Anda di halaman 1dari 5

ACARA VII MUATAN TANAH ( KPK DAN KPA YANAH KUALITATIF )

ABSTRAKSI
Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah Acara VII mengenai muatan tanah ( KPK dan Kpa tanah kualitatif ) dilakukan di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Selasa 23 Maret 2010. Kapasitas Pertukaran Kation ( KPK atau KTK ) merupakan kemampuan tanah untuk menyerap dan menukar kembali kation dari dan ke dalam larutan tanah. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk membuktikan muatan negatif zarah-zarah tanah dengan dua macam zat warna ( gention violet dan eosin red ) dan untuk membuktikan pengaruh luas permukaan zarah tanah terhadap KPK ( Kapasitas Pertukaran Kation ). Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalh tanah berdiameter 0,5 mm dari tanah Entisol, Rendzina, Ultisol, Alfisol, dan Vertisol serta larutan eosin red dan gention violet. Alat-yang digunakan dalam praktikumn ini adalh 10 buah tabung reaksi. Larutan gention violet menunjukkan nilai KPK. Sedangkan larutan eosin red menunjukkan nilai KPA ( kapasitas Pertukaran Anion ). Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil perbandingan nilai KPK dari beberapa jenis tanah adalah Vertisol> Rendzina> Ultisol> Alfisol> Entisol. Dan untuk perbandingan nilai KPA adalah Entisol> Vertisol> Alfisol> Ultisol> Rendzina. Tanah yang memiliki kandungan bahan organik tinggi akan mempunyai nilai KPK yang tinggi bila dibandingkan dengan tanah yang berpasir/tanah pasir.

I PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG Kation merupakan ion bermuatan positif dan larut didalam tanah atau dapat dijerap oleh koloid-koloid tanah sehingga unsure-unsur hara tersebut tidak mudah hilang meskipun tercuci oleh air. Kapasitas Tukar Kation (KPK) dapat diartikan kemempuan tanah untuk menjerap dan menukar kembali kation dari dan kedalam larutan tanah. Koloid tanah yang berperan aktif dalam proses pertukaran dan jerapan ion adalah koloid anorganik ( mineral lempung ) dan koloid organic ( humus ). KPK tiap jenis tanah berbeda-beda. Tanah dengan KPK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsure hara lebih baik daripada tanah dengan KPK rendah. Hal ini tergantung pada koloid lempung yang umumnya bermuatan

negative dimana pada tiap tanah jumlah dan kesanggupan pertukaran kation berbeda-beda. B.TUJUAN Tujuan dari praktikum ini adalah : 1. 2. Membuktikan muatan negative zarah zarah tanah dengan dua macam zat Membuktikan pengaruh luas permukaan tanah terhadap KPK

warna ( eosin red dan gention violet )

Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/11/kapasitas-tukar-kationktk.html(abdul madjid)

Ion yang dipertukarkan dapat berupa kation dan besarnya disebut kemampuan tukar kation (KTK). KTK dan KTA masing-masing diukur menurut jumlah maksimum kation dan anion yang dapat dijerap tanah. Daya jerap tanah berada pada koloid tanah atau disebut juga kompleks jerapan, yang terdiri atas mineral lempung, bahan humik dan oksida sertahidroksida Fe dan Al. Muatan bersih kompleks jerapan diimbangi oleh muatan ion berlawanan yang terjerap sehingga sistem terpertahankan pada keadaan elektronetral (Forth, 1988) Forth, Henry D. 1988. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Besarnya KPK tanah dipengaruhi oleh : 1. Tekstur Tanah

Tanah bertekstur lempung mempunyai KPK yang jauh lebih tinggi dari tanah bertekstur debuan maupun pasiran. KPK tanah lempung > tanah debuan > tanah pasir. 2.Jenis Mineral Lempung Mineral lempung tipe 2 : 1 ( golongan montmorilonit ) mempunyai KPK jauh lebih besar dibandingkan mineral lempung tipe 1 : 1 ( golongan kaolit dan seskuioksida ). 3.Kandungan Bahan Organik Semakin banyak kandungan bahan organik yang telah terdekomposisi matang semakin besar sumbangan KPK tanah. 4.pH tanah Pada tanah bermuatan terubahkan, maka pH tanah semakin tinggi KPK tanah semakin tinggi. ( Buringh, 1983 ). Buringh, P. 1983. Introduction of The Study of Soil in Tropical and Sub Tropical Regions. (Pengantar Penyajian Tanah) alih bahasa : Tejoyuwono Notohadiprawiro. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 164p.

Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca2+, Mg2+, K+, NH4+, H+, Al3+ dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam air tanah atau diserap oleh koloid-koloid tanah. Satuan berat tanah (biasanya per 100g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kemampuan tukar kation adalh kapasitas tanah menjerat dan mempertukarkan kation. Kation- kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah (Skyilberg, 2001). Skyilberg, U. 2000. Solution Soil Rtion and realaese of Cations and acidity from spodosol horizon. Soil Science Society of America Journal 59:789-795.

Sifat-sifat pertukaran kation dalam tanah banyak digunakan dalam menilai tingkat kesuburan tanah dan klasifikasi tanah. Dalam penilaian kesuburan tanah, KPK berhubungan dengan kapasitas penyediaan Ca, Mg dan K, efisiensi pemupukan dan pengapuran pada lapisan tanah (Hamid dan Sudjadi, 1986). Hamid, A., dan M. Sudjadi. 1986. Perbandingan beberapa metode penerapan kapasitas tukar kation pada taah meineral masam. Jurnal Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 6: 40-46.

III. METODOLOGI

Praktikum yang berjudul Muatan Tanah ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 22 Oktober 2007 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Praktikum kali ini menggunakan bahan-bahan antara lain contoh tanah 0,5 mm, larutan gentian violet dan larutan eosin red. Sedangkan alat-alatnya adalah tabung reaksi, plastik, karet dan pipet. Metode yang digunakan dalam praktikum muatan tanah ini adalah metode walkey and black dengan cara kerja sebagai berikut : pertama ambil tabung reaksi kemudian isi dengan tanah 0,5 mm dan tambahkan larutan gentian violet setinggi 5 cm dari alas tabung. Kemudian tutup tabung reaksi tersebut dengan plastik dan menggojok selama 2 menit lalu biarkan agar tanah mengendap beserta filtratnya. amati warna filtratnya dan bandingkan dengan kontrol (larutan gentian violet tanpa tanah). ulangi langkah ini dengan menggantikan gention violet dengan larutan eosin red kemudian bandingkan intensitas warna filtrat antar jenis tanah.