Anda di halaman 1dari 121

PERBANDINGAN HUKUM PERDATA

Oleh : Rachmat Gustiana, S.E.,S.H., MKn.

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS ISLAM SYEKH YUSUF (U N I S) - TANGERANG FEBRUARI, 2008


1

BUKU REFERENSI
1. 2. 3. 4. 5. 6. Bunga Rampai Perbandingan Hukum Perdata; (Prof.H.R. Sardjono, S.H. & Hj.Frieda Husni Hasbullah, S.H.) Perbandingan Hukum Perdata; (Prof. Wahyono Darmabrata,S.H.,MH.) Perbandingan Hukum Perdata; (Prof.R. Subekti,S) Perbandingan Hukum Perdata; (R. Soeroso, S.H.) Perbandingan Hukum; (Prof.Dr. Soerjono Soekamto, S.H.,MA.) Capita Selekta Perbandingan Hukum; (Prof.Dr.Sunaryati Hartono,S.H.) Perundang-undangan / Peraturan (KUHPerdata, UU No. 1/1974, dll)

POKOK BAHASAN
1. Makna & Hakekat Perbandingan Hukum - Pengertian Perbandingan Hukum - Objek - Sejarah Singkat Proses Memperbandingkan Hukum - Pengertian - Metode - Unsur Manfaat Perbandingan Hukum (Fungsi & Kegunaan) - Ilmiah - Praktis

2.

3.

POKOK BAHASAN
4. 5. 6. 7. Perbandingan Sistematika Hukum Keluarga Hukum - Pengertian - Kelompok keluarga Hukum Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman Keluarga Hukum Common Law - Struktur - Konsepsi - Sumber Hukum

POKOK BAHASAN
8. 9. 10. 11. Orang & Badan Hukum Sebagai Subjek Hukum Domisili Adopsi Hukum Perjanjian / Perikatan

MAKNA & HAKEKAT PERBANDINGAN HUKUM


Istilah
Comparative Law Apakah Hukum Perbandingan atau Perbandingan Benar,sesuai hukum?
- Hukum Perbandingan
tata bahasa

(Salah satu ilmu hukum tertentu / normatif) - Perbandingan Hukum (Suatu kegiatan perbandingan)
6

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

PENGERTIAN
Prof.Dr.Sunaryati Hartono,S.H.,MA. : --Suatu metode penyelidikan, bukan suatu cabang ilmu hukum, yang membandingkan salah satu lembaga hukum (Legal Institutions) dari sistem hukum yang satu dengan yang lain. Prof. Ruslan, S.H. : --merupakan usaha untuk mempelajari beberapa stelsel hukum secara berdampingan untuk mengetahui persamaan & perbedaannya.
7

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

PENGERTIAN

Prof.Dr.Soejono Soekamto, S.H., MA. : -diuraikan bahwa belum adanya kejelasan antara perbandingan hukum sebagai metode dan sebagai ilmu; -tidak secara tegas memberikan definisi apa itu perbandingan hukum. Prof. Sarjono, S.H. : --merupakan suatu metode penelitian, untuk membandingkan sistem hukum yang satu dengan yang lainnya.
8

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

Definisi Perbandingan Hukum adalah :


--Suatu metode penelitian, suatu ilmu pengetahuan, yang bermaksud untuk memperbandingkan, yaitu mengungkapkan unsur persamaan dan unsur perbedaan dari objek yang diperbandingkan, yang dapat berupa sistem hukum atau lembaga hukum tertentu yang diperbandingkan dengan sistem hukum/lembaga hukum tertentu yang lain pada saat yang bersamaan

SISTEMATIKA DISIPLIN HUKUM

ILMU HUKUM

POLITIK HUKUM

FILSAFAT HUKUM

10

ILMU HUKUM

KAEDAH

PENGERTIAN / PENGETAHUAN

KENYATAAN

11

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

Ilmu Hukum tentang Kenyataan:


1. 2. 3. 4. Sosiologi Hukum; Anthropologi Hukum; Psikologi Hukum; Sejarah Hukum.

Ilmu Hukum tentang Pengertian / Pengetahuan:


1. 2. 3. 4. 5. Subjek Hukum; Objek Hukum; Hak & Kewajiban; Peristiwa Hukum; Hubungan Hukum.

12

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

OBJEK

1. Lembaga Hukum 2. Sistem Hukum -- yang berlaku pada beberapa negara, daerah, dan golongan penduduk tertentu. -- untuk mengungkapkan unsur persamaan dan unsur perbedaan.

Pengelompokan Perbandingan Hukum berdasarkan luas objek yang diperbandingkan: 1. Perbandingan Hukum Umum --diperbandingkan secara keseluruhan, pada saat bersamaan; --secara internasional.

13

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

2. Perbandingan Hukum Khusus --diperbandingkan sebagian, yaitu lembaga hukum tertentu yang berlaku pada suatu negara/daerah/golongan penduduk tertentu. --Contoh: - HM dalam Hk.Adat dgn Eigendom sistem Hk.Barat; - Lembaga Hukum yg berdasarkan Hk.Barat, Hk.Adat, Hk.Islam; - Juga Kodifikasi negara2 lain, Code Civil Philipina, Jepang, Thailand, tentang status anak, harta kekayaan, perkawinan, domisili, dll.

14

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

Macam-macam Hukum Perbandingan: 1. Perbandingan Huk. Perdata; 2. Perbandingan Huk. Pidana; 3. Perbandingan Huk. Tata Negara; 4. Perbandingan Huk. Tata Usaha Negara, dll. Ruang Lingkup Perbandingan Huk. Perdata: 1. Pengertian dasar dari Perbandingan Huk. Perdata; 2. Membandingkan sistem2 hukum berbagai negara; 3. Perbandingan Huk. Perdata negara yang satu dengan yang lain.

15

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

SEJARAH SINGKAT P.H.PERDATA


A. Periode Sebelum Perang Dunia I --PH Perdata baru muncul pada akhir abad 19 dan di awal abad 20; --Sifatnya insidentil. --Tokohnya: 1. Van Savigney , ciptakan Huk.Perdata Int. yang bersifat umum & universal; 2. Van Vollenhoven, mengungkapkan betapa pentingnya perbandingan hukum; --Metode Perbandingan Hukum sudah lama digunakan di bidang Hukum Antar Golongan.

16

Makna & Hakekat Perbandingan Hukum

B.

Periode Sesudah Perang Dunia I --Gagasan Universalism merebak; --Negara yang menang perang perlu menyatukan hukum; --Tahun 1929, pertama kali perjanjian perdata yang bersifat internasional, terbentuknya Volkenbond (Semacam PBB), di Paris, untuk unifikasi hukum. Periode Sesudah Perang Dunia II --Hubungan antar negara di dunia semakin erat; --Saling membutuhkan & ketergantungan dalam kehidupan ekonomi, budaya dan warganya; --Karena sifat ketergantungan, mendorong negara2 di dunia untuk mempelajari tata kehidupan negara lain (Termasuk sistem hukumnya) melalui perbandingan hukum.

C.

17

PROSES MEMPERBANDINGKAN HUKUM


PENGERTIAN
Adalah suatu proses mencari unsur-unsur persamaan dan unsur-unsur perbedaan pada sistem-sistem hukum beserta lembaga-lembaga hukumnya yang diperbandingkan. - Genus : menggolongkan unsur2 yang sama dalam pengertian yang umum. - Species : menelusuri unsur2 yang beda dalam pengertian yang khusus. Proses mencari golongan genus dan species disebut Klasifikasi.

18

PROSES MEMPERBANDINGKAN HUKUM

Sistem Hukum -menurut RENE DAVID, Major Legal Systems in the World Today, dibagi menjadi beberapa golongan yang disebut Family of Law atau Law Family (Keluarga Hukum). Dibagi 4: 1. Keluarga Huk. ROMANO GERMANIE (Romawi Jerman); 2. Keluarga Huk. COMMON LAW; 3. Keluarga Huk. SOCIALIST; 4. Keluarga Huk. RELIGIOUS & TRADITIONAL. Bahan Hukum 1. PerUUan; 2. Hukum Kebiasaan; 3. Yurisprudensi; 4. Pendapat para Sarjana Hukum.
19

PROSES MEMPERBANDINGKAN HUKUM

METODE
1. Prof.Tahir Tungadi,S.H.: a. Kritis; b. Realistis; c. Tidak Dogmatis. 2. Zweigert & Heinz Kotz: -- konsepsi pemecahan masalah, yaitu merumuskan hakikat masalah dan berusaha memecahkan masalah secara tepat. 3. Prof. Ruslan Saleh,S.H.: a. Dogmatis; b. Fungsional. 4. Constantinesco: a. Tahap Pengenalan; b. Tahap Pemahamam; c. Tahap Memperbandingkan.

20

PROSES MEMPERBANDINGKAN HUKUM

UNSUR --Yang perlu diperhatikan, adalah: 1. Apakah perbandingan hukum akan memberikan manfaat? 2. Sifat khusus obyek yang diperbandingkan; 3. Sumber hukum yang diperbandingkan; 4. Nilai bahan yang diperbandingkan; 5. Bahan hukum yang diperbandingkan merupakan bahan hukum yang berlaku;

21

MANFAAT PERBANDINGAN HUKUM


KEGUNAAN PERBANDINGAN HUKUM
Dari berbagi pandangan telah menunjukkan bahwa perbandingan hukum sudah layak dianggap sebagai ilmu hukum, antara lain mengatakan bahwa perbandingan hukum tidak lain merupakan suatu nama ilmu hukum. Tetapi tidak tepat apabila perbandingan hukum hanya dipelajari untuk kepentingan ilmu (for the sake of science) saja. Bahwa perbandingan hukum disamping mempunyai kegunaan untuk tujuan teoritis (Ilmiah), juga mempunyai kegunaan yang bersifat praktis.

22

MANFAAT PERBANDINGAN HUKUM

MANFAAT ILMIAH

Perbandingan hukum merupakan salah satu unsur yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu hukum. Pendidikan hukum lazimnya terbatas untuk wilayah negara dimana pendidikan hukum itu diselenggarakan. Contoh: - Indonesia menekankan pada pendidikan sistem hukum yang berlaku di Indonesia. - Juga negara lain sama dalam menerapkan pendidikan hukumnya.

23

Manfaat Perbandingan Hukum

Perbandingan hukum menjembatani kelemahan yang ada pada sifat pendidikan hukum tersebut, sehingga upaya melakukan perbandingan hukum memberikan manfaat ilmiah dari upaya tersebut.
Manfaat ilmiah perbandingan hukum, antara lain: 1. Mengungkapkan unsur persamaan dan perbedaan objek yang diperbandingkan; 2. Memperoleh gambaran mengenai latar belakang persamaan dan perbedaan objek yang diperbandingkan; 3. Memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai objek yang diperbandingkan; 4. Memberikan pemahaman mengenai bagaimana bangsa lain mengatasi masalah yang mereka hadapi, untuk dipergunakan bagi penyelesaian masalah yang kita hadapi.
24

Manfaat Perbandingan Hukum

MANFAAT PRAKTIS

Perbandingan hukum dapat memberikan sumbangan dalam upaya pemecahan yang bersifat praktis yang bermanfaat bagi pengembangan hukum intern, maupun kaitannya dengan hukum asing, serta membina saling pengertian antar bangsa. Manfaat bersifat praktis antara lain: 1. Perbandingan hukum bermanfaat untuk membantu upaya pembaharuan hukum; 2. Perbandingan hukum penting bagi upaya unifikasi hukum; 3. Perbandingan hukum penting bagi usaha untuk menumbuhkan saling pengertian antar bangsa;
25

Manfaat Perbandingan Hukum

4. Perbandingan hukum penting bagi usaha harmonisasi di bidang hukum; 5. Perbandingan hukum dapat memberikan gambaran mengenai hukum kita pada suatu nanti; 6. Perbandingan hukum juga penting bagi pelaksanaan Hukum Perdata Internasional; 7. Perbandingan hukum bermanfaat bagi penyusunan undang-undang.

26

Manfaat Perbandingan Hukum

FUNGSI PERBANDINGAN HUKUM


1.

Bagi pengembangan ilmu hukum di Indonesia; menurut Prof.Dr. SUNARYATI HARTONO, SH., dibagi 2, yaitu: - Bahwa perbandingan hukum memberikan manfaat bagi dunia pengembangan ilmu hukum; - Memberikan pendalaman dan perluasan di bidang filsafat hukum, sosiologi hukum dan sejarah hukum. 2. Bagi praktisi dan pembinaan hukum; 3. Sebagai perencanaan hukum (Legal Planning); 4. Bagi pendidikan di fakultas hukum.

27

PERBANDINGAN SISTEMATIKA HUKUM


SISTEMATIKA HUKUM BERBAGAI NEGARA
1. Sistematika Hukum Perdata Barat Pengertian Hukum Perdata Barat: --Hukum yang memuat semua peraturan2 yang mengatur hubungan hukum dan kepentingan2 antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lain, kadang antara anggota masyarakat dengan pemerintah dengan menitikberatkan kepada kepentingan masyarakat. --atau perkataan lain, Hukum Perdata adalah hukum yang memuat semua peraturan2 yang mengatur hubungan hukum dan kepentingan2 antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lain. Hukum Romawi-lah yang melahirkan hukum perdata pada abad ke-6, yaitu ULPANUS mencetuskan CORPUS JURIS CIVILIS (Hk Perdata Romawi).

28

Perbandingan Sistematika Hukum

Corpus Juris Civilis, terbagi dalam:


I.

dalam hk Romawi dan dianggap sebagai himpunan segala macam undang-undang bagi praktisi dan pembinaan hukum; II. Pandecta, pendapat para ahli hukum bangsa Romawi yang termasyur; III. Codex, himpunan undang2 yang telah dibukukan oleh para ahli atas perintah Kaisar Romawi; IV. Novelles, tambahan2 pada codex dengan pemberian penjelasan atau komentar. Pada masa jayanya Romawi, mereka menguasai Eropa Barat & Tenggara. Dan dianggap sebagai sumber hukum yang sempurna. Diresapi kemudian tak dipergunakan lagi.
29

Institutions, memuat tentang pengertian lembaga

Perbandingan Sistematika Hukum

Penjajahan juga membawa akibat perbedaan2 hukum. Contoh: - Negara2 Asean, Singapore, Malaysia memilih sistem hukum yang berlaku di Inggris; - Filipina dipengaruhi oleh Spanyol, dan sejak tahun 1900 oleh Amerika; - Thailand memilih modern hukum dan hukum Jerman; - Indonesia mengikuti sistem hukum yang berlaku di Belanda.
Menurut Sistem Hukum Eropa, Hukum Perdata dibagi dalam 4 buku: 1. Buku I : Subjek (van personen); 2. Buku II : Benda (van zaken); 3. Buku III : Perikatan (van verbintenissen); 4. Buku IV : Pembuktian & Lewat Waktu (van bewijs en verjaring)

30

Perbandingan Sistematika Hukum

Menurut ilmu hukum perdata materiil yang mengatur tentang perseorangan dapat dibagi: 1. Hukum Pribadi (Personenrecht); 2. Hukum Keluarga (Familierecht); 3. Hukum Kekayaan (Vermogenrecht); 4. Hukum Waris (Erfrecht).
Hukum perdata materiil tersebut dalam KUHPerdata ditempatkan sebagai berikut: 1. Hukum Pribadi (Personenrecht), diatur dalam Buku I Bab 1-3 dan Buku III Bab 9; 2. Hukum Keluarga (Familierecht), diatur dalam Buku I Bab 4-18; 3. Hukum Kekayaan (Vermogenrecht), diatur dalam Buku II Bab 12, Bab 19-21 dan Buku III; 4. Hukum Waris (Erfrecht), diatur dalam Buku II Bab 12-18.

31

Perbandingan Sistematika Hukum

Buku IV sebenarnya berisi ketentuan2 hukum perdata formil.


KUHD isinya sejenis Hukum Kekayaan yang terdiri dari sebagian besar hukum perikatan (Bidang perjanjian) dan sebagian kecil hukum benda. Isi KUHD: Buku I : tentang dagang pada umumnya; Buku II : tentang hak2 & Kewajiban yang terbit dari pelayaran. KUHD merupakan lex specialis terhadap KUHPerdata sebagai lex generalisnya. (Lex specialis darogat lex generalis)

32

Perbandingan Sistematika Hukum

Menurut Prof.Dr.A.Sanusi, SH., pembagian KUHPerdata (Eropa), masih kurang lengkap, diantaranya: Ketentuan Badan Hukum belum dimasukkan dalam hukum orang; Hukum benda-hukum perikatan sebenarnya masing2 berhubungan dengan harta kekayaan; Hukum waris dimasukkan dalam buku II, sebenarnya berkaitan dengan harta kekayaan, yaitu khusus seseorang yang meninggal dunia; Hukum bukti dan lewat waktu, menurut sifatnya seharusnya termasuk hukum acara.

33

Perbandingan Sistematika Hukum

2. Sistematika Burgerlijk Weybioek Indonesia Bahwa KUHPerdata / BW terbagi dalam 4 (empat) buku: 1. Buku I : Perihal orang - Subjek hukum; - Hukum perkawinan; - Hukum keluarga. 2. Buku II : Perihal benda - Barang sebagai objek hak manusia; - Hak-hak kebendaan; - Hukum waris. 3. Buku III : Perihal perikatan - Hak & kewajiban yang terbit dari perjanjian; - Perbuatan melanggar hukum & peristiwa2 yang menerbitkan hak-kewajiban perseorangan; 4. Buku IV : Perihal pembuktian & lewat waktu

34

Perbandingan Sistematika Hukum

Ciri khas KUHPerdata Indonesia dan BW Belanda, sistematikanya didasarkan: - Pada Buku II, pembagian hukum kekayaan dalam hak2 kebendaan; - Pada Buku III, hak-hak perseorangan.
Sebab Code Civil Perancis sendiri yang merupakan sumber dari BW Belanda, menganut suatu sistem lain, yaitu: 1. Buku I : Hukum perorangan -- perkawinan, keluarga, dll 2. Buku II : Tentang barang dan macam2 kekayaan 3. Buku III : Tentang berbagai cara untuk memperoleh kekayaan -- pewarisan, perjanjian, perbuatan melanggar hukum, gadai, hipotek, pembuktian, dan daluarsa Jadi hak kebendaan & perseorangan diatur dalam satu buku (Buku III).

35

Perbandingan Sistematika Hukum

Hak Kebendaan, misalnya: -- Hak milik (eigendom), Hak erfpacht, hak hipotek, dll.
Hak Perseorangan, misalnya: -- Haknya seseorang terhadap seseorang lainnya. (Penjual-pembeli, buruh-majikan, dll) 3. Sistematika Burgeliches Gesetzbuch Jerman (mulai tahun 1896) 1. Buku I : Bagian Umum (orang, badan hukum, barang, kecakapan perbuatan hukum, daluarsa, dll) 2. Buku II : Tentang hukum (utang-piutang, perjanjian, dll) 3. Buku III : Hukum benda 4. Buku IV : Hukum keluarga 5. Buku V : Hukum Waris

36

Perbandingan Sistematika Hukum

4. Sistematika The Civil Code of Japan --menganut sistematika sama seperti Burgeliches Gesetzbuch Jerman, perbedaannya: 1. Buku II (Utang-piutang) di Jerman dijadikan pada Buku III di Jepang; 2. Buku III (Claims) di Jerman dijadikan pada Buku II (Real rights) di Jepang. 5. Sistematika The Civil Code of The Philippines (Mulai Tahun 1949) 1. Book I : Person 2. Book II : Property, ownership, and its modifications 3. Book III : Different modes of acquiring on ownership 4. Book IV : Obligations and Contracts

37

Perbandingan Sistematika Hukum

6. Sistematika Civil Code (C.C) Perancis 1. Buku I : Hukum Perorangan (subjek hukum & hubungan keluarga) 2. Buku II : Tentang Benda 3. Buku III Tentang Pewarisan, Perutangan, Pembuktian, Kekayaan, Perkawinan, Hipotek, Daluarsa, dll. 7. Sistematika Schweiseriches Zivil Gezetbuch Siusse (KUHPerdata Swiss) --dikodifikasikan pada 10 Desember 1907 dan berlaku januari 1912, --Seringkali para sarjana hukum Indonesia menganggap sebagai contoh kodifikasi KUHPerdata Indonesia dan Van Vollehoven telah menganjurkannya. --Beberapa negara di Asia telah mengoper hukum Swiss secara keseluruhan atau sebagian, terutama negara Turki yang merupakan negara TimurTengah yang modern.

38

Perbandingan Sistematika Hukum

KUHPerdata Swiss terdiri dari 4 (empat) buku, yaitu: 1. Buku I : Subjek Hukum 2. Buku II : Hukum Keluarga 3. Buku III : Hukum Warisan 4. Buku IV : Hukum Benda

39

Perbandingan Sistematika Hukum

SISTEMATIKA HUKUM ADAT

Selain KUHPerdata Indonesia, juga berlaku Hk. Perdata Adat dan Hukum Islam yang telah diresepsi dalam hukum adat. Beberapa sistematika Hukum Adat, yaitu 1. Van Vollenhoven --dalam bukunya Het Adatrecht van Nederlands Indie, membagi hukum adat ke dalam 19 wilayah hukum (rechtskringen). 2. Mr. Ter haar Bzn --dalam bukunya Beginselen en stelsel van het adatrecht (asas & susunan hukum adat), membagi hukum adat ke dalam 16 asas/bagian hukum. 3. Prof.Dr. Van Dijk --dalam bukunya Pengantar Hukum Adat Indonesia, membagi hukum adat menjadi 6 bagian hukum.

40

Perbandingan Sistematika Hukum

SISTEMATIKA HUKUM ISLAM

Al-Quran yang merupakan salah satu sumber hukum Islam, dalam beberapa ayat tertentu secara khusus mengatur tentang hal-hal yang menyangkut keperdataan, sebagai berikut: A. Hukum Perkawinan: 1. Surat (2) Al Baqarah ayat 221; 2. Surat (5) Al Maidah ayat 5; 3. Surat (4) An Nisa ayat 22, 23, 24; 4. Surat (24) An Nur ayat 32; 5. Surat (60) Al Muntahanah ayat 10, 11. B. Hukum Waris: 1. Surat (4) An Nisa ayat 7, 8, 9, 10, 11, 12, 176; 2. Surat (2) Al Baqarah ayat 180; 3. Surat (5) Al Maidah ayat 106. C. Hukum Perjanjian: 1. Surat (2) Al Baqarah ayat 279, 280, 282; 2. Surat (8) Al Anfaal ayat 56, 58; 3. Surat (9) At Taubah ayat 4.

41

KELUARGA HUKUM
TIMBULNYA GAGASAN TENTANG KELUARGA HUKUM

-Keinginan diadakannya unifikasi sistem hukum di dunia; -untuk mendapatkan pengertian yang menyeluruh mengenai sistem hukum, karena: 1. Tiap negara merupakan satu pola politik mempunyai sistem hukumnya sendiri; 2. Negara2 yang bersifat federatif mempunyai beberapa sistem hukum.

42

KELUARGA HUKUM

Dua faktor yang mempermudah penelitian dengan cara perbandingan hukum untuk mengungkapkan sistem2 hukum yang ada di dunia, yaitu: 1. Bahwa adanya sistem2 hukum tertentu yang dapat dikelompokan ke dalam kelompok yang lebih besar, yang meliputi sistem hukum yang berlaku di berbagai negara; 2. Sistem hukum yang ada dan berlaku di berbagai negara dapat dimasukan ke dalam suatu keluarga hukum (family law, familie des droit), karena adanya persamaan karakteristik, dan ciri khusus yang sama.

43

KELUARGA HUKUM

PENGERTIAN

Keluarga Hukum adalah: --Suatu kelompok sistem hukum, yang mempunyai ciri-ciri khusus yang sama, mempunyai kesamaan-kesamaan karakteristik, atau persamaanpersamaan unsur yang didasarkan pada beberapa aspek antara lain berdasarkan struktur hukum, konsepsi hukum, dan sumber hukumnya Contoh: Belanda, Swiss & Perancis (Keluarga Hukum Romawi Jermania) --persamaan pada sumber hukumnya, yaitu berupa Undang-Undang atau peraturan tertulis. Australia, Amerika Serikat, Inggris dan negara jajahan bekas jajahan Inggris (Keluarga Hukum Common Law, atau Anglo Amerika atau Anglo Saxon) --tidak mengenal norma hukum publik dan norma hukum privat, tapi dikenal norma hukum dalam common law dan equity, berdasarkan praktek peradilan di Inggris.

44

KELUARGA HUKUM

KELOMPOK KELUARGA HUKUM A. Menurut Rhene David:


1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Keluarga Hukum Romawi Germania; Hukum Common Law; Hukum Sosialis; Hukum Agama/Tradisi. Hukum Romawi; Hukum Jermania; Hukum Skandinavia; Hukum Common Law; Hukum Sosialis; Hukum Timur Jauh; Hukum Agama Islam; Hukum Agama Hindu.

B. Menurut Zweigert dan Kotz:

45

KELUARGA HUKUM

C. Menurut Arminyon:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Keluarga Hukum Romawi; Keluarga Hukum Jermania; Keluarga Hukum Skandinavia; Keluarga Hukum Common Law; Keluarga Hukum Sosialis; Keluarga Hukum Agama Islam; Keluarga Hukum Agama Hindu.

Menurut Prof.Dr. Sunaryati Hartono. SH., MA, sistem hukum yang ada di dunia dikelompokan menjadi 6 (enam) kelompok besar:
1. 2. 3. 4. 5. 6. Sistem Hukum Sistem Hukum Sistem Hukum Sistem Hukum Sistem Hukum Sistem Hukum Kebiasaan yang tradisional; Eropa Daratan (Kontinental); Skandinavia; Anglo Saxon; Islam; Komunis/Sosialis.

46

KELUARGA HUKUM

Dasar Penentuan Keluarga Hukum Yang Ada Di Dunia

--belum ada kesamaan pendapat, terlihat adanya beberapa pendapat: 1. Rhene David, memakai kriteria: --teknik serta metode dari sistem hukum (Prinsip hukum, filsafat hukum, politik dan ekonomi). 2. Konrad Zweigwrt, memakai kriteria --asal usul perkembangan historis; --cara pemikiran hukum dan; --ideolgi hukum. 3. Hein Kotz, memakai kriteria: --asal usul perkembangan historis; --cara pemikiran lembaga-lembaga hukumnya; --sumber-sumber hukumnya; --ideologi hukum.

47

KELUARGA HUKUM

Gambaran Keluarga Hukum


Keluarga Hukum Romawi Germania:
--Termasuk dalam keluarga hukum ini adalah negara-negara Eropa Kontinental (Civil Law System), seperti: Belanda, Jerman, Spanyol dan negara2 lain yang karakteristiknya sama akibat penjajahan maupun peralihan kebudayaan, seperti Indonesia. --Hukum nasionalnya secara ilmu pengetahuan yang mendalami sistem2 hukum tersebut, pada dasarnya berdasarkan pada hukum Romawi. --Hukum Romawi Germania bercirikan pada adanya unsur keadilan dan prinsip2 moral. --Dikenal 2 norma hukum, yaitu: Hukum Privat (Hukum yang mengatur tingkah laku manusia untuk kepentingan orang perorangan) dan Hukum Publik (Hukum yang mengatur kepentingan kesejahteraan negara). --Keluarga hukum ini mulai tumbuh di daratan Eropa abad 12.

48

KELUARGA HUKUM

2. Keluarga Hukum Common Law: --Termasuk dalam keluarga hukum ini adalah negara-negara yang memakai sistem hukum Inggris dan yang meniru sistem hukum Inggris, seperti: Inggris, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, India, Pakistan, dll. --Berbeda dengan keluarga hukum Romawi Germania, konkretnya adalah menyelesaikan persengketaan antar individu. Hakikatnya Common Law Court bertugas menyelesaikan perselisihan individu. --Kegiatan pokok sarjana Common Law adalah turut mencari jalan keluar untuk mengembalikan serta mempertahankan keadaan damai pada masyarakat dan bukan memberikan dasar moral pada masyarakat. --Common Law berkembang dan dikembangkan oleh badan peradilan Common Law (Common Law Court), yang tidak dapat selamanya memenuhi rasa keadilan dan kebutuhan masyarakat, maka dibentuk badan peradilan baru yaitu Court of Chancellor atau Court of Equity. --Dikenal 2 norma hukum, yaitu Common Law (dikembangkan oleh Common Law Court) dan Equity (dikembangkan oleh Court of
Chancellor).

49

KELUARGA HUKUM

3. Keluarga Hukum Sosialis:

--Termasuk dalam keluarga hukum ini adalah negara-negara yang sistem hukumnya menganut ajaran sosialisme, seperti di negara Uni Soviet (Sekarang Rusia), RRC, Korea Utara, dll. --Cirinya: 1. Kolektivisme mutlak; 2. Alat produksi di tangan negara, sehingga hubungan antar individu berkurang; 3. Ilmu pengetahuan di bidang hukum perdata menjadi sedikit; 4. Semuanya menjadi Hukum Publik, karena yang diutamakan adalah kepentingan umum dan negara.

50

KELUARGA HUKUM

4. Keluarga Hukum Agama dan Tradisi:

--Ciri utama adalah bahwa masing-masing sistem hukum tersebut berdiri sendiri-sendiri. --Mengatur hubungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan ajaran agama, yang mencirikan kemandirian. --Hukum Islam, Hukum Khatolik, Hukum Hindu, Yahudi dan sebagainya masing-masing berdiri sendiri. --Hukum keluarga ini mempengaruhi sistem hukum yang lainnya dan mengenai hukum tertentu diserahkan kepada keluarga hukum ini, seperti: Hukum Perkawinan, hukum Perorangan, Hukum Keluarga dan Hukum Waris

51

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman


SUMBER HUKUM 1. Sistem Hukum Inggris
Secara berurutan: a. Yurisprudensi; --Di Inggris (Case Law) merupakan sumber hukum yang utama dan terpenting terikat pada asas Stare Decisis (suatu asas bahwa keputusan hakim yang terdahulu harus dikuti oleh hakim yang membuat keputusan kemudian). --Hukum Common Law maupun Hukum Equity, terbentuk berdasarkan yurisprudensi. b. Statuta Law; --suatu peraturan yang dibuat oleh parlemen Inggris, jadi dapat disamakan dengan peraturan2 yang berbentuk Undangundang dan sebagai koreksi/pelengkap terhadap Common Law yang kadang-kadang tidak lengkap.
52

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

c. Custom/Kebiasaan; --Kebiasaan yang sudah berlaku berabad-abad di Inggris dan sudah merupakan sumber nilai-nilai. Custom ini dituang dalam peraturan peradilan dengan bentuk suatu putusan pengadilan. -- Ada 2 custom: 1. Local Custom (Hukum kebiasaan setempat); 2. Commercial Custom (Hukum kebiasaan yang menyangkut perdagangan) d. Reason/Akal sehat. --berfungsi jika sumber hukum lain tidak menyelesaikan perkara yang sedang diperiksa.

53

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

2. Sistem Hukum Romawi Jerman (Eropa kontinental) Secara berurutan: a. Perundang-undangan; --seperti: Konstitusi tertulis (UUD, ), Kodifikasi (Suatu usaha untuk menuangkan materi hukum tertentu dalam suatu kitab undang-undang yang bermaksud mengatur suatu materi hukum secara lengkap dan sistematis) atau produk2 legislatif yang lain. --Perlu adanya penemuan hukum, untuk menemukan norma2 hukum yang tepat dan adil guna memecahkan suatu masalah hukum. b. Yurisprudensi; c. Hukum Kebiasaan; d. Ilmu Hukum.
54

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

SISTEM HUKUM

--Sistem adalah suatu tatanan yang serasi serta teratur terdiri dari bagian2/hal2 yang saling berkaitan dan secara keseluruhan merupakan satu kesatuan di mana tiap bagian tidak dipisahkan satu sama lain dan tidak saling bertentangan. --Objek dari ilmu hukum adalah hukum, yang terutama terdiri dari kumpulan peraturan2 hukum.

1.

Sistem Hukum Inggris

- Disebut juga sistem Anglo Saxon / Anglo Saxon Amerika / Common Law / Unwritten Law; - Sistem ini melandasi hukum di Amerika Utara dan di beberapa negara Asia, termasuk negara persemakmuran Inggris dan Australia; - Putusan hakim (Jurisprudensi) mewujudkan kepastian hukum, sehingga prinsip dan kaidah hukum terbentuk dan mengikat umum.

55

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

- Sumber hukum tidak tersusun secara sistematik dan hierarki tertentu.; - Fungsi hakim tidak hanya sebagai pihak yang bertugas menerapkan dan menafsirkan peraturan2 hukum saja, tapi berpenagruh sangat besar yaitu membentuk seluruh tatanan kehidupan masyarakat dan menciptakan prinsip-prinsip hukum; - Menganut suatu doktrin yang dikenal dengan nama The doctrine of precedent atau stare decesis; - Dalam strukturnya, pembidangan hukum dibagi dua yaitu Hukum Privat (beda dengan Hk Romawi Jerman yang mengarah pada kaidah keperdataan dan hukum dagang, tapi pada Hak Milik/Law of property, Law of person, Hukum Perjanjian/Law of contract dan hukum tentang perbuatan melawan hukum/Law of torts) dan Hukum Publik (hampir sama dengan Hk. Romawi Jerman).

56

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

2.

- Disebut juga Civil Law; - Peraturan2 hukumnya merupakan kumpulan dari berbagai kaidah hukum yang ada sebelum masa Justinianus, disebut Corpus Juris Civilis; - Prinsip2 hukum yang terdapat pada Corpus Juris Civilis dijadikan dasar perumusan dan kodifikasi di negara2 Eropa Kontinental, seperti Jerman, Belanda, Perancis, Italia, Amerika Latin, Asia termasuk Indonesia; - Prinsip utama adalah hukum memperoleh kekuatan mengikat,

Sistem Hukum Romawi Jerman/Eropa Kontinental

karena diwujudkan oleh peraturan2 yang berbentuk Undangundang dan tersusun secara sistematis di dalam kodifikasi atau kompilas tertentu. - Prinsip dasar adalah Kepastian Hukum, Hakim tidak leluasa
untuk menciptakan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat umum.

57

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

- Menganut Doktrin Res Ajudicata, yaitu putusan hakim hanya mengikat pihak yang berperkara dan hakim hanya berfungsi menetapkan serta menafsirkan peraturan2 dalam batas-batas wewenangnya; - Dibagi dalam dua bidang hukum, yaitu: 1. Hukum Publik; --Peraturan2 hukum yang mengatur kekuasaan dan kewenangan kuasa/negara serta hubungan antara pemerintah dan masyarakat, terdiri dari: a. Hukum Tata Negara; b. Hukum Administrasi Negara; c. Hukum Pidana. 2. Hukum Privat; --Hukum yang mengatur hubungan hukum antara individu2 di dalam masyarakat untuk memenuhi kehidupan demi hidupnya, terdiri: a. Hukum Sipil; b. Hukum Dagang.
58

Perbandingan Sistem Hukum Inggris Dengan Sistem Hukum Romawi Jerman

Batas-batas antara Hukum Privat dan Hukum Publik menjadi semakin sulit, sehubungan dengan semakin pesatnya perkembangan peradaban manusia, Contoh: -Hukum Agraria; -Hukum Perburuhan.

59

KELUARGA HUKUM COMMON LAW


STRUKTUR HUKUM -Diawali perkembangan di Inggris, sebagai hasil praktek badan peradilan di Inggris, selama berabad-abad lamanya, sejak kedatangan bangsa Normandia pada abad ke 12; -Berlaku di Inggris dan negara2 yang secara politis mempunyai ikatan dengan Inggris; -Pada hakekatnya dalam arti sempit Hukum Inggris hanya berlaku di daerah England dan Wales, jadi tidak berlaku di Irlandia dan Scotlandia, merupakan model bagi perkembangan hukum Anglo Saxon atau Common Law; -Tidak mengenal pengelompokan Norma Hukum Publik dan Norma Hukum Privat;
60

KELUARGA HUKUM COMMON LAW

-Tumbuh dan berkembang berdasarkan praktek badan peradilan di Inggris, atas dasar tradisi, mempertahankan kekuasaan raja; -Dapat dikatakan common law berkembang dari sisi hukum publiknya; -Norma hukum di Common Law berbeda konsepsi dengan Hukum Romawi Jerman, jadi fungsi norma hukum adalah untuk mengakhiri benturan kepentingan atau menyelesaikan perselisihan; -Atas dasar tersebut maka norma hukum bersifat rinci dan kausistik, karena hakim yang memegang peranan di dalam merumuskan norma hukum tersebut (Case Law Study);

61

KELUARGA HUKUM COMMON LAW

-2 (Dua) kelompok norma hukum, yaitu: 1. Common Law; 2. Equity. -Bidang hukumnya antara lain: real property, personal property, trust
(Pengertiannya sulit diterjemahkan dalam pengertian dalam keluarga hukum lain). -Tidak mengenal pengertian kekuasaan orang tua, pengakuan anak luar kawin, badan hukum, keadaan memaksa, dan lain-lain; -Berkembang tanpa mendapatkan pengaruh dari Hukum Romawi; -Tradisi di Inggris, para ahli hukum adalah yang akan menjadi hakim (judge) atau pengacara (barister), yang harus dididik melalui praktek hukum; -Jadi ilmu hukum dan universitas tidak memegang peranan penting dalam perkembangan hukum di Inggris;

and evidence, companies, sale of good, bankcruptsy, partnership, conflict of law, dan lain-lain;

62

KELUARGA HUKUM COMMON LAW

-Common Law merupakan norma hukum yang berkembang sebagai tradisi dan diterapkan oleh badan peradilan yang dinamakan Common Law Court; -Equity adalah kumpulan norma-norma hukum yang berkembang pada abad 15 dan 16, yang diterapkan oleh badan peradilan yang disebut Court of Equity atau Court of Chancellor; KONSEPSI HUKUM -Berkaitan dengan masalah, apakah sebenarnya fungsi norma hukum bagi suatu masyarakat; -Untuk menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi di dalam masyarakat, agar suasana tertib di dalam masyarakat pulih kembali; -Rumusan norma hukumnya bersifat konkrit dan terkandung di dalam putusan-putusan pengadilan. -Norma hukum diciptakan untuk mengakhiri benturan bukan untuk pencegahan;

63

KELUARGA HUKUM COMMON LAW

-Sistem hukum bersifat terbuka, dimana norma hukum yang tepat dan adil terdapat dan terkandung di setiap perkara, yang duajukan ke badan peradilan dan diadili berdasarkan fakta-fakta. SUMBER HUKUM 1. Yurisprudensi (Yang Utama); -dikenal asas Percedent; -Badan Peradilan di Inggris: 1. Supreme Court of Judicature, ada 2 tingkat badan: a. High Court of Justice; b. Court of Appeal; 2. House of Court; 3. Peradilan lain yang tingkat rendah, seperti Court of Criminal Appeal. Statute -Sumber hukum yang tertulis. Custom; Legal Writing (Para ahli) Reason (Penafsiran)

2. 3. 4. 5.

64

KELUARGA HUKUM ROMAWI JERMAN


STRUKTUR HUKUM
-Norma Hukum dikelompokkan menjadi: Privat dan Publik; -Pembagian norma hukum tersebut ada setuju dipisahkan dan tidak setuju dipisahkan, ada 3 (tiga) kelompok pendapat: 1. Setuju Pemisahan Secara Fundamental --berdasarkan sifat hubungan hukum (individu, badan hukum dan negara) dan kepentingan hukum (umum & khusus), ini menurut Apeldoorn & Beirling; --berdasarkan akibat hukum (tanggungjawab), ini menurut Thon. 2. Setuju Pemisahan Tetapi Tidak Secara Fundamental --Dipisahkan/dibedakan tapi tidak secara tajam; ini menurut Dr.Meier Branecke. --Secara umum pembedaan timbul, karena diatur oleh UU.
65

KELUARGA HUKUM ROMAWI JERMAN

3. Tidak Setuju Ada Pemisahan --menolak pembagian secara tajam, karena bertentangan dengan sifat hakekat hukum itu sendiri, ini menurut Prof. Krabbe; --Jika dilakukan secara konsekuen, dikuatirkan akan ada dua tertib hukum yang sama sekali berlainan, ini menurut Hans Kelson; -Hukum Romawi banyak mempengaruhi kodifikasi yang ada, baik Code Civil, Burgerlijk Wetboek (BW), dan KUHPerdata Indonesia; -BW mengatur secara khusus dalam kodifikasi dan banyak mengambil Hukum Belanda Kuno, misalnya: a. Dengan wakil, perpisahan meja dan tempat tidur; b. Dibidang Hukum harta kekayaan perkawinan; c. Dibidang Hukum Kekayaan, misal erfpacht, dll. -Code Civil mempunyai kekhususan juga, antara lain: a. Hukum Kebiasaan di dalam Hukum Kekayaan Perkawinan; b. Pokok-pokok pikiran yang dikembangkan pada masa Revolusi Perancis (Waris & Kekayaan).

66

KELUARGA HUKUM ROMAWI JERMAN

-Lembaga hukum yang ada cenderung mengalami perubahan isinya, misal: --Istilah Harta Bersama; --Perjanjian Perkawinan; --Asas Monogami; --Perkawinan yang mempunyai hubungan saudara sesusuan; (Bandingkan antara KUHPerdata & UU Perkawinan) KONSEPSI HUKUM -Pada hakekatnya apa sebenarnya fungsi norma hukum bagi suatu masyarakat; -Norma hukum lebih merupakan suatu model pengaturan masyarakat (Aspect Policy Directing);

67

KELUARGA HUKUM ROMAWI JERMAN

-untuk menciptakan tertib dalam masyarakat, memberikan arahan kepada masyarakat mengenai bagaimana harus bertindak di pergaulan kemasyarakatan, menjalin hubungan hukum antara sesama maupun dalam mengatur kepentingan bersama; -Norma hukum dirumuskan untuk mencegah terjadinya benturan kepentingan (Aspek Preventif) dan disusun oleh Pembentuk UndangUndang; -Adapun tujuan norma hukum dirumuskan secara umum, antara lain: 1. Menciptakan efisiensi dan kesederhanaan; 2. Dapat mencakup banyak mungkin kepentingan masyarakat yang diatur didalamnya; 3. Dapat mengikuti perkembangan jaman, agar tidak cepat ketinggalan jaman;

68

KELUARGA HUKUM ROMAWI JERMAN

4. Dapat memenuhi syarat-syarat keadilan serta moral, dan tahan uju terhadap tuntutan perkembangan masyarakat; 5. Dapat memberikan pegangan atau pedomanbagi penyelesaian perselisihan di masa yang akan datang. -Contoh: --Sahnya suatu perjanjian (1320 KUHperdata); --Asas Kebebasan Berkontrak (1338 KUHPerdata).
SUMBER HUKUM 1. Perundang-undangan (Peraturan & Penafsiran); 2. Hukum Kebiasaan; 3. Yurisprudensi; 4. Ilmu Hukum.

69

ORANG PRIBADI SEBAGAI SUBYEK HUKUM


-Dalam dunia hukum, perkataan orang (persoon) berarti pendukung hak dan kewajiban yang juga disebut Subyek Hukum; -Setiap manusia (WNI & WNA) adalah pembawa hak (Subyek Hukum) yang mempunyai hak dan kewajiban untuk melakukan perbuatan hukum; -Perbuatan tersebut harus didukung oleh: 1. Kecakapan Hukum (Rechtsbekwaamheid); dan 2. Kewenangan Hukum (Rechtsbevoegdheid). -Orang pribadi yang dianggap tidak cakap hukum menurut undangundang, adalah: 1. Belum dewasa; 2. Yang ditaruh pengampuan; 3. Yang dinyatakan pailit. Dapat melakukan perbuatan hukum bila diwakili oleh Orang Tua, Pengampu dan Balai Harta Peninggalan.

70

Orang Pribadi Sebagai Subyek Hukum

-Tidak semua subyek hukum yang mempunyai kecakapan hukum juga mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum. - Kewenangan dibatasi oleh kewarganegaraan, tempat tinggal, kedudukan/jabatan, tingkah laku/perbuatan dan lain-lain; Beberapa pendapat pengertian tentang orang 1. Prof. J. HARDJAWIDJAJA, SH. --Orang adalah merupakan pengertian terhadap manusia; 2. Prof. EGGENS --Orang adalah manusia sebagai Rechtspersoon ; 3. Prof. KO TJAI SING --Orang tidak hanya manusia biasa tetapi juga badan hukum; 4. Hukum Modern --Setiap manusia diakui sebagai manusia pribadi artinya diakui sebagai orang/persoon.

71

Orang Pribadi Sebagai Subyek Hukum

Subyek Hukum (Subyectum juris): --adalah manusia atau badan hukum yang mempunyai hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum; --dapat melakukan hubungan hukum, yang menimbulkan hak dan kewajiban dalam lalu lintas hukum: --hak dan kewajiban tidak tergantung pada agama, golongan, kelamin, umur, warga negara, kaya-miskin, kedudukan tinggi-rendah, pejabat-rakyat biasa. --terdapat dua pengertian: 1. Sebagai Manusia biasa (Natuurlijk persoon) -biologis (mahluk hidup); -yuridis (hidup bermasyarkat). Jadi Subyek Hukum adalah sesuatu yang menurut hukum berhak / berwenang melakukan perbuatan hukum dan berwenang / berkuasa untuk mempunyai hak dan kewajiban, untuk melakukan perbuatan hukum.

72

Orang Pribadi Sebagai Subyek Hukum

2. Sebagai Badan hukum (Rechtspersoon). --adalah suatu kumpulan orang yang mengadakan kerjasama dan atas dasar itu merupakan suatu kesatuan yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh hukum.
Pengecualian -Pasal 2 BW, menentukan: a. Ayat (1), anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan, bila kepentingan si anak menghendakinya. b. ayat (2), mati sewaktu dilahirkan, dianggap tidak pernah telah ada. ----ketentuan ini sering disebut rechtsfictie. ----ketentuan dalam pewarisan. -Pasal 638 BW, menentukan: bahwa seorang hanya dapat menjadi ahli waris kalau ia telah ada pada saat pewaris meninggal dunia.

73

Orang Pribadi Sebagai Subyek Hukum

Ketidakwenangan Subyek hukum


-Pasal 3 BW, menentukan: Tiada suatu hukumanpun mengakibatkan kematian perdata, atau kehilangan segala hak perdata. -Ada faktor yang mempengaruhi kewenangan berhak seseorang yang sifatnya membatasi, antara lain: 1. Kewarganegaraan (contoh: dalam pasal 21 ayat (1) UUPA, hanya WNI yang dapat mempunyai Hak Milik); 2. Tempat Tinggal (Contoh: Tanah Guntai); 3. Kedudukan atau jabatan (Contoh: Barang bukti perkara tidak boleh dimiliki oleh pejabat hukum); 4. Tingkah laku atau perbuatan (Contoh: Orang tua / Wali dicabut dengan keputusan pengadilan).

74

Orang Pribadi Sebagai Subyek Hukum

Ketidakcakapan Subyek hukum


1. Orang-orang yang belum dewasa; 2. Orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan (Curatele), yaitu orang dewasa tapi dalam keadaan dungu, gila, mata gelap dan pemboros (Pasal 1330 BW jo Pasal 433 BW); 3. Orang-orang yang dilarang undang-undang untuk melakukan perbuatan hukum; Contoh: Yang dinyatakan pailit (Pasal 1330 BW jo UU Kepailitan).

75

BADAN HUKUM SEBAGAI SUBYEK HUKUM


TEORI BADAN HUKUM
1. Teori FIKSI (FC. Von Savigny, C.W. Opzoomer dan Houwing) -Badan hukum dianggap buatan negara; -Sebenarnya badan hukum itu tidak ada, hanya orang menghidupkan bayangannya untuk menerangkan sesuatu dan terjadi, karena manusia membuat berdasarkan hukum; -Jadi badan hukum adalah orang buatan hukum (Persona ficta). 2. Teori Kekayaan Tujuan (A. Brinz dan EJJ Van der Heyden) -Badan hukum itu bukan kekayaan orang, tetapi kekayaan itu terikat pada tujuannya (Zweck vermogen); -Tiap hak tidak ditentukan oleh suatu tujuan; -Hanya manusialah yang menjadi subyek hukum dan badan hukum adalah untuk melayani kepentingan tertentu; -Teori ini hanya dapat menerangkan dasar yuridis dari YAYASAN.

76

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

3. Teori ORGAN atau Teori PERALATAN atau KENYATAAN (Otto von Gierke) -Badan hukum adalah sesuatu yang sungguh-sungguh ada di dalam pergaulan yang mewujudkan kehendaknya dengan perantaraan alat-alatnya (Organ) yang ada padanya (Pengurusnya); -Jadi bukan sesuatu yang fiksi tetapi merupakan mahluk yang sungguh-sungguh ada secara abstrak dari konstruksi yuridis. 4. Teori MILIK KOLEKTIF (WLPA Molengraaff dan Marcel Planiol) -Badan hukum adalah harta yang tidak dapat dibagi-bagi dari anggota-anggota secara bersama-sama; -Hak/kewajiban badan hukum hakikatnya adalah hak/kewajiban para anggota bersama-sama, oleh karenanya badan hukumnya konstruksi yuridis saja, jadi pada hakikatnya abstrak.

77

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

5. Teori DUGUIT -Duguit tidak mengakui adanya badan hukum sebagai subyek, tapi hanya fungsi-fungsi sosial yang harus dilaksanakan; -Manusia sajalah menjadi subyek hukum, lain daripada manusia tidak ada subyek hukum. 6. Teori EGGENS -Badan hukum adalah suatu hulpfiguur, karena adanya diperlukan dan dibolehkan oleh hukum, demi untuk menjalankan hak-hak dengan sewajarnya; -Bahwa dalam hal tertentu keperluan itu dirasakan, oleh karena hukum hendak memperlakukan suatu kumpulan orang yang bersama-sama mempunyai kekayaan dan tujuan tertentu sebagai suatu kesatuan, karena subyek hukum (manusia) tidak dapat (berwenang) sendiri-sendiri bertindak dalam rangkaian peristiwa hukum tertentu.

78

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

SYARAT-SYARAT BADAN HUKUM


-Definisi Badan Hukum: adalah suatu kumpulan orang yang mengadakan kerjasama dan atas dasar itu merupakan suatu kesatuan yang telah memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh hukum. -Badan hukum merupakan pendukung hak yang tidak berjiwa (bukan manusia) dan merupakan gejala sosial yaitu suatu gejala riil, sesuatu yang dapat dicatat dalam pergaulan hukum; -Untuk ikut dalam pergaulan hukum, maka badan hukum harus mempunyai syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum, yaitu: 1. Memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan anggota anggotanya; 2. Hak dan kewajiban badan hukum terpisah dari hak dan kewajiban para anggotanya.

79

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

DASAR-DASAR HUKUM SEBAGAI BADAN HUKUM


Badan hukum sebagai kumpulan manusia pribadi mungkin pula sebagai kumpulan dari badan hukum, yang pengaturannya sesuai dengan hukum yang berlaku, diuraikan sebagai berikut: 1. Perseroan Terbatas (PT), diatur dalam: -KUHD, Buku I Bab III Bagian Ketiga; (Tidak berlaku lagi) -UU Nomor 4 Tahun 1971; (Tidak berlaku lagi) -UU Nomor 1 Tahun 1995; (Tidak berlaku lagi) -UU Nomor 40 Tahun 2007; (Yang terakhir, diundangkan & berlaku tanggal 16 Agustus 2007). -dan beberapa Peraturan Pelaksanaan (Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dan lain-lain). 2. Yayasan, diatur dalam: -UU Nomor 16 Tahun 2001; (Masih Berlaku) -UU tentang Perubahan UU No. 16 Tahun 2001; (Sebagian kecil).

80

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

5
6

Koperasi, diatur dalam: -UU No. 14 Tahun 1965; (Tidak berlaku lagi) -UU Nomor 12 Tahun 1967; (Tidak berlaku lagi) -UU Nomor 25 Tahun 1992; (Masih berlaku) -UU tentang Perubahan UU No. 25 Tahun 1992; (Sebagian) -dan beberapa Peraturan Pelaksanaan (Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, dan lain-lain). Perbankan, diatur dalam: -UU Nomor 7 Tahun 1992; (Masih Berlaku) -UU Nomor 10 Tahun 1998; (Masih Berlaku) Negara Indonesia, diatur dengan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 Dan lain-lain. (Sesuai dengan Perundang-undangan yang terkini)

KUHPerdata tidak mengatur mengenai Badan Hukum, dan dalam Buku I hanya mengatur subyek hukum sebagai manusia.

81

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

MACAM-MACAM BADAN HUKUM


A. Menurut bentuknya: 1. Badan Hukum Publik (publiek rechtpersoon) --adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum publik yang menyangkut kepentingan publik, orang banyak atau negara pada umumnya. --Badan hukum negara yang dijalankan secara fungsional oleh badan eksekutif, pemerintah atau badan pengurus yang diberi tugas berdasarkan perundang-undangan. --Contoh: NKRI, Bank Indonesia, Perusahaan Negara, Pertamina, dll. 2. Badan Hukum Privat (privat rechtspersoon) --adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum sipil atau perdata yang menyangkut kepentingan pribadi di dalam badan hukum tersebut.

82

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

--mempunyai tujuan tertentu, yaitu mencari keuntungan, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, politik, kebudayaan, kesenian, olahraga dan lain-lain. --menurut tujuannya dibedakan sebagai berikut: a. Untuk tujuan tidak materiil/amal, contoh: Perkumpulan Gereja, Badan Wakaf, dan Yayasan. b. Untuk tujuan memperoleh laba, contoh: Perseroan Terbatas. c. Untuk tujuan kekeluargaan dan usaha bersama, contoh: Koperasi. d. Untuk tujuan politik, contohnya: Partai Politik.
B. Menurut jenisnya: 1. Korporasi --adalah suatu gabungan orang-orang yang dalam pergaulan

83

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

hukum bertindak bersama sebagai satu subyek hukum tersendiri --merupakan badan hukum yang beranggota, tetapi mempunyai hak/kewajiban sendiri. --ada beberapa macam korporasi: a. Dibentuk dengan sengaja/sukarela untuk memperkuat kedudukan ekonomi, contoh: Perseroan Terbatas. b. Persekutuan orang, karena perkembangan faktor sosial dan politik, contoh: Pemda Tk I, II dan Desa. c. Organisasi lain yang didirikan berdasarkan undang-undang.
2. Yayasan --adalah tiap kekayaan yang tidak merupakan kekayaan orang atau kekayaan badan dan yang diberi tujuan tertentu.

84

Badan Hukum Sebagai Subyek Hukum

--sebagai pendukung hak/kewajiban sendiri, dan didirikan oleh para pendiri/anggota dengan tujuan sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian dan kebudayaan.
C. Menurut tata/aneka warna hukum di Indonesia 1. Menurut Hukum Eropa --badan hukum yang diatur menurut hukum yang dikonkordinasi dengan hukum yang berlaku di Negeri Belanda, contoh: Negara, PT 2. Menurut Hukum Bukan Eropa yang tertulis --dikenal sebagai Badan Hukum Indonesia, berdasarkan undang-undang, untuk keperluan umum dan sosial, contoh: Perhimpunan berdasarkan LNHB. 3. Badan Hukum Adat --menurut hukum Bumi Putera (Yang pada umumnya tidak tertulis), contoh: Badan Wakaf, Yayasan.
85

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN
HUKUM PERJANJIAN
-Dalam sistematika BW, merupakan bagian dari Hukum Perikatan yang diatur dalam Buku III (Verbintenissenrecht); -Dalam Burgerliches Gesetzbuch Jerman, terdapat pada Buku II-nya dengan judul Recht der Schuldverhaltnisse (Hukum tentang Perutangan), juga orang Jerman berbicara tentang Obligationen recht; -Dalam Civil Code Jepang, pada Buku III-nya memakai judul Claims (Piutang-piutang/penagihan-penagihan), sedang pada Buku II-nya berjudul Real right (Hak-hak atas benda); -Dalam Hukum Anglo Saxon yang tidak terkodifikasi adalah lazim orang berbicara tentang Law of Contracts (dalam arti Hukum Perjanjian), dan ada juga Law of Torts (dalam arti hal yang mengatur tentang perbuatan melanggar hukum). Torts : perbuatan-perbuatan melanggar hukum (unlawful acts).

86

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Untuk suatu contracts disyaratkan adanya suatu Consideration (imbalan). Jadi suatu Gift (hibah) bukan bagian dari contracts, tetapi masuk dalam bidang Law of Property. -Dalam Code Civil Perancis, Buku III-nya sama dengan Buku III BW Indonesia, ditambah dengan ketentuan tentang Gadai (Pand) dan Hipotik, dengan judul Tentang Berbagai Cara Untuk Memperoleh Kekayaan, juga dalam Buku III-nya memuat Bab Tentang PerikatanPerikatan Yang Terjadi Tanpa Persetujuan. Ada istilah quasi delits : perbuatan-perbuatan melanggar hukum. Kalau di BW Indonesia dinamakan onrechtmatige daad (perbuatan melanggar hukum). -Dalam Civil Code Philipina, pada Buku IV-nya memakai judul Obligations and Contracts.

87

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Contracts dalam bahasa Inggris (Perancis: contrat, Jerman: vertrag)

ditujukan kepada semua perjanjian yang pelaksanaannya dijamin oleh hukum atau lebih tepat lagi yang pelaksanaannya dapat dituntut di muka hakim (pengadilan). Jadi perkataan contracts adalah lebih sempit dari perkataan agreement karena pengertian agreement meliputi persetujuan-persetujuan yang tidak dapat dituntut di muka hakim.

ASAS

Dalam hukum perjanjian menganut Asas Konsensualisme, artinya bahwa perjanjian sudah sah dan mengikat pada detik tercapainya sepakat (konsensus), yang merupakan asas universal.

SAHNYA PERJANJIAN

Memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam pasal 1320 BW (sepakat, kecakapan, hal tertentu dan causa yang halal).
88

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Dalam semua sistem hukum apabila isi perjanjian bertentangan dengan undang-undang; ketertiban umum (public policy); Kesusilaan (moral); maka sanksinya adalah perjanjian tersebut batal demi hukum.
Apabila cacadnya terletak dalam hal kecakapan salah satu pihak atau dalam hal sepakat (consent), maka perjanjiannya tidak batal hukum tetapi hanyalah dapat dimintakan pembatalannya (vernietigbaar, voidable). Cacad dalam sepakat (consent) dapat disebabkan oleh: Mistake; Error (kekhilafan); Fraud (penipuan); Coercion (paksaan).

89

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Pemberitahuan fakta/keadaan yang berlainan dengan sebenarnya, menimbulkan apa yang dinamakan misrepresentation, ini juga merupakan alasan untuk meminta pembatalan perjanjiannya.

Semua sistem hukum mengenal kemungkinan memindahkan atau melimpahkan piutang/penagihan kepada orang lain (Belanda: overdracht, Inggris: assignment of claims).
Dalam hukum adat suatu piutang pada asasnya tidak dapat dipindahkan kepada orang lain, karena utang-piutang itu masih dianggap sangat pribadi, namun dimungkinkan asal dengan izin dari yang si-berutang sendiri. (Dalam pasal 613 ayat 2 BW, menganggap cukup si-berutang itu diberitahu saja)

90

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Semua sistem hukum dalam hukum perjanjian dianut sistem terbuka, sebagaimana tercantum dalam pasal 1338 (1) BW, yaitu sistem yang memberikan kebebasan yang seluas-luasnya untuk membuat perjanjian mari macam apa saja dan berisi apa saja dan hanya dibatasi oleh ketertiban umum (public policy) dan kesusilaan (moral). Law of Contracts di Amerika Serikat membagi perjanjian menjadi 1. Informal contracts (yang lazim); 2. Formal contracts (memerlukan bentuk & cara tertentu), dibagi : a. Contracts under seal (dapat disamakan dengan akta otentik Indoneisa); b. Recognizance (acknowledments atau pengakuan di muka sidang pengadilan); c. Negotiable instruments.

91

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Wanprestasi (breach of contracts) di Amerika Serikat, dibedakan Total breach (pelaksanaan contract menjadi sama sekali tidak mungkin lagi); Partial breach (pelaksanaan contract masih mungkin). --sanksi utama terhadap breach of contracts adalah pembayaran compensation (ganti rugi) yang terdiri atas costs and damages, dapat juga dituntut pembatalan dari perjanjian.

TRUST

Lembaga yang sangat populer dan khas dalam Hukum Inggris (Anglo Saxon), dimana ada suatu kekayaan yang dipercayakan kepada sesorang untuk dipelihara atau diurus bagi kepentingan pihak lain, yang dinamakan

beneficiary.

-Trustor: orang yang mempercayakan kekayaan tersebut; -Trustee: orang dipercayai atas pengelolaan kekayaan tersebut.

92

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

Trust dapat dilahirkan dari: suatu persetujuan (perjanjian); --ada kemiripan dengan pasal 1317 BW, perjanjian dengan janji untuk pihak ketiga/pihak lain (derdenbeding). suatu wasiat (testament); --menyerupai suatu legaat dengan suatu beban (last), dimana beban tersebut berupa suatu bewind (pengurusan) oleh suatu pihak. secara diam-diam (implied trust), ini dimungkinkan dapat terjadi.
Dalam pendirian suatu trust tidak terikat pada suatu bentuk-cara tertentu, kecuali diperlukan sesuatu bentuk-cara (formalitas) tertentu. --apabila formalitas tersebut tidak dilakukan, maka pendirian trust dianggap telah gagal (batal) dan tidak mempunyai akibat hukum. --kecuali lahir karena testament, dimana trustee menolak, maka tidaklah batal pendirian trust tersebut. (Contoh: trustee meninggal lebih dahulu dari trustor) Trust merupakan bagian penting dari Law of Property.

93

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

AGENCY

Berarti perwakilan. (Belanda: vertegenwoordiging, Jerman: vertretung) --pengertian luas, termasuk perwakilan menurut undangundang. Agency dapat dilahirkan dari: suatu persetujuan (perjanjian); --yang dinamakan contract of agency. secara diam-diam; --yaitu dengan tidak membantah atau mengajukan keberatan terhadap suatu penyerahan kuasa (attorney) atau menjalankan kuasa yang telah diberikan menurut pasal 1793 ayat 2 BW.
94

HUKUM PERJANJIAN/PERIKATAN

EKSEKUSI RIIL
Apabila terjadi wanprestasi salah satu atau semua pihak, maka masih dapat direalisasikan dengan perantaraan pengadilan (hakim) sehingga apa yang diperjanjikan dapat terpenuhi, maka hal tersebut dikatakan telah dilakukan eksekusi riil terhadap perjanjian tersebut. Tidak semua sistem hukum menganut asas di atas, dalam BW menolak asas eksekusi riil dan hanya memperkenankannya dalam perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu dan dalam perjanjian untuk berbuat sesuatu apabila yang harus diperbuat itu juga dapat dilakukan orang lain (pasal 1240 dan 1241 BW). --asas di BW dianut pula oleh AngloSaxon dan Civil Code Philipina. --tapi di Jepang dan Thailand menganut ekseskusi riil, apabila tidak bisa maka digunakan sistem ganti rugi.

95

D O M I S I L I
MAKSUD
--adalah tempat tinggal seseorang atau tempat kedudukan badan hukum.

- Tempat tinggal seseorang:

..nyata ..yuridis ..bila perlu atas dasar fiksi ---dalam UU tidak diatur secara tegas, tapi pada umumnya (BW dan UU lainnya) yang ditunjuk sebagai tempat tinggal adalah tempat dimana dilakukan suatu perbuatan hukum dari orang yang bersangkutan.
Prof.J. Hardjawidjaja, SH. Dan Prof.Ko Tjai Sing, SH. --Dalam arti hukum, domisili adalah tempat dimana seseorang harus dianggap selalu berada untuk memenuhi kewajiban serta melaksanakan hak-haknya itu.

PENGERTIAN
1.

96

D O M I S I L I

--Contoh: Seorang Notaris Kota Tangerang yang dalam kenyataannya bertempat tinggal di Kota Jakarta Selatan, maka domisilinya akan dikatakan di Kota Tangerang, karena tempat tersebut dimana sewaktu-waktu dapat dipanggil dan melakukan hak serta memenuhi kewajibannya.
2. BW dan UU lainnya --Domisili ditentukan berdasarkan tempat di mana perbuatan hukum harus atau dapat dilakukan oleh kompetensi suatu instansi yang bersangkutan. --Contoh: 1. Perkawinan harus dilangsungkan dihadapan pegawai catatan sipil dari tempat tinggal salah satu pihak yang hendak kawin. (Pasal 76 BW) 2. Gugatan perceraian harus diajukan kepada Pengadilan Negeri dari tempat tinggal suami isteri. (Pasal 207 BW)

97

D O M I S I L I

3. Apabila tidak diperjanjikan lain, pembayaran dilakukan di tempat tinggal kreditur. (Pasal 1393 ayat 2 BW) 4. Perpajakan pailit harus dilakukan oleh Pengadilan Negeri tempat kediaman debitur. (Pasal 2 ayat 1 UU Kepailitan) 5. Perkara-perkara perdata diadili oleh Pengadilan Negeri dari tempat si tergugat. (Pasal 118 ayat 1 HIR)
UU tidak mengatur secara tegas tentang tempat tinggal menurut hukum dalam arti yuridis. Dalam ilmu hukum, ada 2 hal yang harus dipenuhi untuk mencari kriteria daripada domisili, yaitu: 1. Kehendak (animus) : kehendak untuk menetapkan atau untuk mengubah tempat tinggal; 2. Perbuatan (corpus) : tingkah laku yang menunjukkan dilaksanakannya kehendak tersebut.

98

D O M I S I L I

Menurut Prof.J. Hardjawidjaja, tentang corpus tersebut, bahwa seseorang tidak perlu selalu di tempat tinggal utama (pokok), karena hal ini bukan merupakan syarat mutlak.
Domisili dalam pengertian yuridis, dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Tempat tinggal sesungguhnya a. Tempat tinggal bebas (Pasal 17-20 BW) -Pasal 17 ayat 1 dan ayat 2, memungkinkan orang bertempat tinggal dalam arti tempat tinggal yang pokok maupun tempat tinggal yang senyatanya dan hal ini tergantung pada keadaan. Bahkan ada orang yang mempunyai tempat tinggal di beberapa tempat dan bebas menentukan mana tempat tinggal yang sebenarnya. -Pasal 20, menentukan bahwa mereka yang ditugaskan jawatanjawatan umum, dianggap mempunyai tempat tinggal mereka, di mana mereka menjalankan tugasnya.(Lihat kondisi/secara nyata)

99

D O M I S I L I

b. Tempat tinggal tidak bebas (Pasal 21-22 BW) ---tempat tinggalnya tergantung pada tempat tinggal orang lain. --Pasal 21 BW mengatakan: 1. Anak yang belum dewasa mengikuti tempat tinggal orang tua atau walinya; 2. Orang ditaruh di bawah pengampuan/Curatele mengikuti tempat tinggal pengampu/curator-nya; 3. Istri mengikuti tempat tinggal suaminya. --Pasal 22 BW mengatakan: Tempat tinggal buruh mengikuti tempat tinggal majikannya, kecuali buruh yang belum dewasa mengikuti orang tua/walinya.
2. Tempat tinggal yang dipilih (Pasal 24-25 BW) ---untuk sesuatu sengketa perdata, pihak-pihak yang berkepentingan atau salah satu pihak, berhak bebas dengan suatu akta memilih tempat lain dari tempat tinggal mereka sebenarnya.
100

D O M I S I L I

--Pasal 24 BW, menyebutkan: Dalam suatu sengketa perdata di muka hakim, kedua belah pihak yang berperkara atau salah satu dari mereka, berhak bebas, dengan akta memilih tempat tinggal lain daripada tempat tinggal mereka sebenarnya. --Pasal 25 BW, berbunyi: Jika hal sebaliknya tidak diperjanjikan, maka masing-masing pihak diperbolehkan mengubah tempat tinggal yang dipilih untuk diri sendiri, asal tempat tinggal yang baru tidak lebih dari sepuluh pal jauhnya dari tempat yang lama dan perubahan itu diberitahukan kepada pihak lawannya.
Ada juga aturan yang lain, misal: --Pasal 18-19 BW : mengatur tentang perpindahan tempat tinggal; --Pasal 23 BW : mengatur bahwa rumah kematian seseorang yang telah meninggal dunia adalah tempat tinggal terakhir.

101

D O M I S I L I

DOMISILI MENURUT HUKUM INGGRIS


Pengertian: --mempunyai arti yang lebih luas, dapat berarti tanah asal atau tanah air seseorang yang tentunya ada ikatan batin antara orang dengan tempatnya. Domisili dapat dibagi dalam: 1. Domicile of origin : domisili yang ditentukan oleh tempat asal seseorang sebagai tempat kelahirannya atau tempat kelahiran ayahnya; 2. Domicile of dependence : ditentukan oleh domisili ayah bagi anak luar kawin yang belum dewasa, domisili ibu bagi anak luar kawin dan domisili suami bagi seorang isteri; 3. Domcile of choice : domisili yang ditentukan oleh/dari pemilihan seseorang yang dewasa di samping tingkah lakunya atau tindaktanduknya sendiri sehari-hari

102

D O M I S I L I

Sebenarnya setiap orang mempunyai domisili ketiganya, akan tetapi seseorang tidak boleh mempunyai domisili lebih dari satu.
Menurut Hukum Inggris, domicile of choice ditentukan oleh: -fakta (factum et animo-nya) -kehendaknya Contoh: Seorang Warga Negara Inggris menyatakan dirinya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), apabila ia bertempat tinggal di Indonedia dengan menganggap Indonesia sebagai negaranya sendiri dan ia tidak dianggap asing di Indonesia, maka hukum Inggris menganggap orang itu sebagai WNI. Menurut hukum adat, maka hukum yang berlaku bagi seseorang adalah hukum yang berlaku di daerah dan dalam suku dimana: -ia dilahirkan dan orang tua dilahirkan (Jawa);

103

D O M I S I L I

-ayahnya dilahirkan (Minahasa); -daerah ibunya (Minangkabau).


Menurut Hukum Antar Golongan, berlakunya hukum berdasarkan: -hubungan geneologis atau keturunan sedarah; ---jadi tidak berdasarkan asas teritorial. Dalam hukum Indonesia, domisili seseorang tidak semata-mata ditentukan secara teritorial, tetapi bahkan terutama ditentukan secara geneologis. Cara menentukan domisili WNI keturunan asing, dapat dipergunakan dasar factum et animo. ---selama belum memenuhi syarat factum et animo, maka ia belum dapat dinyatakan berdomisili di Indonesia. (Masuk dalam salah satu agama dan ganti nama belum merupakan suatu fakta)
104

D O M I S I L I

PELEBURAN (OPLOSSING) --suatu kejadian dimana seseorang WNI keturunan asing yang semula tunduk kepada BW dan kemudian tunduk pada hukum adat. (syarat factum et animo harus dipenuhi) TEMPAT KEDUDUKAN BADAN HUKUM --tempat didirikannya badan hukum yang bersangkutan (BW) --tempat pusat kegiatannya (Swiss).

105

A D O P S I
PENGERTIAN
1. Menurut unsur ETIMOLOGI.-- Asal usul kata: ..berasal dari bahasa Belanda Adoptie atau Bahasa Inggris Adoption yang berarti pengangkatan anak (dalam kamus hukum berarti pengangkatan seorang anak untuk sebagai anak kandungnya sendiri); ..dalam bahasa Arab disebut Tabanni -Prof. Mahmud Yunus, mengartikan dengan mengambil anak angkat; -Menurut kamus Munjid, diartikan menjadikannya sebagai anak.

106

ADOPSI

2. Menurut unsur TERMINOLOGI.-- Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, diuraikan arti anak angkat yaitu anak orang lain yang diambil dan disamakan dengan anaknya sendiri. -- Dalam Ensiklopedia Umum, diuraikan adopsi adalah suatu cara untuk mengadakan hubungan antara orang tua dan anak yang diatur dalam pengaturan perundang-undangan. -- Peraturan Pemerintah No. 54 tahun 2007 tanggal 03-10-2007, diuraikan bahwa anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan.

107

ADOPSI

3. Menurut pendapat Pakar Hukum.-- Hilman Hadi Kusuma, SH., dalam bukunya Hukum Perkawinan Adat , anak angkat adalah anak orang lain yang dianggap anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi menurut hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga.
-- Surojo Wignjodipuro, dalam bukunya Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat , adopsi (mengangkat anak) adalah suatu perbuatan pengambilan anak orang lain ke dalam keluarga sendiri sedemikian rupa, sehingga antara orang yang memungut anak dan anak yang dipungut itu timbul suatu hukum kekeluargaan yang sama seperti yang ada antara orang tua dengan anak kandungnya sendiri.

-- Prof.R. Soepomo, adopsi adalah mengangkat anak orang lain sebagai anak sendiri.

108

ADOPSI

-- Dr. Mahmud Syaltut, (diuraikan oleh Drs. Fachtur Rahman, dalam bukunya Ilmu Waris ), anak angkat dibedakan dalam dua arti: Pertama : penyatuan seseorang terhadap anak yang diketahuinya bahwa ia sebagai anak orang lain ke dalam keluarganya, yang diperlakukan sebagai anak dalam kasih sayang, pemberian nafkah, pendidikan dan pelayanan dalam segala kebutuhannya, bukan diperlakukan sebagai anak nasabnya sendiri. Kedua : menganut paham Tabanni , yaitu memasukkan anak yang diketahuinya sebagai anak orang lain ke dalam keluarganya, yang tidak ada pertalian nasab kepada dirinya, sebagai anak yang sah, tetapi mempunyai hak dan ketentuan hukum sebagai anak.

109

ADOPSI

-- Dr.J.A. Nota, ahli hukum Belanda, menguraikan bahwa adopsi adalah suatu lembaga hukum yang dapat memindahkan seseorang ke dalam ikatan keluarga lain (baru) sedemikian rupa sehingga menimbulkan secara keseluruhan atau sebagian hubungan hukum yang sama seperti antara seorang anak yang dilahirkan sah dengan orang tuanya.
Beberapa pengertian adopsi/pengangkatan anak di atas, belum ada kesatuan/persamaan arti. Tapi secara garis besar dibagi dua pengertian, yaitu: 1. Arti luas : pengangkatan anak orang lain ke dalam keluarga sendiri sedemikian rupa sehingga antara anak yang diangkat dengan orang tua angkat timbul hubungan antara anak angkat sebagai anak sendiri dan orang tua angkat sebagai orang tua sendiri; 2. Arti terbatas : pengangkatan anak orang lain ke dalam keluarga sendiri dan hubungan antara anak yang diangkat dan orang tua angkat hanya terbatas pada hubungan sosial saja.

110

ADOPSI

MOTIVASI / TUJUAN terselengaranya Lembaga Adopsi


(pengangkatan anak) 1. Meneruskan keturunan, apabila dalam suatu perkawinan tidak memperoleh keturunan; Pancingan agar punya keturunan (di Jawa); Ada yang khusus mengangkat anak laki-laki agar dapat membakar jenazah orang tuanya serta untuk memelihara abunya; (suatu kepercayaan adat Tionghoa) Ada suatu suku bangsa tertentu harus mempunyai keturunan anak laki-laki, kalau tidak akan musnah; (suatu kepercayaan) Ada sebab oleh rasa belas kasihan terhadap anak yang menjadi yatim piatu/keadaan orang tuanya yang tidak mampu untuk memberi nafkah; (Dalam Hukum Belanda, awalnya tidak mengenal Lembaga Adopsi, tapi sekarang pengangkatan anak diakui, tapi tinjauannya karena unsur sosial ekonomi dan bukan untuk meneruskan keturunan) dll.

2. 3.
4. 5.

6.

111

ADOPSI

ADOPSI DALAM HUKUM BARAT (BW)

--Dalam BW tidak diatur masalah adopsi, tapi mengatur tentang pengangkatan (pengakuan) anak luar kawin, yaitu pada Buku I Bab XII Bagian Ketiga Pasal 280 289, ketentuan ini berbeda/tidak ada hubungan dengan pengertian adopsi; (Karena BW tidak mengenal adopsi, maka orang Belanda saat itu tidak dapat mengangkat anak secara sah) -- Perkembangan baru di negera Belanda (Staten General) telah menerima baik sebuah Undang-Undang tentang Adopsi. Landasan pemikirannya adalah timbulnya golongan manusia baru di seluruh Eropa, yaitu: 1. Para orang tua yang telah kehilangan anak dan tidak mendapatkan anak lagi secara wajar; 2. Banyak anak lahir di luar perkawinan; 3. Banyak anak piatu, karena orang tuanya meninggal di peperangan.

112

ADOPSI

-- Perbuatan mengangkat anak/adopsi telah dikenal diberbagai negara bahkan sejak zaman dulu (primitif), atas dasar pertalian darah atau dianggap ada pertalian darah, sehingga timbul keluarga buatan. Upacara yang terkenal adalah penyajian darah (the blood covenant). -- Keterbatasan BW, Pemerintah Belanda tahun 1917, mengeluarkan Staatsblad No. 129 pasal 5 15, mengatur tentang adopsi/anak angkat khusus bagi golongan masyarakat Tionghoa. Isi staatsblad tersebut, yaitu: 1. Yang boleh mengadopsi : -suami isteri yang tidak mempunyai anak laki-laki; -duda yang tidak mempunyai anak laki-laki; -janda yang tidak mempunyai anak laki-laki, asal tidak ada wasiat dari mendiang suaminya yang menyatakan tidak menghendaki pengangkatan anak; (Tidak diatur batasan usia dan orang yang belum kawin)

113

ADOPSI

2. Yang dapat diadopsi : -orang Tionghoa laki-laki yang tidak beristeri juga tidak beranak dan tidak telah diangkat oleh orang lain; -usianya paling sedikit 18 tahun lebih muda daripada usia suami / duda dan paling sedikit 15 tahun lebih muda daripada usia isteri / janda; -apabila yang diangkat seorang keluarga sedarah, baik yang sah maupun luar kawin, maka keluarga tadi terhadap moyang kedua belah pihak bersama, harus memperoleh derajat keturunan yang sama pula dengan derajat keturunannya, sebelum ia diangkat.
3. Syarat pengangkatan anak : -persetujuan orang yang mengangkat anak; -. Jika anak sah dari orang tuanya, maka harus ada izin orang tuanya. Apabila bapaknya wafat dan ibunya sudah kawin lagi maka harus ada persetujuan walinya dan dari Balai Harta Peninggalan selaku penguasa wali;
114

ADOPSI

-. Jika anak luar kawin, maka harus ada izin orang tua yang mengakui sebagai anaknya. Apabila tidak ada maka harus ada persetujuan walinya dan dari Balai Harta Peninggalan selaku penguasa wali; -jika anak yang diangkat itu sudah berusia 19 tahun maka perlu persetujuan anaknya; -apabila yang mengadopsi janda, maka harus ada persetujuan saudara laki-laki dan ayah almarhum suaminya, kalau tidak ada atau tidak menetap di Indonesia, maka anggota laki-laki keluarga almarhum suami sampai derajat keempat.
4. Persetujuan dapat diganti dengan izin dari pengadilan negeri; 5. Pengangkatan anak harus dilakukan dengan Akta Notaris; 6. Menyamakan anak angkat dengan anak sah dari perkawinan orang yang mengangkat; 7. dan lain-lain.

115

ADOPSI

ADOPSI DALAM HUKUM ADAT


Cara melakukan pengangkatan anak itu banyak macamnya, terutama di Indonesia sendiri mempunyai banyak ragam sistem peradatannya. Tergantung kepada adat setempat di mana setiap bangsa mempunyai hukum adatnya sendiri-sendiri. Diantaranya: Masyarakat Leogea dan New Guinea, pemimpin suku dapat menyelamatkan jiwa tawanannya dengan jalan adopsi; Penduduk Osage dan Kansas di Amerika Utara, mengangkat anak laki-laki/wanita, disebabkan oleh hilangnya seorang anggota keluarga karena kematian atau perang; (dicari kesamaannya) Orang Eskimo, Greenland, tujuan adopsi adalah untuk membantu mencari makanan atau sebagai penanggungjawab keluarga di hari depan; Suku Indian dengan cara meletakkan anak tersebut di dalam pangkuannnya;

116

ADOPSI

Suku Tsim Shians di Kolumbia, apabila ibu mengangkat seorang anak, maka ibu tersebut duduk mengangkang, lalu anak itu diletakkan di antara dua paha ibu, jadi seakan-akan ibu tersebut melahirkan anak tersebut; Suku Gallas di Kambat, Horn Timur (Afrika), anak mengisap darah dari dada ayah angkatnya; Masyarakat Hindu Arya dikenal juga adopsi dengan istilah Putra Sangraha, yang merupakan acara keagamaan yang penting sekali dan telah digambarkan dalam Kitab Hukum Sansekerta (ada dialog antara adopter dengan ayah aslinya); Di Jepang soal adopsi bukan ajaran asli, tetapi pertama kali diperkenalkan dari negeri Cina dengan tujuan politik pada masa pemerintahan Hojo Regent (1205-1333), dan soal warisan, anak angkat mempunyai peranan penting dalam meneruskan kekayaannya; Suku Abyssinia (Afrika Utara), anak menghisap salah satu jari ayah angkatnya; Di Hindu Kush, ayah angkat menghisap mentega yang telah dioleskan di dada kiri anak angkat.

117

ADOPSI

PELAKSANAAN PENGANGKATAN ANAK DI INDONESIA


1. Berdasarkan peraturan perundang-undangan; (Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2007, tertanggal 03-10-2007) 2. Berdasarkan adat kebiasaan setempat. Beberapa adat kebiasaan tentang adopsi, diantaranya: Di Singaparna, Garut, perempuan yang belum pernah kawin tidak boleh melakukan adopsi; Di Leuwidamar, Bandung, belum atau sudah kawin boleh melakukan adopsi, tapi anak angkatnya hanya laki-laki, perempuan tidak boleh; Di Kendari, usia anak angkat antara 1-6 tahun; Di Lombok Tengah, yang sudah dewasa pun dapat dijadikan anak angkat; Di Bali, disebut Nyelayang, asal satu klan;

118

ADOPSI

KEKUATAN HUKUM DARI ADOPSI DI INDONESIA


--Pengangkatan anak secara adat belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap sepanjang belum disahkan/ditetapkan oleh Pengadilan. (Tapi dalam PP No. 54/2007, tidak diharuskan)

AKIBAT HUKUM DARI ADOPSI


--Bervariasi sesuai keaneka-ragaman adat kebiasaan di Indonesia. Contoh: Di Bali, merupakan perbuatan hukum yang melepaskan anak itu dari pertalian keluarganya dan masuk ke dalam keluarga pihak bapak angkat; Di Jawa, tidak memutuskan pertalian keluarga;

119

ADOPSI

HUBUNGAN ADOPSI DENGAN WARISAN


-- Bervariasi sesuai keaneka-ragaman adat kebiasaan di Indonesia. Contoh: Di Lampung Utara, Gresik, anak angkat tidak menerima bagian warisan dari orang tua kandungnya, tapi dapat dari orang tua angkatnya; Di Lahat (Palembang), harus dinyatakan secara khusus, maka anak angkat dapat menjadi ahli waris dari orang tua angkatnya; Di Cikajang (Garut), Batanghari, Goa (Tidore), Sambas (Kalimantan) dan lainnya, bahwa anak angkat tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya, bukan dari orang tua angkatnya; Di Pasemah, harus tinggal di dusun orang tua angkatnya dan mendapat bagian warisan dari orang tua angkatnya, tapi perhitungannya tidak sama dengan bagian warisan anak kandung/asli dari orang tua angkat tersebut.

120

ADOPSI

ADOPSI DALAM HUKUM ISLAM


--Agama Islam memperbolehkan dilakukannya pengangkatan anak sepanjang tidak diangkat sebagai anak kandung. --Agama Islam mendorong seorang muslim untuk memelihara anak orang lain yang tidak mampu, terlantar dan sebagainya tetapi tidak memperbolehkan adanya pemutusan hubungan dan hak-hak orang tua kandungnya. Pemeliharaan itu semata-mata harus didasarkan atas penyantunan saja. --Menurut ajaran Islam adopsi disebut dengan Tabanni;

121