Presbikusis
Irma Suryani
Rizki Maulana
Tatsa Rizkia
Risma Zulia
Definisi
Presbikusis adalah tuli sensorineural frekuensi
tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun,
simetris pada telinga kiri dan kanan.
Presbikusis berasal dari dua kata Yunani -
presbus, seorang pria tua, dan acusis,
pendengaran.
Epidemiologi
Tidak data yang akurat mengenai prevalensi presbikusis di dunia. WHO memperkirakan pada tahun 2025, akan ada
500 juta orang usia > 60 tahun yang mengalami presbikusis.
Diperkirakan presbikusis dialami sekitar 30-35% pada populasi berusia 65-75 tahun dan 40-50% pada populasi
diatas 75 tahun. 23%
Pada Survei Kesehatan Indera Penglihatan-Pendengaran tahun 1994-1997 di 7 Provinsi dengan 19.375 responde,
didapatkan prevalensi presbikusis sebesar 2.6% atau sekitar 6.7% dari seluruh pasien THT.
Etiologi Faktor Risiko Faktor Risiko
Etiologi presbikusis berkaitan dengan proses Faktor Herediter
degenerasi Usia dan jenis kelamin
Menurunnya fungsi pendengaran secara berangsur Hipertensi
merupakan efek kumulatif dari pengaruh beberapa DM
faktor. Hiperkolesterol
Diduga kejadian presbikusis mempunyai Merokok
hubungan dengan faktor-faktor herediter, pola Riwayat Bising
makanan, metabolisme, arteriosklerosis, infeksi,
bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor.
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya presbikusis menunjukkan
adanya degenerasi pada stria vaskularis (tersering).
Degenerasi hanya terjadi sebagian tidak seluruhnya.
Degenerasi sel marginal dan intermedia pada stria
01
Degenerasi Koklea
vaskularis terjadi secara sistemik, serta terjadi
kehilangan Na+K+ ATPase.
Degenerasi stria vaskularis akibat penuaan berefek
pada potensial endolimfe yang berfungsi sebagai
amplifikasi koklea.
Degenerasi sekunder terjadi akibat degenerasi sel
02
organ corti dan saraf yang dimulai pada bagian basal Degenerasi Sentral
koklea hingga apeks.
Perubahan yang terjadi akibat hilangnya fungsi
nervus auditorius akan meningkatkan nilai ambang
CAP dari nervus.
Pengurangan amplitudo dari potensial aksi pada
proses penuaan memungkinkan terjadinya
asinkronisasi aktifitas nervus auditorius
KLASIFIKASI
Derajat Gangguan Pendengaran
DIAGNOSIS
1. ANAMNESIS
Gejala yang timbul adalah penurunan ketajaman pendengaran pada usia lanjut,
bersifat sensorineural, simetris bilateral dan progresif lambat.
Umumnya terutama terhadap suara atau nada yang tinggi.
Tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan telinga hidung tenggorok, seringkali
merupakan kelainan yang tidak disadari.
Kadang-kadang disertai dengan tinitus.
Riwayat yang berhubungan dengan faktor risiko, seperti paparan bising, merokok,
obat-obatan, hipertensi, dan riwayat keluarga.
DIAGNOSIS
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik biasanya normal.
Tes penala menunjukkan tuli sensorineural
3. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan audiometri nada murni, menunjukkan tuli saraf nada tinggi, bilateral
dan simetris. Penurunan yang tajam ( slooping ) pada tahap awal setelah
frekuensi 2000 Hz.
2. Audiometri tutur, menunjukkan adanya gangguan diskriminasi wicara ( speech
discrimination ) dan biasanya keadaan ini jelas terlihat pada presbikusis jenis
neural dan koklear.
3. Pemeriksaan otoskopik, tampak membran timpani suram, mobilitasnya berkurang
Diagnosis Banding
Gangguan pendengaran
autoimun Penyakit Meniere Neuroma akustik
TERAPI
Terapi berkaitan
faktor risiko Speech readind and
auditory training
Hearing Aids Cochlear implant
Prognosis
Penurunan pendengaran terkait usia merupakan kondisi
yang bertahap, namun, tingkat perkembangannya
bermacam-macam. Penurunan fungsi pendengaran ini
biasanya bermulai dari tahap 1 dB/tahun. Rehabilitasi dari
pasien berusia lanjut dengan keluhan tuli biasanya jauh
dari tingkat puas. Meskipun alat amplifikasi dapat
membantu mendengar namun tidak dapat cukup
membantu kejelasan suara. Implant cochlear memberikan
harapan pengembalian pendengaran dan kejelasan pada
pasien penurunan pendengaran berat
THANKS