Anda di halaman 1dari 40

Pengawasan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam

Negeri pada Pengadaan Barang dan Jasa


di Lingkungan Pemerintah Daerah
Sesuai INPRES No. 2 Tahun 2022
Realisasi

Profil Pengadaan Belum RUP


Rp29,1T Rp150,2T
Nasional TA 2022 14 %
3% Belum Realisasi
Sudah
Per 25 April RUP
Rp1001,3T Rp851,0T
83%
2022
97% Melalui
Belanja Penyedia
Anggaran Belanja Nasional PBJ

Rp2.128,3T
Nasional Rp571,5T
Rp1.0 30 , 55%
3T Melalui
Swakelola
Anggaran Belanja PBJ Nasional

Rp1.030,3T Rp429,8T
4 2%

ANGGARAN BELUM
RUP BELUM RUP PENYEDIA SWAKELOLA REALISASI
BELANJA PBJ REALISASI

NASIONAL 1.030,3 1001,3 29,0 571,5 429,8 150,2 851,0


KEMENTERIAN
/ LEMBAGA 502,2 358,8 143,4 294,2 64,6 95,5 263,3

PEMDA 528,2 642,5 0 277,3 365,1 54,7 587,8


ARAHAN BAPAK PRESIDEN KEPADA MENTERI, KEPALA LEMBAGA, KEPALA DAERAH
DAN BUMN TENTANG AKSI AFIRMASI BANGGA BUATAN INDONESIA
PADA TANGAL 25 MARET 2022

Tingkatkan Penggunaan Produk Dalam Negeri khususnya


1
bagi Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah serta
mengurangi belanja dan penggunaan barang-barang impor.

Mendorong komitmen belanja Produk Dalam Negeri hingga


2
Rp.400 Triliun pada bulan Mei Tahun 2022

3 Segera dorong UMKM di Daerah untuk masuk ke e-Katalog

4 Permudah perizinan-perizinan bagi UMKM


“UMKM bisa menjadi komponen penting
untuk memulihkan perekonomian dan
berperan mengatasi persoalan Bottleneck
Supply Chain”
Inpres Nomor 2 Tahun 2022
 Instruksi Um um kepada Menteri,
Kepala Lembaga, Kepala
Daerah terdiri dari 16 instruksi
 Instruksi Khusus kepada 20
Menteri/Kepala Lembaga
 6 Instruksi Khusus kepada
kolaborasi K/L
 1 Instruksi Khusus kepada
para Kepala Daerah
Instruksi Umum
1. Menetapkan dan/atau mengubah kebijakan dan/atau peraturan perundang-undangan untuk
mempercepat peningkatan penggunaan PDN dan pemberdayaan UMK-Koperasi.
2. Merencanakan, mengalokasikan, dan merealisasikan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang
menggunakan PDN di Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah.
3. Merencanakan, mengalokasikan, dan merealisasikan paling sedikit 40% nilai anggaran belanja
barang/jasa untuk menggunakan produk UMK-Koperasi dari hasil produksi dalam negeri.
4. Mendukung pencapaian target belanja APBN/APBD Tahun Anggaran 2022 paling sedikit Rp400
Triliun untuk PDN dengan prioritas produk UMK-Koperasi .
5. Membentuk Tim Peningkatan Penggunaan PDN (Tim P3DN) pada Kementerian/Lembaga dan
UMK-Koperasi.
6. Menyusun roadmap strategi peningkatan penggunaan PDN dan produk UMK-Koperasi,
termasuk roadmap peningkatan jumlah PDN menuju 1.000.000 produk tayang dalam Katalog
Elektronik.
7. Menyampaikan program pengurangan impor paling lambat pada tahun 2023 sampai dengan 5%
bagi Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah yang masih melakukan pemenuhan belanja
melalui impor.
8. Menggunakan PDN yang memiliki nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) paling sedikit 25%
apabila terdapat PDN dengan penjumlahan nilai TKDN dan nilai Bobot Manfaat Perusahaan
minimal 40%.
Instruksi Umum
9. Mendorong percepatan penayangan PDN dan produk UMK-Koperasi pada Katalog
Sektoral/Katalog Lokal.
10. Mengumumkan seluruh belanja Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pada SiRUP LKPP dan
mengisi E-Kontrak pada Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE).
11. Mencantumkan syarat wajib menggunakan PDN dan produk yang dihasilkan UMK-Koperasi
/Industri Kecil dan Menengah/Artisan pada semua kontrak kerja sama.
12. Menghapuskan persyaratan yang me n gh a mb a t penggunaan PDN dan produk UMK-Koperasi
dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
13. Mengalihkan proses pengadaan yang manual menjadi pengadaan secara elektronik paling
lambat tahun 2023.
14. Melakukan kolaborasi Kementerian Lembaga dan Pemerintah Daerah untuk memberdayakan
UMK-Koperasi dengan mengupayakan produk UMK-Koperasi menjadi bagian dari rantai pasok
industri global.
15. Memberikan preferensi harga dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah untuk pembelian
produk dalam negeri yang memiliki nilai TKDN paling sedikit 25% sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
16. Melakukan integrasi d a t a dan informasi mengenai produk dalam negeri dan produk UMK-
Koperasi melalui penerapan Satu Data Indonesia (SDI) dalam rangka mendukung kebijakan
berbasis data dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sesuai kerangka Sistem
Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Instruksi Khusus MENTERI KESEHATAN
• menyederhanakan
MENTERI KOPERASI DAN
UKM
• melakukan pembinaan
Kabar Baik Bagi persyaratan dan bagi UMK-Koperasi
melalui fasilitasi
memperc epat proses
Pelaku Usaha penerbitan perizinan berusaha pendampingan
PDN dan produk UMK-Koperasi • memfasilitasi akses
p e m b i a y a a n bagi UMK-
MENTERI DALAM NEGERI MENTERI PERINDUSTRIAN Koperasi
• mempercepat penerbitan • memperbanyak dan • mempromosikan dan
dan penggunaan Kartu mempercepat serta memberikan menyelenggarakan
Kredit Pemerintah Daerah insentif sertifikasi TKDN PDN yang business matching antara
(KKPD) dibutuhkan dalam PBJP Pelaku UMK-Koperasi
• memperbarui • mempersiapkan offset agreement sebagai supplier dan KLPD
kebijakan mengenai untuk pengembangan produk yang sebagai pembeli untuk
mekanisme belum diproduksi oleh industri PDN pada belanja KLPD
pertanggungjawaban d a l a m negeri secara berkala dan
keuangan daerah melakukan tindak lanjut
MENTERI BUMN atas pelaksanaan
MENTERI KEUANGAN • mewajibkan BUMN untuk business matching
• melakukan pemberian insentif mengalokasikan CSR untuk MENTERI PAREKRAF
pajak untuk meningkatkan belanja peningkatan kapasitas UMK- • mengembangk an ekosistem
PDN dan/atau produk UMK- Koperasi ekonomi kreatif untuk
Koperasi • berkoordinasi dengan OJK untuk mendukung inovasi produk
• mendukung dan mempercepat mendukung kesiapan pembiayaan kreatif yang dapat
sistem pembayaran procure to pay bagi Pelaku Usaha sebagai modal digunakan untuk memenu
(P2P) pada PBJP termasuk e - usaha dalam memproduksi permintaan PDN pada
purchasing terutama untuk paket permintaan PDN belanja KLPD belanja KLPD
usaha kecil atau barang PDN
dan/atau produk UMK-Koperasi
Menteri PAN RB
Instruksi Menetapkan kebijakan penilaian
Reformasi Birokrasi berdasarkan
Menciptakan
Khusus Ekosistem yang kinerja KLPD dalam belanja
Memudahkan Penggunaan pengadaan terkait Peningkatan
Penggunaan PDN dan produk
PDN UMK- Koperasi.
Menteri PPN/Bappenas Jaksa Agung
Menteri D a l a m Negeri
Melakukan pendampingan
Mengkoordinasikan dan
Memasukkan indikator peningkatan h u k u m pada KLPD dalam
mensinergikan program dan
penggunaan PDN dan produk UMK- hal terdapat
kegiatan lintas sektor dan KLPD untuk
Koperasi pada pelaksanaan PBJ permasalahan dalam
mendukung percepatan
menjadi Indikator Kinerja Kunci (lKK) pelaksanaan penggunaan
peningkatan penggunaan PDN dan
p a d a Evaluasi Penyelenggaraan PDN.
produk UMK- Koperasi pada
Pemerintah Daerah (EPPD)
pelaksanaan PBJP Kepala POLRI
Menteri Keuangan Memberikan pelayanan dan
Menteri BUMN
Mengembangkan sistem dan perlindungan kepada KLPD
menunjuk Penyelenggara Menugaskan BUMN untuk m e m b a n t u dalam mendukung
Perdagangan Melalui Sistem pengembangan aplikasi dan program penggunaan
Elektronik (PPMSE) sebagai infrastruktur Sistem Pengadaan PDN.
pemungut pajak. Secara Elektronik (SPSE) dan sistem
pendukung Kepala BPKP
Menteri Perindustrian Menteri Kominfo Melakukan pengawasan
Memperkuat infrastruktur Percepatan Program
Mempercepat pencantuman telekomunikasi agar seluruh sistem Peningkatan Penggunaan PDN
PDN yang telah memiliki terkait percepatan peningkatan dan produk UMK-Koperasi pada
sertifikat TKDN di dalam penggunaan PDN dan produk UMK- KLPD, serta mengoordinasikan
Katalog Elektronik Koperasi pada pelaksanaan PBJ APIP KLPD dalam membantu
dapat diakses oleh KLPD.
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2022
Tentang Percepatan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dan Produk Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Koperasi
Dalam Rangka Menyukseskan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia Pada Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
(Tanggal 30 Maret 2022)

POIN PENTING:
1. Mempercepat peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan pemberdayaan UMKM
dan Koperasi
2. Merencanakan, mengalokasikan, dan merealisasikan paling sedikit 40% dari nilai anggaran
pada pengadaan barang/jasa pemerintah dengan menggunakan produk UMKM dan Koperasi
dari hasil produksi dalam negeri
3. Mendukung pencepatan target belanja APBN dan APBD TA 2022 paling sedikit Rp. 400T
untuk produk dalam negeri  prioritas produk UMKM dan Koperasi
4. Membentuk tim P3DN pada K/L dan Pemda serta menyusun roadmap strategi penggunaan
Produk Dalam Negeri dalam rangka percepatan penayangan menuju 1.000.000 produk
tayang dalam e-katalog
5. Pengurangan impor paling lambat pada tahun 2023 sampai dengan 5% bagi K/L dan Pemda
yang melakukan pemenuhan belanja melalui impor
6. Belanja pengadaan barang/jasa pemerintah menggunakan SiRUP dan mengisi
e-kontrak pada Sistem Pengadaan Secara Elektornik (SPSE)
7. Mencantumkan syarat wajib menggunakan produk dalam negeri pada semua kontrak kerja
sama
8. Menghapuskan syarat yang menghambat penggunaan produk dalam negeri dalam
pengadaan barang/jasa pemerintah
9. Melakukan integrasi data dan informasi mengenai produk dalam negeri melalui penerapan
Satu Data Indonesia (SDI) dalam rangka mendukung kebijakan berbasis data dalam pengadaan
barang/jasa pemerintah sesuai kerangka Sistem Pengadaan Secara Elektornik (SPBE)

*P3DN : Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri


SiRUP : Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan
10
Menambahkan layanan pendaftaran bagi Pelaku
Usaha sebagai Penyedia Barang/Jasa Pemerintah
(SPSE dan SiKAP) pada mal pelayanan publik
daerah, termasuk layanan konsultasi pendaftaran
sebagai merchant pada Penyelenggara
Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPMSE)

Mendorong percepatan produk dalam negeri


Instruksi dan/atau produk Usaha Mikro, Usaha Kecil,
kepada dan Koperasi pada masing-masing daerah
Gubernur, untuk tayang dalam Katalog Lokal atau Toko
Daring
Bupati, dan
Walikota

Memerintahka Organisasi Perangkat Daerah


(OPD) untuk belanja produk dalam negeri
melalui Katalog Lokal atau Toko Daring
HAL-HAL YANG PERLU DITINDAKLANJUTI OLEH PEMERINTAH DAERAH

SEB LKPP dengan Kemendagri E-Processing dan E Contract


Nomor: 027/1022/SJ dan 1 Daerah diminta aktif menggunakan aplikasi 05
Tahun 2022 pengadaan elektronik dari LKPP
tanggal 25 Februari 2022 Tentang Gernas Pengisian Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan
BBI pada Pengadaan Barang/Jasa Di (SIRUP) Daerah diminta aktif Sistem Informasi Rencana
Lingkungan Pemerintah Daerah Umum Pengadaan. e-katalog membentuk, mengelola 04
dan mengembangkan katalog elektronik lokal
Komitmen Anggaran
Pengalokasian paling sedikit 40% dari nilai anggaran
belanja bang/jasa untuk penggunaan produk usaha ke- 03
cil dan/atau koperasi

TIM
Pembentukan Tim Peningkatan Penggunaan 02
Produk dalam Negeri (P3DN)

MENGIMPLEMENTASIKAN
program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam
Negeri (P3DN), mulai dari tahap perencanaan, 01
penganggaran, pelaksanaan, hingga pengawasan
KEWAJIBAN PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI

Kewajiban penggunaan produk dalam negeri


dalam Inpres 2/2022 bukan sesuatu yang baru
karena sebelumnya sudah termaktub dalam peraturan
perundangan seperti,
UU 11/2020, UU 3/2014, PP 29/2018, Perpres 16/2018 jo.
12/2021, dan lainnya.
hanya saja kurang mendapat perhatian

16
REGULASI TERKAIT P3DN

17
REGULASI TERKAIT P3DN

UU No 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja

setiap pengadaan yang sumber pembiayaannya berasal dari APBN, APBD, termasuk pinjaman atau hibah dari dalam
negeri atau luar negeri, serta pekerjaannya mengusahakan sumber daya yang dikuasai negara, maka WAJIB
menggunakan produk dalam negeri.
18
18
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 29 TAHUN 2018
TENTANG PEMBERDAYAAN INDUSTRI

19
REGULASI
REGULASI

PP 29/2018 tentang Pemberdayaan Industri

TKDN sebagai verifikasi


atas klaim Produk Dalam
Negeri
Seluruh pengadaan barang/jasa telah diwajibkan untuk
menggunakan PDN yang ber-TKDN minimal 25%
apabila terdapat produk sejenis yang memiliki nilai
TKDN dan BMP minimal 40%
SURAT MENKOMARVES–PENGGUNAANPDN
SURAT MENTERIPERINDUSTRIAN–PENGGUNAANPDN
PENGAWASANDAN SANKSI
Upaya Peningkatan
Produk Dalam 2
Negeri dan UMK-
Koperasi

3
1

1
2
halaman
4
PENGAWASAN
P3DN
DEFINISI

27
URUTAN PEMBELIAN PRODUK DALAM NEGERI

TKDN ≥40% Jika barang dimaksud


Nilai TKDN atau TKDN+BMP minimal 40% adalah barang wajib, maka
WAJIB yang boleh dibeli adalah
TKDN 25 - <40% PDN yang memiliki nilai
Memiliki nilai TKDN di bawah 40% TKDN minimal 25%

Jika barang dimaksud


PRODUK TKDN <25%
Memiliki nilai TKDN di bawah 25% adalah belum wajib, maka
BELUM
DALAM WAJIB
diutamakan PDN yang
memiliki nilai TKDN,
NEGERI PDN NON-TKDN
PDN yang belum teridentifikasi nilai TKDN sebelum PDN non-TKDN

Impor adalah pilihan


PRODUK IMPOR terakhir jika benar-benar
tidak ada PDN sejenis

28
KEWAJIBAN PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 29 TAHUN 2018

33
PENJELASAN PASAL 59 PP 29/2018

34
IMPLEMENTASI P3DN PADA PENGADAAN B/J

35
IMPLEMENTASI P3DN PADA PENGADAAN B/J

36
PREFERENSI HARGA
SESUAI PP NO 29 TAHUN 2018 DAN PERPRES NO 12 TAHUN 2021

37
PENGHITUNGAN HARGA EVALUASI AKHIR (HEA)

38
PENGAWASAN DAN SANKSI
SESUAI PP NO 29 TAHUN 2018 DAN PERPRES NO 16 TAHUN 2018

39
SURAT MENTERI KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN DAN INVESTASI
PENGGUNAAN PRODUK DALAM NEGERI PADA PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

40
Permasalahan Katalog
Lokal
1. Aspek Pelaku Usaha
Disparitas kapasitas pelaku pengusaha lokal antar daerah yang berbeda-beda karakteristiknya.
2. Aspek Kelembagaan
Pengelolaan Katalog Lokal di Daerah belum seluruhnya melibatkan ekosistem lainnya di luar UKPBJ
berkaitan
dengan pembinaan pelaku usaha lokal yang perlu dukungan kuat dari Dinas yang menangani
urusan Perdagangan, Perindusrian. UKM, dan Koperasi sebagai focal point baru;
3. Aspek Teknologi
Sistem aplikasi e-katalog belum memadai untuk mendukung proses on-boarding secara serentak.
4. Aspek SDM
Pengelola Katalog Lokal dianggap menambah beban kerja baru bagi SDM pelaku pengadaan terutama
untuk melakukan monev transaksi secara berkala dan berkesinambungan.
5. Aspek Pengguna(user)
Risiko dari sisi pengguna yang melakukan e-purchasing belum dimitigasi dengan baik, karena belum
adanya edukasi yang memadai kepada para PPK terhadap cara e-purchasing yang lebih
menyesuaikan
dengan proses bisnis katalog yang baru.
6. Aspek Penataan Pasar
Tidak ada batasan domisili pelaku usaha dalam satu aglomerasi wilayah, berpotensi adanya bauran
produk/pelaku usaha antar pasar katalog lokal (misalnya : antara katalog lokal provinsi dan katalog
local pemda ibu kota provinsi dan sekitarnya)
7. Aspek Keuangan
Pembayaran user kepada pelaku usaha, masih menggunakan tata cara pertanggungjawaban
keuangan
Permasalahan
Pencatatan Tender

Sebanyak 7.878 paket


Dengan nilai Total Tender Rp31,5T
Tender Produk Dalam Negeri
Belum Dicatatkan

Hal ini akan menyebabkan


perhitungan nilai Penggunaan Produk Rincian Tender Produk D a l a m
Negeri yang Belum Dicatatkan
Dalam Negeri belum Optimal
Nilai Jumlah
KLPD
Tender Paket

Kementerian/Lembaga Rp 18,3T 3.408


Pemerintah Daerah Rp 13,2T 4.407
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai