LAPORAN PENDAHULUAN GERONTIK
DENGAN ARTRITIS GOUT (ASAM URAT)
Disusun Oleh :
ANIK WAHYUNITA
2001004
PRAKTIK KLINIK KEPERAWATAN KOMUNITAS
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AN NUUR
PURWODADI
TA 2023
BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
A. KONSEP DASAR ATHRITIS GOUT (ASAM URAT)
1. Definisi Athritis gouth (asam urat)
Asam urat adalah sisa metabolisme zat purin yang berasal dari makanan yang
dikonsumsi. Purin adalah zat yang terdapat pada tiap bahan makanan yang berasal
dari makhluk hidup. Jika tubuh dalam keadaan normal asam urat akan dikeluarkan
melalui urin dan feses, namun karena ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat
maka yang terjadi adalah kadar asam urat dalm tubuh berlebih. Asam urat kemudian
terkumpul pada persendian sehingga menyebabkan rasa nyeri hingga muncul tofi
(benjolan) (Helmi, 2011).
Penyakit asam urat adalah penyakit yang di sebabkan oleh deposisi kristal
monosodium pada urat jaringan, akibat gangguan metabolisme berupa
hiperurisemia. Hiperurisemia terjadi karena peningkatan kadar asam urat diatas
normal. Pada pria dewasa kadar normal asam urat yaitu diantara 2 mg/dL sampai
batas 7,5 mg/dL sedangkan pada wanita dewasa kadar normal asam urat yaitu
diantara 2 mg/dL sampai batas 6,5 mg/dL. Gejala yang timbul di tandai dengan
keluhan nyeri persendian, gangguan linu-linu yang di akibatkan oleh penumpukan
kristal monosodium urat dalam sendi sehingga mengakibatkan nyeri sendi. Nyeri
asam urat biasanya muncul secara mendadak, seringkali menyerang pada malam
hari. Penyakit ini lebih sering menyerang laki-laki, terutama pada usia lanjut 45-59
tahun (Madoni, abri 2017).
1. Klasifikasi Asam Urat
Menurut (Unimus, 2011) klasifikasi asam urat (gout) dibagi menjadi dua yaitu :
a. Penyakit asam urat (gout) primer
Penyebabnya berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal
yang menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan
meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga diakibatkan karena kurangnya
pengeluaran asam urat dari tubuh.
b. Penyakit asam urat (gout) sekunder
Penyebabnya antara lain karena meningkatnya produksi asam urat karena
nutrisi, yaitu mengkonsumsi makanan dengan kadar purin yang tinggi.
2. Etiologi
a. Faktor Usia
Orang yang sudah lanjut usia rentan terkena penyakit. Semakin
menurunnya kekuatan fisik dan daya tubuh, usia lanjut mudah kehilangan massa
tubuhnya, termasuk tulang, otot, dan massa organ tubuh, sedangkan massa
lemak meningkatsehingga rentan terhadap serangan penyakit. Peningkatan
massa lemak dapat memicu resiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus,
hipertensi, dan penyakit degeneratif lainnya termasuk asam urat (Fajarian,
2011).
b. Faktor Genetik (Keturunan)
Salah satu faktor risiko asam urat adalah faktor genetik. Gen adalah
faktor yang menentukan pewaris sifat-sifat tertentu dari seseorang kepada
turunannya.Sebagian penderita asam urat memiliki riwayat penyakit yang sama
pada salah satu anggota keluarga. Faktor keturunan membesar jika di picu oleh
lingkungan (Noviyanti, 2015).
c. Faktor Makanan
Makanan jelas memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap
timbulnya suatu penyakit. Makanan yang mengandung purin tinggi
menyebabkan penyakit asam urat karena terjadi over produksi asam urat yang di
pecah dari purin (Noviyanti, 2015)
d. Jenis Kelamin
Pada umumnya laki-laki yang sering terserang asam urat, karena laki-laki
memiliki kadar asam urat di dalam darah yang lebih tinggi dari perempuan.
Oleh karena itu perempuan lebih jarang terserang asam urat karena adanya
hormone esterogen yang ikut membantu pembuangan asam urat lewat urin
(Noviyanti, 2015).
e. Aktivitas Fisik
Kurangnya aktifitas fisik, seperti olahraga menyebabkan resiko bagi
kesehatan. Seperti halnya tuntutan pekerjaan terkait dengan lamanya duduk
akan menyebabkan timbulnya suatu sindrom metabolik dan berujung pada
insulin yang dapat menyebabkan gangguan pada proses ekskresi asam urat.
Akibatnya kadar asam urat meningkat karena ginjal tidak dapat mengeluarkan
asam urat melalui urin (Darmawan dkk, 2016).
3. Manifestasi
Pada keadaan normal kadar urat serum pada laki-laki mulai meningkat setelah
pubertas. Pada perempuan kadar urat tidak meningkat sampai setelah menopause
karena estrogen meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal. Setelah
menopause, kadar urat serum meningkat seperti pada pria. Gout jarang ditemukan
pada perempuan. Ada prevalensi familial dalam penyakit yang mengesankan suatu
dasar genetik dari penyakit ini. Namun, ada beberapa faktor yang agaknya
mempengaruhi timbulnya penyakit ini, termasuk diet, berat badan, dan gaya hidup.
Terdapat empat stadium perjalanan klinis dari penyakit gout yaitu:
a. Stadium I
Stadium I adalah hiperuresemia asimtomatik. Nilai normal asam urat
serum pada laki-laki adalah 5,1 ± 1,0 mg/dl, dan pada perempuan adalah 4,0
± 1,0 mg/dl. Pada sebagian besar penelitian epidemiologi disebut sebagai
hiperurisemia jika kadar asam urat serum orang dewasa lebih dari 7,0 mg/dl
pada laki-laki dan lebih dari 6,0 mg/dl pada perempuan (Dianati, 2015).
Nilai-nilai ini meningkat sampai 9-10 mg/dl pada seseorang dengan gout.
Dalam tahap ini pasien tidak menunjukkan gejala-gejala selain dari
peningkatan asam urat serum. Hanya 20% dari pasien hiperuresemia
asimtomatik yang berlanjut menjadi serangan gout akut.
b. Stadium II
Stadium II adalah artritis gout akut. Pada tahap ini terjadi awitan
mendadak pembengkakan dan nyeri yang luar biasa , biasnya pada sendi ibu
jari kaki dan sendi metatarsophalangeal. Artritis bersifat monoartikular dan
menunjukkan tanda-tanda peradangan lokal. Mungkin terdapat demam dan
peningkatan jumlah leukosit. Serangan dapat dipicu oleh pembedahan,
trauma, obat-obatan, alkohol, atau stress emosional. Tahap ini biasanya
mendorong pasien untuk mencari pengobatan segera.Sendi-sendi lain dapat
terserang, termasuk sendi jari-jari tangan, dan siku. Serangan gout akut
biasanya pulih tanpa pengobatan, tetapi dapat memakan waktu 10 sampai 14
hari. Perkembangan dari serangan akut gout umunya mengikuti serangkaian
peristiwa sebagai berikut. Mula-mula terjadi hipersaturasi dari urat plasma
dan cairan tubuh.Selanjutnya diikuti oleh penimbunan di dalam dan
sekeliling sendi-sendi. Mekanisme terjadinya kristalisasi urat setelah keluar
dari serum masih belum jelas dimengerti. Serangan gout seringkali terjadi
sesudah trauma lokal atau rupture tofi (timbunan natrium urat), yang
mengakibatkan peningkatan cepat konsentrasi asam urat lokal. Tubuh
mungkin tidak dapat mengatasi peningkatan ini dengan baik, sehingga terjadi
pengendapan asam urat diluar serum. Kristalisasi dan penimbunan asam urat
akan memicu serangan gout. Kristal-kristal asam urat memicu respon
fagositik oleh leukosit, sehingga leukosit memakan kristal-kristal urat dan
memicu mekanisme respon peradangan lainnya. Respon peradangan ini
dapat dipengaruhi oleh lokasi dan banyaknya timbunan kristal asam urat.
Reaksi peradangan dapat meluas dan bertambah sendiri, akibat dari
penambahan timbunan kristal serum.
c. Stadium III
Stadium III adalah serangan gout akut (gout interkritis) adalah tahap
interkritis. Tidak terdapat gejala-gejala pada masa ini, yang dapat
berlangsung dari beberapa bulan sampai tahun. Kebanyakan orang
mengalami serangan gout berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika
tidak diobati.
d. Stadium IV
Stadium IV adalah gout kronik, dengan timbunan asam urat yang terus
bertambah dalam beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai. Peradangan
kronik akibat kristal-kristal asam urat mengakibatkan nyeri, sakit, dan kaku,
juga pembesaran dan penonjolan sendi yang bengkak. Serangan akut artritis
gout dapat terjadi dalam tahap ini. Tofi terbentuk pada masa gout kronik
akibat insolubilitas relative asam urat. Awitan dan ukuran tofi secara
proporsional mungkin berkaitan dengan kadar asam urat serum. Bursa
olecranon, tendon achilles, permukaan ekstensor lengan bawah, bursa
infrapatelar, dan heliks telinga adalah tempat- tempat yang sering dihinggapi
tofi. Secara klinis tofi ini mungkin sulit dibedakan dengan nodul reumatik.
Pada masa kini tofi jarang terlihat dan akan menghilang dengan terapi yang
tepat (Aspiani, 2014). Tofi juga dapat terjadi pada jaringan jantung dan
spinal epidural.Meskipun tofi sendiri tidak menimbulkan nyeri, tofi dapat
membatasi gerakan sendi dan menyebabkan nyeri serta deformitas sendi
yang terkena. Tofi dapat juga menekan saraf dan merusak serta mengalir
melaui kulit (LeMone, 2015). Gout dapat merusak ginjal, sehingga ekskresi
asam urat akan bertambah buruk. Kristal-kristal asam urat dapat terbentuk
dalam interstitium medulla, papilla, dan pyramid, sehingga timbul
proteinuria dan hipertensi ringan. Batu ginjal asam urat juga dapat terbentuk
sebagai sekunder dari gout. Batu biasanya berukuran kecil, bulat, dan tidak
terlihat pada pemeriksaan radiografi (Aspiani, 2014)
4. Patofisologi
Peningkatan kadar asam urat serum dapat disebabkan oleh pembentukan
berlebihan atau penurunan eksresi asam urat, ataupun keduanya. Asam urat
adalah produksi akhir metabolisme purin. Secara normal, metabolisme purin
menjadi asam urat dapat diterangkan sebagai berikut: sintesis purin
melibatkan dua jalur, yaitu jalur de novo dan jalur penghematan.
Jalur de novo melibatkan sintesis purin dan kemudian asam urat melalui
precursor nonpurin. Substrat awalnya adalah ribose-5-fosfat, yang diubah
melalui serangkaian zat antara menjadi nukleotida purin (asam inosinat, asam
guanilat, asam adenilat). Jalur ini dikendalikan oleh serangkaian mekanisme
yang kompleks, dan terdapat beberapa enzim yang mempercepat reaksi yaitu :
5- fosforibosilpirofosfat (PRPP) sintetase dan amido-fosforibosiltransferase
(amido- PRT). Terdapat suatu mekanisme inhibisi umpan balik oleh
nukleotida purin yang terbentuk, yang fungsinya untuk mencegah
pembentukan yang berlebihan.
Jalur penghematan adalah jalur pembentukan nukleotida purin melalui
basa purin bebasnya, pemecahan asam nukleat, atau asupan makanan. Jalur
ini tidak melalui zat-zat perantara seperti pada jalur de novo. Basa purin bebas
(adenine, guanine, hipoxantin) berkondensasi dengan PRPP untuk
membentuk precursor nukleotida purin dari asam urat. Reaksi ini dikatalisis
oleh dua enzim : hioxantin guanin fosforibosiltrasferase (HGPRT) dan adenin
fosforibosiltransferase (APRT).
Asam urat yang terbentuk dari hasil metabolisme purin akan difiltrasi
secara bebas oleh glomerulus dan direabsorpsi di tubulus proksimal ginjal.
Sebagian kecil asam urat yang direabsorpsi kemudian diekskresikan di nefron
distal dan dikeluarkan melalui urin.
Pada penyakit gout, terdapat gangguan keseimbangan metabolisme
(pembentukan dan ekskresi) dari asam urat tersebut, meliputi:
a. Penurunan ekskresi asam urat secara idiopatik.
b. Penurunan ekskresi asam urat sekunder, misalnya karena gagal ginjal.
c. Peningkatan produksi asam urat, misalnya disebabkan oleh tumor (yang
meningkatkan cellular turnover) atau peningkatan sintesis purin (karena
defek enzim-enzim atau mekanisme umpan balik inhibisi yang berperan).
d. Peningkatan asupan makanan yang mengandung purin.
Peningkatan produksi atau hambatan ekskresi akan meningkatkan
kada asam urat dalam tubuh. Asam urat ini merupakan suatu zat yang
kelarutannya sangat rendah sehingga cenderung membentuk kristal.
Penimbunan asam urat paling banyak terdapat di sendi dalam bentuk
kristal monosodium urat. Mekanismenya hingga saat ini masih belum
diketahui.
Asam urat merupakan produk pemecahan meabolisme purin.
Normalnya, keseimbangan terjadi antara produksi dan ekskresi, dengan
sekitar dua pertiga jumlah yang dihasilkan setiap hari dikeluarkan oleh
ginjal dan sisanya dalam feses. Kadar asam urat serum normalnya
dipertahankan antara 3,5 dan 7,0 mg/dL pada pria dan 2,8 dan 6,8 mg/dL
pada wanita. Pada tingkat yang lebih besar dari 7,0 mg/dL, serum
tersaturasi dengan urat, bentuk asam urat terionisasi. Saat peningkatan
konsentrasi , plasma menjadi supersaturasi, menciptakan risiko
pembentukan kristal monosodium urat. Sebagian besar waktu,
hiperurisemia terjadi dari ekskresi asam urat yang kurang oleh ginjal,
produksi berlebihan terjadi pada hiperurisemia pada hanya sekitar 10%
individu. Pada hiperurisemia, peningkatan kadar urat ada dalam cairan
ekstraseluler lain, termasuk cairan sinavial, dan juga pada plasma. Akan
tetapi, cairan synovial merupakan pelarut yang buruk untuk urat daripada
plasma, meningkatkan resiko untuk pembentukan kristal urat. Kristal
monosodium urat dapat terbentuk dalam cairan synovial atau dalam
membrane synovial, kartilago, atau jaringan ikat sendi lainnya. Kristal
cenderung terbentuk pada jaringan perifer tubuh, sementara itu suhu yang
lebih rendah mengurangi kelarutan asam urat. Kristal juga terbentuk di
jaringan ikat dan ginjal. Kristal ini menstimulasi dan melanjutkan proses
inflamasi, selama neutrofil berespons dengan ingesti kristal. Neutrofil
melepaskan fagolisosom, menyebabkan kerusakan jaringan, yang
menyebabkan terjadinya inflamasi terus- menerus. Pada akhirnya, proses
inflamasi merusak kartilago sendi dan tulang yang menyertai (LeMone,
2015).
Kadar asam urat dalam serum merupakan hasil keseimbangan
antara produksi dan sekresi. Dan ketika terjadi ketidakseimbangan dua
proses tersebut maka terjadi keadaan hiperurisemia, yang menimbulkan
hipersaturasi asam urat yaitu kelarutan asam urat di serum yang telah
melewati ambang batasnya, sehingga merangsang timbunan urat dalam
bentuk garamnya terutama monosodium urat diberbagai tempat/jaringan.
Menurunnya kelarutan sodium urat pada temperatur yang lebih rendah
seperti pada sendi perifer tangan dan kaki, dapat menjelaskan kenapa
kristal MSU (monosodium urat) mudah diendapkan di pada kedua tempat
tersebut (Hidayat, 2009).
5. PATHWAY
Genetik yang berkurang yang berlebihan
Gangguan metabolisme purin
Gout
Hiperurisemia dan serangan sinovitis
akut berulang-ulang
Penimbunan kristal urat monohidrat
monosodium
Penimbunan asam urat di Penimbunan kristal pada membran
korteks dan reaksi inflamasi sinovia dan tulang rawan
artikular pada ginjal
Terjadi hialinisasi dan fibrosis Erosi tulang rawan, proliferasi
pada glomerulus sinovia, & pembentukan
panus
Pielonefritis, sklerosis arteriolar, Degenerasi tulang
atau nefritis kronis rawan sendi
Terbentuk batu asam urat, gagal Terbentuk tofus serta fibrosis dan
ginjal kroni, hipertensi, & sklerosis ankilosis pada tulang
Perubahan bentuk tubuh pada
tulang & sendi
Nyeri Intoleransi Ansietas
Akut Aktivitas
Gangguan
Citra Tubuh
6. Proses Terjadinya Nyeri
Reseptor nyeri dalam tubuh adalah ujung-ujung saraf telanjang yang ditemukan
hampir pada setiap jaringan tubuh. Impuls nyeri dihantarkan ke Sistem Saraf Pusat
(SSP) melalui dua sistem Serabut. Sistem pertama terdiri dari serabut Aδ bermielin
halus bergaris tengah 2-5 µm, dengan kecepatan hantaran 6-30 m/detik. Sistem
kedua terdiri dari serabut C tak bermielin dengan diameter 0.4-1.2 µm, dengan
kecepatan hantaran 0,5-2 m/detik. Serabut Aδ berperan dalam menghantarkan "nyeri
cepat" dan menghasilkan persepsi nyeri yang jelas, tajam dan terlokalisasi,
sedangkan serabut C menghantarkan "nyeri lambat" dan menghasilkan persepsi
samar-samar, rasa pegal dan perasaan tidak enak. Pusat nyeri terletak di talamus,
kedua jenis serabut nyeri berakhir pada neuron traktus spinotalamus lateral dan
impuls nyeri berjalan ke atas melalui traktus ini ke nukleus posteromidal ventral dan
posterolateral dari talamus. Dari sini impuls diteruskan ke gyrus post sentral dari
korteks otak (Rahmatul Fitriani, 2015).
7. Pengukuran Skala Nyeri
Menurut Black & Hawks, 2014 (dalam Mulyanto dkk, 2014) intensitas nyeri
merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu.
Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual. Intensitas nyeri yang
dirasakan setiap individu berbeda-beda. Respon nyeri secara subjektif dideskripsikan
dengan nyeri ringan, nyeri sedang, dan nyeri parah. Mendeskripsikan nyeri berbeda
antara perawat dan pasien. Skala deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat
keparahan nyeri yang lebih objektif. Sebelum melakukan manajemen nyeri, perlu
dilakukan penilaian atau asesment intesitasnya. Intensitas nyeri adalah gambaran
tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri
sangat subyektif dan individual, serta kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama
dirakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. Banyak cara untuk menentukan
intensitas nyeri, namun yang paling sederhana ada 2 macam yakni; Numeric Rating
Scale (NRS) dan Faces Scale dari Wong-Backer (Mubarak, Indrawati and Susanto,
2015):
a. Skala nyeri deskriptif
Skala nyeri deskriptif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri
yang objektif. Skala ini juga disebut sebagai skala pendeskripsian verbal Verbal
descriptor scale (VDS) merupakan garis yang terdiri tiga sampai lima kata
pendeskripsian yang tersusun dengan jarak yang sama disepanjang garis.
Pendeskripsian ini mulai dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri tak
tertahankan”, dan klien diminta untuk menunjukkan keadaan yang sesuai
dengan keadaan nyeri saat ini.
Gambar 2.1. Skala Nyeri Deskriptif
b. Numerical rating scale (NRS) (Skala numerik angka)
Pasien menyebutkan intensitas nyeri berdasarkan angka 0 – 10. Titik 0 berarti
tidak nyeri, 5 nyeri sedang, dan 10 adalah nyeri berat yang tidak tertahankan.
NRS digunakan jika ingin menentukan berbagai perubahan pada skala nyeri,
dan juga menilai respon turunnya nyeri pasien terhadap terapi yang diberikan.
Jika pasien mengalami disleksia , autism, atau geriatri yang demensia maka ini
bukan metode yang cocok.
Gambar 2.2 Numerik rating scale
c. Faces scale (Skala wajah)
Pasien disuruh melihat skala gambar wajah. Gambar pertama tidak nyeri
(anak tenang) kedua sedikit nyeri dan selanjutnya lebih nyeri dan gambar paling
akhir, adalah orang dengan ekpresi nyeri yang sangat berat. Setelah itu, pasien
disuruh menunjuk gambar yang cocok dengan nyerinya. Metode ini digunakan
untuk pediatri, tetapi juga dapat digunakan pada geriatri dengan gangguan
kognitif.
Gambar 2.3 Faces scale
d. Intensitas skala nyeri
Menurut Judha (2012) menyatakan secara umum level nyeri dibagi menjadi
atas 5 bagian yaitu:
1. 0 : Tidak Nyeri
2. 1-2 : Nyeri Ringan
3. 3-5 : Nyeri Sedang
4. 6-7 : Nyeri Berat
5. 8-10 : Nyeri Yang Tidak Tertahankan
8. Komplikasi
Terdapat beberapa komplikasi pada penyakit gout arthritis ini yaitu:
a. Deformitas pada persendian yang terserang
b. Urolitiasis akibat deposit Kristal urat pada saluran kemih
c. Nephrophaty akibat deposit Kristal urat dalam intertisial ginjal
d. Hipertensi ringan
e. Proteinuria
f. Hyperlipidemia
g. Gangguan parenkim ginjal dan batu ginjal (Aspiani, 2014).
Penyakit ginjal dapat terjadi pada pasien gout yang tidak ditangani, terutama
ketika hipertensi juga ada. Kristal urat menumpuk di jaringan interstisial ginjal.
Kristal asam urat juga terbentuk dalam tubula pengumpul, pelvis ginjal, dan ureter,
membentuk batu. Batu dapat memiliki ukuran yang beragam dari butiran pasir
hingga struktur masif yang mengisi ruang ginjal. Batu asam urat dapat berpotensi
mengobstruksi aliran urine dan menyebabkan gagal ginjal akut (LeMone, 2015).
9. Pemeriksaan Penunjang
1. Serum asam urat
Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg/dl. Pemeriksaan ini mengindikasikan
hiperurisemia, akibat peningkatan produksi asam urat atau gangguan ekskresi.
2. Leukosit
Menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm3 selama
serangan akut. Selama periode asimtomatik angka leukosit masih dalam batas
normal yaitu 5000-10000/mm3.
3. Eusinofil Sedimen Rate (ESR)
Meningkat selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate
mengindikasikan proses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di
persendian.
4. Urin specimen 24 jam
Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan prosuksi dan ekskresi.Jumlah
normal seorang mengekskresikan 250-750 mg/24/jam asam urat di dalam urin.
Ketika produksi asam urat meningkat maka level asam urat urin meningkat.
Kadar kurang dari 800 mg/24 jam mengindikasikan gangguan ekskresi pada
pasien dengan peningkatan serum asam urat. Intruksikan pasien untuk
menampung semua urin dengan feses atau tisu toilet selama waktu pengumpulan.
Biasanya diet purin normal direkomendasikan selama pengumpulan urin
meskipun diet bebas purin pada waktu itu diindikasikan.
5. Analisis cairan aspirasi sendi
` Analisis cairan aspirasi dari sendi yang mengalami inflamasi akut atau material
aspirasi dari sebuah tofi menggunakan jarum kristal urat yang tajam, memberikan
diagnosis definitif gout.
6. Pemeriksaan radiografi
Pada sendi yang terserang, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak terdapat
perubahan pada awal penyakit, tetapi setelah penyakit berkembang progresif
maka akan terlihat jelas/area terpukul pada tulang yang berada di bawah sinavial
sendi (Aspiani, 2014).
10. Penatalaksanaan
1. Farmakologis
a. Stadium I (Asimtomatik)
1) Biasanya tidak membutuhkan pengobatan.
2) Turunkan kadar asam urat dengan obat-obat urikosurik dan penghambat
xanthin oksidase.
b. Stadium II (Artritis Gout akut)
1) Kalkisin diberikan 1 mg (2 tablet) kemudian 0,5 mg (1 tablet) setiap 2 jam
sampai serangan akut menghilang.
2) Indometasin 4 x 50 mg sehari.
3) Fenil butazon 3 x 100-200 mg selama serangan, kemudian diturunkan.
4) Penderita ini dianjurkan untuk diet rendah purin, hindari alkohol dan obat-
obatan yang menghambat ekskresi asam urat.
c. Stadium III (Interkritis)
1) Hindari faktor pencetus timbulnya serangan seperti banyak makan lemak,
alkohol dan protein, trauma dan infeksi.
2) Berikan obat profilaktik (Kalkisin 0,5-1 mg indometasin tiap hari).
d. Stadium IV (Gout Kronik)
1) Alopurinol 100 mg 2 kali/hari menghambat enzim xantin oksidase
sehingga mengurangi pembentukan asam urat.
2) Obat-obat urikosurik yaitu prebenesid 0,5 g/hari dansulfinpyrazone
(Anturane) pada pasien yang tidak tahan terhadap benemid.
3) Tofi yang besar atau tidak hilang dengan pengobatan konservatif perlu
dieksisi (Aspiani, 2014).
2. Non Farmakologis
Penyakit asam urat memang sangat erat kaitannya dengan pola
makan seseorang. Pola makan yang tidak seimbang dengan jumlah protein
yang sangat tinggi merupakan penyebab penyakit ini. Meskipun demikian,
bukan berarti penderita asam urat tidak boleh mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein asalkan jumlahnya dibatasi. Selain itu, pengaturan diet
yang tepat bagi penderita asam urat mampu mengontrol kadar asam dan urat
dalam darah. Berkaitan dengan diet tersebut, berikut ini beberapa prinsip diet
yang harus dipatuhi oleh penderita asam urat.
a. Membatasi asupan purin atau rendah purin
Pada diet normal, asupan purin biasanya mencapai 600-1000 mg per
hari. Namun penderita asam urat harus membatasi menjadi 120-150 mg per
hari. Purin merupakan salah satu bagian dari protein. Membatasi asupan
purin berarti juga mengurangi konsumsi makanan yang berprotein tinggi.
Asupan protein yang dianjurkan bagi penderita asam urat sekitar 50-70
gram bahan mentah per hari atau 0,8-1 gram/kg berat badan/hari
b. Asupan energi sesuai dengan kebutuhan
Jumlah asupan energi harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh
berdasarkan pada tinggi badan dan berat badan.
c. Mengonsumsi lebih banyak karbohidrat
Jenis karbohidrat yang dianjurkan untuk dikonsumsi penderita asam
urat adalah karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti, dan ubi.
Karbohidrat kompleks ini sebaiknya dikonsumsi tidak kurang dari 100
gram per hari, yaitu sekitar 65-75% dari kebutuhan energi total.
d. Mengurangi konsumsi lemak
Makanan yang mengandung lemak tinggi seperti jeroan, seafood,
makanan yang digoreng, makanan yang bersantan, margarin, mentega,
avokad, dan durian sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya hanya
10-15% kebutuhan energi total.
B. KONSEP DASAR LANSIA
1. Pengertian Lansia
Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia
tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak
dan dewasa akhirnya menjadi tua. Hal ini normal, dengan perubahan fisik
dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada
saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Lansia
merupakan suatu proses alami yang ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan
masa hidup manusia yang terakhir. Dimana saat ini seseorang mengalami
kemunduran fisik, mental dan sosial secara bertahap ( Azizah, 2011).
Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang
melalui tahap tahap kehidupannya yaitu nenonatus toddler, praschool,
remaja,dewasa dan lansia terhadap beberapa ini dimulai baik secara biologis
maupun psikologis (Padila, 2013). Menurut komisi nasional lansia dengan
semakin meningkatnya penduduk lansia, dibutuhkan perhatian dari semua
pihak dalam mengantisipasi berbagai permasalahan yang berkaitan penuaan
penduduk. Penuaan penduduk membawa berbagai implikasi baik dari aspek
social, ekonomi, hukum, politik dan terutama kesehatan (Komisi Lansia,
2010).
2. Karakteristik Lansia
Menurut Budi Ana Keliat (1999), lansia memiliki karakteristik
sebagai berikut :
a. Berusia lebih dari 60 th (sesuai pasal 1 ayat (2) UU No. 13 ttg kesehatan).
b. Kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit,
dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual serta dari kondisi adaptif
hingga maladaptif.
c. Lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.
3. Batasan Lanjut Usia
a. Pra usia lanjut (prasenilis)
Seseorang yang berusia 45-59 tahun
b. Lanjut usia
Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih. Usia lanjut adalah
tahap masa tua dalam perkembangan individu (usia 60 tahun keatas).
Sedangkan lanjut usia adalah sudah berumur atau tua.
c. Usia lanjut Resiko Tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang
berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan
d. Usia lanjut Potensial
Usia lanjut yang masih mampu melaksanakan pekerjaan dan atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
4. Perubahan Perubahan yang Terjadi Pada Lansia
Perubahan yang Terjadi pada Lansia meliputi perubahan fisik, sosial,
dan psikologis.
a. Perubahan Fisik
1. Perubahan sel dan ekstrasel pada lansia mengakibatkan penurunan
tampilan dan fungsi fisik. lansia menjadi lebih pendek akibat adanya
pengurangan lebar bahu dan pelebaran lingkar dada dan perut, dan
diameter pelvis. Kulit menjadi tipis dan keriput, masa tubuh
berkurang dan masa lemak bertambah.
2. Perubahan kardiovaskular yaitu pada katup jantung terjadi adanya
penebalan dan kaku, terjadi penurunan kemampuan memompa
darah (kontraksi dan volume) elastisistas pembuluh darah menurun
serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga
tekanan darah meningkat.
3. Perubahan sistem pernapasan yang berhubungan dengan usia yang
mempengaruhi kapasitas fungsi paru yaitu penurunan elastisitas
paru, otototot pernapasan kekuatannya menurun dan kaku, kapasitas
residu meningkat sehingga menarik nafas lebih berat, alveoli
melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun dan
terjadinya penyempitan pada bronkus.
4. Perubahan integumen terjadi dengan bertambahnya usia
mempengaruhi fungsi dan penampilan kulit, dimana epidermis dan
dermis menjadi lebih tipis, jumlah serat elastis berkurang dan
keriput serta kulit kepala dan rambut menipis, rambut dalam hidung
dan telinga menebal, vaskularisasi menurun, rambut memutih
(uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh serta kuku
kaki tumbuh seperti tanduk.
5. Perubahan sistem persyarafan terjadi perubahan struktur dan fungsi
sistem saraf. Saraf pancaindra mengecil sehingga fungsi menurun
serta lambat dalam merespon dan waktu bereaksi khususnya yang
berhubungan dengan stress, berkurangnya atau hilangnya lapisan
mielin akson sehingga menyebabkan berkurangnya respon motorik
dan refleks.
6. Perubahan musculoskeletal sering terjadi pada wanita pasca
monopause yang dapat mengalami kehilangan densitas tulang yang
masif dapat mengakibatkan osteoporosis, terjadi bungkuk (kifosis),
persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram, tremor,
tendon mengerut dan mengalami sklerosis.
7. Perubahan gastroinstestinal terjadi pelebaran esofagus, terjadi
penurunan asam lambung, peristaltik menurun sehingga daya
absorpsi juga ikut menurun, ukuran lambung mengecil serta fungsi
organ aksesoris menurun sehingga menyebabkan berkurangnya
produksi hormon dan enzim pencernaan.
8. Perubahan genitourinaria terjadi pengecilan ginjal, pada aliran darah
ke ginjal menurun, penyaringan di glomerulus menurun dan fungsi
tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasikan urine
ikut menurun.
9. Perubahan pada vesika urinaria terjadi pada wanita yang dapat
menyebabkan otot-otot melemah, kapasitasnya menurun, dan
terjadi retensi urine.
10. Perubahan pada pendengaran yaitu terjadi membran timpani atrofi
yang dapat menyebabkan ganguan pendengaran dan tulang-tulang
pendengaran mengalami kekakuan.
11. Perubahan pada penglihatan terjadi pada respon mata yang menurun
terhadap sinar, adaptasi terhadap menurun, akomodasi menurun,
lapang pandang menurun, dan katarak.
b. Perubahan Psikologis
Pada lansia dapat dilihat dari kemampuanya beradaptasi terhadap
kehilangan fisik, sosial, emosional serta mencapai kebahagiaan,
kedamaian dan kepuasan hidup.ketakutan menjadi tua dan tidak mampu
produktif lagi memunculkan gambaran yang negatif tentang proses
menua. Banyak kultur dan budaya yang ikut menumbuhkan anggapan
negatif tersebut, dimana lansia dipandang sebagai individu yang tidak
mempunyai sumbangan apapun terhadap masyarakat dan memboroskan
sumber daya ekonomi
c. Perubahan Kognitif
Pada lansia dapat terjadi karena mulai melambatnya proses
berfikir, mudah lupa, bingung dan pikun. Pada lansia kehilangan jangak
pendek dan baru merrupakan hal yang sering terjadi
d. Perubahan Sosial,
Post power syndrome, single woman,single parent, kesendirian,
kehampaan, ketika lansia lainnya meninggal, maka muncul perasaan
kapan meninggal
5. Tipe Lansia
a. Tipe arif Bijaksana
Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan
perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati,
sederhana, dermawan memenuhi undangan dan menjadi panutan.
b. Tipe mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, teman bergaul dan memenuhi ruangan.
c. Tipe Tidak Puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan
banyak menuntut.
d. Tipe Pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama,
ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan
e. Tipe bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,
menyesal, pasif acuh tak acuh. Tipe lain dari usia lanjut : Tipe optimis,
Tipe konstruktif, Tipe dependen (ketergantungan), Tipe defensif
(bertahan) tipe militan dan serius, tipe marah / frustasi (kecewa akibat
kegagalam dalam melakukan sesuatu), Tipe putus asa (benci pada diri
sendiri).
6. Tugas perkembangan Lansia
Kesiapan lansia untuk beradaptasi terhadap tugas perkembangan
lansia dipengaruh oleh proses tumbang pada tahap sebelumnya.
a. Mempersiapkan diri untuk kondisi yang menurun
b. Mempersiapkan diri untuk pensiun
c. Membentuk hubungan baik dengan orang seusianya
d. Mempersiapkan kehidupan baru
e. Melakukan penyesuaian terhadap kehiduan sosial/masyarakat secara santai
f. Mempersiapkan diri untuk kematiannya dan kematian pasangan.
C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Hipertensi
A. Pengkajian
1. pengumpulan data
a. Identitas
Nama, umur, agama, jenis kelamin, tanggal masuk dan penanggung
jawab.
b. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Apakah klien pernah mengalami sakit yang sangat berat.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Beberapa hal yang harus diungkapkan pada setiap gejala
yaitu sakit kepala,kelelahan,pundak terasa berat.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah keluarga pernah mengalami penyakit yang sama.
d. Aktivitas / istirahat
1. Gejala: kelelahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
2. Tanda : frekuensi jantung meningkat, perubahan irma
jantung, dan takipnea.
e. Sirkulasi
1. Gejala: riwayat penyakit, aterosklerosis, penyakit jantung
koroner, dan penyakit serebrovaskuler. Dijumpai pula episode
palpitasi.
1. Tanda : Kenaikan TD (pengukuran serial dari tekanan darah)
diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Hipertensi postural
mungkin berhubungan dengan regimen obat.
f. Integritas Ego
1. Gejala : riwayat kepribadian, ansietas, faktor stress multiple
(hubungan keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan)
1. Tanda : letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue
perhatian, tangisan meledak, otot muka tegang, pernapasan
menghela, peningkatan pola bicara.
g. Eliminasi
Gejala : adanya gangguan ginjal saat ini atau (seperti
obstruksi atau riwayat penyakit ginjal pada masa lalu.
h. Makanan/cairan
Gejala : makanan yang disukai dapat mencakup makanan
tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan
yang di goreng, keju, telur), gula-gula yang berwarna hitam,
dan kandungan tinggi kalori, mual, muntah dan perubahan BB
meningkat / turun, riwayat penggunaan obat diuretik.
i. Neurosensori
Gejala : keluhan pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipita
( terjadinya saat bangun dan menghilang secara spontan setelah
beberapa jam, gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan
kabur, epistakis).
j. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : Angina (penyakit arteri koroner / keterlibatan
jantung), sakit kepala oksipital berat, seperti yang pernah
terjadi sebelumnya.
k. Pernapasan
1. Gejala: dispnea yang berkaitan dengan aktivitas atau kerja.
Takipnea, orthopnea, dispnea, batuk dengan atau tanpa
pembentukan sputum, riwayat merokok.
2. Tanda : distress respirasi atau penguunaan otot aksesori
pernapasan, bunyi nafas tambahan (krakles / mengi),
sianosis
l. Keamanan
Gejala : gangguan koordinasi / cara berjalan, hipotensi postural.
2. Pola fungsi kesehatan
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan, dan penanganan kesehatan
2. Pola nutrisi
Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan, dan elektrolit,
nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan,mual/muntah, dan
makanan kesehatan.
3. Pola tidur dan istirahat
Menggambarkan pola tidur, istirahat, dan persepsi terhadap
energy, jumlah tidur pada siang dan malam, masalah tidur, dan
insomnia
4. Pola aktivitas dan istirahat
Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan,
dan sirkulasi. Riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama, dan
kedalaman pernafasan.
5. Pola aktivitas dan istirahat
Menggambarkan pola latihan, aktivitas, fungsi pernafasan, dan
sirkulasi. Riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama, dan kedalaman
pernafasan
Tabel 2.2 Pengkajian Indeks KATZ
Skor INTERPRETASI
A Kemandirian dalam hal makan, minum, kontinen (BAB/BAK),
berpindah, kekamar kecil, berpakaian dan mandi
B Kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari, kecuali satu dari
fungsi tersebut
C Kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi dan satu
fungsi tambahan
D Kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari, kecuali
mandi,berpakaian dan satu fungsi tambahan
E Kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian, kekamar kecil, dan satu fungsi tambahan
F Kemandirian dalam aktivitas hidup sehari-hari, kecuali berpakaian,
kekamar kecil, berpindah dan satu fungsi tambahan
Lain- Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi tetapi tidak dapat
lain diklasifikasikan sebagai C,D dan E
6. Pola hubungan dan peran
Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klien terhadap
anggota keluarga dan masyarakat tempat tinggal, pekerjaan, tidak punya
rumah, dan masalah keuangan.
Tabel 2.3 Pengkajian APGAR Keluarga (Tabel APGAR Keluarga)
No Item Penilaian Selalu Kadang- Tidak
(2) kadang pernah
(1) (0)
1. A : adaptasi
Saya puas bisa kembali pada keluarga
(teman-teman) saya untuk membantu
apabila saya mengalami kesulitan
( adaptasi )
2. P : Partnership
Saya puas dengan cara keluarga
( teman-teman ) saya membicarakan
sesuatu dan mengungkapkan masalah
dengan saya ( hubungan )
3. G : Growth
Saya puas bahwa keluarga ( teman-
teman ) saya menerima dan
mendukung keinginan saya untuk
melakukan aktivitas ( pertumbuhan )
4. A : Afek
Saya puas dengan cara keluarga
( teman-teman ) saya mengekspresikan
afek dan berespon terhadap emosi saya
seperti, marah sedih, atau mencintai
5. R : Resolve
Saya puas dengan cara teman dan
keluarga saya dan saya menyediakan
waktu bersama-sama mengekspresikan
afek dan berespon
Keterangan :
Total nilai < 3 : disfungsi keluarga yang sangat
tinggi Total nilai 4 – 6 : disfungsi keluarga
sedang
Total nilai 7 – 10 : tidak ada disfungsi keluarga
7. Pola sensori dan kognitif
Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif, pola persepsi sensori
meliputi pengkajian penglihatan, pendengaran,perasaan, dan pembau. Pada
klien katarak dapat ditemukan gejala gangguan penglihatan perifer,
kesulitan memfokuskan kerja dengan merasa diruang gelap. Sedangkan
tandanya adalah tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil, peningkatan
air mata.
Tabel 2.4 Pengkajian Status Mental
Tabel Short Portable Mental Status Quesioner (SPMSQ)
Skor
+ - No Pertanyaan Jawaban
1 Tanggal berapa hari ini?
2 Hari apa sekarang?
3 Apa nama tempat ini?
4 Dimana alamat anda?
5 Kapan anda lahir?
6 Berapa umur anda?
7 siapa presiden Indonesia
sekarang?
8 Siapa presiden sebelumnya?
9 Siapa nama anak anda?
10 Siapa nama ibu anda?
Jumlah Kesalahan Total
Kesimpulan :
1. Kesalahan 0 – 2 = Fungsi Intelektual Utuh
2. Kesalahan 3 – 4 = Kerusakan Intelektual Ringan
3. Kesalahan 5 – 7 = Kerusakan Intelektual Sedang
4. Kesalahan 8 – 10 = Kerusakan Intelektual Berat
Keterangan :
a. Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 ( satu ) kesalahan bila subyek hanya
berpendidikan SD
b. Bisa dimaklumi bilang kurang dari 1 ( satu ) kesalahan bila subyek
mempunyai pendidikan lebih dari SD
c. Bisa dimaklumi bila lebih dari 1 ( satu ) kesalahan untuk subyek kulit hitam
dengan menggunakan kriteria pendidikan yang lama.
8. Pola persepsi dan konsep diri
Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi terhadap
kemampuan konsep diri. Konsep diri menggambarkan gambaran harga diri,
peran, identitas diri. Manusia sebagai sistem terbuka makhluk bio-psiko-sosio-
kultural-spritual, kecemasan, ketakutan, dan dampak terhadap sakit. Pengkajian
tingkat depresi menggunakan Tabel Inventaris Depresi Back
9. Pola seksual dan reproduksi
Menggambarkan kepuasan/masalah terhadap seksualitas.
10. Pola mekanisme/penanggulangan stress dan koping
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Menggambarkan dan menjelaskan pola, nilai keyakinan termasuk spiritual( Aspiani, 2014 ).
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut (D.0077)
b. Intoleransi Aktivitas (D.0056)
3. Perencanaan / Intervnsi Keperawatan
1. Nyeri Akut
Tujuan :setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam
dilaporkan tingkat nyeri menurun dengan
Kriteria Hasil :
a. Keluhan nyeri dari cukup meningkat 2 menjadi cukup menurun 4
b. Meringis dari cukup meningkat 2 menjadi cukup menurun 4
c. Kesulitan tidur dari cukup meningkat 2 menjadi cukup menurun 4
Intervensi :Manajemen nyeri (I.08238)
a. Observasi:
1) Identifikasi lokasi, karakteristik, frekuensi, kualitas, intensitas
nyeri
2) Identifikasi skala nyeri
3) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
a. Terapeutik : Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa
nyeri, fasilitasi istirahat dan tidur
b. Edukasi : jelaskan strategi meredakan nyeri
c. Kolaborasi : Kolaborasi pemberian analgeti, jika perlu
2. Intoleransi Aktivitas (D.0056)
Tujuan : setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam
dilaporkan toleransi aktivitas meningkat dengan
Kriteria Hasil :
Intervensi : Manajemen energi (1.05178)
a) Observasi
-Identifikasi gangguuan fungsi tubuh yang mengakibatkan
kelelahan
-Monitor kelelahan fisik dan emosional
-Monitor pola dan jam tidur
b) Terapeutik
-Sediakan lingkungan yang nyaman
-berikan aktivitas distraksi yang menyenangkan
c) Edukasi
-Anjurkan tirah baring
-Anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
d) Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan
makanan
4. Implementasi
Menurut Nursalam (2013) adapun sebagai berikut:
Implementasi adalah pelaksanaan dari rencana intervensi untuk
mencapai tujuan yang pesifik. Tahap Implementasi dimulai
setelah rencana intervensi disusun dan ditujukan padanursing
order untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Oleh karena itu rencana intervensi yang spesifik dilaksanakan
untuk memodifikasi faktor -faktor yang mempengaruhi masalah
kesehatan klien.
Tujuan dari implementasi adalah membantu klien dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup
peningkatan kesehatan. pencegahan penyakit, pemulihan
kesehatan, dan memfasilitasi koping perencanaan asuhan
keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik, jika klien
mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam implementasi
keperawatan. Selama tahap implementasi, perawat melakukan
pengumpulan data dan memilih asuhan keperawatan yang paling
sesuai dengan kebutuhan klien.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi
proses keperawatan yangmenandakan keberhasilan dari diagnosis
keperawatan, rencana intervensi,dan implementasi. Tujuan
evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai
tujuan. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat respon klien
terhadap asuhan keperawatan yang diberikan sehingga perawat
dapat mengambil keputusan (Nursalam, 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Ganong W. F McpheeStephen. (2010). Patofisiologi Penyakit Edisi 5. EGC : Jakarta
Http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/patofisiologi-asam urat-arthritis/
Prince, Sylvia, Wolson M. Lerradne. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis, Proses Penyakit.
EGC : Jakarta
Smeltzer G. E . (2006). Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 . EGC : Jakarta
Wilkinson, M. Judith. (2007). Buku saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi SDKI dan
Kriteria Hasil SIKI. EGC : Jakarta