Anda di halaman 1dari 13

Tugas Makalah Praktik Peradilan Pidana

PROSES PENYELESAIAN PERKARA PIDANA MULAI DARI TINGKAT


PENYELIDIKAN HINGGA PUTUSAN PENGADILAN

Oleh :
FAUDZAN FARHANA
B 111 07 118

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS HASANUDDIN


2010
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Maha Pencipta yang memberikan kepada masing-
masing kita waktu yang sama tiap harinya, 24 jam per hari, 7 hari seminggu, dan seterusnya. Ia
memberikan kepada kita masing-masing waktu yang sama untuk saling berlomba-lomba dalam
beribadah dan memuji-Nya. Dan sebaik-baiknya ibadah adalah ibadah yang disertai dengan ilmu.

Makalah yang penulis beri judul “Proses Penyelesaian Perkara Pidana Mulai dari
Tingkat Penyelidikan Hingga Putusan Pengadilan” ini penulis susun sebagai salah satu
bentuk upaya mendalami mata kuliah Praktik Peradilan Pidana. Namun, penulis menyadari,
bahwa sebagaimana manusia yang telah dikodratkan tidak sempurna, maka makalah ini tentulah
banyak juga mengandung kekurangan-kekurangan yang tidak lain berasal dari keterbatasan
penyusun sendiri. Oleh karena itu penulis harap kekurangan-kekurangan tersebut dapat dianggap
sebagai suatu bentuk kealpaan penyusun sebagai manusia biasa dan penulis sangat terbuka
terhadap setiap masukan dan saran yang kiranya dapat membantu dalam perbaikan tulisan –
tulisan penulis selanjutnya.

Akhir kata, semoga setiap usaha yang kita lakukan dalam menuntut ilmu dapat bernilai
ibadah di sisi-Nya. Amien!

Makassar, 4 Oktober 2010

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi ii

Pendahuluan

A. Latar
Belakang 1

B. Permasala
han 1

C. Tujuan
dan Manfaat Penulisan 1

Pembahasan

Proses Penyelesaian Perkara Pidana Mulai dari Tingkat Penyelidikan Hingga


Putusan Pengadilan

1. Penyelidi
kan 2

2. Penyidika
n 3

3. Praperadil
an 4

4. Penuntuta
n 4
5. Putusan
Pengadilan 6

Penutup

A. Simpulan
7

B. Saran
7

Sumber 8

ii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi siapa saja yang ingin mendalami mata kuliah hukum
pidana untuk mengetahui dan memahami jalannya proses penyelesaian perkara pidana. Oleh
karena itu, dalam makalah yang penulis sajikan kali ini, akan dibahas dengan rinci mengenai
proses penyelesaian perkara pidana mulai dari tingkat penyelidikan hingga jatuhnya putusan
pengadilan.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah proses penyelesaian perkara pidana mulai dari tingkat
penyelidikan hingga putusan pengadilan.

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami seperti apa proses penyelesaian
perkara pidana mulai dari tingkat penyeledikian hingga putusan pengadilan.
Adapun manfaat penulisan diantaranya :
a. Diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dalam melengkapi pemahamannya
tentang proses penyelesaian perkara pidana mulai dari tingkat penyelidikan hingga
putusan pengadilan.
b. Diharapkan dapat bermanfaat bagi mahasiswa sebagai salah satu sumber informasi dan
bahan bacaan yang menambah wawasan.
c. Diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis – penulis selanjutnya sebagai sumber rujukan
dan bahan pemikiran.
1

2
BAB II
PEMBAHASAN

Proses Penyelesaian Perkara Pidana Mulai dari Tingkat Penyelidikan


Hingga Putusan Pengadilan

1. Penyelidikan
Pengertian
Pasal 1 ayat 5 Undang – Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(selanjutnya disebut KUHAP) menyebutkan bahwa :
“Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu
peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan
penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang – undang ini.”

Pihak yang berwenang


Pasal 1 ayat 4 dan Pasal 4 KUHAP menentukan bahwa :
“Penyelidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh
undang – undang ini untuk melakukan penyelidikan.”

Wewenang :
Pasal 5 ayat 1 butir a, menyebutkan bahwa wewenang penyelidik karena kewajibannya,
antara lain :
a. Menerima laporan atau pegaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana.
b. Mencari keterangan dan barang bukti.
c. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda
pengenal diri.
d. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggungjawab.
Selain itu, Pasal 5 ayat 1 butir b menyebutkan bahwa atas perintah penyidik, penyelidik dapat
melakukan tindakan berupa :
a. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan.
b. Pemeriksaan dan penyitaan surat.
2
c. Mengambil sidik jari dan mmotret seseorang.
d. Membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik.

2. Penyidikan
Pengertian
Pasal 1 ayat 2 dan Pasal 6 KUHAP menerangkan bahwa :
“Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur
dalam undang – undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang terjadi dan guna
menemukan tersangkanya.”

Pihak yang berwenang


Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 dikatakan bahwa :
“Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat negeri sipil tertentu
yang diberi wewenang khusus oleh undang – undang untuk melakukan penyidikan.”

Wewenang :
Pasal ayat 1 menjelaskan bahwa wewenang penyidik antara lain :
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana.
b. Melakukan tindakan pertama pada saat berada di tempat kejadian.
c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka.
d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan.
e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat.
f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang.
g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai seorang tersangka atau saksi
h. Mendatangkan seorang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan.
i. Mengadakan penghentian penyidikan.
j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanmggungjawab.

3
3. Praperadilan atau Prapenuntutan
Pengertian
Berdasarkan Pasal 1 ayat 10 KUHAP, yang dimaksud dengan praperadilan adalah wewenang
pengadilan negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam undang –
undang ini, tentang :
a. Sah atau tidaknya suatu penangkapan, dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau
keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangka.
b. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan
demi tegaknya hukum dan keadilan.
c. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi atas permintaan tersangka atau keluarganya
atau pihak lain atas kuasanya yang perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.

Pihak yang berwenang :


Pasal 77 dan 78 KUHAP mengatakan bahwa pihak yang berwenang dalam mememeriksa dan
memutus praperadilan adalah pengadilan negeri. Dalam pelaksanaannya praperadilan
dipimpin oleh hakim tunggal yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan Negeri dan dibantu oleh
seorang panitera.

Wewenang :
Pasal 77 KUHAP menunjuk bahwa wewenang pengadilan negeri dalam praperadilan
meliputi memeriksa dan memutus perkara tentang :
a. Sah atau tidaknya suatu penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan.
b. Ganti kerugian atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada
tingkat penyidikan atau penuntutan.

4. Penuntutan
Pengertian :
Pasal 1 Ayat 7 KUHAP mengatakan bahwa penuntut adalah tindakan penuntut umum untuk
melimpahkan perkara pidana ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut

4
cara yang diatur dalam undang – undang dengan pemeriksa supaya diperiksa dan diputus
oleh hakim di sidang pengadilan.

Pihak yang berwenang :


Menurut Pasal 1 ayat 6 KUHAP dan Pasal 13 KUHAP:
a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang – undang ini untuk bertindak
sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memiliki
kekuatan hukum tetap.
b. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang – undang ini untuk
melakukan penuuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Wewenang :
Pasal 14 KUHAP menjelaskan bahwa wewenang penuntut umum antara lain :
a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik
pembantu.
b. Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidik dengan
memperhatikan ketentuan Pasal 10 ayat 3 dan ayat 4, dengan memberikan petunjuk
dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik.
c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan
dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik.
d. Membuat surat dakwaan.
e. Melimpahkan perkara ke pengadilan.
f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan waktu
perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada
saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan.
g. Melakukan penuntutan.
h. Menutup perkara demi kepentingan hukum.
i. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugasdan tanggung jwab sebagai penuntut
umum menurut ketentuan undang – undang ini.
j. Melaksanakan penetapan hakim.

5
5. Putusan Pengadilan
Pengertian :
Pasal 1 ayat 11 KUHAP mengatakan bahwa putusan pengadilan adalah pernyataan hakim
yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka yang dapat berupa pemidanaan, atau bebas
atau lepas dalam segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam
undang – undang ini.

Pihak yang berwenang :


Pasal 84, 87, dan 88 KUHAP menyatakan bahwa pihak yang berwenang untuk mengeluarkan
putusan pengadilan adalah pengadilan negeri untuk tingkat pertama, pengadilan tinggi untuk
tingkatan banding, dan Mahkamah Agung untuk tingkat kasasi.

Wewenang :
Bab X KUHAP memaparkan dengan jelas wewenang pengadilan untuk mengadili suatu
perkara pidana dimana menjadi wewenang pengadilan negeri untuk tingkat pertama,
pengadilan tinggi untuk tingkatan banding, dan Mahkamah Agung untuk tingkat kasasi.

Putusan dapat berupa :


a. Putusan bebas, yakni apabila salah satu unsur tidak terbukti dalam persidangan.
b. Putusan lepas, yakni apabila seluruh unsurnya terbukti namun ada alasan pembenar atau
pemaaf.
c. Pemidanaan, yakni apabil terbukti seluruh unsur tindak pidana yang didakwakan dan
tidak ada alasan pembenar atau pemaaf.

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab pembahasan dapat disimpulkan bahwa proses penyelesaian
perkara pidana terdiri dari penyelidikan, penyidikan, praperadilan atau prapenuntutan (kalau
diperlukan), penuntutan, dan putusan pengadilan.

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini, penulis kesulitan menemukan cukup bahan yang bias
dipergunakan untuk menunjang makalah ini.Akan tetapi, penulis yakin bahwa penulis – penulis
lainnya juga mempunyai bahan dan sumber referensi yang lebih bervariasi. Oleh karena itu, ada
baiknya bila materi proses penyelesaian perkara pidana ini juga disajikan dalam bentuk diskusi
agar dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh dan lebih komprehensif bagi tiap – tiap
mahasiswa akan aturan – aturan nasional yang melandasinya.

7
SUMBER

Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang – Undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) Edisi terlengkap. 2008. Citra Media Wacana