Anda di halaman 1dari 5

Foto Genu Proyeksi Skyline

1. Pendahuluan
Sendi lutut atau genu adalah sendi diarthrosis yang memiliki peranan penting
dalam hidup seorang manusia. Sendi lutut dibentuk oleh epifisis distalis tulang femur,
epifisis proksimalis, tulang tibia dan tulang patella, serta mempunyai beberapa sendi
yang terbentuk dari tulang yang berhubungan, yaitu antar tulang femur dan patella yaitu
articulation patellofemoral, antara tulang tibia dengan tulang femur disebut articulatio
tibiofemoral dan antara tulang tibia dengan tulang fibula proksimal disebut articulatio
tibiofibular proximal.
Salah satu pemeriksaan penunjang sendi lutut adalah foto rontgen dari sendi genu.
Foto ini dapat menggunakan tiga proyeksi, antara lain foto genu AP, foto genu lateral, dan
foto genu skyline.
Foto genu skyline adalah foto genu yang jarang digunakan. Foto ini dapat
menampilkan sendi patellofemoral dan digunakan jika pemeriksaan foto genu AP lateral
menampilkan hasil normal namun masih menimbulkan kecurigaan patologis.
2. Indikasi
Indikasi dari pemeriksaan foto genu skyline antara lain:

Trauma

Osteoarthritis pada komponen sendi patellofemoral

Subluksasi tulang patella

Fraktur tulang patella1

3. Fungsi
Terdapat suatu teori yang mengatakan bahwa foto genu proyeksi skyline dapat
mempermudah dalam mendiagnosis kelainan anatomi dan morfologi dari sendi
patellofemoral sehingga menimbulkan asumsi bahwa proyeksi foto ini dapat menjadi
suatu pemeriksaan yang berguna dalam mendiagnosis osteoarthritis patellofemoral. Akan
1

tetapi, Bhattacharya et al menemukan bahwa foto genu skyline memiliki sensitivitas


dalam mendiagnosis osteoarthritis sebesar 81%, lebih rendah dari foto lateral yang
memiliki sensitivitas 83%, meskipun foto skyline memiliki spesifitas sebesar 61%, jauh
diatas foto lateral yang hanya memiliki spesifisitas 39%. Saat menggunakan foto genu
proyeksi skyline dan lateral dalam mendiagnosis osteoarthritis genu, didapatkan tingkat
sensitivitas dan spesifisitas sebesar 95%. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa foto genu
proyeksi skyline tidak memberikan keuntungan lebih dalam mendiagnosis osteoarthritis
genu dibandingkan foto genu proyeksi lateral.2
4. Cara pembuatan foto genu skyline
Pembuatan foto genu skyline dapat dilakukan dengan berbagai cara. Masing
masing dari cara pembuatan ini memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing. Cara
pembuatan foto yang sering digunakan antara lain:
a. Settegast method (pasien pronasi, sendi genu fleksi 90 derajat)
Settegast, pada tahun 1921, memperkenalkan proyeksi aksial/tangensial
dari sendi patellofemoral. Dia menggambarkan sebuah metode di mana pasien
pronasi dengan lutut tertekuk tegak lurus. Sinar pusat (CR) melewati sejajar
permukaan posterior patela dan tegak lurus ke reseptor pencitraan (IR) yang
berada di bawah lutut. Kelemahan dari pendekatan ini termasuk distorsi patela
dengan pronasinya pasien dan kurangnya memadainya visualisasi dari troklear
proksimal.

b. Sitting tangential method (pasien duduk, sendi genu fleksi <90 derajat)
Pasien duduk di kursi. Kedua lutut harus tertekuk dengan kaki
ditempatkan di bawah kursi. Plate harus diletakkan pada spons atau pengalas
jenis lain untuk mengurangi objek ke jarak reseptor gambar (OID) semaksimal
mungkin. Sinar pusat (CR) diarahkan tegak lurus terhadap IR dan sejajar
dengan sendi patellofemoral. Keuntungan utama dari posisi ini adalah bahwa
pasien dapat diperiksa dalam posisi duduk di kursi dan Radiografi yang
dihasilkan dapat memperlihatkan kedua patella dengan jelas. Posisi ini juga
hanya memerlukan sedikit dari manipulasi tabung x-ray. Kerugian utama
adalah proyeksi ini memerlukan fleksi sendi lutut yang kuat.

c. Hughston method (pasien pronasi, sendi genu fleksi 45-55 derajat)


Pasien berada dalam posisi pronasi, dengan IR berada dibawah lutut,
fleksikan perlahan sendi lutut hingga 55 derajat, tahan kaki pasien dengan
kain kasa atau penyangga tertentu, namun tidak pada kolimator. Sinar pusat
(CR) diposisikan 15-20 derajat dari sumbu panjang kruris.pemeriksaan ini
relative nyaman untuk pasien, dan relaksasi dari muskulus quadriceps.
Kerugian utama dari metode ini adalah pemeriksaan ini dilakukan dalam
posisi pronasi, dimana sulit untuk beberapa pasien.

d. Inferosuperior method (pasien supinasi, sendi genu fleksi 40-45 derajat)


Pasien

dalam

posisi

supinasi,

kaki

diletakkan

berdampingan,

menggunakan penyangga yang diletakkan di bawah lutut agar dapat fleksi


sekitar 40 hingga 45 derajat. Pemeriksaan ini tidak dapat dilakukan jika
terdapat rotasi pada kaki. Plate diletakkan pada sudut, terletak pada
pertengahan paha, miringkan pada posisi tegak lurus dengan sinar pusat.
Gunakan kantong pasir dan selotip, atau metode lain untuk menstabilisasi
plate pada posisi ini. Pasien tidak direkomendasikan untuk melakukan sit up
untuk menahan plate pada tempatnya karena tindakan ini dapat menyebabkan
kepala dan leher pasien berada pada jalur sinar dari x-ray.
Keuntungan utama dari metode ini adalah metode ini tidak memerlukan
peralatan special dan pasien dapat merasa nyaman dalam melakukan
pemeriksaan. Kerugian metode ini adalah dapat munculnya masalah dari
menahan plate dalam posisi jika pasien tidak kooperatif.1,3-4

1)

2)

3)
4)

Daftar pustaka
Hobbs DL, Veale BL, Hall-Rollins J. Lower Limbs. In: Bontrager KL, John Lampignano
J, editors. Textbook of Radiographic Positioning and Related Anatomy. 8 th ed. St Louis:
Elsevier, 2014:257-9
Bhattacharya R, Kumar V, Safawi E, Finn P, Hui AC. The knee skyline radiograph: its
usefulness in the diagnosis of patello-femoral osteoarthritis. Bethesda: Int Orthop. 2007
Apr; 31(2): 247252.
Hobbs DL. Tangential Projection of the Patella. Idaho: Radiologic Technology. 2005;
77(1): 1-2.
Fulkerson JP. Imaging the patellofemoral joint. Disorders of the Patellofemoral Joint. 4 th
ed. Available at: http://www.patellofemoral.org/pfoe/c4/tang.html. Accessed on: july
31st,2015.