ABSTRAK Kondiloma akuminata merupakan manifestasi klinis dari adanya infeksi dari Human Papiloma Virus (HPV) terutama

stain 6 dan 11 yang menyerang organ genitalia dan umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Pada wanita hamil dengan infeksi HPV biasanya mengalami gejala yang cenderung berkembang menjadi lebih aktif dikarenakan adanya perubahan anatomi terutama vaskularisasi organ genitalia, adanya penurunan imunitas pada wanita hamil yang biasanya adalah keadaan fisiologis dan pengaruh hormonal. Yang masih menjadi kontroversial adalah pemilihan terminasi pada ibu hamil dengan infeksi HPV. Dari beberapa jurnal disebutkan bahwa tidak ada perbedaan kecenderungan penularan HPV ke janin antara persalinan melalui pervaginam maupun seksio sesarea. Persalinan seksio sesarea diindikasikan bila masa condiloma yang sedemikian besar sehingga menghalangi jalan lahir atau memiliki risiko perdarahan bila dilahirkan pervaginam.

Kata Kunci : kondiloma akuminata dan metode persalinan

1

Manifestasi klinis pada bayi yang sering terjadi adalah dapat menyebabkan laring papilomatosis pada bayi yang dilahirkan yang mengisap bahan infeksius saat persalinan. Adanya infeksi intra uterine secara accenderen juga masih dimungkinkan pada ibu hamil yang menidap kondiloma akuminata saat kehamilan. terutama pada kasus-kasus ketuban pecah prematur. pervaginam atau perabdominal dan risiko terjadinya laringeal papilomatosis pada bayi. Pada pembahasan kasus berikut ini akan dibicarakan mengenai pertimbangan pemilihan metode persalinan pada ibu hamil yang mengidap kondiloma akuminata. 2 . Dari beberapa literatur. disebutkan bahwa pemilihan metode persalinan tidak berhubungan secara signifikan (pervaginam atau perabdominal) dalam penularan HPV pada bayi yang bermanifestasi terjadinya laringeal papilomatosis.BAB I PENDAHUALUAN Kondiloma akuminata merupakan manifestasi klinis dari infeksi virus yang disebabkan oleh Human Papiloma Virus(HPV) terutama HPV tipe 6 dan 11.

5 Meskipun gejala klinis sangat khas akan tetapi masih perlu dilakukan pemeriksaan penunjang dengan : 1. Uji asam asetat. Dengan membubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. parakeratosis dan koilositosis. Selain bentuk itu bila berkembang dapat menjadi sangat besar.2. kondiloma akuminata. yang biasanya disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11. 2. 18.2. Akibat yang bisa terjadi kemungkinan munculnya neoplasia pada daerah serviks vagina dan vulva. Dalam beberapa menit lesi akan berubah warna menjadi putih. “rete ridges” yang memanjang dan menebal.1. Pada kasus prematuritas banyak ditemukan hasil sero positif terhadap HPV tipe 16.4. 3 . 45.3. Beberapa tipe dari HPV dapat menimbulkan kutil. Keduanya dihubungkan dengan kemungkinan adanya keganasan. dan 56. Giant Condyloma ( Buschke Lowstein ) dan Papulosis Bowenoid. Human Papilloma Virus tipe 6 dan 11 dapat menyebabkan laring papilomatosis pada bayi yang dilahirkan yang mengisap bahan infeksius saat persalinan.1 DIAGNOSIS1. Virus masuk kedalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit sehingga sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat berhubungan seksual. Kemungkinan keadaan basah daerah vulva pada saat kehamilan merupakan kondisi yang bagus untuk pertumbuhan virus. akantosis. Neoplasia intraepitil pada serviks lebih disebabkan oleh HPV tipe 16.1 Sering kali tanpa sebab yang diketahui pada saat kehamilan kondiloma akuminata akan membesar dan meluas sampai memenuhi dan menutupi vagina dan perineum yang menyebabkan kesulitan persalinan pervaginam. 3.BAB II TINJAUAN PUSTAKA HUMAN PAPILLOMAVIRUS (HPV) Infeksi HPV pada daerah genital tidak jarang terjadi pada wanita hamil dengan atau tanpa keluhan.4 MANIFESTASI KLINIK Masa inkubasi kondiloma akuminata berlangsung antara 1–8 bulan. Kolposkopi Pemeriksaan histopatologi yang menunjukkan gambaran papilomatosis. Pertumbuhan kutil dapat dibagi dalam 3 bentuk yaitu : bentuk akuminata (jengger) bentuk papul dan bentuk datar.

Pada umumnya bila tidak begitu penting dan tidak begitu mengganggu maka tidak perlu memberikan mengobatan pasa saat kehamilan karena dia akan menghilang setelah persalinan.4 Secara global. 3. Pemberian obat dilakukan seminggu 2 kali sampai lesi hilang.5 % ( podofiloks ) Bahan ini merupakan zat aktip yang terdapat pada podofilin. Obat ini dapat diberikan kepada wanita hamil. oleskan tingtur pada lesi dan biarkan selama 4-6 jam dan kemudian dicuci. Beberapa obat pilihan yang ada dibatasi untuk tidak dipergunakan pada wanita hamil. Pemilihan cara pengobatan tergantung pada besar.7. Interferon tidak dianjurkan diberikan pada wanita hamil.3. Terapi ditujukan untuk mengurangi keluhan dan memilih pengobatan yang tidak toksik terhadap ibu dan anak dan mengurangi ukuran besar kutil. Pemberiannya seminggu sekali dengan cara berhati-hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. HPV DALAM KEHAMILAN2.Tidak dianjurkan untuk wanita hamil. Bila tidak memberi hasil dapat diberikan interferon dan immunoterapi. Tindakan bedah yang dapat dilakukan dengan bedah skalpel. c. bedah beku (cryosurgery) dan bedah laser untuk melakukan eksisi masa tumor. Saat kehamilan dianjurkan untuk sering mencuci dan membersihkan daerah vulva ditambah membersihkan vagina dengan irigasi dan menjaga daerah itu tetap kering dan hal ini akan menghambat proliferasi kutil itu dan mengurangi ketidak nyamanan yang ada. Tidak dianjurkan untuk wanita hamil. Gambaran klinis yang tampak berupa gambaran seperti kembang kol 4 . b. Asam trikloroasetat 50 %.PENTALAKSANAAN DAN PENGOBATAN6. jenis dan jumlah lesi serta fasilitas pelayanan yang tersedia 1. 2. Reaksi iritasinya lebih jarang terjadi dibandingkan dengan podofilin. d. bedah listrik. Setiap kali pemberian jangan melebihi 0. Obat ini dapat dioleskan sendiri oleh penderita sebanyak 2 kali sehari selama 3 hari berturut-turut. lokalisasi . Krim 5-fluorourasil 1-5 %. Tingtur Podofilin 15-25 %.5 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Podofilitoksin 0.8 Pengobatan saat hamil sangat mengganggu penderita dan bagusnya lesi ini biasanya menghilang setelah persalinan. terutama untuk kondiloma yang terletak diatas meatus uretra. Setelah melindungi kulit disekitar lesi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi. infeksi Human Papillomavirus (HPV) adalah infeksi menular seksual paling umum terjadi. Kemoterapi a. Obat ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil.

Keadaan ini disebut dengan Juvenile Onset recurrent Respiratory Papilomatosis adalah salah satu penyebab paling umum dari suara serak dan obstruksi jalan napas pada anak. Keadaan ini dapat menghalangi saluran reproduksi dan dapat berakibat terjadinya perdarahan banyak saat persalinan. Lesi HPV yang berupa kondiloma dapat terjadi pada daerah cervik ( kondiloma serviks ) atau condilom avulva cenderung berkambang dalam ukuran dan vaskularitas selama kehamilan karena adanya perubahan anatomi termasuk vaskularisasi selama kehamilan dan adanya penurunan kekebalan alami serta pengaruh hormonal. ada studi terkontrol telah menunjukkan bahwa seksio sesarea mencegah kondisi ini.12 Penyakit yang kita tau menyebabkan transmisi sekunder pad aneonatal adalah HPV yaitu srain 6 atau 11 sebagai penyebab condiloma acuminata yang akan menginduksi terjadinya laringeal papylomatosis pada bayi baru lahir. dan itu dapat disebabkan oleh infeksi asendering dari saluran vagina setelah terjadinya ketuban pecah dini.12 Neonatus terkena penularan infeksi virus terutama selama perjalanan melalui jalan lahir. Laring papillomatosis11. Namun. bayi baru lahir dapat menalami infeksi kongenital intra uterine. tingkat kejadian ini 1-4/100 000 kelahiran. Risiko penularan HPV kepada neonatal 11.pada daerah genital. walaupun dengan kelahiran melalui seksio sesaea. Persalinan pervaginm dibandingkan dengan seksio sesarea11. Meskipun modus klasik penularan HPV pada bayi baru lahir adalah selama perjalanan janin melalui jalan lahir dan mengalami kontak dengan ibu yang terinfeksi. Selain itu. Infeksi neonatal kadang-kadang terlihat sebagai kutil dubur kelamin. dalam kasus tertentu. Indikasi klinis untuk seksio sesarea yang melibatkan HPV adalah adanya kondiloma vagina dan / atau introital luas 5 . Bayi baru lahir dengan laringeal papiloma mungkin tanpa gejala di awal kelahiran. serta resiko yang diketahui seksio sesarea telah mempromosikan rekomendasi bahwa keberadaan condiloma pada alat kelamin tidak menjadi satu-satunya alasan untuk dilakukanya persalinan secara seksio sesarea.12 Risiko rendah papillomatosis laring dan laporan kejadian tersebut pada anak yang lahir dengan seksio sesarea. Risiko kondiloma acuminata pada kehamilan adalah dua kali lipat. tetapi papiloma laring dapat terjadi da nberlanjut 2-5 tahun dan dan hidup di sel epiglotis dan mungkin meligatka nsaluran laring sampai pada cabang-cabang trakheo bronkhial. Ada pula infeksi yang terjadi saat pembuahan dan terjadi transmisi intra uterine melalui sperma yang membawa HPV carier atai infeksi transplacenta. prevalensi Condiloma meningkat dari pertama sampai trimester ketiga dan menurun secara signifikan pada periode postpartum. Transmisi bahkan dapat terjadi tanpa adanya lesi klinis jelas. Namun. Selama kehamilan.

32. Dari Arch Gynecology and Obsetri 2011 didapatkan risiko kelahiran dengan SC yaitu 40.5% pada lesi yang terlokalisasi dan 13. namun adanya kondiloma akuminata terbukti meningkatkan rasio kelahiran lewat seksio sesare. Bila tidak ada indikasi melahirkan persalinan secara sesarea. biaya murah. Walaupun tidak ada perbedaan risiko infeksi yang diturunkan terhadap janin berdasarkan metode persalinan. komlikasi kecil dibandingkan seksio sesarea dan waktu tinggal di rumah sakit lebih singkat sehingga mengurangi biaya perawatan yang dikeluarkan. Risiko penularan infeksi tidak berbeda antara kelahiran pervaginam maupun perabdominal.0% pada kasus dengan lesi luas. persalinan pervaginam menjadi pertimbangan karena mempunyai keuntungan.0% dari semua kasus kondiloma yang dilakukan persalina nsecara seksio sesarea.menghalangi jalan lahir atau adanya kondiloma yang luas dan rapuh yang berisiko terjadinya perdarahan bila dilakukan kelahiran pervaginam.13 6 .

SI -/Toraks : C/P dbn 7 . pasien merasa hamil 9 bulan. Riwayat Menstruasi   Menarce 13 tahun Siklus mentruasi teratur tiap bulan lama haid 3-7 hari : Ny. kenceng-kenceng teratur belum dirasakan. terasa gatal dan bila digaruk mudah mengeluarkan darah. air kawah belum dirasakan keluar. cm VS: T: 150/80 N: 90x/mnt RR: 20x/mnt t: 36. G. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Alamat Pendidikan Pekerjaan B.5 C Mata: CA-/. Riwayat KB Pasien tidak KB F. KRONOLOGIS Ny S G1P0A0. lendir darah (-) C. Riwayat Obsetri Hamil ini D. Pemeriksaan Fisik H. gerakan janin masih dirasakan. Riwayat pekerjaan   Pasien tidak bekerja dan hanya sebagai ibu rumah tangga Suami bekerja sebagai buruh bangunan dan kadang-kadang mengerjakan proyek bangunan di beberapa kota lain. S : 33 tahun : Karang Anyar : SLPT : Ibu rumah tangga E. PEMERIKSAAN FISIK: KU: baik. 27th 38 mgg Datang sendiri dengan keluhan benjolan di vagina dan seperti kembang kol yang dirasakan sejak sekitar 3 bulan yang lalu.BAB III LAPORAN KASUS A.

teraba janin tunggal. peortio lunak. memanjang. AK (-). preskep.Abd: supel.intra uterine. DJJ (+)dg FB : BPD 88 AC 330 FL 69 EFBW 2900gr Placenta insersi di corpus kanan grade II Air ketuban kesan cukup tak tampak jelas kelainan kongenital mayor 8 . IU. mecucu dibelakang. HIS (-). preskep. kepala turun di Hodge II. VT: V/U tenang. tampak janin tunggal. dan lesi-lesi kecil lain menyebar pada labia mayora dan menginvasi sebagian dinding vagina proksimal. STLD (-) USG: vu terisi cukun. NT (-). dinding vagina dalam batas normal. KK dan penunjuk belum dapat dinilai. kepalamasuk panggul < 1/3 bagian . eff (-). preskep. pembukaan (-). DJJ: 12-12-13/reg Genitalia: Inspeksi: tampak gambaran lesi pada daerah perineum dan komisura posterior berupa kutil dengan ukuran diameter 1-2 cm.

1 Gol A GDS 76 Alb 3.6 SGOT 21 Ur 22 Na 138 HBsAg (-) Diagnosis: PER pd Primigravida h.6 AT 256 PT 11.3 SGPT 14 Cr 0.aterm bdp dg Kondiloma akuminata Terapi:      Usul SCTP elektif  mondok bangsal konsul anastesi konsul fetomaternal Hct 35 AE 3.5 K 3.1 LDH 315 Cl 109 Hasil Konsul fetomaternal : Advice : acc SCTP elektif Konsul bagian Kulit Hasil konsul TS Kulit kelamin :   Dx : Kondiloma Akuminata Tx : Tutul podofilin ( dipoli kulit & kelamin) Dilakukan SCTPem tgl 30 agustus 2012 :  Lahir bayi perempuan BB 2800gr AS 8-9-10 9 .Laboratorium: Lab tgl 28-07-2012 Hb 11.61 APTT 22.5 Ewitz +1 AL 10.

mengingat beberapa kasus dengan kondiloma yang kecil dan ringan dapat regresi spontan setelah persalinan. edukasi untuk pemeriksaan pasangan harus dilakukan agar tidak terjadi ping pong fenomena bila pengubatan hanya dilakukan pada pihak istri saja. Permasalahan pada kasus ini   Pemilihan metode persalinan Penangan post partum B. Indikasi seksio sesaria didasarkan bila ada temuan masa kondiloma yang sedemikian besar dan menutupi jalan lahir atau menyebabkan risiko perdarahan banyak bila persalinan dilakukan pervaginam. Yang masih menjadi kontroversial adalah pemilihan terminasi pada ibu hamil dengan infeksi HPV. adanya penurunan imunitas pada wanita hamil yang biasanya adalah keadaan fisiologis dan pengaruh hormonal. Oleh karena sebab dari penyakit ini adalah ditularkan melalui hubungan seksual.BAB IV PEMBAHASAN A. Persalinan seksio sesarea diindikasikan bila masa condiloma yang sedemikian besar sehingga menghalangi jalan lahir atau memiliki risiko perdarahan bila dilahirkan pervaginam. Untuk manajemen selanjutnya pada pasien ini. Dari Indian Journal 2009: Sexual trasmited Disease and ADSD : pregnancy and sexually trasmited viral infection: disebutkan bahwa tidak ada perbedaan kecenderungan penularan HPV ke janin antara persalinan melalui pervaginam maupun seksio sesarea. 10 . Pada kasus ini. masa kondiloma cukup besar dengan diameter 1-2 cm. Pada pasien ini. menurut penulis masih ada tempat dilakukanya persalinan pervaginam menimbang keuntungan dari metode persalinan pervaginam. Pembahasan Kondiloma akuminata merupakan manifestasi klinis dari adanya infeksi dari Human Papiloma Virus (HPV) terutama stain 6 dan 11 yang menyerang organ genitalia dan umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Pada wanita hamil dengan infeksi HPV biasanya mengalami gejala yang cenderung berkembang menjadi lebih aktif dikarenakan adanya perubahan anatomi terutama vaskularisasi organ genitalia. dapat dipertimbangkan terapi ablasi dengan elektro couter atau criyo surgery.

org 13. Penyakit Menular seksual dalam Kehamilan : Panduan Fetomaternal. Genital Human Papillomavirus. New York : McGraw Hill. Gonzalez.medinstitute. Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER). chapter 3. Made Kornia Karkata. 2005. chapter 2. Genital Warts. Arch Gynaecology and obsetric Journal : perinatal outcome in condyloma acuminata pregnancies: 2011 11 . et al. 2005. vol 285. P. Pregnancy and sexualliy trasmited viral infectins: Indian Journal : sexually trasmited disease and AIDS 2009 3. Matthew. Brandt AM. 1997. p 63 – 65. Hills N. 2002. et all. Sandikot RT. Kiviat NB. Jones DS. In Holmes : Sexually Transmitted Diseases. chapter xxii. Jakarta : FK UI. 8. Anderson RM. p 347 – 356. 11. Human Papilloma Virus. In Holmes : Sexually Transmitted Diseases.com 7. Shiboski S. no 23. 6. FK UI. Singhal. jakarta 2002 2. 5. Vaginitis and Sexually Transmitted Diseases in Infectious Diseases. 4. et al. 12. 3rd ed. WebMD Inc. p 79 – 84. http://www. Moscicki A. Andrew AC.DAFTAR PUSTAKA: 1. Medical Institute. In Holmes : Sexually Transmitted Diseases. Infeksi Menular Seksual. chapter 25. J Am Med Assc. Following Maternal Genital Warts.mayo clinic. February. vol 81. http://www. 2003. Golden. 2002. Mayo Clinic. 2002. edisi ketiga. 3rd ed. no 1. Sex Workers : Influence of age and geographical origin in the prevalence of high risk human papillomavirus in migrant female sex workers in Spain. 10. Historical Perspectives on Sexually Transmitted Diseases : Challenges for Prevention and Control. 3rd ed. vol 73. 2005. Sex Transm Infect. New York : McGraw Hill. The Medical Ins Fact. Genitourinary Med. Koutsky LA. New York : McGraw Hill. Recurrent Respiratory Papillomavirus with Pulmonary Cystic Disease in a Child. 2001. Eddy Tiro. Transmission Dynamics of Sexually Transmitted Infections.37. p 25 . Risk for Incident Human Papillomavirus Infection and Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion Development in Young Females. Amo J. 9. 2004. p 15 – 20. Losana.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful