Anda di halaman 1dari 47

CASE REPORT SESSION

HERNIA INGUINALIS LATERAL


Siti Aisyah M.Luqman Hasan Raka Suriakusumah 12100112006 12100112013 12100112003

SMF ANESTESI / RS AL ISLAM BANDUNG

IDENTITAS PASIEN

Nama Usia Jenis Kelamin Alamat Tgl Masuk Tgl Periksa

: Nn.N : 20 tahun : Perempuan : Rancasari : 31/10/2013 : 31/10/2013

ANAMNESA
Pasien datang dengan keluhan benjolan di lipatan paha kanan yang hilang timbul sejak 5 tahun yang lalu. Benjolan muncul di lipat paha kanan ketika pasien batuk dan jika sulit BAB atau BAB keras, benjolan menghilang ketika pasien berbaring dan masih bisa dimasukkan. Awalnya benjolan tidak terasa nyeri, namun sejak 8 hari SMRS benjolan tersebut terasa nyeri.

Keluhan tidak disertai dengan mual, muntah, demam, dan gangguan dalam BAK. Pasien mengeluh BAB susah dalam 5 hari terakhir.

Pasien sudah pernah berobat dan disarankan untuk operasi oleh dokter. Pasien tidak memiliki riwayat gastritis, alergi obat, penyakit asma, penyakit jantung, dan penyakit ginjal. Pasien juga tidak menggunakan gigi palsu dan lensa kontak. Pasien belum pernah di operasi sebelumnya

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum Kesadaran Tanda vital Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu BB = 53 kg.

: Tampak sakit ringan : Kompos mentis : = 120/80 mmHg = 80 x/menit = 22 x/menit = 37,00 C

Status Generalis

Kepala

Leher :

Thoraks :

:Konjungtiva tidak anemis Sklera tidak ikterik Mulut : gigi palsu (-) gigi depan menonjol (-) Uvula terlihat(mallampati 1) Tonsil : membesar (-) Mandibula : tidak menonjol Mallampati score 1 Leher tidak pendek KGB tidak teraba JVP tidak meningkat Gerak sendi temporo-mandibular dan vertebra servikal baik (tidak terbatas) Bentuk dan gerak simetris VBS ka = kiri, Ronkhi -/-, Wheezing -/Bunyi jantung reguler murni, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen : Datar, lembut, Hepar dan lien tidak teraba, Bunyi Usus (+) Normal, nyeri tekan (-) Ektremitas : Akral hangat, Edema (-/-), sianosis (-),

Status Lokalis

Inspeksi : tidak ada perubahan warna, tampak adanya massa, manuver (+) Palpasi : ukuran 1 x 1,5 , reponible Finger test: tahanan pada ujung jari Auskultasi : Bising usus (+)

Diagnosis Banding
-

Hernia inguinalis lateral dextra Hernia inguinalis medial dextra

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaaan Laboratorium Radiologi

Hasil Pemeriksaan
Darah Rutin Hasil

Hb Leukosit Hematokrit Trombosit Bleeding time Masa pembekuan (CT)

12,1 g/dl 8.300 sel/uL 35,3 % 200.000 sel/uL

100 900

- Radiologi thorax: tidak tampak pembesaran jantung, radiologik pulmo tidak tampak kelainan

Diagnosis Kerja

Hernia Inguinalis Lateral Dextra

HERNIA INGUINAL
REFERAT

Pendahuluan

Hernia inguinalis merupakan kasus bedah digestif terbanyak setelah appendisitis. Sampai saat ini masih merupakan tantangan dalam peningkatan status kesehatan masyarakat karena besarnya biaya yang diperlukan dalam penanganannya dan hilangnya tenaga kerja akibat lambatnya pemulihan dan angka rekurensi.

Definisi

Hernia didefinisikan adalah suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan melalui daerah yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding. Meskipun hernia dapat terjadi di berbagai tempat dari tubuh kebanyakan defek melibatkan dinding abdomen pada umumnya daerah inguinal. Hernia inguinalis merupakan protrusi viscus (organ) dari kavum peritoneal ke dalam canalis inguinalis.

Anatomi

Etiologi
Penyebab terjadinya hernia inguinalis masih diliputi berbagai kontroversi, tetapi diyakini ada tiga penyebab Peninggian tekanan intra abdomen yang berulang Adanya kelemahan jaringan /otot. Tersedianya kantong

Faktor Risiko

Mengangkat barang yang terlalu berat Penyakit kronik paru paru Akibat sering mengejan pada saat buang air besar Gangguan metabolisme pada jaringan ikat Asites (penumpukan cairan abnormal di dalam rongga perut) Diare atau kejang perut Kehamilan Aktifitas fisik yang berlebihan Bawaan lahir (kongenital)

Klasifikasi

Menurut Letaknya
Hernia

Inguinal

Indirek/Lateralis Direk/Medialis

Hernia

Femoral Hernia Umbilikal Hernia Diagfrahma

Lokasi terjadinya hernia

24

Menurut proses terjadinya


Hernia

bawaan atau kongenital Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat)

Menurut sifatnya
Hernia

reponibel Hernia irreponibel Hernia strangulata atau inkarserata

Patofisiologi

Gejala Klinis

Pasien mengeluh ada tonjolan di lipat paha, pada beberapa orang adanya nyeri dan membengkak. Beberapa pasien mengeluh adanya sensasi nyeri yang menyebar biasanya pada hernia ingunalis lateralis, perasaan nyeri yang menyebar hingga ke scrotum. Dengan bertambah besarnya hernia maka diikuti rasa yang tidak nyaman dan rasa nyeri, sehingga pasien berbaring untuk menguranginya.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: Pasien saat berdiri dan tegang, pada hernia direct kebanyakan akan terlihat simetris,dengan tonjolan yang sirkuler di cicin eksterna. Tonjolan akan menghilang pada saat pasien berbaring . sedangkan pada hernia ingunalis lateralis akan terlihat tonjolan yang yang bebentuk elip dan susah menghilang pada saat berbaring.

Palpasi: Dinding posterior kanalis ingunalis akan terasa dan adanya tahanan pada hernia inguanalis lateralis. Sedangkan pada hernia direct tidak akan terasa dan tidak adanya tahanan pada dinding posterior kanalis ingunalis. Jika pasien diminta untuk batuk pada pemeriksaan jari dimasukan ke annulus dan tonjolan tersa pada sisi jari maka itu hernia direct. Jika terasa pada ujung jari maka itu hernia ingunalis lateralis. .

Hernia Inguinal Lateralis

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiologis tidak diperlukan pada pemeriksaan rutin hernia. Ultrasonografi dapat digunakan untuk membedakan adanya massa pada lipat paha atau dinding abdomen dan juga membedakan penyebab pembengkakan testis.

Diagnosa Banding

Hidrokel. mempunyai batas atas jelas, iluminensi positif dan tidak dapat dimasukkan kembali. Pada pemeriksaan traniluminasi dan diapanoskopi akan memberikan hasil positif. Limfadenopati inguinal. Perhatikan ada infeksi pada kaki sesisi atau tidak. Lipoma atau herniasi lemak properitoneal melalui cincin inguinal. Testis ektopik, yaitu testis yang masih berada dikanalis inguinalis

Penatalaksanaan

Hampir semua hernia harus diterapi dengan operasi, karena potensinya menimbulkan komplikasi inkarserata atau strangulata lebih besar. Terapi konservatif dengan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, seperti pemakaian sabuk/korset. Dilakukan reposisi postural pada pasien dengan hernia inkarserata yang tidak menunjukkan gejala sistemik.

Bagaimana penanganan pada pasien ini?


1. 2. 3.

Tirah baring Diet rendah lemak Medikamentosa :


1. 2.

infus RL (rumatan) : 93 ml/jam 30 gtt/menit (makro) Cefotaxim 1 gr/12 jam

4.
5.

Rencana tindakan operatif :Hernioraphy Terapi suportif :


1. 2. 3.

menerangkan dan menjelaskan penyakit pada keluarga memberi semangat pada pasien untuk turut menjalani terapi dengan baik memberi nasehat agar pasien lebih memperhatikan gizi dalam makanan

Terapi
Hernioraphy

Rencana Jenis Anestesi Yang Akan Digunakan

General Anestesi ( ASA I )

Kebutuhan cairan intraoperatif

Rumatan

4 x 10 kg = 40 2 x 10 kg = 20 1 x 33 = 33

Total : 93 ml/jam Puasa Rumatan x 6 jam = 93 x 6 = 558 ml Operasi Operasi sedang 4 x 53 = 212 ml/jam

Cairan 1 jam pertama 93+ (558) + 212

= 484 ml/jam 161 tts/menit (makro)

Manajemen Intra anestesi


Tanggal anestesi Persiapan anestesi Cairan RL Jenis pembedahan Metode anestesi

: 1 November 2013 : Puasa selama 6 jam sebelum anestesi,

Diagnosis prabedah : hernia inguinalis lateral dextra : hernioraphy : NU

Pramedikasi : ceftriakson 1 gr ( jam 10.00), ondansentron (o,1 mg x 53 kg = mg 4 ml) Induksi

:
: Safol 10mg/ml (53kg x 2 ml = 106 mg 10,5 ml)

Hypnotic

Analgesik

: fentanyl 50g/ml (1 mikro x 53 kg = 53 mikrogram 1 ml)

Muscle relaxan: tramus 50mg/5ml ml (0,3 x 53 kg = 17.6 mg 1,7 ml)


Maintenance

: N20 2 liter+O2 3 liter + Sevoflurane 0.8%

Waktu mulai induksi : 15.00

Trias anastesi
No Jenis obat 1. 2. 3. Propofol Ketamin Midazola m Dosis IV 2-2,5 mg/kg 2-3 mg/kgBB 0,2-0,4 mg/kg No 1. 2. Jenis Obat Atracuriu m Rocuroniu m Dosis IV 0,3-0,6 mg/kgBB 0,6-1 mg/kgBB

1.
2. 3.

Morfin
Fentanyl Pethidin

0,05-0,3 mg/kgBB
1-5 mikro/kgBB 0,2-0,5 mg/kgBB

Dosis inhalasi
Sevoflurane : Induksi dimulai dengan aliran O2 > 4liter/menit atau campuran N2O : O2 = 3 : 1 aliran > 4 liter / menit, kemudian sevofluran 8 vol % Rumatan 2-4 vol% sevofluran + campuran N2O +O2 ( 3 : 1).

Obat-obatan intraoperatif lainnya

Tramal 1 cc Sulfat atropin 1 cc Pronalges supp Cortidex 1 cc

Instruksi Pascaoperatif

Tutofusin 15 gtt/mnt Tramal 50 mg (bolus) Tramal 100 mg (drip) Ketesse 25 mg Tramal supp 50 mg

Observasi TTV intraoperatif


Jam
15.00

Nadi (x/mnt) TD (mmHg) SpO2 (%)


75 120/70 97

15.15
15.30

75
68

110/70
110/70

97
97

Komplikasi

Hernia inkarserasi :
Hernia

yang membesar mengakibatkan nyeri dan

tegang Tidak dapat direposisi Adanya mual ,muntah dan gejala obstruksi usus.

Hernia strangulasi :
Gejala

yang sama disertai adanya infeksi sistemik Adanya gangguan sistemik pada usus.

Prognosis

Terapi bedah atau operatif adalah bersifat harus. Karena obat-obatan maupun terapi lain tidak akan memberikan kesembuhan. Reparasi pertama memberikan tingkat keberhasilan paling tinggi, sedang operasi pada kekambuhan memberikan angka residif sangat tinggi.

Terima kasih

Hernia berdasarkan Sifatnya

Hernia reponibel; bila isi hernia dapat keluar masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Hernia ireponibel; bila isi kantong hernia tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia. Hernia ini disebut hernia akreta. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus. Hernia inkarserata atau hernia strangulata; bila isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali kedalam rongga perut. Akibatnya terjadi gangguan pasase atau vaskularisasi.

Teknik Operasi

Open Anterior Repair (teknik Bassini) Open Posterior Repair (iliopubic tract repair dan teknik Nyhus) Tension-FreeRepair With Mesh (teknik Lichtenstein dan Rutkow ) Laparoscopic