Anda di halaman 1dari 18

TEORI AKUNTANSI

S1-AKUNTANSI

Arum Nursahadati
(041311323003)
Siti Zulaikah
(041411323002)
Ajeng Putri K.
(041411323056)
Yenny Ratnasari
(041411323080)
Alfiyeni Nurul A.
(041411323030)
Atika Nirmala Sari
(041411323046)
Nurfatun Rahmania(041411323049)
Sara Kartika A.
(041411323018)
Megha Anindya
(041411323009)
Yoshita Rizqa S.
(041411323010)
Ilma Fauziah
(041411323008)

Exit

Price Accounting merupakan sistem


akuntansi yang mengunakan harga jual untuk
mengukur posisi keuangan dan kinerja suatu
badan usaha/perusahaan
Dua hal yang perlu diperhatikan:
1. Nilai aset non moneter disesuaikan dengan
harga jual pada saat ini yang merupakan
bagian dari laba yang belum terealisasi
2. Perubahan daya beli diperhitungkan untuk
mengukur modal finansial dan hasil operasi

1.
MacNeal

Menurut MacNeal laporan keuangan yang


berbasis historis tidak mampu memberikan
informasi sesuai pemegang saham,sehingga para
akuntan
dituntut
menyesuaikan
dengan
kebutuhan pemegang saham akan informasi
mengenai kekayaan bersih dan perubahannya
dalam periode tertentu.

MacNeal Menyarankan 3 poin:


1.Aset-aset yang mudah dipasarkan dinilai dengan
harga pasar.
2.Aset-aset reproduksi (mesin-mesin) dan tidak
mudah dipasarkan dinilai dengan nilai ganti
(replacement cost)
3.Aset-aset yang tidak untuk reproduksi dan tidak
mudah dipasarkan (seperti alat kantor) dinilai
dengan historis.
sedangkan untuk laba/rugi diakui baik yang telah
direalisasi maupun yang belum terialisasi.

Mengusulkan penggunaan exit price dengan judul


Continuously
Contemporary
Accounting
(CoCoA).
Chamber
berpendapat
bahwa
perusahaan adalah organisasi yang selalu harus
menyesuaikan diri dengan kondisi terkini, karena
tugas perusahaan adalah melakukan aktivitas
pembelian dan penjualan barang dan jasa. Manajer
harus berperilaku menyesuaikan diri secara terusmenerus dengan kondisi lingkungan ekonomi agar
perusahaan tetap bertahan hidup dan mengalami
peningkatan
aktivitas,
sehingga
mampu
meningkatkan kekayaan pemegang saham.

Kemampuan keuangan perusahaan tercermin dalam


laporan keuangan. Agar kemampuan perusahaan
tampak realistis, maka aset-aset perusahaan ditampilkan
dengan exit price. Kemampuan perusahaan dalam
memnghasilkan laba ditunjukkan oleh nilai sekarang
untuk kas bersih yang dihasilkan mesin-mesin produksi
di masa datang. Bila perusahaan memang memiliki
kemampuan tinggi, nilai kas bersih tersebut akan jauh
lebih tinggi dibanding dengan harga historisnya. Oleh
karena itu tampilan aktiva mesin-mesin dengan harga
historis sungguh tidak mencerminkan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba.

Sterling (1970) percaya bahwa tidak ada satu metode


pun yang tepat untuk menentukan laba, sebab
masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.
Sterling berfikir untuk menemukan
metode terbaik apa yang dapat digunakan
untuk mengukur laba. Menurut Sterling
kandungan informasi akuntansi yang ada
di dalam laporan keuangan tetap harus
memiliki kualitas reliabel dan relevan.

Kualitas informasi yang relevan sangat


dibutuhkan
ketika
keadaan
pasar
produk dalam kondisi bersaing. Dalam
hal ini Sterling berpendapat bahwa
pemakai
laporan
keuangan
yang
berbeda
memiliki
masalah
yang
berbeda, sehingga calon keputusan pun
berbeda. Kesimpulannya adalah metode
penilaian apa yang akan digunakan,
tergantung dari calon keputusan para
pemakai laporan keuangan.

Memberikan informasi yang bermanfaat


Informasi yang relevan dan reliable
Mempunyai sifat additive
Dapat digunakan sebagai dasar alokasi
Sesuai dengan kenyataan
Objective
Dapat digunakan untuk mengukur risiko
Apabila harga jual berbeda jauh dengan harga

beli, menunjukkan risiko yang tinggi

Konsep Laba
Yang diinginkan oleh pemegang saham dari laporan keuangan adalah
menjawab 5 pertanyaan berikut:
1. Bagaminama agar perusahaan dapat tampak lebih baik dari periode
sebelumnya
2. Bagaimana
perusahaan mencapainya,apa yang dikerjakan oleh
manajemen,bagaimana manajemen mengerjakannya,apakah terdapat aspekaspek kinerja yang menonjol secara menyakinkan misal bidang
produksi,pemasaran dan lain-lain fungsi perusahaan
3. Bagaimana kinerja perusahaan bila dibanding dengan perusahaan yang lain
yang sama
4. Apa yang dikerjakan perusahaan untuk masa yang akan datang
5. Bagaimana dapat menghasilkan amnfata bagi pemegang saham

Dalam menjawab kelima pertanyaan


tersebut, solusi exit price tidak
relevan,
karena
tidak
memberi
informasi mengenai laba perusahaan.
Weston (dalam Sterling) mengatakan
bahwa exit price hanya cocok apabila
perusahaan
direncanakan
untuk
dilikuidasi.

1.

2.

3.

Adam Smith (Ekonom) membedakan antara nilai yang berlaku dan nilai
dalam transaksi pertukaran. Nilai yang berlaku adalah harga hsitoris.
Sedangkan nilai yang digunakan dalam pertukaran adalah harga kini.
Adam smith setuju bahwa pada awalnya oenilaian menggunakan harga
historis namun selanjutnya menggunakan harga kini.
Solomon (dalam Sterling) menyatakan bahwa penyajian
dengan exit price dengan alasan opportunity cost kurang
tepat, sebab opportunity cost dalam penggunaan aset
untuk produksi berhubungan dengan alternatif terbaik
dimasa yang akan datang tanpa menjual aset tersebut.
Chamber juga mendukung pendapat solomon sebab aset
(mesin-mesin) yang masih mampu bereproduksi dan
produknya laku dipasaran pasti mesin tersebut mempunyai
harga yang lebih tinggi dari harga historisnya atau nilai
bukunya.

Penggunaan exit price mengalami saat krisis


pada saat mengukur perubahan-perubahan
harga aset dan kewajiban yang tidak melalui
transaksi nyata, sebab hampir tidak ada
media konfirmasi yang objektif. Sebagian
besar
akuntan
menyatakan
bahwa
penggunaan exit price terlalu radikal.