Anda di halaman 1dari 21

Praktikum Pengukuran

Daya Hantar Larutan


Elektrolit (L3)
Pendahuluan
A. LATAR BELAKANG
Kita mungkin telah sering mendengar istilah daya hantar
listrik, tapi bagaimana prosesnya, mungkin sama sekali
belum pernah mengetahuinya. Selain itu tidak semua
benda dapat menghantarkan listrik. Benda padat
misalnya, ada yang tidak dapat menghantarkan listrik
(Isolator) dan yang dapat menghantarkan arus listrik
(Konduktor). Begitu pula suatu senyawa, ada yang dapat
menghantarkan listrik (senyawa elektrolit) dan senyawa
yang tidak dapat menghantarkan listrik ( senyawa non-
elektrolit). Proses enyawa elektrolit bisa menghantarkan
listrik, dapat dibuktikan melalui percobaan ini. Sehingga,
diharapkan praktikan memahami bagaimana cara
mengukur daya hantar yang terjadi dan hal hal yang
mempengaruhi proses tersebut.
B. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Memahami proses hantaran listrik dalam
larutan.
2. Menentukan daya hantar listrik larutan
elektrolit.
Dasar Teori
Berdasarkandayahantarlistriknya,larutandapat
bersifatelektrolitatau non elektrolit. Larutan yang
dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan yang
bersifat elektrolit. Jika di dalam larutan elektrolit
dimasukkan 2 elektroda yang dihubungkan dengan
kutub + dan dari sumber arus searah (elemen), maka
akan timbul medan listrik di antara kedua elektroda
tadi. Akibatnya ion positif akan bergerak ke elektroda
negatif dan mengambil elektron dari elektroda ini,
begitu juga sebaliknya dengan ion negatif. Ini berarti di
dalam elektrolit tadi terjadi penghantaran muatan dari
elektroda yang satu ke yang lainnya.
Ini berarti di dalam elektrolit tadi terjadi
penghantaran muatan dari elektroda yang
satu ke yang lainnya. Kemampuan suatu
penghantar untuk memindahkan muatan
listrik disebut daya hantar listrik (Y) dengan
persamaan,
(1)

Y = daya hantar listrik


R= Hambatan/resistor
Jembatan Wheatstone

Keterangan Gambar :
S: Saklar penghubung
G:Galvanometer
E: Sumber tegangan arus
Rs:Hambatan geser
Ra dan Rb:Hambatan yang sudah di ketahui nilainya.
Rx: Hambatan yang akan di tentukan nilainya.
Saat saklar S di tutup, maka arus akan
melewati rangkaian. Jika jarum Galvanometer
menyimpang artinya ada arus yang
melewatinya, yaitu antara titik C dan D ada
beda potensial. Dengan mengatur besarnya
Ra dan Rb juga hambatan geser Rs akan
dapat di capai galvanometer G tak teraliri
arus, artinya tak ada beda potensial antara
titik C dan D. R
Dengan demikian akan berlaku
persamaanRx : a RS (2)
RB
Pelaksanaan
Skema Alat
Alat dan bahan
1. Bejana U
2. Indikator (Headphone)
3. Untai jembatan wheatstone
4. Tahanan Buzzer
6. Mistar
7. Jangka sorong
Langkah Kerja
1. Alat dan bahan disusun sesuai skema.
2. Setelah dihidupkan, tahanan buzzer (R2)
diatur dan dicatat besar R2.
3. Potensiometer diputar sedemikian rupa
sehingga bunyi pada Headphone terdengar
paling lemah. Dicatat besar R3 dan R4
pada saat itu.
4. Besar tahanan R2 divariasikan dan
langkah 3 diulang.
5. Langkah 3 dan 4 diulangi untuk setiap
kosentrasi larutan 100% dan 50%.
Data pengamatan
Kosentrasi 100% Kosentrasi 50%
R2(Ohm
No
) R3(Ohm)
R4(Ohm)
R3(Ohm) R4(Ohm)

1 100 52 48 55 45

2 200 35 65 42 58

3 300 26 74 33 67

4 400 23 77 30 70

5 20 80 20 88 12

6 30 75 25 82 18

7 40 70 30 80 20
Analisa Data
(3)

(4)

(5)

R2:Hambatan geser
R3 dan R4:Hambatan yang sudah di ketahui nilainya.
R1: Hambatan yang akan di tentukan nilainya.
Y: Daya hantar
Ralat Bergayut
Hasil Perhitungan
Pemabahasan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk
memahami proses hantaran listrik dalam
larutan dan menentukan daya hantar larutan
elektrolit khususnya larutan CuSO4. Pada
dasarnya proses hantaran listrik dalam larutan
CuSO4 terjadi karena adanya pergerakan ion
dan perpindahan elektron. Pada katoda terjadi
proses reduksi, dimana ion positif bergerak
menuju elektroda negatif untuk mengambil
elektron dari elektroda ini. Pada anoda terjadi
proses oksidasi, dimana ion negatif bergerak
manuju elektroda positif untuk menyerahkan
elektron. Oleh karena itu, di dalam larutan
Dari data percobaan yang diperoleh, setelah
memperoleh nilai arus listrik R2, R3, R4, maka
besarnya daya hantar (Y= 1/R1) dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus pada persamaan 5.
Dari perhitungan tersebut didapat besar daya hantar
listrik untuk kosentrasi larutan 100% berkisar 8,3 x
10-3 -1 hingga 12,5 x 10-3 -1 .
Sedangkan untuk kosentrasi 50% berkisar 5,8 x10 -3 -
1 hingga 8,2 x 10 -3 -1.

Dari kedua hasil diatas dapat dilihat bahwa pada


jenis larutan yang sama semakin tinggi konsentrasi
suatu larutan maka semakin besar daya hantar
listriknya. Hal ini dikarenakan semakin tinggi
konsentrasi suatu larutan maka akan semakin
banyak jumlah partikel/ion yang terlarut di dalamnya.
Variasi Hambatan buzzer (R2) yang digunakan
oleh praktikan adalah R2 yang menghasilkan
selisih R3 dan R4 yang kecil (R3R4). Hal ini
dilakukan agar ralat Y yang didapat minimum
sehingga hasil yang diperoleh cukup bagus.
Kesimpulan
Larutan elektrolit akan mengahasilkan arus
listrik ketika dihubungkan pada rangakaian
listrik atau diberikan perbedaan potensial
Semakin tinggi kosentrasi larutan elektrolit
maka daya yang dihasilkan semakin tinggi.
Kosentrasi 100%: Y = (8,3 12, 5) x 10-3 -1
Kosentrasi 50%: Y = (5,8 8, 2) x 10-3 -1