Anda di halaman 1dari 11

1

PELURUHAN GAMMA













OLEH :

Komang Suardika (0913021034)






JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2011



2
1.1 Peluruhan Gamma
Peluruhan inti yang memancarkan sebuah partikel seperti sebuah partikel alfa atau beta,
selalu meninggalkan inti pada keadaan tereksitasi.Energi yang tersedia untuk peluruhan
selanjutnya menjadi lebih rendah atau dapat mencapai energi pada keadaan dasar yang tidak
cukup untuk menyebabkan pemancaran partikel lain, atau peluruhan dengan pemancaran
partikel. Hal ini menyebabkan terjadinya transisi dari keadaan energi yang lebih tinggi E
i
menuju
keadaan energi yang lebih rendah E
f
, dan ini mengeluarkan kelebihan energi AE = E
i
- E
f
oleh
salah satu dari tiga proses yakni:
a. pemancaran sinar gamma,
b. konversi internal atau
c. pembentukan pasangan internal.
Secara fisis dapat dijelaskan bahwa transisi tersebut dapat terjadi karena jika suatu inti
dalam keadaan tidak stabil maka akan mencapai tingkat kestabilan/menuju ke tingkat dasar.








Di mana jika energi yang dilepaskan dalam bentuk sinar gamma, maka inti yang berada
pada tingkat dasar tidak mengalami perubahan nomer massa dan nomer atom. Seperti pada kasus
spektrum atomik, spektrum sinar gamma sebuah inti menunjukkan garis-garis tajam. Hal ini
berarti bahwa inti memiliki tingkat energi yang diskrit. Energi dari pancaran sinar gamma
diberikan oleh persamaan berikut.
f i
E E E h = A = v ....................................................................................1)
Jika E
f
sama dengan keadaan dasar, pada keadaan ini inti tidak akan memancarkan foton.
Sebaliknya inti akan memancarkan satu atau lebih foton sebelum menuju ke keadaan dasar,
seperti yang tampak pada Gambar 2 berikut ini.







Gambar 2. Pancaran Sinar Gamma

X
A
Z
Y
A
Z

E
i
E
f
Sejumlah energi yang dilepaskan

f i
E E E = A

Gambar 1. Bagan pelepasan sejumlah energi saat adanya transisi

3
Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik dengan kekuatan penetrasi yang
cukup tinggi. Sinar gamma tidak menyebabkan banyak ionisasi dan tidak dipengaruhi oleh
medan listrik atau medan magnet, dan kenyataanya interaksi sinar gamma dengan zat yang
berbeda tergantung dari muatan partikel penyusunnya zat tersebut. Biasanya sinar gamma
menyertai proses peluruhan beta ataupun alpha.

1.2 Koefisian Absorpsi Foton
Intensitas sinar- yang melalui suatu bahan mengikuti hukum eksponensial, karena
perubahan intensitas sebanding terhadap intensitas mula-mula dan ketebalan bahan, yakni

x
e I I

0
= ................2)
dengan I merupakan intensitas sinar,
0
I adalah intensitas awal sinar yang melintangi bahan dan
x adalah ketebalan sebuah bahan. Di mana intensitas yang hilang dari berkas sinar gamma
adalah I
0
-I. Intensitas bisa juga dinyatakan dalam fluks, yang menyatakan jumlah energi dari
sinar gamma yang mengenai permukaan secara tegak lurus persatuan waktu, dan dapat
dirumuskan sebagai berikut.
v| h I = .......................................................................................................3)
Di mana v h merupakan energi masing-masing foton sedangkan | adalah fluks (jumlah foton
yang menumbuk satu satuan luas dalam satu satuan waktu setelah menembusnya). Selanjutnya
dengan mengkombinasikan persamaan 2 dan 3 maka diperoleh
v|

h
x
e I I = =
0


x
e
h
I

v
|
0
= , di mana
o
h
I
|
v
=
0
, sehingga diperoleh:

x
e

| |
0
= ...................................................................................................4)
dengan | adalah jumlah fluks,
0
| merupakan fluks awal dan adalah koefisien absorpsi linier.
Selain koefisien absorpsi linier , terdapat juga koefisien absorpsi massa
m
, koefisien
absorpsi atomik
a
, dan koefisien absorpsi elektronik
e
. Keempat koefisien ini berhubungan
satu sama lain sesuai dengan persamaan berikut.

e a
Z =

e
A
a
A
A
Z N
A
N
= =

e
A a A
m
A
Z N
A
N
= = = .5)
Di mana Z menyatakan nomor atom, A menyatakan berat atom, menyatakan kerapatan dalam
satuan g/cm
3
, dan N
A
merupakan Bilangan Avogadro. Oleh karena x tidak memiliki satuan,
jika x dinyatakan dalam cm, akan dinyatakan dalam cm
-1
. Berdasarkan koefisien absorpsi

4
massa
m
, x dinyatakan dalam gm/cm
2
dan
m
dalam cm
2
/gm. Sama halnya jika x dinyatakan
dalam atom/cm
2
atau elektron/cm
2
,
a
dan
e
dinyatakan dalam cm
2
/atom dan cm
2
/elektron.
Di sini juga dikenal adanya istilah ketebalan setengah (x
1/2
) yang merupakan karakteristik
bahan penyerap dan didefinisikan sebagai ketebalan di mana intensitas sinar berkurang setengah
dari intensitas awalnya yang dinyatakan sebagai berikut.
2 / 1
0
2
1 x
e
I
I
= =
m
x

693 , 0 693 , 0 2 ln
2 / 1
= = = ........................................................................6)
Berdasarkan persamaan 6, semakin besar maka semakin kecil ketebalan materi yang
diperlukan untuk mengurangi intensitas sinar gamma. Jika sinar penumbuk tersusun atas foton
dengan energi yang berbeda, persamaan (6) digantikan dengan persamaan berikut.
...
3
03
2
02
1
01
+ + + =
x
e
x
e
x
e

|

| | ......................................................7)
dimana
01
| ,
02
| ,
03
| , dan
1
,
2
,
3
,.. masing-masing merupakan fluks awal dan
koefisien absorpsi dari foton dengan energi
1
v h ,
2
v h ,
3
v h ,....
Koefisien melibatkan dua proses, yaitu pertama proses dimana foton kehilangan
energinya seluruhnya atau sebagian oleh sebuah partikel yang sangat mudah diserap. Energi
yang ada akan digunakan dan disimpan dalam bahan. Kedua, proses di mana foton dihamburkan
keluar tanpa absorpsi energi pada bahan. Oleh karena itu dapat ditulis sebagai gabungan dari
dua proses sebagai berikut.
s a
+ = ................................................................................................8)
a
menyatakan koefisien absorpsi (penyerapan) dan
s
adalah koefisien penghamburan.

1.3 Interaksi Radiasi Sinar Gamma dengan Materi
Dalam interaksi sinar gamma dengan suatu materi terdapat tiga proses utama di mana
foton kehilangan energinya berdasarkan interaksi dengan bahan yang terjadi antara lain melalui
a. efek foto listrik (P.E.),
b. efek compton (C.E.) oleh elektron dalam atom dan
c. produksi pasangan (P.P.), yakni pembentukan pasangan elektron positron sebagai hasil
interaksi sinar gamma dengan medan listrik dari inti atom .
Rentangan energi foton untuk efek foto listrik antara 0,01 sampai 0,5 MeV, untuk efek
compton antara 0,1 sampai 10 MeV, dan untuk produksi pasangan diawali dari 1,02 MeV dan
meningkat sebanding dengan peningkatan energi gamma. Dari ketiga rentangan energi ini dapat
dianalogikan persamaan sebagai berikut.
( ) x I I
E P
A = A
t

. .
..9a)

5
( ) x I I
E C
A = A
o

. .
..9b)
( ) x I I
P P
A = A
o

. .
..9c)
t
,
o
dan
o
berturut-turut merupakan koefisien absorpsi untuk efek foto listrik, efek
Compton dan untuk produksi pasangan. Dengan menjumlahkan ketiga persamaan tersebut
secara bersamaan, maka diperoleh

( )
x I I
I I I I
P P E C E P
A + + = A
A A A = A
) (
) ( ) (
. . . . . .
o o t

10)
Berdasarkan persamaan 2 di mana x I I A = A dan persamaan 11 dapat ditulis menjadi
x I x I A + + = A ) (
o o t
, dan dapat disederhanakan menjadi
o o t
+ + = .11)
Di samping itu, terdapat beberapa proses yang tidak berkontribusi pada koefisien absorpsi
dalam rentangan energi sinar gamma yaitu Penghamburan Rayleigh, Penghamburan Thomson,
Efek Foto Listrik Nuklei, Hamburan Resonansi Nuklei, dan Hamburan Elastik Potensial Nuklei
(Penghamburan Delbruck)
Efek Foto Listrik
Efek ini lebih mengutamakan foton penembak dengan energi yang rendah, dimana foton
penembak diserap oleh satu elektron pada atom. Pada prosesnya foton menghilang dan elektron
terlepas seperti yang tampak pada Gambar 3 dengan energi kinetik K
e
dan dirumuskan sebagai
berikut.
n e
I h K = v .......................................................................................12)
Di mana v h menyatakan Energi foton penembak dan I
n
merupakan Energi ikat elektron orbital







jika energi foton cukup kecil, maka dapat diabaikan efek realtivitasnya, dan energi yang
cukup besar dengan mengabaikan energi dari orbital elektron. Pengabaian energi dari K-elektron
dapat dituliskan (dalam rentangan 0,1 Mev sampai 0,35 Mev)
( ) ( )2
7
4 5
0
2 4 137 1 n Z
K a
t = ....................................................................13a)
di mana
( )( )
2 25
2
2
0
2
0
10 651 , 6 / 3 / 8 cm c m e

= = t ............................................13b)
dan
hv
c m
n
2
0
= .............................................................................................13c)
foton
sesudah sebelum
elektron
Gambar 3. Efek
Fotolistrik

6
dengan Z merupakan nomor atom absorber, e muatan elektron, c kecepatan cahaya, dan m
0

adalah massa diam elektron.
Efek Compton
Proses ini merupakan proses di mana foton penembak berinteraksi dengan elektron bebas
dan dihamburkan dengan energi yang lebih rendah, energi diam yang digunakan untuk
menghamburkan elektron. Karena elektron yang terdapat pada atom terbebas dan energi foton
penumbuk secara komparatif sangat tinggi, penghamburan foton dengan elektron pada atom ini
disebut sebagai Penghamburan Compton. Foton penumbuk dengan energi v h menumbuk sebuah
elektron bebas dengan massa diam m
0
. Hasil interaksi dihamburkan oleh foton dengan energi
' v h (< v h ) pada sudut u dan sebuah elektron terhambur dengan energi kinetik K
e
pada sudut |
seperti yang tampak pada Gambar 4










Berdasarkan hukum kekekalan momentum dan energi, dengan menggunakan ungkapan
relativitas maka diperoleh persamaan berikut.
( ) ( ) | | | u v v cos 1 cos / ' /
2
1
2
0

+ = c m c h c h ..........................................14a)
( ) ( ) | | | u v sin 1 sin / '
2
1
2
0

= c m c h ....14b)
( )
(

+ =

1 1 '
2
1
2 2
0
| v v c m h h ...14c)
Di mana c v/ = | denga v merupakan kecepatan elektron setelah tumbukan.
Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut.








sebelum
x
y
O
' hv

O
x
y
' hv

sesudah
|
|
.
|

\
|

= 1
1
1
2
2
0
|
c m E

|
|

Gambar 4. Hamburan
Compton
|
O
x
y
' hv
( )
2
1
2 2 4 2
0
c p c m E + =
|
u
Gambar 5. Hamburan Compton
Foton datang
c
hv
p hv E = = ;
c
hv
p hv E
'
; ' ' = =
Foton terhambur

7








Pada sumbu x : u | cos cos '
e
p p p + =
Pada sumbu y : u | sin sin ' 0
e
p p =
Sehingga diperoleh:
( )
+
= +
=
=
2 2 2
2 2 2 2
2 2 2
cos ' 2 '
sin sin '
cos cos '
e
e
e
p pp p p
p p
p p p
|
u |
u |
.....15)
Berdasarkan hukum kekekalan energi :
' 2 2
'
e
K mc E mc E + + = +
Dapat ditulis:
'
' '
e
K c p pc E E = =
( )
'
'
e
K c p p =
Dari persamaan energi relativitas diperoleh:
( ) ( )
2
' 2 2
2
2 2
) (
e e
K mc c p mc E + = + =
( ) ( )
2
' ' 2
2
2 2
2
2
2 ) (
e e e
K K mc mc c p mc + + = +

2
' ' 2 2
2 ) (
e e e
K K mc c p + =

2
' ' 2 2 2
2
e e e
K K mc c p + =
Karena ( )
'
'
e
K c p p = , maka
( ) ( )
2 2 2 2 2
' ' 2 c p p c p p mc c p
e
+ =
( ) ( )
2 2
' ' 2 p p p p mc p
e
+ =
Dengan mensubstitusi hasil ini ke persamaan 16, diperoleh:
( ) ( )
2 2 2
' ' 2 cos ' 2 ' p p p p mc pp p p + = + |
( )
2 2 2 2
' ' 2 ' 2 cos ' 2 ' p pp p p p mc pp p p + + = + |
( ) ' ' cos ' pp p p mc pp = |
( ) ' ' cos ' pp p p mc pp = |
( ) ( ) ' cos 1 ' p p mc pp = |
Selanjutnya dibagi dengan mcpp, maka diperoleh:

( ) ( )
'
' cos 1
pp
p p
mc

=
|

|
u
| cos ' p
| sin ' p
u cos
e
p
u sin
e
p
e
p
Gambar 6. Analisis Hamburan Compton

8

( )
p p mc
1
'
1 cos 1
=
|

Karena

h
p = dan
'
'

h
p = maka :

( )
h h mc
|
=
' cos 1

( )
h mc
|
=
' cos 1

Sehingga diperoleh:
( ) | = ' cos 1
mc
h

Atau dapat dituliskan sebagai berikut.
( ) u cos 1 '
0

|
|
.
|

\
|
=
c m
h
...17)
' adalah panjang gelombang setelah tumbukan da adalah panjang gelombang sebelum
tumbukan. Sedangkan u adalah sudut antara awal dan akhir dari hamburan foton seperti pada
gambar 10.
Diketahui bahwa
v
c
= , maka persamaan 17 dapat ditulis
( ) u cos 1
'
0

|
|
.
|

\
|
=
c m
h
v
c
v
c

( ) u cos 1
1
'
1
2
0

|
|
.
|

\
|
=
c m
h
v v

( ) u cos 1
1
1
'
2
0

|
|
.
|

\
|
+
=
c m
h
v
v
Jika penyebut dan pembilang pada sisi kanan persamaan ini dikalikan v, dan jika kedua sisi
persamaan dikalikan dengan h, maka hasilnya adalah:

( ) u cos 1 1
'
2
0
+
=
c m
hv
hv
hv ..18)
Persamaan 18 menyatakan energi yang dihamburkan oleh foton pada energi awal dan sudut
hamburnya. Hamburan elektron memiliki energi kinetik yaitu:

( )
( ) u
u
cos 1 1
cos 1
'
2
0
2
0
+

= =
c m
hv
c m
hv
hv hv hv T ...19)
Energi kinetik bernilai maksimum jika cosu =-1 atau u =180
0
, yaitu foton akan dipantulkan kea
rah semula. Energi elektron dalam hal ini adalah:

9

0
2
0
0
max
2
1
hv
c m
hv
T
+
= ....20)
Batas maksimum tersebut sering disebut sebagai tepi Compton. Elektron menerima energi
terkecil dalam tumbukan di mana foton berlanjut dengan frekuensi awal ke arah depan dan
elektron dikeluarkan dengan kecepatan mendekati 0 dengan arah 90
0
dari jalur foton.
Kebolehjadian total Compton dari peristwa penyinaran dengan cara hamburan adalah:

(

+
+
+ +
|
.
|

\
|
+
+
+ +
=
2 2 0
) 2 1 (
3 1
) 2 1 ln(
2
1
) 2 1 ln(
1
2 1
) 1 ( 2 1
4
3
o
o
o
o
o
o o
o
o
o
o
e
..21)
dengan

2
0
0
c m
hv
= o
Jika o
e
dikalikan ) / ( A Z
n
hasilnya adalah koefisien absorpsi Compton ) (
1
cm o , diperoleh
bahwa:
o o
e
A
Z
N = .................22)
Koefisien o merupakan pengukuran terhadap kemungkinan terjadinya hamburan foton dari
pancaran terhadap absorber per cm. Besarnya jumlah energi yang dibawa oleh foton dalam
hamburan atau banyaknya energi yang diserap oleh setisp elektron dinyatakan dalam bentuk
s e
o
dan
a e
o .
s e
o disebut tampang lintang Compton untuk energi dari hamburan foton, yang
dinyatakan dengan:

(

+
+
+
+
+ + =
3
2
2 2
2
3 0
) 2 1 ( 3
8
) 2 1 (
) 1 2 2 )( 1 ( 2
) 2 1 ln(
1
8
3
o
o
o o
o o o
o
o
o
s e
.23)
sedangkan
a e
o merupakan tampang lintang Compton untuk energi yang diserap oleh elektron.
Penjumlahan tampang lintang untuk energi yang diabsorpsi dan tampang lintang untuk energi
yang dihamburkan dapat dirumuskan sebagai berikut.

a e s e e
o o o + = ...24)

Produksi Pasangan
Proses yang ketiga ini memiliki suatu syarat di mana foton haruslah memiliki energi
ambang tertentu agar proses ini dapat berlangsung. Energi ambang adalah energi maksimal yang
harus dimiliki elektron agar terjadinya proses pembentukan pasangan (Subratha, 2004). Energi
ambang untuk proses ini adalah sama dengan 2m
0
c
2
. Hal ini mengungkapkan bahwa, jika foton
energinya lebih besar dar 1,02 MeV menumbuk sebuah logam dengan Z yang tinggi, foton hilang
dan dan pada posisinya terbentuklah pasangan elektron-positron seperti yang terlihat pada
Gambar 7a. Jika pasangan ini diproduksi pada kamar kabut dalam medan magnet, elektron dan

10
positron akan dibelokkan dengan arah yang berlawanan seperti yang ditunjukkan pada Gambar b
sebagai berikut.













Produksi pasangan terjadi pada inti dan kekekalan energi dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut.
nuc
E E E c m h + + + =
+
2
0
2 v ................................................................25)
Di mana v h : Energi foton penumbuk

2
0
2 c m : Energi yang ekivalen dengan massa diam elektron dan positron
nuc
E E E , ,
+
: Energi kinetik elektron, positron, dan inti terhambur.
Oleh karena massa inti sangat besar, sehingga dihasilan energi kinetik yang sangat kecil, maka
nuc
E dapat diabaikan. Dengan demikian persamaan 25 menjadi
+
+ + = E E c m h
2
0
2 v .............................................................................2

Gambar 7 b. Produksi Pasangan Pada Kamar Kabut Gambar 7a. Pembentukan Pasangan Elektron
Positron


11