Anda di halaman 1dari 13

Osteoartritis pada Perempuan Usia Lanjut Roykedona Lisa Triksi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana,

Jakarta

Pendahuluan Osteoartritis atau yang umumnya disebut pengapuran sendi, merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dijumpai di masyarakat belakangan ini. Hal ini dapat diakibatkan oleh adanya perubahan pola hidup dan peningkatan usia harapan hidup penduduk Indonesia. Seiring dengan perkembangan jaman, pola hidup masyarakat juga ikut mengalami perubahan. Perubahan gaya hidup yang ingin semua serba cepat, baik dalam hal transportasi maupun pola makan, juga menjadi salah satu faktor pemicu timbulnya osteoartritis. Aktivitas fisik yang kurang disertai kelebihan berat badan berpotensi menimbulkan pembebanan sendi yang semakin besar, terutama pada sendi-sendi penyangga tubuh, khususnya sendi lutut. Keadaan ini akan semakin buruk bila terjadi pada usia lanjut akibat terjadinya perubahan hormonal yang memicu semakin cepatnya proses degenerasi struktur persendian. Osteoartritis merupakan salah satu penyakit degeneratif dan bersifat progresif. Penyakit ini sangat sering dijumpai pada pasien dengan usia di atas 50 tahun. Gambaran radiologis osteoartritis di Indonesia cukup tinggi, mencapai 15,5% pada pria dan 12,7% pada wanita. Gangguan fungsional akan sangat memberatkan penderita osteoartritis, dimana penderita mengalami kesulitan pada saat bangkit dari duduk, jongkok, berdiri, ataupun berjalan, naik-turun tangga, dan berbagai aktivitas yang membebani lutut. Sesuai dengan skenario, seorang seorang perempuan 60 berobat dengan keluhan nyeri pada kedua lutut sejak 2 tahun yang lalu. Perempuan tersebut diduga mengalami osteoartritis. Maka dari itu, untuk mengetahui secara lengkap dan jelas, penulis akan membahas tentang osteoartritis mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, diagnosis dan lain sebagainya.

Alamat korespondensi: Roykedona Lisa Triksi (102011207) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731 Email : roykedona@gmail.com
1

Anamnesis Menanyakan riwayat penyakit disebut Anamnesa. Anamnesa berarti tahu lagi, kenangan. Jadi anamnesa merupakan suatu percakapan antara penderita dan dokter, peminta bantuan dan pemberi bantuan. Tujuan anamnesa pertama-tama mengumpulkan keterangan yang berkaitan dengan penyakitnya dan yang dapat menjadi dasar penentuan diagnosis. Mencatat (merekam) riwayat penyakit, sejak gejala pertama dan kemudian perkembangan gejala serta keluhan, sangatlah penting. Perjalanan penyakit hampir selalu khas untuk penyakit bersangkutan.1 Selain itu tujuan melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik adalah mengembangkan pemahaman mengenai masalah medis pasien dan membuat diagnosis banding. Selain itu, proses ini juga memungkinkan dokter untuk mengenal pasiennya, juga sebaliknya, serta memahami masalah medis dalam konteks kepribadian dan latar belakang sosial pasien. Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas (mencakup nama, alamat, pekerjaan, keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan), keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam keluarga, kondisi lingkungan tempat tinggalnya, apakah bersih atau kotor, dirumahnya terdapat berapa orang yang tinggal bersamanya, yang memungkinkan dokter untuk mengetahui apakah penyakitnya tersebut merupakan penyakit bawaan atau ia tertular penyakit tersebut. Anamnesis yang dapat dilakukan pada pasien di skenario adalah sebagai berikut: 1. Anamnesa Umum Nama, umur, alamat, pekerjaan, status perkawinan. Umur dan pekerjaan disini merupakan hal penting yang harus ditanyakan pada pasien. 2. Keluhan Utama Nyeri pada lutut kanan dan kiri sejak 2 tahun yang lalu Pelengkap: Nyeri pada lutut terutama bertambah saat berjalan, menekuk kaki, bangun dari duduk yang lama dan saat sholat. Pasien mengatakan saat bangun tidur lututnya sering terasa kaku juga sekitar 30 menit dan pada lututnya sering berbunyi kretek-kretek 3. Riwayat Penyakit Sekarang Apakah sedang mengalami suatu penyakit tertentu atau tidak

4. Riwayat Penyakit Dahulu Sebaiknya, ditanyakan apakah dulu pernah mengalami hal yang sama seperti sekarang
2

5. Pola Makan Sehari-hari makan apa saja

6. Riwayat Penyakit Keluarga Apakah di keluarganya pernah ada yang mengalami hal yang sama

7. Riwayat Pengobatan Sudah mengkonsumsi obat apa saja, atau sudah mendapat pengobatan apa

Pemeriksaan Diagnosis suatu penyakit dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik yang ditemukan pada pemeriksaan fisik, terutama sekali bagi penyakit yang memiliki gejala klinik spesifik. Pemeriksaan yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan fisik namun, bagi penyakit yang tidak memiliki gejala klinik khas, untuk menegakkan diagnosisnya kadang-kadang diperlukan pemeriksaan laboratorium (diagnosis laboratorium). 1. Pemeriksaan Fisik Dari pemeriksaan umum dan fisik sering didapat keterangan keterangan yang menuju ke arah tertentu dalam usaha membuat diagnosis. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak yaitu kaki. Pada skenario ini, pemeriksaan fisik dilakukan dengan pemeriksaan fisik otot dan sendi terutama pada bagian lutut. Pemeriksaan fisik otot dan sendi ini berupa: Inspeksi Posisi lutut saat berdiri dan berbaring Warna kulit, vaskularisasi, pembengkakan, massa di bagian anterior /posterior, lateral/medial Ada tidaknya luka, fistel atau ulkus

Palpasi Massa/pembengkakan, nyeri ada/tidak


3

Vaskularisasi dan pulsasi pembuluh darah lutut Posisi patella (ada dislokasi atau tidak)

Pergerakan Fleksi ekstensi dengan ROM: 0-120 Ada krepitasi atau tidak saat bergerak/digerakan

Selain itu, pemeriksaan fisik juga dilakukan dalam bentuk pemeriksaan tanda-tanda vital pasien. Hasil pemeriksaan didapat sebagai berikut: Suhu Nadi RR Tekanan darah Kesadaran BB/TB Krepitasi Status lokalisasi : 36,4oC : 88x/menit : 20x/menit : 130/80 mm Hg : compos mentis : 80kg / 165cm :+ : Udem Genu sinistra Genu dekstra Kalor Nyeri tekan Nyeri gerak + + Deformitas -

Beberapa tanda yang dapat ditemukan pada penderita osteoartritis adalah perubahan gaya berjalan dan postur tubuh, kenaikan suhu sekitar sendi, bengkak sendi, nyeri raba, krepitus, penurunan kekuatan otot, nodul, dan gangguan fungsi. Pada perabaan dengan menggunakan punggung tangan akan dirasakan adanya kenaikan suhu disekitar sendi yang mengalami inflamasi. Bengkak sendi dapat disebabkan oleh cairan, jaringan lunak atau tulang. Cairan sendi yang terbentuk biasanya akan menumpuk di sekitar daerah kapsul sendi yang resistensinya paling lemah dan mengakibatkan bentuk yang khas.2 Krepitus merupakan bunyi berderak yang dapat diraba sepanjang gerakan struktur yang terserang. Krepitus halus merupakan krepitus yang dapat didengar dengan menggunakan stetoskop dan tidak dihantarkan ke tulang di sekitarnya. Keadaan ini ditemukan pada radang sarung tendon, bursa atau sinovia. Pada krepitus
4

kasar, suaranya dapat terdengar dari jauh tanpa stetoskop dan dapat diraba sepanjang tulang. Keadaan ini disebabkan kerusakan rawan sendi atau tulang. Pada waktu palpasi lutut, dapat teraba krepitus pada waktu lutut difleksikan atau diekstensikan. Hal ini menunjukkan rawan sendi misalnya pada osteoartritis.2,3 2. Pemeriksaan Penunjang Kegunaan dari pemeriksaan penunjang adalah untuk keakuratan diagnosis suatu penyakit. i. Artrosentesis dan Analisis Sendi Lutut Artrosentesis (aspirasi cairan sendi) dan analisis cairan sendi merupakan pemeriksaan yang sangat penting di bidang reumatologi, baik untuk diagnosis maupun tatalaksana penyakit reumatik. Analisis cairan sendi terdiri dari pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, dan beberapa pemeriksaan khusus sehingga dapat dikelompokkan menjadi tipe non-inflamasi, inflamasi, purulen, dan haemoragik. Pemeriksaan makroskopis berupa warna, kejernihan, viskositas, potensi terbentuknya bekuan, dan volume. Cairan sendi pada penyakit sendi inflamasi bisa membeku dan kecepatan terbentuknya bekuan berkorelasi dengan derajat inflamasinya. Cairan sendi normal sangat kental kerena tingginya konsentrasi polimer hyaluronat. Pada penyakit sendi inflamasi, asam hyaluronat rusak dan menurunkan viskositas cairan sendi. Penilaian cairan sendi dapat dilakukan dengan string test atau menggunakan viscometer. Cairan sendi normal tidak berwarna seperti air atau putih telor. Pada sendi inflamasi, jumlah leukosit dan eritrosit meningkat. Semakin tinggi jumlah leukosit, cairan sendi akan berwarna putih atau krem. Pemeriksaan mikroskopis yang dilakukan berupa hitung jumlah leukosit, hitung jenis leukosit, dan pemeriksaan kristal. ii. CT Scan Pemeriksaan CT Scan bertujuan untuk melakukan penilaian pada tumor tulang sebelum dilakukan tindakan pembedahan, evaluasi fraktur, dan pemeriksaan kolumna spinalis. Walaupun tidak dapat memberikan hasil pemeriksaan yang lebih baik dibandingkan MRI, namun CT Scan merupakan alternatif yang baik dan bermanfaat pada situasi jika diperlukan keterangan lebih lanjut tentang osteofit dan dapat memperlihatkan kelainan jaringan lunak
5

lebih baik daripada Foto Polos. Dosis radiasi CT Scan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan satu foto polos pada daerah sama. Berhubung sejumlah penyakit reumatik berkaitan dengan kelainan paru-paru, cukup beralasan bahwa pemeriksaan CT Scan dengan resolusi tinggi pada paru-paru dapat memperlihatkan detil penyakit ang tidak dapat dilihat dengan CT Scan irisan tebal.2,4 Diagnosis Proses diagnosa medis merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk menangani suatu penyakit. Proses diagnosa adalah proses yang dilakukan seorang ahli kesehatan untuk menentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien, kemudian menentukan diagnosis penyakit pasien tersebut sehingga dapat memberi pengobatan yang tepat dengan jenis penyakit (etiologik) maupun gejalanya (simptomatik).5 Diagnosa dilakukan berdasarkan prinsip bahwa suatu penyakit dapat dikenali dengan memperhatikan ciri gejala klinis pada tubuh pasien yang ditimbulkan penyakit tersebut. Keadaan penyakit yang diderita dapat juga di ukur dengan memperhatikan gejala klinis. Semua gejala yang teramati kemudian dibandingkan dengan pengetahuan menenai penyakit dan ciri-cirinya yang dimiliki ahli tersebut, bila terdapat kecocokan maka ahli tersebut dapat menentukan jenis penyakitnya.5 I. Differential Diagnosis Differential diagnosis atau diagnosis pembanding merupakan diagnosis yang dilakukan dengan membanding-bandingkan tanda klinis suatu penyakit dengan tanda klinis penyakit lain. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan gejala yang dialami pasien, pasien bias dicurigai menderita beberapa penyakit seperti: a. Reumatoid Artritis (RA)2,6 Suatu penyakit autoimun dimana persendian secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melakukan proses fagositosis yang menghasilkan enzimenzim dalam sendi untuk memecah kolagen sehingga terjadi edema proliferasi membran sinovial dan akhirnya membentuk pannus. Pannus tersebut akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang sehingga akan berakibat menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi.
6

Reumatoid artritis kira-kira 2 kali lebih sering menyerang perempuan dari pada laki-laki. Insidens meningkat dengan bertambahnya usia, terutama pada perempuan, insidens puncak adalah antara usia 40 hingga 60 tahun. Gejala yang ditimbulkan : 1. Kekakuan pagi hari (lamanya paling tidak 1 jam) 2. Arthritis pada tiga atau lebih sendi 3. Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan 4. Arthritis yang simetris 5. Nodul reumatoid 6. Faktor reumatoid dalam serum 7. Perubahan-perubahan radiologic (erosi atau dekalsifikasi tulang) 8. Pada RA juga bisa disertai dengan demam, lemah, dan nafsu makan berkurang b. Artritis Pirai (Gout)2,6 Secara klinis, gout ditandai dengan timbulnya artritis, tofi, dan batu ginjal yang disebabkan karena terbentuk dan mengendapnya kristal monosodium urat. Tofi seringkali terbentuk pada daerah telinga, siku, lutut, dorsum pedis, dekat tendo Achilles pada metatasofalangeal digiti I, dan sebagainya. Serangan seringkali terjadi pada malam hari. Daerah khas yang paling sering mendapat serangan adalah pangkal ibu jari kaki sebelah dalam, disebut podagra. Bagian ini tampak membengkak, kemerahan, dan nyeri sekali bila disentuh. Rasa nyeri berlangsung beberapa hari sampai satu minggu namun kemudian menghilang. Sendi lutut sendiri juga merupakan predileksi kedua untuk serangan ini. Manifestasi klinik selanjutnya adalah tofi, tofi merupakan penimbunan asam urat yang dikelilingi reaksi radang pada sinovia, tulang rawan, bursa, dan jaringan lunak. Tofi itu sendiri tidak sakit tapi dapat merusak tulang. Sering timbul di tulang rawan telinga sebagai benjolan keras. Tofi ini merupakan manifestasi lanjut dari gout yang timbul 5-10 tahun setelah serangan arthritis pertama. Tofi sering pecah dan agak sulit disembuhkan dengan obat sehingga dapat menyebabkan infeksi sekunder.
7

Penetapan diagnosis

gout

berdasarkan Subkomite The American

Rheumatism Association: A. Adanya kristal urat yang khas dalam cairan sendi. B. Tofi terbukti mengandung kristal urat berdasarkan pemeriksaan kimiawi dan mikroskopik dengan sinar terpolarisasi. C. Diagnosis lain, seperti : a. Lebih dari sekali mengalami serangan arthritis akut b. Terjadi peradangan secara maksimal dalam satu hari c. Oligoarthritis (jumlah sendi meradang kurang dari 4) d. Kemerahan di sekitar sendi yang meradang e. Sendi metatarsophalangeal pertama (ibu jari kaki) terasa sakit atau membengkak f. Serangan unilateral pada sendi tarsal (jari kaki) g. Tophus (deposit besar dan tidak teratur dari natrium urat) di kartilago artikular (tulang rawan sendi) dan kapsula sendi h. Hiperurisemia i. Pembengkakan sendi secara asimetris (satu sisi tubuh saja) II. Work Diagnosis Work Diagnosis atau diagnosis kerja merupakan suatu kesimpulan berupa hipotesis tentang kemungkinan penyakit yang ada pada pasien. Setiap diagnosis kerja haruslah diiringi dengan diagnosis banding.7 Berdasarkan gejala-gejala yang timbul dapat disimpulkan kalau pasien perempuan tersebut menderita osteoartritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada wanita daripada pria dan terutama ditemukan pada orang-orang yang berusia lebih dari 45 tahun. Sendi yang paling sering terserang adalah sendi-sendi yang harus memikul beban
tubuh, antara lain lutut, panggul, vertebra lumbal dan servikal.

Etiologi Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak. Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendiaan. Etiologi Osteoartritis masih belum dapat diketahui secara jelas. Beberapa faktor yang dianggap sebagai pemicu timbulnya osteoartritis diantaranya faktor umur, jenis kelamin, suku bangsa,
8

genetik, kegemukan, dan penyakit metabolik, cedera sendi, dan jenis pekerjaan. Gangguan penyakit ini lebih banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pria, terutama wanita berusia lebih dari 45 tahun. Penyakit ini pernah dianggap sebagai suatu proses penuaan normal, sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia. Sendi yang paling sering terserang adalah sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh, antara lain lutut, panggul, vertebra lumbal dan servikal, dan sendi-sendi pada jari.2,6 Epidemiologi Osteoartritis adalah bentuk penyakit sendi tersering di dunia. Mengenai sekitar 7% populasi Amerika Serikat; 60% sampai 70% orang berusia lebih dari 65 tahun. Osteoartritis merupakan salah satu dari penyakit sendi yang paling sering dijumpai di Indonesia, lebih dari 85% pasien osteoarthritis tersebut terganggu aktivitasnya terutama untuk kegiatan jongkok, naik tangga dan berjalan. Arti dari gangguan jongkok dan menekuk lutut sangat penting bagi pasien osteoarthritis di Indonesia. Oleh karena banyaknya kegiatan sehari-hari yang tergantung kegiatan ini khususnya sholat dan buang air besar. . Terdapat peningkatan risiko seiring dengan pertambahan usia; prevalensi meningkat dengan cepat pada populasi lansia. Pola penurunan autosomal dominan telah teridentifikasi pada kelompok osteoartritis tertentu. Faktor resiko osteoartritis primer meliputi peningkatan usia, obesitas, penggunaan sendi yang berlebihan berulang kali, imobilisasi, dan peningkatan densitas tulang. Prevalensi keseluruhan 12-15% pada paling sedikit satu sendi, lebih banyak pada kelompok usia > 65 tahun. Terdapat peningkatan yang seiring dengan bertambahnya usia, contohnya adalah lebih dari 80% pasien berusia > 75 tahun memiliki bukti radiologis adanya osteoartritis. Kecenderungan wanita sedikit lebih tinggi secara keseluruhan.8 Patofisiologi Osteoartritis berdasarkan patogenesisnya dapat dibagi menjadi dua: primer dan sekunder. Osteoarthritis primer disebut OA idiopatik yaitu OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, herediter, jejas mikro dan makro serta imobilisasi yang terlalu lama. Gambaran patologisnya adalah kerusakan progresif pada kartilago dengan terbentuknya fisura-fisura dan kemudian bisa sampai denudasi tulang. Hipertrofi tulang reaktif yang terjadi setelah hilangnya kartilago akan menimbulkan pembentukan osteofit yang
9

khas. Tulang subkondral di bawahnya mengalami remodelisasi dan mungkin menyebabkan pembentukan kista dan sklerosis. Tonjolan-tonjolan tulang pada osteofitosis, sklerosis subkondral, dan kista tampak jelas pada foto rontgen polos dan mnjadi temuan radiologis utama OA.8 Komponen kartilago mengalami disorganisasi dan degradasi pada OA. Faktor mekanis yang menyebabkan pelepasan enzim (kolagenase dan stromelysin) menyebabkan pemecahan proteoglikan dan gangguan kolagen tipe II. Terdapat kehilangan matriks kartilago, terutama pada permukaan medial kartilago. Sitokin inflamasi (interleukin-1), prostaglandin E2, factor nekrosis tumor , interleukin-6 meningkatkan inflamasi sendi dan degradasi kartilago. Kartilago artikular menjadi overhidrasi dan membengkak. Degradasi matriks dan overhidrasi mengakibatkan kehilangan kekakuan dan elastisias kompresif pada transmisi yang memberikan tekanan mekanis besar ke tulang subkondral. Nyeri OA dipercaya diakibatkan oleh tiga penyebab mayor: nyeri akibat gerakan dari factor mekanis, nyeri saat istirahat akibat inflamasi synovial, dan nyeri malam hari akibat hipertensi intraoseus.9 Mungkin pengaruh yang terpenting adalah efek penuaan dan efek mekanis. Meskipun osteoartritis bukan suatu proses wear-and-tear, tidak diragukan lagi bahwa stress mekanis pada sendi berperan penting dalam pembentukannya. Bukti yang mendukung antara lain meningkatnya frekuensi osteoarthritis seiring dengan pertambahan usia; timbulnya di sendi penahan beban; dan meningkatnya frekuensi penyakit pada kondisi yang menimbulkan stress mekanis abnormal, seperti obesitas dan riwayat deformitas sendi. Manifestasi Klinik Gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang dengan istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi, krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan. Lebih lanjut lagi terdapat pembesaran sendi dan krepitasi tulang. Tempat predileksi osteoartritis adalah sendi karpometakarpal I, metatarsophalangeal I, apofiseal tulang belakang, lutut dan paha. Pada phalang distal timbul nodus Heberden dan pada sendi interphalang proksimal timbul nodus Bouchard. Tanda-tanda peradangan pada sendi tersebut tidak menonjol dan timbul belakangan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata, dan warna kemerahan.

10

Komplikasi Komplikasi dapat terjadi apabila osteoartritis tidak ditangani dengan serius. Terdapat dua macam komplikasi yaitu: 1) Komplikasi Kronis Komplikasi kronis berupa malfungsi tulang yang signifikan, yang terparah ialah terjadi kelumpuhan 2) Komplikasi Akut Micrystaline arthrophy Osteonekrosis Bursitis

Penatalaksanaan Pengobatan dibagi atas atas medica mentosa (menggunakan obatobat yang di minum) dan juga non-medica mentosa (tidak mengonsumsi obat). a) Medica mentosa10 Analgesik Oral Non Opiat Obat-obat ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi secara simtomatik. Golongan obat analgesik ini antara lain salisilat (aspirin/asetosal), para amino fenol (asetaminofen dan fenasetin), dan pirazolon. Analgesik Topikal Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) Apabila dengan analgesik oral non opiat dan anagesik topikal tidak berhasil, dokter akan memberikan OAINS karena obat golongan ini mempunyai sifat analgesik juga mempunyai efek anti inflamasi. Semua AINS merupakan iritan mukosa lambung walaupun ada perbedaan gradasi antar nobat. Golongan AINS yang dapat diberikan antara lain asam mefenamat, diklofenak, ibuprofen, ketoprofen, naproksen, indometasin, piroksikam, meloksikam, namubuton, dan nimesulide. Steroid Intra-Artikuler Inflamasi kadang dijumpai pada pasien OA. Oleh karena itu, kortikosteroid intra artikuler dapat mengurangi rasa sakit walaupun hanya dalam waktu singkat. Steroid dapat menyebabkan kerusakan rawan sendi secara langsung.
11

b) Non-medica mentosa Terapi Non-medica mentosa untuk OA meliputi; diet dan olahraga, terapi fisik, dan pembedahan. Pengaturan diet dan olahraga diperlukan untuk mencegah kelebihan berat badan yang seringkali menjadi penyebab memburuknya nyeri sendi, terutama pada sendi-sendi yang harus menopang berat badan. Terapi fisik biasa dilakukan dengan berendam pada air hangat, atau alat penghangat lain untuk mengurangi nyeri dan kaku pada sendi. Pembedahan dilakukan Apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah terlalu kuat, akan dilakukan pembedahan. Dengan pembedahan, dapat memperbaiki bagian dari tulang.

Prognosis Osteoartritis biasanya berjalan lambat, problem utama yang sering dijumpai adalah nyeri apabila sendi tersebut dipakai dan meningkatnya ketidakstbilan bila harus menanggung beban, terutama pada lutut. Masalah ini berarti bahwa orang tersebut harus membiasakan diri dengan cara hidup yang baru. 6 Kesimpulan Berdasarkan gejala-gejala yang timbul pada pasien, dan setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dapat disimpulkan bahwa pasien menderita osteoartritis. Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendian. Osteoartritis akan sangat mengganggu aktivitas pasien, terutama bila menyerang sendi lutut. Namun, dengan penanganan yang baik dan teratur, penyakit ini dapat segera diatasi.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. Jong WD. Kanker, apakah itu? Jakarta: Arcan; 2005.h.104. Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke4 Jilid 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.h.1195-291. 3. Bickley LS. Bates Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Edisi ke-8. Jakarta: EGC; 2009.h.365-9. 4. 5. Patel PR. Lecture Notes Radiologi. Edisi ke-2. Jakarta: Erlangga; 2007.h.168-70. Juanda HA. Solusi tepat bagi penderita TORCH. Solo: PT Wangsa Jatra Lesatari; 2007.h.19. 6. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-6 Volume 2. Jakarta: EGC; 2012.h.1380-9. 7. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2005.h.33. 8. 9. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2005.h.374. Brashers VL. Aplikasi klinis patofisiologi: pemeriksaan dan manajemen. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2008.h.351-4. 10. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Farmakologi dan Terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.h.535-7.

13