Anda di halaman 1dari 64

EKSTRAKSI

Dr. Ir. Mahreni, MT


1

Ekstraksi cair-cair menggunakan penomena kesetimbangan fase cair-cair untuk memisahkan suatu komponen dari campuran homogen. Komponen yang akan dipisahkan mempumyai kelarutan yang berbeda pada dua pelarut yang tidak saling melarutkan. Perpindahan masa komponen terjadi dari satu pelarut ke pelarut yang kedua. Liquid-liquid extraction applies the phenomenon of liquid-liquid equilibria to carry out component separations. When the non-ideality of a system causes two immiscible liquid phases to coexist at equilibrium, certain components may be more soluble in one phase than in the other. Extraction involves the transfer of components between two liquid phases, much as absorption or stripping involves the transfer of components from liquid to vapor or vice versa. As in vaporliquid multistage separation processes, the device employed to carry out liquid-liquid extraction is usually a counter-flow column that performs the function of a number of equilibrium stages interconnected in counter-flow configuration. In each stage, two inlet liquid streams mix, reach equilibrium, and separate into two outlet liquid streams. As in vapor-liquid columns, the lack of complete equilibrium in liquid-liquid extractors is accounted for by some form of tray efficiency. Liquid-liquid extraction may also be carried out in a cascade of mixing vessels connected in series in counter-flow.

PEMISAHAN CAIR-CAIR (EKSTRAKSI)


Suatu campuran (A+C) fasa cair homogen seperti larutan asam asetat-air di mana asam asetat adalah komponen yang akan dipisahkan dari air. Air disebut (diluent) dan asam asetat disebut (solute). Untuk memisahkan campuran homogen, dekantasi tidak dapat digunakan karena campuran terdiri dari satu fasa. Distilasi kemungkinan dapat digunakan tetapi mengingat asam asetat bersifat korosif, maka salah satu alternatif menggunakan ekstraksi. Ekstraksi adalah pemisahan solute (C) dari diluent (A) dengan menggunakan pelarut selektif (B). Selektif artinya pelarut hanya dapat melarutkan solute (C) tetapi tidak dapat atau hanya sedikit melarutkan A (diluent).
3

Ekstrak & Rafinat


Ekstraksi dilakukan dengan jalan mencampur (mix) larutan yang terdiri dari (A+C) dengan pelarut (B) dalam suatu bejana atau tangki. Memerlukan pengadukan untuk memperluas permukaan kontak antara pelarut dan solute dan mencapai kondisi setimbang. Pada kondisi setimbang dihasilkan dua lapisan iaitu lapisan yang kaya akan pelarut dan solute (B+C) dan lapisan diluent (A). Lapisan pelarut (B+C) disebut fasa ekstrak dan lapisan diluent disebut rafinat. Pada kenyataannya dilapisan esktrak tidak hanya terdiri dari (B+C) tetapi sebagian A ikut ke dalamnya. Jadi di dalam fasa ekstrak komponen terbanyak adalah B diikuti komponen C dan sedikit komponen A. Begitu juga di dalam fasa rafinat, komposisi terbesar adalah A diikuti komponen C dan B.

Pemisahan ekstrak dan rafinat


Ekstrak dan rafinat adalah dua fasa larutan yang tidak dapat saling melarutkan sehingga kedua fasa ini dapat dipisahkan menggunakan dekantasi. Fasa ekstrak (B+C+sedikit A) selanjutnya di distilasi untuk memisahkan komponen B (pelarut) dan C. Selanjutnya pelarut digunakan kembali. Hasil akhir yang didapatkan adalah komponen C, sedikit A dan sedikit B artinya kemurnian komponen C lebih tinggi dibandingkan dengan mula-mula sebelum diekstraksi. Efesiensi ekstraksi sangat ditentukan oleh kelarutan komponen C dan A di dalam pelarut (B).
5

Pelarut Non Polar

Kelarutan
Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent) . Kelarutan dinyatakan dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Larutan hasil disebut larutan jenuh. Zat-zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut. Contohnya adalah etanol di dalam air. Sifat ini dalam bahasa Inggris lebih tepatnya disebut miscible. Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat. Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut, seperti perak klorida dalam air. Istilah "tak larut" (insoluble) sering diterapkan pada senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sangat sedikit kasus yang benarbenar tidak ada bahan yang terlarut. Dalam beberapa kondisi, titik kesetimbangan kelarutan dapat dilampaui untuk menghasilkan suatu larutan yang disebut lewat jenuh (supersaturated) yang metastabil.
7

Hubungan kelarutan dan suhu

Polar aprotik

Jenis pelarut polar protik

10

Dasar pemilihan pelarut (B)

Selektivitas (selectivity) Koefisien distribusi (distribution coefficient) Ke tidak larutan pelarut (insolubility of solvent) Recoverability (kemudahan pemisahan kembali solute dari pelarut) Density Tegangan permukaan Reaktivitas Viscositas, tekanan uap dan titik beku Tidak beracun
11

Selectivity (selektivitas)
Menunjukkan kemampuan pelarut untuk mengekstrak komponen yang akan dipisahkan (solute) terhadap komponen lainnya di dalam suatu campuran (diluent, A). Pelarut yang baik adalah pelarut mampu melarutkan satu komponen dan tidak melarutkan komponen lainnya. Selektivitas () dapat disamakan dengan relative volatilitas di dalam distilasi. Pelarut yang baik harus memiliki selektivitas >1

12

Koefisien distribusi
Didefinisikan sebagai penyebaran komponen solute (C) ke dalam fasa ekstrak dan fasa rafinat pada saat terjadi kesetimbangan. Makin besar koefisien distribusi makin baik tetapi tidak harus >1. Makin besar koefisien distribuasi keperluan pelarut semakin sedikit dan sebaliknya.

13

Insolubility of solvent (ketidak larutan pelarut)


Kedua sistem digambarkan dalam bentuk segi tiga sama sisi. C
Besar komponen C yang dapat diekstrak oleh komponen B

homogen

homogen Heterogen Heterogen

14

Recoverability dan density dan tegangan permukaan


Artinya kemudahan pemisahan kembali pelarut dari solute. Dapat dilihat dari perbedaan titik didih solute dan pelarut. Makin besar perbedaan titik didih pemisahan makin mudah dan sebaliknya. Makin besar perbedaan densitas fasa ekstrak dan fasa rafinat, makin mudah memisahkan kedua fasa tersebut Makin besar beda tegangan permukaan antara fasa rafinat dan fasa ekstrak semakin mudah untuk memisahkan kedua fasa tersebut

15

Viscositas, tekanan uap dan titik beku Sebaiknya viscositas, tekanan uap dan titik beku harus rendah untuk memudahkan pengangkutan dan penyimpanan. Reaktivitas: Sebaiknya pelarut tidak bereaksi dengan solute mahupun diluent.

16

Kesetimbangan cair-cair digambarkan dalam bentuk diagram komposisi 3 komponen


C=1

M P A=1 B=1
17

Equivalensi bentuk diagram

18

Lukis diagram dalam koordinat X,Y Vs N


Lapisan air (fasa rafinat) Lapisan Isopropil (fasa ekstrak)

N= % berat C % berat A % berat B Y= N= % berat C % berat A % berat B X= C/(A+C) B/(A+C) C/(A+C) B/(A+C)

0.69 1.41 2.89 6.42 13.3 25.5 36.7 44.3 46.4

98.1 97.1 95.5 91.7 84.4 71.1 58.9 45.1 37.1

1.2 1.5 1.6 1.9 2.3 3.4 4.4 10.6 16.5

0.00698 0.01431 0.02937 0.06543 0.13613 0.26398 0.38389 0.49553 0.55569

0.0121 0.18 0.0152 0.37 0.0163 0.79 0.0194 1.93 0.0235 4.82 0.0352 11.4 0.046 21.6 0.1186 31.1 0.1976 36.2

0.5 0.7 0.8 1 1.9 3.9 6.9 10.8 15.1

99.3 98.9 98.4 97.1 93.3 84.7 71.5 58.1 48.7

0.2647 0.3458 0.4969 0.6587 0.7173 0.7451 0.7579 0.7422 0.7057

0.995 0.993 0.9919 0.9898 0.98 0.956 0.912 0.8433 0.7633

19

Data kesetimbangan MIBK-aseton-air


Composition data (wt %) MIBK (B) 98,0 77,3 65,5 Acetone (C) 0 18,95 28,9 Water (A) 2 3,86 5,53 Aceton distribution data (wt %) Water phase (Fase rafinat) 2,5 5,5 10 MIBK phase (Fase esktrak) 4,5 10 17,5

46,2
12,4 5,01 2,12 2,2

43,2
42,7 30,9 3,73 0

10,7
45 64,2 94,2 97,8

15,5
20 25 26

25,5
31,2 36,5 37,5

20

Data kesetimbangan cair-cair tidak saling melarutkan sistem (air-nikotin-kerosen)

Untuk mempermudah melukis grafik x vs y, sebaiknya x dan y dikalikan dengan 100 dan hasilnya tidak merubah yang sebenarnya. Grafik dilukis x vs y seperti di slide berikutmya.
x 0 0,001011 0,00246 0,00502 0,00751 0,00998 0,0204 y 0 0,000807 0,001961 0,00456 0,00686 0,00913 0,0187 x (100) 0 0,1011 0,246 0,502 0,751 0,998 2,04 y(100) 0 0,0807 0,1961 0,456 0,686 0,913 1,87
21

Y Vs N R N=B/(A+C)

Garis kesetimbangan
X Vs N

X,Y
Y= C/(A+C) dalam fasa ekstrak

X= C/(A+C) dalam fasa rafinat

22

Lukis diagram segi tiga sama sisi campuran (air-asam asetat-isopropil eter)
Lapisan air (fasa rafinat) % % % berat berat berat C A B 0,69 98,1 1,2 1,41 97,1 1,5 2,89 95,5 1,6 6,42 91,7 1,9 13,3 84,4 2,3 25,5 71,1 3,4 36,7 58,9 4,4 44,3 45,1 10,6 46,4 37,1 16,5 Lapisan Isopropil (fasa ekstrak) % berat % % berat C/(A+C) B/(A+C) C berat B A 0,18 0,5 99,3 0,37 0,7 98,9 0,79 0,8 98,4 1,93 1,0 97,1 4,82 1,9 93,3 11,4 3,9 84,7 21,6 6,9 71,5 31,1 10,8 58,1 36,2 15,1 48,7

23

Kontak dalam satu stage ideal


Solvent (pelarut, S)
A+C (Umpan, F) Setler (pemisahan) Ekstrak (E)

Mixer (pencampuran)

Rafinat (R)

Neraca masa total : F+S = E+ R


24

Penyederhanaan gambar mixer dan settler dianggap satu stage ideal

F atau Lo, xCo


Stage 1 S atau B, yCo

E, yC1 R, xC1

Neraca komponen: Lo (xCo) +B(yCo) =E (yC1) +R (xC1)= M zCM

25

Grafik kesetimbangan fasa ekstrak (yCE) dan rafinat (xCR)


C=1,0
Garis diagonal

yCE

L0 M

E1

R1

A=1,0

S=B=1,0

xCR
26

Operasi ekstraksi satu stage

27

Ekstraksi Multistage
Ekstraksi multistage adalah pengembangan ekstraksi satu stage. Tujuannya meningkatkan efisiensi pemisahan Pola aliran pelarut dan umpan bisa searah atau berlawanan

Pola Aliran Searah


Pelarut dan umpan dimasukkan dengan arah yang sama
E1, y1 F, xF E2, y2 E3, y3 Stage 3 E1+E 2+E 3

Stage 1

R1, x1

Stage 2

R2, x2

R3, x3

S1 , y S

S2 , y S

S3 , y S
28

E1, y1 F, xF Stage 1 R1, x1

E2, y2

E3, y3 Stage 3

E1+E 2+E 3

Stage 2

R2, x2

R3, x3

S1 , y S

S3 , y S

Ekstraksi multistage adalah pengembangan ekstraksi satu stage di mana rafinat yang keluar dari stage pertama dicampur dengan solven segar pada stage kedua dan rafinat dari stage kedua dicampur dengan solven segar pada stage ketiga. Ekstrak dari stage pertama digabung dengan ekstrak dari stage kedua dan stage ke tiga. Hasil akhir adalah ekstrak (E1+E2+E3) dan Rafinat R3. Komposisi komponen-komponen di dalam aliran E dan R sudah dalam kesetimbangan sehingga E dan R lokasinya terletak pada kurve kesetimbangan: E1 setimbang dengan R1, E2 setimbang dengan R2 dan E3 setimbang dengan R3.
29

Neraca Masa total dan komponen

30

31

C=1

y CE

R1 R2 R3

E1 M1
M2 M3 E2

E3

A=1

B=1

X CR
32

INSOLUBLE LIQUIDS (PELARUT DAN DILUEN TIDAK SALING MELARUTKAN)


Suatu campuran terdiri dari komponen C (solute) dan komponen A (diluent). Komponen C akan dipisahkan dari komponen A dengan menggunakan pelarut (B) dimana pelarut hanya dapat melarutkan komponen C sedangkan komponen A sama sekali tidak larut di dalam B dan sebaliknya. Sedangkan komponen C terdistribusi di dalam fasa A (rafinat) dan di dalam fasa B (ekstrak). Pada keadaan seperti ini, di dalam fasa ekstrak hanya ada komponen C dan B sedangkan di dalam fasa rafinat hanya ada komponen A dan C. Untuk mempermudah perhitungan neraca masa komponen maka komposisi komponen C dapat dinyatakan dengan

33

Komposisi C dalam fasa ekstrak (kg C/kg B) (y,)

Komposisi C dalam fasa rafinat (kg C/kg A)


34

35

Multistage insoluble liquids extraction


B1+B 2+B 3
Stage 2 Stage 3

Stage 1

36

Komposisi C dalam fasa ekstrak (kg C/kg B) (y,)

Komposisi C dalam fasa rafinat (kg C/kg A)


37

Contoh soal (PR) Insoluble liquids extraction


Larutan terdiri dari 1 % berat nikotin (C) dan 99 % berat air (A). Nikotin akan diekstrak menggunakan kerosen sebagai pelarut pada suhu 20 C . Kerosen (B) tidak saling melarutkan dengan air (A). Data kesetimbangan nikotin di dalam air dan kerosen (lihat hal 497 Treyball). Apabila umpan 100 kg dan pelarut yang digunakan 150 kg berapakah nikotin yang dapat diekstrak (1 stage). Apabila menggunakan 3 stage dan setiap stage pelarut yang digunakan 50 kg berapakah nikotin yang dapat diekstrak?

38

NIKOTIN TEREKSTRAK

39

Continuous multistage countercurrent extraction Ekstraksi berlawanan arah sistem kontinyu


F, xF Umpan
1

R2, x2 R1, x1
2

Rs-1, xs-1
s

Rs, xs

RNp-1, xNp-1
Np

RNp, xNp

E1, y1 Ekstrak akhir

E2 , y 2

Es+1, ys+1

Es, ys

Es-1, ys-1

ENp, yNp

S, ys Solvent

Gambar : Diagram alir ekstraksi berlawanan arah sistem kontinyu

40

Pola aliran sistem berlawanan arah


Ekstrak dan rafinat mengalir berlawanan arah dari satu stage ke stage berikutnya. Dibandingkan dengan aliran searah, aliran berlawanan arah lebih baik karena untuk jumlah stage yang sama dan perbandingan F/S sama menghasilkan ekstrak lebih banyak. Umpan masuk pada stage pertama (F, xF) dan pelarut masuk dari stage terakhir (S, yS ). Ekstrak keluar dari stage pertama (E1, y1) dan rafinat keluar dari stage terakhir (RNp , xNp)

41

Neraca masa sistem berlawanan arah


1. Neraca masa total

Kecepatan masa masuk = Kecepatan masa keluar = M

F : kecepatan umpan masuk stage 1 = kg/jam S : Kecepatan solvent masuk pada stege ke n (terakhir) = kg/jam RNP :Kecepatan rafinat keluar dari stage ke n (terakhir) = kg/jam E1 : Kecepatan ekstrak keluar dari stage ke 1 = kg/jam

2. Neraca masa komponen C (solute) Kecepatan kompopnen C masuk = Kecepatan komponen C keluarMasa

xF : adalah fraksi masa komponen C di dalam umpan ys: adalah fraksi masa komponen C di dalam solvent y1 : adalah fraksi masa komponen C pada ekatrak E1 xNp: adalah fraksi masa komponen C di dalam rafinat RNP
42

Konsep
Konsep delta () : Selisih (arus kekanan - arus kekiri) pada setiap stage.

Pada stage pertama : = F E1 , sama dengan pada stage kedua = E1-R2 dan seterusnya sehingga didapatkan persamaan pada setiap stage seperti dibawah ini.

Letak titik titik , F (umpan) , S (solvent) dan E (ekstrak) dan R (Rafinat) sesuai dengan persamaan diatas apabila digambarkan dalam bentuk titik titik pada sistem garis akan menunjukkan hubungan dalam hukum garis seperti pada gambar dibawah ini:

E1

F
M

R RNp S
43

Cara menentukan titik


Dalam gambar tersebut menun jukkan bahwa titik merupakan pusat setiap garis garis selisih arus kekanan dan arus kekiri sehingga apabila letak titik telah dapat ditentukan, maka jumlah stage dapat ditentukan. Titik dapat ditentukan apabila titik F, E1, RNP dan S diketahui. Di dalam ekstraksi, tentunya F diketahui baik kecepatannya maupun komposisinya. Begitu juga solvent (S). Apabila perbandingan kecepatan umpan dan solvent diketahui, maka jumlah campuran F + S dapat dihitung dan letak titik M = F+S dapat ditentukan. Di dalam pemisahan secara ekstraksi, ekstrak terakhir atau E1 biasanya komposisinya (y1) ditentukan pada komposisi tertentu dan E1 terletak pada kurve kesetimbangan (lihat gambar). Apabila E1 sudah dapat dilukis maka letak RNP juga dapat ditentukan dengan cara menarik garis dari E1 ke M dan memotong kurve kesetimbangan di titik RNp. Letak titik dapat dilukis dengan cara menarik garis dari E1 ke F dan garis dari S ke RNP. Kedua garis tersebut akan berpotongan di titik

44

Menentukan jumlah stage setimbang dalam ekstraksi multistage berlawanan arah


Untuk menentukan jumlah stage setimbang : Membuat garis kesetimbangan dari titik E1 dengan cara menarik garis dari titik E1 memotong kurve distribusi (x vs y) kemudian transformasikan ke garis diagonan x=y dan tarik garis ke kurve kesetimbangan fase rafinat di titik R1. garis E1 dan R1 adalah satu garis kesetimbangan yang saling meninggalkan stage ke 1. Setelah R1 di dapat, ingat bahwa selisih R1-E2 adalah . Letak titik titik R1, E2 dan terletak pada satu garis lurus. E2 dapat dilukis dengan cara menarik garis lurus dari ke R1 terus memotong kurve kesetimbangan fase ekstrak di titik E2. Untuk melukis garis kesetimbangan berikutnya tarik garis dari titik E2 ke kurve distribusi x vs y dan transformasikan ke garis diagonal x=y kemudian taris garis ke kurve kesetimbangan fase rafinat di titik R2. Garis yang ditarik dari titik E2 ke R2 adalah garis kesetimbangan pada stage ke 2. dst sampai garis kesetimbangan yang dilukis melalui titik RNP. Hitung jumlah garis kesetimbangan yang dilukis itulah jumlah stage setimbang yang dicari. Lihat gambar.

45

Menentukan jumlah stage ekstraksi berlawanan arah

C=1

R3

R1 R2

E1

E2 E2

yCE
E3

F M

R A=1

RNp

B=1

xCR
46

Menentukan solven minimal


Solven minimal dapat ditentukan dengan cara trial & error garis kesetimbangan yang apabila diperpanjang akan melalui titik F.

C=1

yCE

Garis kesetimbangan apabila diperpanjang melalui titik F

K=E1,MIN

MMIN min A=1 RNp B=S

xCR

47

Perbandingan panjang garis FM MIN /BMMIN adalah perbandingan solven/umpan di mana jumlah solven adalah minimal. Pada keadaan solven minimal jumlah stage tak terhingga. Operasi ekstraksi harus menggunakan solven lebih besar dari solven minimal karena solven minimal hanyalah salah satu cara untuk menghindari kesalahan di dalam menentukan jumlah solven yang diperlukan di dalam ekstraksi.

48

Contoh soal ekstraksi berlawanan arah dengan solven minimal


Apabila 8000 kg/jam larutan asam setat-air mengandung 30% berat asam asetat diekstraksi dengan pelarut isopropil eter apabila jumlah solven yang digunakan 8.000 kg/jam. Hitung E1, R1 dan % berat asam asetat (C) yang terekstrak.

49

Apabila cairan A dan B tidak saling melarutkan maka koordinat kesetimbangan dapat dilukis dengan koordinat y Vs x di mana

50

Koordinat keseimbangan campuran yang tidak saling melarutkan


Komposisi C dalam fasa ekstrak (kg C/kg B) (y,)

Komposisi C dalam fasa rafinat (kg C/kg A)


51

Menghitung jumlah stage setimbang ekstraksi berlawanan arah campuran tidak saling menlarutkan

52

Untuk stage 1 sampai ke s persamaan garis menjadi

Komposisi C dalam fasa ekstrak (kg C/kg B) (y,)

2
3 Np

Garis operasi (A/B)

Komposisi C dalam fasa rafinat (kg C/kg A)


53

Contoh soal
Contoh soal 10.4 Apabila 1000 kg/jam campuran terdiri dari nikotin (C) dan air (A) akan diekstraksi secara berlawanan arah menggunakan pelarut kerosen pada suhu 20C sehingga kandungan nikotin di dalam rafinat akhir = 0,1 % berat. Hitunglaj kebutuhan kerosen minimal (b) jumlah stage teoritik yang diperlukan apabila kerosen yang digunakan 1150 kg/jam.

54

Ekstraksi berlawanan arah dilengkapi dengan refluk


Solven BE E1
Penguapan solven

E2

Ee e f

Ef+1

Es s

Es+1
Np

Solven
RNp

E
PE

R0
Ekstrak (produk)
Umpan (F)

Sebagaimana yang terjadi pada ekstraksi berlawanan arah, ekstrak yang meninggalkan ekstrakstor diharapkan mempunyai kemurnian yang tinggi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sebagian ekstrak dikembalikan sebagi refluk terbukti dapat meningkatkan kemurnian produk seperti juga yang terjadi pada menara distilasi. Refluk tidak diperlukan pada fasa rafinat karena pada ekstraksi tidak ada panas yang harus dimasukkan seperti pada boiler, tetapi pada elstraksi solven menggantikan peranan panas (boiler).
55

Umpan yang akan dipisahkan dimasukkan ke dalam stage tertentu di dalam ekstrakstor sementara ekstrak dan rafinat mengalir secara berlawanan arah. Konsentrasi solute (C) naik pada seksi ekstrak dan kontak dengan rafinat yang mengandung komponen C dengan lebih besar. Pada akirnya ekstrak meninggalkan stage pertama dan kemudian solven dipisahkan dari A dan C di dalam menara pemisah solven. Sedangkan A dan C sebagian diambil sebagai produk PE dan sebagian dikembalikan sebagai refluk (R0 ).

56

Neraca masa total dan komponen

57

58

59

60

Contoh soal sistem campuran etilbenzena (A), stirena (C) dan B?


Contoh soal 10.5 Larurutan terdiri dari 50% etilbenzena (A) dan 50% stiren (C). Komponen C akan dipisahkan dari A pada suhu 25 C. Kecepatan umpan F= 1000 kg/jam. Hasil ekstrak mengandung 50% stirena dan rafinat mengandung 10% stirene. Sebagai pelarut menggunakan dietilen glikol (B). Hitunglah jumlah stage minimal dan (b) refluk minimal dan (C) jumlah plat apabila refluk=1,5 Rminimal. Diagran kesetimbangan lihat halaman 510 Treybal.
61

Contoh soal ekstraksi sistem campuran terner asam asetat (C), iso propil eter (B) dan air (A) menggunakan aliran berlawanan arah

Larutan umpan 1000 kg/jam terdiri dari 30 % berat asam asetat akan diekstraksi secara berlawanan arah multi stage dengan menggunakan iso propil eter sebagai pelarut. Kandungan asam asetat pada rafinat terakhir 2 % berat. a. Hitunglah keperluan pelarut minimal. b. Apabila pelarut menggunakan 1,5 pelarut minimal berapakah jumlah stage yang diperlukan c. Apabila pelarut yang digunakan adalah 2500 kg/jam berapakah jumlah stage yang diperlukan. d. Berapak E1 (kg/jam) dan komposisi E1. e. Berapa % asam asetat yang dapat dikestrak? (Geankoplis 12.7-4).
62

Contoh soal ekstraksi campuran terner aseton, MIBK, air arus berlawanan arah.

Larutan 1000 kg/jam terdiri dari aseton dan air dengan komposisi aseton 23,5 % berat dan 76.5 % berat air akan diekstraksi secara berlawanan arah menggunakan pelarut methyl isobutil keton (MIBK). Rafinat akhir hanya mengandung 5 % berat aseton. a. Hitunglah keperluan pelarut minimal. b. Apabila menggunakan pelarut 1,5 kali pelarut minimal hitunglah keperluan stage ideal. (Geankoplis 12.7-3) c. Berapakah ekstrak dan rafinat (kg/jam) d. Berapakah aseton yang terekstrak (kg/jam).

63

Contoh soal ekstraksi sistem metilsikloheksana (C), heptana (A), anilin (B)

4. A simple countercurrent extraction is removing methylcyclohexane from n-heptane using aniline as the solvent. The feed is 60 wt % methylcyclohexane and 40 wt % nheptane. The outlet raffinate is 60 wt% nheptane and has a flow rate 1000 kg/hr. The inlet solvent is 5 wt% n-heptane and contains methylcyclohexane. The inlet solvent flow rate is 5000 kg/hr. Assume that all stages are equilibrium stages. a. determine the composition of outlet extract stream. b. What is the flow rate of feed required? (Wankat, D13, p.
64