Anda di halaman 1dari 14

“PSAK 73 SEWA”

(Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Standar Akuntasi Keuangan )


Dosen : Dr.Ramdany,SE, AK, M.Ak, CA, CPA, CRA, CRP

Disusun oleh :

1. Alferia Nur (19035011


2. Dwi Pratiwi (1903501184)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
Jl. Minangkabau 60 – Manggarai, Jakarta Selatan 12970
Telp. (021) 8354683
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena
dengan rahmat dan hidayahnya kami sebagai penyusun dapat menyelesaikan
makalah Standar Akuntansi Keuangan dan memberikan ilmu kapada para
pembaca.

Dengan disusunnya makalah ini kami mengharapkan bahwa apa yang


kami sampaikan kepada para pembaca dapat diterima dengan baik dan juga
bisa terus disampaikan kepada orang lain, tidak lupa kami juga berterima kasih
kepada para teman teman yang sudah membentu kami dalam penyusunan
makalah, dan kami sangat berterima kasih yang sebesar bersarnya kepada
dosen mata kuliah Standar Akuntansi Keuangan, Bapak Dr.Ramdany,SE, AK,
M.Ak, CA, CPA, CRA, CRP yang telah menuntun kita hingga terususnnya
makalah ini dengan baik,

Kita sebelumnya meminta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan


atau pembahasan materi, kritik dan saran pembaca sangat kami harapakan,
yang nantinya akan membangun kami menjadi lebih baik lagi dalam penulisan
makalah

Jakarta, 19 Desember 2022

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG..................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH..............................................................................1
1.3 TUJUAN PENULISAN..............................................................................2
BAB II.....................................................................................................................3
PEMBAHASAN.....................................................................................................3
2.1 Pengertian Ekonomi Islam.....................................................................3
2.2 Persoalan Pokok Ekonomi Islam...........................................................6
2.3 Prinsip Pokok Ekonomi Islam..............................................................10
2.4 Karakteristik Ekonomi Islam...............................................................15
2.5 Ruang Lingkup Mikro Islam................................................................15
2.6 Arti Penting Metodologi Ekonomi.......................................................16
2.7 Memahami Metodologi Ajaran Islam.................................................16
2.8 Metodologi Ekonomi Islam...................................................................16
BAB III..................................................................................................................18
KESIMPULAN.....................................................................................................18
Daftar Pustaka......................................................................................................19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada tanggal 18 September 2017, Dewan Standar Akuntansi Keuangan
Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) telah mengesahkan Draf Eksposur (DE)
PSAK 73: Sewa menjadi PSAK 73: Sewa. PSAK 73 mengadopsi IFRS 16
Leases yang berlaku efektif per 1 Januari 2019. Pada prinsipnya, tidak terdapat
perubahan yang signifikan antara DE (Draft Eksposur) PSAK 73 dan PSAK
73, kecuali penambahan paragraf DK11–DK16 dalam Dasar Kesimpulan
PSAK 73 yang mengakomodasi tanggapan DSAK IAI atas beberapa masukan
dan komentar dari publik.

PSAK 73 yang merupakan adopsi dari IFRS 16 mengatur tentang sewa.


PSAK ini akan menggantikan beberapa standar; diantaranya PSAK 30 tentang
Sewa, ISAK 23 tentang Sewa Operasi, dan ISAK 25 tentang Hak atas Tanah.

Standar baru ini akan mengubah secara substansial pembukuan


transaksi sewa dari sisi penyewa (lessee). Ringkasnya, berdasarkan PSAK 73,
korporasi penyewa mesti membukukan hampir semua transaksi sewanya
sebagai sewa finansial (financial lease). Pembukuan sewa operasi (operating
lease) hanya boleh dilakukan atas transaksi sewa yang memenuhi dua syarat:
berjangka pendek (di bawah 12 bulan) dan bernilai rendah. Yang masuk
kategori ini misalnya sewa ponsel, laptop, dan sejenisnya.

Konsekuensi sewa finansial cukup panjang. Yang paling mendasar,


kini, perusahaan harus mencatatkan aset (sewa) dan kewajiban (sewa) di dalam
neraca. <Jadi, transaksi sewa yang tadinya bisa off balance sheet sekarang
menjadi on balance sheet,= terang Djohan. Harap dicatat, pencatatan ini bisa
mempengaruhi rasio utang, rasio pengembalian aset, dan masih banyak lagi.
Rosita memprediksi, PSAK 73 juga berdampak luas karena hampir semua
perusahaan memiliki transaksi sewa dan mayoritas masih mencatatkan sebagai
sewa operasi. Ia juga menilai, penerapan PSAK 73 dalam laporan keuangan
akan merefleksikan kondisi yang sebenarnya suatu perusahaan.

Dengan demikian, standar ini akan menghasilkan informasi keuangan


yang tepat sehingga meningkatkan kualitas keputusan manajemen.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep PSAK 73 tentang sewa?
2. Apa itu sewa dan apa saja klasifikasinya?
3. Bagaimana pengakuan akuntansi untuk penyewa (lessee) dan pesewa
(lessor) ?
4. Bagaimana pengakuan transaksi jual dan sewa balik ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan ditulis dan disusunnya makalah ini sebgai berikut:

1. Memenuhi tugas mata kuliah Standar Akuntansi Keuangan


2. Guna memperdalam pembahasan–pembahasan yang telah diberikan oleh
dosen, baik melalui metode face to face maupun rangkuman pembahasan
materi yang telah dibuat melalui SAP.
3. Menambah wawasan untuk kami pribadi dan para pembaca
4. Dapat dijadikan salah satu sumber informasi dan acuan dalam pengerjaan
tugas–tugas sekolah maupun perkuliahan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PSAK 73 : Sewa


Pernyataan Standar Akuntnsi keuangan 73 (PSAK 73) sewa menetapkan
prinsip pengakuan, pengkuran, penyajian, dan pengungkapan sewa. Tujunnya
adalah untuk memastikan bahwa penyewa dan pesewa menyediakan informasi
yang relevan yang mempresentasikan dengan tepat transaksi tersebut.
Sewa ditetapkan untuk berlaku efektif per 1 Januari 2020, dengan opsi
penerapan dini diperkenankan untuk entitas yang juga telah menerapkan PSAK
72: Pendapatan dari Kontrak dengan Pelanggan pada atau sebelum tanggal
penerapan awal PSAK 73.
a) PSAK 73: Sewa akan menggantikan:
b) PSAK 30: Sewa;
c) ISAK 8: Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa;
d) ISAK 23: Sewa Operasi – Insentif;
e) ISAK 24: Evaluasi Substansi Beberapa Transaksi yang Melibatkan Suatu
Bentuk Legal Sewa; dan
f) ISAK 25: Hak atas Tanah.
Sewa Penyewaan merupakan aktivitas penting untuk banyak entitas.
Penyewaan merupakan cara untuk mendapatkan akses atas aset, memperoleh
pembiayaan, dan mengurangi eksposur entitas terhadap risiko kepemilikan
aset. Prevalensi penyewaan ini berarti bahwa penting bagi pengguna laporan
keuangan untuk memperoleh gambaran yang lengkap dan terpahami mengenai
aktivitas penyewaan yang dilakukan entitas. Model akuntansi sewa sebelumnya
mensyaratkan penyewa dan pesewa untuk mengklasifikasikan sewanya sebagai
sewa pembiayaan atau sewa operasi dan mencatat kedua jenis sewa tersebut
secara berbeda. Model tersebut dikritisi tidak mampu memenuhi kebutuhan
pengguna laporan keuangan karena tidak selalu memberikan representasi yang
tepat atas transaksi penyewaan. Khususnya, model tersebut tidak mensyaratkan
penyewa untuk mengakui aset dan liabilitas yang timbul dari sewa operasi.

2.1.1 Ruang Lingkup PSAK 73


PSAK 73 mengatur seluruh sewa termasuk sewa aset hak-guna dalam
subsewa masuk kedalam lingkup PSAK 73 sendiri, kecuali :

3
a. Sewa dalam rangka eksplorasi atau penambangan mineral, minyak, gas
alam, dan sumber daya serupa yang tidak dapat diperbaharui, (PSAK 64)
b. Sewa aset biologis (PSAK 69)
c. Perjanjian konsesi jasa (ISAK 16)
d. Lisensi kekayaan intelektual (PSAK 72)
e. Hak yang dimiliki oleh penyewa dalam perjanjian lisensi (PSAK 19)
untuk item seperti contoh film, rekaman video, hak paten, dan hak cipta.

2.1.2 Pengecualian Pengakuan


Penyewa dapat memilih untuk tidak menerapkan persyaratan dalam
paragraf 29 s.d. 49 untuk :
a. Sewa jangka pendek (kurang lebih atau sama dengan 12 bulan dan tidak
mengandung opsi beli)
b. Pemilihan sewa jangka pendek sendiri dibuat berdasarkan kelas asset
pendasar yang terkait dengan hak guna. Kelas asset pendasar merupakan
suatu pengelompokan dari asset pendasar yang memiliki sifat dan
penggunaan yang serupa dengan suatu operasi entitas. Pemilihan untuk
sewa yang asset pendasarnya bernilai rendah dapat dilakukan atas dasar
adanya sewa-per-sewa.
c. Sewa yang asset pendasarnya bernilai rendah dengan (kurang dari atau
sama dengan 5000 USD):
1. Tidak memiliki ketergantungan atau interalasi dengan aset lain
rendah.
2. Bernilai rendah secara absolut, tanpa memperhatikan materialitas.
3. Ketika aset baru bernilai material, maka penilaian dari aset baru.
4. Jika aset disubsewakan maka tidak memenuhi aset bernilai
rendah.Contoh : Laptop dan Furniture.
Jika menerapkan opsi pengecualian, maka beban sewa diakui sebagai
beban baik dengan straight-line method ataupun dengan metode-metode yang
lainnya selama itu merepresentasikan pola manfaat penyewa.
Entitas biasanya akan mempertimbangkan sebagai sewa baru jika
terdapat modifikasi sewa ataupun juga jika adanya perubahan dalam masa
sewa.

2.1.3 Klasifikasi Sewa


Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan kepada lessee
hak untuk menggunakan suatu asset selama periode waktu yang disepakati.
Sebagai imbalannya, lessee melakukan pembayaran atau serangkaian
pembayaran kepada lessor. Sewa diklasifikasikan atas :

a. Sewa operasi / operating lease

4
1. Sewa jangka pendek

2. Alat dapat digunakan oleh penyewa namun aset tetap dimiliki oleh
pihak yang menyewakan (tidak terjadi pengalihan kepemilikan aset
di akhir masa sewa)

3. Asset tidak boleh diubah (dimodifikasi)

4. Penyajian dalam laporan keuangan :

a) Diakui dan disajikan sebagai beban sewa dalam laporan laba


rugi komprehensif.
b) Tidak ada pencatatan aset, utang dan beban depresiasi (off
balance sheet) sehingga dapat meningkatkan beberapa risiko
keuangan (efisiensi dan leverage)
b. Sewa pembiayaan / financial lease
1. Merupakan bentuk pendanaan jangka panjang
2. Dapat mengalihkan kepemilikan aset kepada pihak lessee pada akhir
masa sewa
3. lessee memiliki opsi untuk membeli asset
4. asset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat
menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material
5. Pengakuan :
a) Pencatatan aset dan amortisasi oleh lessee
b) Pencatatan utang dan beban bunga atas kontrak pembayaran
jangka Panjang
c) Lessor tidak lagi mengakui asset
d) Piutang dan pendapatan bunga akan diakui oleh Lessor
Namun, pada PSAK 73, semua lease diperlakukan sebagai financial
lease kecuali sewa yang kurang dari 1 tahun atau yang bernilai rendah.

2.1.4 Identifikasi Sewa

Suatu kontrak merupakan, atau mengandung, sewa jika kontrak tersebut


memberikan hak untuk mengendalikan penggunaan aset identifikasian selama
suatu jangka waktu untuk dipertukarkan dengan imbalan (PP09-PP31).

5
Asset biasanya dapat diidentifikasikan :

a. Ditetapkan secara eksplisit atau secara implisit

b. Pemasok (supplier tidak memiliki hak substitusi substantive

c. Bagian kapasitas aset secara fisik dapat dibedakan

Gambar 1.1 Identifikasi Sewa


2.1.5 Masa Sewa

Entitas menentukan masa sewa sebagai periode sewa yang tidak dapat
dibatalkan, dan juga:

a. periode yang dicakup oleh opsi untuk memperpanjang sewa jika


penyewa cukup pasti untuk mengeksekusi opsi tersebut; dan

b. periode yang dicakup oleh opsi untuk menghentikan sewa jika penyewa
cukup pasti untuk tidak mengeksekusi opsi tersebut.

Sewa tidak lagi dapat dipaksakan ketika penyewa dan pesewa masing-
masing memiliki hak untuk menghentikan sewa tanpa izin dari pihak lain
dengan denda yang tidak signifikan.

6
a. Jika hanya penyewa yang memiliki hak untuk menghentikan sewa, maka
hak tersebut dipertimbangkan sebagai opsi untuk menghentikan sewa
yang tersedia untuk dipertimbangkan ketika menentukan masa sewa.

b. Jika hanya pesewa yang memiliki hak untuk menghentikan sewa, maka
periode sewa meliputi periode yang tercakup oleh opsi untuk
menghentikan sewa tersebut.

Masa sewa dimulai pada tanggal permulaan dan meliputi periode sewa
cuma-cuma yang diberikan pesewa kepada penyewa.
2.2 Pesewa
Klasifikasi : Pesewa mengklasifikasi masing-masing sewanya baik
sebagai sewa operasi atau sewa pembiayaan.
Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika mengalihkan secara
substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset
pendasar. Sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa tersebut tidak
mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait
dengan kepemilikan aset pendasar.

Apakah suatu sewa merupakan sewa pembiayaan atau sewa operasi


bergantung pada substansi transaksi daripada bentuk kontraknya. Contoh
situasi yang secara individual atau gabungan yang akan menyebabkan sewa
diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah:

a) sewa mengalihkan kepemilikan aset pendasar kepada penyewa pada


akhir masa sewa;

b) penyewa memiliki opsi untuk membeli aset pendasar pada harga yang
diperkirakan cukup rendah dari nilai wajar pada tanggal opsi tersebut
mulai dapat dieksekusi sehingga menjadi cukup pasti, pada tanggal
insepsi, bahwa opsi tersebut akan dieksekusi;

c) masa sewa adalah sebagian besar umur ekonomik dari aset pendasar
meski hak kepemilikan tidak dialihkan;

d) pada tanggal insepsi, nilai kini dari pembayaran sewa setidaknya


mencakup secara substansial seluruh nilai wajar aset pendasar; dan

e) aset pendasar bersifat khusus sehingga hanya penyewa yang dapat


menggunakannya tanpa modifikasi signifikan.

7
Indikator situasi yang secara individual atau gabungan juga dapat
menyebabkan sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah:

a) jika penyewa dapat membatalkan sewa, maka kerugian pesewa yang


terkait dengan pembatalan tersebut ditanggung oleh penyewa;

b) keuntungan atau kerugian dari fluktuasi nilai wajar residual terutang pada
penyewa (sebagai contoh, dalam bentuk potongan harga rental yang sama
dengan sebagian besar hasil penjualan pada akhir sewa); dan

c) penyewa memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa untuk periode


kedua pada harga rental yang secara substansial lebih rendah daripada
rental pasar.

2.2.1 Sewa Pembiayaan


Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang
memberikan landasan dan tu
Pengakuan dan Pengukuran
Pada tanggal permulaan, pesewa mengakui aset yang dimiliki
dalam sewa pembiayaan dalam laporan posisi keuangan dan
menyajikannya sebagai piutang pada jumlah yang sama dengan investasi
neto sewa.

2.2.2 Sdfs
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang
memberikan landasan dan tu

2.2.3 Sdsd
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang
memberikan landasan dan tu

2.2.4
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang
memberikan landasan dan tu

8
2.3 Ss
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan
landasan dan tujuannya, di satu pihak, dan aksioma-aksioma serta prinsip-
prinsipnya di lain pi

2.4 Ss\
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan
landasan dan tujuannya, di satu pihak, d

2.5 Scxs
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan
landasan dan tujuannya, di satu pi

2.6 Xss
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan
landasan dan tujuannya

2.7 Saxa
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan
landasan dan tujuannya, di satu pihak, dan aksioma-aksioma serta prinsip-
prinsipnya di \

2.8
Setiap sistem ekonomi pasti didasarkan atas ideologi yang memberikan
landasan dan tujuannya, di satu pihak, dan aksioma-aksioma serta prinsip-
prinsipnya di la

9
BAB III

KESIMPULAN

Ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku indi vidu


muslim dalam setiap aktivitas ekonomi syariahnya harus sesuai dengan
tuntunan syariat Islam dalam rangka mewujudkan dan men jaga maqashid
syariah (agama, jiwa, akal, nasab, dan harta). Pola ber pikir ekonomi
konvensional yang tanpa nilai telah menyebabkan ilmu ekonomi ini menjadi
suatu ilmu yang digunakan untuk memenuhi tuntutan nafsu manusia semata
tanpa ada aturan yang jelas, serta me legalkan terjadinya eksploitasi dalam
kegiatan ekonomi yang terjadi. Kemudian tampillah beberapa mazhab ekonomi
konvensional baru untuk memasukkan aspek-aspek normatif, sosial, dan
institusional perilaku manusia dalam model-model ekonominya. Namun semua
ini mengalami masalah karena mereka sulit untuk menemukan standar nilai
yang dapat disepakati secara luas oleh seluruh kalangan.

Para ekonom muslim perlu mengembangkan suatu ilmu yang khas yang
berlandaskan atas nilai-nilai iman dan Islam yang sejati. Rancang bangun
ekonomi Islam terdiri atas dasar (yang terdiri atas: tauhid, adil, nubuwwah,
khilafah, dan ma'ad), tiang (terdiri atas mul titype ownership, freedom to act,
dan social justice), dan terakhir ada lah atapnya yaitu akhlak .

10
Daftar Pustaka
https://www.slideshare.net/dwi_rahmamosa/ruang-lingkup-ekonomi-mikro-islam-
48924590

Agustianto.2002.Percikan Pemikiran Ekonomi Islam.Bandung:Cita Pustaka


Media dan FKEBI.

M.Nur Rinto Al Arif. Dr.Euis Amalia, 2016. Teori Mikroekonomi suatu


perbandingan islam dan ekonomi konvensional. Jakarta:kencana

11

Anda mungkin juga menyukai