Anda di halaman 1dari 3

PPh Pasal 24 Kredit Pajak Luar Negeri Pasal 4 ayat (1) menyatakan pajak yang dibayar atau terutang

di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terhutang berdasarkan Undang-Undang PPh No. 36 Tahun 2008 dalam tahun pajak yang sama. Besarnya kredit pajak adalah sebesar pajak pengasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri tetapi tidak boleh melebihi penghitungan pajak luar yang terutang di Indonesia. Dalam pasal 24 juga diatur mengenai source rule yaitu memngatur mengenai dimana penghasilan itu berasal. Selain itu terdapat konsep perhitungan kredit pajak luar negeri secara factual dan teoritis, yang diambil adalah kredit pajak yang terkecil. contoh: PT. XYZ tahun 2011 menerima dividen dari negara yang belum mempunyai tax treaty dengan Indonesia sebesar Rp. 450.000.000 dan telah dipotong pajak atas dividen di negara tersebut sebesar 30%. Diketahui PKP dalam negeri sebesar Rp. 1.200.000.000. hitung PPh pasal 24! Pembahasan: Menghitung world wide income (WWI)

Rp. 1.200.000.000 + Rp. 450.000.000 = Rp. 1.650.000.000 Menghitung PPh terutang Badan

25% x Rp. 1.650.000.000 = Rp. 412.500.000 Hitung KPLN Faktual

30% x Rp. 450.000.000 = Rp. 135.000.000 Hitung KPLN Teoritis

Rp. 450.000.000 x Rp. 412.500.000 = Rp. 112.500.000 Rp. 1.650.000.000 Maka yang dijadikan kredit pajak luar negeri atau PPh Pasal 24 terutang adalah KPLN Teoritis karena jumlahnya lebih kecil sebesar Rp. 112.500.000 PPh terutang di Indonesia = Rp. 412.500.000 = Rp. 112.500.000 (-)

Kredit pajak luar negeri

PPh Kurang Bayar

= Rp. 300.000.000

PPh Pasal 25 Pajak yang dibayar sendiri melalui cicilan tiap bulan atas pajak teutang dalam satu tahun pajak.
Besarnya angsuran PPh Pasal 25 harus dihitung sesuai dengan ketentuan. Pada umumnya, cara menghitung PPh Pasal 25 didasarkan kepada data SPT Tahunan tahun sebelumnya. Artinya, kita mengasumsikan bahwa penghasilan tahun ini sama dengan penghasilan tahun sebelumnya. Tentu saja nanti akan ada perbedaan dengan kondisi sebenarnya ketika tahun pajak sekarang sudah berakhir. Selisih tersebutlah yang kita bayar sebagai kekurangan pajak akhir tahun. Kekurangan bayar akhir tahun ini biasa dinamakan PPh Pasal 29. Apabila selisihnya menunjukkan lebih bayar, maka kondisi ini dinamakan restitusi atau Wajib Pajak meminta kelebihan pembayaran pajak yang telah dilakukan. Pada umumnya angsuran pajak ini adalah sebesar Pajak Penghasilan terutang menurut SPT Tahunan Pajak Penghasilan tahun lalu dikuranggi dengan kredit pajak Pajak Penghasilan Pasal 21, 22, 23 dan Pasal 24, dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak. Misal, SPT Tahunan 2011 menunjukkan data sebagai berikut : Pajak Penghasilan terutang Kredit Pajak PPh Pasal 21,22,23 dan 24 Rp. 50.000.000 Rp. 35.000.000

Maka, PPh Pasal 25 tahun 2012 yang harus dibayar tiap bulan adalah sebagai berikut : Pajak Penghasilan terutang Kredit Pajak PPh Pasal 21,22,23 dan 24 Selisih PPh Pasal 25 = 15.000.000 : 12 = Rp. 50.000.000 Rp. 35.000.000 Rp. 15.000.000 Rp. 1.250.000

selain itu, pada pasal 25 ayat (6) diatur mengenai kompensasi kerugian yang dapat mempengaruhi besarnya angsuran yang dibayarkan Wajib Pajak. Berikut contohnya: PT. A ingin menghitung besar angsuran PPh Pasal 25 untuk tahun 2011, dengan data-data sebagai berikut: penghasilan PT A tahun 2010 sebesar 100 juta, dengan kompensasi kerugian sebesar 90 juta. hitung besar angsuran PPh Pasal 25! - Penghasilan PT A tahun 2010 Rp. 100 juta

- Kompensasi kerugian - Penghasilan - PPh Badan 25% - Kredit Pajak - Lebih Bayar

Rp. 90 juta Rp. 10 juta Rp. 2.5 juta (Rp. 7 juta) (Rp. 4,5 juta)

dalam kondisi ini PT A berhak atas restitusi karena kredit pajak yang telah dibayar lebih besar dibandingkan dengan PPh terutang di Indonesia. contoh lainnya adalah sebagi berikut: kompensasi kerugian PT A sebesar 120 juta dengan besar penghasilan yang sama pada tahun 2010. - Tahun 2010 besar penghasilan PT A Kompensasi kerugian Penghasilan tidak ada PPh terutang pada tahun ini. - Tahun 2011 besar penghasilan PT A sisa kompensasi kerugian tahun 2010 penghasilan PPh badan 25% Kredit Pajak PPh pasal 25 Rp. 100 juta (Rp. 20 juta) Rp. 80 juta Rp 20 juta Rp 7 juta Rp. 13 juta/12 = Rp. 1.083.333,33 Rp. 100 juta (Rp. 120 juta) (Rp. 20 juta)