0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan14 halaman

Asuhan Keperawatan Filariasis dan Larva Migrans

Dokumen tersebut membahas dua penyakit tropis infeksi parasit, yaitu filariasis dan cutaneous larva migrans. Filariasis disebabkan oleh cacing filaria dan menyebabkan pembengkakan kelenjar limfe dan gejala klinis seperti demam dan bengkak pada anggota tubuh. Cutaneous larva migrans disebabkan oleh invasi larva cacing tambang anjing dan kucing di bawah kulit manusia yang menimbulkan erupsi kulit berupa garis. Kedua penyakit

Diunggah oleh

Charisma Ari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
127 tayangan14 halaman

Asuhan Keperawatan Filariasis dan Larva Migrans

Dokumen tersebut membahas dua penyakit tropis infeksi parasit, yaitu filariasis dan cutaneous larva migrans. Filariasis disebabkan oleh cacing filaria dan menyebabkan pembengkakan kelenjar limfe dan gejala klinis seperti demam dan bengkak pada anggota tubuh. Cutaneous larva migrans disebabkan oleh invasi larva cacing tambang anjing dan kucing di bawah kulit manusia yang menimbulkan erupsi kulit berupa garis. Kedua penyakit

Diunggah oleh

Charisma Ari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Charisma Ari Juliantika

NIM : 131911133020
Kelas : A2 2019
Tugas Resume Keperawatan Tropik Infeksi TM 9

Askep Penyakit Tropik Infeksi Oleh Parasit:


Filariasis dan Cutaneous Larva Migrans

A. Filariasis
1. Definisi
Filariasis atau penyakit kaki gajah ialah penyakit yang disebabkan oleh cacing
filaria (microfilaria) yang dapat menular dengan perantara nyamuk sebagai vektor.
Filariasis merupakan penyakit menular yang dapat. Menyerang kelenjar dan saluran getah
bening. Penyakit ini dapat merusak limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan,
kaki, glandula mammae, dan scrotum. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila
tidak dilakukan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki,
lengan, dan alat kelamin, baik perempuan ataupun laki-laki.
2. Etiologi
Filariasis disebabkan oleh tiga spesies cacing filaria yakni Wucheria brancofti,
Brugia malayi, dan Brugia timori. Saat ini diketahui bahwa terdapat 23 spesies nyamuk
dari genus Anopheles, Culex, Monsonia, dan Armigeres yang dapat berperan sebagai
vektor filariasis. Namun vektor utama ialah Anopheles farauti dan Anopheles punctulatus.
3. Patofisiologi
Parasit infektif yang masuk ke tubuh manusia akan bermigrasi ke saluran limfe
regional, berkembang biak, dan menginisiasi reaksi inflamasi. Reaksi inflamasi lama-
kelamaan akan menyebabkan penyumbatan dan edema pada kelenjar limfe. Penyumbatan
ini dapat terjadi secara parsial atau komplit. Penyumbatan diperparah oleh penggumpalan
cacing-cacing dewasa yang mati dan reaksi inflamasi yang mengikutinya. Hal ini
menyebabkan stasis aliran limfatik sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi
sekunder bakteri atau jamur. Pada kejadian kronis, akan terjadi penyumbatan permanen
saluran limfatik dan limfedema yang menyebabkan timbulnya gejala kaki gajah
4. Manifestasi Klinis
a. Demam berukang selama 3-5 hari
b. Demam dapat hilang bila beristirahat dan timbul lagi setelah bekerja berat.

1
c. Pembengkakan KGB (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak yang tampang
kemerahan, panas, dan sakit
d. Radang saluran KGB yang terasa panas menjalar dari pangkal ke ujung kaki atau
lengan
e. Abses filarial akibat seringnya pembengkakan KGB, dapat pecah dan mengeluarkan
nanah serta darah
f. Pembesaran tungkai, lengan, payudara, skrotum yang terlihat kemerahan dan panas
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Diagnosis klinik, ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Pada
keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis
adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala
menahun.
b. Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada
pemeriksaan darah kapiler jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang
hari, 30 menit setelah diberi DEC 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat
ditentukan species cacing filaria.
c. Radiodiagnosis, pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar
limfe inguinal penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak
(filarial dance sign). Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau
albumin yang dilabeli dengan radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas
sistem limfatik, sekalipun pada penderita yang mikrofilaremia asimtomatik.
6. Penatalaksanaan Medis
a. Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis
POPM filariasis bertujuan untuk mengeliminasi filariasis dengan mencegah penularan
dari penderita kepada calon penderita filariasis. Obat yang digunakan berdasarkan
WHO adalah diethylcarbamazine (DEC) ditambah albendazole, diberikan dosis
tunggal sekali setahun selama 5 tahun berturut-turut di daerah endemis filariasis. DEC
memiliki efek membunuh mikrofilaria, sedangkan albendazole dipakai untuk
membunuh filarial dewasa. Dosis DEC 6 mg/kgBB dan dosis albendazole 400 mg,
keduanya diberikan sebagai dosis tunggal sekali setahun selama 5 tahun berturut-
turut.
b. Penanganan Filariasis

2
Terapi filariasis limfatik dapat diberikan DEC 6 mg/kgBB selama 12 hari, atau
doksisiklin (200mg/hari) selama 6 minggu. Anjuran lain adalah Doksisiklin 200
mg/hari selama 23 hari dilanjutkan dengan doksisiklin dan albendazole selama 7 hari.
7. Pencegahan
a. Hindari gigitan nyamuk dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal
b. Kenakan pakaian yang tertutup ketika melakukan aktivitas pada daerah endemik atau
luar ruangan yang berisiko terpapar gigitan nyamuk
c. Rajin mengoleskan lotion nyamuk
d. Penggunaan kelambu saat tidur juga dapat menghindarkan kamu dari risiko gigitan
nyamuk
e. Bersihkan genangan air atau pot-pot yang berpotensi menjadi sarang nyamuk agar
terhindar dari penyakit kaki gajah.

B. Asuhan Keperawatan Filariasis


1. Pengkajian
1) Riwayat kesehatan : Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat
kelainan imun. Cacing filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk infektif
yang mengandung larva stadium III. Gejala yang timbul berupa demam berulang-ulang 3-
5 hari, demam ini dapat hilang pada saatistirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat.
2) Pemeriksaan Fisik
f. Aktifitas / Istirahat : Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktivitas
( Perubahan TD, frekuensi jantung)
g. Sirkulasi : Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan pengisian
kapiler.
h. Integritas dan Ego : Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan
penampilan, putus asa, dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah.
i. Integumen : Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.
j. Makanan / Cairan : Anoreksia, permeabilitas cairan
Tanda : Turgor kulit buruk, edema.
k. Hygiene : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

3
l. Neurosensoris : Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba,
kelemahan otot.
Tanda : Ansietas, refleks tidak normal.
m. Nyeri / Kenyamanan : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala.
Tanda : Bengkak, penurunan rentang gerak.
n. Keamanan : Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun, demam
berulang, berkeringat malam
Tanda : Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.
o. Seksualitas : Menurunnya libido, tanda : Pembengkakan daerah skrotalis
p. Interaksi Sosial : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.
Tanda : Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.
3) Pemeriksaan diagnostik
Menggunakan sediaan darah malam, diagnosis praktis juga dapat menggunakan ELISA
dan rapid test dengan teknik imunokromatografik assay. Jika pasien sudah terdeteksi kuat
telah mengalamifilariasis limfatik, penggunaan USG Doppler diperlukan untuk
mendeteksi pengerakan cacing dewasa di tali sperma pria atau kelenjer mamae wanita.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening
b. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe
c. Defisit pengetahuan berhubungan inefektif informasi
d. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh
e. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit
f. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik
3. Rencana Intervensi
a. Hipertermia : Berikan kompres hangat daerah frontalis dan aksial, Monitor vital sign,
terutama suhu, Pantau suhu lingkungan dan modifikasi lingkungan, Anjurkan banyak
minum air, Anjurkan memakai pakain tipis yang menyerap keringat
b. Nyeri : Atur posisi yang nyaman, ajarkan teknik relaksasi, observasi nyeri, alihkan
perhatian dari nyeri, kolaborasi analgesik
c. Defisit pengetahuan : Kaji pemahaman akan penyakit, berikan klien informasi dan
perbaiki kesalahannya, nasihati klien untuk jaga personal hygiene dan lingkungan
d. Gangguan mobilitas fisik : Lakukan rentang gerak sendiri, tingkatkan tirah
baring/duduk, berikan lingkungan tenang, tingkatkan aktivitas sesuai toleransi

4
e. Gangguan integritas kulit : Ubah posisi klien sesering mungkin, gunakan pelindung
kaki atau bantalan busa/air, periksa permukaan kulit yang bengkak secara rutin,
anjurkan melakukan rentang gerak

5
C. Cutaneous Larva Migrans (CLM)
1. Definisi
Cutaneous larva migrans (CLM) merupakan suatu penyakit kelainan kulit yang
merupakan peradangan berbentuk linear atau berkelok-kelok, menimbul dan progresif,
disebabkan oleh invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing. Larva
cacing beredar di bawah kulit manusia, yang ditandai dengan adanya erupsi kulit berupa
garis papula kemerahan.
2. Etiologi
Penyebab utama dari HrCLM adalah larva cacing tambang dari kucing dan anjing
(Ancylostoma braziliense, Ancylostoma caninum, dan Ancylostoma ceylanicum).
Penyebab lain yang juga memungkinkan, yaitu larva Uncinaria stenocephala dan
Bunostomum pphlebotomum
3. Patofisiologi
Manusia terinfeksi oleh larva Ancylostoma caninum atau Ancylostoma brasiliense
melalui kontak kulit dengan tanah dan pasir yang terkontaminasi. Selanjutnya larva
migrasi melalui jaringan subkutan membentuk terowongan yang menjalar dari satu
tempat ke tempat lainnya. Lesi yang ditimbulkan erithematous, elevasi dan vesicular. Lesi
ini sangat gatal, setelah 2-3 hari larva akan membentuk terowongan di bawah kulit dalam
jaring germinativum. Pergerakan larva di bawah kulit berkisar 2-3 mm per hari. Kulit
dibagian atasnya biasanya mengering dan keras dan terasa gatal sehingga dapat
menyebabkan infeksi sekunder akibat garukan. Larva ini tidak dapat menembus kulit di
bawah epidermis dari manusia sehingga larva tersebut tidak dapat melanjutkan
perkembangan siklus hidupnya, akibatnya selamanya larva ini terjebak di jaringan kulit
manusia penderita hingga masa hidup dari cacing ini berakhir. Komplikasi berupa
erythema multiformis.
4. Manifestasi Klinis
Pada saat larva masuk ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas di tempat
larva melakukan penetrasi. Rasa gatal yang timbul terutama terasa pada malam hari.
Mula-mula akan timbul papul, kemudian diikuti bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk
linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan berwarna
kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut
telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. Selanjutnya, papul merah ini menjalar
seperti benang berkelok-kelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul, dan membentuk
terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa sentimeter.

6
Lesi tidak hanya berada di tempat penetrasi. Hal ini disebabkan larva dapat
bergerak secara bebas sepanjang waktu. Umumnya, lesi berpindah ataupun bertambah
beberapa milimeter sampai sentimeter perhari dengan lebar sekitar 3 milimeter. Pada
HrCLM, dapat dijumpai lesi multipel, tergantung pada tingkat keparahan infeksi.
5. Penatalaksanaan
CLM termasuk ke dalam golongan self-limiting disease. Pada akhirnya, larva akan
mati di epidermis setelah beberapa minggu atau bulan. Hal ini disebabkan karena larva
tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada manusia. Lesi tanpa komplikasi yang
tidak diobati akan sembuh dalam 4-8 minggu, tetapi pengobatan farmakologi dapat
memperpendek perjalanan penyakit.
Ivermektin merupakan derivat sintetik dari kelas antiparasit avermectins. Dosis
tunggal ivermektin oral (200 µg/kg berat badan) dapat ditoleransi dengan baik,
membunuh larva secara efektif dan menghilangkan rasa gatal dengan cepat.
Albendazol, suatu obat anti parasit generasi ketiga, juga efektif dan dapat ditoleransi
dengan baik. Albendazol oral dalam dosis optimal, yaitu 400-800 mg setiap hari yang
diberikan selama 3 hari.
Tiabendazol (50 mg per kg berat badan selama 2-4 hari) Namun, penggunaan
tiabendazol secara oral sering menimbulkan efek samping berupa pusing, mual muntah,
dan kram usus. Karena penggunaan ivermektin dan albendazol secara oral menunjukkan
hasil yang baik, penggunaan tiabendazol secara oral tidak direkomendasikan.
Pemberian salep albendazol 10-15% secara topikal sebanyak dua sampai tiga kali
per hari yang diberikan selama 10 hari terbukti aman dan efektif dalam mengobati
HrCLM
6. Pencegahan
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian HrCLM, antara lain:
a. Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung dengan tanah atau pasir yang
terkontaminasi
b. Saat menjemur, pastikan handuk atau pakaian tidak menyentuh tanah10
c. Melakukan pengobatan secara teratur terhadap anjing dan kucing dengan anti
helmintik
d. Hewan dilarang untuk berada di wilayah pantai ataupun taman bermain
e. Menutup lubang-lubang pasir dengan plastik dan mencegah binatang untuk defekasi
di lubang tersebut
f. Menggunakan alas kaki saat berjalan di pantai

7
g. Menggunakan kursi atau matras saat berjemur
h. Berbaring di pasir yang tersapu gelombang air lebih baik daripada berbaring di pasir
yang kering

D. ASUHAN KEPERAWATAN CLM


1. Pengkajian
a. Data Demografi ( identitas klien, usia, jenis kelamin, pekerjaan, agama, status, dan
kebangsaan).
 Lingkungan sekitar dengan tanah yang terkontaminasi cacing tambang.
 Daerah daerah tropical dan subtropical dengan iklim hangat.
b. Keluhan utama :
 Keluhan utama yang sering timbul pada klien creeping eruption yaitu gatal gatal
ada betol – bentol merah diberi salep kemudian menjalar memanjang.
c. Riwayat Kesehatan : mengalami kulit gatal panas, bentol bentol, lesi berbentuk linear
atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2-3 mm, dan berwarna kemerahan.
d. Pemeriksaan fisik
1. Kepala/rambut : kesimetrisan, lesi, kebersihan rambut, warna rambut, masa pada
daerah kepala
2. Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, kemampuan penglihatan
baik, lensa mata tidak keruh, dan tatapan terlihat lemah dan sayu.
3. Leher : terlihat simetris, tidak ada masa, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid,
tidak terdapat distensi vena jugularis
4. Thorax : Tidak ada tanda kelainan pada thoraks terlihat simetris, pola pernafasan
eupnea (normal), bunyi jantung S1-S2 tunggal regular
5. Mulut : Bentuk simetris, mukosa bibir lembab, bibir tidak sianosis, lidah bersih,
tidak terdapat caries gigi, dan dapat berkomunikasi dengan baik
6. Abdomen
Inspeksi: Bentuk atau kesimetrisan abdomen, benjolan abnormal, terdapat lesi
atau tidak.
Palpasi: Adanya lesi pada kulit terasa menojol dan mejalar umumnya tidak ada.
Kulit : Terdapat lesi memanjang atau menjalar, terasa gatal panas berwarna
merah.
7. Genital

8
Inspeksi: Klien biasanya normal tidak mengalami masalah pada.
Palpasi: Tidak mengalami pembesaran prostat dan tidak ada nyeri tekkan diaerah
perineum (selangkangan).
e. Riwayat psikososial : Respon emosional klien biasanya akan cemas, gelisah dan tidak
nyaman. Respon emosi akan ada perubahan masalah pada gambaran diri dan takut
penyakit tidak dapat disembuhkan.
f. Pola eliminasi : umunya normal, tanyakan apakah mengalami kesulitan berkemih.
g. Pola tidur dan istirahat : Perasaan sulit tidur karena kurang nyaman, setiap malam hari
rasa gatal lebih meningkat.
h. Pola Nutrisi : Napsu makan menurun, sehingga status gizi dapat berubah ringan
sampai buruk.
i. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan histopatologi biopsi kulit : ditemukan larva bagian tepi lesi yang masih
baru.
2. Diagnosa keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan factor mekanik
b. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala terkait penyakit
3. Rencana Intervensi
a. Gangguan integritas kulit : Observasi kulit pasien, berikan obat topikal pada kulit,
monitor efek samping, dokumentasi respon
b. Gangguan rasa nyaman
 Manajemen nyeri : Pengkajian nyeri komprehensif, kendalikan faktor lingkungan,
kolaborasi pemberian analgesik
 Manajemen pengobatan : tentukan obat sesuai resep, menentukan kemampuan
klien dalam mengobati diri, monitof keefektifan obat, ajarkan cara pemberian obat

9
E. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Filariasis Dengan Masalah Keperawatan
Hipervolemia
1. Pengkajian
a. Identitas pasien
b. Riwayat kesehatan : Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat
kelainan imun. Cacing filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk
infektif yang mengandung larva stadium III. Gejala yang timbul berupa demam
berulang-ulang 3-5 hari, demam ini dapat hilang pada saatistirahat dan muncul lagi
setelah bekerja berat.
c. Pemeriksaan Fisik
1) Pernapasan : dispnea pada kerja atau istirahat, batuk kering, distress pernapasan
2) Sirkulasi : Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan
pengisian kapiler, sianosis wajah dan leher, takikardia, disaritmia, ikterus sklera
dan ikterik umum (berkaitan dengan kerusakan hati dan obstruksi duktus oleh
pembesaran nodus limfe), pucat, diaforesis, keringat malam
3) Integumen : Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.
4) Makanan / Cairan : Anoreksia, permeabilitas cairan, perubahan karakteristik
urine dan/atau feses, penurunan haluaran urine, ruine gelap/pekat, anuria
Tanda : Turgor kulit buruk, edema, penurunan BB, pembengkakan wajah, leher,
rahang, tangan, edema, asites
5) Hygiene : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
6) Neurosensoris : Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba,
kelemahan otot.
Tanda : Ansietas, refleks tidak normal.
7) Nyeri / Kenyamanan : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala.
Tanda : Bengkak, penurunan rentang gerak.
8) Aktifitas / Istirahat : Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur,
kelelahan, kelemahan, malaise umum
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktivitas
( Perubahan TD, frekuensi jantung), kebutuhan istirahat dan tidur lebih banyak
9) Keamanan : Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun,
demam berulang, berkeringat malam
Tanda : Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.

10
10) Integritas dan Ego : Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan
penampilan, putus asa, dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah.
11) Seksualitas : Menurunnya libido, tanda : Pembengkakan daerah skrotalis
12) Interaksi Sosial : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.
Tanda : Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.
d. Pemeriksaan diagnostic
Menggunakan sediaan darah malam, diagnosis praktis juga dapat
menggunakan ELISA dan rapid test dengan teknik imunokromatografik assay. Jika
pasien sudah terdeteksi kuat telah mengalamifilariasis limfatik, penggunaan USG
Doppler diperlukan untuk mendeteksi pengerakan cacing dewasa di tali sperma pria
atau kelenjer mamae wanita.

2. Diagnosis Keperawatan
(D.0022) Hipervolemia b.d gangguan mekanisme regulasi d.d dispnea, edema, BB
meningkat dalam waku singkat, oliguria, turgor buruk, asupan makan menurun, TD
meningkat

11
3. Rencana Keperawatan

Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional


Keperawatan Kriteria Hasil
Hipervolemia b.d Setelah dilakukan Manajemen Cairan Manajemen Cairan
gangguan mekanisme intervensi 3x24 jam, Observasi Observasi
regulasi d.d dispnea, keseimbangan cairan 1. Monitor status hidrasi (frekuensi 1. Mengevaluasi status cairan pasien
edema, BB meningkat meningkat nadi, turgor, TD) 2. Perubahan BB menunjukkan keparahan
dalam waku singkat, Dengan kriteria hasil 2. Monitor BB dan edema pasien
oliguria, turgor buruk, - Edema menurun Terapeutik 3. Menjaga keseimbangan cairan pasien
asupan makan - TD membaik (90- 3. Catat intake-output 4. Menunjang kebutuhan cairan pasien
menurun, TD 110 /80-100 mmHg) 4. Beri asupan cairan sesuai
meningkat - Turgor membaik kebutuhan
- BB membaik
- Asupan makanan
Manajemen Medikasi Manajemen Medikasi
meningkat
Observasi
- Haluaran urine Observasi
meningkat 1. Identifikasi penggunaan obat 1. Obat dapat mengurangi pembengkakan
sesuai resep kelenjar limfa

2. Identifikasi masa kadaluwarsa 2. Obat yang dikonsumsi pasien aman


obat 3. Mengetahui apakah dampak obat pada

3. Monitor efek samping obat pasien sehingga untuk mengambil


intervensi selanjutnya apakah perlu
12
4. Monitor tanda gejala keracunan penggantian jenis obat
obat 4. Cepat dilakukan tatalaksana selanjutnya
5. Monitor kepatuhan minum obat 5. Minum obat dengan rajin membuat proses
Terapeutik perawatan menjadi lebih efektif
6. Sediakan informasi pengobatan 6. Pasien mudah memahami dan mengingat
secara visual dan tertulis proses pengobatan
Edukasi 7. Pasien dapat menggunakan obat secara
7. Ajarkan pasien cara mengelola mandiri
obat 8. Pasien atau keluarga bisa mengambil
8. Anjurkan menghubungi petugas tindakan saat terjadi efek samping
kesehatan bila terjadi efek
samping

13
Daftar Pustaka

Anindita dan Hanna Mutiara. 2016. Filariasis: Pencegahan Terkait Faktor Risiko. Majority
Volume 5, Nomor 3, 1-16.
Maxfield L and Crane JS. 2021. Cutaneous Larva Migrans. In: StatPearls [Internet]. Treasure
Island (FL): StatPearls Publishing.
Masrizal. 2013. Penyakit Filariasis. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 7, No.1, 32-38.
Nareswari, Shinta. 2015. Cutaneous Larva Migrans yang Disebabkan Cacing Tambang. JuKe
Unila 5(9), 129-133.
Tan, S. T., Firmansyah, Y., & Pratiwi, Y. I. (2021). CASE REPORT: INNOVATIVE
TREATMENT OF CUTANEOUS LARVA MIGRANS MANAGEMENT. Jurnal
Medika Hutama, 2, 863-868.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta:
DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP
PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP
PPNI.

14

Anda mungkin juga menyukai