Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Titrasi kompleksometri adalah suatu cara penetapan kadar dengan metode titrasi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks antara complexing agent (agen pembentuk kompleks) dengan ion logam sebagai atom pusat. Gugus yang terikat pada atom pusat disebut sebagai ligan. Banyaknya ikatan yang dibentuk oleh atom logam pusat disebut bilangan koordinasi dari logam tersebut. Titrasi kompleksometri ini digunakan untuk berbagai macam penetapan kadar zat. Antara lain, Bismuth Subnitrat, Kalsium Laktat, dan Alukol. Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titrasi argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida akan tetapi juga dapat dipakai untuk menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat AsO43Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengemukakan bagaimana cara penetapan kadar zat-zat secara kompleksometri dan argentometri serta hal-hal apa yang harus diperhatikan pada saat penetapan kadar.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara melakukan penetapan kadar pada Bismuth Subnitrat, Kalsium Laktat dan Alukol secara kompleksometri? 2. Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu melakukan penetapan kadar secara kompleksometri? 3. Apa saja metode-metode titrasi secara argentometri?

4. Bagaimana cara melakukan penetapan kadar pada luminal dan teofilin secara argentometri? 5. Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan sewaktu melakukan penetapan kadar secara argentometri?

1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah Analisis Sediaan Farmasi ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara melakukan penetapan kadar dari Bismuth Subnitrat, Kalsium Laktat dan Alukol secara kompleksometri dan cara melakukan penetapan kadar dari luminal dan teofilin secara argentometri, metode-metode titrasi argentometri serta faktor-faktor yang harus

diperhatikan ketika melakukan penetapan kadar baik secara kompleksometri maupun argentometri.

1.4 Metode Penulisan Metode yang dipakai untuk penulisan makalah ini adalah studi pustaka, baik dari bahan bacaan yang ada di perpustakaan maupun media elektronik sebagai sumber pencarian informasi tambahan.

BAB II ISI

2.1 Teori Kompleksometri Titrasi kompleksometri adalah suatu cara penetapan kadar dengan metode titrasi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion) antara complexing agent (agen pembentuk kompleks) dengan ion logam sebagai atom pusat. Gugus yang terikat pada atom pusat disebut sebagai ligan. Banyaknya ikatan yang dibentuk oleh atom logam pusat disebut bilangan koordinasi dari logam tersebut. Tidak semua reaksi kompleks dapat digunakan untuk titrasi. Syarat-syarat yang harus diperhatikan antara lain: 1. Kompleks yang terbentuk harus stabil. K stabilitas makin besar, maka kompleks makin stabil. Selain itu, kestabilan dari senyawa kompleks yang terbentuk tergantung dari sifat kation dan pH dari larutan, oleh karena itu titrasi dilakukan pada pH tertentu. Pada larutan yang terlalu alkalis perlu diperhitungkan kemungkinan mengendapnya logam hidroksida. 2. Reaksi yang terjadi harus kuantitatif, sehingga dapat diukur. 3. Tidak mempunyai reaksi samping. Bila memiliki dua atau lebih tingkat keseimbangan reaksi, maka perbedaan antara K stabilnya harus cukup besar. 4. Pembentukan kompleks tidak terlalu lama, kompleks yang terbentuk tidak boleh mengendap (tingkat kelarutan tinggi). Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. 5. Ada perubahan nyata yang dapat diamati, baik dengan indikator visual maupun dengan potensiometri.

6. Adanya indikator yang dapat menunjukkan perubahan tersebut, dan bekerja pada kondisi yang sama dengan reaksi kompleksasi yang terjadi. Reaksi pembentukan kompleks dapat dianggap sebagai suatu reaksi kimia asam basa Lewis dengan ligan bertindak sebagai basa, karena

menyumbangkan sepasang elektronnya kepada kation, yang merupakan asamnya. Ikatan yang terbentuk antara atom logam pusat dengan ligan seringkali bersifat kovalen, namun dalam beberapa kasus antaraksi tersebut berupa tarik-menarik Coloumb. Ikatan kompleks yang terbentuk antara ion logam dengan suatu kompleksing agent juga dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: a. Ikatan kompleks biasa Pada tipe ikatan ini, ion pusat berikatan dengan molekul yang hanya mempunyai satu donor pasangan elektron sunyi. b. Ikatan kompleks chelat (kelat) Merupakan ikatan yang berbentuk cincin. Cincin heterosiklik terbentuk oleh interaksi suatu ion logam dengan dua atau lebih gugus fungsional dalam ligan dinamakan cincin kelat; molekul organiknya pereaksi pembentuk kelat, dan kompleksnya dinamakan kelat atau senyawa kelat. Penggunaan analitik didasarkan pada penggunaan pereaksi kelat sebagai titran untuk ion-ion logam telah menunjukan pertumbuhan menarik. Sebagai contoh adalah ikatan ion logam dengan EDTA. Macam-macam komplexon yang dapat digunakan pada titrasi

kompleksometri antara lain: garam Na dari Asam Nitrilo Triasetat (NTA), garam dinatrium dari asam Etilen Diamin Tetraasetat (Na2EDTA), dan garam Na dari Asam-1,2-diamino-sikloheksan tetraasetat.

Yang paling sering digunakan sebagai komplekson adalah Na2EDTA atau garam Na dari asam Etilen Diamin Tetraasetat, karena: a. b. Dapat bereaksi dengan hampir semua logam pada sistem periodik. Stabilitas kompleks yang terbentuk paling besar jika dibandingkan dengan komplekson lain. c. Ligannya membentuk senyawa kelat hexadentat yang sesuai dengan bilangan koordinasi dari ion logamnya. d. e. Mudah larut dalam air dan dapat diperoleh dalam keadaan murni. Harga relatif lebih murah.

Gambar 1. Ethylenediaminetetraacetic acid (EDTA)

Na2EDTA memiliki 4 macam penguraian: H4Y H3Y H3Y H2Y2+ H+ + H+ + H+ + H+ pK1 = 2,0 pK2 = 2,7 pK3 = 6,2 pK4 = 10,3

H2Y2- HY3 HY3 Y4-

Hal-hal yang perlu diketahui dalam penggunaan Na2EDTA: a. Dalam pembentukan kelat, satu ion selalu bereaksi dengan satu ion H2Y2- atau HY3-, tidak tergantung pada valensi atau muatan ion logamnya. b. Untuk logam-logam dengan berbagai valensi, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: M2+ M3+ M4+ Mn+ c. + H2Y2+ H2Y2+ H2Y2+ H2Y2 MY2 MY MY + 2H+ MY(n-4) + 2H+ + 2H+ + 2H+

Ionisasi kompleks tergantung pada pH larutan. Logam-logam valensi 2 stabil pada pH basa, sedangkan logam dengan valensi 3 stabil pada pH asam.

d.

Bila

pH

larutan

terlalu yaitu

rendah, kompleks

dapat hidrogen

terbentuk dengan

hidrogenkompleksonat,

komplekson yang memperlambat reaksi, dan terjadi juga kompetisi antara logam dengan ion H3O+. Penentuan titik akhir (TA) titrasi dapat dilakukan dengan cara: a. Potensiometri

b. c.

Kolorimetri Visual

Indikator visual yang digunakan dapat berupa: Indikator Logam Indikator logam adalah indikator yang memiliki warna yang berbeda dalam keadaan bebas dan dalam keadaan terikat dengan logam. Logam indikator + EDTA logam-EDTA + indikator (warna A) Syarat-syarat indikator logam: a. Stabilitas kompleks logam dengan titran harus lebih besar dari stabilitas kompleks logam dengan indikator. Untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleksindikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. b. kompleks logam dengan indikator itu harus memiliki kestabilan yang cukup, jika tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. c. Reaksi warna yang terjadi harus sensitif, sekurangnya harus selektif dengan sesedikit mungkin gangguan. d. Perbedaan warna antara kompleks logam-indikator dengan indikator bebas harus cukup jelas dan dapat diamati. e. Reaksi subtitusi indikator harus berlangsung dengan cukup cepat, sehingga TA dapat dilihat dengan jelas dan tepat. f. Pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. (warna B)

Indikator Redoks Indikator ini hanya dapat dipakai untuk logam-logam yang mempunyai dua atau lebih tingkat oksidasi, dan indikator tersebut memberikan warna yang berbeda dalam bentuk tereduksi dari bentuk teroksidasinya. Indikator Asam-Basa Indikator ini dapat digunakan jika ion H+ yang dilepaskan pada reaksi pembentukan kompleks titrasi secara asam basa. Beberapa indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri antara lain: Eriochrome Black T (EBT) untuk penetapan kadar logam Cd, Pb, Hg, Zn, Mg, Ca, dan Sr; indikator Thiourea untuk logam Bi; Xylenol Orange untuk Bi dan Al; Pyridil Azanaftol untuk Cu, Cd, Zn, dan Ce; dan lain-lain. Pengamatan perubahan warna pada TA titrasi dapat berbeda tergantung dari metode titrasi yang dilakukan: a. Bila titrasi dilakukan secara langsung, maka titrasi diakhir pada saat warna indikator berubah sempurna dari warna pada keadaan terikat sebagai kompleks logam-indikator menjadi warna indikator bebasnya pada pH yang bersangkutan, sebab semua logam harus ditarik dari bentuk logam-indikator menjadi bentuk logamkomplekson. b. Bila titrasi dilakukan dengan cara tidak langsung, maka titrasi diakhir pada saat warna indikator tepat berubah, berasal dari bentuk kompleks logam baku indikator. Jika titrasi dilakukan dengan cara tidak langsung, pada awalnya bentuk indikator adalah indikator dalam keadaan bebas karena logamnya terikat dengan komplekson yang diberikan berlebih. Titrasi dengan logam baku akan mengikat komplekson berlebih tersebut dan jika komplekson telah semuanya terikat, akan terjadi kompleks logam baku dengan indikator yang ditandai dengan perubahan wana indikator.

Titrasi dengan EDTA dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: a. Cara langsung Dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25 kation dengan menggunakan indikator logam. Dilakukan dengan mendapar larutan ion logam yang akan dititrasi pada pH yang sesuai, lalu dititrasi langsung dengan larutan baku Na2EDTA. Pengendapan hidroksi atau garam basa dapat dicegah dengan penambahan kompleksing agen (sitrat dan tartrat). Cara langsung ini dapat dilakukan terutama jika ada indikator yang cocok untuk titrasi. Syarat lain adalah logam-logam dapat larut dalam pelarut yang digunakan pada pH titrasi. b. Cara tidak langsung Dilakukan dengan cara menambahkan larutan Na2EDTA berlebih pada larutan yang mengandung ion logam, didapar pada pH yang sesuai, lalu kelebihan EDTA dititrasi dengan larutan baku logam. Cara ini dilakukan jika tidak ada indikator yang cocok untuk penetapan kadar secara langsung, dan logam-logam tidak larut pada pelarut yang digunakan atau mungkin mengendap pada pH titrasi. Contoh: penentuan sulfat dengan menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan tersebut dengan EDTA. c. Cara subtitusi Dilakukan dengan menambahkan larutan yang mengandung ion logam pada kompleks logam yang ekuivalen, lalu kompleks atau logam yang dibebaskan ditentukan dengan larutan baku. Cara ini digunakan jika ion logam tidak bereaksi dengan indikator logam, dan jika kestabilan kompleks logam-EDTA lebih besar dari kestabilan kompleks logam dengan logam lain.

d.

Cara asam basa Dilakukan dengan menambahkan larutan Na2H2Y berlebihan kepada larutan analit yang bereaksi netral. Ion hidrogen yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku basa. Dapat dilakukan karena dalam setiap pembentukan senyawa kompleks selalu dibebaskan ion H+, yang dapat ditentukan dengan cara asam basa biasa dengan syarat warna kompleks yang terjadi tidak menutupi warna indikatornya. Bila hal ini terjadi dapat pula digunakan indikator potensiometri.

e.

Cara Iodometri H+ yang dibebaskan pada pembentukan kompleks jika ditambah dengan KIO3 atau KI akan membentik I2 yang dapat ditentukan secara iodometri.

f.

Cara Redoks Cara ini hanya dapat dilakukan pada logam-logam yang memiliki dua buah potensial oksidasi. Misalnya Fe.

g.

Metode Miscollineus (lain lain) Cara penetapan kadarnya sama dengan metode subtitusi. Cara ini dilakukan karena kompleks yang terbentuk antara ion logam dengan indikator terlalu stabil sehingga pada penambahan komplekson tidak ada perubahan warna yang dapat diamati.

Cara Kerja a. Pembuatan larutan Na2EDTA Larutkan 18,6g dinatrium etilendiaminteraasetat (Na2EDTA) P dalam air hingga 1000ml.

b.

Pembuatan Dapar Amonnia pH 10 Larutkan 5,4mg ammonium klorida P dalam 70ml ammonium hidroksida 5M, dan encerkan dengan air hingga 100ml.

c.

Pembuatan Jingga Xylenol LP Larutkan 100mg jingga xylenol P dalam 100ml etanol P.

d.

Pembakuan Larutan Na2EDTA 0,05M 1. Timbang seksama kurang lebih 100mg ZnSO4.7H2O, larutkan dalam 100ml air. 2. Tambahkan 3ml buffer ammonia (pH=10) dan 40-50mg Eriochrom Black T (EBT) dalam NaCl (1:100). 3. Titrasi dengan larutan Na2EDTA 0,05M LV hingga warna berubah dari merah violet menjadi biru muda (BE ZnSO4.7H2O=287,54)

2.2 Penetapan Kadar Bismuth Subnitrat dengan Kompleksometri Bismuth Subnitrat

1. Dasar Teori Pemilihan Metode Titrasi kompleksometri adalah suatu cara penetapan kadar dengan metode titrasi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks (complexing agent). Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA). Bismuth merupakan logam (kation) yang dapat membentuk kompleks dengan

zat pengompleks dalam hal ini adalah Na2EDTA oleh karena itu bismuth sub nitrat dapat dititrasi dengan metode kompleksometri. Penetapan titik akhir titrasi digunakan indikator logam, yaitu indikator yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Ikatan kompleks antara indikator dan ion logam harus lebih lemah dari pada ikatan kompleks antara larutan titer dan ion logam. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator-ion logam. Jingga xilenol (xylenol jingga) sebagai indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam (misalnya, dengan penambahan asam nitrat) dimana jingga xilenol yang berwarna merah menjadi warna kuning. Titrasi kompleksometri umumnya dilakukan secara langsung untuk logam yang dengan cepat membentuk senyawa kompleks dalam hal ini kation bismuth dapat dengan cepat membentuk kompleks dengan zat pengompleks (Na2EDTA) sehingga titrasi bismuth sub nitrat menggunakan cara langsung. Bagi logam yang lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi kembali. Titrasi cara langsung juga dapat dilakukan terutama jika ada indikator yang cocok untuk titrasi. Syarat lain adalah logam dapat larut dalam pelarut yang digunakan, dalam hal ini logam bismuth dalam bismuth sub nitrat dapat larut dalam pelarutnya.

2. Prinsip Pembentukan senyawa kompleks yang stabil antara ion logam yang polivalen (bismuth) dengan zat pembentuk kompleks (complexing agent, Na2EDTA).

3. Reaksi Kimia Reaksi antara Bismuth dengan asam nitrat: Bi + 6 HNO3 3 H2O + 3 NO2 + Bi(NO3)3

Reaksi antara kompleks Bismuth-indikator dengan EDTA BiIn- + H2EDTA2- BiEDTA2- + HIn2- + H+ Ket: In BiIn= Indikator (xylenol orange) = warna merah-ungu (kompleks Bi-Indikator)

HIn2- = warna kuning (indikator bebas) Ekivalensi 1 ml dinatrium edetat 0,05 M setara dengan 10,45 mg Bi Pelarut Asam Nitrat

4. Titer yang Digunakan Dinatrium Etilen Diamin Tetraasetat (Na2EDTA)

5. Prosedur Penetapan Kadar a. FI III hal 118-119 Timbang seksama 500 mg, larutkan dalam campuran 2 ml asam nitrat P dan 4 ml air, tambahkan 50 ml air, 20 ml gliserol P dan 200 mg asam sulfamat P, biarkan selama 1 menit, tambahkan 200 ml air dan 0,3 ml larutan ungu katekol P, jika terjadi warna ungu, tambahkan tetes demi tetes amonia encer P hingga terjadi warna biru. Titrasi dengan dinatrium edetat 0,05 M hingga warna kuning.

Catatan : 1 ml dinatrium edetat 0,05 M setara 10,45 mg Bi Bi subnitrat mengandung tidak kurang dari 71,0% dan tidak lebih dari 75% Bi

b. Ph International th. 1967 hal 81 Timbang seksama 200 mg, larutkan dalam campuran 3 ml asam nitrat dan 2 ml air, tambahkan lebih kurang 20 mg indikator xylenol jingga, titrasi degan larutan Na2EDTA 0,05 M sampai terjadi warna kuning.

Catatan : Tiap ml 0,05 Na2EDTA setara 0,01045 g Bi

c. B.P th. 1980 hal 113 (Bismuth) Timbang sejumlah tertentu zat, masukkan dalam erlenmeyer, larutkan dalam sedikit asam nitrat encer, tambahkan 50 ml air, buat pH menjadi 1 atau 2 dengan penambahan asam nitrat encer menggunakan pipet, kocok, tambahkan kurang lebih 30 mg xylenol jingga triturat, titrasi perlahan-lahan dengan natrium edetat 0,05 M, hingga warna larutan berubah dari merah menjadi kuning. Catatan : 1 ml 0,05 M natrium edetat setara 10,45 mg bismuth

d. Spektrofotometri Serapan Atom Panjang gelombang Flame : 223,1 nm : Udara dan Asetilen (AA)

6. Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Selama Analisis 1. Penjagaan pH Suasana titrasi sangat penting dalam kompleksometri, yang bergantung pada masing-masing logam yang dititrasi. Oleh sebab itu digunakan buffer untuk menjaga pH selama titrasi agar suasana titrasi dapat sesuai dengan yang seharusnya. 2. Konsentrasi Ion logam yang dititrasi Kebanyakan titrasi berhasil dengan 0,25 mmol ion logam yang terkonsentrasi dalam 50-150 ml larutan. Bila konsentrasi terlalu tinggi,

titik akhir akan sulit untuk diamati. Untuk mengatasinya, dilakukan pengenceran sebelum penambahan buffer dan indikator, lalu dilakukan titrasi. 3. Jumlah indikator Penambahan terlalu banyak indikator akan memperbesar kemungkinan kegagalan dalam titrasi karena warna terlalu intensif. 4. Pengamatan titik akhir Pada kebanyakan titrasi dengan EDTA, perubahan warna pada titik akhir berlangsung lama. Pada beberapa kasus, penyebabnya adalah pengadukan yang tidak terus-menerus, oleh sebab itu penggunaan stirrer magnetic dianjurkan. Titik akhir yang tajam akan didapatkan bila larutan dipanaskan sampai 40oC. 5. Deteksi perubahan warna Dengan semua indicator ion logam yang digunakan pada titrasi kompleksometri, deteksi titik akhir bergantung pada pengenalan perubahan warna yang spesifik. Pengamatan juga bergantung pada keadaan penglihatan. Bila tidak ,memungkinkan, bisa digunakan detector photocell.

7. Penambahan Pereaksi Khusus Asam nitrat Selain sebagai pelarut Bismuth subnitrat, asam nitrat juga ditambahkan agar pH larutan menjadi asam (1-2) sesuai dengan suasana yang cocok untuk bismuth, yaitu suasana asam.

8. Teknik Pengamatan, Titik Akhir/Titik Ekivalensi dan Indikator yang Digunakan Indikator : xylenol orange

Teknik pengamatan yang dilakukan dengan melihat terjadinya perubahan warna dari merah-ungu (setelah diberikan indikator) menjadi warna kuning (saat TA).

2.3 Penetapan Kadar Kalsium Laktat dengan Kompleksometri

Menurut Farmakope IV: Kalsium laktat pentahidrat C6H10O6Ca, 5H2O BM : 308,30 Kalsium laktat anhidrat C6H10O6Ca BM : 218,20

1. Dasar Teori Pemilihan Metode Metode yang dipilih untuk penetapan kadar kalsium laktat adalah kompleksometri karena kalsium laktat mengandung ion logam kalsium yang dapat membentuk kompleks dengan titran kompleksometri. Titran yang

digunakan biasanya adalah Na2EDTA yang dapat membentuk kompleks dengan semua ion logam. Selain itu ion kalsium dengan EDTA membentuk kompleks ion yang stabil (KEDTA-Ca = 5,0 x 108).

Gambar 2. Kompleks EDTA dengan ion Ca2+

Ion kalsium yang dianalisis akan berikatan dengan Na2EDTA membentuk kompleks yang stabil. TA tercapai ketika semua ion kalsium yang terikat indikator menjadi terikat dengan Na2EDTA sehingga membuat indikator logam dalam keadaan bebas. Indikator logam adalah indikator yang memiliki warna yang berbeda dalam keadaan bebas dan dalam keadaan terikat dengan ion logam. Reaksi antara indikator logam dan agen pengkompleks dapat digambarkan seperti ini : Logam-indikator + Y Logam-Y + indikator
(terikat) (bebas)

Titrasi dengan EDTA dapat dilakukan karena stabilitas kompleks logamindikator lebih kecil dari stabilitas logam-EDTA.

2. Prinsip Metode analisis volumetri yang didasarkan atas pembentukkan senyawa kompleks yang stabil antara ion kalsium dan agen pengkompleks (Na2EDTA).

3. Reaksi Kimia Adapun reaksi yang terjadi pada metode kompleksometri adalah sebagai berikut:

4. Titer yang Digunakan Titer yang digunakan dalam metode kompleksometri komplekson Na2EDTA. kalsium adalah

5. Prinsip Pembakuan Pembakuan dilakukan dengan ZnSO4.7H2O, indikator EBT dengan cara larutan ZnSO4.7H2O dilarutkan dalam buffer, lalu dititrasi langsung dengan Na2EDTA. Prinsipnya: Logam indikator + EDTA logam-EDTA + indikator (violet) (biru muda)

6.

Prosedur Penetapan Kadar a. British Pharmacopoeia 2009 Kalsium laktat anhidrat Larutkan kalsium laktat pentahidrat sebanyak lebih kurang 0.3 g dalam 50 ml aquades dan titrasi dengan 0.05M Na2EDTA sampai mencapai sebelum titik akhir yang diinginkan. Tambahkan 8 ml NaOH 5M dan 0.1 g campuran solochrome dark blue dan lanjutkan titrasi sampai warna berubah dari pink sampai biru mantap. Setiap ml dari 0.05M Na2EDTA ekuivalen dengan 15,41 mg

C6H10CaO6.5H2O. b. FI. IV hal. 164 Penetapan kadar : Timbang seksama, setara dengan kurang lebih 350mg C6H10CaO6, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer dan larutkan dalam campuran 150ml

air dan 2ml asam klorida 3N sambil diaduk, sebaiknya menggunakan pengaduk magnetik, tambahkan kurang lebih 30ml dinatrium edetat 0,05M LP dari buret 50ml, tambahkan 15ml natrium hidroksida 1N dan 300mg indikator biru hidroksi naftol LP dan lanjutkan titrasi sampai titik akhir warna biru. 1ml dinatrium edetat 0,05M setara dengan 10,91 mg C6H10CaO6. c. Vogels hal 321 Pipet 25,0ml larutan yang mengandung ion calcium 0,01 M, encerkan dengan lebih kurang 25ml air, tambahkan 2ml larutan buffer, 1ml larutan magnesium edetat 0,1M, dan campuran 30-40mg eriochrom black T dalam kalium nitrat, titrasi dengan larutan edetat sampai warna larutan berubah dari ungu menjadi biru kemerahan, titrasi perlahan-lahan sampai warna larutan menjadi biru.

7. Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Selama Analisis (Kondisi yang Harus Dicapai dan Upaya yang Dilakukan) EDTA merupakan titran yang bersifat tidak selektif karena dapat bereaksi dengan semua ion logam sehingga sangat mudah terganggu dengan adanya ion logam lain. Umumnya dalam air, khususnya air sadah, dijumpai 2 ion logam yaitu Ca2+dan Mg2+. Oleh karena itu diusahakan pelarut aquades yang dipakai adalah air yang bebas ion logam. Pemilihan indikator harus mempertimbangkan kekuatan ikatan logam indikator dan pH pada saat titrasi. Misalnya pada indikator biru hidroksi naftol hanya dapat memberikan titik akhir pada range pH basa yaitu sekitar 10-11. Pengaturan pH dapat dilakukan dengan penambahan pelarut atau buffer yang tidak mengganggu jalannya reaksi pembentukan kompleks.

8. Teknik Pengamatan, Titik Akhir/Ekivalen/Indikator yang Digunakan dan Dasar Ilmiahnya Indikator yang dapat digunakan pada metode analisis kuantitatif kalsium laktat adalah biru hidroksi naftol (FI IV), solochrom dark blue (BP 2009), atau eriochrom black T (Vogel).

Berikut adalah tabel yang berisi keterangan tentang penggunaan indikator logam pada titrasi kompleksometri untuk penetapan kadar Ca. Dari table di bawah dapat diketahui perubahan warna sebagai indikasi titik akhir titrasi. Perubahan No Indikator Solochrom (calcon) Mureksid Biru hidroksi naftol Calmagite dark blue pH pada TA Pink biru Merah biru ungu Merah biru Merah biru warna

1 2 3 4

12,3 11 1011 10

Tabel 1. Indikator logam untuk penetapan kadar Ca

Tabel 2. Sifat-sifat dari Indikator logam untuk kompleksometri

Contoh kasus: Penetapan kadar tablet kalsium laktat 325mg dan 650mg dagang Ridactate. Sesuai dengan FI IV, prosedur yang dilakukan untuk menetapkan kadar kalsium laktat adalah menyerbukkan tidak kurang 20 tablet. Kemudian serbuk ditimbang seksama yang setara dengan 350mg kalsium laktat (sesuai dengan prosedur penetapan zat aktif) kemudian dilanjutkan dengan prosedur penetapan kadar kalsium laktat. Prosedur menurut BP 2009 dan vogel juga dapat dilakukan dengan cara yang sama, yaitu menggerus sejumlah tablet menjadi serbuk kemudian menetapkan kadar serbuk yang ditimbang seksama sehingga setara dengan 300mg kalsium laktat (BP 2009) dan 25ml ion kalsium 0,01M (vogels) dengan merk

2.4 Penetapan Kadar Alukol [Al(OH)3] dengan Kompleksometri Alukol (Aliminium Hidroksida)

1. Dasar teori pemilihan metode Metode kompleksometri tidak langsung dilakukan karena tidak ada indikator yang cocok untuk penetapan kadar secara langsung atau ion-ion logam tidak larut pada pH titrasi.

2. Standarisasi larutan asam 1. Masukkan larutan basa (NaOH) yang telah diketahui kenormalannya ke dalam buret, putarlah kran buret untuk membuang sejumlah basa sampai tidak ada gelembung udara di ujung buret. 2. Ambillah sampel larutan asam (HCl) sebanyak 10 mL dengan menggunakan pipet Volumetri 10 mL ke dalam labu elenmeyer ukuran 250 mL 3. Tambahkan 3 tetes indikator yang sesuai. 4. Dengan menggunakan basa yang sudah disiapkan dan diketahui kenormalannya, lakukan titrasi terhadap larutan asam tersebut. Selama titrasi, labu Erlenmeyer hendaknya digoyang-goyangkan agar terjadi pencampuan yang homogen. 5. Titrasi dihentikan bila telah terjadi perubahan warna indikator yang digunakan. 6. Bacalah buret dan catatlah volume basa yang dipakai. 7. Lakukan perhitungan.

3. Penetapan kadar basa 1. Kedalam labu ukur 100 mL yang telah berisi 5 mL larutan suspensi obat maag Mylanta tambahkan aquadest sampai tanda batas. Kocoklah hingga homogeny. 2. Ambillah sampel suspensi tersebut sebanyak 10 mL menggunakan pipet volume, dan masukkan ke dalam labu Erlenmeyer berukuran 250 mL. 3. Tambahkan larutan asam (HCl) 10 mL yang telah dibakukan ke dalam Erlenmeyer yang berisi sampel Mylanta, lalu goyang-goyangkan hingga homogen. 4. Tambahkan 3 tetes indicator yang tepat 5. Lakukan titrasi hingga terbentuk perubahan warna indicator yang stabil. 6. Bacalah buret dan catat volumenya.

4. Prosedur Penetapan Kadar Alumunium Hidroksida Koloidal (berdasarkan FI III): 1. Timbang seksama 400 mg alukol 2. Larutkan dalam campuran 3 ml asam klorida P dan 3 ml air dengan pemanasan di atas tangas air, dinginkan hingga suhu di bawah 20oC, encerkan dengan air secukupnya hingga 100,0 ml. 3. Pada 20 ml larutan tambahkan 40 ml dinatrium edetat 0,05 M, 80 ml air dan 0,15 ml larutan metil merah P. 4. Netralkan dengan NaOH 1 N tetes demi tetes (ad sampai warna hilang), hangatkan di atas penangas air selama 30 menit, tambahkan 3 g heksamin P. 5. Titrasi dengan timbal nitrat 0,05 M menggunakan indikator 0,5 ml larutan jingga xilenol P.

5. Prinsip Titrasi cara tidak langsung dilakukan dengan cara menambah larutan Na2EDTA berlebih pada larutan yang mengandung ion logam, didapar pada pH yang sesuai lalu kelebihan EDTA dititrasi dengan larutan baku logam.

Ekivalensi 1 ml dinatrium edetat 0,05 M setara dengan 2,549 mg Al2O3 . Pelarut Asam klorida P

Titer Timbal nitrat 0,05 M

6. Indikator Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang bertindak juga sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah; Eriochrome Black T,Pyrotechol violet, Xylenol orange, Calmagit, Asam Salisilat, Zincon, Murexid, PAN (1-2-Piridil Azonaftol), Metafalein, dan Calcein Blue. (Underwood,A.L.,1990). Indikator yang digunakan untuk penetapan kadar alukol secara kompleksometri adalah indikator asam basa yaitu larutan jingga xilenol P

7. Prinsip pembakuan Pembakuan dilakukan dengan ZnSO4.7H2O, indikator EBT dengan cara larutan ZnSO4.7H2O dilarutkan dalam buffer, lalu dititrasi langsung dengan Na2EDTA. Prinsipnya: Logam indikator + EDTA logam-EDTA + indikator (violet) (biru muda)

8. Hal yang harus diperhatikan sebelum dan selama analisis (kondisis yang harus dicapai dan upaya yang dilakukan) Perlu diperhatikan bahwa logam-logam bervalensi tiga seperti Al stabil pada pH asam karena ionisasi kompleks tergantung pada pH larutan. Namun juga harus diperhatikan bahwa bila pH terlalu rendah, dapat terbentuk hidrogenkompleksonat, yaitu kompleks hidrogen dengan komplekson yang memperlambat reaksi, dan terjadi juga kompetisi antara logam dengan ion H3O+.

9. Teknik pengamatan, titik akhir/ekivalen yang digunakan dan dasar ilmiahnya Teknik pengamatan titik akhir ditentukan dengan cara visual. Titik akhir didapat jika warna berubah dari kuning ke merah. Mulanya indicator (larutan jingga xilenol P) dalam keadaan bebas, karena logamnya terikat dengan komplekson yang berlebih. Selanjutnya dititrasi dengan logam yang akan mengikat komplekson yang berlebuh tersebut. Jika semua komplekson telah terikat dengan logam, akan terjadi kompleks logam dan indikator kemudian akan terjadi perubahan warna.

2.5 Definisi Argentometri Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati. Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titrasi argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halida akan tetapi juga dapat dipakai untuk menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat AsO43Istilah Argentometri diturunkan dari bahasa latin Argentum, yang berarti perak. Jadi, Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar garam perak nitrat (AgNO3). Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan sehingga seluruh ion

Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan dapat ditentukan. Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cldari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl. Cl (aq) + Ag+ (aq) AgCl (s) (Ksp = 1.70 1010)

2.6 Prinsip Argentometri Prinsip reaksi dalan titrasi argentometri adalah titrasi dengan AgNO3 sebagai titran dan terbentuk endapan stabil yang tidak larut hasil reaksi dengan Ag+. Titrasi argentometri termasuk di dalam presipirasi atau titrasi pengendapan. Syarat-syarat dalam titrasi pengendapan: a. b. Endapan yang terbentuk sebagai hasil reaksi tidak larut. Pembentukan endapan harus lebih cepat dan sempurna tanpa ada reaksi samping atau terurainya endapan. c. Endapan yang terbentuk harus tidak mengabsobsi zat lain, misalnya indikator atau titran. d. Titik akhir titrasi harus dapat ditunjukkan, biasanya digunakan indikator. Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan AgNO3 yaitu: 1. Indikator 2. Amperometri 3. Indikator kimia Titik akhir potensiometri didasarkan pada potensial elektrode perak yang dicelupkan kedalam larutan analit. Titik akhir amperometri melibatkan penentuan arus yang diteruskan antara sepasang mikroelektrode perak dalam larutan analit. Sedangkan titik akhir yang dihasilkan indikator kimia, biasanya terdiri dari perubahan warna / muncul tidaknya kekeruhan dalam larutan yang dititrasi. Syarat indikator untuk titrasi pengendapan analog dengan indikator titrasi netralisasi, yaitu :

Perubahan warna harus terjadi terbatas dalam range pada p/function dari reagen / analit.

Perubahan warna harus terjadi dalam bagian dari kurva titrasi untuk analit.

2.7 Metode Budde Luminal Titrasi Budde adalah metode argentometri untuk penentuan barbiturat yang tidak tersubstitusi pada N. Asam barbiturat atau gramnya dititrasi dengan larutan perak nitrat (AgNo3) 0,1 N dalam larutan yang mengandung alkali karbonat. Mula-mula akan terbentuk polimer kompleks barbiturat-perak dengan perbandingan 1:1 yang larut. Dengan ion perak yang sedikit berlebih mengakibatkan terbentuknya kompleks perak-barbiturat polimer yang sukar larut dengan perbandingan 1:2 dan merupakan titik akhir titrasi. Juga barbiturat yang tersubstitusi pada N dapat ditentukan secara argentometri. Dalam hal ini akan terbentuk kompleks perak-barbiturat (1:2) yang melarut, pada titik akhir dengan ion perak berlebih akan terjadi senyawa perakbarbiturat (2:2) yang sukar larut.

Reaksi :

Ekuivalensi : Menurut International Pharmacopeia third edition volume 5 tahun 2003 1 ml AgNO3 ekuivalen dengan 23,22 mg C12H12N2O3 Pelarut yang digunakan Titran yang digunakan Indikator yang digunakan 2.8 Metode Fajans Titrasi Fajans adalah titrasi langsung dengan larutan AgNO3 menggunakan indikator adsorpsi, yakni suatu asam atau basa organik lemah yang dapat terurai menjadi ion-ionnya dan ion-ion ini dapat diabsorbsi oleh endapan yang terbentuk. : Natrium Tetraborat 5% : Perak nitrat 0,1 N : Kalium kromat

Perubahan warna pada titik akhir adalah akibat dari proses adsorbsi dari ion-ion tersebut. Indikator yang digunakan adalah flouresein atau eosin. Perlu diperhatikan bahwa muatan indikator harus berlawanan dengan muatan ion zat penitrasi yang diadsorbsi dan indikator tidak boleh terlalu kuat atau lemah diadsorbsi. Perlu diperhatikan juga pH optimum dari indikator serta larutan boleh terlalu encer sehingga endapan mudah diamati. Permukaan endapan diupayakan seluas mungkin (tidak terjadi koagulasi) dengan cara pengadukan yang kuat. Indikator belum diserap sebelum TE. Contoh : Fluoresein sebagai anion fluoresenat (hijau kuning) bereaksi dengan Ag+ membentuk endapan merah intensif yang teradsorpsi ke permukaan endapan koloidal karena adanya pasangan muatan ion. Beberapa contoh indikator absorbsi adalah: 1. Flouroscein pH 7-10 : Cl- ,Br-, I-, dan CNS2. Diklor Flouroscein pH 4,4-7,0 : Cl- ,Br-, I-, dan CNS3. Eosin (tetrabrom Flouroscein) pH 2 : Br-, I-, dan CNS4. Metil violet, rhodamin GG, fenosafranin ketiganya merupakan indikator untuk penentuan kadar Ag+ pada suasana asam Fluoresein adalah asam organik lemah, membentuk anion fluoreseinat yang tidak dapat diadsorpsi oleh endapan koloidal AgCl selama Cl- berlebih. Akan tetapi saat Ag+ berlebih akan terjadi adsorpsi anion fluoreseinat ke lapisan Ag+ yang melapisi endapan, diikuti dengan perubahan warna menjadi pink.

Adsorpsi senyawa organik berwarna pada permukaan endapan dapat menginduksi pergeseran elektronik intramolekuler yang mengubah warna. Gejala tersebut digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi pengendapan garam-garam perak.

Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam memilih indikator adsorpsi: 1. Pada TE jangan dibiarkan AgCl menggumpal menjadi partikel besar, karena akan menurunkan dengan tajam daya adsorpsi permukaan endapan terhadap indikator. Jika itu terjadi, diatasi dengan penambahan dextrin, sebagai koloid pelindung agar endapan terdispersi lebih banyak. Dengan adanya dextrin maka perubahan warna menjadi reversibel, dan setelah lewat TE dapat dilakukan titrasi balik dengan larutan baku Cl-. 2. Adsorpsi indikator harus mulai terjadi sesaat sebelum TE dan makin cepat pada TE. Indikator yang jelek performansinya akan teradsorpsi kuat sehingga mensubstitusi ion-ion yang telah teradsorpsi sebelum TE. 3. pH larutan harus terkontrol agar dapat mempertahankan konsentrasi ion dari indikator asam lemah ataupun basa. Misalnya, fluoresein (Ka = 10 -7) dalam larutan yang lebih asam dari pH 7 melepas fluoreseinat sangat kecil sehingga perubahan warna tidak dapat diamati. Fluoresein hanya dapat digunakan pada pH 7-10, sedangan difluoresein (Ka=10-digunakan pada pH 4-10. 4. Sebaiknya dipilih ion indikator yang muatannya berlewanan dengan ion penitrasi. Adsorpsi indikator tidak terjadi sebelum terjadi kelebihan titran.

2.9 Metode Volhard dan Penetapan Kadar Teofilin Metode ini dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Indikator yang digunakan adalah Ferri ammonium sulfat (Fe Aluin), Ferri ammonium nitrat atau FeCl3, untuk memperoleh ion Fe3+. Cara langsung khusus digunakan dengan CNS- yaitu titrasi AgNO3 dengan CNS-. Cara yang digunakan untuk titrasi dengan CNS- sedikit berbeda, yaitu AgNO3 sebagai titran berada dalam Erlenmeyer dan CNS- berada dalam buret. Hal ini disebabkan karena titik akhir yang ingin diamati adalah timbulnya warna merah dari kompleks ferri tiosianat Fe(CNS)2+ antara Fe3+ dengan CNS-. Jika CNS- berada dalam Erlenmeyer maka akan bereaksi dengan Fe3+ terlebih dahulu, bukan dengan Ag+ seperti yang diharapkan. Selain itu, pengamatan warna dari tidak berwarna menjadi merah lebih mudah dilakukan daripada mengamati perubahan warna merah menjadi tidak berwarna. Cara yang tidak langsung merupakan cara yang lebih sering dipakai, dapat digunakan untuk menentukan halogen dan garam-garam asam lemah seperti oksalat, karbonat, dan lain-lain. Prinsip reaksi Volhard cara tidak langsung adalah dengan mengendapkan terlebih dahulu zat yang akan ditentukan dengan AgNO3 berlebih, baru kelebihan AgNO3 dititrasi dengan CNS dengan indikator Fe Aluin.

1. Pembakuan Prinsip Pembakuan Prinsip untuk pembakuan di dalam analisis ini adalah dengan membakukan kedua titran yang akan digunakan, yaitu larutan AgNO3 dan larutan NH4CNS. Pembakuan larutan AgNO3 dilakukan berdasarkan metode Mohr, sementara pembakuan larutan NH4CNS dilakukan berdasarkan metode Volhard cara langsung. Pembakuan Larutan AgNO3 Pembakuan larutan AgNO3 menggunakan NaCl sebagai baku primer dan dilakukan berdasarkan metode Mohr, yaitu melalui titrasi langsung NaCl dengan larutan AgNO3. Indikator yang digunakan pada pembakuan ini adalah indikator K2CrO4.

NaCl yang digunakan sebagai baku primer bersifat tidak higroskopik, dan untuk mendapatkan hasil yang baik, keringkan terlebih dahulu NaCl yang telah dijadikan serbuk halus di dalam tungku listrik pada suhu 2500-3500 C selama 1-2 jam, lalu dinginkan di dalam desikator. Syarat yang perlu diperhatikan pada prosedur dengan metode Mohr ini adalah pH larutan yang akan dititrasi harus berada di antara pH 6,5-9. Apabila pH larutan terlalu asam (pH<6), maka indikator K2CrO4 dapat berubah menjadi bikromat. Sementara apabila pH terlalu basa (pH>9), maka dapat menyebabkan terbentuknya AgOH yang kemudian terurai lagi menjadi Ag2O + H2O. Prosedur pembakuan larutan AgNO3 adalah sebagai berikut : 1. Timbang 50,0 mg NaCl yang telah dikeringkan, larutkan dalam air bebas Cl-. 2. Tambahkan 1 ml indikator K2CrO4. 3. Titrasi dengan larutan AgNO3. Titik akhir titrasi diperoleh ketika warna larutan berubah dari tidak berwarna hingga larutan tepat berwarna merah. Ekuivalensi : Tiap 0,005844 g NaCl ekuivalen dengan 1 ml AgNO3 0,1 N. Pada pembuatan larutan NaCl yang akan dititrasi digunakan pelarut air bebas Cl-. Ini bertujuan agar tidak ada ion Cl- selain dari NaCl yang terdapat di dalam larutan, sehingga tidak akan mengganggu dalam pengamatan.

Pembakuan Larutan NH4CNS Pembakuan larutan NH4CNS dilakukan berdasarkan metode Volhard cara langsung, yaitu dengan mentitrasi larutan AgNO3 dengan larutan NH4CNS. Indikator yang digunakan pada prosedur ini adalah indikator Fe aluin atau Fe ammonium sulfat. Syarat yang perlu diperhatikan pada proses pembakuan larutan NH4CNS secara argentometri dengan metode Volhard ini adalah pH larutan yang akan dititrasi harus asam. Apabila pH larutan terlalu basa, maka indikator dapat membentuk suatu endapan Fe(OH)3 yang tidak larut. Prosedur pembakuan larutan NH4CNS adalah sebagai berikut:

1. Pipet 25,0 ml larutan AgNO3 0,1 N yang telah dibakukan, lalu tambahkan 5 ml HNO3 6N.

2. Tambahkan 1 ml indikator Fe aluin. 3. Titrasi dengan larutan NH4CNS. Titik akhir titrasi diperoleh ketika warna lrutan berubah dari tidak berwarna hingga larutan tepat berwarna merah coklat. Ekuivalensi : Tiap 1 ml dari AgNO3 0,1 N ekuivalen dengan 0,007612 g NH4CNS. Penambahan HNO3 pada larutan AgNO3 yang akan dititrasi dengan NH4CNS ditujukan agar kondisi larutan menjadi asam, di mana kondisi asam ini merupakan syarat pada prosedur argentometri dengan metode Volhard, sehingga ion Fe3+ dari indikator Fe aluin yang digunakan tidak mengendap membentuk endapan Fe(OH)3.

2. Penetapan Kadar Teofilin

Berdasarkan Vogel, Pharmaceutical Analysis, The Quantitative Analysis of Drug, dan Analisis Kuantitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi, metode yang digunakan untuk analisis zat teofilin secara kuantitatif adalah dengan menggunakan metode Volhard tidak langsung. Teofilin merupakan suatu senyawa asam lemah, sehingga dapat ditentukan kadarnya dengan menggunakan metode Volhard tidak langsung. Pada pelaksanaan metode ini, zat tidak langsung dititrasi dengan titran yang diperlukan, yaitu larutan AgNO3. Zat harus diendapkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan AgNO3 berlebih sebagai titran I, lalu kelebihan dari larutan AgNO3 tersebut dititrasi dengan larutan tiosianat (ammonium tiosianat/NH4CNS) sebagai titran II.

Prosedur kerja penetapan kadar teofilin : 1. Timbang seksama 250 mg zat, larutkan dalam 50 ml air dan 8 ml amonia encer, hangatkan di atas penangas air sampai larut sempurna. 2. Tambahkan 20 ml AgNO3 0,1 N, lanjutkan pemanasan selama lebih kurang 15 menit.

3. Saring menggunakan krus penyaring, dalam keadaan hangat, cuci endapan tiga kali masing- masing dengan 10 ml air. 4. Asamkan kumpulan filtrat dan cairan cucian dengan tambahkan 3 ml asam (HNO3
P)

berlebih.

5. Dinginkan, tambahkan 2 ml indikator Fe Aluin, titrasi kelebihan AgNO3 dengan NH4CNS 0,1 N sampai larutan berubah dari tidak berwarna menjadi merah darah. Berdasarkan Farmakope Indonesia III, untuk mencapai titik akhir titrasi diperlukan volume NH4CNS sebanyak 9,25 ml. Ekuivalensi : Setiap ml AgNO3 0,1 N setara dengan 0,01802 gram C7H8O2N4. Penambahan ammonia encer pada awal penetapan kadar adalah untuk membentuk garam dengan Teofilin yang bersifat asam lemah, sehingga terbentuk garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan penambahan asam nitrat merupakan syarat dari pelaksanaan metode Volhard yang harus berlangsung dalam suasana asam, agar tidak terbentuk endapan Fe(OH)3 yang tidak larut.

3. Reaksi Kimia

Pembakuan AgNO3 Pada proses pembakuan larutan AgNO3, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: Ag+ + Cl- AgCl

Pembakuan NH4CNS Pada proses pembakuan larutan NH4CNS, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: Ag+ + CNS- AgCNS

Penetapan Kadar Teofilin Pada proses penetapan kadar teofilin, reaksi yang terjadi adalah AgNO3 + NH4CNS AgCNS + NH4NO3 Fe3+ + CNS- Fe(CNS)2+ (merah darah)

O O N NH O N N O N N

+ AgNO3

N-Ag +

HNO3

theophylline
4. Hal yang Harus Diperhatikan pada Analisis

Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan analisis teofilin dengan metode Volhard tidak langsung adalah sebagai berikut : a) pH larutan yang akan dititrasi harus memiliki pH asam. pH larutan yang basa dapat menyebabkan pengendapan dari indikator Fe aluin membentuk endapan tidak larut Fe(OH)3. Bila endapan ini terbentuk, maka ion Fe3+ yang tersedia untuk bereaksi dengan ion CNS- akan semakin sedikit, sehingga titik akhir seolaholah akan lebih sulit tercapai dan lebih sulit untuk diamati. b) Untuk lebih meningkatkan sensitivitas indikator terhadap ion CNS- dari larutan NH4CNS, maka penambahan indikator Fe aluin dapat dilebihkan. Dengan memperbesar konsentrasi Fe3+ dari Fe aluin di dalam larutan, perubahan warna dapat diamati dengan jelas walaupun konsentrasi CNS- kecil. c) HNO3 yang ditambahkan ke dalam larutan titrat tidak boleh terlalu kuat keasamannya karena dapat menghambat pembentukan kompleks ferri tiosianat (III) / [Fe(CNS)2+]. d) Larutan titrat yang akan dititrasi harus dipastikan bebas dari asam nitrit karena adanya asam nitrit dalam larutan titrat akan memberi warna merah dengan larutan tiosianat dan dapat disalahartikan sebagai kompleks ferri tiosianat (III) / [Fe(CNS)2+]. Hal yang perlu diperhatikan selama melakukan analisis teofilin dengan metode Volhard tidak langsung adalah suhu selama proses titrasi. Sebaiknya diusahakan agar suhu selama titrasi berlangsung tidak melebihi 250 C karena suhu yang lebih tinggi cenderung dapat memutihkan warna indikator, sehingga warna merah dari

kompleks

tiosionatobesi

langsung menghilang dengan

cepat.

Ini

akan

mengganggu dalam pengamatan titik akhir dari titrasi. Jika sediaan teofilin yang dianalisis dalam bentuk garam HCl, maka kondisi yang harus diperhatikan selama melakukan analisis dengan metode Volhard tidak langsung adalah sebagai berikut : a) Endapan Ag yang terbentuk, terutama endapan AgCl, dapat bereaksi dengan CNS, sehingga seolah-olah CNS- yang dibutuhkan menjadi lebih banyak. Untuk menghindari terjadinya hal ini, dapat dilakukan penyaringan terlebih dahulu endapan AgCl sebelum titrasi yang dilanjutkan atau dengan pengocokan kuat agar ion CNS- yang terabsorbsi dapat dilepaskan lagi. b) Ion Ag+ dapat teradsorpsi oleh endapan AgCl, sehingga CNS- langsung bereaksi dengan indikator sehingga titik akhir akan terjadi jauh sebelum titik ekuivalen, namun dpaat dihindari dengan penyaringan dan pemanasan untuk

menggumpalkan endapan supaya ion Ag+ dilepaskan kembali atau dengan penambahan cairan yang tidak dapat bercampur dengan air, sehingga akan melapisi partikel endapan agar tidak mengadsorpsi Ag+.

5 Penetapan kadar sediaan teofilin Nama obat Komposisi : Bronsolvan : Tiap 15 ml sirup mengandung teofilin 150 mg

Gambar . Contoh sediaan teofilin (Bronsolvan ) Prosedur ekstraksi :

1. Timbang seksama sejumlah sediaan setara dengan sejumlah volume sediaan (tentukan massa jenisnya terlebih dahulu), misalkan ditimbang 15 gram lalu masukan ke erlemeyer 100ml. 2. Tetapkan kadarnya secara argentometri menggunakan metode volhard. Tambahkan dalam 30 ml air dan 5 ml amonia encer, hangatkan di atas penangas air sampai larut sempurna. Tambahkan 12 ml AgNO3 0,1 N, lanjutkan pemanasan selama lebih kurang 15 menit. Saring menggunakan krus penyaring, dalam keadaan hangat, cuci endapan tiga kali masing- masing dengan 10 ml air. Asamkan kumpulan filtrat dan cairan cucian dengan berlebih. Dinginkan, tambahkan 2 ml indikator Fe Aluin, titrasi kelebihan AgNO3 dengan NH4CNS 0,1 N sampai larutan berubah dari tidak berwarna menjadi merah darah. 2 ml asam (HNO3 P)

2.10 Metode Gay Lussac Metode Gay Lussac disebut juga titrasi turbidimetri yang merupakan titrasi langsung tanpa menggunakan indikator. Titik akhirnya ditentukan dengan terbentuknya lagi endapan pada saat penambahan titran. Titik akhir ini sulit untuk diamati oleh karena itu titrasi ini sulit untuk digunakan. Contohnya larutan NaCl dititrasi dengan AgNO3 (suasana asam encer + Ba(NO3)2 sebagai koagulan). Endapan yang terbentuk segera dikocok kuat agar terkoagulasi dan membentuk lapisan atas yang jernih. Titrasi dilanjutkan dengan hati-hati sampai tidak terbentuk kekeruhan saat ditambahkan titran.

2.11 Metode Liebieg Titrasi ini khusus digunakan dengan CN-. Prinsip reaksinya adalah pembentukan kompleks Ag argentocyanida yang tidak larut. Jika Ag+ berlebih direaksikan dengan CN- maka endapan AgCN yang telah terbentuk akan larut kembali karena terbentuknya kompleks Ag(CN)2+. Jika reaksi pembentukan

kompleks tersebut sudah sempurna, maka kelebihan Ag

akan menimbulkan

kompleks Ag argentocyanida yang tidak larut. Titik akhir tercapai bila terbentuk endapan yang tidak larut atau terjadi kekeruhan.

2.12 Metode Deniges Metode ini merupakan modifikasi metode Liebig yaitu dengan penambahan KI sebagai indikator dan larutan amonia encer untuk melarutkan endapan Ag-cyanida. Kelebihan ion Ag+ setelah bereaksi dengan ion CN- akan bereaksi dengan I- membentuk endapan AgI yang menunjukan titik akhir titrasi.

2.13 Metode Mohr Metode Mohr biasanya digunakan pada penentuan halogen, namun lebih umum digunakan untuk menentukan Cl- misalnya pada Efedrine HCl. Pada metode ini digunakan K2CrO4 sebagai indikator atau dapat juga digunakan campuran antara K2CrO4 dan K2CrO7. Penggunaancampuran indiklator sebenarnya lebih menguntungkan karena terbentuk suatu sistem buffer dengan pH berkisar 7,0 0,1 , walaupun penggunakan K2CrO4 saja sebagai indikator lebih sering digunakan. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan timbulnya endapan merah coklat dari Ag2CrO4. Reaksi antara Cl- dan Ag+ terjadi sebagai berikut : AgNO3 + NaCl Endapan AgCl (Putih) + NaNO3 Jika Cl- telah habis bereaksi dengan AgNO3, maka sedikit kelebihan Ag+ akan bereaksi dengan indikator menurut reaksi 2AgNO3 + K2CrO4 Endapan Ag2CrO4 (Merah coklat) + 2KNO3 Ksp Ag2CrO4 (1,7 x 10-12) memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan Ksp AgCl (1,2 x 10-10). Namun AgCl akan mengendap lebih dahulu karena konsentrasi Cldalamlarutan lebih besar daripada konsentrasi CrO42-.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan metode Mohr ini adalah: 1. pH larutan Range pH larutan harus netral basa lemah (7-10). Bila pH larutan terlalu asam, maka ion kromat akan berikatan dengan H+ dan menjadi ion bikromat, sehingga

mengurangi konsentrasi kromat dalam larutan dan Ksp tidak terlampaui. Bila pH larutan terlalu basa akan mengendapkan Ag sebagai AgOH. Reaksi pembentukan ion bikromat dalam suasana asam : 2CrO42- + 2H+ Cr2O72- + H2O

Reaksi pembentukan AgOH dalam suasana basa : Ag+ + 2OH2AgOH Ag2O + H2O

Batas pH ini dapat dipertahankan dengan penambahan natrium karbonat atau boraks. 2. Tidak boleh mengandung ion dengan warna dominan Misalnya Cu2+ (biru), Ni2+(Merah), atau Co2+ (Merah) karena dapat mengganggu pengamatan titik akhir titrasi. 3. Adanya ion lain dalam larutan. Tidak boleh mengandung ion yang mengandung ion yang dapat bereaksi dengan Ag+ (misalnya ion fosfat atau asetat). Tidak boleh mengandung zat yang dapat bereaksi dengan CrO4= sebagai indikator (misalnya ion Pb2+ atau Ba2+) 4. Ksp Ag kromat akan meningkat dengan bertambahnya suhu. 5. Konsentrasi indikator (ion kromat) harus sesuai agar tidak mengendap terlebih dahulu. Konsentrasi yang biasa digunakan adalah 5%. Kelemahan metode ini selain dari banyaknya hal yang harus diperhatikan, juga karena pengamatan titik akhir cukup sulit dilakukan, disebabkan karena larutan sudah berwarna kuning dari mula-mula. Selain itu, metode ini kurang baik digunakan untuk menentukan kadar CNS- dengan menggunakan indikator CrO42karena AgCNS dapat meyerap indikator dalam jumlah yang cukup besar sehingga dapat menimbulkan kesalahan. Menurut Harrizul Rivai dalam buku Asas Pemeriksaan Kimia, metode Mohr dinyatakan tidak dapat untuk menentukan iodida karena terjadinya reaksi oksidasi reduksi antara ion kromat dengan ion iodide

Contoh: Penetapan kadar Efedrin HCl Prinsip : titrasi dengan AgNO3 sebagai titran dan terbentuk endapan stabil yang tidak larut hasil reaksi efedrin HCl dengan AgNO3 0,1 N. Pembuatan larutan AgNO3 0,1 N Timbang 16,987 g AgNO3, larutkan dalam 1 liter aquadest bebas ClIndikator yang digunakan: K2CrO4 Pembakuan AgNO3 0,1 N

1. Timbang 50,0 mg NaCl yang telah dikeringkan, larutkan dalam air bebas Cl-. 2. Tambahkan 1 ml indikator K2CrO4 3. Titrasi dengan AgNO3 sampai tepat berwarna merah Reaksi pembakuan: AgNO3 + NaCl Endapan AgCl (Putih) + NaNO3 2AgNO3 + K2CrO4 Endapan Ag2CrO4 (Merah coklat) + 2KNO3 Penetepan Kadar Efedrin HCl 1) Ph. USSR edisi 9 halaman 95 = State Pharmacopeia of the Union of Soviet Socialist Republic Timbang seksama 300 mg, larutkan dalam 10 ml air, tambahkan 2 tetes brom fenol biru, dan 1 tetes asam asetat encer, sampai terjadi warna kuning kehijauan. Titrasi larutan dengan larutan AgNO3 0,1N sampai larut dan terbentuk endapan berwarna ungu. 1 ml AgNO3 0,1 N ~ 0,02017 g ephedrin HCl 2 N.P VI hal 225 Timbang seksama 250 mg zat, larutkan dalam 10 ml air, titrasi dengan perak nitrat 0,1 N menggunakan I ml indikator K2CrO4. 1 ml 0,1000 N AgNO3 = 20,15 mg efedrin HCl

Reaksi Penetapan kadar:

2AgNO3 + K2CrO4 Endapan Ag2CrO4 (Merah coklat) + 2KNO3 2.12Penetapan Kadar Piridoksin HCl dalam tablet SuprazidForte (dari http://www.scribd.com/doc/54210427/AF-II-INH-B6) Identifikasi senyawa isoniazid dan piridoksin HCl dalam tablet kombinasi dengan pemeriksaan organoleptis yang meliputi warna, bau, rasa, bentuk, kelarutan dan pemijaran yang dilanjutkan dengan uji reaksi kimia dengan pereaksi tertentu berdasarkan terbentuknya gas, perubahan warna danendapan yang terbentuk. Kemudian dilakukan penarikan isoniazid dan piridoksin HCl. Setelah itu, dilakukan penetapan kadar isoniazid dalam sediaan tablet Suprazid Forte dengan metode iodometri berdasarkan reaksi reduksi oksidasi antara sampel yang akan dioksidasi oleh titran iodin baku yang ditambahkan berlebih, kemudian sisa iodin dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat 0,0949 N dengan indikator kanji dimana titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna dari biru menjadi tidak berwarna. Penetapan kadar piridoksin HCl dalam Suprazid Forte dengan metode argentometri berdasarkan reaksi pengendapan antara sampel dengan larutan baku perak nitrat 0,1067 N sebagai titran dengan menggunakan indikator kalium kromat dimana titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna endapan dari putih menjadi merah.

BAB III PENUTUP III.1 Kesimpulan

Titrasi kompleksometri adalah suatu cara penetapan kadar dengan metode titrasi berdasarkan pada pembentukan senyawa kompleks antara complexing agent (agen pembentuk kompleks) dengan ion logam sebagai atom pusat. Metode titrasi kompleksometri terdiri dari titrasi langsung, tidak langsung, substitusi, asam-basa, iodometri, redoks, dan miscollineus. Titer yang biasa digunakan adalah Na2EDTA. Contoh senyawa yang menggunakan metode titrasi tidak langsung dengan Na2EDTA adalah alukol. Bismuth subnitrat menggunakan metode titrasi langsung dengan Na2EDTA. Kalsium laktat dapat menggunakan metode titrasi langsung maupun substitusi dengan Na2EDTA. Prinsip reaksi dalan titrasi argentometri adalah titrasi dengan AgNO3 sebagai titran dan terbentuk endapan stabil yang tidak larut hasil reaksi dengan Ag+. Metode Mohr, budde, dan Volhard merupakan metode yang digunakan dalam argentometri. Metode Mohr biasanya digunakan pada penentuan halogen, namun lebih umum digunakan untuk menentukan Cl- misalnya pada Efedrine HCl, Pada metode ini digunakan K2CrO4 sebagai indikator atau dapat juga digunakan campuran antara K2CrO4 dan K2CrO7. Contoh senyawa yang menggunakan metode volhard adalah teofilin, hal yang harus di perhatikan untuk analisisnya adalah pH larutan yang akan di titrasi, indikator, larutan yang akan di titrasi bebas dari asam nitrit untuk analisis secara tidak langsung. Metode Budde digunakan untuk penentuan barbiturat yang tidak tersubstitusi pada N. Contoh senyawa yang menggunakan metode budde adalah Luminal ( Fenobarbital ) dimana titer yang digunakan adalah perak nitrat 0,1 N, indikator kalium kromat dan pelarut yang digunakan adalah natrium tetraborat.

III.2 Saran Pada setiap proses analisis dengan kompleksometri maupun argentometri harus memerhatikan kondisi dari analisis.Pada kompleksometri yang harus sangat diperhatikan adalah pHnya. Syarat syarat terbentuknya endapan harus di perhatikan yaitu dalam hal pemilihan pelarut, maka dari itu perlu untuk melakukan suatu studi tentang senyawa yang akan dianalisis agar metode yang dipakai tepat dan hasilnya akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Harmita, et al. 2006. Analisis Kuantitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi. Jakarta: CIPTA KREASI BERSAMA. Hal 93-95 dan 354-355.

Garratt, D.C. The Quantitative Analysis of Drugs, Third Edition. London: Chapman & Hall Ltd. Hal. 142-143.

Basset, J, et al.. Buku Ajar Vogel, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: EGC. Hal. 392-398.

Kar, Ashutosh. 2005. Pharmaceutical Drug Analysis. India: New Age International (P) Limited, Publishers. Hal. 151-157.

Kasture, A.V, et al.. 2007. Pharmaceutical Analysis Prakashan. Hal. 8-15.

Vol 1. Mumbai: Nirali

Ebel, Siegfried. 1992. Obat Sintetik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Jenkins, Glenn L. et al. 1967. Quantitative Pharmaceutical Chemistry 6th edition. London : Mc Graw Hill.

Schunack, Walter et.al. 1990. Senyawa Obat : Buku Pelajaran Kimia Farmasi Edisi Kedua. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Sie Kesejahteraan ITB., (1979), Card System Dan Reaksi Warna, ITB Bandung, 56 Wilson G., (1982), Kimia Farmasi dan Medisinal Organik, IKIP Semarang Press, Semarang.