Anda di halaman 1dari 14

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT HUMBANG HASUNDUTAN (SUATU PERBANDINGAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMEKARAN) TAHUN 1990-2011

Oleh Ros Andriany Pakpahan Nim: 308121132 Program Studi Pendidikan Sejarah

JURNAL

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2012

Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Humbang Hasundutan (Suatu Perbandingan Sebelum Dan Sesudah Pemekaran) Tahun 1990-2011
Oleh: Ros Andriany Pakpahan Nim: 308121132 Jurusan Pendidikan Sejarah

Abstrak Ros Andriany Pakpahan, Nim. 308121132, Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Humbang Hasundutan (Suatu Perbandingan Sebelum Dan Sesudah Pemekaran) Tahun 1990-2011, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan. Dibimbing oleh Drs. Yushar Tanjung,M.si. Humbang Hasundutan merupakan salah satu kabupaten yang dimekarkan dari Kaupaten Tapanuli Utara. Setelah menjadi sebuah Kabupaten, banyak perubahan yang terjadi pada masyarakat dan pada kondisi fisik dari wilayah Kabupaten tersebut. Permasalahan yang diungkap dalam jurnal ini adalah (1) Bagaimana perubahan yang terjadi pada masyarakat Humbang Hasundutan menyangkut struktur masyarakat, pendidikan dan pola perilaku masyarakat sebelum dan sesudah pemekaran? (2) Faktor-faktor penyebab perubahan sosial budaya masyarakat Humbang Hasundutan? (3) Bagaimana wujud perubahan sosial budaya yang terjadi di Humbang Hasundutan? (4) Bagaimana respon masyarakat Humbang Hasundutan terhadap perubahan sosial budaya? Penelitian ini dilaksanakan di kabupaten Humbang Hasundutan. Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini digunakan penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data juga diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat yang mengetahui perkembangan dan perubahan yang terjadi di Humbang Hasundutan. Selain itu, data juga diperolehdari hasil observasi dan dokumentasi. Kesimpulan yang didapat setelah melakukan penelitian adalah bahwa Perubahan sosial yang terjadi di Humbang Hasundutan yakni menyangkut pola perilaku dan pandangan masyarakat terhadap dalihan na tolu, gotong royong, dan perkawinan. Perubahan budaya menyangkut sarana transportasi dan perhubungan, telekomunikasi dan informasi, dan pendidikan. Peneliti juga mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan sosial budaya di Humbang Hasundutan dan juga wujud perubahan sosial budaya serta respon masyarakat terhadap perubahan sosial budaya yang terjadi di Humbang Hasundutan. Kata kunci : perubahan sosial, perubahan budaya masyarakat.

PENDAHULUAN Setiap masyarakat senantiasa akan selalu mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat pada masa sekarang dengan keadaan masa lampau. Laju perubahan tidak selalu sama antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Perubahan-perubahan masyarakat terjadi terhadap nilainilai sosial, norma-norma, pola-pola perilaku organisasi susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan kewenangan interaksi sosial dan lain sebagainya. Humbang Hasundutan adalah salah satu Kabupaten di Sumatera Utara yang ibukotanya adalah Doloksanggul. Kabupaten ini dulu adalah bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara. Selama menjadi bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara, daerah Humbangini merupakan salah satu daerah yang masih cukup tertinggal baik dari segi ekonomi dan juga dari segi pemerintahannya, karena pada masa itu mayoritas penduduknya berpenghasilan dari bertani. Terbitnya UndangUndang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 tentang Persyaratan

Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah, menjadi peluang munculnya wacana perlunya usul pemekaran melalui pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan. Berbekal keinginan untuk mendambakan peningkatan kesejahteraan masyarakat, peluang tersebut dimanfaatkan secara tepat oleh masyarakat di wilayah Humbang Hasundutan melalui Panitia Pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan. Ternyata sejalan dengan tuntutan kemajuan jaman mampu menumbuhkan aspirasi masyarakat untuk mengusulkan Pemekaran Kabupaten Tapanuli Utara, melalui usul pembentukan Kabupaten Humbang Hasundutan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2003 pada tanggal 28 Juli 2003 menjadi hari resminya Humbang Hasundutan ini menjadi sebagai Kabupaten dan beribukota di Doloksanggul. Humbang Hasundutan terdiri atas 10

Kecamatan. Kesepuluh Kecamatan itu adalah Kecamatan Parlilitan, Pakkat,

Tarabintang, Doloksanggul, Pollung, Onan Ganjang, Sijamapolang, Lintong Nihuta, Paranginan dan Kecamatan Bakti Raja. Dalam segala aspek kehidupan masyarakat Humbang Hasundutan selalu dikaitkan dengan kebiasaan adat-istiadat yang telah diwarisi turun temurun dari para leluhurnya namun tidak terlepas dari ajaran agama yang dianut oleh masyarakat Humbang Hasundutan. budaya yang dimiliki oleh masyarakat di Humbang Hasundutan terbuka terhadap inovasi, budaya agraris yang telah mengakar di masyarakat dengan adanya budaya Marsiadapari atau dalam bahasa Indonesia yang artinya gotong royong.. Maka yang menjadi rumusan masalah dalam jurnal ini adalah Bagaimana perubahan yang terjadi pada masyarakat Humbang Hasundutan menyangkut struktur masyarakat, pendidikan dan pola perilaku masyarakat sebelum dan sesudah pemekaran, Faktor-faktor penyebab perubahan sosial budaya masyarakat Humbang Hasundutan, Bagaimana wujud perubahan sosial budaya yang terjadi di Humbang Hasundutan, Bagaimana respon masyarakat Humbang Hasundutan terhadap perubahan sosial budaya? Untuk memecahkan masalah dalam jurnal ini digunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data juga diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat yang mengetahui perkembangan dan perubahan yang terjadi di Humbang Hasundutan. Selain itu, data juga diperolehdari hasil observasi dan dokumentasi.

PEMBAHASAN Perubahan sosial sebagai perubahan struktur sosial, pola perilaku, dan interaksi sosial. (Setiadi, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. 2005:49). Setiap

masyarakat manusia selama hidup pasti mangalami perubahan. Perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan seterusnya, bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturanaturan organisasi sosial (Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar.2007: 266).

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan lain kemempuan-kemampuan serta kebiasaaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan lain perkataan, kebudayaan mencakup kesemuanya yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Haviland. Antropologi Jilid I (1985 : 332) Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia

(Soekanto.Sosiologi Suatu Pengantar. (1982:189). Bermacam-macam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggotanya seperti kekuatan alam maupun kekuatan lain yang tidak selalu baik. Selain itu manusia memerlukan kepuasan baik di bidang spritual maupun material. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dipenuhi oleh kebudayaan pada masyarakat itu sendiri. Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar (Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi jilid I cetakan kedua (2003:72). Kebudayaan berarti suatu hal yang harus dipelajari bukan merupakan sesuatu yang sudah dibawa dari lahir. Kebudayaan bukan hanya berarti pengembangan di bidang seni semata ataupun hanya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kebendaan saja, tetapi menyangkut seluruh hasil karya yang diciptakan manusia baik berupa benda maupun yang bukan benda seperti sikap hidup, cara berpikir, tingkah laku dan kebiasaan manusia, pandangan hidup dan sebagainya dipelajari dan menjadi milik bersama. Dengan demikian kebudayaan merupakan himpunan pengalaman yang dipelajari manusia sepanjang hidupnya yang akan diwariskan kepada

keturunannya. Koentjaraningrat (2003:80) menjelaskan unsur-unsur kebudayaan

universal terdiri atas 7 (tujuh) unsur, yakni:Bahasa, Sistem pengetahuan, Organisasi sosial, Sistem peralatan hidup, Sistem mata pencaharian, Sistem religi,

Kesenian(Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi jilid I cetakan kedua (2003:80). Kebudayaan mengalami perkembangan (dinamis) seiring dengan

perkembangan manusia itu sendiri, oleh karena itu tidak ada kebudayaan yang besifat statis. Kebudayaan akan selalu mengalami perubahan. Pertumbuhan penduduk di wilayah Humbang Hasundutan sebelum pada tahun 1990-2002 tidak begitu signifikan bahkan kadang mengalami penurunan. Pembangunan serta fasilitas yang terdapat di Humbang Hasundutan masih sangat minim. Sebagai contoh, kondisi jalan yang sangat memprihatinkan, fasilitas pendidikan juga sangat kurang sehingga banyak anak sekolah yang melanjutkan sekolahnya di luar daerah Humbang Hasundutan seperti ke Tarutung, Balige, Siantar bahkan ke Medan dan daerah-daerah lainnya. Hal ini mempengaruhi penduduk untuk berpindah dan tinggal di daerah ibukota kabupaten Tapanuli Utara. Namun sesudah dibentuknya Kabupaten Tapanuli Utara, pertumbuhan penduduk di Kabupaten Humbang Hasundutan mulai meningkat tetapi penyebarannya belum merata. Prasarana transportasi yang terdapat di wilayah Humbang Hasundutan adalah transportasi darat berupa jalan dan jembatan, akan tetapi sebagian kecil masyarakat menggunakan transportasi air terutama masyarakat di Kecamatan Bakti Raja yang berada di tepi Danau Toba. Selama wilayah Humbang Hasundutan berada dalam naungan Kabupaten Tapanuli Utara, kondisi jalan dan jembatan di wilayah Humbang Hasundutan kurang terawat dan mengalami banyak kerusakan. Kondisi Jalan desa sangat memprihatinkan bahkan masih banyak desa yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan beroda 4 (empat). Pada umumnya permukaan jalan desa masih terbuat dari tanah dan kerikil. Setelah Humbang Hasundutan menjadi Kabupaten serta dengan dianggarkannya pembangunan jalan Doloksanggul-Perbatasan Tapanuli Tengah dalam APBD Provinsi TA. 2010 kondisi jalan Provinsi di Kabupaten Humbang Hasundutan mulai membaik. Kondisi jalan Kabupaten sudah mengalami peningkatan semenjak terbentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan dimana akses jalan

menuju daerah-daerah terpencil dan terisolir telah dibuka sehingga transportasi berjalan lancar. Kondisi jalan ke Kecamatan Bakti Raja sudah diperbaiki tahun 2010 yang lalu dan kondisinya sekarang sudah bagus. Masyarakat maupun pengunjung yang datang melihat keindahan Danau Toba sudah semakin ramai, ungkap O. Manalu salah seorang warga Kecamatan Bakti Raja. Sarana dan prasarana telekomunikasi dan informasi di wilayah Humbang Hasundutan tahun 1990-2002 jumlahnya masih sedikit dan masih sederhana. Masyarakat masih menggunakan jasa pelayanan kantor pos, pos pembantu dan wartel. Hingga tahun 2002 kontor pos dan pos pembantu hanya ada 5 (lima) unit. Sesudah menjadi sebuah Kabupaten selain Kantor Pos, Pos Pembantuda wartel, sudah banyak masyarakat Humbang Hasundutan yang menjadi Pelanggan telkom, akan tetapi seiring perkembangan teknologi komunikasi, selera masyarakat berubah dengan hadirnya telepon selular yang penggunaannya lebih praktis

sehingga diminati oleh pelanggan. Banyak pelanggan yang tidak menggunakan jasa telkom lagi setelah hadirnya telepon seluler. Data dari Badan Pusat Statistik bahwa Sarana peribadatan yang terdapat di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan terdiri dari tiga jenis agama yaitu kristen protestan, katolik dan islam. Agama kristen protestan menjadi pemeluk yang terbanyak disusul katolik dan islam. Hingga kondisi tahun 2001 fasilitas peribadatan Agama Kristen Protestan sebanyak 309 unit, kemudian Agama Kristen Katolik yaitu sebanyak 75 unit, fasilitas Agama Islam sebanyak 22 unit Mesjid. Hingga kondisi tahun 2010 fasilitas peribadatan agama Kristen Protestan sebanyak 339 unit, kemudian agama Kristen Katolik yaitu sebanyak 103 unit, fasilitas agama Islam sebanyak 23 unit. Kondisi Pendidikan di wilayah Humbang Hasundutan pada tahun 19902002 dari segi fasilitas masih minim. Minimnya jumlah sekolah mengakibatkan banyak yang terpaksa putus sekolah. Tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah juga menjadi salah satu penyebab putus sekolah karena bersekolah di luar Kecamatan membutuhkan dana yang lumayan besar. Berdasarkan wawancara dengan S.Simamora salah seorang warga kecamatan Doloksanggul mengatakan : pendidikan di Humbang Hasundutan sebelum menjadi Kabupaten masih kurang

baik dari segi kuantitas maupun kualitas, karena pada masa itu pendidikan masih berpusat dan lebih diutamakan di Ibukota Tapanuli Utara yaitu di Tarutung. Sejak terbentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan sektor pendidikan menjadi sektor yang mendapatkan perhatian khusus, untuk meningkatkan pelayanan dalam bidang pendidikan maka usaha yang dilakukan adalah dengan melengkapi fasilitas pendidikan yang ditujukan dengan keberadaan prasarana dan sarana pendidikan yang ada, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar 9 tahun, pendidikan menengah dan pendidikan non formal. Berdasarkan wawancara dengan Drs.S.D.V.Sihombing,MM mengatakan bahwa setelah Humbang Hasundutan menjadi Kabupaten, fasilitas pendidikan seperti gedung sekolah sudah banyak mengalami perbaikan. Sudah hampir 95% gedung SD menjadi gedung permanen sedangkan gedung SMP dan SMA sudah mengalami perbaikan dan jumlahnya sudah bertambah. Jumlah Guru sudah dirasakan cukup hanya pemerataanya yang masih harus diperhatikan. Masyarakat Humbang Hasundutan yang kental dengan adatnya selalu mengutamakan adat dalam segala hal. Termasuk dalam hal penyelesaian pertikaian atau konflik. T. Simarmata adalah salah seorang warga kecamatan Baktiraja, mengatakan Sebelum dibentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan, pertikaian skala kecil sampai pertikaian skala besar seperti pertikaian antar marga atau bius (huta) selalu dimulai dan diakhiri melalui lembaga tata tertib berdasarkan adat seperti lembaga natua-tua ni huta (orang-orang tua di desa), raja huta (kepala desa), pangituai (orang-orang terkemuka), dan sebaginya ditambah lembaga baru seperti pangula ni huria (pimpinan gereja), pengurus punguan marga (pengurus organisasi marga), pengurus parsahutaon (pengurus organisasi desa). Dan setiap orang yang bertikai selalu patuh terhadap keputusan penyelesaian pertikaian. Masyarakat Humbang Hasundutan hidup dengan rukun antar suku maupun antar umat beragama. Masing-masing warga merasa saling terikat dan saling memiliki. Hal itu terlihat dari kerjasama yang terjadi di dalam masyarakat. Istilah batak toba disebut Marsiadapari atau yang dikenal dengan gotong royong. Masyarakat Humbang Hasundutan yang sangat mudah diajak bergotong royong

tanpa upah. Masyarakat senang bergotong royong dan rela memberikan bantuan kerja demi memperoleh hubungan kemasyarakatan dengan orang lain. Sebagai contoh, salah seorang warga sedang membangun rumah, maka para tetangga akan dengan senang hati untuk membantu walaupun tanpa upah pamrih. Selain itu, masyarakat Humbang Hasundutan adalah masyarakat yang sangat menghargai pernikahan atau perkawinan. Masyarakat selalu berusaha untuk bisa mempertahankan rumah tangganya. Sangat jarang ditemui keluarga yang bercerai kecuali dipisahkan oleh maut. Mental generasi muda Humbang Hasundutan masih tergolong baik dan sangat jarang terjadi hal-hal yang di luar dugaan masyarakat seperti pertengkaran antar pelajar dan pergaulan-pergaulan bebas. Masyarakat Humbang Hasundutan sudah mulai mengalami perubahan. Misalnya dalam hal penyelesaian konflik atau pertikaian, masyarakat Humbang Hasundutan sudah mulai menggunakan lembaga-lembaga peradilan negara dan peradilan adat lingkungan sudah mulai redup. Para generasi muda sudah banyak yang tidak memahami dalihan na tolu, terutama putra-putri daerah yang kembali dari tanah perantauan. Banyak yang tidak mengerti dengan sistem kekerabatan yang dianut oleh suku batak seperti partuturon. Pandangan dan penilaian masyarakat Humbang Hasundutan sekarang ini terhadap gotong royong (Marsiadapari) sudah berubah. Di Humbang Hasundutan sudah sulit mengerahkan tenaga orang untuk bekerja tanpa upah. Sebab kerja tanpa upah dipandang bukan lagi merupakan kerja kemasyarakatan. Bahkan lebih dirasakan sebagai suatu beban. Sehingga kegiatan Marsiadapari di Humbang Hasundutan sudah jarang dijumpai. Generasi muda Humbang Hasundutan mulai terobsesi dengan kecanggihan teknologi. Banyaknya beredar alat komunikasi seperti telepon seluler yang dapat digunakan untuk mengakses internet dengan cepat menjadikan mental generasi muda Humbang Hasundutan mulai rapuh. Banyak yang menyalahgunakan alat tersebut dengan mengakses situs-situs terlarang seperti situs porno. Sekarang ini banyak siswa yang tidak bisa membatasi diri sehingga banyak yang terjerumus dengan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pertengkaan antar pelajar dan

pergaulan bebas, malas belajar. Hanya sebagian kecil yang memanfaatkannya kepada hal positif. Dengan terbentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan maka terjadi beberapa perubahan sosial budaya pada masyarakatnya, yakni antara lain: Pengetahuan masyarakat terhadap teknologi semakin bertambah. Sebagai contoh, masyarakat Humbang Hasundutan secara umum sudah mengenal dan mampu menggunakan Handphone (telepon seluler), televisi dan radio. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan masyarakat semakin berkurang karena adanya fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh pemerintah. Sebagai contoh, dibangunnya sarana transportasi seperti jalan membuat masyarakat semakin cepat dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan semakin tinggi. Hal ini dikarenakan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di Humbang Hasundutan, dan juga adanya bantuan-bantuan dari pemerintah bagi siswa-siswa yang tidak mampu dalam biaya sekolah. Pola perilaku masyarakat mulai berubah terutama perilaku para generasi muda. Hal ini dikarenakan kemajuan teknologi yang pesat. Kalangan-kalangan remaja dengan mudah terpengaruh sehingga banyak yang tidak memanfaatkan waktunya. Sebagai contoh, banyak anak-anak muda atau remaja yang setiap hari menghabiskan waktu di warnet hanya untuk bermain game, mengakses hal-hal yang tidak perlu seperti film porno. Pandangan masyarakat terhadap gotong royong dan perkawinan. Setelah Humbang Hasundutan menjadi Kabupaten masyarakat

Humbang Hasundutan sudah susah untuk diajak marsiadapari (bergotong royong). Semuanya sudah harus membutuhkan uang atau upah. Demikian juga dengan perkawinan, sudah banyak warga Humbang Hasundutan yang kawin lebih dari sekali padahal istri sebelumnya masih hidup. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial pada masyarakat Humbang Hasundutan adalah sebagai berikut: Bertambahnya penduduk, Kemajuan Teknologi, Kontak dengan kebudayaan lain. Sedangkan, faktor-faktor yang menyebabkan perubahan budaya di Humbang Hasundutan adalah sebagai berikut: Bertambahnya jumlah penduduk, Kemajuan teknologi.

10

Perubahan yang paling nampak di Humbang Hasundutan yakni perubahan pada struktur masyarakat. Sebelum menjadi kabupaten, jabatan yang tertinggi di wilayah Humbang Hasundutan adalah Camat kemudian diikuti dengan Kepala Desa/Lurah. Masyarakat Humbang Hasundutan masih susah dalam mengurus berkas-berkas penting karena harus menempuh jarak yang lumayan jauh yaitu ke Tarutung yang merupakan ibukota Kabupaten. Bangunan-bangunan perkantoran di daerah Humbang Hasundutan sebelum dibentuk menjadi kabupaten jumahnya masih sedikit dan kondisinya juga banyak yang tidak terawat. Salah satu contohnya adalah kantor cabang pengadilan yang ada di kecamatan doloksanggul yang sekarang ini sudah tidak dipergunakan lagi. Setelah Humbang Hasundutan menjadi sebuah kabupaten maka struktur masyarakat berubah. Di Kabupaten Humbang Hasundutan sudah ada Bupati, Wakil Bupati, dan para bawahannya. Bupati Humbang Hasundutan memiliki sosok yang kharismatik, ramah, religius dan selalu menaungi rakyatnya. Bupati Humbang Hasundutan juga sering melakukan kunjungan-kunjungan ke desa-desa dan juga acara-acara yang di adakan masyarakat sehingga masyarakat merasa sangat dekat dengan Bupati. Setelah dibentuknya kabupaten Humbang Hasundutan jumlah bangunan-bangunan perkantoran di Kabupaten Humbang Hasundutan juga berkembang pesat. Hal ini bertujuan untuk mendukung kelancaran pemerintahan Kabupaten Humbang Hasundutan. Respon masyarakat terhadap Perubahan sosial dan Budaya yakni

masyarakat sangat terbuka akan perubahan yang terjadi. Masyarakat memberikan respon positif terhadap hal-hal yang baru. Misalnya, pemerintah membangun sekolah dan menyediakan fasilitas yang lebih baik yang diikuti dengan semakin banyaknya orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang ada di Humbang Hasudutan; dibangunnya jalan sampai ke desa-desa diikuti dengan semakin banyaknya masyarakat humbang hasundutan yang memiliki kendaraan bermotor. Keterbukaan inilah yang menyebabkan masyarakat Humbang Hasundutan mengalami perubahan sosial budaya.
PENUTUP

11

Sebagai penutup penulis menarik beberapa kesimpulan yang sekiranya dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di Kecamatan Humbang Hasundutan. Masyarakat Humbang Hasundutan yang kental dengan adatnya selalu mengutamakan adat dalam segala hal. Termasuk dalam hal penyelesaian pertikaian atau konflik namun setelah menjadi sebuah Kabupaten hal ini mulai mangalami perubahan yakni masyarakan lebih senang menyelesaikan masalah dengan menggunakan lembaga peradilan negara. Demikian juga, Sebelum menjadi Kabupaten masyarakat Humbang Hasundutan yang sangat mudah diajak bergotong royong tanpa upah. Masyarakat senang bergotong royong dan rela memberikan bantuan kerja demi memperoleh hubungan kemasyarakatan dengan orang lain. Berbeda dengan keadaan sesudah menjadi Kabupaten, Pandangan dan penilaian masyarakat Humbang Hasundutan sekarang ini terhadap gotong royong (Marsiadapari) sudah mulai berubah. Sekarang ini di Humbang Hasundutan sangat sukar mengerahkan tenaga orang untuk bekerja tanpa upah. Sebab kerja tanpa upah dipandang bukan lagi merupakan kerja kemasyarakatan. Bahkan lebih dirasakan sebagai suatu beban. Sehingga kegiatan Marsiadapari di Humbang Hasundutan sudah sangat jarang dijumpai. Sejak terbentuknya Kabupaten Humbang Hasundutan sektor pendidikan menjadi sektor yang mendapatkan perhatian khusus, untuk meningkatkan pelayanan dalam bidang pendidikan maka usaha yang dilakukan adalah dengan melengkapi fasilitas pendidikan yang ditujukan dengan keberadaan prasarana dan sarana pendidikan yang ada, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan dasar 9 tahun, pendidikan menengah dan pendidikan non formal. Begitu juga, Perbaikan kondisi jalan di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan diikuti dengan semakin banyaknya pemilik kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Hal itu mempermudah masyarakat dalam melaksanakan aktivitasnya. Berbagai perubahan sosial budaya yang terjadi seperti Pengetahuan masyarakat terhadap teknologi semakin bertambah; Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan masyarakat semakin berkurang karena adanya fasilitas-fasilitas yang

12

disediakan oleh pemerintah; Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan semakin tinggi; Pola perilaku masyarakat mulai berubah terutama perilaku para generasi muda; dan Pandangan masyarakat terhadap gotong royong dan perkawinan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial budaya pada masyarakat Humbang Hasundutan antara lain adalah bertambahnya jumlah penduduk, adanya kemajuan teknologi dan kontak dengan kebudayaan lain.

13

DAFTAR PUSTAKA Biro Pusat Statistik. 2002. Tapanuli Utara Dalam Angka _________________. 2010. Humbang Hasundutan Dalam Angka Haviland, William. 1985. Antropologi Jilid I. Jakarta : Erlangga Koentjaraningrat. 2003. Pengantar Antropologi jilid I cetakan kedua. Jakarta: PT Rineka Cipta Setiadi, Elly M. Dkk. 2007. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Bandung : Kencana Prenada Media Group

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: CV. Rajawali

_______________. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Grafindo Persada

DAFTAR INFORMAN 1. Nama Umur Alamat Pekerjaan 2. Nama Umur Alamat Pekerjaan 3. Nama Umur Alamat Pekerjaan : : : : : : : : : : : : Drs. S.D.V. Sihombing, MM 45 Tahun Doloksanggul Sekretaris BAPPEDA S. Simamora 45 Tahun Jl. Sidikalang desa Sirisirisi Wiraswasta T. Simarmata 63 Tahun Bakkara Wiraswasta

14

Beri Nilai