Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kultur jaringan sering disebut juga dengan tissue culture. Kultur adalah
budidaya dan jaringan adalah sekolompok sel yang memepunyai bentuk dan
fungsi yang sama. Kultur jaringan adalah metode untuk menginokulasi bagian
dari tanaman, seperti sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta
menumbuhkan dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman yang lengkap (Hartman et
al, 2002). Penyediaan bibit dengan teknik kultur jaringan dapat menghasilkan
tanaman yang seragam, baik dari bentuk maupun umur tanaman, dan juga dapat
dihasilkan bibit yang bebas patogen (George dan Sherrington, 1984).
Tanaman dari hasil kultur in Vitro harus melalui tahapan aklimatisasi,
karena tahapan ini merupakan suatu hal penting agar tanaman yang sebelumnya
tumbuh didalam botol kultur dengan suplai media yang lengkap untuk dapat
hidup secara mandiri dan berfotosintesis pada kondisi internal. Dalam hal ini
aklimatisasi dilakukan pada tanaman anggrek. Tanaman yang hidup dalam botol
kultur akan tumbuh dengan subur karene kebutuhan nutrisi yang tercukupi dan
kondisi lingkungan yang sesuai. Aklimatisasi dibutuhkan untuk memindahkan
anggrek dari kondisi lingkungan yang steril dipindahkan pada kondisi
lingkungan yang sebenarnya (lingkungan eksternal).
Setelah proses aklimatisasia anggrek berhasil dilakukan langkah
selanjutnya adalah usaha peningkatan anggrek secara kualitas dapat dilakukan
dengan usaha perbaikan genetika memalui persilangan, sedangkan kultur in
Vitro merupakan perbanyakan peningkatan secara kuantitas dengan menambah
jumlah anakan yang relatif lebih singkat di lakukan. Oleh karena itu, pemuliaan
anggrek diupayakan untuk memperluas keragaman genetik pada bentuk dan
warna yang unik, disenangi konsumen, frekuensi berbunga tinggi dan tahan
terhadap patogen penyebab penyakit serta cekaman ligkungan. Pada tanaman
anggrek persilangan ditunjukkan untuk mendapatkan varietas baru dengan warna
dan bentuk yang menarik, mahkota bunga kompak dan bertesktur tebal sehingga
dapat tahan lama sehingga bunga potong, jumlah kuntum banyak dan tidak ada
kuntum bunga yang gugur dini akibat kelainan genetis serta produksi bunga
tinggi (Hartati, 2005)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat
dirumuskan bebrapa masalah sebagi berikut:
1. Bagaimana cara dan teknik aklimatisasi anggrek?
2. Bagaimana cara dan teknik penyilangan anggrek?
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini sebagai berikut:
1. Mengetahui cara dan teknik aklimatisasi anggrek.
2. Mengetahui cara dan teknik penyilangan anggrek.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Anggrek


Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman varietas dan jenis
tanaman holikultura antara lain tanaman anggrek (Ramadiana et al, 2008).
Anggrek merupakan tanaman hias yang banyak disenangi oleh masyarakat luas,
selain memiliki bunga yang menarik anggrek memiliki nilai jual yang tinggi
sehingga dapat menarik banyak peminat. Produksi anggrek terutama anggrek
bulan di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara
lainnya seperti Thailand, Taiwan, Singapura dan Australia (Purwati, 2012).
Klasifikasi bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis (L) BI) dalam
sistem klasifikasi Cronquist (1981) dan APG II adalah sebagai berikut:
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Bangsa: Asparagales
Suku : Orchidaceae
Marga : Phalaenopsis
Jenis : Phalaenopsis amabilis (L) BI
Anggrek bulan memiliki warna bunga putih bersih dengan sedikit variasi
kuning dan bintik kemerahan di bibir bunga. Bibir kedua cuping samping tegak
melebar dan bagian tepi depannya berwarna kuning dengan garis kemerahan
(Puspitaningtyas dan Mursidawati, 2010)
Phalaenopsis amabilis (L) BI merupakan peringkat pertaman dari 10
besar pasar bunga potong Internasional, dikarenakan anggrek bulan merupakan
tanaman hias anggota suku Orchidaceae yang banyak disukasi oleh konsumen di
seluruh dunia dan bernilai ekonomis tinggi baik sebagai tanaman pot atau
sebagai bunga potong. Nilai ekonomis bunya anggrek ditentukan dari warna,
bentuk, keindahan, ukuran dan keseringan berbunga serta anggrek bulan
menduduki peringkat pertama dari 10 besar pasar bunga potong Internasional
tersebut (Martin dan Madassety, 2006). Keistimewaan lain dari anggrek bulan
ini adalah berbunga sepanjang tahun dengan masa rata-rata berbunga selama
satu bulan (Iswanto, 2010).
2.2 Aklimatisasi Anggrek
Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur
jaringan (In-vitro) yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah pada
kondisi lapangan yang kondisinya tidak terkendali lagi. Aklimatisasi juga
merupakan proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran
dilakuakan secara ex vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol,
dengan media tanah atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus
menjadi benih yang siap ditanamn di lapangan (Yusnita, 2004). Selain itu
tanaman juga harus mengubah pola hidupnya dari tanaman hetetrop ke tanaman
autotrop (Kartikasari, 2009).
Masa aklimatisasi merupakan masa yang kritis karena pucuk atau planlet
yang diregerasikan dari kultur in vitro menunjukan beberapa sifat yang kurang
menguntungkan, seperti lapisan lilin (kutikula tidak berkembang dengan baik,
kurangnya lignifikasi batang, jaringan pembuluh dari akar ke pucuk kurang
berkembang dan stomata sering kali tidak berfungsi (tidak menutup ketika
penguapan tinggi). Keadaan itu menyebabkan pucuk-pucuk in vitro sangat peka
terhadap transpirasi, serangan cendawan dan bakteri, cahaya dengan intensitas
tinggi dan suhu tinggi. Oleh karena itu, aklimatisasi pucuk-pucuk in vitro
memerlukan penanganan khusus, bahkan diperlukan modifikasi terhadap kondisi
lingkungan terutama dalam kaitannya dengan suhu, kelembapan dan intensitas
cahaya. Disamping itu, medium tumbuh pun memiliki peranan yang khususnya
bila pucuk-pucuk mikro yang diaklimatisasikan belum membentuk sistem
perakaran yang baik (Hartanti dkk, 2014).
2.3 Penyilangan Anggrek
Penyilangan adalah taknikk penyerbukan bunga dengan meletakkan
pollen (serbuk sari) pada stigma (kepala putik). Pada tanaman anggrek biasanya
dilakukan oleh serangga atau dengan bantuan manusia, dalam arti penyilangan
terkendali. Beberapa anggrek dijumpai memiliki sifat
cleistogamousi(penyerbukan sendiri).penyilangan dapat dilakukan pada
beberapa genus yang mudah mengadakan persilangan antargenus, namun
persilangan tersebut hanya terjadi dalam kelompok tanaman yang memiliki
kemiripan sifat dan karakter (Davidson, 1994).
Persilangan anggrek untuk medapatkan varietas baru tidak saja hanya
dilakukan pada anggrek alam atau spesies, tetapi juga banyak dilakukan pada
anggrek hibrid. Anggrek hibrid unggul biasanya telah memiliki karakter-
karakter lebih unggul sehingga akan menghasilkan karakter yang lebih baik dan
beragam pada keturunannya. Menurut Davidson (1994), persilangan yang
dilakukan beberapa kali, sifat-sifat yang tidak diharapkan muncul dapat ditekan
atau dikurangi.
Pemilihan induk jantan dan betina yang akan disilangkan harus
mempertimbangkan sifat-sifat kedua induk tersebut, misalnya ukuran bunga,
warna dan bentuk bunga yang merupakan sifat dominan, akan muncul kembali
pada progeninya. Agar persilangan tidak mengalami kegagalan, dalam memilih
induk betina sebaiknya dipilih bunga yang kuntumnya kuat, tidak cepat layu atau
gugur, mempunyai style (tangkai putik) dan ovary (bakal buah) lebih pendek
agar pollen tube mudah mencapai embryo sac (kantong embrio) yang terdapat
pada bagian bawah ovary (Stubbings, 2006). Pollinia dari bunga yang berukuran
kecil jika diserbukkan pada stigma bunga yang berukuran besar biasanya
mengalami kegagalan, karena pollen tube tidak dapat mencapai embryo sac
sehingga fertilisasi tidak terjadi dan biji tidak terjadi. Bunga dari tanaman yang
bersifat triploidi biasanya steril, namun masih dapat dimanfaatkan sebagai induk
betina apabila memiliki sifat dominan dalam kerajinan berbunga.
Menurut Hee et al (2009) pada proses penyilangan anggrek dapat
dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:
1. Melakukan polinasi dan pematangan biji.
2. Penyebaran biji secara in vitro, perkembangan protocorm dan
pertumbuhan planlet.
3. Bertumbuhan tanaman muda mennjadi dewasa secara in vivo.
4. Penilaian karakter dan kualitas bunga

Bunga yang telah mengalami polinasi akan mengalami kelayuan pada


perianthium (perhiasan bunga). Zigot yang terbentuk setelah pembuhan
(fertilisasi) akan berkembang menjadi embrio di dalam biji. Apabila zigot
terbentuk pada saat itu pula dapat disemai atau ditumbuhkan secara in vitro.
Waktu terjadinya fertilisasi pada anggrek sangat bervariasi bergantung pada
jenis anggrek dan varietasnya, dihitung sejak mulai dilakukan penyerbukan
sampai terjadinya pembuahan. Pada anggrek Phalaenopsis fertilisasi sampai
terbentuk buah dapat terjadi lebih dari 4 bulan, sedangkan pada Dendrobium 3-4
bulan (Davidson, 1994).

BAB III

METODE PENELITIAN

1.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Gedung C9,
FMIPA Unesa. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Maret hingga April 2018.
3.2 Alat dan Bahan
1. Aklimatisasi Anggrek Dendrobium sp.
Alat yang digunakan terdiri dari nampan plastik, pengaduk kawat U,
gelas beaker 1 buah, baskom, pot komunitas 1 buah, kantung plastik 1
buah, jarum, dan sprayer. Bahan yang digunakan untuk praktikum yaitu
bibit anggrek Dendrobium sp. dalam botol 1 buah, kertas koran 1
eksemplar, arang, serabut kelapa, moss, dan fungisida 1 liter.
2. Penyilangan Anggrek Dendrobium sp var. hijau >< Anggrek
Dendrobium sp var. hijau
Alat yang digunakan terdiri dari tusuk gigi, kawat, dan pensil.
Bahan yang digunakan untuk praktikum yaitu tanaman anggrek yang
berbunga dan kertas label.
A. Prosedur Penelitian
1. Aklimatisasi Anggrek Dendrobium sp.
a) Bahan dan alat yang akan digunakan seperti arang yang telah
dihancurkan kecil-kecil serabut kelapa yang telah disisir dan pot
direndam dalam larutan fungisida (2 sendok dalam 1 liter)
selama ± 2 jam dan diletakkan pada nampan plastik.
b) Bibit angggrek Dendrobium sp. yang ada di dalam botol kultur
dikeluarkan dengan cara memasukkan air dan mengguncang
perlahan sehingga bibit anggrek terpisah dari agar, dengan
menggunakan kawat yang ujungnya telah dibengkokkan
mengambil bibit anggrek satu-persatu pada bagian batang
sehingga daun tidak rusak. Plantlet dibersihkan dari medium dan
daun maupun akar yang telah rusak di dalam baskom berisi air.
c) Plantlet dibersihkan dari sisa-sisa media yang masih menempel
pada akar dalam larutan pestisida selama 10-15 menit kemudian
ditiriskan dan dikeringkan pada kertas koran.
d) Menyiapkan pot komunitas yang diisi arang, mes serta sabut
kelapa. Penanaman bibit anggrek dimulai dari tepi menuju
tengah dan diatur sesuai jarak tertentu..
e) Menata satu persatu plantet yang bagian akarnya telah dibalut
dengan moss dan ditata serapat mungkin.
f) Pot komunitas yang berisi bibit anggrek ditutup menggunakan
kantung plastik dengan tujuan menjaga kelembapan eksplan dan
diaklimatisasi sehingga dapat hidup pada lingkungan biasa.
2. Penyilangan Anggrek Dendrobium sp var. hijau >< Anggrek
Dendrobium sp var. hijau
a) Bunga anggrek Anggrek Dendrobium sp var. ungu yang sudah
mekar selama ± 4 hari, diambil serbuk sarinya dengan
menggunakan tusuk gigi, kemudian serbuk sarinya diletakkan di
putik pada Dendrobium sp var. ungu.
b) Proses penyilangan ini dapat dilakukan pada tanaman sendiri,
pada anggrek yang sama jenisnya maupun pada anggrek yang
berbeda jenisnya.
c) Anggrek yang telah disilangkan diberi label yang ditulis
menggunakan pensil atau bolpoin dan label digantung dengan
tali kasur pada tangkai bunga, penulisan dilakukan dengan
menuliskan jenis anggrek putik berasal kemudian tanda silang
dan jenis serbuk sari berasal lalu diberi tanggal persilangan.

♀ Dendrobium sp var. hijau >< ♂ Dendrobium sp var. hijau


11 April 2018

d) Lakukan pengamatan terhadap bunga yang disilangkan.


BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil dan Analisis
4.1.5 Penyilangan Anggrek (Dendrobium sp.)
Berdasarkan praktikum penyilangan dua jenis anggrek diperoleh data hasil
pengamatan sebagai berikut :
Tabel 5. Hasil Penyilangan Anggrek Dendrobium sp var. Indonesia Raya
Tanggal Hasil Pengamatan
11 April 2018 Aklimatisasi anggrek bulan

4.2.6 Aklimatisasi Anggrek


Berdasarkan hasil praktikum aklimatisasi bibit anggrek, didapatkan hasil
bahwa planlet anggrek Dendrobium sp var Indonesia Raya tumbuh pada media
sabut kelapa pada “community pot”. Jumlah planlet yang diaklimatisasi sebanyak
21 planlet dan tumbuh sebanyak 19 planlet.

4.2 Pembahasan
2.4.5 Penyilangan Anggrek (Dendrobium sp.)

Persilangan artinya mengawinkan dua jenis tanaman yang berlainan.


Praktikum penyilangan yang dilakukan menggunakan dua jenis anggrek
Dendrobium varietas sama. Dendrobium sp. sebagain besar bersifat empifit,
namun ada pula yang hidup litofit. Pola pertumbuhan Dendrobium sp. termasuk
simpidial yaitu mempunyai pertumbuhan pseudobulb terbatas. Anggrek
Dendrobium sp. disukai masyarakat karena rajin berbunga dengan warna dan
bentuk yang bervariasi dan menarik (Bechtcl et, al., 1992). Keunggulan anggrek
Dendrobium sp dari anggrek lainnya adalah mudah berbunga tanpa memerlukan
perlakuan khusus. Anggrek hibrida untuk Dendrobium sp berwarna lembayung
muda, putih, kuning keemasan atau kombinasi warna-warna tersebut. Anggrek
hibrida Dendrobium sp hasil pemuliann modern memiliki warna kebiruaan,
gading atau jingga tua sampe mrah tua. Dendrobium sp dapat juga berbunga
beberapa kali dalam setahun. Tangkai bunganya panjanng dan dapat dirangkai
sebagai bunga potong (Pochooa, 2004)

Anngrek Dendrobium sp adalah satu genus anggrek yang terbesar yang


terdapat di dunia. Diperkirakan anggrek ini terdiri dari 1600 spesies. Bentuk
bunga Dendrobium sp memiliki sepal yang bentuknya hampir menyamai segitiga,
dasarnya bersatu dengan kaki tugu untuk membentuk taji. Petal biasanya lebih
tipis dari sepal, labelum berbelah dan mennurut bentuk bunga inilah maka jenis
Dendrobium sp bisa dibedakan dalam beberapa golongan. Temperatur yang di
kendaki bagi anggrek Dendrobium sp pada malam hari minimal 15° dan siang hari
25° (Sugeng, 1985).

Faktor-faktor yang mempengaruhi persilangan menurut Puchooa (2004),


yaitu: pemilihan induk yang sehat, yang dicirikan dengan penampilan fisik segar,
hijau, tumbuh tegak, kuat dan kokoh, rajin berbunga, warna bunga yang indah,
besar ukuran bunganya, jumlah bunga atau tangkai bunganya, bunga tahan lama,
bentuk bunga, waktu penyilangan, umur bunga betina, mulut bunga jantan sebagai
penghasil pollen, faktor keuletan dan pengalaman penyilangan itu sendiri. Bunga
anggrek yang telah mengalami penyerbukan, bagian perhiasan bunga akan layu.
Setelah pembuahan, zigot telah terbentuk, pada saat itu pula dapat dikecambahkan
atau ditumbuhkan secara in vitro. Waktu terjadi pembuahan sangat bervariasi,
bergantung pada jenis dan varietasnya. Pada anggrek Dendrobium sp, pembuahan
terjadi 2-2,5 bulan (Withner, 1959).

Berdasarkan pada hasil penyilangan yang dilakukan pada bunga anggrek


dengan sesama Dendrobium sp yaitu bunga tampak layu namun pada bakal buah
atau ovary tidak terjadi pembekakan. Hal ini sebuai dengan pernyataan
Puspaningtyas et al., (2006) yang menyatakan bahwa ciri-ciri anggrek yang
berhasil disilangkan adalah pada beberapa hari kemuadian setelah penyilangan,
bunga yang telah diserbuki akan layu. Penyerbukan berhasil apabila bakal buah
membengkak dan berkembang menjadi buah. Buah anggrek sebagian besar,
masak setelah tiga bulan sampai enam bulan atau lebih tergantung kepada jenis
anggrek seperti contohnya pada anggrek Dendrobium sp, anggrek ini akan
berbunga selama 3-4 bulan.

2.4.6 Aklimatisasi Anggrek Bulan

Berdasarkan hasil dan analisis data aklimatisasi dapat diketahui bahwa


anggrek yang disilangkan adalah anggrek bulan. Proses aklimatisasi dilakukan
dengan cara bertahap supaya tanaman hasil kultur jaringan dapat beradaptasi
dengan perubahan lingkungan. Baik suhu, kelembaban, cahaya maupun faktor
lainnya akan berbeda dan tanaman hasil kultur jaringan juga memiliki kekurangan
dibanding tanaman yang ditanam di lingkungan alami. Menurut Pierik (1987),
tanaman hasil kultur jaringan memiliki lapisan lilin (kutikula) yang tidak
berkembang sempurna dan akar yang belum bisa berfungsi dengan baik. Saat
pemindahan tanaman ke kondisi normal atau dalam media pakis, tanah, atau
compost, harus dilakukan secara bertahap dan menghindari infeksi dari fungi serta
bakteri karena tanaman hasil kultur jaringan belum mampu beradaptasi dengan
pathogen-patogen yang biasa ditemukan di lingkungan luar. Pemberian fungisida
diperlukan untuk mencegah serangan jamur, pembersihan media secara benar juga
mengurangi resiko serangan. Pemindahan pertama dilakukan ke dalam
‘community pot’ yang bisa menampung jumlah bibit yang cukup banyak. Pada
tahap awal kelembaban sangat perlu dijaga dan pemberian nutria tambahan bisa
dilakukan dengan penyemprotan pupuk daun. Selanjutnya bibit bisa dipindah ke
pot-pot individu saat daun dan akar siap untuk mendukung pertumbuhannya.
Menurut Sarwono.(2002) ,secara umum prosedur aklimatisasi diuraikan
sebagai berikut, plantlet-plantlet yang akan diaklimatisasi dikeluarkan dari botol
kultur. Agar-agar yang masih menempel dicuci bersih untuk membuang sumber
kontaminasi, Selanjutnya, planlet tersebut ditanam pada medium tanah steril
(pasteurisasi) di dalam pot kecil atau pada medium siap pakai pot Jiffy(Jiffy-7 TM) .
Pada awalnya , plantlet harus dilindungi dari kerusakan dengan menempatkannya
di bawah naungan, tenda berkelembaban tinggi, atau di bawah semprotan embun .
dibutuhkan waktu beberapa hari sebelum terbentuk akar –akar baru yang
fungsional . Suhu udara diusahakan sama, seperti didalam ruang kultur . Intensitas
cahaya merupakan factor yang penting untuk diperhatikan, yaitu 30% dari cahaya
lingkungan. Nutrisi yang terdapat di dalam medium tanah pun dapat menjadi
factor pembatas pertumbuhan.
Arang bisa berasal dari kayu atau batok kelapa. Ukuran arang yang
digunakan kurang lebih berdiameter 3 cm. Media tanam ini sangat cocok
digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembapan tinggi. Hal itu
dikarenakan arang kurang mampu mengikat air dalam jumlah banyak. Keunikan
dari media jenis arang adalah sifatnya yang bufer (penyangga). Dengan demikian,
jika terjadi kekeliruan dalam pemberian unsur hara yang terkandung di dalam
pupuk bisa segera dinetralisir dan diadaptasikan. Selain itu, bahan media ini juga
tidak mudah lapuk sehingga sulit ditumbuhi jamur atau cendawan yang dapat
merugikan tanaman. Namun, media arang cenderung miskin akan unsur hara.
Oleh karenanya, ke dalam media tanam ini perlu disuplai unsur hara berupa
aplikasi pemupukan. Sebelum digunakan sebagai media tanam, idealnya arang
dipecah menjadi potongan-potongan kecil terlebih dahulu sehingga memudahkan
dalam penempatan di dalam pot. Ukuran pecahan arang ini sangat bergantung
pada wadah yang digunakan untuk menanam serta jenis tanaman yang akan
ditanam.
BAB V
SIMPULAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Aklimatisasi adalah masa adaptasi tanaman hasil pembiakan pada kultur
jaringan (In-vitro) yang semula kondisinya terkendali kemudian berubah
pada kondisi lapangan yang kondisinya tidak terkendali lagi. Aklimatisasi
juga merupakan proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika
pengakaran dilakuakan secara ex vitro) di lingkungan baru yang aseptik di
luar botol, dengan media tanah atau pakis sehingga planlet dapat bertahan
dan terus menjadi benih yang siap ditanamn di lapangan. Didukung denagn
benberian arang dan menutupnya dengan plastik agar tidak berinteraksi
secara langsunng dengan lingkungan. Perendaman dengan funggisida juga
perlu dilakukan, untuk menghindari terjadinya pembusukan oleh bakteri
atau jamur
2. Penyilangan adalah taknikk penyerbukan bunga dengan meletakkan pollen
(serbuk sari) pada stigma (kepala putik). Pada tanaman anggrek biasanya
dilakukan oleh serangga atau dengan bantuan manusia, dalam arti
penyilangan terkendali. Beberapa anggrek dijumpai memiliki sifat
cleistogamousi(penyerbukan sendiri).penyilangan dapat dilakukan pada
beberapa genus yang mudah mengadakan persilangan antargenus, namun
persilangan tersebut hanya terjadi dalam kelompok tanaman yang memiliki
kemiripan sifat dan karakter. Agar persilangan tidak mengalami kegagalan,
dalam memilih induk betina sebaiknya dipilih bunga yang kuntumnya kuat,
tidak cepat layu atau gugur, mempunyai style (tangkai putik) dan ovary
(bakal buah) lebih pendek agar pollen tube mudah mencapai embryo sac
(kantong embrio) yang terdapat pada bagian bawah ovary.
5.2 Saran
Dalam melaukan kegiatan praktikum kultur jaringan dipastikan dalam
kondisi steril baik praktikan maupun media yang akan digunakan. Selain itu
lingkungan sekitar di kondisikan sebaik mungkin dan steril diatur suhu, ph dan
kelembapannya. Pada tahap aklimatisasi kondisi lingkungan tidak
diperbolehkan terlalu panas, karena akan mengakibatkan tanaman yang di
aklimatisasi akan layu. Selain itu dokumentasi perlu dilakukan untuk
mengetahui perkembangan kultur jaringan, aklimatisasi dan persilangan berjalan
sesuai dengan yang seharusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Amilah dan Yuni Astuti. 2006. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Taoge dan Kacang
Hijau

pada Media Vacin dan Went (VW) terhadap Pertumbuhan Kecambah Anggrek
Bulan (Phalaenopsis amabilis, L). Junal Bulletin 09: 1-20

Bechtcl, H.,P. Cribb, dan E. Launert. 1992. The Manual of Cultivated Orchids Species.

Blandford Press, London. 585 pp.

Canene-Adams K., Clinton, S. K., King, J. L., Lindshield, B. L., Wharton C., Jeffery, E.

& Erdman, J. W. Jr. 2004. The growth of the Dunning R-3327-H


transplantable prostate adenocarcinoma in rats fed diets containing tomato,
broccoli, lycopene, or receiving finasteride treatment. FASEB J. 18: A886
(591.4).

Chawla, H. S. 2002. Introduction to Plant Biotechnology. Science Publishers Inc. New

Hemsphire. 23-26.

Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Clasification of Flowering Plants.


Columbia

Univeersity Press. New York.


George, E.F. and Sherrington, P.D. 1984. Plant Propagatin by Tissue Culture.
Handbook

and Directionary of Commersial Laboratories. Exegetic Ltd. England.

George, E.F. and Sherrington, P.D. 1993. Plant Propagatin by Tissue Culture. 12nd (ed).

Exegetics. Limited, England. p. 591-601

Gunawan, L.W., 1987. Teknik Kultur Jaringan, Laboratorium Kultur Jaringan PAU

Biotekbiologi IPB: Bogor

Handayani, T. 1995. Persilangan Antarjenis Solanum khasianum CLARKE dan


Solanum

capsicoides ALL dengan Penyelamatan Embrio dan Perlakuan Kolkisin.


Tesis Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Hendaryono, D.P.S. Dan Wijayani, A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius :


Yogyakarta.
Hartati, Sumijati, pardono, dan Ongko Cahyono. 2014. Perbaikan Anggrek Alam
(Vanda

spp.)melalui Persilangan Interspesifik dalam Mendukung Perkembangan


Anggrek di Indonesia. Junal Ilmu Pertanian. Vol 02 No. 1.

Hartmann, H.T., kester, D.E., Davies, F.T., and Geneve R.L., 2002. Plant Propagation

Principles and Practiese, 6th Ed. New Delhi: Prentice Hall oh Insia Private
Limited.

Haryanto, E Dan Hendarto, B. 1996. Nanas. Penebar Swadaya: Jakarta

Hu, C.Y. and P.J. wang. 1983. Meristem Shoot Tip and Bud Cultures. In D.A Evan,

W.R.Sharp, P.V.Ammarinto and Y. Yamada (Eds). Hands Book of Plant Cell


Culture. Vol 1. Technologies for Propagation and Breeding. Mac. Millan
Publ. Co .N.Y.p. 177-227

Hu and Wang, P. 1986. Embryo Culture Technique and Application In: Hand
Iswanto H. 2010. Pupuk Hayati BNR untuk Perumbuhan dan Adaptasi Tanaman di
Lahan

Marginal. Universitas Lampung, Lampung.

Kartikasari, R. 2009. Pengaruh perbedaan media tanam terhadap keberhasilan


aklimatisasi Phalaenopsis sp. Skripsi. Universitas Negeri Malang. Malang.

Karjadi, A.K. dan Buchory A. 2008. Pengaruh Auksin dan Sitokinin terhadap
Pertumbuhan dan Perkembangan Jaringan Meristem Kentang Kultivar
Granola. J. Hort. 18(4): 380-384

Kasutjianingati., dan D. Boer. 2013. Mikropropagasi Pisang Mas Kirana (Musa

acuminate) Memanfaatkan BAP dan NAA secara in Vitro. Jurnal Agroteknos


3(1): 60-64

Martin, K.p and Madassery, J. 2006. Rapid in vitro propagation of Dedrobium Hybrids

through direct shoot formatiom from exsplants, and protocorm like bodies. Sci
Hort 108:95-99

Nugroho, A dan H. Sugianto. 1997. Pedoman Pelaksanaan Tehnik Kultur Jaringan.


Penebar Swadaya, Jakarta.

Purwati, P. 2012. Pengaruh Macam Media Dalam Keberhasilan Aklimatisasi Anggrek

Phalaenopsis amabilis (Anggrek Bulan). Program Study Holtikultura Jurusan


Budidaya Tanaman Pangan Politeknik Negeri lampung.

Pramono, Hari.2007. Teknik Kultur Jaringan, Jakarta:Kanisius

Puspitaningtyas, Dwi Murti, Sofi Mursidawati dan Suprih Wijayanti. 2006. Study

Fertilisasi Anggrek Paraphalaenopsis sepentilingua (J.J.Sm) A.D. Hawkes.


Pusat Konservasi Tumbuahn-Ke; 237-241bun Raya Bogor, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor, Volume 7(3)

Puspitaningtyas, D.M. dan Mursidawati. 2010. Koleksi Anggrek Kebun Raya Bogor.
UPT
Balai Pengembangan Kebun Raya-LIPI. Bogor. 1(2).

Ramadiana, S., A.P. Sari, Yusnita dan Mursidawti, 2010. Koleksi Kebun Raya Bogor.

UPT Balai Pengembangan Kebun Raya-LIPI. Bogor. 1(2).

Saad, A.I.M., dan A.M. Elshahed. 2012. Capter II: Plant Tissue Culture Media. Intech,

pp 29-40.

Sarwono, B., 2002. Mengenal dan Membuat Anggerk Hibrida. Jakarta: AgroMedia

Pustaka

Santoso, U. dan F. Nursandi. 2003. Kultur Jaringan Tanaman. Universitas

Muhammadiyah Malang. Malang. 191 hal

Sugeng, S.S 1997. Mengenal dan Bertanam Anggrek. Semarang: CV Aneka Ilmu

Sriyanti, Daisy P. dan Ari Wijayani. 2002. Teknik Kultur Jaringan : Pengenalan dan

Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif-Modern. Yogyakarta:


Kanisius

Walkel, B. & J. Burke. 1988. Fertilyty of Species Orchids in Self and Interclonal

Pollination.In: Adam, P.B. (ed). Reproductive Biology of Species Orchids:


Principles and Practice. Melbourn: School of Botany, The University of
Melbourn-Orchid Spesies Society of Victoria

Withner, C.L. 1959. The Orcids: A scientific Survey. John Wiley and Sons, New York.

648pp

Yuniastuti, Endang. 2008. Buku Petunjuk PraktikumKultur Jaringan . Surakarta: UNS

Press.

Yusnita, 2003. Kultur Jaringan Cara memperbanyak Tanaman Secara Efisien. P.T

Agromedia Pustaka :Tangerang

Yusnita, 2004. Kultur Jaringan Cara memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta:
P.T Agromedia Pustaka

Umami, N. 2012. Efficient Nursery Production and Multiple Shoot Clumps Formation

from Shoot Tiller Derived Shoot Apices of Dwarf Napier Grass (Pennisetum
purpureum Schumach). JWARAS 55 (2) : 121-127.

LAMPIRAN
1. Pembuatan Media Sederhana dan Inokulasi Media Sederhana

Menimbang bahan-bahan yang Memindahkan bahan-bahan ke media


dibuhkan yang telah disediakan
Mengukur pH yang ada di media agar mengukur aquades yang akan
sesuai dengan ketentuan ditambahkan ke media

Memanaskan media menghomogenkan media


Mengambil media yang telah jadi dan Eksplan daun anggrek bbulan yang
dipindahkan kedalam botol media telah dinokulasi pada media sederhana

Eksplan yang mengalami kontaminasi

2. Penyilangan Anggrek Dendrobium sp

Persilangan anggrek penamanaan anggrek yang telah disilangkan


3. Alimatisasi Anggrek Bulan
Aklimatisasi anggrek bulan phalaenopsis sp.
LAPORAN PRAKTIKUM
KULTUR JARINGAN TUMBUHAN

Pembuatan Media Sederhana, Pembuatan Media Murashige dan


Skoog (MS), Isolasi dan Inokulasi Eksplan Daun Anggrek Bulan
(Phalaenopsis amabilis), Isolasi dan Inokulasi Embrio Kacang Merah
(Phaseolus vulgaris), Penyilangan Anggrek Bulan (Phalaenopsis
amabilis) dan Aklimatisasi Anggrek Dendrobium sp.

Disusun oleh :
Wahyu Krisminanti Putri
16030244019

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI BIOLOGI
2017

Anda mungkin juga menyukai