Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN STRES DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA USIA

PRODUKTIF DI PUSKESMAS

Disusun oleh :

NAMA : SYAFIQAH FAKHIRAH


NPM : 51120002

Dosen Pembimbing I : Dr. Ana Faizah, S.Kep., M.Biomed


Dosen Pembimbing II : Ns. Cica Maria, S.Kep., M.Biomed

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
2024

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya


lebih atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan diastoliknya lebih atau sama
dengan 90 mmHg. Faktor penyebab pada hipertensi, sebesar 90% tidak diketahui
secara pasti, tetapi berdasarkan beberapa penelitian terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi seperti merokok, minuman beralkohol,
berat badan berlebih serta stres. Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan
adalah jenis kelamin, keturunan, ras dan usia. Sedangkan faktor risiko yang dapat
dikendalikan adalah kekurangan olah raga atau aktivitas fisik, obesitas, minum
kopi, merokok, alkoholisme, sensitivitas natrium, kadar kalium rendah, pola
makan, pendidikan, pekerjaan, dan stress. Stres diduga mempengaruhi
peningkatan tekanan darah serta menjadi faktor terjadinya hipertensi (Muhammad
Ridho dkk, 2021).

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi


permasalahan kesehatan utama di seluruh dunia. Hal tersebut dikarenakan
hipertensi menjadi faktor risiko berbagai penyakit seperti stroke, diabetes,
jantung, dan gagal ginjal. Salah satu faktor risiko meningkatnya kejadian
hipertensi adalah perubahan gaya hidup terutama pada masyarakat usia dewasa
muda di daerah perkotaan. Gaya hidup sedenterial (banyak duduk), kebiasaan
merokok, alkoholisme, diet tinggi lemak, obesitas, stres, narkoba, mengonsumsi
bahan pengawet (kimiawi), dan sering mengonsumsi makanan atau minuman
berkafein tinggi merupakan beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi (Made
Adi Sutarjana, 2021).

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi


masalah kesehatan yang sangat serius saat ini. Hipertensi yang tidak terkontrol
dapat menyebabkan peluang 7 kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar
terkena penyakit jantung kongestif, dan 3 kali lebih besar terkena serangan
jantung. Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat dilakukan pemeriksaan
fisik karena alasan penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai silent killer.
Hipertensi merupakan penyakit yang mendapat perhatian dari semua kalangan
masyarakat, sehingga membutuhkan penanggula-ngan jangka panjang yang
menyeluruh dan terpadu (Imelda dkk, 2020).

Stres terjadi karena adanya tekanan dari lingkungan terhadap seseorang


sehingga merangsang reaksi tubuh dan psikis. Stres juga mampu memicu
peningkatan tekanan darah pada penderita hipertensi. Reaksi tubuh yang terjadi
akibat stress meliputi napas pendek, jantung berdebar-debar dan keringat dingin.
Stres tidak memandang usia, stres dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu
stres ringan, stres sedang dan stres berat (Fanny Damayanti Situmorang, 2020).

Stres adalah reaksi terhadap berbagai tuntutan atau beban yang bersifat non
spesifik namun, stres dapat juga menjadi faktor pencetus, penyebab sekaligus
akibat dari suatu gangguan atau penyakit. Faktor psikososisal mempunyai cukup
arti bagi terjadinya stres pada diri seseorang. Stres dalam kehidupan sehari-hari
merupakan suatu hal yang tidak dapat Stres dapat berpengaruh langsung dengan
melalui sistem pengaturan utama, khususnya aksis hipotalamus-hipofisisadrenal
dan sistem saraf otonom, menyebabkan pelepasan katekolamin abnormal yang
merusak kinerja vaskular, dorongan simpatis yang tidak tepat, dengan demikian
memberi pengaruh untuk meningkatkan tekanan arteri. Hubungan stres dengan
hipertensi primer diduga oleh aktivitas saraf simpatis melalui (katekolamin,
kortisol, vasopresin, endorphin dan aldosteron) yang dapat meningkatkan tekanan
darah yang bersifat intermitten. Apabila stres berkepanjangan dapat berakibat
tekanan darah menetap tinggi. Peningkatan tekanan darah sering bersifat
intermitten pada awal perjalanan penyakit, bahkan pada kasus yang sudah tegak
diagnosisnya sangat berfluktuasi karena akibat dari respon dari stres emosional
dan aktivitas fisik (Muhammad Ridho dkk, 2021).

Berdasarkan teori Robert E. Kowalski (2010) faktor-faktor resiko hipertensi


adalah terjadinya riwayat keluarga,ras, obesitas, aktifitas fisik, asupan natrium dan
garam, alkohol, dan stres. Obesitas adalah faktor risiko lain yang sangat
menentukan tingkat keparahan hipertensi. Semakin besar massa tubuh seseorang,
semakin banyak darah yang dibutuhkan untuk menyuplai oksigen dan nutrisi ke
otot dan jaringan lain. Kebiasaan bermalas-malasan semakin meningkatkan risiko
melalui pengubahan kondisi otot jantung seperti yang dilakukannya pada otot-otot
lain dalam tubuh. Orang yang pemalas cenderung lebih rentan terhadap serangan
jantung. Aktifitas fisik adalah vasodilator, itu berarti bahwa olahraga dapat
mengembangkan pembuluh darah. Asupan natrium dan garam tergolong faktor
risiko hipertensi yang kontroversial. Memang benar beberapa individu peka
terhadap natrium, baik yang berasal dari garam kemasan atau bahan lain yang
mengandung natrium. dan hidangan cepat saji. Tetapi, respons terhadap natrium
pada setiap orang tidak sama. Natrium merupakan salah satu bentuk mineral, atau
elektrolit. yang berpengaruh terhadap tekanan darah. Alkohol jelas berpengaruh
terhadap tekanan darah, tetapi ini masih tergolong ke dalam zona abu-abu.
Konsumsi alkohol berlebihan dapatmeningkatkan tekanan darah, sementara
konsumsi dalam jumlah secukupnya justru dapat mengendalikan tekanan darah.
Stres adalah subjek kontroversial lain di kalangan komunitas peneliti medis,
meskipun dokter rumah sakit sering melihat bahwa stres sangat memengaruhi
kondisi pasien mereka. Stres mempercepat produksi senyawa berbahaya,
meningkatkan kecepatan denyut jantung dan kebutuhan akan suplai darah, dan
tidak lama kemudian, meningkatkan tekanan darah serta menimbulkan serangan
jantung dan stroke.

Berdasarkan teori Muhammad Ridwan (2017) faktor resiko pemicu penyakit


hipertensi dapat disebabkan oleh factor keturunan, usia yang semakin tua, massa
tubuh yang berlebihan, konsumsi garam melebihi ambang batas, keturunan yang
memiliki riwayat penyakit hipertensi, pola makan dan gaya hidup yang kurang
sehat, serta aktivitas olahraga yang kurang. Salah satu factor pemicu munculnya
penyakit hipertensi adalah asupan bahan makanan yang kurang memenuhi syarat
sebagai makanan sehat. Namun menjaga pola makan saja tidaklah cukup bila
tidak diikuti dengan pengendalian factor psikokultural dan psikososial seperti
stress dan depresi yang dapat menjadi pemicu munculnya penyakit hipertensi.
Yang menarik adalah, lokasi tempat orang tinggal juga berpengaruh terhadap
munculnya penyakit hipertensi.

Prevalensi tekanan darah di Kota Batam berdasarkan hasil Riskesdas tahun


2018 prevalensi tekanan darah tinggi di Kota Batam berada pada posisi 19,7%
dari jumlah penduduk usia >18 tahun. Untuk dapat mengetahui prevalensi
penyakit ini harus dilakukan melalui survei, karena kegiatan survei penyakit
tekanan darah tinggi tidak dilakukan, sehubungan dengan ketersediaan dana dan
tenaga. maka untuk mengetahui prevalensi penyakit tekanan darah tinggi di Kota
Batam berdaarkan hasil survei yang ada. Sebagaimana diketahui bahwa penyakit
tekanan darah tinggi sangat dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang, dengan
melakukan olah raga, makan makanan yang sehat dapat mencegah terjadinya
penyakit tekanan darah, untuk itu upaya dalam menurunkan prevalensi penyakit
tekanan darah tinggi adalah meningkatkan upaya promosi kesehatan melalui
gerakan masyarakat (germas) hidup sehat (Dinkes, 2021).

Menurut WHO, hipertensi (tekanan darah tinggi) terjadi ketika tekanan di


pembuluh darah Anda terlalu tinggi (140/90 mmHg atau lebih tinggi). Hal ini
biasa terjadi tetapi bisa menjadi serius jika tidak diobati. Penderita tekanan darah
tinggi mungkin tidak merasakan gejala apa pun. Satu-satunya cara untuk
mengetahuinya adalah dengan memeriksakan tekanan darah Anda (WHO, 2023).

Diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di seluruh dunia
menderita hipertensi, sebagian besar (dua pertiga) tinggal di negara-negara
berpenghasilan rendah dan menengah. Diperkirakan 46% orang dewasa penderita
hipertensi tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut. Kurang
dari separuh orang dewasa (42%) penderita hipertensi didiagnosis dan diobati.
Sekitar 1 dari 5 orang dewasa (21%) dengan hipertensi dapat mengendalikannya.
Hipertensi merupakan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia (WHO,
2023).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) prevalensi hipertensi di


Indonesia sebesar 34,1%. Ini mengalami peningkatan dibandingkan prevalensi
hipertensi pada Riskesdas Tahun 2013 sebesar 25,8%. Diperkirakan hanya 1/3
kasus hipertensi di Indonesia yang terdiagnosis, sisanya tidak terdiagnosis
(Kemkes, 2021). Dibandingkan dengan data hasil Riskesdas tahun 2013, angka
kejadian ini mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Kawasan Asia Tenggara
termasuk Indonesia, dilaporkan 49,7% penyebab kematian salah satunya adalah
hipertensi (Alkhusari dkk, 2023).

Berdasarkan data Dinkes, diketahui bahwa jumlah estimasi penderita


hipertensi berusia ≥ 15 tahun di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2021 sebanyak
409.655 dengan jumlah estimasi penderita hipertensi berusia ≥ 15 tahun tertinggi
terdapat di Kota Batam sebanyak 235.689 orang. Estimasi penderita hipertensi
terendah ditemukan di Kabupaten Kepulauan Anambas, dengan jumlah kasus
sebanyak 5.648 orang. Cakupan pelayanan hipertensi berdasarkan laporan
pelayanan kesehatan hanya separuh dari estimasi kasus yang ada. Kabupaten
Kepulauan Anambas melakukan pelayanan hipertensi tertinggi dengan capaian
90%, sedangkan Kabupaten/Kota lainnya tidak lebih dari separuh angka estimasi
(Dinkes, 2021).

Seseorang pada usia dewasa muda dihadapkan berbagai macam pilihan hidup
yang dapat memicu terjadinya ketegangan emosional dan stres. Stres merupakan
gangguan pada pikiran dan tubuh yang disebabkan oleh perubahan lingkungan
maupun citra pribadi terhadap lingkungan (Made Adi Sutarjana, 2021).

Berdasarkan penelitian Asfri Sri Rahmadeni (2018) diperoleh ada hubungan


antara stres dengan kejadian hipertensi. Dengan hasil penelitian ini didapatkan
bahwa stres yang dialami adalah stres sangat berat mayoritas 62,3% responden,
mayoritas 91,8% responden mengalami hipertensi. Hasil analisis terdapat
hubungan antara stres dengan kejadian hipertensi dengan nilai ρ = 0,001 < 0,05.
Dapat disimpulkan bahwa stres mampu mempengaruhi tekanan darah baik sistolik
maupun diastolik pada responden, maka sebaiknya anggota prolanis menjaga pola
hidup sehat untuk menghindari stres..

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat ditetapkan rumusan
masalah penelitian : Apakah ada hubungan antara stress dengan kejadian
hipertensi di puskesmas X?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menganalisis hubungan antara stress pada orang dewasa dengan
kejadian hipertensi di puskesmas X.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengindentifikasi stress pada orang dewasa di puskesmas X
2. Untuk mengidentifikasi kejadian hipertensi pada orang dewasa di
puskesmas X
3. Untuk mengetahui hubungan antara stress dengan kejadian hipertensi
di puskesmas.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam upaya
melakukan sosialisasi terhadap pentingnya bahaya merokok dengan
kejadian hipertensi.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini menjadi salah satu data riset yang dapat dikembangkan
sebagai masukan penelitian selanjutnya dan menjadi referensi dalam
memperluas pengetahuan serta pengalaman penelitian terbaru tentang
Hubungan Stres dengan kejadian Hipertensi Pada Orang Dewasa Di
Puskesmas.

Kerangka Teori
1. Faktor yang dapat dikontrol
a. Obesitas
b. Aktifitas fisik
c. Asupan natrium dan garam
d. Alkohol

e. stres Hipertensi

2. Faktor yang tidak dapat dikontrol


a. Factor keturunan, usia yang
semakin tua
b. Ras
c. keturunan yang memiliki
riwayat penyakit hipertensi

Gambar 1. Kerangka Teori


Sumber : (Robert E. Kowalski, 2010) (Muhammad Ridwan, 2017)
Keterangan
: variable yang diteliti
: variable yang tidak diteliti
DAPUS

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension

Anda mungkin juga menyukai