I. PENDAHULUAN A.

Pengertian Hukum Pidana Dalam ilmu hukum pidana dikenal perbedaan antara “ius punale” dan “ius puniend ”. Terjemahan istilah “ius punale” adalah hukum pidana, sedang “ius puniend ” adalah hak memidana, dalam bahasa latin, ius mungkin diartikan sebagai hukum maupun hak. Perbedaan lain yaitu antara hukum pidana substantif/materiel dan hukum pidana ajektif/formel yang berintikan “ius puniend ”. Ditinjau dari satu segi, hukum pidana substantif/materiel dapat disebut hukum delik. Kata delik asalnya dari bahasa latin “delictum” yang artinya “falen” (Belanda) atau gagal karena kesalahan dan memang ketentuan hukum pidana itu berupa perumusan sikap tindak dan salah (karena gagal mematuhi/melaksanakan yang baik atau benar). Disamping “delictum” dalam bahasa latin dikenal pengertian Crimen yang berarti “misdaad” dan dapat diterjemahkan dengan penyelewengan. Dari kata “Crimen” itulah kita mengenal “Criminal Law” dalam bahasa hukum Anglo Saxon. Dari segi lain hukum pidana substantif/materiel dapat dianggap sebagai hukum “sanctie”. Sanctie (Belanda) dari kata latin “Sanctum” yang arti asalnya ialah “bevestigen bekrachtiging” (Belanda) atau penegas yang bersifat positif dalam bentuk hadiah/anugrah atau bersifat negatif dan berupa hukuman termasuk pidana substantif/materiel dapat dirumuskan sebagai : Hukum mengenai delik yang diancam dengan hukuman pidana. Adapun hukum ajektif/formel atau hukum acara pidana yang berintikan “ius puniend ” sebagai sarana realisasi hukum pidana “substantif/materiel” adalah : hukum yang menyangkut cara laksana penguasa menindak warga yang didakwa bertanggung jawab atas suatu delik.

B. Sejarah hukum pidana Semua hukum pidana yang berlaku bagi penduduk asli indonesia, adalah hukum pidana adat walaupun hukum pidana adat ini disana-sini sangat dipengaruhi oleh hukum islam namun sebagian besar masih bersifat asli. Pentingnya pelajaran hukum pidana adat itu rupanya akan hanya ada bagi ilmu hukum saja. Sejarah hukum tertulis dimulai dengan waktu kedatangan orang Belanda yang pertama di Indonesia, sejak dahulu. Maka hukum yang berlaku bagi orang belanda di Indonesia sebanyak mengkin disamakan dengan hukum yang berlaku di negara Belanda. Asas konkordansi itu senantiasa dipegang teguh selama orang Belanda itu menguasai perundang-undangan di Indonesia (pasal 131 ayat (2) sub a. IS). Jadi sejak permulaan hukum pidana tertulis yang berlaku bagi orang Belanda dikonkordansi dengan hukum piadna yang berlaku di negeri Belanda. Hukum yang berlaku bagi orang Belanda di pusat-pusat dagang VOC yang pertama-tama disini adalah hukum yang dijalankan di atas kapal-kapal VOC. Hukum kapal itu sendiri terdiri atas dua bagian : hukum Belanda yang kuno ditambah dengan asas-asas hukum Romawi. Bagian terbesar hukum kapal tersebut adalah disiplin. Hukum yang berlaku di daerah yang dikuasai VOC itu terdiri dari : (E. Utrecht:1965). 1. 2. 3. Hukum Statuta (yang termuat dalam Statuta van Batavia); Hukum Belanda yang kuno; Asas-asas hukum Romawi.

Sebagaimana diketahui VOC dibubarkan tahun 1798. Pemerintah atas daerah bekas VOC dilakukan oleh suatu Raad Van Aziatische Bezittingen en Establissmenten, disingkat dengan Aziatiche Raad, yang mulai dengan pekerjaan pada tanggal 1 Januari 1800. Pada tanggal 27 September 1804 Pemerintah Batafsche Republik mengesahkan suatu charter voor de aziatische bezittingen van de Bataafsche Republik. Menurut Supomo dan Jokosutono bahwa : Rancangan dari charter ini adalah buah pikiran dari panitia yang dilangsungkan pada tanggal 11 November 1802. Didalam panitia ini

terdapatlah dua aliran-aliran yang tidak suka pada “perubahan” dan aliran yang suka “perubahan”. Akibat dari pertemuan di antara dua aliran ini ialah suatu kerukunan. Perubahan penting terhadap hukum pidana, khususnya mengenai sistem hukuman, diadakan setelah Daendels diangkat menjadi gubernur jendral dan tiba di Indonesia pada tahun 1808. Daendels dikirim ke Indonesia dengan tugas antara lain mengreorganisasi pemerintah dalam arti sempit, justisi dan polisi. Pada tahun 1810 atas perintah Daendels, dibuat suatu peraturan mengenai hukum dan peradilan. Bagi golongan Eropa berlaku statuta betawi baru, sedangkan bagi golongan pribumi berlaku hukum adatnya. Tetapi, gubernur jendral berhak mengubah sistem hukuman menurut hukum adat bilamana : a. dilakukan. b. menjatuhkan hukuman : a. b. c. d. e. f. g. sebagai berikut : 1. Apabila hukum pidana adat dijalankan terhadap orang yang melakukan suatu delik, sedangkan berdasarkan keyakinan hukum positif harus diberi sanksi hukuman. 2. Apabila hukuman yang dijatuhkan menurut hukum pidana adat terlalu ringan atau terlalu berat, sehingga tidak sesuai dengan keadilan. Dibakar hidup terikat pada satu tiang. Dibunuh dengan menggunakan sebilah keris. Dicap bakar Dipukul Dipukul dengan rantai Ditahan dalam penjara Bekerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Hukum adat tidak dapat menyelesaikan suatu perkara. Menurut plakat tanggal 22 April 1808, maka pengadilan diperkenankan Hukuman dianggap tidak sesuai dengan kejahatan yang

Akhirnya hukum pidana dapat menyimpang dari hukum pidana adat dalam hal-hal

3. Apabila alat-alat pembuktian menuntut hukum adat kurang cukup, sehingga tidak dapat meyakinkan hakim akan salah tidaknya perbuatan terdakwa. Sebagian ahli hukum berpendapat, bahwa alasannya bukan karena hukum adat itu tidak cukup baik untuk orang Eropa, akan tetapi sejak zaman VOC telah terkandung niat dalam politik hukum orang Belanda apakah tidak lebih baik apabila orang pribumi ditundukan juga pada hukum Belanda. Pada zaman pendudukan tentara inggris, yang menjadi penguasa terpenting ialah Sir Thomas Raffles. Pentingnya orang ini, ialah minatnya terhadap adat istiadat dan bahasa rakyat Indonesia. Raffles berhasil menulis buku paling pertama yang bermutu tentang kebudayaan Indonesia, yaitu khususnya kebudayaan jawa. Pemerintah Inggris mengadakan perubahan atas hukum positif. Perubahan yang besar adalah atas hukum acara dan susunan pengadilan. Hukum material bagi orang Eropa tetap hukum statuta. Berdasarkan konvensi London tertanggal 13 Agustus 1914, maka bekas koloni Belanda dikembalikan kepada pemerintah belanda. Kepada komisaris jendral diberi suatu instruksi tanggal 3 Januari 1815 Instruksi ini menjadi undang-undang Dasar Pemerintah Kolonial pada waktu itu terkenal dengan nama : Regerings Reglement van 1815 (RR 1815). Tindakan pertama dari komisaris jendral, setibanya di Indonesia, terdapat hukum di Indonesia, ialah mempertahankan untuk sementara waktu, semua peraturan-peraturan bekas pemerintah Inggris, hal ini untuk menghindari “Rechts Vactum”. Berdasarkan LNHB Tahun 1828 No.16 diadakan suatu sistem kerja paksa sebagai sistem hukuman. Sistem kerja paksa dengan sendirinya hanya dilakukan bagi para terhukum bagi para pribumi yang terbagi dalam dua golongan : 1. 2. Yang dihukum kerja rantai; Yang dihukum kerja paksa;

maka pada waktu itu tetap ada keinginan untuk mengadakan suatu kodifikasi. : Asas-asas Hukum Romawi. Dualisme ini mula-mula juga ada dalam hukum pidana. Tugas membuat kodifikasi tersebut baru dapat diselesaikan pada tahun 1848 oleh Scholten van Haarlem dan Wicher. Arab.Sejak kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia pada tahun 1815. dan India/Pakistan). untuk orang-orang Eropa . yang terkenal dengan nama Interimaire Strafbapalingen. : Hukum Belanda yang kuno. yang merupakan jiplakan belaka dari hukum yang berlaku di negeri Belanda. Ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk orang-orang Belanda dan lain-lain orang Eropa. Selanjutnya pada tahun 1848 dibuat peraturan hukum pidana. LNHB 1848 No. Tetapi hukum pidana tidak termasuk kodifikasi tahun 1848. untuk hukum pidana tetap berlaku keadaan pada waktu sebelum tahun 1848.6 sampai tahun 1867 dan tahun 1873 mngenai hukum pidana tertulis berlaku : Primer Sekunder Lebih sekunder Lebih sekunder lagi : Hukum yang terdapat dalam statuta Betawi. : Apa yang disebut oleh Kolonial Verslag tahun 1849. Ke arah manakah ? (Utrecht: 1965) Sejarah KUH Pidana Pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia sejak semula terdapat dualisme dalam perundang-undangan. dan ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk orangorang Indonesia dan orang-orang Timur asing (Cina. Dari zaman tata hukum pidana yang dualistis ke zaman tata hukum idana yang terunifikasi. Idema dalam bukunya membagi zaman tahun 1848 sampai dengan tahun 1934 dalam : 1848 – 1873 1873 – 1918 1918 – 1934 Dari zaman tata hukum pidana yang sangat beraneka warna ke zaman tata hukum pidana yang dualistis.

Berdasarkan atas aturan-aturan peralihan.berlaku suatu kitab undang-undang Hukum Pidana tersendiri. Dengan firman raja Belanda tanggal 15 oktober 1915 maka di Indonesia diberlakukan KUHP baru.1/146 tanggal 26 Februari 1946. baik dari pemerintah Jepang maupun dari Undang-undang Republik Indonesia 1945 pasal II AP yang berbunyi: Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku. Pada tahun 1881 di negeri Belanda dibentuk suatu kitab Undang-undang pidana Baru yang mulai berlaku pada tahun 1886 yang bersifat nasional serta sebagian besar mencontoh pada kitab Undang-undang Hukum Pidana di negara Jerman. berakhirlah dualisme hukum pidana di Indonesia yang pada mulanya hanya untuk daerah yang langsung dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda dan akhirnya untuk seluruh Indonesia. sekaligus juga menggantikan KUHP tersebut diatas untuk berlaku bagi semua penduduk di Indonesia. Sedang untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur asing berlaku suatu Kitab Undang-undang Hukum Pidana tersendiri yang termuat dalam ordonansi tanggal 6 Mei 1872 (Stb 1872 No. yang mulai efektif tanggal 1 Januari 1918. selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang ini.9 diadakan penegasan tentang hukum pidana yang berlaku di RI.55). Dengan demikian. KUHP ini pada mulai berlakunya disertai suatu “Invoerings verordening” berupa firman raja Belanda tanggal 4 Mei 1917 (Stb 1917 No. yang termuat dalam firman raja Belanda tanggal 10 Februari 1866 No. Kedua Kitab Undang-undang Hukum Pidana di Indonesia ini adalah jiplakan dari kode penal negara Prancis. Keadaan hukum pidana ini dilanjutkan pada zaman pendudukan Jepang dan pada prmulaan zaman kemerdekaan Indonesia.497).85) yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1873. mulai berlaku tanggal 1 Januari 1867. Dengan Undang-undang No. yang oleh Kaisar Napoleon dinyatakan berlaku di negeri Belanda pada waktu negara itu ditaklukan oleh Napoleon permulaan abad XIX.54 (Stb 1866 No. Disitu disebutkan: “Dengan menyimpang seperlunya dari peraturan Presiden RI Peraturan ini ada dua pasal: . yang mengatur secara terperinci peralihan dari hukum pidana lama ke hukum pidana baru. yang termuat dalam berita RI II No.

tetap berlaku tanpa terkecuali. Dengan demikian.1 Tahun 1946 ialah : Pasal I Undang-ungang No.1/46: Bahwa peraturan hukum pidana yang sekarang (26 Februari 1946) berlaku. dianggap tidak berlaku. Padahal diantara peraturanperaturan itu ada beberapa yang terang hanya layak dalam hubungan-hubungan Kolonial. apabila bertentangan dengan undang-undang tersbut. ditegaskan pertama-tama. selama belum diadakan yan baru menurut UUD. Ketentuan yang belakangan ini sering dilupakan oleh mereka yang cenderung menganggap semua peraturan dari zaman penjajahan Belanda yang tidak secara tegas dicabut atau diganti.2 oleh Undangundang No. Penyimpangan dari peraturan Presiden tanggal 10 Oktober 1946 No. yang dengan demikian berganti berkuasa di Indonesia sampai tanggal 7 Agustus 1945. Pasal 2 Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945 yang isinya hampir sama dengan pasal II AP Undang-undang Dasar 1945 ditentukan. masih berlaku. Pasal II . Perbedaannya ialah: bahwa kini disebutkan dan bahwa peraturan-peraturan yang dahulu itu dianggap tidak berlaku. asal tidak bertentangan dengan undang-undang tersebut. ialah peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 19442.Pasal 1 Segala badan negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya negara RI tanggal 17 Agustus 1945. bahwa semua peraturan-peraturan hukum pidana dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. saat pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada balatentara Jepang.

yang sekarang tidak ada lagi. Pasal III Undang-undang No. Nama Undang-undang Hukum Pidana “wetboek van strafrecht Undang-undang tersebut dapat disebut KUHP. Pasal V Undang-undang No.1/46: Peraturan hukum pidana yang seluruh atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan atau bertentangan dengan kedudukan RI sebagai negara merdeka atau tidak mempunyai arti lagi. harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku.1/46: jikalau dalam suatu peraturan hukum pidana ditulis perkataan “Nederlandsch Indie” atau “Nederlandsch Indiesch” atau “Indonesisch” (E)/ (EN). kewajiban.1/46: mencabut semua peraturan-peraturan hukum pidana. kekuasaan atau perlindungan itu harus dianggap diberikan dan larangan tersebut ditujukan kepada pegawai.1/46: jikalau dalam suatu peraturan hukum pidana suatu hak. maka hak.Undang-undang No. dan sebagainya. yang harus dianggap penggantinya. .1/46: 1. yang dikeluarkan oleh panglima tertinggi balatentara Hindia Belanda dahulu. Pasal IV Undang-undang No. Pasal VII voor Nederlandsch Indie” diubah menjadi “Wetboek van Strafrecht”. badan. Pasal VI Undang-undang No. 2. badan. jawatan. jawatan atau sebagainya. kewajiban kekuasaan atau perlindungan diberikan atau suatu larangan ditujukan kepada suatu pegawai.

bahwa undang-undang ini mulai berlaku buat pulau Jawa dan Madura pada hari diumumkannya tanggal 26 Februari1946 dan buat daerah lain pada hari yang akan ditetapkan oleh Presiden. baik Jawa. Pasal XIV mengenai penyiaran kabar bohong. Pasal IV sampai dengan pasal XVI membuat beberapa tindak pidana baru. Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda. Pada tanggal 8 Agustus 1946 dengan Peraturan Pemerintahan No. maka semua perkataan “Nederlandsch Onderdaan” dalam KUHP diganti dengan WNI. beberapa pasal dari KUHP. yaitu : pasalpasal IX sampai dengan pasal XIII mengenai alat pembayaran yang sah berupa uang atau uang kertas.8/1946. Madura dan Sumatera maupun diluar daerah-daerah itu dan mengeluarkan beberapa undang-undang yang mengubah. Pasal VIII Beberapa pasal dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana diubah atau dicabut. Pada negara (daerah) lainnya pada pertengahan tahun 1950 RIS hanya terdiri dari tiga negara bagian yaitu: – – Negara Republik Indonesia Negara Indonesia Timur . Pada akhirnya ditetapkan. yang sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat: pasal XV. mengenai penyiaran kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau kabar yang tidak lengkap. Pasal XIV mengenai penghinaan terhadap bendera kebangsaan Indonesia. yang menamakan dirinya pemerintah federal sudah ada di Jakarta dan menguasai beberapa daerah. (Berita RI II 20-21 halaman 234) undang-undang ini berlaku di Sumatera. Keadaan ini tetap berlangsung juga setelah pada 27 Desember 1949 kedaulatan RIS diakui oleh pemerintah Belanda. Menurut pasal 44 Konstitusi RIS: suatu negara bagian atau daerah bagian dapat menggabungkan diri. sehingga ada dua KUHP.Dengan mengurangi apa yang ditetapkan dalam pasal 3.yang tentunya hanya berlaku bagi daerahdaerah yang didudukinya.

untuk mengubah federal dari RIS menjadi negara kesatuan RI Konstitusi RIS diganti dengan Undang-undang Dasar sementara 1950. Dengan demikian.73 tahun 1958 yang berjudul: “Undang-undang tentang menyatakan tentang berlakunya undangundang No.1 Tahun 1946 RI akan mengubah KUHP”.8/50 pada pokoknya. Jadi baru akan diusahakan. menyatakan sebagai berikut: 1. Pada tanggal 29 September 1958 mulai berlaku Undang-undang No.– Negara Sumatera Timur Pada bulan Juli 1950 pemerintah dari ketiga negara bagian ini mencapai persetujuan. undang RI. Perpu No.1/1950 juncto No. Sumatera Timur. Walaupun perpu ini bernada menyatakan Undang-undang No. pada saat itu jelas berlakulah suatu hukum pidana untuk seluruh wilayah Republik Indonesia dengan KUHP sebagai intinya. Kalimantan dan Indonesia Timur. Segala peraturan dan undang-undang peralihan tidak berlaku lagi kecuali yang tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan dan UndangBahwa segala peraturan dan Undang-undang RI berlaku di . Maka secara resmi Undang-undang No. daerah pilihan 2. Soesilo: 1982).1 tahun 1946 pada tahun 1950 itu belum berlaku bagi daerah Jakarta Raya. Sejarah KUHAP Pada waktu zaman penjajahan Belanda kita mengenal berbagai macam hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia (R.1/146 berlaku bagi seluruh wilayah Indonesia namun oleh kerena dalam piagam persetujuan pemerintah RIS dan pemerintah RI tanggal 19 Mei 1950 sub I a No.4 antara lain hanya ditetapkan: akan tetapi dimana mungkin diusahakan supaya perundang-undangan RI berlaku.

3. hanya berlaku di Jawa dan Madura. untuk luar Jawa dan Madura berlaku “Rechtsreglement voor de Buitengewesten” S 1927-227. Landgerechtsreglement (Reglement hakim kepolisian) s 1914317 yang memuat hukum acara di muka hakim kepolisian yang memeriksa dan memutuskan perkara-perkara kecil untuk segala golongan penduduk. Kemudian setelah keluar undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang tindakan-tindakan sementara untuk menyelenggarakan kesatuan dalam susunan. kekuasaan dan acara pengadilan-pengadilan sipil di Indonesia. Inlandsch Reglement itu kemudian dengan S 1941-44 diperbaharui sehingga menjadi “Herziene Inlandsch Reglement” disingkat HIR yang diperbaharui atau Reglement Indonesia yang diperbaharui disingkat RIB. Reglement op de rechterlijke organisatie (Reglement organisasi kehakiman) S 1848-57. Di zaman mereka berdasarkan aturan peralihan yang berlaku tetap HIR dan Landgerechts reglement. Reglement op de strafvordering (Reglement hukum acara pidana) S 1849-63 yang memuat hukum acara pidana bagi golongan penduduk Eropa dan yang disamakan dengan mereka. disingkat IR S Inlandsch Reglement (Reglement bumi putera) yang biasa 1848-16 memuat hukum acara perdata dan hukum acara pidana di muka pengadilan “Landraad”. Pada zaman Jepang untuk semua golongan penduduk kecuali bangsa Jepang hanya ada dua pengadilan yaitu “Tie Hooin” dan “Kaizai Hooin” lanjutan dari pengadilan zaman Belanda “Landraad” dan “Landgerecht”. dan yang terpenting. Untuk mencapai kekuasaan kehakiman sebagaimana yang dimaksud . HIR dipakai sebagai pedoman. dan sebagai hukum acaranya dipergunakan HIR.bagi golongan penduduk Indonesia dan Timur Asing. 2. yang memuat ketetapan-ketetapan mengenai organisasi dan peraturan kehakiman. pada pasal 6 undang-undang tersebut menetapkan bahwa untuk seluruh Indonesia hukum acara pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.1. 4.

Setelah melakukan tugasnya pada tanggal 9 September 1981. tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Akhirnya pada tanggal 23 September 1981.14 Tahun 1970. Pada pasal undang-undang tersebut menegaskan bahwa hukum acara pidana harus dibuat dalam undang-undang tersendiri. RUU hukum acara pidana tersebut disetujui oleh Sigab Komisi I dan komisi III DPR RI. Dengan Amanat Presiden tanggal 12 September 1979 No.76 TLN No.8 Tahun 1981 (LN No. . telah mengesahkan RUU tersebut menjadi Undang-undang No. setelah penyampaian pendapat DPR RI dalam sidang paripurna. maka disampaikan RUU hukum acara pidana kepada DPR RI untuk dibicarakan dalam sidang DPR RI guna mendapatkan persetujuannya.06/P/U/IX/1979.19 Tahun 1964 yang kemudian diganti dengan Undang-undang No. Pada tanggal 9 Oktober 1979 dalam pembicaraan tingkat II menteri kehakiman menyampaikan keterangan pemerintah tentang RUU hukum acara pidana dalam suatu sidang paripurna DPR RI. Pembicara Tingkat III Rancangan Undang-undang Hukum Acara Pidana dilakukan oleh gabungan komisi III + I DPR RI.3209).dalam pasal 24 Undang-undang Dasar 1945 maka dibuatlah Undang-undang No. maka RUU hukum acara pidana disetujui DPR untuk disahkan oleh Presiden menjadi Undang-undang. Sidang gabungan (Sigab) Komisi III + I DPR RI bersama pemerintah mulai membicarakan Rancangan Undang-undang Hukum Acara Pidana pada tanggal 24 November 1979 sampai dengan tanggal 22 Mei 1980 di gedung DPR RI Senayan Jakarta. Prediden pada tanggal 31 Desember 1981. Dalam jangka waktu tersebut sidang gabungan Komisi III dan Komisi I menghasilkan putusan penting yang terkenal dengan nama “13 Kesempatan Pendapat” yang mengandung materi pokok yang akan dituangkan dalam pasal-pasal RUU hukum acara pidana lebih lanjut dibentuk tim sinkronisasi yang diberi mandat penuh oleh Sigab Komisi III dan Komisi I DPR RI.

2. baik orang itu seorang warga negara maupun bukan. Asas nasinalitas aktif atau asas personalitas Menurut asas ini bahwa berlakunya undang-undang hukum pidana suatu negara disadarkan kepada kewarganegaraan atau nasionalitasnya seseorang yang Asas universalitas Asas teritorial atau asas wilayah Asas nasionalitas aktif atau personalitas Asas nationalitas pasif atau asas . Di dalam pasal 3 KUHP diterangkan bahwa Kitab Undang0undang Hukum Pidana juga dapat diperlakukan terhadap mereka yang melakukan suatu peristiwa pidana diatas kapal Republik Indonesia. bahwa asas ini khusus ditujukan terhadap tempat. sedang sifat orang yang melakukan diabaikan. Didalam pasal ini tampaklah dengan jelas bahwa yang diutamakan adalah “teritoir” Indonesia yang setiap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang di dalam wilayah itu. Ad. hal ini disebabkan oleh karena setiap negara yang berdaulat wajib menjamin ketertiban hukum diwilayahnya. Asas teritorial atau asas wilayah Menurut asas teritorial ini berlakunya undang-undang hukum pidana dari suatu negara disandarkan pada tempat atau teritoir dimana perbuatan itu dilakukan. perlindungan 4. tempat tersebut harus terletak dalam suatu wilayah dimana undang-undang hukum pidana tadi berlaku. Ad. 3. Berlakunya KUHP Didalam teori biasanya diadakan pembagian atas empat asas mengenai berlakunya KUHP. Berlakunya KUHP dan KUHAP 1.C. Dari asas ini dapat di ambil suatu kesimpulan. Dasar hukum dari pada asas ini adalah kedaulatan negara.1.2. dapat dituntut berdasarkan peraturan yang dilarang itu. dimana perbuatan ini dilakukan. Asas ini diatur dalam pasal 2 dan pasal 3 KUHP. Keempat asas tersebut adalah (Satochid Kartanegara): 1.

Berlakunya KUHAP . walaupun kepentingan hukum itu dilanggar oleh seorang yang berada diluar negara. undang-undang hukum pidana negara itu dapat diperlakukan terhadap si pelanggar tadi. Hal ini berarti bahwa undang-undang hukum pidana hanya dapat diperlakukan terhadap seseorang warga negara yang melakukan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang. Adapun yang mnjadi landasan hukum asas ini dianggap seolah-olah di seluruh dunia telah berlaku hukum pidana. bukan pada tempat perbuatan itu dilakukan. Adapun yang menjadi dasar hukum dari asas ini adalah tiap-tiap negara yang berdaulat pada umumnya berhak untuk melindungi kepentingan hukumnya. Ad. Dalam KUHP asas ini diatur dalam pasal 4 ayat (2) dan ayat (4). Walaupun perbuatan itu dilakukan diluar negara asalnya. Asas ini diatur di dalam pasal 5 KUHP. Asas universalitas Menurut asas ini undang-undang hukum pidana dari sutu negara yang menganutnya dapat diperlakukan terhadap siapa pun yang melanggar kepentingan hukum dari seluruh dunia. Dengan demikian. yang menganut asas ini dilanggar oleh seseorang baik oleh warga negara atau orang asing dan pelanggaran tersebut dilakukan baik diluar maupun didalam negara yang menganut asas tadi. Asas ini lebih tepat kalau disebut asas perlindungan.3. dan pasal 7 KUHP. Asas nasionalitas pasif atau asas perlidungan Menurut asas ini berlakunya undang-undang hukum pidana suatu negara disandarkan kepada kepentingan hukum yang dilanggarnya. dalam hal ini dimana perbuatan itu dilakukan tidaklah menjadi persoalan. pasal 6 KUHP. 2. undang-undang hukum pidana negara itu tetap berlaku terhadap dirinya.melakukan suatu perbuatan. Didalam KUHP asas ini diatur dalam pasa 4 dan pasal 8 KUHP.4. hal ini disebabkan karena sandaran asas ini guna melindungi kepentingan hukum negara kita. maka apabila kepentingan hukum dari suatu negara. Ad.

14 tahun 1970. Ruang lingkup undang-undang hukum acara pidana ini mengikuti asas-asas yang dianut oleh hukum pidana D.8 tahun 1981. Sumber Hukum Pidana Ilmu hukum Indinesia mengenal sumber-sumber hukum. Indonesia. Kebiasaan adat istiadat setelah melalui keputusan penguasa Traktat Yurisprudensi.1 pasal 5 ayat (3) B. 3. ialah : 1.8 Tahun 1981 dikatakan bahwa: a. 2. b. (Bambang Poernomo: 1978). 6. . Tetapi disamping itu nasih dimungkinkan sumber dari hukum adat atau hukum rakyat yang masih hidup sebagai peristiwa pidana dengan batasan-batasan tertentu menurut Undang-undang darurat 1951 No. 4.Ruang lingkup berlakunya KUHAP ini dapat kita baca pada pasal 2 KUHAP yang isinya adalah sebagai berikut: Undang-undang ini berlaku untuk melaksanakan tata cara peradilan dalam lingkungan peradilan umum pada semua tingkat peradilan. Yang dimaksud dengan “peradilan umum” termasuk pengkhususannya sebagaimana tercantum dalam penjelasan pasal 10:1 alenia terakhir Undang-undang No. Pendapat para ahli hukum (sumber hukum dalam arti formel) Di Indonesia sumber utama hukum pidana terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan peraturan perundang-undangan hukum pidana lainnya. Undang-undang. Untuk hukum acara pidana bersumber pada KUHAP. 5. Undang-undang Republik Indonesia No. Didalam penjelasan dari undang-undang RI No.

menguraikan dan seterusnya menyusun dengan sistematis norma hukum pidana dan sanksi pidana. Apabila diingat kembali bahwa hukum pidana itu mempunyai unsur pokok norma dan sanksi. serta mempunyai tugas menentukan agar setiap orang mentaati ketentuan dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan menjamin ketertiban hukum. Sehubungan dengan latar belakang sosial serta kejiwaannya itu. maka di dalam ilmu hukum pidana terdapat pandangan yang berbeda diantara para sarjana. Yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan itu adalah terutama mengenai asas-asas tadi dalam suatu sistem agar dapat dipahami apa yang menjadi maksud daripada peraturan-peraturan yang berlaku itu. ilmu pengetahuan hukum pidana itu adalah bersifat dogmatis.E. Van Hamel. Hukum Pidana dan Kriminologi Ilmu hukum pidana mempunyai tugas untuk menjelaskan. dan penjahat mendapatkan pidana karena ancaman sanksi pidana (Strafsanctie) memang tidak dapat disangkal. agar pemakaiannya menjadi berlaku lancar. Perbedaan pandangan itu lazimnya menimbulkan aliran hukum pidana yang sempit dan aliran hukum pidana yang luas. Oleh sebab itu. Ditinjau dari sudut sifatnya. Zevebergen. untuk mengetahui dan menjelaskan arti kata timbullah beberapa cara macam penafsiran. kiranya dalam mempelajari sejarah dari timbul dan berkembangnya hukum pidana tidak akan lepas latar belakang sosial serta kejiwaannya. Sarjana-sarjana yang termasuk aliran hukum pidana yang luas misalnya. dan Pompe. Dengan demikian dapatlah diketahui makna. Sebagai contoh. akan tetapi. Ilmu hukum pidana positif memandang kejahatan sebagai pelanggaran Norm (Rechtsnorm). yang menjadi objek ilmu hukum pidana adalah hukum pidana positif. Oleh karena itu. berarti tidak akan lepas dari peninjauan terhadap manusia yang melanggar hukum dengan menyelidiki sebab- . sedangkan sarjana yang termasuk aliran hukum pidana yang sempit misalnya Simons. dapat dikemukakan disini adalah bahwa peraturan-peraturan yang berlaku itu disusun dalam kata-kata. apabila perkembangan hukum pidana positif telah sampai pada tujuan untuk memerhatikan masyarakat terhadap kejahatan dan penjahat (aliran hukum pidana modern). maksud dan tujuan dari hukum pidana yang berlaku itu.

Untuk itu diperlukan bantuan bahan-bahan dan pengaruh hasil penyelidikan kriminologi. c. dan reaksi atas pelanggaran hukum. Ciri-ciri penjahat Pembinaan penjahat Pola-pola kriminalitas Akibat kejahatan atas perubahan sosial Sifat dan luas kejahatan Sebab-sebab kejahatan Perkembangan hukum pidana dan pelaksanaan peradilan Sosiologi hukum. Cressey dalam bukunya Principles of Criminology. ada yang bila diganggu mengakibatkan penggantian kerugian oleh . 6. Sutherland dan Donald R. Edwin H. mengenai sebab-sebab kejahatan. 2. mengemukaan ruang lingkup kriminologi mencakup proses-proses pembuatan hukum. yang menaruh perhatian pada pengendalian kondisi berkembangnya hukum pidana. kriminologi sebagai studi ilmiah tentang kejahatan dan penjahat mencangkup analisa tentang: 1. Dalam hubungan ini kriminologi dapat dibagi dalam tiga bagian utama yaitu: a. dan F. sebagai analisa ilmiah atas kondisiEtiologi kejahatan. bertolak dari pandangan bahwa kriminologi adalah kesatuan pengetahuan mengenai kejahatan sebagai gejala sosial. Kegunaan Hukum Pidana Hukum adalah suatu wahana untuk melindungi kepentingan warga atau golongan dari gangguan warga atau golongan lain dalam masyarakat.sebab dan cara tindaknya kejahatan itu (Nose and therapy). 5. pidana 4. yang melakukan analisa ilmiah Penologi. kejahatan. b. Haskell dan Lewis Yoblonsky. pelanggaran hukum. Menurut Martin L. 3. 7. Kepentingan itu bermacam-macam .

Tidak boleh tidak menegaskan kedaruratan ihwalnya dan itulah sebabnya orang menganggap hukum mengenai “sanctie” pidana (hukum pidana) sebagai “noodrecht” atau hukum darurat. Misalnya: Pok Ina membunuh (menguasakan kehidupan terhadap kepentigan) Bang Midi suaminya. itu saja tidak dijadikan tegaknya keadilan. Karena selayaknya baru berperan hanya apabila penanggulangan gangguan kepentingan dengan “sanctie” macam lainnya seperti ganti rugi dan pemecatan dan sebagainya. ialah hukum pidana. . ada juga kemungkinan penanggung jawab itu dipecat dari jabatannya sebagaimana yang disebut dalam perkara (hukum) administrasi negara. Hal ini menunjukkan kegunaan hukum pidana sebagai “Ultimatum Remedium” atau Senjata pamungkas. memadai ganti rugi (kepada siapa?) atau pemecatan (dari kedudukan apa?) sebagai “sanctie” pembunuhan ? jelas kiranya bahwa macam “sanctie” tersebut tidak akan dianggap adil.yang bertanggung jawab seperti dalam hal yang disebut perkara (hukum) perdata. maka tidak boleh tidak “sanctie” lainlah yang harus diberikan kepada penanggung jawab pembunuh itu. Apabila gangguan kepentingan itu sedemikian rupa sehingga tidak memadai bila akibatnya ganti rugi saja atau pemecatan saja sebagai “sanctie” nya. maka tidak boleh didak diperlukan penyelesaian lain yang lebih tepat dan dianggap adil.

Penerbit Fasco. Tentang Istilah dan Pengertian Istilah “peristiwa pidana” adalah sebagai terjemahan dari istilah bahasa Belanda “Strafbaar feit” atau “delictt”. Mulyanto. Tirtaamidjajas. H. Jakarta 1959). Simons Pertama kita mengenal perumusan yang diintroduksikan oleh Prof. yang diancam pidana dan . karena yang diancam dengan pidana bukan saja yang berbuat atau bertindak tetapi juga yang tidak berbuat (melanggar suruhan/gebod) atau tidak bertindak. pidato Dies Natalis Penyelenggaraan pidana (Mr. Penerbit Balai Buku Indonesia. I. tentang mengubah Ordonantie Tijdelijk Bijzondere strafbepalingen). R. Universitas Gajah Mada VI tahun 1955 di Yogyakarta). Tindak pidana (Undang-undang No. Pokok-pokok Hukum Pidana. pasal 3. Beberapa sarjana telah berusaha memberikan perumusan tentang pengartian periatiwa pidana itu. Ringkasan Perbuatan yang dapat dihukum (undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi). Karni. onrechtmatige. Diantara beberapa istilah tersebut di atas yang paling tepat untuk dipakai adalah istilah peristiwa pidana. No.3 Tahun 1971 Perbuatan pidana (Prof. D. Terjemahan bebasnya perbuatan salah dan melawan hukum. PERISTIWA PIDANA A. d. b. Tentang Hukum Pidana. Dalam bahasa Indonesia di samping istilah “peristiwa pidana” untuk terjemahan “Strafbaar feit” atau “delictt” itu (sebagaimana yang dipakai oleh Mr. Tahun 1951. Simons. Perbuatan yang boleh dihukum (Mr. c. M. e.12/Drt. met schuld in verband staande handeling van een toerekeningsvatbaar persoon”. Jakarta 1955). Utrecht) dikenal pula beberapa terjemahan yang lain seperti: a.II. Tresna dan E. menurut simons peristiwa pidana itu adalah “Een Straf baargestelde.

Dokter dan bidan pada suatu rumah sakit. – b.dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab. padahal kepadanya dibebankan suatu kewajiban hukum atau keharusan untuk berbuat. tersirat dalam pasal 531 KUHP. misalnya apakah melainkan atau tidak berbuat itu dapat disebut berbuat? Seseorang yang tidak berbuat atau melainkan dapat dikatakan bertanggung jawab atas suatu peristiwa pidana. Undang-undang (de wet) Undang-undang mengharuskan seseorang untuk berbuat. Maka undang-undang merupakan sumber kewajiban hukum Contoh: – – KUHP. tersiat dalam pasal 522 . tersirat dalam pasal 164 KUHP. Handeling: Perbuatan manusia Dengan handeling dimaksudkan tidak saja “een doen” (perbuatan) akan tetapi juga “een natalen” atau “neit doen” (melainkan atau tidak berbuat). Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana kewajiban hukum atau keharusan hukum bagi seseorang untuk berbuat dapat diperinci dalam tiga hal: a. apabila ia tidak berbuat atau melalaikan sesuatu. Keharusan untuk melapor. Keharusan yang melekat pada jabatan. Contoh: – – c. Penjaga wesel jalan kereta api. Keharusan untuk menjadi saksi. Dari perjanjian (overeenkomst) Keharusan menolong orang yang berada dalam saat-saat Dari jabatan (het ambt) membahayakan hidupnya. Perumusan Simons tersebut menunjukkan unsur-unsur peristiwa pidana sebagai berikut: 1.

Kategoris Dalam hukum pidana dikenal beberapa kategorisasi peristiwa pidana: I. B. jawab 5. “Culpose delicten” artinya perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana yang dilakukan Perbuatan itu harus terjadi karena kesalahan si pembuat. delik dolus adalah perbuatan sengaja yang dilarang dan diancam dengan pidana. Vos Menurut Vos peristiwa pidana adalah suatu peristiwa yang dinyatakan dapat dipidanakan oleh undang-undang (Een strafbaar feit is een door de wet strafbaar gesteld feit). . III. Contoh. Menurut Doctrine a. pasal 338 KUHP.Contoh: – – 2. Dolus dan Culpa Dolus berarti sengaja. 4. Van Hamel Perumusan sarjana ini sebenarnya sama dengan perumusan Simons. Culpa berarti alpa. II. hanya Van Hamel menambahkan satu syarat lagi yaitu perbuatan itu harus pula patut dipidana (welke handeling een strafwaarding karakter heeft). 3. Seorang dokter swasta menolong orang sakit dapat dituntut Perjanjian “poenale sanctie”. Perbuatan manusia itu harus melawan hukum Perbuatan itu diancam dengan pidana oleh undang-undang Harus dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jika melalaikan kewajiban hingga orangnya meninggal.

Contoh: pasal 359 KUHP. hanya karena kealpaan (ketidak hati-hatian) saja. . c. tetapi mungkin terjadi pula bila orang tidak berbuat (berbuat tapi yang tampak tidak berbuat). biasanya delik formel. Omisionis: Delik yang terjadi karena seseorang melalaikan suruhan (tidak berbuat). Materiel dan formel Kategorisasi ini didasarkan pada perumusan peristiwa pidana. Without Victim atau With Victim Without Victim : delik yang dilakukan dengan tidak ada koban. omisionis dan komisionis per omisionim Komisionis: Delik yang terjadi karena seseorang melanggar larangan. With Victim : delik yang dilakukan dengan ada korbannya beberapa atau seorang tertentu. b. Contoh: pasal 338 KUHP. Contoh: pasal 338 tentang pembunuhan. seorang ibu hendak membunuh bayinya dengan berbuat tidak memberinya susu.dengan tidak sengaja. Delik formal yaitu delik yang perumusannya menitik beratkan pada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang-undang. pasal 351 tentang penganiayaan. Delik materiel yaitu delik yang perumusannya menitik beratkan pada akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang-undang. Dalam praktek kadang-kadang sukar untuk dapat menentukan sesuatu delik itu bersifat materiel atau formel. Contoh: pasal 362 tentang pencurian. Contoh: pasal 362 KUHP. Komisionis. Seperti pasal 378 KUHP penipuan. pasal 165 KUHP. Contoh: pasal 164 KUHP. Komisionis Peromisionim: Delik yang ada umumnya dilaksanakan dengan perbuatan. yang dapat meliputi baik delik formel maupun delik materiel. d. pasal 338 KUHP. jadi tidak berbuat.

Daluwarsa (verjaring) bagi kejahatan lebih lama dari pada bagi pelanggaran pasal 78. Pengaduan (klacht) hanya ada terdapat beberapa kejahatan dan tidak ada dalam pelanggaran.II. Menurut KUHP Dalam KUHP yang berlaku di Indonesia sebelum tahun 1918 dikenal kategorisasi tiga jenis pertistiwa pidana yaitu: 1. 3. 2. d. Kedua jenis peristiwa pidana tersebut bukan berdasarkan perbedaan prinsipil. KUHP. Kejahatan pada umumnya diancam dengan pidana yang lebih berat dari pada pelanggaran. Peraturan pada perbarengan (samenloop) adalah berlainan untuk kejahatan dan pelanggaran. b. Selain itu terdapat bebrapa ketentuan yang termuat dalam buku I yang menbedakan antara kejahatan dan pelanggaran: a. KUHP tidak memberikan ketentuan/syarat0syarat untuk membedakan kejahatan dan pelanggaran. Percobaan (pogging) atau membantu (medeplictingheid) untuk pelanggaran tidak dipidana pasal 54. (Tresna: 1959) Menurut KUHP yang berlaku sekarang. Kejahatan (crimes) Perbuatan buruk (delits) Pelanggaran (contraventions) . peristiwa pidana itu ada dalam dua jenis saja “misdriif” (kejahatan) dan “overtreding” (pelanggaran). c. KUHP hanya menentukan semua ketentuan yang dimuat dalam buku II adalah kejahatan sedang semua yang terdapat dalam buku III adalah pelanggaran. KUHP. melainkan hanya perbedaan graduel saja. 60. 84.

Penanggung jawab penuh Yang dimaksud dengan penanggung jawab penuh disini ialah tiap orang yang menyebabkan peristiwa pidana. yang diancam dengan pidana setinggi pidana pokoknya. 3. ad. 1. PENANGGUNG JAWAB PERISTIWA PIDANA DAN KESALAHAN A. 4. 2. Pengetian Penanggung Jawab Sebelumnya perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan subjek hukum pada umumnya adalah manusia pribadi atau badan hukum yang menjadi pendukung hak dan kewajiban (drager van rechten pilchten). Termasuk dalam kategori ini ialah: – – – Dader: penanggung jawab mandiri. 1. 5. Sedang subjek hukum pidana adalah manusia dalam kualifikasi tertentu yaitu: 1. Mededader: penanggung jawab bersama Medepleger: penanggung jawab serta Klasifikasi Penanggung jawab penuh Penanggung jawab sebagian Penanggung jawab peristiwa pidana dapat diklasifikasikan atas: . B.III. 6. 2. Penanggung jawab peristiwa pidana Polisi yang melakukan penyidikan Jaksa yang melakukan penuntut pengacara Hakim yang mengadili Petugas lembaga permasyarakatan yang melaksanakan eksekusi keputusan hukum.

– – Dader

Doen pleger: penanggung jawab penyuruh Uitlokker: penanggung jawab pembujuk/perencana

Yaitu penanggung jawab peristiwa pidana atau dengan perkataan lain orang yang sikap tindaknya memenuhi semua unsur yang disebut dalam perumusan peristiwa pidana. Dalam delik formel terlihat apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang. Dalam delik materiel terlihat apabila seseorang menimbulkan suatu akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang. Mededader dan Medepleger KUHP pidana tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan Mededader dan Medepleger itu, maka beberapa sarjana berusaha menjelaskankedua istilah tersebut. Noyon yang diikuti Mr. Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana menyatakan bahwa nededader itu adalah orang-orang yang menjadi kawan pelaku, sedang medepleger adalah orang-orang yang ikut serta melakukan peristiwa pidana. Perbedaannya terletak pada peranan orang-orang yang menjadi

menciptakan/menyebabkan peristiwa pidana tersebut. Mededader itu orang yang bersama orang lain menyebabkan peristiwa pidana, dengan peranan yang sama derajatnya. Dengan perkataan lain orang-orang tersebut harus memenuhi semua unsur peristiwa pidana bersangkutan. Sedang pada medepleger peranan masing-masing yang menyebabkan peristiwa pidana tidak sama derajatnya, yang satu menjadi dader yang lain hanya ikut serta (medepleger) saja. Jadi medepleger tidak memenuhi semua peristiwa pidana tersebut, walaupun demikian, sesuai pasal 55 KUHP, baik mededader dan medepleger dipidana sebagai dader. Untuk jelasnya perbedaan kedua pengertian tersebut dapat dilihat pada contoh berikut:

Mededader A dan B sama-sama melakukan kejahatan pencurian dengan jalan membongkar. A membikin lubang pada dinding rumah yang akan dimasuki itu dan B masuk dari jalan lubang itu ke dalam rumah dan mengambil barang-barang dari dalam rumah itu. Di sini A dan B masing-masing melakukan perbuatan yang menjadi unsur kejahatan pencurian dengan jalan membongkar. Masing-masing perbuatannya sama derajatnya. Oleh karena itu, kedua-duanya sebagai dader dan yang satu terhadap yang lain adalah mededader (kawan pelaku). Medepleger Menurut pasal 284 KUHP untuk dapat dikatakan berzina pelakunya haruslah orang yang sudah beristri atau bersuami. Jadi unsur perbuatan zina itu pelakunya harus sudah kawin. Bila salah satu pelakunya belum kawin, maka dia tidak dapat dikatakan melakukan perbuatan zina, tapi hanya sebagai medepleger, karena tidak memenuhi unsur peristiwa pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 284 KUHP tersebut yaitu sudah kawin. Doen pleger Doenpleger ialah seorang yang menyuruh orang lain untuk melakukan suatu peristiwa pidana. Dalam bebtuk ini, yuridis adalah merupakan suatu syarat bahwa orang yang disuruh tersebut tidak mampu bertanggung jawab, jadi tidak dapat dipidana. Orang yang disuruh seolah-olah hanya menjadi alat belaka dari orang yang menyuruh. Orang yang menyuruh dari ilmu hukum pidana disebut manus domina dan orang yang disuruh disebut manus ministra. Tanggung jawab dari orang yang menyuruh sama dengan tanggung jawab orang yang membujuk (uitlokker) yaitu: Pertama : Tanggung jawab itu tidak melebihi dari apa yang dilakukan oleh orang yang disuruh, meskipun maksud orang yang menyuruh itu lebih jauh dari itu. Kedua : Tanggung jawab itu tidak lebih dari apa yang dikehendakinya.

Adapun sebab – sebab orang yang disuruh melakukan itu tidak dapat dipidana ialah : 1. 2. (pasal 48 KUHP). 3. 4. unsur delik. 5. 6. tersebut. Uitlokker Seperti halnya dengan doenpleger maka uitlokker juga memakai seorang perantara. Orang yang membujuk orang lain supaya melakukan peristiwa pidana dinamakan perencanaan atau sering disebut “intellectueel dader” atau “uitlokker” sedang orang yang dibujuk disebur “uitgelokte”. Antara doenpleger dan uitlokker mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaannya : kedua bentuk tersebut terdapat apabila seseorang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu peristiwa pidana. Perbedaannya : doenpleger menyuruh orang yang tidak dapat dipidana. Jadi hanya orang yang menyuruh melakukan saja dan dikenakan pidana. Pada bentuk uitlokken baik orang yang membujuk (uitlokker) atau orang yang dibujuk (uitgelokte) sama-sama dapat pidana. Orang Orang yang yang disuruh disuruh menimbulkan tidak delik tidak unsur mempunyai unsur opzet sebagaimana menjadi syarat dari pada delik. memiliki hoedanigheid /kualitas yang menjadi syarat deli, sedang menyuruh memiliki unsur Orang yang disuruh melakukan onbevoegd gegeven Orang yang disuruh itu salah paham mengenai salah satu ambtelijk bevel (51 ayat 2) KUHP. Orang yang jiwanya dihinggapi penyakit atau yang Orang yang disuruh, berada dalam keadaan overmacht jiwanya tidak tumbuh dengan sempurna (pasal 44 KUHP).

Selain itu perlu diingatkan bahwa untuk dapat dikatakan uitlokker si pembujuk harus menggunakan daya dan upaya sebagaimana yang terancam dalam limitatif dalam pasal 55 ayat (1) sub 2 KUHP. Gunanya adalah untuk kepastian hukum (rechtszekerheid). Di negara Jerman penyebutan ini ditambah dengan kata-kata “order durch andere mittel” atau dengan lain cara. Memang kelihatannya lebih lues dibandingkan KUHP kita, tetapi barangkali kurang baik bagi kepastian hukum (Wirjino Prodjodikoro: 1969). Pada mulanya daya upaya yang tercantum dalam pasal 5 ayat 1 sub 2 secara limitatif berupa: pemberian, kesanggupan, atau penipuan. Kemudian pada tahun 1925 pembuat undang-undang menambah penyebutan secara limitatif dengan tiga daya upaya bagi berupa memberi kesempatan (gelegenheid), sarana (middelen) atau keterangan (inlichtingen) gunanya untuk mengurangi kesempatan memakai cara-cara licik yang tidak disebut dalam pasal 55 KUHP membujuk orang lain melakukan peristiwa pidana. Catatan: doepleger dan uitlokker itu orangnya, dan doenplegen dan uitlikken itu sikap tindaknya. Tanggung jawab uitlokker Tanggung jawab uitlokker diatur dalam pasal 55 ayat (2) KUHP; apabila ketentuan yang tercantum dalam pasal tersebut ditinjau dengan teliti akan terlihat bahwa tanggung jawab uitlokker tersebut pada satu pihak dibatasi artinya uitlokker hanya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan dari pada uitgelokte yang memang dengan sengaja digerakkan oleh uitlokker. Pada lain pihah tanggung jawab dari uitlokker dapat diperluas, artinya uitlokker bertanggung jawab juga terhadap akibat yang timbul dari perbuatan uitgelokte (Satochid Kartanegara). ad. 2.Penanggung jawab sebagian

dengan mengirimkan kue tart yang beracun. percobaan suatu kejahatan dan diancam dengan pidana sebesar 2/3 pidana kejahatan yang selesai. tapi kepada istri dan anakanak B. Termasuk dalam kategori ialah: – – Poging Pengertian dan syarat-syaratnya.Yang dimaksud dengan penanggung jawab sebagian ialah: apabila seseorang bertanggung jawab atas bantuan. Penafsiran luas. Kehendak (voornemen) tersebut telah terwujud dalam suatu perbuatan permulaan pelaksanaan kejahatan. Yang dimaksud dengan poging itu “een beginvan uitvoering van het musfrijf” atau pelaksanaan mula suatu kejahatan yang tidak diselesaikan. Contoh penafsiran sempit: A mencoba membunuh B. KUHP hanya menentukan syarat-syarat agar sikap tindak dapat disebut poging. 2. A hanya dipersalahkan bila percobaan itu ditujukan pada B. 3. Orangnya mempunyai kehendak (voornemen) untuk melakukan kejahatan. semata-mata disesbabkan oleh hal-hal atau masalah yang tidak tergantung pada kehendaknya diluar kehendaknya tidak selesai. Pasal 53 KUHP menyebutkan tiga syarat untuk dapat menyatakan bahwa perbuatan merupakan poging. Poger (orangnya) dan poging (kegiatannya) Medeplichtige penanggung jawab bantuan. Timbul persoalan apakah opzet itu ditafsirkan secara sempit (opzet als oogmerk) atau opzet dalam arti luas. yang mungkin ikut memakan kue tersebut (Satochid Kartanegara). A tidak semata-mata dipermasalahkan terhadap B saja. Penjelasan: Syarat: 1 Kehendak atau “voornemen” itu dalam dpktrin ditafsirkan sebagai opzet. Syarat: 1. . Pelaksanaan yang telah dimulai itu tidak selesai.

Mengenai hal tersebut terdapat dua teori: 1. Penganut teori ini antara lain Van Hamel. Perbuatan persiapan itu tidak dapat dipidana sedangkan perbuatan pelaksana yang merupakan inti (wezen) dari percobaan(poging) adalah suatu perbuatan yang dapat dipidana. Utrecht: 1960). karena orangnya telah membuktikan kehendak jahatnya sehingga membahayakan kepentingan hukum (Satochid Kartanegara) 2. maka ia . anrata lain berpendapat bahwa kehendak untuk melakukan kejahatan hanya dapat diartikan sebagai opzet dalam arti sempit. “opzet in als zijn vormen”.Vos. Teori objektif/objectieve pogimgstheorie Aliran ini memakai “systematische interpretatie”. Sedang Jonkers mempersamakan opzet dalam segala bebtuknya. Dasar hukumnya adalah. Uitvoering dihubungkan dengan syarat ke dua. Di sini uitvoering disebut dua kali dan menurut ilmu pengetahuan hukum pidana apabila satu kata dipergunakan beberapa kali dalam undang-undang. Alam pikirannya ialah baru ada pada permulaan pelaksanaan bila telah nampak kehendak yang kuat dari poger untuk melaksanakan seatu kejahatan. Dinamakan “subjectieve pogingstheorie subjectieve pogingstheorie” karena aliran ini mencari sandaran pada diri orangnya. Syarat: 2 Bagaimana permulaan pelaksana (begin van uitvoering) itu harus ditafsirkan. Jadi persoalan penting dalam hal percobaan untuk melakukan kejahatan (poging) ialah persoalan tentang perbuatan-perbuatan mana yang merupakan perbuatan persiapan (E. Dalam ilmu hukum pidana maupun yurisprudensi diadakan perbedaan antara perbuatan persiapan (voorbreidingshandeling) misalnya perbuatan membeli pistol dan perbuatan pelaksana (uitvoeringshandeling) seperti mengarahkan pistol itu kepada yang dibunuh. Uitvoering harus dihubungkan dengan voornemen. Teori subjektif/subjectieve pogingstheorie Aliran ini memakai “taalkundige interpretatie”.

Penganut teori ini adalah Simons dan H. Bila kejahatan yang dilakukan itu diancam dengan pidana mati atauy seumur hidup. Dalam delik formel suatu perbuatan itu merupakan permulaan pelaksanaan bila dilakukan oleh orang yang mempunyai kehendak untuk melaksanakan kejahatan dan merupakan permulaan dari perbuatan yang dilarang dan diancam pidana. Yaitu pidana yang diancam ialah pidana kejahatan yang selesai dikurangi sepertiganya. Apa yang menjadi alasan untuk membatalkan selesainya kejahatan tidak menjadi soal buat undang-undang. Poging terhadap pelanggaran tidak diancan pidana (pasal 54 KUHP). bila menurut sifatnya dapat menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana. Alam pikirannya ialah dari sifat perbuatan yang dilakukan oleh orang itu dapat ditentukan apakah perbuatan itu termasuk permulaan pelaksanaan atau tidak. uitgeving van het misdriff. sama saja asal pembatalan itu keluar dari keinginannya.R. yang juga menganut teori objektatif. Untuk menentukan perbuatan manakah yang menentukan permulaan pelaksanaan kejahatan. Dasar hukum poging menurut “objectieve pogimgstheorie” karena perbuatan itu menurut sifatnya telah membahayakan kepentingan hukum.R (Mahkamah Agung Belanda). karena poger harus dipidana. maka poging hanya diancam paling tinggi selama lima belas tahun (pasal 53 ayat (3) ) KUHP. teori objektif (Simons) mengadakan delik formel dan delik materiel. H. dalam menentukan permulaan pelaksanaan. Biar ia membatalkan niatnya itu karena ia takut diketahui orang atau karena ia menyesal. bila perbuatan itu mempunyai hubungan langsung dengan kejahatan yang dikehendaki oleh seseorang (Satochid Kartanegara). Dalam delik materiel suatu perbuatan itu merupakan perbuatan permulaan pelaksanaan. Disebut “objectieve pogimgstheorie” karena aliran ini mencari dasar pada objek diluar diri orangnya yaitu perbuatan. Ancaman pidana terhadap poger diatur dalam pasal 53 ayat (2) KUHP. Syarat: 3 Jika melaksanakan kejahatan itu membatalkan berdasar niatnya sendiri maka ia tidak dikenakan pidana.harus ditafsirkan dalam arti yang sama. .

yang diancam dengan pidana dan berdasarkan penafsiran a cantrario membantu melakukan pelanggaran tidak diancam dengan pidana. Manfaatnya ketegasan dalam pasal 60 tersebut. Van Hamel. b. Utrecht: 1965). Hal tersebut ditegaskan kembalidalam pasal 60 KUHP bahwa mwmbantu melaksanakan kejahatan tidak dapat dipidana. Medeplichtige Medeplichtigheid diatur dalam pasal 56 KUHP sebagai berikut (terjemahan). Selain dari pada itu perlu diperhatikan ketentuan yang terdapat dalam pasal 56 . Vos. Membantu pelaksanaan kejahatan. Medeplichtigheid tot het plegen van misdriff Perbedaan antara kedua jnis bantuan tersebut adalah sebagai berikut: Dalam hal membantu dalam pelaksanaan kejahatan bantuan itu diberikan pada saat atau ketika kejahatan sedang dilakukan sedang dalam hal membantu untuk melakukan kejahatan maka bantuan itu diberikan sebelum kejahatan itu dilakukan (E. Medeplichtigheid bij het plegen van misdriff b.Catatan : Poger ialah orangnya Poging ialah sikap tindaknya. Jonkers. Barang siapa dengan sengaja membantu kejahatan 2. atau keterangan untuk melakukan kejahatan. Barang siapa dengan sengaja memberi kesempatan. daya upaya. dan Van Hattum merumuskan perbedaan antara kedua jenis bantuan itu sebagai berikut: a. Membantu untuk melakukan kejahatan. untuk mencegah agar pembuat undang-undang yang lebih rendah tingkatnya dari pada pembuat undangundang pusat tidak membuat ketentuan-ketentuan yang mengancam pidana terhadap bantuan mlakukan pelanggaran. Dipidana sebagai orang yang membantu melakukan kejahatan. 1. Medeplichtigheid sebagaimana yang diatur dalam pasal 56 KUHP dapat dirinci: a. Dari pasdal 56 tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya membantu melakukan kejahatan.

Dengan demikian. atau keterangan/inlichtingen. Sedang pada medeplichtiheid opzet dari dader sudah ada sebelum atau pada saat orang lain memberikan daya upaya atau dengan perkataan lain timbulnya opzet dari dader tidak terpengaruh oleh daya upaya yang diberikan oleh medeplichtiheid. b. Perbedaan dua bebtuk kesertaan tersebut penting karena menyangkut ancaman pidana.KUHP. apakah suatu perkara merupakan medeplichtiheid atau sebagai uitlokking. Untuk menentukan apakah suatu perkara itu merupakan medeplichtiheid atau uitlokking dapat dilihat dari segi opzet. Pada waktu membicarakan masalah uitlokken yang diatur pasal 55 ayat (1) sub 2 KUHP disana ditemukan juga daya upaya sebagaimana yang terdapat dalam hal bantuan melakukan kejahatan. Membantu dengan perbuatan Membantu dengan nasehat Membantu dengan perbuatan disebut matericele medeplichtiheid Membantu dengan nasehat disebut intellectueele medeplichtiheid (E. yaitu dalam hal membantu untuk melakukan kejahatan diisyaratkan adanya daya upaya berupa kesempatan/gelegenheid. Kalau uitlokking diancam dengan pidana maksimum sedang pada medeplichtiheid diancam seberat pidana maksimum dikurangi sepertiga pidana maksimum. Kedua jenis bantuan tadi berupa: a. Berlainan dengan perincian menurut KUHP maka doktrin memperinci medeplichtiheid atas: . daya upaya/middelen. seorang peserta yang melakukan kejahatan dengan menggunakansatu dari daya upaya tadi dapat merupakan seorang uitlokker atau seorang medeplichtige. Utrecht: 1996). Kadang-kadang sukar untuk menentukan perbedaan. Perkara itu berupa uitlokking apabila opzet dariorang yang dibujuk (uitgelokte) baru timbul setelah adanya daya upaya yang diberikan oleh uitlokker. sedang pada membantu dalam pelaksanaan kejahatan daya upaya tersebut tidak dikenal.

tidak dapat menggunakan alasan bahwa ia tidak mengetahui akan adanya sesuatu peraturan atau perundang-undangan dengan ancaman hukuman tentang perbuatan yang telah dilakukannya. Tidak mengetahui atau tidak memahami akan adanya perundang-undangan bukanlah alasan untuk mengecualikan penuntutan atau bahkan bukan pula alasan untuk memperingan. Contoh : Medeplichtige ialah orangnya Medeplichtiheid ialah sikap tindaknya C. untuk kepentingan keadilan dan kepastian hukum maka ditentukanlah suatu asas hukum. Oleh karena itu. Pada pihak lain diperluas seperti nampak dari anak kalimat serta dengan akibat perbuatan itu. medeplichtiheid aktif (active medeplichtiheid) b. sedang yang dimaksud dengan medeplichtiheid pasif ialah apabila seorang tidak berbuat sesuatu apa ketika melakukan kejahatan. Bila ditinjau pasal 54 ayat (4) maka tanggung jawab medeplichtige pada suatu pihak dibatasi. sebagaimana dapat disimpulkan dalam kalimat tentang melakukan bantuan itu hanyalah diperhatikan perbuatannya yang sengaja dipermudahkan atau dianjurkan oleh medeplichtige. Namun. maka setiap orang yang mampu memberi pertanggung jawaban pidana. medeplichtiheid pasif (passive medeplichtiheid) yang dimaksud dengan medeplichtiheid aktif ialah aktif menurut pengertian tata bahasa sehari-hari. Tanggung Jawab medeplichtige Tanggung jawab tersebut diatur dalam pasal 57 ayat (4) KUHP.a. bahwa semua orang dianggap mengetahui akan adanya perundangundangan serta peraturan yang berlaku. Adalah suatu kejanggalan untuk menyebut bahwa seseorang mengerti akan adanya undang-undang padahal orang itu sendiri tidak mengerti dan bahkan hendak membuktikan bahwa buta huruf. . Kesalahan Setiap orang dianggap mengetahui atau mengerti akan adanya undang-undang serta peraturan-peraturan yang berlaku.

Nens rea itu merupakan unsur mental yang bervariasi dalam bebagai jenis peristiwa pidana. misalnya dalam perkara pembunuhan. kehendak. Actus reus itu harus dilengkapi dengan “mens rea” dan harus dibuktikan dalam penuntutan bahwa tersangka telah melakukan actus reus dengan disertai mens rea. Dolus . Tanpa bukti adanya mens rea dapat menyebabkan penuntutan pidana (Gerson W. Dua segi yang menjadi masalah penting dalam asas actus reus dan mens rea itu adalah: 1. Dalam hukum pidana Inggris dikenal suatu asas disebut asas “Actus Reus”. 2.“ignorance or mistake of law is generally no defence to a criminal charge”. asas ini tentu berguna bagi suatu studi perbandingan lengkapnya asas ini berbunyi sebagai berikut: “Actus non facid reum. Adanya perbuatan lahiriah sebagai penjelmaan dari pada Konsisi jiwa. iktikat jahat yang melandasi perbuatan tadi. Bewangan: 1979). misalnya perbuatan mengambil dalam perkara pencurian. yaitu niat jahat atau suatu kesengajaan untuk menimbulkan perkara yang dituduhkan kepadanya.harus mengerti akan adanya undang-undang. nisi mens sit rea” Maksud dari kalimat tersebut adalah bahwa “suatu perbuatan tidak dapat membuat orang bersalah kecuali bila dilakukan dengan niat jahat” Dari kalimat itu diambil suatu ekspresi Actus reus ini berarti kesengajaan atau kelalaian yang dilanggar oleh hukum pidana. Akan tetapi. sebetulnya bukan hanya kejanggalan saja bahkan ketentuan dengan kebenaran untuk menentukan bahwa seseorang buta huruf sekalipun. Namun kerugian/gangguan yang diciptakan serta kepentingan umum melalui cita-cita kepastian hukum harus lebih diutamakan. mens rea nya merupakan niat jahat untuk meniadakan nyawa orang dalam perkara pencurian mens rea nya merupakan niat jahat untuk mengambil dan memiliki benda orang lain. Beberapa Bentuk Kesalahan A.

hal ini merupakan manifestasi dari sopan santun. dolus diartikan sebagai suatu niat/itikad diwarnai sifat melawan hukum. Alasan mengartikan sengaja dalam peristiwa pidana sebagai niat/itikad yang diwarnai sifat melawan hukum dan dimanifestasikan sebagai sikap tindak. Walaupun demikian. oleh karena dijadikan unsur sebagian besar peristiwa pidana disamping peristiwa pidana yang punya unsur “Culpa”. Satochid memberikan perumusan opzet itu sebagai berikut: “opzet” dapat dirumuskan sebagai melaksanakan suatu perbuatan yang didorong oleh suatu keinginan untuk berbuat atau bertindak. Sebagai contoh: Barang siapa yang mengambil dengan sengaja mengambil jiwa orang lain dan sebagainya. Teori kehendak (Wilstheorie) . Pertama-tama perlu diketahui bahwa Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sendiri tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan “opzet”. kemudaian dimanifestasikan dalam sikap tindak. Unsur niat sebagai suatu bagian dari pada proses psikis adalah merupakan kejadian/keadaan yang tak dapat dilihat atau dipegang yang mempunyai bentuk variasi dan dapat berkembang dan menyempit tergantung pada budaya lingkungan serta kepribadian orangnya (Gerson W. Dengan demikian. Sebagai contoh misalnya kalau kita mencium istri teman di Prancis. 2. maka menjadilah suatu kesengajaan. pengertian opzet ini sangat penting.Dalam bahasa Belanda disebut “opzet” dan dalam bahasa Inggris nya disebut “intention” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “sengaja” atau “kesengajaan”. akan tetapi jangan coba-coba apabila seseorang Prancis memanifestasi niat demikian itu di tanah air kita. ialah karena: 1. Bawengan: 1979). yang langsung ditunjukan pada dasarnya. Teori-teori mengenai sengaja yang tampil pada abad XX ini pernah dikenal: 1. Perumusan itu hanya terbatas pada perbuatan melanggar hukum. Prof.

akibat perbuatannya (opzet bij zekerheidsbewustzijn). ia bertindak dan menciptakan suatu akibat yang sesuai apa yang dikehendakinya.2. Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana I menguraikan pendapat Vos sebagai berikut: “Adalah sengaja sebagai maksud apabila pembuat (dader) menghendaki akibat perbuatannya. Ajaran Von Hippel ini dikenal dalam tulisan: Die Grenze Von Vorsatzund Fahrlassigkeit terbitan tahun 1903. Dengan kata lain andaikata pembuat sebelumnya sudah mengetahui bahwa akibat perbuatannya tidak akan terjadi maka ia sudah tentu tidak akan . Dikatakan bahwa manusia hanya memiliki kemampuan untuk menghendaki terlaksananya sesuatu perbuatan tetapi tidak berkemampuan untuk menghendaki mengingini atau membahayakan akibat perbuatannya.1 Teori kehendak atau “wilstheorie” Penganjuran teori ini adalah Von Hippel yang mengemukakan bahwa “sengaja” adalah kehendak untuk melakukan sesuatu dan kehendak untuk menimbulkan akibat. 2. Dalam kesengajaan bentuk yang pertama si pembuat mengkehendaki sesuatu. Teori angan-angan (Voorstellings theorie) Ad. Dalam ilmi hukum pidana sengaja itu dibedakan atas tiga gradatie: 1.2 Teori angan-angan atau “voorstellings theorie” Teori ini dikemukakan oleh Frank dalam Festschifi Gieszen sekitar tahun 1907 yang menyatakan bahwa suatu akibat tidak mungkin dapat dikehendaki. tujuan atau akibat perbuatan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn). Sengaja sebagai tujuan/arahan hasil perbuatan sesuai dengan Sengaja dengan kesadaran yang pasti mengenai tujuan atau Sengaja dengan kesadaran akan memungkinkan terciptanya maksud orangnya (opzet als oormerk). 3. Ad.

hal ini disebabkan karena pecahnya kaca tersebut memang dikehendaki oleh A untuk dapat mengambil buah-buahan tersebut. Selanjutnya mengambil buah-buahan itu di belakang kaca menjadi bayangan yang ditimbulkan setelah kaca dipukul pecah. Dengan matinya B berarti maksud A tercapai. Menyingkirkan penghalang itupun merupakan suatu peristiwa pidana tersendiri namun si pembuat tetap melakukannya demi tercapainya tujuan utamanya. Contoh-contoh yang dikemukakan di atas hanya untuk menguraikan suatu jenis kesengajaan. ini berarti bahwa satu jenis contoh . Sebagai contoh yang diberikan oleh Utrecht sehubung pendapat Vos itu ialah sebagai berikut: A memecahkan jendela etalase sebuah toko buah-buahan untuk mengambil buahbuahan yang dipamerkan dibelakang kaca tersebut. Hanyalah C kebetulan pengawal B. dan kemudian membunuh B. yaitu setelah terjadinya akibat yang dimaksud dengan perbuatan memukul kaca tersebut. Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana I memberikan contoh sebagai berikut: Untuk dapat mencapai tujuannya yaitu membunuh B. Dalam kesengajaan bentuk kedua seseorang menghendaki sesuatu akan tetapi terhalang oleh keadaan.melakukan perbuatannya”. Motif A ialah mengambil buah-buahan dan bukan pecahnya kaca. A yakin bahwa ia hanya dapat membunuh B setelah lebih dahulu C dibunuhnya. namun ia bertekad untuk memenuhi kehendaknya sambil menebus atau menyingkirkan penghalangnya. Antara A dan C sebelumnya tidak punya rasa dendam apapun. A terpaksa tetapi sengaja terlebih dahulu membunuh C. A yakin andaikata ia tidak terlebih dahulu membunuh C maka tentu tidak pernah akan dapat membunuh B. Dapat dikatakan bahwa memecahkan kaca itu dilakukan dengan sengaja sebagai maksud. jadi pecahnya kaca tersebut merupakan akibat perbuatan. A juga tahu perbuatan memukul kaca itu tentu mengakibatkan kaca itu akan pecah. walaupun matinya C pada mulanya tidak dimaksudkan A. maka A sebelumnya harus membunuh C hal ini disebabkan karena C adalah pengawal B. Ia sadar bahwa tujuannya hanya dapat tercapai dengan cara menyingkirkan penghalang.

Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana memberi contoh mengenai Dolus Evetualis itu sebagai berikut: (Tresna: 1959). Di depannya ia melihat ada beberapa anak-anak yang sedang bermain-main. akan tetapi culpa didalam ilmu pengetahuan hukum mempunyai arti teknis yaitu : suatu macam kesalahan sebagai akibat kurang berhati-hati sehingga secara tidak sengaja sesuatu terjadi. untuk memenuhi kegemarannya melarikan kuda ia tidaklah menghiraukan nasib anak-anak itu. – – – – Tingkat pertama adalah sangat berhati-hati Tingkat kedua adalah tidak begitu berhati-hati Tingkat ketiga adalah kurang berhati-hati Tingkat keempat adalah lebih kurang lagi berhati-hati sehingga menjadi serampangan dan ugal-ugalan. ia sadar akan kemungkinan bahwa anak itu akan telanggar kudanya. maka si penunggang dapat dipersalahkan dengan sengaja menyebabkan matinya atau lukanya anak-anak itu”. “Seorang penunggang kuda melarikan kudanya dengan sangat cepat di jalan yang ramai. R. B. Culpa Arti kata culpa ialah kesalahan pada umumnya. sejauh manakah orang yang kurang berhati0hati dapat dipidana. Dengan .itu dipergunakan sekedar untuk kepentingan teori. Dan terus saja melarikan kudanya dengan tidak ada usaha untuk menyelamatkan anak-anak itu. lazimnya disebut Dolus Evetualis. Timbul pertanyaan. Mr. merupakan kesengajaan bersyarat. Kesengajaan dalam bentuk ketiga. Jika diantara anak-anak itu ada yang mati atau luka karena telanggar kudanya. jika ia terus melarikan kudanya itu. Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu akan dikemukakan bahwasannya berhati-hati itu mempunyai sifat yang bertingkat-tingkat. Para penulis ilmu hukum pidana berpendapat bahwa untuk terjadinya culpa maka yang harus diambil sebagai ukuran ialah bagaimanakah sebagian orang dalam masyarakat bersikap tindak dalam suatu keadaan yang nyata-nyata terjadi. Meskipun demikian. Dilihat dari segi lain dwaling antara Error in persona dan Error in objecto.

2. walaupun demikian akibatnya tetap timbul juga. Untuk yang pertama si terdakwa masih dapat membuat tangkisannya. didalam ilmu pengetahuan dikenal kealpaan yang disadari dan kealpaan yang tidak disadari. Kurangnya pendugaan yang diperlukan Kurangnya keberhati-hatian yang diperlukan. Akan tetapi. orang bersikap tindak tanpa membahayakan akibat yang timbul. bila sudah terbukti berarti implisit tidak mengadakan pendugaan di dalam hal itu karena tidak hati-hati. Timbul suatu pertanyaan bagaimana hal ini dibedakan praktek? Praktek dapat menempuh dua jalan: 1. Sedangkan pada kealpaan yang tidak disadari. padahal ia seharusnya membayangkan. Culpa levissima berarti kealpaan yang ringan sedangkan culpa lata itu adalah kealpaan besar. memperhatikan adanya culpa. Van Hamel. bahwa ia tidak mungkin untuk mengadakan pendugaan. Kemungkinan pendugaan terhadap akibat Kurangnya keberhati-hatian yang diperlukan. Dalam hukum pidana orang baru dapat diminta tanggung jawab kalau ia . Kealpaan yang disadari dapat digambarkan bila seseorang yang menimulkan delik tanpa sengaja dan telah berusaha menghalangi akibat yang terjadi. melainkan sifat kebanyakan orang-orang dalam masyarakat. Culpa dibedakan menjadi culpa levissima dan culpa lata. 2. 2. sedangkan untuk yang kedua maka. KUHP tidak menegaskan apa arti kealpaan. Lebih memperhatikan syarat tidak adanya keberhati-hatian Tanpa mempertimbangkan keberhati-hatian lebih mudah guna dalam pengertian orangnya tidak berbuat secara hati-hati sebagaimana mestinya.demikian seorang hakim juga tidak boleh mempergunakan sifatnya sebagai ukuran. Sedangkan Vos menyatakan bahwa culpa mempunyai dua unsur: 1. juga mengatakan bahwa culpa juga mempunyai dua syarat: 1.

Dolus Generalis Kesengajaan ini dipandang sebagai opzet yang sifatnya tidak terbatas. Ini adalah opzet dalam arti absolut dan tidak ada dalam hukum pidana. Dolus Generalis ini misalnya pembunuhan yang dilakukan terhadapbeberapa orang yang tidak tertentu. Pada umumnya. dengan maksud agar setiap orang minum air ledeng itu akan mati. Dwaling/Kekeliruan Dalam bahasa Romawi “dwaling” dikenal dengan istilah Error yang berarti kesalahpahaman ataupun suatu kekeliruan dan biasanya dibedakan antara feitelijke dwaling rechts dwaling. . Akan tetapi. sebagai contoh dapat dikemukakan tidak mungkin orang membunuh orang lain semata-mata untuk membunuh saja. hukum pidana masih memberikan upaya pemaafnya. asasnya: tiada pidana tanpa kesalahan. Sengaja Kelalaian Walaupun terhadap kelalaian. Sebagai contoh misalnya mengacungkan pistolnya kearah B dan ketika itu juga C menghalanginya namun pistol sempat meledak dan mengenai D E.mempunyai unsur kesalahan. Aberratio Ictus (Salah Kena) Ini adalah suatu kesengajaan dengan membawa akibat diluar perhitungan yang berkehendak. opzet harus tertentu. 2. C. Dari contoh ini terdapat dolus generalis dalam arti opzet tidak tertentu hal ini dalam ilmu hukum pidana disebut dengan dolus determinatus. maka dalam hal ini kita berhadapan orang-orang yang tidak tertentu. maka dalam hal ini kita berhadapan dengan “dolus inditerminatus” atau opzet tidak tertentu D. Contoh: seseorang memasukkan racun dalam pusat air minum. Unsur kesalahan dalam hukum pidana berupa: 1. jika pembunuhan dilakukan terhadap orang-orang tidak tertentu. hanya yang salah yang dipidana.

Menurut Prof.H. bahwa istilah “penghukuman” dapat disempitkan artinya yakni penghukuman dalam perkara pidana. Sudarto. (Muladi dan Barda Nawawi Arief: 1982). Mulyanto “dihukum” berarti di terapi hukum. Pengertian. Akhirnya beliau berkesimpulan istilah “pidana” lebih baik dari pada “hukuman” sebagai terjemahan dari kata straf. Begitu pula Prof. straf juga lazim diterjemahkan dengan “hukuman”. “menetapkan hukuman” untuk suatu peristiwa tidak hanya menyangkut hukum pidana saja. Selanjutnya menurut beliau. Karena. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan Negara pada pembuat delik itu. yang sinonim dengan “pemidanaan”. PIDANA A. istilah pidana lebih tepat dari pada hukuman sebagai terjemahan kata straf. kalau straf diterjemahkan dengan hukuman. Mulyatno. 3. penderitaan yang sengaja dibebankan Yang dimaksud dengan “pidana” ialah 2. Prof. sebab mencangkup juga keputusan hakim dalam lapangan hukum perdata dan hukum administrasi Negara. Istilah. “Hukuman” adalah hasil atau akibat dari penerapan hukum tadi yang maknanya lebih luas dari pidana. Prof. Pidana adalah reaksi atas delik. Pengertian: 1. maka dalam “strafrecht” harus diterjemahkan dengan “hukum atau hukuman”. tetapi juga menyangkut hukum perdata maupun lainnya. S. dan Kategorisasi Istilah: Istilah pidana adalah terjemahan kata “straf” disamping “pidana”. Selanjutnya menurut Prof. Roeslan Saleh kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Fitzgerald .IV. Sudarto Guru Besar Hukum Pidana pada Fakultas Hukum UNDIP mengatakan bahwa “penghukuman” berasal dari kata dasar “hukum” sehingga dapat diartikan sebagai menetapkan hukuman atau memutuskan tentang hukumannya. baik hukum pidana maupun hukum perdata.

5. c. 4. d. halaman 21 tertulis : “be imposed on an actual or supposed offender for his offence”). (Dalam buku H. 7. Be for an offence against legal rules. Be of an actual of supposed offender for his offence. Hart Packer. Punishment is that social response which : which the violated rule belongs. 6. a. e. The Limits of The Criminal Sanction. 8. Leiser A punishment is a harm inflicted by a person in position of authority upon another who is judged to have violated a rule or a law. Ted Honderich Punishment is an authority’s infliction of penalty (something involving deprivation or distress) on an offender for an offence. b. Involve pain or other concequences normally considered unpleasant. d. Sir Ruper Cross Punishment means “the infliction of pain by the state on some one who has been convicted of an offence”. b. Burton M. Is imposed an carried out by authorised persons on the legal order to Involves suffering or at least other consequences normally considered Expresses disapproval of the violator.Punishment is the authoritative infliction of suffering for an offence. unpleasant. A. H. system against whit the offence is committed. L. Be imposed and administrered by an authority consitueted by a legal Alf Ross Occurs where there is violation of a legal rule. c. . Punishment must: a. L. Be intentionally administrered by human being other than the offender.

misalnya: . or for his omission of a duty enjoined by law. 3.9. (3) Pidana itu dikenakan kepada seseorang penanggung jawab peristiwa pidana menurut undang-undang. 4. 2. for some crime or offence committed by him. b. Pidana pokok. dalam hukum pidana positif dikenal juga jenis sanksi yang berupa tindakan. Kategorisasi Menurut KUHP Menurut pasal 10 KUHP jenis pidana tersendiri: a. Di dalam “Black’s Law Dictionary” dinyatakan bahwa “Punishment” adalah : Any find. Dari beberapa definisi diatas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : (1) Pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. 3. yaitu: Pidana mati Pidana penjara Pidana kurungan Pidana denda Pidana tambahan. 1. (Muladi dan Barda Nawawi Arief: 1982). yaitu: Pencabutan hak yang tertentu Perampasan barang-barang tertentu Pengumuman putusan hakim Disamping jenis sanksi yang berupa pidana. (2) Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). 1. 2. penalty or confinement inflicted upon a person by authority of the law and the judgement and sentence ofa court.

Penenpatan ditempat bekerja negara (Landswerkinrichting) bagi pengganggur dan malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian.7 Drt. b. Tindakan tata tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (pasal 8 UndangPenenpatan perusahaan si terhukum undang No. atau perbuatan asosial. 2.a. 2. wali atau pidana. dan Pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana Pembayaran uang jaminan selama Bagi anak yang sebelumnya umur enam belas tahun melakukan tindak Mengembalikan kepada orang tuanya. Kewajiban mengerjakan apa yang meniadakan apa yang dilakukan tanpa hak. 1955) dapat berupa: dibawah pengampunan untuk selama waktu tertentu (tiga tahun untuk kejahatan TPE dan dua tahun untuk pelanggaran TPE). 1. Penempatan dirumah sakit jiwa bagi orang yang tidak mampu bertanggung jawab karena jiwanya cacat pertumbuhannya atau terganggu karena penyakit (lihat pasal 44 ayat (2) KUHP). hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat pasal 45 KUHP) : pemeliharaannya. Memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat0akibat satu sama lain semua . penyelenggaraannya diatur dalam peraturan pendidikan paksa (Dwangopvoedinggregeling. yang dilakukan. 1. d. 3. 4. waktu tertentu. dilalaikan tanpa hak. std. serta menggangu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan. pemerintah Dalam hal yang kedua. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang c. bergelandangan. 1916 nomor 741).

d. masih dianut sistem dua jalur yang artinya terhadap pelaku peristiwa pidana dapat dikenakan sanksi negatif berupa pidana dan atau tindakan.:1982). Menurut usul rancangan KUHP Dalam urusan rancangan KUHP baru. 2. (Muladi dan Barda Nawawi Arief: 1982). Letak perbedaan antara pidana dan tindakan pidana dimaksukan sebagai pembalasan atau pengimbalan terhadap kesalahan si pembuat. c. a.atas biaya si terhukum sekedar hakim tidak menentukan lain. b. Secara dogmatik pidana itu dikenakan kepada orang yang “normal” jiwanya/orangnya yang mampu bertanggung jawab. Sudarto. a.H. sedang tindakan dimaksudkan untuk perlindungan masyarakat terhadap orang yang melakukan perbuatan yang membahayakan masyarakat dan untuk pembinaan dan perawatan si pembuat. H. d. pidana tambahan dan pidana pokok yang bersifat khusus. c. Sedang rindakan dikenakan kepada orang yang tidak mampu bertanggung jawab. e. b. Pidana mati Pidana pokok: Pidana pemasyarakatan Pidana tutupan Pidana pengawasan Denda Pidana tambahan: Pencabutan hak-hak tertentu Perampasan barang-barang tertentu dan tagihan Pengumuman keputusan hakim Pembayaran ganti rugi Pemenuhan kewajiban adat . (Prof. Paket sanksi pidana tersebut adalah sebagai berikut : 1. Dalam usul rancangan KUHP dibedakan pidana pokok. S. 3.

Pengaturan tentang tindakan berbunyi sebagai berikut: 1.. Pemberantasan Pidana (Maksimum Plus sepertiga) Pasal 18 ayat (2) KUHP terjemahannya berbunyi: (1) (2) ....... Ke-1 Ke-2 Ke-3 Tindakan yang dengan putusan hakim dapat dijatuhkan bersama: Pencabutan surat izin mengemudi : Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana : Perbaikan akibat-akibat tindak pidana sama dengan pidana adalah: (Prof. Tindakan yang dengan putusan hakim dapat dijatuhkan kepada mereka yang memenuhi ketentuan dalam pasal yang menurut ketidakmampuan bertanggung jawab... H..H.. Sudarto. Bertitik tolak dari ketentuan pasal 18 ayat (2) tersebut maka dalam suatu bab ini akan dibahas tiga macam alasanyang dapat memberatkan pidana yaitu: 1.......... Kesatu perawatan di rumah sakit jiwa Kedua penyerahan kepada pemerintah 2..... maka satu tahun kurungan dapat ditambah menjadi satu tahun empat (= sepertiga x 12) bulan....1.. S.. Tanggung jawab penjabat (“Ambtelijkheid”) Ad...... Jika ada pemberatan pidana yang disebabkan karena perbarengan kejahatan atau pengulangan kejahatan atau karena ketentuan pasal 52 dan 52a.... Tanggung jawab majemuk (samenloop) ... Tanggung jawab majemuk (Samenloop) 2.. (3) ..... 1982) B....... Tanggung jawab ulang (Recidive) 3.

Absorptie Stelsel/sistem hisapan. terbatas. Pidana yang berat ditambah dengan seperiga dari maksimum. Tresna) Apabila dihubungkan dengan pertanggung jawaban (penanggung jawab). Mulyanto) Gabungan (Prof. Satochid Kartanegara dan pidana yang terberat saja. 3. yang dikenakan hanya Zuivere Cumulative stelsel/sistem himpunan yang murni. Samenloop itu dapat disebut “tanggung jawab majemuk” Samenloop apabila seseorang: – – Bersikap tindak dan sikap tindaknya itu memenuhi perumusan beberapa peraturan pidana sekaligus. Berkali-kali sikap tindak yang masingmasing sikap tindak yang merupakan peristiwa pidana yang berdiri sendiri dan antara peristiwa itu belum ada putusan pengadilan dan kesemua peristiwa pidana itu akan diadili sekaligus. Yang menjadi pokok permasalahan dalam hal samenloop ini ialah pengenaan pidana terhadap orang yang bertanggung jawab atas pemenuhan beberapa ketentuan hukum pidana. Gematigde Cumulative Stelsel/sistem himpunan yang Perbarengan (Prof. Berhubungan dengan hal tersebut KUHP mengenal empat sistem yang terdiri dari dua stelsel pokok yaitu “Absorptie Stelsel” dan “Zuivere Cumulatie stelsel” dan dua stelsel antara yaitu: “Verschrepte Absorptie Stelsel” dan dua “Gematigde Cumulatie Stelsel” skemanya sebagai berikut: 1. (Tresna: 1959). Beberapa pidana dijatuhkan akan tetapi jumlah semuanya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah sepertiganya. Sejumlah pidana dijatuhkan dengan tidak diadakan pengangguran. Verschrepte Absorptie Stelsel/sistem hisapan yang diperkeras.Istilah Samenloop dapat diterjemahkan beberapa arti: – – Mr. . R. 4. 2. Pidana lainnya seakan-akan terhisap kedalam.

Perkosaan terhadap seseorang perempuan di taman yang merupakan tempat bagi umum. 2. Voortgezette Handeling/peristiwa berlanjut. Meerdaadse Samenloop/Concursus realis/gabungan peristiwa. ad. untuk ini istilah perbarengan amat tepat Contoh: 1. Eendaad Samenloop/Concurcus idealis Een artinya Satu Daad artinya perbuatan Eendaad samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan itu ia memenuhi beberapa perumusan ketentuan hukum pidana. yang mengakibatkan pegawai negeri itu luka berat adalah sesuai perumusan pasal 212 KUHP debgan ancaman satu tahun empat bulan dan pasal 351 KUHP dengan ancaman lima tahun. Dari contoh diatas terlihat bahwa hanya ada satu peristiwa (perbuatan) fisik. Melawan seorang pegawai negeri dengan kekerasan. Eendaad Samenloop/Concurcus idealis/perbarengan peristiwa. II. Pidana apakah yang dapat dijatuhkan terhadap perbuatan yang demikian. Penipuan yang dilakukan dengan mempergunakan dokumen palsu adalah sesuai perumusan pasal 378 KUHP dengan ancaman empat tahun dan pasal 263 (2) KUHP dengan ancaman enam tahun. 3. III. Pasal 63 KUHP (terjemahan) menentukan: . tetapi satu peristiwa tersebut memenuhi perumusan beberapa peraturan dalam hukum pidana.Bentuk-bentuk Samenloop I. adalah sesuai dengan perumusan pasal 285 KUHP dengan ancaman dua belas tahun dan pasal 281 KUHP dengan ancaman dua tahun delapan bulan.I.

Tetapi sekali hal macam itu disebut “Concursus idealis” yaitu hanya ada gabungan in de idee (dalam pikiran).Jika sesuatu peristiwa termasuk perumusan beberapa ketentuan pidana. Apa yang menjadi dasar pembuat KUHP menentukan pidana yang terberat terhadap pelaku Eendaad Samenloop. apabila pidana pokoknya tidak sama maka yang dijatuhkan ialah yang terberat. sedangkan mata pikiran melihat beraneka ragam pelanggaran kaidah. Mengingat dua alasan itu maka Vos berpendapat hanya dalam dua hal saja dapat terjadi Eendaad Samenloop/Concursus idealis.” Contoh: Memperkosa di pinggir jalan raya . 1. maka yang dikenakan ialah ketentuan yang terberat pidana pokoknya. hanya satu pidana saja yang dijatuhkan. Utrecht: 1965). karena itu lebih tepat lagi bila eendaadse samenloop disebut “Concursus Ab Normis/Concursus normatif. Barang siapa yang telah memberanikan diri untuk melakukan delik yang lebih berat. Atau seperti yang dikatakan Menteri Kehakiman Belanda Mr. Menurut Vos ada dua alasan. maka ketentuan hukum pidana khusus itu saja yang akan digunakan. (E. Dalam hal kelihatan hanya satu peristiwa saja. Modderman. Maksimum pidana yang ditentukan dalam ketentuan pidana ditujukan kepada penanggung jawab peristiwa pidana yang paling berarti sehingga dilakukannya suatu delik yang lebih ringan sekaligus itu tidak boleh dijadikan alasan untuk memperberat pidana maksimum tersebut. Jika sesuatu peristiwa yang terancam oleh ketentuan hukum pidana umum/ketentuan hukum pidana khusus. mengapa KUHP menentukan demikian. dia juga akan segan-segan sekaligus melakukan delik yang lebih ringan. bahwa Concursus idealis ini ialah: sebagai suatu perbuatan yang oleh mata fisik deilihat sebagai perbuatan tunggal. dengan kelihatan hanya satu akibat saja. Ini berarti Slelsel yang digunakan ialah Absorptie Stelsel. maka hanyalah dikenakan satu dari ketentuan itu saja. Menurut ketentuan pasal 63 KUHP. jika pidananya berlainan.

Contoh: . Meerdaadse Samenloop yang berupa kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis (pasal 66 KUHP). yang terjemahannya berbunyi: Bagi gabungan beberapa peristiwa. Dalam KUHP Meerdaadse Samenloop/Concursus realis itu dibedakan antara: Meerdaadse Samenloop yang berupa kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis (pasal 64 KUHP). ad.II. ad. Dalam hal yang lebih meragukan (diluar kelihatan beberapa akibat) tapi masih juga salah satu diantara peristiwa itu sebagai conditio sinequa non (kondisi yang tidak bisa tidak ada) untuk yang lain. Untuk menentukan ancaman pidana terhadap kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis diatur dalam pasal 65 KUHP. akan tetapi tidak boleh lebih dari pidana maksimum yang paling berat ditambah dengan sepertiganya. Maksimum pidana ini ialah jumlah pidana tertinggi yang ditentukan untuk kesemua peristiwa itu. Meerdaadse Samenloop yang berupa kejamakan pelanggaran (pasal 70 KUHP).a. Contoh: A menembak mati B yang duduk dibelakang kaca. Pecahnya kaca adalah conditio sine qua non untuk dapat membunuh B. maka dijatuhkan satu pidana saja.2.Meerdaadse Samenloop/Concursus realis Meerdaadse Samenloop/Concursus realis terdapat apabila seseorang menimbulkan beberapa peristiwa yang masing-masing merupakan kejahatan dan atau pelanggaran dan diantara peristiwa pidana tersebut belum ada yang diadili oleh hakim maka akan diadili sekaligus untuk bentuk lebih tepat digunakan istilah gabungan. yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan sendiri dan masing-masing termasuk kejahatan yang terancam dengan pidana pokok yang sejenis.

bukan 9 tahun + 1/3 x 9 tahun = 12tahun. Akan tetapi. Berlainan dengan kasus diatas maka pidana yang dapat diancam terhadap B bukan 4 tahun + 6 tahun = 10 tahun akan tetapi. .A telah melakukan dua kali kejahatan yang masing-masing diancam dengan pidana penjara dsatu tahun dan sembilan tahun. jumlah pidananya tidak boleh melebihi pidana yang terlama di tambah dengan sepertiganya. Sesuai bunyi pasal 65 KUHP maka terhadap A. ad. maka tiap pidana itu dijatuhkan. yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan tersendiri dan masin-masing merupakan kejahatan yang terancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. Dari ketentuan yang terdapat dalam pasal 6 KUHP pada satu pihak ada yang menafsirkan bahwa stelsel yang digunakan adalah “Cumulatie Stelsel” yang dipetik dari kalimat pertama pasal 65 ayat (2) KUHP yaitu maksimum pidana ialah jumlah pidana yang tertinggi yang ditentukan untuk kesemua peristiwa. 6 tahun + 1/3 x 6 tahun = 8 tahun. karena jumlah pidana tertinggi untuk kedua kejahatan itu (10 tahun) tidak melebihi (12 tahun) yaitu pidana maksimum yang paling berat ditambah sepertiga. Dipihak lain terhadap beberapa sarjana yang berpendapat bahwa stelsel yang dipergunakan ialah: “Verschrepte Absorptie Stelsel” yang dipetik dari kalimat terakhir pasal 65 ayat (2) yaitu tidak boleh melebihi dari pada pidana maksimum yang paling berat ditambah dengan sepertiganya. pidana yang dapat diancam hanya satu saja (walaupun melakukan dua kejahatan) yaitu: 1 tahun + 9 tahun = 10 tahun.b Untuk menentukan ancaman pidana terhadap kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis diatur dalam pasal 66 KUHP yang terjemahannya berbunyi: Dalam gabungan beberapa peristiwa. B telah melakukan dua kali kejahatan yang masing-masing diancam dengan hukuman penjara selama empat tahun dan enam tahun. karena pidana maksimum 10 tahun melebihi pidana terberat ditambah sepertiga dari yang berat yaitu delapan tahun.

Bagaimana denda itu harus diperhitungkan.00 pidana apakah dan berapa besarnya ancaman pidana terhadap kasus diatas. Lama kurungan pengganti paling sedikit adalah satu hari dan paling lama adalah enam bulan. Cara menghitung pidana denda menjadi pidana kurungan pengganti denda diatur dalam pasal 30 KUHP yang terjemahannya sebagai berikut: (Prof. terdapat tiga kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. 15. atau karena ketentuan pasal 52 dan 52a. yang ditentukan untuk peristiwa itu. berarti stelsel yang dipergunakan adalah Cumulatie Stelsel.000. Menurut pasal 66 ayat (2) pidana denda harus diperhitungkan dengan pidana kurungan pengganti denda. . lalu diganti dengan kurungan. kurungan dan denda. yaitu pidana penjara. Dalam putusan hakim lamanya kurungan pengganti ditetapkan demikian: jika dendanya lima puluh sen atau kurang dihitung satu hari. disebabkan karena perbarengan atau pengulangan. maka kurungan pengganti paling lama dapat menjadi delapan bulan. tiaptiap lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari demikian pula sisanya yang tidak cukup lima sen.Pidana denda dalam hal ini dihitung menurut maksimum pidana kurungan pengganti denda. Dalam contoh diatas. Jika denda tidak dibayar. Mulyanto: 1976) Denda paling banyak alalah dua puluh lima sen. enam bulan kurungan dan denda Rp. jika lebih dari lima puluh sen. Jika ada pemberatan denda. Oleh karena itu stelsel yang dipergunakan adalah Gematigde Cumulatie Stelsel. Kurungan pengganti sekali-kali tidak boleh lebih dari delapan bulan. Contoh: A telah melakukan tiga kejahatan yang masing-masing diancam pidana sembilan bulan penjara. akan tetapi dalam pasal 66 ayat (1) selanjutnya mengatakan dengan tegas bahwa jumlah pidana itu tidak boleh melebihi pidana terberat ditambah sepertiganya. Menurut pasal 66 ayat (1) dijatuhkan pidana itu satu persatu.

akan tetapi kumulasi itu tidak mutlak. tidak boleh dari delapan tahun. Meerdaadse Samenloop berupa pelanggaran Diatur dalam pasal 70 KUHP yang terjemahannya berbunyi: 1. Jika secara yang dimaksud dalam pasal 65 dan 66 ada gabungan antara pelanggaran dengan kejahatan atau antara pelanggaran satu sama lain maka dijatuhkan pidana tanpa pengurangan bagi tiap-tiap pelanggaran itu.III. diantara perbuatan-perbuatan itu terdapat hubungan yang demikian eratnya sehingga rangkaian perbuatan itu diartikan sebagai perbuatan lanjutan. 2. Bila pidana pokoknya tidak sejenis dipergunakan Gematigde Cumulatie Stelsel (pasal 66 KUHP) ad.c. dipergunakan salah satu stelsel: a. karena tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan. b. termasuk pidana kurungam pengganti. Untuk pelanggaran. Dalam hal gabungan kejahatan dengan pelanggaran.ad. Bentuk ini diatur dalam pasal 64 KUHP yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut: . tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan. gabungan pidana kurungan pengganti. Bila pidana pokok sejenis dipergunakan Verschrepte Absorptie Stelsel (pasal 65 KUHP). sedang jumlah pidana kurungan pengganti paling lama delapan bulan.Voortgezette Handeling/peristiwa berlanjut Yang dimaksud dengan Voortgezette Handeling ialah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan kejahatan sendiri. Pengganti hal gabungan pelanggaran dengan pelanggaran stelsel yang dipergunakan adalah zuivere cumulatie stelsel artinya masing-masing terhadap pelanggaran tersebut dikenakan pidana sendiri-sendiri. maka jumlah pidana kurungan tergabung dengan pidana kurungan pengganti.

Begitu juga hanya digunakan satu ketentuan saja. berhubungan sedemikian eratnya sehingga harus dianggap sebagai perbuatan lanjutan maka hanya satu ketentuan pidana saja yang digunakan untuk masing-masing.00 yang tersimpan dalam lemari. Beberapa perbuatan itu harus sejenis (Satochid Kartanegara). KUHP tidak menberikan satu perumusan atau kriteria tentang itu. tetapi kita menemukannya pada Memorie van toelichting (MVT). maka yang digunakan ialah peraturan yang terberat pidana pokoknya. tapi .379.Jika beberapa peristiwa yang walaupun masing-masing sebagai kejahatan atau pelanggaran. 372. 10. Contoh : Seorang pembantu rumah tangga bermaksudmencuri uang majikannya sebesar Rp.000.373. Antara beberapa perbuatan yang dilakukan itu tidak boleh lampau waktu yang agak lama. jika pidana berlainan. Untuk menghindarkan jangan sampai cepat diketahui oleh majikannya. Menurut MVT hubungan itu harus memenuhi tiga syarat: Beberapa perbuatan itu harus timbul dari satu kehendak (wilbesluit) yang terlarang. hanya satu peraturan hukum pidana yang diperlukan. maka dapat diketahui bahwa pada Voortgezette Handeling. dan hanya satu pidana yaitu pidana yang terberat. Akan tetapi. Stelsel yang digunakan adalah Absorptie Stelsel. Dengan demikian. dan ayat pertama pasal 407. dilakukan sebagai perbuatan lanjutan dan jumlah dari kerugian atas harta orang lantaran perbuatan lanjutan itu semua lebih dari 25 rupiah (gulden). Yang menjadi persoalan dalam voortgezette handeling ini ialah apakah yang dimaksud dengan berhubungan sedemikian eratnya (zodanige verband) itu. maka masing-masing pidana menurut ketentuan pidana dalam pasal 362. jika kejahatan yang dirumuskan dalam pasal 364. 378. Bila kita perhatikan bunyi pasal 64 KUHP. bila orang dipersalahkan memalsukan atau merusak uang dan memakai benda untuk melakukan perbuatan memalsu atau merusak uang. uang itu tidak diambilnya sekaligus. dan 406.

asal saja dalam jangka waktu beberapa tahun ini fakta-fakta yang bersangkutan dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Vos berpendapat cukup dapat dibuktikan adanya hubungan (Samenhang) antara tiap-tiap keputusan kehendak untuk melakukan peristiwa pidana yang sejenis itu. Selanjutnya terhadap syarat ketiga Simons berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan itu tidak perlu sejenis. Berlainan dengan pendapat simons maka H. Dengan demikian. Kedua perbuatan itu sejenis. tetapi maksud dilakukannya masing-masing tidak sama (E. Spekulasi meleset maka ia mencuri lagi uang dari kas majikannya. ialah pasal 64 ayat (2) KUHP bahwa: Perbuatan memalsu Menggunakan barang yang dipalsukan itu adalah perbuatan yang dianggap satu jenis dan hanya diancam dengan satu pidana. Jonkers berpendapat bahwa peristiwa berlanjut itu dapat dilangsungkan beberapa tahun berturut-turut. Contoh: A dihina oleh B. maksud pembuat KUHP . Nampak bahwa keriga perbuatan tersebut timbul dari satu kehendak yang terlarang tapi tidak sejenis (Satochid Kartanegara). Utrecht: 1965). berpendirian sesuai MVT bahwa perbuatan yang dilakukan itu haruslah sejenis. A mula-mula menghina B. Untuk melaksanakan dendam itu. tetapi kesepuluh kali perbuatan itu harus dianggap satu peristiwa saja yaitu peristiwa berlanjut. Terhadap syarat kedua. Timbul dendam pada A. dan waktu antara saat-saat terjadinya masing-masing fakta yang bersangkutan tisak terlalu lama (Utrecht: 1965). 1. kemudian memukul B dan selanjutnya ia merobek baju B. Walaupun pembantu rumah tangga tersebut telah melakukan sepuluh kali pencurian. beberapa sarjana terkenal di negara Belanda memberikan tanggapan sebagai berikut: Vos termasuk yang tidak menerima syarat pertama. Yang menjadi alasan H. Tiap hari ia ambil Rp.00.000.R.bertahap. Mengenai tiga syarat tersebut diatas. Contoh: A mencuri uang dari kas majikannya untuk spekulasi. Hari kesepuluh majikannya baru mengetahui.R.

Pasal penutup dari ajaran samenloop ini ialah pasal 71 KUHP yang terjemahanya berbunyi: Jika seseorang. Contoh: A pada tahun 1980 telah melakukan tiga peristiwa pidana yang masing-masing dilakukannya: Bulan Maret 1980. melakukan penipuan Bulan Juli 1980. andaikata pasal 71 KUHP itu tidak ada maka jaksa dapat saja memecah (splitsen). Hal tersebut . Setelah kedua perkara itu diputus. Menurut pasal 71 KUHP dalam menentukan pidana terhadap perkara terakhir ini (prkara bulan Juni 1980) haruslah memperhitungkan kedua perkara yang telah diputus pada bulan Oktober 1980. melakukan pencurian Bulan Juni 1980. Ratio ketentuan ini menurut Jonkers & Vos. tentang perkara yang diadili serentak. dengan aturan dalam bab ini. melakukan penggelapan Oleh karena perkara yang dilakukan pada bulan Maret dan Juli sudah lengkap alatalat buktinya maka pada bulan Oktober kedua perkara itu diajukan dan telah diputus oleh hakim.menentukan pasal 64 ayat (2) adalah sebagai pengecualian terhadap ketentuan yang terdapat dalam pasal 64 ayat (1). disalahkan pula berbuat kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan sebelum ia dipidana itu maka pidana yang telah dijatuhkan itu diperhitungkan. sesudah dijatuhi pidana. Ketentuan dari pasal 71 KUHP ini hanya berlaku dalam peristiwa-peristiwa pidana yang bersangkutan terjadi sebelum keputusan yang pertama dilaksanakan. barulah perkara bulan Juni dapat diajukan ke depan sidang pengadilan. perkara dengan mengajukan dan menuntut peristiwa pidana yang bersangkutan satu persatu (E. Utrecht: 1965).

. Asal saja terdakwa kembali melakukan peristiwa pidana macam apa pun. Perbedaannya : Dalah hal samenloop di antara peristiwa pidana yang satu dengan yang lain. sudah ada keputusan hakim yang berupa pidana. Recidive (Tanggung Jawab Ulang) Recidive itu terjadi apabila seseorang yang pernah dipidana karena bertanggung jawab atas peristiwa pidana yang berdiri sendiri mengulangi kesalahannya. Oleh karena itu. Menurut doctrine recidive itu dapat diperinci: Algemeene recidive/recidive umum.2. Ad. undang-undang memberikan kelonggaran kepada hakim untuk menjatuhkan pidana yang lebih berat kepadanya. tidak terselang oleh suatu keputusan hakim. Walaupun ia sudah diberi peringatan berupa pidana. sdang pada recidive di antara peristiwa pidana yang satu dengan yang lain. Bebtuk ini bila kita bandingkan dengan samenloop mempunyai persamaan dan perbedaan. Ancaman pidananya ditambah sepertiga maksimum pidana pokok. Recidive merupakan hal yang memberatkan pidana (grond van strafverzwaring).memungkinkan adanya pandangan bahwa samenloop itu tidak termasuk pemberatan tetapi peringanan pidana. yang tidak memperlihatkan sifat peristiwa pidana yang diulangi. namun tidak menjadi perbaikan terhadap dirinya dan kembali ke jalan yang benar. Adapun yang menjadi alasan untuk memperberat ancaman pidana dalam hal recidive ialah orang yang demikian itu telah membuktikan mempunyai akhlak yang buruk dan oleh sebab itu dianggap merupakan bahaya besar bagi masyarakat. Persamaannya : Baik pada samenloop maupun recidive terjadi apabila seseorang melakukan beberapa peristiwa pidana.

dikelompokan dalam satu kelompok (groeps recidive). Dalam pasal 488 dikelompokan kejahatan penghinaan. Dalam pasal 487 dikelompokan kejahatan terhadap pribadi orang dan. tapi tersebar di dalam beberapa pasal dalam KUHP.Speciale recidive/redive khusus. Selain dari perinci menurut doctrine. Mengenai special recidive khusus yang juga dianut oleh KUHP. Akibat pemidanaan itu ia diberhentikan dari pekerjaannya. Demi kepentingan keluarganya A terpaksa melakukan suatu peristiwa pidana untuk kedua kalinya. dalam ilmu hukum pidana modern perincian recidive yang lain yaitu: Accidentele recidive/pengulangan kebetulan Habituele recidive/pengulangan kebiasaan. A dan keluarganya jatuh dalam keadaan yang menderita. karena sipembuat itu ternyata sudah membiasakan diri untuk melakukan peristiwa pidana (E. tidak diatur dalam sub bab tersendiri. Utrecht: 1965) Syatat-syarat yang diperlukan untuk berlakunya recidive: . KUHP menganut special recidive khusus. Menurut Vos maka dalam hal ini tidak diperlukan peraturan pemidanaan yang khusus (peraturan recidive) sudah cukup peraturan pemidanaan biasa tanpa tambahan sepertiga maksimum pidana pokok. 488. Disamping kedua sistem tersebut terdapat pula sistem antara/tussen system dengan beberapa kejahatan menurut sifatnya dianggap sama. Contoh Accidentele recidive A telah melakukan suatu peristiwa pidana dan dijatuhi pidana. yaitu pengulangan peristiwa pidana yang semacam/sejenis dengan peristiwa pidana yang pernah menyebabkan dijatuhkan pidana. Disamping itu menganut pula sistem antara sebagaimana yang diatur dalam pasal 486. 487. Dalam pasal 486 dikelompokan kejahatan terhadap harta kekayaan. Sebaliknya dalam hal Habituele recidive perlu dikenakan peraturan recidive.

kesempatan atau sarana yang diperoleh berdasarkan jabatannya. menggunakan kekuasaan. disana tidak dijelaskan siapa yang disebut “ambtenaar”/pejabat itu.1. yaitu mereka yang menjalankan kekuasaan peradilan administratif. Jangka waktu antara peristiwa pidana pertama dan yang kedua adalah titik lebih lima tahun. Meraka yang masuk angkatan bersenjata dipandang juga sebagai ambtenaar pasal 92 KUHP hanya memperluas pengertian pejabat. Demikian juga dalam pasal 92 KUHP yang terjemahannya berbunyi: 1. terhitung sejak selesai menjalankan hukuman penjara itu. Bila dibaca dengan teliti rtedaksi pasal 52 KUHP diatas. Ambtelijkheid (Tanggung Jawab Penjabat) Ambtelijkheid menurut KUHP merupakan pula salah satu hal yang dapat memberatkan pidana.3. Pernah menjalankan pidana penjara baik seluruhnya maupun sebagian atau pidana itu dihapuskan baginya sama sekali ataupun beban pidana itu belum gugur karena daluarsa. seterusnya seluruh anggota dewan wilayah pengairan dan semua kepala adat pribumi dan timur asing yang melakukan kekuasaan yang sah. Yang masuk sebutan ambtenaar dan hakim. demikian pula semua pihak yang bukan karena pemilihan menjadi anggota lembaga perwakilan rakyat pusat maupun daerah yang dibentuk oleh atau atas nama pemerintah. termasuk pula wasit : yang termasuk sebutan hakim. yang meliputi anggota DPR pusat dan daerah yang dipilih maupun diangkat dan anggota ABRI. 3. . 2. 2. demikian ketua dan anggota dewan/peradilan agama. Yang diartikan dengan ambtenaar ialah sekalipun pribadi yang dipilih menurut pemilihan yang diadakan menurut peraturan pusat. Ad. maka pidananya dapat ditambah dengan sepertiganya. Masalah ini diatur dalam pasal 53 KUHP yang terjemahannya berbunyi: jikalau seorang pejabat melakukan peristiwa pidana dengan melanggar kewajiban jabatan khusus atau pada waktu melakukan peristiwa pidana.

tetapi dalam hal penanggung jawab itu kebetulan seorang pejabat/ ambtenaar yang melanggar suatu kewajiban khusus untuk menggunakan kekuasaan. Untuk melakukan sebagian dari tugas negara atau 3a. Pasal 52a tersebut ditambahkan dalam KUHP dengan undang-undang No. 2. bagian-bagiannya. maka pidananya untuk kejahatan tersebut dapat ditambahkan sepetiganya. Adapun peristiwa pidana yang dimaksud dalam pasal 52 ini bukanlah “ambtsdelicten” atau kejahatan-kejahatan jabatan dan pelanggaran-pelanggaran jabatan sebagaimana yang dimaksud dalam buku II Bab XXVIII dabn buku II bab VII KUHP. 25 Oktober 1915 dan 26 Mei 1919. kesempatan atau sarana yang diperoleh dari jabatannya (Wirjono Prodjodikoro: 1969). sehingga dalam melakukan pelanggaran pasal 52a ini tidak berlaku. 3. melainkan peristiwa-peristiwa pidana yang dapat dilakukan oleh siapapun juga.Oleh kerena baik dari pasal 52 maupun pasal 92 KUHP tidak jelas persyaratan bagi ambtenaar/penjabat maka penting untuk diketahui menurut yurisprudensi negeri Belanda tanggal 30 Januari 1911. Untuk ambtsdelicten dalam Buku II Bab XXVIII dan Bab VII KUHP sebaiknya digunakan pengertian tanggung jawab jabatan karena kesalahan dalam menggunakan jabatan (penyalahgunaaan jabatan/detournment du pouvoir yang diancam pidana). Diangkat untuk suatu jabatan umum. 73 Tahun 1958 tanggal 29 September 1958. Dalam pasal ini dengan tegas disebutkan istilah kejahatan bukan peristiwa pidana. Diangkat dengan keputusan kekuasaan hukum. Penyalahgunaan bendera kebangsaan RI Diatur dalam pasal 52a KUHP yang terjemahannya berbunyi : Bilamana pada waktu melakukan kejahatan digunakan bendera Republik Indonesia. Ambtenaar ialah: 1. .

bila maksud terpidana sudah nyata dalam awal pelaksanaan dan penyelesaian perbuatannya tidak terjasi smata-mata lantaran hal yang tidak tergantung kemauannya sendiri. 2. Peringanan Pidana (Maksimum Minus 1/3) Yang dimaksud dengan peringanan pidana disini ialah apabila ancaman pidana maksimum dikurangi sepertiga bagi peristiwa tertentu termasuk dalam kategori ini ialah peristiwa: 1. KUHP ad. maksimum pidana pokok yang diancam bagi kejahatan dikurangi dengan sepertiganya.C. Poging itu diatur dalam pasal 53 dan 54 KUHP yang terjemahannya berbunyi. Pasal 53 KUHP: 1. 2. Dalam hal percobaan. 3.Poging / percobaan Dalam Bab III sudah dijelaskan secara lengkap hal-hal yang berkenaan dengan Poging. Percobaan melakukan kejahatan terancam pidana.1. Poging / percobaan Medeplichtigheid / pembantuan Yang diatur dalam pasal 47 .

ad. Jika kejahatan itu diancam dengan pidana mati. Sedangkan mengapa percobaan untuk melakukan pelanggaran tidak daqpat dipidana.2. pelanggaran tidak dapat dipidana. percobaan kejahatan dikurangi sepertiga. Pasal 54 KUHP: Percobaan untuk pelanggaran tidak diancam pidana. Apa rasio pembuat undang-undang menentukan: 1. Dari pasal 53 ayat (2) dan 54 KUHP di atad dapat disimpulkan bahwa: 1. Ancaman pidana terhadap medeplichtigheid diatur dalam pasal 57 ayat (1) KUHP yang menentukan Pecobaan melakukan Ancaman pidana terhadap Percobaan melakukan Ancaman pidana terhadap percobaan melakukan kejahatan ialah maksimum pidana pokok atas kejahatan yang . Medeplichtigheid Dalam Bab II tentang medeplichtigheid ini sudah dijelaskan pila. 2. maka bagi percobaannya dijatuhkan pidana penjara selamalamanya lima belas tahun. bersangkutan dikurangi sepertiga. 2. Hal pertama ialah karena undang-undang beranggapan bahwa perbuatan percobaan itu tidak begitu menimbulkan kerugian bila dibandingkan dengan kejahatan yang selesai (voltooid delict). Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan pidana tambahan bagi kejahatan yang telah selesai. atau pidana penjara seumur hidup. 4.3. pelanggaran tidak dipidana. karena percobaan untuk melakukan pelanggaran itu tidak begitu membahayakan kepentingan hukum.

Dalam praktek mungkin terjadi seorang pembantu dijatuhi pidana yang lebih berat daripada pidana bagi “dader” nya sendiri. yang diancan dengan pidana itu hanya perbuatan membantu kejahatan. Anak itu diserahkan kembali kepada orang tua dengan tidak Diserahkan pada pemerintah untuk dididik dengan tidak Memidana anak yang bersalahitu. Andaikata hakim menurut pertimbangannya memilih kemungkinan ketiga yaitu memidana anak yang bersalah itu. Kendati pun demikian pidana yang lebih berat itu tidak boleh melebihi 2/3 dari pidana pokoknya (R. Maka terhadap A diancam dengan pidana setinggi-tingginya selama 15 tahun. Jika kejahatan itu diancam dengan . Jika suatu kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup maka orang yang membantu kejahatan itu hanya dapat diancam dengan pidana paling berat 15 tahun. membantu melakukan pelanggaran tidak dapat dipidana (pasal 60 KUHP) Contoh: A telah membantu B melakukan kejahatan pembunuhan menurut pasal 338 ancaman pidana terhadap pembunuhan adalah sebesar 15 tahun. b.Pasal 47 KUHP tentang anak-anak Menurut pasal 47 KUHP jika seorang yang belum dewasa melakukan suatu peristiwa pidana pada waktu ia belum mencapai usia 16 tahun maka hakim dapat memutuskan salah satu dari tiga kemungkinan : a.bahwa : membantu melakukan kejahatan diancam dengan pidana sebesar pidana pokok bagi kejahatan tersebut dikurangi sepertiga. maka pidana yang diancam tidak boleh lebih dari pidana pokok terhadap peristiwa pidana tersebut dikurangi sepertiga (pasal 47 ayat (1). c. ad. dikenakan pidana.3. dikenakan pidana. Dengan demikian kepada hakim diberikan kebebasan untuk menilai kecakapan rohani dari anak yang masih muda itu. Soesilo : 1976).

Schuld-opheffingsgronden/Schulduitsluitingsgronden atau alasan pemaaf. 2. I. 2. 3. Rechtsvaardigingsgronden. strafuitsluitingsgronden ini diperinci : 1. KUHP tidak menggunakan perincian menurut doctrine tetapi MVT mengadakan perincian: 1. maka ancaman pidana paling lama lima belas tahun. Bentuk Alasan Peniadaan Pidana Alasan peniadaan pidana dalam KUHP terdiri dalam bentuk: 1. II. pribadi tanggung jawab). yaitu alasan yang menghilangkan kesalahan seorang yang seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa pidana sehingga ia tidak dipidanakan tetapi peristiwanya tetap wederrechtelijk. Ontoerekeningsvatbaarheid pasal 44 KUHP Overmacht pasal 48 KUHP Noodweer pasal 49 KUHP Wettelijk voorschrift pasal 50 KUHP . Inwendige gronden van ontoerekenbaarheid (karena keadaan yang Uitwending gronden vanbontoerkenbaarheid (karena keadaan diluar terdapat dalam pribadi penanggung jawab). Alasan Peniadaan Pidana/Strafuitsluitingsgronden Yang dimaksuddengan alasan peniadaan pidana ialah hal atau keadaan yang mengakibatkan seseorang yang memenuhi perumusan peristiwa pidana tidak dapat dipidana. 4. 2. atau alsan pembenaran yaitu alasanyang menghapuskan sifat “wederrechterijk” daripada peristiwa yang memenuhi ketentuan pidana sehingga tidak merupakan peristiwa pidana. Macam Alasan Peniadaan Pidana Menurut doctrine.pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. (47 ayat 2) D.

tiap paksaan yang tidak dapat dielakkan. orang yang menyebabkan peristiwa tidak dipidana karena: a. Ontoerekeningsvatbaarheid atau ketidakmampuan bertanggung jawab Diatur dalam pasal 44 KUHP ayat (1) yang terjemahannya berbunyi : Siapapun tidak dapat dipidana dipertanggung jawabkan kepadanya dengan alasan akalnya cacat pertumbuhannya atau terganggu suatu penyakit.2. . Jiwa/akal yang tumbuhnya tidak sempurna (gebrekkige out wikkeling). Artinya tiap kekuatan.5. Menurut pasal 44 ayat )1) tersebut. akan tetapi karena cacat yang dibawa sejak lahir. elke drang. b. Menurut MVT yang dimaksud Overmacht itu “elke kracht. akan harga dan nilai sikap tindaknya. 2. sebagainya. akan tetapi kemudian dihinggapi penyakit. Orang yang jiwanya tidak sempurna tumbuhnya itu sebenarnya tidak sakit. Jiwa yang diganggu oleh penyakit.1. Pada waktu lahirnya sehat. Ia tidak dapat menginsyafi bahwa sikap tindak itu terlarang. tiap dorongan. seperti penyakit gila dan ad. Keadaan jiwa orang itu sedemikian rupa sehingga ia tidak mengerti Ia tidak dapat menentukan kehendaknya terhadap sikap tindaknya. Apabila seseorang mempunyai penyakit seperti tersebut diatas maka perbuatannya tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya. Ambtelijke bevel pasal 51 KUHP ad. elke dwang waaraan men geen weerstand kan bieden”. Overmacht dalam arti luas ( pasal 48 KUHP) Overmacht atau keterpaksaan diatur dalam pasal 48 KUHP yang terjemahanya berbunyi siapapun tidak dapat dipidana karena menyebabkan peristiwa yang diakibatkan keterpaksaan. 3. Menurut MVT seseorang tidak mampu bertanggung jawab apabila: 1.

Contoh: Seorang kasir bank dengan ancaman senjata api menyerahkan uang kas yang berada dibawah pengawasannya. Keadaan darurat ada bila kepentingan hukum seseorang berada dalam keadaan bahaya. Untuk menyelamatkan dirinya salah seorang terpaksa mendorong yang lain sehingga mati . Disini orang terpaksa masih ada kesempatan memilih berbuat yang lain. terpaksa melanggar kepentingan hukum orang lain (Satochid Kartanegara) Dalam keputusan keadaan darurat itu karena: 1. 1. maka untuk mengelakkan bahaya itu. 3. Ia tidak mungkin memilih jalan lain. Dua orang penumpang terapung berpegangan pada sebilah papan. Overmacht dalam arti sempit yang bersifat nisbi (Vis Compulsiva) berat lawan. Beda antara Overmacht yang bersifat absolut orang yang memaksa itulah yang berbuat. Contoh: Si A dipegang tangannya oleh B yang lebih kuat dan dipaksa menulis tanda tangan palsu. akan tetapi menurut perhitungan yang layak tidak mungkin dapat dielakkan. Menurut Jonkers Overmacht itu berwajah tiga rupa (Tresna: 1959). yang kuat buat seorang saja. Kasir bank nasih dapat memilih menyerahkan uang bank atau melakukan perlawanan dengan kemudian dia akan ditembak karena itu “berat lawan”. Contoh: Kapal tenggelam di laut. 2. Overmacht dalam arti Noodtoestand atau keadaan darurat. sebaliknya pada relat orang yang dipaksa itu berbuat. Overmacht yang bersifat mutlak (Vis absoluta) Dalam hal ini orang yang terpaksa tidak mungkin dapat berbuat lain.Perkataan keterpaksaan bukan saja berarti fisik/jasmani tapi juga tekanan psikis/rohani. Terdapat pertentangan antara dua kepentingan hukum/hak (conflict van recht pichten).

kehormatan atau harta sendiri maupun orang lain dalam melawan ancaman serangan yang melawan hak yang seketika dan langsung. Ia hanya mungkin memenuhi salah satu panggilan Pengadilan Negeri Palembang atau Bengkulu. Pembelaan mendesak yang melampaui batas tidak dapat dipidana. Pada hari yang sama ia juga dipanggil sebagai saksi di Pengadilan Negeri Bengkulu. Siapapun tidak dapat dipidana karena menyebabkan peristiwa sebagai akibat kewajiban pembelaan mendesak terhadap badan. 3. ad. bila itu berupa akibat langsung suatu goncangan rasa yang disebabkan oleh serangan. Terdapat pertentangan antara kepentingan hukum dengan kepentingan hukum dengan kewajiban hukum (conflict van rechtsbelang en rechtsplicht).tenggelam. Terdapat pertentangan antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum (conflict van rechtsbelangen). “Noodweer/pasal 49 ayat (1) KUHP pidana” Noodweer diatur dalam pasal 49 KUHP yang terjemahannya berbunyi: 1. 2. Untuk menjaga kesehatan terpaksa ia melanggar kewajiban hukum. Contoh: Pada suatu hari A dipanggil sebagai saksi di Pengadilan Negeri Palembang.3. 2. Contoh ini dalam literatur hukum pidana dinamakan “papan dari Karenaedes”. Menurut pasal 49 KUHP untuk dapat disebut noodweer harus memenuhi beberapa syarat yaitu: . Contoh: A dipanggil sebagai saksi (kewajiban hukum) Pada hari yang sama mendadak kesehatannya (kepentingan hukum) terganggu sehingga ia tidak dapat hadir pada sidang di pengadilan.

berarti bahwa serangan itu harus sudah mulai dan belum berakhir. Hewan tidak dapat berbuat tidak sah karena hewan tidak mempunyai akal. tergantung pada keadaan yang meliputi serangan itu. badan. Keterangan: Serangan seketika. “Noodzakelijk” artinya harus benar-benar diperlukan dan harus merupakan perbuatan yang satu-satunya dan tidak ada cara lain yang lebih ringan. a.1. hukum yang dilanggar dan kepentingan hukum yang dibela (groboden). maka tidak dapat menyatakan ada noodweer karena anjing itu tidak dapat berlaku tidah sah. melarikan diri saja. Harus ada serangan: Yang seketika (ogenblikkeinjk) Mengancam serangan langsung (onmiddelijk dreigend) Melawan hak Ada pembelaaan: Sifat mendesak (noodzakelijk) Pembelaan itu menunjukkan keseimbangan antara kepentingan Kepentingan hukum yang dibela hanya. Jika ada orang diserang seekor anjing dan karena itu ia terpaksa membunuh anjing iti. maka itu bukan perbuatan yang “noodzakelijk”. Melawan hak artinya tidak sah. a. Bagaimana bila yang diserang. “Onmiddelijk dreigen” ialah serangan yang belum dimulai tapi sudang mengancam secara langsung. Bila disamping perbuatan yang dilakukan itu masih ada cara lain yang lebih ringan. c. Kapan serangan itu dapat dikatakan sudah mulai dan belum berakhir. itu tergantung pada keadaan dan serangan itu. kehormatan. b. Bila suatu serangan itu dapat dikatakan telah mengancam secara langsung walaupun belum dimulai. c. harta sendiri maupun orang lain. b. apakah melarikan diri saja. Ini membawa kesimpulan bahwa serangan itu harus dapat dari manusia. 2. apakah melarikan diri dapat dianggap sebagai cara yang .

prestise. Menurut Van Hamel cara membela diri dengan jalan lari. dalam noodweer terbatas pada badan. Kehormatan disini bukan kehormatan dalam pengertian umum. Disamping noodzakelijk harus pula “geboden” yang artinya harus ada keseimbangan antara kepentingan hukum yang dilanggar dengan kepentingan hukum yang dibela. Kepentingan hukum yang dibela itu terbatas dengan kepentingan hukum yang disebut dalam undang-undang yaitu badan. harta. seperti nama baik. Karena itulah noodweer diperkenenkan oleh undang-undang. Misal. meskipun untuk membela miliknya. Dasar hukum noodweer Bila dilihat pintas lalu orang yang melakukan noodweer adalah melakukan suatu perbuatan yang dikenal sebagai “eigen richting”/menjadi hakim sendiri. Pada noodweer tidak demikian. pangkat dan sebagainya tapi kehormatan yang berhubungan dengan masalah seks sebab kejahatan terhadap kehormatan dalam pengertian umum diatur dalam pasal 310 KUHP (Satochid Kartanegara). seorang pencuri ayam tidak boleh ditembak mati oleh yang punya ayam. Didalam noedtoestand terdapat konflik dua kepentingan hukum. jadi recht terhadap recht. yang terdapat ialah recht/hak contra on recht/gangguan hak. Sedang menjadi hakim sendiri adalah terlarang.lebih ringan. Mengapa noodweer itu diperkenankan oleh undang-undang. harta sendiri dan orang lain. Beda noodweer dengan noedtoestand 1. Dalam keadaan yang demikian alat perlengkapan negara tidak sempat memberi pertolongan untuk mencegah kejahatan itu sendiri. jika ini bertentangan dengan kehormatan dari orang yang diserang. Kepentingan hukum yang dibela. maka lari tidak dapat dikatakan sebagai jalan yang lebih ringan. . 2. kehormatan. dan barang terhadap serangan yang dilakukan oleh orang lain. kehormatan. tidak lain karena noodweer itu semata-mata dilakukan untuk membela diri. kehormatan.

Tidak boleh dipidana ia yang melakukan perbuatan untuk Perintah jabatan yang diberikan secara tidak sah tidak menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh kekuasaan yang berhak. 4. kecuali jika pegawai bawahannya dengan itikad . sedang pada noedtoestand tidak demikian.4. Apa yang diperintahkan oleh suatu undang-undang untuk melakukan suatu hal tidak dapat dianggap seperti suatu peristiwa pidana. ia yang melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan undang-undang. maka perbuatan tersebut dapat dimaafkan oleh undang-undang. “Wettelijk Voorschrift” pasal 50 KUHP “Wettelijk Voorschrift” diatur dalam pasal 50 KUHP yang terjemahannya berbunyi : tidak boleh dipidana. 2. akan tetapi karena perbuatan berupa akibat suatu goncangan rasa yang disebabkan oleh serangan. Perbuatan yang dilakukan tidak merupakan peristiwa pidana dan karena tidak ada dasar untuk mengenakan pidana terhadapnya.3. (Bambang Purnomo: 1978) “Noodweer exces / pasal 49 ayat (2) KUHP” Yang dimaksud dengan noodweer exces ialah pembelaan yang melampaui batas. misalnya. hukum bagi diri sendiri dan orang lain. Yang dimaksud dengan peraturan hukum disini ialah sebagai peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa yang berhak menetapkan peraturan di dalam batas wewenangnya. membebaskan pemidanaan. naik darah. Dalam noodweer dikenal dengan tegas noodweer exces sedang Kepentingan hukum yang dibela noodweer adalah kepentingan terhadap noedtoestand tidak ada. ad. (Tresna: 1959). ad.5. Sebenarnya pembelaan yang melampaui batas yang merupakan perbuatan yang terlarang. “Ambtelijke bevel” pasal 52 KUHP Ambtelijke bevel diatur dalam pasal 51 yang terjemahannya berbunyi: 1.

baik memandang perintah itu sebagai sah dan menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang dibawah perintah tadi. Apabila ontoerekeningsvatbaarrheid pasal 44 KUHP dihubungkan . Perintah yang diberikan untuk seorang majikan kepada bawahannya di dalam hubungan hukum perdata tidak termasuk di dalam pasal 51 ini. dengan: a. III. Prajurit itu sebenarnya melakukan perampasan kemerdekaan orang itu. MVT ternasuk inwendige van ontoerekenibaarheid. Hubungan Bentuk dan Macam Peniadaan Pidana 1. 2. b. Karena perbuatan yang dilakukan masih tetap wederrechtelijk tetapi orang itu tidak dipidana karena ia tidak dapat dipersalahkan/jiwanya tidak sempurna. Doktrin: termasuk schuld-opheffingsgrond atau schulduitsluitingsgrond yaitu alasan pemaaf . Jika ia dengan itikad baik mengira bahwa itu sah. tapi karena penangkapan itu berdasarkan atas perintah yang sah maka ia tidak dipidana. Contoh: Seorang prajurit diperintahkan oleh seorang kapten polisi untuk menangkap seorang yang disangka melakukan pencurian. orang yang melaksanakan perintah yang tidak sah itu tidak dapat dipidana bila memenuhi syarat-syarat: 1. Perlu diingat bahwa menjalankan perintah jabatan antara yang memerintah yang diperintah harus ada hubungan yang didasarkan pada hukum publik. Jika diperintahkan itu terletak dalam lingkungan kekuasaan orang yang diperintah (Satochid Kartanegara). Pasal 51 ayat (2) mengatur tentang melaksanakan perintah yang tidak sah.

karena di situ perbuatannya dibenarkan. hapus kesalahan itu atau dapat dimaafkan (Bambang Purnomo: 1978). 5.2. 6. Simons berpendapat bahwa overmacht termasuk schulduitsluitingsgrond yaitu alasan pemaaf. pasal 51 ayat (1) KUHP termasuk rechtsvaardigingsgrond. Akan tetapi mengingat kesalahannya adalah akibat goncangan rasa. Sedangkan pada melaksanakan perintah yang tidak wenag sebagaimana yang diatur dalam pasal 51 ayat (2) KUHP termasuk alasan pemaaf asal dipenuhi syarat subjektif adanya itikad baik dan syarat objektif masuk dalam lingkungan pekerjaan orang yang diperintah (Satochid Kartanegara). Terdapat Mengenai noodweer pasal 49 ayat (1) KUHP. sikap melampaui batas itu merupakan keadaan yang khusus sehuingga dari wujudnya pembelaan yang melampaui batas itu masih tetap sebagai perbuatan yang wederrechtelijk. sedang pada noodweer exces yan diatur dalam pasal 49 ayat (2) KUHP termasuk alasan pemaaf. . noodtoestand/ keadaan darurat temasuk alasan pembenar/rechtsvaardigingsgrond. Catatan: “Ontoerekenbaarheid” atau tidak dapat dipertanggung jawabkan berhubungan dngan sikap tindak itu tidak dapat dipertanggung jawabkan subjeknya. “Ontekeningsvatbaarheid” atau ketidak mampuan bertanggung jawab menyangkut subjek yang tidak mampu bertanggung jawab atas sikap tindaknya. sdang menurut Van Hamel sebagai alasan pembenar/rechtsvaardigingsgrond. termasuk alasan pembenar/rechtsvaardigingsgrond. 4. D. Karena pada noodweer exces. noodweer para sarjana berpendapat. Wettelijk voorschrift/ pasal 50 KUHP Melaksanakan perintah jabatan sebagaimana yang diatur dalam Para sarjana berpendapat termasuk alasan pembnaran/rechtsvaardigingsgrond. 3. Mengenai apakah noodtoestand/ keadaan darurat termasuk dalam alasan pemaaf atau pembenar terdapat kesepakatan. Mengenai overmacht/ berat lawan (pasal 48 KUHP) diantara para sarjana terdapat perbedaan paham.

Hakim yang mengadili. 3.V. 4. . Panitera. Subjek dalam Acara Perkara Pidana Tidak setiap orang yang dapat menjadi subjek dalam hukum secara pidana. ACARA PERKARA PIDANA A. 2. 5. tetapi hanya orang-orang yang mempunyai kualifikasi tertentu saja. Tersangka / terdakwa. Mereka itu ialah: 1. 6. Polisi yang melakukan penyelidikan. Penasihat hukum. Jaksa yang melakukan penuntutan.

penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum. 2. Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat . Pegawai lembaga kemasyarakatan. Soesilo: 1982). 1. Pelaksanaan Peranan Acara Perkara Pidana Menurut KUHP pelaksanaan peranan acara perkara pidana meliputi hal-hal seperti berikut : (R. Peranan pnyidik diatur dalam pasal 8 KUHAP yaitu : 1. 3. Penyidik itu menurut pasal 6 ayat (1) KUHAP adalah: 1. 2. Penyelidikan Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan mnurut cara yang diatur dalam undang-undang. Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan lain dalam undang-undang ini. 8. ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya (pasal 1 ayat (2) KUHAP). Saksi-saksi. (2) dilakukan : a. umum. Yang melakukan penyelidikan adalah penyidik. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. B. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. b. Dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai. perkara.7.

ad. dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (pasal 1 ayat (21) KUHAP). 2. Penangkapan Penangkapan menurut pasal 1 ayat (20) KUHAP ialah : suatu tindakan penyelidikan berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Dalam hal tertangkap tangan penangkpan dilakukan tanpa surat perintah dengan ketentuan bahwa penangkap harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu. Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian Negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang menentukan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa. Penangkapan dan Penahanan .1.2. Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan kecuali dalam hal ia telah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan itu tanpa alasan yang sah. Penangkapan harus ditujukan kepada orang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup (pasal 17 KUHAP). Penahanan Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau bahkan hakim dengan penetapannya. ad.Tindakan-tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 75 antara lain : 1. Tembusan surat perintah penangkapan harus diberikan kepada keluarganya segera setelah penangkapan dilakukan (pasal18 KUHAP).

8 Drt. 2. (41). b. pengadilan. 480. lebih. 454. penuntutan. a. 351 ayat (1). : Penahanan rumah. . 353 ayat (1). 378. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. 2. 3. (42). 453. Tahun 1955). dan pasal 506 KUHPidana. : Penahanan kota. pasal 25 dan 26 Rechtenordonantie. 3. 335 ayat (1). 4 Undang-undang Tindak Pidana Imigrasi (UU No. tersangka atau terdakwa akan melarikan diri. 372. 455. Diduga keras telah melakukan Adanya kekhawatiran bahwa tindalk pidana berdasarkan bukti yang cukup. (47). Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut : 282 ayat (3). pasal 1. Syarat-syarat penahanan diatur dalam pasal 21 KUHAP yaitu : 1.Menurut pasal 20 KUHAP petugas penegak hukum yang berwenang melakukan penahanan ialah : 1. 2. Menurut pasal 22 KUHAP penahanan itu dibedakan atas : Pertama Kedua Ketiga : Penahanan rumah tahanan Negara. pasal 36 ayat (7). dalam hal. dan (48) UU No. (43). Tindak pidana diancam dengan pidana penjara lima tahun atau Tersangka atau terdakwa melakukan tindak pidana dan atau pertcobaan maupun pemberian bantuan Hakim untuk kepentingan pemeriksaan Penyidik dan penyidik pembantu (atas Penuntut umum untuk kepentingan perintah penyidik) untuk kepentingan penyidikan. merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana. 379a.

26. penuntutan ialah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal ini dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim disidang pengadilan. 25. 27. dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan. sedang untuk penahanan kota seperlima dari jumlah lamanya penahanan dan untuk rumah sepertiga dari jumlah lamanya waktu penahanan. Dalam KUHAP masalah penuntutan diatur dalam bab XV dari pasal 137-144. 28 KUHAP lamanya masa penahanan sebagai berikut : Penyidik berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh penuntut umum paling lama Penuntut umum berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri paling lama Hakim Pengadilan Negeri yang mengadili berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri paling lama Hakim Pengadilan Tinggi yang mengadili berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Tinggi paling lama Hakim Mahkamah Agung yang mengadili berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Mahkamah Agung paling lama 2.Penahanan rumah dilaksanakan dirumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan. Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatukan. tehadap siapapun yang didakwa . Penuntutan 20 hari 40 hari 20 hari 30 hari 30 hari 60 hari 30 hari 60 hari 50 hari 60 hari Menurut pasal 1 ayat (7) KUHAP. penuntutan atau pemeriksaan disidang pengadilan. Menurut pasal 24. Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau terdakwa. Menurut pasal 137 KUHAP penuntut umum berwenang melakukan penuntutan.

penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara kepada penuntut umum (ayat (2)). mengenai pemberian kekuasaan mengadili (atributie van rechtsmacht) kepada Pengadilan Negeri. “Absolute Kompetentie”. Kewenangan/kompetensi mengadili ada dua macam yaitu : (Wirjono Prodjodikoro : 1962). Isi surat ketetapan tersebut diberikan kepada tersangka dan bila ia ditahan. ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan (140 ayat (1)). 2. segera mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu tujuh hari wajib memberitahukan kepada penyidik apakah hasil penyidikan itu sudah lengkap atau belum (ayat 1). ia segera menentukan apakah berkas perkara itu sudah memenuhi persyaratan untuk dapat atau tidak dilimpahkan ke pengadilan (pasal 139 KUHAP). pengadilan. setelah menerima hasil penyidikan dari penyidik. Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak terdapat cukup bukti atas peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum. “Relative Kompetentie”. mengenai pembagian kekuasaan mengadili (distributie van rechtsmacht) diantara berbagai Pengadilan Negeri. penuntut umum menerangkan hal tersebut dalam suatu ketetapan (140 ayat (2a)). Dalam hal hasil perkara kepada penyidik disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu empat belas hari sejak tanggal penerimaan berkas. Setelah penuntut umum menerima atau menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik. Pasal 138 KUHAP menentukan penuntut umum. wajib segera dibebaskan (140 ayat (2b)). 1.melakukan suatu tindak pidana dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan perkara ke pengadilan yang berwenang mengadili. Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan. Turunan surat ketetapan itu wajib disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum. pejabat rumah tahanan Negara. penyidik dan hakim ( 140 ayat (2c)).. tidak kepada lainmacam .

yang dalamhal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan. b. yang lain. penggabungannya. Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan yang lain akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya. c.Apabila kemudian ternyata ada alasan baru. Peradilan Perkara Pidana / Pemeriksaan di Sidang Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam KUHAP ada tiga macam acara pemeriksaan di sidang pengadilan yaitu : 1. . penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah. Beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan Beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap 3. Setelah semuanya selesai maka akhirnya penuntut umum melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan permintaan agar segera mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan (pasal 143 ayat (1) KUHAP). Acara pemeriksaan biasa. Menurut pasal 141 KUHAP maka penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuatnya dalam satu surat dakwaan. penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap tersangka (140 ayat (2d)). apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan ia menerima beberapa berkas perkara dalam hal ini : a. Pasal 142 KUHAP selanjutnya menentukan dalam hal penuntut umum menerima salah satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan pasal 141.

Apabila penuntut umum berkeberatan terhadap surat penetapan Pengadilan Negeri. Acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu-lintas jalan. penuntut umum dalam waktu tujuh hari mengajukan perlawanan ke Pengadilan Tinggi (Pedoman pelaksanaan KUHAP : 1982). 3. b. Acara pemeriksaan singkat. rumusnya singkat dan jelas. Menyerahkan kembali surat pelimpahan perkara tersebut kepada penuntut umum yang selanjutnya Kejaksaan Negeri yang bersangkutan menyampaikan kepada Kejaksaan Negeri di tempat Pengadilan Negeri yang tercantum dalam surat penetapan. Pada permulaan sidang yang terbuka untuk umum. Ketua Pengadilan Negeri berkewajiban mempelajari berkas perkara yang dilimpahkan oleh penuntut umum. Apabila Ketua Pengadilan Negeri berpandapat bahwa : perkara yang dilimpahkan penuntut umum tidak termasuk wewenang pengadilan yang dipimpinnya maka ia : 1. diperkirakan tidak mengerti isi surat dakwaan yang dibacakan penuntut umum. Acara pemeriksaan cepat yang membedakan antara : Acara pemeriksaan tindak pidana ringan.2. Acara pemeriksaan biasa Acara pemeriksaan biasa diatur dalam Bab XVI pasal 152-202 KUHAP. 2. Menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada Pengadilan Negeri lain yang dianggap berwenang mengadilinya dengan surat penetapan dan memuat alasannya. Disidang pengadilan yang terbuka itulah pemeriksaan dijalankan seobjektif-objektifnya yang dihadiri oleh khalayak ramai agar dapat mengikuti atau mengawasi jalannya pemeriksaan. a. Surat dakwaan yang tidak dimengerti tertuduh harus dijelaskan oleh penuntut umum. Surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum. hakim ketua sidang menanyakan identitas terdakwa yang tidak memahami seluk-beluk hukum. harus mudah dimengerti terdakwa. Tertuduh atau penasihat hukumnya mempunyai hak .

Ada kalanya pada saat pemeriksaan tambahan dinyatakan dalam pasal 203 ayat (3) sub b sebagai berikut : “dalam hal hakim memandang perlu pemeriksaan tambahan. tetapi juga secara langsung menerima dari penyidik pembantu.untuk mengajukan keberatan atas putusan pengadilan untuk mengadili atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan (pasal 156 ayat (1)). tetapi dicatat dalam berita acara sidang. Acara pemeriksaan singkat Yang dimaksud dengan Acara pemeriksaan singkat ialah : Acara pemeriksaan yang menurut penuntut umum pembuktiannya mudah dan sederhana (pasal 203 KUHAP). Dalam acara pemeriksaan singkat ini penuntut umum tidak hanya menerima berkas perkara dari penyidik. amar putusan tidak dibuat secara khusus.Acara pemeriksaan tindak pidana ringan. Apabila hakim berpendapat bahwa keberatan terdakwa atau penasihat hukumnya tidak dapat diterima atau baru dapat diputus setelah pemeriksaan selesai maka sidang dilanjutkan. Pemberitahuan yang dicatat dalam berita acara sidang merupakan pengganti surat dakwaan. . Dalam acara pemeriksaan singkat ini. Atas keberatan terdakwa atau penasihat hukumnya penuntut umum diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dan apabila penuntut umum berkeberatan terhadap keputusan pengadilan yang menerima keberatan terdakwa. Penuntut umum menghadapkan terdakwa dengan memberitahukan dari catatan kepada terdakwa tentang tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Acara Pemeriksaan Cepat 1. sedangkan isi surat putusan tersebut adalah sama dengan putusan pengadilan acara biasa atau mempunyai kekuatan hukum yang sama (Pedoman Pelaksanaan KUHAP : 1982). maka hakim memerintahkan sidang diajukan ke sidang pengadilan dengan acara biasa”. penuntut umum dapat mengajukan perlawanan kepada pengadilan tinggi. supaya diadakan pemeriksaan tambahan dalam waktu paling lama empat belas hari dan bilamana dalam waktu tersebut penuntut umum belum juga dapat menyelesaikan pemeriksaan tambahan.

tanggal. ditandatangani oleh hakim yang bersangkutan dan panitera pasal 209 ayat (1). selanjutnya catatan bersama berkas dikirim ke pengadilan yang harus menyidangkan perkara tersebut pada hari itu juga.Yang dimaksud dengan acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah acara pemeriksaan perkara pidana yang diancam denga pidana penjara atau kurugan paling lama tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 7. . tidak dibuat kecuali jika dalam pemeriksaan ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh penyidik (pasal 209 ayat (2)). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah (J. Z. tanpa kewajiban membuat berita acara. Putusan dicatat oleh hakim dalam daftar catatan perkara dan selanjutnya oleh panitera dicatat dalam buku register surat.500. kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan terdakwa dapat minta banding (pasal 205 ayat (3)). berdasarkan buku register. Dalam pemeriksaan tindak pidana ringan antara lain ditentukan bahwa pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir. Pertama Kedua Ketiga : Sidang tanpa hadirnya penuntut umum. Acara pemeriksaan tindak pidana ringan diawali dengan pemberian secara tertulis kepada terdakwa tentang hari. Dasar dari pemeriksaan dalam sidang ialah buku register yang disediakan khusus untuk itu.00 dan penghinaan ringan (pasal 205 ayat (1)). Untuk mengadili perkara dengan acara pemeriksaan tindak pidana ringan ini pengadilan menetapkan hari tertentu (pasal 206). Saksi dalam acara tidak mengucap sumpah atau janji kecuali hakim menganggap perlu (pasal 208). Berita acara pemeriksaan sidang. dan tempat ia harus menghadap pengadilan. jam. Loudoe: 1982). : Putusan dicatat dalam buku register berdasarkan daftar catatan perkara yang dibuat oleh hakim. : Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal.

maka terhadap putusan tersebut terdakwa dapat mengajukan banding. Sidang cukup dipimpin oleh hakim tunggal dibantu oleh seorang panitera.Keempat Kelima : Pengadilan mengadili dalam tingkat pertama dan terakhir dengan pengecualian pidana perampasan kemerdekaan. Dalam acara pemeriksaan perkara ini tidak memerlukan berita acara pemeriksaan. Perkara mengenai ganti kerugian atau rehabilitasi bagi sseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau tingkat penuntutan (pasal 77b). 2. (pasal 77a). 2. Pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan atau tentang ganti rugi dan atau Perkara mengenai sengketa tentang sah atau tidaknya penangkapan. Dalam perkara ini terdakwa dapat mengajukan perlawanan dalam waktu tujuh hari setelah putusan diucapkan.Acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu-lintas jalan Yang dimaksud dengan acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu-lintas jalan ialah perkara pelanggaran tertentu terhadap peraturan perundang-undangan lalu-lintas jalan. penahanan. Penuntut umum tidak perlu membuat kontra memori banding (Pedoman pelaksanaan KUHAP 1982). Pra peradilan merupakan wewenang lain dari pengadilan negeri untuk memeriksa : 1. : Acara pemeriksaan tidak mengenal putusan diluar hadirnya terdakwa. penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan . Komposisi sidang pra peradilan berbeda dengan pengadilan negeri. melainkan penyidik hanya mengirimkan catatan dengan segera ke pengadilan selambat-lambatya pada kesempatan hari sidang pertama berikutnya setelah catatan tersebut diserahkan ke pengadilan. Disamping ketiga acara pemeriksaan yang sudah diuraikan diatas dalam KUHAP dikenal “pra peradilan” (yang tidak dikenal dalam HIR). Jika putusan setelah mengajukan perlawanan tetap berupa pidana dimana sebelumnya terdakwa tidak hadir telah dijatuhi putusan pidana perampasan kemerdekaan.

Dalam KUHAP pelaksanaan putusan pengadilan diatur dalam bab XIX pasal 270276. kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus segera dilunasi (273 ayat (1) KUHAP).rehabilitasi. Dalam hal pengadilan menjatuhkan juga putusan ganti kerugian pelaksanaannya dilakukan menurut tata cara putusan . akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan diawali dengan suatu permintaan (request) oleh tersangka. Jika putusan pengadilan menjatuhkan pidana denda tersebut. Yang dimaksud dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap ialah terhadap putusan tersebut tidak dapat lagi dilawan dengan upaya hukum (rechtsmiddelen) yang ada seperti banding dan kasasi. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Yang dimaksud dengan putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka. yang dapat berupa pemindahan atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam KUHAP (pasal 1 ayat (111) KUHAP). keluarga atau kuasanya kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan akhirnya. Dalam hal pidana mati pelaksanaannya dilakukan tidak dimuka umum dan menurut ketentuan undang-undang (271 KUHAP). 4. hakim yang bersangkutan sudah harus menjatuhkan putusannya (J. Bila diperinci lebih lanjut pengertian tersebut diatas. yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya. Loudoe: 1982). Acara pemeriksaan pra peradilan harus cepat dan singkat oleh karena dalam jangka waktu sepuluh hari setelah diterimanya penuntutan. Menurut pasal 270 KUHAP pelaksanaan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa. putusan pengadilan dapat berupa : Pertama Kedua Ketiga : Bebas dari segala tuduhan / vrijspraak : Lepas dari segala tuntutan hukum / ontslag van rechtsvervolging. : Pemindahan / veroordelend vonnis. Z.

.perdata (274 KUHP). maka biaya perkara dan atauganti kerugian dibebankan kepada mereka bersama-sama secara berimbang. Apabila lebih dari satu orang dipidana dalam satu perkara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful