Anda di halaman 1dari 30

SIMPLISIA

Meilinda Mustika, M.Farm, Apt


1
SYARAT MUTU
 Syarat mutu adalah semua paparan yang tertera
dalam monografi dan merupakan syarat mutu simplisa
dan ekstrak yang bersangkutan.

Suatu simplisia dan ekstrak tidak dapat dikatakan


bermutu FHI jika tidak memenuhi syarat mutu tersebut.

Syarat mutu ini berlaku bagi simplisia dan ekstrak


dengan tujuan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan,
tidak berlaku untuk keperluan lain.
2
Monografi Simplisia

Terdapat dalam:
 Materia Medika Indonesia Jilid I (1977) sampai Jilid VI
(1995)
 Farmakope Herbal Indonesia Edisi I 2008 dan Suplemen
I 2010 serta Suplemen II 2011

3
4
5
SIMPLISIA (FHI edisi I, 2008)
 Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan. Kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan
simplisia tidak iebih dari 60°.
 Simplisia segar adalah bahan alam segar yang belum dikeringkan.
 Simplisia Nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan atau
eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel yang secara spontan keluar dari
tumbuhan atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat nabati lain yang
dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya.
 Serbuk Simplisia Nabati adalah bentuk serbuk dari simplisia nabati, dengan ukuran
derajat kehalusan tertentu. Sesuai dengan derajat kehalusannya, dapat berupa serbuk
sangat kasar, kasar, agak kasar, halus dan sangat halus.
 Serbuk simplisia nabati tidak boleh mengandung fragmen jaringan dan benda asing yang
bukan merupakan komponen asli dari simplisia yang bersangkutan antara lain telur
nematoda, bagian dari serangga dan hama serta sisa tanah.

6
Simplisia ...
 Nama Latin Simplisia ditetapkan dengan menyebut nama marga (genus), nama jenis
(species) dan bila memungkinkan petunjuk jenis (varietas) diikuti dengan bagian yang
digunakan.
Contoh: Foeniculi Vulgaris Fructus
 Nama Latin dengan pengecualian ditetapkan dengan menyebut nama marga untuk
simplisia yang sudah lazim disebut dengan nama marganya.
Contoh: Foeniculi Fructus
 Nama Lain adalah nama Indonesia yang paling lazim, didahului dengan bagian
tumbuhan yang digunakan.
Contoh: BUAH ADAS
 Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati
atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.

7
Item Pemeriksaan Simplisia
 Identitas Simplisia
 Pemerian: makroskopis dan organoleptik
 Mikroskopis
 Senyawa Identites
 Pola Kromatografi
 Susut pengeringan
 Abu total
 Abu tidak larut asam
 Sari larut air
 Sari larut etanol
 Kandungan Kimia Simplisia

8
Identitas Simplisia

Langkah awal dalam menetapkan identitas dan tingkat


kemurnian simplisia adalah pemeriksaan secara :
1. organoleptik,
2. makroskopis,
3. mikroskopis.

9
Identitas Simplisia …

1. Pemeriksaan organoleptik merupakan cara yang


paling sederhana dan paling cepat untuk menetapkan
identitas, kemurnian dan mutu simplisia.
Karakteristik organoleptik yang perlu diperiksa adalah:
 warna,
 bau,
 rasa,

10
Identitas Simplisia …
2. Pemeriksaan makroskopis simplisia didasarkan pada :
 bentuk,
 ukuran,
 warna,
 karakteristik permukaan,
 tekstur,
 karakteristik patahan,
 rupa permukaan potongan.
Akan tetapi, karena karakteristik ini diperiksa secara subjektif dan simplisia
pengganti atau pemalsu barangkali sangat mirip dengan simplisia asli, maka
perlu diperkuat temuan itu dengan analisis mikroskopis dan/atau analisis
fisikokimia.

11
Identitas Simplisia …

3. Pemeriksaan mikroskopis simplisia sangat diperlukan


untuk identifikasi serbuk simplisia. Spesimen yang
diperiksa barangkali perlu diperlakukan dengan
pereaksi kimia terlebih dahulu. Pemeriksaan secara
mikroskopis saja tidak bisa selalu memberikan
identifikasi yang lengkap, namun bila digunakan
bersama-sama dengan metode analisis lain ia dapat
memberikan bukti penyokong yang sangat berguna.

12
Pemeriksaan organoleptik

 Daun, herba atau bunga yang mengkerut harus


dilunakkan dan diregang pada bidang datar (lihat
“Perlakuan pendahuluan” di bawah ini).

 Buah dan biji tertentu mungkin juga perlu dilunakkan


sebelum dipotong dan diamati karakteristik intenalnya.

 Perlakuan pendahuluan lainnya tidak diperlukan.

13
Perlakuan
pendahuluan
Simplisia kering dilunakkan terlebih dahulu dengan
beberapa cara:
 Untuk sampel sedikit, letakkan segumpal kapas yang
dibasahi dengan air pada dasar tabung reaksi, tutup
dengan kertas saring, letakkan sampel di atas kertas
saring itu, tutup tabung reaksi itu dan diamkan selama
satu malam atau sampai sampel lunak untuk dipotong.
 Untuk sampel yang banyak, letakkan sampel dalam
desikator yang berisi air.
 Kulit batang, kayu dan bahan yang tebal dan keras
lainnya perlu direndam dalam air atau campuran sama
banyak air-etanol-gliserol selama beberapa jam sampai
cukup lunak untuk dipotong. Kadang-kadang perlu
digunakan air mendidih.

16/12/2019 14
Prosedur pemeriksaan organoleptik

 Pemeriksaan ukuran
Penggaris berskala milimeter cukup memadai untuk
pengukuran panjang, lebar dan ketebalan simplisia
kasar.

Biji-bijian dan buah-buahan kecil bisa diukur dengan


menjajarkan 10 biji atau buah pada selembar kertas
yang ditara dengan jarak 1 mm antar garis, dan
kemudian bagi hasilnya dengan 10.

15
Prosedur pemeriksaan organoleptik

 Pemeriksaan warna
Periksa simplisia utuh di bawah cahaya matahari baur
(tidak langsung). Jika perlu, sumber cahaya lampu
buatan dengan panjang gelombang yang sama dengan
sinar matahari bisa digunakan. Warna sampel harus
dibandingkan dengan warna sampel pembanding.

16
Prosedur pemeriksaan organoleptik

 Pemeriksaan karakteristik permukaan, tekstur dan
karakteristik patahan
Periksa sampel utuh. Jika perlu, lensa pembesar (6x
sampai 10x) bisa digunakan. Pembasahan dengan air
atau pereaksi mungkin perlu untuk mengamati
karakteristik potongan sampel. Sentuh sampel itu
untuk menentukan apakah sampel itu lunak atau keras;
bengkokkan dan patahkan sampel untuk memperoleh
informasi mengenai kerapuhan dan rupa bidang
patahan – apakah berserat, halus, kasar, granular, dsb.
17
Prosedur pemeriksaan organoleptik …
Pemeriksaan bau:
Jika bahan yang akan diperiksa tidak berbahaya, letakkan sedikit sampel di
telapak tangan atau dalam beaker gelas kecil, dan hirup perlahan-lahan dan
berulang kali udara di atas sampel.
Jika tidak ada bau yang jelas tercium, hancurkan sampel itu antara ibu jari
dan telunjuk atau antara telapak tangan dengan menggunakan tekanan yang
kuat.
Jika bahan itu diketahui berbahaya, hancurkan secara mekanik dan tuang
sedikit air mendidih kepada sampel yang sudah hancur itu dalam beaker.
Pertama, tentukan kekuatan bau (tidak berbau, lemah, nyata, kuat) dan
kemudian tentukan sensasi bau (aromatik, seperti buah, apek, bulukan,
tengik, dsb.). Pembandingan langsung bau dengan senyawa tertentu sangat
dianjurkan (misalnya, peppermint akan mempunyai bau yang serupa dengan
mentol, cengkeh akan mempunyai bau yang serupa dengan eugenol).
18
Prosesur pemeriksaan
organoleptik
 Pernyataan “tidak berbau", "praktis tidak berbau ", "berbau
khas lemah“ atau lainnya, ditetapkan dengan pengamatan
setelah bahan terkena udara selama 15 menit.
 Waktu 15 menit dihitung setelah wadah yang berisi tidak
lebih dari 25 g bahan dibuka. Untuk wadah yang berisi lebih
dari 25 g bahan penetapan dilakukan setelah lebih kurang
25 g bahan dipindahkan ke dalam cawan penguap 100 mL.
Bau yang disebutkan hanya bersifat deskriptif dan tidak
dapat dianggap sebagai standar kemurnian dari bahan yang
bersangkutan.

19
Prosedur pemeriksaan organoleptik

Pemeriksaan rasa:
Uji ini hanya dilakukan jika dipersyaratkan secara khusus
untuk suatu simplisia tertentu.

20
Kadar abu

 Kadar abu merupakan campuran dari komponen


anorganik atau mineral yang terdapat pada
suatu bahan pangan.
 Bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik
dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-
unsur mineral.
 Unsur juga dikenal sebagai zat organik atau
kadar abu. Kadar abu tersebut dapat
menunjukan total mineral dalam suatu bahan
 Bahan-bahan organik dalam proses pembakaran
akan terbakar tetapi komponen anorganiknya
tidak, karena itulah disebut sebagai kadar abu
Harrizul Rivai - Analisis Mutu Obat Herbal 16/12/2019 21
 Penentuan kadar abu total dapat digunakan
untuk berbagai tujuan, antara lain untuk
menentukan baik atau tidaknya suatu
pengolahan, mengetahui jenis bahan yang
digunakan, dan sebagai penentu parameter nilai
gizi suatu bahan
 Kadar abu sebagai parameter nilai gizi,
contohnya pada analisis kadar abu tidak larut
asam yang cukup tinggi menunjukan adanya
kontaminan atau bahan pengotor pada bahan
tersebut
Harrizul Rivai - Analisis Mutu Obat Herbal 16/12/2019 22
Contoh pemeriksaan
organoleptik FHI

23
Simplisia buah adas

24
25
26
27
28
29
TERIMA KASIH

Harrizul Rivai - Analisis Mutu Obat Herbal 16/12/2019 30