Anda di halaman 1dari 18

REFERAT TETANUS

Pembimbing :
dr. Noorjanah Pujiastuti, Sp.S

Disusun Oleh :
Agus Sunarto H2A012074

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
RSUD TUGUREJO SEMARANG
DEFINISI

Tetanus adalah gangguan neurologis


yang ditandai dengan meningkatnya
tonus otot dan spasme, yang
disebabkan oleh tetanospasmin, suatu
toksin protein yang dihasilkan oleh
bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini
merupakan basil gram positif anaerob,
bersifat nonencapsulated dan
berbentuk spora, yang tahan panas,
pengeringan dan desinfektan.
PATOGENESIS

Tetanolisin dapat secara local merusak jaringan yang masih hidup


yang mengelilimgi sumber infeksi dan mengoptimalkan kondisi yang
memungkinkan multiplikasi bakteri.

Tetanospasmin adalah toksin yang menyebabkan spasme :


a. Tobin menghalangi neuromuscular transmission dengan
cara menghambat pelepasan acethyl-choline dari terminal
nerve di otot.
b. Kharekteristik spasme dari tetanus (seperti strichmine)
terjadi karena toksin mengganggu fungsi dari refleks synaptik
di spinal cord.
c. Kejang pada tetanus, mungkin disebabkan pengikatan dari
toksin oleh cerebral ganglioside.
d. Beberapa penderita mengalami gangguan dari Autonomik
Nervous System (ANS) dengan gejala : berkeringat, hipertensi
yang fluktuasi, periodisiti takikhardia, aritmia jantung,
ANAMNESIS (SUBJEKTIF)
Manifestasi klinis tetanus bervariasi dari kekakuan otot
setempat, trismus, sampai kejang yang hebat.

Kekakuan dan spasme yang menetap disertai rasa sakit pada otot
Tetanus disekitar atau proksimal luka.
Lokal

Bentuk tetanus lokal yang mengenai wajah dengan masa inkubasi 1-2
hari, yang disebabkan oleh luka pada daerah kepala atau otitis media
kronis
Tetanus
Sefalik Trismus, disfagia, rhisus sardonikus dan disfungsi nervus kranial.

Trismus, iritable, kekakuan leher, disfagia, kekakuan dada dan perut


(opistotonus), rasa sakit dan kecemasan yang hebat serta kejang umum
Tetanus yang dapat terjadi dengan rangsangan ringan seperti sinar, suara dan
Umum sentuhan dengan kesadaran yang tetap baik.

Tetanus ketidakmampuan untuk menetek, kelemahan, irritable, diikuti oleh


Neonato kekakuan dan spasme.
rum
PEMERIKSAAN FISIK (OBJEKTIF)

Tetanus kekakuan dan spasme yang menetap.


Lokal

trismus, rhisus sardonikus dan disfungsi nervus kranial.


Tetanus
Sefalik

trismus, kekakuan leher, kekakuan dada dan perut (opisthotonus),


fleksi-abduksi lengan serta ekstensi tungkai, kejang umum yang
Tetanus dapat terjadi dengan rangsangan ringan seperti sinar, suara dan
Umum sentuhan dengan kesadaran yang tetap baik.

trismus, kekakuan pada otot punggung menyebabkan


opisthotonus yang berat dengan lordosis lumbal.
Tetanus Bayi mempertahankan ekstremitas atas fleksi pada siku dengan
Neonato tangan mendekap dada, pergelangan tangan fleksi, jari
rum mengepal, ekstremitas bawah hiperekstensi dengan dorsofleksi
pada pergelangan dan fleksi jari-jari kaki.
Tetanus Neonatorum Epistotonus

Rhisus Sardonikus
PENEGAKKAN DIAGNOSIS
(ASSESSMENT)
Grading
1. Derajat 1 (kasus ringan),
Kriteria Pattel Joag terdapat satu kriteria, biasanya
1. Kriteria 1: rahang kaku, Kriteria 1 atau 2 (tidak ada
spasme terbatas, disfagia, kematian)
dan kekakuan otot tulang 2. Derajat 2 (kasus sedang),
terdapat 2 kriteria, biasanya
belakang
Kriteria 1 dan 2. Biasanya masa
2. Kriteria 2: Spasme, inkubasi lebih dari 7 hari dan
tanpa mempertimbangkan onset lebih dari 48 jam
frekuensi maupun derajat (kematian 10%)
keparahan 3. Derajat 3 (kasus berat),
3. Kriteria 3: Masa inkubasi terdapat 3 Kriteria, biasanya
7hari masa inkubasi kurang dari 7 hari
4. Kriteria 4: waktu onset atau onset kurang dari 48 jam
48 jam (kematian 32%)
4. Derajat 4 (kasus sangat
5. Kriteria 5: Peningkatan
berat), terdapat minimal 4
temperatur; rektal 100F Kriteria (kematian 60%)
(>40C), atau aksila 99F 5. Derajat 5, bila terdapat 5
(37,6 C ). Kriteria termasuk puerpurium
dan tetanus neonatorum
Derajat penyakit tetanus menurut modifikasi dari
klasifikasi Albleets

1. Grade 1 (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, spamisitas umum, tidak
ada penyulit pernafasan, tidak ada spasme, sedikit atau
tidak ada disfagia.
2. Grade 2 (sedang)
Trismus sedang, rigiditas lebih jelas, spasme ringan atau
sedang namun singkat, penyulit pernafasan sedang
dengan takipneu.
3. Grade 3 (berat)
Trismus berat, spastisitas umum, spasme spontan yang
lama dan sering, serangan apneu, disfagia berat, spasme
memanjang spontan yang sering dan terjadi refleks,
penyulit pernafasan disertai dengan takipneu, takikardi,
aktivitas sistem saraf otonom sedang yang terus
meningkat.
4. Grade 4 (sangat berat)
Gejala pada grade 3 ditambah gangguan otonom yang
berat, sering kali menyebabkan autonomic storm.
DIAGNOSIS BANDING
KOMPLIKASI

Dapat terjadi asfiksia, aspirasi pneumonia,


Saluran atelektasis akibat obstruksi olehsekret,
Pernafasan pneumotoraks dan mediastinal emfisema biasanya
terjadi akibatdilakukannya trakeostomi.

Kardiovaskule Komplikasi berupa aktivitas simpatis yang


meningkat antara lain berupatakikardia, hipertensi,
r vasokonstriksi perifer dan rangsangan miokardium.

Pada otot terjadi perdarahan dalam otot.


Pada tulang dapat terjadi fraktura kolumna
Tulang dan vertebralis akibat kejang yang terus-menerus
otot terutama pada anak dan orang dewasa. Beberapa
peneliti melaporkan juga dapat terjadi miositis
ossifikans sirkumskripta.

Laserasi lidah akibat kejang, dekubitus karena


penderita berbaring dalam satu posisi saja, panas
Yang lain yang tinggi karena infeksi sekunder atau toksinyang
menyebar luas dan mengganggu pusat pengatur
suhu.
PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
(PLAN)
1. Manajemen
Luka

2. Rekomendasi manajemen luka traumatik


a. Semua luka harus dibersihkan dan jika perlu dilakukan
debridemen.
b. Riwayat imunisasi tetanus pasien perlu didapatkan.
c. TT harus diberikan jika riwayat booster terakhir >10 tahun jika
riwayat imunisasi tidak diketahui, TT dapat diberikan.
d. Jika riwayat imunisasi terakhir >10 tahun yang lalu, maka tetanus
imunoglobulin (TIg) harus diberikan. Keparahan luka bukan faktor
penentu pemberian TIg
3. Pengawasan, agar tidak ada hambatan fungsi
respirasi.

4. Ruang Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara, cahaya


ruangan redup dan tindakan terhadap penderita.

5. Diet cukup kalori dan protein 3500-4500 kalori per hari dengan 100-
150 gr protein. Bentuk makanan tergantung kemampuan membuka
mulut dan menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan per
sonde atau parenteral.

6. Oksigen dan trakeostomi bila


perlu.
7. Antikonvulsan
- Diazepam atau Vankuronium 6-8 mg/hari.
- Bila penderita datang dalam keadaan kejang maka diberikan
diazepam dosis 0,5 mg/kgBB/kali i.v. perlahan-lahan dengan dosis
optimum 10mg/kali diulang setiap kali kejang.
- Kemudian diikuti pemberian Diazepam per oral (sonde lambung)
dengan dosis 0,5/kgBB/kali sehari diberikan 6 kali. Dosis maksimal
diazepam 240 mg/hari.
- Bila masih kejang (tetanus yang sangat berat), harus dilanjutkan
dengan bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat
ditingkatkan sampai 480 mg/hari dengan bantuan ventilasi mekanik,
- Magnesium sulfat dapat pula dipertimbangkan digunakan bila ada
gangguan saraf otonom.

8. Anti Tetanus Serum (ATS)


Dosis 40.000 IU, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 IU dari
antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaCl fisiologis dan
diberikan secara IV, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu
30-45 menit. Setengah dosis yang tersisa (20.000 IU) diberikan secara
IM pada daerah pada sebelah luar.
9. Antibiotik
- Prokain penisilin, 1,2 juta unit IM atau IV setiap 6 jam selama 10 hari.
(drug of choice)
- Untuk pasien yang alergi penisilin dapat diberikan
- Tertasiklin : 30-50 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis
Eritromisin : 50 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis, selama 10 hari.
Metronidazole loading dose 15 mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/KgBB
tiap 6 jam

9. Pemberian Tetanus Toksoid (TT)


Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama, dilakukan bersamaan
dengan pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat
suntik yang berbeda. Pemberian dilakukan dengan dosis inisial 0,5 ml
toksoid intramuskular diberikan 24 jam pertama.
RENCANA TINDAK LANJUT

1. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai


imunisasi dasar terhadap tetanus selesai.
Pengulangan dilakukan 8 minggu kemudian
dengan dosis yang sama dengan dosis
inisial.
2. Booster dilakukan 6-12 bulan kemudian.
3. Subsequent booster, diberikan 5 tahun
berikutnya.
4. Laporkan kasus Tetanus ke dinas
kesehatan setempat.
KRITERIA RUJUKAN

1. Bila tidak terjadi perbaikan setelah


penanganan pertama.
2. Terjadi komplikasi, seperti distres sistem
pernapasan.
3. Rujukan ditujukan ke fasilitas pelayanan
kesehatan sekunder yang memiliki dokter
spesialis neurologi.
PROGNOSIS

Tetanus dapat menimbulkan kematian dan


gangguan fungsi tubuh, namun apabila
diobati dengan cepat dan tepat, pasien
dapat sembuh dengan baik. Tetanus
biasanya tidak terjadi berulang, kecuali
terinfeksi kembali oleh C. tetani.
TERIMA KASIH