Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

SINDROM MIELODISPLASIA
JOSE ADELINA PUTRI, S. KED
L E O N L . G AYA , S . K E D

Perseptor: dr. Juspeni Kartika, Sp. PD

DEFINISI
Sindroma mielodisplasia (Myelodysplastic Syndrom /
MDS) adalah suatu kelainan dari sel punca (stem cell)
darah yang ditandai dengan terganggunya proliferasi dan
pendewasaan sel hematopoesis.
Sindrom myelodisplasia atau myelodisplasia syndrome
(MDS) adalah kelainan neoplastik hemopoetik klonal
yang disebabkan oleh transformasi ganas sel induk
myeloid sehingga menimbulkan gangguan maturasi dan
diferensiasi seri myeloid, eritriod atau megakariosit, yang
ditandai dengan hematopesis inefektif, sitopenia pada
darah tepi dan sebagian akan mengalami transformasi
menjadi leukemia myeloid akut

ETIOLOGI
Penuaan : Risikio mutasi meningkat sebanding
dengan usia.
Kimia Benzena dan minyak bumi
Rokok
Sitotoksik Kemoterapi MDS sekunder
Radiasi (paparan tingkat tinggi)
Kelainan bawaan : Sindrom Bloom, Down
syndrome, anemia Fanconi.

PREVALENSI
Sekitar 80% sampai 90% dari semua pasien
dengan MDS umumnya lebih dari 60 tahun.
Secara umum, pria dan kulit putih memiliki
insiden yang lebih tinggi dari penyakit ini

PATOFISIOLOGI
Pada MDS terjadi ketidakserasian antara proliferasi
dengan diferensiasi, dimana daya proliferasi masih
cukup tetapi terjadi gangguan diferensiasi atau
maturasi sehingga terjadi hemopoesis inefektif,
dengan kematian premature sel (eritroid, myeloid,
megakariosit) dalam sumsum tulang sebelum
sempat dilepaskan ke darah tepi. Hal ini berakibat
terjadinya sumsum tulang hiperseluler, tetapi
terjadi sitopenia pada darah tepi

PROSES HEMATOPOESIS

GEJALA KLINIS
Ketika eritrosit terganggu : anemia, pucat,
konjungtiva anemis, takikardia, hipotensi,
kelelahan, sakit kepala, intoleransi latihan, angina
pectoris, gagal jantung, emfisema.
Ketika trombosit tergangu: Trombositopenia
terisolasi sebagai perdarahn kecil ( perdarahan
mukosa, petechie, mudah memar, epistaksis).
Perdarahan besar (perdarahan pada GI dan
intracranial).
Ketika neutrofil yang terpengaruhi: neutropenia

Splenomegali dan hepatomegali jarang terjadi.


Jika terdeteksi, curigaNeoplasma
myeloproliferatif atau limfoproliferatif.

LANGKAH DIAGNOSIS
1. Dijumpai gejala klinik yang sesuai, terutama
pada orang tua, yang disertai sitopenia
(anemia, leukopenia, trombositopenia) persisten
atau monositosis yang tidak dapat diterangkan.
2. Pemeriksaan Apusan Darah Tepi dan Sumsum
Tulang

Jenis Sel

Apusan Darah Tepi

Sumsum Tulang

Eritoid

Ovalomakrosit
Eliptosit
Akantosit
Stomatosit
Teardrops
Normoblas
Basophilic stippling
Howel-Jolly bodies

Eritropoiesis
megaloblastoid
Nuclear budding
Ringed sideroblast
Internuclear bridging
Karioreksis
Fragmen nuclei
Vakuolisasi sitoplasma
Multinuklearitas

Mieloid

Anomali Pseudo-PelgerHuet
Hipogranulasi

Nuclear sticks
Hipersegmentasi
Ring-shaped nuclei
Auer rods

Defektif granulasi
Hambatan maturasi
pada tingkat mielosit
Peningkatan bentuk
monositoid
Lokasi abnormal
prekursor imatur

Megakariosit

Giant platelet
Trombosit hipogranuler/
Agranuler

Mikromegakariosit
Hipogranulasi
Nukleus kecil multipel

3. Jika dijumpai tanda displastik pada satu alau lebih jenis sel,
penyebab dysplasia di luar MDS harus disingkirkan (dengan
anamnesis, pemeriksaan klinik, laboratorium atau pemeriksaan
lain).
Penyebab dysplasia diluar MDS antara lain:
defisiensi vitamin B12,
defisiensi folat,
infeksi virus seperti HIV,
pemakaian antibiotika tertentu,
agen kemoterapi,
etanol,
benzene, atau timah hitam.
Apabila penyebab-penyebab ini telah dapat disingkirkan, diagnosis
MDS sudah dapat ditetapkan.

4. Langkah selanjutnya adalah melakukan


klasifikasi berdasarkan FAB atau WHO.
5. Jika fasilitas tersedia, pemeriksaan sitogenetik
dikerjakan untuk menilai prognosis. Pemeriksaan
sitokimia, imunofenotiping, imunokimia,
pemeriksaan onkogen dan kultur jaringan dapat
membantu dignosis, tetapi secara rutin tidak selalu
diperlukan.

KLASIFIKASI
Klasifikasi menurut FAB:
Jenis MDS

Darah Tepi

Sumsum Tulang

Refractory Anemia (RA)

Anemia
<1% blasts
monocytes < 1.109 /l

< 5% blast
< 15% ring sideroblast of
erythroblast

Refractory Anemia with


Ringed Sideroblast (RARS)

Anemia
<1% blasts
monocytes < 1.109 /l

< 5% blast
> 15% ring sideroblast of
erythroblast

Refractory Anemia with


Excess Blast

Anemia
>1% blasts
monocytes < 1.109

5% blast

/l

Refractory Anemia with


Excessive Blast in
Transformation to
Leukemia (RAEB-t)

Anemia
>5% blasts

20% blast

Chronic MyeloMonocytic
Leukemia (CMML)

Monocytes < 1.109 /l


Granulocytes often
increased
<5% blasts

Blast up to 20%
Promonocytes often
increased

Klasifikasi menurut WHO

TATALAKSANA
Transplantasi Sumsum Tulang (Bone Marrow
Transplatation)
Pada pasien MDS dengan prognosis jelek, transplantasi
sumsum tulang merupakan satu-satunya pilihan yang
memberikan harapan.
Transplantasi stem sel autologus akhir-akhir ini mulai
mendapatkan perhatian mengingat pada beberapa
kasus MDS dapat dijumpai hemopoesis poliklonal yang
normal setelah kemoterapi. Satu studi mendapatkan
angka disease free survival > 30% setelah 2 tahun
pasca transplantasi stem sel autologus

Kemoterapi
ARA-C 20 mg/m2/hari secara drip atau 10
mg/m2/hari secara subkutan setiap 12 jam selama
21 hari
GM-CSF atau G-CSF
Untuk merangsang diferensiasi dari hematopoetic
progenitor cells. GM-CSF diberikan dengan dosis
30500 mcg/m2/hari atau G-CSF 501600
mcg/m2/hari (0,10,3 mcg/kgBB/hari/subkutan)
selama 714 hari

LAIN-LAIN
Piridoksin, androgen, danazol, asam retinoat dapat
digunakan untuk pengobatan pasien SDM.
Piridoksin dosis 200 mg/hari selama 2 bulan
kadang-kadang dapat memberikan respon pada
tipe RAEB walaupun sangat kecil. Danazol 600
mg/hari/oral dapat memberikan response rate 21
33 % setelah 3 minggu pengobatan

STRATEGI TERAPI HOFFBRAND


Low Risk MDS, yaitu penderita dengan blast <5% dalam sumsum tulang.
Konservatif, dengan transfusi sel darah merah atau trombosit dan
pemberian antibiotika bila terjadi infeksi.
Eritropoetin atau growth factor seperti G-CSF untuk mengatasi leukopenia.
Pemberian obat imunosupresif, seperti siklosporin dan ATG dapat
dipertimbangkan
High Risk MDS, yaitu penderita dengan blast sumsum tulang 5% atau lebih.
pemberian kemoterapi, baik tunggal maupun intensif disamping terapi
suportif.
Pada pendetita kurang dari 50 tahun, stem cell transplantation merupakan
satu-satunya pengobatan yang sapat menberikan kemungkinan
kesembuhan.
Untuk High Risk MDS dengan umur tua (65 tahun) dianjurkan hanya
pemberian terapi suportif karena manfaat kemoterapi tidak sebanding
dengan efek sampingnya.

TERAPI SUPORTIF PADA MDS


(PETER L, 2011)