Anda di halaman 1dari 298

Makna Dua Kalimat Syahadat

Disyararah oleh Abdul Wahid Surhim


11 Oktober 2010
َّ ُ َ
ِ‫أ َه ِّميَّة الش َهداََََي ِّن‬
Pentingnya Dua Kalimat Syahadat
Disyarah oleh Abdul Wahid Surhim
‫َ‬ ‫َّ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬
‫أ َه ِّميَّة الش َهداَََ ني ِِّ‬
‫ا َ نل َم ند َخ ُل إَلَى ان ِّإل نسالَ ِّم‬
‫صةُ ََعَدا ِّلي ِّنم ان ِّإل نسالَ ِّم‬
‫ُخالَ َ‬ ‫أ َ َه ِّميَّةُ‬
‫داس ان ِّال نن ِّقالَ ِّ‬
‫ب‬ ‫س ُ‬ ‫أَ َ‬
‫ال َّ‬
‫ش َهداَََ َ ني ِِّ‬
‫س ِّل‬ ‫َح ِّق نيقَةُ ََ نع َوةِّ ُّ‬
‫الر ُ‬
‫فَ َ‬
‫ضدا ِّئ ُل َ‬
‫ع ِّظ ني َمة‬
Rukun Islam
‫ْل‬
‫َ إنَ َل إِلَهََِإ َل‬ ‫َاَدِة أ‬
‫َه‬
‫بَُنِ ي إِا إسََلُمعَلَ ىَ خإمٍس ش‬
‫ك‬
‫َز اةَِ والإَِح ج‬ َ ‫َاءِ ال‬ ‫ََلِةَ وِإ يت‬
‫مَضاَن‬ َ ‫َ وَ إص وِم َر‬
 Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi
 bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi
Muhammad utusan
 Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji
dan puasa Ramadhan
Rukun Islam
 Rukun Islam ada 5
 Mengucapkan dua kalimat syahadat
 Mendirikan shalat
 Menunaikan zakat
 Puasa bulan Ramadhan
 Menunaikan haji bagi yang mampu
 Mana di antara rukun itu yang paling berat?
Rukun Pertama
 Shalat memang berat (2:45), tapi ringan bagi yang khusyu’
(karena imannya benar)
 Zakat juga berat, tapi bagi yang meyakini balasan dari Allah
yang sangat besar, tentu akan menjadi ringan
 Puasa juga berat, tapi bagi yang beriman dengan baik, akan
jadi ringan
 Haji juga berat, tapi bagi yang bertakwa itu menjadi ringan
 Jadi yang menentukan adalah iman, yang ditentukan oleh
baiknya syahadatnya (rukun pertama)
PENTING
Diletakkan di urutan PERTAMA dalam
rukun Islam berarti syahadatain itu
sangat penting
Ia menjadi titik tolak baiknya rukun
selanjutnya
SYAHADAT PINTU MASUK ISLAM
 Ini bagi yang orang kafir yang mau masuk Islam
 Setelah ia mengucapkan syahadat, maka ia Muslim, apapun niatnya
(niat urusan Allah)
 Usamah bin Zaid pernah bertempur dengan orang kafir
 Setelah orang kafir itu terdesak dan hampir dipenggal, segera ia
bersyahadat
 Tapi Usamah tetap membunuhnya
 Kejadian itu dilaporkan ke Rasul SAW dan beliau SAW marah
 Usamah berkilah bahwa orang itu bersyahadah agar tidak dibunuh
 Rasul SAW, “Kenapa engkau tidak membelah dadanya?”
Tidak Ada Syahadat Ulang
 Ada sementara kelompok Muslim yang
mewajibkan syahadat ulang bagi Muslim (kalau
sudah aqil baligh); kalau tidak, berarti kafir
 Dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Sirah tidak
ada yang menyebutkan masalah ini
 Kalau masalah ini menyangkut ke-Islam-an tentu
dibahas di ketiga sumber Islam itu
Lahir di Rumah Islam

KAFIR
syahadat

MUSLIM
Di dalam rumah Keluar rumah

‫ط َر ِّة فَأَبَ َوا ُه‬ ‫علَى نال ِّف ن‬ َ ُ‫ُك ُّل َم نولُوَ يُولَد‬
‫َدا ِّن ِّه‬ ‫ّج‬ ‫م‬
َ ِّ َ ‫ن‬ُ ‫ي‬ ‫و‬ َ ‫أ‬ ‫ه‬
ِّ ‫ن‬
ِّ ‫ا‬ ‫ر‬ َ
َ ِّ ‫يُ َه ِّوََا ِّن ِّه أ ن‬
‫َص‬ ‫ن‬ ُ ‫ي‬ ‫و‬
PENTING
 Karena Syahadatain merupakan SATU-SATUNYA
PINTU untuk masuk kedalam Islam, berarti penting
sekali
 Tidak mau melewati pintu ini berarti belum Muslim
 Meski kita sudah berada di dalam rumah Islam
(MUSLIM), penting juga untuk mendalaminya
SYAHADAT RINGKASAN PRINSIP-PRINSIP
ISLAM
 Inti ajaran Islam adalah
Ikhlas kepada Allah
Mengikuti ajaran Rasul SAW
 Keduanya ada dalam syahadatain
 Inti Al-Qur’an ada di surat Al-Fatihah 
Penting, sehingga wajib dibaca setiap shalat
Belajar Mulai dari Global
 Mempelajari sesuatu lebih mudah dari yang
global lebih dahulu, baru yang lebih
rincinya
 Semasa di sekolah juga seperti itu
 Kenapa belajar Islam tidak demikian?
(Tidak memulai dari mempelajari
Syahadatain?)
Global ke Detail
Akuntansi
Ekonomi Manajemen
dll

SD Ilmu Politik
Ilmu politik

Hukun
dan Sosial Internasional
IPS dll

Sastra
Indonesia
Sastra Sejarah

dll
Hukum
Mulai dari Belajar Syahadatain
َ ِّ‫َّللاُ َوا نست َ نغ ِّف نر ِّلذَ نن ِّب َك َو ِّل نل ُمؤن ِّمن‬
ِ‫ي‬ َّ ‫فَا ْعلَ ْم أَنَّهُ ال ِإلَهَ ِإال‬
‫ت‬ِّ ‫َو نال ُمؤن ِّمنَدا‬
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada
Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan
mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi
(dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan
perempuan (47:19)
SYAHADAT ASAS PERUBAHAN
 Harus mulai dari mana kalau kita ingin
melakukan perubahan (masyarakat)?
 Pertanyaan yang jawabannya sangat sulit, Rasul
SAW sendiri bingung (93:7)
 Allah SWT-lah yang menunjukkannya
Kondisi Mekah Saat Itu
 Politik
 Di bawah bayang-bayang dua raksasa: Romawi dan Persia
 Banyak daerah subur yang dikuasai oleh kedua raksasa itu
 Ekonomi
 Harta yang banyak dimiliki oleh segelintir orang, sementara sebagian
besar masyarakat hidup miskin
 Mengakarnya riba
 Moral
 Cara-cara pernikahan: Al-Istibdha’, Al-Mukhadanah, Asy-Syighar,
Perkawinan Warisan, Perkawinan Mut’ah dan Menggabungkan dua
istri kakak-beradik kandung
 Minuman keras dan judi sudah menjadi kebiasaan
Kenapa Tidak Memulai dengan Gerakan
Politik?
 Dengan kepercayaan yang disandang beliau
SAW tentu bisa mengobarkan semangat
kearaban untuk melawan tirani Romawi
dan Persia
 Setelah sukses baru menerapkan kalimat
tauhid
 Kenapa tidak demikian?
 Kenapa harus memulai dengan syahadatain?
Tirani Tetap Tirani
 Kalau hanya mengobarkan semangat
kearaban saja lalu berhasil, maka sesungguh
hanya berpindah tirani: dari tirani Romawi
atau Persia ke tirani Arab
 Yang diinginkan Allah: tauhid tegak dari
langkah pertama
Kenapa Tidak Memulai dengan Revolusi
Sosial?
 Untuk menghapuskan golongan kaya dan
membagi ulang kekayaan kepada semua
orang secara adil?
 Pastilah kalau ini yang dipilih dukungan
dari sebagian besar masyarakat akan
terwujud sehingga pasti berhasil
 Setelah itu baru menerapkan kalimat
tauhid?
Menghilangkan Dendam
 Sistem Islam dalam masalah pembagian harta
didasari oleh ketaatan kepada perintah Allah
karena mengharapkan pahala yang besar di sisi
Allah di akhirat nanti
 Jadi bukan perampasan yang mengakibatkan
dendam antar-anggota masyarakat
 Dan ini terjadi kalau dari langkah pertama
kalimat tauhid sudah tegak
Kenapa Tidak Memulai dengan Gerakan
Moral?
Rasul mungkin bisa mencari orang-
orang yang masih bersih untuk
melancarkan gerakannya
Setelah banyak terkumpul, tentu
gerakannya akan makin banyak simpati
tanpa harus ditentang dari awal
Moral Harus Landasannya Kuat
 Gerakan moral semacam itu, yang hanya
didasari oleh peduli pada perbaikan moral
saja, tidak memiliki dasar yang kokoh
 Berarti pada akhirnya akan mudah roboh
 Landasan kokoh yang mendasari moralitas
adalah kalimat tauhid
13 Tahun Konsisten dalam Menanamkan
Tauhid
 Dalam sirah Nabawiyah dijelaskan bahwa
dakwah Rasul SAW saat di Mekah fokus
pada penanaman akidah
 Setelah di Madinah baru hukum halal-
haram diterapkan
Iman Sebelum Halal dan Haram
‫َنِة‬
َّ ‫َا ِْذ كُر الْج‬‫يْه‬ِ‫ص لف‬ ِ ‫الْم ف‬
َُ َ‫َ رٌةمِن‬ ‫َاأُنَْزِ لمِنْهُ ُْس إلو‬ ‫َُو ل م‬
‫إِنََّماأُنَْزِ ل َّأ‬
‫لْ و‬
َ ‫ََ و‬ َ ‫َاَب النَّاُسإِلَ ى ِا ْسَ المِ نَزَ ل‬
‫الْحََال لَ والَْ حَر ام‬ ‫َا ث‬‫َ والنَّاِ رَحَّت ى إِذ‬
‫َِ ل‬
‫ل و نُز‬َْ ‫َ و‬، ‫ََبًد ا‬
‫َا أ‬‫ََعَه‬ ‫لَ قالُْ و اَ ال ند‬
َ‫َ التَشَْرُب وا الَْ خْمَر‬: ‫ش يٍء‬ َْ ‫َُو ل‬ ‫نَُزِ ل َّأ‬
‫ََعَالزِنَا‬ ‫الُ و اَ ال ند‬
ْ ‫لَ ق‬
َ‫نُ و ا‬
ِْ‫َ التَز‬:
Sesungguhnya yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah surat
‘Al-Mufashshil’ yang berisi peringatan tentang sorga dan neraka.
Hingga keislaman manusia itu kokoh, turunlah tentang halal dan
haram. Jika yang pertama kali turun sesuatu yang berkenaan dengan:
‘Jangan minum khamar’, pastilah mereka berkata, ‘Kami tidak akan
meninggalkannya selamanya’; ‘Jangan berzina’, pastilah mereka
berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkannya’.”
(HR Imam Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman: 5/322)
SYADAHAT HAKIKAT DAKWAH PARA RASUL
 Setiap rasul yang diutus oleh Allah, pasti
membawa kalimat syahadat
 Jadi ini seperti PESAN BERANTAI
 Ini menunjukkan bahwa PESAN
(SYAHADAT) ITU SESUATU YANG
SANGAT PENTING
Wahyu Setiap Rasul (21:25)
‫سول ِّإال‬ ‫ر‬
ُ َ ِّ ِّ ِ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ك‬
َ ‫ل‬ ‫ب‬
‫ن‬ َ ‫ق‬ ‫ن‬
ِ ‫م‬ ‫َدا‬ ‫ن‬ ‫ن‬
ِّ َ ‫َو َمدا أ ن‬
‫ل‬ ‫س‬ ‫ر‬ َ
‫ُون‬
ِّ ‫د‬ُ ‫ب‬ ‫ع‬
‫ن‬ ‫دا‬َ ‫ف‬ ‫َدا‬ ‫ن‬َ ‫أ‬ ‫ال‬ ‫إ‬ َ
ِّ ِّ ‫ه‬ َ ‫ل‬ ‫إ‬ ‫ال‬ ُ ‫ه‬ َّ ‫ن‬َ ‫أ‬ ‫ه‬
ِّ ‫ي‬
‫ن‬ َ ِّ ُ‫ن‬
‫وحي ِّإل‬
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun
sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan
kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang
hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu
sekalian akan Aku".
Nabi Nuh AS (7:59)
ََّ ‫س نلنَدا نُو ًحدا ِّإلَى قَ نو ِّم ِّه فَقَدا َل يَدا قَ نو ِّم ا ْعبُ ُدوا‬
‫َّللا‬ ‫ر‬
‫ن‬ َ
َ ‫لَقَ ند أ‬
َ ‫علَ ني ُك نم‬
َ َ ‫عذ‬
‫اب‬ َ ‫َداف‬ُ ‫غ ْي ُرهُ ِّإنِّي أ َخ‬ َ ‫َما لَ ُك ْم ِم ْن ِإلَ ٍه‬
‫ع ِّظيم‬ َ ‫يَ نوم‬
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada
kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah
Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya."
Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah),
aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar
(kiamat).
Nabi Hud AS (7:65)
ََّ ‫عداَ أَخَدا ُه نم ُهوًَا قَدا َل يَدا قَ نو ِّم ا ْعبُدُوا‬
‫َّللا‬ َ ‫َو ِّإلَى‬
َ ُ‫غ ْي ُرهُ أَفَال ََتَّق‬
‫ون‬ َ ‫َما لَ ُك ْم ِم ْن ِإلَ ٍه‬
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka,
Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak
bertakwa kepada-Nya?"
Nabi Shalih AS (7:73)

‫صدا ِّل ًحدا قَدا َل يَدا قَ نو ِّم‬


َ ‫ن‬ ‫م‬ ُ
‫ه‬ ‫َدا‬
‫خ‬ َ ‫أ‬ َ َ ‫و‬‫م‬ َ َ
ُ ‫َو ِّإل‬
‫ث‬ ‫ى‬
َ ‫َّللاَ َما لَ ُك ْم ِم ْن ِإلَ ٍه‬
ُ‫غ ْي ُره‬ َّ ‫ا ْعبُ ُدوا‬
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud
saudara mereka, Saleh. Ia berkata. "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu
selain-Nya
Nabi Syu’aib AS (7:85)
ُ ‫َو ِّإلَى َم نديَ َِ أَخَدا ُه نم‬
‫شعَ نيبًدا قَدا َل يَدا قَ نو ِّم‬
َ ‫َّللاَ َما لَ ُك ْم ِم ْن ِإلَ ٍه‬
ُ‫غ ْي ُره‬ َّ ‫ا ْعبُ ُدوا‬
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk
Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak
ada Tuhan bagimu selain-Nya
SYAHADAT KEUTAMAAN AGUNG
 Kalimat thayyibah laa ilaaha illallah adalah
sebaik-baik dzikir
 Syahadat juga telah memunculkan generasi
terbaik umat (khairu ummah)
 Generasi yang agung ini diakui langsung oleh
Allah SWT (3:110)
 Jika ingin generasi seperti itu muncul lagi,
syahadat adalah kuncinya
َّ ‫َم ْدلُ ْو ُل ال‬
‫ش َها َد ِة‬
Kandungan Syahadat
‫)‪َ (A 2‬م ْدلُ ْو ُل ال َّ‬
‫ش َها َد ِة‬
‫ْإِق َر ٌار ِبا للِسَاُِ‬ ‫َاْلِْ عْ ََالُُ‬
‫س ِتََقا م َ ُة‬
‫ِاَال ْ‬ ‫تَصْدِ ْ ٌيق ِبا َلَْق ل ِْب‬ ‫َْليمَ اُُ‬
‫ِا ْ‬ ‫ا َلَْقَس َ م ُ‬ ‫ا لشَّهَادَ ِة‬
‫ْل‬ ‫ا َل ْعَهْ‬
‫عمَ ٌ َل ب َِْا ْ َركاُِ‬
‫دُ‬

‫ا َلشَّجَا ع َ ُة‬
‫س َعادَ ُة‬
‫ا َل َّ‬ ‫ِاَال ْطم ِ ئ ْن َاُُ‬ ‫س ِتََقا م َ ُة‬
‫ِاَال ْ‬
‫ا َل َت َّف اؤُ ُل‬
‫‪Syahadatain‬‬
‫أشهد أن الإله إال هللا‬
‫و أشهد أن محمدا رسول هللا‬
‫?”‪Apa arti kata “asyhadu‬‬
3 Arti Syahadah (“asyhadu”)
ُ َ‫)ا َ ْ ِْل ْعَال‬
1. Pernyataan (ُ
َ َ‫)ا َ ْلَق‬
2. Sumpah (‫س ُم‬
3. Janji (‫)ا َ ْلعَ ْه ُد‬
Syahadah Artinya PERNYATAAN
ُ ‫ ا َ ِّإل نق َر‬atau ‫( ا َ ِّإل نعالَ ُن‬dalam
 Bahasa Arabnya: ‫ار‬
bahasa Indonesia: Iklan, yang seharusnya
membacanya I’lan bukan iklan)
 “Asyhadu” berarti “aku menyatakan”
 Kalau dihubungkan dengan kalimat syahadat
maka artinya “aku menyatakan bahwa tidak ada
ilah kecuali Allah, dan aku menyatakan bahwa
Muhammad adalah utusan Allah”
‫‪Ayatnya 3:64‬‬
‫س َواء بَ نينَنَدا‬ ‫َ َ‬ ‫ة‬ ‫م‬ ‫ل‬
‫ِّ‬ ‫َ‬
‫ك‬ ‫ى‬ ‫َ‬ ‫ل‬ ‫إ‬ ‫ا‬ ‫و‬
‫ِّ َ ن ِّ‬‫َ‬ ‫ل‬ ‫دا‬ ‫ع‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ب‬ ‫دا‬‫َ‬ ‫ت‬ ‫ك‬
‫ِّ‬ ‫ن‬
‫ال‬ ‫ل‬
‫َ‬ ‫ن‬
‫ه‬ ‫َ‬ ‫قُ نل يَدا أ‬
‫ش نيئًدا َوال‬ ‫َللاَ َوال نُ نش ِّر َك ِّب ِّه َ‬ ‫َوبَ نينَ ُك نم أَال نَ نعبُدَ ِّإال َّ‬
‫َللاِّ فَإِّ نن َ َ َولَّ نوا‬
‫ُون َّ‬
‫ِّ‬ ‫َ‬ ‫ِ‬ ‫ن‬ ‫م‬
‫ِّ‬ ‫دا‬ ‫ً‬ ‫ب‬ ‫دا‬ ‫َ‬ ‫ب‬ ‫ر‬ ‫ن‬ ‫َ‬ ‫ضدا أ‬
‫ضنَدا بَ نع ً‬ ‫يَت َّ ِّخذَ بَ نع ُ‬
‫فَقُولُوا ا نش َهدُوا ِّبأَنَّدا ُم نَ ِّل ُمو َن‬
‫‪ Dalam ayat di atas kata “isyahaduu” berarti‬‬
‫”‪“nyatakanlah” atau “umumkanlah‬‬
Syahadat Artinya SUMPAH
 Kandungan kedua dari syahadat adalah
SUMPAH
َ َ‫ا َ نلق‬
 Bahasa Arabnya: ‫َ ُم‬
 “Asyhadu” berarti “aku bersumpah”
 Dihubungkan dengan kalimat syahadat maka
artinya “aku bersumpah bahwa tidak ada ilah
kecuali Allah, dan aku bersumpah bahwa
Muhammad adalah utusan Allah”
Sumpah: Bobot Kebenaran
 Sumpah memberikan bobot kebenaran terhadap apa yang
dinyatakan (makanya saksi sebelum bersaksi harus disumpah)
 Bahwa yang dinyatakan itu tidak main-main, melainkan keluar
dari hati yang paling dalam
 Contoh:
 Di sana ada tabrakan!
 Masak?
 Sumpah!
 (Yang mendengar jadi percaya)
‫‪Ayatnya 63:1-2‬‬

‫َللاِّ َو َّ‬
‫َللاُ‬ ‫سو ُل َّ‬ ‫ون قَدالُوا نَ نش َهدُ ِّإنَّ َك لَ َر ُ‬ ‫ِّإذَا َجدا َء َك نال ُمنَدافِّقُ َ‬
‫َللاُ يَ نش َهدُ ِّإ َّن نال ُمنَدافِّ ِّق َ‬
‫يِ لَ َكدا ِّذبُ َ‬
‫ون‬ ‫سولُهُ َو َّ‬ ‫يَ نعلَ ُم ِّإنَّ َك لَ َر ُ‬
‫”‪ Kata “nasyhadu” berarti “kami bersumpah‬‬
‫‪ Ini diperjelas oleh ayat berikutnya yang‬‬
‫‪menyatakan bahwa “mereka menjadikan‬‬
‫”…‪SUMPAH mereka sebagai perisai‬‬
‫َللاِّ ِّإنَّ ُه نم َ‬
‫سدا َء َمدا َكدانُوا‬ ‫ع نِ َ‬
‫س ِّبي ِّل َّ‬ ‫صدُّوا َ‬ ‫اَ َّ َخذُوا أ َ ني َمدانَ ُه نم ُجنَّةً فَ َ‬
‫يَ نع َملُ َ‬
‫ون‬
Syahadah Artinya JANJI
 Kandungan ketiga syahadat adalah JANJI
ُ َ ‫ ا َ نل ِّم نيث‬atau ُ‫ا َ نلعَ نهد‬
 Bahasa Arabnya: ‫داق‬
 “Asyhadu” berarti “aku berjanji”
 Dihubungkan dengan syahatain maka
artinya “aku berjanji bahwa tidak ada ilah
kecuali Allah, dan aku berjanji bahwa
Muhammad adalah utusan Allah”
Ayatnya 7:172
‫ور ِّه نم ذُ ِّريَّت َ ُه نم َوأ َ نش َهدَ ُه نم‬ ُ ِ‫َو ِّإ نذ أ َ َخذَ َرب َُّك ِّم نِ بَنِّي آََ َم ِّم ن‬
ِّ ‫ظ ُه‬
‫ش ِّه ندنَدا أ َ نن ََقُولُوا يَ نو َم‬ َ ‫ت ِّب َر ِّب ُك نم قَدالُوا بَلَى‬ ُ َ‫علَى أ َ ننفُ َِّ ِّه نم أَلَ ن‬
َ
ِ‫ي‬ َ ‫نال ِّقيَدا َم ِّة ِّإنَّدا ُكنَّدا‬
َ ‫ع نِ َهذَا غَدا ِّف ِّل‬
 Kata “asyhadahum” berarti “Aku mengambil
perjanjian kepada mereka”
 Ayat ini berkaitan dengan diambilnya perjanjian
oleh Allah kepada semua manusia saat ruh sudah
ditiupkan kedalam jasad (janin)
Allah Mengingatkan
 Kenapa kita tidak ingat?
 Saat kita umur satu tahun saja kita tidak ingat,
apalagi saat di dalam kandungan
 Biasanya ibu kita yang menceritakan saat kita
kecil, baru kita tahu
 Dalam hal ini Allah mengingatkan kepada kita
semua tentang peristiwa besar ini, agar tidak
dijadikan alasan “saya lupa” (7:173)
Harus Merasa Sedang Berjanji
 Orang yang membaca syahadatain harus
merasakan bahwa dirinya sedang berjanji di
hadapan Allah
 Tuntutan: harus ditepati
 Melanggar perintah/larangan Allah, meski
kecil, merasa bahwa dirinya telah
berkhianat
Merasakan Ketiga Kandungan Ini
 Jadi syahadat berarti pernyataan, sumpah, dan
janji
 Orang yang bersyahadat harus menyadari bahwa
ia lagi menyatakan, bersumpah, dan berjanji
kepada Allah bahwa tidak ada ilah kecuali Allah
dan Muhammad adalah utusan Allah
 Ini seharusnya dirasakan ketika kita membaca
syahadat saat tahiyyat dalam shalat
Komitmen Hati
 Kalau kita benar-benar menghayati ketiga makna
ini, maka kita telah memiliki komitmen di
dalam hati kita  hati terikat dengan
syahadatain
 Komitmen itulah yang disebut IMAN
 Contoh pribadi yang menyadari ini
 Bilal bin Rabbah
 Yasir dan Sumayyah
 Mush’ab bin Umair
Kondisi Sekarang?
 Imannya seharga Indo Mie
 Kekuatannya imannya seperti sarang laba-laba (29:41)
padahal inilah sarang yang paling lemah ( َِ ‫َو ِّإ َّن أ َ نو َه‬
ِّ ‫نت نالعَ نن َكبُو‬
‫ت‬ ُ ‫ت لَبَي‬ ‫ن‬
ِّ ‫)البُيُو‬
 Lemah karena tipisnya
 Kalau tebal, maka lebih kuat dari baja (dijelaskan di
film Harun Yahya)
 Kenapa ini terjadi?
 Karena memahami syahadatain hanya pernyataan saja
Iman yang Benar (‫دان نال َح ُّق‬
ُ ‫)ا َ ِّإل ني َم‬
 Iman yang benar juga harus memenuhi tiga hal
 ُِ‫( ْإِق َر ٌار ِبا للِسَا‬menyatakan dengan lisan)
 ‫صْدِ ْ ٌيق ِبا َلَْق ل ِْب‬
َ ‫( ت‬membenarkan dengan hati)
 ‫ات‬
ِ ‫( عمَ ٌ َل ِبا لْجَ َوارِ حِ َوا ل َْح َ َرك‬mengamalkan dengan
anggota badan dan gerakan-gerakan)
 Ketiganya harus ada, tidak boleh hilang satu pun

Lihat buku Al-Ibanah Al-Kubra Libni


Bathtah pada Bab Bayanul Iman wa
Fardhihi, juz 3, hlm 87
Pernyataan: STATUS
 Kandungan pertama syahadat adalah pernyataan
 Ini menghasilkan STATUS keIslaman seseorang
 Status ini tidak akan hilang hingga LISANNYA
mengingkarinya, bukan karena perbuatannya
 Tidak boleh mengkafirkan seseorang yang status
kemuslimannya masih tetap ada
ُ ‫( َم ْن َكفَّ َر أ َ َخاهُ فََقَ ْد بَا َء ِب َها أ َ َح ُد‬siapa yang mengkafirkan
 ‫ه َما‬
saudaranya maka itu kembali kepada salah satunya
[HR Ahmad])
Pentingnya Status
 Status itu sangat penting, karena menentukan
diterimanya amal seseorang
 Kalau dia tidak punya status (sebagai Muslim) maka
amalnya batal
 Seperti debu yang beterbangan (‫ورا‬ ً ُ ‫ ) َهبَدا ًء َم ننث‬25:
َ ‫ ) َك‬24:39
 Seperti fatamorgana (‫َ َراب‬
 Contoh sekolah. Kalau tidak terdaftar, tidak akan
diterima (tidak boleh masuk kelas, apalagi ikut ujian
dan dapat nilai?!)
Pembenaran Hati: Nilai Batin
 Bila seseorang sudah merasakan kandungan
kedua dari iman, maka batinnya bernilai
 Ini tentu tidak kelihatan
 Tapi bisa dilihat dari SIKAP
 Hati yang membenarkan menghasilkan sikap
yang baik
 Hati yang menolak memunculkan sikap yang
buruk
Pengamalan: Nilai Lahir
 Amal yang dilakukan seseorang
menunjukkan bahwa dirinya memiliki nilai
lahir
 Ini kelihatan, misalnya mendirikan shalat,
berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan
zakat, berhaji, dsb
Status dan Nilai
 Jika ketiga kandungan iman ini ada, maka seseorang
telah memiliki
 Status (sebagai Muslim)
 Nilai (batin dan lahir)
 Keduanya sama-sama penting
 Ada status tapi tidak ada nilai?
 Ada nilai tapi tidak ada status?
 Umar ra pernah menangis ketika bertemu dengan
seorang pendeta. “Amalnya banyak, tapi kelak masuk
neraka.”
Klasifikasi Manusia
Berdasarkan ketiga kandungan iman
itu, maka manusia bisa diklasifikasikan
kedalam beberapa golongan
Perhatikan Tabel berikut
Penggolongan Manusia Berdasarkan Lisan (L),
Hati (H), dan Amal (A)

NO L H A GOLONGAN
1 + + - Munafik amali “Tanda munafik ada
3…” (Al-Hadits)
2 + - + Munafik I’tiqodi Abdullah bin Ubai bin
(keyakinan) Salul
3 - + + Kafir Abu Thalib
4 - + - Iblis dan Abu Jahal
5 + - - Fir’aun 10:90
6 + + + Mu’min sejati
MUNAFIK
 Asal katanya: ‫َلنَّف ُق‬
َ ‫(ا‬LUBANG DI TANAH)
 Bintang Yarbu’ punya rumah dengan DUA PINTU 
pintu satunya adalah pintu rahasia yang disebut
ٌ‫نَافَِقَة‬
 Lorong Mina bahasa Arabnya Nafaq Mina
Munafik Amali (‫ي‬ ‫ل‬
ِّ
ُّ َ َ‫م‬‫ع‬ ‫ن‬
‫ال‬ ُ
‫ق‬ ‫ف‬
ِّ ‫َدا‬ ‫ن‬‫م‬ُ ‫ن‬
‫)ال‬
 Ini disebutkan dalam dua hadits yang sangat
terkenal
َ َ‫ع َد أ َ ْخل‬
‫ف َو ِإذَا‬ َ ‫ب َو ِإذَا َو‬
َ َ‫َّث َكذ‬
َ ‫ث ِإذَا َحد‬
ٌ ‫ق ث َ ََال‬
ِ ‫ف‬
ِ ‫ا‬َ ‫ن‬‫م‬ُ ْ
‫ل‬ ‫ا‬ ُ ‫ آيَة‬
ُ‫ا‬َ ‫اؤت ُ ِم َن َخ‬ ْ
 “Tanda-tanda munafik ada tiga: apabila berbicara
bohong, apabila berjanji ingkar, dan apabila
dipercaya berkhianat” (HR Bukhari-Muslim)
Empat Tanda Munafik
َّ ‫ن َكا ن َتْ ف ِيهِخَ لَّ ٌة م ِنْه ُن‬
ْ ‫ أ َْرب ٌَع م َن ْ ُك َّنف ِيهِ َكاَُ م ُنَا ًفَِقا َخا ل ِصًاوَ َم‬
‫ى‬ ‫ق‬
‫َكا ن َتْ ف ِيهِخَ لَّ ٌة م ِن ْ َن ِف ٍا حَ تَّ يَد َ عَهَا إِ ذَا َحدَّ ثَ كَ ذَ َب َو ِإ ذَا عا َهَ َد‬
‫ف َو ِإ ذَا َخاصَ مَ َفجَ َر‬ َ ‫غَدَ َر َو ِإ ذَاوَ ع َ َد أ َْخ َل‬
 “Empat hal, barangsiapa semuanya ada padanya maka
dia munafik tulen. Siapa yang terdapat salah satu dari
padanya maka dia memiliki satu bagian dari nifak
hingga ia menghilangkannya. Apabila berbicara dusta,
apabila mengikat perjanjian menyalahinya, apabila
berjanji ingkar, dan apabila berselisih curang.” (HR
Muslim)
Munafik I’tiqodi (‫ي‬
ُّ َ
ِّ ‫دا‬َ ‫ق‬‫ت‬
ِّ ‫ع‬
‫ن‬ ‫اإل‬
ِّ ُ
‫ق‬ ‫ف‬
ِّ ‫َدا‬ ‫ن‬‫م‬ُ ‫ن‬
‫ال‬ )
 Tokoh utamanya: Abdullah bin Ubai bin Salul (harus
lengkap namanya karena ada sahabat bernama Abdullah
bin Ubai bin Ka’ab)
 Mereka ikut shalat, tapi shalatnya malas dan riya (4:142)
 Bahkan mereka ikut berjihad, tapi di tengah jalan pulang
atau diserse (Perang Uhud), atau tetap ikut peperangan
tapi membuat kekacauan (Perang Al-Muraisi)
 Puncaknya terjadi menjelang Perang Tabuk: mereka
mendirikan masjid tandingan (Masjid Dhirar)
Masjid Dhirar
 Setelah Perang Tabuk selesai, turun ayat yang membongkar hakikat
masjid itu (9:107-108)
 Masjid (‫َ ِّّجدًا‬
‫ ) َم ن‬itu adalah
 Untuk menimbulkan kemudharatan (‫ارا‬ ً ‫)ض َر‬
ِّ
 untuk kekafiran (‫) ُك نف ًرا‬
 untuk memecah belah antara orang-orang mukmin (‫)َ َ نف ِّريقًدا‬
 Untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah
memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu (‫صداًَا‬ َ ‫) ِّإ نر‬
 Maka perintahnya adalah Janganlah kamu bersembahyang dalam
mesjid itu selama-lamanya (‫ )ال ََقُ نم فِّي ِّه أَبَدًا‬ HARUS
DIBONGKAR
FASIK
 Orang munafik kalau berterusan dalam kemunafikannya akan
menjadi FASIK
 FASIK = ‫نِالطَّاعَِة‬َ‫لْخاِ رُجع‬ ََ‫(ا‬tidak mau taat)
 Orang Arab berkata, ‫َُة‬ ‫ فََس ق ِت الُّرطْب‬apabila korma terkelupas dari
kulitnya
 Tikus disebut ‫س قٌة‬
َِ ‫ َفُْو ي‬karena keluar dari liangnya untuk
mengadakan pengrusakan
‫الْ فْأَ رُةَ والْْعَ قَر ُب‬
َ‫ُر ا ُبَ و‬
َ‫َةَُ والْغ‬
‫َأ‬
‫الْحد‬
ِ ِ‫الْح لَ والَْحَرم‬ِِ ‫َ قُْي قَتلْنَفِ ي‬
‫َ و ا ِس‬
‫َ خْمُس ف‬
‫الْ كْلُ ب الُْعَ ق وُ ر‬
َ‫َ و‬
Lima jenis binatang perusak yang boleh dibunuh, baik di tanah
halal maupun di tanah haram, yaitu burung elang, burung
gagak, tikus, kalajengking, dan anjing gila (HR Bukhari-Muslim
Ciri-ciri Fasik (2:27)
1. Merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh
 Janji itu adalah mentauhidkan Allah (7:172)
 Janji itu juga pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul
 Janji juga berupa perintah dan larangan Allah
2. Memutuskan apa-apa yang diperintahkan supaya dihubungkan
(silaturrahim dan hubungan kekerabatan)
3. Mengadakan kerusakan di muka bumi
 Tiga sifat di atas sebagai tambahan tiga sifat munafik seperti dalam hadits
yang masyhur
 Apabila mereka menang, tampaklah ke-6 sifat itu
 Tapi apabila mereka kalah, mereka menampakkan tiga sifat seperti dalam
hadits itu
Abu Thalib Tetap Kafir
 Meskipun Abu Thalib meyakini kebenaran yang
dibawa Rasul SAW dan beramal luar biasa dalam
membela Rasul SAW, tapi tetap kafir karena
tidak mau bersyahadat
 Inilah yang membuat beliau SAW sangat
bersedih
 Tapi hidayah itu hanya milik Allah (28:56)
 Diriwayatkan bahwa nerakanya Abu Thalib
paling ringan
Iblis dan Abu Jahal
 Iblis jelas meyakini adanya Allah, bahkan berdialog dengan Allah,
tapi ingkar
 Demikian pula Abu Jahal
 Dialog sebelum Perang Badar
 Saya ingin berbicara empat mata dengan Anda. Apakah Anda
membenarkan apa yang dibawa Muhammad?
 Ya!
 Kenapa Anda selalu menentangnya bahkan memeranginya?
 Semua keutamaan Bani Hasyim bisa disamai oleh Kabilahku. Tapi
ini masalah kenabian, tidak bisa kami mengaku Nabi. Kita tidak
bisa menyamainya. Oleh karena itu kami membencinya dan
memeranginya
Pernyataannya Fir’aun
 Pernyataan Fir’aun tentang pengakuan keesaan
Allah terlambat karena nafas sudah berada di
tenggorokan (10:90)
 Tapi ini sebagai bukti bahwa akhirnya dakwah
Nabi Musa as berpengaruh juga kepada Fir’aun
 Kebaikan itu berakar, sedang keburukan itu
hanya ada di permukaan saja
ISTIQOMAH
 Mu’min yang selalu menjaga lisan, hati dan
anggota badannya dengan yang dituntut oleh
Allah dan RasulNya, maka dia berada dalam
kondisi istiqomah
 Istiqomah tidak bisa datang tiba-tiba, tapi
melalui proses
 Itulah kenapa digunakan kata “tsumma”
(kemudian)
Istiqomah Berproses

َّ ‫يِ قَدالُوا َربُّنَدا‬


‫َللاُ ث ُ َّم‬ َّ
َ ِّ ‫ِّإ َّن ال‬
‫ذ‬
‫ا نستَقَدا ُموا‬
Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah"
kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka (41:30, 46:13)
Iman Selanjutnya Istiqomah
‫َللاُ ث ُ َّم ا نست َ ِّق نم‬
َّ ‫ي‬َ ‫ب‬
ِّ ‫ر‬
َ ‫ن‬
‫ل‬ ُ ‫ق‬ 
 Katakanlah Robbku Allah kemudian istiqomah (HR Tirmidzi dll)

‫داَّللِّ ث ُ َّم ا نست َ ِّق نم‬ ُ ‫قُ نل آ َم نن‬


َّ ‫ت ِّب‬
 Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istiqomah (HR
Ahmad dll)
Balasan Bagi Yang Istiqomah
َ ‫َللاُ ث ُ َّم ا نستَقَدا ُموا ََتَن ََّز ُل‬
‫علَ ني ِّه ُم‬ َ ‫ِّإ َّن الَّ ِّذ‬
َّ ‫يِ قَدالُوا َربُّنَدا‬
‫نال َمالئِّ َكةُ أَال ََخَدافُوا َوال َ َ نحزَ نُوا َوأ َ نب ِّش ُروا ِّب ندال َّجنَّ ِّة الَّتِّي‬
‫ُون‬
َ ‫عد‬َ ‫ُك ننت ُ نم َُو‬
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah
Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka,
maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah
kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu".
(41:30)
Keberanian (ُ‫عة‬ َّ ‫)َل‬
َ ‫ش َّجدا‬ َ
 Dikatakan kepada orang yang istiqomah ‫( أَال ََخَدافُوا‬janganlah
kalian khawatir), maka dia tidak akan khawatir 46:13 ( ‫فَال‬
‫علَ ني ِّه نم‬
َ ‫ف‬
ٌ ‫)خ نَو‬
 Artinya dia selalu berani
 Contoh:
 Rib’i bin Amir ketika menghadap Rustum (panglima Persia)
 Abdullah bin Zubeir tidak mau minggir ketika Umar lewat,
padahal yang lainnya minggir (aku tidak bersalah; kenapa
aku harus minggir sedangkan jalannya masih luas?)
 Ketakutan bersumber dari ketidak-istiqomahan
‫)ا َ ِّال ن‬
ُ ‫ط ِّمئنن‬
Tenang (‫َدان‬
 Musibah apapun yang menimpanya tidak akan
menumbangkannya (putus asa)
 Sebaliknya, kebaikan apapun yang diraihnya
tidak membuatnya sombong (57:22-23)
 Ketenangan dan kestabilannya karena menyadari
semua takdir Allah itu baik (‫) ُك ُّل َمدا قَدَّ ُر هللاُ َخينر‬
Optimis (‫)اَلتَّفَدا ُؤ ُل‬
 Memandang masa depan penuh dengan
keyakinan (optimis)
 Malaikat memberikan kabar gembira
tentang sorga yang telah dijanjikan
 Melihat masa depan Islam pun yakin bahwa
masa depan di tangan Islam ( ‫نال ُم نَت َ نقبَدا ُل ِّلهذَا‬
ِ‫)الدي ِّن‬
ِّ
Bahagia Sejati (ُ ‫َعَداََة‬ َّ ‫)اَل‬
 Jika seseorang hidupnya penuh keberanian,
tenang dan optimis, maka berarti telah
tercapai kebahagiaan hakiki
 Bagaimana bahagia kalau salah satunya
hilang?
 Jadi syahadah menghantarkan kita kepada
sa’adah (ِّ‫)م َِ الش َهدَةِّ ِّإلَى الَعَداََة‬
ِّ
‫لِه‬
َ ‫مَعإنَ ى إِا ْل‬
Kandungan Kata “Ilah”
‫َم نعنَى ان ِّإللَ ِّه )‪(A 3‬‬

‫َك َما ُل ا ْل َم َحبَّ ِة‬


‫سك ََن ِإلَ ْي ِه‬ ‫َ‬
‫ار ِب ِه‬ ‫ست َ َج َ‬ ‫اِ ْ‬
‫أ َ ِلهَ‬
‫َك َما ُل التَّذَلُّ ِل‬ ‫عبَ َد ُه‬
‫َ‬
‫اق ِإلَ ْي ِه‬ ‫شت َ َ‬ ‫اِ ْ‬
‫ع‬ ‫َك َما ُل ا ْل ُخ ُ‬
‫ض ْو ِ‬ ‫ُو ِل َع ِب ِه‬
‫هللا‬ ‫ا َ ْل َم ْر ُ‬
‫ب ا ْل ِوالَيَ ِة‬
‫اح ُ‬
‫ص ِ‬‫َ‬ ‫ب‬
‫غ ْو ُ‬
‫ب‬‫ا َ ْل َم ْر ُه ْو ُ‬
‫ع ِة‬ ‫ب ال َّ‬
‫طا َ‬ ‫اح ُ‬
‫ص ِ‬‫َ‬ ‫ا َ ْل َم ْعبُ ْو ُد‬ ‫ا َ ِْللَهُ‬
‫ا َ ْل َمتْبُ ْو ُ‬
‫ع‬
‫ب ا ْل َحا ِك ِميَّ ِة‬
‫اح ُ‬
‫ص ِ‬‫َ‬
‫ب‬‫ا َ ْل َم ْحبُ ْو ُ‬
Kata ILAH
 Terdiri atas tiga hurup: alif, laam, dan haa
 Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab maka
ALIHA itu memiliki beberapa arti
 Tenang/tentram (‫س َك َِ ِّإلَ ني ِّه‬
َ )
 Memohon perlindungan (‫دار ِّب ِّه‬ َ ‫)اِّ نست َ َّج‬
 Yang dituju karena rindunya (‫شتَداقَ ِّإلَ ني ِّه‬ ‫)اِّ ن‬
 Paling dicintai/dirindukan (‫)و ِّل َع ِّب ِّه‬ ُ
 Mengabdi (ُ‫عبَدَه‬
َ )
Tenang/Tentram (‫س َك َِ ِّإلَ ني ِّه‬
َ )
 Berarti ‫ الإله إالهللا‬maknanya “tidak ada yang dapat
memberikan ketenangan dan ketentraman kecuali Allah”
 Seorang Muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat
menenangkan dan menentramkan kecuali menjalin
hubungan dengan Allah
 13:28 ‫وب‬ ‫َللاِّ َ َ ن‬
ُ ُ‫ط َمئِّ ُِّ نالقُل‬ َّ ‫( أَال ِّب ِّذ نك ِّر‬Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram)
 10:7 ridho dan merasa tenang dengan kehidupan dunia
‫ضوا ِّب ندال َحيَدا ِّة الدُّ ننيَدا َو ن‬
(‫اط َمأَنُّوا ِّب َهدا‬ ُ ‫)و َر‬ َ
َ ‫)اِّ نست َ َّج‬
Memohon Perlindungan (‫دار ِّب ِّه‬
 Berarti ‫ الإله إالهللا‬maknanya “tidak ada yang dapat
memberikan perlindungan kecuali Allah”
 72:6 minta perlindungan kepada jin, didapati
adalah bencana dan dosa
 Hadits: meski semua makhluk melindungi
seseorang tapi Allah hendak menimpakan
bencana, maka akan tertimpa bencana. Begitu
pula sebaliknya
Yang Dituju Karena Rindunya (‫)اِّ نشتَداقَ ِّإلَ ني ِّه‬
 Berarti ‫ الإله إالهللا‬maknanya “tidak ada yang dituju
karena rindunya kecuali Allah”
 ‫ هللاُ غَدايَتُنَدا‬Allah tujuan kami
 51:50-51 larilah kamu menuju Allah
 Kalau lari, tabiatnya muka ke depan dan tidak
berpaling ke kiri dan ke kanan
 Jangan terbuai dengan dunia dan orang lain
 18:28 ‫ع نن ُه نم‬ َ ‫َداك‬ َ ُ‫( َوال َ َ نعد‬janganlah kedua matamu
َ ‫ع نين‬
berpaling dari mereka)
Paling Dicintai/Dirindukan (‫)و ِّل َع ِّب ِّه‬
ُ
 Berarti ‫ الإله إالهللا‬maknanya “tidak ada yang dicintai atau
dirindukan kecuali Allah”
 Boleh kita cinta anak, harta, dan yang lainnya, tapi yang paling
dcintai haruslah Allah
 2:165 kecintaan seorang mu’min kepada Allah harus sangat
cinta, bukan sama cintanya dengan kepada selainNya
 Kenapa cintai tertinggi harus kepada Allah?
 Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan
 Menuruti tuntutan anak, istri, dan lainnya tidak boleh
bertentangan dengan Allah
Mengabdi (ُ‫عبَدَه‬
َ )
 Ini arti ilah yang merangkum semua arti ilah di atas
 Karena mengabdi berarti
 Merasa tenang
 Minta perlindungan
 Menuju karena rindunya
 Mencintai
 Berarti ‫ الإله إالهللا‬maknanya “tidak ada yang berhak
diabdi kecuali Allah”
Tuntutan Pengabdian
 Pengabdian itu tercapai kalau dilakukan dengan
َ ‫) َك َمدا ُل نال َم‬
 Sempurna dalam mencintai (‫حبَّ ِّة‬
 Merasa asyik bersamanya
 Berlama-lama bersamanya
 Sempurna dalam menghinakan diri (‫ل التَّذَلُّ ِّل‬
ُ ‫) َك َمدا‬
 Kerendahan yang paling rendah adalah saat sujud
 Sempurna dalam ketundukan (ِّ‫ض نوع‬ ُ ‫) َك َمدا ُل نال ُخ‬
 Terhadap semua aturan yang telah ditetapkan
 Tanpa reserve
 Apakah kita ketika beribadah merasa seperti ini?
Ilah itu X
 Dari keterangan arti ilah secara bahasa, maka ilah itu bisa apa
saja  ilah itu X
 X jadi ilah kalau
 Diharapkan (‫ب‬ ُ ‫ )اَ نل َم نر‬karunia dan pahalanya atas segala jerih
ُ ‫غ نو‬
payahnya
 Ditakuti (‫ب‬ ُ ‫ )اَ نل َم نر ُه نو‬siksanya (intimidasi, teror, ancaman); X biasanya
punya fasilitas dunia
ُ ‫ )اَ نل َمتنبُ نو‬perintah dan larangannya yang bertentangan dengan
 Diikuti (‫ع‬
Allah (42:21  X buat syariat lalu diikuti, X = ilah)
 Dicintai (‫ب‬ُ ‫ )اَ نل َم نحبُ نو‬sama atau lebih tinggi dari pada cintanya kepada
Allah
 Kalau sudah demikian maka X jadi yang disembah/diabdi
(ُ َ‫)ا َ نل َم نعبُ نو‬
ILAH (Ibnu Taimiyah)
‫إ‬ ُ ‫إ‬َ ‫إ‬
‫َألَههُال قل ُب ِب كِ ل ال ُح ِب‬ َ‫إ‬ ‫ُهَ و الَِذ ي ي‬
‫اء‬
ِ ‫مَ وال َرَ ج‬ ِ‫يِ لَ والتَإ كِرإي‬
‫مَ والتَ إجِلإ‬
ِ‫ي‬
‫ظإ‬ِ ‫َ والتَ إع‬
‫لَ ك‬َِ‫َ إحَ و ذ‬‫َ والَخإ و ِفَ ون‬
Segala yang digandrungi hati dengan segenap
kecintaan, pengagungan, penghormatan,
pemuliaan, harap, cemas, dan sederajat dengan
itu
Pengabdian Kepada Allah
Pengabdian hanyalah kepada Allah
saja karena
Allah Pemilik otoritas
Allah Pemilik ketaatan
Allah Pemilik kedaulatan
Allah Pemilik Otoritas (‫ب نال ِّوالَيَ ِّة‬
ُ ‫داح‬
ِّ ‫ص‬َ )
 Hak memerintah dan memimpin ada di Tangan Allah,
bukan yang lain
‫ أَال لَهُ نالخ نَل ُق َو ن‬Ingatlah, menciptakan dan
 7:54 ‫األم ُر‬
memerintah hanyalah hak Allah
 7:196 ِ‫ي‬َ ‫صدا ِّل ِّح‬ َ َ ‫َللاُ الَّ ِّذي ن ََّز َل نال ِّكت‬
َّ ‫داب َو ُه َو يَت َ َولَّى ال‬ َّ ‫ي‬َ ‫ِّإ َّن َو ِّل ِّي‬
Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah
menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia melindungi
orang-orang yang saleh.
 Kalau ada manusia yang mengaku punya otoritas 
merebut hak Allah = syirik
Allah Pemilik Ketaatan (‫ع ِّة‬ َّ ‫ب‬
َ ‫الطدا‬ ُ ‫داح‬
ِّ ‫ص‬َ )
 Ketaatan yang utama adalah taat kepada Allah (4:59)
 Ketaatan kepada Rasul karena Rasul tidak pernah ma’siyat
kepada Allah, sehingga nilai ketaatannya sama (4:80)
 Ketaatan kepada ulil amri punya syarat, ulil amri itu taat
kepada Allah

‫وف‬ ‫ر‬ ‫ع‬


ِ ُْ َ‫م‬‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ي‬ ‫ف‬
ِ ُ ‫َة‬
‫ع‬ ‫ا‬ َّ
‫ط‬ ‫ال‬ ‫ا‬ ‫م‬ َّ ‫ن‬ ‫إ‬ ‫ة‬
ٍ ‫ي‬ ‫ص‬ ‫ع‬‫م‬ ‫ي‬ ‫ف‬ َ
َ ِ َ ِ ْ َ ِ ‫َال َطاعَة‬
Tidak ada ketaatan dalam ma’siyat, ketaatan itu hanya pada
masalah ma’ruf (Muttafaq alaih)
Allah Pemilik Kedaulatan (‫ب نال َحدا ِّك ِّميَّ ِّة‬
ُ ‫داح‬
ِّ ‫ص‬َ )
 Kedaulatan ada di tangan Allah (6:57, 12:40,67)
ِّ‫ِّإ ِّن نال ُح نك ُم ِّإال ِّ ََّّلل‬
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah
 Kedaulatan rakyat bermakna
 Bagaimana umat Islam sebagai mayoritas
mendapatkan aspirasi-aspirasi yang Islami
 Memastikan bahwa negara ini adalah negara hukum,
sehingga hak-hak terlindungi sesuai tujuan-tujuan
َّ ‫داصدُ ال‬
syari’at (‫ش ِّر نيعَ ِّة‬ ِّ َ‫) َمق‬
Ilah Satu-satunya Allah SWT
 Yang kita berikan cinta yang sempurna,
penghinaan diri yang sempurna,
ketundukan yang sempurna hanyalah Allah
 Yang memiliki otoritas, ketaatan, dan
kedaulatan hanyalah Allah saja
 20:14 Aku Allah maka sembahlah Aku ( ‫ِّإنَّنِّي‬
‫َللاُ ال ِّإلَهَ ِّإال أَنَدا فَدا نعبُ ندنِّي‬
َّ ‫)أَنَدا‬
Dialog Rasul SAW dan Banu Syaiban
 BS: Kepada apa kamu menyeru kami, wahai saudaraku
Quraisy?
 Rasul: Aku menyeru agar kalian mengatakan ‫الإله إالهللا‬
 BS: Kalau begitu kamu akan diperangi bangsa Arab dan non-
Arab. Kalau dengan Arab kami berani, tapi dengan Persia tiada
ampun
 Rasul: Kebaikan bagi kalian kalau kalian menerima, dan
keburukan bagi kalian jika kalian menolak. Sesungguhnya dien
Allah tidak akan menolongnya kecuali yang meliputi seluruh
sisi-sisinya
ُ‫لَْو الُءَ اولْبَراء‬
ََ‫ا‬
Loyalitas dan Pemutusan Hubungan
‫َراءُ‬ ‫)‪(A 4‬اََ‬
‫لإَو َلُءَ اولإبَ‬
‫ا َ ْل ُك ْف ُر‬
‫الَ اَلنَّ ْف ُي‬
‫ا َ ْلعَد َ‬
‫َاوةُ‬
‫ا َ ْل َه ْد ُم‬ ‫ا َ ْلبَ َرا ُء‬
‫صلَةُ‬
‫ا َ ْل ُمفَا َ‬ ‫إِلَهَ ا َ ْل َم ْن ِف ُّي‬
‫ض‬‫ا َ ْلبُ ْغ ُ‬
‫ا َ ِْل ْخَالَ ُ‬
‫ص‬ ‫الَ إِلَهَ إِالَّ هللاُ‬
‫طاعَةُ‬ ‫اَل َّ‬
‫ِإالَّ ا َ ِْلثْبَاتُ‬
‫اَلنَّ ْ‬
‫ص ُر‬
‫ا َ ْل ِبنَا ُء‬ ‫ا َ ْل َوالَ ُء‬ ‫اَل َّ‬
‫ش َهادَتَ‬
‫ب‬‫ا َ ْلَقُ ْر ُ‬ ‫اَهلل ا َ ْل ُمثْبَتُ‬
‫ا َ ْل َم َحبَّةُ‬ ‫اُ‬
‫ِ‬
‫صد ًَرا‬ ‫َم ْ‬ ‫اَهللُ‬
‫َك ْي ِفيَّةُ‬ ‫س ْو ُل َك ْي ِفيَّةً‬ ‫ج ا ْل َوالَ ِء‬‫ِم ْن َها ُ‬
‫ا َ ِالتِبَا ُ‬
‫ع‬ ‫لر ُ‬‫ا َ َّ‬ ‫س ْو ُل هللاِ‬
‫ُم َح َّم ٌد َر ُ‬
‫ا ْل َه ْد ِم‬ ‫اء‬‫َوا ْلبَ َر ِ‬
‫ا َ ْل ُم ْؤ ِم ُن ت َ ْن ِف ْيذًا‬
Susunan Unik ‫الإله إالهللا‬
 Kalimat ‫ الإله إالهللا‬memiliki susunan yang unik

……..‫…… إال‬.‫ال‬
 Jadi yang dikehendaki adalah “peniadaan
semuanya (ilah) dan pengokohan satu saja
(Allah)
 Tidak kenal kompromi
 Harus dihilangkan sebersih-bersihnya
Menanam Tanaman
 Ada empat kemungkinan

NO Awal Akhir Hasil


1 Babat Tanam Subur/baik
2 Babat Tidak tanam Tanaman asal
3 Tidak babat Tanam Kerdil (mati)
4 Tidak babat Tidak tanam Liar
No. 1
Itulah gambaran kalimat ‫الإله‬
‫إالهللا‬
Hasilnya adalah keimanan yang
kokoh
No. 2
 ‫ الإله‬tanpa ‫إالهللا‬
 Menolak kebatilan tanpa mau menerima kebenaran
 Hasilnya kebatilan lagi
 Mungkin hanya rupanya yang berbeda, tapi tetap
kebatilan (kebatilan baru)
 Contoh: menolak kapitalisme tapi tidak mau
menerima Islam, hasilnya sosialisme/komunisme
No. 3
 ‫ إالهللا‬tanpa ‫الإله‬
 Mengakui kebenaran tapi tidak mau
menolak kebatilan
 Hasilnya: mencampur-adukkan kebenaran
dengan kebatilan (2:42)
‫داط ِّل َوَ َ نكت ُ ُموا نال َح َّق َوأ َ ننت ُ نم‬ ‫ب‬ ‫ن‬
‫دال‬
ِّ َ ِّ َ ‫ب‬ َّ
‫ق‬ ‫ح‬ ‫ن‬
‫ال‬ ‫وا‬ َ ‫ن‬
ُ ِّ َ َ ‫َوال‬
‫ب‬ ‫ل‬
َ ‫َ َ نعلَ ُم‬
‫ون‬
No. 4
Semua dibabat dan tidak mengakui
kebenaran, berarti ATEIS
Ateis adalah paham yang buruk
karena tidak mengakui adanya tuhan
Pohon yang Baik (14:24-25)
Kalimat ‫ الإله إالهللا‬adalah kalimat yang
baik (ً‫ط ِّيبَة‬
َ ً‫) َك ِّل َمة‬
Perumpamaannya seperti pohon yang
baik ( ‫ط ِّيبَة‬َ ‫ش َّج َرة‬ َ ‫) َك‬
Apa ciri-ciri pohon yang baik?
‫)أ َ ن‬
ٌ ‫صلُ َهدا ثَدا ِّب‬
Akarnya Kokoh (‫ت‬
 Ini syarat sebuah pohon bisa hidup dengan baik
 Akar adalah tempat menyerap makanan
 Akar juga untuk mengikat pohon dengan tanah
sehingga tidak roboh
 Akar yang kokoh mampu menahan angin yang
kencang
 Iman yang kuat: akar imannya menghunjam ke dalam
hati
 Akan kokoh dan teguh dalam menghadapi tantangan
dan ujian
Cabangnya (Menjulang) Ke Langit ( ‫عَها ِف ي‬
ُ ‫َإر‬
‫ف‬
‫اء‬
ِ ‫)ال َسَم‬
 Karena akarnya kokoh, maka mampu menopang cabang-
cabang yang menjulang tinggi ke langit
 Ketinggian atau lebarnya cabang-cabang menunjukkan akarnya
juga seperti itu
 Ini adalah pohon yang rindang menyejukkan bagi siapa saja
yang bernaung di bawahnya
 Daunnya juga lebat: daun adalah dapurnya pohon
 Iman yang seperti itu menyenangkan siapa saja yang bernaung
di bawahnya dan memancarkan sinarnya yang menyejukkan
Produktivitas Tinggi ( ‫ن ِبإِإذِن‬
ٍ‫ي‬‫ح‬ ِ ‫ل‬ َ ‫ك‬ ُ ‫ا‬ ‫ه‬َ
‫ل‬‫ك‬ ُُ
َ ‫ت يأ‬ ِ‫تُإؤ‬
‫)َرِبَها‬
 Kokoh, tinggi dan rindang takkan berarti apa-apa
kalau tidak berbuah
 Karena buah itulah yang ditunggu orang yang
menanamnya
 Iman yang seperti ini menghasilkan amal shalih yang
terus-menerus tidak mengenal musim
 Tidak seperti kebanyakan muslimin yang beramal
banyak kalau Ramadhan saja (katanya Ramadhan
musim taat)
Kalimat yang Buruk (14:26)
 Selain ‫ الإله إالهللا‬adalah kalimat yang buruk ( ‫خ ِّبيثَة‬
َ ‫َك ِّل َمة‬
)
 Mereka seperti pohon yang buruk (‫خ ِّبيثَة‬ َ ‫) َك‬
َ ‫ش َّج َرة‬
 Cirinya tidak perlu banyak, cukup satu saja: akarnya
tercerabut dari bumi (‫ض‬ ِّ ‫األر‬
‫ق ن‬ ‫)اجتُث َّ ن‬
ِّ ‫ت ِّم نِ فَ نو‬ ‫ن‬
 Tidak akan kokoh (‫) َمدا لَ َهدا ِّم نِ قَ َرار‬
 Tidak akan menjulang ke langit dahannya
 Tidak akan berbuah
 Contoh: tauge
Rincian Kalimat ‫الإله إالهللا‬
Kalimat terdiri atas empat
kata
1. ‫َل‬
2. ‫إله‬
3. ‫إ َل‬
4.
 Masing-masing memiliki fungsi
RASM
Berlepas Diri (‫)ا َ نلبَ َرا ُء‬
‫ ال‬fungsinya adalah meniadakan (‫ي‬ ُ ‫)اَلنَّ نف‬
 Atau makna yang sejenis: menghancurkan,
meruntuhkan, membabat, menghilangkan
‫ إله‬fungsinya sebagai yang ditiadakan (‫ي‬ُّ ‫ف‬
ِّ ‫ن‬
‫ن‬ ‫م‬
َ ‫ن‬
‫ل‬ َ ‫)ا‬
 Pembahasannya sudah diuraikan di A03 Ma’nal Ilah
 Keduanya mengandung maksud bahwa kita
harus berlepas diri dari semua ilah atau disebut
dengan ‫ا َ نلبَ َرا ُء‬
RASM
Maksud ‫ا َ نلبَ َرا ُء‬
 Ada empat makna yang dimaksud oleh kata al-bara’
 Mengingkari atau menolak (‫)ا َ نل ُك نف ُر‬
ََ ‫)ا َ نلعَد‬
 Memusuhi (ُ ‫اوة‬
ُ ‫)ا َ نلبُ نغ‬
 Membenci (‫ض‬
َ ‫)ا َ نل ُمفَدا‬
 Memutuskan atau mengisolir (ُ‫صلَة‬
 Jadi memutuskan hubungan dengan semua ilah disertai
pengingkaran, permusuhan dan kebencian
 Putus hubungan tanpa menolak, memusuhi dan
membencinya  masih mungkin balik lagi
‫‪60:4‬‬

‫ُون ِّم نِ‬ ‫ِّإنَّدا بُ َرآ ُء ِّم نن ُك نم َو ِّم َّمدا َ َ نعبُد َ‬


‫َللاِّ َكفَ نرنَدا ِّب ُك نم َوبَدَا بَ نينَنَدا‬
‫ُون َّ‬
‫َ ِّ‬
‫ضدا ُء أ َبَدًا‬ ‫ب‬ ‫ن‬
‫َوبَ نينَ ُك ُم َ َ َ َ َ َ‬
‫ن‬
‫غ‬ ‫ال‬ ‫و‬ ‫ُ‬ ‫ة‬‫او‬ ‫د‬ ‫ع‬ ‫ن‬
‫ال‬
‫َحتَّى َُؤن ِّمنُوا ِّب َّ‬
‫داَّللِّ َو نحدَهُ‬
‫‪RASM‬‬
Setia (‫)ا َ نل َوالَ ُء‬
 َّ‫ ِّإال‬fungsi sebagai pengecualian (‫ستِّثننَدا ُء‬
‫)اإل ن‬
ِّ
tapi karena ada ‫( ال‬meniadakan) maka
fungsinya sebagai ‫دات‬ ُ َ‫( ا َ ِّإلثنب‬mengokohkan)
 ‫ اَهلل‬adalah Dzat yang dikokohkan (‫ت‬ ُ َ‫)ا َ نل ُمثنب‬
 Keduanya mengandungkan maksud agar
kita memberikan kesetiaan kita hanya
kepada Allah semata (‫)ا َ نل َوالَ ُء‬
RASM
Maksud ‫ا َ نل َوالَ ُء‬
 Seperti al-Bara, maka al-Wala juga mengandung
empat unsur
 Mematuhi (ُ‫عة‬ َّ َ ‫)ا‬
َ ‫لطدا‬
 Mencintai (ُ‫حبَّة‬ َ ‫)ا َ نل َم‬
 Menolong (ُ ‫صرة‬ ‫)اَلنَّ ن‬
 Dekat (‫ب‬ُ ‫)ا َ نلقُ نر‬
 Setia dan loyal kepada Allah disertai ketaatan,
cinta, pertolongan dan kedekatan kepadaNya
RASM
Menghancurkan (‫)ا َ نل َه ند ُم‬
 Kalau kita memusuhi dan membencinya, maka
pasti kita tidak ingin lagi ia wujud
 Maka akan menghancurkannya, dengan
penghancuran total, sampai ke akar-akarnya!
 Kita lucuti hak-hak Allah dari perampas-
perampasnya, yakni para tiran

RASM
Membina (‫)ا َ نل ِّبنَدا ُء‬
 Kalau kita mencintaiNya, mentaatiNya,
menolongNya dan selalu ingin dekat
denganNya, maka tentu kita akan terus
membina kesucianNya
 Siapa pun yang hendak menggangguNya,
maka kita siap maju pantang mundur
membelaNya
 Kita siap menjadi tentaraNya RASM
IKHLAS
 Ikhlas tercapai manakala semua ilah lain selain
Allah dihancurkan, hanya Allah saja yang
dikokohkan
 Seorang yang baik ‫– الإله إالهللا‬nya, maka pasti
akan menjadi MUKHLIS
 Ini juga berarti hanya orang ikhlas sajalah yang
bisa membangun, sementara yang lainnya pasti
melakukan kerusakan (2:11-12)
Tentara Fikrah dan Akidah
 Imam Syahid Hasan al-Banna mengartikan ikhlas
dengan menjadi tentara fikrah dan akidah ( ‫ُج ْن ِدي‬
َ ‫) ِف ْك َرة َو‬
‫ع َِق ْيدَة‬
 Setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua
harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari
ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa
mempertimbangkan aspek kekayaan,
penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau
keterbelakangan RASM
Wala dan Bara Harus Nyunnah
 Dalam melaksanakan Wala dan Bara harus sesuai
dengan apa yang telah dilakukan Rasulullah
SAW
 Ini adalah konsekuensi dari kalimat syahadat
yang kedua ِّ‫س نو ُل هللا‬
ُ ‫ُم َح َّمدٌ َر‬
 Hal ini penting agar kita tidak terjebak pada
pelaksanaan yang ekstrem, berada di luar yang
telah dicontohkan Rasul SAW
RASM
Wala Kepada Tiga Pihak (5:55)
َ ‫ين آ َمنُوا الَّ ِذ‬
َ ‫ين يُ َِقي ُم‬
ُ‫و‬ َ ‫سولُهُ َوالَّ ِذ‬ َّ ‫ِإنَّ َما َو ِليُّ ُك ُم‬
ُ ‫َّللاُ َو َر‬
َ ُ‫الز َكاةَ َو ُه ْم َرا ِكع‬
ُ‫و‬ َّ ُ‫و‬َ ُ ‫صَالةَ َويُ ْؤت‬
َّ ‫ال‬
‫ )أَََاة ُ نال َح ن‬
 Kata ‫ ِّإنَّ َمدا‬berfungsi sebagai alat untuk membatasi (‫ص ِّر‬
hanya tiga pihak yang disebut itu saja yang boleh diberikan wala, di
luar itu tidak boleh
 Tiga pihak itu adalah ALLAH, RASUL, dan ORANG-ORANG
BERIMAN
 Hanya kepada tiga pihak itu saja kaitan masalah kepemimpinan,
perlindungan, dan pertolongan
Syarat Orang Beriman Jadi Wali
 Orang-orang beriman yang bisa berikan
kepadanya wala kita memiliki syarat-syarat:
 Mendirikan shalat
 Menunaikan zakat
 Tunduk (kepada Allah)
 Kalau tidak memenuhi persyaratan tersebut,
tidak berhak mendapatkan wala (apalagi kalau
dia itu kafir, tentu jelas tidak boleh)
Minhaj Wala dan Bara ( ‫ِّم نن َهدا ُج نال َوالَ ِّء‬
ِّ ‫)و نالبَ َر‬
‫اء‬ َ
Allah SWT sebagai sumber wala
(‫صدَ ًرا‬
‫) َم ن‬
Rasul SAW sebagai contoh tatacara
pelaksanaan wala (ً‫) َك ني ِّفيَّة‬
Orang-orang beriman (yang memenuhi
syarat) sebagai pelaksana wala (‫)َ َ نن ِّف نيذًا‬
RASM
Tatacara Penghancuran dan Pengokohan
(‫َاء‬
ِ ‫بن‬‫لَهإدِمَ و اإ‬
ِ‫ل‬ ‫يَةُ اإ‬ ‫)َكإ‬
‫يِ ف‬
Dari minhaj wala dan bara itu kita
rumuskan tatacara pelaksanaan
penghancuran dan pengokohan
Sirah Nabawiyah memberikan
penjelasan yang rinci tentang masalah
ini
Persoalan
 Bolehkah minta perlindungan kepada orang kafir?
 Rasul SAW minta perlindungan kepada Al-Muth’im bin Adi
ketika masuk Mekkah setelah dari Thaif. Perlindungan ini
tanpa syarat apapun
 Bolehkah menjadi orang kafir sebagai pembantu dakwah?
 Rasul SAW menjadikan Abdullah bin Uraiqizh sebagai
penunjuk jalan saat hijrah
 Bolehkah melakukan perjanjian dengan orang-orang kafir, dan
apa syaratnya?
 Piagam Madinah, Perjanjian Hudhaibiyah
 Syaratnya posisi Islam kuat, sehingga perjanjian tidak mudah
dikhianati RASM
Keharusan Ittiba’ (Ikut Sunnah)
 Konsekuensi dari syahadat kedua adalah
kewajiban akan ittiba’ kepada Rasul SAW
 Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan ahsanu
‘amala (67:2) sebagai
ُ َ‫)أخل‬
 Yang paling ikhlas (ُ‫صه‬ ‫ن‬
‫)أ َ ن‬
 Yang paling sesuai dengan sunnah (ُ‫ص َوبُه‬
 Inilah inti kalimat syahadatain
ْ ْ ُ
‫َك ِل َمة هللاِ ِه َي العُليَا‬
Kalimat Allah adalahYang Tertinggi
‫)‪َ (A 5‬ك ِل َمةُ هللاِ ِه َي ا ْلعُ ْليَا‬
‫سَالَ ِم‬ ‫َ‬
‫غ ْي ُر اْ ِْل ْ‬ ‫سَالَ ُم‬
‫ا َ ِال ْ‬
‫َار ا َ ْل َجا ِه ِليَّةُ‬
‫اَْل َ ْفك ُ‬ ‫اَل َّ‬
‫ش َها َدت َ ِ‬
‫اُ‬

‫َك ِل َمةُ الَّ ِذ ْي َن َكفَ ُر ْوا (اَل ُّ‬


‫س ْفلَى)‬ ‫َك ِل َمةُ هللاِ (ا َ ْلعُ ْل ايَ)‬

‫َك ِل َمةُ ِ‬
‫الش ْر ِك‬ ‫َك ِل َمةُ الت َّ ْو ِح ْي ِد‬

‫َح ِميَّةُ ا ْل َجا ِه ِليَّ ِة‬ ‫َك ِل َمةُ الت َّ َْق َوى‬
‫ا َ ْل َك ِل َمةُ ا ْل َخ ِب ْيثَةُ‬ ‫ط ِيبَةُ‬
‫ا َ ْل َك ِل َمةُ ال َّ‬

‫غ ْي ُر ثَا ِبت َ ٍة‬


‫َ‬ ‫ثَا ِبتَةٌ‬

‫ض ِع ْيفَ ٍة‬
‫َ‬ ‫قَ ِويَّةٌ‬
‫‪Kalimat dalam Al-Qur’an‬‬
‫) َك ِّل َمةُ( ”‪ Ada sebanyak 19 ayat yang menyebutkan kata “kalimat‬‬
‫”‪ Arti “kalimat‬‬
‫‪ Pernyataan‬‬
‫‪ Ketetapan‬‬
‫)‪ Konsepsi (Manhaj‬‬

‫‪1.‬‬ ‫َُر وا‬ ‫ن َك ف‬ ‫َ الَِذ يَ‬


‫)‪َ (9:40‬كِلَم ة‬ ‫)‪َ (3:64‬كِلَمٍة َسَ وٍاء ‪8.‬‬
‫‪2.‬‬ ‫لُكإفِر‬ ‫َ اإ‬‫)‪َ (9:74‬كِلَم ة‬ ‫‪9.‬‬ ‫)‪(9:40‬‬
‫‪3.‬‬ ‫يثٍَة‬‫)‪َ (14:26‬كِلَمٍة َخِ‬
‫ب‬ ‫ن َرِبَ ك‪10.‬‬ ‫مإ‬‫َ إت ِ‬ ‫‪َ (10:19, 11:110,‬كِلَمةٌ َسب‬
‫َق‬
‫‪4.‬‬ ‫م‬‫نأَإفَ و اِهِهإ‬ ‫مإ‬ ‫ًتَ إخُر ُج ِ‬‫َكِلَم ة‬ ‫)‪20:129, 41:45, 42:14‬‬
‫)‪(18:5‬‬ ‫)‪َ (11:119, 40:6‬كِلَمةُ َرِبَ ك‪11.‬‬
‫َاِئلَُها ‪5.‬‬ ‫)‪َ (23:100‬كِلَمةٌ ُهَ و ق‬ ‫ً ‪12.‬‬‫َة‬ ‫ً َطِ‬
‫يب‬ ‫)‪َ (14:24‬كِلَم ة‬
‫َذَ ا ِب ‪6.‬‬‫لع‬ ‫)‪َ (39:19,71‬كِلَمةُ اإ‬ ‫ً‪13.‬‬‫َة‬‫ي‬ ‫ًب‬
‫َاِق‬ ‫)‪َ (43:28‬كِلَم ة‬
‫صِ ل ‪7.‬‬ ‫َ إ‬ ‫)‪َ (42:21‬كِلَمةُ اإ‬
‫لف‬ ‫َ التَإقَ و ى‪14.‬‬‫)‪َ (48:28‬كِلَم ة‬
Islam vs Non-Islam
 Islam memiliki ungkapan, pernyataan,
ketetapan, dan konsepsi yang berbeda
dengan Non-Islam
 Merujuk pada materi “Al-Wala wal-Bara”,
maka Islam telah membersihkan dirinya
sebersih-bersihnya dari segala kotoran
Non-Islam
Syahadatain vs Ideologi Jahiliyah
 Ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi Islam yang
bersih itu bersumber dari syahadatain
 Sedangkan Non-Islam berasal dari pemikiran-pemikiran atau
ideologi jahiliyah
 Ideologi yang tumbuh dari tumpukan dosa-dosa
َ ٌ‫)نُ ْكتَة‬
 Padahal dosa itu menimbulkan bintik hitam (‫س ْودَا ُء‬
dalam hati (83:14)
 Apabila tidak dibersihkan dengan taubat, maka akan
menutupi hati (2:7)
 Akhirnya dosa itu ditetapkan sebagai hukum
Hadits Nuktah Sauda
‫ء‬ ‫ا‬
ُ َ ‫د‬
َ ‫و‬ ‫إ‬‫س‬ ٌ
‫ة‬ َ
‫ت‬‫ك‬ ‫إ‬ ُ
‫ن‬ ‫ه‬
ِ‫ب‬
ِ‫إ‬
‫ل‬ َ
‫ق‬ ‫ي‬ ‫ف‬
ِ ‫ت‬ ‫إ‬ َ
‫ت‬‫ك‬ ُِ
‫ن‬ ً
‫ة‬ َ
‫ئ‬ ‫ي‬ ‫ط‬ِ ‫خ‬ َ َ‫أ‬ َ
‫ط‬ ‫خ‬‫إ‬ َ
‫أ‬ ‫ا‬ َ
‫ذ‬‫إ‬ ‫د‬
َ ‫ب‬
‫إ‬ ‫ع‬‫إ‬
ِ َ ‫ِإ َن ا‬
‫ل‬
َ ‫َإلبُهَُ وِإ إن‬
َ‫عادَ ِز يد‬ ‫ََرَ وتَا َب ُسِ قَ ل ق‬ ‫عَ و ا إستَ إ‬
‫غف‬ َ‫َز‬ َ‫َإِذَ ا ُهَ ون‬
‫ف‬
‫َهَُ وُهَ و ا‬ ‫َإلب‬‫يَها َحتَ ىتَ إعلَُ و ق‬ ‫{َك َ َل ِف‬
} ‫َ إ ك ِسبُ وَن‬
‫ما َكانُ وا ي‬ َ‫م‬ ‫َ ى قُلُ وِبِهإ‬ َ ‫َ إ ل َر اَن‬
‫عل‬ ‫ب‬
“Sesungguhnya hamba apabila melakukan kesalahan, maka dititikkan
di dalam hatinya titik hitam. Apabila dia menghilangkan dan
beristighfar serta bertaubat, maka bersihlah hatinya. Apabila
kembali (berdosa) ditambahlah noda hitam dalam hatinya hingga
menutupinya. Itulah “rona” yang disebutkan Allah [83:14]” (HR
Tirmidzi)
6 Konsep Utama
 Ada 6 konsep utama yang diluruskan oleh Islam
1. Konsep ketuhanan
2. Konsep kerasulan
3. Konsep ibadah
4. Konsep alam semesta
5. Konsep manusia
6. Konsep kehidupan
 6 konsep yang didasarkan pada pemikiran-pemikiran jahiliyah
bisa melenceng jauh dari yang sebenarnya
Contoh: Konsep Hidup (45:24)
ْ‫لِ كمِن‬
ََ‫الد ْهُرَ وَم الَهُمْبِذ‬
َّ ‫ُن اَِّإ ال‬
َ‫َحْيَاَ وَم اُ ي ْهِل ك‬ ‫َم وُتَ ون‬
ُ‫يَن‬‫ُّنْ ا‬
‫ه يَِّإ الحَياَتُنَا الد‬
َ
ِ ‫َا‬
‫ََو قالُ وا م‬
‫ُّ و َن‬
‫َظُن‬ ‫مٍِإ ْنهُمَِّْإ ال ي‬
ِ‫ع‬
ْ‫ل‬
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di
dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang
membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak
mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja.
 Ada 4 kesalahan konsep yang didasarkan pemikiran jahiliyah
 Hidup hanya di dunia
 Hidup dan mati karena lifetime (waktu)
 Mereka jahiliyah (tidak memiliki ilmu tentang kehidupan)
 Dasarnya bukan ilmu tapi dugaan saja
Bagaimana dengan DEMOKRASI?
 Bukankah demokrasi juga hasil pemikiran non-Islam?
 Dari ke-6 konsep utama tadi, demokrasi masuk yang mana?
 Nampaknya bukan kedalam salah satu yang enam itu, tapi masuk
kedalam masalah MUAMALAH
 Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat, masing-masing
memiliki hujjah
 Tapi para ulama fiqh dakwah berpandangan bahwa prinsip
demokrasi masih lebih dekat dengan syuro, dibandingkan
dengan prinsip otoriter
 Di dalam alam demokrasi adalah kebebasan dan kompetisi,
sehingga tantangannya adalah bagaimana kebaikan itu lebih
unggul agar lebih banyak diminati oleh rakyat
Tidak Hantam Kromo
 Dalam memandang hasil pemikiran di luar Islam kita
tidak bersikap hantam kromo: pokoknya yang dari
luar Islam berarti jahiliyah!
 Karena hikmah adalah milik orang-orang beriman, di
mana pun mereka menemuinya mereka lebih berhak
mendapatkanya
 Tapi ketika berkaitan dengan enam konsep utama tadi,
kita harus lebih kritis
Kalimat Allah vs Kalimat Orang Kafir
 Syahadatain itu adalah Kalimat Allah (9:40), berasal
dari Allah SWT
 Sedangkan ideologi jahiliyah bersumber dari
ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi orang-
orang kafir (9:40, 74)
 Mereka bagaikan berada di samudra yang dalam,
gelap, ombak bergulung-gulung, tidak bisa melihat
apapun bahkan dirinya sendiri pun tidak (24:40)
Kalimat Allah itu Tinggi
 Kalimat Allah itulah yang tinggi, mulia
(9:40)
 Karena semua kemuliaan memang hanya milik
Allah (10:65)
 Sedangkan kalimat orang-orang kafir itu
rendah, hina (9:40, 95:5 ِ‫ي‬ َ ‫أ َ نسفَ َل‬, 98:6
َ ‫سدافِّ ِّل‬
‫) ُه نم ش َُّر نالبَ ِّريَّ ِّة‬
Kalimat Tauhid vs Kalimat Syirik
 Kalimat Allah yang tinggi dan mulia itu adalah kalimat
tauhid: ‫الإله إال هللا‬
 Sedangkan kalimat orang-orang kafir yang rendah itu
adalah kalimat syirik
 Kemusyrikan bagaikan jatuh dari langit lalu dicerai-
beraikan oleh burung akhirnya jatuh di tempat yang
jauh (22:31)
 Kemusyrikan menyebabkan terpecahnya
kepribadian, karena tidak fokus dalam pengabdian
(39:29)
Kalimat Taqwa vs Kesombongan Jahiliyah
 Kalimat tauhid itu adalah kalimat taqwa, yang menghantarkan
seseorang kepada ketaqwaan (48:26)
 Sedangkan kalimat syirik menghantarkan seseorang kepada
kesombongan jahiliyah (48:26)
 Suhail bin Amru ketika masih kafir dalam Perjanjian
Hudhaibiyah menolak kalimat basmalah dan rasulullah
(setelah Islam ia sahabat yang gigih membela Islam terutama
saat menghadapi orang-orang murtad)
 Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang
ُ ‫ق َو غ نَم‬
ِّ َّ‫ط الن‬
lain (‫داس‬ ‫)ال ِّكب ُنر بَ ن‬
ِّ ‫ط ُر ال َح‬
Kalimat Baik vs Kalimat Buruk
 Kalimat taqwa adalah kalimat yang baik
(14:24)
 Sedangkan kesombongan jahiliyah adalah
kalimat yang buruk (14:26)
 Tidak memberikan manfaat bagi manusia
 Didengar pun tidak enak
Kokoh vs Tidak Kokoh
 Kalimat yang baik pasti kokoh (14:24-25,27), karena
 Akar menghunjam kedalam bumi
 Cabang-cabangnya menjulang ke langit
 Buahnya ada sepanjang tahun
 Akan diucapkan kembali ketika di dalam kubur
 Segala yang bermanfaat akan tetap di bumi (13:17)
 Sedangkan kalimat yang buruk pasti tidak kokoh (14:26)
 Akarnya tercerabut dari bumi
 Tidak akan diucapkan ketika di dalam kubur
 Akan hilang (13:17)
Kuat vs Lemah
 Jadi syahadatain itu kuat
 Pasti menang (58:21)
ٌ ‫ي ع َِز‬
‫يز‬ ‫و‬َ
ٌّ ِ َ‫ق‬ ‫َّللا‬
َّ َّ
ُ ‫إ‬
ِ ‫ي‬‫ل‬ِ ‫س‬
ُ ‫ر‬
ُ ‫و‬
َ ‫ا‬َ ‫ن‬َ ‫َّللاُ ْل ْغ ِلبَ َّن أ‬
َّ ‫ب‬ َ َ ‫َكت‬
 Sedangkan ideologi jahiliyah itu lemah
 Pasti kalah dan hancur (17:81 ‫هوقًدا‬
ُ َ‫)ز‬
‫ش َها َدت َ ْي ِن‬ ُ ‫اح ُل التَّفَا‬
َّ ‫ع ِل ِبال‬ ِ ‫َم َر‬
Tahapan Berinteraksi Dengan Syahadatain
‫ش َها َدت َ ْي ِن‬ ‫اح ُل التَّفَا ُ‬
‫ع ِل ِبال َّ‬ ‫)‪َ (A 6‬م َر ِ‬
‫ا َ ْل َم َحبَّةُ‬
‫ا َ ِلر َ‬
‫ضى‬

‫ِب ُم َح َّم ٍد‬ ‫سَالَ ِم‬‫اْل ْ‬ ‫ِب ِ‬ ‫ِباهللِ‬


‫س ْوالً‬‫نَ ِبيًّا َو َر ُ‬ ‫ِد ْينًا‬ ‫ِربًّا‬

‫ِص ْبغَةُ هللاِ‬

‫س ًد‬
‫َج َ‬ ‫ع َْقَالً‬
‫َ‬ ‫قَ ْلبًا‬
‫ع َمَالً‬ ‫َ‬ ‫فِ ْك َرةً‬ ‫ِإ ْعتَِقَادًا‬
‫ت َ ْن ِف ْيذًا‬ ‫ِم ْن َها ًجا‬ ‫ِنيَّةً‬
‫اَلت َّ ْغ ِي ْي ُر‬
Syahadatain Menghasilkan Cinta
 Syahadatain yang diucapkan harus menghasilkan cinta.
Kenapa?
 Karena “ilah” itu artinya yang dianut (panutan)
 Orang tidak akan manut/taat kalau tidak setia (loyal)
 Tidak akan setia kalau tidak cinta
 Jadi tuntutan syahadatain: adanya cinta
 Cinta seperti apa?
Cinta yang Dituntut (‫ب‬ َ َ ‫) ُم نقت‬
ُ َ‫ضي‬
ِّ ‫دات ال ُح‬
ِّ ‫) َك َمدا ُل ال ُح‬
Cinta yang sempurna (‫ب‬
Mencintai apa yang dicintai Allah dan
ُ ‫) َم َحبَّةُ َمدا أ َ َحبَّهُ هللاُ َو َر‬
RasulNya (ُ‫س نولُه‬
Membenci apa yang dibenci Allah dan
RasulNya (ُ‫س نولُه‬ُ ‫ضهُ هللاُ َو َر‬ُ َ‫ض َمدا أ َ نبغ‬ ُ ‫)بُ نغ‬
ِّ ‫) َك َمدا ُل ال ُح‬
Cinta yang sempurna (‫ب‬
 Allah dan RasulNya lebih dicintai dari pada yang lain (9:24
dan 2:165)
 Tidak boleh SAMA CINTAnya (ِّ‫َللا‬ َّ ‫ب‬ِّ ‫)يُ ِّحبُّونَ ُه نم َك ُح‬
 Tidak boleh LEBIH CINTA kepada yang lain ( َِ ‫ب ِّإلَ ني ُك نم ِّم‬ َّ ‫أ َ َح‬
‫س ِّبي ِّل ِّه‬
َ ‫سو ِّل ِّه َو ِّج َهداَ فِّي‬ ُ ‫)َللاِّ َو َر‬َّ
 Harus SANGAT CINTAnya kepada Allah (ِّ‫حبًّدا ِّ ََّّلل‬ ُ ُّ‫شد‬ َ َ ‫)أ‬
َ ‫داس أ َ نج َم ِّع‬
 ِ‫ي‬ َّ ‫ون أ َ َح‬
ِّ َّ‫ب ِّإلَ ني ِّه ِّم نِ َوا ِّل ِّد ِّه َو َولَ ِّد ِّه َوالن‬ َ ‫َال يُؤن ِّم ُِ أ َ َحد ُ ُك نم َحتَّى أ َ ُك‬
 “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga menjadikan aku
lebih dia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan manusia
semuanya.’ (HR Bukhari)
Mencintai Apa yang Dicintai Allah dan
Rasulnya (ُ‫لُه‬ )
 Adanya penyesuaian dalam kecintaan
 Karena belum tentu yang kita cintai, pun dicintai Allah
dan RasulNya, seperti perang (2:216)
 Ulama berkata:
‫ب‬ِّ ‫ب ِّم نِ َ َ َم ِّدام َم َحبَّ ِّة نال َم نحبُ نو‬
ِّ ‫ب نال َم نحبُ نو‬
ِّ ‫َم َحبَّةُ َم نحبُ نو‬
 “Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda
kesempurnaan cintainya kepada kekasih”
Membenci Apa Yang Dibenci Allah dan
Rasulnya (ُ‫لُه‬ )
 Allah dan RasulNya membenci perbuatan
‫ ن‬kemungkaran (‫)ال ُم نن َك ِّر‬
ِّ ‫)الفَ نحش‬,
(‫َداء‬ ‫ ن‬dan permusuhan
‫ ن‬16:90  kita pun membencinya
(ِّ ‫)البَ نغي‬
 Sungguh akan membuatnya tersinggung apabila
kekasih membenci sesuatu tapi kita malah
menyukainya
Tanda-tanda Cinta (‫دات ال َم َحبَّ ِّة‬
ُ َ‫)آي‬
 Mengikuti Rasul SAW (‫س نو ِّل‬
ُ ‫الر‬
َّ ‫ع‬ُ ‫) ِّإَِّبَدا‬
 3:31 ‫َللاَ فَداَ َّ ِّبعُونِّي‬ َ ‫قُ نل ِّإ نن ُك ننت ُ نم َ ُ ِّحب‬
َّ ‫ُّون‬
‫ن‬
َ ‫)ال ِّّج َهداَُ فِّي‬
 Berjihad di jalan Allah (ِّ‫س ِّب ني ِّل هللا‬
 49:15 bukti iman yang kokoh adalah jihad di jalan
Allah
 Berani menanggung resiko
 Kata Ulama:
َ ‫داحت َ َمدا ِّل نال َم نك ُر نو‬
 ‫ه ِّة‬ ِّ ‫َم َحبَّةُ نال َم نحبُ نو‬
‫ب الَ َُنَدا ُل ِّإال ِّب ن‬
 “Mencintai kekasih tidak akan tercapai kecauli
RASM
dengan menanggung segala resiko”
َ ‫)ا َ ِّلر‬
Ridho (‫ضى‬
 Kalau cintanya sangat tinggi, tentu dia akan
RIDHO
 Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai
tentu ia ridho menerimanya
 Siapa yang harus kita ridhoi?
 Allah sebagai Robb kita
 Islam sebagai agama kita
 Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita
Bermula dari Ridho kepada Allah
 Kalau kita ridho kepada Allah, maka harus ridho
kepada agama yang telah diturunkan oleh Allah
(ISLAM)
 Ridho kepada Islam menuntut untuk ridho kepada
yang membawa Islam, yakni Muhammad SAW sebagai
nabi dan Rasul
 Ridho kepada Allah juga berarti harus ridho kepada
orang yang diutus oleh Allah, yaitu Muhammad SAW
Hadits Ridho
‫س ََال ِم‬ ِ ْ ‫اّللِ َربًّا َو ِب‬
ْ ‫اْل‬ َّ ‫اُ َم ْن َر ِض َي ِب‬ ِ ‫اْلي َم‬ َ َ‫ذ‬
ِ ْ ‫اق َط ْع َم‬
ً ‫س‬
‫وال‬ ُ ‫ِدينًا َو ِب ُم َح َّم ٍد َر‬
“Akan merasakan kelezatan iman, orang yang
ridho Allah sebagai Robb, Islam sebagai agama,
dan Muhammad sebagai Rasul” (HR Muslim)
Pendalaman dan Perluasan Materi
 Masalah ridho akan diperdalam pada materi khusus
tentang ridho (A08)
 Masalah ridho juga akan diperluas di materi
 Ma’rifatullah : ridho kepada Allah
 Ma’rifatul Islam : ridho kepada Islam
 Ma’rifaturrasul : ridho kepada Rasul SAW
 Sedangkan tentang manusia akan diperluas di materi
ma’rifatul-insan

RASM
َّ َ‫)ص نبغَة‬
Cetakan Allah (ِّ‫َللا‬ ِّ
 Kalau sudah ridho kepada Allah, Islam, dan
Rasul, maka ia akan ridho segala aktivitasnya,
detak jantungnya, cara berpikirnya, DIWARNAI
OLEH ALLAH, ISLAM DAN RASUL SAW
 Ia ridho dicetak atau dicelup dengan
َّ َ‫)ص نبغَة‬
cetakan/celupan Allah (ِّ‫َللا‬ ِّ
 2:138 celupan Allah adalah celupan yang terbaik
Celupan/Cetakan
 Celupan harus meliputi luar dan dalam
 Jangan seperti kapur tulis yang dicelup kedalam
tinta: hanya luarnya saja yang kena celupan.
Dalamnya masih belum
 Cetakan harus membentuk sesuai dengan bentuk
cetakannya
 Adanya tuntutan untuk TOTALITAS ISLAM (2:208)
 Yang dicelup/dicetak adalah hati, akal, dan jasad kita

RASM
HATI (‫)قَ نلبًدا‬
 Hati yang telah dicelup dengan celupan Allah  hati
yang yakin kepada Allah, Islam dan Rasul SAW (‫) ِّإ نعتِّقَداًَا‬
 Hati yang yakin akan memiliki dorongan yang sangat
kuat untuk mengamalkan nilai-nilai Islam (ً‫) ِّنيَّة‬
 Tidak lapuk oleh hujan, tidak lekang oleh panas
 Tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi
 Bukan seperti kerupuk
 3:146 tidak lemah karena bencana, tidak lesu, dan
tidak menyerah kepada musuh
RASM
AKAL (ً‫ع نقال‬
َ )
 Akal yang tershibghah dengan shibghah Allah
akan memiliki POLA PIKIR ISLAMI (ً ‫)فِّ نك َرة‬
 Segala sesuatunya ditimbang dengan timbangan
Islam
 Mengetahui segala rencana jahat dari musuh-
musuh Islam
 Orang yang memiliki fikrah tidak akan
terpengaruh dengan agresi pemikiran-pemikiran
lain yang tidak Islami
Islam sebagai Minhaj
 Orang yang telah memiliki fikrah: nilai-nilai Islam sudah menjadi
darah dagingnya
ً ‫)م نن َهدا‬
 Islam menjadi jalan hidupnya (‫جدا‬ ِّ
 Ia tidak akan menempuh jalan lain selain jalan Islam (6:153)

‫الصراط المَتقيم‬

RASM
JASAD (‫َدًا‬
َ ‫) َج‬
 Jasad yang tershibghah dengan shibghah Allah
akan AKTIF DENGAN AMAL ISLAMI (ً‫ع َمال‬ َ )
 Tidak pasif dan malas
 Perumpamaan: seperti pohon yang terus-
menerus berbuah tanpa kenal musim (14:24-25)
 Keaktifan amalnya sampai ke tingkat MOBILE
(‫)َ َ نن ِّف نيذًا‬
 Ada perintah langsung jalan (24:51)
Satu atau Dua Bulan
 Kadang-kadang seorang Al-Akh menghabiskan waktu satu atau
dua bulan di tempat yang jauh dari keluarga, rumah, istri, dan
anak-anaknya untuk berdakwah.
 Di malam hari ia menjadi penceramah, sedangkan di siang hari
menjadi perantau.
 Sehari berada di bukit, hari berikutnya sudah di lembah.
 Ia menyampaikan enam puluh kali ceramah dari wilayah di
ujung timur sampai di ujung barat.
 Acara-acara itu kadang-kadang mampu menghadirkan ribuan
orang dari berbagai kalangan dan penjuru.
 Namun, ia selalu berpesan agar hal itu tidak disiar-siarkan. RASM
Syahadatain untuk Perubahan (‫)الت َّ نغ ِّي ني ُر‬
 Syahadatain yang benar mampu merubah
seseorang: berubah menjadi pribadi baru
 Berubah dari pribadi biasa menjadi PRIBADI
YANG ISLAMI (ُ‫اإل نسالَ ِّميَّة‬
ِّ ُ‫صيَّة‬
ِّ ‫ش نخ‬
َّ ‫)ال‬
 Pribadi yang diwarnai dengan warna
syahadatain
 Pribadi yang punya sikap hidup tauhid
 Perubahan dimulai dari syahadatain, bukan
dengan yang lain RASM
َّ ‫ط قَبُ ْو ِل ال‬
‫ش َها َدت َ ْي ِن‬ ُ ‫ش ُر ْو‬
ُ

Syarat-syarat Diterimanya Syahadatain


‫ط قَبُ ْو ِل ال َّ‬
‫ش َها َدت َ ْي ِن‬ ‫ش ُر ْو ُ‬
‫)‪ُ (A 7‬‬
‫ا َلْعلِ ْم ُا َلْمُ نَا ْف ِي لِلْجَ هِْل‬
‫شَّك‬
‫اَل َقِْي َيْن ُا َلْمُ نَا ْف ِي ل ِل ِ‬
‫ِاهلل‬
‫ب ِ‬ ‫ص ا َلْمُ نَا ْف ِي ل ِلشِرْ ِك‬
‫ِاَْل ْخ ََال ُ‬
‫بِا لرَّ سُ ْ ِول‬ ‫شُرُ ْو ُط َق ْب ُِول‬
‫َلر َضى‬
‫ا ِ‬ ‫ا َلِصِدْ ُق ا َلْمُ نَا ْف ِي ل ِكَلْ ذِ ِب‬
‫ْل‬ ‫ا لشَّهَاد َت َيْن ِ‬
‫ب ِِا سْ ََالمِ‬ ‫ض‬‫ا َل ْمَ َح َّب ُة ا َلْمُ نَاف ِي ُة َ للِ ْب ُغ ْ ِ‬
‫ا ََلَق ْ ْب ُُول ا َلْمُ نَا ْف ِي ل ِلرَّ ِد‬
‫َاالِ َْقِن يَادُ ا َلْمُ نَا ْف ِي ل ِ َِال مْت َان َ ع ِ‬
Kunci Sorga
 Dalam atsar disebutkan

‫ي‬‫َل‬
َْ‫بٍه أ‬ َِ
‫من‬ُ‫ن‬ِ‫لَ و ْه ِب ْب‬
ِ‫يَ ل‬
ِ‫ق‬
‫َ ى‬‫َاَ ل ب‬
‫َل‬ ‫لَجنَِّة ق‬ْ‫ح ا‬
ُ‫َا‬‫مْفت‬
ِ
Ditanyakan kepadaWahab bin Munabbih,
"Bukankah laa ilaaha illallah itu merupakan
kunci surga?" Wahab menjawab, "Benar,”
Kunci yang Bergigi

َ‫اُ فَ ِإ ُْ ِجئْت‬ ٌ َ‫سن‬ ْ َ ‫ح ِإ َّال لَهُ أ‬


ٌ ‫س ِم ْفتَا‬ َ ‫َولَ ِك ْن لَ ْي‬
‫اُ فُتِ َح لَ َك َو ِإ َّال لَ ْم يُ ْفتَحْ لَ َك‬ ٌ َ‫سن‬ ْ َ ‫ِب ِم ْفتَاحٍ لَهُ أ‬
tetapi tidak dinamakan kunci kalau tidak
mempunyai gigi. Jadi, jika kamu datang dengan
membawa kunci bergigi tentu kamu akan
dibukakan, dan jika tidak demikian, pasti tidak
dibukakan untukmu."
Syahadat yang Memenuhi Syarat
 Syahadat yang memenuhi syarat itu seperti
kunci yang punya gigi
 Apabila satu gigi kunci patah, maka kunci
tidak dapat digunakan
 Begitu pun syarat syahadatain, harus
terpenuhi semuanya, tidak boleh ada yang
rusak
 Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu
tentang syahadat yang diucapkannya
 Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui
makna/kandungan syahadat tidak diterima
 3:18 bahwa yang diakui syahadat (persaksian)-nya
hanya tiga pihak: Allah, malaikat, dan orang-orang
yang berilmu
‫َللاُ أَنَّهُ ال ِّإلَهَ ِّإال ُه َو َو نال َمال ِّئ َكةُ َوأُولُو نال ِّع نل ِّم‬ َّ َ‫ش ِّهد‬
َ
‫يز نال َح ِّكي ُم‬
ُ ‫قَدائِّ ًمدا ِّب ندال ِّق نَ ِّط ال ِّإلَهَ ِّإال ُه َو نالعَ ِّز‬
Syahadat Orang yang Berilmu
 Syahadat orang yang berilmu disejajarkan
dengan syahadatnya Allah dan malaikat
 Ditempatkannya syahadat orang yang
berilmu setelah syahadatnya malaikat
merupakan pujian dari Allah
Syahadatnya mantap sekali
Paling dekat dengan Allah
Perintah Memiliki Ilmu ‫الإله إال هللا‬

َّ ‫فَدا نعلَ نم أَنَّهُ ال ِّإلَهَ ِّإال‬


47:19 ُ‫َللا‬
Ilmuilah

perintah
Asal dari perintah adalah WAJIB
Allah memerintahkan untuk mempelajari
syahadat
Syahadat Ikut-ikutan
 Syahadat yang hanya sekedar ikut-ikutan
saja tidak akan menghasilkan keimanan
yang mantap
 Iman itu akan diuji
 Bagi yang punya ilmu akan mantap dalam
menjalani ujian
 Bagi yang hanya ikut-ikutan akan mudah goyah
dan jatuh
Mati dengan Ilmu ‫الإله إال هللا‬
َ‫َّللاُ َد َخ َل ا ْل َجنَّة‬ َّ
‫ال‬
َّ ِ ِ ‫إ‬ َ ‫ه‬َ ‫ل‬ ‫إ‬ َ
‫ال‬ ُ ‫ه‬َّ ‫ن‬َ ‫َم ْن َماتَ َو ُه َو يَ ْعلَ ُم أ‬
Barangsiapa mati sedangkan dia
mengetahui (memiliki ilmu)
‫الإله إال هللا‬
masuk sorga (HR. Muslim)
Ilmu dan Komitmen (Iltizam)

Pengetahuan (Ilmu)

Keyakinan

Kesetiaan (WALA’)

Komitmen (Iltizam)

Pengetahuan akan melahirkan keyakinan yang mantap. Keyakinan yang mantap


akan melahirkan kesetiaan. Kesetiaan akan melahirkan komitmen (iltizam)
melaksanakan segala konsekuensi syahadat
‫‪Dialog Rasul SAW dan Quraisy‬‬
‫طا ل ٍِب َيا اب ْ ن َ أ َِخي إَُِّ قَوْ مَ َ ك َيشْكُو نَ َ ك يَز ْ ع ُمُ وَُ أ َ َنَّك‬ ‫ل‬
‫‪َ ‬فََق َا أَبُو َ‬
‫تَش ْت ُم ُآ لِه َتَه ُم ْ َو ُتََق ُول َو ُتََق ُول َو تَفْ عَ ُ ل َو تَفْ عَ ُ ل‬
‫ل‬
‫‪َ ‬فََق َا َيا ع َم ِإ ِن ِي إ ِ ن َّمَ ا أ ُِريدُه ُ م ْ عل َى كَ لِ َم ٍة َو ِاحدَ ٍة تَدِي ُن لَه ُم ْ ِبهَا‬
‫ا لْع َرَ بُ َو ُتؤ َِدي إِل َيه ِْم ْ ِبهَا ا لْعَج َ م ُا ل ْ ِج ْ َز ي َة‬
‫‪َ ‬قا لُواوَ مَ ا َهِي نَع َم ْوَ أَب ِ َيك عَشْرً ا‬
‫ل‬
‫‪َ ‬ق َا َال إ ِلَهَ َّإِال ََُّّللا‬
‫ل‬
‫‪َ ‬ق َا فَََقا م ُوا َو ُه ْم َي ُنْف ُضوَُ ث ِيا َبَه ُم ْ َو ُه ْم َيَقُو لُوَُ { أَج َ َع ل اْل ْل ِ َه َة‬
‫شَي ٌء ع ُجَ ابٌ }‬ ‫إ ِلَهًا َو ِاحدً ا إَُِّ َه ذَا ل َ ْ‬
 Musyrikin Quraisy tengah mengadukan perilaku Rasul SAW—
dalam berdakwah—kepada Abu Thalib. Rasul SAW datang dan
hendak duduk di sebelah paman beliau tetapi Abu Jahal benci
sehingga tidak ada lagi tempat duduk kecuali di dekat pintu
 Abu Thalib: Duhai anak saudaraku, kaummu mengadukanmu
dan menuduhmu bahwa kamu telah menghina tuhan-tuhan
mereka dan kamu berkata ini-itu serta berbuat ini-itu
 Rasul SAW: Duhai Pamanda, sesungguhnya aku hanyalah
menginginkan atas mereka SATU KALIMAT. Dengan kalimat
itu ditundukkan bagi mereka bangsa Arab, dan disampaikan
kepada mereka jizyah dari bangsa Non-Arab
 Musyrikin Quraisy:Ya, demi bapakmu, sepuluh
(kalimat pun mau)!
 Rasul SAW: ‫َال إ ِلَهَ َّإِال ََُّّللا‬
 Rasulullah SAW bersabda: Mereka langsung berdiri
sambil mengibaskan pakaian mereka dan berkata,
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu TuhanYang satu
saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat
mengherankan.” (38:5)
 Kemudian Rasulullah SAW membacakan hingga ayat 8
 HR. Ahmad dalam Musnad Ahmad, bab Bidayah Musnad
Abdullah bin Abbas, Juz 7, hlm. 277
Kalau Tahu, Tidak Mau
Seorang yang atheis atau kafir dapat saja
َّ ‫َال ِإلَهَ ِإ َّال‬
mengucapkan ُ‫َّللا‬
Tapi, seandainya orang-orang kafir itu
mengetahui apa itu ُ‫َّللا‬ َّ ‫ َال ِإلَهَ ِإ َّال‬tentu
mereka tidak mau mengucapkannya
Perbaharui Iman dengan ُ‫َللا‬ َّ ‫َال ِّإلَهَ ِّإ َّال‬
‫ف نُ َج ِد ُد ِإي َمانَنَا‬ َ ‫َّللاِ َو َك ْي‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫َج ِددُوا ِإي َمانَ ُك ْم قِي َل يَا َر‬
َّ ‫قَا َل أ َ ْكثِ ُروا ِم ْن قَ ْو ِل َال ِإلَهَ ِإ َّال‬
ُ‫َّللا‬
“Perbaharuilah iman kalian.” Dikatakan,“Duhai Rasulullah,
bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Bersabda
َّ ‫”ال ِّإلَهَ ِّإ َّال‬
Rasul SAW,“Perbanyaklah mengucapkan ُ‫َللا‬ َ (HR
Ahmad)
 Banyak mengucapkan tanpa mengetahui maknanya,
tidak akan dapat menghayatinya, sehingga tidak
berpengaruh dalam memperbaharui iman
KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN
KERAGUAN
 Orang yang bersyahadat harus menghasilkan
keyakinan pada dirinya, tanpa keraguan sedikit pun,
tentang keesaan Allah dan kerasulan Nabi SAW
 49:15 yang disebut mu’min yang sempurna
HANYALAH ( َُ‫ )إ ِ ن َّمَ ا ا ل ْمُؤ ْم ِن ُو‬orang-orang yang
 Beriman kepada Allah dan rasulNya
 Kemudian mereka TIDAK RAGU-RAGU (ْ ‫ث ُم َّل َم‬
‫)يَر ْ ت َابُوا‬
Berproses
 Kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah
“tsumma” (kemudian)  adanya proses
 Makin berlalunya waktu, semakin yakin
 Tidak bercampur keraguan dan kebimbangan
 Keyakinan yang menenteramkan, kokoh, sempurna
dan tidak menimbulkan kegelisahan
 Dalam menjalani hidup, seorang yang beriman
memang akan dihantam dengan berbagai kesulitan
yang dapat menggoyahkan dan peristiwa yang
menggundahkannya
Bukti: JIHAD
 Jika kalbu telah merasakan lezatnya iman dan
kegandrungan kepadanya serta telah mengakar, niscaya
akan mendorong untuk mewujudkan kebenaran itu di
luar kalbu
 Kalau realitas di luar kalbu bertentangan dengan iman,
maka ia akan berjihad dengan harta dan jiwanya
 JIHAD ada dua komponen
 Sungguh-sungguh (ٌ‫)ج ِّديَّة‬ ِّ
 Terus-menerus (ٌ‫اريَّة‬
ِّ ‫) ِّإ نستِّ َم َر‬
Inilah Iman yang Benar
َ ُ‫صا ِدق‬
 ُ‫و‬ َّ ‫( أُولَئِ َك ُه ُم ال‬mereka itulah orang-
orang yang benar)
َُ ‫( ِإنَّ ُه ْم ُم ْؤ ِمنُ ْو‬merekalah yang disebut
mu’min)
Bukan seperti sebagian orang badui
(49:14) yang belum beragama secara baik,
masih perkataan lahiriahnya saja
Sejajar dengan 41:30

‫َّللاُ ث ُ َّم‬
َّ ‫ا‬َ ‫ن‬ُّ ‫ب‬ ‫ر‬
َ ‫وا‬ ُ ‫ل‬‫ا‬َ َ ‫ِإ َُّ الَّ ِذ‬
‫ين ق‬
‫ستََقَا ُموا‬ ْ ‫ا‬
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan
kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka
KEIKHLASAN YANG MENGHILANGKAN
KEMUSYRIKAN
 Orang yang telah bersyahadat harus menjadi
orang yang mukhlis
 Murni, bersih, suci, dari berbagai kotoran
(kemusyrikan), baik kemusyrikan yang kecil
maupun yang besar
 Sudah dijelaskan di materi “al-wala wal-bara”
tentang kandungan laa ilaaha illallah, yang
mengharuskan menghabisi ilah selain Allah,
sampai ke akar-akarnya
Masih Syirik, Tidak Diterima
 Kalau masih ada syirik, maka syahadatnya
tidak akan diterima
 Karena kita tidak diperintahkan kecuali
untuk beribadah kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan
َ ‫ين لَهُ ال ِد‬
 98:5 ‫ين‬ َ ‫ُم ْخ ِل ِص‬
َ َ ‫َوال يُش ِْر ْك ِب ِعبَا َد ِة َر ِب ِه أ‬
 18:110 ‫ح ًدا‬
Oleh-oleh Isra Mi’raj
:‫ًا‬‫َ ال‬
‫َث‬ ‫ث‬
،‫ْطَ ي الصل وا ت ال خ م س‬ ِ‫ع‬ ‫أ‬
،‫م س و رة الب ق رة‬ َ‫ي‬ ‫ْط ي خ وات‬ ِ‫ع‬ ‫وأ‬
‫ًا الُمْقَح ما ُت‬
‫يئ‬‫مِتِه ش‬َّ ُ‫ن أ‬
ْ‫م‬
ِ ِ‫شِر ْ ك ِبا هلل‬ َْ
ْ ُ‫م ي‬‫نل‬ ِ ‫و ُغِ فَر‬
ْ ‫لَم‬
Diberikan kepada Rasulullah SAW (saat Isra Mi’raj) tiga hal: diberikan
shalat lima waktu, diberikan akhir surat al-Baqarah, dan
diampuni siapa saja yang tidak menyekutukan Allah dengan
apapun (HR Muslim)
Sesaji Kepada Berhala
 6: 136 sesaji berupa tanaman dan ternak: "Ini
untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami“
 Tindakan seperti ini masih ada di masyarakat
yang mengucapkan syahadat
 Mungkin mereka tidak menyadari atau tidak
mengetahui
 Tugas kita untuk membersihkan keimanan
mereka dari segala kotoran itu
KETULUSAN (KEBENARAN) YANG
MENGHILANGKAN KEBOHONGAN
 Ketulusan atau kejujuran atau kebenaran dan tidaknya
syahadat seseorang itu dengan ujian
 29:2-3 anggapan yang salah bahwa akan dibiarkan begitu
saja mengatakan beriman tanpa diuji
 2:214 anggapan yang salah bahwa masuk surga itu mudah
tanpa harus melewati berbagai ujian
 Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta
digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)
 Kegoncangan itu sampai Rasul dan pengikutnya meradang kepada
Allah: Bila datangnya pertolongan?
Hakikat Ujian (Ibtila’/Fitnah)
 Ujian itu sifatnya pasti (2:155)
 Ujian itu untuk memisahkan antara yang mu’min dan yang
munafik (3:179), antara yang benar dan yang dusta (29:3)
 Ujian akan sampai pada tingkat yang paling dahsyat
 Seperti Perang Ahzab yang digambarkan oleh Allah
 mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu
 tidak tetap lagi penglihatan (mu)
 hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan
 kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam
purbasangka

َ ‫وُ َو ُز ْل ِزلُوا ِز ْل َزاال‬


‫ش ِديدًا‬ َ ُ‫ُهنَا ِل َك ا ْبت ُ ِل َي ا ْل ُم ْؤ ِمن‬
Tidak Cukup dengan Pengakuan
 Seorang pelajar tidak mau mengikuti ujian
akhir
 Dia berkata bahwa dia sudah menguasai
semua pelajaran
 Apakah itu boleh dibenarkan?
 Tentu tidak!
 Dia wajib mengikuti ujian
Respon terhadap Ujian
 Munafik (33:12)
‫ورا‬ ُ ‫سولُهُ ِإال‬
ً ‫غ ُر‬ َّ ‫ع َدنَا‬
ُ ‫َّللاُ َو َر‬ َ ‫َما َو‬
"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".
 Mu’min (33:22)

‫سولُهُ َو َما َزا َد ُه ْم ِإال‬


ُ ‫َّللاُ َو َر‬
َّ ‫ق‬ َ ‫سولُهُ َو‬
َ ‫ص َد‬ ُ ‫َّللاُ َو َر‬ َ ‫َهذَا َما َو‬
َّ ‫ع َدنَا‬
ْ َ ‫إِي َمانًا َوت‬
‫س ِلي ًما‬
"Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan
benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah
menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan
CINTA YANG MENGHILANGKAN
KEMARAHAN DAN KEBENCIAN
 Orang yang bersyahadat harus menghasilkan
cinta yang sempurna kepada Allah, Rasul dan
jihad
 2:165 ِّ‫حبًّدا ِّ ََّّلل‬
ُ ُّ‫شد‬ َ ‫( َوالَّ ِّذ‬Adapun orang-
َ َ ‫يِ آ َمنُوا أ‬
orang yang beriman sangat cinta kepada Allah)
 9:24 cinta kepada Allah, Rasul dan jihad di atas
segalanya (bapak, anak, istri, kaum keluarga,
harta, perniagaan, dan rumah tempat tinggal)
Islamophobia
 Barat sangat antipati pada Islam
 Kebencian mereka kepada Islam diwujudkan dengan
berbagai tuduhan (terorisme, fundamentalisme) dan
peperangan (Irak, Somalia, Afghanistan, Palestina, dll)
 Tapi Barat yang kafir berbuat begitu, wajar
 Bagaimana kalau orang yang bersyahadat tapi tidak
menyukai syariat Islam, curiga terhadap umat Islam
sendiri, bahkan ikut mengelompokkan Islam kedalam
terorisme? Bagaimana syahadatnya?
Senang Kepada Kemusyrikan (39:45)

‫ين ال‬ ُ ُ‫ش َمأ َ َّزتْ قُل‬


َ ‫وب الَّ ِذ‬ َّ ‫َو ِإذَا ذُ ِك َر‬
ْ ‫َّللاُ َو ْح َدهُ ا‬
َ ‫اْلخ َر ِة َو ِإذَا ذُ ِك َر الَّ ِذ‬
‫ين ِم ْن دُو ِن ِه‬ ِ ‫وُ ِب‬ َ ُ‫يُ ْؤ ِمن‬
َ ‫ش ُر‬
ُ‫و‬ ْ َ‫ِإذَا ُه ْم ي‬
ِ ‫ست َ ْب‬
Dan apabila hanya nama Allah saja yang disebut, kesallah
hati orang-orang yang tidak beriman kepada
kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-
sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka
bergirang hati
PENERIMAAN YANG MENGHILANGKAN
PENOLAKAN
 Orang yang bersyahadat harus menerima segala
konsekuensi dari syahadat yang diucapkan  Adanya
JUAL-BELI dengan Allah
 9:111 Allah membeli orang beriman jiwa dan
hartanya dengan sorga
 61:10-13 perniagaan yang dapat menyelamatkan
dari api neraka
 Beriman kepada Allah dan RasulNya
 Berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa
Diri dan Harta Milik Allah
 Diri dan harta kita bukan milik kita tapi
milik Allah  harus digunakan menurut
Pemiliknya
 Kalau kita menggunakannya tidak sesuai
dengan Pemiliknya berarti telah berkhianat
 Ini tidak ada tawar menawar (33:36)
PELAKSANAAN YANG MENGHILANGKAN
KEPASIFAN, MENINGGALKAN DAN
KETIADAAN AMAL
 Orang yang telah bersyahadat harus
melaksanakan semua ketentuan Islam
 24:51 diseru langsung ok
 2:124 Nabi Ibrahim menunaikan SEMUA
perintah Allah dengan SEMPURNA
 2:131 ‫س ِّل نم‬ َ ‫ب نالعَدالَ ِّم‬
‫ أ َ ن‬ ِ‫ي‬ ُ ‫أ َ نسلَ نم‬
ِّ ‫ت ِّل َر‬
Iman dan Amal
 Allah SWT selalu mengaitkan iman dengan amal shalih
 Orang munafik sukanya pasif (duduk) dan meninggalkan jihad
(9:83) dengan 1001 alasan:
 Merasa berat (9:38) ‫ض‬ ‫اثَّداقَ نلت ُ نم ِّإلَى ن‬
ِّ ‫األر‬
 Ridho kepada kehidupan dunia (9:38) ‫حيَدا ِّة الدُّ ننيَدا‬ َ ‫ضيت ُ نم ِّب ندال‬
ِّ ‫أ َ َر‬
 Cenderung kepada dunia (7:176) ‫ض‬ ‫أ َ نخلَدَ ِّإلَى ن‬
ِّ ‫األر‬
 Mengikuti hawa nafsu (7:176) ُ‫ه َواه‬ َ ‫َواََّبَ َع‬
 Keuntungannya masih lama (9:42) ‫ضدا قَ ِّريبًدا‬ ً ‫ع َر‬
َ
ِّ َ‫سفَ ًرا ق‬
 Jaraknya jauh (9:42) ‫داصدًا‬ َ ‫َو‬
 Hawanya panas (9:81) ‫ح ِّر‬ َ ‫ال َ َ نن ِّف ُروا ِّفي نال‬
Rahmatan lil-’Alamin
 Mu’min yang benar adalah mu’min yang
produktivitasnya tinggi
 Karena produktif, maka surplus
 Karena surplus, maka bukan hanya orang Islam saja
yang mendapatkan manfaat, tapi juga manusia lainnya,
bahkan alam semesta
 Mu’min seperti inilah yang dapat menjadi rahmat bagi
semesta alam (21:108)
Kesimpulan
 Agar syahadat kita diterima maka harus
didukung oleh ilmu, keyakinan, keikhlasan,
ketulusan, kecintaan, penerimaan, dan
pelaksanaan
 Kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci,
menolak, dan pasif adalah hal-hal yang
membuat syahadat tidak diterima
Ridho
 Jika semua persyaratan itu terpenuhi, maka
pasti akan RIDHO diatur oleh
Allah
Rasul
Islam
di setiap keadaannya (76:30)
َ ‫ا َ ِلر‬
‫ضى‬
Kerelaan
‫)‪ (A 8‬ا َ ِلر َ‬
‫ضى‬
‫اَ ْل ِح ْك َمةُ‬ ‫سأ َ ُل َ‬
‫ع َّما يَ ْفعَ ُل‬ ‫ضا ُء َوا ْلَقَد َُر الَ يُ ْ‬
‫ب اَ ْلَقَ َ‬
‫ِبنَا عَالَ ُم ا ْلغَ ْي ِ‬

‫اَ ِْل ْي َما‬ ‫ضى – َما أَ َرا َدهُ‬


‫اَ ِلر َ‬
‫ُُ‬
‫اَ ْلبَ ْح ُ‬
‫ث ا ِال ْنتِفَا ُ‬
‫ع‬ ‫سنَّةُ هللاِ فِي ا ْلك َْو ُِ‬
‫ِبا ْلك َْو ُِ عَالَ ُم الت َّ ْج ِربَةُ ُ‬
‫هللاُ‬

‫ستِ َجابَةُ‬
‫سأَلُ ْو َُ ا ِال ْ‬
‫ش َها َد ِة اَلت َّ َْق ِد ْي ُر اَلش َّْر ِع ُّي َو ُه ْم يُ ْ‬
‫ِمنَّا عَالَ ُم ال َّ‬
َ ‫)ا َ ِّلر‬
RIDHO (‫ضى‬
 Kalau cintanya sangat tinggi kepada Allah (2:165), tentu dia akan
RIDHO kepada Allah
 Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya
(76:30)

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
 Tiada seorang pun yang mampu memberi hidayah kepada dirinya dan
tiada pula mampu memasukkan iman kedalam hatinya serta tiada yang
mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya kecuali bila dikehendaki
Allah  kita harus menyesuaikan dengan kehendak Allah dan
MENERIMAN APA YANG DIKEHENDAKI ALLAH = RIDHO
Yang Dikehendaki Allah
 Yang dikehendaki Allah ada 3 macam
1. Yang dikehendaki Allah TERHADAP DIRI
KITA ( )
2. Yang dikehendaki Allah TERHADAP ALAM
SEMESTA ( )
3. Yang dikehendaki Allah DARI DIRI KITA ( ‫ما‬
َ
)
YANG DIKEHENDAKI ALLAH TERHADAP DIRI KITA ( ‫َما‬
‫)أ َ َرا َدهُ هللاُ ِبنَا‬
 Misalnya Allah menghendaki diri kita besok mendapatkan ini dan
itu  kita harus ridho menerimanya
 Sesungguhnya, apa yang dikehendaki Allah terhadap diri kita sudah
ditetapkan sejak umur kita 40 hari di dalam kandungan
ٍ َ‫ث ُم ُ َّي ْرسَ ُل إِل َيهِْا ل ْمَ لَُكف َي ُن َ ْفخُ ف ِيهِا لرُّو َح َ ُويؤ ْ م َرُ ِبأ َْرب َِع َك لِم‬
ِ‫ات رِ زْ ِ قه‬
‫سع ِي ٌد‬
َ ْ‫ش ٌَّقي أَم‬
ِ َ ‫وَ َ ِأَج ل ِهوَ ع َمَ لِهِ َو‬
Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan ruh dan ditetapkan
empat ketetapan: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan sengsera atau bahagia
(HR. Ahmad)
 Realisasi ketetapan tentu mudah bagi Allah
ِ ‫)عَالَ ُم ا ْلغَ ْي‬
Tidak Kita Ketahui (‫ب‬
 Apa yang dikehendaki Allah terhadap diri kita, kita sendiri tidak tahu
 Ini termasuk alam ghaib (‫يِْب‬
َْ‫مُالغ‬َ‫)عا‬
َ‫ل‬
 Besok kita kena musibah atau tidak, kita tidak tahu
 Bahkan besok kita masih ada atau tidak, kita pun tidak tahu
 Semuanya hanya Allah yang tahu
 Pengetahuan Allah memang meliputi segala sesuatu (6:101)
 31:34
 Allah mengetahui apa yang ada dalam rahim
 Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok.
 Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Qadha dan Takdir (‫ضا ُء َوا ْلَقَد َُر‬
َ َ‫)ا َ ْلَق‬
 Semua hal yang ghaib itu tertuang di dalam QADHA dan TAKDIR
Allah SWT
 Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan qadha dan takdir,
ada yang bertukaran antara satu ulama dan ulama lainnya
 QADHA: ketentuan Allah sejak zaman azali (alam belum ada)
 TAKDIR: realisasi dari qadha
 Misalnya: menuruk qadha Allah besok kita mendapatkan rizki yang
banyak; pas rizki itu datang  itulah takdir
 Qadha dan takdir ada 2: baik (ni’mat) dan buruk (bencana) 21:35
 sebagai UJIAN
Syukur dan Sabar
 Apapun takdir yang menimpa kita  harus ridho
 Realisasi ridho menerima takdir
 Takdir baik  syukur
 Takdir buruk  sabar
 Keduanya adalah sifat mu’min yang mengagumkan
‫ك‬
ِ ‫س ذ ََا َِْل َحدٍ َّإِال لِلْمُؤ ْم ِن‬َ ْ ‫عج َ َب ًا َِْل مْ ِر ا ل ْمُؤ ْم ِن ِ إَُِّ أ َم ْ َر ُه كُ لَّ هُخ َ ي ْرٌوَل َي‬
‫ض َّرا ءُصَ بَ َر‬ َ ُ‫شَك َر فََكاَُخ َ يْرً ا لَهُ َوإُِْ أ ََصابَ تْه‬ َ ُ‫إُِْ أ ََصابَ تْهُ سَ َّرا ء‬
ُ‫َف َكاَُخ َ يْرً ا لَه‬
Menakjubkan perkara orang beriman sebab segala keadaannya baik dan tidak mungkin terjadi yang
demikian melainkan bagi seorang mu’min: apabila mendapatkan kemudahan bersyukur maka itu
baik baginya, dan apabila ditimpa kesusahan bersabar maka itu baik baginya (HR. Muslim)
Allah Tidak Ditanya
 Terhadap qadha dan takdir ini, kita dilarang keras
mempertanyakan kehendak Allah ini (protes)
 Kenapa Allah tega berbuat begitu kepadaku?
 Kenapa musibah ini bertubi-tubi menimpaku?
 Bahkan ada yang menuduh Allah kejam terhadap dirinya
 Padahal Allah berbuat sesuai dengan kehendaknya (85:16)

‫فَعَّا ٌل ِل َما يُ ِري ُد‬


Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya
 Dan Allah tidak ditanya apa yang Dialakukan (21:23): ‫سأ َ ُل‬ ْ ُ‫َال ي‬
‫ع َّما يَ ْفعَ ُل‬
َ
Mengambil Hikmah (ُ‫)ا َ ْل ِح ْك َمة‬
 Sikap menerima qadha dan takdir Allah itulah sikap mu’min tulen
 tidak mempertanyakan perbuatan Allah, tidak menuduh Allah
yang macam-macam, tidak berburuk sangka terhadap Allah (48:6)
 Sikap berikutnya adalah mengambil hikmah dari segala yang
menimpa dirinya
 Allah telah memberitahu apa rahasia di balik semua musibah (baik
atau buruk) yang terjadi di bumi dan di dalam diri kita (57:22-23):
 Bahwa semuanya sudah tertulis di LAUH MAHFUZH
 Realisasi yang tertulis bagi Allah itu mudah
 Tujuan di balik musibah: agar tidak putus asa terhadap apa yang hilang
dan tidak sombong terhadap yang diterima
Semua Itu Milik Allah
 Kesadaran yang perlu dimiliki oleh kita agar kita mampu
menerima ketentuan Allah: semua itu miliki Allah  terserah
Allah mau diberi atau ditarik kembali
 Ucapan yang keluar adalah (2:156):

ِ ‫ِإنَّا ِ َّّللِ َو ِإنَّا ِإلَ ْي ِه َر‬


َ ُ‫اجع‬
ُ‫و‬
 Mendapatkan keberkahan yang sempurna
 Mendapatkan rahmat Allah
 Mendapatkan petunjuk
Doa Musibah
 Abu Salamah pernah diajari oleh Rasulullah suatu doa, kemudian ia
ajarkan kembali kepada istrinya
 Doa itu adalah ia mengucapkan istirja’ (‫ُ وَن‬ ‫ِهَر اِ جع‬ )
kemudian berdoa
‫َا‬
‫يْر امِنْه‬
ً َ‫فلِ يخ‬
ْ ‫يبَتِ يَ و اْ خُل‬
ِ‫اللَّهُمَُّأْ جرْ ِن ي فِ ي مُص‬
Ya Allah, berilah pahala dalam musibah yang menimpaku dan gantilah
untukku dengan yang lebih baik darinya (HR. Muslim)
 Ketika Abu Salamah syahid, maka Ummu Salamah mengucapkan
istirja’ dan doa di atas; kalau pahala jelas, tapi siapa yang lebih baik
dari Abu Salamah? Ternyata kemudian ia diperistri oleh Rasulullah
SAW
Maha Lembut SkenarioNya
 Ingat kisah Yusuf AS, kisah yang sangat indah (12:3 ‫ص‬ َ َ‫ََِ نالق‬
ِّ ‫ص‬ َ ‫)أ َ نح‬
 Berbagai musibah yang menimpa Nabi Yusuf AS
 Diusulkan untuk dibunuh, tapi ditolak abangnya yang lain
 Dibuang di sumur yang dangkal
 Diasuh di tempat yang jauh (tempat dan orang tuanya)
 Digoda oleh ibu angkatnya
 Dipenjara sekitar 9 tahun
 Akhirnya keluar dari penjara dengan kemuliaan dan diangkat
menjadi penguasa harta kekayaan Mesir
 Komentar beliau AS (12:100): ُ ‫ف ل ِمَ ا َيشَا ء‬
ٌ ‫ط ِي‬
َ ‫ إَُِّ َربِي ل‬Allah
Mahalembut (rahasia) skenarioNya
Manisnya Iman
 Keridhoan akan musibah yang menimpa kita merupakan jalan untuk
merasakan manisnya iman
 Kita tidak menyandarkan musibah pada kesalahan kita
 Kesalahan kita pun tidak berakibat musibah
 Rasulullah SAW bersabda
‫ى‬ ‫إل‬
ُ‫يُْخطِئَه‬
ِ‫نل‬
ْ ‫مْ يُ ك‬
ََ‫ََ صاَبهُل‬‫َا أ‬ َّ ‫بٌْدَ حََال وَة ِا ْ يَماِنَح َّت َ يعْلَمَأ‬
‫َن م‬ َ‫َ الَ يِجُدع‬
ُ‫يبَْه‬
ِ‫ص‬
ُ‫ي‬ ِ‫نل‬ْ ‫مُْي ك‬
ََ‫َْ خَطأَهُل‬
‫َا أ‬
‫َ وَأ َّن م‬،
“Tidaklah seorang hamba merasakan manisnya keimanan sehingga dia menyadari
bahwa apa yang akan menimpanya bukan karena kesalahannya dan apa
kesalahannya tidak menyebabkan ia tertimpa (musibah).”
(HR Ibnu Abi Ashim, hadits sahih dengan sanad yang baik, termaktub
dalam silisilah hadits sahih karya Imam Albani)
Doa dan Takdir
 Sering ada pertanyaan: apa perlunya kita berdoa
sementara qadha-qadar sudah tertulis?
 Hal yang mendasar: DOA adalah ibadah, bahkan
otaknya ibadah (‫)ا َلد ُّ عاَء ُ م ُ ُّخ ا لْع ِبَادَ ِة‬, karena
diperintahkan oleh Allah (40:60)
 Kedua: doa dan usaha tidak pernah berpisah!
Sedangkan hasil, itu hak Allah, kita diperintahkan
untuk TAWAKKAL kepada Allah saja
 Adapun tentang doa dan pengabulannya, perhatikan
uraian selanjutnya
Doa
1. Ada yang langsung dikabulkan (CASH)
 Misalnya minta lulus, ternyata lulus
2. Ada yang ditangguhkan beberapa lama
 Hikmah: saat dikabulkan, ni’matnya lebih terasa atau tepat pada
waktunya
3. Ada yang diganti dengan menghindarkan dari bencana
 Minta rizki, lalu dikabulkan dapat Rp 1 juta; tapi dapat musibah
yang biayanya 1 juta juga
 Mana yang dipilih? Terhindar dari musibah itu atau dapat rizki tapi
dapat musibah?
 Kita tidak tahu mana yang baik buat kita, tapi Allah lebih tahu
(2:216)
4. Dibayar di akhirat
Berorientasi Pahala (1)
 Hendaklah kita berorientasi pahala: sakit dipandang sebagai
penghapus dosa

ِ ‫َما يَ َزا ُل ا ْلبَ ََال ُء ِبا ْل ُم ْؤ ِم ِن َوا ْل ُم ْؤ ِمنَ ِة فِي نَ ْف‬


‫س ِه‬
‫علَ ْي ِه‬ َّ ‫َو َولَ ِد ِه َو َما ِل ِه َحتَّى يَ ْلَقَى‬
َ ‫َّللاَ َو َما‬
ٌ‫َخ ِطيئَة‬
"Tidak henti-hentinya bencana - bala' - itu mengenai seseorang
mu'min, lelaki atau perempuan, baik dalam dirinya sendiri, anaknya
ataupun hartanya, sehingga ia menemui Allah Ta'ala dan di atasnya
tidak ada lagi sesuatu kesalahanpun." (HR. Tirmidzi)
Berorientasi Pahala (2)
‫مَ وَ ال‬ ٍ‫ص ٍبَ وَ الَ و َص ٍبَ وَ ال َه‬ ََ ‫نن‬ْ‫م‬ِ‫م‬َ‫لُم ْسِل‬ْ‫ي ُب ا‬ ‫ما يُ ِص‬
َ
‫َاُكَها ِإَّ ال َك فََّر‬ ٍ‫ً ىَ وَ ال َغ‬
َّ ‫م َحتَّ ى ا‬
‫لشْ وَكِة يُش‬ ‫َذ‬‫ُحْزٍنَ وَ ال أ‬
"Tidak suatupun yang mengenai seseorang muslim - sebagai mushibah - baik
dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa
kesakitan, juga kesedihan yang akan datang ataupun yang lampau, tidak
pula yang berupa hal yang menyakiti – yakni sesuatu yang tidak
mencocoki kehendak hatinya, ataupun kesedihan - segala macam dan
segala waktunya, sampaipun sebuah duri yang masuk dalam anggota
tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan
sebab apa-apa yang mengenainya-yakni sesuai dengan mushibah yang
diperolehnya- itu." (Muttafaq 'alaih)
YANG DIKEHENDAKI ALLAH TERHADAP ALAM SEMESTA
(ُِ ‫) َما أ َ َرا َدهُ هللاُ ِبا ْلك َْو‬
 Apa yang dikehendaki Allah terhadap alam terlihat pada
fenomena alam
 Terjadinya malam dan siang
 Pergerakan benda-benda langit
 Keberadaan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan
 Juga terjadinya bencana alam: letusan gunung berapi, gempa
bumi, hujan meteor, gerhana matahari dan gerhana bulan
 Peristiwa hujan, adanya sungai-sungai di bumi, udara, lapisan-
lapisan di atmosfir
Alam Pengalaman (ُ‫)عَالَ ُم الت َّ ْج ِربَة‬
 Semua fenomena alam itu dapat dipalajari, bukan hal yang rahasia
(ghaib)
 Jadi, apa yang dikehendaki Allah tidak langsung kita ketahui secara
jelas (alam syahadah)
 Di sinilah kita diperintahkan oleh Allah untuk
 Berpikir
 Melakukan percobaan (eksperimen)
 Menganalisis
 Menyimpulkan
 3:190-191 ULUL ALBAB: dzikir dan pikir
Hukum Alam (ُِ ‫سنَّةُ ِهللا ِفي ا ْل َك ْو‬
ُ )
 Hasil penelitian-penelitian yang terus-menerus akhirnya dapat
menangkap apa yang dikehendaki Allah di alam semesta ini 
ternyata semua itu ada hukum-hukum yang mengatur alam
( ُِ‫)سُ نَّ ُة ِهللا فِي ا َل ْْكو‬
 Adanya hukum gravitasi bumi
 Hukum termodinamika
 Hukum-hukum kimia
 Aliran listrik karena aliran elektron yang bermuatan negatif
dan proton yang bermuatan positif
 dll
ُ ‫)ا َ ْلبَ ْح‬
Pengkajian (‫ث‬
 Semua ketentuan-ketentuan Allah di alam semesta ini dapat
kita ketahui karena kita mengkajinya
 Awal mula perkembangan ilmu pengetahuan dari pemikiran-
pemikiran filsafat (Yunani), belum ada eksperimen
 Umat Islam sudah terbiasa memahami sesuatu dengan
pembuktian, sehingga kemudian berkembanglah penelitian-
penelitian ilmiah di dunia Islam
 Semua dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah, karena
semua itu perintah Allah SWT (55:33, 88:17-20)
 Tersebutlah ilmuwan-ilmuwan Muslim, para pelopor iptek:
Ibnu Sina (Avecina), Ibnu Rusyd (Averoes), Ibnu Hayyan, dll
ُ ‫)ا ِال ْن ِتفَا‬
Pemanfaatan (‫ع‬
 Hasil-hasil penelitian berupa berbagai cara pemanfaatan alam
semesta
 Berkembanglah teknologi-teknologi yang berguna bagi
manusia
 Akan tetapi, umat Islam kemudian mengalami kemunduran
akibat jauh dari Islam  iptek berpindah ke Barat setelah
mereka mempelajarinya dari universitas-universitas Islam
 Barat penuh dengan nafsu durjana dan angkara murka,
sehingga iptek kemudian dikembangkan ke arah yang
merugikan manusia, di samping yang bermanfaat bagi manusia
 bom atom, nuklir, bom hidrogen, bom kimia
YANG DIKEHENDAKI ALLAH DARI DIRI KITA
(‫) َما أ َ َرا َدهُ هللاُ ِمنَّا‬
 Kebanyakan kita sibuk memikirkan apa yang dikehendaki Allah
TERHADAP KITA (bina), kurang memikirkan apa yang
dikehendaki Allah TERHADAP ALAM, dan sangat kurang
memikirkan apa yang dikehendaki Allah DARI KITA
 Padahal yang “BINA” itu perkara yang ghaib, kita tidak
mengetahuinya
 Ghaib-nya yang “bina” itu sebenarnya juga merupakan rahmat
Allah SWT
 Bayangkan kalau kita tahu umur kita tinggal 3 bulan lagi?
 Pasti kita tidak enak makan, tidak enak tidur, stress, tidak
mau ngapa-ngapain
Sangat Jelas
 Apa yang dikehendaki Allah dari kita sangat jelas  alam
nyata (‫) عا َل َما ُ لشَّهَادَ ِة‬
 Tentu ini bagi orang beriman; bagi orang kafir tentu gelap
 Orang-orang kafir tidak mampu menjawab pertanyaan-
pertanyaan mendasar ini
 Dari mana kita datang (‫ن ِج ِئنَا‬ َ ‫?)م ْن أ َ ْي‬
ِ
 Untuk apa kita datang di dunia ini (‫?) ِل َماذَا ِجئْنَا‬
 Kemana setelah ini (‫ن‬ َ ‫?)إ ِِلَى أ َ ْي‬
 Darwin salah menjawab pertanyaan pertama: Dari kera!?
 Ada yang berpendapat: Hidup ini adalah bayangan (tak nyata)
Ketentuan Syari’at (‫)اَلت َّ َْق ِد ْي ُر اَلش َّْر ِع ُّي‬
 Berbahagialah umat Islam karena masalah kehendak Allah dari
kita sangatlah jelas, karena semuanya tertuang dalam
ketentuan-ketentuan syari’at
 5:48 Allah telah memberikan kepada setiap umat dua hal:
syari’at dan minhaj (jalan menegakkan syari’at)
 Ulama pun mampu mengkodifikasi keinginan-keinginan Allah
yang berkaitan dengan hukum-hukum amal praktis, yakni
FIQH
 Ulama pun merumuskan dasar-dasar AKIDAH dan AKHLAK
 Semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah
Pelaksanaan Syari’at
 Jadi Allah menghendaki dari kita untuk melaksanakan syari’at-
syari’at-Nya (5:49) dan menegakkan agamaNya (42:13)
 Rasulullah SAW menegaskan bahwa yang halal itu jelas dan
yang haram pun jelas; di antara keduanya ada perkara yang
samar-samar (mutasyabihat)  mesti berhati-hati
 Islam yang ditinggalkan Rasul adalah Islam yang terang:

‫اء لَ ْيلُ َها َكنَ َه ِار َها‬


ِ ‫ض‬ َ ‫قَ ْد ت َ َر ْكت ُ ُك ْم‬
َ ‫علَى ا ْلبَ ْي‬
Sungguh aku telah meninggalkan untuk kalian pelita yang
terang (Islam), malamnya seperti siangnya
(HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Ditanya
 Terhadap pelaksanaan syari’at inilah kita akan ditanya oleh
Allah SWT di dalam kubur kita dan di akhirat nanti
 21:23 Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan
merekalah yang akan ditanyai
َ ُ‫ َو ُه نم يُ نَأَل‬ kitalah yang akan ditanya oleh Allah
 Ya, ‫ون‬
 102:8 ‫يم‬ ِ ‫سأَلُ َّن يَ ْو َمئِ ٍذ ع َِن النَّ ِع‬
ْ ُ ‫ ث ُ َّم لَت‬kemudian kamu pasti akan
ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-
megahkan di dunia itu)
 Padahal ni’mat Allah yang diberikan kepada kita sangatlah
banyak, tidak bisa dihitung (14:34, 16:18), bagaimana
menjawabnya?
5 Pertanyaan
 Di antara pertanyaan yang akan diajukan kepada semua manusia
ada 5 pertanyaan:
ْ ‫ عَن‬:‫َال ت َ ْز ُُول َقد َ م َا اب ْ ن ِ آدَ مَ َ ْيومَ ا َقِل ْ يا َم َ ِة حَ تَّ ى ُيسْ َأَل عَن ْ َخمْ ٍس‬
ْ ‫وَ ع َن ْ ماَ َلِك م ِن‬، َ‫وَ ع َن ْش َ ب َا َبِكف ِيمَ ْا أَ ْبل َيْت‬، َ‫عمْ ُ ِ َركف ِيمَ ْا أ نَف ْ َيْت‬
َ‫وَ مَ ا عَمِ لْتَ ف ِيمَ ْا علَِمْ ت‬، ‫ن َكس َ بْتَهُوَف ِ يْمَ ا أ َنََقْْف تَ ُه‬
َ َ ‫ْأي‬
Tidak beranjak kedua telapak Bani Adam pada hari kiamat sehingga ditanya
lima hal: tentang umurmu untuk apa engkau habiskan, tentang masa
mudamu untuk apa engkau habiskan, tentang hartamu dari mana engkau
dapatkan dan untuk apa engkau belanjakan, serta apa yang kauamalkan
terhadap yang kaupelajari
(HR. Abu Ya’la)
Menyambutnya (ُ‫س ِت َجابَة‬
ْ ‫)ا ِال‬
 Jadi sikap kita terhadap kehendak Allah dari kita dalah
menyambutnya, menerimanya, dan tunduk padanya
 Karena sesungguhnya, itu semua untuk kebaikan diri kita juga
(8:24), bukan untuk kebaikan Allah
 Allah tidak memerlukan apapun dari makhlukNya, tetapi
kitalah yang memerlukanNya (35:15)
 Sikap Nabi Ibrahim ketika mendapatkan perintah-perintah
Allah (2:124) adalah ‫فَأَت َ َّم ُه َّن‬
 FA: Langsung menjawab, tidak ada jeda
 ATAMMA: sempurna
 HUNNA: semuanya
IMAN
 Kalau semua yang dikehendaki Allah kita terima dengan ridho,
maka berarti kita telah menjadi MU’MIN TULEN
 Keadaannya bisa timbal-balik: mu’min sejati tentu akan ridho
terhadap segala kehendak Allah
 Sudah selayaknya mu’min yang telah bersyahadat menghiasi
dirinya dengan sikap RIDHO
‫سَالَ ِم ِدينًا‬
ْ ‫اْل‬ َّ ‫اُ َم ْن َر ِض َي ِب‬
ِ ‫اّللِ َربًّا َو ِب‬ ِ ‫اْل ْي َم‬ َ ‫ذَا‬
ِ ‫ق َط ْع َم‬
ً‫سوال‬ُ ‫َو ِب ُم َح َّم ٍد َر‬
“Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai
Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.”
(HR. Muslim)
َّ ‫ق َم ْعنَى ال‬
‫ش َها َدت َ ْي ِن‬ ُ ‫ت َ ْح َِق ْي‬

Realisasi Makna Syahadatain (1)


‫ق َم ْعنَى ال َّ‬
‫ش َها َدت َ ْي ِن‬ ‫)‪ (A 9-1‬ت َ ْح َِق ْي ُ‬
‫ا َل ْمَ َح َّب ُة‬
‫ا َل ْمُؤ ْم ِن ُ‬ ‫ا َلت ِجَ َار ُة‬ ‫ا َُهلل‬
‫ا َلْع َمَ ُل‬
‫ل‬
‫َْلَا مْ َ و ُا َوْْلَا نْ ُ ف ُس‬ ‫ا َل ْمُ ش ْت َرِ‬
‫ا َل ْبَائ ُِع‬ ‫ْي‬
‫ج َّن ُة َوا ِلر َضى‬ ‫ا َل ْ َ‬
‫ا َل ْجِ َهادُ‬
‫ا َلشَّهَادَ‬
‫ا َلشَّه ِي ُد ْ‬ ‫ح َ يَاةٌ لِلْمُؤ ْم ِن ِ‬
‫ُة‬
‫س ُج ْودُ‪ ،‬اَْلَ ْم ُر‬
‫لرك ُْوعُ‪ ،‬اَل ُّ‬ ‫لسيَا َحةُ‪ ،‬اَ ُّ‬ ‫اَلت َّ ْوبَةُ‪ ،‬ا َ ْل ِعبَا َدةُ‪ ،‬ا َ ِ‬
‫ف َوالنَّ ْه ُي ِع ِن ا ْل ُم ْنك َِر‪ ،‬ا َ ْل َحافِ ُ‬
‫ظ ْو َُ ِل ُحد ُْو ِد هللاِ‬ ‫ِبا ْل َم ْع ُر ْو ِ‬
Realisasi Maknasy Syahadatain
 Syahadat yang kita ucapkan bukan sekedar pernyataan,
tapi sekaligus sumpah dan janji kita kepada Allah SWT
 Syahadat adalah proklamasi keislaman kita
 Syahadat adalah sumpah setia kita
 Syahadat adalah janji setia kita
 Ia perlu realisasi sebagai konsekuensi dari proklamasi,
sumpah dan janji tersebut
 Sehingga ia bukan pernyataan kosong, sumpah palsu
dan janji-janji belaka
Hubungan Mu’min dan Allah
 Setelah seseorang bersyahadat maka hubungan dirinya dengan Allah
SWT menjadi kuat
 Dirinya terikat dengan hubungan ini dengan ikatan yang sangat
kuat yang tidak akan terputus (2:256)
َ ‫س َك ِبا ْلعُ ْر َو ِة ا ْل ُوثَْقَى َال ا ْن ِف‬
‫صا َم لَ َها‬ ْ ‫فََقَ ِد ا‬
َ ‫ست َ ْم‬
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat
yang tidak akan putus
 Ada tiga hubungan yang harus dijaga:
 Hubungan cinta
 Hubungan perniagaan
 Hubungan kerja
Hubungan Cinta (ُ‫)ا َ ْل َم َحبَّة‬
 Hubungan cinta kita dengan Allah setelah bersyahadat haruslah
kuat  cinta yang sempurna (2:165)
 Realisasi cinta kita dengan Allah:
 Mengikuti Rasulullah (3:31)
 Menata cinta kita terhadap selain Allah: mencintai orang dan apa saja
yang dicintai Allah dan membenci orang dan apa saja yang dibenci
Allah  lihat kembali materi “Mahabbatullah”, “Maratibul Hubb”, dan
“Lawazimul Mahabbah”
 Berani menanggung resiko cinta: berjihad dan berkorban (49:15)
 Cinta kita kepada Allah adalah cinta yang pasti berbalas (3:31)
Hubungan Kerja (‫)ا َ ْلعَ َم ُل‬
 Setelah bersyahadat maka kita terikat hubungan kerja dengan Allah
 Syahadat adalah perjanjiang kontrak kerja kita dengan Allah
ِ َ‫ )اَ ْلع‬39:39
 Kita adalah PEKERJA ALLAH (‫ام ُل‬
 Allah adalah MAJIKAN kita (9:105)
 Kita bekerja sesuai order (perintah dan larangan) Allah, bukan
seenak kita sendiri  bisa ditolak hasil pekerjaan kita
 Maka yang kita sodorkan haruslah amal terbaik (67:2, 3:92), bukan
amal asal-asalan (3:188) atau ogah-ogahan (22:11)
 Jam kerja kita = umur kita
 Upah kita = pahala dan sorga serta bonus melihat Allah (10:26)
Tingkatan Pekerja
 Manusia akan dikelompokkan sesuai dengan pekerjaannya
(amalnya) 6:132, 46:19
 Setiap “amil” (aktivis) dalam ketaatan kepada Allah ataupun
ma’shiyat kepadaNya, mendapatkan kedudukan (manazil) dan
peringkat atau ranking (maratib) dari amalnya yang Allah
berikan kepadanya
 Apabila amal itu baik, maka kedudukan dan peringkatnya baik
 Apabila amal itu buruk, maka kedudukan dan peringkatnya buruk
 Ada tiga tingkatan pekerja (35:32, 56:1-10)
1. Pelopor ( , ‫)ال َّساِبقُ وَن ال َّساِبقُ وَن‬
2. Pertengahan (‫َِصٌد‬ ُ, ‫َِة‬
‫مْقت‬ ‫يَمن‬ ْ‫َ ْصَحا ُب ا‬
ْ‫لَم‬ ‫)أ‬
3. Zhalim (‫َْف ِسِه‬
‫لن‬
ِ‫م‬ِ‫َظا‬, ‫مِة‬
ٌ‫ل‬ ََ‫شأ‬ ْ‫َ ْصَحا ُب ا‬
ْ ‫لَم‬ ‫)أ‬
Hubungan Perniagaan (ُ‫ارة‬ ِ َ ‫)ا‬
َ ‫لت َج‬
 Hubungan yang kuat setelah bersyahadat adalah hubungan
perniagaan (dagang) antara kita dan Allah
 Perdagangan dengan Allah adalah perdagangan yang paling
menguntungkan
 61:10 “Maukah Aku tunjukkan perniagaan yang dapat
menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih?”
 Siapakah yang akan menjawab: MAU!?
 Orang yang menginginkan selamat di akhirat!
 61:11 ada dua hal yang harus dilakukan:
 Iman kepada Allah dan RasulNya
 Berjihad dengan harta dan jiwa
Posisi dalam Perniagaan
 Layaknya sebuah jual-beli atau perniagaan pada umumnya,
maka harus memenuhi unsur-unsurnya
1. Pembeli (‫ي‬ ‫َِْر‬ ُ َ‫)ا‬: ALLAH SWT
‫لْمشْت‬
2. Penjual (‫)اَلْبَاِئُع‬: MU’MIN
‫ل‬
3. Barang yang dijual: HARTA DAN JIWA (‫ن فُس‬ َْ ‫)َا أل‬
ُْ ‫م وُا َ وَْا أل‬
4. Harganya: SORGA DAN RIDHO (‫ِنُةَ والِرَض ى‬
َّ ‫)اَلْج‬
5. Pasarnya: JIHAD (‫َاُد‬ ِ َ‫)ا‬
‫لْجه‬
6. Ijab-qabulnya: SYAHADATAIN
Barang Dagangan Jihad
 9:111 Allah akan membeli JIWA dan HARTA orang beriman
 dalam ayat ini didahulukan “jiwa” dari “harta”
 Contoh penjualan harta kepada Allah:
 Abu Bakar ash-Shiddiq dengan seluruh hartanya (4000
dirham)
 Umar bin Khaththab dengan separoh hartanya
 Utsman bin Affan berinfaq dengan 900 ekor unta dan 100
ekor kuda, belum termasuk uang kontan
 Abdurrahman bin Auf menyerahkan 200 uqiyah perak
 Ashim bin Adi menyerahkan 70 wasaq korma
 Para wanita menyerahkan berbagai perhiasan
Harganya: SORGA dan RIDHO
 Harga yang dibayarkan oleh Allah SWT adalah sorga dan ridhoNya
 Ketika bai’atul ‘aqabah Abdullah bin Rawahah berkata kepada Rasul
SAW, “Berilah persyaratan bagi Tuhanmu dan bagi dirimu sesuka
hatimu.” Maka Rasulullah bersabda, “Aku memberikan syarat bagi
Tuhanku, hendaklah kalian menyembahNya dan janganlah kalian
mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun. Dan aku memberikan syarat
bagi diriku, hendaklah kalian membelaku sebagaimana kalian membela
diri dan harta benda kalian sendiri.” Para sahabat bertanya, “Apakah
yang kami peroleh jika kami mengerjakan hal tersebut?” Beliau
menjawab, “Sorga.” Mereka menjawab, “Jual beli yang
menguntungkan, kami tidak akan mundur dan tidak akan
mengundurkan diri.” Lalu turunlah 9:111
Pengiriman Usamah
 Penulis MUKHTASHAR HAYATUSH-SHAHABAH, Syaikh Muhammad
Yusuf Al-Kandahlawy (judul terjemahnya SIRAH SHAHABAT:
Keteladanan Orang-orang di Sekitar Nabi) menyebutkan secara khusus
tentang jihad dalam “BabVI Jihad Fi Sabilillah”
 Yang menarik beliau memulai kisah jihad dengan uraian tentang
pengiriman Usamah bin Zaid oleh Rasulullah SAW
 Pengiriman pasukan ini beberapa hari sebelum beliau SAW wafat
 seakan penulis ingin mengatakan bahwa JIHAD NABI SAW
SAMPAI AKHIR HAYAT!
 Setelah itu baru disebutkan perhatian Khulafaur Rasyidin dalam
masalah jihad
 Setelah baru peperangan Badar, Uhud, dst
Jihad = Amal Terbaik
Ustman ra berpidato di atas mimbar,
 “Sesungguhnya aku masih menyimpan sebuah hadits yang
pernah kudengar dari Rasulullah SAW, karena aku
khawatir kalian akan meninggalkan aku.
 Maka kini aku akan menyampaikannya, agar setiap orang
menentukan pilihannya sendiri-sendiri, mana yang terbaik
baginya.
 Aku mendengar beliau bersabda, ‘Berjaga selama
sehari di jalan Allah lebih baik daripada ibadah
seribu hari pada selainnya’.” (HR. Ahmad)
Mengingkari yang Menunda-nunda
Keberangkatan
 Pada Perang Mu’tah Rasulullah SAW telah menetapkan bahwa
komandan perang adalah Zaid bin Haritsah; jika ia gugur diganti
oleh Ja’far bin Abi Thalib; jika ia gugur diganti oleh Abdullah bin
Rawahah
 Sebelum berangkat perang Ibnu Rawahah pergi shalat Jum’at
bersama Rasulullah SAW, beliau bertanya, “Mengapa engkau belum
berangkat?”
 Ibnu Rawahah menjawab, “Karena aku ingin shalat Jum’at bersama
engkau.”
 Beliau bersabda, “Pergi di jalan kebaikan (jihad) pada pagi
atau sore hari lebih baik daripada dunia dan seisinya.”
Para Wanita dalam Jihad
 Para wanita tidak mau tinggal diam dalam urusan jihad
 Putri Milhan minta didoakan ikut pertempuran di lautan
 Saat itu Rasulullah tersenyum sehingga putri Milhan heran, maka beliau
bersabda, “Kelak ada sebagian umatku yang akan mengarungi laut biru untuk
berperang di jalan Allah. Perumpamaan mereka seperti para raja yang
berkuasa atas tawanan-tawanannya.”
 Ia menikah dengan Ubadah bin Shamit dan ikut perang di lautan
 Ummu Imarah (Nusaibah binti Ka’ab) ikut menolong Rasulullah ketika
akan dibunuh oleh Ibnu Qumai’ah di Perang Uhud
 Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz ikut menyediakan logistik dalam suatu
peperangan
 Ummu Sulaim ikut Perang Hunain dengan sebuah tombak, “Aku sengaja
membawanya untuk menusuk perut orang musyrik yang mendekatiku.”
 Asma’ bintiYazid bin As-Sakan membunuh 9 orang dalam PerangYarmuk
Jihad Total
 Medan jihad sangat banyak, meskipun yang tertinggi adalah
jihad di peperangan (jihad qital)
 Jihad = sungguh-sungguh  mengeluarkan segala upaya,
pikiran, tenaga, harta, dan waktu
 Bidang-bidang jihad
 Jihad nafs
 Jihad tarbawi: jihad melalui pendidikan dan pengajaran
 Jihad siyasi: jihad melalui politik untuk menegakkan
keadilan dan kesejahteraan rakyat
 Jihad qital atau jihadul-yad (tangan): jihad dengan pedang
dan senjata
Jihadun-Nafs
 Jihadun-nafs memiliki kedudukan yang tinggi
di masa sekarang ini
 Jihad ini memiliki tingkatan:
 Berjihad untuk mempelajari petunjuk (Islam)
 Berjihad untuk mengamalkan apa yang sudah
dipelajari
 Berjihad untuk berdakwah kepada petunjuk
 Berjihad untuk sabar atas segala kesulitan dakwah
‫مراَب الّجهداَ‬
‫ل‬
‫ال قتا ف ي‬
‫‪Paling TINGGI‬‬

‫الْح قعِنَْد‬
‫َ كِلَمُة َِ‬
‫َاِن الَْجاِئِر‬
‫السلْط‬
‫ُّ‬
‫‪Medan Jihad‬‬
‫َِد‬
‫ي‬‫ِ جَهاُد اْ‬
‫ل‬ ‫‪banyak‬‬
‫‪ragamnya‬‬

‫َِ‬
‫م‬‫َل‬‫ِ جَهاُد اْ‬
‫لق‬
‫لل َساِن‬
‫ِ جَهاُد اِ‬
‫َْل ِب‬‫ِإْنَكاُر اْ‬
‫لق‬ ‫‪Paling RENDAH‬‬
Semboyan Kita
 Apabila kita sudah memahami konsep jihad ini dan
melakukannya, maka berarti sudah memahami
semboyan kita:

‫س ِب ْيلُنَا‬
َ َ ِ َ‫ا‬
‫د‬
ُ ‫ا‬‫ه‬ ‫ج‬ ْ
‫ل‬
JIHAD JALAN KITA
Landasan Jihad
 Landasan dalam kita berjihad adalah SYAHADAT (‫)ا َلشَّهَادَ ُة‬
 Karena tidak ada artinya jihad yang tidak ikhlas
 Ingat hadits yang menyebutkan 3 orang yang pertama dihisab:
mujahid, dermawan, dan qari’ (ahli Qur’an)  ketiganya
masuk neraka karena jihad untuk disebut pahlawan, berderma
supaya disebut dermawan, dan mengajarkan ilmu dan Qur’an
agar disebut qari’-’alim
 Ketika Rasulullah ditanya apa yang disebut fi sabilillah, maka
beliau menolak jihad karena ashabiyah (fanatisme) atau karena
ingin disebut pemberani, lalu bersabda, “Siapa yang berperang
untuk meninggikan kalimat Allah, itulah sabilillah.”
Kehidupan Mu’min (‫) َحيَاةٌ ِل ْل ُم ْؤ ِم ِن‬
 Jihad seharusnya menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dalam
kehidupan mu’min
 Tingkatan kehidupan mu’min:
 Sangatlah mudah bagi sebagian besar manusia untuk berkhayal.
 Namun, tidak semua khayalan yang terbersit dalam benak bisa digambarkan
dalam bentuk kata-kata.
 Banyak di antara yang sedikit ini bisa beramal,
 namun sedikit sekali yang mampu mengemban amanat jihad yang begitu
berat yang melelahkan.
 Mereka inilah para mujahid dan mereka itulah kelompok minoritas terpilih
dari para pendukung yang kadang-kadang bisa salah dalam melangkah dan
tidak sesuai dengan sasaran, manakala tidak mendapatkan penjagaan dari
Allah. Kisah Thalut barangkali bisa menjadi penjelas atas pernyataan saya ini
Kehidupan Mu’min = Jihadul Haq
‫الجهاد‬
‫ق‬ُّ ‫ا ْل َح‬
‫إستمراريــَة‬
ِ ‫ا َ ْل ِجــ َها ُد‬ ‫ِج ِديــَة‬
‫ا َ ْلعَـــ َم ُل‬
ْ َ‫ا َ ْلَق‬
‫ــــو ُل‬
‫ا َ ْل َخيَّـــا ُل‬
Sesungguhnya, medan perkataan berbeda dengan medan khayalan.
Medan amal juga berbeda dengan medan perkataan. Medan jihad
berbeda dengan medan amal. Medan jihad yang haq berbeda secara
kontradiktif dengan medan jihad yang bathil.
Berambisi Mati Syahid (‫)اَلش َِّه ْي ُد‬
 Sa’ad dan ayahnya (Khaitsamah) sama-sama ingin bergabung
dalam Perang Badar
 Rasulullah SAW memerintahkan agar salah seorang saja yang
ikut berperang
 Akhirnya Sa’ad dan ayahnya membuat undian
 Khaitsamah berkata kepada anaknya, “Memang salah seorang
di antara kita harus tinggal, maka bagaimana jika engkau saja
yang tinggal bersama istriku?”
 Sang anak berkata, “Kalau bukan karena sorga, tentu
aku bisa menerima saran ayah. Tapi aku sangat
mengharapkan mati syahid.”
Dari Syahadat Menuju Syahid
 Kehidupan mu’min itu terrangkai dalam untaian
yang indah antara syahadat dan syahid
 Ia memulai dengan syahadat sehingga dirinya
ikhlas dan ittaba’ kepada Rasulullah SAW
 Kehidupannya diisi dengan jihad total,
sehingga umurnya penuh berkah
 Ia mengakhirinya dengan syahid di jalan Allah
 Itulah gambaran indah seorang mu’min
Sifat-sifat Mu’min
 Mu’min yang telah melakukan perdagangan dengan Allah memiliki
sifat-sifat yang disebutkan dalam 9:112
 Sifat-sifat itu dalam bentuk isim fa’il yang menunjukkan bahwa sifat
‫مإلتَ ِص ق‬
itu melekat dengan dzatnya (‫َةُ ِبالذَ ا ِت‬ ُ ‫)ال ص فة‬
 Ada 7 sifat:
1. ‫(التَّائِبُ وَن‬yang bertobat)
2. ‫(الْعَاِبُد وَن‬yang beribadah)
3. ‫(الْحامُِد وَن‬yang
َ memuji Allah)
4. ‫(السَّاِئُ ح وَن‬yang melawat)
‫ك‬
5. ‫َّا جُد وَن‬ِ‫(الَّرِاُع وَن الس‬yang rukuk, yang sujud)
6. ْ‫( اْل‬yang menyuruh berbuat makruf dan
‫َمُِر وَن ِبالَْم ْعُر وِ فَ والنَّاهُ وَنعَنِالْمَُنْ كِر‬
mencegah berbuat mungkar)
7. (yang memelihara hukum-hukum Allah)
َ ُ‫( التَّا ِئب‬Yang Bertobat)
ُ‫و‬
 Orang yang kembali kepada Allah sambil meminta
ampunan atas dosa mereka
 Tobat adalah
 perasaan menyesal atas perbuatan masa lalu
 bertawajjuh kepada Allah pada usia yang masih ada
 menahan diri dari dosa, dan
 beramal sholeh sebagai realisasi tobat
 Maka tobat adalah penyucian, pembersihan,
penyerahan diri kepada Allah dan kesholehan
َ ‫( ا ْلعَا ِبد‬Yang Beribadah)
ُ‫ُو‬
 Yang menghadap kepada Allah semata dalam beribadah
dan menyembah, sebagai pengakuan atas
rububiyahNya
 Sifat ini tertanam dalam jiwa mereka dengan
diterjemahkan oleh ritus-ritus yang mereka lakukan
 Diterjemahkan oleh tawajjuh kepada Allah semata
dalam segala amal ibadah, ucapan, ketaatan, dan
mengikuti ajaranNya
 Ia adalah pengakuan atas uluhiyah dan rububiyah
kepada Allah dalam bentuk praktikal dan realistis
ِ ‫( ا ْل َح‬Yang Memuji Allah)
َ ‫امد‬
ُ‫ُو‬
 Mereka yang hatinya penuh dengan pengakuan nikmat yang
diberikan Allah, dan lidahnya selalu memberikan pujian kepada
Allah pada waktu senang maupun sulit
 Pada waktu senang adalah untuk bersyukur atas kenikmatan yang lahir
 Sedangkan, dalam kesulitan adalah untuk memuji Allah atas
rahmatNya yang terkandung dalam cobaan itu
 Pujian kepada Allah bukanlah pujian pada kesenangan saja, namun
juga pujian bagiNya pada saat kesulitan, ketika hati orang yang
beriman menyadari bahwa Allah Yang Maha Penyayang dan
Mahaadil tak mungkin memberi cobaan kepada orang yang
beriman, kecuali untuk kebaikan yang Dia ketahui, sejauh apa pun
hal itu tersembunyi dari pengetahuan sang hamba
َ ‫سا ِئ ُح‬
ُ‫و‬ َّ ‫( ال‬Yang Melawat)
 Ada beberapa penafsiran:
 Orang yang berhijrah
 Para mujahid
 Orang yang pergi jauh untuk menuntut ilmu
 Orang-orang yang berpuasa
 Termasuk juga orang-orang yang tafakkur terhadap ciptaan
Allah dan sunnah-sunnahNya seperti pada 3:190-191
 Bukan untuk sekedar merenung dan mengambil ibrah, tapi
untuk membangun kehidupan dan memakmurkan nya setelah
itu, di atas pemahaman ini
‫ك‬
َُ‫(ا لرَّ ِا عُ وَُ ا لس َِّاجدُ و‬Yang Rukuk, Yang Sujud)
 Mereka yang mendirikan shalat dan berdiri dalam shalat
 Hal itu seakan menjadi sifat permanen mereka, dana seakan-
akan ruku’ dan sujud itu menjadi karakter pembeda bagi
mereka dibanding orang-orang lain
 Mereka seperti yang digambarkan sebagai pengikut
Muhammad SAW (48:29)
 Kelak mereka akan mudah untuk bersujud di hadapan Allah
kelak di akhirat nanti, di saat mereka yang tidak terbiasa sujud
kakinya kaku tidak dapat ditekuk (68:42-43)
ْ‫َن ا‬
‫لُمْنَكِر‬ ِ‫لَمْعُر و ِفَ والنَّاُه وَنع‬ َِ
ْ‫مُر وَن ِبا‬ ْ‫ا‬
‫ْل‬
(Yang Menyuruh Berbuat Makruf dan
Mencegah Berbuat Mungkar)
 Saat daulah Islam masih berdiri, maka amar ma’ruf nahi
munkar dengan mencermati kesalahan dan penyimpangan dari
manhaj Allah dan syari’atNya
 Saat ini maka AMAR MA’RUF:
 Usaha-usaha untuk mengkonsolidasikan, mengkoordinasikan, dan
memobilisasi sumber-sumber positif konstruktif dalam Jamaah, umat,
bangsa dan kemanusiaan untuk produksi kebajikan bagi kedamaian
 NAHI MUNKAR
 Bekerja secara sistematik mempersempit, memarjinalisasi dan
meminimalisasi ruang gerak kemungkaran dan efeknya, sehingga
perannya rendah
(Yang Memelihara
Hukum-hukum Allah)
 Dalam masa ketiadaan pemerintahan Islam, maka menjaga
hukum-hukum Allah diarahkan kepada menjaga syari’at Allah
selain hudud (hukum pidana)
 Jadi kita arahkan kepada menjaga akidah, ibadah, dan
muamalah
 Kemudian tetap berupaya secara tarbawi maupun siyasi
(politik) untuk mencapai kekuasaan sehingga
 Memiliki landasan yang kokoh sebagai masyarakat Islam
 Memiliki kemampuan untuk memimpin bangsa
 Mampu mengelola penerapan syariatNya secara cerdas dan
bijak
‫َ َ نح ِّقي ُنق َم نعنَى‬
َّ ‫ال‬
ِ‫ش َهداََََي ِّن‬
Realisasi Makna Syahadatain (2)
‫)‪ َ َ (A 9 – 2‬نح ِّقي ُنق ال َّ‬
‫ش َهداََََي ِّنِ‬
‫هللاُ‬ ‫قَ ْ‬
‫ص ُد ا ْل َحيَا ِة‬
‫سَالَ ُم‬ ‫ا َ ِْل ْ‬ ‫ج ا ْل َحيَا ِة‬ ‫ِم ْن َها ُ‬ ‫ت َ ْو ِح ْيـ ُد هللاِ‬ ‫ا َ ِْل ْق َر ُ‬
‫ار‬ ‫ش َها َدةُ‬
‫اَل َّ‬
‫س ْو ُل‬‫لر ُ‬‫ا َ َّ‬ ‫ا َ ْلَقُد َْوةُ ِفي ا ْل َحيَا ِة‬
‫َر َجا ُء َر ْح َم ِة هللاِ‬
‫صة ُ‬
‫لنيَّةُ ا َ ْل َخا ِل َ‬
‫اَ ِ‬ ‫س ِل ْي َمةُ‬
‫ا َ ْلعَ َِق ْي َدةُ ا َل َّ‬ ‫ب هللاِ‬‫ف ِعَقَا ِ‬ ‫َخ ْو ُ‬ ‫س ِل ْي ٌم‬ ‫قَ ْل ٌ‬
‫ب َ‬
‫ا َ ْل َح َركَةُ َوا ْل ِج َها ُد‬ ‫َم َحبَّـةُ هللاِ‬
‫اَل َّدع َْوةُ َوالت َّ ْر ِبيَّةُ‬
‫ت َ َدبُّ ُر ا ْلَقُ ْر ِ‬
‫آُ‬
‫ا َ ْل ِم ْن َها ُ‬
‫ج ا َل َّ‬
‫ص ِح ْي ُح‬ ‫ا َ ْل ِف ْك ُر ا َ ِْل ْ‬
‫سَالَ ِم ُّي‬ ‫اَلتَّفَك ُُّر فِي ا ْلك َْو ُِ‬ ‫ع َْق ٌل ذَ ِك ٌّي‬
‫َ‬
‫ت‬ ‫ِذ ْك ُر ا ْل َم ْو ِ‬
Realisasi Syahadatain
 Pada materi sebelumnya disampaikan bahwa realisasi
syahadatain adalah adanya hubungan yang kuat antara seorang
mu’min dan Allah SWT
 Hubungan itu meliputi:
 Hubungan cinta
 Hubungan perniagaan
 Hubungan kerja
 Dalam materi ini akan dibahas realisasi syahadatain dari sisi
pribadi yang mengikrarkan syahadat  kondisi pribadi yang
dapat merealisasikan syahadatain
‫ر‬َ ْ
ُ ‫)ا َ ِْل‬
Syahadat adalah Proklamasi (‫ار‬ ‫ق‬
 Syahadat yang kita ucapkan adalah proklamasi akan jatidiri kita
sebagai muslim dan mu’min
 Proklamasi ini akan mudah disampaikan di tengah masyarakat
yang menghormati aturan-aturan Islam
 Tapi di tengah masyarakat yang jauh dari Islam menjadi lebih
sulit, karena akan terasa aneh
 Di tengah negara non-muslim akan lebih sulit lagi, karena bisa
berakibat terbatasinya gerak langkah dalam kehidupannya
 Pernyataan: ُ‫و‬ ْ ‫ش َهدُوا ِبأَنَّا ُم‬
َ ‫س ِل ُم‬ ْ ‫ ا‬saksikanlah bahwa
sesungguhnya kami muslim! (3:64) menjadi tantangan
berat bagi yang menyatakannya
Proklamasi Keesaan Allah (‫)ت َ ْو ِح ْيـ ُد ِهللا‬
 Proklamasi yang kita sampaikan adalah tentang keesaaan Allah
(ِ‫)ت َ ْو ِح ْيـ ُد هللا‬, tidak ada sekutu bagi Allah
 Tidak saling menuhankan sesama manusia dengan
menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang
dihalalkan Allah (9:31)
 Tidak menuhankan hawa nafsunya (25:43, 45:23) sehingga
menganggap suatu keharusan suatu tindakan ma’siyat
 Lihatlah bagaimana para artis melakukan adegan-adegan
yang dilarang syari’at dengan dalih tuntutan skenario 
skenario sudah menjadi kitab suci para artis
Tiga Tuntutan Tauhid
 Jika seorang mentauhidkan Allah, maka sudah seharusnya
memenuhi tuntutannya
 Sasaran hidupnya ( ‫حيَا ِة‬َ ‫ص ُد ا ْل‬ْ َ‫ )ق‬adalah Allah 6:162
 Pedoman hidupnya ( ‫حيَا ِة‬ َ ‫ج ا ْل‬ُ ‫)م ْن َها‬
ِ adalah Islam 6:153
 Teladan hidupnya (‫حيَا ِة‬َ ‫ )ا َ ْلَقُد َْوةُ فِي ا ْل‬adalah Rasulullah SAW
33:21
 Apakah diri kita sudah memenuhi tuntutan ini?
 Perhatikanlah kisah Abud-Dahdah ketika turun surat Al-hadid
ayat 11: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman
yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman
itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”
Abud-Dahdah
 Ketika ayat itu turun ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah
memang Allah menginginkan pinjaman dari kita?”
 “Benar, wahai Abud-Dahdah.”
 “Kalau begitu, ulurkan tangan engkau,” kata Abud-Dahdah sambil
memegang tangan beliau, lalu dia berkata lagi, “Aku meminjamkan
kebun milikku kepada Rabbku.”
 Padahal kebunnya ditumbuhi 900 pohon korma
 Dia berjalan menuju kebunnya dan mendapati istri dan keluarganya
di sana, lalu berkata, “Wahai Ummud-Dahdah!”
 “Aku mendengar suaramu,” jawab istrinya
 “Keluarlah dari kebun ini, karena aku telah meminjamkannya
kepada Allah.” (HR. Abu Ya’la dan Thabrani)
Hati dan Pikiran
 Jika kita memenuhi tuntutan tauhid tersebut, maka kita akan
menjadi pribadi yang memiliki
 Hati yang bersih (‫س ِل ْي ٌم‬
َ ‫ب‬ ٌ ‫)قَ ْل‬
 Pikiran yang cerdas (‫ي‬ ٌّ ‫ع َْق ٌل ذَ ِك‬
َ )
 Inilah pribadi yang sempurna (insan kamil) 2:208
 Hati yang bersih menjadi syarat masuk sorga (26:89, 37:84)
 Ini adalah hati orang beriman, karena hati orang kafir dan
munafik adalah hati yang sakit (2:10 ‫ض‬ ٌ ‫) ِفي قُلُو ِب ِه ْم َم َر‬
 Pikiran orang beriman juga cerdas (3:190)  Allah
menyebutnya dengan ulul albab, ulun nuha, ulul ilm
 Sedangkan pikiran orang kafir tidak berfungsi baik (67:10)
Mengharap Rahmat Allah ( ‫َر َجا ُء َر ْح َم ِة‬
‫)هللا‬
ِ
 Hati yang bersih (sehat) adalah hati yang selalu
mengharapkan rahmat Allah SWT (‫)رجا ء ُ َر ْحمَ ِة ِهللا‬ ََ
 Ia menyadari bahwa dirinya penuh dengan kelemahan
dan keterbatasan, sedangkan Allah memiliki segalanya
dan rahmatNya sangat luas, maka ia selalu berharap
agar mendapatkan rahmat Allah
 7:156 ‫شْي ٍء‬ ِ ‫ َو َر ْح َم تِي َو‬ ayat yang besar
َ ‫س عَتْ ُ َّكل‬
peliputan dan keumuman maknanya
 Sama dengan doa malaikat penyangga ‘arsy (40:7):
‫شْي ٍء َر ْحمَ ًةوَ عِلْمً ا‬
َ ‫س عْتَ ُ َّكل‬
ِ ‫َرب َّ ن َا َو‬
Rahmat Allah yang Luas
 Keluasan rahmat Allah digambarkan bahwa 1% saja
dari semua rahmatNya telah membuat semua makhluk
saling mengasihi, hewan liar sayang kepada anak-
anaknya, dan burung saling mengasihi
 99% rahmat Allah akan diberikan pada hari kiamat
 4:104 perbedaan mu’min dan kafir adalah bahwa
mu’min mengharapkan rahmat Allah yang tidak
diharapkan oleh orang kafir ( ‫َو تَرْ ُجوَُ م ِن َ ََِّّللا م َا َال‬
َُ‫َ)ي ْ ُرجو‬
 Sesungguhnya, semua manusia bisa masuk sorga pun
ِ ‫ف ِعَقَا‬
Takut Hukuman Allah (‫ب ِهللا‬ ُ ‫) َخ ْو‬
 Hati yang bersih adalah hati yang takut kepada hukuman Allah
SWT yang sangat pedih (13:21, 17:57, 76:7)
 17:57 terkumpul antara raja’ dan khauf: َُ‫وي َخا ف ُو‬
َ َ ُ‫َ َويرْ ُجوَُ َر ْح َم َته‬
ُ‫عذ َا َبه‬
 24:37 kriteria Rijalur Rabbani
ْ ‫ارةٌ َو َال بَ ْي ٌع ع‬
 ‫َن ِذ ْك ِر َّ َِّللا‬ ِ ‫( َال ت ُ ْل ِه‬tidak dilalaikan oleh perniagaan dan
َ ‫يه ْم ِت َج‬
tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah)
َّ ‫( َوإِقَ ِام ال‬mendirikan sembahyang)
 ‫ص ََال ِة‬
 ‫الزكَا ِة‬ َّ ‫اء‬ ِ َ‫( َوإِيت‬membayarkan zakat)
 ‫ار‬ُ ‫ص‬ َ ‫وب َو ْاْلَ ْب‬ُ ُ‫ب فِي ِه ا ْلَقُل‬ َ ُ‫( يَ َخاف‬Mereka takut kepada suatu hari
ُ َّ‫وُ يَ ْو ًما تَتََقَل‬
yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang)
 25:65-66 ciri Ibadurrahman: berdoa minta dijauhkan dari adzab
Mencintai Allah (‫) َم َحبَّـةُ ِهللا‬
 Hati yang bersih adalah hati yang mencintai Allah di atas
segala-galanya (2:165)
 Yang demikian itu karena mereka
 Cinta kepada Allah
 Ma’rifah kepadaNya
 MengagungkanNya
 MengesakanNya
 Sama sekali tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun,
melainkan hanya menyembahNya semata
 Bertawakkal kepadaNya
 Kembali kepadaNya dalam segala urusan
AKAL YANG CERDAS (‫ع َْق ٌل ذَ ِك ٌّي‬
َ )
 Seorang mu’min yang telah bertauhid pasti memiliki
pikiran yang cerdas
 Perhatikanlah perkembangan ilmu pengetahuan
sebelum Islam
 Ilmu pengetahuan hanya sebatas teori-teori dan
filsafat-filsafat tanpa pembuktian ilmiah
 Di tangan umat Islam, iptek kemudian berkembang
dengan pesat dan para ulama-ilmuwan menjadi
pelopor iptek
 Kenapa bisa demikian?
ِ ‫)ت َ َدبُّ ُر ا ْلَقُ ْر‬
Mentadabburi Al-Qur’an (ُ‫آ‬
 Kecerdasan mu’min karena mentadabburi (merenungkan) al-
Qur’an
 Al-Qur’an adalah
 Sumber ilmu pengetahuan
 Kitab berisi berita masa lalu dan akan datang
 Petunjuk hidup manusia
ِ ‫َما فَ َّر ْطنَا فِي ا ْل ِكت َا‬
 Segala hal ada di dalam al-Qur’an (6:38 ‫ب ِم ْن‬
ٍ‫)ش َْيء‬
 Dengan turun secara berangsur-angsur, maka pengetahuan
mu’min pun terus bertambah mantap (25:32)
Hasil-hasil Tadabbur
 Para ulama mentadabburi al-Qur’an, maka keluarlah produk-
produk ilmu dalam berbagai bidang
 Ilmu bahasa Arab: Nahwu, Sharaf, Balaghah (Bayan, Ma’ani, dan Badi’)
 Ilmu-ilmu al-Qur’an: asbabun-nuzul, nasikh-mansukh, makkiyah-
madaniyah, dll
 Tafsir-tafsir al-Qur’an: Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Fii
Zhilalil Qur’an, dll
 Ilmu tafsir: jenis-jenis tafsir, para mufassir, perbedaan makna, dll
 Ilmu fiqh, ushul fiqh, ilmu psikologi, kimia, fisika, astronomi,
kedokteran, dll
 Sekarang ini karena kurang tadabbur, maka produk-produk iptek
dari umat Islam mandeg
Tafakkur Alam Semesta (ُِ ‫)اَلتَّفَ ُّك ُر ِفي ا ْل َك ْو‬
 Tafakkur alam semesta juga diperintahkan oleh Al-Qur’an
 Gabungan antara tadabbur al-Qur’an dan tafakkur alam
semesta menciptakan kekuatan yang dahsyat
 Umat Islam selama berabad-abad (13 abad) menjadi GURU
ALAM SEMESTA (‫ستَا ِذيَّةُ ا ْلعَالَ ِم‬
ْ ُ ‫)أ‬
 Saat itu tidak ada dualisme ilmu: umum dan agama, atau
dualisme gelar: ulama dan ilmuwan  keduanya menyatu
secara menciptakan harmoni dalam masyarakat Islam
 Sekarang?
 Ilmuwan berarti bodoh agama atau ulama berarti bodoh iptek,
manajemen, dan kejiwaan manusia!
ِ ‫) ِذ ْك ُر ا ْل َم ْو‬
Ingat Mati (‫ت‬
 Mu’min yang cerdas juga mu’min yang selalu ingat mati 
memiliki pandangan kedepan yang sangat jauh: alam kubur
dan akhirat
 Ini standar kecerdasan menurut Islam dan secara logika juga
demikian

ِ ‫ع ِم َل ِل َما بَ ْع َد ا ْل َم ْو‬
‫ت‬ َ ‫َاُ نَ ْف‬
َ ‫سهُ َو‬ ُ ‫ا ْل َك ِي‬
َ ‫س َم ْن د‬
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya
dan beramal untuk kehidupan sesudah mati
(HR. Tirmidzi)
Aqidahnya Bersih (ُ‫س ِل ْي َمة‬
َّ ‫)ا َ ْلعَ َِق ْي َدةُ اَل‬
 Kalau hatinya bersih, maka akidahnya bersih
 Oleh karena itu, para ulama mendefinisikan “qalbun salim”:
 Bersih dari keyakinan yang kotor dan kemusyrikan
 Pemiliknya mengetahui bahwa Allah adalah hak, dan hari
kiamat pasti terjadi tiada keraguan padanya, serta bahwa
Allah akan membangkitkan semua makhluk dari kuburnya
 Hati yang bersyahadat
 Hati yang bersih dari bid’ah dan mantap serta tenang
dengan sunnah
ْ ‫)ا َ ْل ِف ْك ُر ا َ ِْل‬
Pemikiran yang Islami (‫سَالَ ِم ُّي‬
 Pemikiran yang cerdas dengan mentadabburi al-Qur’an,
tafakkur terhadap alam semesta, dan ingat mati adalah
pemikiran atau ideologi yang Islami
 Islam sebagai sebuah ideologi berfungsi sebagai
 Ide atau gagasan: masyarakat ideal (khairu ummah) 3:110
 Keyakinan atau utopi: memberikan spirit, motivasi, dan
militansi untuk mencapai ide yang dicita-citakan
 Islam membingkai semua pemikiran seorang yang telah
bersyahadat (2:138 dicelup dengan celupan Allah)
Niat yang Murni (ُ‫صة‬
َ ‫لنيَّةُ ا َ ْل َخا ِل‬
ِ َ ‫)ا‬
 Akidah yang bersih menghasilkan niat yang murni atau ikhlas
 Ini menjadi awal segala sesuatu, terutama amal-amal sholeh
 Jika ini rusak, maka rusaklah seluruh amalnya  yang semula
semangat menjadi lelet dan berpangku tangan (qu’ud)

ِ ‫َ َساِد اِ إلْبِت د‬
‫َاء‬ ‫نف‬ْ‫م‬ ْ‫َْعَد ا‬
ِ ‫لُمَجاَهَدِة‬ ‫َتَْرةُ ب‬َْ
‫لف‬‫ا‬
Kelesuan sesudah mujahadah (bersemangat) timbul
karena adanya kerusakan pada langkah pertama
ُ ‫)ا َ ْل ِم ْن َها‬
َّ ‫ج اَل‬
Manhaj yang Benar (‫ص ِح ْي ُح‬
 Pemikiran yang Islami mampu merumuskan panduan dan
ُ ‫)ا َ ْل ِم ْن َها‬
َّ ‫ج اَل‬
pedoman yang benar (‫ص ِح ْي ُح‬
 Panduan dan pedoman yang benar ini akan menuntun umat
Islam dalam bertindak sehingga menghasilkan tindakan yang
benar
 Seorang dokter perlu panduan dalam mendiagnosis penyakit
pasien, kemudian memutuskan obat yang mesti diminum,
serta memberikan aturan minumnya agar pada waktu yang
diprediksi si pasien bisa sembuh dari penyakitnya
 Islam memiliki manhaj yang lengkap dalam berbagai bidang
kehidupan: akidah, akhlak, sosial, politik, budaya, pendidikan,
iptek, dll
Amal Islami
 Dengan bekal niat yang ikhlas dan minhaj yang benar, mu’min
yang bersyahadat melakukan berbagai aktivitas Islam (amal
Islami):
 Dakwah (ُ‫)اَل َّدع َْوة‬
 Tarbiyah (ُ‫)الت َّ ْر ِبيَّة‬
 Harakah (ُ‫ح َركَة‬ َ ‫)ا َ ْل‬
 Jihad (‫)ا ْل ِج َها ُد‬
 Jadi orang yang sudah bersyahadat seharusnya aktif (menjadi
aktivis) dalam keempat amal Islami tersebut
 Bersyahadat tapi pasif, syahadatnya tertolak!
‫َل‬
‫اَلصِبإغَُةَ وِا إِن قَ َل ُب‬

Pencetakan dan Perubahan


‫لص ْبغَةُ َوا ِال ْن َِقَالَ ُ‬
‫ب‬ ‫)‪ (A 10‬ا َ ِ‬ ‫اَل َّ‬
‫ش َها َدت َ ِ‬
‫اُ‬

‫س ْو ُل هللاِ‬
‫ُم َح َّم ٌد َر ُ‬ ‫الَ إِلَهَ إِالَّ هللاُ‬
‫ا َ ْل َم َحبَّةُ‬
‫سالَةَ إِالَّ َما َجا َء ِب ِه ُم َح َّم ٌد‬
‫الَ ِر َ‬ ‫الَ َم ْعبُ ْو َد إِالَّ هللاُ‬
‫ضى‬ ‫ا َ ِلر َ‬
‫ا َ ِالتِبَا ُ‬
‫ع‬ ‫ا َ ِْل ْي َم ُ‬
‫اُ‬ ‫ا َ ِْل ْخَالَ ُ‬
‫ص‬
‫لص ْبغَةُ‬ ‫اَ ِ‬
‫ب‬‫ا َ ِال ْن َِقَالَ ُ‬

‫سلُ ْو ِك ُّي‬
‫اَل ُّ‬ ‫ي‬ ‫اَل ُّ‬
‫شعُ ْو ِر ُّ‬ ‫ا َ ْل ِف ْك ِر ُّ‬
‫ي‬ ‫ا َ ِال ْعتَِقَا ِد ُّ‬
‫ي‬
‫اَلش َّْخ ِصيَّةُ‬
‫سَالَ ِميَّةُ‬‫ا َ ِال ْ‬
‫ا َ ْلَقَ ِي َمةُ‬
Syahadatain
 Syahadatain
‫ول‬
‫أشهد أُ الإ له إال هللا و أشهد أُ محمدا رس هللا‬
َّ ‫ ال‬mengandung 3 makna:
 ‫ش َهداََة = أشهد‬
ُ َ‫)اَ ْ ِْل ْعَال‬
 Pernyataan (ُ
 Sumpah (‫س ُم‬ َ َ‫)اَ ْلَق‬
 Janji (‫)ا َ ْلعَ ْه ُد‬
 ُ‫ الَ إِلَهَ إِالَّ هللا‬ ُ‫( الَ َم ْعبُ ْو َد إِالَّ هللا‬tidak ada yang disembah kecuali Allah) 
hasil akhirnya adalah IKHLAS
ُ ‫ ُم َح َّم ٌد َر‬ ‫سالَةَ ِإالَّ َما َجا َء ِب ِه ُم َح َّم ٌد‬
 ِ‫س ْو ُل هللا‬ َ ‫( الَ ِر‬tidak ada risalah kecuali
yang datang dari Muhammad SAW)  karena itu kita mesti ITTIBA’
(mengikuti) Rasulullah SAW
Cinta (ُ‫)ا َ ْل َم َحبَّة‬
 Syahadat adalah komitmen dalam hati untuk loyal (setia) kepada Allah
dan RasulNya
 Kesetiaan itu tidak akan wujud kecuali dengan adanya CINTA
 Semakin besar cintanya semakin kuat kesetiaannya
 Allah SWT dan RasulNya pun menuntut orang yang beriman untuk
mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya  lebih dari
cintanya kepada
 Bapak-bapaknya, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai (9:24)
ُّ ‫( َو َّ َِّللا َْلَ ْنتَ أَ َح‬demi Allah,
ِ ‫ب ِإلَ َّي ِم ْن نَ ْف‬
 Diri sendiri: Umar berkata, ‫سي‬
engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku, HR. Bukhari)
َ ‫)ا َ ِلر‬
Ridho (‫ضى‬
 Cinta menimbulkan kerelaan terhadap yang dicintai
 Ia ridho kepada
 Allah sebagai Rabb
 Islam sebagai agama
 Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul
 Ridho kepada Allah berarti ridho terhadap apa yang
dikehendaki Allah
 Terhadap diri kita (musibah): sabar dan syukur
 Terhadap alam semesta (sunnatullah)
 Dari diri kita (melaksanakan syari’at)
Ridho kepada Islam
 Ridho kepada Islam sebagai agama berarti meyakini dengan seyakin-
yakinnya bahwa Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh
seluruh segi kehidupan.
 Ia adalah
 negara dan tanah air
 pemerintah dan umat
 akhlak dan kekuatan
 kasih sayang dan keadilan
 peradaban dan undang-undang
 ilmu dan peradilan
 materi dan kekayaan alam
 penghasilan dan kekayaan
 jihad dan dakwah
 pasukan dan pemikiran
 sebagaimana juga ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar
 tidak kurang dan tidak lebih.
Ridho kepada Rasul SAW
 Ridho kepada Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul berarti
kita mesti
 Mengimaninya
 Mencintainya
 Mengagungkannya
 Menolongnya dan membelanya
 Mencintai orang yang dicintainya
 Menghidupkan sunnahnya
 Memperbanyak shalawat kepadanya
 Mengikuti manhajnya
 Mewarisi risalahnya
ُ ‫)ا َ ِْل ْي َم‬
Iman (ُ‫ا‬
 Kalau sudah ridho kepada Allah, Islam dan Rasul, maka berarti
kita telah menjadi MU’MIN TULEN
 Keadaannya bisa timbal-balik: mu’min sejati tentu akan ridho
terhadap mereka semua
 Iman yang disertai ridho inilah yang akan menghasilkan
manisnya iman:
‫سَالَ ِم ِدينًا‬
ْ ‫اْل‬ َّ ‫اُ َم ْن َر ِض َي ِب‬
ِ ‫اّللِ َربًّا َو ِب‬ ِ ‫اْل ْي َم‬ َ ‫ذَا‬
ِ ‫ق َط ْع َم‬
ً‫سوال‬ُ ‫َو ِب ُم َح َّم ٍد َر‬
“Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai
Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai Rasulnya.”
(HR. Muslim)
Celupan (ُ‫لص ْبغَة‬
ِ َ ‫)ا‬
 Keimanan yang kuat akan menjadikan seorang rela dicelup
dengan celupan Allah (ِ‫)ص ْبغَةُ هللا‬
ِ 2:138
 Dirinya, luar-dalam, dicelup dengan celupan Allah sehingga
memiliki warna sesuai dengan warna yang dikehendaki Allah
 Tentu ini berbeda sekali dengan orang yang dicelup dengan
celupan lain: kapitalisme, sosialisme, yahudi, nasrani, hindu,
budha, dll
 Dan celupan Allah adalah sebaik-baik celupan  sebaik-baik
warna yang dihasilkan: generasi yang unik, umat yang terbaik
ُ َ‫)ا َ ِال ْن َِقَال‬
Perubahan (‫ب‬
 Setelah dicelup dengan celupan Allah, maka terjadilah
perubahan warna pada diri mu’min
 Begitulah yang terjadi pada para sahabat, ketika mereka masuk
Islam, bersyahadat, maka terjadi perubahan yang mencolok
pada diri mereka antara sebelum dan sesudah Islam
 Para tukang sihir Raja Fir’aun pun berubah saat masuk Islam
 Tunduk kepada Nabi Musa AS (7:120)
 Iman kepada Allah (7:121)
 Kokoh ketika mendapatkan ancaman (7:123-126)
‫د‬ِ ‫ا‬َ
ُّ ‫)ا َ ِال ْع ِتَق‬
Perubahan Keyakinan (‫ي‬
 Keyakinan pada tauhidullah tanpa syirik
 Keyakinan yang kokoh seperti pohon yang baik (14:24)
 Keyakinan yang mendalam seperti akar yang menghunjam ke bumi
 Keyakinan yang membuat tenang dan tenteram jiwanya
 Keyakinan tanpa disertai keraguan dan kebimbangan sedikit pun
 Itulah yang membuat
 Bilal bertahan dalam siksaan Umayyah
 Sumayyah dan Yasir tetap pada keyakinannya sampai gugur di jalan
Allah
 Suhail ar-Rumi rela meninggalkan harta bendanya yang telah
dikumpulkan demi hijrah ke Madinah
Perubahan Pemikiran (‫ي‬
ُّ ‫ر‬
ِ ْ
‫ك‬ ‫ف‬
ِ ْ
‫ل‬ َ ‫)ا‬
Pemikiran jahiliyah diluruskan menjadi pemikiran Islam
 Pemahaman tentang iman (49:14-15)
 Hakikat kebajikan dan ketakwaan (2:177)
 Ujian keimanan menuju sorga (29:1-3, 3:142, 2:214)
 Hakikat mati syahid (2:154, 3:169)
 Asas perubahan: perubahan ruhiyah, bukan materi (13:11)
 Kebahagiaan dan kerugian (3:185, 23:1-2, 87:14-15, 39:15)
 Pandangan terhadap wanita: wanita bukan setan (30:21)
 Gelap dan terang: bukan karena dua tuhan (6:1, 78:10-11, 28:72)
 Diterimanya amal (hadits niat dll)
 Hakikat kaya, miskin, kekuatan, standar keutamaan, kerusakan standar
dalam banyak hadits
Perubahan Perasaan (‫ي‬ ُّ ‫)اَل‬
ُّ ‫شعُ ْو ِر‬
 Perasaannya pun sudah tercelup dengan celupan Islam
 Mendukung dan memusuhi
 Marah dan ridho
 Cinta atau benci
 Rindu, kasih sayang, harap dan cemas
 Islam menentang perasaan
 Fanatisme (ashabiyah)
 Dendam
 Perasaan marah kepada kemungkaran tanpa berbuat apapun
menjadi tolak ukur terakhir keberadaan iman pada diri seseorang
 menjadi penghalang dari adzab (11:117)
Perubahan Perilaku (‫سلُ ْو ِك ُّي‬
ُّ ‫)اَل‬
 Perilaku = tindak tanduk
 Sistem perilaku dalam Islam dilandasi oleh akidah yang bersih
 Jauh dari perilaku setan: tukang tipu
 Jauh dari perilaku binatang:
 Binatang buas: pemarah seperti anjing (7:176)
 Binatang ternak yang memperturutkan syahwatnya (7:179, 47:12)
 Seorang laki-laki tidak boleh meniru-niru perilaku wanita, dan
sebaliknya (HR. Ahmad)
 Tidak boleh menyerupai perilaku orang kafir ( ‫شبَّهَ ِبَقَ ْو ٍم‬
َ َ ‫َم ْن ت‬
‫ )فَ ُه َو ِم ْن ُه ْم‬HR. Abu Dawud
Pribadi Muslim (ُ‫سَالَ ِميَّة‬
ْ ‫)اَلش َّْخ ِصيَّةُ ا َ ِال‬
 Jika sudah terjadi perubahan pada
 Keyakinannya menjadi keyakinan tauhid
 Pemikirannya
 Perasaannya
 Perilakunya
 Maka berarti telah terbentuk kepribadian Islam
(‫)ا َلشَّخْص ِي َُّة ِاَال ْسَالَم ِ ي َُّة‬
 Jadi untuk membentuk pribadi Muslim harus dimulai
dari syahadatain
Nilai (ُ‫)ا َ ْلَقَ ِي َمة‬
 Pribadi Muslim inilah pribadi yang bernilai, bermutu di mata Allah
dan RasulNya serta umat Islam semuanya
 Pribadi yang berkualitas inilah yang akan membawa Islam pada
kejayaannya (24:55)
 Menjadi khalifah (penguasa) di muka bumi dengan membawa rahmat
bagi semesta alam
 Tamkin (kekokohan) dalam agama di atas agama-agama lainnya
 Menghadirkan rasa aman sehingga perempuan bisa bepergian tanpa
mahram tanpa ada gangguan apapun
 Semua manusia beribadah kepada Allah tanpa syirik
 Kenyataannya, musuh-musuh Islam juga memiliki tentara-tentara
yang berkualitas juga  kalau kita tidak berkualitas, kalah!