Anda di halaman 1dari 3

Mekanisme Demam

by Pipit Sila Pricila on Monday, November 7, 2011 at 7:32pm Demam Suhu normal tubuh manusia berkisar antara 36.5-37.2 C. Suhu subnormal yaitu 37.2 C. hiperpireksia merupakan suhu 41.2 C. Terdapat perbedaan pengukuran suhu di oral, aksila, dan rectal sekitar 0.5 C; suhu rectal > suhu oral > suhu aksila. Mekanisme Demam Tujuan dari pengaturan suhu adalah mempertahankan suhu inti tubuh sebenarnya pada set level 37C. Demam (pireksia) merupakan keadaan suhu tubuh meningkat melebihi suhu tubuh normal. Apabila suhu tubuh mencapai 40C disebut hipertermi.

Etiologi
Gangguan otak atau akibat zat yang menimbulkan demam (pirogen) yang menyebabkan perubahan set point. Zat pirogen ini bisa berupa protein, pecahan protein, dan zat lain (terutama kompleks lipopolisakarida atau pirogen hasil dari degenerasi jaringan tubuh yang menyebabkan demam selama keadaan sakit). Pirogen eksogen merupakan bagian dari patogen, terutama kompleks lipopolisakarida (endotoksin) bakteri gram (-) yang dilepas bakteri toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu.

Patofisiologi
Ketika tubuh bereaksi adanya pirogen atau patogen. Pirogen akan diopsonisasi (harfiah=siap dimakan) komplemen dan difagosit leukosit darah, limfosit, makrofag (sel kupffer di hati). Proses ini melepaskan sitokin, diantaranya pirogen endogen interleukin-1 (IL-1), IL-1, 6, 8, dan 11, interferon 2 dan , Tumor nekrosis factor TNF (kahektin) dan TNF (limfotoksin), macrophage inflammatory protein MIP1. Sitokin ini diduga mencapai organ sirkumventrikular otak yang tidak memiliki sawar darah otak. Sehingga terjadi demam pada organ ini atau yang berdekatan dengan area

preoptikdan organ vaskulosa lamina terminalis (OVLT) (daerah hipotalamus) melalui pembentukan prostaglandin PGE.
Ketika demam meningkat (karena nilai sebenarnya menyimpang dari set level yang tiba-tiba neningkat), pengeluaran

panas akan dikurangi melalui kulit sehingga kulit menjadi dingin (perasaan dingin), produksi panas juga meningkat
karena menggigil (termor). Keadaan ini berlangsung terus sampai nilai sebenarnya mendekati set level normal (suhu normal). Bila demam turun, aliran darah ke kulit meningkat sehingga orang tersebut akan merasa kepanasan dan mengeluarkan keringat yang banyak. Pada mekanisme tubuh alamiah, demam bermanfaat sebagai proses imun. Pada proses ini, terjadi pelepasan IL-1 yang akan mengaktifkan sel T. Suhu tinggi (demam) juga berfungsi meningkatkan keaktifan sel T dan B terhadap organisme patogen. Konsentrasi logam dasar di plasma (seng, tembaga, besi) yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri dikurangi. Selanjutnya, sel yang rusak karena virus, juga dimusnahkan sehinga replikasi virus dihambat. Namun konsekuensi demam secara umum timbul segera setelah pembangkitan demam (peningkatan suhu). Perubahan anatomis kulit dan metabolisme menimbulkan konsekuensi berupa gangguan keseimbangan cairan tubuh, peningkatan metabolisme, juga peningkatan kadar sisa metabolism, peningkatan frekuensi denyut jantung (8-12 menit/C) dan metabolisme energi. Hal ini menimbulkan rasa lemah, nyeri sendi dan sakit kepala, peningkatan gelombang tidur yang

lambat (berperan dalam perbaikan fungsi otak), pada keadaan tertentu demam menimbulkan gangguan kesadaran dan
persepsi (delirium karena demam) serta kejang.

Proses perubahan suhu yang terjadi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh zat toksin yang masuk kedalam tubuh. Umumnya, keadaan sakit terjadi karena adanya proses peradangan (inflamasi) di dalam tubuh. Proses peradangan itu sendiri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengancam keadaan fisiologis tubuh. Proses peradangan diawali dengan masuknya zat toksin (mikroorganisme) kedalam tubuh kita. Mikroorganisme (MO) yang masuk kedalam tubuh umumnya memiliki suatu zat toksin tertentu yang dikenal sebagai pirogen eksogen.

Dengan masuknya MO tersebut, tubuh akan berusaha melawan dan mencegahnya dengan memerintahkan tentara pertahanan tubuh antara lain berupa leukosit, makrofag, dan limfosit untuk memakannya (fagositosit). Dengan adanya proses fagositosit ini, tentara-tentara tubuh itu akan mengeluarkan senjata, berupa zat kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen (khususnya IL-1) yang berfungsi sebagai anti infeksi. Pirogen endogen yang keluar, selanjutnya akan merangsang sel-sel endotel hipotalamus untuk mengeluarkan suatu substansi yakni asam arakhidonat. Asam arakhidonat dapat keluar dengan adanya bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakhidonat yang dikeluarkan oleh hipotalamus akan pemacu pengeluaran prostaglandin (PGE2). Pengeluaran prostaglandin dibantu oleh enzim siklooksigenase (COX). Pengeluaran prostaglandin akan mempengaruhi kerja dari termostat hipotalamus.

Mekanisme Batuk
by Pipit Sila Pricila on Monday, November 7, 2011 at 7:30pm MEKANISME BATUK

Pada epitelium lapisan pernafasan terdapat lapisan tipis mukus yang melapisi dan ia dinbersihkan oleh gerakan suatu ekskalator mukosilar. Batuk bertindak membersihkan saluran nafas ketika terlalu banyak benda-benda asing yang terhirup atau jika terdapat sejumlah lendir yang terlalu banyak. Selain hal yang tersebut diatas basuk bisa juga disebabkan oleh rangsangan bau, kontraksi saluran nafas(misal, pada asma) atau peradangan pada saluran nafas. Intinya semua yang bisa merangsang reseptor batuk akan menyebabkan batuk. Batuk bisa juga disebabkan oleh kesengajaan. Namun, antara reflek dan kesengajaan mekanismenya sama. Batuk diawali dengan bernafas dalam kemudian diikuti oleh penutupan epiglotis. Kemudian, diafragma relaksasi disertai dengan kontraksi otot-otot yang berfungsi memperkecil rongga dada. Akibat mengecilnya rongga dada maka tekanan di rongga dada akan membesar. Maka ketika epiglotis membuka udara akan keluar dari saluran pernafasan dengan cepat sehingga mampu membersihkan kotoran-kotoran. Dahak di bronkus sebenarnya akan dikeluarkan secara alamiah karena bronkus memiliki mekanisme unik. Ia dilapisi selsel berbulu yang secara kontinu menyapu dahak ke arah atas. Dahak pun akan terasa naik ke atas menuju tenggorokan dan secara refleks kita akan batuk dengan hasil yang efisien, yaitu dahak berhasil dikeluarkan. Batuk dapat disebabkan oleh rangsangan di jalan pernapasan atas (tenggorokan), batuk sesak asma (pipa paru-paru menyempit), atau daya pompa jantung lemah sehingga cairan di dalam pembuluh darah keluar ke dalam paru-paru. Ketiga jenis batuk ini memerlukan obat yang berbeda. Bila salah mendiagnosis jenis batuk itu maka penderita tidak akan mengalami perbaikan. Pasien juga tidak perlu menunggu sampai obat resep habis, apalagi bila batuk bertambah parah. Anda dianjurkan kembali ke dokter untuk dilakukan penilaian kembali dan mungkin penggantian obat. Bila rangsangan batuk menggelitik sekali maka batuk harus dikendalikan. Yaitu, batuk harus ditahan karena batuk yang produktif akan merangsang batuk lagi. Sebagian orang berpendapat ransangan batuk tidak boleh ditahan dan harus dibatukkan. Ini salah kaprah karena batuk keras akan merangsang salvo batuk lain yang merupakan lingkaran setan. Untuk menahannya, kita bisa mengulum lozengersatau permen, meskipun kadang lozengers bisa justru merangsang batuk.