Anda di halaman 1dari 49

1. PENDAHULUAN I. I.

Latar Belakang Perubahan yang cepat dan meningkat dalam kondisi ekonomi, teknologi dan demografi rnemerlukan perubahan yang cepat pula dalam sistem pertanian. Dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat petani sering mengembangkan cara yang tidak terbatas untuk mendapatkan pangan dengan cara pembukaan lahan dengan tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanah dan air. Pengelolaan lahan tersebut memacu terjadinya degradasi lahan yang akan rnengganggu keseimbangan ekologi sekitarnya guna mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan (Sustaincible Agriculture). Di Kabupaten Lamongan, pertanian merupakan sektor utama dalam pembangunan perekonomian karena sebagian besar mata pencaharian penduduk secara langsung atau tidak langsung terkait di bidang pertanian. Menurut laporan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lamongan, pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Lamongan masih rnenghadapi berbagai masalah yang sampai saat ini

belum tuntas, antara lain masih kurangnya partisipasi petani dan masyarakat dalam hubungan dengan tingkat pemanfaatan sumberdaya alam yang belum optimal khususnya pada lahan kritis (sebagai sumberdaya bagi keseimbangan ekosistem terutama, konservasi tanah, tata air dan udara). Dalam konteks pertanian, keberlanjutan pada dasarnya berarti kemampuan untuk tetap produktif sekaligus tetap mempertahankan basis sumber daya. Penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya lahan yang optimal sesuai dengan daya dukungnya hanya dapat dilakukan apabila tersedia informasi mengenai kesesuaian lahan di masing-masing daerah yang bersangkutan. Dalam konteks kehutanan, setiap ahli kehutanan atau ahli ekologi hutan telah mengetahui bahwa didalam mengelola lokasi (site) hutan, kita harus memperhatikan ekosistem hutan atau kawasan hutan secara keseluruhan. Interaksi di antara berbagai faktor lingkungan terutarna sifat lahan dikaitkan dengan produktivitas hutan sudah lama diketahui, sehingga di dalarn mengevaluasi lahan hutan perlu pertimbangan terhadap faktor-faktor lingkungan tersebut.

Sebagian besar produksi kayu termasuk kayu jati pada saat yang lalu dan mungkin juga sekarang ini semata-mata. hanya merupakan usaha eksploitasi, dengan jalan menebang pohon-pohon yang mernpunyai nilai ekonomis dan hutan-hutan alaim yang ada. Dengan pertimbangan akan kecenderungan menurunnya jumlah sumber daya hutan dan di banyak daerah, munculnya keperluan penggunaan lahan bagi keperluan lain diluar kehutanan (seperti pemukiman, transmigrasi, pertanian, perindustrian, dan sebagainya), mengundang perlunya penanganan yang terpadu didalam pengalokasian Wian tmIuk kehutanan. Kayu seperti jenis kayu jati banyak digunakan untuk berbagai keperluan terutama di Pulau Jawa. Beberapa kalangan masyarakat merasa bangga apabila tiang dan papan bangunan rumah serta perabotannya terbuat dari jati. Berbagai kontruksi terbuat dari Jati seperti bantalan rel kereta api, tiang jembatan, balok dan galagar rumah, serta kusen pintu dan jendela. Pada industri kayu lapis, jati digunakan sebagai finjr muka karena memiliki serat gambar yang indah. Adapun pada industri perkapalan, kayu jati sangat cocok dipakai untuk papan kapal yang beroperasi di daerah tropis (Atmosusenu dan Duljafar, 1996).

Dalam hubungannya dengan tanaman jati, bonita merupakan kemampuan tempat tumbuh bagi tanaman jati dalam memberikan hasil berdasarkan tinggi tegakan dan LIllur tanaman. Kisaran bonita untuk tanaman jati berkisar dari 1 sampai 6, namun untuk menemukan bonita dengan nitai 5 atau 6 sekarang ini hampir jarang dijumpal, hal ini mungkin akibat dari menurunnya tingkat kesuburan tanah dari waktu ke waktu dan seringnya terjadi degradasi tanah. Kriteria bonita yang kurang atau tidak sesuai untuk tanaman jati adalah bonita 1, 1,5 dan 2 (dibawah 2) dan yang sesual untuk tanaman jati adalah bonita diatas 2 (komunikasi pribadi dengan Bayu, Perhutani, Malang). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, diperlukan suatu rangkaian proses yang terpadu untuk mempertahankan keberlanjutan dari kondisi sumberdaya lahan yang ada. Proses didahului melalui suatu kegiatan evaluasi lahan (hutan) pada daerah yang bersangkutan untuk dapat mengetahui kesesuaiannya sebagai hutan potensial, serta karakteristik lahan di daerah tersebut sehingga dapat ditetapkan kelas kesesuaian lahannya, apakah lahan tersebut sesuai atau tidak sesuai untuk suatu

komoditas tertentu (dalam hal ini tanaman jati), sehingga apabila kurang atau tidak sesuai dapat diketahui faktor yang menjadi pembatas atau penghambat pertumbuhan tanaman tersebut. Untuk tanaman hutan evaluasi yang paling baik adalah berdasarkan penampilan (performance) pohon dan hasil pengukuran jenis-jenis kayu yang mempunyai nilai ekonomis pada lokasi yang sejenis. Evaluasi lahan untuk kehutanan sangat ditentukan oleh kualitas pengaruh jangka panjang masa mendatang yang mewarnai aspek khusus di dalam mengevaluasi lahan untuk kehutanan (Bennema, Gelens, dan Laban, 1981). Meningkatnya kebutuhan dan persaingan dalam penggunaan lahan baik untuk keperluan produksi pertanian/kehutanan maupun untuk keperluan lainnya memerlukan pemikiran yang seksama dalam mengambil keputusan untuk penggunaan dimasa mendatang. Kecenderungan ini mendorong pemikiran akan perlunya suatu perencanaan atau penataan kembali penggunaan lahan agar lahan dapat dimanfaatkan secara efisien. Permasalahan dalam penggunaan lahan sifatnya umum diseluruh dunia, baik negara maju maupun negara sedang berkembang, terutama akan menonjol

bersamaan dengan terjadinya peningkatan jumlah penduduk dan proses industrialisasi. Penataan kembali pengl,,tmaajl lahan bagi daerah yang telah berpenduduk dan perencanaan penggunaan lahan bagi daerah yang belum berpenduduk, akan menyangkut berbagai permasalahan. Sandy (1980) dalam Soemarno (1996) mengemukakan sejumlah masalah pokok dalam usaha penataan penggunaan lahan dan lingkungan hidup antara lain : 1) adanya kontradiksi antara kebutuhan untuk menjadi pemakai yang lebih luas di satu pihak dan batasan-batasan bagi lingkungan hidup, 2) peningkatan keperluan hidup di pedesaan yang tidak disertai dengan kesempatan kerja 3) terjadinya kerusakan tanah karena kurangnya pemeliharaan sebagai akibat dari adanya jarak antara penggarap tanah dan pemilikan tanah. Selain hal-hal yang dikemukakan diatas, hal yang tidak kalah pentingnya adalah kurangnya informasi tentang potensi lahan, kesesuaian lahan dan tindakan pengelolaan yang diperlukan bagi setiap areal lahan, yang dijadikan pedoman dalam pemanfaatan. Untuk, dapat melakukan perencanaan secara meriyelurtili diperlukan i . nfonnasi faktor fisik lingkungan yang meliputi sifat dan potensi fahan, serta faktor sosial ekonomi masyarakat.

Keterangan in] dapat diperoleli melaltil keglatan SUrvel tanah yang dnkuti dengan evaluasi lahan. Tujuan survei tanah adalah mengkiasifikasi, menganalisis dan memetakan tanali dengan mengelompokkan tanah-tanali yang saina atau harnpir saina s1fatriya ke dalain satuan peta tanah tertentu. Sifat-sifat dari masing-inasing satitan peta secara slitigkat dicantuinkan dalam legenda, sedang uraian lebih detil dicanturnkan dalam laporati survei tanah yang selalu menyertai peta tanah tersebut. Disamping mengelompokkan tanall-tanah yang sama ke dalam satuan peta tanah terteritu, tugas survei tanah adalah menginterpretasi . kemampuan masing-masing satuan peta tanah tersebut Lintuk berbagai penggunaan. Dalam lial ini interpretas tidak hanya dodasarkan pada sifat-sifat tana, saja tetapi tiga faktor-faktor firigkungan yang inempengaruhi kemampuan lahan tersebut seperti Ingknngan yang ineinpenganihi kemampuan lahan tersebut seperti lereng, iklim, bahaya banjir daD erosi serta faktor-faktor ekonomi bila diperlukan. Tujuan dari evaltiasi lahan (land evaltiation atau land assessment) adalah menentukan n1lai suatu iahan untuk tujuan tertentu. Usaha ini dapat

dikatakan melakukan usaha klasifikasi teknis bagi Suatu daerah.

II.TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Konsep Lahan (Land) Lahan merupakan baglan dari bentang alam (Landscape) yang mencakup pengertian lingknngan fisik terinasuk iklim, topografi/rellef, hidrologi dan bahkan keadaan vegetasi alarni (natural vegetation) yang sernuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan (FAO, 1976). Lahan dalam pengertian yang lebili luas ten-nasuk yang telah dipengaruhi olleli berbagal aktifiltas flora, fauna dan baik dimasa lalu maupun masa sekarang. Dalam hal ini, perlu dimengerti perbedaan antara lahan dan tanah itu sendiri. Tanah (soil) merupak-an benda alam yang mempunyai slifat fisik, kimia dan biologi tertentu, berdimensi tiga dan merupakan bagian dari lapisan buini terluar. Sedangkan lahan (land) inencakup pengertian yang lebih luas, yaitu meliputi selurub kondisi lingkungan dimana tanah merupakan satu baglannya. Jadi lahan dapat mencakup berbagai jenis tanah. Lahan mempunyai peranan sangat penting bagi kehidupan manusia. Segala

macarn bentuk intervensi manusia secara siklis dan perinanen Utuk memenuhi kebutuban hidupnya, baik yang bersifat materni maupun spirituil yang berasal dari Jahan tercakup dalam pengertian pengg-unaan lahan atau landuse. Dengan peranan ganda tersebut, maka dalain upaya pengelolaannya, sering terjadi benturan. di antara sektor-sektor pembangunan yang memeriuk-an lahan. Fenomena seperti ini seringkah mengakibatkan periggunaan lahan kurang sesuai dengan kapabilitasnya. Dalam hubungannya, ada tiga faktor yang mempengaruh) nilai lahan, yaitu : 1) kualitas fisik lahan, 2) lokasi laban terhadap pasar hasil produksi dan pasar sarana produksi, dan 3) interaksi di antara keduanya. Dalam kegiatan survei dan surnberdaya alam, bagian lahan satu pemetaan

dengan lainnya dibedakan berdasakan perbedaan sifat-sifatnya yang terdiri dari iklim, landform (terinasuk litologi, topograf/relict), tanah dan hidrologi sehingga terbentuk satuan-satuan lahan. Pemisahan satuan lahan/tanah sangat penting untuk keperluan analisis dan interpretasi dalam menilai potensi atau

kesesuaian lahan bagi suatu fipe penggunaan lahan (Land Utilization Type). Konsep lahan adalah jauh lebih luas dari pengertian tanah atau lapangan. Adanya keragaman jenis tanah dan bentuk lallan scringkall menjacli penyebab utaina terjadinya perbedaaan antara satuan peta lahan disuatu N"'layah, sehingga satuan peta lahan sangat ditentukan oleh jenis tanall clan bentuk lahan clan faktor-faktor lainnya (misainya ikifin, vegetasi dan hidrologi) menjadi penduktingnya. Hal in] terjadi karena penentuan jenis tanah mnuinnya didasarkan pada proses pembentukan tanah yang telall mempertimbangkan dan mernasukkan faktor-faktor pendukung tadi. Olell sebab itu, hasil survei tanah sering menjadi landasan untuk mernbuat definisi satuan peta lahan. Naman demikian kesesualan tanah untuk- suatu penggunaan lahan tidak dapat ditaksir begitu saja tanpa memperhitungkan aspek-aspek lingkungan, selungga analisa kesesualan lahan tetap harus inenggunakan konsep lahan sebagal lanclasan untuk dinilai. Uptuk keperluan evaluasi lahan, sifat-sifat fisik IM'gkungan suatu wilayah dirincl ke dalam kualitas lahan (land qualities), dan setiap kualitas laban biasanya terdirl satu atau lebih karakteristik lahan

(land characteristics). Beberapa karakteristik lahan un-minnya mempunyai hubungan satu sama lainnya di dalarn pengertian kLialitas lalian dan berpengarub terhadap jenis penggunaan clan/atau pertumbuhan tanaman dan komoditas lainnya (peternakan, perikanan, keliutanan). Dalarn suatu sistem lahan terdapat beberapa komponen fisik yang mernpenganih) dan' keberadaan dan lahan tersebut, antara fain Topografi (relief), tanah, vegetasl dan hidrologi. : Mun, landfonn 2.2. Kualitas lahan (Land Quality) dan Karakteristik Lahan (Land Characteristics) a. Kualitas Lahan (Land Quality) Kualitas lahan merupakan sifat-sifat atau attribute yang kornpleks dari suatu lahan. Masing-masing kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) tertentu yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu (Djaenudin, et al., 1997). Kualitas lahan menipakan kumpulan atau gabungan beberapa sifat lahan yang

berpengaruh terhadap lahan apabila diterapkan. suatu tipe penggunaan lahan pada lahan tersebut. Kualitas lahan kemungkinan berperan positif atau negative terhadap penggunaan lahan tergantung dari sifat-sifatnya. Kualitas lahan yang berperan positif tentu yang sifatnya sangat menguntungkan bagi suatu penggunaan. Sebaliknya ktialitas lalian yang bersifat negatif karena keberadaannya. akan i-neruglkan terhadap penggunaan tertentu, b1sa merupakan factor pengliambat atau pernbatas. Ktialitas lahan menunjukkan keniarnpuan lahan untuk memenuhi persyaratan penggunaan lahan (PPL) bagi suatu tipe penggunaan lahan tertentu. Jadi setiap persyaratan penggunaan lahan dari suatu tipe penggLmaan lahan harus dibandingkan dengan kualitas lahan untuk menentukan kelas kesesuian lahannya. Kualitas lahan merupakan sifat lahan yang ditawarkan (supply) oleh suatu Jahan sedangk-an persyaratan penggunaan lahan merupakan permintaan (demand) dari suatu tipe penggunaan lahan. Menurut Beek (1978), kualitas lahan dibedakan menjadi beberapa factor yaitu ekologi, pengelolaan, konservasi dan perbalkan. Dalam evaltiasi lahan banyak sekall terdapat criteria kualitas lahan yang

dapat diuraikan pada setiap satuan lahan, namun dalain evaluasi lahan sebaiknya dipilih sauatu criteria kualitas lahan yang relevan yang sesual dengan tipe penggunaan lahan pada lahan tersebut. Menurut Widianto (1994), sebuah kualitas dikatakan relevap. terhadap penggunaan lahan bila dia berpengartili terhadap tingkat inasukan yang diperlukaD atau besarnya keuntungan yang akan dicapal atau berpengaruh.terhadap keduanya. b. Karakteristik Characteristics) Lahan (land

Karak-terisrik lahan/sifat lahan merupakan suatu s1fat dari lahan yang biasanya dapat diukur atau diestimasi termaSUk dengan penginderaan jaUh, sepert] lereng, tekstur tanah, curah hujan, kedalaman efektif, kapasitas air tersedia. Dalam pendekatan FAO, ni-lai karakterisA lahan biasanya dikombinasikan kedalarn tingkat kualitas lahan, Rossiter, 1997). Dalam Satuan Peta Lahan (SPL) yang dihasilkan inelaltil serangkalan kegiatan survey rnaupun pemetaan, karakteristik lahan dapat dirinci dan diuraikan yang mencakup keadaan fisik lingkungan dan tanalinya. Data yang dihasilkan digunakan untuk keperluan interpretasi dan evaluasi

lalian bagi kornoditas tertentu. Pada umumnya. pengaruh karakteristik lahan terhadap kesesuaian lahan adalah secara tidak langsung, yaitu melalul pengarldinya terhadap kualitas lahan. Hal ini karena satu karakteristik lahan dapat i-nempengaruhi beberapa kualitas lahan bahkan kadang-kadang pengaruhnya saling berlawanan. Menurut FAO (1976), karakteristik. lahan dapat langsung digunakan untuk menentukan kelas kesesualan lahan, tetapi umunmya akan lebfll jelas bila digunakan kLialitas lahan sebagai penghubung antara kualitas lahan dengan. kelas kesesuaian lahan. Hal ini karena kompleksitas rnasalah terbagi ke dalam satuan-satuan yang lebih mudah dikelola dank arena kualitas lahan sendiri dapat memberikan infon-nasi yang berguna bagi yang melakukan evaluasi laban. 2.3. Ti pe Peng-unaan Lahan (Land Udlizadon Type) Tipe penggunaan lahan adalah jenis penggunaan lahan yang dirmci sesuai dengan syarat-syarat teknis untuk daerah yang mempunyal s1fat-sifat fisik daD social ekonorru terteptit (FAO, 1976). Tipe penggunaan lahan merupakan

jems-jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebib detail karena menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Sifat-sifat peng1pinaan lahan mencakup data dan/atau asums) yang berkaitan dengan aspek hasil, orientasi pasar, intensitas modal, buruh, sumber tenaga, pengelahuan teknologi pengg-unaan lahan, kebutuhan infrastruktur, ukuran dan bentuk penguasaan lahan, pemilikan lahan dan tingkat pendapatan per unit produksi atau unit areal. Tipe penggunaan lahan rnenurut system dan modelnya clibeclakan atas 2 macani yaitu multiple dan compound. Ahdf~ple merupakan tipe penggunaan lahan yang tergolong multiple terdiri lebili dari satu jenis penggunaan (kornoditas) yang diusaliakan secara serentak- pada suatu areal yang sama dari sebidang lahan. Setiap penggunaan memerlukan masukan dan kebutuhan, serta memberikan hasfl tersendiri. ompound merupakan tipe penggunaan lahan lebih dari satu jenis penggunaan yang diusabakan pada areal-areal dari sebidang lahan yang untuk tujuan evaluasi diberlakukan sebagal unit ttmggal

(Djaenudin, et.al. 1997). Agar tipe penggunaan iahan yang diterapkan pada suatu lahan dapat berhasil dengan baik dan lestari, suatu lahan harus memiliki suatu pefsyaratan penggunaan lahan, persyaratan penggunaan lahan selalu dikaitkan dengan tipe penggunaan lahan sehingga dalam persyaratan penggunaan lahan disamping menyangkut persyaratan pertumbuhan tanaman (crop requirements.' juga menyangkut persyaratan pengelolaan (management requirement), persyaratan konservasi/lingkungan (conservafiowenvironmenial requirement) dan sebagainya. Persyaratan penggunaan lahan merupakan persyaratan yang diminta (demanc~ olch suatu tipe periggunaan lahan.

Tabel 1. Kualitas lahan dan Karaliteristik Lahan yang Digunakan dalam kriteria Evaluasi Lahan
Simbol Karakteristik Lahan Fc Temperature rerata e' Q / elevas i (m) Wa Curah hujan (mm) Kualitas lahan Temperature 1. Ketersedian air 1. 21. Lamanya masa kering (bulan) 3. Kelembaban udara Ketersedian oksigen 1. Drainase Media perakaran 1. 2. Tekstur 3, Bahan kasar (%) 4. Kedalaman tanah S. Ketebalan gambut 6. Kematangan gambut Retensi hara I ~ 2. Kejenuhan basa (%) 3, pH 11,0 4. C-organik (%) I Toksisitas 1. Aluminium 2. Salinitas/DHL (ds/m) SodisitaS 1. 1. Pyrit (bahan suffidik) Bahaya suffidik Bahava erosi 1.

Rc Drainase

Nr KTK hat (cmoi)

xc Xn Alkahnitas (%) x S Eh Lereng

21, Bahaya crosi Fh Bahaya banjir I Genangan I-P Penyiapan lahan 1. Batuan di permukaan 2. Singkapan batuan Sumber: Pusat Penelitian Tanah clan Agroklimat

2.4. Kesesuian Lahan (Land Suitability) Kesesualan Jahan adalah kecocokan suatu lahan untuk penggunaan tertentu, misalnva untuk inigas], pertanian tanarnan semusim atau tanarnan tabunan. Klasifikasi keSeSUIan lahan diliasilkan dengan membandingkan antara kualitas lahan dengan karakteristik lahan sebagai parameter dengan criteria kesesuaian laban yang telah d1susun berdasarkan persyaratan penggunaan atau persyaratan tumbuh tanaman yang dievalUas], Data kualitas laban clan karakteristik lahan sangat dibutuhkan dalam evaluasi lahan selain data persyaratan tunibuh tanatnan yang didapat dari serangkaian ksegiatan survey dan klasifikasi tanah. Dalain klasifikasi kesesuaian lalian terdapat empat katagori kesesualan lahan mulai dari yang paling tinggi sarnpai paling rendah. Sefiap katagori memeliki pengertian sendiri baik daiam hal klasifikasi maupun berkenaan dengan berbagai penggunaan ialian. Keempat katagori yang dimaksud adalah ; 1) tingkat ordo yang mencerminkan macam kesestialannya, 2) tingkat kelas yang mencerminkan tingkat kesestialannya didalam ordo, 3) tIngkat subkelas yang mencenninkan factor pembatas, atau macam perbaikan yang perlu didalam. kelas, dan 4) tingkat

unit yang mencen-ninkan perbedaaD kecil dalarn pengelolaan pada tingkat subkelas. Pada tingkat ordo meDggabarkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk suatu pengg-unaan lahan yang dipildi. Terdapat dua order yaitu sesuai (S) dan fidak sesuai (N). ordo sesuai (S) yaitu laban yang dapat digunakan secara lestari untuk suatu ttduan penggunaan tertentLI, tanpa atau dengan sedikit resiko kerusakan terhadap SUmberdaya alanuiya, ketintungan termasuk ineinuaskan setelah diperbitungkan masukan yang diberikan. Ordo t1dak sesual (N) yaitu lalian memeliki pembatas sedemikian rupa sehingga menceph penggunaanya untuk tujuan tertentu. Selanjutnya masing-masing ordo kesesuaian lahan di bedakan lagi menjadi beberapa kelas kesesuaian lalian. Untuk ordo sesuai (S), dibedakan menjadi kelas SI (sangat sesuai), S2 (cukup sesual) dan S3 (sesual marginal). Kelas SI menunjukkan lahan tidak mempunyal pembatas yang serius untuk penerapan penggunaan lahan secara lestari atau hanya mempunyal pembatas yang tidak berarti atau tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksinya dab fidak akan menaikkan masukan yang telah biasa d1berikan, kelas S2 mentinjukkan lahan mempunyal pembatas-pembatas yang agak serius untuk penerapan penggunaan lahan

secara lestari, pembatas dapat mengurangi produksi dan/atau keuntungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan, dan kelas S3 mentinjukkan lahan mempunyai pembatas-pembatas yang serius untuk penerapan penggunaan ialian secara lestari. Pembatas akan mengurangi produksi dan/atau keuntungan atau lebih meningkatkan masukan yang diperlukan. Untuk ordo Lsesualan lahan tidak sesuai (N), Was kesesuaian lahan dibedakan menjadi kelas Nl((Idak sesual pada saat in]), lahan mempunyal pembatas yang lebih serius, tetapi ada kemungkinan untuk diatasi, sehingga tidak memungkinkan (secara teknis atau ekonomis) penerapan pengpinaan lallan secara lestari. Pembatas fidak dapat diperbaiki dengan finegkat pengelolaan dan modal yang normal, dan kelas N2 (tidak sesuai selai-nanya/pen-nanent), lahan mempunyai, pembatas yang bersifat permanent, sehingga mencegah segala kenn.mgkinan penerapan penggunaan lahan secara lestarl (Widianto, 1994). Selanjutnya kesesuaian lahan dibedakan lagi menurut subkelas kesesuaian lallan berdasarkan ktialitas dan karakteristik lahan yang merupak-an factor pembatas terberat. Bergantung peranan faktor

pembatas pada masing-masing subkelas, kemungkinan. kelas kesesuaian lahan yang dihasilkan ini bisa diperbaiki dan ditingkatkan kelasnya sesuai dengan input atau masukan yang diperlukan (qjaenudin dkk, 1997). 2.5. Evaluasi Lahan Untuk Kehutanan Evaluasi lahan untuk kehutanan adalah pendekatan sistematik pada proses mencocokkan (fitting) kehutanan ke dalain peren.-anaan periggunpan lahan suatu negara atau wilayali tertentu (Van Goor, 1981). Kehutanan seperti haInya dengap. pertanian tadah hujan, pertaman beririgari atau padang rumput, merupakan pembagian utama penggunaan lahan pedesaan. Kehutanan merupakan alternatif penggunaan yang akan berkompotisi langsung dengan jenis penggunaan utarna lainnya pada tipe lahan tertentu (Dent, 1978). Akan tetapi kehutanan berbeda dari pertanian paling fidak dalam tiga hal berikut perlode daur yang panjang sehungga tintuk dapat bersifat ekonounis, biaya-biava

pengenibangan harus diusaliakan agar tetap rendah, 2) meliputi areal yang luas, sehingga teknik-teknik pengelolaan lahan yang inalial tidak digunakan, 3) produktivitas yang rendah sehingga kehutanan urnumnya dialokasikan pada tanahtanah marginal (Lee, 1981). Di dalarn evaluasi lahan untuk kehutanan perlu dibedakan antara hutan alami dan hutan buatan, karena ftmgsi hutan alarni pada dasarnya berbeda darl fttngsi hutan buatan (Bennema dan Van Goor, 1975). Beberapa fungsi yang menonjol dan hutan alarni adaiall : 1) untuk mengendalikan keadaan lingkungan dalam hubungan dengan erosi dan dalam hubung n dengan pengendalian pengaruh iklim dan banjir, (2) sebagai P sumber baban-baban produk ektraksi seperti kayu bakar, serat, buah, resin dan lain sebagainya, (3) sebagal cadarigan untuk Jahan yang dapat diolah atau untuk produksi kayu di masa mendatang, 4) untuk produksi kayu atas dasar produksA* yang lestari, 5) untuk keperluan rckreasi, perlindungan terhadap berbagai jenis flora dan fauna (Dent, 1978). Hutan buatan blasanya dittijukan untakkeperluan produksi kayu, tetapi dapat juga berfungsi untuk keperluan rekr(?asi atau untuk pengendalian

lingkungan. Oleh karena itu. biasanya spesies yang diusahakan adalah spesies yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup ting9l. N4eskipwi evaltiasi lahan untuk kehutanan pada prinsipnya sarna atau sejalan dengan evaluasi lahan untuk pertanian, akan tetap) terdapat beberapa perbedaanperbedaan penting diantara keduanya. Pada evaluasi lahan untuk kehutanan, perkiraan atau taksiran hasil lebib rnudah diukLir, dan satu perkiraan merupak-an penjumlahan beberapa tahun, sehingga meliputi pengarLih keragaman lklim. Selain itu, evaluasi ekonomis dari daur yang panjang, sifatnya sangat spekulatif karena tidak mingkin untuk niernprediksi harga kayu dalarn jangka waktu 50 atau 100 tabun. Berbagai pendekatan yang berbeda dalam evaluasi lahan untuk kehutanan telah dikembangkan, yang ineliputi pendekatan dengan menggunakan satu faktor (single factor) dan pendekatan dengan~ menggunakan faktor ganda (multiple factors) (Ross, 1984). Pendekatan dengan menggunakan satu faktor meliputi : 1) Yjasifikasi lokasi, merupakan hubungan antara. pertumbuhan polion atau tegak-an dan lokasi. 2). Klasifikasi medan (terrain),

memfokuskan pada hubungan antara operasi medan (terrain operations) dan kondisi untuk pemanenan. Untuk kehutanan, klasifikasi medan ini terutama rnenyangk-ut klasifikasi lahan hutan produktif dalam kaitannya dengan keteriaDgkatiall Lintuk pembalakan (Iogging-), untuk silvikultur dan kontruksi jalan (Berg, 1981). 3). Klasifikasi tanah, diniana sitat tanah nienentukan klasifikasi hutan. Doe klasifikasi ini kadang-kadang sangat mendetail, ada klasifikasi yang menaruh perhatian semata-mata hanya pada pernadatan tanali (soil compaction) dan pengarulinya pada pembalakan (logging) dan sifat-sifat pertumbuhan, sedangkan yang lainya inenaruh perhatian pada aai potensi tanah (McCormack, 1974). 4). Metode fislografik, dengan menggunakan faktor-faktor seperti iklim, bahan Hilduk, relief, sifat tanah dan regim air. Pendekatan faktor ganda meliput] : 1). Klasifikasi tanah-tanah hutan yang digunakan oleh Dinas Konservasi Tanah, Departemen Pertanian Amenika Serikat (Sol) Conservation Sevice USDA, 1978 dalam Ross, 1984). Sistern ini rnempertimbangkan produktivitas lokasi tertentu (klasifikasi lokasi), sifat-sifat pembatas tanah, dan sebagai pilihan faktor-faktor lokasi lainnya (pembatas pengelolaan), dan menilai

bonita tertentu. Survai tanah merupakan tulang punggung sistem klasifikasi in]. 2). Evaluasi penggunaan ganda (multiple evaluation) oleb Dilas Kehutanan Amerika Serikat (USDA, 1978 dalam Ross, 1984). DI Amerika Serikat belum ada sistem klasifikasi nasional untuk mengevaluasi lalian untuk kebutanan, Dalarn sistem evaluasi penggunaan ganda tersbut, lahan dievaluasi untuk berbagai penggunaan, termasuk kehutanan menurut prinsip-prinsip penggUDaan ganda dan hasil yang lestari (sustained yield). 3). Sistem klasifikasi lokasi terpadu (integrated site clas4ication systems). Dalarn hal im sistem vegetasi dan sistem fisiografi diperhitungkan. Sistem ini sering juga dikenal sebagai bertingkat ganda (multi-level), mengkornbiasikan pendekatan vegetasi dan medan (terrain) dengan delineast kondisi sernentara dan memasukkan penilaian produktivitas. Sistem ini merupakan yang terbaik dan sistern yang telah jauh berkembang untuk klasifikasi lokasi hutan (Kilian, 198 1 2.6. Bonita dan Tanaman Jati Bonita adalah kemampuan tempat turnbUh bagi sesuatU jents kayu dalain memberi hasil. Bonita tergantung pada tanah dan Mim dan ditentukan oleh

perkembangan jenis kayu bersangkutan yaitu oleh turnbuh meningginya. Penentuan bonita untuk beberapa jenis pohon di lingkungan kehutanan di Indonesia dilakukan dengan menggunakan ukuran yang disebut pefliggi yaitu tinggli rata-rata dari 10 pohon tertmiggi di dalarn satu tegakan seumur. Bonita tanaman jafi tidak berubah dalam jangka waktu sirigk-at, inemerlukart waktu yang cukup lama untuk perubahan bonita iati secara alarni, hal ini dapat dimengerti karena menurunnya kualitas tanah sejalan dengan bertanibalinya waktu. Jati (TeclonuiZrandis Lfl yang terkenal sebagai kayu komersil bermutu tinggi dan ten-nasuk dalarn famfli Verbenaceae. Penyebaran alami terclapat pada kisaran 1225" LU, meliput) Negara-negara India, Birma, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Di Indonesia Jati tersebar secara. luas di Pulau Jawa pada ketinggian 0-700 meter diatas permukaan laut. Selain di jawa, iati juga ditemukan di Muna, Buton, Maluku dan Nusa Tenggara (AtmOSUseno clan Du1jafar, 1996). Dijelaskan lebih lanjut baliwa polion J'atj cocok ttunbuh di claerah dengan musim kering agak parijang yaltu berkisar 3-6 bulan pertahun. Besarnya curall hujan yang dibutuhkan rata-rata 1250-1300 n-im/talitin dengan temperature rata-rata tahunan

22-26') C. claerah-daerah yang banyak ditumbuhi jatt umumnya bertekstur sedang dan dengan pH netral hingga asam. (Muladi dan Sunandar, 2001). Anonim (1976) rnei 'elaskan, bahwa Lmtuk mencegah serangan bubuk jati, diupayakan agar tidak menanain jatj di daerab-dacrah dimana ticlak ada perbedaan yang nyata antara. muslin kemarau clan hqjan dengan curah hujan > 2000 m/tahun clan lereng gunung Vulkanis. Kayu teras iati berwarna merah inuda, coklat kelabu sampai merah tua atau merah coklat. Kayu gubalnya berwarna putih atau kelabu kekun-ing-kunigan. Serat lurus atau kadang-kadang agak- terpadu. Tekstur kayu agak kasar dan ticlak merata dengan permukaan yang licin atau agak licin, kadang-kadang seperti berminyak, kaytinya berbau balian penyamak yang inuclah hilang. (Martawijaya dkk, 1981). Kualitas tempat tumbuh adalah ukuran tingkat kesuburan tanah yang berhubungan erat dengan produktiviras kayu yang dapat dihasilkan. Seclang yang dimaksud dengari bonita adalah ukuran yarig digunakan untuk inenflal kualitas tempat tumbuh. Penetapan rulai bonita sering diclasarkan pada hubungan. antara rata-rata peninggi dengan umur tegakan. Salah satu penentu kualitas kayu. jati

adalah tinggi tanaman iati, semakin tinggi tanaman jati semakin balk kualitas dari jafi tersebut. Sedang penilaian bonita melalui penilaian karakteristik lahan mungkin dapat dikernbangkan dan akan lebih bennanthat khusunya bagi kepentingan perencanaan pengenibailgan dan pengelolaan hutan jati. Tinggi pohon lebih mudah diukur, dengan. suatu persyaratan. tertentu, pertumbuhan ting i potion berkorelasi dengan peilumbiAian volLune. Penilaian bonita didasarkan atas finggi yang dicapai pada umur indeks tertentu (specific index age). Pembagian bonita didasarkan. atas peninggi tegakan-tegakan berurnur 80 tallun (peninggi int disebut indeks bonita). Untuk jati terdapat bonita, dengan tingkatan setengah kelas. Bonita 1-1,5, 5,5-6 berada pada batas observasi yang didapatkan dengan jalan ekstrapolasi. Untuk nilai bonita. di Batas Hutan mantup dan Batas Hutan Ngimbang pada batas Daerah aliran Waduk Gondang, terdapat n1lal bonita yang berkisar antara 2, 2,5, 3, dan 3,5. Penetapan bonita. mempergunakan Tabel Tegakan Tanaman Jati , karena penetapan bonita dari tegakan-tegakan yang i-nLida (sampal dengan 5 tahun) menurut tiDgginya kurang tepat, diperlukan perbandingan dengan bonita darl tegakan-tegakan yang lebih tua yang bedekatan. Mulai darl Llinur 6

tallun PCDinggi MerUj)akan petun. . A bonita yang lebih baik. Penetapan kualitas tempat tumbuli berdasarkan liubungan antara peninggi dan umur tegakan di lapangan memang sangat praktis tetapi mempunyai kelemalian, dimana penlIalan terlalu rendah bagi tegakan 'yang masili inuda dan seballknya penilalan tertalu tinggi untuk tanaman yang sudah tua. Menurut Colie (1952) pertwnbuhan tanaman jatl sangat dipengartilm oleh faktor lingkungan, salah satu faktor yang amat penting adalah kondisi tanah. Penelitian kLialitas tempat tumbuli berdasarkan s;.fat-sifat tanah yang lebib inemberikan keuntungan, karena penilaian kualitas tempat tumbull ini tidak perlu harLIS menunggu adanya tegakan. Sedang dalam perencanaan pengembangan hutan jati penflalan kuahtas tempat tumbifli sebeluin hutan tersebut digminakan sangat perlu.

Graft 1. Nilal Bonita Berdasarkan Umur Tanaman dan Tinggi Tegakan Tinggi tegakan (meter)

Umur tanaman (tahun) Sumber: Wolff von Wulfing (1938) Semua hutan tanaman. jati dipisahkan kedalam 12 kelas urnur. Masig-masmg meliputi 10 tahun, sehingga hutan-hutan yang pada permulaan jangka perusahaan benimur I sampai 10 tahun, dimasukkan

kedalam klas umur 1, hutan-hutan yang berumur I I sampai dengan 20 tahun tergolong kedalam klas umur ke 11 dan seterusnya.

Pengukuran tinggi tanaman jati yang dilakukan oleh Perhutani dengan menggunakan alat Hagameter, prinsip kerja alat ini hampir saina dengan klinometer namun angka yang tertera dalam satuan uneter, Tabel 2. Nilai Bonita Berdasarkan Umur Tanaman clan Tinggi Tegakan Tanaman Jati
Bonita 5 15 1 2 1 4,9- 8,7- 10,55,9 1 10,4 12,6 1,5 1 5,9- 10,4- 12,66,9 12,2 1 14,7 2 6,9- 12,2- 14,77,9 13.9 16,9 2,5 7,9- 13,9- 16,98,8 15,6 19,0 3 8,8- 15,6- 19,0Urnui- Tanaman / Tegskan (tahun) 35 11,714,0 14,016,4 16,418,7 45 1.1,615,1 15,117,6 17,620,2 55 65 13,4- 14,115j 16,1 16,1- 16,918,7 19,7 18,7- 19,721,4 22,5 75 14,717,7 17,720,6 20,623,5 85 15,318,3 18,321,4 21,424,4 95 15,818,9 18,922,1 22,125,2 25,228,5 28,5105 16,219,5 19,522,7 22,726,0 26,029,3 29,3-

21,4- 22,523,5- 24,424,1 25,3 26,5 27,5 24,1- 1 25,3 - 26,5- 1) 27,59,8 17A 21,2 23,4 25,2 26,8 28,2 29,4 30,6 3,5 9,8- 17,4- 21,223,4- 25,--- 26, 8 - 28,2- 29,4- 30,610,8 1 (), 1 23,2 25,8 27,8 29,4 31,0 32,4 33,6 t Sumber: Wolf von WulfmL~ PERH JAKARTA). (PERUM UTAN I Keterangan : Tinggi tanaman / tegakan dalam meter.

1817- 20,221,1 22,7 - 122,7-

31,6 32,5 31,6- 32,534,8 35,8

Penelitian Siswanto (1992), presentase lereng menunjukkan hubungan yang sangat nyata dengan nilai bonita tanaman jati. Kondisi ini memberikan petunjuk bahwa ada kecenderungan tumbuh lebih baik pada kondisi lahan yang clatar clibanding dengan apabila tumbuh pada kondisi lahan yang miring. Pada daerah yang datar soltun tanahnya masih dalain, seclang pada daerah yang berlereng solum tanahnya agak dangkal. Hal in] diclugadidtiga sangat berhubungan erat dengan knalitas tuinbuh. Pada tanah yang bersolum dalam, kualitas tumbuh (kesuburan) tanah relative lebih baik disbanding dengan lahan yang miring.
Tabel 3. Hubungan Bonita dengan Diameter Was bidang dasar tanaman jati Bonita
25 5 26,328,3 1,5 28,331,0 [2 31,034,7 ~2,5 34,739,8 3 39,8--r3,127,9 1 4,0 30,1 30,1 4,4 32,9 32,9 5,0 36,8 36,8 5,7 42,2 42,2 7,98,5 4,08,59,3 4,49,310,4 5,010,411,9 5,711,911,011,8 11,812,9 12,914,5 14,516,6 16,6-

Urnur Tanaman / Tegakan (tahun)


35 13,714,8 14.816,2 16,218,1 18,120,7 45 16,317,5 17,519,2 19,221,5 21,524,6 55 18,620,0 20,021,9 21,924,5 24,528,1 28,165 75 1 20,7- 22,7212,3 22,324,4 24,427,4 27,41 31,4 31,424,5 24,526,8 26,830,0 30,034,4 34,485 95 105 24,626,5 26,529,0 29,032,4 32~437,2 37,2-

20 ' 7- 24,6-

46,5 3,5 46,553,3

6,6 49,3 49,3 56,6 15,9 6,6-

13,9 13,9-

19,4 19,422,2

24,3 24,327,8

28,7 28,733,0

32,9 32,937,7

36,6 36,642,0

40,2 40,246,1

43,4 3,349,8

Sumber: Wolf von Wulfing (PERUM PERITUTANI JAKARTA). Keterangan : Tinggi tanaman / tegakan dalam meter.

Dari grafik dapat dijelaskan bahwa bonita I pada umur 5 tahun i-nempunyal k1saran peninggi antara 4,9 m -5,9 in, pada UMUr 15 tabun memptinyal kisaran peninggi 8,7 m - 10,4 m, pada umur 25 tahun mernpuriyal kisaran peninggi 10,5 in -12,6 m dan seterusnya yang dapat dilihat pada Tabel 2. Dart Tabel 2 dan Tabel 3 dapat dillhat hubungan yang positif antara peninggi tanamati jati dengari diameter tatiamana jati, semakin besar nilai bonita, semakin tinggi tegakan Jan dan semakin besar di arneter tanai-nan jati dengan bertambahnya umur tanaman.

III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian int mengambil tempat di Daerah Ahran Waduk (DAW) Gondang, Pada dua batas hutan yaltu Batas Hutan MaDtup clan Batas Hutan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan mulai Bulan November 2002 sampai April 2003. 3.2. Tahapan Penefitian Dalarn rnelaksanak-an penelitian ini dilakukan serangkaian tahapan-tahapan penelitlan yang berurutan sebagal berik-ut : 1) tahapan perslapan, 2) tahapan Pra survel, 3) tahapan survei Utarna, 4) tahapan analisa laboratorium, 5) tahapan analisa data, dan 6) tahapan peinbuatan laporan. 3.2.1. Tahapan Persiapan Tahapan int rneliputi : a) Studi pustaka yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, b) Pengumptdan data sektinder yang diperoleh clari kantor Perhutani, Malang berupa data bonita dan

ikilm. Peta-peta penunjang seperti peta topografi, peta jenis tanah, peta geologi, peta landuse (peng&,Linaan lahan), peta administrasi daerah penelitian, peta Batas Hutan Mantup dan Nglinbang, yang diperolch dari kantor Perhutani, Malang clan Laboratorium Penginderaan Jauh dan Pemetaan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. c) Interpretasi f6to udara dan pembuatan Satuan Peta Lahan (SPL). Pembuatan Satuan Peta Lahan (SPL) ditentukan dengan inenggunakan peta. kcias kelerengan skala I ~ 25.000, peta bonita skala I : 25.000 dan peta geologi skala I : 100.000 yang telah diperbesar menjadi skala I : 25.000. Kelas kelerengan yang dijumpai di Daerah Aliran Waduk Gondang yaitu kelas kelerengan 1 (0-3%),Il (3-8%),Ill (8-15%) dan IV (15-30%), nilai bonita yang dijumpai di daerah penelitian yaitu bonita 2, 2,5, dan 3, sedangkan pada peta geologi hanya dijumpai formasi geologi dengan simbul TmI yaitu formasi ledok, napal bersifat batu lempung, batu pasir dan batu gamping. Napal putih kekuningan sampai kelabu kekuningan, pejal, agak padat. Batu lempung, kelabu kehijauan, pejal, agak padat, dijumpai oksida besi yang mengisi rekahan tebalnya perlapisap kurang lebih 4 meter. Batu pasir, coklat kehijauan, agak padat berbutir halus-sedang,

terpilah baik, membundar sampai inembundar tauggung, semennya karboriat. Komponennya terdiri darl kuarsa glaukomt, plagloklas, piroksen, herenblenda dan zeolit. Batt) gamping putih kekujilngan, padat perlapisan agak baik, bersudut kemiringan 14" - 400 dengan arah jUrus timur barat. Sebelum menentukan Satuan Peta Lahan terlebfli dahulu dilakukan scanning daerah penelitian yaitu melakukan pengecekan melalui pengeboran tanah LintLik menentakan bahan induk yang sama pada tiap bonita sebagal titik pengamatan, Nainuu apabila dalain pengecekan lapajig dijumpal bahwa bouita tanamau J'atl dipengarulil oleil balian induk inaka penentuan Satuan Peta Lallall ditentLikan berdasarkan i-nasilig-i-nasing balian induknya. d) Mengurus per~jljian penelitian ke PT. PERHUTANI 11 Surabaya dan PT PERFfUTANI KPH Mojekerto dan menyusun jadwal pelaksanaan penelitian, serta i-nenyiapkan alat dan bahan yang dibutulikan untuk penelitian. 3.2.2. Tahapan Pra survei Pada tahapan in] dilakukan perbandingan peta liasil interpretas) dengan keadaan sebenarnya dilapangan dan dilakukan pengecekan batas-batas

pada peta hasil interpretasi. Perbandingan peta juga dilakukan dengan peta yang dimillki oleh staf Perhutani di daerah penelifian (Asisten Perliulam Lawangan Agung), dari perbandigan ini dapat ditentukan titik-titik yang akan diamati sebagal tittik pengamatan. Pada tahapan mil dilakukan scanning lahan yaitu melakukan pengecekan lahan dengan melakukan beberapa pengeboran pada daerah yang dicurigai mempunyai bahan induk yang sama pada masing-masing bonita yang akall digunakan sebagal titik penganiatan dilapang, dan selanjutnya dibuat peta observasi di lapang. Dari hasil survei dan pengeboran ditetapkan bahwa pengambilan sample tanah dilakukan pada bahan induk tanah yang berasal dari batuan kapur. Untuk jenis tanah, dari peta tinjau skala I : -4150.000 dan hasil pengamatan dilapangan, jenis tanah Yang terdapat didaerah penelitlan yaitti jenis tanah Grumosol (vertisol) dan Mediteran (alfisol) Yang berasa) darl balian induk batu kapur. Dan' hasil pengeboran juga duketabui baliwa kedalman perakaran tergolong rendab tmttik tanainan jati di daerah penelitian yaltu diantara 50 cm - 80 cm. 3.2.3. Tahapan Survei Utama

Beberapa keglatan yang dilakukan dalam stirvei utwna yajtu : a) mengadakan pengamatan tanah dan fislk lingknjigan melaitti pembuatan minipit pada masingmasing Satuan Peta Lahan (SPL), pembuatan profil dan minipit ditakukan setelah ditentukan titik pengarnatan di lapang. b) Mengambil contoh tanab untuk dilakukan anallsa laboratoritim pada kedalaman 0-20 cm untuk analisa C-organik tanah dan pengarnbilan tanah secara komposit yaitu dengan mencampur tanah dari berbagai kedalaman sampai pada batas dijumpai bahan induk tanah. Analisa Yang dflakukan bertipa anallsa fisika dan ki.,-nia yaltu tekstur tanah, pH (H20 dan KCI), C-organik, unsur liara inakro N, P, K, balian organik, jumlah basa-basa (K, Na, Ca dan Mg) serta penetapan KTK. c) Pengarnatan kedaiaman perakaran efektif tanaman iati dari pen-DLikaan tanah sampai pada batas aklnr d~jtimpai akar. d) Pengamatan drainase tanah di lapang dengan cara pengarnatan wama tanah dan karatan tanall Yang dijuinpal. e) Pengainatan kenllr~igwi dan ketinggian lahan dengan menggunakan clinometer dan altimeter, dan dilakukan pengamatan batuan pennukaan dan singkapan batuan dilapangan.

3.2.4. Tahapan Analisa Laboratorium Analisa laboratoritini di'lakukan di Laboratorium Fisika dan Kin~a Jurusan Tanah, Fakultas Pertanlan, Unliversitas Brawijaya. Adaptin analisa laboratorium yang dilakukan meliputl : a) anallsa sifat klmia tanali dan b) analisa sifat fisika tanah. a. Analisa sifat kirpla tanah melipub ; 1. Penetapan pH tanah (H20) dengan pH meter mengg-unakan gelas elektrode. 2. Penetapan C-organik dengan Metode Wakley dan Black, yajitu larutan asarn dikromat dititrasi dengan FeS04. 3. Penetapan N-total dengan metode Kjeldahl dnkuti dengan anu-nonium dan titrasi amonia dengan asam belerang. 4. Penetapan P-tersedia dengan metode Olsen. 5. Penetapan K-tersedia der.gan Flame f6tometer, dan 6. Penetapan KTK dan basa-basa dapat dipertukarkan dengan ammonium asetat pada pH 7. b. Analisis sifat fisika tanah meliputi

Penetapan presentase pasir, debu, dan liat (tekstur tanah) dengan menggunakan metode pipet. 3.2.5. Tahapan analisis data Pada tahapan 1DI dilakukan pencocokan (matching) data antara data hasil anallsa laboratorium dari masing-masing Satuan Peta Lahan(SPL) dengan data crop requirment tanamar jati, sehingga didapatkan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman iati pada masing-masing Satuan Peta Lahan (SPL) dan untuk mengetalm hubungan anatara karakteristik lahan dengan n1lal bonita dilakukan pendekatan analisa statishk dengan program SPSS.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1976. Vadernecum. Kehutanan Indonesia . Depertamen Peilanian. Direktorat Jenderal Kehutanan. Jakarta, Armosuseno, B, dan Du1jafar, K. 1996. Kayu Komersial. PT. Penebar Swadaya. Jakarta. Beek, K.J. 1978. Land Evaluation for auicultural Development. Publication No. 23. 1 Internatinal Institute for Land Reclamation and Improvement. (ILRI). Wagenu'igen. 333 pp. Bennema and Van Goor, C.P. 1975. Physical Land Evaluation for Forestry.W)d. Soil Resour. Rep. 45: 103-117. Bennema, J., Galens, HY and Laban, P. 198 1. Prinsiples, Basic Concepts and Procedure in Land Evaluation, Considered from A Forestry angle. Proceedings Of the Workshop on land Evaluation for Forestry. ILRI Publication No. 28.

Wageningen, The Netherlands. pp. 181-202. Berg , ~sL in the Nordic Countrie S. 1981. Terrain Classification Systems for Fort ry Proceedings of the Workshop on Land Evaluation for Forestry. ILRI Publication No. 28, Wageningen. The Netherlards, pp. 152-166. Colle, T.S. 1946.. Relation of Soil Ch.aracteristic to site Index Lower Re6n~on. of North Carolina Duke. Univ. scool For Bull. 13. Djaenudin, et al. 1994. Kesesualan Lahan uptuk Tanaman Pertaman dan Tanaman Kehutanan. Laporan Teknis No. 7. Versi 1.0. Centre for soil and Agroclimate lZesearch. Bogor. Djaenudin, et al. 1997. 1997. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian tanah dan agroklitnat. Bogor. Dent, F.J. 1978. Data Requirments for Land Use Planning with Emphasis on Requi ments for Land evaluation Studies. SIDA/FA0 seminar

on Forest Resource appraisal in Forestry and landuse Planning. New Delhi-Dehra Dun. FAO. 1976. Framework for Land evaluation. Soils Butl No. 32. FAO. Rome. Kilian, W. 198 1. Site Classification System Used in Forestry. Proceedings of the Worksltop on Land Evaluation for Forestry. ILRI Publication No. 28. Wageningen. The Netherlands pp. 134-15 1. Lee Peng Choong. 198 1. Land Evaluation Relative to FoEtat[y. Technical Note No. 13 Ministry of Agniculture Government of Indonesia/ UNDP and FAO. Land Resources Evaluation with Emphasis on Outer Island Project (AGOF/ INS/ 78/ 006). Certre for Soil Research. Bogor. 34 pp. MartawiJaya, A. Kartasiliana, K., Kadir, dan Pra %"*ra, S.A. 1981. Aflas Kut Indonesia 1. Jakarta,

McCon-nack, D.E. 1974.. Soil Potensials: A Positive Approach to urban Planning. J. Soil Water conservation 26(6) : 258-262. Muladl, S. dan Sunandar, A. 200 1. Tananian Jah Lokal di Teluk Dalain Seluas 25 Ha Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Samarinda. Ross, M.S. 1984. Forest1y in Landuse Policy for Indonesia. Ph. D Thesis. Green College University of oxford. 266 pp. Rossiter, D.G, Van Wambeke, A.R. 1997. Automated Land evaluation system. ALES Version 4.65 User manual. Cornell University, Departement of Soil, Crop and Atmospheric Sciences. Ithaca, NY USA. Van Goor, C.P. 1981. Welcome address and introductio . Proceedings of the Workshop on Land Evaluation for forestry. ILRI Publication No. 28. Weg-wning-wn. The Netheriauds. pp. 17-19.

Von Wulfing, W. 1938. Tabel Tegakan Tanaman iati. Perum Perhutani Jakarta. Bogor. Soemarno. 1996. Sistcin Pengelolaan SUrnberdaya Lahan. Universitas Brawijaya. Malang. Siswanto, B. 1997. Hubungan Beberal2a Karakteristik Lahan dengan Bonita Tanaman Jati. Habitat. Vol. 8. No. 99.