Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGHANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul "Kalibrasi" tepat pada waktunya. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Padang, 7 January 2012

Tri Octria Miranda

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Pengertian kalibrasi menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau system pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusuri (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional. 1.Tujuan kalibrasi 1. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional penunjukan suatu instrument ukur. 2. Menjamin hasil-hsil pengukuran sesuai dengan standar Nasional maupun Internasional.
3. Mencapai ketertelusuran pengukuran

2. Manfaat kalibrasi
1. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri

pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki. 2. Dengan melakukan kalibrasi, bisa diketahui seberapa jauh perbedaan (penyimpangan) antara harga benar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.

3. Menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesefikasinya

3. Prinsip dasar kalibrasi 1. Obyek Ukur (Unit Under Test)


2. Standar Ukur(Alat standar kalibrasi, Prosedur/Metrode standar

(Mengacu ke standar kalibrasi internasional atau prosedur yg dikembangkan sendiri oleh laboratorium yg sudah teruji (diverifikasi).
3. Lingkungan yg dikondisikan (Suhu dan kelembaban selalu dikontrol,

Gangguan faktor lingkungan luar.

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR........................................................................... PENDAHULUAN ................................................................................ DAFTAR ISI.......................................................................................... I II III

BAB1 KALIBRASI A. Definisi kalibrasi............................................................................... B. Manfaat Kalibrasi.............................................................................. C. Proses Kalibrasi................................................................................. D. Kalibrasi Alat Ukur .......................................................................... 1 3 4 5

BAB 2 SUMBER-SUMBER YANG MEMPENGARUHI HASIL KALIBRASI A. Sumber-sumber yang mempengaruhi hasil kalibrasi . B. Perbedaan Kalibrasi dan tera. C. Unit Kalibrasi. D. Istilah dalam kalibrasi Bab 3 Penutup Kesimpulan dan Saran Daftar pustaka 17 10 11 13 15

BAB I KALIBRASI

A. Definisi Kalibrasi

Kalibrasi memiliki pengertian yang berbeda-beda baik secara teoritis maupun praktis. Bahkan dalam obrolan santai malah sering keluar agak jauh dari pengertian sebenarnya. Kalibrasi dianggap sama persis dengan jasa refurbish, dimana digambarkan seorang nenek usia lanjut masuk ke black box lalu gak lama kemudian keluarlah cewek muda cantik. Wah, kalau urusan yang begini sih, orang pada berduyun-duyun masuk jadi teknisi kalibrasi. Dalam keseharian operasional kalibrasi selama lebih dari sepuluh tahun, saya juga sering mendapatkan bahwa harapan kastamer adalah menginginkan alat ukur yang diorderkannya (untuk jasa kalibrasi) pada suatu Lab kalibrasi akan menjadi seperti baru lagi. Bahkan ada yang pernah bertanya kok alatnya terlihat tidak diapa-apakan, masuk lecek kok keluar masih lecek. Ini kejadian nyata, yang sempat membuat bos saya memerintahkan untuk mengelap bersih-bersih alat ukur (bahkan mencuci covernya jika bisa dilepas) setelah alat ukur selesai dikalibrasi, agar ada kesan (tangible) bahwa alat ukur menjadi cewek muda cantik kembali. Bby the way, terlepas dari kesibukan para teknisi Lab untuk memberi sosialisasi kepada kastamernya (sekalian agar ada excuse kalau alat ukurnya nggak bisa diadjust), ISO sudah membuat definisi resmi untuk kalibrasi ini agar menjadi standar bagi dunia metrologi secara internasional. Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan Vocabulary of International Metrology (VIM), kalibrasi adalah kegiatan yang menghubungkan nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur

dengan nilai-nilai yang sudah diketahui tingkat kebenarannya (yang berkaitan dengan besaran yang diukur). Nilai yang sudah diketahui ini biasanya merujuk ke suatu nilai dari kalibrator atau standar, yang tentunya harus memiliki akurasi yang lebih tinggi daripada alat ukur yang di-tes (biasa disebut unit under test atau UUT). Ini sesuai dengan salah satu tujuan kalibrasi adalah untuk mencapai ketertelusuran pengukuran atau menjaga agar traceability link ini tidak putus. Jadi lugasnya begini, misalnya saya akan membandingkan pembacaan tegangan 10 V dari suatu multimeter dengan pembacaan dari multimeter lain yang memiliki nilai akurasi yang lebih baik, nah itu sudah bisa dikatakan kalibrasi. Tentu ini juga mengundang pertanyaan pertanyaan lain, misalnya seberapa benar keakuratan multimeter kedua, dan bagaimana keabsahan penilaian yang diberikan. Siapa yang boleh melakukan judgment penilaian tersebut dan seterusnya, tetapi untuk

sekedar memberi pengertian basic saja tentang kalibrasi, definisi di atas sudah oke. Tetapi ada satu hal yang menarik di sini, yaitu dengan definisi ini maka secara hukum per-ISO-an, nampaknya suatu adjustment (apalagi refurbishment) tidak harus dilakukan. Jadi hukum ini melindungi suatu Lab jika ada kastamer yang memaksa Lab untuk melakukan adjustment terhadap alat ukurnya. Bagi Lab sebenarnya juga tidak ada masalah, kalau ada kastamer demikian tinggal dibatalkan saja layanannya. Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu

standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Sistem manajemen kualitas memerlukan sistem pengukuran yang efektif, termasuk di dalamnya kalibrasi formal, periodik dan terdokumentasi, untuk semua perangkat pengukuran. ISO 9000 dan ISO 17025 memerlukan sistem kalibrasi yang efektif. Kalibrasi diperlukan untuk:

Perangkat baru Suatu perangkat setiap waktu tertentu Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (jam operasi) Ketika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi mengubah kalibrasi Ketika hasil pengamatan dipertanyakan Kalibrasi, pada umumnya, merupakan proses untuk menyesuaikan

keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu. Contohnya, termometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi), sehingga termometer tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya dalam celcius pada titik-titik tertentu di skala. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, terdapat direktorat metrologi yang memiliki standar pengukuran (dalam SI dan satuan-satuan turunannya) yang akan digunakan sebagai acuan bagi perangkat yang dikalibrasi. Direktorat metrologi juga mendukung infrastuktur metrologi di suatu negara (dan, seringkali, negara lain) dengan membangun rantai pengukuran dari standar tingkat tinggi/internasional dengan perangkat yang digunakan.

Hasil kalibrasi harus disertai pernyataan "traceable uncertainity" untuk menentukan tingkat kepercayaan yang di evaluasi dengan seksama dengan analisa ketidakpastian. Manfaat kalibrasi industri ISO / IEC 17025 yang diakui sebagai patokan internasional untuk menyetujui kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi yang memainkan peranan penting dalam perdagangan, pengembangan dan produksi produk dan perlindungan konsumen . ISO / IEC 17025:2005, Persyaratan umum untuk kompetensi laboratorium pengujian dan kalibrasi , yang menggantikan edisi 1999 yang digunakan untuk mengakreditasi (menyetujui) beberapa 25 000 laboratorium di seluruh dunia yang meneliti produk dan sampel dan instrumen presisi kalibrasi. Namun, pengaruh ISO / IEC 17025 bahkan lebih besar daripada apa yang menunjukkan angka-angka ini, karena banyak negara membuat persyaratan hukum. Selain itu, dokumen yang berasal dari itu digunakan oleh laboratorium di sektor-sektor tertentu seperti obat-obatan dan mikrobiologi. ISO Sekretaris-Jenderal Alan Bryden berkomentar: ISO / IEC 17025 manfaat bisnis, pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan Keyakinan dalam kompetensi laboratorium yang sering dibutuhkan di pasar ketika mempertimbangkan produk baru, atau memverifikasi bahwa. produk jadi cocok untuk dijual, atau ketika pejabat pemerintah atau bisnis yang membutuhkan jaminan tentang produk dalam negeri atau impor sebelum mereka dapat ditempatkan di pasar, atau untuk memastikan kualitas dan kehandalan pengujian dan analisis bagi lingkungan, bahaya kesehatan dan keselamatan. ISO / IEC 17025:2005 berisi semua persyaratan yang pengujian dan kalibrasi laboratorium harus bertemu untuk menunjukkan kepada pelanggan dan pejabat untuk memeriksa bahwa mereka memiliki sistem pengelolaan yang

baik yang memungkinkan kontrol penuh proses mereka, secara teknis kompeten, dan mampu menghasilkan hasil teknis valid. Badan akreditasi yang mengakui kompetensi kegiatan pengujian dan kalibrasi menggunakan standar sebagai dasar untuk akreditasi mereka. Kalibrasi laboratorium dan uji yang handal adalah mereka yang telah terakreditasi sebagai kompeten dan ISO / IEC 17025:2005 adalah standar akreditasi laboratorium yang, seperti edisi itu menggantikan, itu akan mendapatkan keuntungan dari industri Perdagangan dan pemerintah di seluruh dunia, kata Peter van Leemput, yang memimpin kelompok ISO ahli yang melakukan pekerjaan UPGRADE. Edisi 2005 baru datang dari koreksi ISO / IEC 17025:1999 untuk memastikan kompatibilitasnya dengan persyaratan ISO 9001:2000, Sistem Manajemen Mutu Persyaratan. Hal ini menjadi penting karena diadopsi secara luas sistem manajemen mutu sesuai dengan ISO 9001:2000, termasuk banyak dari organisasi yang pengujian dan kalibrasi laboratorium melayani. Hal ini juga mencoba untuk menjelaskan bahwa sementara dua standar yang kompatibel, mereka tidak dipertukarkan. Meskipun kedua standar dapat digunakan oleh laboratorium sebagai rangka untuk memberikan keyakinan kepada pelanggan mereka yang mengelola kegiatan mereka, hanya ISO / IEC 17025 dapat digunakan untuk menunjukkan kompetensi teknis laboratorium. Laboratorium dapat memilih untuk menjadi terakreditasi dengan pelaksanaan ISO / IEC 17025, atau disertifikasi dengan ISO 9001:2000, atau keduanya, namun proses akreditasi dan sertifikasi akan tetap dua tindakan yang terpisah, meskipun sangat difasilitasi untuk kedua laboratorium dan asesor sekarang memverifikasi konsistensi antara kedua standar. Tidak ada perubahan penting dalam persyaratan teknis. Modifikasi terutama terkait dengan persyaratan manajemen untuk mencerminkan isi standar ISO 9001:2000, terutama dengan penekanan lebih besar pada tanggung jawab manajemen senior, kebutuhan untuk menunjukkan komitmen untuk terus meningkatkan efektivitas sistem manajemen, kepuasan pelanggan, dan komunikasi dengan

manajemen internal dan pelanggan sistem.

Manfaat kalibrasi Yang sering menjadi pertanyaan juga adalah manfaat apa yang didapatkan dari kalibrasi ini ? Tentu saja banyak, diantara banyak manfaatnya, manfaat basic nya adalah untuk : 1. Mendukung sistem mutu yang diterapkan di industri. Ini yang pada awalnya paling populer menjadi pendorong orang atau industri mau mengkalibrasi alatnya. ISO 9000 mensyaratkan semua alat ukur yang terkait dalam produksi harus dijamin mutu keakuratannya. Dan salah satu tool utama untuk ini adalah dengan melakukan kalibrasi. Requirement ini pada tahun-tahun terakhir semakin terasa tidak populer seiring dengan semakin longgarnya penerapan ISO 9000. Apalagi saat ini banyak perusahaan pemberi sertifikat yang saling bersaing mendapatkan kastamer, yang akhirnya memunculkan dampak negatif juga yaitu dengan makin melonggarkan aturan sehingga (misalnya) dengan melakukan kalibrasi 10 alat ukurnya saja, dari 100 alat ukur yang harusnya dikalibrasi, selesai sudah masalahnya. Apalagi jika orang yang ditunjuk sebagai perwakilan auditee memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik (alias pandai bersilat lidah), makin mudah saja mendapatkan sertifikat ini tanpa capek-capek keluar biaya untuk kalibrasi.Satu hal lagi bahwa sering terjadi kastamer tidak merasakan manfaat langsung (bahkan manfaat teknis di lapangan) dari kegiatan kalibrasi ini, sehingga ini bisa dijadikan alibi untuk excuse tidak melakukan kalibrasi. Dan alibi ini bisa meyakinkan auditor ISO.

2. Dapat mengetahui penyimpangan harga benar dengan harga yang ditunjukkan alat ukur. Kalau ini memang menjadi alasan yang teknis sifatnya, dan teknisi saja yang biasanya merasakan riil manfaatnya.

B. Proses kalibrasi

1. Adanya obyek ukur (Unit Under Test) 2. Adanya calibrator (standard) 3. Adanya prosedur kalibrasi, yang mengacu ke standar kalibrasi internasional, nasional atau prosedur yg dikembangkan sendiri oleh laboratorium yg sudah teruji dengan terlebih dulu dilakukan verifikasi. 4. Adanya teknisi yang telah memenuhi persyaratan mempunyai kemampuan teknis kalibrasi (sebaiknya bersertifikat). 5. Lingkungan terkondisi, baik suhu maupun kelembabannya. Andaipun tidak bisa dikondisikan, misalnya terjadi saat kalibrasi dilakukan di lapangan terbuka, maka faktor lingkungan harus diakomodasi dalam proses pengukuran dan perhitungan ketidakpastian. 6. Hasil kalibrasi itu sendiri, yaitu quality record berupa sertifikat kalibrasi. Di dalamnya tercatat measured value, correction value, dan akhirnya nilai uncertainty. Sertifikat ini tidak baku bentuknya, minimal harus dapat memberikan informasi tentang seberapa sehat alat ukur milik kastamer yang dikalibrasi. Artinya, kita bisa menambahkan banyak keterangan yang diperlukan, bahkan bisa saja ditambahkan foto, gambar, hasil analisa khusus, nilau TUR (Test Uncertainty Ratio), bahkan bisa saja melampirkan laporan kinerja calibrator yang digunakan dalam proses ini. Catatan : TUR adalah perbandingan antara ketidakpastian karakteristik instrumen yang dikalibrasi terhadap ketidakpastian instrumen kalibratornya (spesifikasi alat bisa dianggap sebagai ketidakpastian terbesar).

Kalibrasi Alat Ukur Sudah merupakan suatu ketentuan bahwa setiap alat ukur proteksi radiasi harus di kalibrasi secara periodik oleh instansi yang berwenang. Hal ini dilakukan untuk menguji ketepatan nilai yang ditampilkan alat terhadap nilai sebenarnya. Perbedaan nilai antara yang ditampilkan dan yang sebenarnya harus dikoreksi dengan suatu parameter yang disebut sebagai faktor kalibrasi ( Fk ). Dalam melakukan pengukuran, nilai yang ditampilkan alat harus dikalikan dengan faktor kalibrasinya. Secara ideal, faktor kalibrasi ini bernilai satu, akan tetapi pada kenyataannya tidak banyak alat ukur yang mempunyai faktor kalibrasi sama dengan satu. Nilai yang masih dapat 'diterima' berkisar antara 0,8 sampai dengan 1,2. Faktor Kalibrasi dapat dihitung dengan persamaan berikut.

Dimana Ds adalah nilai dosis sebenarnya, sedangkan Du adalah nilai yang ditampilkan alat ukur. Terdapat dua metode untuk melakukan kalibrasi yaitu: menggunakan sumber radiasi standar menggunakan alat ukur standar

Cara pertama, alat ukur diletakkan pada jarak tertentu, misalnya 1 m, dari sumber standar yang telah diketahui jenis nuklida maupun aktivitasnya. Dosis paparan yang mengenai survaimeter (Ds) ditentukan berdasarkan perhitungan. Cara kedua, alat ukur yang akan dikalibrasi dan alat ukur standar diletakkan pada jarak yang sama dari suatu sumber, sehingga dosis radiasi yang mengenai dua alat ukur tersebut sama. Nilai dosis radiasi yang ditampilkan oleh alat ukur standar dianggap sebagai dosis sebenarnya ( Ds ). Tanggapan atau respon suatu alat ukur terhadap dosis radiasi ternyata berbeda untuk energi radiasi yang berbeda. Setiap alat ukur seharusnya dikalibrasi

dengan sumber yang mempunyai tingkat energi yang 'sama' dengan tingkat energi radiasi yang digunakan di lapangan. Perbedaan respon tersebut sangat significant pada rentang energi di bawah 200 keV seperti terlihat pada Gambar IV.5 berikut. Pada rentang energi di atas 500 keV, perbedaan responnya sudah tidak terlalu besar.

KALIBRASI PADA OSILOSKOP

1. MENGHITUNG FREKUENSI

Untuk Menghitung Frekuensi Gelombang Pada Tampilan Layar Osiloscope, Kita Harus Mengetahui Dulu Periodenya, Baru Dapat menghitung Frekuensinya.Dengan Rumus Sbb: PERIODE : T = Div Horisontal x Time/Div FREKUENSI : F = 1/T
2. MENGHITUNG TEGANGAN PUNCAK KE PUNCAK

Untuk Menghitung Tegangan Puncak Ke Puncak ( Vpp ) Jangan Lupa Kita Harus Mengetahui Skala Pada Volt/Div Nya Dulu Berapa Volt & Juga Tegangan Puncak Ke Puncaknya Berapa Div ( Div

Vertikal ).Untuk Menghitung Vpp Kita Gunakan Rumus Sbb : VOLT PEAK TO PEAK : Vpp = Div Vertikal x Volt/Div
3. Cara menghitung frequency tiap detik.

Dengan rumus sbb ; F = 1/T F = freq T = waktu


4. Untuk Menghitung Perioda Menggunakan Rumus

T = Div Horisontal x Time / Div = 2 Kotak x 0,5 mS = 2 x 0,5 . 10-3 = 1 . 10-3 S


5. Untuk Menghitung Frekuensi Menggunakan Rumus

F=1 T= 1 1 . 10-3 = 1000 1 = 1000 Hz ( 1 KHz )


6. Untuk Menghitung Volt Peak to Peak Menggunakan Rumus

Vpp = Div Vertikal x Volt / Div = 2 Kotak x 1 V = 2 Vpp

BAB II SUMBER-SUMBER YANG MEMPENGARUHI HASIL KALIBRASI

A. Sumber-sumber yang mempengaruhi hasil kalibrasi 1. Prosedur Kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan prosedur standar yang telah diakui. Kesalahan pemahaman prosedur akan membuahkan hasil yang kurang benar dan tidak dapat dipercaya. Pengesetan sistem harus teliti sesuai dengan aturan pemakaian alat, agar kesalahan dapat dihindari. 2. Kalibrator Kalibrator harus mampu telusur kestandar Nasional dan atau Internasional. Tanpa memiliki ketelusuran, hasil kalibrasi tidak akan diakui oleh pihak lain. Demikian pulaketelitian, kecermatan dan kestabilan kalibrator harus setingkat lebih baik dari pada alat yang dikalibrasi 3. Tenaga pengkalibrasi Tenaga pengkalibrasi harus memiliki keahlian dan ketrampilan yang memadai, karena hasil kalibrasi sangat tergantung kepadanya. Kemampuan mengoperasikan alat dan kemampuan visualnya, umumnya sangat diperlukan, terutama untuk menghindari kesalahan yang disebabkan oleh peralak maupun penalaran posisi skala. 4. Periode kalibrasi Periode kalibrasi adalah selang waktu antara satu kalibrasi suatu alat ukur dengan kalibrasi berikutnya. Periode kalibrasi tergantung pada beberapa faktor antara lain pada kualitas metrologis alat ukur

tersebut, frekuensi pemakaian, pemeliharaan atau penyimpanan dan tingkat ketelitianya. Periode kalibrasi dapat ditetapkan berdasarkan lamanya pemakaian alat, waktu kalender atau gabungan dari keduanya. 5. Lingkungan Lingkungan dapat menyebabkan pengaruh yang sangat besar terhadap kalibrasi terutama untuk mengkalibrasi kalibrator. Misalnya kondisi suhu, kelembabab, getaran mekanik medan listrik, medan magnetik, medan elektro magnetik, tingkat penerangan dan sebagainya. 6. Alat yang dikalibrasi Alat yang dikalibrasi harus dalam keadaan maksimal, artinya dalam kondisi jalan dengan baik, stabil dan tidak terdapat kerusakan yang menggangu. Prosedur Kalibrasi 1. Identifikasi alat yang dikalibrasi 2. Membuat jadwal kalibrasi ( Internal / External ) 3. Menyiapkan alat / bahan 4. Melakukan kalibrasi 5. Membuat laporan kalibrasi 6. Evaluasi hasil kalibrasi 7. Sesuai standar

Ya ( Mencatat / memasang label kalibrasi ) Tidak ( Melakukan evaluasi data dampak dari penyimpangan alat

Laporan Membuat laporan kerusakan Prosedur perbaikan alat ) (Mukaromah, 2009). Hal hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan sistem kalibrasi. 1. Daftar alat yang dikalibrasi

2. Manual alat yang dikalibrasi ( Standar / nilai bias alat yang diperbolehkan ) 3. Personil kalibrasi yang terlatih ( Sertifikat dari laboratorium kalibrasi yang telah terakredirasi ) 4. Jadwal kalibrasi alat - Internal (dilakukan sendiri). - External (dilakukan oleh pihak luar). 5. Laporan kalibrasi 6. Catatan alat yang telah dikalibrasi 7. Cek form kalibrasi - Nomor seri alat yang dikalibrasi - Personil kalibrasi - Cros cek alat ke lapangan B. Perbedaan Kalibrasi dan tera

Kalibrasi dan tera merupakan kegiatan serupa dalam pelaksanaan, tetapi

berbeda dalam tujuan. Kalibrasi bertujuan memberikan jaminan bahwa alat yang telah dikalibrasi memiliki sifat ukur yang tertelusur ke standar nasional atau internasional. Sedangkan tera menjamin transaksi yang adil dan menjamin keamanan radiasi.
Beberapa perbedaan

kalibrasi dan tera seperti terlihat dalam tabel di bawah ini

Parameter Aturan Sifat aturan Personil

Tera UU No.2 1981 Wajib Disumpah

Kalibrasi ISO 17025 : 2005 Suka rela Belum ada aturan

Tujuan Jenis peralatan Instansi pengelola Hasil pekerjaan

Transaksi yang adil Semua alat ukur yang akan digunakan

Ketelusuran Lab, produksi, jasa Lab Kalibrasi

Departemen Perdag. Label, Sertf. Tanda Tera, Srt. Ket. Diatur UU No.2 1981 Kalibrasi Sesuai sifat alat. Diantara selang kal

Selang waktu Tidak diketahui Pengecekan antara

Selain ISO 17025: 2005 juga standar lainnya seperti ISO 9000 series,

dan standar yang melibatkan pengendalian peralatan ukur mencantumkan kalibrasi sebagai salah satu persyaratan kompetensi.

Selang kalibrasi Pertanyaan yang sering muncul dalam program kalibrasi adalah tentang frekuensi kalibrasi. Alat yang sering digunakan tentu cenderung lebih sering dikalibrasi daripada alat yang jarang digunakan. Tetapi hal ini tidak berlaku untuk instrumen berbasis elektronik, karena jarangnya digunakan justru cenderung merusak, karena itu alat harus dipanaskan setiap hari selama waktu tertentu. Secara umum selang kalibrasi ditentukan oleh beberapa faktor sebagai berikut: Kemantapan alat ukur / bahan ukur Rekomendasi pabrik

Kecendrungan data rekaman kalibrasi sebelumnya Data rekaman perawatan dan perbaikan Lingkup dan beban penggunaan Kecendrungan keausan dan penyimpangan Hasil pengecekan silang dgn peralatan ukur lainnya Kondisi lingkungan Akurasi pengukuran yang diinginkan Bila peralatan tidak berfungsi dengan baik

Menyatakan selang kalibrasi dapat berupa waktu kalender misal sekali setahun, berupa waktu pakai misal 1000 jam pemakaian, berupa banyaknya pemakaian misal 1000 kali, dan berupa kombinasi dari cara tersebut tergantung mana yang lebih dulu tercapai. C. Unit Kalibrasi Unit Kalibrasi mampu melaksanakan kalibrasi alat ukur listrik dan kalibrasi alat ukur non listrik. Alat ukur listrik yang dapat dikalibrasi adalah : Alat ukur tahanan Alat ukur tegangan Alat ukur arus Alat ukur daya dan energi Alat ukur frekuensi dan waktu Kalibrasi Alat Ukur Tahanan

Kalibrasi Resistor Standar Rentang ukur : 1m Ohm s/d 1M Ohm Kemampuan pengukuran terbaik + 0,005%

Kalibrasi Preccission Double Bridge Rentang ukur : 0,001 s/d 100 Ohm Kemampuan pengukuran terbaik + 0,01% Kalibrasi Portable Double Bridge Rentang ukur : 0,001 s/d 100 Ohm Kemampuan pengukuran terbaik + 0,1% Kalibrasi Wheatstone Bridge Rentang ukur : 1m Ohm s/d 1M Ohm Kemampuan pengukuran terbaik : 0,2% Kalibrasi Shunt Resistor Rentang Ukur : 6,666 Ohm s/d 50 m Ohm Kemampuan pengukuran terbaik : 0,2% Kalibrasi Mikro Ohm Meter Rentang ukur : 17 Ohm s/d 20 Ohm Kemampuan pengukuran terbaik + 0,2% Kalibrasi Insulation Resistance Tester Rentang ukur : 1 M Ohm s/d 100 G Ohm / 500V dan 1000V Kemampuan pengukuran terbaik : 0,1% Standar uji acuan yang digunakan adalah SNI, SPLN, IEC.

Kalibrasi Alat Ukur Tegangan

Kalibrasi Sel Standar Rentang ukur : 1,01810 s/d 1,019 V Kemampuan pengukuran terbaik + 0,001% Kalibrasi Voltmeter DC Rentang ukur : 0 s/d 1000 V Kemampuan pengukuran terbaik : 0,01% Kalibrasi Voltmeter AC Rentang ukur : 10 V s/d 480 V Kemampuan pengukuran terbaik : 0,05% Kalibrasi Transformator Tegangan

Rentang ukur : 100 s/d 70000 V Kemampuan pengukuran terbaik : 0,1% Kalibrasi Alat Uji Tegangan Tinggi AC/DC Rentang ukur : 0,01 s/d 200kV Kemampuan pengukuran terbaik : 0,5% Kalibrasi Alat Uji Tegangan Tinggi Impuls Rentang ukur : 2,8 s/d 1000kV Kemampuan pengukuran terbaik : 3%

Kalibrasi Alat Ukur Arus Kalibrasi Amperemeter DC Rentang ukur : 0,01 s/d 30 A Kemampuan pengukuran terbaik : 0,005% Kalibrasi Amperemeter AC Rentang ukur : 0,1 s/d 3000 A Kemampuan pengukuran terbaik : 0,01% Kalibrasi Tranformator Arus Rentang ukur : 0,1 s/d 3000 A

Kemampuan pengukuran terbaik : 0,1% Kalibrasi Alat Ukur Daya dan Energi

Kalibrasi Meter Daya Rentang ukur : 0 s/d 480 V; 0 s/d 100 A Kemampuan pengukuran terbaik : 0,02% Kalibrasi Meter Energi Rentang ukur : 0 s/d 480 V; 0 s/d 100 A Kemampuan pengukuran terbaik : 0,02% Kalibrasi Cos phi Meter Rentang ukur : 0 - 1 Kemampuan pengukuran terbaik : 0,5%

Alat ukur non listrik yang dapat dikalibrasi adalah :

Alat ukur tekanan Alat ukur aliran Alat ukur suhu Alat ukur putaran kalibrasi Alat Ukur Tekanan Kalibrasi Meter Tekanan Rentang ukur : 0 s/d 350 kg/cm Kemampuan pengukuran terbaik : 0,15 % Kalibrasi Meter Vacuum Rentang ukur : 0 s/d -760 mm Hg

Kemampuan pengukuran terbaik : 0,1 % Kalibrasi Alat Ukur Suhu

Kalibrasi Meter Suhu Rentang ukur : 40 s/d 900 C Kemampuan pengukuran terbaik : 0,1 % Kalibrasi Temperature Detector Termokopel, RTD, dll.) Rentang ukur : 0 s/d 1370 C

Kemampuan pengukuran terbaik : 0,25 % Kalibrasi Alat Ukur Aliran Rentang ukur : 5 s/d 100 lpm & 100 s/d 600 lpm Kemampuan pengukuran terbaik : 0,2 % Rentang ukur : 100 s/d 2000 lpm Kemampuan pengukuran terbaik : 0,1 % Kalibrasi Alat Ukur Putaran Rentang ukur : 20 s/d 20000 rpm Kemampuan pengukuran terbaik : 1,5 %

D. Istilah dalam kalibrasi

1. Standar nasional Suatu standar yang ditetapkan melalui peraturan pemerintah dan digunakan secara nasional sebagai dasar menetapkan nilai dari semua standar lain dari satuan yang bersangkutan. 2. Tertelusur Suatu proses dimana penunjukan dari alat ukur dapat dibandingkan dengan standar nasional untuk ukuran yang dicari dalam satu / lebih tingkatan. 3. Ketidakpastian pengukuran. Kesangsian yang muncul pada tiap hasil pengukuran. Pada dasarnya suatu pengukuran adalah kegiatan membandingkan antara 1 besaran dengan besaran lain yang sejenis, sehingga tidak ada istilah benar dalam pengukuran, yang ada hanyalah taksiran-taksiran, sehingga hasil pengukuran tersebut akan lengkap jika disertai dengan adanya ketidakpastian. 4. Faktor cakupan Dalam kalibrasi sering dilambangkan sebagai (K) adalah suatu faktor yang dapat menjadikan ketidakpastian menjadi lebih logis. Pada dasarnya faktor yang mempengaruhi akurasi pengukuran tidak sebatas reapitibility, readability, dan standar tetapi juga ada faktor-faktor lain yang tidak diperhitungkan pada pengukuran tersebut. Nah faktor cakupan ini diharapkan dapat mewakili sumber-sumber ketidakpastian yang tidak dihitung tersebut.

BAB III PENUTUP A.Kesimpulan Kalibrasi, pada umumnya, merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu. Contohnya, termometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi), sehingga termometer tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya dalam celcius pada titik-titik tertentu di skala. Kalibrasi diperlukan untuk:

Perangkat baru

Suatu perangkat setiap waktu tertentu Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (jam operasi) Ketika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi mengubah kalibrasi Ketika hasil pengamatan dipertanyakan

B.Saran Untuk lebih mengetahui dan mengerti tentang Kalibrasi ada baiknya langsung melihat dan mempraktekan materi ini, agar bisa lebih memahami mengenai Kalibrasi.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, James E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Day, RA dan A.L Underwood, 1981, Analisa Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta. Keenan, Charles W. dkk., 1991, Ilmu Kimia untuk Universitas Jilid I, Erlangga, Jakarta. www.Google.com.