Anda di halaman 1dari 34

Fajar Shodiq Menyemburat

Risalah Buat Akh Taufiq Hidayat (Sekedar Pelurusan Masalah, Tahqiq dan Nasihat)

Ditulis Oleh: Abu Fairuz Abdurrohman Al Indonesiy Diperiksa Oleh: Abu Ubaidah Utsman As Sandakaniy Al Indonesiy

Di Darul Hadits Dammaj

Pengantar Penulis
:
Beberapa hari setelah beredarnya tulisan ana Jawaban Yang Menyenangkan terhadap Tuduhan Akh Taufiq Yang Sembarangan datanglah SMS dari saudara kita Muhammad Yamin kalau tak salah pada tanggal 12 Syaban 1433 H, sebagai berikut: Bismillah, Assalamualaikum, walhamdulillah. Uhibbuka fillah. Ana pernah membaca tulisan antm ttg panggilan Ustadz. Makanya ana sampaikan jg kpd antm isi SMS2 ana yg ke Abu Turob. Ana mendengar di mjls >-3 kali Abu Turob mengingkari panggilan ustadz. Ana sdh dpt pembahasan mslh tsb >- thn 2002 kemudian thn 2008. Ana wktu di Bengkulu memanggil Abu Turob dgn ustadz utk menyelisihi pendapatnya, Wallohu alam. Akhi, ana dpt berita bhw antm membnth Ustadz Taufiq ttg berita: Abu Fairuz & Siddiq menyuruh usir.. dst. Data yg antm dpt dr Abu Turob: Ikhw & Siddiq. Ana telp ikhw di Bengkulu smlm & hr ini Abu Said Ambon & Abu Sulaiman Bengkulu: Tolong cari kertas yg disebarkan Abu Turob. & apa ada nama Abu Fairuz di selebaran yg tersebar di Bengkulu tsb? Mrk td sdh dptkan. & SMS Abu Sulaiman Bengkulu sbb: Ana sdh krm, tolong ksh tau Abu Fairuz. Tlg antm baca akhi di email: Abuabdirrohmanymn@gmail.com. Wallohu Alam. Berhubung ana sedang mendapatkan nikmat untuk dicuci dosa-dosa ana lewat penyakit yang membikin susah bergerak, maka ana minta salah seorang ikhwah terpercaya untuk mengambilnya. Setelah ana dapatkan file yang dikirimkan oleh sahabat lama ana: akh Abu Sulaiman Abdulloh Bengkulu, ana dapati tertulis sebagai berikut:
Faidah Taubat dari Abu Turob


Jawaban Syaikh Yahya Al Hajuri hafidhohullooh Berkaitan Dengan Pernyataan Taubat Abu Turob

Berkata Abu Turob: Pada hari Sabtu 27 Rojab 1432 H (Pukul 03.17 wib), ana menelpon Syaikh Yahya karena adanya permintaan beberapa ikhwah akan perihal ini, dikarenakan sebagian mereka masih mempermasalahkannya, dan alhamdulilaah beliau meluangkan waktu untuk kami disela-sela padatnya jadwal dan banyaknya tamu, dialog tersebut terekam dalam audio dan ini adalah nukilan jawaban beliau dalam masalah ini:

Pertanyaan: Ya Syaikh, barangkali antum mendengar bahwa, ana pernah membaca hadits yang terdapat di dalam kitab Aqidatussalaf Ashabul Hadits halaman 211-212 bab Nuzuululloh taala wa majii-uhu, cetakan Daarul Ashimah: Dari hadits Abi Huroiroh rodhialloohuanhu:

: : : .
(1)

Dan pada riwayat Abi Haazim dari Abi Huroroh rodhialloohu anhu dari rosululloh shollalloohualaihi wasallam: sesungguhnya Alloh turun ke langit dunia pada sepertiga malam rakhir, sembari menyeru: apakah ada yang meminta sehingga aku kasih dia, apakah ada yang memohon ampun maka aku akan ampuni baginya? Maka tidak tersisa sesuatu apapun yang terdapat padanya ruh kecuali mengetahui dengannya, kecuali jin dan manusia, berkata: dan itu terjadinya ketika ayam-ayam jago berkokok dan ketika keledai meringkik, serta anjing menggonggong.. Ana telah melihat sanadnya dhoif, akan tetapi telah tergelincir lisanku(2) dalam hadits ini pada lafadh sehingga aku mengatakan bahwa ayam jago melihat Alloh pada malam itu (sepertiga malam terakhir), maka ketika aku melihat bahwa hadits itu dhoif maka aku ruju dari ucapan itu, kemudian aku sebarkan pernyataan tarojuku ini di internet, di pembicaraan dan di majlis (halaqoh), kemudian sebagian manusia tidak menerima ini dariku, dengan alasan karena permasalahannya adalah kesalahan dalam masalah aqidah, yang seharusnya dengan taubat nashuh dan perlu diberlakukan padaku apa yang dilakukan Umar bin Khottob rodhialloohu anhu terhadap Shobiigh.
Catatan penulis Fajar Shodiq Menyemburat : demikianlah yang sampai ke ana dalam keadaan lafazhlafazh Arobnya terbolak-balik. Mungkin karena faktor perpindahan elektronik. Wallohu alam. (2) Catatan penulis Fajar Shodiq Menyemburat : adapun berita yang sampai ke ana, bahwasanya akh Abu Turob telah mengucapkan dan mengajarkan ini berkali-kali di majelisnya dalam selang waktu lebih dari setahun. Jika berita ini benar, maka tidak mungkin hal itu sekedar ketergelinciran lisan semata, tapi yang benar adalah bahwasanya hal itu sempat menjadi aqidah bagi akh Abu Turob . Kejujuran itu lebih baik sekalipun pahit daripada upaya yang salah dalam rangka mengurangi kadar kesalahan di mata umat. Sudah banyak aimmah (para imam) yang jatuh pada satu kesalahan aqidah. Tapi jika mereka dinasihati dengan benar, mereka mau segera rujuk pada kebenaran. Dan hal itu tidaklah mengurangi derajat mereka. Adapun yang telah meninggal dengan membawa kesalahan aqidah tadi, mereka dapat udzur dari ulama lain karena diketahui kejujurannya, bagusnya niatnya dalam mencari al haq, dan kuatnya ijtihadnya untuk mencocoki kebenaran, hanya saja tiada yang mashum selain para Nabi . Tak perlu malu mengakui bahwasanya ini memang ketergelinciran aqidah, bukan sekedar keseleo lisan. Setelah itu bertobat dengan jujur. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Adapun ana, berhubung ana amat disibukkan oleh sakit yang sedang ana alami dan beban-beban yang harus ditunaikan di sini, ana tidak terlalu memperhatikan risalah-risalah para ikhwah yang bertikai di sana. Yang minta bantuan untuk disampaikan ke Syaikhuna Yahya dalam keadaan sudah berbahasa Arob, dan dan ana sedang cukup sehat saat itu, ana sampaikan ke Syaikh, tanpa ana sempat memperhatikan dengan teliti lafazh-lafazh akh tersebut. Hasbunallohu wanimal wakil.
(1)

Apakah apa yang aku perbuat shohih ataukah harus diberlakukan perbuatan Umar rodhialoohuanhu terhadap Shobigh pada setiap penyimpangan (dalam maslah Aqidah)? Jawaban beliau: Jika engkau melihat perkara itu dhoif, dan kamu taroju darinya dan telah taubat darinya, cukup, cukup bagimu taubat darinya maka selesai dan jazaakalllohu khoiron. Ana lebih pertegas: apakah diberlakukan apa yang dilakukan Umar bin Khottob rodhialloohu anhu terhadap Shobiigh?? Jawaban beliau: tidak, tidak perlu diberlakukan apa yang dilakukan Umar bin Khottob rodhialloohu anhu terhadap Shobiigh. Cukup bagimu bertaubat darinya dan berlepas diri darinya dan meninggalkan perkataan itu, baik itu kamu atau yang lainnya, jazakalloohu khoiron. Ana katakan: Ya Syaikh sebagian mereka menghajr ana dengan sebab ini? Beliau menjawab: tidak perlu perkara itu menyibukkan kalian, sampaikan salamku kepada mereka dan apa yang telah tejadi cukup alhamdulillaah, hendaklah kalian saling menyayangi mencintai diantara kalian baarokalloooh fikum, dan kalau ada sesuatu yang menjadi musykilah sampaikan kepada kami, Insya Allaoh kami akan membantu untuk menyelesaikannya, dan apa yang engkau lakukan sudah cukup. Wajazaakalloohu khoiron. -Selesai- [1] Ditulis oleh Abu Turob Al Jawi Argamulya 30 Rojab 1433h
FAIDAH DARI IKHWAH DAMMAJ Jawaban Syaikh Said Daas hafidhohulloh

Berkata akh Shiddiq al bugisi waffaqohulooh: Ana dan Al-Akh Utsman Sandakani Al-Makassari hafidzahullah bertanya kepada Syaikh Said Daas hafidzahullah, yang hasilnya sebagai berikut: Soal :Ya syaikh sempat abu turab keliru pada permasalahan bahwa Ayam jago melihat Allah disepertiga malam terakhir, kemudian Abu turab taroju dan menyebarnya dalam majlisnya dan di internet, tapi ada yang berkata bahwa kepala abu turab mesti dipukul dan tidak boleh ngajar selama setahun sampai bidah keluar dari kepalanya, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khaththab rhadiyallahu anhu terhadap shobigh, apakah ucapan ini benar? Jawaban; Ucapan ini khotho (salah), perlu dibedakan antara yang asalnya mubtadi yang menyebar bidahnya menentang kebenaran dan terang-terangan dengan bidahnya dengan seorang penuntut ilmu maruf sebagai seorang sunni salafi tergelincir dalam suatu permasalan laludi ingatkan diapun taroju, maka tidak diperlakukan sebagaimana kisah umar bin khaththab dengan shobigh, jadi ucapan tersebut tidak benar. -selesai-

27 Rajab 1433. Abu Abdirrohman Shiddiq Al-Bugisi Darul Hadits Dammaj Harosahallah
Jawaban Syaikh Muhammad bin Hizam hafidhohullooh

Berkata akh Ridlwan al Amboni waffaqohullooh: Jawaban Syaikh Muhammad bin Hizam hafidzahullah: Kalau Orang sudah bertaubat, berarti sudah terlepas dari kesalahannya. Soal: Bagaimana dengan pendalilan mereka dengan kisah Umar rahadiyallahu anhu dengan Shabig? Jawab: Perkara ini beda Shobig diketahui mencari-cari syubuhat di dalam agama maka diperlakukan demikian. 28 Rajab 1433. Penanya Akhuna Rhidwan Al-Amboni hafidzahullah.
Jawaban Syaikh Thoriq Al Badaani hafidzhohulloh

Al akh Adib Al-Jawi hafidzahullah bertanya kepada Syaikh Thoriq Al-Badani hafidzhohullah Soal: Abu Turab pernah berpendapat bahwa ayam jago melihat Allah pada sepertiga malam terakhir, berdalil dengan suatu hadits. Kemudian nampak baginya bahwa hadits tersebut dhoif dan taroju dari perkataan tersebut. Dan tarojunya di sebarkan di majlis dan internet. Tapi ada sebagian ikhwah yang berkata bahwa Abu Turab harus dihajr dan tidak boleh mengajar, berdalil dengan hadits di sunan Abi Dawud, bahwa ada seorang laki-laki mengimami suatu kaum, dan meludah ke arah kiblat. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: Orang ini tidak boleh mengimami kalian. (al-hadits) Apakah pendalilan ini shohih? Jawab; Pendalilan ini tidak pada tempatnya. Terkadang seorang makmum berpendapat daging unta membatalkan wudhu sedang dia shalat dibelakang imam yang berpendapat daging unta tidak membatalkan wudhu. Tidak layak hal seperti ini menyebabkan saling hajr. Kita semua tidak mashum, Syaikh Muqbil, Syaikh Ibnu Baaz, Syaikh Al Albani punya kesalahan. Mungkin suatu saat kamu atau yang lainnya yang akan tergelincir dalam suatu kesalahan, jika semua yang berbuat suatu kesalahan tidak boleh mengajar, lalu siapa yang akan mengajarkan sunnah? Apalagi Abu Turob sudah taroju dan ini patut disyukuri, karena jarang ada orang yang mau taroju. Berkata Syaikhul Islam: Tidak boleh mencela seseorang dalam suatu dosa yang dia telah bertobat darinya. Sebagaimana dalam kisah antara Adam dan Musa alaihimas salam. selesai1 syaban 1433

[1] Abu Turob Demikian kurang lebih yang bisa ana tangkap dalam masalah ini, dan ana terjemahkan, karena sebagian suara kurang jelas selesai- (dan suara yang dimaksud Abu Turob bisa didownload diakhir tulisan ini dan kami telah memperbaiki kualitas rekaman tersebut semampunya biidznillah- ;ed) [2] Demikian, semoga Alloh mengampuni dosa-dosa kami seluruhnya, dan menghapus kesalahankesalahan kami, dan na`uudzu billah dari akhlaq dan teman yang jelek, dan dari kehinaan di dunia dan dari `adzab yaumil qiyamah dan asbabnya, dan semoga Alloh `azza wajalla menunjuki kami jalan-jalan kebaikan dan selalu menolong serta membimbing kami menuju keridloaanNYA subhaanah sampai bertemu Alloh `azza wajalla dalam keadaan ridlo dan diridloi di jannahNya yang atas, sesungguhnya Dia Alloh adalah alBARR arROHIIM.

(kata akh Abu Sulaiman kemudian:) Yang di isnad net tidak ada seperti tulisan abu turob ke Antum : (telah ana nukilkan di muqoddimah risalah ini). Padahal yang tertulis di risalah Abu Turob yang sampai ke ana tadi malam (4 Syaban 1433 H) berbunyi: Saran dan nasehat sebagian Ikkwan di Dammaj: diantaranya Abu Abdirrohman waffaqohullooh Assalamu `alaikum . Insya Allah nanti stelah syubuhat-syubuhat mereka dibantah dan dinasihati (Kalau perlu antum bikin pembahasan ilmiyyah membantah syubhat-syubuhat mereka), setelah itu kalau ada yang masih mengacau sebaiknya antum usir saja dari mahad antum. **** Masa mereka berbicara selancang itu sementara itu adalah tempat antum. Sebagian orang memang kadang tidak cocok untuknya kecuali dengan sikap tegas, yang memang hatinya sudah sakit pergi saja tidak ada gunanya dia tetap tinggal di situ malah bikin masalah dan tidak akan mengambil faidah dari ilmu yang antum ajarkan karena sudah tidak senang dengan antum. Meskipun yang tersisa sedikit tapi beradab lebih baik daripada mereka, wallahu alam bish showab wa billahit taufiq. Selesai penukilan.

Untuk tulisan yang abu turob sebar di sini ( unit 4 Arga Mulya Padang Jaya Bengkulu ): seperti di dalam File Gambar yang ana sertakan :

Selesai tulisan dari akh Abu Sulaiman Abdulloh Bengkulu . Maka setelah ana (Abu Fairuz) berusaha membaca dengan cermat, ana dapati bahwasanya akh taufiq punya udzur atas persangkaannnya terhadap ana bahwasanya ana termasuk orang yang

mengirim surat ke akh Abu Turob: Insya Allah nanti stelah syubuhat-syubuhat mereka dibantah dan dinasihati (Kalau perlu antum bikin pembahasan ilmiyyah membantah syubhat-syubuhat mereka), setelah itu kalau ada yang masih mengacau sebaiknya antum usir saja dari mahad antum. Dst. Tulisan akh Taufiq adalah sebagai berikut: Ucapan Abu Fairus ( Hardiy kudus ) dan Siddiq yang disertakan dengan jawaaban Sekh Yahya : , Untuk mengusir orang-orang yang bersebrangan dengan a.turob. Lucunya a.turob ini; fatwa Sekh Yahya yang begitu rohmah : hendaklah kalian saling menyayangi mencintai. Malah justru ucapan Syekh Yahya tidak di pakai, malah yang di pakai ucapan A.Fairus dan Siddiq untuk mengusir orang-orang yang berusaha memperbaiki. Yang jelas kedua orang ini telah berbuat dzolim pada saudaranya yang lain. Kenapa dia hanya menerima berita dari abu turob dan membelanya karena hanya sekedar teman dekat ketika di Dammaj, siapa yang bisa menjamin orang akan terus istiqomah terus. ]43 : [ 34. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Surat Luqman. Bahkan kedua orang ini abu fairuz dan siddiq, sudah bertolak belakang dari ucapan Syekh Yahya untuk saling mencintai bahkan Syaikh memerintahkan sampaikan salam, dan ini mutlaq buat yang tetap bersama abu turob dan orang-orang yang ingin menasehatinya. Hati-hati (selesai penukilan). Hanya saja berhubung ana tidak pernah minta atau menyuruh atau menyarankan atau mengisyaratkan pada Abu Turob untuk melakukan perkara yang dituduhkan di atas, maka ana tetap mengingkari penisbatan tulisan tersebut kepada ana. Ana lihat akh Abu Turob itulah yang bertanggung jawab atas masalah ini(3). Dan berhubung perkara ini telah jelas bagi ana, dan akh taufiq punya udzur atas ucapan dia terhadap ana, maka ana harus memansukhkan banyak perkara yang tulis di risalah Jawaban Yang Menyenangkan, dan kalimat-kalimat yang benar akan ana pindahkan ke dalam risalah ini dengan penyesuaian. Wabillahit taufiq. Segala sesuatunya harus tunduk kepada syariat. Dan di antara perkara yang disyariatkan oleh Robbul alamin adalah menjaga diri agar orang-orang tidak buruk sangka pada dirinya, dengan mengemukakan udzur dan meluruskan persepsi yang keliru. Dari Shofiyyah binti Huyayy yang berkata:

(3)

Akh Abu Turob telah meminta maaf pada ana lewat telpon. Kemudian pada tanggal 14 Syaban 1433 H akh Abu Turob mengirimkan SMS yang isinya meminta maaf lagi pada ana dan berkata bahwasanya dirinya telah salah paham, dan mudah-mudahan tidak terjadi yang kedua kalinya, wa sammihuuni, wa jazakumullohu khoiro. Demikianlah yang telah disampaikan ke ana, Semoga Alloh Al Ghofur Ar Rohim mengampuni kita semua. Alloh taala: Dan hendaknya kalian memaafkan, apakah kalian tidak senang untuk Alloh mengampuni kalian? Dan Alloh Ghofur (Maha Pengampun) lagi Rohim (Maha Penyayang).

]22 : [

: : :
Dulu Nabi beritikaf, maka aku mendatangi beliau untuk mengunjunginya pada malam hari. Kemudian aku bangkit untuk pulang, maka beliau bangkit bersamaku untuk memulangkan diriku. Tempat tinggal Shofiyyah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Maka lewatlah dua orang dari Anshor. Ketika keduanya melihat Nabi keduanya mempercepat langkah. Maka Nabi bersabda: Berjalanlah pelan-pelan, sesungguhnya wanita ini adalah Shofiyyah binti Huyayy. Maka keduanya berkata: Subhanalloh, wahai Rosululloh. Beliau menjawab: Sesungguhnya setan itu mengalir di badan manusia seperti aliran darah, dan sungguh aku khawatir dia akan melemparkan kejelekan atau bersabda: sesuatu- ke dalam hati kalian. (HR. Al Bukhoriy (6219) dan Muslim (2175)). Al Muhallab berkata: Dan dalam hadits ini ada fiqh untuk menjauhi tempat-tempat tuduhan, dan bahwasanya manusia itu jika khawatir dituduh dengan dugaan yang buruk hendaknya dia menyingkapkan makna dugaan tadi, dan membersihkan dirinya dari kerusakan yang dimasukkan oleh setan yang membisikkan kejahatan di dalam hati-hati. (Syarh Shohihil Bukhoriy/karya Ibnu Baththol/4/hal. 175). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: Dan dalam hadits ini ada pensyariatan untuk berjagajaga dari menyodorkan diri pada dugaan yang buruk, dan berjaga-jaga dari tipu daya setan, dan mengemukakan udzur. (Fathul Bari/4/hal. 280). Maka berikut ini saya akan memberikan sedikit tanggapan dan pelurusan terhadap ucapan akh Taufiq terhadap ana tadi. Oya ana dalam risalah ini hanya mewakili diri sendiri. Adapun para ikhwah yang namanya disebut-sebut oleh akh Taufiq maka biarlah mereka memberikan tanggapan sendiri-sendiri. Ana tidak akan membela kesalahan akh Abu Turob ataupun yang lainnya. Ana ikut al haq ke manapun al haq itu berjalan, .

Tanggapan pertama: Tegur Sapa Yang Menyakitkan, Tapi ana Memberikan Udzur Terhadap Akh Taufiq
Sebagaimana dalam risalah terdahulu, ana menyatakan bahwa ana selama ini kurang mengenal akh Abu Abdillah Taufiq Hidayat , kecuali sekedar berita dari beberapa ikhwah bahwasanya akh Taufiq ini adalah seorang dai yang dikokohkan oleh Alloh taala dalam fitnah Mariyyah dan sebagainya. Dan tidaklah merugikan akh Taufiq ketidakkenalan ana dengannya, cukup Alloh yang menilai amalan para hamba-Nya.

: : . .

10

Dari Khorosyah ibnul Hurr yang berkata: Ada seseorang bersaksi di sisi Umar ibnul khoththob dengan suatu persaksian. Maka Umar berkata kepadanya: Aku tidak mengenalmu, dan tidaklah membahayakanmu bahwasanya aku tidak mengenalmu. Datangkanlah orang yang mengenalmu. Dan seterusnya. (As Sunanul Kubro/karya Al Baihaqiy / no. 4517/cet. Darul Marifah/dengan sanad atsar paling rendahnya adalah hasan). Ketika Hudzaifah ibnul Yaman mengirimkan utusan untuk memberikan kabar gembira kemenangan pada Umar ibnul Khoththob dan utusan itu sampai ke hadapan Umar:

: : : : : :
Umar bertanya: Apakah Numan yang mengutusmu? dia menjawab: Harapkanlah pahala dari kedukaan atas wafatnya Numan wahai Amirul Muminin. Maka Umar menangis dan beristirja. Beliau berkata: Dan siapa lagi? Semoga Alloh merohmatimu. Dia menjawab: Fulan, Fulan dan Fulan. Hingga menghitung sekelompok orang. Lalu dia berkata: Dan ada yang lain wahai Amirul Muminin, Anda tidak mengenal mereka. Maka Umar berkata sambil menangis: Tidak membahayakan mereka bahwasanya Umar tidak mengenal mereka, akan tetapi Alloh mengenal mereka. (Shohih Ibni Hibban/no. (4756) dengan sanad yang kuat). Hanya saja sangat saya sayangkan ternyata tegur sapa kita ini diawali dengan perkara yang gelap dan menyedihkan, tapi telah terlihat fajar shodiq yang menyemburat membawa harapan yang melegakan. Alloh taala berfirman: "Dan Kami jadikan sebagian dari kalian sebagai ujian bagi sebagian yang lain. Apakah kalian bersabar? Dan senantiasa Robbmu itu Bashir (Maha Melihat)." (QS Al Furqon 20) Dan saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak berbuat batil. Dan memang bukan hak seorang salafiy dan demikian juga seorang muslim- untuk membalas kejelekan dengan kejelekan yang lebih besar. Insya Alloh ana bukan seperti hikayat ucapan Amr bin Kultsum yang mengancam Amr bin Hind:

]20/ [

...

Ketahuilah, jangan sekali-kali ada seorangpun yang berbuat jahil terhadap kami, sehingga kami akan berbuat jahil juga kepadanya melebihi kejahilan dirinya terhadap kami. (Jamharoh Asyaril Arob/karya Abu Zaid Muhammad Al Qurosyiy/hal. 87). Gemuruh badai fitnah yang menghantam salafiyyin tsabitin di Indonesia tahun-tahun ini sungguh memprihatinkan. Dan ana tetap berusaha berpegang dengan nasihat syaikhuna Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al Hajuriy untuk lebih menyibukkan diri dengan memperdalam ilmu dan menghantam para hizbiyyin mariyyin. Antum wahai akh Taufiq, bagi ana adalah seorang salafiy, begitu pula Abu Turob, Dzakwan, Irham Medan, Abu Sulaim Sulaiman, Abdulloh, Abu Masud, Abu Abdil Ahad, Abdul Ala, Abu Hazim, Abu Arqom dsb, bagi ana adalah para salafiyyun. Ana memegang ucapan Syaikhuna Yahya Al Hajuriy yang beliau ucapkan pada ana dan akh Abul Fida Ar Riyawiy pada tanggal 25 Rojab 1432 H: Hendaknya mereka kembali memperbaiki persaudaraan mereka, dan saling menolong dan menjauhi perkara-perkara yang bisa merusak

11

persaudaraan dan dakwah mereka. Sampaikan nasihatku pada mereka. Semoga Alloh memberikan taufiq kepada kalian semua. Ana juga memegang ucapan beliau yang beliau ucapkan pada ana dan akh Abu Abdirrohman Shiddiq Al Bugisiy pada hari Selasa tanggal 1 Syaban 1433 H: Kalian harus saling menasihati. Tiada seorangpun dari mereka yang sanggup mengeluarkan seseorang dari salafiyyah dengan benar. Kalian harus saling menasihati, kalian semua adalah ikhwah. Sesungguhnya kasus ini di dalamnya ada upaya pemuasan hasrat, dan juga hasungan setan. Sampaikanlah ucapan ini pada mereka, dan tolonglah diriku untuk memperbaiki mereka. Sikap saling hajer dan tahdzir dalam rangka perkara-perkara ini justru menunjukkan pada tidak adanya kemantapan dalam ilmu. Bukan berarti ana taqlid pada Syaikhuna . ana paham itu dengan hujjah dan dalil. Dan ana berusaha untuk terus tawadhu dan mengambil mutiara faidah dari bimbingan ulama sunnah. Ana mengambil ungkapan yang disebutkan oleh Syaikhul Islam :


Maka syaikh itu seorang yang ahli dan mendalam ilmunya, tahu akibat-akibat dari perkara-perkara. (Majmuul Fatawa/3/hal. 270). Maka dari itu ana berharap besar bisa menyelesaikan urusan kita berdua ini dengan kelembutan dan akhlaq mulia. Alloh taala berfirman: Dan berkatalah kepada manusia dengan yang baik. Dan juga berfirman:

]33 : [

* ]35 34 : [

Dan tidaklah sama kebaikan ataupun kejelekan. Tolaklah kejelekan itu dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba saja orang yang di antara engkau dengan dirinya ada permusuhan, dia berubah seakan-akan menjadi sahabat dekat. Dan tidaklah mendapatkan ini kecuali orang-orang yang sabar, dan tidaklah mendapatkan ini kecuali orang yang memiliki bagian yang besar. Adapun jika ada orang yang marah dengan pernyataan ana di atas, bahwasanya ikhwah yang ana sebut namanya tadi adalah salafiy semua, maka ana tidak peduli. Bukan tugas ana untuk mencari ridho makhluq. Al Imam Asy Syafiiy berkata kepada Yunus bin Abdil Ala : Ridho manusia itu adalah puncak yang tak bisa digapai. Dan tiada jalan untuk selamat dari mereka. Maka engkau harus memegang apa yang bermanfaat bagimu, lalu tekunilah dia. (Siyaru Alamin Nubala/10/hal. 89/Biografi Al Imam Asy Syafiiy/Ar Risalah). Ahmad bin Harb bin Fairuz An Naisaburiy berkata: Aku beribadah kepada Alloh selama limapuluh tahun, maka aku tidak mendapatkan kemanisan ibadah hingga aku meninggalkan tiga perkara: Aku meninggalkan keridhoan manusia hingga akupun sanggup untuk berbicara dengan kebenaran. Dan aku meninggalkan persahabatan dengan orang-orang fasiq hingga akupun mendapatkan persahabatan dengan orang-orang sholih. Dan aku tinggalkan manisnya dunia hingga akupun mendapatkan manisnya akhirat. (Siyaru Alamin Nubala/11/hal. 34/Biografi Ahmad bin Harb/Ar Risalah).

12

Tanggapan Kedua: Amanah Penukilan


Di hal. 19 (pada layar komputer ana) dari risalah akh taufiq, tertulis: Di dalam penukilan saja, dia (a.turob) tidak amanah Bagus juga akh Taufiq bicara tentang amanah penukilan. Moga jadi pelajaran bagi kita semua. Dan tetap ana nasihatkan untuk diri ana sendiri dan akh taufiq agar sekuat tenaga menjaga amanah penukilan, sebagaimana yang akh Taufiq sebutkan sendiri. Akh Taufiq menyebutkan dalam risalah Abu Turob dinukilkan bahwa Abu Fairuz dan Shiddiq mengucapkan: Untuk mengusir orangorang yang bersebrangan dengan a.turob. (telah ana nukilkan di muqoddimah risalah ini). Padahal yang tertulis di risalah Abu Turob yang sampai ke ana tanggal 4 Syaban 1433 H berbunyi: Saran dan nasehat sebagian Ikkwan di Dammaj: diantaranya Abu Abdirrohman waffaqohullooh Assalamu `alaikum . Insya Allah nanti stelah syubuhat-syubuhat mereka dibantah dan dinasihati (Kalau perlu antum bikin pembahasan ilmiyyah membantah syubhat-syubuhat mereka), setelah itu kalau ada yang masih mengacau sebaiknya antum usir saja dari ma'had antum. **** Masa mereka berbicara selancang itu sementara itu adalah tempat antum. Sebagian orang memang kadang tidak cocok untuknya kecuali dengan sikap tegas, yang memang hatinya sudah sakit pergi saja tidak ada gunanya dia tetap tinggal di situ malah bikin masalah dan tidak akan mengambil faidah dari ilmu yang antum ajarkan karena sudah tidak senang dengan antum. Meskipun yang tersisa sedikit tapi beradab lebih baik daripada mereka, wallahu a'lam bish showab wa billahit taufiq. Selesai penukilan. Demikian pula yang beredar di Bengkulu yang dikirimkan oleh akh Abu Sulaiman sekitar tanggal 11 Syaban 1433 H yang telah ana cantumkan di atas. Yang menjadi pembahasan di sini adalah bahwasanya akh Taufiq menyebutkan secara global bahwa Abu Fairuz dan Shiddiq mengucapkan: Untuk mengusir orang-orang yang bersebrangan dengan a.turob. Padahal ada qoid penting yang tidak akh Taufiq sertakan yaitu: - Nanti - setelah syubuhat-syubuhat mereka dibantah dan dinasihati (Kalau perlu antum bikin pembahasan ilmiyyah membantah syubhat-syubuhat mereka), - setelah itu kalau ada yang masih mengacau sebaiknya antum usir saja dari ma'had antum Lihatlah dengan seksama tanpa didorong oleh api amarah: alangkah pentingnya tahapantahapan yang disebutkan dalam tulisan tersebut, yang kalau akh Taufiq mau jujur pada Alloh, insya Alloh akh taufiq akan mengakui akan menerapkan yang demikian itu terhadap orang yang akh Taufiq anggap membikin kekacauan di pondok antum, setelah melewati proses nasihat dan iqomatul hujjah tapi orang itu membandel. Ana tidak tahu pasti apa yang terjadi di pondok Abu Turob dan bagaimanakah alur kejadiannya, juga manakah yang lebih dulu: munculnya nasihat Syaikhuna Yahya itu, ataukah terjadinya pengusiran itu, dsb. Kita tidak sedang berbicara tentang bagaimana praktek di pondok Abu Turob, tapi kita bicara nasihat untuk menjunjung tinggi amanah penukilan seperti yang akh Taufiq

13

dengungkan tapi dilanggar sendiri dengan cukup parah. Akhirnya terkesan bahwa orang yang akh taufiq sebut tadi (Abu Fairuz dan Shiddiq) telah berbuat zholim. Maka hendaknya kita semua bertaqwa pada Alloh, dan banyak-banyak mohon taufiq dan kelurusan. Alloh taala berfirman: Apakah kalian memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan, dan kalian melupakan diri kalian sendiri dalam keadaan kalian itu membaca Al Kitab? Maka apakah kalian tidak memikirkan. Rasululloh bersabda:

]44 : [


"Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat lalu dia dilemparkan ke dalam neraka sehingga terburailah usus perutnya, lalu dia berputar di situ sebagaimana keledai mengitari penggilingan. Maka para penduduk neraka berkumpul di sekelilingnya seraya berkata,"Wahai fulan, bukankah dulunya engkau memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari kemungkaran?" Jawabnya,"Benar tapi aku memerintahkan kalian terhadap yang ma'ruf sementara aku tidak mengerjakannya. Dan kularang kalian dari kemungkaran sementara aku mendatanginya." (HR. Muslim (2989) dari Usamah bin Zaid ) Al Mutawakkil Al Laitsiy berkata:

... ...
Janganlah engkau melarang dari suatu karakter tapi engkau mendatangi yang semisalnya. Itu aib besar atasmu jika engkau mengerjakannya. Mulailah dengan dirimu sendiri, maka laranglah dirinya dari kesesatannya. Maka jika jiwamu berhenti dari kesesatannya tadi maka engkau itu hakim (4). (Al Aqdul Farid/karya Abu Umar Al Andalusiy/2/hal. 184). Bukan berarti menukil dengan makna itu terlarang, akan tetapi ada syarat-syarat yang harus terpenuhi, di antaranya adalah: makna yang diinginkan oleh shohibul kalam harus tetap terjaga, dan tidak mengalami kecacatan disebabkan oleh peringkasan atau perubahan. Tapi ana sudah memaafkan akh Taufiq atas kesalahan dirinya yang ana bahas dalam Tanggapan Kedua ini. Jangan diulangi lagi ya.

Tanggapan Ketiga: Tuduhan Yang Terpaksa harus Ana Pikul


Akh Taufiq dalam risalahnya terhadap kesalahan-kesalahan akh Abu Turob: Ucapan Abu Fairus ( Hardiy kudus ) dan Siddiq yang disertakan dengan jawaaban Sekh Yahya : , Untuk mengusir orang-orang yang bersebrangan dengan a.turob.

(4)

Hakim adalah orang yang punya hikmah. Dan hikmah adalah: kesesuaian tindakan dengan kebenaran, dengan mempergunakan ilmu dan akal. (rujuk "Al Mufrodat Fi Ghoribil Quran"/karya Ar Roghib / hal. 248).

14

Lucunya a.turob ini; fatwa Sekh Yahya yang begitu rohmah : hendaklah kalian saling menyayangi mencintai. Malah justru ucapan Syekh Yahya tidak di pakai, malah yang di pakai ucapan A.Fairus dan Siddiq untuk mengusir orang-orang yang berusaha memperbaiki. Yang jelas kedua orang ini telah berbuat dzolim pada saudaranya yang lain. Selesai penukilan. Hal itu ditulisnya berdasarkan risalah Faidah Taubat Dari Abu Turob yang ditulis oleh akh Abu Turob dan beredar di Unit 4 Argamulya Padang Jaya Bengkulu sebagai berikut: Saran dan nasehat akhowaana abu Abdirrohman Shiddiq dan abu Fairuz waffaqohumalooh, (dan seterusnya). Walaupun risalah yang sampai ke ana sebelum itu berbunyi: Saran dan nasehat sebagian Ikkwan di Dammaj: diantaranya Abu Abdirrohman waffaqohullooh, (dan seterusnya). Sehingga ana mengira bahwasanya akh Taufiq telah menuduh ana tanpa bayyinah dan membuat tuduhan palsu. Tapi setelah ana membaca bahwasanya yang beredar di Arga Mulya Bengkulu memang ada nama ana, maka ana memberikan udzur pada akh Taufiq. Sekalipun demikian ana tetap mengingkari tuduhan itu, karena ana memang tak pernah melakukan itu. Ana tak suka gampang-gampang dan sering-sering bersumpah, karena hal itu menunjukkan kurangnya pengagungan pada Alloh. Dan juga, kejujuran seorang Muslim itu termasuk harta yang paling mahal. Tapi ana katakan sekarang: Demi Alloh, ana tidak pernah minta atau menyuruh atau menyarankan atau mengisyaratkan pada Abu Turob untuk mengusir orang-orang yang berseberangan dengannya, atau dengan makna itu. Setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya atau diucapkannya atau dilakukannya. Tentunya yang bertanggung jawab atas dicantumkannya nama ana dalam kasus di atas adalah akh Abu Turob . Dan risalah Abu Turob tadi telah sempat tersebar dan dibaca banyak orang(5). Demikian pula risalah akh Taufiq telah tersebar meluas entah sampai di mana dan dibaca banyak orang. Akhirnya ana yang harus memikul tuduhan tadi. Tapi orang yang membaca risalah ana ini dan kenal kadar kejujuran ana walaupun ana banyak dosa- insya Alloh dia percaya bahwasanya ana bersih dari tuduhan tersebut.

Tanggapan Keempat: Masalah Tuduhan Kezholiman


Inti tuduhan akh Taufiq dalam risalahnya itu, terhadap Abu Fairuz adalah: Bahwasanya Abu Fairuz mengucapkan pada Abu Turob: Untuk mengusir orang-orang yang bersebrangan dengan Abu turob, mengusir orang yang berusaha memperbaiki. Abu Fairuz telah berbuat zholim pada saudaranya yang lain. Kenapa dia hanya menerima berita dari Abu Turob dan membelanya karena hanya sekedar teman dekat ketika di Dammaj. Bahkan Abu Fairuz sudah bertolak belakang dari ucapan Syekh Yahya untuk saling mencintai, dst.
Ana telah menelpon akh Abu Turob dan terjadilah dialog singkat seputar masalah ini, dan ana sampaikan sedikit nasihat yang ana anggap penting, kemudian akh Abu Turob meminta maaf ke ana. Kemudian sebagai bukti rujuknya, naskah Faidah Taubah Abu Turob yang terakhir ditampilkan di Isnad.net sudah tidak ada lagi di dalamnya Saran dan nasehat sebagian Ikkwan di Dammaj yang menjadi salah satu sumber polemik tersebut.
(5)

15

Makna yang terlihat dan tersirat dalam kalimat-kalimat di atas adalah: Abu Fairuz telah berbuat zholim pada saudaranya yang lain. Abu Fairuz hanya menerima berita dari Abu Turob. Seharusnya Abu Fairuz dengar dulu dari yang lain agar tidak cepat-cepat menyuruh untuk mengusir orang-orang yang berseberangan dengan Abu turob, mengusir orang yang berusaha memperbaiki. Bukankah demikian akh Taufiq? Ana sedikit memberikan udzur pada akh Taufiq karena ucapan-ucapannya yang menyakitkan kepada saudaranya yang lain (yakni Abu Fairuz) dibangun berdasarkan risalah versi Argamulya tadi. Nah, sekarang idzinkanlah ana balik bertanya: Kenapa akh Taufiq hanya menerima berita dari Abu Turob bahwasanya Abu Fairuz bilang begini dan begitu, lalu menjadikannya sebagai senjata untuk menyakiti Abu Fairuz? Kenapa akh Taufiq tidak bertanya dulu pada ana atau pada orang yang sanggup bersaksi atas nama Alloh bahwasanya ana memang melakukan apa yang disebutkan di atas? Akibatnya dengan itu akh Taufiq mencemarkan nama baik Abu Fairuz. Maka sebenarnya Taufiq itulah yang menzholimi Abu Fairuz sebelum Abu Fairuz melakukan kezholiman yang dituduhkan akh Taufiq. Di dalam surat Yusuf: Sesungguhnya orang-orang yang zholim itu tidak akan beruntung. Dan di dalam Mughnil Labib:

]23 : [

"Tak akan bisa aman selamanya pelaku kezholiman meskipun dia itu seorang raja yang tentaranya membikin sempit pesisir dan gunung." ("Mughnil Labib"/hal. 354).

Tanggapan Kelima: Apakah Antum Sengaja Ingin Menghina dan Menjatuhkan Abu Fairuz Dengan Plesetan?
Akh Taufiq menyebutkan: Ucapan Abu Fairus ( Hardiy kudus ) , malah yang di pakai ucapan A.Fairus, kedua orang ini abu fairuz , Ana adalah Abu Fairuz Abdurrohman, dengan huruf z ( ) bukan dengan huruf s ( .)Ana mengambil kuniyah itu sekitar Sembilan tahun yang lalu dari nama seorang shohabiy yang berjasa besar: Fairuz Ad Dailamiy . adapun jika z diganti s maka artinya jadi jelek (virus). Maka ana perlu bertanya pada akh Taufiq: apakah antum sengaja melakukan ini? Jika memang antum tidak sengaja, maka semoga Alloh memaafkan Antum. Dan ana nasihatkan pada antum apa yang antum nasihatkan pada kami di halaman akhir dari risalah antum itu: Hati-hati Tapi jika memang antum sengaja melakukannya, maka ini sangat disayangkan karena dalam hal ini antum menempuh gaya kezholiman hizb Mariyyah terhadap ana. Bukankah pemlesetan lafazh yang antum lakukan ini merupakan penghinaan? Sedemikian bencinyakah antum pada saudara antum ini hanya karena tuduhan-tuduhan palsu, sehingga nilai ana langsung jatuh di mata antum tanpa ada lagi sisa penghargaan terhadap saudara yang ditaqdirkan Alloh untuk mencurahkan umur dan dayanya untuk membela dakwah salafiyyah secara tulisan, sampai bahkan di saat yang paling genting:

16

(goncangnya salafiyyin tsabitin dengan adanya tahdziran Asy Syaikh Robi)? (6) Jika antum sengaja melakukan ini maka antum mengingatkan ana pada gaya hizbiyyin yang suka menjatuhkan orang yang dianggap tidak sejalan dengannya. Entah sengaja atau tidak, setiap orang bisa coba-coba berkelit di kehidupan dunia. Tapi di hari kiamat jangan harap rahasianya tidak terbongkar. Alloh taala berfirman: Pada hari rahasia-rahasia ditampakkan. Maka dia tak punya kekuatan ataupun penolong satupun. Alloh taala juga berfirman:

]10 9 : * [

]11-9 : * * [

Maka apakah dia tidak mengetahui jika apa yang di kuburan itu dibangkitkan, dan yang di dalam dada itu ditampakkan. Sesungguhnya Robb mereka pada hari itu benar-benar mengetahui tentang mereka. Kalau misalnya ada yang bilang: Yang ngetik risalah itu kan Abu Sulaiman Abdulloh Bengkulu, bukan Taufiq. Jawab ana: yang sampai ke ana dan yang tersebar ke umat adalah risalah yang tertulis di situ: Penyusun Abu Abdillah Taufiq Hidayat As Salafy. Maka secara syariy, aqliy dan urfiy nisbatnya adalah ke akh Taufiq. Kalau misalnya ada yang bilang: Barangkali dia bingung kuniyah antum Abu Fairu(z) ataukah Abu Fairu(s). Jawab ana: mudah sekali bagi orang yang mau taharril haq, lihat saja di risalah-risalah ana yang ana sebar, kuniyah ana apa? Jangan tanya ke para hizbiyyin Luqmaniyyin, karena antum sendiri tahu bahwasanya mereka menghina ana dengan plesetan kuniyah. Jika terlampau sibuk, lihat saja

(6)

Bukan dalam rangka pamer amalan yang tak seberapa ini, tapi terpaksa mengingatkan saudaranya agar tidak bersikap berlebihan dan menghinakan saudaranya yang lain hingga menutup mata terhadap fadhilah Alloh terhadap saudaranya itu. Al Imam An Nawawiy berkata tentang hadits fadhoil Ibnu Masud : Dan di dalam hadits ini adalah faidah bolehnya seseorang itu menyebutkan tentang dirinya dengan keutamaan, ilmu, dan yang seperti itu karena suatu kebutuhan. Adapun larangan mentazkiyah diri sendiri, maka itu hanyalah berlaku bagi orang yang mentazkiyah dirinya dan memuji dirinya tanpa kebutuhan, bahkan untuk kebanggaan dan kekaguman pada diri sendiri. Dan telah banyak tokoh utama yang mentazkiyah diri mereka sendiri ketika ada kebutuhan seperti untuk menolak kejahatan, atau menghasilkan kemaslahatan untuk manusia, atau untuk menyemangati mereka agar mau mengambil ilmu darinya, dan yang seperti itu. Maka yang termasuk untuk kemaslahatan adalah ucapan Yusuf : Jadikanlah saya sebagai pengelola perbendaharaan bumi, sesungguhnya saya adalah orang yang kuat penjagaan dan dalam ilmunya. Dan yang termasuk untuk menolak kejahatan adalah ucapan Utsman saat beliau dikepung bahwasanya beliau itu yang memperlengkapi pasukan Usroh (pasukan perang Tabuk), dan menggali sumur Ruumah. Dan termasuk untuk penyemangat adalah ucapan Ibnu Masud ini, dan ucapan Sahl bin Sad: Tidak tersisa seorangpun yang lebih tahu tentang hal itu daripada aku. Dan ucapan yang lainnya: Anda telah bertemu dengan orang yang tahu tentang masalah ini. Dan yang seperti itu. (Syarh Shohih Muslim/8/hal. 217/karya Al Imam An Nawawiy .)

]55 : [

17

risalah Abu turob versi Argamulya yang dengannya akh Taufiq menyakiti ana, akh Abu Turob nulis Abu Fairu(z) ataukah Abu Fairu(s)?

Tanggapan Keenam: Menyakiti Dengan Membongkar Nama Kecil


Akh Taufiq menyebutkan: Ucapan Abu Fairus ( Hardiy kudus ) Memang ana dilahirkan dari keluarga muslimin yang awwam, sehingga mereka menamai ana dengan Hardi. Setelah itu sekitar enam belas tahun yang lalu Alloh memahamkan ana dengan ajaran Rosululloh tahulah ana tentang disunnahkannya mengganti nama yang buruk atau tidak islamiy, dengan yang lebih baik. Maka ana memilih nama yang paling disukai Alloh, yaitu: Abdurrohman. Dan ana secara syariy dan itiyadiy telah meninggalkan nama kecil ana tadi, kecuali jika ada urusan dengan pemerintah yang mengharuskan untuk memakai nama yang sesuai dengan akte kelahiran, dan sebagainya. Maka yang dilakukan oleh akh Taufiq tadi dengan mengungkit-ungkit dan menyebarkan nama kecil yang bukan islamiy tadi cukup menyakiti hati ana. Ana tuntut di depan umat agar akh Taufiq menyebutkan dalil yang menghalalkannya menyakiti ana dengan membongkar nama kecil yang jelas ana tinggalkan itu. Sekian banyak risalah ana yang tersebar, di situ ana dengung-dengungkan bahwasanya nama ana adalah Abdurrohman. Sedemikian besarnyakah kebencian di hati akh Taufiq sehingga tega melakukan itu, hanya karena risalah versi Argamulya tadi? akh Taufiq mencela kami dengan tuduhan telah menyelisihi fatwa Sekh Yahya yang begitu rohmah : hendaklah kalian saling menyayangi mencintai. Sekarang akh Taufiq melakukan perbuatan yang dia cela sendiri. Bagaimana jika akh Taufiq ditaqdirkan Alloh lahir dari keluarga muslimin yang awwam, lalu dia mengalami penamaan seperti yang ana alami, lalu digantikannya dengan yang islamiy, lalu datang orang yang membongkar nama kecil yang tidak disukainya? Maka sebenarnya akh Taufiq itulah yang menzholimi Abu Fairuz sebelum Abu Fairuz melakukan kezholiman yang dituduhkan akh Taufiq. Bagaimana akh Taufiq mempertanggungjawabkan di hadapan Alloh taala tentang sabda Nabi :


Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri. (HR. Al Bukhoriy (13) dan Muslim (45)). Bagaimana akh Taufiq mempertanggungjawabkan di hadapan Alloh taala tentang sabda hadits Nabi :


Maka barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam jannah, maka hendaknya kematian itu mendatanginya dalam keadaan dirinya beriman pada Alloh dan hari akhir, dan mendatangi manusia dengan perkara yang dirinya suka jika dirinya juga didatangi dengan dengan perkara itu. (HR. Muslim (1844)).

18

Al Imam Ibnu Utsaimin mensyaroh hadits ini: Maka janganlah dia menyakiti mereka, karena dia sendiri tidak suka untuk mereka itu menyakiti dirinya. Dan janganlah dia menzholimi mereka, karena dia sendiri tak suka untuk mereka itu menzholimi dirinya. Dan janganlah dia mencaci mereka, karena dia sendiri tak suka untuk mereka itu mencaci dirinya. Dan demikian seterusnya: jangan dia menipu mereka dalam jual beli dan yang selain itu, jangan berdusta atas nama mereka, karena dia sendiri tak suka untuk diperlakukan seperti itu. Dan kaidah ini andaikata manusia berjalan di atasnya dalam pergaulan di antara mereka, pastilah mereka mencapai kebaikan yang banyak. (Syarh Riyadhish Sholihin/1/hal. 1824). Fadhilatusy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad berkata: Yaitu: pergaulilah manusia dengan semisal apa yang engkau sukai untuk manusia itu mempergauli dirimu dengan itu. (Syarh Sunan Abi Dawud/3/hal. 282).

Tanggapan ketujuh: Ana Menerima Berita Dari Orang lain Juga


Akh Taufiq berkata: Kenapa dia hanya menerima berita dari abu turob Dari mana akh Taufiq bisa memastikan bahwasanya ana hanya menerima berita dari Abu Turob? Apa bayyinahnya? Semoga akh Taufiq masih punya rasa takut pada kemurkaan Alloh atas tuduhan di atas. Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku mendengar Rosululloh -shollallohu 'alaihi wasallam- bersabda:

. ...
" dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari apa yang diucapkannya." (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi'y -semoga Alloh merohmatinya- dalam "Ash Shohihul Musnad" (755)). Sudah seringkali ana di-SMS oleh akh Muhammad Yamin, yang mengeluhkan beberapa kesalahan akh Abu Turob, maka ana kirim jawaban-jawaban yang intinya adalah: Jika benar demikian maka jawabannya demikian dan demikian. Kirimkanlah jawaban ana ke Abu Turob. Tentang masalah ini, ini sudah dibahas oleh Syaikh Yahya bahwasanya pendapat tadi marjuh, kalam shohabiy bukan hujjah. Kirimkan saja jawaban-jawaban ana ke Abu Turob. Coba ditaakkud dulu, apakah Abu Turob menyebutkan itu secara mutlak ataukah ada perinciannya. Terakhir kali ana mengulang SMS ke Muhammad Yamin: Tolong kirimkan ke ana lima puluh kesalahan Abu Turob yang antum ketahui, kami akan menasihatinya dengan serius. Dan Alloh tahu bahwasanya ana tidak bermaksud membohongi akh Muhammad Yamin ataupun langsung memvonis akh Abu Turob. Semuanya harus melalui proses yang syariy. Alloh taala berfirman:

]33 : [

Dan jika datang pada mereka suatu perkara dari keamanan atau ketakukan, mereka menyebarluaskannya. Seandainya mereka mengembalikannya kepada Rosul atau kepada ulil amr

19

dari mereka, niscaya orang-orang yang ingin mengambil pelajaran akan mengetahuinya dari mereka. Seandainya bukan dari karunia Alloh dan rohmat-Nya pada kalian, pastilah kalian mengikuti setan, kecuali sedikit yang tidak demikian. Sang penuduh wajib mendatangkan bukti, sang tertuduh berhak untuk membela diri. Yang terpandang adalah syariah, bukan ashobiyyah. Maka berita dari akh Muhammad Yamin ana tanggapi sesuai kadarnya semampu ana. Dalam maqom ini, kita tidak sedang memperdebatkan rincian SMS-SMS antara ana dengan akh Muhammad, hanya saja yang menjadi sisi pendalilan ana adalah: ana juga mendapatkan berita dari orang lain, bukan hanya dari Abu Turob. Dan ana tidak meremehkan berita dari para salafiyyin tsabitin, hanya saja, semuanya ditimbang dan dinilai sesuai dengan kadarnya secara syariy. Ini cukup untuk membantah tuduhan akh Taufiq: Kenapa dia hanya menerima berita dari abu turob.

Tanggapan kedelapan: Tuduhan Yang Menyakitkan


Akh Taufiq berkata: dan membelanya karena hanya sekedar teman dekat ketika di Dammaj Ini tidak benar wahai akh Taufiq. Ya begitulah, hukum terhadap suatu perkara merupakan cabang dari penggambarannya. Manakala data yang dimiliki akh Taufiq tentang ana itu salah, maka penggambarannya itupun salah juga. Manakala penggambarannya salah, maka vonis yang dijatuhkannya terhadap Abu Fairuzpun salah juga. Berapa kali ana kirim nasihat-nasihat ke Abu Turob, begitu pula sebaliknya? Terkadang jika nasihat ana ternyata Tiada gayung bersambut, anapun pakai gayung yang agak keras. Berapa banyak perkara-perkara yang ada perbedaan di situ antara ana dengan Abu Turob, dan ana tidak taqlid ataupun fanatik padanya. Akh Abu Turob juga menghargai pendapat ana. Silakan lihat definisi taqlid dan fanatik dalam risalah ana yang kemarin: Dua Mujtahid Yaman. Contoh kecil saja: Abu Turob condong berpendapat bahwasanya gelar Ustadz adalah syiar ikhwaniyyin. Ana tidak setuju dengan itu, dan bahkan ana tulis risalah Gelar Ustadz yang membuktikan di dalamnya bahwasanya ini sudah biasa dikenal dan dipakai di kalangan salaf, dan bukan syiar ikhwaniyyin. Saat ana diberitahu bahwa akh Abu Turob berpendapat bahwasanya di masing-masing bumi yang tujuh ada Ibrohim, persis satu sama lain, dan seterusnya, ana bantah pendapat itu sekian lama sebelum akh Abu Turob rujuk. Demikian pula kasus ayam jago lihat Alloh. Kemudian juga, karena yang ana tahu selama di sini secara umum akh Abu Turob itu mudah menerima nasihat yang haq, ana sempat kaget membaca SMS akh Muhammad Yamin yang cukup keras ke Abu Turob. Maka ana bilang padanya untuk memakai kelembutan, karena (yang ana tahu) Abu Turob bukan tipe muanid. Kemudian akh Muhammad menjelaskan bahwasanya dirinya sebelum itu telah menasihati Abu Turob, dan Abu Turob berjanji akan menyampaikan perbaikan di majelis, ternyata hal itu belum juga dipenuhi oleh Abu Turob, sehingga akh Muhammad Yamin mengirimkan SMS yang keras itu. Setelah itu ana menjawab: o ya sudah jika memang begitu, memang harus ditegur dan dinasihati. Afwan, ana sedang sakit berbulan-bulan, tak sempat nyimpan SMS-SMS ke komputer dan sebagainya. Tapi insya Alloh demikianlah inti dialog SMS ana dengan akh Muhammad Yamin.

20

Bahkan di Dammajpun saat ana mendengar kerasnya tawa akh Abu Turob dan muridmuridnya, ana tidak tinggal diam, ana nasihati mereka karena tidak pantas majelis ilmu jadi majelis guyonan. Dan ana juga sebutkan atsar Abdurrohman bin Mahdi pada sebagian ikhwah:

: : : : . :
Dari Abdurrohman bin Mahdi yang berkata: ada seseorang yang tertawa di sisi Hisyam Ad Dustuwaiy, maka Hisyam berkata kepadanya: Wahai anak muda, engkau menuntut ilmu sambil engkau tertawa? maka orang itu menjawab: Bukankah Alloh yang menjadikan tertawa dan menangis? maka Hisyam berkata: Jika demikian, maka menangislah engkau. (Al Jami Li Akhlaqir Rowi/karya Al Khothib Al Baghdadiy /1/ hal. 157). Ana tidak menyatakan haromnya hukum asal tertawa di majelis ilmu, tapi manakala ana lihat ada yang berlebihan, maka ana nasihati mereka, lillahi taala. Dan teman-teman tidak marah saat ana nasihati yang demikian karena mereka tahu bahwasanya ana berbuat benar dan tidak bermaksud menjatuhkan mereka. Ketika akh Abu Turob mencantumkan dalam suatu risalah, kisah bapak tua renta yang dipanggil dengan ammi Qosim (Hajuriy-Yamaniy) bahwasanya bapak yang telah pikun ini sedang sholat, lalu ada orang yang tidak tahu bahwasanya pak tua itu sedang sholat, mengajaknya bicara. Maka pak tua itu menjawab (dalam keadaan sedang sholat): Saya sedang dalam sholat. Lalu ada sahabat yang mengingatkan ana bahwasanya walaupun ini kisah yang lucu dan jenaka, tapi ini merupakan ghibah, bagaimana jika orang seluruh Indonesia nanti membacanya? Maka ana tersadar, lalu ana mengingatkan Abu Turob tentang hal itu. Entah sudah dihapus atau belum, ana tidak tahu. Terpaksa ana sedikit tambahi contoh-contoh karena sebagian orang menyakiti ana dengan tuduhan sebagai anggota Turobiyyun (pengikut akh Abu Turob). Lihatlah, wahai Taufiq, perkaranya adalah din, agama ini milik Alloh, ana dan kita semuawajib untuk berjalan bersama al haq kemanapun al haq itu berjalan, bukannya fanatik pada fulan, membela fulan karena hanya sekedar teman dekat ketika di Dammaj, seperti tuduhan ngawur antum. Darul Hadits Dammaj adalah tempat pendidikan hamba Alloh untuk meniti jejak ahlil hadits. Sementara para ahlul hadits yang sejati itu akan bilang yang salah itu salah, sekalipun sahabat atau kerabat sendiri. Al Allamah Az Zarkasyiy berkata: Oleh karena itulah maka Asy Syafiiy menolak mursal Az Zuhriy tentang tertawa dalam sholat. Beliau berkata: Mereka bilang kami ini berat sebelah. Seandainya kami berat sebelah, niscaya kami akan condong kepada Az Zuhriy. Dan irsal Az Zuhriy tak ada apa-apanya. Yang demikian itu dikarenakan kami mendapatinya meriwayatkan dari Sulaiman bin Arqom.. (An Nukat Ala Muqoddimah Ibnush Sholah/karya Az Zarkasyiy /1/hal. 474). Jamaluddin Muhammad Al Qosimiy berkata: Membantah perkataan (yang salah) terhadap orang yang mengucapkannya, siapapun dia. Dan agama Alloh itu tiada sikap berat sebelah di dalamnya. Kewalian dan karomah tiada hak masuk di sini. (Qowaidut Tahdits/karya Jamaluddin Al Qosimiy / hal. 184). Ana walaupun banyak dosa dan penuh kebodohan berusaha untuk meniti jejak tersebut, karena ini merupakan kewajiban. Yang salah dikatakan salah, lalu diperbaiki. Yang benar dikatakan benar, lalu dibela. Rosululloh bersabda:

21

"Sungguh janganlah sampai kewibawaan manusia itu menghalangi kalian untuk mengucapkan yang benar jika melihatnya atau menyaksikannya atau mendengarnya." (HSR Ahmad/Ash Shohihah no. (168) dan Al Jami'ush Shohih (5/131)). Syaikhul Islam berkata: "Maka apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar. Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti kebenaran serta menegakkan keadilan. (Majmuul Fatawa/28/hal. 16). Maka hal ini ana terapkan sebagai bentuk ibadah pada Alloh, terhadap siapapun, sesanggup ana, sampai bahkan terhadap Abu Turob. Ini adalah kewajiban, suka ataupun tidak suka. Jika Abu Turob begitu pula Abu Hazim dan yang lainnya- benar, ana katakan dia itu benar, dan ana bela sesuai dengan kadar yang disyariatkan(7). Jika Abu Turob begitu pula Abu Hazim dan yang lainnya- salah, ana katakan dia itu salah, dan ana nasihati sesanggup ana tanpa berupaya untuk menzholiminya. Dan memang ana tidak wajib lapor pada dunia bahwasanya ana telah menasihat Abu Turob ataupun yang lainnya. Ana berusaha ikut salaf sesuai dengan maqom yang disyariatkan, di antaranya adalah pelajaran dari kisah yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim dalam Shohih beliau no. (2989):

: : :
Dari Usamah bin Zaid yang berkata bahwasanya dikatakan pada beliau: Tidakkah Anda mau masuk menemui Utsman lalu Anda mengajaknya bicara (yaitu menasihatinya)? maka beliau menjawab: Apakah kalian berpendapat bahwasanya aku tidak berbicara dengannya kecuali aku memperdengarkannya pada kalian? Demi Alloh sungguh aku telah berbicara dengannya antara diriku dan dirinya saja, (al atsar). Maka wahai akh Taufiq, semoga Alloh memaafkanmu.

Tanggapan Kesembilan: Hendaknya Lebih Berhati-hati Dalam Menyebarkan Berita Yang Terkait Dengan Kehormatan Muslim
Insya Alloh tanggapan-tanggapan ana di atas sudah cukup. Hanya saja ana perlu nasihatkan untuk diri ana sendiri dan akh Taufiq dan seluruh pembaca agar lebih berhati-hati dalam menyebarkan berita yang terkait dengan kehormatan seorang Muslim. Hendaknya dia betul-betul muhasabah: apakah dirinya bisa selamat dari sabda Rosululloh shalallohu 'alaihi wa sallam- tentang mimpi beliau:
(7)

Satu contoh saja: lihat kembali pembelaan ana untuk akh Abu Turob dari kedustaan Abu Mahfut al hizbiy, dalam risalah "Hantaman Palu Godam" (Godam Keduapuluh Tiga). Dan lihat pembelaan ana untuk akh Abu Hazim dari kebatilan Abu Mahfut al hizbiy, dalam risalah "Hantaman Palu Godam" (Godam Keduapuluh Empat).

22

-
"Tiba-tiba ada seseorang yang duduk, dan ada orang lain yang berdiri sambil membawa cakar besi di tangannya. Dia memasukkan cakar besi tadi ke dalam tepi mulutnya lalu menariknya hingga mencapai tengkuknya. Lalu dia berbuat seperti itu pada sisi mulut yang lain. Lalu tepi mulut yang robek tadi mengatup kembali, dan selanjutnya dirobek lagi seperti sebelumnya." sampai dengan:Kedua malaikat itu berkata: Adapun orang yang kau lihat ujung mulutnya dirobek, maka dia itu adalah pembohong besar yang berbicara dengan kedustaan, lalu kedustaan itu dibawa darinya hingga mencapai ufuk-ufuk. Maka dia disiksa seperti itu sampai hari kiamat." (HR. Al Bukhory (1386) dari Samuroh bin Jundab .) Juga betul-betul memeriksa apakah dirinya akan selamat dari hadits berikut ini? Anas meriwayatkan bahwa Beliau bersabda:

: :
"Ketika aku dinaikkan ke langit aku melewati suatu kaum yang punya kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri. Kutanyakan,"Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jawabnya,"Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia dan merusak kehormatan mereka." (HSR Abu Dawud 4880. Lihat "Ash Shohihul Musnad" Imam Al Wadi'i ) Juga betul-betul mengoreksi sebelum disebar, apakah dia akan selamat dari sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam-:

.
"Sesungguhnya termasuk riba yang terbesar adalah panjang lisan (menuduh atau mencaci) terhadap kehormatan Muslim tanpa kebenaran." (HR. Abu Dawud (13/222) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi'iy -rohimahulloh- dalam "Al Jami'ush Shohih" (3598)). Jika dia memang ragu, sebaiknya dia menahan diri dari apa yang diragukannya itu dan mencari ketetapan dan kepastian dengan hujjah yang cukup. Atau jika telah telanjur disebar, kemudian didapati adanya kesalahan atau sikap yang berlebihan, hendaknya dirinya membuang debu-debu kesombongan dan segera meralat dan tidak malu untuk minta maaf. Alloh taala berfirman:

]201 : [

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu jika ditimpa oleh suatu dosa dari setan, mereka sadar dan bertobat, maka tiba-tiba saja mereka bisa melihat. Al Imam Ibnu Katsir berkata: Maka tiba-tiba saja mereka bisa melihat, yaitu: mereka tegak kembali dan sehat kembali dari apa yang sebelumnya mereka ada di dalamnya. (Tafsirul Quranil Azhim/3/hal. 534).

23

Tanggapan Kesepuluh: Marilah Kita Hindari Berlama-lama Dalam Perdebatan, Demi Menuju Ke Yang Lebih Diridhoi dan Disukai Oleh Alloh taala
Sekalipun ana tidak mendapati akh Taufiq suka berpanjang-panjang debat, tapi berhubung risalah ini bersifat terbuka, sekalian ana sisipkan nasihat untuk diri ana sendiri dan seluruh pembaca akan perkara yang penting ini. Adapun sikap memperpanjang perdebatan atau berlama-lama dalam kesalahan, dan angkuh untuk mengakui kekeliruan, maka itu adalah suatu kesalahan(8), dan termasuk sikap yang sangat dibenci oleh Robbul alamin. Bukannya dia tampak hebat dan pintar di mata umat, tapi Alloh akan menjatuhkannya di hati-hati kaum mukminin tanpa dia sadari. Yang demikian itu dikarenakan jika Alloh telah membenci seseorang, Dia menyuruh Jibril untuk membencinya, maka Jibrilpun membencinya, dan menyuruh seluruh penghuni langit untuk membencinya, maka seluruh penghuni langitpun membencinya. Kemudian diletakkanlah kebencian tersebut di hati-hati penduduk bumi(9). Lagi pula, kesombongan dan keangkuhan untuk mengakui kekeliruan yang telah diketahuinya itu merupakan suatu maksiat yang besar. Dan kemaksiatan itu membikin runtuhnya wibawa dan kehormatan pelakunya di mata para hamba Alloh, cepat ataupun lambat. Al Imam Ibnul Qoyyim berkata tentang akibat kemaksiatan:


Dan di antaranya adalah: hilangnya kewibawaan dan kemanisan yang pernah disandangnya dengan sebab ketaatan, lalu tergantikan (dengan sebab kemaksiatan itu) oleh kehinaan, kerendahan. Dan di antara akibat kemaksiatan juga adalah: dihasilkannya kebencian dan larinya jiwa dari orang tadi di dalam hati-hati manusia. (Thoriqul Hijrotain/hal. 337/cet. Daru Ibni Rojab). Lagi pula, telah menjadi sunnatulloh di alam semesta bahwasanya pelaku kebatilan dan pemilik niat yang jelek, dia akan diperlakukan dengan kebalikan dari apa yang dia inginkan. Maka orang yang ingin meninggikan dirinya di mata manusia dengan suatu kesombongan terhadap kebenaran, maka justru dirinya akan dijatuhkan dan dihinakan oleh Alloh taala. Ini sudah mujarab. Al Imam Ibnul Qoyyim setelah menyebutkan beberapa contoh dalam bab ini, beliau berkata:

(8)

Sikap memperpanjang perdebatan setelah tahu bahwasanya dirinya menyelisihi kebenaran akan menyebabkan dirinya tercebur ke dalam kebatilan dan hancur bersama dengan hancurnya kebatilan tadi. Al Khothib Al Baghdadiy berkata: Wajib bagi setiap orang yang telah terbantah dengan kebenaran untuk menerimanya dan tunduk padanya, dan janganlah berlama-lamanya dia dalam pertengkaran dan perdebatan membawanya untuk masuk ke dalam kebatilan padahal dia tahu hal itu. Alloh taala telah berfirman: Bahkan Kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga kebenaran menghancurkan kebatilan, maka tiba-tiba saja kebatilan itu sirna. . (Al Faqih Wal Mutafaqqih/2/hal. 113/Maktabatut Tauiyatil Islamiyyah). (9) Sebagaimana dalam hadits Abu Huroiroh ( HR. Al Bukhoriy (3209) dan Muslim (2637)).

]13 : [

24

: :- : .
Dan asal dari ini adalah: bahwasanya Alloh subhanah telah menjadikan hukuman-hukuman bagi para pelaku kejahatan itu kebalikan dari apa yang mereka inginkan dengan kejahatan mereka tadi. Maka Alloh menjadikan hukuman pendusta berupa dibatalkannya ucapannya, dan tertolaknya perkataannya. sampai pada ucapan beliau:- dan Alloh menjadikan hukuman orang yang menyombongkan diri dari menerima kebenaran dan dari menaatinya berupa: dirinya itu terusmenerus disertai oleh kehinaan dan kerendahan, sesuai dengan kadar kesombongannya terhadap kebenaran tadi. (Ighotsatul lahfan/hal. 280/cet. Daru Ibnil Haitsam). Al Imam Asy Syafi'y berkata:

.
"Tidaklah seseorang itu menyombongkan diri terhadap al haq di hadapanku dan menolaknya, kecuali martabatnya akan jatuh dari mataku, Dan tidaklah dia menerima kebenaran itu kecuali aku akan merasa segan padanya dan menjadi cinta padanya." ("Siyar A'lamin Nubala" 10/hal. 33). Lagi pula memperpanjang perdebatan setelah jelas kebenaran bukanlah lambang kepintaran dan ketinggian ilmu, bahkan itu adalah alamat kebodohan seorang alim, apalagi yang bukan alim. Muslim bin Yasar berkata:


Hindarilah oleh kalian perdebatan, karena perdebatan itu adalah waktu bodohnya orang alim, dan dengan perdebatan itu setan mencari ketergelinciran si alim tadi. (diriwayatkan Ad Darimiy dalam Sunan (muqoddimah/no. (410)) dan Al Ajurriy dalam Asy Syariah (no. (109)) dengan sanad yang shohih). Dan efek perpanjangan perdebatan antar ikhwah itu seringkali memburuk jadi perpecahan. Al Imam Al Ajurriy berkata:

:
Menurut para hukama: bahwasanya perdebatan itu kebanyakannya merubah hati-hati para ikhwan, dan mewariskan perpecahan setelah persatuan, dan keterasingan setelah keakraban. (Akhlaqul Ulama/hal. 39/cet. Darul Atsar). Ana tidak melarang diskusi ataupun perdebatan secara mutlak, akan tetapi berpanjangpanjang di dalamnya ini yang tercela. Bahkan marilah kita menuju perkara yang lebih membawa keberuntungan di dunia dan akhirat. Dari Abi Umamah yang berkata: Rosululloh bersabda:

Aku menjamin dengan rumah di jannah yang bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun dia itu benar. Dan aku menjamin dengan rumah di jannah yang tengah bagi orang yang meninggalkan kedustaan sekalipun sedang bercanda. Dan aku menjamin dengan rumah di jannah

25

yang paling atas bagi orang yang memperbagus akhlaqnya. (HR. Abu Dawud (4792), hasan lighoirih. Lihat Ash Shohihah no. (273)/Maktabatul Maarif). Al Imam Syamsul Haqq Abuth Thoyyib berkata: yaitu dia meninggalkan perdebatan, dalam rangka mematahkan jiwanya sendiri agar tidak mengangkat dirinya sendiri di atas lawannya dengan penampilan keutamaannya. (Aunul Mabud/13/hal. 109/cet. Darul kutubil Ilmiyyah). Ana berharap ini adalah risalah ana yang terakhir untuk akh Taufiq, dan bisa berakhir dengan baik dan penuh persaudaraan. Ana sebagaimana di awal-awal risalah telah menyebutkan ingin melaksanakan bimbingan ulama untuk lebih mengutamakan perhatian pada peperangan terhadap ahli ahwa, baik itu Mariyyun-Luqmaniyyun ataupun yang lain(10). Mereka semua belum menjadi bangkai. Pengaruh mereka masih ada di umat ini, syubuhat mereka terbaharui, serangan mereka masih berlangsung, dan umat harus sering diingatkan karena banyak yang cenderung lalai dan meremehkan fitnah dan jebakan ahli ahwa tadi. Jika tekanan Ahlul haq melemah terhadap keburukan pengekor hawa nafsu, pastilah perusak agama umat ini akan semakin giat membuat keburukan. Alloh taala berfirman: .]152/ [ Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Alloh mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Al Imam Ibnu Qutaibah berkata: Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat dengan dia itu didiamkan. (Al Ikhtilaf Fil Lafzh/karya beliau/sebagaimana dalam kitab Ash Showarif Anil Haqq/Hamd bin Ibrohim Al Utsman/hal. 140/Darul Imam Ahmad). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Setiap kali orang yang tegak dengan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebidahan. (Majmuul Fatawa/3/hal. 104). Al Imam Ibnu Baz berkata: Hanyalah ahlul batil itu bisa bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang berkata: Alloh berfirman dan Rosululloh bersabda. Maka ketika itulah mereka menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul haqq wal iman dan ahlul bashiroh. (Majmu Fatawa Wa Maqolat Ibnu Baz/4/hal. 75/Dar Ashiddaul Mujtama). Al Imam Al Wadiiy berkata: Dan kebidahan itu muncul jika Ahlussunnah tidak melaksanakan penyebaran sunnah Rosululloh sampai pada ucapan beliau:- maka jika sunnah itu muncul, maka sungguh bidah itu akan pergi dari negri yang di situ ada sunnah Rosululloh ( . Ghorotul Asyrithoh/2/hal. 155-156/Maktabah Shona Al Atsariyyah). Asy Syaikh Al Allamah Muhammad Al Basyir Al-Ibrohimi -rohimahulloh- berkata: Wajib bagi seorang alim agama ini untuk bersemangat dalam memberikan petunjuk ketika bersemangatnya kesesatan itu dan untuk bersegera di dalam menolong kebenaran ketika dia melihat kebatilan sedang melawannya serta untuk menyerang kebid'ahan, kejelekan serta kerusakan sebelum menjadi kuat dan semakin memuncak, sebelum manusia menjadi terbiasa dengannya dan meresap dalam hati-hati mereka sehingga sulit untuk mencabutnya. Maka wajib atas seorang alim untuk terjun ke tengah-tengah kancah sebagai mujahid, janganlah dia menjadi orang yang tertinggal di belakang dan hanya duduk-duduk saja. Hendaknya juga untuk berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh para
(10)

Dan juga untuk lebih mengutamakan menyebarkan manfaat dan kebaikan kepada Muslimin dalam skala umum.

26

pengobat pemberi nasehat di tempat-tempat terjangkitnya wabah penyakit untuk menyelamatkan manusia dan untuk menyadarkan orang-orang yang berada dalam kesalahan, bukannya berjalan bersama mereka, tetapi berusaha untuk membubarkan perkumpulan mereka di atas kesalahan tersebut. (Al-Atsar/karya beliau/4/110-111/sebagaimana dalam kitab Ash Showarif Anil Haqq/Hamd bin Ibrohim Al Utsman/hal. 143/Darul Imam Ahmad). Adapun untuk kesalahan dan ketergelinciran yang terjadi antar ikhwah salafiyyin, maka kita jalankan nasihat Syaikhuna Yahya Al Hajuriy : Para ikhwah yang memberikan nasihat hendaknya bersikap lembut pada saudaranya. Hendaknya masing-masing pihak bersyukur kepada pihak-pihak yang memberikan nasihat. (tanggal 19 Rojab 1432 H). Apabila kalian mendapati seorang saudara yang lahiriyyahnya baik, lalu kalian melihat ada sesuatu padanya, jangan langsung kalian buang. Nasihatilah dia baik-baik. Bukankah demikian? (tanggal 25 Rojab 1432 H). Nasihatku untuk mereka adalah hendaknya mereka bertaqwa pada Alloh, dan saling memberikan nasihat di antara mereka, dan meninggalkan perselisihan ini serta hasungan setan ini. (tanggal 1 Syaban 1433 H). Adapun terhadap para ahlul ahwa dari kalangan Mariyyin-Luqmaniyyin dan seluruh hizbiyyin yang lainnya, maka sifat kita adalah hantaman tangan baja dan panah api, sesuai yang dicontohkan oleh para salaf . Al Imam Ibnu Wadhdhoh menyebutkan bahwasanya Asad bin Musa berkata dalam kitabnya yang ditulis kepada Asad bin Furoth: "Ketahuilah, wahai Saudaraku. Bahwasanya yang menggerakkanku untuk menulis surat kepadamu ini adalah apa yang disebutkan oleh penduduk setempatmu mengenai kesholehan yang telah Alloh anugerahkan kepadamu yang di antaranya adalah keadilanmu terhadap sesama manusia, keadaanmu yang baik dengan menampakkan sunnah, celaanmu terhadap ahli bid'ah dan banyaknya penyebutanmu terhadap mereka, dan cercaanmu terhadap mereka. Sehingga Alloh menghancurkan mereka dan menguatkan punggung-punggung Ahlus Sunnah melalui tanganmu dan menguatkanmu di atas mereka dengan cara membongkar aib dan mencela mereka. Maka Alloh pun menghinakan mereka dengan hal tersebut. Maka jadilah mereka itu pun bersembunyi dengan kebid'ahan mereka. Maka bergembiralah wahai Saudaraku dengan pahala amalanmu tersebut. Anggaplah hal tersebut termasuk amalan baikmu yang lebih utama dari sholat, haji dan jihad. Di manakah keutamaan amalan-amalan tersebut dibandingkan dengan menegakkan Kitabulloh dan menghidupkan Sunnahnya?!" (Al-Bida' wan Nahi 'Anha oleh Ibnu Wadhdhoh/1/hal. 7). Al Imam Ibnu Asakir berkata: Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad biografi Imam Ahmad bin 'Aunillah Abu Ja'far Al-Andalusi (tahun 378H): Dahulu Abu Ja'far Ahmad bin 'Aunillah adalah seorang yang senantiasa ber-ihtisab (mengharapkan pahala) dalam bersikap keras terhadap ahlul bida' dan menghinakan mereka, mencari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera untuk menimpakan bahaya kepada mereka, pijakannya sangat keras terhadap mereka, mengusir mereka jika bisa menguasai mereka tanpa menyisakan mereka. Orang yang termasuk dari mereka merasa takut kepada beliau dan bersembunyi dari beliau. Beliau tidak berbasa-basi pada seorangpun dari mereka sama sekali, tidak berdamai dengannya. Apabila beliau mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan suatu penyimpangan terhadap Sunnah, maka beliau menentangnya, membeberkan kesalahannya, secara terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya dan mencercanya

27

dengan sebutan kejelekan di depan khalayak ramai, dan menyemangati masyarakat untuk menghukumnya hingga membinasakannya atau bertobat dari buruknya madzhabnya dan jeleknya aqidahnya. Beliau terus-menerus mengerjakan yang demikian, berjihad pada yang demikian dalam rangka mencari wajah Alloh hingga berjumpa dengan Alloh beliau punya kisah-kisah terkenal dan kejadian-kejadian yang disebut-sebut orang dalam menghadapi orang-orang yang menyimpang. (Tarikh Dimasyq/5/hal. 118/biografi Ahmad bin 'Aunillah Abu Ja'far).

Tanggapan Kesebelas: Ana Bukan Turobiy


Sekalian ana sisipkan dalam risalah ini pembahasan tentang perkara julukan Turobiyyun (pengikut akh Abu Turob). Dulu para hizbiyyun menyakiti ana dengan julukan tadi. Sekarang thoriqoh itu diadopsi oleh sebagian ikhwah sebagai panah untuk menyakiti ana. Ana adalah Abdurrohman, hamba Alloh, ikut agama Alloh, bukan ikut agama fulan atau allan. Alloh subhanah berfirman:

162/ * [

]163
Katakanlah (wahai Rosululloh): Sesungguhnya sholatku, penyembelihan yang kulakukan, kehidupanku dan kematianku adalah untuk Alloh Robbul alamin, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan, dan aku adalah orang muslim pertama (di umat ini). Ana sunniy, ikut sunnah Rosululloh dan sunnah Khulafaur Rosyidin ,bukan ikut sunnah orang yang tidak mashum. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:

Kuwasiatkan kalian untuk bertaqwa pada Alloh, dan mendengar dan taat kepada pemerintah, sekalipun dia itu adalah budak Habasyah, karena orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rosyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu bidah, dan setiap bidah itu kesesatan. (HR. Abu Dawud (4594) dan lainnya dihasankah oleh Al Wadiiy -rohimahullohu- dalam Ash Shohihul Musnad (921), dari Al Irbadh bin Sariyah .) Ana salafiy, ikut pemahaman As Salafush Sholih , bukan ikut pemikiran kholaf. Al Imam Al Auza'iy -rohimahulloh- berkata:


"Wajib atasmu untuk mengikuti jejak-jejak para pendahulu (Salaf) walaupun orang-orang menolakmu. Dan hindarkan dirimu dari pendapat-pendapat para tokoh walaupun mereka menghiasinya dengan perkataan untuk menipumu." ("Asy Syari'ah"/Al Ajurri/hal. 58/atsar shohih).

28

Setelah sekian lama belajar agama, lalu akhirnya cuma jadi pembebek orang yang bukan mashum, itu adalah rugi sekali dan merupakan ketololan. Ana tidak ridho dikatakan sebagai wahhabiy, atau madkholiy, atau hajuriy, maka bagaimana ana ridho dikatakan sebagai turobiy? Dan contoh-contoh nasihat ana kepada akh Abu Turob yang telah ana sebutkan di atas itu cukup bagi orang yang berakal untuk tahu bahwasanya ana bukan Turobiy, ataupun nisbat-nisbat ashobiyyah jahiliyyah yang lainnya. Rosululloh -shalallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

.
"Tidaklah seorangpun melainkan diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Nabi -shalallohu 'alaihi wa sallam-." (HSR Ath Thabrani di "Mu'jamil Kabir" (11773) dari Ibnu 'Abbas /dishohihkan Fadhilatusy Syaikh Yahya Al Hajury .) Dan shohih juga dari perkataan Mujahid ( Lihat "Hilyatul Auliya" (2/31 )). Penisbatan diri kepada individu yang bukan mashum (sekalipun beliau adalah seorang imam mutaqoddimin) sebagai bentuk pengambilan seluruh pemikirannya dan ijtihadnya sebagai agama bagi dirinya itu bukanlah perkara yang disyariatkan. Al Imam Ibnul Qoyyim berkata: Para penulis tentang sunnah telah mengumpulkan antara rusaknya taqlid dan pembatalannya, serta menjelaskan ketergelinciran seorang alim, yang dengannya mereka menjelaskan rusaknya taqlid, dan bahwasanya seorang alim itu terkadang bisa tergelincir, dan itu pasti, karena dia bukanlah orang yang mashum. Maka tidak boleh menerima seluruh apa yang diucapkannya dan memposisikan ucapannya tadi pada posisi perkataan seorang yang mashum. Maka inilah yang dicela dan diharomkan oleh seluruh ulama di muka bumi, dan mereka mencela para ahli taqlid. Dan ini adalah asal bencana ahli taqlid dan fitnah mereka, karena mereka itu membebek orang alim terhadap perkara yang si alim ini tergelincir di situ dan pada perkara yang dirinya tidak tercela di situ, sementara mereka tak punya timbangan pembeda antara perkara-perkara tersebut, sehingga mereka mengambil agama dengan kesalahan, dan itu pasti. Lalu mereka menghalalkan apa yang Alloh haromkan, dan mengharomkan apa yang Alloh halalkan, serta mensyariatkan perkara yang tidak disyariatkan. Dan pasti mereka akan berbuat itu, karena ishmah (keterjagaan dari kesalahan) itu tidak ada pada orang yang mereka taqlidi. Maka kesalahan itu pasti terjadi pada si alim tadi. (Ilamul Muwaqqiin/2/hal. 441/cet. Darul Hadits). Ini saja jika yang ditaqlidi adalah seorang alim, sekalipun dari kalangan mutaqoddimin, karena individu mereka bukanlah hujjah. Maka bagaimana dengan generasi belakangan? Maka bagaimana dengan generasi sekarang? Yang bukan ulama lagi? Maka bagaimana jika penisbatan itu mengandung fanatisme, yang mana dia tetap membela tokohnya tersebut dalam keadaan benar ataupun salah? Ini merupakan seruan jahiliyyah. Jabir berkata:

: : : .
Ada dua anak muda yang berkelahi, yang satu dari Muhajirin, dan yang satunya dari Anshor. Maka si Muhajir atau Muhajirun berseru: Wahai, aku minta pertolongan pada Muhajirin!, dan si Anshoriy berseru: Wahai, aku minta pertolongan pada Anshor! Maka keluarlah Rosululloh

29

seraya berkata: Apa seruan ahli jahiliyyah ini? orang-orang berkata: Tidak wahai Rosulullloh, hanya saja ada dua anak muda berkelahi, salah satunya menendang pantat yang lain. Maka Maka Rosululloh bersabda: Tidak apa-apa jika demikian. Hendaknya seseorang itu menolong saudaranya baik saudaranya itu zholim atau dizholimi. Jika saudaranya itu zholim, hendaknya dia melarangnya, karena itulah pertolongan untuknya. Tapi jika saudaranya itu terzholimi, maka tolonglah dirinya. (HR. Al Bukhoriy (4905) dan Muslim (2584), dan ini lafazh Muslim). Al Imam An Nawawiy berkata: Adapun penamaan beliau seruan tadi dengan seruan jahiliyyah, maka itu adalah kebencian beliau terhadap yang demikian, karena hal itu merupakan perbuatan yang dulu ahlul jahiliyyah melakukannya, yaitu saling mendukung dengan kabilah-kabilah dalam perkara duniawai dan yang terkait dengannya. Dan dulu jahiliyyah mengambil hak-hak mereka dengan bantuan para kerabat dan kabilah-kabilah. Maka datanglah Islam untuk membatalkannya, dan memutuskan perkara-perkara dengan hukum-hukum syariyyah. Maka jika ada orang yang berbuat zhholim terhadap yang lain, sang hakim menghukumi di antara keduanya dan mewajibkan si zholim dengan konsekuensi dari kezholimannya, sebagaimana yang telah tetap dalam kaidah-kaidah Islam. (Syarh Shohih Muslim/8/hal. 391). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Kedua nama ini yaitu: Al Muhajirun dan Al Anshor adalah dua nama syariy yang datang dengannya Al Kitab dan As Sunnah, Alloh menamai kedua kelompok ini dengan dua nama itu, sebagaimana Alloh menamai kita sebagai Muslimin sebelum itu dan di dalam syariat ini. Dan penisbatan seseorang kepada Muhajirun atau Anshor merupakan penisbatan diri yang baik dan terpuji di sisi Alloh dan di sisi Rosul-Nya, dan bukan (sekedar) perkara yang mubah yang dimaksudkan dengannya untuk pengenalan diri saja, seperti penisbatan diri pada kabilah-kabilah atau kota-kota. Dan juga bukan termasuk penisbatan diri yang makruh atau diharomkan, seperti penisbatan diri pada sesuatu yang mengakibatkan kepada kebidahan atau kemasiatan yang lain. Kemudian bersamaan dengan itu, manakala masing-masing dari keduanya menyeru kelompoknya untuk mencari pertolongan dengan kelompoknya, Nabi mengingkarinya dan menamakannya dengan seruan jahiliyyah, sampai dikatakan pada beliau bahwasanya yang menyeru dengan seruan tadi hanyalah dua anak muda, dan hal itu tidak muncul dari jamaah, maka beliau memerintahkan untuk mencegah orang yang zholim dan membantu orang yang terzholimi. Ini untuk Nabi menjelaskan bahwasanya yang terlarang hanyalah fanatisme seseorang kepada kelompoknya secara mutlak, sebagai perbuatan jahiliyyah. Adapun menolong dengan cara yang benar kelompoknya yang terzholimi tanpa berbuat zholim, maka itu baik, wajib atau mustahab. (Iqtidhoush Shirothil Mustaqim/1/hal. 241/Maktabatur Rusyd). Adapun yang setelah ini masih mengikuti jejak kholafiyyin luqmaniyyin dengan menebar tuduhan dengan laqob Turobiyyun dan semisalnya, maka hal itu adalah suatu dosa. Alloh taala berfirman:

]11 : [

Dan janganlah kalian saling memanggil dengan julukan-julukan. Sejelek-jelek nama adalah kefasiqan setelah keimanan. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zholim. (QS. Al Hujurot: 11). Al Imam Abu Bakr Ibnul Arobiy berkata: Nabz adalah laqob (julukan). Firman-Nya: Dan janganlah kalian saling memanggil dengan laqob-laqob yaitu janganlah kalian saling memanggil dengan julukan-julukan, dan julukan di sini adalah nama yang tidak disukai oleh

30

pendengarnya. (Ahkamul Quran/karya Ibnul Arobiy /4/ hal. 117/cet. Al Maktabatul Ashriyyah). Al Imam Ibnu Katsir berkata: Firman-Nya: Dan janganlah kalian saling memanggil dengan julukan-julukan yaitu janganlah kalian saling memanggil dengan julukan-julukan dan dia itu adalah julukan yang jika didengar maka akan menyakiti orang yang dijuluki dengan itu. (Tafsirul Quranil Azhim/7/hal. 381/cet. Darul Hadits). Perbuatan tersebut merupakan kefasiqan, sebagaimana dalam ayat di atas. Al Imam Abu Bakr Ibnul Arobiy berkata: Firman-Nya: Sejelek-jelek nama adalah kefasiqan setelah keimanan yaitu: bahwasanya engkau jika menyebutkan temanmu dengan apa yang tidak disukainya, maka sungguh engkau telah menyakitinya. Dan menyakiti muslim merupakan kefasiqan, dan yang demikian itu tidak boleh. (Ahkamul Quran/karya Ibnul Arobiy /4/ hal. 118/cet. Al Maktabatul Ashriyyah). Al Imam Ibnu Katsir berkata: Firman-Nya: Sejelek-jelek nama adalah kefasiqan setelah keimanan yaitu: sejelek-jelek sifat dan nama adalah kefasiqan, yaitu saling memanggil dengan julukan-julukan yang menyakitkan, sebagaimana dulu ahlul jahiliyyah saling memberikan sifat, setelah kalian masuk ke dalam Islam dan kalian memahaminya. (Tafsirul Quranil Azhim/7/hal. 381/cet. Darul Hadits). Itu tadi adalah kezholiman, sementara Alloh taala berfirman: Dan wajah-wajah merunduk untuk Al Hayy Al Qoyyum. Dan pasti rugi orang yang memikul kezholiman. (QS. Thoha: 111). Maka ana nasihatkan bagi diri ana sendiri dan bagi kita semua untuk menjauhi perbuatan tadi. Adapun yang setelah membaca ini justru tertawa mengejek, maka dia itu telah meniru gaya para penjahat. Alloh taala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang jahat itu dulunya menertawakan orang-orang yang beriman.

]111 : [

]29 : [

]110 : [

Maka kalian menjadikan mereka (para hamba Alloh) sebagai bahan ejekan hingga mereka menjadikan kalian lupa dari mengingat-Ku, dan kalian sering menertawakan mereka. Dan hendaknya orang macam tadi berpikir, jangan-jangan setelah tawa ejekan sejenak ini akan berbuntut tangis penyesalan yang panjang. Yang demikian itu dikarenakan kefasiqan tadi bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, dan di neraka hanya ada tangisan penyesalan, bukan tawa kegirangan. Alloh taala berfirman:

]32 : [

Maka silakan mereka tertawa sedikit, dan hendaknya mereka banyak menangis sebagai balasan terhadap apa yang dulu mereka kerjakan. Al Imam Al Baghowiy berkata: Maka silakan mereka tertawa sedikit di dunia, dan banyak menangis di akhirat. Taqdirnya adalah: Maka silakan mereka tertawa sedikit, maka mereka itu akan banyak menangis, sebagai balasan terhadap apa yang dulu mereka kerjakan. (Maalimut Tanzil/hal. 80).

31

Adapun orang yang berakal jernih, maka dia itu akan melihat jauh ke depan, memikirkan apa kira-kira akibat dari sesuatu yang hendak diperbuatnya. Al Allamah Ibnu Aqil Al Hanbaliy berkata:


Maka orang yang berakal adalah orang yang merenungkan akibat-akibat, dan memperhatikannya, serta menggambarkan setiap perkara yang mungkin terjadi, lalu dia beramal dengan tuntutan tekadnya. Dan yang lebih mendalam dari ini adalah penggambaran adanya kematian yang datang segera, karena bisa jadi kematian itu mendatanginya dengan mendadak tanpa ada penyakit. Maka orang yang punya tekad kuat adalah orang yang bersiap-siap untuk itu dan mengerjakan amalan yang dia tidak menyesalinya jika maut itu datang. (Al Adabusy Syariyyah/karya Al Imam Ibnu Muflih / hal. 906-907/cet. Ar Risalah). Al Imam Ibnul Qoyyim berkata:


Sifat khusus akal adalah memperhatikan akibat-akibat dan tujuan-tujuan. (Syifaul Alil/hal. 79).

Penutup
Insya Alloh apa yang ana tulis ini cukup. Dan dengan ini ana menyatakan bahwasanya risalah ana Jawaban yang menyenangkan telah ana hapus dan ana batalkan dengan risalah ini Fajar Shodiq Menyemburat. Semoga Alloh memberikan taufiq pada akh Taufiq untuk bersedia meralat atas kesalahan dan sikap berlebihannya terhadap Abu Fairuz, yang mana tuduhan itu telah tersebar dan meluas. Kemudian perlu ana tambahkan bahwasanya meskipun risalah ini telah ana periksa dan diperiksa ulang oleh saudara kita yang lain, pasti masih saja ada kekurangan yang luput dari perhatian, dan tidaklah itu ana sengaja. Semoga Alloh mengampuni saya, akh Taufiq, dan seluruh pembaca atas kekurangan yang ada dan mengilhamkan kita semua untuk menempuh jalan yang lebih lurus, hingga ke Jannah-Nya yang penuh keridhoan dan kedamaian, tiada permusuhan ataupun kepedihan.

* ]43 42 : [

Dan orang-orang yang beriman dan beramal sholih, Kami tidak membebani suatu jiwa kecuali sesuai dengan kemampuannya. Mereka itulah penduduk Jannah, mereka kekal di dalamnya selamanya. Dan Kami cabut permusuhan yang ada di dada-dada mereka. Sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Dan mereka berkata: Segala puji untuk Alloh yang memberi kami hidayah untuk ini, dan tidaklah kami bisa mengikuti petunjuk seandainya Alloh tidak memberi kami hidayah. Para utusan Robb kami telah datang dengan membawa kebenaran. Dan mereka diseru: Itu adalah Jannah yang Aku wariskan kepada kalian disebabkan oleh apa yang dulu kalian kerjakan.

32

O, roda zaman berputar cepat, bulan Syaban telah hampir lewat, Romadhon sudah makin dekat, marilah perbanyak amal akhirat. Ya Alloh, dosa-dosaku tlah banyak melekat, cucilah jiwaku hingga kembali mengkilat. Wallohu taala alam. Walhamdulillahi robbil alamin. Dammaj, 16 Syaban 1433 H

33

Daftar Isi
Table of Contents Pengantar Penulis ..................................................................................................................................... 1 Tanggapan pertama: Tegur Sapa Yang Menyakitkan, Tapi ana Memberikan Udzur Terhadap Akh Taufiq ................................................................................................................................................................... 9 Tanggapan Kedua: Amanah Penukilan ................................................................................................... 12 Tanggapan Ketiga: Tuduhan Yang Terpaksa harus Ana Pikul ................................................................. 13 Tanggapan Keempat: Masalah Tuduhan Kezholiman............................................................................. 14 Tanggapan Kelima: Apakah Antum Sengaja Ingin Menghina dan Menjatuhkan Abu Fairuz Dengan Plesetan? ................................................................................................................................................. 15 Tanggapan Keenam: Menyakiti Dengan Membongkar Nama Kecil ....................................................... 17 Tanggapan ketujuh: Ana Menerima Berita Dari Orang lain Juga............................................................ 18 Tanggapan kedelapan: Tuduhan Yang Menyakitkan .............................................................................. 19 Tanggapan Kesembilan: Hendaknya Lebih Berhati-hati Dalam Menyebarkan Berita Yang Terkait Dengan Kehormatan Muslim .................................................................................................................. 21 Tanggapan Kesepuluh: Marilah Kita Hindari Berlama-lama Dalam Perdebatan, Demi Menuju Ke Yang Lebih Diridhoi dan Disukai Oleh Alloh taala ........................................................................................... 23 Tanggapan Kesebelas: Ana Bukan Turobiy ............................................................................................. 27 Penutup ................................................................................................................................................... 31 Daftar Isi .................................................................................................................................................. 33