Anda di halaman 1dari 29

TUGAS TERSTRUKTUR DEMOGRAFI TERAPAN Gambaran Umum Provinsi Kepulauan Riau

Disusun oleh: Kelompok 1

Indra Maulana Azwan Wahyu Puspitasari Galih Rahman Hafid Zilvi Annisa Muthia

150610100046 150610100052 150610100055 150610100072

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan Provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga. Provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi yang penuh dengan limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Selain letak geografisnya yang sangat strategis karena berada pada pintu masuk Selat Malaka dari sebelah Timur juga berbatasan dengan pusat bisnis dan keuangan di Asia Pasifik yakni Singapura. Disamping itu Provinsi ini juga berbatasan langsung dengan Malaysia. Dengan Motto Berpancang Amanah, Bersauh Marwah, Provinsi Kepulauan Riau bertekad untuk membangun daerahnya menjadi salah satu pusat pertumbuhan perekonomian nasional dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Budaya Melayu yang didukung oleh masyarakat yang sejahtera, cerdas, dan berakhlak mulia. Dalam memberdayakan berbagai potensi yang ada, Provinsi Kepulauan Riau berusaha untuk tetap menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui penerapan good governance dan clean government dengan memberikan kemudahan berinvestasi sehingga dapat menarik lebih banyak investor baik domestik maupun asing untuk menanamkan modalnya. 1.2 RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah makalah ini adalah 1. Bagaimana keadaan umum provinsi Kepulauan Riau? 2. Bagaimana fertilitas,mortalitas,migrasi,komposisi ketenagakerjaan di kepulauan riau? 1.3 TUJUAN penduduk dan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah 1. Agar kita mengetahui keadaan umum kepulauan riau 2. Untuk mengetahui keadaan fertilitas,mortalitas, migrasi,komposisi penduduk dan ketenagakerjaan di kepulauan riau

BAB II PEMBAHASAN 2.1 KEADAAN UMUM PROVINSI KEPULAUAN RIAU Kepulauan Riau adalah sebuah provinsi di Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah utara; Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat di timur; Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di selatan; Negara Singapura, Malaysiadan provinsi Riau di sebelah barat.

Secara keseluruhan wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 4 kabupaten dan 2 kota, 47 kecamatan serta 274 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar dan kecil yang 30% belum bernama dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 252.601 km, sekitar 95% merupakan lautan dan hanya sekitar 5% daratan. a. Kabupaten dan kota N Kabupaten/Kota o. 1 Kabupaten Bintan Ibu kota Bandar Bentan Tanjung Karimun Terempa Daik, Lingga Ranai, Bunguran Timur Seri

Kabupaten Karimun Kabupaten Anambas Kepulauan

Balai

3 4 5 6 7

Kabupaten Lingga Kabupaten Natuna Kota Batam Kota Tanjung Pinang

b. Kondisi Geografis Kepulauan Riau Secara geografis provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan negara tetangga, yaitu Singapura, Malaysia dan Vietnam yang memiliki luas wilayah 251.810,71 km dengan 96 persennya adalah perairan dengan 1.350 pulau besar dan kecil telah menunjukkan kemajuan dalam penyelenggaraan kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan. Ibukota provinsi

Kepulauan Riau berkedudukan di Tanjung Pinang. Provinsi ini terletak pada jalur lalu lintas transportasi laut dan udara yang strategis dan terpadat pada tingkat internasional serta pada bibir pasar dunia yang memiliki peluang pasar. Berdasarkan hasil identifikasi Bakosurtanal, tercatat 394 pulau sudah berpenghuni sedangkan 1401 lainnya belum berpenghuni. Sebagai daerah kepulauan, Provinsi kepulauan Riau sekitar 95,79 persen atau seluas 241.215,30 km2 adalah lautan yang memisahkan gugusan pulau-pulau yang ada di wilayah provinsi ini. Sedangkan sisanya sebesar 4,21 persen atau seluas 10.595,41 km2 adalah daratan. Total luas wilayah Provinsi Kepulauan Riau adalah 251.810,71 km2. Kabupaten Karimun memiliki luas daratan terbesar dengan persentase sebesar 27,12 persen dari seluruh luas daratan Provinsi Kepulauan Riau atau seluas 2.873,20 km2, diikuti Lingga 19,99 persen (2.117,72 km2) dan Bintan sebesar 18,36 persen (1.946,13 km2). Kota Batam serta Tanjungpinang hanya memiliki persentase luas masing-masing sebesar 7,27 persen (770,27 km2) dan 2.26 persen (239,20 km2 ), namun merupakan sentral kegiatan hampir seluruh perekonomian di Kepulauan Riau. Khususnya Batam yang merupakan pusat perindustrian yang berskala internasional. Kabupaten Natuna yang telah dimekarkan menjadi 2 (dua) kabupaten, masing-masing luasnya 19,43 persen (2.058,45 km2) Kabupaten Natuna dan 5,57 persen (590,14 km2) Kabupaten Kepulauan Anambas. c. Sumber daya alam Kepri memiliki potensi sumber daya alam mineral dan energi yang relatif cukup besar dan bervariasi baik berupa bahan galian A (strategis) seperti minyak bumi dan gas alam, bahan galian B (vital) seperti timah, bauksit dan pasir besi, maupun bahan galian golongan C seperti granit, pasir dan kuarsa. d. Potensi daerah Kelautan Sebagai provinsi kepulauan, wilayah ini terdiri atas 96 % lautan. Kondisi ini sangat mendukung bagi pengembangan usaha budidaya perikanan mulai usahapembenihan sampai pemanfaatan teknologi budidaya maupun penangkapan. Di Kabupaten Karimun terdapat budidaya Ikan kakap, budidaya rumput laut, kerambah jaring apung. Kota Batam, Kabupaten Bintan, Lingga, dan Natuna juga memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan. Selain perikanan tangkap di keempat Kabupaten tersebut, juga dikembangkan budidaya perikanan air laut dan air tawar. Di kota Batam tepatnya di Pulau Setoko, bahkan terdapat pusat pembenihan ikan kerapu yang mampu menghasilkan lebih dari 1 juta benih setahunnya. Di Kota Batam tepatnya didaerah telaga punggur, ada satu pelabuhan perikanan yang dikelola murni oleh swasta . Pelabuhan Perikanan Swasta Telaga Punggur diresmikan pada tanggal 08 Januari 2010 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan R.I Dr. Ir. H. Fadel Muhammad. Letak pelabuhan perikanan swasta Telaga Punggur sangat strategis karena berhadapan dengan jalur lintas kapal penangkapan ikan antara Propinsi Kepri dan Natuna, ZEEI , Laut Cina Selatan serta keberadaan pelabuhan

perikanan swasta Telaga Punggur di Kota Batam sangat dekat dengan negara Singapura yang dapat meningkatkan ekspor hasil laut dan menambah pendapatan asli daerah. Peternakan Potensi di bidang peternakan difokuskan pada ternak itik, ternak sapi, ternak ayam dan ternak kambing yang umumnya masih dilaksanakan oleh peternakan kecil. Pertanian Hampir diseluruh wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau berpotensi untuk diolah menjadi lahan pertanian dan peternakan mengingat tanahnya subur. Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis terutama di Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun dan Kota Batam. Disamping palawija dan holtikultura, tanaman lain seperti kelapa, kopi, gambir, nenas serta cengkeh sangat baik untuk dikembangkan. Demikian juga di Kabupaten Kepulauan Riau dan Lingga sangat cocok untuk ditanami buah-buahan dan sayuran. Di beberapa pulau sangat cocok untuk perkebunan kelapa sawit. Pariwisata Pulau Penyengat dilihat dari kota Tanjung Pinang. Provinsi Kepulauan Riau merupakan gerbang wisata dari mancanegara kedua setelah Pulau Bali. Jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung mencapai 1,5 juta orang pada tahun 2005. Objek wisata di Provinsi Kepulauan Riau antara lain adalah wisata pantai yang terletak di berbagai kabupaten dan kota. Pantai Melur, Pulau Abang dan Pantai Nongsa di kota Batam, Pantai Pelawan di Kabupaten Karimun, Pantai Lagoi, Pantai Tanjung Berakit, Pantai Trikora, dan Bintan Leisure Park di kabupaten Bintan. Kabupaten Natuna terkenal dengan wisata baharinya seperti snorkeling. Selain wisata pantai dan bahari, provinsi Kepulauan Riau juga memiliki objek wisata lainnya seperti cagar budaya, makam-makam bersejarah, tarian-tarian tradisional serta event-event khas daerah. Di kota Tanjungpinang terdapat pulau Penyengat sebagai pulau bersejarah karena di pulau ini terdapat masjid bersejarah dan makammakam Raja Haji Fisabililah dan Raja Ali Haji yang kedua-duanya adalah pahlawan nasional. e. Keadaan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi di triwulan II-2011 diestimasi sebesar 7,77%, meningkat dibanding triwulan I yang tumbuh 5,35%. Meski searah dengan proyeksi di laporan sebelumnya, namun penguatan yang terjadi cenderung lebih besar dari perkiraan sebesar 6,22%. Kinerja ekspor yang berasal dari sektor Industri Pengolahan pulih lebih cepat dari perkiraan. Realisasi ekspor tercatat mengalami pertumbuhan 7,22% sedangkan pada periode sebelumnya tumbuh di level 4,07%. Kondisi ini dihasilkan dari aktivitas sektor Industri Pengolahan yang berakselerasi sebesar 9,41%, meningkat tajam dari triwulan I-2011 yang tumbuh 4,44%

Perkembangan inflasi Kepulauan Riau sepanjang semester I tahun 2011 terus menunjukkan penurunan, searah dengan proyeksi pada laporan periode sebelumnya. Tingkat inflasi yang diwakili oleh kota Batam dan Tanjungpinang pada akhir triwulan II-2011 sebesar 4,87%, sementara di triwulan sebelumnya tercatat 6,39%. Tingkat inflasi di periode ini juga masih lebih rendah dibanding rata-rata inflasi selama 3 tahun, yakni sebesar 5,65%. Melihat perkembangan harga-harga hingga awal Agustus-2011, target inflasi regional sampai dengan akhir tahun sebesar 51% optimis dapat tercapai. Pada akhir triwulan II-2011, kota Batam mengalami inflasi sebesar 0.58% atau secara tahunan) sebesar 5.11%, lebih rendah dibanding akhir triwulan I-2011 yang masih berada pada posisi 6,33%. Sementara di kota Tanjungpinang, tren penurunan inflasi terjadi secara lebih tajam dibandingkan kota Batam. Laju inflasi pada akhir periode triwulan II-2011 tercatat 3,82%, sedangkan di akhir periode sebelumnya masih berada pada level 6,67% .

2.2 FERTILITAS Istilah fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, jantung berdenyut, dan sebagainya. Pengukuran terhadap fertilitas ini dilakukan dengan dua macam pendekatan : pertama, Pengukuran Fertilitas Tahunan (Yearly Performance) dan kedua, Pengukur an Fertilitas Kumulatif (Reproductive History). 1. Yearly Performance (current fertility)

Mencerminkan fertilitas dari suatu kelompok penduduk/berbagai kelompok penduduk untuk jangka waktu satu tahun. Yearly Performance terdiri dari : a. Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Ratio (CBR) Angka Kelahiran Kasar dapat diartikan sebagai banyaknya kelahiran hidup pada suatu tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengahan tahun. Atau dengan rumus dapat ditulis sebagai berikut : CBR = Dimana : CBR P k B : Crude Birth Rate atau Angka Kelahiran Kasar : Penduduk pertengahan tahun : Bilangan konstan yang biasanya 1.000 : Jumlah kelahiran pada tahun tertentu B .k P

Kebaikan dari perhitungan CBR ini adalah perhitungan ini sederhana, karena hanya memerlukan keterangan tentang jumlah anak yang dilahirkan dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Sedangkan kelemahan dari perhitungan CBR ini adalah tidak memisahkan penduduk laki-laki dan penduduk perempuan yang masih kanak-kanak dan yang berumur 50 tahun keatas. Jadi angka yang dihasilkan sangat kasar. b. Angka Kelahiran Umum atau General Fertility Rate (GFR) Angka Kelahiran Umum adalah banyaknya kelahiran tiap seribu wanita yang berumur 15-49 tahun atau 15-44 tahun. Dapat ditulis dengan rumus sebagai berikut :

GFR
Dimana : GFR B

B p1549
f

.k atau GFR

B .k p4 f

:Tingkat Fertilitas Umum : Jumlah kelahiran

Pf (15-49) : Jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun pada pertengahan Tahun Kebaikan dari perhitungan GFR ini adalah perhitungan ini lebih cermat daripada CBR karena hanya memasukkan wanita yang berumur 15-49 tahun atau sebagai penduduk yang exposed to risk. Kelemahan dari perhitungan GFR ini adalah tidak membedakan risiko melahirkan dari berbagai kelompok umur, sehingga wanita yang berumur 40 tahun dianggap mempunyai risiko melahirkan yang sama besarnya dengan wanita yang berumur 25 tahun.

c. Angka Kelahiran menurut Kelompok Umur atau Age Specific Fertility Rate (ASFR) Terdapat variasi mengenai besar kecilnya kelahiran antar kelompok penduduk tertentu, karena tingkat fertilitas penduduk ini dapat pula dibedakan menurut: jenis kelamin, umur, status perkawinan, atau kelompok-kelompok penduduk yang lain Diantara kelompok perempuan usia reproduksi (15-49) terdapat variasi kemampuan melahirkan, karena itu perlu dihitung tingkat fertilitas perempuan pada tiap-tiap kelompok umur Age Specific Fertility Rate (ASFR). Sehingga, ASFR dapat diartikan sebagai banyaknya kelahiran tiap seribu wanita pada kelompok umur tertentu, dengan rumus sebagai berikut:

ASFRi =
Dimana: ASFR Bi Pfi k

bi .k (i = 1 s/d 7) p if

:Age Specific Fertility Rate : Jumlah kelahiran bayi pada kelompok umur i : Jumlah perempuan kelompok umur i pada pertengahan tahun : Angka konstanta 1.000

Kebaikan dari perhitungan ASFR ini adalah perhitungan ini lebih cermat dari GFR Karena sudah membagi penduduk yang exposed to risk ke dalam berbagai kelompok umur. Dengan ASFR dimungkinkan pembuatan analisis perbedaan fertilitas (current fertility) menurut berbagai karakteristik wanita. Dengan ASFR dimungkinkan dilakukannya studi fertilitas menurut kohor. ASFR ini merupakan dasar untuk perhitungan ukuran fertilitas dan reproduksi selanjutnya (TFR, GRR, dan NRR). Kelemahan dari perhitungan ASFR ini adalah membutuhkan data yang terinci yaitu banyaknya kelahiran untuk kelompok umur. Sedangkan data tersebut belum tentu ada di tiap negara/daerah, terutama di negara yang sedang berkembang. Jadi pada kenyataannya sukar sekali mendapat ukuran ASFR. Kemudian pada perhitungan ini tidak menunjukkan ukuran fertilitas untuk keseluruhan wanita umur 15-49 tahun. d. Angka Kelahiran Total atau Total Fertility Rate (TFR) Tingkat Fertilitas Total didefenisikan sebagai jumlah kelahiran hidup laki-laki dan perempuan tiap 1.000 penduduk yang hidup hingga akhir masa reproduksinya dengan catatan: 1. Tidak ada seorang perempuan yang meninggal sebelum mengakhiri masa reproduksinya 2. Tingkat fertilitas menurut umur tidak berubah pada periode waktu tertentu. Tingkat Fertilitas Total menggambarkan riwayat fertilitas dari sejumlah perempuan hipotesis selama masa reproduksinya. Dalam praktek Tingkat

Fertilitas Total dikerjakan dengan menjumlahkan tingkat fertilitas perempuan menurut umur, apabila umur tersebut berjenjang lima tahunan, dengan asumsi bahwa tingkat fertilitas menurut umur tunggal sama dengan rata-rata tingkat fertilitas kelompok umur lima tahunan. Maka rumus dari Tingkat Fertilitas Total atau TFR adalah sebagai berikut :

ASFR = 5 ASFRi (i= 1,2,....)


i =1

Dimana: ASFR i = Angka kelahiran menurut kelompok umur. = Kelompok umur 5 tahunan, dimulai dari 15-19.

Kebaikan dari perhitungan TFR ini adalah TFR merupakan ukuran untuk seluruh wanita usia 15-49 tahun, yang dihitung berdasarkan angka kelahiran menurut kelompok umur (Hatmadji, 2004 :63). 2. Reproductive History (cummulative fertility) a. Children Ever Born (CEB) atau jumlah anak yang pernah dilahirkan Rata-rata jumlah anak dilahirkan Dimana : CEBi Pfi : banyaknya anak yang dilahirkan hidup oleh kelompok umur i : banyaknya wanita pada kelompok umur i :

CEBi . Pi f

CEB mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok atau beberapa wanita selama reproduksinya; dan disebut juga paritas. Kebaikan dari perhitungan CEB ini adalah mudah didapatkan informasinya (di sensus dan survey) dan tidak ada referensi waktu. Kemudian kelemahan dari perhitungan ini adalah angka paritas menurut kelompok umur akan mengalami kesalahan karena kesalahan pelaporan umur penduduk, terutama di negara sedang berkembang. Kemudian ada kecenderungan semakin tua semakin besar kemungkinannya melupakan jumlah anak yang dilahirkan. Dan kelemahannya fertilitas wanita yang telah meninggal dianggap sama dengan yang masih hidup. b. Child Woman Ratio (CWR) Rumus:

CWR =

P04 .k f P 1549

Dimana : P0-4 = banyaknya penduduk umur 0 -4 tahun

Pf k

15-49

= banyaknya wanita umur 15-49 tahun = bilangan konstanta, biasanya 1000

CWR adalah hubungan dalam bentuk ratio antara jumlah anak di bawah 5 tahun dan jumlah penduduk wanita usia reproduksi. Kebaikan dari perhitungan CWR ini adalah untuk mendapatkan data yang diperlukan tidak usah membuat pertanyaan khusus dan berguna untuk indikasi fertilitas di daerah kecil sebab di Negara yang registrasinya cukup baik pun, statistic kelahiran tidak ditabulasikan untuk daerah yang kecil-kecil. Kelemahan dari CWR ada tiga, pertama langsung dipengaruhi oleh kekurangan pelaporan tentang anak, yang sering terjadi di Negara sedang berkembang. Walaupun kekurangan pelaporan juga terjadi di kelompok ibunya namun secara relatif kekurangan pelaporan pada anak-anak jauh lebih besar. Kedua, dipengaruhi oleh tingkat mortalitas, dimana tingkat mortalitas anak, khususnya di bawah satu tahun juga lebih besar dari orang tua, sehingga CWR selalu lebih kecil daripada tingkat fertilitas yang seharusnya. Ketiga, tidak memperhitungkan distribusi umur dari penduduk wanita. Dimana hal inilah yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini, untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabelvariabel lainnya seperti PDRB perkapita, Angka Harapan Hidup, Indeks Tingkat Pendidikan, Wanita berumur 15-49 tahun yang menggunakan Alat Kontrasepsi dan Tingkat Urbanisasi dapat mempengaruhi tingkat fertilitas di Indonesia.

2.3

MORTALITAS

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa angka kematian bayi secara provinsi cenderung mengalami penurunan walau pada tahun 2005 sempat mengalami peningkatan. Sedangkan kalau diperhatikan menurut kabupaten/kota akan dapat dilihat adanya angka kematian bayi yang berfluktuatif seperti di Kabupaten Karimun, Kabupaten Lingga dan Kota Tanjungpinang.

Pada tahun 2007, penyebab kematian bayi utama di Provinsi Kepulauan Riau masih sama dengan penyebab kematian bayi pada tahun 2006 yaitu disebabkan oleh kejadian bayi baru lahir rendah (BBLR). Kejadian BBLR yang menyebab kematian bayi sebesar 48%. Penyebab lainnya yaitu adalah kejadian asfiksia yaitu sebesar 21%, sedangkan kejadian lainnya yang tidak jelas diuraikan penyebabnya sebesar 31% yang meliputi kemungkinan adanya kejadian infeksi, pneumoni, diare dan faktor lainnya. Gambaran persentase penyebab kematian bayi Provinsi Kepulauan Riau tahun 2007 dapat dilihat pada gambar 4.2, berikut :

Berdasarkan gambar 5 di atas dapat dilihat bahwa penyebab kematian ibu maternal yang paling banyak adalah perdarahan yaitu sebanyak 12 orang (42%), yan diikuti oleh eklamsi sebanyak 3 orang (10%), infeksi 2 orang (7%) dan komplikasi abortus sebanyak 2 orang (7%). Sementara itu faktor lain tercatat cukup banyak yaitu sebanyak 10 kasus (34%). Analisis mortalitas Kepri tahun 2010 (Ms. Excel) Rata-rata Banyaknya Anak yang Sudah Menurut Wilayah dan Kelompok Umur Meninggal Per Wanita

Rata-rata Banyaknya Anak yang Sudah Meninggal Per Wanita Pernah Kawin Menurut Wilayah dan Kelompok Umur Wanita Berumur 10 Tahun ke Atas yang Pernah Kawin menurut Kelompok Umur dan Jumlah Anak yang Meninggal Wanita Berumur 10 Tahun Keatas Menurut Kelompok Umur dan Jumlah Anak yang Sudah Meninggal

2.4

MIGRASI a. Migrasi Seumur Hidup Migrasi seumur hidup adalah migrasi berdasarkan tempat kelahiran. Seseorang dikategorikan sebagai migran seumur hidup jika provinsi atau kabupaten/kota tempat ia dilahirkan berbeda dengan provinsi atau kabupaten/kota tempat tinggalnya sekarang (pada saat pencacahan). Angka migrasi masuk seumur hidup di suatu provinsi merupakan perbandingan antara jumlah penduduk yang tempat lahirnya berbeda dengan tempat tinggalnya sekarang dengan jumlah penduduk pertengahan tahun di tempat tinggalnya sekarang. Kegunaan Data migrasi dibutuhkan sebagai bahan dasar perencanaan pembangunan baik di wilayah asal maupun wilayah tujuan migran. Selain itu, data migrasi juga dibutuhkan dalam menentukan asumsi perpindahan di masa mendatang sebagai dasar penghitungan proyeksi penduduk.

Penduduk Menurut Wilayah, Jenis Kelamin, dan Status Migrasi Seumur Hidup Provinsi Kepulauan Riau Perkotaan + Perdesaan
Jenis Kelamin Laki-laki Status Migrasi Nama Kabupaten/Kota Non Migran Kabupa ten/Kot a 77.503 38.971 28.211 38.594 17.672 152.28 7 48.919 Migran Kabupa ten/Kot a 31.420 34.694 7.530 5.640 1.757 332.58 0 46.366 Non Migran Kabupa ten/Kot a 74.637 36.420 27.250 37.668 16.530 142.59 6 47.062 Perempuan Status Migrasi Migran Kabupa ten/Kot a 29.001 32.215 6.012 4.342 1.452 316.82 2 45.012 Non Migran Kabupate n/Kota 152.140 75.391 55.461 76.262 34.202 294.883 Laki-laki + Perempuan Status Migrasi

Jumlah

Jumlah

Migran Kabupate n/Kota

Jumlah

01 02 03 04 05 71

Karimun Bintan Natuna Lingga Kepulauan Anambas Kota Batam Kota Tanjung Pinang

108.92 3 73.665 35.741 44.234 19.429 484.86 7 95.285

103.638 68.635 33.262 42.010 17.982 459.418

60.421 66.909 13.542 9.982 3.209 649.402

212.561 142.300 69.003 86.244 37.411 944.285

72

92.074

95.981

91.378

187.359

Provinsi Kepulauan Riau

402.15 7

459.98 7

862.14 4

382.16 3

434.85 6

817.019

784.320

894.843

1.679.1 63

Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

b. Migrasi Risen Migrasi risen adalah migrasi berdasarkan tempat tinggal lima tahun yang lalu. Seseorang dikategorikan sebagai migran risen jika provinsi atau kabupaten/kota tempat tinggalnya lima tahun yang lalu berbeda dengan tempat tinggalnya sekarang (saat pencacahan). Angka migrasi risen masuk di suatu provinsi adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang tempat tinggal lima tahun yang lalu berbeda dengan tempat tinggal sekarang, dengan penduduk pertengahan tahun di provinsi tempat tinggal sekarang. Penduduk pertengahan tahun disini adalah penduduk 5 tahun ke atas.

Penduduk 5 Tahun Keatas Menurut Wilayah, Jenis Kelamin, dan Status Migrasi Risen Provinsi Kepulauan Riau Perkotaan + Perdesaan
Nama Kabupaten/K ota Jenis Kelamin Laki-laki Status Migrasi Perempuan Status Migrasi Laki-laki + Perempuan Status Migrasi

Non Migra n Kabu paten /Kota 01 02 03 04 05 Karimu n Bintan Natuna Lingga 91.73 1 56.96 0 28.66 8 38.33 0 16.67 0 330.2 75 75.09 2 637. 726

Migra n Kabu paten /Kota 5.443 7.816 2.686 1.437 626 88.86 5 9.806 116. 679

Tida k Dita nya kan 379 550 279 82 6 2.2 41 339 3.8 76

Jumla h

Non Migra n Kabu paten /Kota 88.20 3 52.34 7 27.04 6 36.69 6 15.47 0 308.4 77 73.91 5 602. 154

Migra n Kabu paten /Kota 4.810 8.232 2.237 1.311 496 91.45 4 8.860 117. 400

Tida k Dita nya kan 24 88 0 2 0 148 27

Jumla h

Non Migra n Kabu paten /Kota 179.9 34 109.3 07 55.71 4 75.02 6 32.14 0 638.7 52 149.0 07 1.23 9.88 0

Migra n Kabu paten /Kota 10.25 3 16.04 8 4.923 2.748 1.122 180.3 19 18.66 6 234. 079

Tidak Ditan yakan

Jumla h

97.55 3 65.32 6 31.63 3 39.84 9 17.30 2 421.3 81 85.23 7 758. 281

93.03 7 60.66 7 29.28 3 38.00 9 15.96 6 400.0 79 82.80 2 719. 843

403 638 279 84 6 2.389 366 4.16 5

190.5 90 125.9 93 60.91 6 77.85 8 33.26 8 821.4 60 168.0 39 1.47 8.12 4

Kepula uan Anamb as Kota 71 Batam Kota Tanjun 72 g Pinang Provinsi Kepulauan Riau

289

Sumber: Data Sensus Penduduk 2010 - Badan Pusat Statistik Republik Indonesia

2.5

KOMPOSISI PENDUDUK

Dari data diatas jumlah penduduk kepulauan riau dari tahun 2006 2009 mengalami peningkatan.

Jumlah penduduk Provinsi Kepulauan Riau dari tahun ke tahun menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini dimungkinkan karena beberapa kabupaten/kota di Provinsi Kepualuan Riau merupakan daerah industri dan pertambangan sehingga menjadi salah satu daerah tujuan utama para pencari kerja dari seluruh Indonesia. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 yang berjumlah 1.337.863 jiwa maka pada tahun 2007 jumlah penduduk menjadi 1.392.918 jiwa. Hal ini berarti terjadi pertambahan penduduk sebesar 4,12%. Pertambahan penduduk pada tahun 2007 ini jika dibandingkan dengan tahun 2006 tergolong relatif menurun dimana terjadi pertambahan penduduk sebesar 9,5% dari tahun 2005 ke tahun 2006. Penurunan ini kemungkinan sebagai hasil dari semakin ketatnya peraturan kependudukan yang diterapkan oleh Kota Batam yang memang merupakan kota tujuan utama pencari kerja di Provinsi Kepulauan Riau. Data jumlah penduduk yang lebih rinci dapat dilihat pada tabel diatas. 2.6 KETENAGAKERJAAN

Keadaan Ketenagakerjaan Agustus 2008

Pada Agustus 2008, jumlah angkatan kerja mencapai 666.000 orang, bertambah sebanyak 13.463 orang (2,06 persen) dibandingkan jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2008, yaitu sebesar 652.537 orang. Jumlah penduduk yang bekerja pada bulan Agustus 2008 sebesar 612.667 orang, bertambah sebanyak 15.508 orang (2,60 persen) jika dibandingkan dengan keadaan pada bulan Februari 2008 (597.159 orang). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga menunjukkan sedikit kenaikan, yaitu dari 65,61 persen pada Februari 2008 menjadi 66,09 persen pada Agustus 2008, atau meningkat 0,48 persen selama periode tersebut. Tingkat pengangguran pada Februari 2008 adalah 8,49 persen atau sebanyak 55.378 orang , sedangkan pada Agustus 2008 adalah 8,01 persen atau

sebanyak 53.333 orang, jadi secara relatif berkurang 0,38 persen (2.045 orang) selama periode tersebut. Secara absolut dan relatif keadaan agustus 2008 sektor industri masih mendominasi penyerapan tenaga kerja di Provinsi Kepri yaitu sebesar 185.624 orang (30,3 %) dilanjutkan oleh sektor perdagangan 124.820 orang (20,4 %). Pada Agustus 2008, sebanyak 348.611 orang yang bekerja berstatus sebagai buruh/karyawan, berkurang sedikit tenaga kerja sebanyak 653 orang (0,02 persen) dibandingkan Februari 2008. Dari sebanyak 612.667 orang penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja di Propinsi Kepri pada bulan Agustus 2008, ada 56,1 persen tinggal di Kota Batam, 13,3 persen berada di Kabupaten Karimun, kemudian 11,9 persen tinggal di Kota Tanjungpinang. Selebihnya tinggal di Kabupaten Bintan 7,3 persen dan Kabupaten Natuna ada sebesar 5,9 persen serta terakhir tinggal di Kabupaten Lingga ada 5,4 persen.

Keadaan Ketenagakerjaan Februari 2009

Jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2009 mencapai 668.510 orang, meningkat sebanyak 2.510 orang jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2008, yaitu sebesar 666.000 orang atau bertambah 15.973 orang dibanding Februari 2008, yaitu sebesar 652.537 orang. Jumlah penduduk yang bekerja pada bulan Februari 2009 sebesar 616.273 orang, meningkat sebanyak 3.606 orang jika dibandingkan dengan keadaan pada bulan Agustus 2008. Peningkatan jumlah penduduk yang bekerja tersebut utamanya terjadi di daerah pedesaan, yaitu meningkat sebanyak 9.514 orang, sebaliknya di daerah perkotaan berkurang sebanyak 5.908 orang. Selama Agustus 2008 sampai Februari 2009, penduduk laki-laki yang bekerja bertambah sebanyak 2.997 orang, sedangkan penduduk perempuan yang bekerja jumlahnya bertambah sebanyak 609 orang. Jumlah penduduk yang bekerja di sektor industri peningkatannya, pada bulan Agustus 2008 berjumlah 185.624 orang menjadi 223.902 orang pada bulan Februari 2009, atau bertambah sebanyak 38.278 orang dengan rincian lakilaki bertambah sebanyak 25.405 orang dan perempuan bertambah sebanyak 12.873 orang. Bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja di Sektor Industri menyebabkan tingkat pengangguran sedikit menurun. Tingkat pengangguran pada Agustus 2008 adalah 8,01 persen, sedangkan pada Februari 2009 adalah 7,81 persen atau turun 0,2 persen selama kurun waktu tersebut. Keadaan Ketenagakerjaan Kepri Agustus 2009 TINGKAT PENGANGGURAN KEPRI KEMBALI NAIK Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2009 mencapai 681.769 orang, meningkat sebanyak 15.769 orang (2,37 persen) dibandingkan dengan keadaan Agustus 2008, yaitu sebesar 666.000 orang; atau bertambah sebanyak 13.259 orang (1,98 persen) jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2009, yaitu sebesar 668.510 orang. Jumlah penduduk yang bekerja pada bulan Agustus 2009 sebesar 626.456 orang, meningkat sebanyak 13.783 orang (2,25 persen) jika dibandingkan

dengan keadaan pada bulan Agustus 2008; atau meningkat sebanyak 10.183 orang (1,65 persen) jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2009. Pada bulan Agustus 2009, struktur penduduk yang bekerja di sektor industri menurun dari 30,3 persen pada bulan Agustus 2008, atau 36,3 persen pada bulan Februari 2009, menjadi 25,2 persen. Penurunan penduduk yang bekerja pada sektor industri menyebabkan naiknya tingkat pengangguran terbuka (TPT) dari 8,01 persen (Agustus 2008) atau 7,81 persen (Februari 2009) menjadi 8,11 persen. Dengan kata lain, TPT Kepri naik 0,1 persen dalam kurun waktu 1 tahun, atau naik sebesar 0,3 persen selama kurun waktu 6 bulan terakhir. Disamping menyebabkan naiknya tingkat pengangguran, penduduk yang tidak lagi bekerja di sektor industri juga diduga beralih pada sektor perdagangan dan jasa kemasyarakatan yang relatif lebih bersifat informal, dengan ditandai dengan meningkatnya penduduk yang bekerja pada dua sektor tersebut, masing-masing mengalami kenaikan sebesar 6,2 persen dan 2,9 persen (Februari 2009Agustus 2009), atau 1,9 persen dan 3,8 persen (Agustus 2008Agustus 2009). Untuk tingkat kabupaten/kota, tingkat pengangguran tertinggi terjadi di Kabupaten Karimun (9,23 persen) dan terendah terdapat di Kabupaten Lingga (6,53 persen). Adapun kabupaten/kota yang TPT-nya meningkat yaitu Kabupaten Natuna (dari 4,91 persen menjadi 8,88 persen) dan Kota Batam (dari 6,69 menjadi 7,95 persen). Analisis dari tabel ketenagakerjaan 2010 (Ms. excel) Penduduk berumur 15 tahun keatas menurut wilayah dan lapangan usaha utama Jumlah penduduk yang bekerja pada pengolahan industri memiliki jumlah yang lebih besar daripada lapangan usaha yang lain, yaitu sekitar 206.220 orang. Selain pengolahan industri, lapangan usaha perdagangan juga memiliki tenaga kerja yang besar yaitu sekitar 114.948 orang. Dan wilayah Batam memiliki jumlah tenaga kerja yang besar dibanding wilayah lain yaitu sekitar 448.971 orang. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Lapangan Pekerjaan Utama Jumlah penduduk dengan pendidikan tertinggi SLTA/MA/Sederajat memiliki jumlah tenaga kerja dibanding tingkat pendidikan lainnya yaitu sekitar 295.810 orang dengan lapangan usaha pengolahan industri sebagai lapangan usaha yang paling banyak tenaga kerjanya yaitu 120.585 orang. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Kelompok Umur dan Status Pekerjaan Utama Jumlah penduduk dengan kelompok umur 25-29 memiliki jumlah yang lebih besar dibanding dengan kelompok umur lainnya yaitu sebesar 148.542 orang dan status pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai mendominasi pada kelompok umur 25-29 ini yaitu sekitar 112.161

orang. Jika dilihat dari semua kelompok umur pun status pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai memiliki jumlah yang besar yaitu 473.255 orang. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama dan Status Pekerjaan Utama Jumlah penduduk yang bekerja pada lapangan usaha industri pengolahan memiliki jumlah yang besar dibanding dengan lapangan usaha lain yaitu sekitar 206.220 orang dan status pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai pada industri pengolahan mendominasi jumlah penduduk yang yang bekerja pada lapangan usaha industri pengolahan ini yaitu sebesar 192.255 orang. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan dan Status Pekerjaan Utama Seperti data sebelumnya, jumlah penduduk dengan pendidikan tertinggi SLTA/MA/Sederajat memiliki jumlah tenaga kerja yang lebih besar dengan status pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai yang mendominasinya. Status pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai juga memiliki jumlah yang lebih besar dibanding status pekerjaan lainnya.

Dari data diatas jumlah penduduk yang berusia 15 tahun keatas yang bekerja mengalami peningkatan. Awalnya pada tahun 2009 sebanyak 626.456 jiwa menjadi 781.824 jiwa pada tahun 2011.

Terlihat pada tabel di atas tingkat pengangguran laki-laki penduduk usia 15 tahun keatas mengalami penurunan dari 38.622 jiwa pada tahun 2010 menjadi 36.767 pada tahun 2011. Sedangkan tingkat pengangguran perempuannya mengalami peningkatan dari 18.427 jiwa pada tahun 2010 menjadi 29.406 jiwa pada tahun 2011. Keadaan Ketenagakerjaan Kepri sampai dengan Agustus 2011 TINGKAT PENGANGGURAN KEPRI = 7,80 PERSEN Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2011 mencapai 847.997 orang, meningkat sebanyak 21.462 orang dibandingkan dengan keadaan Agustus 2010, yaitu sebesar 826.535 orang; atau bertambah sebanyak 11.388 orang jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2011, yaitu sebesar 836.609 orang. Jumlah penduduk yang bekerja pada bulan Agustus 2011 sebesar 781.824 orang, meningkat sebanyak 12.338 orang jika dibandingkan dengan keadaan pada bulan Agustus 2010; atau meningkat sebanyak 4.098 orang jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2011. Pada bulan Agustus 2010, struktur penduduk yang bekerja di sektor industri kembali naik dari 19,2 persen pada bulan Februari 2011 menjadi 25,0 persen. Tidak terserapnya sejumlah angkatan kerja dalam lapangan kerja pada beberapa sektor menyebabkan meningkatnya tingkat pengangguran terbuka (TPT) dari 6,90 persen (Agustus 2010) atau 7,04 persen (Februari 2011) menjadi 7,80 persen. Dengan kata lain, TPT Kepri naik 0,90 persen dalam kurun waktu 1 tahun, atau turun sebesar 0,76 persen selama kurun waktu 6 bulan terakhir. Pada Agustus 2011, penduduk yang bekerja sebagai buruh/karyawan/pegawai masih mendominasi struktur ketenagakerjaan Kepri menurut status pekerjaan utamanya, yaitu dengan jumlah sebanyak 527.770 orang, atau sebesar 67,5 persen dari seluruh penduduk yang bekerja. Untuk tingkat kabupaten/kota, tingkat pengangguran tertinggi terjadi di Kota Batam (8,57 persen) dan terendah terdapat di Kabupaten Lingga (3,55 persen). Adapun kabupaten/kota yang TPT-nya meningkat yaitu Kabupaten Bintan, Kabupaten Kepulauan Anambas, dan Kota Batam.

1. Angkatan Kerja, Penduduk yang Bekerja, dan Pengangguran Pada Agustus 2011, keadaan ketenagakerjaan di Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan beberapa perubahan. Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2011 mencapai 847.997 orang, bertambah sebanyak 21.462 orang dibandingkan keadaan bulan Agustus 2010, atau bertambah sebanyak 11.388 orang jika dibandingkan dengan keadaan bulan Februari 2011. Peningkatan jumlah angkatan kerja tersebut tidak diiringi dengan peningkatan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), atau TPAK mengalami penurunan dari 68,85 persen (Agustus 2010) atau 68,14 persen (Februari 2011) menjadi 67,48 persen (Agustus 2011). Penurunan TPAK ini terjadi karena laju pertumbuhan angkatan kerja (penduduk bekerja dan pengangguran) tidak lebih cepat daripada laju pertumbuhan penduduk bukan angkatan kerja, seperti mereka yang sedang

bersekolah dan mengurus rumah tangga. Tabel 1. Angkatan Kerja Menurut Kegiatan Seminggu yang Lalu, Kepulauan Riau: Februari 2010 Agustus 2011
URAIAN Angkatan Kerja
(1)

FEB 2010 653.012 50.729 703.741 64,95 7,21


(2)

AGT 2010 769.486 57.049 826.535 68,85 6,90


(3)

FEB 2011 777.726 58.883 836.609 68,14 7,04


(4)

AGT 2011 781.824 66.173 847.997 67,48 7,80


(5)

Bekerja Pengangguran Jumlah AK

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Sumber : BPS, Hasil Survei Nasional 2010 dan 2011

Angkatan

Kerja

Meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja dan jumlah penduduk yang menganggur telah mengakibatkan jumlah angkatan kerja meningkat. Pada bulan Agustus 2011, jumlah penduduk yang bekerja mengalami perubahan dari 769.486 orang pada Agustus 2010 menjadi 781.824 orang pada bulan Agustus 2011, atau meningkat sebanyak 12.338 orang (1,60 persen). Demikian pula dengan jumlah pengangguran, mengalami peningkatan dari 57.049 orang (Agustus 2010) atau 58.883 orang (Februari 2011) menjadi 66.173 orang (Agustus 2011). Perubahan jumlah angkatan kerja dan jumlah pengangguran tersebut berakibat pada berubahnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepulauan Riau, yang semula sebesar 6,90 persen pada Agustus 2010, kemudian naik menjadi 7,04 persen pada Februari 2011, dan naik lagi menjadi 7,80 persen pada Agustus 2011. 2. Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Komposisi penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama memperlihatkan pola yang relatif sama antara periode Agustus 2010 dan Agustus 2010, meskipun sempat ada perubahan pada Februari 2011. Sektor industri masih tetap sebagai lapangan pekerjaan yang banyak menyerap tenaga kerja di Kepulauan Riau, yaitu sebanyak 24,99 persen. Namun, penyerapan tenaga kerja pada sektor industri hanya memiliki selisih tidak sampai 2.000 orang dibandingkan dengan sektor perdagangan, di mana pada Februari 2011 yang lalu, sektor perdagangan mampu LAPANGAN PEKERJAAN UTAMA FEB 2011 AGT 2010 FEB 2011ini AGT 2011 menyerap tenaga kerja paling banyak di Kepulauan Riau. Sektor lainnya (1) (2) (3) (4) (5) Pertanian, yang Perkebunan, dominan Kehutanan, dalam penyerapan dan Perikanan tenaga 88.439 kerja antara 98.091 lain 128.433 perdagangan, 97.757 (13,5) (12,8) (16,5) (12,5) rumah makan, dan jasa akomodasi (24,8 persen), jasa kemasyarakatan, sosial, Industri 208.080 252.753 149.311 195.368 dan perorangan (17,8 persen), dan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan (31,9) (32,9) (19,2) (25,0) perikanan (12,5 persen). Keempat lapangan pekerjaan tersebut selalu Perdagangan, Rumah antara Makan, dan Jasa Akomodasi 122.627 153.505 193.860 mendominasi periode Agustus 2010 Agustus 2011. 188.628
(18,8) (20,0) (24,3) (24,8)

Tabel 2. Penduduk Usia Kerja yang Bekerja Menurut Lapangan Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 135.023 126.543 148.740 139.273 (20,7) (16,5) (19,1) Pekerjaan Utama, Kepulauan Riau: Februari 2010 Agustus 2011(17,8)
Lainnya Penduduk Usia Kerja yang Bekerja 98.843 (15,1) 653.012 (100,0) 138.594 (18,0) 769.486 (100,0) 162.614 (20,9) 777.726 (100,0) 155.566 (19,9) 781.824 (100,0)

Sumber : BPS, Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional 2010 dan 2011

Dari data Jumlah pengangguran dan Tingkat Pengangguran Terbuka pada tahun 2010 dan 2011 mengalami peningkatan. Pada bulan Agustus 2010 jumlah penganggurannya ada 57.000 jiwa dan 6,90% TPT. Sedangkan pada bulan Agustus 2011 jumlah pengaggurannya ada 66.200 jiwa dan 7,80% TPT

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN 3.2 SARAN

DAFTAR PUSTAKA http://www.kepriprov.go.id/web/ http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Riau http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=324&wid=2100000000