Anda di halaman 1dari 52

TEKNIK RADIOLOGI

KELOMPOK 4

APPENDICOGRAM
ANGGOTA :

1. Alfi Hidayana 9. Oditio Barkah F


2. Aselia Safitri 10. Qur Ratu A’yun
3. Dewi Maesaroh 11. Riszki Nur Hidayah
4. Dwiputranti Hidayani 12. Rohmatullah
5. Elisia Maya Sari 13. Safa Aulia Salsabila
6. Fikih Mahgfiroh 14. Sando Wicaxono
7. Glagah Maahardika K 15. Septin Tri Atmajawati
8. Kusumaning Dyah S P
PENDAHULUAN
Pada pemeriksaan sistem pencernaan memiliki prosedur
khusus, dimana setiap prosedurnya, membutuhkan
penggunaan sebuah kontras media dan dikembangkan
untuk memberikan suatu tujuan tertentu.
Media kontras yang digunakan dalam pemeriksaan sistem
digestivus adalah media postras positif barium sulfat
sedangkan kontras negatifnya adalah udara/gas.
Pemasukan media kontras dapat dilakukan secara oral
maupun secara anal dengan bantuan kateter.
Pemeriksaan Appendicografi adalah pemeriksaan secara
radiologi yang menggunakan bahan kontras positif yaitu
Barium Sulfat dengan tujuan untuk mengvisualisasikan
keadaan appendiks yang dimasukkan ke dalam tubuh
secara oral maupun anal.
TUJUAN
 Untuk mengetahui anatomi fisiologi dan
patologi dari appendix
 Untuk mengetahui teknik prosedur
pemeriksaan appendikografi
 Untuk mengetahui kriteria radiograf dari
appendix
 Untuk mengetahui contoh kasus, diskusi,
pembahasan terkait appendikografi
ANATOMI
• Organ aksesoris yang banyak mengandung
jaringan limfoid
• Panjangnya : mencapai 8-13 cm
• Lumennya melebar dibagian distal dan
menyempit dibagian proximal
• Letak : regio iliaca kanan, dasar appendix
terletak pada 1/3 garis titik McBurney sekitar
2,5 cm dibawah juctura ileocaecal dan bagian
appendiks lainnya bebas
4 lapisan dinding appendiks :
 Mukosa
 Mukosa muskularis
 Submukosa
 Serosa
hanya lapisan submukosa yangmempunyai
sejumlah besar jaringan limfe yang dianggap
mempunyai fungsi serupa tonsil.
FISIOLOGI
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 mL perhari. Lendir
itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan
selanjutnya mengalir ke sekum. Imunoglobulin
sekretoar yang dihasilkan GALT (Gut Associated
Lympoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran
cerna termasuk appendiks ialah Imunoglobulin IA.
Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung
terhadap infeksi.
Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh karena sejumlah
jaringan limfe disini kecil sekali jika dibandingkan
dengan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.
PATOLOGI
Appendisitis merupakan peradangan apendiks
yang mengenai semua lapisan dinding organ
tersebut. Dapat dimulai di mukosa dan
kemudian meliputi seluruh lapisan dinding
appendiks dalam waktu 24-48 jam pertama.
Mula-mula disebabkan sumbatan lumen.
Menurut Sjamsuhidayat (2004), apendisitis
terdiri dari lima bagian antara lain :

1. Apendisitis akut
Adalah peradangan apendiks yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum pariental setempat sehingga
menimbulkan rasa sakit di abdomen kanan bawah.
2. Apendisitis infiltrat (Masa periapendikuler)
Apendisitis infiltrat atau masa periapendikuler terjadi
bila apendisitis ganggrenosa di tutupi pendinginan
oleh omentum.
3. Apendisitis perforata
Ada fekalit didalam lumen, Umur (orang tua atau anak
muda) dan keterlambatan diagnosa merupakan faktor
yang berperan dalam terjadinya perforasi apendiks.
4. Apendisitis rekuren
Kelainan ini terjadi bila serangan apendisitis akut
pertama kali sembuh spontan, namun apendiks
tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena
terjadi fibrosis dan jaringan parut. Resikonya
untuk terjadinya serangan lagi sekitar 50%.
5. Apendisitis kronis
Fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan
parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan
parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi sel
inflamasi kronik.
Perjalanan penyakit apendisitis
Apendisitis akut fokal (peradangan lokal)

Apendisitis supuratif (pembentukan nanah)

Apendisitis Gangrenosa (kematian jaringan
apendiks)

Perforasi (bocornya dinding apendiks )

Peritonitis (peradangan lapisan rongga perut) :
sangat berbahaya, dan mengancam jiwa.
Gambaran radiologi appendisitis
dengan barium enema:
• Dari appendiks • Non filling appendiks
yang Irregularitas (apendik tidak terisi
nodularitas kontras) / gambar
memberikan appendix tidak nampak
gambaran edema karena adanya obstruksi
mukosa yang sehingga kontras barium
disebabkan oleh tidak mengisi appendix.
karena inflamasi Kesimpulan :
akut. Appendixitis
Pengisian penuh dengan
kontras pada apendiks, Tampak Sekum (C) dan
apendiks normal appendix yang
mengalami ofasifikasi
dan kontur yang ireguler
(tanda panah).
• Foto Oblique
superior kanan
abdomen dengan
barium enema
singlekontras.
Tampak Sekum
(C) dan appendix
yang mengalami
ofasifikasi dan
kontur yang
ireguler (tanda
panah).
Kontra indikasi
• Perforasi pada kolon
• Perdarahan hebat dikolon
• Obstruksi (penyumbatan)
• Diare akut
TEKNIK PEMERIKSAAN
APPENDIKOGRAM
PERSIAPAN PASIEN
Persiapan pasien
Persiapan pasien
(secara anal)
(secara oral)
• 48 jam sebelum pemeriksaan
dianjurkan makan makanan • Malam hari jam 20.00 minum
lunak tidak berserat. Misal : media kontras barium, sebelum
bubur kecap minum dianjurkan buang air besar
• 12 jam atau 24 jam sebelum terlebih dahulu
pemeriksaan pasien diberikan • Setelah minum Barium pasien
2/3 Dulcolac untuk diminum harus Puasa, sampai saat
• Pagi hari pasien diberi pemeriksaan dilakukan dan tidak
dulkolac supositoria melalui boleh buang air besar.
anus atau dilavement • Pagi harinya sekitar jam 08.00
• 4 jam sebelem pemeriksaan dilakukan pemeriksaan.
pasien harus puasa hingga
pemeriksaan berlangsung
• Pasien dianjurkan
menghindari banyak bicara
dan merokok
Persiapan alat dan bahan
• Pesawat sinar-X yg dilengkapi fluoroskopi
• alat bantu kompresi yg berfungsi untuk memperluas
permukaan organ yg ada didaerah ileosaekal atau kalau
tidak ada alat kompresi dapat dilakukan dengan
memodifikasi posisi pasien supine mjd prone
• Kaset + film
• Marker
• Spuit
• Kateter
• Sarung tangan
• Apron
• Baju pasien
• Media kontras
Persiapan media kontras
Oral Anal
Bahan kontras barium sulfat Bahan kontras barium sulfat
dengan perbandingan 1 : 4 atau dengan perbandingan 1 : 8 atau
15% Weight to volume (15 ml 12-25% weight to volume (12-
ditambah air hingga mencapai 25 ml ditambah air hingga
100 ml). mencapai 100 ml).
Jumlah sekitar 200-500 ml. Jumlah sekitar 600-800 ml
Secara oral MK akan mengisi tergantung kolon.
apendiks dalam 6 s/d 48 jam Eksposi dilakukan langsung
(atau dapat lebih) eksposi setelah MK masuk ke appendik
dianjurkan pada saat 9,12, 24 atau sebatas katup illeocaecal.
atau 48 jam (sumber : KC
clark)
FOTO POLOS ABDOMEN

Tujuan pemotretan adalah untuk melihat


persiapan dari penderita, apakah usus sudah
bebas dari udara dan feses, dan untuk
menentukan faktor eksposi pada pengambilan
radiograf selanjutnya
a. Posisi pasien : Pasien dalam posisi tidur
terlentang diatas meja pemeriksaan. Kedua
tangan disamping tubuh.
b. Posisi obyek : Mid Sagital Plane (MSP) tubuh
pada tengah meja pemeriksaan. Tidak terjadi
rotasi pada tubuh.
c. Central ray : vertikal tegak lurus kaset
d. Central point : pada MSP setinggi krista illiaka
e. FFD : 100 cm
Kriteria radiograf :

Dapat menampakkan organ abdomen secara


keseluruhan, Kedua crista iliaca simetris kanan
dan kiri dan Gambaran vertebra tampak di
pertengahan radiograf.

Gambaran spesifik secara radiologik pada foto


polos abdomen dapat berupa bayangan
apendikolit (radioopak).
Foto polos abdomen tampak
apendikolith (panah).
PROYEKSI AP/PA
a. Posisi pasien :
Supine atau prone diatas meja pemeriksaan dengan bantal di
kepala.
Mid Sagital Plane (MSP) tubuh pasien berada pada garis tengah
meja pemeriksaan.
Kedua kaki lurus, dibawah lutut diberi pengganjal untuk fiksasi.
Kedua tangan diletakkan di samping badan
b. Posisi obyek :
•Abdomen true AP atau PA dengan memastikan kedua crista iliaca
kanan dan kiri berjarak sama.
•Pastikan tidak ada rotasi.
•Atur luas lapangan kolimasi secukupnya, batas atas kolimasi
mencakup processus xipoideus serta batas bawah ialah simpisis
pubis.
c. Faktor eksposi :
 Central Ray(CR) : tegak lurus terhadap kaset
 Central point(CP) : pada pertengahan kaset
setinggi krista illiaka
 FFD : 100 cm
 Eksposi : ekspirasi penuh dan tahan nafas
Posisi pasien Posisi pasien
proyeksi AP proyeksi PA
Struktur yang tampak :
• Colon bagian transversum harus diutamakan
terisi barium pada posisi PA dan terisi udara
pada posisi AP dengan teknik double contrast
• Seluruh luas usus halus nampak termasuk
flexure olic kiri.
• Seluruh kolon mencakup fleksura splenik dan
rectum
• Columna Vertebrae berada pada pertengahan
shg gambaran mencakup kolon asenden dan
kolon desenden.
PROYEKSI AP OBLIQUE (RPO & LPO)
Posisi Pasien : supine diatas meja pemeriksaan, tubuh dirotasikan ke kanan
/kekiri 35-45 derajat terhadap meja.
RPO : tangan kanan untuk bantal, tangan kiri menyilang
didepan tubuh dan kaki kanan lurus, kaki kiri
ditekuk untuk fiksasi
LPO : tangan kiri untuk bantal, tangan kanan menyilang
didepan tubuh dan kaki kiri lurus, kaki kanan
ditekuk untuk fiksasi
Posisi Objek : Batas atas : Proc. Xypoideus, Batas Bawah: Simp.pubis
Central point : 1 – 2 inchi ke arah kiri (RPO) kanan (LPO) dari titik tengah
kedua Krista iliaka
Central ray : vertical tegak lurus kaset
FFD : 100 cm
Eksposi : ekspirasi dan tahan nafas
POSISI PASIEN POSISI PASIEN
RPOYEKSI RPO RPOYEKSI LPO
KRITERIA RADIOGRAF

• Proyeksi RPO : Colic Flexura lienalis kiri dan desending


portions harus tampak terbuka tanpa superimposisi
yang signifikan.
Dengan posisi RPO sangat baik digunakan untuk
menunjukkan fleksura colic kiri dan kolon desenden.
• Proyeksi LPO : Colic Flexura hepatic kanan dan
ascending & recto sigmoid portions harus tampak
terbuka tanpa superimposisi yang signifikan.
Dengan posisi LPO sangat baik digunakan untuk
menunjukkan fleksura colic kanan, kolon asenden, dan
sigmoid
CONTOH KASUS, PEMBAHASAN,
DAN DISKUSI
PAPARAN KASUS
Seorang ibu bernama Ny. S berusia 40 tahun datang ke
RSUD RAA Soewondo Pati pada tangal 14 April 2016 di
poliklinik bagian bedah dengan keluhan sakit perut disebelah
kanan.
Kemudian oleh dokter poliklinik bedah meminta untuk
melakukan pemeriksaan appendikografi, dan dokter
menganjurkan agar pasien dirawat inapkan diruangan karena
membutuhkan persiapan khusus.
Setelah itu perawat ruangan mendaftarkan Ny.S kebagian
radiologi untuk dijadwalkan pemeriksaan appendikografi.
Pada tanggal 16 April 2016 pasien tersebut datang ke
instalasi radiologi RSUD RAA Soewondo Pati di antar oleh
perawat untuk dilakukan pemeriksaan appendikografi dengan
suspect appendisitis kronis
Persiapan pasien
• Tanyakan kepada pasien apakah mempunyai riwayat alergi
dengan barium
• Tanyakan apakah pasien sedang mengkonsumsi obat-obatan
• Pasien mengisi inform consent yang telah disepakati dari
kedua belah pihak setelah pasien menerima penjelasan
tentang pemeriksaan yang akan dilakukan yang meliputi
efek jika dilakukan dan efek jika tidak dilakukan
• 21 jam sebelum pemeriksaan pasien makan makanan
rendah serat dengan makan bubur kecap
• 12 jam sebelum pemeriksaan (jam 4 sore) meminum
dulcolax tablet untuk urus-urus
• 8 jam sebelum pemeriksaan pasien minum media kontras
barium sulfat
• Pasien puasa sampai dilakukannya pemeriksaan
• Pasien tidak diperbolehkan terlalu banyak bicara, merokok
Persiapan Alat

1. Pesawat sinar-x siap pakai


2. Kaset ukuran 30 x 40 cm
3. Film ukuran 30 x 40 cm
4. Marker
5. Baju pasien
6. Plester
7. Automatic processing
Persiapan bahan

Media kontras barium sulfat sebanyak 100


gram yang deseduh dengan air hangat
sebanyak 200 cc.
Pemasukkan media kontrasnya melalui peroral
yaitu dengan diteguk dan dihabiskan langsung
agar tidak terjadi aspirasi
1. Proyeksi AP
a. Posisi pasien : pasien diposisikan tidur
telentang diatas meja pemeriksaan
b. Posisi obyek :
•MSP tubuh tepat ditengah meja pemeriksaan
•Pastikan tidak ada rotasi (Memastikan kedua
crista iliaca kanan dan kiri berjarak sama)
•Atur luas lapangan kolimasi secukupnya, batas
atas kolimasi mencakup processus xipoideus
serta batas bawah ialah simpisis pubis.
c. Pengaturan sinar dan eksposi :
Central ray : tegak lurus kaset
Central point : pada MSP setinggi krista illiaka
FFD : 100 cm
Faktor eksposi : 66 kV dan 20 mAs
Ukuran akset : 30 x 40 cm
Eksposi : ekspirasi penuh dan tahan nafas
HASIL RADIOGRAF

Tampak media kontras mengisi kolon pada


bagian sekum, kolon asenden, flexura coli
sinistra, kolon transversum, flexura coli dextra,
kolon desenden dan rectum. Media kontras
juga mengisi sedikit lumen appendiks
2. Proyeksi RPO
a. Posisi pasien : pasien tidur telentang diatas
meja pemeriksaan
b. Posisi objek :
 Rotasikan tubuh pasien kesisi kanan kurang
lebih 45 derajat terhadap meja pemeriksaan
 Tangan kanan dan kiri dibuat bantalan
 Kaki kanan lurus kebawah, dan kaki kiri sedikit
ditekuk untuk fiksasi
 Batas atas setinggi processus xypoideus dan
batas bawah setinggi sympisis pubis
c. Pengaturan sinar dan eksposi:
 Central ray : vertikal tegak lurus kaset
 Central point : : 1 – 2 inchi ke arah kiri (RPO)
kanan (LPO) dari titik tengah kedua Krista
iliaka
 FFD : 100 cm
 faktor eksposi : 70 kVp dan 20 mAs
 Ukuran kaset : 30 x 40 cm
 Eksposi : ekspirasi penuh dan tahan nafas
Hasil radiograf
Tampak media kontras mengisi sekum, kolon
asenden, dan fleksura coli dextra. Media
kontras juga masuk kedalam appendiks. Pada
posisi RPO ini appendiks terlihat lebih jelas
karena tidak superposisi dengan kolon.
Pembahasan berdasarkan kasus
Hasil pembacaan radiograf dari appendikografi
dari pasien Ny. S yang telah dibaca oleh dokter
radiolog pada tanggal 16 oktober 2016 adalah
sebagai berikut :
Tampak kontras mengisi struktur appendiks,
dinding sebagian irreguler, pada beberapa
posisi appendiks terkesan rigid.
Partial filling appendiks yang tampak rigit
menandakan adanya appendisitis kronis
alasan digunakannya proyeksi AP dan RPO karena
kedua proyeksi tersebut adalah proyeksi yang
ideal untuk memeperlihatkan organ appendiks
dan sudah cukup valid untuk menegakkan
diagnosa.
Pada proyeksi AP sebenarnya sudah dapat
memperlihatkan anatomi dari appendiks, namun
ditambahankan proyeksi RPO agar organ
appendiks tersebut terhindar dari superposisi
dengan kolon.
sehingga dapat memperlihatkan media kontras
tersebut masuk kedalam organ appendiks atau
tidak. jika tidak maka dapat dipastikan bahwa
appendiks tersebut buntu
KESIMPULAN
Appendikogram merupakan pemeriksaan radiografi sinar-x
dengan menggunakan media kontras positif (BaSO4) guna
memperlihatkan appendiks. Teknik pemeriksaan yang
digunakan pada pemeriksaan appendikogram diantaranya
AP/PA,RPO/LPO.
Pada kasus appendisitis kronik digunakan pemeriksaan
appendikografi dengan proyeksi AP, RPO. Meskipun pada
proyeksi AP sudah dapat memeperlihatkan anatomi
appendiks,namun alasan ditambahkannya proyeksi RPO
adalah untuk memperlihatkan media kontras tersebut apakah
masuk kedalam organ appendiks atau tidak. jika tidak maka
dapat dipastikan bahwa appendiks tersebut buntu. Karena
pada proyeksi RPO appendiks tersebut terhindar dari
superposisi dengan kolon.