudharabah
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif.

Metode penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang analisis

datanya berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan, mulai dari

pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan

hasilnya berbentuk angka (Eksandy, 2018).

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan pengaruh

variabel independen yang terdiri dari dana pihak ketiga, capital adequacy

ratio (CAR), net performing financing (NPF), financing to depodit ratio

(FDR) dan tingkat bagi hasil terhadap pembiayaan mudharabah. Metode

analisis yang digunakan yaitu analisis regresi data panel dengan bantuan

program Eviews 9. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

sekunder berupa laporan keuangan tahunan perbankan syariah yang terdaftar

di Otoritas Jasa Keuangan periode 2016-2019. Alat analisis yang digunakan

yaitu analisis regresi data panel.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengakses situs resmi masing-

masing bank syariah di Indonesia untuk memperoleh data dan megunduh

laporan tahunan atau laporan keuangan pada sektor perbankan syariah di

Indonesia periode 2016-2019.

39
40

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan, yaitu dari bulan Maret

sampai Agustus 2020.

C. Definisi dan Pengukuran Variabel

1. Variabel Penelitian

a. Variabel Dependen (Y)

Variabel dependen adalah variabel yang mempengaruhi atau

yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

independen (Siyoto dan Sodik, 2015).

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pembiayaan

mudharabah. Mudharabah merupakan bentuk kerja sama antara dua

pihak atau lebih, dimana salah satu pihak sebagai shahibul maal

(pemilik modal) yang dalam pembiayaan adalah bank, dan pihak

yang lain sebagai mudharib (pengelola) dalam hal ini adalah nasabah

(Asnaini dan Herlina, 2017).

Menurut Sari (2017) bentuk ini menegaskan kerja sama

dalam paduan kontribusi 100% modal kas dari shahib al-maal dan

keahlian dari mudharib. Dalam mudharabah, modal hanya berasal

dari satu pihak, sedangkan dalam musyarakah modal berasal dari dua

pihak atau lebih. Ketentuan umum Pembiayaan Mudharabah adalah

sebagai berikut:

1) Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku

pengelola modal harus diserahkan tunai, dan dapat berupa uang

atau barang yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang.


41

Apabila modal diserahkan secara bertahap, harus jelas

tahapannya dan disepakati bersama.

2) Hasil dari pengelolaan modal pembiayaan mudharabah dapat

diperhitungkan dengan cara yakni :

a) Perhitungan dari pendapatan proyek (revenue sharing)

b) Perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing)

3) Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada

setiap bulan atau waktu yang disepakati. Bank selaku pemilik

modal menanggung seluruh kerugian kecuali akibat kelalaian

dan penyimpangan pihak nasabah seperti penyelewengan,

kecurangan dan penyalahgunaan dana.

4) Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan

namun tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha

nasabah. Jika nasabah cidera janji dengan sengaja, misalnya

tidak mau membayar kewajiban atau menunda pembayaran

kewajiban, maka ia dapat dikenakan sanksi administrasi.

b. Variabel Independen (X)

Dalam eksperimen-eksperimen, variabel Independen adalah

variabel yang dimanipulasikan (“dimainkan”) oleh pembuat

eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan

mengkaji akibat dari berbagai metode pengajaran, peneliti dapat

memanipulasi metode sebagai (variabel bebasnya) dengan

mengggunakan berbagai metode (Siyoto dan Sodik, 2015).


42

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen

adalah:

1) Dana Pihak Ketiga (X1)

Dana Pihak Ketiga adalah dana yang dipercayakan oleh

masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan

dana dalam bentuk giro, deposito, tabungan atau bentuk lainnya

yang dipersamakan dengan itu, DPK diperoleh rumus sebagai

berikut (Sagita Devi, 2010) :

DPK = Giro + Deposito + Tabungan

Sumber : Sari, 2017

2) Capital Adequacy Ratio (X2)

Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang

memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang

mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan

pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank

disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar

bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain

(Lukman, 2009). CAR pada penelitian ini dirumuskan sebagai

berikut:

Modal
CAR= ×100 %
ATMR

Sumber : Sari, 2017)


43

3) Net Performing Financing (X3)

Non Performing Financing (NPF) adalah rasio antara

pembiayaan yang bermasalah dengan total pembiayaan yang

syariah. Berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan Bank

Indonesia kategori yang termasuk dalam NPF adalah

pembiayaan kurang lancar, diragukan dan macet. NPF diperoleh

rumus sebagai berikut (Sari, 2017) :

Pembiayaan Bermasalah
NPF= × 100 %
Total Pembiayaan

Sumber : Sari, 2017

4) Financing to Deposit Ratio (X4)

Financing to Deposit Ratio (FDR) rasio yang membandingkan

antara pembiayaan terhadap dana pihak ketiga. Rasio ini

menunjukkan seberapa besar dana yang disalurkan untuk

pembiayaan dari dana pihak ketiga (Adzimatinur et al., 2015).

Pembiayaan
FDR= × 100 %
Dana Pihak Ketiga

Sumber : Adzminatur dkk, 2015

5) Tingkat Bagi Hasil (X5)

Tingkat bagi hasil merupakan rata-rata imbalan yang diterima

bank atas pembiayaan bagi hasil Mudharabah dan Musyarakah.

Menurut Andraeny dalam (Asri dan Syaichu, 2016) tingkat bagi

hasil dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut.

Pendapatan Bagi hasil


TBH = × 100 %
Total Pembiayaan Bagi Hasil

Sumber : Asri dan Syaichu, 2016


44

Tabel 3.1 Operasionalisasi dan Pengukuran Variabel

No Variabel Definisi Indikator Skala


1 Y: Mudharabah merupakan
Pembiayaan bentuk kerja sama antara
Mudharabah dua pihak atau lebih,
dimana salah satu pihak
sebagai shahibul maal
(pemilik modal) yang Ʃ Pembiayaan
Nominal
dalam pembiayaan Mudharabah
adalah bank, dan pihak
yang lain sebagai
mudharib (pengelola)
dalam hal ini adalah
nasabah.
2 X1 : Dana Dana Pihak Ketiga
Pihak adalah dana yang
Ketiga dipercayakan oleh
masyarakat kepada bank
berdasarkan perjanjian
DPK = Giro + Deposito
penyimpanan dana Nominal
+ Tabungan
dalam bentuk giro,
deposito, tabungan atau
bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan
itu,
3 X2 : Capital Capital Adequacy Ratio
Adequacy adalah rasio yang
Ratio memperlihatkan
seberapa jauh seluruh
aktiva bank yang
mengandung risiko
(kredit, penyertaan,
Modal
surat berharga, tagihan
ATMR Rasio
pada bank lain) ikut
dibiayai dari dana modal
sendiri bank disamping
memperoleh dana-dana
dari sumber-sumber
diluar bank, seperti dana
masyarakat, pinjaman
(utang), dan lain-lain.
4 X3 : Non Non Performing Rasio
Performing Financing (NPF) adalah Pembiayaan Bermasalah
Financing rasio antara pembiayaan Total Pembiayaan
(NPF) yang bermasalah dengan
total pembiayaan yang
45

syariah. Berdasarkan
kriteria yang sudah
ditetapkan Bank
Indonesia kategori yang
termasuk dalam NPF
adalah pembiayaan
kurang lancar, diragukan
dan macet.
5 X4 : Financing to Deposit
Financing Ratio (FDR) rasio yang
to Deposit membandingkan antara
Ratio pembiayaan terhadap
dana pihak ketiga. Rasio Pembiayaan
Rasio
ini menunjukkan Dana Pihak Ketiga
seberapa besar dana
yang disalurkan untuk
pembiayaan dari dana
pihak ketiga.
6 X4 : Tingkat Tingkat bagi hasil
Bagi Hasil merupakan rata-rata
imbalan yang diterima Pendapatan Bagi hasil
Rasio
bank atas pembiayaan Total Pembiayaan Bagi Hasil
bagi hasil Mudharabah
dan Musyarakah.

D. Metode Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini merupakan bank umum syariah

di Indonesia yang memang terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan

(OJK) periode 2016-2019.

2. Sampel

Pemilihan sampel dilakukan dengan berbagai kriteria tertentu

atau yang lebih dikenal dengan metode purposive sampling. Metode

purposive sampling merupakan metode pengambilan sampel yang

didasarkan pada beberapa pertimbangan atau kriteria tertentu. Dimana

sampel digunakan apabila memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:


46

a. Bank syariah yang sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan

(OJK) Periode 2016-2019.

b. Perusahaan bank umum syariah di Indonesia yang terdaftar

mempublikasikan laporan tahunannya periode 2016-2019.

E. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder (kuantitatif) yang

merupakan data berupa angka yang telah dikumpulkan, diolah, dilaporkan

dan disajikan oleh pihak lain. Data sekunder dalam penelitian ini adalah

laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan syariah yang terdaftar di

Otoritas Jasa Keuangan periode 2016 – 2019.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini

menggunakan metode dokumentasi. Metode dokumentasi yaitu mencari data

mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat

kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.

Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit,

dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum

berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi

benda mati. Seperti telah dijelaskan, dalam menggunakan metode

dokumentasi ini peneliti memegang chek-list untuk mencari variabel yang

sudah ditentukan. Apabila terdapat/ muncul variabel yang dicari, maka

peneliti tinggal membubuhkan tanda check atau tally di tempat yang sesuai.

Untuk mencatat halhal yang bersifat bebas atau belum ditentukan dalam

daftar variabel peneliti dapat menggunakan kalimat bebas (Siyoto, 2015).


47

F. Metode Analisis Data

Analisis Data adalah suatu proses atau upaya untuk mengolah data

menjadi informasi baru sehingga karakteristik data menjadi lebih mudah

dipahami dan berguna untuk solusi masalah, terutama yang terkait dengan

penelitian (Ardiansyah, 2020). Analisis data yang digunakan meliputi analisis

statistic deskriptif, uji model estimasi data panel, uji hipotesis dan uji

modelregresi data panel. Semua pengujian pada peneliti ini menggunakan

software Eviews 9.0.

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif kuantitatif merupakan analisis data yang

dilakukan untuk mengetahui dan menjelaskan variabel yang diteliti

yang berupa angka-angka sebagai dasar untuk berbagai pengambilan

keputusan, dimana dalam penelitian ini terdiri dari rata-rata, standar

deviasi, minimum, dan maksimum. Pada penelitian ini, analisis

deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran pembiayaan

mudharabah, dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, net performing

financing, financing to deposit ratio dan tingkat bagi hasil pada

perusahaan perbankan syariah di Indonesia yang terdaftar di OJK

periode 2016-2019.

2. Model Regresi Data Panel

Dalam mengestimasi parameter model dengan data panel terdapat tiga

teknik yang dapat digunakan yaitu ordinary least square (OLS) atau commont

effect, metode efek tetap (fixed effect) dan metode efek random (random

effect).
48

a. Common Effect Model

Common Effect Model merupakan asumsi yang

menganggap bahwa intersep dan slope selalu tetap baik antar waktu

maupun antar individu. Model ini mengombinasikan antara data

time series dan cross section dalam bentuk pool, mengestimasinya

menggunakan pendekatan kuadrat terkecil / pooled least square.

(Eksandy, 2018)

Adapun persamaan regresi dalam model common effect

dapat ditulis sebagai berikut:

Yit = α + Xitβ + εit

Di mana:

i = menunjukan cross section (individu)

t = menunjukan periode waktu

b. Fixed Effect Model

Fixed Effect Model merupakan model yang memperhatikan

adanya keberagaman dari variabel independen menurut individu.

Model Fixed Effect dinyatakan kedalam bentuk persamaan

(Srihardiyanti et al., 2016).

Yit = α + iαit + X’itβ + εit

c. Random Effect Model

Apabila efek individual Zi tidak memiliki korelasi dengan

variabel independen, maka struktur model ini dikenal dengan

Random Effect Model yang modelnya dinyatakan kedalam bentuk

persamaan (Srihardiyanti et al., 2016).


49

Yit = α + X’itβ + wit

Di mana:

wit = εit + u1; E(wit) = 0; E(wit2) = α2 + αu2;

E(wit,wjt-1) = 0; i ‡ j; E(ui, εit) = 0;

E (εit, εjt) = E (εit, εjs) = 0

3. Teknik Pemilihan Model Regresi Data Panel

Untuk menentukan model regresi data panel yang tepat untuk

digunakan dalam analisis regresi data panel, maka kita dapat melakukan

pengujian, sebagai berikut :

Cammon Effect
Model

Uji Chow
Uji Lagerange
Fixed Effect Model
Multiplier

Uji Hausman

Rendom Effect
Model

Gambar 3.1. Teknik pemilihan model Regresi Data Panel

a. Uji Chow

Uji chow menurut Basuki dan Prawoto (2016) adalah

pengujian untuk menentukan model Fixed Effects atau Random

Effects yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi data

panel.Rumus yang digunakan dalam tes ini adalah sebagai berikut :

N −1
CHOW =
NT −N −K

Sumber : (Basuki dan Prawoto, 2016)


50

Dimana:

N = Jumlah data cross section

T = Jumlah data time series

K = Jumlah variabel penjelas

Pengujian uji chow dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut:

H0 = Common Effect Model

H1 = Fixed Effect Model

Pengujian ini mengikuti distribusi F statistik, dimana jika

Fstatistik lebih besar dari Ftabel maka H0 ditolak. Nilai

chowmenunjukannilai F statistik dimana bila nilai chow yang

kitadapat lebih besar dari nilai F tabel yang digunakan berarti

kitamenggunakan model fixed effect. Atau kita dapat melihat

darinilai probabilitas cross section F dan chi square,

denganketentuan sebagai berikut:

1) Jika probabilitas < 0.05, berarti H0 ditolak, dan

menggunakanH1.

2) Jika probabilitas > 0.05, berarti H0 diterima.

b. Uji Hausman

Uji hausman menurut Basuki dan Prawoto (2016) adalah

pengujian statistik untuk memilih apakah model Fixed Effects atau

Random Effects yang paling tepat digunakan dalam mengestimasi

data panel. Rumus uji hausman adalah sebagai berikut, dimana:


51

H = (βRE-βFE)1(∑FE-∑RE)-1(βRE-βFE)

Sumber : Basuki dan Prawoto (2016)

Dimana:

βRE = Random Effect Estimator

βFE = Fixed Effect Estimator

∑FE =Matriks Kovarians Fixed Effect

∑RE =Matriks Kovarians Random Effect

Pengujian uji hausman dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut :

H0=Random Effect Model

H1=Fixed Effect Model

Statistik uji hausman ini mengikuti distribusi statistik chi-

square dengan degree of freedom sebanyak, dimana adalah jumlah

variabel independen. Jika nilai statistik hausman lebih besar dari

nilai kritisnya maka H0 ditolak dan model yang tepat adalah model

fixed effect, sedangkan sebaliknya bila nilai hausman lebih kecil

dari nilai kritisnya maka model yang tepat digunakan adalah model

random effect. Atau dapat melihat kepada nilai probabilitas cross

section random, dengan ketentuan sebagai berikut:


-
Jika probabilitas < 0.05 maka H0 ditolak, dan H1diterima.

-
Jika probabilitas > 0.05 maka H0 diterima, dan H1 ditolak.
52

c. Uji Lagrange Multiplier

Menurut Basuki dan Prawoto (2016), untuk mengetahui

apakah model Random Effects lebih baik daripada metode Common

Effect (OLS) digunakan uji Lagrange Multiplier (LM). Hipotesis

yang digunakan dengan uji LM adalah sebagai berikut:

H0 : Model mengikuti ordinary least square

H1 : Model mengikuti model random effect

Uji LM didasarkan pada chi-squares dengan degree of

freedom (df) sebesar jumlah variabel bebas. Jika LM hitung

statistik lebih kecil dari nilai chi-squares tabel, maka H0

diterima.Sehingga model yang digunakan adalah ordinary

leastsquare. Akan tetapi, jika LM hitung statistik lebih besar dari

nilai chi- squares tabel, maka H0ditolak. Hal ini, berarti model yang

digunakan adalah model random effect.

4. Uji Hipotesis

a. Uji F

Uji Kelayakan model atau biasa di kenal dengan Uji F

digunakan untuk menjelaskan apakah semua variabel bebas yang

di masukan ke dalam model secara bersama-sama mempunyai

pengaruh terhadap varibel terkait, atau dengan kata lain Model fit

atau tidak apabila Uji F tidak berpengaruh maka penelitian tidak

layak untuk di lanjutkan karena model penelitian tidak mampu

menjelaskan adanya hubungan antara variabel independen dengan

dependen. bisa juga hal ini terjadi karena adanya hubungan antara
53

varibel independen (Multikolineritas) sehingga menyebabkan

model penelitian menjadi tidak fit.

Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai

berikut:

1) Berdasarkan Perbandingan Fhitung dengan Ftabel.

a) Jika Fhitung> Ftabel, maka Ha diterima artinya seluruh

variabel independen secara bersama-sama berpengaruh

terhadap variabel dependen.

b) Jika Fhitung< Ftabel, maka Ha ditolak, artinya seluruh

variabel independen secara bersama-sama tidak

berpengaruh terhadap variabel independen.

2) Berdasarkan Probabilitas

a) Jika probabilitas < 0.05,maka Ha diterima

b) Jika probabilitas > 0.05,maka Ha ditolak

b. Uji R2 (Koefisien Determinasi)

2
Koefisien determinasi (R ) pada intinya mengukur seberapa

jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel

2
terikat. Nilai adjusted R berada diantara 0 sampai 1 dengan

penjelasan sebagai berikut:

1) Jika nilai adjusted R2 samadengan 0, berarti tidak ada

pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat(Y).


54

2) Jika nilai adjusted R2 sama dengan 1, berarti naik

turunnya variabel terikat (Y) 100% dipengaruhi oleh

variabel bebas (X).

3) Jika nilai adjusted R2 berada diantara 0 dan 1 (0 < R2 < 1),

maka besarnya pengaruh variabel bebas terhadap naik

turunnya variabel terikat adalalah sesuai dengan nilai R2 itu

sendiri dan sebaliknya berasal dari faktor-faktor lainnya.

c. Uji t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh

pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam

menerangkan variasi variabel terikat. Adapun kriteria pengambilan

keputusan adalah sebagai berikut:

1) Berdasarkan Perbandingan t- statistik dengan ttabel:

a) Jika thitung > ttabel, maka Ha diterima artinya secara parsial

variabel independen berpengaruh terhadap variabel

dependen.

b) Jika thitung < ttabel, maka Ha ditolak, artinya secara parsial

variabel independen tidak berpengaruh terhadap

variabel dependen.

2) Berdasarkan Probabilitas

1. Jika probabilitas < 0.05,maka Ha diterima

2. Jika probabilitas > 0.05,maka Ha ditolak

5. Analisis Regresi Data Panel


55

Regeresi data panel adalah gabungan antara cross section ( data

beberapa perusahaan) dan data time series ( data yand dihimpun lebih

dari satu tahun) dimana unit cross section yang sama diukur pada

waktu yang berbeda maka dengan kata lain, data panel merupakan data

dari beberapa perusahaan (sempel) yang di amati dalam kurun waktu

tertentu (Eksandy, 2018).

Menurut (Eksandy, 2018) Regeresi data panel idealnya

digunakan untuk penelitian akuntansi dan manajeman keuangan, dimana

data penelitinnya merupakan data sekunder yang berasar dari laporan

keuangan perusahaan. kelebihan dari Data Panel mampu memberikan

ketersediaan jumlah minimal data yang layak untuk di teliti dalam

sebuah penelitian adalah berjumlah 30 data penelitian. Ada beberapa

metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi model regresi data

panel, diantaranya adalah model common effect, model fixed effect dan

model random effect.


DAFTAR PUSTAKA

Abdaliah, & Ikhsan, A. E. (2018). Pengaruh Tingkat Bagi Hasil, Tingkat Suku

Bunga, Jumlah Kantor, dan Ukuran Bank terhadap Jumlah Deposito

Mudharabah pada Perbankan Syariah. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi

Akuntansi, 3(4), 538–551.

Adzimatinur, F., Hartoyo, S., & Wiliasih, R. (2015). Faktor-faktor yang

Memengaruhi Besaran Pembiayaan Perbankan Syariah di Indonesia. Al-

Muzara’ah, 3(2), 106–121. https://doi.org/10.29244/jam.3.2.106-121

Ali, H., & Miftahurrohman, M. (2016). Determinan yang Mempengaruhi

Pembiayaan Murabahah Pada Perbankan Syariah di Indonesia. Esensi, 6(1),

31–44. https://doi.org/10.15408/ess.v6i1.3119

Annisa, S., & Fernanda, D. (2017). Pengaruh DPK, CAR, NPF dan ROA

Terhadap Pembiayaan Mudharabah Pada Bank Syariah Mandiri Periode

2011-2015. Jurnal Ekonomi & Bisnis Dharma Andalas, 19(2), 300–305.

Anwar, C., & Miqdad, Muhammad, e-issn: 2548-9224. (2017). Pengaruh Dana

Pihak Ketiga (DPK), Return On Asset (ROA) Terhadap Pembiayaan

Mudharabah Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008-2012. Riset Dan Jurnal

Akuntansi, 1(1), 42–47.

Ardana, Y., & Wulandari, W. (2018). Tingkat Suku Bunga, Kinerja Keuangan,

dan Bagi Hasil Deposito Pada Perbankan Syariah. Esensi: Jurnal Bisnis Dan

Manajemen, 8(2), 177–186. https://doi.org/10.15408/ess.v8i2.8392

Ardiansyah, G. (2020). Pengertian Analisis Data. March 26, 2020.

https://guruakuntansi.co.id/analisis-data/

Ascarya, A., & Yumanita, D. (2007). Mencari Solusi Rendahnya Pembiayaan


Bagi Hasil Di Perbankan Syariah Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter Dan

Perbankan, 8(1), 7–43. https://doi.org/10.21098/bemp.v8i1.127

Asnaini, & Herlina, Y. (2017). Lembaga Keuangan Syariah : Teori dan

Praktiknya di Indonesia.

Basuki, A. T., & Prawoto. (2016). Analisis Regresi Dalam Penelitian Ekonomi &

Bisnis : Dilengkapi Aplikasi SPSS & EVIEWS.

Candera, M., & Herudiansyah, G. (2018). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi

Total Pembiayaan Perbankan Syariah Yang Dimediasi Oleh Variabel Aset.

Jurnal Inspirasi Bisnis Dan Manajemen, 2(2), 117.

https://doi.org/10.33603/jibm.v2i2.1104

Destiana, R. (2016). Analisis Dana Pihak Ketiga dan Risiko Terhadap

Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah Pada Bank Syariah di Indonesia.

LOGIKA Jurnal Ilmiah Lemlit Unswagati Cirebon, 17(2), 42–54.

Eksandy, A. (2018). Metode Penelitian Akuntansi dan Manajemen.

EXELSA, S. (2017). ANALISIS PENGARUH MAKROEKONOMI DAN KINERJA

KEUANGAN TERHADAP PEMBIAYAAN BAGI HASIL PADA BANK

SYARIAH MANDIRI TAHUN 2009-2016.

Fadli, A. A. Y. (2018). Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) dan Non-

Performing Financing (NPF) terhadap Bagi Hasil Deposito Mudharabah pada

Bank Syariah Mandiri. Jurnal Maksipreneur: Manajemen, Koperasi, Dan

Entrepreneurship, 8(1), 98. https://doi.org/10.30588/jmp.v8i1.391

Fauziah, E. H. (2016). Pengaruh Dpk, Car, Inflasi, Nilai Tukar Rupiah Dan

Tingkat Bagi Hasil Terhadap Komposisi Pembiayaan Mudharabah (Studi

Pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (Bprs) Di Indonesia).


Gift, V., Putro, T., & Mayes, A. (2016). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Penyaluran Kredit Pada Bank Perkreditan Rakyat (Bpr) Di Provinsi Riau

Tahun 2006-2015. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas

Riau, 4(1), 768–782.

Gumilarty, G. R. M., & Indriani, A. (2016). Analisis Pengaruh DPK, NPF, ROA,

Penempatan Dana Pada SBIS, Dan Tingkat Bagi Hasil Terhadap Pembiayaan

Bagi Hasil. Diponegoro Journal of Management, 5(4), 1–14.

Kalkarina, S., Rahayu, S., & Nurbaiti, A. (2016). Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Pada Bank Umum Syariah

di Indonesia (Studi Kasus Pada Bank Umum Syariah Yang Terdaftar di BEI).

E-Proceeding of Management, 3(3), 3389.

Lukman, D. (2009). Manajemen Perbankan. Edisi Kedua.

Minhal, U. A. (2012). Asas Penetapan Halal Dan Haram Dalam Islam.

Nisa Lidya Muliawati, T. M. (2015). Analaisis Pengaruh Inflasi, Kurs, Suku

Bunga dan Bagi Hasil Terhadap Deposito Pada PT. Bank Syariah Mandiri

2007-2012. Seminar Nasional Cendekiawan, 7, 735–745.

Npf, F., Profitabilitas, T., Umum, B., & Indonesia, S. D. I. (2014). Pengaruh

Pembiayaan Bagi Hasil, Pembiayaan Jual Beli, Financing To Deposit Ratio

(Fdr) Dan Non Performing Financing (Npf) Terhadap Profitabilitas Bank

Umum Syariah Di Indonesia. Accounting Analysis Journal, 3(4), 466–474.

https://doi.org/10.15294/aaj.v3i4.4208

Nurhayati, S., & Wasilah. (2012). Akuntansi Perbankan Syariah di Indonesia.

Pramono, N. H. (2013). Pengaruh Deposito Mudharabah, Spread Bagi Hasil, dan

Tingkat Bagi Hasil terhadap Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil. In Accounting


Analysis Journal.

Rachmawati, W., Karim, A., & Manan, A. (2019). Optimalisasi Pembiayaan

Murabahah Berprinsip Bagi Hasil Pada Bank Syariah Di Indonesia 2010 -

2015. Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 20(2), 158.

https://doi.org/10.26623/jdsb.v20i2.1246

Riset, J., Kontemporer, A., Aprilia, S., Putra, D., Mahardika, K., & Telkom, U.

(2013). Faktor Yang Mempengaruhi Pembiayaan Mudharabah Pada Bank

Umum Syariah Di Indonesia. Accounting Analysis Journal, 2(1), 9–15.

https://doi.org/10.15294/aaj.v2i1.1178

Rivai, V., & Arifin, A. (2010). Islamic Banking. In Jakarta. PT Bumi Aksara.

https://doi.org/10.1111/j.1467-8411.1988.tb00200.x

Sagita Devi, M. (2010). Analisis Pengaruh CAR, NPF, dan DPK Terhadap

Penyaluran Pembiayaan (Studi Pada bank Muamalat Indonesia Periode

2001-2009).

Sania Asri, A., & Syaichu. (2016). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Pembiayaan Berbasis Bagi Hasil Pada Perbankan Syariah Di Indonesia

Periode 2010-2014. Diponegoro Journal of Management, 7(1), 22–38.

http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/dbr

Sari, W. W. (2017). PENGARUH DANA PIHAK KETIGA, NON PERFORMING

FINANCING, CAPITAL ADEQUACY RATIO, DAN RETURN ON

ASSETTERHADAP PEMBIAYAAN MURABAHAH PADA PERBANKAN

SYARIAH DI INDONESIA.

Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). DASAR METODOLOGI PENELITIAN.

Srihardiyanti, M., Mustafid, & Prahutama, A. (2016). Metode Regresi Data Panel
Untuk Peramalan Konsumsi Energi Di Indonesia. Metode Regresi Data

Panel Untuk Peramalan Konsumsi Energi Di Indonesia, 5(3), 475–485.

Utami, D. S., & Sirine, H. (2016). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Perilaku.

Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 19(1), 27–52.

Wardiantika, L., & Kusumaningtias, R. (2014). Pengaruh Dpk, Car, Npf, Dan

Swbi Terhadap Pembiayaan Murabahah Pada Bank Umum Syariah Tahun

2008-2012. Ifstin Jurnal Ilmu Manajemen (JIM), 2(4), 1550–1561.

http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jim/article/view/11151

Anda mungkin juga menyukai