0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
239 tayangan44 halaman

Rinosinusitis Kronik: Diagnosis dan Penanganan

Laporan kasus ini membahas tentang pasien laki-laki berusia 63 tahun yang didiagnosis dengan rinosinusitis kronik. Laporan ini menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan rinosinusitis kronik. Laporan ini juga membahas pencegahan dan komplikasi dari kondisi tersebut.

Diunggah oleh

Christa24796
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
239 tayangan44 halaman

Rinosinusitis Kronik: Diagnosis dan Penanganan

Laporan kasus ini membahas tentang pasien laki-laki berusia 63 tahun yang didiagnosis dengan rinosinusitis kronik. Laporan ini menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal, etiologi, patofisiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan rinosinusitis kronik. Laporan ini juga membahas pencegahan dan komplikasi dari kondisi tersebut.

Diunggah oleh

Christa24796
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Laporan Kasus

Fakultas Kedokteran Maret 2019


Universitas Pattimura

Viory Chasanah Rumfot


NIM. 2018-84-046

Pembimbing :
dr. Julu Manalu, Sp. THT-KL

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
ANATOMI DAN FISIOLOGI
VASKULARISASI HIDUNG
INVERVASI HIDUNG
FISIOLOGIS HIDUNG
fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air conditioning), penyaring
udara, humidifikasi, penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan
mekanisme imunologik lokal;

fungsi penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman) dan


reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu;

fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu proses


berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang;

fungsi statistik dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi


terhadap trauma dan pelindung panas;

refleks nasal.
SINUS PARANASALIS
KOMPLEKS OSTIOMEATAL
FUNGSI SPN

Membantu
Pengatur
Penahan Suhu Keseimbangan
Konsidi Udara
Kepala

Membantu Peredam Membantu


resonansi perubahan Produksi
suara tekanan udara Mukus
RHINOSINUSITIS KRONIK

Dari 4 guidelines yakni berlangsung selama dua


EP3OS, BSACI, RI, dan belas minggu atau lebih,
CPG:AS, diantaranya disertai dua atau lebih
Umumnya disertai atau
Sinusitis didefinisikan sepakat untuk gejala dimana salah
dipicu oleh rinitis sehingga
sebagai inflamasi mukosa mengadopsi istilah satunya hidung tersumbat
sering disebut
sinus paranasal. rinosinusitis sebagai atau nasal discharge, dan
Rinosinusitis
pengganti sinusitis, didukung pemeriksaan
kecuali JTFPP tidak lain disebut Rinosinusitis
menggunakan istilah itu kronik
KLASIFIKASI
AMERICAN ACADEMY OF OTOLARYNGIC
ALLERGY (AAOA) DAN AMERICAN RHINOLOGIC
SOCIET Y (ARS)
ETIOLOGI

Dentogenik/odontogeni
k
Etiologi
Multifaktorial dan belum
diketahui
Bakteri, Jamur Lanjutan dari rinosinusitis
akut yang tidak terobat
Rhinogenik scr adekuat
Virus
FAKTOR PREDISPOSISI

Berdasarkan EP3OS 2007, faktor yang dihubungkan dengan


kejadian rinosinusitis kronik tanpa polip nasi
 Asma
 keadaan immunocompromised
 Mikroorganisme, jamur
 Faktor lingkungan
PATOFISIOLOGI

3 FAKTOR
•Sekresi mukus normal baik dari segi
•Inflamasi persisten viskositas, volume dan kompoisis
mukosa hidung/sinus •Transport mukosiliar normal untuk
mencegah mukosa dan kemungkinan
paranasal & mungkin infeksi
tulang yang mendasarinya •Patensi kompleks ostiomeatal untuk
mempertahankan drainase dan aerasi

Obstruksi ostium sinus KOM • Obstruksi ostium sinus pada


mengakibatkan akumulasi KOM + salah satu dari 3
cairan, membentuk lingkungan faktor = Rhinosinusitis Kronik
yang lembab dan suasana
hipoksia yang ideal bagi
pertumbuhan kuman patogen
KLASIFIKASI RHINOSINUSITIS KRONIK

RK RK
dengan tanpa
Polip terjadi pada sekitar polip 60%-65% dari seluruh
20% pasien dengan
kasus RK
rinosinusitis kronik

gejala obstruksi
hidung yang menonjol Gejala rasa nyeri di
dan hiposmia atau wajah dan sekret
anosmia, jarang purulent yang
mengeluhkan rasa prominen
nyeri di wajah
MANIFESTASI KLINIS

Gejala Mayor Gejala Minor


 > dua belas minggu
& dikonfirmasi
Sakit pada daerah muka Batuk dengan kompleks
(pipi, dahi , hidung)
faktor klinis mayor
dan minor dengan
atau tanpa adanya
Hidung tersumbat Demam hasil pemeriksan
fisik.
Sekret hidung (purulen) Tenggorok berlendir  Ada dua atau lebih
faktor klinis mayor
Gangguan Penciuman Nyeri kepala atau satu faktor
mayor disertai dua
Sekret purulent di rongga Nyeri geraham atau lebih faktor
hidung minor
Demam (RS akut) Halitosis
DIAGNOSIS
PEMERIKSAAN FISIK

Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila
dan ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis
ethmoidalis posterior dan sfenoid). -> Pemeriksaan Rhinoskopo Anterior.

pembeda antara kelompok rinosinusitis kronik tanpa dan dengan nasal


polip adalah ditemukannya jaringan polip / jaringan polipoid pada
pemeriksaan rinoskopi anterior

Pada Rhinoskopi posterior tampak pus di nasofaring (post nasal drip).


PEMERIKSAAN PENUNJANG

TRANSILUMINASI

• pemeriksaan sederhana terutama untuk menilai kondisi sinus maksila.


Pemeriksaan dianggap bermakna bila terdapat perbedaan transiluminasi
antara sinus kanan dan kiri

ENDOSKOPI NASAL

• Endoskopi nasal, dapat menilai kondisi rongga hidung, adanya sekret, patensi
kompleks ostiomeatal, ukuran konka nasi, udem disekitar orifisium tuba,
hipertrofi adenoid, dan penampakan mukosa sinus.

RADIOLOGI

• meliputi X-foto posisi Water, CT-scan, MRI, dan USG. CT-scan merupakan
modalitas pilihan dalam menilai proses patologi dan anatomi sinus, serta
untuk evaluasi rinosinusitis lanjut bila pengobatan medikamentosa tidak
memberikan respon
FOTO KONVENSIONAL CALDWELL POSISI
PA MENUNJUKKAN AIR FLUID LEVEL
PADA SINUS MAKSILARIS
PENATALAKSANAAN
MEDIKAMENTOSA

kembalinya fungsi drainase ostium sinus dengan mengembalikan kondisi normal rongga
hidung

Mengurangi gejala dan keluhan penderita

Membantu memperlancar kesuksesan operasi apabila dilakukan

Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-
sinus pulih secara alami.
Antibiotik

•Sesuai untuk kuman gram negatif (S. aureus) dan anaerob


•Antibiotik yang dipilih adalah yang berspektrum luas, yaitu golongan
penisilin seperti amoksisilin.
•Resisten terhadap amoksisilin, maka diberikan amoksisilin-klavulanat atau
sefalosporin generasi ke-2.
•Antibiotik diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah
hilang.
•Jika penderita tidak menunjukkan perbaikan dalam 72 jam, maka
dilakukan reevaluasi dan mengganti antibiotik yang sesuai.

Antiinflamasi

• Methylprednisolon

Dekongestan

• Topikal spt Oxymetazolin, Oral spt pesudoepherine


• Membantu hidung yang tersumbat dan melancarkan drainase.
Antihistamin

•Pada ps dgn Rhinitis Alergi


•Antihistamin generasi ke-2 diberikan bila
ada alergi berat spt Loratadine

Nasal saline irrigation

•Mencegah akumulasi krusta-krusta di


hidung dan membantu lancarnya klirens
mukosiliar
PEMBEDAHAN

Bedah Sinus Endoskopi


Fungsional

Operasi Caldwell-Luc

Etmoidektomi Eksternal
PENCEGAHAN
 Menghindari penularan infeksi saluran pernapasan atas
dengan menjaga kebiasaan cuci tangan yang ketat dan
menghindari orang-orang yang menderita pilek atau flu.
 Disarankann mendapatkan vaksinasi influenza tahunan
untuk membantu mencegah flu dan infeksi berikutnya
dari saluran pernapasan bagian atas.
 Obat antivirus untuk mengobati flu, seperti zanamivir
(Relenza), oseltamivir (Tamiflu), rimantadine
(Flumadine) dan amantadine (Symmetrel).
 Pengurangan stres dan diet yang kaya antioksidan
terutama buah-buahan segar dan sayuran berwarna
gelap, dapat membantu memperkuat sistem kekebalan
tubuh.
 Hindari alergen di lingkungan: Orang yang menderita
sinusitis kronis harus menghindari daerah dan kegiatan
yang dapat memperburuk kondisi seperti asap rokok dan
menyelam di kolam diklorinasi.
KOMPLIKASI

Orbita Intrakranial

Osteomielitis
dan abses
Subperiosteal
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas.
Nama : Tn. MS
Usia : 63 tahun.
Jenis Kelamin : Laki laki.
No. RM : 144497.
Agama : Kristen Protestan.
Pekerjaan : Petani.
Alamat : Soa Gerwelsa, Maluku Barat Daya
Tanggal pemeriksaan : 14 Maret 2019

3.1. Anamnesa
Autoanamnesa dengan pasien di Ruang Poli THT-KL RSUD dr. M. Haulussy
Ambon.
Keluhan Utama:
Hidung kiri tersumbat.
LAPORAN KASUS

 Anamnesis Terpimpin:
Keluhan hidung kiri tersumbat sejak ± 1 tahun yang lalu, hilang
timbul, keluhan diperparah bila pasien flu dan saat beringus,
cairan encer berwarna kuning, bau (+), berdarah (-), gatal (-),
sakit kepala (+) di area dahi kanan dan kiri (terutama pada sisi
kiri), tidak ada keluhan nyeri hidung (-),± 2 kali bersin di pagi
hari (+), batuk (-), demam (-)
LAPORAN KASUS

Riwayat Penyakit Dahulu : Bersin-bersin di pagi hari (+), alergi


debu (-), alergi makanan atau minuman
(-), alergi obat-obatan (-), asma (-),
atofi (-).
Riwayat Keluarga : Tidak Ada
Riwayat Kebiasaan : Minum alkohol (-), Merokok (-)
Riwayat Pengobatan :-

3.1. Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan Umum
Compos mentis
b. Tanda Vital
a. Tekanan darah :130/90 mmHg
b. Nadi : 80 x/menit.
c. Respirasi : 20 x/menit.
O
d. Suhu : 36,5 C.
c. Pemeriksaan Sistemik
a. Kepala : Bentuk dan Ukuran normal
b. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), skelara ikterik (-/-).
STATUS THT

Telinga Kanan Kiri

Inspeksi/Palpasi
Preauricula DBN DBN
Suprauricula DBN DBN
Infraauricula DBN DBN
Otoskopi
Nyeri tekan - -
Nyeri Tarik - -
Meatus acusticus externus:
Penyempitan - -
Massa Kecokletan Kecokletan
sedikit sedikit
Sekret - -
Hiperemi - -
Edema -
Membran timpani:
Intak + +
Refleks Cahaya + +
N/Retraksi/bombans Normal Normal
Hiperemi - -
Perforasi - -
Pulsasi - -
Tes Pendengaran:
Rinne + +
Weber Tdk lateralisasi Tdk lateralisas
Swabach = Pemeriksa = Pemeriksa
Kesimpulan Normal Normal
STATUS THT

Hidung dan Sinus Inspeksi/Palpasi


Paranasalis Deformitas - -
Hematoma - -
Krepitasi - -
Nyeri Tekan SPN - -
Rhinoskopi anterior
Cavum Nasi:
Lapang/Sempit Sempit Sempit
Mukosa Licin Licin
Hiperemi - -
Massa - -
Sekret + +
Krusta - -
Konka - -
Edema + +
Hiperemi + +
Warna merah merah
Hipertrofi - -
Septum
Deviasi - -
STATUS THT

Rinoskopi posterior
Nasofaring:
Konka Sulit dievaluasi
Sinus Sulit dievaluasi
Cavum Sulit dievaluasi
PND Sulit dievaluasi
Muara tuba eustachius Sulit dievaluasi

Mulut Trismus -
Gigi missing 1 gigi molar kanan bawah
1 gigi premolar kiri bawah
Carries -
Lidah Normal
STATUS THT

Tenggorok Inspeksi
Palatum molle N N
Tonsil Di tengah
Hiperemi T2 T1
Kripte melebar - -
Detritus - -
Arcus anterior - -
Arcus posterior - -
Orofaring - -
Basah/Kering Basah Basah
Hiperemis - -
PND - -
Granural - -
Uvula
Deviasi -
Hipermis - -
Edema - -
-
STATUS THT

Laringoskopi indirek
Hipofaring :N
Epiglotis : hiper: (-) massa:(-)
Supraglotis :N
Korda vokalis :N
Edema : (-)
Massa : (-)

Regio Colli Kelenjar getah bening dalam batas normal

(Leher) Tiroid dalam bata normal


Massa tumor (-)
STATUS THT

Foto hidung kiri pasien Foto mulut pasien


PEMERIKSAAN PENUNJANG RADIOLOGI

Foto Kepala PA/ Caldwell

• Tulang-tulang sekitar sinus intak


• Septum nasi normal
• Radiolusen dari sinus maksilaris kiri
dan sinus frontalis kiri
• Tebal mucosa sinus bertambah
• Tidak tampak tumor dan destruksi
tulang sekitar sinus
RESUME

 Resume
 Pasien datang ke poli THT-KL RSUD dr. M. Haulussy Ambon
dengan keluhan hidung kiri tersumbat sejak ± 1 tahun yang
lalu, hilang timbul, keluhan diperparah bila pasien flu dan
saat beringus, cairan encer berwarna kuning, bau (+),
berdarah (-), gatal (-), tidak ada keluhan nyeri hidung (-), ± 2
kali bersin di pagi hari (+), batuk (-), demam (-), sakit kepala
(+) di area dahi kanan dan kiri (terutama pada area kiri).
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan cavum
timpani sempit, sekret (+). Konka edema (+), hiperemi (+).
Pada pemeriksaan radiologi ditemukan Derajat radioluscent
dari sinus maksilaris kiri dan sinus frontalis kiri berkurang dan
tebal mucosa sinus ter sebut ber tambah
DIAGNOSIS

 Diagnosis Kerja:
 Rhinosinusitis Kronis Kiri
 Rencana diagnosis: -
 Diagnosis Banding :
 Rhinosinusitis Kronis Vasomotor
 Rhinosinusitis Dentogen
RENCANA TERAPI

 Tindakan : -
 Hasil Tindakan : -
 Medikamentosa :
 Oral Antibiotik : Prolic (Clindamycin) 300mg 3dd 1 tab
 Oral Antiinflamasi : Methyl prednisolone 4mg 2dd 1tab
 Tetes Hidung : Iliadian Nasal Spray (Oxymetizoline HCl
0,05%) 2dd III gtt AS
EDUKASI

 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit yang


diderita yaitu Rinosinusitis Kronis hidung kiri.
 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai
komplikasi yang bisa terjadi yaitu bisa terjadi infeksi kronis yang
dapat berulang bila tidak ditangani dengan baik.
 Menjelaskan tatalaksana (medikamentosa dan non medikamentosa)
dan prognosis penyakit kepada pasien.
 Meminta pasien mengonsumsi obat teratur dan hingga habis
 Menjelaskan cara mengeluarkan sekret bila pasien pilek.
 Edukasi untuk kontrol ke poli THT.
FOLLOW UP

 Setelah 2 minggu pasien


mengonsumsi obat
teratur dan hingga habis
yang diberikan dokter
spesialis, pasien merasa
jauh lebih enak dan baik
setelah itu. Pasien tidak
merasakan ada
sumbatan, bau (-)
 Pada pemeriksaan fisik
rinoskopi anterior
didapatkan lapang,
sekret (-). Konka edema (-
), hiperemi (-)
DISKUSI

 . Pasien datang ke poli THT-KL RSUD dr. M. Haulussy Ambon dengan keluhan
hidung kiri tersumbat sejak ± 1 tahun yang lalu, hilang timbul, keluhan diperparah
bila pasien flu dan saat beringus, cairan encer berwarna kuning, bau (+), berdarah
(-), gatal (-), tidak ada keluhan nyeri hidung (-), ± 2 kali bersin di pagi hari (+),
batuk (-), demam (-), sakit kepala (+) di area dahi kanan dan kiri. Pada
pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan cavum timpani sempit, sekret (+).
Konka edema (+), hiperemi (+). Pasien didiagnosis dengan rhinosinusitis kronis
kiri, berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan hasil foto rontgen
DISKUSI

. Rhinosinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi karena


alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Terdapat 4 sinus disekitar hidung
yaitu sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis dan sinus sphenoidalis.
Penyebab utama sinusitis adalah infeksi virus, diikuti oleh infeksi bakteri. Secara
epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus ethmoid dan maksilaris.
Gejala umum rhinosinusitis yaitu hidung tersumbat diserai dengan nyeri/rasa
tekanan pada muka dan ingus purulent, yang seringkali turun ke tenggorokan
(post nasal drip). Klasifikasi dari sinusitis berdasarkan klinis yaitu sinusitis akut, subakut
dan kronik, sedangkan klasifikasi menurut penyebabnya adalah sinusitis
rhinogenik dan dentogenik. Bahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita
dan intrakranial. Tatalaksana berupa terapi antibiotik diberikan pada awalnya dan
jika telah terjadi hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau
kista maka dibutuhkan tindakan operasi. Tatalaksana yang adekuat dan
pengetahuan dini mengenai sinusitis dapat memberikan prognosis yang baik.
PENUTUP

. Rhinosinusitis kronis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi


karena alergi atau infeksi virus, bakteri maupun jamur. Terdapat 4 sinus disekitar
hidung yaitu sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis dan sinus
sphenoidalis. Penyebab utama sinusitis adalah infeksi virus, diikuti oleh infeksi
bakteri.
Penegakan diagnosis dilakukan atas dasar anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Terapi dibedakan berdasarkan stadium dari penyakit Pada pasien ini,
ditemukan bahwa pasien menderita Rhinosinusitis Kronis Kiri, sehingga pada
pasien ini direncanakan terapi dengan medikamentosa dan diberikan komunikasi
edukasi mengenai penyakit dan tata laksananya.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai