Anda di halaman 1dari 19

Perencanaan Pemanenan Kayu

Kegiatan pemanenan dimaksudkan untuk memanfaatkan hutan produksi dan dilaksanakan dengan memperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan sosial dengan tujuan untuk mengoptimalkan nilai hutan, menjaga pasokan untuk industri stabil, dan meningkatkan peluang kerja, meningkatkan ekonomi local dan regional. Menurut Brown 1958 yang perlu dilakukan dalam perencanaan adalah pembangunan jaringan angkutan, kebijakan financial, dan kemudian menetapkan biaya financial. Namun menurut Wackerman 1966 agar tenaga kerja menjadi perhatian jika wilayah jauh. Staaf dan Wiksten 1984 menyebutkan bahwa perencanan pemanenan adalah keputusaan untuk menetapkan seperangkat kegiatan yang akan dilakukan pada masa datang, sedangkan Conway 1982 menuliskan perencanaan pemanenan adlah tindakan yang perlu dilakukan di masa datang yang diatur berdasarkan tahapan pemanenan yang paling efisien dengan teknologi yang telah ditentukan dan dilaksanakan pada saat yang ditetapkan untuk mengeluarkan kayu dari hutan. Dengan adanya rencana maka kegiatan dapat teratur dan hasil dapat diukur, teratur artinya tahapan kegiatan harmonis dan saling mendukung, sedangkan terukur merupakan tiap tahap dapat dinilai keberhasilannya.menurut Conway 1982 dibuat rencana pemanenan karena akan dapat merekatkan semua tahapan kegiatan pemanenan,atau mengintegrasikan semua kegiatan pemanenan secara utuh.selain itu untuk mengidentifikasi kendala dan hambatan yang kelak terjadi dengan tidak mengavaikan keterlibatan aspek social. Bentuk bentuk rencana Berdasarkan waktunya rencana terbagi atas : 1. 2. 3. Jangka panjang 15-20 tahun Jangka menengah 5-10 tahun Jangka pendek 1 tahun

Berdasarkan substansinya terbagi atas : 1. 2. 3. Rencana umum Rencana pemanenan Rencana operasional

Berdasarkan peruntukannya meliputi: 1. Rencana untuk tingkat pimpinn tertinggi manajemen

Berisi tentang :

keadaan nilai tegakan Pemilihan alat dan perlngkapan pemanenan Seleksi tenaga kerja Biaya pemanenan Rencana untuk tingkat manajeman menengah

2.

Meliputi :

pengokoordinasian pelaksanana pemanenan Tata waktu produksi Anggaran belanja dan penerimaan Rencana untuk tingkat manajemen bawah

3.

Meliputi : target dan tata waktu tiap tahap kegiatan pemanenan, jenis perlengkapan yang diperlukan serta tenaga yang akan digunakan Isi rencana memuat tentang tujuan yang ingin dicapai, prinsip- prinsip dalam pemanenan, selain itu juga perlu kebijakan kemudian dicantumkan program pemanenan. Hal yang perlu dimuat dalam rumusan tujuan adalah barang dan jasa apa yang diharapkan akan dihasilkan dan kondisi harus terjadi setelah pemanenan. Yang diukur dengan aspek fisik, ekonomi, sosial dan lingkungan. Beberapa rumusan tujuan perusahaan yakni mencapai tingkat penghasilan dan keuntungan usaha yang optimal, mencapai pendapatan dan laba kegiatan pengusahaan hutan, meningkatkan kelestarian dan produktivitas sumber daya hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Menurut Drucker 1978 mengingatkan bahwa tujuan perusahaan jangan mencari laba namun mencari pelanggan. Lima prinsip dalam penyelenggaraan pemanenan menurut Abidin 1995, yakni : 1. 2. 3. 4. 5. Kepastian ditaatinya jatah tebang lestari Kepastian pulihnya hutan secara alam Kepastian tercapainya keanekaragaman hayati Kepastian terpeliharanya kualitas air, tanah dan udara Kepastian terpeliharanya perikehidupan dan budaya masyarakat sekitar

Kebijakan dalam penyelenggaraan pemanenan adalah dengan mempertimbangkan harapan dan kebutuhan para pemangku kepentingan serta dengan memperhatikan tolak ukur keberhasilan yang perlu di tetapkan. Pihak pihak yang berkepentingan dalam pemanenan antara lain : pemilik atau pengelola industry hasil hutan,aparat pemerintah, pengamat dan pemerhati lingkungan, LSM, kelompok lainnya yang berkepentingan.

Ukuran keberhasilan dlam pemanenan diukur dengan factor eksploitasi (fe). Makin besar nilai fem aka semakin kecil limbah yang dihasilkan. Aktifitas kegiatan yang biasanya menghasilkan limbah menurut Abidin 1994 yakni penebangan dan pembagian batang, penyaradan dan pengangkutan.cara mengukur efektivitas kegiatan penebangan yakni : Indeks tebang (It) =vol. batang siap sarad/vol. pohon berdiri asal Indeks sarad (Is) = vol. batang siap angkut/ vol. pohon sarad Indeks angkut =vol. batang sampai TPK/ vol. pohon di TPn atau siap angkut. Perencanaan target produksi Yang perlu ditetapkan adalah luas dan lokasi areal, selanjutnya dilakukan pengukuran potensi hutan. Selain itu perlu adanya penetapan areal kerja karena tidak semua kawasan dapat dipanen, dasar pemanenan kawasan lindung tercantum dalam UU no.24 tahun 1992 tentang penataan ruang. Kawasan panen dikelompokkan menjadi blok tebang lima tahunan (RKL) dan blok tebang tahunan (RKT) Namun, ketentuan yang sekarang berlaku areal kerja dikelompokkan menjadi enam sampai tujah blok RKL, dan tiap RKL terdiri dari lima RKT, tiap RKT dibagi kembali menjadi berdasarkan petak homogin yang terdiri dari areal seluas 50-150 ha,(rata-rata 100 ha), tiap 100 ha tersebut dapat dibagi beberapa setting tebang, tiap setting tebang terdiri dari areal seluas 15-25 ha dengan satu TPn, atau satu macam teknik penyaradan. Lama waktu panen untuk menyelesaikan 100 ha diperkirakan satu bulan. Dalam setahun luas panen mencapai 1000-1200 ha, dengan rata-rata volume 60-80000 m3. Data yang diperlukan dalam pemanenan adalah data potensi dan kondisi kawasan hutan, serta data kondisi masyarakat sekitar. Data potensi hutan digunakan untuk menentukan apa yang mungkin dapat dimanfaatkan dari suatu kawasan hutan secara berkesinambungan.untuk data kondisi kawasan hutan dapat digunakan untuk menentukan tekik yang akan digunakan dan upaya perlindungan yang yang perlu dikembangkan. Sedangkan data kondisi masyarakat sekitar hutan dugunakan untuk menyusun rencana partisipasi dan dukungan masyarakat atas kegiatan pemannan hutan berlangsung. Hutan akan bernilai tinggi bila mempunyai jumlah produksi yang dihasilkan oleh hutan itu tingi dan mutu hasil kayu juga tinggiserta tegakan sisa yang ditinggalkan bernilai tinggi pula. Sedangkan kelestarian hutan terjadi bila kayu yang dihasilkan setiap periode sama dengan kemampuan hutan tersebut untuk pulih kembali atau dengan kata lain jumlah panen sebanding dengan banyak riapnya. Penyaradan

Pengangkutan kayu menurut Brown 1958 terdiri dari dua kegiatan yakni pengangkutan minor : memindahkan kayu dari tunggaknya ke TPn dan mayor (jauh) : memindahkan kayu dari TPn ke TPK.pengangkutan merupakan kegiatan strategis yang membutuhkan porsi biaya yang lebih dari 70%-75% dari biaya total. Yang dibutuhkan dalam penyaradan adalah peta berskala 1:10000 atau 1:5000 yang memuat data sungai dan data letak pohon. Pengangkutan Data-data yang diperlukan adalah informasi kayu dan jumlah kayu yang akan diangkut, jumlah yang perlu diangkut per satuan waktu. Rencana pengangkutan dibuat pada peta berskala 1:25000 atau 1:10000. Pemanenan hutan jati Sejarah hutan jati di pulau jawa, tahapan pemanenan hutan jati, jenis sortimen kayu jati, dan administrasi hutan jati. Sejarah kayu jati dimulai dari para raja-raja di pulau jawa. Kayu jati diperkenalkan dari india oleh raja raja majapahit lebih dari 1000 tahun yang lalu.pengelolaan hutan jati secara sistematis dimulai semenjak masa kolonialisme belanda di Indonesia, yaitu pada tahun 1874. System yang digunakan adalah system tumpangsari. Beberapa keistimewaan kayu jati diantaranya kayu jati memiliki kombinasi sifat sifat kayu yang ideal, seperti kekuatan, keawetan, dan keindahan. Kandungan zat ekstraktif (tectoquinon) yang menyebabkan tahan rayap. Adanya lingkaran tahun yang jelas menyebabkan memiliki penampang yang indah pada sisi transversalnya.peredaan warna yang jelas antara masa pertumbuhan dan masa dormansi,memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan hutan jati tumbuh di tengah-tengah penduduk padat dan miskin. Hutan jati memiliki satatus yang khusus, hutan ini dikelola oleh perum perhutani. Perusahaan ini dulu nya emiliki 5 buah, 2 di Jawa dan 3 di luar jawa. Selanjutnya hutan jati diluar jawa di kelola oleh INHUTANI, sedangkan yang berada si jawa di kelola oleh PERHUTANI. Perum perhutani yang berada di jawa memiliki tiga unit diantaranya unit 1 di jawa tengah, unit 2 di jawa timur, unit 3 di jawa barat dan banten Berdasarkan system silvikulturnya, pemanenan hutan jati menggunakan system tebang pilih permudaan buatan.dilihat dari derajat mekanisasinya, system pemanenan yang diterapkan terdiri dari system manual dan system semi mekanis. Sembilan tahapan pemanenan hutan jati yakni : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Persiapan pemanenan Klem dan penandaan pohon Teresan Perencanaan jalan sarad Penebangan Pembagian batang Penyaradan Pemuatan Pengangkutan

Tahap persiapan meliputi pembagian blok tebang, penentuan luas, dan jumlah blok tebang. Tujuan pembagian blok tebang adalah untuk memudahkan pengawasan pemanenan hutan. Setelah perencanaan pemanenan ini maka selanjutnya pengukuran diameter yang dimasukkan ke dalam daftar hasil pengukuran diameter yang disebut klemstaat. Hasil pengukuran dituliskan di dua tempat yakni pada ketinggian sekitar 1,3 (dbh) dan di bagian bawah pohon (banir). Tahap ke tiga yakni teresan yaitu, penoresan melingkar pohon sampai pada kambium. Tujuan adanya teresan adalah untuk mempermudah pekerjaan penebangan, penyaradan dan pengangkutan, dan menjaga kualitas kayu yang akan di tebang. Teresan dilakukan dua tahun sebelum penebanganpohon.ketentuan teresan yang benar adalah takik teres setinggi tingginya 25 cm dari permukaan tanah dan kedalaman sayatan harus memotong kambium. Sisi negative teresan adalah bahwa dengan teresan kayu cenderung mudah retah/retak waktu tumbang dan selama teresan lahan tidak produktif. Untuk meningkatkan produktivitas lahan teresan maka dibangun system tumpang sari, oleh masyarakat menanam padi gogo. Peralatan pemanenan Patokan penentuan panjang gergaji tangan untuk penebangan hutan jati adalah : 1. Diameter pohon < 100 cm, maka panjang gergaji= 100 cm + diameter 2. Diameter pohon > 100 cm, maka panjang gargaji minimal dua kali diameter pohon. Perlengkapan utama penebangan jati lainnaya adalah kapak, yang biasaa digunakan membuat takik rebah, pengeprasan banir dan memangkas cabang. Berat kepala kapak yang digunakan dapat dikelompokkan ke dalam tiga ukuran, yaitu : 1. Berat, jika berat mata kapak :> 1400 gram 2. Sedang, jika berat mata kapak 1200 gr 1400 gr 3. Ringan, jika berat mata kapak <1200 gr Sedangkan alat bantu yang biasa digunakan adalah baji, baji digunakan untuk membantu memastikan arah rebah pohon, dan mencegah gergaji agar tidak terjepit pada waktu pemotongan pohon. Pengamanan kayu jati dapat dilakukan dengan tiga macam cara yaitu : 1. Pengamanan administrasi : pengamanan secara preventif dengan melihat dan mengukur kecukupan administrasi tebangan jati yang dipersyaratkan. 2. Pengamanan teknis : pengamanan terhadap aspek pelaksanana penebangan 3. Pengamanan polisioni : pengamanan dengan adanya petugas kehutanan Pengukuran waktu kerja dan produktivitas Produktivitas sebagai perbandingan atau rasio antara output dengan input. Dalam ilmu ekonomi, produktivitas merupakan nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output)dan segala pengorbanan(biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut(input). Banyak istilah produktivitas,namun yang paling sesuai untuk produktivitas adalah produktivitas tenaga kerja karena tenaga kerja memerlukan pengorbanan (biaya) terbesar dalam suatu

proses produksi barang dan jasa serta perhitungan produktivitas dengan tenaga kerja sebagai input lebih mudah di hitung dari pada perhitungan input lainnya seperti misalnya modal.produktivitas akan meningkat bila :

Volume produksi bertambah besar tanpa mengubah sumber daya atau berkurang Volume tetap namun jumlah sumber daya berkurang Volume sumber daya bertambah tapi, volume produksi berlipat ganda

Kussriyanto 1993 mengatakan bahwa mempertinggi tingkat produktivitas tenaga kerja dapat dilakukan dengan empat hal yakni :

Menghilangkan praktek kerja tidak produktif Menyempurnakan metode kerja Menyempurnakan manajemen personalia Mengganti tenaga manusia dengan mesin / mekanisasi

Dalam kenyataanya tidak semua aspek dapat dilaksanakan karena peningkatan produktivitas kerja merupakan system yang kompleks, yang juga harus mempertimbangkan aspek sosial. Factor yang berperan dalam produktivitas kerja pada dasarnya dapat digolongkan menjadi duafaktor :

Factor tetap (given factors) :factor yang tidak bisa diubah lagi contoh : iklim, Factor variable (variable factors) : factor yang dapat diubah, contoh : alat yang digunakan.

Sastrowinoto 1985 beberapa wahana meningkatkan produktivitas diantaranya : 1. Studi kerja yang terdiri atas : telaah metode, pengukuran kerja untuk mengetahui kecepatan kerja, sampel kegiatan, 2. Keselamatan kerja untuk meneliti situasi kerja 3. Kesehatan kerja memeliti kondisi kerja 4. Keamanan lingkungan kerja untuk meneliti dan memperbaiki segenap saran 5. Ergonomi yang merupakan kajian tentang hubungan antara manusia dengan lingkungan kerjanya Mengingat pentingnya produktivitas tenaga kerja maka ILO 1983, penelitian kerja terdiri dari dua teknik yaitu : penelitian metode dan pengukuran kerja. Menurut Britis Standard Glossary of term in Work Study, terdapat delapan unsur kerja : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Unsur berulang Unsur berkala Unsur tetap Unsur variable Unsur olah tangan Unsur olah mesin Unsur unggul Unsur asing

Pengukuran kerja didefinisikan sebagai teknik penerapan teknik yang direncanakan untuk menetapkan waktu bagi pekerja untuk memenuhi syarat untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu pada tingkat prestasi yang ditetapkan Teknik yang data digunakan dalam pengukuran kerja : 1. 2. 3. 4. Penelitian waktu Pengambilan sampling kegiatan Taksiran analitik Taksiran perbandingan

Penelitian waktu menurut ILO 1983 adalah teknik pengukuran kerja untuk mencatat jangka waktu dan perbandingan kerja mengenai unsur pekerjaan tertentu yang dilaksanakan dalam keadaan tertentu pula untuk menganalisis keterangan itu hingga diketemukan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan itu pada tingkat prestasitertentu. Langkah langkah dalam penelitian waktu adalah :

Menentukan pekerjaan yang perlu diteliti Melakukan sosialisasi tentang tujuan penelitian kepada pekerja Melakukan pengamatan pendahuluan Melakukan desain pengamatan Melakukan penelitian waktu kerja, dengan mencatat tentang jumlah input dan output Melakukan analisis waktu kerja Menentukan waktu pokok

http://joey9999.wordpress.com/2010/05/04/perencanaan-pemanenan-kayu/

Sistem Pemanenan Kayu Pemanenan kayu secara umum pengertiannya adalah menebang pohon di hutan untuk dimanfaatkan kayunya. Kegiatan ini lazim disebut logging. Menurut para pakar, definisi pemanenan kayu adalah : 1. Conway, 1978 : Pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan kayu dari hutan ketempat pengolahan kayu. 2. Suparto, 1982 : Pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon menjadi bentuk yang dapat dipindahkan ke lokasai lain sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat. 3. Grammel, 1988 : Pemanenan kayu adalah pemanfaatan yang rasional dan penyiapan suatu bahan baku dari alam menjadi sesuatu yang siap dipasarkan untuk bermacam-macam kebutuhan manusia. Menurut Suparto (1999) menjelaskan bahwa sistem adalah komponen atau bagian yang merupakan suatu kesatuan yang utuh dan memiliki tujuan. Komponen-komponen dimaksud dapat bersifat fisik seperti bagian-bagian dari mesin, dapat pula bersifat non fisik seperti aturan-aturan atau urutan langkah-langkah, dll. Sedangkan menurut Elias (2002), sistem adalah sekelompok komponen yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen-komponen ini dapat berupa mesin-mesin, energi yang dipakai, urutan langkah-langkah kegiatan, pengembangan tegakan (silvikultur), bentuk hasil yang diinginkan dan tempat kegiatan berlangsung dll. Dikaitkan dengan pemanenan kayu, maka dikenal sistem pemanenan kayu sebagai berikut : 1. Berdasarkan energi yang dipakai : (1) Sistem manual (2) Sistem semi mekanis (3) Sistem mekanis 2. Berdasarkan peralatan yang dipakai : (1) Sistem traktor (2) Sistem kabel (3) Sistem aerial (balon dan helikopter) (4) Sistem gravitasi (5) Sistem penarikan dan pemikulan kayu oleh manusia (6) Sistem penarikan dengan tenaga hewan, dll. 3. Berdasarkan bentuk dan ukuran sortimen kayu yang dihasilkan : (1) Full tree system atau Whole tree system (2) Tree length system (3) Long wood system (4) Short wood system (5) Pulp wood system (6) Chips wood system (7) Cut to length system 4. Berdasarkan sistem silvikultur yang dipakai : (1) Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) (2) Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) (3) Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) (4) Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA), dll. 5. Berdasarkan mobilitas peralatan pemanena kayu :

(1) Mobile system (2) Semi-mobile system (3) Stationary system 6. Sistem pemanenan kayu berdasarkan organisasi kerja Secara umum sistem yang paling banyak digunakan di dunia adalah sistem mekanis dengan subsistem traktor, kabel/skyline dan processor. Sedangkan di Indonesia adalah sistem mekanis dengan subsistem traktor di hutan alam luar Jawa dan sistem manual dengan subsistem penyaradan dengan sapi di hutan jati dan rimba di pulau Jawa. Perkembangan ilmu dan teknologi di bidang pemanenan kayu telah mengarahkan perkembangan pemanenan kayu sebagai berikut : 1. Pengertian pemanenan kayu mengalami perluasan yakni tidak hanya sekedar mempertimbangkan masalah teknis, tetapi juga mencakup pertimbangan masalah finansial/ekonomis, kerusakan lingkungan dan sosial budaya. Selain itu lebih menekankan pada perencanaan sebelum pemanenan, supervisi teknik dan pencegahan kerusakan lebih lanjut setelah pemanenan. 2. Usaha memperpendek rantai tahapan pemanenan kayu 3. Menerapkan sistem pemanenan kayu sesuai dengan klasifikasi fungsional lapangan di bidang kehutanan (pengembangan expert system) 4. Mengintegrasikan pengolahan kayu primer ke dalam tahapan pemanenan kayu (chips wood system) 5. Penciptaan peralatan pemanenan kayu dengan perhatian ditekankan pada keunggulan produktivitas tinggi, biaya, menekan kerusakan lingkungan dan keselamatan kerja 6. Khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, Brasil dan Malaysia dll., sedang diusahakan implementasi reduced impact timber harvesting dan low impact timber harvesting. Dengan adanya perkembangan ini, maka tujuan pemanenan kayu seperti yang dikemukakan di muka, juga mengalami pergeseran, yaitu selain untuk memanfaatkan/memanen kayu, kegiatan pemanenan juga bertujuan untuk memperbaiki kualitas tegakan tinggal/sisa, khususnya pada pemanenan/penjarangan menghasilakan di hutan tanaman dan di hutan alam yang dikelola dengan sistem tebang pilih. http://pemanenanhutan.blogspot.com/2009/08/sistem-pemanenan-kayu.html

Sistem Pemanenan Kayu Pemanenan kayu secara umum pengertiannya adalah menebang pohon di hutan untuk dimanfaatkan kayunya. Kegiatan ini lazim disebut logging. Menurut para pakar, definisi pemanenan kayu adalah : 1. Conway, 1978 : Pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk memindahkan kayu dari hutan ketempat pengolahan kayu. 2. Suparto, 1982 : Pemanenan kayu merupakan serangkaian kegiatan kehutanan yang mengubah pohon menjadi bentuk yang dapat dipindahkan ke lokasai lain sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat. 3. Grammel, 1988 : Pemanenan kayu adalah pemanfaatan yang rasional dan penyiapan suatu bahan baku dari alam menjadi sesuatu yang siap dipasarkan untuk bermacam-macam kebutuhan manusia. Menurut Suparto (1999) menjelaskan bahwa sistem adalah komponen atau bagian yang merupakan suatu kesatuan yang utuh dan memiliki tujuan. Komponen-komponen dimaksud dapat bersifat fisik seperti bagian-bagian dari mesin, dapat pula bersifat non fisik seperti aturan-aturan atau urutan langkah-langkah, dll. Sedangkan menurut Elias (2002), sistem adalah sekelompok komponen yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen-komponen ini dapat berupa mesin-mesin, energi yang dipakai, urutan langkah-langkah kegiatan, pengembangan tegakan (silvikultur), bentuk hasil yang diinginkan dan tempat kegiatan berlangsung dll. Dikaitkan dengan pemanenan kayu, maka dikenal sistem pemanenan kayu sebagai berikut : 1. Berdasarkan energi yang dipakai : (1) Sistem manual (2) Sistem semi mekanis (3) Sistem mekanis 2. Berdasarkan peralatan yang dipakai : (1) Sistem traktor (2) Sistem kabel (3) Sistem aerial (balon dan helikopter) (4) Sistem gravitasi (5) Sistem penarikan dan pemikulan kayu oleh manusia (6) Sistem penarikan dengan tenaga hewan, dll. 3. Berdasarkan bentuk dan ukuran sortimen kayu yang dihasilkan : (1) Full tree system atau Whole tree system (2) Tree length system (3) Long wood system (4) Short wood system (5) Pulp wood system (6) Chips wood system (7) Cut to length system 4. Berdasarkan sistem silvikultur yang dipakai : (1) Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) (2) Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) (3) Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) (4) Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA), dll. 5. Berdasarkan mobilitas peralatan pemanena kayu :

(1) Mobile system (2) Semi-mobile system (3) Stationary system 6. Sistem pemanenan kayu berdasarkan organisasi kerja Secara umum sistem yang paling banyak digunakan di dunia adalah sistem mekanis dengan subsistem traktor, kabel/skyline dan processor. Sedangkan di Indonesia adalah sistem mekanis dengan subsistem traktor di hutan alam luar Jawa dan sistem manual dengan subsistem penyaradan dengan sapi di hutan jati dan rimba di pulau Jawa. Perkembangan ilmu dan teknologi di bidang pemanenan kayu telah mengarahkan perkembangan pemanenan kayu sebagai berikut : 1. Pengertian pemanenan kayu mengalami perluasan yakni tidak hanya sekedar mempertimbangkan masalah teknis, tetapi juga mencakup pertimbangan masalah finansial/ekonomis, kerusakan lingkungan dan sosial budaya. Selain itu lebih menekankan pada perencanaan sebelum pemanenan, supervisi teknik dan pencegahan kerusakan lebih lanjut setelah pemanenan. 2. Usaha memperpendek rantai tahapan pemanenan kayu 3. Menerapkan sistem pemanenan kayu sesuai dengan klasifikasi fungsional lapangan di bidang kehutanan (pengembangan expert system) 4. Mengintegrasikan pengolahan kayu primer ke dalam tahapan pemanenan kayu (chips wood system) 5. Penciptaan peralatan pemanenan kayu dengan perhatian ditekankan pada keunggulan produktivitas tinggi, biaya, menekan kerusakan lingkungan dan keselamatan kerja 6. Khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, Brasil dan Malaysia dll., sedang diusahakan implementasi reduced impact timber harvesting dan low impact timber harvesting. Dengan adanya perkembangan ini, maka tujuan pemanenan kayu seperti yang dikemukakan di muka, juga mengalami pergeseran, yaitu selain untuk memanfaatkan/memanen kayu, kegiatan pemanenan juga bertujuan untuk memperbaiki kualitas tegakan tinggal/sisa, khususnya pada pemanenan/penjarangan menghasilakan di hutan tanaman dan di hutan alam yang dikelola dengan sistem tebang pilih. http://pemanenanhutan.blogspot.com/

http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTA NAN/SNI/g-rimba.htm

Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)


www.silvikultur.com/sistem_silvikultur_TPTI.html

Sistem Silvikultur: Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) THPB adalah suatu sistem silvikultur yang meliputi cara penebangan dan cara pembuatannya kembali yaitu dengan cara menebang habis semua pohon yang terdapat dalam tegakan hutan sedangkan permudaannya dilakukan dengan mengadakan penanaman kembali areal bekas tebangan habis tersebut, dengan tujuan untuk memperoleh tegakan hutan baru yang seumur dan bernilai tinggi (memperoleh hasil maksimal), sesuai dengan tujuan perusahaan (umumnya untuk keperluan industri) Dalam sistem silvikultur THPB, semua pohon berharga baik karena jenis maupun karena ukurannya, ditebang untuk dimanfaatkan. Jatah tebangan disesuaikan dengan keadaan hutan, target produksi dan kemampuan reboisasi Secara ideal sistem ini meliputi penebangan dan permudaan setiap tahun dengan luas blok-blok yang sama (coupes) dan tergantung pada daur (rotasi) dari species pohon yang itu sendiri. Hasil akhir dari sistem ini akan terbentuk tegakan-tegakan dengan umur: 1,2,3,...........r (r = rotasi). Penebangan dengan selalu meninggalkan tegakan pelindung (a sheltering stand).Lebar blok tebangan ideal adalah 20-100 m. Beberapa aspek yang dijadikan pertimbangan dalam sistem ini mencakup asas kelestarian hutan, teknik silvikultur dan asas ekonomi perusahaan hutan. Asas kelestarian hasil mencakup penyelamatan tanah dan air (soil and water conservation), perlindungan alam dan tidak terjadinya penurunan/kekosongan produksi, diusahakan meningkatkan nilai produksi dan tiap areal hutan dengan jalan penanaman dan pemeliharaan serta perlakuan-perlakuan lain terhadap jenis-jenis kayu perdagangan terutama jenis-jenis kayu industri, secara terus menerus dari satu rotasi ke lain rotasi. Pertimbangan teknik silvikultur adalah keadaan tempat tumbuh (iklim dan tanah), keadaan lapangan (topografi) dan vegetasi (sifat dari jenis tanaman). Asas ekonomi perusahaan dan pengawasan mencakup aspek tujuan penguasahaan hutan, pada tahap penebangan habis hutan alam, ditujukan untuk memperoleh hasil maksimal di mana semua kayu dapat dimanfaatkan,

sementara pada tahap pengadaan hutan kembali, diusahakan penanaman jenis-jenis pohon yang bernilai tinggi terutama untuk keperluan industri, serta memungkinkannya diadakan pengawasan yang efektif yang meliputi cara penebangan dara penghutanannya kembali. Areal penggunaan sistem THPB diprioritaskan pada lahan kosong, padang alang-alang dan semak belukar. Sisem ini kurang cocok untuk diterapkan di hutan alam karena menimbulkan ancaman terhadap kelestarian ekologi, yang mana penting bagi keberlanjutan hutan seterusnya. Sistem ini diterapkan pada pengelolaan hutan tanaman karena ditujukan untuk membangun hutan buatan terutama untuk memenuhi kebutuhan kayu untuk keperluan industri sehingga pada dasarnya diterapkan dalam pengelolaan Hutan Tanaman Industri/HTI (PP No. 7 tahun 1990 tentang Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri dan KepMenHut No.435/Kpts-II/1997 tentang Sistem Silvikultur dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Industri). Sistem ini dapat diterapkan pada hutan alam jika pada areal tersebut ditujukan untuk konversi ke hutan tanaman untuk pengembangan tanaman pokok dan atau tanaman kehidupan dan atau tanaman unggulan (PerMenHut No.P.3/MenHut II/2008) namun sebaiknya upaya konversi ini dihindari jikapun terpaksa untuk dilakukan harus melalui beberapa pertimbangan dan disesuaikan dengan aturan yang ada agar tidak berbahaya dari segi ekologi. Keadaan topografi dengan kelerengan maksimal 25% dan kelerengan dengan topografi 8%-25% harus diikuti dengan upaya konservasi tanah (KepMenHut No.10.1/Kpts-II/200) THPB bersifat monocyclic (siklus tunggal) dan intensitas penebangan sangat besar sehingga menyebabkan pengurangan jumlah jenis bahkan terjadi pergantian jenis tanaman. Rangkaian kegiatan THPB dapat berupa kegiatan sebagai berikut : 1. Survei ekologi dan sosial ekonomi untuk mengetahui kondisi tanah, iklim, dan topografi, tenaga kerja, pemasaran hasil dari suatu areal yang akan dikerjakan. 2. Pemilihan jenis yang sesuai dengan TAPAK di lapangan

3. Persiapan sumber benih dan cara memperolehnya, serta persiapan persemaian sesuai kebutuhan 4. Persiapan areal penanaman 5. Penanaman dengan jenis terpilih pada awal musim penghujan dengan cara tumpang sari atau banjar harian. 6. Pemeliharaan tanaman Kegiatan pemeliharaan dapat berupa : a. Penyulaman; besarnya intensistas penyulaman tergantung persen jadi tanaman. Maksimal dilakukan dua kali yaitu 1-2 bulan sesuah penanaman dan akhir tahun ke 2 atau awal tahun ke 3 setelah penanaman. b. Pemupukan Dilakukan pada tanah-tanah yang miskin hara dan jika tanaman perlu untuk dipercepat pertumbuhannya. Umumnya dilakukan pada tanaman berumur 13 bulan c. Pemangkasan cabang Hanya dilakukan pada tanaman yang diperuntukkan sebagai penghasil kayu pertukangan d. Penjarangan Penjarangan dilakukan untuk tujuan produksi kayu pertukangan dan untuk produksi e. 7. Perlindungan terhadap hama dan penyakit. Pada akhir daur atau umur rotasinya tercapai, dilaksanakan penebangan habis pada petak-petak masak tebang. Setiap petak dapat berukuran 25 Ha dan bentuknya mengikuti topografi lapangan. Karena sistem ini bukan sistem tebang selektif sehingga arah rebah tebangan lebih ditentukan oleh arah angin dan keadaan topografi (kelerengan) serta kemudahan dalam pengambilan hasil tebangan. 8. Pencegahan bahaya erosi dan aliran permukaan sebagai akibat pembukaan areal hutan. (sengkedan). 9. Penanaman kembali areal bekas tebangan dengan jenis-jenis yang sesuai untuk dipanen pada rotasi tebang berikutnya. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat teras-teras

10.

Pada rotasi tebang berikutnya persiapan bibit dilakukan sebelum penebangan karena setelah penebangan, segera dilakukan penanaman kembali yang diikuti oleh kegiatan pemeliharaan tanaman. Daur untuk hutan tanaman ditetapkan berdasarkan umur masak tebang tanaman pokok. Umur masak tebang tanaman pokok dalam pengelolaan hutan tanaman ditetapkan berdasarkan kelas perusahaan atau jenis tanaman pokok dan tujuan akhir pengelolaan (kayu serat atau kayu perkakas). Dalam sistem THPB ini dikenal 2 (dua) cara/sistem permudaan:

1.

Permudaan buatan dengan penyemaian langsung (artificial regeneration by direct seeding) Keuntungan dari sistem ini antara lain :

Tenaga kerja sedikit dan cocok untuk daerah yang berbukit yang sulit dijangkau; Tidak memerlukan persemaian yang kompleks, jalan, dan alat transportasi untuk mensuplai seedling; Bisa dilakukan dari udara dengan menggunakan pesawat udara; Jika berhasil, umumnya lebih murah dari sistem dengan menggunakan planting. Cara ini pernah dicoba di Jawa Tengah namun hasilnya kurang memuaskan. Beberapa kerugian dari sistem ini antara lain :

Membutuhkan peralatan dan fasilitas pengumpulan dan penyimpanan benih; Terbatas pada jenis-jenis yang dapat beradaptasi dengan kondisi cuaca dan kondisi lapang; Bahan kimia biasa digunakan untuk merangsang/ mempermudah proses germinasi yang dapat berbahaya bagi manusia dan hewan.

2. Permudaan buatan dengan penyemaian di persemaian: Permudaan ini dapat dilakukan dengan cara bibit tanaman dipelihara dipersemaian sebelum dilakukan penanaman. Bibit dari hutan alam dapat digunakan sebagai sumber bibit, tetapi sebelum penanaman dipelihara dipersemaian.

Hasil dari sistem silvikultur dapat berupa hutan murni (satu jenis tanaman) maupun campuran tergantung tujuan pengelolaan. Sistem THPB ini sangat baik untuk jenis-jenis tanaman yang memerlukan cahaya penuh dengan cara pembersihan lahan secara total. Untuk jenis-jenis tanaman yang semi toleran, perlu dilakukan prakondisi iklim mikro yaitu dengan menanam jenisjenis pohon peneduh yang bertajuk ringan terlebih dahulu sebelum tanaman pokok ditanam. Jumlah benih yang dibutuhkan untuk penanaman bersifat relatif, tergantung pada luas areal penanaman dan jarak tanam yang digunakan, daya hidup (vigor) bibit dipersemaian dan dilapangan serta daya kecambah (vigor dan viabilitas) dari benih yang digunakan untuk menghasilkan bibit. Keuntungan Sistem THPB : Mudah dilakukan Dapat melakukan perbaikan kualitas maupun kuantitas tegakan baru. Hutan yang rusak dapat direhabilitasi dan ditingkatkan produktifitasnya (menggunakan jenis tanaman dan bibit yang unggul) Pelaksanaan regenerasi dapat dilakukan dengan cepat karena permudaannya berasal dari permudaan buatan yang telah disiapkan. Pemanenan kayu lebih maksimal ( seluruh pohon berharga ditebang) Pekerjaannya terpusat (memudahkan dalam pengerjaan terutama penggunaan alat-alat berat) Penebangan kurang menimbulkan kerusakan pada vegetasi sekitar karena tidak ada tegakan tinggal. Tegakannya seumur dan teratur Sangat baik untuk pengembangan jenis-jenis yang membutuhkan cahaya Kerugian/Kelemahan Sistem THPB : Memusnahkan penutup tanah, iklim mikro, gulma tumbuh meluas (khususnya areal yang kurang pemeliharaan), sifat fisik tanah rusak dan menjadi padat karena penyaradan. Dapat menimbulkan erosi terutama di tanah pegunungan (berlereng) karena areal ditebang habis.

Hutan baru yang sama umur kurang tahan terhadap hama dan penyakit dan kebakaran Membutuhkan biaya yang lebih mahal (terutama jika dibandingkan dengan THPA) karena membutuhkan dana untuk pengadaan bibit/penyemaian yang cukup luas

Dari segi estetika kurang indah Kesuksesan suatu sistem silvikultur tidak terletak pada keuntungan maupun kelemahannya namun terhadap kekonsistenan sistem ini diterapkan yang sesuai dengan kondisi lingkungan maupun sosial budaya setempat.

DAFTAR PUSTAKA DephutbunRI, 1999. Panduan Kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta. Ngadiono. 2004. 35 Tahun Pengelolaan Hutan Indonesia: Refleksi dan Prospek. Yayasan Adi Sanggoro. Bogor. http://ghinaghufrona.blogspot.com/2011/08/sistem-silvikultur-tebang-habis-dengan.html