Budaya Semau: Keindahan Tersembunyi
Budaya Semau: Keindahan Tersembunyi
DI SUSUN OLEH
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….
…………….i
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………………………………….…..ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG…….………………………………………..……………..………….
………1
1. 2 RUMUSAN MASALAH………………………………………………………………….
…………4
1.3
SEJARAH………………………………………………………………………………………………
….4
2
2.6
Slogan…………………………………………………………………………………………………
……8
BAB I
PENDAHULUAN
3
Kain Tenun dan sebagainya. Keragaman kebudayaan kali ini dari Pulau
Semau Pulau di Nusa Tenggara Timur. Semau adalah sebuah pulau yang
terletak di perairan sebelah barat Pulau Timor, yakni 20 kilometer di
sebelah barat Kota Kupang. Secara administratif, pulau ini terbagi dalam
2 kecamatan, yakni Semau dan Semau Selatan, Kabupaten Kupang,
Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Semau mendapatkan
julukan pulau perawan karena pulau ini masih jarang sekali dikunjungi
oleh para petualang. Namun, dengan majunya perkembangan teknologi
sekarang ini, informasi tentang Pulau Semau sudah banyak bertebaran di
dunia maya. Hal ini tentu berkaitan dengan berbagai macam foto atau
video rekaman yang dibuat oleh para petualang yang saat itu berada di
Pulau Semau, dan membagikannya di sosial media. Alhasil, impresi
positif, yang kurang lebih mengutarakan rasa penasarannya dengan
Pulau Semau, banyak dijumpai di berbagai platform sosial media.
1.2 Rumusan Masalah
Pulau Semau sebenarnya mempunyai ciri khas yang cukup mudah
terlihat, yaitu tanah yang tandus. Tanah yang tandus dan kering ini
menjadi ciri khas dari Pulau Semau. Walau begitu, di sini masih ada
beberapa lahan pertanian yang dibuka dikarenakan masih mendapat
curah hujan saat musim penghujan. Akses yang cukup sulit dan jarang ini
menjadi salah satu alasan mengapa Pulau Semau masih jarang sekali
terjamah oleh para petualang. Padahal, dari Pelabuhan Tenau di Kupang,
hanya perlu waktu perjalanan 30 menit saja untuk sampai di Pelabuhan
Rakyat di Pulau Semau. Namun, walau tergolong mempunyai perjalanan
yang singkat, Pulau Semau masih belum mendapatkan perhatian dari
para petualang. Akan tetapi juga, Pulau Semau tidak berdiam diri saja,
bro. Perlahan, beberapa spot petualangan seperti pantai di Pulau Semau,
memunculkan keindahannya di jagat dunia maya dan sosial media.
Deretan pantai di Pulau Semau memang masih jarang dikunjungi para
4
petualang, namun soal keindahan, tidak kalah dengan deretan pantai
yang ada di Pulau Dewata, Bali.
1.3 Sejarah
Semau adalah sebuah pulau yang terletak di perairan sebelah barat
Pulau Timor, yakni 20 kilometer di sebelah barat Kota Kupang. Secara
administratif, pulau ini terbagi dalam 2 kecamatan, yakni Semau dan
Semau Selatan, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur,
Indonesia. Penduduk asli pulau Semau berasal dari suku Helong, yang
dipercaya beberapa pihak sebagai penduduk asli wilayah Kupang. Pulau
ini adalah produsen kayu bakar dan arang dan juga budidaya jagung,
semangka, dan mangga. Semau juga menjadi desa wisata yang
menawarkan aktivitas snorkeling, berenang, dan olahraga air lainnya.
Suku Helong adalah salah satu penduduk asli Pulau Timor. Kebanyakan
dari mereka berdiam di Kabupaten Kupang, yaitu di Kupang Barat dan
Kupang Tengah; serta selain itu juga di Pulau Flores dan Pulau Semau.
Mata pencaharian suku ini terutama adalah berladang, berburu,
menangkap ikan, dan membuat kerajinan tradisional. Bahasa asli suku
ini disebut Bahasa Helong, yang memiliki dua dialek, yaitu dialek Helong
Semau dan dialek Helong Daratan Timur. Penutur bahasa Helong dapat
ditemukan di empat desa di pesisir barat daya wilayah Timor Barat,
serta di Pulau Semau di lepas pantai Timor Barat. Sistem kekerabatan
Suku Helong yang terkecil adalah keluarga inti, yang bergabung menjadi
keluarga luas terbatas (ngalo). Beberapa ngalo bergabung membentuk
klan (ingu) yang dipimpin seorang pemimpin klan (koka ana)
seketurunan tersebut. Dalam hal strata sosial, masyarakat Helong zaman
dahulu terbagi menjadi tiga lapisan, yaitu bangsawan (usif), orang
kebanyakan (tob), dan hamba sahaya (ata). Bahasa Helong adalah bahasa
yang digunakan suku Helong. Penuturnya terdapat antara lain di 4 desa
5
di ujung barat pulau Timor dekat pelabuhan Tenau, kota Kupang hingga
wilayah Amarasi, dan sebagian besar desa di Pulau Semau. Bahasa
Helong terdiri atas tiga dialek, yaitu dialek Bolok yang dituturkan di
Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang dialek Kolhua
yang dituturkan di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang;
dan dialek Uitao yang dituturkan di Desa Uitao, Kecamatan Semau,
Kabupaten Kupang. Persentase perbedaan antara dialek-dialek tersebut
berkisar 51%—80%. Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek
Helong merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan di atas
81% jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa di sekitarnya, misalnya
bahasa Dawan dan Lura. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa
Austronesia. Bahasa Helong dahulu merupakan bahasa utama yang
dituturkan di wilayah kota dan kabupaten Kupang, tetapi di masa kini
bahasa ini sudah sangat jarang dituturkan di wilayah tersebut dan hanya
dituturkan di beberapa wilayah di Kecamatan Semau, Kecamatan
Kupang Barat, dan Kecamatan Maulafa. Beberapa tahun ini, banyak di
antara masyarakat Kupang yang beralih menggunakan bahasa Melayu
Kupang untuk interaksi sosial sehari-hari, sehingga banyak penutur asli
dari bahasa Helong yang lebih memilih menggunakan bahasa Melayu
Kupang dan mengajarkan bahasa Melayu Kupang ke anak-anak mereka.
Meskipun bahasa Helong sudah mulai jarang dituturkan, banyak ahli
sejarah yang meyakini bahwa para penutur bahasa Helong memiliki
pengetahuan yang cukup luas terkait sejarah masa lalu wilayah Timor
Barat, terutama terkait penyebaran budaya Suku Atoni di wilayah Timor
Barat yang disebabkan oleh dukungan Belanda terhadap suku tersebut,
sehingga budaya Atoni menghilangkan kebudayaan lain di Timor Barat
dan hanya menyisakan budaya serta tradisi Helong yang masih utuh.
6
BAB II
CIRI KHAS DAERAH
7
penggunaan metode meniru dan drill dalam memperkenalkan tari kreasi
Lingae etnis helong pada siswi minat tari kelas V SD Inpres Oetete 3
dengan menggunakan metode meniru dan dril. Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan kualitatif yang digunakan adalah
metode tindakan lapangan.Teknik pengumpulan data berupa
observasi,wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa upaya memperkenalkan tari kreasi Lingae etnis helong melalui
metode meniru dan drill pada siswi minat tari kelas V SD Inpres Oetete 3
dilakukan dalam lima kali pertemuan. Pertemuan pertama peneliti
menjelaskan gambaran tata bahasa lingae asli kepada siswi serta
melarang ragam gerak asli dan pola lantai dalam tata lingae,Pertemuan
kedua peneliti memperkenalkan ragam gerak lingae yang sudah
dikreasikan beserta pola lantainnya,pertemuan ke tiga peneliti melarang
ragam gerak lingae yang sudah dikreasikan beserta pola lantainya,
pertemuan ke empat peneliti melakukan ragam gerak ke empat dan lima
beserta pola lantainya masing-masing .pertemuan kelima penari
melakukan kembali ragam gerak 1-5 dan pola lantainya masing-masing
diiringi musik pengiring gong dan tambur. Berdasarkan hasil penelitian
di atas maka upaya memperkenalkan tari kreasi Lingae etnis melalui
metode meniru dan drill pada siswi minat tari SD inpres oetete 3
mendapatkan hasil yang cukup efektif, meskipun dalam pelaksanaannya
ada beberapa siswi yang mengalami kesulitan dalam memperagakan
ragam gerak yang diajarkan.
8
teori semiotik untuk menganalisis teks nyanyian oke’, teori weighted
scale untuk menganalisa melodi dari nyanyian oke’, dan teori dari Alan P.
Merriam untuk menganalisis fungsi nyanyian oke’. Penelitian ini
bertujuan untuk membahas fungsi, makna, dan bentuk musikal dari
nyanyian oke’. Fungsi nyanyian oke’ di masyarakat Semau sangat sesuai
dengan beberapa fungsi musik yang dikemukakan oleh Alan P. Merriam
yaitu: (1) fungsi hiburan, (2) fungsi komunikasi, (3) fungsi yang
berkaitan dengan norma sosial, (4) fungsi kesinambungan budaya, (4)
fungsi pengintegrasian masyarakat, (5)fungsi pendidikan. Makna
nyanyian oke’ berdasarkan teori semiotika yang dikemukakan oleh
Ferdinand De Saussure yaitu: (1) sebagai seruan penghormatan, (2)
sebagai tandapermintaan, (3) sebagai simbol kebersamaan, (4) sebagai
kiasan. Nyanyian oke’ sudah ada sekitar + pada abad ke-17 dan sudah
dinyanyikan serta digunakan oleh suku Helong dalam beragam upacara
adat maupun sebagai seni hiburan. Dengan kata lain, nyanyian oke
merupakan tradisi leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nyanyian oke’ pada awalnya dinyanyikan pada waktu kedukaan dan
sebagai hiburan untuk menghilangkan rasa capek ketika selesai bekerja
di kebun. Fungsi instrumen musik tradisional pada masyarakat suku
helong dibagi menjadi dua peran yaitu instrumen musik yang berperan
mengiringi tarian dan yang mengiringi nyanyian. Seni musik meliputi
gong, sasando 9 dawai, dan keong. Alat musik sasando dipakai untuk
mengiring tarian dan nyanyian li ngae, lobot, oke, ida, dan sedangkan
gong dipakai untuk tarian penyambutan tamu dan pernikahan (kearifan
lokal suku helong. Oke’ adalah bentuk seni musik yang merupakan
setengah bernyanyi dan setengah berbicara atau dalam istilah musik
disebut resitatif. Oke’ wajib dilantunkan pada waktu kedukaan,
perpisahan dengan teman atau keluarga, penyambutan tamu, dan doa.
Makna nyanyian oke’ berisi tentang pengungkapan perasaan dari setiap
9
orang yang menyanyikannya dan juga kebiasaan yang dilakukan secara
spontanitas yang telah ada dan menjadi warisan turun-temurun dari
nenek moyang suku Helong sejak dulunya (Iswanto; Riana, I Ketut ;
Simpen, I Wayan; Ola, 2018). Masyarakat Semau secara keseluruhan,
masih memegang tradisi ini hingga saat ini. Bagi mereka oke adalah
nyanyian yang mengekspresikan suasana hati si penyanyi yang
menggambarkan suasana keluarga yang berduka, kesedihan dari sahabat
dan keluarga yang akan berpisah beberapa waktu yang cukup lama,
masyarakat yang menunggu kehadiran tamu yang akan datang, dan
kekusyukan hati dari keluarga saat berdoa (Moyle, 2007). Bagi
masyarakat Semau nyanyian ini memiliki empat makna sebagai
ungkapan rasa sedih. Dikatakan sebagai ungkapan rasa sedih karena dari
lirik yang dinyanyikan mengandung kata-kata sedih, kegembiraan
menerima tamu. Dalam menyambut tamu ada rasa senang dan sukacita
dalam perjumpaan itu dengan didengar dari lirik yang dinyanyikan, dan
menjadi doa permohonan kepada Tuhan dan leluhur. Dalam doa ini kita
bisa mendengar dari setiap kata-kata yang dinyanyikan. Perpisahan
dengan teman atau keluarga. Bisa dilihat dari lirik dan kata-katanya
menceritakan tentang perpisahan. Dari keempat fungsi itu perbedaan
dari setiap fungsi itu dilihat dari lirik atau kata-kata yang dinyanyikan,
tetapi cara menyanyikan, ritme, dan tempo semuanya sama (Doja, 2014).
Dalam penyajiannya nyanyian oke diiringi oleh alat musik sasando yang
biasanya disebut oleh masyarakat Semau adalah tulu kai nala sendan
nuil beten. Nyanyikan oke’ harus dimulai dengan syair pembuka yaitu
ida da do, kemudian berlanjut ke dalam syairnya sesuai dengan keadaan,
situasi, konteks yang ada (kematian, penyambutan tamu, perpisahan,
dan doa) dan diakhiri dengan I dado I do. Berdasarkan wawancara
dengan orang Tua Adat yang adalah penduduk asli di Desa Uitiuh Tuan
mengungkapkan bahwa lirik dari nyanyian oke tersebut berbeda-beda
10
sesuai dengan situasi yang dirasakan. Mereka merasa bahwa dengan
pengungkapan seperti itu, maka ekspresi perasaan dan emosi dapat
tersalurkan. Bahasa yang digunakan dalam nyanyian oke’ adalah bahasa
asli setempat yaitu bahasa Helong. bahasa Helong termasuk dalam
kelompok bahasa timor dan rumpun bahasa ambon. Bahasa Helong ini
terbagi menjadi dua dialek yang dipakai di pulau Semau yaitu kecamatan
Semau dan kecamatan Semau Selatan dan juga yang dipakai di
kecamatan Kupang Barat yaitu Bolok, Oe Nesung, Kolhua, dan Bismarak.
Kata Helong berasal dari kata he lo. He artinya jual dan lo artinya tidak,
kata (helo) artinya tidak dijual. Namun secara umum, kata ( helo)
dipahami sebagai pengorbanan atau rela berkorban (Gadamer, 2000).
Dalam nyanyian oke’ si penyanyi harus mempunyai kemampuan dalam
berbicara, mampu memahami bahasa Helong secara baik dan benar, agar
setiap kata-kata yang disampaikan bisa dimengerti dan diterima oleh
masyarakat secara umum. Nyanyian ini memiliki makna dan peran
dalam masyarakat Semau, namun realitanya nyanyian tersebut jarang
dilestarikan karena.
11
dengan bentuk seperti pagar yang berjejer, segitiga, garis lurus dan lain
sebagainya.
12
tetap menjunjung persaudaraan dan kekeluargaan baik yang ada Helong
dan dengan mereka yang berada di tanah rantau.
Kolo ini juga mirip sekali dengan ketupat, serta dapat dinikmati dengan
aneka lauk makanan seperti daging ayam hingga daging babi.
Jagung Bose
13
Jagung bose merupakan salah satu masakan khas yang berasal dari Nusa
Tenggara Timur khususnya daerah daratan Timor. Makanan ini banyak
mengandung karbohidrat karena menggunakan jagung dan kacang-
kacangan, dan biasanya dijadikan sebagai pengganti nasi.
14
adat yang sudah lama ada. Ritual Orang Helong percaya bahwa tersebut
sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang dulu sampai sekarang Alat
Ritual Klingu (Kliung) Pola terbuat dari daun lontar. Daun lontar yang
digunakan untuk membuat alat ritual Klingu Pola ini adalah daun lontar
yang diambil dan dijemur sedikit kering kemudian daun lontar tersebut
dianyam berbentuk cowong. Masyarakat adat Helong Semau, biasanya
melakukan ritual Klingu (kliung) Pola ini untuk memanggil Para Roh
Tanaman. Ritus Klingu (Kliung) Pola dilakukan setahun sekali untuk
menyongsong musim tanam jagung. Menurut kepercayaan masyarakat
adat Helong Semau; pada saat mereka akan melakukan selubung di
musim tanam perlu melakukan ritual ini untuk memanggil pulang Parah
Roh Tanaman untuk menyuburkan bibit tanaman bibit yang ditanam
oleh para petani. Waktu upacara Klingu Pola pada saat subuh menjelang
matahari terbit. Ketika subuh menyapa, salah satu seorang yang
dipercayakan meniup Klingu Pola, lalu akan disambut oleh para peserta
ritus dengan bunyi Klingu Pola yang bersahutan-sahutan. Cara
memainkan alat ritual ini dengan cara meniup, siapa saja bisa
membunyikannya baik anak muda atau orang tua di dalam etnis Helong,"
Setelah itu pada saat musim panen, mereka juga akan melakukan ritual
Klingu Pola sebagai ucapan syukur dan terima kasih kepada Para Roh
Tanaman atas hasil panen yang sudah diberikan kepada masyarakat adat
Suku Helong, Semau.
15
Tenggara Timur (NTT) tidak hanya Labuan Bajo atau Danau Kelimutu.
Salah satu destinasi wisata yang sedang naik daun beberapa tahun
belakangan ini adalah kawasan wisata Pulau Semau. Setelah sekian
dekade berlalu, Pulau Semau kini telah menjelma menjadi salah satu
destinasi wisata andalan Kabupaten Kupang khususnya, dan Provinsi
NTT pada umumnya. Kecantikan Pulau Semau mulai dikenal. Aura
mistisnya perlahan memudar. Sebagai gantinya, orang beramai-ramai
datang ke pulau ini untuk berwisata. Meski tergolong kecil, karena hanya
memiliki luas 246.66 Km persegi, namun disana banyak tersimpan
keindahan perlahan mulai dikenal masyarakat luas dan menarik minat
wisatawan untuk datang ke pulau ini. Selain menawarkan aktivitas
snorkeling, berenang, dan olahraga air lainnya, Pulau Semau juga
menawarkan destinasi wisata menarik lainnya seperti keindahan pantai.
Pantai Otan
Pantai pertama yang menawarkan keindahan adalah Pantai Otan. Pantai
ini terletak di Desa Otan, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, NTT.
Pantai ini menawarkan hamparan pasir putih di sepanjang pantainya
serta panorama laut dengan gradasi warna biru nan cantik.
16
Pantai Otan adalah pulau yang memiliki air laut yang warnanya biru
menawan dan bersih kinclong sehingga mirip mutiara yang berkilauan
jika dilihat dari kejauhan. Dengan garis pantai yang cukup panjang,
pengunjung bisa memanfaatkan waktunya untuk berjalan dan berlari-
lari kecil di bibir pantai sembari menikmati pesona yang disuguhkan.
Pantai Liman
Pantai Liman yang terletak di Desa Uitiuh Tuan ini barangkali menjadi
salah satu kawasan wisata di Pulau Semau yang sudah cukup dikenal
dalam kancah nasional.
Inilah pantai yang masuk 3 besar destinasi wisata baru terpopuler dalam
ajang Anugerah Pesona Indonesia Awards 2020. Selain menawarkan
keindahan pasir putih dengan garis pantai yang panjang, kehadiran Bukit
Liman bibir pantai menjadi daya tarik sendiri, terutama mereka yang
17
memburu spot-spot menarik untuk diabadikan. Berbeda dengan pantai
lainnya, Pantai Liman ternyata sudah memiliki fasilitas penunjang yang
cukup lengkap. Ada Beberapa penginapan di kawasan pantai seperti 5
cottage Lebhat Victory dan Resto Batu Pallo yang dibangun Pemprov
NTT.
Pantai Uinian
Destinasi wisata di Pulau Semau selanjutnya adalah Pantai Uinian. Pantai
ini terletak di Desa Uiboa Kecamatan Semau Selatan.
Pantai ini memiliki keunikan yakni dua wajah. Satu wajahnya berupa
hamparan pasir putih dengan keindahan alam lautnya, sementara wajah
lainnya berupa deretan batu karang. Meski menghadirkan ombak yang
18
cukup keras, keberadaan pohon Sangti dan deretan pohon kelapa
menjadikan kawasan ini ramai dan hidup.
Pantai Uitiuhtuan
Pantai ini memiliki keunikan sendiri dari ketiga pantai yang sudah
dijelaskan di atas. Pantai Uitiuhtuan memiliki garis pantai yang
melengkung.
19
warga desa sudah mendapatkan air. Keunikan ini tentu saja berbeda
dengan desa-desa lain di Pulau Semau. Masih ada satu keunikan lagi dari
destinasi wisata Pantai Uitiuhtuan. Di sana, pengunjung bakal
menyaksikan deretan cangkang kerang yang tersusun rapi. Keberadaan
cangkang kerang kosong ini bukan sekedar pajangan, namun sebagai
wadah pembuatan garam dengan cara menjemur air laut yang disimpan
dalam cangkang-cangkang tersebut.
2.6 Slogan
Semau merupakan pulau yang tidak hanya memberikan keindahan
pantai Liman saja, kamu bisa menemukan berbagai macam pantai indah
dengan keindahan yang ada di sekitarnya. Pantai yang dimaksud adalah
Pantai Otan, Pantai Uinian, Pantai Uitiuhtuan, dan masih banyak lagi.
Tempat wisata ini cocok banget bagi kamu yang suka melakukan Island
Hoping dan Snorkeling. Nikmati keindahan bawah laut yang mempesona,
dimana kamu akan memiliki pengalaman paling tak terlupakan disini.
Soal harga, kamu tidak perlu khawatir karena di setiap destinasi yang
akan menjadi tujuan utama kalian memiliki harga yang terjangkau untuk
menikmati semua fasilitas yang ada, dengan tempat penginapan cukup
banyak di sekelilingnya.
20
BAB III
PENUTUP
21
4. Perbaiki Akses, Infrastruktur dan Fasilitas. Tidak ada sektor
pariwisata yang sukses tanpa ditunjang infrastruktur memadai.
Sekiranya apa yang dapat kami sampaikan, semoga menjadi acuan untuk
semangat dalam mengembangkan industri wisata yang ada di Nusa
Tenggara Timur terutama di Pulau Semau.
22