Anda di halaman 1dari 240

Penanganan DAS Bengawan Solo di Masa Datang

Ir. Iman Sudradjat MPM (Direktur Penataan Ruang Wilayah Nasional ) Sumber: http://bulletin.penataanruang.net/ DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi perkotaan dan perdesaan yang ada di sekitarnya, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan ekonomi. Pentingnya peranan DAS dinyatakan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menetapkan DAS Bengawan Solo sebagai salah satu prioritas utama dalam penataan ruang sehubungan dengan fungsi hidrologi untuk mendukung pengembangan wilayah. Selain itu, DAS Bengawan Solo juga merupakan satu sistem ekologi besar yang dalam perkembangannya saat ini mengalami banyak kerusakan dan mengarah pada kondisi degradasi lingkungan. Ada dua indikator degradasi, pertama, konversi lahan hutan di daerah hulu ke penggunaan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang menyebabkan terjadinya peningkatan laju erosi dan peningkatan laju sedimentasi. Kedua, terjadinya fluktuasi debit sungai yang mencolok di musim hujan dan kemarau. Berdasarkan pertimbangan ekologis dan sosial ekonomi, DAS Bengawan Solo merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dan tidak mengenal batas wilayah administrasi. Potensi dan persoalan yang ada ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja tetapi perlu disikapi bersama-sama secara bijak. Selain pertimbangan ekologis, sosial ekonomi, maupun sejarah, juga karena keberadaan sumber daya alam DAS Bengawan Solo sebagai sumber daya alam bersama (common pool resources) yang menuntut adanya kepemilikan bersama (collective ownership). Sebagai sumberdaya alam milik bersama, maka sumber daya alam yang terdapat di DAS Bengawan Solo membutuhkan penanganan secara bersama di antara semua pemangku kepentingan atau yang dikenal dengan collective management yang mengarah pada suatu bentuk collaborative management. Hal ini juga menjadi penting karena hingga saat ini belum tercipta kerjasama penataan ruang di antara semua pemerintah daerah di dalam kawasan DAS yang bertujuan untuk penyelamatan DAS. PENINGKATAN PENATAAN KAWASAN DAS Posisi yang SOLO BENGAWAN penting dan keunikan karakteristik dari DAS Bengawan Solo ini perlu diwadahi dan diantisipasi dalam suatu arahan penataan ruang yang menyeluruh dan jelas. Rencana tata ruang DAS Bengawan Solo yang menjadi panduan bagi semua RTRW provinsi, kabupaten maupun kota yang berada di Kawasan DAS Bengawan Solo sebagai dasar kegiatan pengembangan wilayah di provinsi, kabupaten maupun kota tersebut, sampai saat ini belum tersusun. Padahal, rencana tata ruang ini nantinya diharapkan dapat menjadi dasar pemanfaatan dan pengendalian lahan sehingga secara langsung dapat mengurangi kontribusi debit puncak dan volume banjir yang terjadi dan sekaligus menjadi pengikat dalam kerjasama penataan DAS. Jelas bahwa RTR DAS Bengawan Solo memiliki peran penting. Untuk itu telah dilakukan penyusunan arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang serta pengelolaan wilayah sungai yang terakomodasi antar sektor

dan antar wilayah sehingga dapat tercapai pola pemanfaatan ruang yang mendukung kelestarian dan keserasian pemanfaatan wilayah Sungai Bengawan Solo. Selanjutnya kebijakan dan strategi tersebut akan menjadi dasar dalam mencapai pembangunan yang berkelanjutan serta mampu meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat setempat. Dari beberapa pertemuan telah dilakukan kesepakatan untuk ditindak lanjuti yaitu: Guna Lahan Optimal (GLO), yang diharapkan menjadi dasar pemanfaatan ruang DAS dan menjadi basis untuk penyusunan rencana tata ruang DAS Bengawan Solo. Adapun GLO ini sudah mempertimbangkan aspek kontribusi debit puncak dan volume banjir berdasarkan pemanfaatan penggunaan lahan; Arahan kebijakan, strategi, dan arahan program, yang dapat menjadi panduan untuk menata DAS Bengawan Solo dengan memperhatikan aspek bencana banjir, longsor, dan pengembangan wilayah kawasan; Mekanisme kelembagaan dan arahan pengendalian untuk mendukung tercapainya penyesuaian RTRW masing-masing pemerintah daerah dengan Guna Lahan Optimal, terciptanya rencana tata ruang DAS Bengawan Solo, tercapainya sinkronisasi semua RTRW dengan rencana tata ruang DAS, dan tercapainya penataan DAS dengan memperhatikan aspek sosial-ekonomi kawasan. Optimalisasi Penggunaan Lahan di Kawasan DAS Bengawan Solo Guna Lahan Optimal adalah guna lahan yang memberikan kondisi: debit puncak banjir berkurang, run off menurun, volume banjir berkurang, kegiatan ekonomi tetap berkembang, kondisi sosial dan budaya masyarakat tidak terganggu Penggunaan Lahan optimal DAS Bengawan Solo Optimalisasi penggunaan lahan di Kawasan DAS Bengawan Solo merupakan hasil simulasi guna lahan dengan menggunakan pemodelan hidrologi dan geologi lingkungan. Beberapa kondisi di DAS Bengawan Solo berdasarkan pemodelan tersebut adalah sebagai berikut: Perubahan lahan hutan menjadi perkebunan, ladang, sawah, dan permukiman yang terjadi di DAS Bengawan Solo menimbulkan puncak dan volume banjir yang semakin besar; Besarnya banjir dari anak-anak sungai tergantung juga dari jenis tanah selain dari perubahan fungsi lahan dan karakteristik hidrologi seperti kemiringan dan panjang sungai; Daerah yang rentan terhadap pertambahan banjir adalah sub-sub DAS yang mengandung jenis tanah berkemampuan meresapkan air ke dalam tanah cukup tinggi (daerah resapan); Sub-sub DAS dengan alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan, ladang, sawah, dan permukiman terjadi pada sebagian besar kawasan sehingga menimbulkan pertambahan puncak dan volume banjir lebih dari 100%; Sub-sub DAS dengan dominasi jenis tanah kurang mampu meresapkan air (kemampuan melewatkan air di permukaan tanah cukup tinggi) biasanya rentan terhadap perubahan fungsi lahan seperti diketemukan pada bagian hulu sub-DAS Kali Madiun dan sebagian besar sub DAS Bengawan Solo Hilir; Perubahan guna lahan mempengaruhi tinggi rendahnya debit puncak dan volume banjir. Komposisi guna lahan seperti sekarang menimbulkan puncak dan volume banjir makin besar

dibandingkan dengan guna lahan sebelumnya di tahun 1964 untuk sub DAS Bengawan Solo Hilir; Pengembalian fungsi konservasi hutan pada beberapa kawasan akan memiliki pengaruh yang lebih signifikan terhadap pengurangan debit puncak dan volume banjir apabila dikombinasikan dengan penerapan Low Impact Development (LID); Kondisi di atas juga dipicu oleh kondisi alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan kemampuan lahan yang ada. Berdasarkan pada hasil analisis geologi lingkungan terkait kemampuan lahan tersebut, terdapat beberapa kondisi penggunaan lahan di DAS Bengawan Solo sebagai berikut: Terdapat penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahannya; Terdapat penggunaan lahan pada kawasan rawan dengan kemampuan lahan sedang, seperti di sekitar puncak Gunung Lawu, Gunung Merapi dan Gunung Jeding-Patujbanteng, Cawas, Wonogiri-Eromoko, Giriwoyo, Tirtomoyo, Slogohimo, Badegan, Wonokerto, Jetis, Sarangan, Kendal, Ngrampe, PulungWungu, Caruban, Talangkembar, dan Ngadirejo-Juwok; Terdapat kawasan yang tidak boleh dikembangkan karena kemampuan lahan yang rendah, seperti di sekitar daerah Cawas, Wonogiri-Eromoko, Tirtomoyo, Slogohimo, Badegan, Wonokerto, Sarangan, Kendal, Ngrampe, dan Pulung- Wungu; dan Terdapat beberapa kawasan yang harus dihutankan kembali atau dikembalikan fungsinya sebagai kawasan konservasi, seperti yang terjadi di Boyolali, Klaten, Wonogiri, Gresik, Madiun, Magetan, Ponorogo, dan Tuban. Terumuskannya Implikasi Perubahan Iklim dan Perubahan Guna Lahan terhadap Puncak dan Volume Banjir di Kawasan DAS Bengawan Solo Beberapa kondisi di Kawasan DAS Bengawan Solo berdasarkan pemodelan perubahan iklim tersebut yaitu: Hujan di kawasan DAS Bengawan Solo mengakibatkan banjir cenderung bertambah besar; Hujan tahunan yang cenderung berkurang disertai dengan alih fungsi lahan mengakibatkan aliran air di musim kemarau berkurang sehingga intensitas kekeringan bertambah besar; Untuk 30 tahun mendatang, perubahan iklim akan mengakibatkan banjir bertambah 50% dan perubahan guna lahan akan mengakibatkan banjir bertambah 53%; Jika proses perubahan iklim terjadi saat perubahan guna lahan, maka puncak dan volume banjir akan bertambah sebesar 135%. Terumuskannya Pengembangan Ekonomi Alternatif dan Ramah Lingkungan untuk Pengembangan Wilayah Adanya alih fungsi lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan budidaya merupakan akibat dari tekanan kebutuhan lahan yang pada akhirnya menyebabkan adanya degradasi lingkungan. Berdasarkan hasil analisis ekonomi untuk Kawasan DAS Bengawan Solo, faktor lahan merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa temuan studi sebagai berikut: Peningkatan luasan lahan budidaya di Kawasan DAS Bengawan Solo akan meningkatkan PDRB DAS Bengawan Solo, dan sebaliknya pengurangan luasan

lahan budidaya akan dapat mengurangi PDRB DAS Bengawan Solo; Setiap pertambahan luasan lahan budidaya di DAS Bengawan Solo sebesar 1% akan meningkatkan PDRB DAS sebesar 0,144% dan sebaliknya; Peningkatan luasan lahan budidaya akan meningkatkan PDRB sub-DAS Bengawan Solo Hulu dan sebaliknya pengurangan luasan lahan budidaya akan mengurangi PDRB; Setiap pertambahan luasan lahan budidaya di sub DAS Bengawan Solo Hulu sebesar 1% akan meningkatkan PDRB sebesar 0,168% dan sebaliknya; Terdapat beberapa sektor yang memiliki kecenderungan dominan unggul, dominan menurun, dan potensial berkembang yang berbeda-beda di setiap kabupaten/kota; Sektor perdagangan, hotel, dan restoran merupakan sektor yang dominan unggul di hampir setiap kabupaten/kota di DAS Bengawan Solo, dimana kontribusi sektor terhadap PDRB kabupaten/kota besar dan memiliki pertumbuhan yang positif; Sektor pertanian merupakan sektor yang dominan di hampir semua kabupaten/kota di DAS Bengawan Solo, namun dengan pertumbuhan yang cenderung negatif/ menurun; dan Sektor-sektor tersier (non-ekstraktif ) merupakan sektor potensial berkembang dengan pertumbuhan yang tinggi namun kontribusinya kecil di hampir setiap kabupaten/ kota di DAS Bengawan Solo DAS Bengawan Solo merupakan bagian dari Wilayah Sungai Bengawan Solo, yang berdasarkan RTRWN ditetapkan masuk ke dalam kategori Wilayah Sungai LINTAS PROVINSI. Namun pada perkembangannya, berdasarkan persyaratan yang ada, DAS Bengawan Solo sudah memenuhi kriteria sebagai kawasan strategis nasional. Hal ini berimplikasi pada mekanisme penyelenggaraan penataan ruang untuk DAS Bengawan Solo. Oleh karena itu, kedudukan dan status rencana tata ruang DAS Bengawan Solo adalah sebagai berikut: Perlu ada rencana tata ruang DAS Bengawan Solo yang berfungsi untuk mengikat seluruh pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah agar kegiatan peningkatan penataan Kawasan DAS Bengawan Solo berdasarkan optimalisasi penggunaan lahan dapat dilaksanakan; Perlu ada kejelasan mengenai kedudukan rencana tata ruang DAS Bengawan Solo terhadap dokumen perencanaan lainnya; Dibutuhkan dasar hukum yang kuat bagi rencana tata ruang DAS Bengawan Solo agar dapat menjadi acuan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di daerah. Kedudukan Rencana Tata Ruang DAS Bengawan Solo terhadap Perencanaan Dokumen Lain Faktor lahan merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan konomi masyarakat. Hasil kajian Peningkatan Penataan Kawasan DAS Bengawan Solo menunjukkan adanya beberapa kebutuhan untuk penanganan lebih lanjut dari sisi penataan ruang, yang meliputi: Penanganan yang sifatnya lintas sektor dan seluruh pemangku kepentingan terkait, Perlunya pengaturan penataan ruang dan pengarahan pemanfaatan ruang yang mempertimbangkan optimalisasi pengembalian fungsi hidrologi sungai dan pengembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat; dan Perlunya penanganan bersama untuk pengelolaan DAS dalam suatu mekanisme kelembagaan

kolaboratif (collaborative management). PERAN DAN KEDUDUKAN HASIL GUNA LAHAN OPTIMAL (GLO) Dengan penerapan GLO, maka debit puncak dan volume banjir dapat dikurangi, dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya dapat terus meningkat. Dalam rangkaian studi Peningkatan Penataan Kawasan DAS Bengawan Solo, GLO merupakan salah satu keluaran yang dihasilkan yang diharapkan dapat diwujudkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah baik provinsi, kota, maupun kabupaten. Di samping adanya beberapa manfaat yang dapat diperoleh, penerapan GLO di tengah banyaknya kebijakan dan strategi penanganan dan pengelolaan DAS Bengawan Solo yang dihasilkan oleh para pemangku kepentingan yang terkait tetap berpotensi untuk menimbulkan beberapa persoalan sebagai implikasinya, antara lain: Kemungkinan alokasi ruang dalam GLO berbeda dengan alokasi pola ruang dalam RTRW, sehingga; Kemungkinan kebijakan, strategi, dan arahan program untuk perwujudan GLO berbeda dengan kebijakan dan strategi dalam RTRW. PERAN DAN KEDUDUKAN USULAN KEBIJAKAN, STRATEGI, DAN ARAHAN PROGRAM Kebijakan, strategi, dan arahan program peningkatan penataan kawasan DAS Bengawan Solo ini, dalam kaitannya dengan kebijakan dan strategi penataan DAS Bengawan Solo lainnya yang telah ada, dapat menjadi masukan dalam penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) DAS Bengawan Solo dan penyempurnaan Pola Sumber Daya Air Wilayah Sungai Bengawan Solo dari sisi pengembangan wilayah. Selain itu kebijakan, strategi, dan arahan program yang dihasilkan ini akan menjadi pelengkap bagi Rencana Induk Pengembangan dan Pengelolaan Sumber Daya Air Satuan Wilayah Sungai Bengawan Solo atau yang lebih dikenal sebagai CDMP yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum. Masukan dari sisi Pengembangan Wilayah Kedudukan Kebijakan, Strategi, dan Arahan Program yang Dihasilkan dari Studi Peningkatan Penataan DAS Bengawan Solo dalam Kerangka Penanganan DAS Bengawan Solo Kebijakan, strategi, dan arahan program yang dihasilkan dipahami sebagai kebijakan untuk peningkatan DAS Bengawan Solo dengan melakukan intervensi terhadap penggunaan lahan yang ada beserta aktivitas yang ada di atasnya. Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan penataan kawasan DAS Bengawan Solo, kebijakan, strategi, dan arahan program yang dihasilkan ini merupakan suatu bentuk upaya perwujudan dan pengantisipasian implikasi kebutuhan peningkatan dan penataan DAS Bengawan Solo. Dalam hal ini, kebijakan, strategi, dan arahan program yang dihasilkan dipahami sebagai kebijakan untuk peningkatan DAS Bengawan Solo dengan melakukan intervensi terhadap penggunaan lahan yang ada beserta aktivitas yang ada di atasnya, serta sistem yang mempengaruhinya. Kebijakan peningkatan DAS Bengawan Solo dalam konteks ini didudukan sebagai suatu penguatan dan tindak lanjut dari kebutuhan untuk mewujudkan penataan lahan yang optimal (GLO) yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan DAS Bengawan Solo itu sendiri. Maka kebijakan, strategi, dan

arahan peningkatan penataan DAS Bengawan Solo secara garis besar terbagi dalam 6 (enam) arahan kebijakan besar, yaitu: PENINGKATAN KUALITAS RTRW PROV/KAB/KOTA PENGEMBANGAN SISTEM KELEMBAGAAN BERSAMA PENGEMBANGAN EKONOMI WILAYAH PENDEKATAN SOSIAL DAN EKOSISTEM DALAM PENANGANAN DAS OPTIMALISASI PENGGUNAAN LAHAN PENERAPAN LID (LOW IMPACT DEVELOPMENT) topik utama Secara garis besar, keterkaitan keenam kebijakan tersebut dalam perwujudan penataan lahan yang optimal dapat dilihat pada Gambar berikut. Keenam arahan kebijakan tersebut, pada dasarnya saling terkait satu sama lain dan dapat dirangkum dalam 4 (empat) kelompok kebijakan, yaitu: PENATAAN RUANG, yang meliputi peningkatan kualitas dari RTRW di provinsi/kota/kabupaten yang berada di dalam lingkup DAS Bengawan Solo beserta peningkatan kualitas RTR DAS Bengawan Solo; PENATAAN KAWASAN BUDIDAYA, yang meliputi pengendalian pemanfaatan pada kawasan budidaya eksisting dengan memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat, fisik lingkungan, penerapan LID, dan pengembangan ekonomi wilayah; FUNGSI LINDUNG KAWASAN, yang meliputi pengembalian fungsi lindung kawasan resapan dengan juga memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat, fisik lingkungan, penerapan LID, dan pengembangan ekonomi wilayah; serta KELEMBAGAAN, yang mengarah pada perwujudan suatu lembaga kolaborasi yang didalamnya mencakup semua pemangku kepentingan. Memperhatikan karakterisik DAS Bengawan Solo sebagai Common Pool Resources (CPR) yang melibatkan banyak pemangku kepentingan yang terkait, maka perumusan kelembagaan yang baik menjadi salah satu syarat mutlak dalam upaya penanganan dan pengelolaannya. Aspek kelembagaan ini diharapkan dapat: mengawal pelaksanaan kebijakan, strategi, dan arahan program. mengawal terlaksananya penyesuaian RTRW kabupaten, kota, dan provinsi dengan hasil guna lahan optimal; menguatkan hasil studi GLO ini untuk menjadi basis usulan Rencana Tata Ruang DAS Bengawan Solo; dan mengawal terlaksananya sinkronisasi RTRW antar kabupaten- kota-dan-provinsi. Aspek kelembagaan diharapkan tidak hanya fokus pada pengelolaan sumber daya air, melainkan juga pada aspek dll Pemerintah Provinsi Pemerintah Pusat BBWS Penerima Manfaat Penerima Persoalan penataan ruang dan pengembangan wilayah. Implementasi dari aspek kelembagaan ini sendiri tidak harus berupa lembaga baru, melainkan dapat memanfaatkan lembaga koordinasi yang sudah ada. Kelembagaan yang diperlukan adalah kelembagaan bersama yang bersifat lintas sektor dengan pembagian peran dan fungsi yang jelas, yang disepakati secara bersama oleh stakeholders

(kabupaten/kota) terkait untuk menangani DAS. Kelembagaan ini akan dikoordinasi oleh suatu sekretariat lembaga kolaborasi yang bertugas untuk membentuk aturan dan tata cara pengelolaan dan penanganan bersama DAS Bengawan Solo, serta mengkoordinasikan semua pemangku kepentingan yang terkait dalam upaya pengelolaan dan penanganan bersama DAS Bengawan Solo tersebut. Secara diagramatis konsepsi mekanisme kelembagaan bersama dapat dilihat pada Gambar berikut. dan Limbah oleh oleh PDAM Hutan oleh Dinas dinas Lingkungan Kehutanan Hidup Terdapat beberapa alternatif bentuk kelembagaan yang mungkin dikembangkan untuk penanganan dan pengelolaan DAS Bengawan Solo. FORUM Bentuk Lembaga Kolaboratif Berdasarkan hasil analisis dan diskusi teridentifikasi berbagai bentuk kelembagaan untuk penataan DAS Bengawan Solo secara kolaboratif, baik dalam bentuk lembaga baru maupun mengembangkan lembaga yang sudah ada. Adapun saat ini sudah cukup banyak organisasi pengelolaan DAS (River Basin Organization RBO) yang menangani Bengawan Solo, seperti PJT, BBWS, Forum DAS, dan sebagainya. Terkait dengan hal ini terdapat beberapa alternatif bentuk kelembagaan yang mungkin dikembangkan untuk penanganan dan pengelolaan DAS Bengawan Solo yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel berikut. BMengacu pada tabel tersebut, terdapat dua kemungkinan untuk pengembangan lembaga kolaborasi penataan DAS Bengawan Solo, yaitu mengoptimalkan lembaga yang telah ada dan membentuk lembaga baru, yang masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. TINDAK LANJUT PENANGANAN DAS BENGAWAN SOLO Adapun untuk proses implementasi tersebut diperlukan beberapa kesepakatan awal oleh semua pemangku kepentingan terkait. Setidaknya terdapat 4 (empat) hal yang disepakati, yaitu: kesepakatan mengenai usulan kebijakan, strategi, darahan program dalam penanganan dan pengelolaan DAS Bengawan Solo; kesepakatan mengenai penanganan DAS Bengawan Solo secara kolaboratif; kesepakatan mengenai mekanisme pengendalian penanganan DAS Bengawan Solo; kesepakatan mengenai mekanisme kelembagaan untuk menjamin tercapainya penyesuaian dan sinkronisasi RTRW dengan GLO, dan pada akhirnya dengan RTR DAS, serta antar RTRW kabupaten-kota-provinsi lain di dalam kawasan DAS. Untuk memperkuat kesempatan tersebut, maka legitimasinya perlu ditandatangani oleh pimpinan daerah sebagai sebuah kesepakatan bersama (kolaborasi) di mana semua pemerintah daerah di dalam DAS Bengawan Solo secara bersama-sama menyepakati untuk berkontribusi dalam penataan ruang DAS. Selain itu, kesepakatan tersebut perlu ditindaklanjuti dalam suatu rencana aksi penanganan dan pengelolaan DAS Bengawan Solo yang juga dirumuskan dan disepakati bersama oleh seluruh pemangku kepentingan yang terkait.

Suka

BAB I

PENDAHULUAN

1.

A.

Latar Belakang

Dewasa ini dinamika pemanfaatan lahan cenderung mengabaikan dampak menurunnya kualitas lingkungan dan pada akhirnya akan mengakibatkan menurunnya daya dukung lahan. Oleh karena itu pemanfaatan lahan perlu diarahkan menurut fungsinya untuk menghindarkan dampak negatif dari pembangunan yang terus berjalan. Arahan fungsi pemanfaatan lahan merupakan salah satu bagian dari Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah yang biasanya menggunakan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai unit

perencanaan sekaligus sebagai unit wilayah kerja kegiatan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah.

Nugraha, dkk (2006: 2) menyatakan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah Suatu kawasan ekosistem yang dibatasi oleh topografi pemisah air (punggung-punggung bukit) dan berfungsi sebagai penampung, penyimpan dan penyalur air dalam sistem sungai dan keluar melalui satu outlet tunggal.

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kesatuan wilayah tata air dan ekosistem yang di dalamnya terjadi interaksi antara unsur-unsur biotik berupa vegetasi penutup lahan dan abiotik terutama berupa tanah dan iklim. Interaksi tersebut dinyatakan dalam bentuk keseimbangan masukan dan luaran berupa hujan dan aliran. Adanya manusia dengan segala aktivitasnya yang memanfaatkan sumber daya dalam ekosistem DAS mengakibatkan terjadinya interaksi antara dua subsistem yaitu subsistem biofisik dan subsistem sosial ekonomi. Menurut Sandy (1996), Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam perspektif keruangan merupakan bagian dari muka bumi, yang airnya mengalir ke dalam sungai yang bersangkutan apabila hujan jatuh. Dalam DAS, terdapat karakteristik yang diperoleh dari air hujan yang jatuh terhadap penggunaan tanah.

Asdak (1995: 11) menyatakan bahwa Daerah aliran sungai dapatlah dianggap sebagai suatu ekosistem. Ekosistem terdiri atas komponen biotis dan abiotis yang saling berinteraksi membentuk satu kesatuan yang teratur. Dengan demikian, dalam suatu ekosistem tidak ada satu komponenpun yang berdiri sendiri, melainkan ia mempunyai keterkaitan dengan komponen lain, langsung atau tidak langsung.

Aktifitas suatu komponen ekosistem selalu memberi pengaruh pada komponen ekosistem yang lain. Manusia adalah salah satu komponen yang penting. Sebagai komponen yang dinamis, manusia dalam menjalankan aktivitasnya seringkali mengakibatkan dampak pada salah satu komponen lingkungan dengan demikian, mempengaruhi ekosistem secara keseluruhan. Selama hubungan timbal-balik antar komponen ekosistem dalam keadaan seimbang, selama itu pula ekosistem berada dalam kondisi stabil. Sebaliknya, bila hubungan timbal-balik antar komponen lingkungan mengalami gangguan, maka terjadilah gangguan ekologi.

Nugraha, dkk (2006: 1) mengemukakan bahwa dengan berpedoman pada ekosistemnya, wilayah DAS dapat dibagi menjadi (1) sub sistem DAS bagian hulu (upland watershed), (2) sub sistem DAS bagian tengah (midland watershed), dan (3) sub sistem DAS bagian hilir atau pantai (lowland watershed). Masingmasing sub sistem DAS tersebut di atas mempunyai karakteristik (ciri khas) dan sumberdaya alam (tanah, air, dan vegetasi) sendiri-sendiri, sehingga akan mempunyai daya dukung dan daya tampung lingkungan yang berbeda, akibatnya dalam usaha pengelolaan lingkungan harus disesuaikan dengan kondisi tersebut dan diikuti dengan tindakan dan pengambilan kebijakan yang mengikuti ciri khas dan potensi sumberdaya alam yang ada.

DAS sebagai sebuah ekosistem umumnya dibagi ke dalam tiga daerah, yaitu daerah hulu, daerah tengah dan daerah hilir. Ekosistem DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan fungsi tata air terhadap seluruh bagian DAS. Keterkaitan daerah hulu dan hilir adalah melalui keterkaitan biofisik, yaitu melalui siklus hidrologi.

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur utamanya terdiri dari sumberdaya alam vegetasi, tanah dan air serta sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam. Pemanfaatan sumberdaya alam mencerminkan pola perilaku, keadaan sosial ekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya dengan kelembagaan (tatanan institusional).

Terjadinya limpasan air yang besar pada saat musim penghujan menunjukkan bahwa DAS tidak lagi mampu menyerap curah hujan yang ada sehingga air yang diterima sebagian besar langsung dialirkan melalui aliran permukaan ke sungai. Terbatasnya jumlah air yang masuk ke dalam tanah juga berdampak pada sedikitnya jumlah air yang memasok air tanah, sehingga pada musim kemarau debit air sungai menjadi kecil. Disamping itu besarnya limpasan permukaan dapat menimbulkan erosi, yang dicirikan oleh warna air sungai yang keruh. Pada kondisi DAS yang baik, kondisi antara debit sungai di musim penghujan dan kemarau adalah kecil, karena sebagian besar curah hujan dapat diserap ke dalam tanah, sehingga aliran permukaan sangat kecil. Oleh karena itu aliran airnya tampak jernih sebagai indikator bahwa lingkungan di DAS tersebut dalam kondisi baik. Apabila kerusakan sumberdaya alam DAS tersebut dibiarkan terus serta tidak ada upaya penanganan yang sungguh-sungguh dari semua pihak yang terkait, maka bencana alam yang

lebih besar dan berdampak lebih luas terhadap tata kehidupan dan perekonomian masyarakat, akan semakin sulit untuk ditangani.Sebagai satu kesatuan unit pengelolaan, maka DAS harus dapat menampung kepentingan seluruh sektor dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Untuk itu perlu dikembangkan pola tata ruang yang dapat menyerasikan tata guna lahan, air serta sumberdaya lainnya dalam satu kesatuan tata lingkungan yang harmonis dan dinamis serta ditunjang oleh pola perkembangan kependudukan yang serasi. Tata ruang perlu dikelola secara terpadu melalui

pendekatan wilayah dengan tetap memperhatikan sifat lingkungan alam dan sosial sesuai dengan karakteristik DAS yang mendukungnya. Adapun tataguna lahan dikembangkan dengan memberikan perhatian khusus pada pencegahan penggunaan lahan yang berlebihan terhadap lahan pertanian produktif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Dalam mengembangkan tata air perhatian khusus perlu diberikan pada faktor penyediaan baik secara kuantitas, kualitas maupun kontinuitas yang meliputi pencegahan banjir dan kekeringan, pencegahan kemerosotan mutu dan kelestarian air serta penyelamatan Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagai kesatuan unit perencanaan, berarti DAS mempunyai peranan yang sangat penting, yakni perencanaan pengelolaan DAS harus dapat menampung dan saling mendukung dan menjadi acuan bagi perencanaan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.

B.

Perumusan Masalah

Terjadinya banjir, penyumbatan sungai dan erosi sungai, sebagian besar disebabkan banyaknya penduduk yang bermukim di daerah aliran sungai, banyaknya limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke sungai dan menurunnya daerah tangkapan air hujan. Hal ini menyebabkan air hujan tidak bisa meresap kedalam tanah karena banyaknya rumah penduduk yang menghambat air hujan untuk masuk kedalam tanah dan tersumbatnya aliran sungai karena sampah yang menumpuk. Selain pemukiman penduduk, limbah-limbah industri juga menyumbang kerusakan kondisi sungai, pabrik-pabrik di Indonesia sebagian besar belum mempunyai sistem untuk pengolahan limbah. Limbah industri yang langsung di buang ke sungai menyebabkan pencemaran yang berbahaya, tercemarnya air sungai yang menyebabkan banyak penghuni di dalam sungai tercemar dan menurunya kualitas air sungai. Pemerintah daerah sudah mencoba berbagai cara untuk memindahkan penduduk yang tinggal di bantaran sungai, tetapi mendapat tanggapan buruk dari penduduk. Penduduk bantaran sungai menganggap limbah industri yang menyebabkan kerusakan sungai dan terjadinya banjir. Enam puluh DAS di Indonesia diidentifikasi mengalami degradasi sejak tahun 2000 MS Kaban (2009). Karena berbagai faktor seperti meluasnya lahan kritis, penebangan hutan dan perambahan kawasan lindung. Kondisi DAS tersebut akan semakin parah jika terjadi pembangunan saranaprasarana fasilitas umum, industri dan pemukiman dengan kepadatan yang tinggi di daerah perkotaan hilir. Ini menyebabkan terjadinya penyempitan palung sungai dan diiringi dengan meningkatnya pembuangan limbah ke sungai baik limbah industri maupun limbah rumah tangga serta terjadinya pencemaran lingkungan dan tersumbatnya sistem drainase perkotaan. Jika terjadi demikian, hujan deras secara lokal di

perkotaan saja seringkali menyebabkan banjir walaupun debit sungai dari daerah hulu tidak terjadi peningkatan. Permasalahan yang di kaji dalam penelitian ini adalah :

1.

Bagaimanakah pengelolaan DAS secara terpadu?

C.

Tujuan

1. 1. Untuk memahami dan mendiskripsikan secara rinci dan mendalam mengenai pengelolaan DAS secara terpadu?

D.

Manfaat

1. 1. Hasil makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perencana dan pengelola DAS di kota surakarta khususnya dan pengelola DAS di Indonesia pada umumnya. 2. Memberikan masukan kepada pembuat kebijakan bagi penyusunan strategi permasalahan yang timbul dari suatu DAS, misalkan; banjir longsor dll. 3. Memberikan masukan kepada pembuat kebijakan dalam memperluas pandangan tentang perencanaan pengelolaan DAS secara terpadu, guna tersusunya kegiatan pengelolaan DAS yang lebih tepat dan mengatasi berbagai masalah yang ada di dalam ekosistem DAS.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. 2.

1.

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Pengertian Daerah Aliran Sungai

Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No 7 tahun 2004 tentang Sumberdaya Air). Berdasarkan pengertian dari definisi tersebut maka DAS merupakan suatu wilayah daratan atau lahan yang mempunyai komponen topografi, batuan, tanah,

vegetasi, air, sungai, iklim, hewan, manusia dan aktivitasnya yang berada pada, di bawah, dan di atas tanah.

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input, DAS sebagai pemroses, dan air sebagai output. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono, 2003). Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis, maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air.

Daerah aliran sungai (DAS) diartikan sebagai daerah yang dibatasi punggung-punggung gunung air hujan yang jatuh pada daerah tersebut akan ditampung oleh punggung gunung tersebut dan dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama (Asdak, 1995: 4)

DAS juga didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang dibatasi oleh pemisah berupa batas topografi yang berfungsi untuk menanmpung, menyimpan, dan mengalirkan air hujan untuk kemudian

mengalirkannya ke laut/danau melalui satu sungai utama. (Dephut, 1997: 235).

Selanjutnya DAS (catchmen, basin, watershed) juga diartikan sebagai daerah dimana semua airnya mengalir ke dalam suatu sungai yang dimaksudkan, daerah ini umumnya dibatasi oleh batas topografi yang berarti ditetapkan berdasar aliran permukaan. Batas ini tidak ditetapkan berdasar air bawah tanah karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkatan kegiatan pemakaian. (Harto, 1993: 5).

1.

Pembagian Daerah Aliran Sungai

Daerah aliran sungai terbagi menjadi tiga daerah yaitu bagian hulu, bagian tengah, dan bagian hilir.

1)

DAS Bagian Hulu

DAS bagian hulu mempunyai ciri-ciri:

a)

Merupakan daerah konservasi.

b)

Mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi.

c)

Merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar (lebih besar dari 15%).

d)

Bukan merupakan daerah banjir.

e)

Pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase.

f)

Jenis vegetasi umumnya merupakan tegakan hutan.

g)

Laju erosi lebih cepat daripada pengendapan.

h)

Pola penggerusan tubuh sungai berbentuk huruf V.

2)

DAS Bagian Tengah

DAS bagian tengah merupakan daerah peralihan antara bagian hulu dengan bagian hilir dan mulai terjadi pengendapan. Ekosistem tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air. Dicirikan dengan daerah yang relatif datar. Daerah aliran sungai bagian tengah menjadi daerah transisi dari kedua karakteristik biogeofisik DAS yang berbeda antara hulu dengan hilir.

3)

DAS Bagian Hilir (Zona Sedimentasi)

DAS bagian hilir dicirikan dengan:

a)

Merupakan daerah pemanfaatan atau pemakai air.

b)

Kerapatan drainase kecil.

c)

Merupakan daerah dengan kemiringan lereng kecil sampai dengan sangat kecil (kurang dari 8%).

d)

Pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan).

e)

Pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi.

f)

Jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian kecuali daerah estuaria yang didominasi hutan

bakau/gambut.

g)

Pola penggerusan tubuh sungai berbentuk huruf U

Ekosistem DAS dapat dibagi menjadi tiga, yaitu bagian hulu, tengah dan hilir yang satu dengan lainnya mempunyai keterkaitan biofisik maupun hidrologis. DAS bagian hulu dicirikan sebagai kawasan konservasi, bagian tengah merupakan kawasan penyangga dan bagian hilir merupakan kawasan pemanfaatan. Dengan tidak mengurangi arti penting DAS bagian tengah dan hilir, DAS bagian hulu mempunyai fungsi lindung bagi keseluruhan bagian DAS, terutama dalam fungsi tata air. Fungsi hidrologis DAS dipengaruhi oleh curah hujan yang diterima, geoogi lahan dan bentuk lahan. Fungsi hidrologis DAS mencakup : (a) mengalirkan air, (b) menyangga kejadian puncak hujan, (c) melepas air secara bertahap, (d) memelihara kualitas air, dan (d) mengurangi pembuangan massa.

Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu akan berpengaruh sampai pada hilir. Oleh karenanya DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS, jadi apabila terjadi pengelolan yang tidak benar terhadap bagian hulu maka dampak yang ditimbulkan akan dirasakan juga pada bagian hilir. Sebagai contoh adalah bila terjadi praktik bercocok tanam yang tidak mengikuti kaidah-kaidah konservasi tanah dan air, maka hal ini akan mengakibatkan terjadinya erosi. Erosi yang terjadi tersebut tidak hanya berdampak bagi daerah dimana erosi tersebut berlangsung yang berupa terjadinya penurunan kualitas lahan, tetapi dampak erosi juga akan dirasakan dibagian hilir, dampak yang dapat dirasakan oleh bagian hilir adalah dalam bentuk penurunan kapasitas tampung waduk ataupun sungai yang dapat menimbulkan resiko banjir sehingga akan menurunkan luas lahan irigasi (Asdak, 1995:12).

1.

Fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS)

Beberapa proses alami dalam DAS dapat memberikan dampak menguntungkan kepada sebagian kawasan DAS, tetapi pada saat yang sama dapat merugikan bagian yang lain. Bencana alam banjir dan kekeringan silih berganti yang terjadi di suatu wilayah atau daerah merupakan dampak negatif kegiatan manusia pada suatu DAS, dapat dikatakan bahwa kegiatan manusia telah menyebarkan DAS gagal dalam menjalankan fungsinya sebagai penampung air hujan, penyimpan, dan pendistribusian air ke saluran-saluran atau sungai. Air permukaan baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa) dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk sistem daerah aliran sungai (DAS). Jumlah air di bumi secara keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.

Fungsi suatu DAS merupakan fungsi gabungan yang dilakukan oleh seluruh faktor yang ada pada DAS tersebut, yaitu vegetasi, bentuk wilayah (topografi), tanah dan manusia. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami perubahan, maka hal tersebut akan mempengaruhi juga ekosistem DAS tersebut dan akan

menyebabkan gangguan terhadap bekerjanya fungsi DAS. Apabila fungsi suatu DAS telah terganggu, maka sistem hidrologisnya akan terganggu, penangkapan curah hujan, resapan dan penyimpanan airnya menjadi sangat berkurang atau sistem penyalurannya menjadi sangat boros. Kejadian itu akan menyebabkan melimpahnya air pada musim penghujan dan sangat minimum pada musim pada musim kemarau, sehingga fluktuasi debit sungai antara musim hujan dan musim kemarau berbeda tajam. Hal ini berarti bahwa fungsi DAS tidak bekerja dengan baik, apabila hal ini terjadi berarti bahwa fungsi DAS tersebut adalah rendah (Suripin, 2004:186).

1.

2.

Pengelolaan DAS

Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. Perubahan situasi, kondisi, dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai.

Pengelolaan DAS pada dasarnya ditujukan untuk terwujudnya kondisi yang optimal dari sumberdaya vegetasi, tanah dan air sehingga mampu memberi manfaat secara maksimal dan berkesinambungan bagi kesejahteraan manusia. Selain itu pengelolaan DAS dipahami sebagai suatu proses formulasi dan implementasi kegiatan atau program yang bersifat manipulasi sumberdaya alam dan manusia yang terdapat di DAS untuk memperoleh manfaat produksi dan jasa tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan sumberdaya air dan tanah, yang dalam hal ini termasuk identifikasi keterkaitan antara tataguna lahan, tanah dan air, dan keterkaitan antara daerah hulu dan hilir suatu DAS (Chay Asdak, 1998).

Secara garis besar ruang lingkup kegiatan pengelolaan DAS meliputi :

1.

Penatagunaan lahan (landuse planning) untuk memenuhi berbagai kebutuhan barang dan jasa serta kelestarian lingkungan.

2.

Penerapan konservasi sumberdaya air untuk menekan daya rusak air dan untuk memproduksi air (water yield) melalui optimalisasi penggunaan lahan.

3.

Pengelolaan lahan dan vegetasi di dalam dan luar kawasan hutan (pemanfaatan, rehabilitasi, restorasi, reklamasi dan konservasi).

4.

Pembangunan dan pengelolaan sumberdaya buatan terutama yang terkait dengan konservasi tanah dan air.

5.

Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan pengelolaan DAS.

Gambar 3. Hubungan Biofisik antara DAS bagian hulu dan hilir

Sumber: Hidrologi dan Pengelolaan DAS (Chay Asdak, 1998).

endekatan yang digunakan dalam pengelolaan daerah Aliran Sungai ada berbagai macam, antara lain :

1.

Pendekatan Fisik, contoh : pembangunan waduk atau cek dam, terrasering untuk pertanian, reboisasi, penataan ruang untuk tata guna lahan, dll

2.

Pendekatan Sodial Budaya, contoh : pelibatan masyarakat pada pemeliharaan hutan dengan sistem hutan sosial, penyuluhan mengenai program pelestarian lingkungan, pembentukan kelompokkelompok kerja, dll

3.

Pendekatan Regulasi dan kelembagaan pembentukan Peraturan Daerah , Kepres dll yang berkaitan dengan pelestarian DAS beserta sanksi-sanksinya

Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali, Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat, atau Pasang di Sulawesi Selatan. Dalam kaitan inilah, maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS.

Kegiatan pengelolaan DAS tersebut di atas mencakup aspek-aspek perencanaan, pengorganisasian, implementasi kegiatan di lapangan, pengendalian dan aspek pendukung yang melibatkan berbagai pihak pemangku kepentingan (stakeholders), baik unsur pemerintah, swasta maupun masyarakat.

Pengelolaan DAS terpadu mengandung pengertian bahwa unsur-unsur atau aspek-aspek yang menyangkut kinerja DAS dapat dikelola dengan optimal sehingga terjadi sinergi positif yang akan meningkatkan kinerja DAS dalam menghasilkan output, sementara itu karakteristik yang saling bertentangan yang dapat melemahkan kinerja DAS dapat ditekan sehingga tidak merugikan kinerja DAS secara keseluruhan.

Persepsi yang banyak dianut dalam pengelolaan DAS dewasa ini adalah bahwa hutan merupakan sistem penggunaan lahan yang paling tepat dalam memelihara fungsi DAS. Selain itu, merubah kawasan hutan menjadi bentuk-bentuk penggunaan lahan lainnya dianggap akan mengurangi kemampuan DAS

mempertahankan fungsi tersebut. Persepsi ini masih dapat diperdebatkan. Seberapa baik atau buruk sebenarnya bentuk penggunaan lahan non-hutan dalam memelihara fungsi DAS? Dapatkah sistem berbasis kayu menyamai hutan dalam memelihara fungsi DAS? Jawaban atas pertanyaan pertanyaan tersebut sangat penting dan menarik bagi para pembuat kebijakan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan DAS. Selain itu, jawaban tersebut diperlukan dalam upaya pengembangan mekanisme pemberian imbalan bagi masyarakat daerah hulu atas jasa lingkungan yang mereka sediakan.

Mekanisme yang dapat menghubungkan para pemanfaat di daerah hilir dengan pengguna lahan di daerah hulu, misalnya melalui mekanisme imbalan yang tepat, mungkin merupakan strategi kunci yang diperlukan untuk menangani kemiskinan pedesaan di daerah hulu sekaligus sebagai cara yang hemat biaya dalam meningkatkan pembangunan daerah hulu dan melestarikan nilai ekosistem hulu DAS. Konsep inilah yang menjadi pokok gagasan Proyek RUPES (Rewarding the Upland Poor for the Environmental Services they provide).

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam tersebut. DAS di beberapa tempat di Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya alamnya yang intensif sehingga terdapat indikasi belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun dengan indikasi meningkatnya kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Disisi lain tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang system kehidupan, baik masyarakat di bagian hulu maupun hilir demikian besarnya.

Sebagai suatu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi kondisi bagian hulu khususnyakondisi biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air yang di banyak tempatrawan terhadap ancaman gangguan manusia. Hal ini mencerminkan bahwa kelestarian DAS ditentukan oleh pola perilaku, keadaan sosial-ekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya dengan pengaturan kelembagaan (institutional arrangement).

Pengelolaan DAS Secara Terpadu adalah suatu proses formulasi danimplementasi kebijakan dan kegiatan yang menyangkut pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan manusia dalam suatu DAS secara utuh dengan mempertimbangkan aspek-aspek fisik, sosial, ekonomi dan kelembagaan di dalam dan sekitar DAS untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Pentingnya asas keterpaduan dalam pengelolaan DAS erat kaitannya dengan pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan DAS, yaitu pendekatan ekosistem. Ekosistem DAS merupakan sistem yang kompleks karena melibatkan berbagai komponen biogeofisik dan sosial ekonomi dan budaya yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Kompleksitas ekosistem DAS mempersyaratkan suatu pendekatan pengelolaan yang bersifat multisektor, lintas daerah, termasuk kelembagaan dengan kepentingan masing-masing serta mempertimbangkan prinsip prinsip saling ketergantungan. Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan DAS :

1.

Terdapat keterkaitan antara berbagai kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pembinaan aktivitas manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Melibatkan berbagai disiplin ilmu dan mencakup berbagai kegiatan yang tidak selalu saling mendukung.

2.

Meliputi daerah hulu, tengah, dan hilir yang mempunyai keterkaitan biofisik dalam bentuk daur hidrologi. Dalam melaksanakan pengelolaan DAS, tujuan dan sasaran yang diinginkan harus dinyatakan dengan jelas. Tujuan umum pengelolaan DAS terpadu adalah :

3.

Terselenggaranya

koordinasi,

keterpaduan,

keserasian

dalam

perencanaan,

pelaksanaan,

pengendalian, monitoring dan evaluasi DAS. 4. Terkendalinya hubungan timbal balik sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan kegiatan manusia guna kelestarian fungsi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Sasaran pengelolaan DAS yang ingin dicapai pada dasarnya adalah: 5. 6. 7. Terciptanya kondisi hidrologis DAS yang optimal. Meningkatnya produktivitas lahan yang diikuti oleh perbaikan kesejahteraan masyarakat. Tertata dan berkembangnya kelembagaan formal dan informal masyarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS dan konservasi tanah. 8. Meningkatnya kesadaran dan partisipasi mayarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS secara berkelanjutan. 9. Terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berkeadilan.

Ruang

lingkup

pengelolaan

DAS

secara

umum

meliputi

perencanaan,

pengorganisasian,

implementasi/pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap upaya upaya pokok berikut:

1.

Pengelolaan ruang melalui usaha pengaturan penggunaan lahan (landuse) dan konservasi tanah dalam arti yang luas.

2.

Pengelolaan sumberdaya air melalui konservasi, pengembangan, penggunaan dan pengendalian daya rusak air.

3.

Pengelolaan vegetasi yang meliputi pengelolaan hutan dan jenis vegetasi terestrial lainnya yang memiliki fungsi produksi dan perlindungan terhadap tanah dan air.

4.

Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia termasuk pengembangan kapasitas kelembagaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana, sehingga ikut berperan dalam upaya pengelolaan DAS.

3.

Permasalahan Daerah Aliran Sungai

Sejak tahun 1970-an degradasi DAS berupa lahan gundul, tanah kritis, erosi pada lereng-lereng curam baik karena dimanfaatkan sebagai lahan pertanian maupun penggunaan lahan lain seperti permukiman dan pertambangan sebenarnya telah memperoleh perhatian pemerintah Indonesia. Namun proses degradasi tersebut terus berlanjut karena tidak adanya keterpaduan tindak dan upaya yang dilakukan dari sektor atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan DAS

Perkembangan pembangunan di bidang permukiman, pertanian, perkebunan, industri, eksploitasi sumber daya alam berupa pertambangan dan eksploitasi hutan telah menyebabkan penurunan kondisi

hidrologis suatu DAS. Penurunan fungsi hidrologis DAS tersebut menyebabkan kemampuan DAS untuk berfungsi sebagai penyimpan air pada musim kemarau dan kemudian dipergunakan melepas air sebagai base flow pada musim kemarau, telah menurun. Ketika air hujan turun pada musim penghujan air akan langsung mengalir menjadi aliran permukaan yang kadang-kadang menyebabkan banjir dan

sebaliknya pada musim kemarau aliran base flow sangat kecil bahkan pada beberapa sungai tidak ada aliran airnya sehingga ribuan hektar sawah dan tambak ikan tidak mendapat suplai air tawar.

Kerusakan DAS di Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS kritis, dan pada tahun 1992 menjadi 39 DAS kritis dan hingga tahun 1998 bertambah lagi menjadi 59 DAS kritis, dan saat ini diperkirakan ada 70 DAS kritis. Pengelolaan sumberdaya DAS telah menjadi perhatian publik dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai bencana alam yang terjadi seperti banjir dan krisis air bersih telah membangkitkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya kelestarian ekosistem DAS, sehingga pengelolaannya harus terpadu dengan melibatkan seluruh unsur terkait. Kesadaran tersebut seharusnya mendorong semua pihak yang memperoleh manfaat untuk memberikan kontribusi terhadap tindakan rehabilitasi, konservasi dan pelestarian DAS.

Tingkat kekritisan suatu DAS ditunjukkan oleh menurunnya penutupan vegetasi permanen dan meluasnya lahan kritis sehingga menurunkan kemampuan DAS dalam menyimpan air yang berdampak pada meningkatnya frekuensi banjir, erosi dan penyebaran tanah longsor pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Sampai dengan tahun 2007 penutupan hutan di Indonesia sekitar 50% luas daratan dan ada kecenderungan luasan areal yang tertutup hutan terus menurun dengan rata-rata laju deforestasi tahun 2000-2005 sekitar 1,089 juta ha per tahun. Sedangkan lahan kritis dan sangat kritis masih tetap luas yaitu sekitar 30.2 juta ha (terdiri dari 23,3 juta ha sangat kritis dan 6,9 juta ha kritis), erosi dari daerah pertanian lahan kering yang padat penduduk tetap tinggi melebihi yang dapat ditoleransi (15 ton/ha/th) sehingga fungsi DAS dalam mengatur siklus hidrologi menjadi menurun.

Tingkat kekritisan DAS sangat berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi masyarakat petani di daerah tengah hingga hulu DAS terutama jika kawasan hutan dalam DAS tidak luas seperti DAS-DAS di pulau Jawa dan Bali. Tingkat kesadaran dan kemampuan ekonomi masyarakat petani yang rendah akan mendahulukan kebutuhan primer dan sekunder (sandang, pangan, dan papan) bukan kepedulian terhadap lingkungan sehingga sering terjadi perambahan hutan di daerah hulu DAS, penebangan liar dan praktik-praktik pertanian lahan kering di perbukitan yang akan meningkatkan kekritisan DAS.

Dampak kerusakan hutan pada ekosistem DAS telah menyebabkan bencana kekeringan di seluruh wilayah Indonesia. Menurut Pangesti (2000) dalam Kodoatie,et all., (2002), kebutuhan air terbesar berdasarkan sektor kegiatan dapat dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu, (1) kebutuhan domestik; (2) irigasi pertanian; dan (3) industri. Pada tahun 1990 kebutuhan air untuk domestik adalah sebesar 3.169 juta m3, sedangkan angka proyeksi untuk tahun 2000 dan 2015 berturut-turut sebesar 6.114 juta m3 dan 8.903 juta m3 . Persentase kenaikan berkisar antara 10 % / tahun (1990 2000) dan 6.67 % / tahun (2000 2015). Kebutuhan air untuk keperluan irigasi pertanian dan tambak pada tahun 1990 sebesar 74.9 x 109 m3 / tahun, sedangkan pada tahun 2000 kebutuhan air untuk keperluan tersebut meningkat menjadi 91.5 x 109 m3/ tahun dan pada tahun 2015 kebutuhan tersebut menjadi sebesar 116.96 x 109 m3/ tahun. Berarti adanya peningkatan kebutuhan untuk sektor ini sebesar 10 % / tahun (1990 2000) dan antara 2000 2015 meningkat sebesar 6.7 % / tahun (Data Departemen Pekerjaan Umum, 1991). Kebutuhan air untuk sektor industri juga cukup besar. Berdasarkan informasi dari Departemen Perindustrian, kebutuhan air untuk sektor industri di Indonesia adalah sebesar 703.5 x 106 m3/tahun pada tahun 1990 dan sebesar 6.475 x 109m3/tahun pada tahun 1998. Berarti adanya peningkatan kebutuhan sebesar 12.5 %/tahun terutama akibat berkembangnya industri diberbagai propinsi di Indonesia (Isnugroho 2002).

Permasalahan DAS Bengawan Solo

DAS Bengawan Solo secara keseluruhan luasnya sekitar 1.873.452 hektar dengan rincian: 742.034,01 Ha di daerah hulu, 670.564,31 Ha di daerah tengah, dan 400.507,23 Ha di daerah Hilir. Panjang sungai utama berkisar 527 km (BPDAS Solo, 2007). DAS Bengawan Solo melintasi 19 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk 16.462.997 jiwa yang meliputi dua provinsi yakni Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kondisi Iklim DAS Bengawan Solo termasuk daerah beriklim tropis dengan suhu rata-rata bulanan di atas 27,40C, kelembaban rata-rata sekitar 65%. Curah hujan rata-rata 2.165 mm/tahun dengan curah hujan rata-rata bulanan 242,3 mm.DAS Bengawan Solo merupakan DAS yang sangat kompleks permasalahannya. Banjir terjadi hampir di seluruh daerah di DAS Bengawan Solo baik di hulu, tengah maupun hilir.

Gambar 2 Wilayah Kerja DAS Bengawan Solo

Berbagai permasalahan aktual di wilayah DAS Bengawan Solo, yang di duga sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan dan penyebab terjadinya banjir dan kekeringan yang berkepanjangan adalah :

1.

Perubahan Tutupan Lahan

Dari hasil intrepretasi Citra Landsat Tahun 2000 dan 2007 di DAS Bengawan Soloi menunjukan adanya perubahan tutupan lahan yang signifikan dimana terjadi peningkatan luasan tanah terbuka lebih dari 300 % atau tiga kali lipat dari luasan tahun 2000. Terjadi penurunan luasan hutan sebesar 31 %, sedangkan permukiman mengalami kenaikan sebesar 26 %. Hal tersebut akan meningkatkan laju erosi yang kemudian dapat berakibat terjadinya bencana longsor. Dengan memperhatikan status kawasan hutan (perhutani), dapat terlihat bahwa terjadi kenaikan lahan terbuka yang berada dalam wilayah status kawasan hutan (perhutani), yaitu seluas 3.839 Ha pada tahun 2000 bertambah menjadi 20.173 Ha pada tahun 2007 yang berarti terjadi penambahan lahan terbuka secara besar-besaran, yaitu seluas 16.334 Ha selama 7 tahun. Aktivitas penggunaan lahan di bagian hulu kebanyakan tidak sesuai lagi peruntukannya berdasarkan kemiringan lereng. Penyebab utama adalah deforestasi dan perubahan tata guna lahan akibat aktivitas pertanian dan pemabalakan liar.

Gambar 3 : Perubahan Tutupan Lahan DAS Bengawan Solo Th 2000 Th 2007

Gambar 4 : Status Kawasan Hutan (Perhutani) di DAS Bengawan Solo

1.

Erosi dan Sedimentasi

Pada bendungan Gadjah Mungkur tahun 2001 sedimen sudah mencapai 30% dari tampungan, karena masuknya sedimen dari anak sungai terdekat Intake (kali Keduwang) sedimen sudah menutup hampir separuh tinggi intake, apabila tidak ditangani segera intake akan tersumbat sehingga suplai air ke hilir terhenti dan air dapat melimpah di atas bendungan, banjir besar di hilir. Proses sedimentasi juga sudah mulai berlangsung di saluran induk irigasi (kali Catur, Madiun) penanggulangan yang dapat dilakukan adalah pengerukan/penggalian sedimen, konservasi lahan dan perawatan. Disamping itu bangunan penahan longsor yang kurang memadai menyebabkan sering terjadi longsor, terutama pada lereng-lereng yang curam, stabilitas tanah rendah dengan intensitas hujan yang tinggi.

1.

Pesatnya perkembangan budidaya pertanian yang tidak mengindahkan kaidah konservasi, serta semakin padatnya penduduk yang diikuti dengan perkembangan permukiman dan aktivitas ekonomi

lainnya seperti industri dan pertambangan menyebabkan rusaknya lingkungan pada bagian tengah DAS Bengawan Solo.Disamping itu, juga akibat tidak terpeliharanya sempadan-sempadan sungai, serta fungsi retensi hutan semakin menurun baik yang ada di bagian hulu maupun bagian tengah DAS. 2. Fluktuasi Debit Bengawan Solo

Rasio debit (Qmax/Qmin) sungai Bengawan Solo berkisar antara 106 164 sehingga termasuk dalam kategori fluktuasi debit yang tinggi. Curah hujan pada daerah hulu Bengawan Solo mempunyai potensi erovitas tinggi.

Sungai dan anak sungai dibagian hulu membentuk pola drainase radial dengan kelerengan yang terjal. Bagian tengah dan hilir membentuk pola drainase rectanguler dengan catchment area dan kelerengan rendah. Akibat dari dua pola ini maka di beberapa tempat terutama pertemuan antara sungai Madiun dan Bengawan Solo selalu akan terjadi Banjir pada bentuk sungai induk yang membentuk meander.

BAB III

PEMBAHASAN

Keberadaan DAS secara yuridis formal tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan. Dalam peraturan pemerintah ini DAS dibatasi sebagai suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsi untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya, penyimpanannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut. Perkembangan pembangunan di bidang permukiman, pertanian, perkebunan, industri, eksploitasi sumber daya alam berupa penambangan, dan ekploitasi hutan menyebabkan penurunan kondisi hidrologis suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Gejala penurunan fungsi hidrologis DAS ini dapat dijumpai di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Pulau Kalimantan, terutama sejak tahun dimulainya Pelita I yaitu pada tahun 1972. Penurunan fungsi hidrologis tersebut menyebabkan kemampuan DAS untuk berfungsi sebagai penyimpan air pada musim kemarau dan kemudian dipergunakan melepas air sebagai (base flow) pada musim kemarau, telah menurun. Ketika air hujan turun pada musim penghujan air akan langsung mengalir menjadi aliran permukaan yang kadang-kadang menyebabkan banjir dan sebaliknya pada musim kemarau aliran (base flow) sangat kecil bahkan pada beberapa sungai tidak ada aliran sehingga ribuan hektar sawah dan tambak ikan tidak mendapat suplai air tawar. Walaupun masih banyak parameter lain yang dapat dijadikan ukuran kondisi suatu daerah aliran sungai, seperti parameter kelembagaan, parameter peraturan perundangundangan, parameter sumber daya manusia, parameter letak geografis, parameter iklim, dan parameter teknologi, akan tetapi parameter air masih merupakan salah satu input yang paling relevan

dalam model DAS untuk mengetahui tingkat kinerja DAS tersebut, khususnya apabila dikaitkan dengan fungsi hidrologis DAS. Dalam prosesnya, maka kejadian-kejadian tersebut merupakan fenomena yang timbul sebagai akibat dari terganggunya fungsi DAS sebagai satu kesatuan sistem hidrologi yang melibatkan kompleksitas proses yang berlaku pada DAS. Salah satu indikator dominan yang menyebabkan terganggunya fungsi hidrologi DAS adalah terbentuknya lahan kritis. Menurut Pasaribu (1999), Dari hasil inventarisasi lahan kritis menunjukkan bahwa terdapat 14,4 juta hektar di luar kawasan hutan dan 8,3 juta hektar di dalam kawasan hutan.

Pemikiran dasar penduduk daerah bantaran sungai yang selalu menyalahkan limbah industri sebagai penyebab kerusakan sungai membuat penduduk bantaran sungai tidak mau direlokasi ketempat tinggal yang lebih layak. Disamping itu tidak tahunya penduduk bantaran sungai mengenai peraturan daerah tentang jalur hijau terutama di bagian DAS. Akibat dari penduduk bantaran sungai sendiri banyak orang yang terkena dampaknya, masalah banjir menjadi masalah yang terbesar ketika musim hujan tiba, sampah permukiman penduduk yang berada di daerah hulu terbawa arus dan menghambat aliran air yang berada di bagian hilir, ini menyebabkan air yang meluber dan menyebabkan banjir saat debit sungai bertambah. Tidak bisanya air hujan meresap kedalam tanah karena terhambat oleh permukiman penduduk yang

mengakibatkan genangan air dimana-mana, selain banjir permukiman penduduk di daerah bantaran sungai juga menjadikan pandangan di sekitar sungai menjadi tidak enak dilihat dan terkesan kumuh dan kotor. Rendahnya tingkat pendidikan para penduduk bantaran sungai juga menyebabkan tidak pedulinya mereka terhadap kondisi lingkungan sungai.

Sektor permukiman dan prasarana wilayah masih menjadi prioritas dalam pembangunan dibandingkan dengan sektor kehutanan. Indikator pembangunan barangkali lebih mudah dilihat dengan berhasil dibangunnya berbagai sarana fisik, sementara pembangunan di bidang kehutanan masih dipandang sebagai investasi yang beresiko dan hasilnya diperoleh dalam jangka waktu yang lama. Pada satu sisi sarana irigasi dibangun sebagai penunjang upaya peningkatan produksi tanaman pangan di sektor pertanian, namun pada sisi lain kemampuan hutan sebagai penyangga sistem DAS semakin menurun dengan meningkatnya nilai nisbah sungai. Penebangan hutan terus berlanjut sebagai upaya memenuhi produksi kayu hutan. Akibatnya pada musim hujan air berlimpah sehingga menjadi bencana banjir, dan pada musim kemarau air surut sehingga timbul bencana kekeringan. Pada musim kering banyak sarana irigasi yang kering sehingga produksi tanaman pangan terganggu. Sementara itu pendekatan yang dipakai dalam penyelesaiaan masalah bencana banjir dan kekeringan selama ini tampaknya lebih banyak berorientasi pada penyelesaian yang

bersifat fisik yaitu dengan membangun prasarana pengendali banjir yang sekaligus dapat berfungsi sebagai penampung air bagi penyediaan air irigasi di musim kemarau. Padahal hal ini seringkali bersifat symtomatik hanya sekedar menangani gejala yang timbul tetapi kurang memperhatikan akar permasalahannya. Berdasarkan hal tersebut di atas, tampaknya alokasi dana APBN yang ada untuk sektor kehutanan ditambah dengan Dana Reboisasi (DR) belum mampu memperbaiki kondisi hutan. Hutan terus terdegradasi sehingga kemampuannya sebagai penyangga sistem DAS terus menurun, dan dampaknya dirasakan oleh seluruh subsistem DAS dari hulu hingga ke hilir khususnya sektor permukiman wilayah dan sektor pertanian dalam bentuk bencana banjir dan kekeringan.

DAS atau daerah aliran sungai adalah daerah sekitar aliran sungai dan sekelilingnya yang jika terjadi hujan airnya mengalir kesungai. DAS dibagi menjadi dua macam yaitu:

1.

DAS Gemuk

DAS yang luas sehingga dapat menampung air yang besar. DAS ini umumnya mengalami luapan air ketika hujan besar di bagian hulu.

1.

DAS Kurus

DAS ini mempunyai daya tampung air hujan yang sedikit. DAS ini tidak mengalami luapan air yang begitu besar pada saat hujan turun di bagian hulu.

Fungsi DAS:

1)

DAS bagian hulu sebagai konservasi yang dikelola untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS

agar tidak terdegradasi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kondisi tutupan vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air dan air hujan.

2)

DAS bagian tengah sebagai pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk memberikan manfaat bagi

kepentingan sosial dan ekonomi, yang antara lain yang dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air, kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.

3)

DAS bagian hilir sebagai pemanfaatan air sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat

kepentingan masyarakat, yang diindikasikan melalui kuantitas air dan kualitas air, kemampuan menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait kebutuhan pertanian, air bersih, serta pengolahan air limbah.

Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang dikelola dengan baik dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh sarana dan prasarana di bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS tersebut di bagian hilir, baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat secara keseluruhan. Dengan adanya rentang panjang DAS yang begitu luas, baik secara administrasi maupun tata ruang, dalam pengelolaan DAS diperlukan adanya koordinasi berbagai pihak terkait baik lintas sektoral maupun lintas daerah secara baik.

Dalam rangka memulihkan dan mendayagunakan sungai dan pemeliharaan kelestarian DAS, maka rekomendasi ke depan perlu disusun kebijakan pemerintah yang mengatur tentang pengelolaan DAS terpadu, yang antara lain dapat memuat:

1.

Pengelolaan DAS terpadu yang meliputi: 1. Keterpaduan dalam proses perencanaan, yang mencakup keterpaduan dalam penyusunan dan penetapan rencana kegiatan di daerah aliran sungai. 2. Keterpaduan dalam program pelaksanaan, yang meliputi keterpaduan penyusunan programprogram kegiatan di daerah aliran sungai, termasuk memadukan waktu pelaksanaan, lokasi dan pendanaan serta mekanismenya. 3. Keterpaduan program-program kegiatan pemerintah pusat dan daerah yang berkaitan dengan daerah aliran sungai, sejalan dengan adanya perundangan otonomi daerah. 4. Keterpaduan dalam pengendalian pelaksanaan program kegiatan yang meliputi proses evaluasi dan monitoring. 5. 6. Keterpaduan dalam pengendalian dan penanggulangan erosi, banjir dan kekeringan. Hak dan kewajiban dalam pengelolaan DAS yang meliputi hak setiap orang untuk mengelola sumber daya air dengan memperhatikan kewajiban melindungi, menjaga dan memelihara kelestarian daerah aliran sungai. 7. Pembagian kewenangan yang jelas antara daerah kabupaten/kota, daerah propinsi dengan pemerintah pusat dalam mengelola DAS secara terpadu. 8. Badan pengelola daerah aliran sungai (aspek kelembagaan) dapat berupa badan usaha atau badan/instansi pemerintah. Badan-badan tersebut ditetapkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah sesuai dengan kewenangan yang berlaku. 9. Kebijakan pemerintah ini selain mengatur tentang peran serta masyarakat dalam pengelolaan DAS terpadu, juga mengatur sanksi (hukuman) bagi masyarakat yang tidak mengindahkan peraturan pemerintah dalam pengelolaan DAS terpadu baik pada DAS lokal, regional maupun nasional.

Pengelolaan Terpadu DAS pada dasarnya merupakan pengelolaan partisipasi berbagai sektor/sub sektor yang berkepentigan dalam pemanfaatan sumberdaya alam pada suatu DAS, sehingga di antara mereka saling mempercayai, ada keterbukaan, mempunyai rasa tanggung jawab dan saling mempunyai

ketergantungan (inter-dependency). Demikian pula dengan biaya kegiatan pengelolaan DAS, selayaknya tidak lagi seluruhnya dibebankan kepada pemerintah tetapi harus ditanggung oleh semua pihak yang

memanfaatkan dan semua yang berkepentingan dengan kelestariannya. Untuk dapat menjamin kelestarian DAS, pelaksanaan pengelolaan DAS komponen masukan utama terdiri atas curah hujan sedang komponen keluaran terdiri atas debit aliran dan muatan sedimen, termasuk unsur hara dan bahan pencemar di dalamnya. DAS yang terdiri atas komponenkomponen vegetasi, tanah, topografi, air/sungai, dan manusia berfungsi sebagai prosesor.

Berikut ini adalah kegiatan yang relevan dengan pengelolaan DAS untuk menjamin kelestarian serta adanya peran para pengelola yang terlibat.

1)

Pengelolaan Daerah Tangkapan Air (catchment area)

Sesuai dengan rencana makro, rencana kerja jangka menengah dan tahunan konservasi Daerah Tangkapan Air (DTA/catchment area), Dinas/instansi terkait dan masyarakat, sebagai pelaksana pengelolaan sumberdaya alam di DAS melaksanakan kegiatan pemanfaatan dan konservasi DTA. Bentuk kegiatan pemanfaatan dan konservasi sumberdaya alam di DTA diutamakan untuk meningkatkan produktivitas lahan dalam memenuhi kebutuhan barang dan jasa bagi masyarakat dan sekaligus memelihara kelestarian ekosistem DAS. Kegiatan tersebut dilakukan melalui tataguna lahan (pengaturan tataruang), penggunaan lahan sesui dengan peruntukannya (kesesuaian lahan, rehabilitasi hutan dan lahan yang telah rusak, penerapan teknik-teknik konservasi tanah, pembangunan struktur untuk pengendalian daya rusak air, erosi dan longsor. Dilakukan pula kegiatan monitoring kondisi daerah tangkapan air dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan DAS.

2)

Pengelolaan Sumberdaya Air

2.1 Manajemen Kuantitas Air (Penyediaan Air)

a. Pembangunan Sumberdaya Air

Menyiapkan rencana induk pengembangan sumberdaya air termasuk di dalamnya neraca air, yang melibatkan berbagai instansi terkait serta melaksanakan pembangunan prasarana pengairan (sesuai dengan penugasan yang diberikan) dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya air.

b. Prediksi Kekeringan

Melakukan pemantauan dan pengolahan data hidrologis, membuat prediksi kemungkinan terjadinya kekeringan (mungkin, menggunakan fasilitas telemetri dan bantuan simulasi komputer yang dihubungkan dengan basis data nasional dan internasional).

c. Penanggulangan Kekeringan

Secara aktif bersama Dinas/Instansi terkait dalam Satkorlak-PBA melakukan upaya penanggulangan pada saat terjadi kekeringan yang tidak dapat terelakkan.

d. Perijinan Penggunaan Air

Memberikan rekomendasi teknis atas penerbitan ijin penggunaan air dengan memperhatikan optimasi manfaat sumber daya yang tersedia.

e. Alokasi Air

Menyusun konsep pola operasi waduk/alokasi air untuk mendapatkan optimasi pengalokasian air.

f. Distribusi Air

Melakukan pengendalian distribusi air bersama Dinas/Instansi terkait dengan bantuan telemetri untuk melaksanakan ketetapan alokasi air.

2.2 Manajemen Kualitas Air

a. Perencanaan Pengendalian Kualitas Air

Bersama Dinas/Instansi terkait menyiapkan rencana induk dan program kerja jangka menengah dan tahunan pengendalian pencemaran air dan peningkatan kualitas air.

b. Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Air

Berdasarkan rencana induk, melakukan pemantauan dan pengendalian kualitas air yang melibatkan berbagai instansi terkait. Pemantauan dilakukan secara periodik (baik kualitas air sungai maupun buangan limbah cair yang dominan) dan melaksanakan pengujian laboratorium serta evaluasi terhadap hasil uji tersebut. Rekomendasi diberikan kepada Pemerintah Daerah (Gubernur maupun Bapedalda) dalam upaya

pengendalian pencemaran air, penegakan aturan dan peningkatan kualitas air sungai. Penyediaan Debit Pemeliharaan Sungai Berdasarkan pola operasi waduk dan/atau kondisi lapangan, dapat disediakan sejumlah debit pemeliharaan sungai setelah mendapatkan pengesahan alokasi dari Dewan DAS Propinsi.

d. Peningkatan Daya Dukung Sungai

Pelaksanaan peningkatan daya dukung sungai dengan melaksanakan upaya pengendalian di instream (penggelontoran, penyediaan debit pemeliharaan, peningkatan kemampuan asimilasi sungai) dan

berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengendalian di offstream (pada sumber pencemar) melalui instrumen hukum maupun instrumen ekonomi di samping melaksanakan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kontrol sosial dari masyarakat.

e. Koordinasi pengendalian pencemaran

Bersama dengan instansi/dinas terkait menyelenggarakan koordinasi penyiapan program dan implementasi pengendalian pencemaran dan limbah domestik, industri dan pertanian.

3)

Pemeliharaan Prasarana Pengairan

a. Pemeliharaan Preventif

Melakukan pemeliharaan rutin, berkala dan perbaikan kecil untuk mencegah terjadinya kerusakan prasarana pengairan yang lebih parah.

b. Pemeliharaan Korektif

Melakukan perbaikan besar, rehabilitasi dan reaktifikasi dalam rangka mengembalikan atau meningkatkan fungsi prasarana pengairan.

c. Pemeliharaan Darurat

Melakukan perbaikan sementara yang harus dilakukan secepatnya karena kondisi mendesak/darurat (karena kerusakan banjir dsb- nya).

d. Pengamatan Instrumen Keamanan Bendungan

Melakukan pengamatan instrumen keamanan bendungan (phreatic line, pore pressure dan lain-lain) serta menganalisis hasil pengamatan tersebut untuk mengetahui adanya penurunan (settlement), rembesan (seepage) atau perubahan ragawi lainnya terhadap bendungan.

4)

Pengendalian Banjir

a. Pemantauan dan Prediksi Banjir

Melakukan pemantauan dan pengolahan data hidrologis, membuatprediksi iklim, cuaca dan banjir dengan menggunakan fasilitas telemetri dan bantuan simulasi komputer yang dihubungkan dengan basis data nasional dan internasional.

b. Pengaturan (distribusi) dan Pencegahan Banjir Menyiapkan pedoman siaga banjir yang berlaku sebagai SOP (Standard Operation Procedure) pengendalian banjir yang dipergunakan oleh seluruh instansi terkait. Pengendalian banjir dilakukan melalui pengaturan operasi waduk untuk menampung debit banjir, dan pengaturan bukaan pintu air guna mendistribusikan banjir sehingga dapat dikurangi/dihindari dari bencana akibat banjir.

c. Penanggulangan Banjir

Berpartisipasi secara

aktif bersama

Dinas/Instansi terkait dalam Satkorlak-PBA

melakukan

upaya

penanggulangan pada saat terjadi banjir yang tidak dapat terelakkan.

d. Perbaikan Kerusakan Akibat Banjir

Bersama instansi terkait melakukan perbaikan atas kerusakan akibat terjadinya bencana banjir yang tidak terelakkan.

5)

Pengelolaan Lingkungan Sungai

1.

Perencanaan Peruntukan Lahan Daerah Sempadan Sungai Bersama dinas/instansi terkait menyusun penetapan garis sempadan dan rencana peruntukan lahan daerah sempadan sungai sesuai dengan Rencana detail Tata Ruang Daerah dalam rangka pengamatan fungsi sungai.

2.

Pengendalian

Penggunaan

Lahan

Sempadan

Sungai

Melakukan

pengendalian

dan

penertiban

penggunaan lahan di daerah sempadan sungai bersama dinas/instansi terkait. 3. Pelestarian biota air Mengupayakan peningkatan kondisi sungai yang kondusif untuk pertumbuhan biota air.

4.

Pengembangan pariwisata, olah raga, dan trasnportasi air Mengembangkan pemanfaatan sungai dan waduk untuk keperluan wisata, olah raga, dan transportasi air bekerja sama dengan pihakpihak terkait.

6)

Pemberdayaan Masyarakat

1.

Program penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan perdesaan, sehingga pendapatan petani meningkat.

2.

Program pengembangan pertanian konservasi, sehingga dapat berfungsi produksi dan pelestarian sumber daya tanah dan air.

3.

Penyuluhan dan transfer teknologi untuk menunjang program pertanian konservasi dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pengelolaan DAS.

4.

Pengembangan berbagai bentuk insentif (rangsangan) baik insentif langsung maupun tidak langsung, dalam bentuk bantuan teknis, pinjaman, yang dapat memacu peningkatan produksi pertanian dan usaha konservasi tanah dan air.

5.

Upaya mengembangkan kemandirian dan memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah, sehingga mampu memperluas keberdayaan masyarakat dan berkembangnya ekonomi rakyat.

6.

Memonitor dan evaluasi terhadap perkembangan sosial ekonomi masyarakat, serta tingkat kesadaran masyarakat dalam ikut berperan

serta dalam pengelolaan DAS.

BAB V

PENUTUP

1.

Simpulan

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan, dengan daerah bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Oleh karena itu perubahan penggunaan lahan di daerah hulu akan memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk fluktuasi debit air, kualitas air dan transport sedimen serta bahanbahan terlarut di dalamnya. Dengan demikian pengelolaan DAS merupakan aktifitas yang berdimensi

biofisik,yaitu pengendalian erosi, pencegahan dan penanggulangan lahan-lahan kritis. Pengelolaan pertanian konservatif berdimensi kelembagaan, yaitu insentif dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bidang ekonomi dan berdimensi sosial yang lebih diarahkan pada kondisi sosial budaya setempat, sehingga dalam perencanaan model pengembangan DAS terpadu harus mempertimbangkan aktifitas/teknologi pengelolaan DAS sebagai satuan unit perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Operasionalisasi konsep DAS terpadu sebagai satuan unit perencanaan dalam pembangunan selama ini masih terbatas pada upaya rehabilitasi dan konservasi tanah dan air, sedangkan kelembagaan yang utuh tentang pengelolaan DAS belum terpola. Agar pengelolaan DAS dapat dilakukan secara optimal, maka perlu direncanakan secara terpadu, menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dengan DAS sebagai suatu unit pengelolaan.

1.

B.

Saran

Sebaiknya Pemerintah lebih memperhatikan hutan yang telah gundul, tidak hanya membangun sarana pengendali banjir karena akan lebih menghabiskan biaya dari pada biaya memperbaiki hutan, selain itu jika pemerintah memperhatikan jalur hijau khususnya hutan dan DAS di Indonesia masalah banjir akan bisa dicegah. Perlunya penggalakan kepada penduduk yang berada di Daerah Aliran Sungai agar kondisi sungai dapat diperbaiki dan mencegah terjadinya banjir yang lebih parah. Penduduk seharusnya lebih peduli terhadap lingkungan yang ditempati, dengan cara tidak membuang sampah ke dalam sungai, tidak menebang hutan secara illegal, memperluas kawasan hutan lindung dan mengadakan tebang pilih tanam, menanam pohon di Daerah Aliran Sungai.

Daftar Pustaka

Anjayani Eni & Haryanto Tri. 2009. Geografi. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bandung: ITB

Asdak C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Berry

Forqan.

2007. Pembangunan

Berbuah

Bencana;

Eksploitasi

SDA

Dan

Pengabaian

Hak

Rakyat. http://www.walhikalsel.org. Di Download: December 2009

Endarto Danang, Prihadi Singgih & Sarwono. 2009. Geografi. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Harmanto, Gatot. 2009. Geografi. Bandung: Yrama Widya.

Harmanto, Gatot. 2009. Geografi (Ringkasan Materi X, XI dan XII). Bandung: Yrama Widya.

K. Wardyatmoko. 2007.Geografi. Jakarta: Erlangga.

Nugraha, Setya. 1997. Studi Morfokonservasi di Daerah Aliran Sungai Nagung Kabupaten Dati II Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis. Yogyakarata: Universitas Gadjah Mada.

Waluya, Bagja. 2009. Geografi. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Asdak C.

1998 . Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai . Gadjah Mada University Press,

Yograkarta. (terjemahan)

Departemen Kehutanan Republik Indonesia.2008. Kerangka Kerja Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Di Indonesia. http://www.dephut.go.id

Indonesia

Infrastructure

Forum.

2009.

Studi

Kebijakan

Sinkronisasi

Pengendalian

Banjir

dan

Kekeringan. Infrastructureforum.wordpress.com

Kementerian Lingkungan Hidup . 2008. Dampak Lingkungan Akibat Banjir. Bahan Rapat Kerja Komisi VII DPR RI

http://bebasbanjir2025.wordpress.com

Loka

Karya

Membangun

Kapasitas

Para

Pihak

Untuk

Penyelamatan

Daerah

Aliran

Sungai

(DAS) http://digilib-ampl.net /file/pdf/newsletter_ agustus_09.pdf (18 desember 2009)

Nugroho, Priyono dan Cahyono . Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Cakupan, Permasalahan dan Upaya Penerapannya . Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS, IBB.

Surakarta. www.bappenas.go.id

Riyn

(2008).

Daerah

Aliran

Sungai

(DAS) http://riyn.multiply.com/journal/item/44/Daerah_Aliran_Sungai_DAS (19 desember 2009)

Undang-undang Republik Indonesia No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Wardhanie, B. (2001). Evaluasi Kebijakan Jalur Hijau di Permukiman Sungai Code: Studi Kasus Ledok Ratmakan dan Ledok Gondolayu, Yogyakarta. Tesis. Tidak dipublikasikan. Jakarta: Universitas Indonesia.

DAS Dan Pengelolaannya (3)

PEMBANGUNAN PARTISIPATORIS DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (PARTICIPATORY ACTIONS PROGRAM IN WATERSHED DEVELOPMENT)
Oleh: Apik Karyana Sumber: http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/01101/AKARYANA.htm Apik Karyana(P23600002/DAS); akaryana@yahoo.com Re-edited 20 December 2000, Copyright 2000 Apik Karyana Makalah Falsafah Sains (PPs 702), Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor; Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng PENDAHULUAN Pengertian Pengertian DAS yang banyak dikenal pada bidang kehutanan, adalah wilayah/daerah yang dibatasi oleh topografi alami yang saling berhubungan sedemikian rupa sehingga semua air yang jatuh pada daerah tersebut akan keluar dari satu sungai utama. Sedangkan pengelolaan DAS diartikan sebagai upaya manusia di dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumber daya alam dengan manusia dan segala aktifitasnya sehingga terjadi keserasian ekosistem serta dapat meningkatkan kemanfaatan bagi manusia.. Tujuan dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) pada dasarnya adalah pemanfaatan sumberdaya alam dilakukan dengan terlanjutkan (sustainable) sehingga tidak membahayakan lingkungan lokal, regional, nasional dan bahkan global. Tujuan ini sangat mulia dan harus didukung oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu masalahnya bukanlah pada tujuan pengelolaan DAS, tetapi bagaimana cara mencapai Konsep Partisipasi tujuan tersebut.

Kenyataan menunjukkan bahwa kalau dipertanyakan apakah yang dimaksud dengan partisipasi ?. Jawabanya bisa tidak menentu. Istilah-istilah lain yang merupakan sinonim partisipasi adalah keikutsertaan, keterlibatan atau peran serta. Gordon W. Apport dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Participation (1945), dalam Sastropoetro (1988) menyatakan : The person who participates is ego-involved instead of merely tasks involved Pendapat ini dapat diterjemahkan dengan kalimat sebagai berikut: Bahwa seseorang yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterliba tan dirinya/egonya yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dirinya dalam pekerjaan atau tugas saja. Artinya keterlibatan dirinya termasuk keterlibatan pikiran dan perasaannya. Ilmuwan Keith Davis dalam bukunya yang berjudul The Human Relation of Work (1962) mengemukakan sebagai berikut: Participation can be defined as mental and emotional involvement of a person in group situation which encourages to contribute to group goals and share responsibility in them. Di dalam definisi di atas terdapat tiga gagasan yang penting, yaitu : (a) bahwa dalam partisipasi bukan semata-mata keterlibatan secara jasmaniah, tetapi juga keterlibatan mental dan perasaan, (b) adanya kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok dan (c) adanya unsur tanggung jawab. Dari berbagai pengalaman proyek-proyek pengelolaan DAS, ada indikasi bahwa partisipasi hanya menjadi slogan tanpa makna yang nyata. Partisipasi yang asli harus datang dari inisiatif masyarakat sendiri. Partisipasi seperti itu merupakan partisipasi sejati yang bersifat swakarsa dan interaktif, bukan bersifat artificial atau semu. Tuntuan dasar untuk menempatkan azas partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS akhirnya menjadi prioritas. Bryant (1982) merumuskan partisipasi sebagai fungsi dari manfaat (benefit) yang akan diperoleh, dikalikan probabilitas atau kemungkinan untuk benar-benar memetik manfaat itu (Probability), dikurangi dengan dua jenis biaya (cost), yaitu biaya langsung (direct cost) dan biaya oportunitas (opportunity cost). Semuanya dikalikan dengan besarnya risiko (risks) yang sanggup ditanggung. Secara sederhana dapat dirumuskan sebagai berikut: P = ( B X Pr) (DC + OC) R Dimana : P = Participation B = Benefit Pr = Probability

DC = Direct Cost OC = Opportunity Cost R = Risks Untuk mengkaji lebih jauh bagaimana mengelola partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS diperlukan kajian yang mendalam berkaitan dengan kharakteristik DAS (biofisik), Kharakteristik aturan main (kelembagaan) dan kharakteristik masyarakat (Sosial ekonomi dan kebudayaan). HISTORIS Konsep pengelolaan DAS di Indonesia sebenarnya telah dikenalkan sejak jaman Belanda, khususnya dalam praktek pengelolaan hutan, dimana pembagian-pembagian daerah hutan diatur berdasarkan satuan DAS. Pada tahun 1961 diadakan gerakan penghijauan secara massal dalam bentuk Pekan Penghijauan I di Gunung Mas, Puncak Bogor. Pada tahun 1973 sampai 1981, FAO dan UNDP telah melakukan berbagai uji coba untuk memperoleh metoda yang tepat dalam rangka rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang ditinjau dari aspek fisik maupun sosial ekonomi di DAS Solo. Hasil-hasil pengujian ini antara lain diterapkan dalam proyek Inpres Penghijauan dan Reboisasi sejak tahun 1976 pada 36 DAS di Indonesia. Upaya pengelolaan DAS terpadu yang pertama dilaksanakan di DAS Citanduy pada tahun 1981, dimana berbagai kegiatan yang bersifat lintas sektoral dan lintas disiplin dilakukan. Selanjutnya pengelolaan DAS terpadu dikembangkan di DAS Brantas, Jratun Seluna. Namun proyek-proyek pengelolaan DAS saat itu lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur fisik kegiatan konservasi tanah untuk mencegah erosi dan bajir yang hampir seluruhnya dibiayai oleh dana pemerintah. Baru tahun 1994 konsep partisipasi mulai diterapkan dalam penyelengaraan Inpres Penghijauan dan Reboisasi, walaupun dalam tarap perencanaan. Meskipun upaya-upaya pengelolaan DAS di Indonesia telah cukup lama dilaksanakan, namun karena kompleksitas masalah yang dihadapi hasilnya belum mencapai yang diinginkan, terutama yang berkaitan dengan pembangunan sumberdaya manusia dan kelembagan masyarakat. FAKTA DAN PERMASALAHAN Fakta Di Indonesia, berdasarkan data resmi yang dikeluarkan oleh Badan Planologi, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, laju kerusakan hutannya hampir mencapai 1,6 juta ha per tahun. Laju angka kerusakan ini mengalami peningkatan 3 kali lipat selama kurun waktu 6 tahun.

Tingginya angka laju pengundulan hutan ini terutama disebabkan karena kejadian kebakaran hutan rutin yang melanda hutan-hutan di kawasan pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. FAO (1985) melaporkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia menempati urutan tertinggi dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Jika proses degradasi lahan ini terus berlangsung tanpa upaya yang nyata untuk menghentikannya, produktivitas pertanian akan mengalami penurunan sebesar 15-30 % sampai dengan tahun 2003. Permasalahan Permasalahan utama dalam pembangunan pengelolaan DAS adalah belum mantapnya institusi dan lemahnya sistem perencanaan yang komprehensif. Gejala umum yang timbuk dari kondisi di atas antara lain: (1) masyarakat dalam DAS masih ditempatkan sebagai objek dan bukan subjek pembangunan (2) manfaat pembangunan lebih banyak dinikmati oleh elit-elit tertentu dan belum terdistribusi secara merata (3) masyarakat belum mampu untuk berpartisipasi secara nyata dalam proses pembangunan (4) masyarakat masih menjadi bagian terpisah (eksternal) dari ekosistem DAS. PARADIGMA PEMBANGUNAN PARTISIPATORIS Agar mencapai hasil-hasil pembangunan yang berkelanjutan, banyak kalangan sepakat diperlukan pergeseran paradigma di bidang pengelolan DAS yang bersifat partisipatoris. Pendekatan pembangunan partisipatoris harus mulai dengan orang-orang yang paling mengetahui tentang sistem kehidupan masyarakat, setempat yaitu masyarakat itu sendiri. Dalam kontek DAS pendekatan ini memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk mengembangkan diri. Pendekatan partisipatoris harus disertai perubahan cara pandang terhadap DAS sebagai sistem hidrologi yang semula merupakan benda fisik menjadi benda ekonomi yang memiliki fungsi sosial. Perubahan peran pemerintah dari provider menjadi enabler, tata pemerintahan dari sentralistis menjadi desentralistis, sistem pembangunan dan pengelolaan dari government centris menjadi publicprivate community participation, pelayanan dari birokratis-normatif menjadi professional-responsif dan fleksibel, penentuan kebijakan dari top-down menjadi bottom-up. Munculnya paradigma pembangunan pengelolaan DAS yang partisipatoris mengindikasikan adanya dua perspektif. Pertama : pelibatan masyarakat setempat dalam pemilihan, perancangan, perencanan dan

pelaksanaan proyek/program pengelolaan DAS yang akan mewarnai kehidupan mereka, sehingga dapat dijamin bahwa persepsi, pola sikap dan pola berpikir serta nilai-nilai dan pengetahuan lokal ikut dipertimbangkan secara penuh.

Kedua: adanya umpan balik (feed back) yang pada hakekatnya adalah bagian yang tidak terlepaskan dari kegiatan pembangunan. METODOGI Untuk mewujudkan pembangunan pengelolaan DAS yang partisipatoris dibutuhkan pendekatan partisipasi dalam rangka memobilisasi peran serta dan meningkatkan keefektifannya. Untuk memperoleh pendekatan yang partisipatoris diperlukan metoda penelitian yang bersifat partisipatoris pula (studi eksploratoris). Metoda partisipatoris berguna untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan kunci dalam merumuskan masalah (Mikkelsen, 1999). Metoda ini sedikit menyimpang dari pendekatan konvensional dimana para peneliti ahli yang merumuskan masalah. Dengan metoda partisipatoris, maka dalam merumuskan masalah, menentukan tujuan prioritas dan tidak lanjut yang diperlukan menjadi upaya bersama dengan masyarakat dan pihak-pihak lain yang terkait. Kajian Preliminer Kajian ini diawali dengan serangkaian diskusi tentang kerangka pemikiran serta arah kajian yang akan dicapai dengan berbagai stakeholders. Pada tahap ini juga digali berbagai sumber data dan informasi sekunder yang berkaitan dengan kondisi biofisik DAS, kondisi masyarakat serta berbagai kebijaksanaan yang telah diberlakukan dalam pengelolaan DAS. Hasil yang diperoleh pada tahap ini adalah dapat dirumuskannya : 1. Kerangka pemikiran dan arah kajian 2. Kebijaksanan umum pengelolaan DAS secara hipotetik Seluruh rangkaian proses ini merupakan proses belajar bagi semua pihak. Untuk melaksanakan studi eksploratoris diperlukan teknik-teknik PRA (Participatory Rural Appraisal). Teknik PRA digunakan untuk memperoleh informasi awal mengenai suatu topik. Gambaran studi eksploratoris untuk pengelolaan DAS dapat dilihat pada Gamber di bawah ini. Penetapan Peubah Kunci Dari hasil kajian preliminer dan penjabaran operasional kerangka pemikiran menghasilkan

permasalahan hipotetik dalam pengelolaan DAS, yaitu : Rendahnya produktifitas dan semakin menurunnya daya dukung DAS (yang dapat diukur dari dampak off site maupun on site) adalah akibat dari rendahnya partisipasi masyarakat dan stakeholders lainnya. Dengan demikian maka perubahan perilaku masyarakat merupakan objek dan penurunan sistem alami daya dukung DAS sebagai subjek.

Berdasarkan permasalahan hipotetik di atas, harus disusun sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran-ukuran partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS, seperti : 1. Tingkat adopsi dan inovasi masyarakat 2. Kualitas biofisik DAS 3. Produktifitas masyarakat 4. Keberadaan intitusi lokal sebagai social capital 5. Aksesibilitas dan daya tangkap Asumsi Dalam melaksanakan studi eksploratoris diperlukan asumsi-asumsi sebagai berikut :

Partisipasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan program pengelolaan DAS, tetapi merupakan suatu proses dan oleh sebab itu studi hendaknya dipadukan dengan kegiatankegiatan lain dalam program pengelolaan DAS.

Penyelenggaraan pengelolaan DAS harus didasarkan pada keberadaan organisasi-organisasi lokal yang ada partisipasi dihargai secara pragmatis yaitu pelibatan masyarakat dalam tindakan-tindakan administratif yang memiliki pengaruh langsung terhadap mereka.

DAFTAR BACAAN Anomim. 1985. Prosiding Lokakarya Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu. Departemen Kehutanan, Jakarta. Bryant, C. 1982. Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang. LP3ES. Mikkelsen, B. 1999. Metoda Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Katodihardjo, H., Murtilaksono, K.,Pasaribu. H.S., Sudadi, Untung., Nuryantono. N. 2000. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. K3SB. Bogor. Sastropoetro, S. 1988. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Penerbit Alumsi, Bandung. Keith, D. 1962. Human Relations at Work. Mc Graw-Hill Book Company Inc., New York.

STRATEGI DAN TINJAUAN KOMPONEN GEOFISIK DI DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Oleh: Hikmad Lukman, P23600001/DAS; Email: Lukhik@yahoo.com Sumber: http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/02201/hikmad_lukman.htm I. PENDAHULUAN

SEJARAH. Konsep strategi pengelolaan DAS sudah dikenal dibanyak negara maju dan negara berkembang (Philipina, Cina. Jepang dll). Pengelolaan DAS seperti di Indonesia, negara-negara di Afrika dan Amerika Latin dan dinegara Asia lainnya, belum dapat diharapkan hasilnya karena belum adanya kerangka kerja pengelolaan DAS nasional yang benar, sehingga disana-sini timbul masalah kerusakan DAS. Akibat pengelolaan sumber DAS yang buruk dimasa lalu dan sekarang ternyata telah mengurangi secara berarti kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan disuatu negara/daerah. Upaya pengelolaan DAS terpadu pertama kali dilaksanakan di DAS Citanduy (1981) dengan kegiatan yang bersifat lintas sektoral dan lintas disiplin. Kemudian dikembangkan di DAS Brantas, Jratun Seluna. Proyek-proyek pengelolaan DAS pada saat itu lebih menekankan pada pembangunan infrastruktur fisik kegiatan konservasi lahan untuk mencegah banjir dan erosi yang hampir seluruhnya dibiayai oleh pemerintah dan bantuan asing. Namun walau upaya pengelolaan DAS yang sudah cukup lama dilakukan, ternyata karena kompleksitas masalah, hasilnya belum memadai, terutama yang berkaitan dengan pembangunan SDM dan kelembagaan masyarakat. Selama ini terdapat beberapa kesalahan pembenaran (myth) pengelolaan yang menyebabkan perbaikan kerusakan DAS seringkali tidak memberikan hasil yang optimum dan malah memperparah keadaan. Sebab-sebab kerusakan DAS antara lain timbul akibat : a. Perencanaan bentuk penggunaan lahan dan praktek pengelolaan yang tidak sesuai, b. Pertambahan jumlah penduduk baik secara alami maupun buatan, c. Kemiskinan dan kemerosotan ekonomi akibat keterbatasan sumber daya manusia, sumber alam dan mata pencaharian, d. Kelembagaan yang ada kurang mendukung pelayanan kepada para petani di hulu / hutan, e. Kebijakan perlindungan dan peraturan legislatip, tidak membatasi kepemilikan / penggunaan lahan, f. Ketidakpastian penggunaan hak atas tanah secara de-fakto pada lahan hutan. Kerusakan DAS terjadi dibanyak tempat dengan kuantitas yang berbeda sehingga menimbulkan : a. Penurunan kapasitas produksi sumber lahan akibat erosi tanah dan timbulnya perubahan kondisi hidrologi, biologi, kimia dan sifat fisik tanh, b. Pengurangan kualitas dan atau kuantitas air permukaan dan air tanah sehingga menambah resiko kerusakan akibat banjir di hilir,

c. Pengurangan kualitas dan atau kuantitas sumber biomassa alam dan mengurangi perlindungan terhadap penutup permukaan lahan oleh tanaman, d. Penurunan genetik, jenis dan keragaman ekosistim didalam dan diluar DAS, e. Kerusakan ekosistim terumbu karang di sekitar pesisir pantai. Untuk membahas dan mempelajari masalah pengelolaan DAS secara berkelanjutan, maka perlu diketahui mengenai istilah, pengertian dan definisi yang berkaitan dengan pengelolaan DAS tsb, yaitu : DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) didefinisikan sebagai suatu daerah yang dibatasi oleh topografi alami, dimana semua air hujan yang jatuh didalamnya akan mengalir melalui suatu sungai dan keluar melalui suatu outlet pada sungai tsb, atau merupakan satuan hidrologi yang menggambarkan dan menggunakan satuan fisik-biologi dan satuan kegiatan sosial ekonomi untuk perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam. PENDEKATAN DAS menggunakan pengelolaan DAS untuk perencanaan dan pelaksanaan kegiatankegiatan pembangunan sumber daya alam. Yang ditanamkan dalam pendekatan ini adalah pengakuan adanya hubungan erat antara lahan dan air dan antara daerah hulu dan hilir, serta pelaksanaan praktek yang tepat, sesuai dengan sasaran. PENGERTIAN PENGELOLAAN DAS yaitu merupakan suatu kegiatan menggunakan semua sumber daya alam/biofisik yang ada, sosial-ekonomi secara rasional untuk menghasilkan produksi yang optimum dalam waktu yang tidak terbatas (sustainable), menekan bahaya kerusakan seminimal mungkin dengan hasil akhir kuantitas dan kualitas air yang memenuhi persyaratan (N. Sinukaban, 2000). TUJUAN PENGELOLAAN DAS adalah Sustainable Watershed Development dengan memanfaatkan sumber daya alam didalam DAS secara berkelanjutan dan tidak membahayakan lingkungan di sekitarnya. PRAKTEK PENGELOLAAN DAS adalah suatu kegiatan perubahan / upaya pengelolaan dalam penggunaan lahan, seperti : penutup tanaman dan kegiatan nonstruktur lainnya serta kegiatan struktur yang dilakukan di dalam DAS untuk mencapai suatu tujuan. KONSEP DASAR PENGELOLAAN DAS adalah bahwa keberhasilan pengelolaan akan terwujud bila seluruh pengambil kebijakan seperti : pemerintah, badan pemerintahan negara dan internasional, lembaga keuangan dan masyarakat sendiri ikut berperanan secara aktip mengelola DAS untuk memperbaiki kesejahteraan dan sosial ekonomi negara dan manusia. Setiap kegiatan pengelolaan dilakukan berdasarkan pendekatan secara komprehensif oleh semua pihak terkait dengan menggali semua kemampuan potensialnya seperti : pendistribusian makanan yang merata, luas lahan, produksi kayu dan bahan bakar, sistem hidrologi, penyediaan air irigasi, mengurangi kemungkinan banjir,

kekeringan dan bahaya alam lainnya seperti erosi, penggaraman dan penggurunan. Juga kebutuhan akan infrastruktur (sarana dan prasarana), pemasaran dan proses perbaikan kondisi masyarakat dan lingkungan sosial-ekonomi seperti : fasilitas kridit, koperasi, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang terjangkau. CIRI-CIRI PENGELOLAAN YANG BAIK yaitu menghasilkan produktifitas yang tinggi dengan

meningkatnya : pendapatan; jumlah dan distribusi kualitas dan kuantitas yang baik; mempunyai sifat lentur dan azaz pemerataan. INDIKATOR PENGELOLAAN DAS YANG BAIK adalah produksi yang berkelanjutan; kerusakan lahan dan air minimum; distribusi hasil air yang berkualitas dan berkuantitas baik; teknologi yang dipakai dapat diterima; dan mensejahterakan seluruh masyarakat yang terkait. Untuk menghasilkan tujuan tsb diperlukan teknologi pengelolaan DAS untuk mengurangi bahaya banjir dan erosi dimusin hujan dan menaikan debit air sungai pada waktu musim kering. Model-model simulasi hidrologi digunakan untuk mendapatkan perubahan tsb berdasarkan teknologi konservasi tanah berupa : cara agronomi; vegetatip; mekanis; dan manajemen. Keberhasilan pengelolaan DAS bukan hanya semata dari tujuan, namun yang penting adalah bagaimana cara mencapai tujuan tsb. Untuk itu diperlukan suatu usaha/strategi pengelolaan DAS secara berkelanjutan. PRINSIP UMUM PENGELOLAAN DAS diidentifikasikan oleh Black (1970), yaitu : 1. Ekologi alami DAS merupakan suatu sistim dan keseimbangan yang dinamis, 2. Mempunyai faktor-faktor yang mempengaruhi run-off, 3. Distribusi air tidak merata dalam siklus hidrologi, sehubungan dengan praktek pengelolaan DAS. MONITORING DAN EVALUASI. MONITORING adalah suatu kegiatan penilaian yang dilakukan secara terus-menerus pada suatu kegiatan proyek pengelolaan DAS dalam hubungannya dengan rencana kerja pelaksanaan dan penggunaan masukan proyek berdasarkan target jumlah sehubungan dengan harapan perencanaan, jadi merupakan kegiatan proyek secara internal dan merupakan bagian penting dari praktek pengelolaan yang baik, karena itu merupakan bagian terintergrasi dari pengelolaan DAS sehari-hari (W.B/IFAD/FAO-1987). Monitoring juga merupakan suatu kegiatan pengawasan yang dilakukan terus menerus atau secara periodik dari suatu pelaksanaan kegiatan pengelolaan dalam menjamin masukan yang diberikan, rencana kerja, keluaran yang ditargetkan dan kegiatan-kegiatan yang diperlukan lainnya, jadi monitoring merupakan cara kerja yang sesuai dengan perencanaan (UN, 1984). Maksud dari monitoring adalah untuk mencapai kinerja proyek pengelolaan DAS yang efektif berdasarkan ketentuan peninjauan kembali kegiatan pengelolaan proyek pada semua tingkat agar memungkinkan pengelola memperbaiki perencanaan operasionalnya menggunakan kegiatan perbaikan secara cepat pada waktunya. Hal ini merupakan bagian dari sistim informasi managemen yang terintegrasi.

EVALUASI adalah suatu kegiatan penilaian secara periodik terhadap : relevansi, kinerja, efisiensi dan pengaruhnya terhadap proyek sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan ini umumnya meliputi perbandingan antara informasi yang dibutuhkan dari luar proyek pada suatu waktu, daerah dan populasi (WB/IFAD/FAO, 1987), atau evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan secara sistimatis dan obyektif tentang : relevansi, efisiensi, efektifitas dan pengaruh kegiatan sehubungan dengan tujuan yang ingin dicapai, jadi merupakan proses yang berhubungan dengan pengorganisasian untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan yang masih dalam proses serta untuk tujuan perencanaan pengelolaan yang akan datang, penyusunan acara dan dalam membuat suatu keputusan.

GAMBAR: Sistem Prototipe Hidrologi Daerah Aliran Sungai.

II. PANDANGAN PENGELOLAAN DAS. Di dalam memandang pengelolaan DAS, perlu dipelajari bagaimana hubungan antara pengelolaan DAS dengan metoda pengelolaan sumberdaya air lainnya dan terjadinya gejala perubahan berskala besar pada lingkungan alam. Kemudian perlu didalami maksud pendekatan pengelolaan DAS kedalam pandangan pengelolaan DAS tsb. Sampai pada awal abad 19 telah diselidiki pengaruh penebangan hutan secara besar-besaran di Amerika Serikat dalam memenuhi kebutuhan permintaan kayu sebagai akibat revolusi industri yang menyebabkan banjir yang besar dan terjadinya erosi. Dari hasil penelitian dan penyelidikan mengenai presipitasi dan run-off, diperoleh bahwa timbulnya banjir bukan akibat penebangan hutan, melainkan bahwa presipitasi yang jatuh ke permukaan tanah langsung memperbesar run-off permukaan, sedang presipitasinya sendiri berkurang akibat berkurangnya evapotranspirasi.

PENELITIAN DAN PELAKSANAAN PENDAHULUAN. Penyelidikan klasik pengaruh penebangan hutan di gunung, lahan penggembalaan dan penanaman tanaman pada DAS kecil menyebabkan kerugian pada run-off dimana frekuensi dan besarnya banjir serta sedimen meningkat. Untuk itu para peneliti berusaha merubah praktek perbaikan dengan menata kembali perlindungan penutup hutan, yaitu dengan melakukan : perbaikan penggunaan lahan yang tidak tepat; perlindungan sumberdaya alam termasuk tanah dan air; dan peningkatan (enchancement). Penyelidikan kemiripan dan keterkaitan pengelolaan DAS dilakukan untuk memperkuat dan

memperluas konsep, tantangan dan kesempatan menggunakan penutup lahan dengan tanaman untuk mencapai tujuan pengelolaan untuk jangka waktu tertentu. Pengaruh pengelolaan DAS pada daerah perkotaan dan industri dilakukan dengan melakukan perbaikan disektor pertambangan, pekerjaan pematangan tanah dan lahan yang berumput. Pengawasan dilakukan dengan mengontrol temperatur aliran air, habitat binatang, pola run-off tahunan dan prilaku aliran setempat, sehingga beberapa pembuatan model pengelolaan lahan dilakukan dan persediaan air diperkotaan. Pengelolaan DAS untuk penyediaan air diperkotaan perlu disusun kembali berdasarkan fungsi hidrologinya sebagai dasar jaminan kualitas air yang memadai. Penelitian kerusakan kualitas air akibat penggunaan lahan dan nonpoint polution seperti penyebaran patogen sudah dilakukan. Adanya pemberian tanggungjawab pengendalian banjir di bagian hilir dan di hulu kepada suatu badan yang independen merupakan hal yang tepat dalam menjaga dan memberikan tanggungjawab keberhasilan pengelolaan DAS. Banyak praktek yang direncanakan untuk melindungi dan meningkatkan sifat pengaliran pada DAS kecil yang dapat diadopsi oleh para petani secara aktip dalam melaksanakan pengelolaan tanah secara ekonomis dan berwawasan lingkungan. Kegiatan ini memberikan inspirasi adanya pemberian insentif secara terus menerus kepada petani untuk mengelola DAS tsb. TONGGAK SEJARAH PERUNDANG-UNDANGAN. Penyelesaian masalah kepemilikan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa tindakan berupa pembuatan perundang-undangan sebagai landasan kerja dalam melakukan pengelolaan DAS. Pada tahun 1955 perlindungan DAS dan tindakan pencegahan banjir dengan memberikan kewenangan untuk mengelola fasilitas lahan-lahan DAS menggunakan konservasi tanah dan air. Pencegahan banjir di hulu lebih efektif dibanding dengan pencegahan di daerah hilir. Perdebatan pengendalian banjir merupakan sumber utama friksi antara pengelola tanah yang berwawasan lingkungan pada satu pihak dan teknik pengelolaan tanah dipihak lain. Perencanaan DAS dilakukan pada skala basin sungai dan kegiatan perencanaan sumberdaya air diciptakan oleh suatu badan pengelolaan sumberdaya air. Adanya kegiatan memfasilitasi pembuatan komisi perencanaan basin sungai dilakukan untuk menyelesaikan semua kegiatan kasus-kasus besar untuk mencapai tujuan secara terbatas dab mengontrol kualitas air. Kegiatan tsb perlu

dikoordinasikan dengan perencanan dan pemerintah, membuat penjelasan dan penyebar luasan prinsip dan standar perencanaan pengelolaan air dan sumberdaya lahan. Hubungan antara penggunaan lahan dan kuantitas air diambil sebagai langkah utama amendemen pengontrolan polusi air yang sekarang dikenal sebagai kegiatan air bersih. Langkah selanjutnya mengontrol kualitas air untuk tujuan mengontrol pengelolaan tanah yang diidentifikasikan sebagai pertanian, perkebunan, pertambangan, konstruksi, peresapan air garam, pembuangan air sisa dan pembuangan di atas tanah dan di bawah permukaan melalui perencanaan pengelolaan buangan yang dilakukan secara luas. Timbulnya gerakan lingkungan sejak tahun 1960 secara terus menerus menghasilkan tuntutan adanya Pengelolaan Ekosistem yaitu integrasi pengelolaan sumber daya alam lintas kepemilikan di daerah perkotaan yang sama sengan di desa. Bentuk ini memberikan lingkungan yang tepat antara unit hydrophere alami, DAS dan kebutuhan seluruh pengelolaan yang berwawasan lingkungan pada tanah negara dan sumber daya air. Pengelolaan DAS harus tetap fleksibel, sesuai dengan fisik, kimia dan sifat biologi yang berhubungan dengan air. Dari sisi politik, pengelolaan DAS harus juga bertanggung jawab terhadap pemberian kesempatan dan tantangan untuk pencegahan, perbaikan, dan tujuan peningkatan pengolahan terhadap kemerdekaan perseorangan dan kepada tujuan dari masyarakat yang mempunyai sumber alamnya sendiri dan yang akhirnya dilola oleh masyarakat itu sendiri. PENGELOLAAN DAS DAN PERUBAHAN BERSKALA BESAR Kesadaran adanya perubahan skala besar pada lingkungan bumi dihasilkan oleh teknologi pengawasan dan modeling seperti timbulnya efek rumah kaca; hujan asam; pengaruh penggunaan bahan rumah tinggal, industri dan bahan kimia yang diperdagangkan pada penahan lapisan ozon. Kedua, efek rumah kaca dan hujan asam merupakan sifat lingkungan bumi yang normal dari kehidupan kita selama ini. Efek rumah kaca mempunyai akibat akhir yang menakutkan yaitu Peningkatan Efek Global, yaitu menimbulkan: 1. Penambahan kadar CO2 yang ditransfer akibat terbakarnya bahan bakar fosil dan penurunan komposisi organik yang keduanya menggunakan oksigen, 2. Kerusakan daerah hutan secara luas. Akibat penambahan CO2, akan membatasi keluarnya radiasi gelombang panjang, pembatasan bentuk radiasi dan penambahan temperatur menyebabkan bertambahnya evaporasi. Terjadinya pembakaran fosil akan mengakibatkan bertambahnya evaporasi dan berkurangnya radiasi gelombang pendek yang datang. Persoalan hujan asam diperdebatkan. Hujan umumnya bersifat asam, tetapi asam yang berlebih dari pembentukan dan deposisi asam nitrit dan asam sulfur dari atmosfer, dari air atmosfer akan menimbulkan hujan asam. METODOLOGI MODIFIKASI LINGKUNGAN SUMBER DAYA AIR

Pengelolaan unit dasar ketersediaan air pada pertemuan udara dan tanah hanya merupakan salah satu dari beberapa metodologi untuk satu atau lebih komponen keseimbangan air bagi keuntungan umat manusia. Metoda lainnya termasuk: pengurangan penggaraman, pengurangan evaporasi, modifikasi cuaca, peredaran dan penguapan air. 1. Teknik pengurangan kadar garam (Desalinization) adalah suatu cara pengurangan secara lambat laun biaya yang perlu dikeluarkan, namun masih lebih tinggi dari metoda alternatif penambahan persediaan air.. Hal ini dilakukan bila tidak menyediakan air bersih berbiaya tinggi atau biaya energi yang murah. Penggunaan tenaga listrik menyebabkan biaya pengurangan kadar garam menjadi mahal, sementara pengembangan teknologi cenderung berkurang, karena itu, teknik ini hanya mungkin untuk daerah dengan kondisi air yang mengandung garam tersebut. 2. Pengurangan evaporasi dengan pembentukan lapisan monomoleculer pada permukaan tanah mencegah terjadinya penguapan. Dari hasil penelitian diperoleh besarnya pengurangan evaporasi hanya sekitar 10% akibat kesulitan umtuk memelihara lapisan dengan kondisi cuaca yang tidak cocok, terutama faktor angin dalam menambah kehilangan evaporasi. Angin akan mendorong lapisan monomoleculer ke bagian tubuh reservoir besar dimana kehilangan air yang berkumpul dan menumpuk di sepanjang pantai memyebabkan pengurangan evaporasi yang kecil. 3. Modifikasi cuaca berupa teknologi memodifikasi lingkungan sumberdaya air banyak digunakan. Pekerjaan utama yang dilakukan saat ini adalah memodifikasi angin topan dan memodifikasi pembuatan halilintar untuk menghilangkan panas pada kejadian pembakaran hutan besar dan untuk menghilangkan hujan es pada daerah dimana kerusakan pada tanaman tertentu; menambah presipitasi untuk mengurangi musim kemarau sementara waktu. Metoda ini menunjukan adanya: biaya penambahan presipitasi yang rendah dan mudah dilakukan; biaya operasi langsung mudah dibayar oleh keuntungan penambahan air yang tersedia; ada keuntungan lainnya untuk ketersediaan air yang berlebihan , yaitu untuk menghasilkan listrik, irigasi dan untuk tanaman makanan ternak. 4. Pengalihan, dipraktekkan secara luas sejak jaman dahulu menggunakan ketersediaan air yang tidak digunakan/berlebihan atau air tersebut sudah digunakan dan secara lokal tidak tersedia. Pada sebagian daerah panas di USA, teknik pengalihan air memberi peranan penting keberhasilan pemperkenalkan, penggunaan, dan modifikasi pendekatan doktrin hak mengenai air (Blach, 1987) yaitu perlunya ijin pengambilan air dari suatu aliran/DAS dan mengirimkannya ke suatu DAS yang lainnya untuk penggunaan yang bermanfaat, dimana airnya tidak perlu dikembalikan kepada DAS asalnya. Pengaruhnya adalah bertambahnya presipitasi, bertambahnya run-off kepada DAS penerima dan akibatnya mengurangi presipitasi dan run-off pada kedua DAS tersebut, sehingga tentunya berkaitan dengan perubahan pada besarnya erosi dan sedimentasi serta flora dan fauna air.

5. Penyimpanan merupakan teknik pendekatan yang klasik untuk memecahkan masalah kekurangan air untuk sementara waktu. Fungsi penyimpanan (strorage) terutama untuk menyimpan air, tetapi peningkatan pada suatu danau alami yang ada atau basin lahan basah dan percepatan atau peningkatan kembali penyediaan air tanah, juga termasuk pendekatan yang dapat diterima. Pembuatan strorage sudah dikenal sebagai kebijakan yang bijaksana dan teknologi ini menguntungkan secara ekonomi dan lainnya seperti: untuk tempat rekreasi dan olah raga air, pembangkit tenaga listrik, pelayaran dan pengendali banjir. III. PELAKSANAAN PENGELOLAAN DAS Banyak kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan menata kembali kerusakan lahan yang terjadi dan dilain pihak perlu melakukan pencegahan kerusakan dimasa mendatang. Semua tujuan ini untuk membuat penggunaan lahan menjadi lebih baik akibat keterbatasan lahan dan sumber air yang ada. Ada sejumlah pelaksanaan pengelolaan DAS dapat digunakan dan dapat dikombinasikan satu dengan yang lainnya. Ada tiga sasaran umum kegiatan pengelolaan DAS yaitu: 1. REHABILITASI Memperbaiki lahan pertanian/kehutanan akibat erosi dan sedimen yang berlebihan dan bahan-bahan yang mudah larut yang tidak diperlukan akibat run-off dll. Metoda rehabilitasi yang digunakan adalah metoda: tanah hutan, rangeland, tanah pertanian dan saluran aliran. Rehabilitasi sering dibatasi untuk DAS kecil; pengertian rehabilitasi sering digunakan untuk membatasi fungsi DAS yang memerlukan penataan kembali. 2. PROTEKSI. Perlindungan tanah pertanian/kehutanan akibat pengaruh yang membahayakan produksi dan kelestarian menggunakan metoda: tanah hutan, rangeland, pencegahan kebakaran, pencegahan terhadap gangguan serangga/hama serta penyakit. 3. PENINGKATAN. Peningkatan sifat sumber air dilakukan dengan manipulasi ciri-ciri suatu DAS akibat pengaruh hidrologi atau fungsi kualitas air. Tujuan penungkatan pengelolaan DAS didasarkan pada pengakuan bahwa sistem tanah-tanaman yang alami tidak memerlukan produksi air yang optimum. Ketergantungan pada tujuan pengelolaan tanah tertentu, neraca air, cara hidup atau kualitas air dapat dirubah. Semua praktek dan program peningkatan yang sekarang dilakukan (kuantitas air dan cara hidup) dan program perlindungan serta perbaikan, bertujuan untuk mengontrol atau menata kualitas air. Pelaksanaannya antara lain adalah:

Penebangan

dan

Perubahan

Tanaman

Umumnya tanaman perlu ditebang agar: mempertahankan pertemuan permukaan pada tahun

pertama; menghindari gangguan pada proses hidrologi alami pada bidang pertemuan tanah dan air.

DAS

Perkotaan

Untuk menjaga sumber utama air di perkotaan, diperlukan pengelolaan pengaruh run-off dari DAS sekitar hutan. Pengawasan rutin perlu untuk menjamin jalannya peraturan bahwa air yang mengalir di saluran/sungai tidak digunakan untuk rekreasi, penggunaan secara perseorangan, tempat pembuangan air kotor dan limbah industri.

Memperbaiki

Aliran

Pembuatan saluran, pemberantasan phreatophyte, kontrol erosi pada tepi sungai, program jalan masuk aliran, drainase, perlindungan dan penataan kembali terhadap perikanan, serta program pengalihan air perlu dilakukan. Banyak pekerjaan saluran berjangka pendek memberikan keuntungan ekonomi kepada organisasi penyalur tenaga kerja untuk DAS DAS dapat dilakukan dengan batasan adanya perubahan pada: besarnya menyalurkan pekerja dalam memelihara saluran yang diperbaiki.

Modifikasi Modifikasi

kemiringan tanah, gradient aliran, ukuran dan harus selalu memperhatikan perubahan pada penutup tanaman yang juga dapat berpengaruh pada perubahan albedo dan berakibat pada banyaknya pola evaporasi dan run-off. Adanya perubahan yang terjadi dari ketiga sasaran kegiatan pengelolaan DAS di atas adalah fakta timbulnya perubahan alam yang umumnya merugikan, akibat air yang selalu bergerak lebih rendah akan berpengaruh pada kualitas air.

IV. STRATEGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI KONSEP STRATEGI PENGELOLAAN DAS Konsep strategi adalah merencanakan dan menggunakan usaha-usaha untuk mencapai pengelolaan DAS secara berkelanjutan sambil melestarikan dan melindungi DAS dari kerusakan yang terjadi. Usaha yang utama adalah melindungi dan membentuk hutan lindung dan hutan suaka dalam suatu DAS dan melindungi kemerosotan mutu tanah dan air yang berkaitan dengan usaha peningkatan produksi barang dan jasa dalam pengertian ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan. Usaha tersebut membutuhkan penyediaan sumberdaya alam (air, tanah, lahan) yang cukup terjamin baik kualitas maupun kuantitasnya. FILSAFAT STRATEGI PENGELOLAAN DAS.

Filsafat utama strategi pengelolaan DAS adalah untuk memperbaiki pengelolaan DAS yang merupakan tuntutan kuat dari masyarakat. Filsafat strategi pengelolaan terdiri dari dua komponen pendekatan pengelolaan DAS yang saling berkaitan: 1. Tuntutan yang didasarkan pada prioritas dan kepentingan nasional masing-masing negara, 2. Pengambil keputusan dapat melaksanakan kepentingannya dan aktif berpartisipasi dalam melakukan konservasu pada tingkat perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber DAS mereka masing-masing secara berkelanjutan. Kedua komponen tersebut harus memberikan aspek sosial yang optimum, budaya, ekonomi dan memberikan keuntungan lingkungan yang besar kepada masyarakat khususnya kehidupan di daerah hilir maupun hulu DAS dengan tetap memelihara kondisi biologi dan budayanya. DASAR PEMIKIRAN, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGI. 1. DASAR PEMIKIRAN: dasar pemikiran untuk strategi pengelolaan DAS adalah memberikan kerangka kerja nasional untuk mengelola sumber-sumber alm(tanah, tanaman,air dsb) secara berkelanjutan dalanm seluruh DAS, 2. TUJUAN: ada 2 tujuan yang ingin dicapai dari strategi pengelolaan DAS yaitu:

a. Menggunakan sumber-sumber alam sebanyak mungkin secara berkelanjutan dalam seluruh kawasan DAS yang berwawasan lingkungan, bernilai ekonomis dan secara sosial dapat diterima b. Mencegah kerusakan Das lebih lanjut, mengembalikan produksi dan fungsi perlindungan dari kondisi kerusakan DAS pada saat ini, 3. SASARAN: maupun pengelolaan kelembagaan d. dan dalam perbaikan mendukung sasaran (objek) dari strategi pengelolaan DAS adalah: setempat, DAS pengelolaan yang cocok secara sumber berdasar nasional, DAS, praktek

a. Membuat kebijakan yang kuat berdasar perundangan yang berlaku, baik tingkat nasional tingkat sumber-sumber perbaikan lahan b. .Mengembangkan investasi jangka panjang dalam program nasional untuk memperbaiki c. Menciptakan efektivitas inter-intra struktur organisasi lembaga, penguatan kemampuan Mengembangkan bentuk-bentuk penggunaan

pengelolaan tanah yang sesuai sehingga memungkinkan sumber alam suatu DAS dapat digunakan untuk macam-macam tujuan produksi berdasarkan kewajaran dan keberlanjutan, e. Mencegah dan menghalangi kerusakan tanah dan deforestation, sambil memperbaiki kualitas hayati dan kuantitas pengaliran air baik di dalam maupun di luar suatu DAS, f. Melindungi dan mempertahankan daerah yang penting sebagai persediaan sumber alam negara, g. Mengurangi kemiskinan masyarakat-masyarakat di hulu dengan memperluas kesempatan kehidupan ekonomi secara berkelanjutan di dalam bidang pertanian atau kegiatan kehutanan

dalam

suatu

DAS,

h. Memfasilitasi secara aktif partisipasi tingkat pengambil keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan peninjauan kembali kegiatan pengelolaan sumber DAS secara berkelanjutan, i. Mendorong melakukan identifikasi dan pemanfaatan secara realistik dan berkelanjutan, untuk maksud mendapatkan bantuan yang diperlukan dalam memperbaiki pengelolaan sumber mempertinggi kesadaran berlingkungan pada seluruh masyarakat dan DAS, pemerintah, j. Menciptakan kebutuhan untuk perbaikan pengelolaan sumber-sumber DAS dengan k. Memfasilitasi secara sistematis: pengumpulan, peninjauan kembali dan penyebaran informasi yang bertujuan menciptakan sistem informasi DAS secara nasional. USAHA: melakukan upaya peningkatan produksi dengan melakukan pengembangan sistem

pengelolaan yang menggabungkan berbagai teknologi perkotaan, sistem pengelolaan industri, sistem pengelolaan pertanian/perkebunan dsbnya. PRINSIP PETUNJUK: Prinsip petunjuk strategi pengelolaan sumber DAS, didasarkan pada prinsip petunjuk, berupa: a. b. c. Aspek Aspek Aspek Sosial Ekologi dan Ekonomi budaya yang yang yang berkelanjutan, berkelanjutan, berkelanjutan,

d. Aspek Kelembagaan yang berkelanjutan. KERANGKA KERJA STRATEGI PENGELOLAAN DAS, disusun agar menghasilkan tujuan atau sasaran yang akan dicapai. Salah satu contoh kerangka strategi yang perlu disusun adalah:

Untuk itu perlu disusun tahapan-tahapan pelaksanan strategi yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu: 1. Jangka Panjang, yaitu pembuatan kebijakan, kelembagaan dan undang-undang, dilakukan oleh pemerintah pusat, 2. Jangka Menengah, yaitu operasional penjabaran pelaksanaan jangka panjang yang dilakukan oleh pemerintah tingkat I, 3. Jangka Pendek, yaitu implementasi operasional di tingkat kabupaten dimana masyarakat aktif berpartisipasi, dimana masyarakat sebagai subyek (sistem top-down). PARADIGMA BARU PENGELOLAAN DAS

Paradigma lama pengelolaan DAS menekankan pola Top-Down di tingkat kebijakan, operasional dan pelaksanaan, namun penekanan pada bidang fisik dan ego-sektoral sekarang ini sudah ditinggalkan akiibat kegagalan-kegagalan usaha perbaikan DAS. Paradigma baru yang sekarang dilakukan adalah pemberdayaan masyarakat petani didalam usaha pengelolaan DAS ditingkat opersional dan pelaksanaan, menggunakan sistem Bottom-Up dan program pegelolaan dilaksanakan secara terpadu oleh para pengambilan keputusan. Ada beberapa hal yang penting didalam paradigma baru adalah: 1. Pengelolaan dilakukan secara terpadu (lintas sektoral), 2. Peningkatan peran serta masyarat (partisipatif), 3. Peningkatan penyuluhan baik kualitas dan kuantitasnya, 4. Penguatan institusi/kelembagaan, 5. Pemberian insentif kepada petani di kawasan DAS (khususnya yang di hulu). Sebagai perbandingan antara paradigma lama dan baru pengelolaan DAS dapat di jelaskan pada tabel berikut ini:

JALAN KELUAR UNTUK MENGATASI KERUSAKAN DAS. Ada DAS, b. Memecahkan kebuntuan dengan cara menetapkan garis wilayah hutan secara permanen untuk menentukan sesuai d. dan batas spesifik praktek partisipasi ditingkat tanahhutan pengelolaan masyarakat dan dan lahan unsur taman yang setempat nasional, cocok, dalam c. Meningkatkan pengetahuan pada tingkat lapangan dan adopsi bentuk penggunaan lahan yang Memperbesar pemerintah beberapa kunci prasarat untuk mengatasi sebab-sebab kerusakan DAS, yaitu:

a. Merubah kebijakan lingkungan yang ada dengan mengijinkan peningkatan penggunaan pengelolaan

mengidentifikasikan, merumuskan, melaksanakan, monitoring dan evaluasi perencanaan pengelolaan DAS, e. Memperluas dan menguatkan kelembagaan dalam mendukung pelayanan untuk perbaikan pengelolaan DAS pada tingkat nasional dan setempat, f. Mencari dana untuk kegiatan pengelolaan DAS dari sumber-sumber bukan donor. BAGIAN-BAGIAN KUNCI STRATEGI PENGELOLAAN SUMBER DAS, terdiri dari tiga aspek, yaitu :


1.

KEBIJAKAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN (tidak dibahas), KELEMBAGAAN (tidak dibahas), TEKNOLOGI, yaitu sbb :

1. Penilaian kesesuaian lahan, sebagai

dasar untuk memperbaiki

macam-macam

penggunaan perencanaan pengelolaan sumber DAS, 2. Teknologi pengelolaan sumber DAS untuk kondisi rumah tangga yang buruk di hulu, harus sederhana, produktifitas dengan biaya murah, terpelihara, beresiko rendah, konservasi fleksibel dan efektif, sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial dan norma budaya yang dapat diadopsi, 3. Mempunyai dokumentasi konservasi pertanian di hulu yang sistimatis / teknologi pengelolaan hutan yang berkelanjutan untuk perbaikan pengelolaan, 4. Mengatur penggunaan kebutuhan air di hilir melalui adopsi praktek konservasi air, 5. Menyiapkan pengelolaan, 6. Membuat dan menggunakan secara sederhana, mengutamakan kualitas indikator biofisik : standar nasional yang lebih kaku, untuk memonitor pengaruh lingkungan dalam campur tangan pengelolaan DAS dan cenderung memperbaiki keadaan kerusakan suatu DAS. Petunjuk Teknis yang baru dan up-to-date untuk memperbaiki

KESENJANGAN-KESENJANGAN YANG PERLU DITANGGULANGI, untuk mengurangi kerusakan DAS antara lain terdiri dari 3 aspek, yaitu: Kebijakan dan perundang-undangan; Kelembagaan; dan Teknologi. Untuk Aspek TEKNOLOGI, yang perlu ditanggulangi antara lain: a. Perlunya pendokumentasian yang baik tentang konservasi pertanian di hulu yang efektif; praktek pengelolaan hutan secara sederhana dari hasil penelitian; dan mekanisme efektif penyebaran informasi kepada penyuluh dan pengguna laha, b. Perlunya adopsi pendekatan partisipati pembangunan teknologi yang memungkinkan para penyuluh dan staf peneliti bekerja sama dengan pengguna lahan untuk membangun suatu daerah dengan teknologi yang mempertemukan komponen biofisik setempat dengan lingkungan sosial ekonomi, c. Perlunya pemberian insentif yang memadai bagi masyarakat di hulu dalam memperbaiki kondisi pertaniannya dan praktek pengelolaan hutan, bila mereka kesulitan dalam menjual produksi yang berkelanjutan di daerah hulu, d. Perlunya membuat Petunjuk Teknis untuk memperbaiki kelemahan di lapngan dan bagaimana masyarakat hulu dapat mengatur hutan alam berbasis ekonomi secara berkelanjutan, sedang Petunjuk Teknis untuk pengelolaan hutan dilakukan oleh lembaga-lembaga kerjasama dengan data yang baru, e. Keterbatasan jumlah penyuluh memerlukan pembuatan metoda inovatif pada inter-intra kelompok pelatihan; pencangkokan informasi pertanian dan praktek yang baru. TEKNOLOGI PELAKSANAAN STRATEGI PENGELOLAAN DAS. Pelaksanaan strategi pengelolaan memerlukan sejumlah perubahan teknologi dan campur tangan dalam usaha memperbaiki pengelolaan sumber-sumber DAS di lapangan. Kunci teknologi yang berhubungan dengan bagian-bagian strategi, adalah: a. Penilaian Teknologi: Kelemahan dalam usulan teknologi pengelolaan sumber DAS tidak dapat diperloleh selama pelaksanaan proyek. Setiap praktek perbaikan di lapangan yang dikembangkan, perlu ditinjau ulang secara kritis selama penilaian proyek. Perencanaan dibuat untuk menyelesaikan setiap ketidakpastian berdasar percobaan di lapangan, disesuaikan dengan hasil penelitian, atau pilot proyek yang sesuai. Perbaikan teknologi pengelolaan akan sesuai dengan sassaran bila mengikuti kriteria-kriteria sbb: apakah secara teknis memungkinkan?, apakah secara praktek memungkinkan,?, apakah produktip?, apakah secara finansial memungkinkan?, apakah stabil?, apakah berkelanjutan?, apakah dapat digunakan secara umum?, dan apakah secara sosial dan ekonomi dapat diterima?. b. Penilaian Kesesuaian Lahan Sebagai Dasar Perencanaan DAS: Sebab utama kerusakan DAS adalah bentuk ketidakcocokan penggunaan lahan dan penggunaan praktek pengelolaan tanah yang tidak sesuai. Penggunaan lahan yang tidak sesuai secara biofisik berarti tidak berdasar pada prinsip

keberlanjutan. Praktek pegelolaan lahan yang tidak sesuai dengan acuan penggunaan lahan secara berkelanjutan perlu ditangani dengan tepat. Sebagai contoh: kesalahan mengadopsi pelaksanaan konservasi tanah pada lahan yang berlereng, perpindahan pengisian kembali gizi tanah dalam produksi panen menggunakan praktek penebangan kayu yang merusak atau pengelolaan irigasi yang buruk, c. Ketentuan Teknologi yang Tepat untuk Pengguna Sumber DAS di On Site: Bagian strategi ini adalah penggunaan teknologi yang tepat dengan keikutsertaan masyarakat setempat yang sesuai dengan kondisi ekonomi, sosial dan budaya dari masyarakat yang terlibat, d. Membangun Teknik Konservasi untuk para Petani yang Sebenarnya: Bagian strategi ini adalah pengakuan dan pelaksanaan praktek pengelolaan sumber DAS yang sederhana bagi masyarakat tradisional di hulu, e. Pendokumentasian Teknologi Pengelolaan Sumber-sumber DAS dan Pendekatannya: Bagian strategi ini adalah membuat teknologi dan pendokumentasian menggunakan pendekatan database dengan informasi sistem DAS secara nasional untuk kemudahan mencari akses sumber informasi alternatif konservasi pertanian di hulu/ teknologi pengelolaan hutan berkelanjutan dan pembuatan pendekatan tersebut dilakukan untuk keberhasilan di dalam usaha perbaikan pengelolaan sumber DAS, f. Pembatasan Reforestation sebagai Satu-Satunya Alat Pengukur Rehabilitasi DAS: Bagian strategi ini adalah menyelidiki lebih lanjut alternatif konservasi yang efektif seperti pendekatan penanaman pada saat ini terhadap penggundulan hutan di DAS, g. Mengatur Kebutuhan Air untuk Pengguna di Hilir: Bagian kunci ini adalah mengatur kebutuhan air untuk pengguna di hilir melalui adopsi praktek perbaikan konservasi air, h. Petunjuk Pengelolaan DAS: Bagian kunci ini adalah penyediaan sumber alam dalam mempersiapkan petunjuk pada saat ini dan updating yang lama serta petunjuk teknis perbaikan pengelolaan sumber DAS, i. Indikasi Pengelolan DAS yang Berlanjut: Bagian kunci ini adalah membuat dan menggunakan indikator sederhana agar dapat diadopsi oleh situasi setempat untuk memonitoring tuntutan campur tangan pengelolaan secara khusus dan mengamati kecenderungan kondisi kerusakan suatu DAS, j. Berusaha Memperoleh Keuntungan Secara Sosial Ekonomi: Bagian kunci ini adalah membuat dan menggunakan alat-alat monitoring sederhana dalam memperoleh keuntungan secara sosial ekonomi untuk memperbaiki biaya pengelolaan sumber DAS dan menggamati kecenderungan terjadinya pengurangan kemiskinan diantara masyarakat akibat kegiatan tersebut,

k. Partisipasi dalam Monotoring dan Evaluasi: Bagian kunci ini adalah melibatkan semua steakholder dalam partisipasi monotoring dan evaluasi pengaruh kegiatan perbaikan pengelolaan sumber-sumber DAS, l. Perbaikan Akses ke Pasar: Bagian kunci ini adalah menyediakan sumber-sumber ke pasar berdasarkan mekanisme mendorong investasi perorangan dalam memproduksi dan menggunakan sumber-sumber DAS yang berkelanjutan. Nilai tambah produksi pertanian di hulu/hutan dalam mendorong proses kemampuan setempat untuk mendukung pembentukan hutan industri berkala kecil-sedang sebagai alat pendorong investasi perseorang pemilik kecil tanaman pohon dalam komunitas berdasarkan kesepakatan pengelolaan hutan dan daerah pertentangan dan bahan yang dibuang, m. Tingkat Keterlibatan Pengelolaan secara Tepat: Bagian kunci ini adalah keterlibatan teknis yang khusus diplot pada tingkat sub-DAS dan DAS, sementara perencanaan pada DAS besar dan tingkat basin sungai harus dipusatkan pada pembangunan sektoral secara luas dan pembagian daerah penggunaan lahan. V. TEKNOLOGI KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM SUATU DAS Teknologi konservasi tanah dan air suatu DAS merupakan suatu alat (tool) yang digunakan untuk kegiatan pelaksanaan DAS dalam mencapai produksi yang seoptimal mungkin secara berkelanjutan tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti seperti: banjir, erosi dan penghilangan nutrisi tanah untuk tanaman. Pengunaan teknologi tidak saja dilakukan pada on-farm (arable land) juga pada Off-Farm dan hutan (Non-arable Land) sebagai sumber utama keberadaan air. Ada beberapa cara atau model yang digunakan, namun keberhasilan pengelolaan tetap pada manusianya sendiri dalam melaksanakan dan memelihara teknologi tersebut, yaitu perlunya pertisipasi aktif dari seluruh pengambilan keputusan. 1. Pada On-farm (Arable land) dengan menggunakan: Terasering (teras guludan, teras bangku dsbnya); penutup lahan (mulsa, cover crop dsbnya); Barier Vegetasi (akar wangi, dsbnya); Strip Cropping; Agroforestry, 2. Pada Off-farm menggunakan: Check Dam; grassed and Permanent Waterways; Bangunan Pengontrol Gully, 3. Pada hutan (Non-Aramble Land) menggunakan: Silvipastoral; re-forestry; Buffer Zone (Reparian). AGROFORESTRY (WANATANI). Menurut I. Nyoman Yuliarsana (Dehutbun), wanatani adalah sistim pemanfaatan atau penggunaan lahan dimana pohon-pohon dan semak-semak tumbuh dan ditanam berinterahsi dan/atau bersinergi secara ekologis dan ekonomis dengan tanaman pertanian, pakan ternak/ikan yang dilakukan oleh para

petani dengan tempat dan waktu/musim yang berbeda. Sebenarnya sistim ini sudah dilakukan oleh para petani sejak dulu kala dan secara ilmiah nama ini diperkenalkan pada tahun 1977 oleh ICRAF. Menurut ICRAF, agroforestry adalah a collective word for all land use practices dan systems in which woody perennials are deliberately grown on the same management unit as annual crops and/or animals . Sedang menurut buku Kumpulan Informasi mengenai Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia (1997), wanatani adalah usaha penanaman dan pengelolaan pepohonan bersama dengan tanaman pertanian dan/atau ternak yang secara ekologis, sosial, dan ekonomis dapat berkelanjutan. Atau dengan lebih sederhana: wanatani adalah: usaha meningkatkan produksi/pendapatan petani; peningkatan pemerataan perolehan manfaat; pengelolaan lahan kering secara berkelanjutan. INVENTARISASI TEKNIK PENGHIJAUAN

Penghijauan diarahkan pada terbentuknya tegakan hutan dan pemulihan lahan untuk usahatani konservasi. Pemilihan jenis tanaman dan teknologi penghijauan diarahkan pada masyarakat dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang benar, sesuai dan tepat sasaran. Penghijauan pada tanah milik diserahkan sepenuhnya kepada pemilik lahan, dimana dalam pelaksanaannya didampingi oleh pemerintah pusat/daerah, LSM dan pihak terkait lainnya. Teknologi penghijauan yang berskala besar selama ini masih banyak mengadopsi teknologi berbiaya tinggi yang dikembangkan oleh proyek Solo pada tahun 1970 (Work Bank, 1993). Metoda konservasi tanah yang menjadi unggulan adalah penterasan lahan. Teras bangku yang dibangun pada lokasi yang tepat dengan persyaratan teknis merupakan salah satu metoda efektif untuk mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Permasalahan akhir yang timbul adalah pemeliharaan teras setelah proyek berakhir. Berbagai proyek konservasi tanah berskala besar di Jawa seperti: Proyek Citanduy II (Harper, 1988), Upland Agriculture and Conservation Proyect/UACP (Huszar & Pasaribu, 1994), Land Rehabilitation and Agroforestry Development (Anonymous, 1990), melaporkan bahwa pemeliharaan terus merosot drastis setelah proyek selesai, karena subsidi berakhir dan masyarakat tidak mampu membiayai pemeliharaan tsb. Investasi besar tsb ternyata tidak memberikan dampak positip kepada masyarakat banyak. VI. MONITORING DAN EVALUASI BIOFISIK DAS Komponen biofisik DAS merupakan suatu sistim alami yang menjadi wadah tempat berlangsungnya proses-proses biofisik hidrologis maupun kegiatan sosial-ekonomi masyarakat. Proses fisik hidrologis DAS merupakan proses alami suatu bagian dari daur hidrologi, sedang kegiatan sosial-ekonomi masyarakat lebih merupakan intervensi manusia terhadap sistim alami DAS, yaitu berupa pengembangan kawasan budidaya dalam lahan DAS yang tidak terkendali seringkali menyebabkan kerugian, yaitu berupa peningkatan erosi dan sedimentasi, turunnya produktivitas lahan dan kerusakan lahan. Hasil akhir perubahan ini tidak hanya nyata secara fisik berupa meluasnya lahan

kritis dengan daya dukung yang merosost, akan tetapi juga secara ekonomi, yaitu semangkin meningkatnya jumlah masyarakat miskin dan hilangnya kesempatan untuk berusaha tani. Kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya pengelolaan secara terpadu. Salah satu faktor utama pengelolaan dari suatu DAS adalah komponen biofisik DAS. Dalam hal ini komponen utama adalah meliputi: iklim dan hidrologi; tanah, erosi dan sedimentasi; tanaman dan penutup lahan. Dalam hal ini menyangkut evaluasi kondisi DAS dalam bentuk perhitungan neraca air dan hasil erosi dan sedimentasi di suatu DAS, yang dilakukan dengan bantuan model-model hidrologi DAS, seperti ANSWERS, TOPMODEL, dan TOPOG, AGNPS, GUEST dll. Ciri dari program pengelolaan DAS pada saat ini adalah pendekatan secara terpadu dengan skala proyek yang relatip besar. Untuk itu program monitoring dan evaluasi umumnya menjadi bagian yang sangat integral dari proyek, walaupun disadari masih banyak hambatan yang dihadapi selama pelaksanaannya sebagaimana yang diuraikan oleh Lai (1992) dengan istilah: misperception or misdirection and poor guidelines. Lai menjelaskan bahwa suatu sistem monitoring dan evaluasi yang efektif harus mencapai hal-hal sbb: a. Menyediakan secara teratur informasi yang up-to-date kepada pengelola mengenai kondisi sumberdaya proyek yang meliputi: penggunaan dana; tenaga kerja; dan material dalam upaya mencapai sasaran proyek, b. Memberikan umpan balik bagi setiap tingkat pengelola mengenai: relevansi; kecukupan; kelayakan; serta uptake dari luaran dan jasa proyek serta saran-saran untuk upaya konservasi, c. Melakukan evaluasi kritis secara berskala terhadap unjuk-kerja proyek dan penilaian ulang terhadap teknik-teknik pelaksanaan serta usulan perbaikan atau perubahan, khususnya bila terjadi kendala, d. Melakukan survei rutin dan khusus, termasuk melengkapi basis data sosial-ekonomi dan parameter biofisik, untuk memperlancar perencanaan operasional dan menyediakan batu-uji bagi evaluasi selanjutnya, e. Memungkinkan dokumentasi dari pengaruh dan dampak proyek, baik yang terencana maupun tidak untuk menilai tingkat keberhasilan proyek menurut kriteria sosial, ekonomi, lingkungan, dan pengelolaan. Dalam hal ini aspek yang dipertimbangkan dalam sistim monitoring dan evaluasi yang diperlukan dalam kegiatan proyek pengelolaan DAS hanya dibatasi terhadap komponen biofisik DAS. Peran dan sistim monitoring dan evaluasi adalah menghubungkan hasil yang dicapai proyek dengan sasaran serta tujuan proyek, dalam hal ini: masukan, saran; pengaruh dan dampak proyek. Teknik evaluasi keberhasilan pengelolaan DAS berdasarkan komponen biofisik DAS dapat didasarkan pada tingkat laju erosi, atau pada konsep perhitungan neraca air dan pemodelan hidrologi.

KOMPONEN BIOFISIK Identifikasi berbagai komponen biofisik DAS merupakan kunci dalam proyek monitoring, yaitu dalam upaya menghimpun informasi yang diperlukan untuk tujuan evaluasi menjamin tercapainya sasaran pengelolaan DAS. Pengumpulan data dilakukan secara berskala dengan memanfaatkan perkembangan teknologi instrumentasi dan komunikasi yang ada, misalnya dengan automatik dan aquistition system, tele-metering, system, ataupun dengan teknik pengindraan jarak jauh, sedang untuk pengolahan dan analisis data penyajian hasil dapat memanfaatkan teknologi sistem informasi geografis (GIS). a. Iklim dan Hidrologi. Parameter-parameter iklim dan hidrologi merupakan parameter masukan-keluaran sistem hidrologi yang umumnya dapat dikendalikan secara langsung. Curah hujan merupakan masukan utama sistem, sedang aliran permukaan air di sungai merupakan keluaran setelah melalui suatu proses diddalam sistem. Kondisi iklim wilayah juga dicirikan oleh parameter suhu dan radiasi sinar matahari yang menentukan tingkat laju evaporasi dan transpirasi, sedang variasi suhu dan radiasi netto suatu permukaan akan ditentukan oleh sifat penutupan permukaan lahan. Karena debit berhubungan langsung dengan komponen biofisik, maka merupakan indikator penting dalam monitoring pengelolaan DAS. b. Tanah, Erosi dan Sedimentasi. Sifat penting dari tanah adalah sifat erodibitasnya, baik secara alami maupun akibat ulah manusia. Akibat pukulan butir hujan dan gaya geser aliran permukaan, tanah dapat tererosi menghasilkan sedimen disuatu tempat. Oleh karena itu, dalam program monitoring perlu dilakukan survei tanah untuk mendapatkan informasi status erodibili, erosi dan sedimentasi tanah. Jadi sedimen juga merupakan salah satu bentuk luaran sistem DAS yang dapat dijadikan indikator untuk menilai kondisi penutupan permukaan DAS. c. Tanaman dan Penutupan Lahan. Tanaman dan penutupan lahan merupakan instrumen utama dan merupakan faktor yang dapat dikendalikan dalam pengelolaan DAS. Jenis tanaman dan sifat penutupannya merupakan faktor penting dalam menentukan keluaran DAS, yaitu berupa debit aliran sungai, air tanah maupun bentuk sedimen. Ada klasifikasi penutupan lahan menurut status produksi dan lingkungan (faktor P) dan nilai faktor pengelolaan tanaman (faktor C) untuk mengetahui tingkat efektifitas tanaman untuk menekan tingkat erosi tanah akibat hujan. Karena itu, dalam suatu program monitoring perlu dicatat dan didokumentasikan secara berkala status tanaman dalam wilayah suatu DAS. EVALUASI EROSI TANAH.

Ada beberapa teknik konservasi untuk menilai efektifitas suatu tindakan konervasi tanah dan air yang lazim dilakukan, seperti metoda empirik-rasional USLE (Universal Soil Loss Equation), didasarkan pada observasi dan eksperimen yang perlu dikalibrasikan dengan kondisi setempat untuk pertama kalinya. Parameter metoda USLE ini adalah: E = R.K.L.S.C.P. Di mana: E = laju erosi tanah (ton/ha/tahun), R = indeks erosiviti hujan, K = indeks eridibiliti tanah, LS = indeks kemiringan lereng dan panjang lereng, C = faktor penutupan lahan, P = faktor tindakan konservasi/pengelolaan. Departemen Kehutanan tahun 1989 telah membuat pedoman tentang evaluasi erosi berdasarkan metoda USLE dengan prosedur secara rinci. Evaluasi laju erosi kemudian didasarkan pada tingkat bahaya erosi yang dikelompokkan menjadi: sanagat ringan bila erosi tanah kurang dari 15 ton/ha/tahun; rinigan bila 16-4- ton/ha/tahun; sedang bila 41-120 ton/ha/tahun; berat bila 121-140 ton/ha/tahun; dan sangat berat bila lebih besar dari 241 ton/ha/tahun. Dari hasil penelitian telah dibuktikan bahwa rumus USLE ini hanya valid pada percobaan plot, sedang untuk memprediksi erosi di on-site dan off.site rumus USLE sangat overestimated karen terjadi oversimplified. Menurut Van Der Poel dan Subagyono (1998), untuk level DAS penggunaan USLE dapat overestimated s/d. 200%, karena pengaruh filter sedimen tidak diperhitungkan. Sedang metoda matematik yang lebih realistik adalah berupa model konseptual/fisik yang mendiskripsikan suatu proses erosi/sedimen berdasarkan teori/hukum-hukum fisik, seperti model GUEST menurut Rose, dengan persamaan:

Dimana: c = konsentrasi sedimen, K = kapasitas tranportasi dari run-off, Q = besarnya run-off efektif, ks = faktor tidak berdimensi (5 15), Cs = penutup tanaman, b = erodibilitas. NERACA AIR.

Konsep neraca air pada lahan merupakan azaz pokok suatu analisis hidrologi daerah aliran sungai, dimana hukum Kekekalan Massa diberlakukan. Perhitungan neraca air lahan harus dilakukan untuk suatu selang waktu tertentu, yaitu harian, mingguan, bulanan dan untuk suatu satuan wilayah tertentu, seperti petak atau suatu DAS. Pemilihan satuan wilayah analisis serta selang waktu akan menentukan kelayakan/keakuratan data yang digunakan. Dari hasil analisis ini dapat diperoleh status kelengasan tanah didalam DAS. Menentukan neraca air untuk suatu petak lahan dapat ditentukan menurut persamaan: CH = ETP + S + RO Di mana: CH ETP S = RO = limpasan permukaan. Konsep neraca air relatip sederhana ini bila diberlakukan untuk suatu sistim DAS akan menyangkut teknik pemodelan hidrologi DAS yang telah berkembang, mengikuti perkembangan teknik komputasi numerik maupun teknologi komputer itu sendiri. GIS SEBAGAI ALAT PENGELOLAAN LAHAN. GIS menyediakan cara untuk menganalisis dan menampilkan secara spasial berdasarkan referensi atribut non-geografi (Johnson, 1990) dalam masalah pengelolaan sumberdaya alam. Informasi Biofisik dan Ekonomi penting untuk menentukan pengelolaan DAS akibat kerusakan lahan GIS, sekarang sudah digunakan secara luas karena dapat digunakan sebagai alat menyatukan data untuk tujuan analisis dan tampilan hasil. Informasi kerusakan lahan, pengelolaan lahan dan atribut biofisik lainnya untuk penelitian suatu daerah, tersedia dalam bentuk data GIS bermacam-macam atribut menggunakan skala 1:25.000. KESIMPULAN Dalam kajian bidang falsafah sains, kegiatan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dinayatakan sbb: 1. Aksiologi (nilai kegunaan ilmu), yaitu bahwa: strategi pengelolaan DAS digunakan agar tujuan Sustainable Watershed Development , dapat tercapai dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada secara berkelanjutan. Dengan mempelajari konsep, kriteria, strategi, pengelolaan suatu kawasan DAS dapat memberi dampak langsung maupun tidak langsung kepada kesejahteraan umat manusia, terutama kepada para petani, yaitu: hasil produksi pertanian/kehutanan secara optimal berkelanjutan; kerusakan lahan yang minimal; kualitas = = perubahan besarrnya evapotranspirasi kelengasan curah hujan, potensial, tanah,

dan kuantitas air yang memenuhi persyaratan, baik pada musim hujan maupun musim kering; memberi kesejahteraan bagi masyarakat; dan melestarikan lingkungan alam/biofisik secara berkelanjutan. 2. Epistomologi (cara mendapatkan pengetahuan yang benar), yaitu bahwa: pengetahuan yang benar secara hakiki sulit diperoleh, namun pengujian lahan, yang benar dalam sering dilakukan dimana mengkaitkan pandangan dan teori pelaksanaan monitoring dan evaluasi geofisik adalah berkaitan dengan fakta berupa penggunaan terutama situasi penggunaan lahan tsb perlu dirubah atau perlu diadopsi. Penggunaan pendekatan DAS dilakukan untuk perencanaan dan pelaksanaan yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan sumberdaya alam yang ada. Dengan melakukan simulasi-simulasi model hidrologi, penutupan lahan dan pola penanaman akan memberikan gambaran dan pilihan dalam melaksanakan keberhasilan tujuan pengelolaan DAS. 3. Ontologi (hakekeat apa yang dikaji), yaitu bahwa tujuan akhir dari pengelolaan DAS adalah: besarnya erosi dan sedimentasi seminimal mungkin; perubahan/peningkatan hasil produksi akibat penggunaan teknologi konservasi tanah dan air dengan melakukan tindakan secara: agronomi, vegetatip, mekanis dan managemen. 4. Hipotesis didalam pengelolaan DAS berkelanjutan adalah: bahwa ciri dan pengelolaan DAS yang baik adalah menghasilkan produktifitas yang tinggi dengan meningkatnya pendapatan; jumlah dan distribusi kualitas dan kuantitas air yang baik; mempunyai sifat lentur dan pemerataan. Dari hasil penelitian dan penyelidikan mengenai presipitasi dan run-off diperoleh bahwa timbulnya banjir bukan akibat penebangan hutan, melainkan bahwa presipitasi yang jatuh ke permukaan tanah secara langsaung akan memperbesar run-off permukaan, sedang presipitasinya sendiri berkurang akibat berkurangnya evapotranspirasi. 5. Program monitoring dan evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proyek pengelolaan DAS, walau disadari bahwa dalam pelaksanaannya masih dijumpai banyak hambatan yang dapat dirumuskan Lai (1992) dengan kalimat misperception or misdirection and poor guidelines. 6. Program monitoring komponen biofisik DAS dapat dikembangkan dengan mengidentifikasikan parameter-parameter berdasarkan: iklim dan hidrologi; tanah, erosi dan sedimentasi; dan tanaman dan penutupan lahan. Parameter-parameter tsb. Dapat bermanfaat untuk program evaluasi pengelolaan DAS dimasa datang. 7. Parameter laju erosi tanah sebagai indikator fisik dapat digunakan sebagai teknik evaluasi komponen biofisik DAS dan untuk itu telah dikembangkan paket program sebagai alat evaluasi dalam perencanaan dan pengelolaan lahan hutan. 8. Model-model hidrologi dalam evaluasi pengelolaan DAS sangat potensial dan bermanfaat untuk memberikan informasi yang meliputi tentang fungsi hidrologi DAS dengan tetap melakukan kajian kasus-kasus di lapangan.

9. Tujuan strategi pengelolaan DAS dapat tercapai bila seluruh steakholder yang terkait mempunyai rasa kebersamaan didalam melaksanakan dan mewujudkan keberhasilan dari tujuan pengelolaan DAS, yaitu kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia secara berkelanjutan dan kelesatarian lingkungan. DAFTAR PUSTAKA 1. A. Abdulrachman, S. Sukmana, and J.H. French, A Framework for Compilation of Applied Research Information on Hillslope: Farming, Conservation Policies for Sustainable Hillslope Farming, 1992. 2. Hidayat Pawitan dan Daniel Murdiyarso, Monitoring dan Evaluasi Komponen Biofisik DAS, Lokakarya Pembahasan Hasil Penelitian dan Analisis Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Garut, 20-24 November 1995. 3. Norman W. Hudson, A Study of The Reasons for Success or Failure of Soil Conservation Proyect, Soil Resources, Management and Conservation Service, FAO Land and Water Development Division, Silsoe Agricukture Assosiates ampthill Bellford United Kingdom FAO Soils Bulletin 64, 1991. 4. I. Nyoman Yuliarsana, Agroforestry Dalam Pengelolaan DAS, Agenda dan Strategi Studi dan Penelitian, Bahan Kuliah Pascasarjana IPB, Program Studi Pengelolaan DAS, 2000. 5. Tarigan S.D., Bahan Kuliah Teknologi Pengelolaan DAS, Pascasarjana, IPB, 2000. 6. The WRDP-WMIC Studi Team, The Philippines Strategy for Improved Watershed Resources Management, Forest Management Bureau Departement of Environmental and Natural Resources, Agust, 1998. 7. , Pengelolaan Sumberdaya Lahan Kering di Indonesia, Kumpulan Informasi, Bogor, April, 1997. 8. Peter E. Black, Watershed Hidrology, State University of New York, College of Environmental Science and Forestry, Syracuse, New York, Second Edition. 9. State Ministry for Environment Republic of Indonesia & United Nations Development Programme, AGENDA 21-INDONESIA, A Nasional Strategy for Sustainable Development. 10. S.C. Walpole, Integration of Economic and Biophysical Information to Assess The Site-specific Profitability of Land Management Programmes Using a Geographic Information Systems, New South Wales, Australia.

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SEBAGAI SATUAN UNIT PERENCANAAN PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING BERKELANJUTAN

Oleh : Sitti Marwah, A 236010011, E-mail: marwah_dj@yahoo.com Sumber: http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/03112/sitti_marwah.htm 2001 Sitti Marwah Posted: 16 November 2001 [rudyct] ; Makalah Falsafah Sains (PPs 702), Program Pasca Sarjana / S3, Institut Pertanian Bogor, November 2001, Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab) PENDAHULUAN Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). Oleh karena itu, pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan yang pada dasarnya merupakan usaha-usaha penggunaan sumberdaya alam disuatu DAS secara rasional untuk mencapai tujuan produksi pertanian yang optimum dalam waktu yang tidak terbatas (lestari), disertai dengan upaya untuk menekan kerusakan seminimum mungkin sehingga distribusi aliran merata sepanjang tahun. Dari definisi di atas, maka dapat dikemukakan bahwa DAS merupakan ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan di dalamnya terdapat keseimbangan inflow dan outflow dari material dan energi. Ekosistem DAS, terutama DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air, oleh karenanya perencanaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Aktivitas perubahan tataguna lahan dan atau pembuatan bangunan konservasi yang dilaksanakan di daerah hulu dapat memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air dan transport sedimen serta material terlarut lainnnya atau non-point pollution. Adanya bentuk keterkaitan daerah hulu hilir seperti tersebut di atas maka kondisi suatu DAS dapat digunakan sebagai satuan unit perencanaan sumberdaya alam termasuk pembangunan pertanian berkelanjutan. Pentingnya posisi DAS sebagai unit perencanaan yang utuh merupakan konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah, dan air. Dalam dekade terakhir ini permintaan akan sumberdaya tersebut meningkat sangat tajam yang pada kondisi tertentu menimbulkan dampak negatif bagi pembangunan pertanian berkelanjutan. Meningkatnya kebutuhan terutama dalam konteks kepentingan pemenuhan kebutuhan penduduk yang sangat besar (+ 216 juta pada tahun 2000), sangat berdampak kepada pola tekanan terhadap sumberdaya hutan, tanah, dan air yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain (Pasaribu, 1999). DAS SEBAGAI SATUAN UNIT PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA

Keberadaan DAS secara yuridis formal tertuang dalam peraturan pemerintah No. 33 tahun 1970 tentang perencanaan hutan. Dalam peraturan pemerintah ini DAS dibatasi sebagai suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsi untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya, penyimpanannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut. Pengelolaan DAS tidak selalu memberikan penyelesaian yang menyeluruh atas konflik-konflik yang timbul sebagai konsekuensi percepatan pertumbuhan ekonomi dengan usaha-usaha perlindungan lingkungan. Akan tetapi dapat memberikan suatu kerangka kerja yang praktis dan logis serta menunjukkan mekanisme kerja yang jelas untuk penyelesaian permasalahan-permasalahan kompleks yang timbul oleh adanya kegiatan pembangunan yang menggunakan sumberdaya alam sebagai input. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan DAS akan bertumpu pada aktivitas-aktivitas yang berdimensi biofisik seperti pengendalian erosi, penghutanan kembali lahan-lahan kritis, pengelolaan lahan pertanian konservatif, serta berdimensi kelembagaan seperti insentif dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bidang ekonomi. Dimensi sosial dalam pengelolaan DAS lebih diarahkan pada pemahaman kondisi sosial-budaya setempat dan menggunakan kondisi tersebut sebagai petimbangan untuk merencanakan strategi aktivitas pengelolaan DAS yang berdaya guna tinggi serta efektif. Keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut masih dalam kerangka kerja yang mengarah pada usahausaha tercapainya keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dengan kemampuan sumberdaya alam untuk mendukung kebutuhan manusia tersebut secara lestari. Peran daerah hulu dalam menjamin kelangsungan ekonomi sumberdaya dan konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity) secara telaahan sistem hidrologi dan ekologi tidak dapat diabaikan. Dengan pertimbangan tersebut, maka menurut Pasaribu (1999), DAS dapat dimanfaatkan secara penuh dan pengembangan ekosistem daerah hulu dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah preservasi (preservation), reservasi (reservation), dan konservasi (conservation). Dengan demikian menunjukkan bahwa daerah hulu dan hilir suatu DAS mempunyai keterkaitan biofisik yang direpresentasikan oleh daur hidrologi dan daur unsur hara. Adanya keterkaitan biofisik tersebut, DAS dapat dimanfaatkan sebagai satuan perencanaan dan evaluasi yang logis terhadap pelaksanaan program-pogram pengelolaan DAS. Berdasarkan rumusan yang dihasilkan dari lokakarya Pengelolaan DAS yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tahun 1995, maka ada 3 hal yang dianggap penting untuk diperhatikan dalam upaya pengelolaan DAS, yaitu : 1. Bahwa pengelolaan DAS merupakan bagian penting dari kegiatan pembangunan di Indonesia, khususnya dalam rangka pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah, dan air, sehubungan dengan perlindungan lingkungan. 2. Pada dasarnya pengelolaan DAS bersifat multidisiplin dan lintas sektoral sehingga keterpaduan (integrated) mutlak diperlukan agar diperoleh hasil yang maksimal. 3. Dalam pelaksanaan sistem perencanaan pengelolaan DAS terpadu, perlu diterapkan azas Integrated Watershed Management Plan. Untuk itu dalam setiap rencana pemanfaatan DAS

seharusnya diformulasikan dalam bentuk paket perencanaan terpadu dengan memperhatikan kejelasan keterkaitan antar sektor pada tingkat kesinambungannya. IMPLIKASI PELAKSANAAN KONSEP PERENCANAAN DAS Dalam menjabarkan konseptual perencanaan dan pengelolaan DAS pada prinsipnya sama aplikasinya untuk setiap unit DAS, namun demikian secara substansi dan strateginya, bentuk-bentuk DAS harus dipelajari dengan seksama. Hal ini perlu dilakukan karena bentuk DAS merupakan refleksi kondisi biofisik dan merupakan wujud dari proses alamiah yang ada. Implikasi dari perencanaan dan pengelolaan DAS sebagai suatu sistem hidrologi dan sistem produksi adalah peluang terjadinya konflik kepentingan antar institusi terhadap pengelolaan komponenen-komponen sistem DAS. Secara umum masalah yang timbul dalam perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan DAS adalah pentingnya jaminan ketersediaan air baik kuantitas, kualitas dan distribusi yang merata sepanjang tahun. Secara institusional, kepentingan DAS digunakan sebagai unit perencanaan berada pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan dan Menteri Negara Pekerjaan Umum, namun orientasi kebijaksanaan terutama kebijakan operasionalnya masih sangat berbeda. Oleh karena itu operasionalisasi konsep DAS sebagai satuan unit perencanaan dihubungkan dengan pembangunan pertanian dalam arti luas saat ini hanya terbatas pada upaya rehabilitasi dan konservasi tanah dan air serta organisasi yang bersifat ad hoc dan sampai saat ini, kelembagaan yang utuh tentang pengelolaan DAS belum terpola. Sasaran konservasi tanah dan air diarahkan pada kawasan budidaya (pertanian) karena secara potensial proses degradasi lebih banyak terjadi pada kawasan ini. Untuk itu agar proses terpeliharanya sumberdaya tanah (lahan) akan terjamin maka setiap kawasan pertanian atau budidaya tersedia kelas-kelas kemampuan dan kelas kesesuaian lahan. Dengan tersedianya kelas kemampuan dan kelas kesesuaian ini, pemanfaatan lahan yang melebihi kemampuannya dan tidak sesuai jenis penggunaannya dapat dihindari. PEMBANGUNAN PERTANIAN LAHAN KERING BERKELANJUTAN Usahatani Lahan Kering Indonesia mempunyai asset nasional berupa pertanian lahan kering sekitar 111,4 juta ha atau 58,5% dari luas seluruh daratan (Notohadiprawiro, 1989). Pertanian lahan kering mempunyai kondisi fisik dan potensi lahan sangat beragam dengan kondisi sosial ekonomi petani umumnya kurang mampu dengan sumberdaya lahan pertanian terbatas. Selanjutnya Sudharto et al. (1995 dalam Syam et al. 1996) mengemukakan bahwa lahan kering merupakan sumberdaya pertanian terbesar ditinjau dari segi luasnya, namun profil usahatani pada agroekosistem ini sebahagian masih diwarnai oleh rendahnya produksi yang berkaitan erat dengan rendahnya produktivitas lahan. Di beberapa daerah telah terjadi degradasi lahan karena kurang cermatnya pengelolaan konvensional dan menyebabkan petani tidak mampu meningkatkan pendapatannya. Berdasarkan kendala-kendala tersebut, maka untuk menjamin produksi pertanian yang cukup tinggi secara berkelanjutan diperlukan suatu konsep regional/wilayah dan nasional serta

yang aktual dan perencanaan yang tepat untuk memanfaatkan sumberdaya lahan khususnya lahan kering. Pengembangan pertanian lahan kering di daerah hulu DAS, saat ini mendapat perhatian yang cukup serius. Besarnya perhatian ini tidak hanya menyangkut keberlanjutan usahatani di daerah tersebut tetapi juga dampak hidrologisnya di daerah hilir, terutama pula adanya ketidak seimbangan pembangunan dan invenstasi antara lahan kering di daerah hulu dan di daerah hilir. Usahatani lahan kering, dalam keadaan alamiah memiliki berbagai kondisi yang menghambat pengembangannya antara lain; keterbatasan air, kesusburan tanah yang rendah, peka terhadap erosi, topografi bergelombang sampai berbukit, produktivitas lahan rendah, dan ketersediaan sarana yang kurang memadai serta sulit dalam memasarkan hasil (Haridjaja, 1990). Oleh karena itu, Sinukaban (1995) menegaskan bahwa di dalam pengelolaan lahan tersebut hendaknya mencakup lima unsur yaitu : (1) perencanaan penggunaan lahan sesuai dengan kemampuannya, (2) tindakan-tindakan khusus konservasi tanah dan air, (3) menyiapkan tanah dalam keadaan olah yang baik, dan (5) menyediakan unsur hara yang cukup dan seimbang bagi tumbuhan. Pertanian Berkelanjutan Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang dirancang secara sistematis menggunakan akal sehat dan usaha keras yang berkesinambungan sehingga pertanian itu sangat poduktif secara terus menerus, merupakan habitat tenaga kerja yang baik untuk jumlah yang besar dan meupakan suatu usaha yang menguntungkan. Dengan demikian, pertanian semacam ini akan menghasilkan produksi pertanian yang cukup tinggi dan memberikan penghasilan yang layak bagi petani secara berkelanjutan, sehingga mereka dapat merancang masa depannya sendiri. Disamping itu, juga harus menghasilkan spektrum produksi yang luas sehingga dapat menyediakan bahan baku berbagai agroindustri dan produk-produk eksport secara lestari. Selanjutnya akan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dengan pendapatan yang cukup tinggi, dengan demikian daerah pertanian ini akan menjadi penyerap hasil-hasil industri (Sinukaban, 1995). Produksi pertanian yang cukup tinggi dapat dipertahankan secara terus menerus apabila erosi lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan. Hal ini dapat dicapai, jika petani menerapkan sistem pertanian dan pengelolaannya sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Dengan demikian diperlukan penerapan teknologi berupa penerapan sistem usahatani konservasi untuk membangun pertanian menjadi industri yang lestari berdasarkan pengembangan sistem pengelolaan lahan dan tanaman yang ekonomis dalam jangka pendek dan dapat mempertahankan produktivitas lahan yang cukup tinggi dalam waktu yang tidak terbatas. Untuk itu menurut Sinukaban (1995), dalam sistem usahatani konservasi akan diwujudkan ciri-ciri sebagai berikut :

Produksi usahatani cukup tinggi sehingga petani tetap bergairah melanjutkan usahanya Pendapatan petani yang cukup tinggi sehingga petani dapat mendisain masa depan keluarganya dari pendapatan usahataninya.

Teknologi yang diterapkan baik teknologi produksi maupun teknologi konservasi dapat diterima dengan senang hati dan diterapkan sesuai kemampuan petani sendiri sehingga sistem usahatani tersebut dapat diteruskan tanpa intervensi dari luar.

Komoditi yang diusahakan cukup beragam, sesuai kondisi biofisik, sosial dan ekonomi Erosi lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan sehingga produksi yang tinggi tetap dapat dipertahankan atau ditingkatkan dengan fungsi hidrologis tetap terpelihara dengan baik. Sistem penguasaan/pemilikan lahan dapat menjamin keamanan investasi jangka panjang dan menggairahkan petani untuk tetap berusahatani.

Perencanaan penggunaan lahan pada dasarnya adalah inventarisasi dan penilaian keadaan, potensi sumberdaya dan faktor-faktor pembatas dari suatu daerah. Dengan permasalahan yang lebih kompleks di dalam sistem usahatani lahan kering maka teknologi yang diperlukan tidak dapat diperlakukan sama pada semua tempat, melainkan dibutuhkan pendekatan yang lebih terencana sesuai kondisi biofisik dan sosial ekonomi setempat. Aspek teknologi yang perlu dipertimbangkan adalah teknologi konservasi tanah dan air (ketersediaan teknologi dan tingkat adopsi) serta teknologi pemantauan kegiatan pengelolaan lahan termasuk pengawasan terhadap perubahan penggunaan lahan. Mengingat fungsi lahan yang demikian penting, maka berbagai upaya dilakukan agar penggunaan lahan sesuai dengan kemampuannya. Kemampuan lahan untuk mendukung pertumbuhan tanaman atau menghasilkan barang/jasa dapat menurun akibat kerusakan tanah oleh berbagai proses antara lain : kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, proses salinisasi, terakumulasi unsur atau senyawa yang beracun bagi tanaman, penjenuhan tanah oleh air, dan erosi. Oleh karena itu dalam pengelolaan pertanian lahan kering agar diperoleh produksi yang tinggi dan berkelanjutan maka perlu dilakukan langkah-langkah perencanaan sebagai berikut : (1) Mengkaji kemampuan lahan di wilayah DAS melalui studi klasifikasi kemampuan lahan; (2) Melakukan prediksi erosi, (3) Melakukan analisis kelembagaan sosial ekonomi dan (4) Melakukan evaluasi penggunaan lahan. Klasifikasi Kemampuan Lahan Klasifikasi kemampuan lahan adalah suatu cara penilaian lahan (komponen-komponen lahan) secara sistematik dan mengelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan sifat-sifat potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara lestari (Arsyad, 1989). Sistem klasifikasi kemampuan lahan (land capability) yang dikembangkan oleh USDA (Klingebiel & Montgomery, 1973) sampai saat ini masih digunakan di banyak negara. Dalam sistem ini dikenal tiga kategori klasifikasi yaitu: kelas, subkelas, dan unit pengelolaan. Penggolongan ke dalam tiga kategori tersebut berdasarkan atas kemampuan lahan untuk produksi pertanian secara umum tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang. Pada tingkat kelas kemampuan lahan menunjukkan kesamaan besarnya faktor-faktor penghambat. Tanah dikelompokkan ke dalam kelas I VIII, dimana semakin tinggi kelasnya berarti resiko kerusakan dan besarnya faktor penghambat bertambah besar. Tanah kelas I IV merupakan lahan yang sesuai untuk usaha pertanian, dan kelas V VIII tidak sesuai untuk usaha pertanian atau

diperlukan biaya yang sangat tinggi untuk pengelolaannya. Secara skematik penggunaan lahan secara umum sesuai dengan kelas kemampuan lahan ditunjukkan pada gambar berikut :

Faktor-faktor yang digunakan dalam kriteria klasifikasi meliputi : tekstur (t), lereng permukaan (l), drainase (d), kedalaman efektif (k), keadaan erosi (e), kerikil/batuan dan bahaya banjir (b). Kriteria intensitas faktor-faktor tersebut disajikan pada tabel berikut :

Prediksi Erosi Di daerah beriklim basah seperti Indonesia, kerusakan lahan oleh erosi terutama disebabkan oleh hanyutnya tanah terbawa oleh air hujan. Erosi oleh air sangat membahayakan tanah-tanah pertanian, terutama di daerah yang berkemiringan terjal. Selain iklim dan kemiringan lahan (topografi), besarnya erosi dipengaruhi pula oleh faktor-faktor vegetasi, pengolahan tanah dan manusia. Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tersebut dapat dinyatakan suatu persamaan deskriptif (Arsyad, 1989) sebagai berikut : E = f (C, T, V, S, H) Dimana C = climate, T = topografi, V = vegetation, S = soil, H = human

Di antara kelima faktor di atas, faktor manusia paling menentukan apakah tanah yang diusahakan akan rusak dan tidak produktif atau menjadi baik dan produktif secara lestari. Dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian yang berkelanjutan, maka erosi yang terjadi perlu dikendalikan sampai suatu tingkat yang lebih rendah dari pada erosi yang dapat ditoleransikan (tolerable erosion). Dengan demikian akan tercipta suatu keadaan tanah yang mampu memelihara pertumbuhan tanaman dengan produktivitas yang tinggi secaa lestari (Wischmeier dan Smith, 1978). Secara umum ada 3 cara yang dapat digunakan untuk menetapkan nilai tolerable erosion suatu lahan, yaitu : (1) Metode Hammer (1981), yang menggunakan konsep kedalaman ekivalen (equivalent depth) dan umur guna tanah (resources life); (2) Metode Thompson (1957, dalam Arsyad, 1989) yang menggunakan nilai dari pengkajian berbagai sifat dan stratum tanah; (3) Pedoman nilai tolerable erosion yang dibuat oleh Arsyad khusus tanah-tanah di Indonesia yang didasarkan pada kriteria sifat dan stratum tanah. Kelembagaan Sosial Ekonomi Secara ringkas permasalahan utama dalam pengelolaan DAS dan konservasi tanah berkaitan dengan masalah kelembagaan berupa : (1) perbedaan sistem nilai (value) masyarakat berkenaan dengan kelangkaan sumberdaya, sehingga penanganan persoalan di Jawa berbeda dengan di luar Jawa, (2) orientasi ekonomi yang kuat tidak diimbangi komitmen terhadap perlindungan fungsi lingkungan yang berimplikasi pada munculnya persoalan dalam implementasi tata ruang, (3) persoalan laten berkaitan dengan masalah agraria dan (4) kekosongan lembaga/instansi pengontrol pelaksanaan program. Menurut Asdak, (1999), dalam keterkaitan biofisik wilayah hulu-hilir suatu DAS, hal-hal tersebut di bawah ini perlu menjadi perhatian :

Kelembagaan yang efektif seharusnya mampu merefleksikan keterkaitan lingkungan biofisik dan sosek dimana lembaga tersebut beroperasi. Apabila aktivitas pengelolaan di bagian hulu DAS akan menimbulkan dampak yang nyata pada lingkungan biofisik dan/atau sosek di bagian hilir dari DAS yang sama, maka perlu adanya desentralisasi pengelolaan DAS yang melibatkan bagian hulu dan hilir sebagai satu kesatuan perencanaan dan pengelolaan.

Externalities, adalah dampak (positif/negatif) suatu aktivitas/program dan/atau kebijakan yang dialami/dirasakan di luar daerah dimana program/kebijakan dilaksanakan. Dampak tersebut seringkali tidak terinternalisir dalam perencanaan kegiatan. Dapat dikemukakan bahwa negative externalities dapat mengganggu tercapainya keberlanjutan pengelolaan DAS bagi : (1) mayarakat di luar wilayah kegiatan (spatial externalities), (2) masyarakat yang tinggal pada periode waktu tertentu setelah kegiatan berakhir (temporal externalities ), dan (3) kepentingan berbagai sektor ekonomi yang berada di luar lokasi kegiatan (sectoral externalities).

Menyadari adanya hal yang bersifat externalities tersebut maka pengelolaan sumberdaya alam dapat dikatakan baik apabila keseluruhan biaya dan keuntungan yang timbul oleh adanya kegiatan pengelolaan tersebut dapat ditanggung secara proporsional oleh para aktor (organisasi pemerintah, kelompok masyarakat atau perorangan) yang melaksanakan kegiatan

pengelolaan sumberdaya alam (DAS) dan para aktor yang akan mendapatkan keuntungan dari adanya kegiatan tersebut. Peran strategis DAS sebagai unit perencanaan dan pengelolaan sumberdaya semakin nyata pada saat DAS tidak dapat berfungsi optimal sebagai media pengatur tata air dan penjamin kualitas air yang dicerminkan dengan terjadinya banjir, kekeringan dan tingkat sedimentasi yang tinggi. Dalam prosesnya, maka kejadian-kejaadian tersebut merupakan fenomena yang timbul sebagai akibat dari terganggunya fungsi DAS sebagai satu kesatuan sistem hidrologi yang melibatkan kompleksitas proses yang berlaku pada DAS. Salah satu indikator dominan yang menyebabkan terganggunya fungsi hidrologi DAS adalah terbentuknya lahan kritis. Dari hasil inventarisasi lahan kritis menunjukkan bahwa terdapat + 14,4 juta Ha di luar kawasan hutan dan + 8,3 juta Ha di dalam kawasan hutan (Pasaribu, 1999). Prosedure perencanaan pengelolaan/pembangunan pertanian secara teknis dapat digambarkan sebagai berikut : KESIMPULAN 1. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai adalah suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan, dimana daerah bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Oleh karena itu perubahan penggunaan lahan di daerah hulu memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk fluktuasi debit air, kualitas air dan transport sedimen serta bahan-bahan terlarut di dalamnya. 2. Perencanaan dan pengelolaan DAS merupakan aktivitas yang berdimensi biofisik (seperti, pengendalian erosi, pencegahan dan penanggulangan lahan-lahan kritis, dan pengelolaan pertanian konservatif); berdimensi kelembagaan (seperti, insentif dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bidang ekonomi); dan berdimensi sosial yang lebih diarahkan pada kondisi sosial budaya setempat untuk menjadi pertimbangan di dalam perencanaan suatu aktivitas/teknologi pengelolaan Daerah Aliran Sungai sebagai satuan unit perencanaan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. 3. Operasionalisai konsep DAS sebagai satuan unit perencanaan dalam pembangunan pertanian masih terbatas pada upaya rehabilitasi dan konservasi tanah dan air, sedangkan organisasi masih bersifat ad.hoc, dan kelembagaan yang utuh tentang pengelolaan DAS belum terpola. 4. Pembangunan pertanian lahan kering melalui pendekatan DAS, agar dapat menjamin keberlanjutan maka hendaknya perencanaan penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahannya, erosi yang dihasilkan lebih kecil dari erosi yang dapat ditoleransikan, teknologi pengelolaan harus dapat dilakukan oleh petani tanpa intervensi dari pihak luar, produksi yang cukup tinggi, dan pendapatan petani yang layak. 5. Dalam perencanaan pembangunan pertanian lahan kering yang berkelanjutan perlu dilakukan langkah-langkah perencanaan sebagai berikut : mengkaji kelas kemampuan lahan melalui

studi klasifikasi kemampuan lahan, menelaah potensi erosi, melakukan analisis kelembagaan sosial ekonomi setempat dan evaluasi kesesuaian penggunaan lahan. REFERENSI Asdak, C. 1999. Das sebagai Satuan Monitoring dan Evaluasi Lingkungan (air sebagai indikator sentral). Seminar Sehari PERSAKI Daerah Aliran Sungai sebagai Satuan Perencanaan Terpadu Dalam Pengelolaan Sumberdaya Air. 21 Desember 1999. Jakarta. Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB (IPB Press). Bogor. Haridjaja, O. 1990. Pengembangan Pola Usahatani Campuran pada Lahan kering yang Berwawasan Lingkungan di Kabupaten Sukabumi. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. Klingebiel, A. A. And P. M. Montgomery. 1973. Land Capability Classivication Agric. Handbook. No. 210, USDA-SES. 21h. Notohadiprawiro. 1989. Pertanian Lahan Kering di Indonesia : Potensi Prospek, Kendala dan Pengembangannya. Makalah Lokakarya Evaluasi Pelaksanaan Proyek Pengembangan Palawija SFCDPUSAID Bogor. 6-8 Desember 1989. 19 h. Pasaribu, H. S. 1999. DAS sebagai Satuan Perencanaan Terpadu Dalam Kaitannya dengan Pengembangan Wilayah dan Pengembangan Sektoral Berbasiskan Konservasi Tanah dan Air. Seminar Sehari PERSAKI DAS sebagai Satuan Perencanaan Terpadu dalam Pengelolaan Sumberdaya Air. 21 Desember 1999. Jakarta. Sinukaban, N. 1995. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Bahan Kuliah pada Program Pascasarjana, IPB, Bogor. Syam, A., K. Kariyasa, E. Sujitno dan Z. Zaini. 1996. Prosiding Lokakarya Evaluasi Hasil Penelitian Usahatani Lahan Kering, 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor. Wischmeier, W. H. and D. D. Smith. 1978. Predicting Rainfall Erosion Losses. US. Dept. Agric. Handbook. No. 537.

AIR SEBAGAI INDIKATOR PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN (Studi Kasus: Pendekatan Daerah Aliran Sungai)
Oleh: Andi Rahmadi, A236010031 / DAS, E-mail: rahmadi@tisda.org

Sumber: http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/04212/andi_rahmadi.htm 2002 Andi Rahmadi Posted 25 May 2002; Makalah Pengantar Falsafah Sains (PPS702); Program Pasca Sarjana / S3 Program Studi DAS, Instutut Pertanian Bogor, Mei 2002; Dosen : Prof Dr. Ir. Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab) Abstrak Pembangunan di Indonesia secara umum diterjemahkan dalam kegiatan proyek dimana dapat didanai oleh pemerintah, swasta atau bantuan/ pinjaman luar negeri. Pada setiap pelaksanaan pekerjaan umumnya telah pula terdapat mekanisme tersendiri untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa monitoring dan evaluasi belum dilakukan dan sejalan dengan tujuan pembangunan nasional yaitu lestari berkelanjutan. Dalam tulisan ini diuraikan pendekatan perencanaan dan analisis pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), dimana mempunyai keuntungan pendekatan yang holistik dengan menggunakan komponen integrator tata air. Selanjutnya diuraikan tata air digunakan sebagai indikator pembangunan berkelanjutan. Dengan harapan bila kondisi tata air baik, maka pembangunan yang dilakukan di dalam DAS yang bersangkutan dapat dikatakan berkelanjutan. Pendahuluan Pada era otonomi daerah saat ini, pembangunan yang berkelanjutan menjadi suatu yang penting. Berbagai praktisi menilai pada saat inilah pembangunan berkelanjutan dapat dilakukan, karena daerah kabupaten sudah mampu melakukan identifikasi, analisis, dan pengambilan keputusan yang didasarkan atas kondisi daerahnya, sehingga setiap pengambilan keputusan selalu didasarkan atas kondisi aktual kabupaten yang bersangkutan. Akan tetapi banyak juga praktisi yang berpendapat bahwa pendekatan pembangunan otonomi kabupaten akan memunculkan permasalahan akan adanya eksplotasi yang tak tertahankan pada sumberdaya alamnya. Oleh sebab itu diperlukan pendekatan yang cocok untuk tiap kabupaten, dimana memiliki kondisi yang sangat spesifik. Pembangunan di Indonesia ini secara umum dijabarkan dalam bentuk proyek, proyek ini bisa didanai oleh pemerintah, bantuan luar negeri, ataupun oleh swasta. Akan tetapi dari tahun ke tahun pembangunan ini walaupun memberikan manfaat yang nyata pada saat ini, ternyata masih sulit untuk mengetahui apakah pembangunan yang dilakukan tersebut memenuhi kaidah lestari dan berkelanjutan. Oleh sebab itu diperlukan indikator, yang dapat digunakan untuk menilai apakah pembangunan yang dilakukan adalah lestari dan berkelanjutan. Pendekatan yang ingin dipaparkan disini adalah pendekatan pengelolaan DAS, dimana pembangunan dilakukan melalui satuan daerah aliran sungai. Sehingga pendekatan yang dilakukan merupakan pendekatan pembangunan yang spesifik daerah yang bersangkutan. Keuntungan dari pendekatan DAS ini adalah adanya indikator biofisik (air) untuk mengetahui kesehatan dari DAS tersebut, sedangkan kesulitannya adalah pendekatan ini adalah pendekatan yang interdisiplin, dimana setiap stake-holder

melakukan handal.

interaksi

untuk

menentukan

pembangunan

yang

akan

dilakukan

(pendekatan

partisipatoris), hal ini memicu konflik yang berkepanjangan, sehingga memelukan fasilitator yang

Peranan pemerintah daerah yang selama ini menjadi aktor utama pelaksana pembangunan harus berubah menjadi fasilitator pembangunan, dimana aktor utama pelaksana pembanguanan adalah setiap stake-holder yang ada didalam DAS yang bersangkutan. Pendekatan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Daerah aliran sungai (DAS) menurut definisi adalah suatu daerah yang dibatasi (dikelilingi) oleh garis ketinggian dimana setiap air yang jatuh di permukaan tanah akan dialirkan melalui satu outlet. Komponen yang ada di dalam sistem DAS secara umum dapat dibedakan dalam 3 kelompok, yaitu komponen masukan yaitu curah hujan, komponen output yaitu debit aliran dan polusi / sedimen, dan komponen proses yaitu manusia, vegetasi, tanah, iklim, dan topografi. Sehingga pengelolaan DAS adalah melakukan pengelolaan setiap komponen DAS sehingga dapat mencapai tujuan yang dimaksud. Tujuan dari pengelolaan DAS adalah melakukan pengelolaan sumberdaya alam secara rasional supaya dapat dimanfaatkan secara maksimum lestari dan berkelanjutan sehingga dapat diperoleh kondisi tata air yang baik. Sedangkan pembangunan berkelanjutan adalah pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam bagi kepentingan umat manusia pada saat sekarang ini dengan masih menjamin kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam untuk generasi yang akan datang. Dalam sistem DAS mempunyai arti penting terutama bila hubungan ketergantungan antara hulu dan hilir. Perubahan komponen DAS di daerah hulu akan sangat mempengaruhi komponen DAS pada daerah hilirnya, oleh sebab itu perencanaan daerah hulu menjadi sangat penting. Dalam setiap aktifitas perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di dalam sistem DAS, sangat diperlukan indikator yang mampu digunakan untuk menilai apakah pelaksanaan kegiatan tersebut telah berjalan sesuai dengan perencanaan atau belum. Indikator yang dimaksud adalah indikator yang dengan mudah dapat dilihat oleh seluruh masyarakat luas sehingga dapat digunakan peringatan awal dalam pelaksanaan kegiatan. Indikator Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Secara umum pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan paling sedikit harus memenuhi indikator lestari dan berkelanjutan dibawah ini, yaitu:

Pengelolaan yang mampu mendukung produktifitas optimum bagi kepentingan kehidupan (indikator ekonomi) Pengelolaan yang mampu memberikan manfaat merata bagi kepentingan kehidupan (sosial)

Pengelolaan yang mampu mempertahankan kondisi lingkungan untuk tidak terdegradasi (indikator lingkungan) Pengelolaan dengan menggunakan teknologi yang mampu dilaksanakan oleh kondisi penghidupan setempat, sehingga menstimulir tumbuhnya sistem institusi yang mendukung (indikator teknologi)

Pada pengelolaan DAS indikator paling memungkinkan adalah melihat kondisi tataairnya. Yang dimaksud indikator tata air kondisi tata air yang meliputi:

Indikator kuantitas air. Kondisi kuantitas air ini sangat berkaitan dengan kondisi tutupan vegetasi lahan di DAS yang bersangkutan. Bila tutupan vegetasi lahan DAS yang bersangkutan berkurang dapat dipastikan perubahan kuntitas air akan terjadi. Sehingga setiap pelaksanaan kegiatan yang bermaksud mengurangi tutupan lahan pada suatu tempat maka harus diiringi dengan usaha konservasi. Indikator ini dapat dilihat dari besarnya air limpsan permukaan maupun debit air sungai.

Indikator kualitas air. Kondisi kualitas air disamping dipengaruhi oleh tutupan vegetasi lahan seperti pada kondisi kuantitas, tetapi juga dipengaruhi oleh buangan domestik, buangan industri, pengolahan lahan, pola tanam, dll. Dengan demikian bila sistem pengelolaan limbah, pengolahan lahan, dan pola tanam dapat dengan mudah diketahui kejanggalannya dengan melihat indikator kualitas air. Kualitas air ini dapat dilihat dari kondisi kualitas air limpasan, air sungai ataupun air sumur.

Indikator perbandingan debit maksimum dan minimum. Yang dimaksud disini adalah perbandingan antara debit puncak maksimum dengan debit puncak minimum sungai utama (di titik outlet DAS). Indikator ini mengisyaratkan kemampuan lahan untuk menyimpan. Bila kemampuan menyimpan air dari suatu daerah masih bagus maka fluktuasi debit air pada musim hujan dan kemarau adalah kecil. Kemampuan menyimpan air ini sangat bergantung pada kondisi permukaan lahan seperti kondisi vegetasi, tanah, dll

Indikator muka air tanah. Indikator ini dapat dilihat dari ketinggian muka air tanah di suatu lahan. Indikator muka air tanah ini mengisyaratkan besarnya air masukan ke dalam tanah dikurangi dengan pemanfaatan air tanah. Yang mempengaruhi besarnya air masuk kedalam tanah adalah vegetasi, kelerengan, kondisi tanahnya sendiri, dll. Ketinggian muka air tanah ini dapat dilihat dari ketinggian muka air tanah dalam (aquifer) ataupun ketinggian air tanah dangkal (non-aquifer).

Indikator curah hujan. Besarnya curah hujan suatu tempat sangat dipengaruhi oleh kondisi klimatologi daerah sekitarnya, sedangkan kondisi klimatologi ini diperanguhi perubahan tutupan lahan, ataupun aktifitas lainnya. Sehingga bila terjadi perubahan secara besar pada tutupan lahan maka akan mempengaruhi klimatologi dan juga curah hujan yang terjadi.

Dengan demikian dengan mengetahui indikator tata air yang dapat dengan mudah dilihat dengan pengamatan masyarakat umum diharapkan dengan demikian kontrol pelaksanaan pembangunan

dapat dilakukan dengan lebih terbuka. Sebagai gambaran bahwa suatu daerah aliran sungai dapat dikatakan masih baik apabila:

Memberikan produksi tinggi bagi keperluan kehidupan dalam DAS yang bersangkutan Menjamin kelestarian DAS, dimana erosi yang terjadi dibawah erosi yang dapat ditoleransi Terdapat kelenturan, dimana bila terjadi gangguan pada salah satu bagian, maka bagian lain mampu memberikan supply / bantuan Bersifat pemerataan, dimana setiap stake holder yang ada di dalam DAS mampu berperan sesuai dengan kemampuan yang dipunyai dan mendapatkan imbalan yang sesuai

Sedangkan dari aspek biofisik, suatu DAS dikatakan baik apabila:

Debit sungai konstan dari tahun ke tahun Kualitas air baik dari tahun ke tahun Fluktuasi antara debit maksimum dan minimum kecil Ketinggian muka air tanah konstan dari tahun ke tahun Kondisi curah hujan tidak mengalami perubahan dalam kurun waktu tertentu

Kesimpulan dan Saran Dari tinjauan tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Walaupun indikator tata air ini belum banyak diterapkan untuk menilai pelaksanaan pembangunan, akan tetapi karena indikator yang digunakan mudah dan dapat dilakukan oleh setiap masyarakat, maka penggunaan indikator ini perlu disosialisasikan

Dalam pemanfataan indikator tata air ini pelaksanaan pembangunan/ kegiatan dalam suatu DAS harus dilihat secara bersama-sama (holistik) sehingga sangat cocok untuk dipakai sebagai indikator keberhasilan pembangunan suatu DAS.

Kajian lebih detail akan indikator tata air yang digunakan sangat diperlukan, karena data yang terkumpul dalam penilaian indikator ini adalah data time series yang harus dicermati secara detail

DAFTAR PUSTAKA Sinukaban, Naik, Kuliah Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Program Studi DAS, Program Pasca Sarjana IPB, 2001 Asdak, Chay, DAS Sebagai Satuan Monitoring dan Evaluasi Lingkungan (Air Sebagai Indikator Sentral), Seminar Sehari Persaki Daerah Aliran Sungai Sebagai Satuan Perencanaan Terpadu dalam Pengelolaan Sumberdaya Air, 1999

Pasaribu, Hadi S, DAS Sebagai Satuan Perencanaan Terpadu dalam Kaitannya dengan Pengembangan Wilayah dan Pengembangan Sektoral Berbasiskan Konservasi Tanah dan Air, Seminar Sehari Persaki Daerah Aliran Sungai Sebagai Satuan Perencanaan Terpadu dalam Pengelolaan Sumberdaya Air, 1999.

KONSEPSI PENGELOLAAN DERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) TERPADU BERBASIS BIOREGIONAL *)


Oleh: Tarsoen Waryono Staf pengajar Jurusan Geografi FMIPA-UI. Disampaikan pada Diskusi Pengelolaan DAS Terpadu Regional Jabodetabek. Dinas Pertanian dan Kehutanan. Gunung Sahari Jakarta, 2 Juli 2003. Sumber:http://docs.google.com/staff.blog.ui.ac.id/tarsoen.waryono/ BAGIAN I Bioregional DAS 1. Latar Belakang

(a). Dalam kehidupan sehari-hari, istilah lingkungan hidup telah memasyarakat baik Lingkungan diartikan sebagai daerah (kawasan, dan sedangkan alam diartikan sebagai keadaan perkembangan dan tingkah laku kehidupan.

dikalangan

politik, ilmuwan maupun masyarakat. Lingkungan hidup berasal dari kata lingkungan dan hidup. sebagainya) yang termasuk di dalamnya; (kondisi, kekuatan) sekitar, yang mempengaruhi

(b). Pengertian tersebut memberikan gambaran bahwa lingkungan sebagai bulatan yang melingkungi suatu daerah hingga membentuk kesatuan ruang, dengan semua benda, daya, dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya; yang mempengruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejateraan manusia serta mahluk hidup lainnya.

(c). Dapat disarikan bahwa makna lingkungan hidup mengandung arti tempat, wadah atau ruang yang ditempati oleh mahluk hidup (termasuk manusia), dan tak hidup yang berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain, dan tidak dibatasi oleh batasan politik, wilayah administrasi maupun lainnya. Pengertian inilah yang nampaknya cukup mirip dengan batasan apa yang disebut dengan bioregional. (d). Secara harafiah bioregional merupakan teritori tanah dan air yang lingkungannya tidak

ditentukan oleh batasan politik, tetapi oleh batasan geografi komunitas manusia serta sistem ekologi. (e). Ketidak harmonisan hubungan antara manusia dengan alam (sumberdaya alam)

dan lingkungannya, sering menimbulkan fenomena, hingga dinilai maju secara ekonomik, namun dinilai mundur secara ekologik, padahal kualitas lingkungan bagi penghuninya, sama pentingnya dengan kualitas ekonominya. (f). Maju secara ekonomi, karena peranan fungsi jasa lingkungan memberikan banyak manfaat guna memenuhi kebutuhan kelangsungan hidup, namun sebaliknya pihak untuk memulihkannya. (g). Dengan demikian pemulihan kualitas sumberdaya alam dan lingkungannya, perubahan dan atau kerusakan. (h). Konsep memadukan untuk tujuan pemulihan, penyelamatkan, pelestarikan dan pemanfaatkan secara optimal terhadap potensi sumberdaya alam dan lingkungan bioregional. (i). Dalam penerapannya, manajemen bioregional mempunyai keuntungan-keuntungan baik secara ekonomis, ekologis maupun sosial yang jelas. Namun demikian agar suatu konsep dapat diterima oleh semua pihak, nampaknya perlu ditelusuri secara mendalam faktor-faktor penyebab utama munculnya permasalahan. 2. Konsep dasar manajemen bioregional DAS, secara terpadu dan berkelanjutan; dalam hal ini disebut dengan istilah konsepsi pengelolaan DAS terpadu berbasis dimaksudkan perubahan, degradasi, kerusakan bahkan kehancuran kualitas sumberdaya alam dan lingkungannya, kini menjadi tantangan semua

sebagai upaya untuk mengembalikan peranan fungsi jasa lingkungan seperti sediakala sebelum terjadi

Gambar-1. Keseimbangan lingkungan hidup

(a). Penelusuran dan mengungkap faktor penyebab utama yang menimbulkan aspek permasalahan, sebagai akibat tumbuh berkembangnya sosio-teknosistem yang cenderung mendesak keberadaan ekosistem alam suatu DAS. (b). Sosiosistem, ditelusuri melalui pola hidup masyarakat, tingkat pengetahuan dan pendidikan, kesehatan, pendapatan per kapita, tingkat kepedulian terhadap potensi sumberdaya alam dan lingkungannya. (c). Teknosistem, ditelusuri berda sarkan aspek penggunaan tanah baik untuk penerapan teknologi budidaya usaha tahi dan teknologi maupun pemanfaatan lain yang erat kaitannya dengan konservasi tanah dan air (d). Ekosistem alam, ditelusuri berdasarkan tingkat degradasi yang terjadi atas peranan fungsi jasa bio-eko-hidrologis tutupan vegetasi berdasarkan aspek penggunaan tanah. (e). Penelusuran dan mengungkap wilayah terpengaruh, sebagai akibat yang ditimbulkan oleh bentukbentuk kegiatan di wilayah pengaruhnya. (f). Membuatan analisis sebab akibat antara wilayah pengaruh dan wilayah yang dipengaruhi, hingga diperoleh gambaran upaya jalan keluarnya. (g). Dengan demikian jelas bahwa yang ditelusuri dan diungkap permasalahannya adalah manusia. faktor

penyebab dan akibat yang muncul sebagai akibat kegiatan-kegiatan yang diolahdayakan oleh

3. Rancang Tindak Penanganan (a). Perbaikan kesejahteraan masyarakat, melalui perubahan dan peningkatan budidaya usaha tani, dan pengembangan home industri berbasis pertaian pangan. (b). Pemulihan wilayah pengaruh, melalui penataan penggunaan tanah atas dasar wilayah tanah usaha (WTU), pengendalian beban cemaran dan erosi, penataan ruang evaluasi teknik perlimbahan industri berwawasan ramah lingkungan. (c). Pemulihan kawasan terpengaruh, melalui pengendalian bencana (pasca banjir), penanganan sedimentasi, dan pemulihan degradasi kawasn peya-ngga. (d). Fenomena terdegradasinya kawasan penyangga, dalam hal ini mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Peranan fungsi bantaran sungai terganggu, karena hilangnya seba\gian penutupan vegetasi, sebagai akibat dari aktivitas manusia yang kurang terkontrol. 2. Tercemarnya perairan sungai akibat sedimentasi (pendangkalan), polutan sampah padat dan limbah industri, hingga menyebabkan terganggunya ekosistem biota perairan. 3. Terlihat adanya idikasi perubahan perilaku masyarakat karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman arti pentingnya peranan fungsi sungai. (e). Mendasari beberapa aspek permasalahan seperti uraian di atas, penerapan konsep manajemen bioregional dalam bentuk rancang tindak pena-nganan, dilakukan melalui pendekatan. 1. Pemberdayaan masyarakat. 2. Pengembangan wilayah pengaruh. 3. Penyelamatan dan pemulihan bantaran sungai. 4. Pengembangan potensi perairan sungai sebagai wahana pelestarian alam dan plasma nutfah. 4. Strategi dan Aplikasi Penerapan Strategi dalam manajemen bioregional, untuk tujuan penyelamatan, pelestarian dan pemanfaatan secara optimal, diimplementasikan dalam bentuk action plan yang meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (a). Terhadap ekosistem riparian, perlu kajian dasar yang meliputi pemantapan data base, zonasi kesesuaian lahan (tapak), dan menyusun model rancangan restorasi, untuk selanjutnya diwujudkan dalam bentuk action plan Desain Detail Pengelolaan Bantaran sungai. kawasan industri, serta

(b). Agar implementasi pemulihan banataran sungai dapat memacu kehadiran (minat) para stake holder, serta mudah dievaluasi maupun dikontrol; perlu Penyusunan Pedoman (Pelaksanaan rehabilitasi, Pengawasan Rehabilitasi, dan Rancangan alokasi partisipasi stake holder). (c). Pengembangan potensi banataran sungai, diwujudkan dalam bentuk Pengembangan kawasan wisata perkotaan, berbasis kemasyarakatan. (d). Penanganan wilayah pengaruh (hulu, tengah dan hilir), perlu land suitability dan kajian jenis yang dikembangkan; yang diwujudkan dalam bentuk action plan Desain detail Perhutanan Sosial pada tanah-tanah kritis. (e). Pemberdayaan masyarakat sekitar bantaran sungai, (f). Terhadap pendangkalan sungai dan tandon air, action plan yang diwujudkan dalam bentuk restorasi ekologi; dengan pengembangan jenis asli yang ada. 5. Tatanan Prioritas Penaganan Strategi penetapan prioritas penanganan, didasarkan atas acuan dari tingkat kerawanan masingmasing komponen kegiatan (action plan). Pendekatan yang lebih efektif dan rasional, dilakukan dengan cara penilaian skoring hasil pemaduserasian antara GAP analisis dan GIS. Nilai akhir hasil skoring inilah, pada akhirnya menentukan tatanan skala prioritas penanganan, sebagai acuan dasar kegiatan operasional lapang yang erat kaitannya dengan tujuan penyelamatan dan pelestarian. (a). Pemulihan wilayah pengaruh daerah hulu DAS, khususnya pada lahan-lahan kritis. (b). Pemulihan kawasan bantaran sungai, berbasis kemasyarakatan dalam arti lebih memfokuskan untuk memacu kesadaran, agar okupasi penduduk terhadap bentaran akan berkurang dan bahkan tidak terjadi. (c). Pengembangan group-group kelompok pelestarian sumberdaya alam (KPSA). (d). Konsolidasi lahan, dalam arti pentingnya kesadaran masyarakat untuk mampu menghargai peranan fungsi sumberdaya alam dan lingkungan. BAGIAN (II) Konsep Dasar Pelestarian Kawasan Resapan 1. Latar belakang (a). Gagasan untuk melestarikan kawasan resapan air, sulit untuk diimplementa-sikan; selain status kemilikan lahan yang cenderung dikuasai oleh masyarakat, juga belum tersedianya konsepsi yang cukup mendasar sebagai acuan penyu-sunan program pengelolaan kawasan resapan air tanah.

(b). Upaya pengendalian kawasan resapan air, kini masih terbatas melalui peng-aturan penggunaan lahan untuk bangunan, yang didasari dengan perhitungan mengacu pada tetapan koefisien dasar bangunan (KDB), atau koefisien lantai bangunan (KLB), dasar penetapannya tidak jelas. (c). Hingga sering menimbukan kerancuan, karena KDB atau KLB yang ditetapkan angka koefisiennya kualitatif yaitu KDB rendah, KDB tinggi dan seterusnya. (d). Apabila mengacu terhadap perumusan USLE (1976), dimana koefisien besaran erosi; koefisien air limpasan, dan koefisien infiltrasi air kedalam dapat ditetapkan nilai-nilai angka koefisiennya; nampaknya teknik-teknik perhitungannya dapat digunakan sebagai dasar pendekatan untuk menghitung Intensitas Pemanfaatan Ruang (IPR). 2. Pendekatan (a). Sebagai dasar pendekatan penetapan nilai IPR, tampaknya perlu kajian yang erat kaitannya dengan kawasan resapan. Secara matematis kondisi kawasan resapan (dinotasikan; Y), dan beberapa variable yang mempengaruhi (dinotasikan X); dimana X1 (curah hujan), X2 (porositas dan premabilitas tanah), X3 geohidrologi (lapisan kedap air), dan X4 (tutupan vegetasi asli), dan X5 (kemiringan lereng); hingga hubungan tersebut dapat dibuat suatu persamaan Y = f (X1, X2, X3, X4 dan X5). (b). Hasil kajian terhadap suatu wilayah, Contoh wilayah Kota Depok, tanpa melihat kondisi yang ada dianalisis secara spatial berdasarkan persamaan di atas, maka akan diperoleh Indek IPR, dalam bentuk Peta Indek IPR. (c). Kriteria tersebut, akhirnya dalam penyusunan RRTR akan menjadi lebih rasional, dibanding dengan menggunakan kriteria jumlah penduduk. 1. Hal ini mengingat bahwa pengertian pengembangan sering diartikan sebagai upaya

pemenuhan kebutuhan ruang (lahan), yang diinginkan oleh masyarakat. 2. Padahal pada daerah tertentu, mungkin daya dukung pemanfaatan ruangnya telah melebihi abang batas; yang semestinya harus dicarikan jalan keluar hingga terciptanya keseimbangan antara bangunan yang di atasnya dengan potensi sumberdaya air yang ada di bawahnya. 3. Terciptanya keseimbangan akan berarti pula upaya pengendalian, pelestarian dan

pemanfaatan sumberdaya air tanah dangkal, akan mampu menjamin ketersediaan (potensi) baik dimasa kini maupun masa datang. 4. Bagan berikut mengilustrasikan pendekatan penetapan Nilai Indek IPR wilayah Depok.

Uraian Penutup (a). Manajemen bioregional, dinilai cukup efektif sebagai salah satu bentuk pendekatan pemulihan, penyelamatan dan pelestarian sumberdaya alam, karena memberikan keuntungan secara ekonomis, ekologis dan sosial yang jelas. (b). Manajemen bioregional pada dasarnya merupakan manajemen pengelolaan sumberdaya alam berbasis kemasyaratan, untuk itu dalam penyusunan konsep dan strateginya harus melibatkan semua pihak terkait (stake holder) dalam lingkup bioregional, serta pihak-pihak lainnya. (c). Aplikasi penanganan dalam manajemen bioregional, pendekatannya dilakukan dengan melalui: (a) penanganan dan pengendalian lingkungan fisik dari berbagai bentuk faktor penyebabnya, (b) pemulihan secara ekologis baik terhadap habitat maupun kehidupannya, (c) mengharmoniskan perilaku lingkungan sosial untuk tujuan mengenal, mengetahui, mengerti yang pada akhirnya merasa

peduli dan ikut

bertanggung jawab, serta (d) meningkatkan akutabilitas kinerja institusi yang

bertanggung jawab dan atau pihak-pihak terkait lainnya. (c). Untuk mengetahui sejauhmana kondisi wilayah berdasarkan Nilai Indek IPR, perlu dikaji lebih jauh berdasarkan korelasi keruangan, dengan cara penampalan Peta Nilai Indek IPR dengan Peta Kondisi Eksis. Hasil korelasi keruangan secara spatial disebut dengan Peta Keserasian yang menginformasikan kondisi pemanfaatan ruang saat ini berdasarkan Nilai Indek IPR. (d). Dalam pengembangannya, dibedakan menjadi tiga tatanan yaitu (1) suatu daerah yang masih bisa dikembangkan, (2) suatu daerah yang mendekati abang batas pemanfaatan ruang, dan (3) suatu daerah yang telah melebihi abang batas daya dukung pemanfaatan ruang. Daftar Pustaka Achmadi, UF, 1978. Efek Pencemaran Air Tanah terhadap Masyarakat Perkotaan. Widyapura, XII. Tahun 1878. Adiwilaga, M; et all, 1998. Strategi Pengelolaan Situ-situ: Studi Kasus Program Pengelolaan Situ Cikaret, Cibinong, Kabupaten Bogor. Workshop Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Alegre., J.C, Cassel., D.K, and Makarim., M.K; 1985. Strategies for Reclamtion of Degraded Lands. Tropical Land Clearing fo Sustainable Agriculture. Isbram Proceedings No.3. Jakarta; pp 45-57. Arif, B. 1998. Peranan Sektor Pengairan dalam pengelolaan situ-situ di wilayah Jabotabek. Workshop Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Backer., William L., 1994. The Landscape Ecology of Large Disturbances in the Design and Management of Nature Reserves. (ed) Grumbine R. Edward; Environmental Policy and Biodiversity. Island Press; Washington DC Covelo, California. Berger. John J; 1988. Enviromental Restoration. Science and Strategies for Restoring the Earth. Island Press; Washington, D.C. Covelo California. pp 214-231. _______, 1997. Pemantapan data Situ-situ/waduk di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Dinas Kehutanan DKI Jakarta. Biampoen, 1984. Masalah Kualitas Lingkungan Hidup Manusia, Pendekatan Perencanaan Kota. Makalah Seminar Badan Pembinaan Kesehatan Jiwa Masyarakat.

Cairns Jr., John; 1992. Disturbed Ecosystems as Opportunities for Research Restoration Ecology. (Eds) Jordan III., William R; et all. Restoration Ecology: Synthetic Approach to Ecological Research. Cambridge University Press. P 307-320. Gunawan, E. 1988. Kebijaksanaan Pengelolaan Situ-situ di Wilayah Jabotabek. Workshop Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Hamilton., Lawrence S; 1988. Restoration of Degraded Tropical Forest. (ed) Berger., John J. Envirormental Restoration; Science and Strategies for Restoring the Earth. Island Press Washington DC. Covelo, California. P 113-122. Hamer., W.I,. 1980. A. Soil Degradation Assessment Metodology. Soil Conservation Consultant Report. INS/78/006., Technical Note No.7. CRS, Bogor. Hunter. Jr. 1996. Fundamentals of Conservations Biology. Blackwell Science Inc. Massachusetts. Kondolf., C. Mathias; 1988. Hydrologic and Channel Stability Consideration in Stream Habitat Restoration. (ed) Berger., John J. Envirormental Restoration; Science and Strategies for Restoring the Earth. Island Press Washington DC. Covelo, California Lesmana, H. 1998. Peranan Situ-situ Buatan di Kawasan Industri MM 2100. Workshop Pengelolaan Situ-situ di Wilayah DKI Jakarta. Kerjasama Bapedalda dengan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Manan. Safei; 1976. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. pp 134. Melman. Dick, C.P. and Strien Arco Van J. 1993. Ditch Banks as a Conservation Focus in Intensively Exploited Peat Farmland. In Landscape Ecology od Stressed Environment. (ed) by Claire C Vos and Paul Opdam. Plubished in 1993, by Chapman and Hall, Lodon ISBN 0 412 448203 Notodihardjo. Mardjono, 1979. Pengembangan Wilayah Sungai di Indonesia. Depar temen Pekerjaan Umum. Sandy.IM, 1978. Geomorfologi Terapan. Jurusan Geografi FMIPA-UI. Sugandhy, A. 1998. Peran Ekosistem Lahan Basah Dalam Memelihara Kualitas Lingkungan Hidup. Seminar dan Pameran Lahan Basah, Dalam Rangka memperingati lahan basah sedunia tahun 1998. Komisi Nasional Pengelolaan Lahan Basah, Jakarta. Suprijatna., Jatna; 1997. Restorasi Ekologi dan Pembangunan Hutan Kota. Pelatihan Pengelola Hutan Kota. Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

Waryono, Tarsoen,. 1997. Aspek Pemberdayaan Atas Kekurang Perdulian Masyarakat Terhadap Pengelolaan Keanekaragaman Hayati. Publikasi GEO-07/1997. Jurusan Geografi FMIPA-Universitas Indonesia. _______________., 1997. Prinsip Dasar manajemen Konservasi Biologi Untuk Mencapai Tujuan. Program Pasca Sarjana Biologi Universitas Indonesia. ______________, 2000. Strategi dan Aplikasi Pemulihan Ekositem Tanggul Pantai Pasca Tambang Pasir Besi Teluk Penyu Cilacap. Makalah Utama Work Shop Pemberdayaan Otonomi Daerah Kota Cilacap. Nusakambangan 28 Oktober 2002. ______________,. 2002. Konsepsi Penglolaan Kawasan Resapan Air Secara Terpadu Berkelanjutan (Studi Kasus Kota Depok). Lokakarya Pencegahan Bencana Banjir Jakarta. ERASMUS HUIS-JAKARTA, 21 Maret 2002. Kerjasama Forum Masyarakat Air Indonesia dengan Kedutaan Belanda. _______________,. 2002. Fenomena Banjir Wilayah Perkotaan. Diskusi terbatas Masyarakat Air Indonesia, 28 Maret 2002. Gedung Kindo Kalibata Jakarta Selatan. ______________., 2002. Konsep Pendekatan dan Strategi Penetaan Ruang Sempadan Sungai. Paparan Pemda Kota Depok, disajikan kepada Menag Kimpraswil, 9 April 2002.

DAS Dan Pengelolaannya (6)

PRINSIP DASAR PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Oleh: Dr.Ir. HIKMAT RAMDAN, M.Si LABORATORIUM EKOLOGI HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS WINAYA MUKTI Agustus, 2004

Pendahuluan

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan wilayah yang dikelilingi dan dibatasi oleh topografi alami berupa punggung bukit atau pegunungan, dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Batas batas alami DAS dapat dijadikan sebagai batas ekosistem alam, yang dimungkinkan bertumpangtindih dengan ekosistem buatan, seperti wilayah administratif dan wilayah ekonomi. Namun seringkali batas DAS melintasi batas kabupaten, propinsi, bahkan lintas negara. Suatu DAS dapat terdiri dari beberapa sub DAS, daerah Sub DAS kemudian dibagibagi lagi menjadi subsub DAS.

Komponenkomponen utama ekosistem DAS, terdiri dari :manusia, hewan, vegetasi, tanah, iklim, dan air (Gambar 1). Masingmasing komponen tersebut memiliki sifat yang khas dan keberadaannya tidak berdirisendiri, namun berhubungan dengan komponen lainnya membentuk kesatuan sistem ekologis (ekosistem). Manusia memegang peranan yang penting dan dominan dalam mempengaruhi kualitas suatu DAS. Gangguan terhadap salahsatu komponen ekosistem akan dirasakan oleh komponen lainnya dengan sifat dampak yang berantai. Keseimbangan ekosistem akan terjamin apabila kondisi hubungan timbal balik antar komponen berjalan dengan baik dan optimal. Kualitas interaksi antar komponen ekosistem terlihat dari kualitas output ekosistem tersebut. Di dalam DAS kualitas ekosistemnya secara fisik terlihat dari besarnya erosi, aliran permukaan, sedimentasi, fluktuasi debit, dan produktifitas lahan.

Prinsip keberlanjutan (sutainability) menjadi acuan dalam mengelola DAS, dimana fungsi ekologis, ekonomi, dan sosialbudaya dari sumberdayasumberdaya (resources) dalam DAS dapat terjamin secara berimbang (balance).

Di dalam mempelajari DAS, biasanya DAS dibagi menjadi hulu, tengah, dan hilir. DAS bagian hulu sebagai daerah konservasi, berkerapatan drainase tinggi, memiliki kemiringan topografi besar, dan bukan daerah banjir. Adapun DAS bagian hilir dicirikan sebagai daerah pemanfaatan, kerapatan drainase rendah, kemiringan lahan kecil, dan sebagian diantaranya merupakan daerah banjir. Daerah aliran sungai tengah merupakan transisi diantara DAS hulu dan DAS hilir. Masing masing bagian tersebut saling berkaitan. Bagian hulu DAS merupakan kawasan perlindungan, khususnya perlindungan tata air, yang keberadaannya penting bagi bagian DAS lainnya. Contoh keterkaitan antara bagian hulu dengan hilir diantaranya adalah : (a). bagian hulu mengatur aliran air yang dimanfaatkan oleh penduduk di bagian hilir, (b). erosi yang terjadi di bagian hulu menyebabkan sedimentasi dan banjir di hilir, dan (c). bagian hilir umumnya menyediakan pasar bagi hasil pertanian dari bagian hulu.

Gambar 1. Interaksi Antar Komponen dalam DAS

Perbedaan karakteristik DAS Hulu dan Hilir disajikan pada Tabel 1.

Pengelolaan DAS adalah pengelolaan sumberdaya alam dan buatan yang ada di dalam DAS secara rasional dengan tujuan untuk mencapa keuntungan yang maksimum dalam waktu yang tidak terbatas dengan resiko kerusakan seminimal mungkin. Dalam konteks yang lebih luas pengelolaan DAS dapat dipandang sebagai suatu sistem sumberdaya, satuan pengembangan sosial ekonomi, dan satuan pengaturan tata ruang wilayah. Pengelolaan DAS juga ditujukan untuk produksi dan perlindungan sumberdaya air termasuk di dalamnya pengendalian erosi dan banjr.

Pengelolaan DAS dijalankan berdasarkan prinsip kelestarian sumberdaya (resources sustainability) yang menyiratkan keterpaduan antara prinsip produktifitas dan konservasi sumberdaya (sustainabilty = productivity + conservation of resources) di dalam mencapai beberapa tujuan pengelolaan DAS, yaitu : (a) terjaminnya penggunaan sumberdaya alam yang lestari, seperti hutan, hidupan liar, dan lahan pertanian; (b). tercapainya keseimbangan ekologis lingkungan sebagai sistem penyangga kehidupan; (c).terjaminnya jumlah dan kualitas air yang baik sepanjang tahun; (d).mengendalikan aliran permukaan dan banjir; (e).mengendalikan erosi tanah, dan proses degradasi lahan lainnya.

Pengelolaan DAS mencoba menyeimbangkan tujuan ekonomi sumberdaya alam dengan tujuan konservasi dalam suatu kawasan DAS. Tujuan produksi menitikberatkan untuk mengoptimumkan pendapatan dan produksi, sedangkan tujuan konservasi lebih menekankan pada upaya meminimalkan terjadinya degradasi sumberdaya alam. Ekosistem DAS yang baik dicirikan oleh beberapa parameter sebagai berikut : a. Produktifitas sumberdaya lahan tinggi Produktifitas sumberdaya lahan secara langsung dapat dilihat dari hasil panen untuk setiap komoditas yang diusahakan. Hasil yang diperoleh harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan mampu mendesain masa depannya; dalam hal ini pendapatan yang diperoleh selain mencukupi kebutuhan primernya akan pangan, sandang, dan papan, juga kebutuhan lainnya, seperti pendidikan dan kesehatan sebagai bekal dalam mendesain masa depannya yang lebih baik, juga untuk melaksanakan aktifitas sosialnya. Untuk mencapai tingkat produktifitas yang diharapkan digunakan teknologi (agroteknologi) yang juga menjamin kelestarian sumberdaya alam yang diupayakannya. Pendapatan yang diperoleh hendaknya mencapai 3 4 kali standar batas miskin. Garis kemiskinan berdasarkan pendekatan Sayogyo adalah 320 kg beras/kapita/tahun; adapun menurut Bank Dunia garis kemiskinan untuk daerah pedesaan US$ 50 dan untuk daerah perkotaan sebesar US $ 75. b. Kelestarian Sumberdaya Alam terjamin

Sumberdaya tanah, air, vegetasi, dan fauna dalam kawasan DAS harus terjamin kelestariannya, misalnya laju erosi yang lebih kecil dari laju erosi yang diperkenankan, distribusi hasil air merata sepanjang tahun, kualitas air terjaga, sedimentasi dan kadar lumpur dalam aliran air kecil, keanekaragaman hayati tinggi, prosentase penutupan lahan oleh vegetasi tinggi, polusi lingkungan rendah, dan sebagainya. c. Kelenturan dan Pemerataan Pembangunan Kelenturan (resilience) merupakan ketahanan ekosistem terhadap setiap guncangan (ekologis dan ekonomi) yang terjadi dalam DAS. Suatu DAS yang baik akan memiliki tingkat kelenturan yang tinggi terhadap gejolak yang timbul, sehingga ekosistem tersebut tetap bertahan dan kembali ke bentuk semula. Pemerataan pembangunan antara bagian hulu dan hilir masih menjadi masalah dalam pengelolaan DAS. Masyarakat di bagian hulu dengan tingkat kesejahteraan, infrastruktur, dan aksesibilitas yang lebih rendah dari bagian hilir cenderung mengeksploitasi lahannya dengan sangat intensif, sehingga menurunkan kualitas air di hilirnya akibat erosi. Di bagian hilir masyarakat banyak yang tidak menyadari arti pentingnya bagian hulu dalam menjamin infrastrukturnya, sehingga pembangunan di bagian hulu dinomorduakan. Oleh karena itu pemikiran dalam menyisihkan sebagian pajak masyarakat di bagian hilir untuk pengelolaan lingkungan dan pembangnan di bagian hulu dalam bentuk subsidi silang (cross subsidy) perlu ditindaklanjuti, sehingga terjadi proses pemerataan antara kedua bagian wilayah DAS tersebut.

Daerah aliran sungai merupakan suatu megasistem, yang dikelompokkan menjadi sistem fisik, biologis, dan human system (Gambar 2). Setiap sistem dan subsistem sub sistem di dalamnya saling berinteraksi.

SYSTEMGambar 2. Megasistem Daerah Aliran Sungai(Source : Saha and Barrow (1981) in Mc Donald and D. Kay (1988)Water Resource : Issues and Strategies. Longman. New YorkWATERSHED

Bentuk DAS Bentuk DAS dapat dibagi dalam empat bentuk, yaitu : (a). berbentuk bulu burung; (b). radial; (c). paralel; dan (d). kompleks. Karakteristik masingmasing bentuk ditampilkan dalam Tabel 2.

Pola Aliran Sungai Pola aliran sungai apabila dilihat dari atas tampak menyerupai beberapa bentuk, seperti menyerupai percabangan pohon (dendritik), segi empat (rectangular), jarijari lingkaran (radial), dan trellis. Pola aliran ini dapat merupakan petunjuk awal tentang jenis dan struktur batuan yang ada. a. Pola dendritik : umumnya terdapat pada daerah dengan batuan sejenis dan penyebaran yang luas, misalnya kawasan yang tertutup endapan sedimen yang terluas dan terletak pada bidang horizontal, seperti di dataran rendah bagian timur Sumatera dan Kalimantan. b. Pola rectangular : Umumnya terdapat di daerah berbatuan kapur, seperti di kawasan Gunung Kidul, Yogya. c. Pola radial : umumnya dijumpai di daerah lereng gunung berapi, seperti G. Semeru, G. Ijen, G. Merapi. d. Pola trellis : dijumpai di daerah dengan lapisan sedimen di daerah pegunungan lipatan, seperti di Sumatera Barat dan Jawa Tengah

Gambar 3. Pola Aliran Sungai (Microsoft,2002)

Morfometri Sungai. Morfometri sungai mengkaji jaringan fisik DAS secara kuantitatif yang meliputi : luas DAS, panjang sungai, lebar DAS, orde/tingkat percabangan sungai, kerapatan sungai, dan kemiringan sungai. a. Luas DAS dapat diukur di atas peta menggunakan alat planimeter. Batas DAS merupakan punggung bukit atau pegunungan yang memungkinkan prespitasi yang jatuh menjadi aliran air mengalir melaluisaluran sungai di dalamnya yang terpisah dari kawasan DAS lainnya. Semakin kecil luas DAS yang diamati memerlukan peta topografi dengan skala yang semakin besar.

b. Panjang sungai dihitung sebagai jarak datar dari muara sungai (oulet) ke arah hulu sepanjang sungai induk. Adapun lebar sungai merupakan pembagian antara luas DAS dengan panjang sungai.

Gambar 4. Urutan Nomor Orde Sungai

c. Orde atau tingkat percabangan sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai dalam satu AS (Soewarno, 1991). Alur sungai paling hulu yang tidak memiliki cabang disebut orde pertama, pertemuan dua orde pertama disebut orde kedua, pertemuan orde pertama dengan orde kedua disebut orde kedua, dan pertemuan dua orde kedua disebut orde ketiga, begitu seterusnya. Secara umum dapat dinyatakan bahwa pertemuan dua orde yang sama

menghasilkan nomor orde satu tingkat lebih tinggi, sedangkan pertemuan dua orde sungai yang berbeda memberikan nomor orde yang sama nilainya dengan nomor orde tertinggi diantarakedua orde yang sungai yang bertemu. d. Kerapatan sungai adalah angka indeks yang menunjukkan banyaknya anak sungai di dalam suatu DAS. Indeks tersebut dihitung dengan persamaan : D = L/A D adalah indeks kerapatan sungai (km/km2), L adalah jumlah panjang seluruh alur sungai (km), dan A adalah luas DAS (km2). Tabel 5 menunjukkan kriteria indeks kerapatan sungai. Horton (1949) menyebutkan bahwa kerapatan sungai berhubungan dengan sifat drainase DAS. Sungai dengan kerapatan kurang dari 0,73 umumnya berdrainase jelek atau sering mengalami penggenangan, sedangkan sungai dengan kerapatan antara 0,73 2,74 umumnya memiliki kondisi drainase yang baik atau jarang mengalami penggenangan.

e. Kemiringan sungai utama adalah rasio perbedaan tinggi antara titik tertinggi (di bagian hulu) dengan titik terendah (di bagian hilir) dari sungai utama dibagi dengan panjang sungai utama.

Siklus Hidrologi Dan Neraca Air

Siklus hidrologi merupakan suksesi tahapantahapan yang dilalui air dari atmosfir ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer (Seyhan, 1993). Perjalanan air di bumi membentuk siklus melalui beberapa proses, misalnya evaporasi menguapkan air dari laut, permukaan bumi, dan badan air ke atmosfer, uap air mengalami kondesasi dan kemudian jatuh menjadi presipitasi, air kemudian terakumulasi di dalam tanah dan badan air, selanjutnya dengan proses evaporasi air diuapkan kembali ke atmosfir. Secara global siklus air yang terjadi membentuk sistem tertutup, dimana selama masa sekarang hampir tidak ada penambahan jumlah volume air yang berarti di luar sistem biosfir yang ada. Volume air di bumi diperkirakan mencapai 1,4 milyar km3, dan terdistribusi sebagai air laut (97,5 %), air daratan

berbentuk es (1,75 %), 0,73 % air di darat (sungai, danau, air tanah, dan sebagainya), dan 0,001 % berada sebagai uap air di udara.

Gambar 5. Siklus Hidrologi

Di dalam siklus hidrologi, air mengalami perubahan bentuk mulai dari cair, uap, kemudian menjadi cair (hujan) dan padat (salju). Berjalannya siklus hidrologi memerlukan energi panas matahari yang cukup untuk mengevaporasikan uap air dari lautan atau badanbadan air (seperti : sungai, danau, vegetasi, dan tanah lembab) ke atmosfir. Di atmosfir uap air mengalami kondensasi berupa butiran

hujan atau kristal es berbentuk awan. Sampai ukuran tertentu butiran air tersebut turun ke bumi menjadi presipitasi baik dalam bentuk cair (hujan) atau padat (salju). Namun di daerah tropika basah bentuk presipitasi pada umumnya berupa hujan, sehingga dalam pembahasan selanjutnya istilah hujan menggantikan istilah presipitasi.

Sebagian hujan yang jatuh sebelum mengenai tanah terlebih dulu mengenai vegetasi, bangunan, atau penutup permukaan tanah lainnya. Hujan yang diintersepsi oleh vegetasi kemudian dievaporasikan kembali ke atmosfir. Setiap vegetasi memiliki kemampuan menyimpan air (intersepsi) yang berbeda. Misalnya vegetasi hutan memiliki kapasitas intersepsi yang lebih besar dibandingkan dengan rumput. Bagian hujan lainnya yang jatuh ke bumi ada juga yang langsung masuk ke lautan atau badanbadan air dan kembali diuapkan ke atmosfir.

Air hujan yang lolos dari intersepsi selanjutnya mencapai permukaan tanah melalui batang tumbuhan (stemflow) atau jatuh langsung (throughfall) dari bagian atas (daun). Di permukaan tanah air mengisi simpanan depresi (depression storage) dan setelah pori tanah terisi, aliran air kemudian mengikuti gaya gravitasi air terus masuk ke dalam tanah (infilitrasi). Dalam tahap ini kemampuan tanah menyerap air tergantung dari permeabilitas tanah dan vegetasi yang ada di atasnya. Di bawah

permukaan tanah air terakumulasi dan membentuk aliran bawah permukaan, selanjutnya pada titik tertentu akan keluar sebagai aliran bawah permukaan (subsurface runoff) dan masuk ke dalam sungai. Apabila air terus menembus semakin dalam lapisan tanah, aliran air dapat mencapai air tanah (groundwater recharge) yang merupakan lapisan bawah tanah yang kurang permeabel. Setelah mencapai simpanan air tanah, air bergerak mengikuti permukaan air tanah yang merupakan wilayah tekanan, dan selanjutnya aliran air tanah keluar dan masuk ke dalam sungai. Laju aliran air tanah yang keluar tergantung kepada struktur geologi wilayah, permeabilitas tanah, dan lapisan bawah permukaan.

Gambar 6. Distribusi Presipitasi ( Lee, 1990)

Apabila intensitas hujan melebihi kapasitas infiltrasi, maka air hujan yang jatuh akan menjadi aliran permukaan (surface runoff) dan kemudian menuju sungai atau badan air terdekat. Aliran permukaan ini juga merupakan salah satu energi yang dapat menggerus partikel tanah di permukaan dan menyebabkan erosi. Aliran permukaan semakin besar dengan semakin tingginya intensitas hujan, lereng yang semakin curam, semakin berkurangnya kekasaran permukaan tanah, dan semakin kecilnya kapasitas infiltrasi (Gambar 7).

Gambar 7. Mekanisme infiltrasi dan runoff

Komposisi aliran air di dalam sungai terdiri dari aliran permukaan (surface runoff), aliran bawah permukaan (sub surface runoff), dan aliran air tanah (groundwater). Di dalam aliran air yang mengalir senantiasa membawa bahan dan mineral yang dapat larut dan tidak larut. Bahan yang dibawa aliran air kemudian diendapkan secara selektif.

Untuk menafsirkan secara kuantitatif siklus hidrologi dapat dicapai dengan persamaan umum yang dikenal dengan persamaan neraca ir, yaitu bahwa dalam selang waktu tertentu, masukan air total pada suatu ruang tertentu harus sama dengan keluran total ditambah perubahan bersih dalam cadangan (Seyhan, 1993). Neraca hidrologi dari suatu wilayah dapat ditulis sebagai berikut : Perolehan (Input) = Keluaran (output) + simpanan P = (R G E T) + S dimana : peubah P adalah presipitasi (hujan), R adalah aliran permukaan, G adalah air tanah, E adalah evporasi, T adalah transpirasi, dan S adalah perubahan simpanan. Persamaan inilah yang dikenal sebagai persamaan dasar hidrologi.

Persamaan neraca air dapat digunakan untuk menentukan besarnya nilai proses hidrologi yang tidak diketahui. Misalnya besarnya evapotranspirasi (ET) yang terjadi di suatu DAS yang besar tidak diketahui, karena peralatan untuk pengukurannya tidak ada. Namun data hujan (P), aliran permukaan (R) , air tanah (G) dan simpanan air (S) untuk DAS tersebut terukur. Dengan demikian besarnya nilai ET dapat ditentukan dengan mengurangi P dengan R, G, dan S (atau ET = P R G S).

Pengaruh Manusia Terhadap Siklus Hidrologi DAS

Manusia merupakan komponen ekosistem DAS yang berpengaruh besar dan dominan terhadap keseimbangan mekanisme kerja sistem ekologs yang berlangsung, termasuk mempengaruhi daur hidrologi. Dengan teknologi yang dikuasainya ia mampu mengelola sumberdaya alam dan ekosistem di sekitarnya disesuaikan dengan keinginanna. Perubahan keseimbangan ekosistem yang tidak terkendali menjadi sumber utama munculnya degradasi sumberdaya alam yang serius, dan pada akhirnya menurunkan kualitas hidup.

Pengaruh manusia dalam daur hidrologi dapat terjadi sepanjang aliran DAS, baik di bagian hulu, bagian tengah, dan atau di bagian hilir; dengan sifat pengaruh ada yang langsung atau tidak langsung. Tindakan manusia yang berpengaruh terhadap proses siklus hidrologi banyak menyangkut alokasi penggunaan lahan, pembuatan bangunan air di dalam DAS, pengelolaan vegetasi, pengelolaan tanah, tindakan konservasti tanah dan air, pemanfaatan air tanah, dan masuknya polutan ke dalam siklus hidrologi. Berikut ini disajikan beberapa contoh tindakan manusia dan pengaruhnya terhadap siklus hidrologi.

Penggunaan lahan hutan dengan tingkat intersepsi hujan tinggi dan memiliki sifat infiltrasi tanah yang baik, akan mengurangi jumlah aliran permukaan. Namun dengan terjadinya konversi hutan menjadi lahan pertanian intensif, bahkan menjadi kawasan industri dan pemukiman, menyebabkan terganggunya proses hidrologi. Terbukanya permukaan tanah menyebabkan kapasitas intersepsi

hujan menurun drastis, hujan yang jatuh langsung memukul permukaan tanah dan memecahkan matriks tanah menjadi partikel tanah yang kecilkecil. Sebagian dari partikel tanah menutup pori tanah dan memadatkan permukaan tanah, sehingga menurunkan kapasitas infilitasi. Dengan menurunnya kapasitas infiltrasi maka jumlah aliran permukaan meningkat dan jumlah aliran air yang menuju ke bawah permuaan untuk mengisi air tanah berkurang. Aliran permukaan menjadi energi yang dapat menggerus partikel tanah di permukaan dan mengangkutnya ke tempat lain sebagai bagian dari proses erosi.

Gambar 8. Fungsi Tegakan Hutan (Microsoft,2002)

Di daerah perkotaan yang umumnya merupakan bagian hilir DAS, permukaan tanah banyak ditutupi oleh bangunan permanen yang kedap air. Akibat dari semakin luasnya lapisan kedap air di permukaan tanah, hujan yang jatuh sebagian besar tidak dapat diinfiltrasikan ke dalam tanah dan menimbulkan genangan atau banjir. Pemikiran banyak orang tentang banjir di bagian hilir semata mata hanyalah diakibatkan oleh kiriman banjir dari bagian hulu tidak sepenuhnya benar, karena banjir yang terjadi di bagian hilir akan tetap terjadi walaupun hujan di hulu kecil jika air y hujan dan aliran permukan yang masuk ke hilir tidak mampu dialirkan ke dalam tanah atau ke badan air dengan baik. Kasus DAS Ciliwung yang berhulu di daerah Puncak Bogor dan berhilir di Jakarta menunjukkan bahwa banjir yang terjadi di Jakart tidak selamanya akibat kiriman air dari Bogor, dimana Jakarta pernah banjir pada

saat Bogor tidak terjadi hujan.

Penulis menduga dengan semakin banyaknya bangunan dan

infrastruktur permanen dibanguan memperluas lapisan kedap air di atas prmukaan tanah, sehingga menjadi salah satu sumber masalah utama banjir di Jakarta.

Pembuatan teras dalam pengelolaan lahan dapat meningkatkan laju infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan. Vegetasi yang ditanam dan serasah yang dihasilkannya akan meningkatkan kekasaran permukaan tanah, sehingga menurunkan laju aliran permukaan dan akhirnya menurunkan energi gerusannya terhadap tanah. Penurunan laju aliran permukaan akan menurunkan jumlah erosi yang terjadi.

Pembuatan waduk atau dam untuk mengendalikan banjir dapat mengancam kelestarian biota air. Aliran air yang masuk ke dalam waduk dan membawa hara mineral akibat erosi di bagian hulu sungai, dapat meningkatkan kandungan hara dalam waduk. Peningkatan hara mineral akan memacu pertumbuhan ganggang yang menimbulkan peristiwa etrofikasi dan pada akhirnya mengancam klestarian biota perairan tersebut. Penjelasan tentang etrofikasi dibahas dalam bagian konservasi tanah dan air.

Air tanah banyak dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga dan industri. Pemanfaatan oleh industri jauh lebih besar daripada untuk rumah tangga. Eksploitasi air tanah tanpa kendali akan menurunkan muka air tanah, dan menimbulkan rongga di dalamnya. Adanya rongga kosong ini menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah (sois subsidense). Gejala tanah yang mengalami subsidensi tampak dari adanya retakretak pada dinding bangunan akibat berubahnya pondasi bangunan dalam tanah. Pada kondisi tanah subsiden parah, permukaan tanah anjlok diikuti dengan runtuhnya bangunan.

Evaluasi Sumberdaya Lahan

Lahan (land) dalam pengelolaan DAS berperan penting, dan hampir tidak ada aktifitas yang dilakukan tanpa dukungan lahan. Lahan secara definisi bermakna lebih luas dari tanah (soil), yaitu lingkungan fisik yang terdiri dari tanah, iklim, relief, air, vegetasi, dan benda yang ada di atasnya sepanjang berpengaruh terhadap penggunaan lahan, sedangkan tanah sendiri merupakan benda alami berdimensi tiga (panjang, lebar, dan tinggi) yang terletak di bagian atas permukaan atas kulita bumi dan memiliki sifat yang berbeda dengan lapisan di bawahnya sebagai hasil kerja interaksi antara iklim, kegiata organisme, bahan induk, dan relief selama masa tertentu (Arsyad, 1989).

Kebutuhan akan lahan naik sebagai konsekuensi meningkatnya jumlah populasi dan pembangunan fisik selama beberapa dasawarsa terahir. Jumlah lahan yang tetap dibandingkan dengan tingginya kebutuhan menimbulkan masalah pembangunan yang menyangkut beragam aspek, mulai dari ekologis, ekonomi, sosial, budaya, bahkan stabilitas. Tingginya konversi lahan hutan menjadi non hutan, sawah menjadi kawasan industru dan pemukiman adalah contoh bagaimana posisi sumberdaya lahan selama ini yang rentan untuk dialhfungsikan. Tindakan konversi lahan dan pilihan pengelolaan lahan yang tidak tepat serta tidak memperhatikan aspek kemampuan dan kesesuaia lahan itu sendiri, sehingga mengancam kelestariannya dan mempercepat terjadinya degradasi lahan. Gejala degradasi lahan merupakan tanda kemunduran lahan untuk mampu berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.

Pada dasarnya lahan yang ada memiliki keterbatasanketerbatasan yang secara alamiah akan menjadi pembatas untuk menghasilkan komoditas sesuai dengan jumlah dan mutu yang ditentukn. Hampir setiap lahan di berbagai tempat yang berbeda memiliki karakteristik yang berbeda sebagai akibat hasil interaksi antar kmponen yang mempengaruhinya berbeda pula. Perbedaan karakteristik lahan di setiap wilayah menuntut adanya perbedaan dalam melakukan manajemennya. Lahan yang tidak cocok untuk pertanian yang sangat intensif tidak akan mampu dipaksakan dikelola untuknya, dan apabila dipaksakan dengan dalih adanya dukungan teknologi tentunya akan memberikan biaya dan resiko kerusakan lingkungan ang besar.

Seringkali pilihan penggunaan lahan tidak memperhatikan potensi lahan, kesesuaian lahan, dan tindakan pengelolaan yang diperlukan untuk setiap areal lahan yang penting sebagai pegangan pengelola lahan. Dampak dari ketidaktepatan pilihan dalam penggunaan lahan menimbulkan degradasi lahan yang menyebabkan adanya lahan kritis (critical land), yaitu lahan yang sudah tidak memiliki kemampuan berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.

Upaya pelestarian sumberdaya lahan dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan sesuai dengan kemampuannya, dan kesesuainnya untuk komoditas tertentu. Dengan demikian perlu dilakukan kegiatan evaluasi lahan untuk mengkaji potensi lahan dan tingkat kesesuaiannya.

DAS Dan Pengelolaannya (5)

MONITORING DAN EVALUASI DAERAH ALIRAN SUNGAI DALAM PERSPEKTIF DIAGNOSA KESEHATANNYA
Oleh : Paimin, Sukresno, Tyas M Basuki, dan Purwanto Prosiding Seminar Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS Surakarta, 23 Desember 2002 I. PENDAHULUAN Jumlah penduduk yang terus berkembang, sementara lapangan kerja sangat terbatas, telah mendorong masyarakat memanfaatkan setiap jengkal lahan untuk memperoleh produksi pertanian sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup. Permasalahan degradasi timbul, terutama oleh erosi tanah, apabila pemanfaatan lahan ini dilakukan pada daerah berlereng tanpa memperhatikan kemampuan lahannya. Aktivitas penggunaan lahan demikian tidak saja merugikan wilayah setempat (on site) tetapi juga menjadikan derita di wilayah hilirnya (off site). Proses ini terangkai dalam sistem aliran sungai yang berjalan mengikuti kaidah alami (proses hidrologis) yang tidak terikat oleh batas administrasi. Memperhatikan hubungan proses hulu dan hilir tersebut maka wilayah daerah aliran sungai (DAS) bisa digunakan sebagai satuan (unit) wilayah perencanaan, analisis dan pengelolaan. Pemanfaatan lahan untuk usaha tani dalam wilayah DAS tersebut menunjukkan adanya suatu aktivitas pengeloaan DAS. Pengelolaan DAS difahami sebagai upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktifitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan (Dep. Kehutanan, 2001). Sementara itu, Brooks, dkk. (1990) mendeskripsi yang pengelolaan DAS sebagai suatu proses pengorganisasian dan pemanduan penggunaan sumberdaya lahan dan sumberdaya lainnya dalam DAS untuk menyediakan barang dan jasa diinginkan tanpa mengkibatkan kerusakan sumberdaya tanah, air dan sebagainya. Pengelolaan DAS menyangkut aneka sumberdaya alam dan memerlukan pengertian hubungan antara penggunaan lahan, tanah dan air, dan keterkaitan antara hulu dan hilir. Sama pentingnya juga pemahaman sistem sosial dan politik yang berlaku dalam suatu batas DAS, karena kelembagaan demikian menuntun penggunaaan lahan, baik melalui regulasi maupun insentif. Dipandang dari keluaran yang bersifat biofisik, pengelolaan DAS dipahami sebagai sistem

perencanaan yang menggunakan masukan (inputs) pengelolaan dan masukan alamiah untuk menghasilkan keluaran (outputs) yang berupa barang dan jasa serta dampak terhadap sistem

lingkungan baik di dalam maupun di luar DAS (Hufschmidt, 1986). Sejalan dengan prinsip tersebut, Becerra (1995) memandang DAS sebagai sistem produksi yang menerima masukan sumberdaya alam dan manusia untuk menghasilkan keluaran berupa limpasan (runoff), dan produk pertanian, hutan dan ternak. Disamping itu dalam proses produksi ini juga diperoleh akibat yang tidak diharapkan baik setempat (on site), seperti erosi tanah dan penurunan produktivitas pertanian, maupun di hilir (off site), seperti penurunan kualitas air, perubahan rejim sungai, banjir, sedimentasi dan penurunan nilai wisata. Secara skematis sistem DAS tersebut digambarkan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Daerah Aliran Sungai Sebagai Sistem (disadur dari Becerra, 1995)

Pengelolaan merupakan masukan kelembagaan yang berusaha untuk mengorganisir sistem dalam rangka memperoleh tujuan pembangunan yang direncanakan yakni perlindungan dan perbaikan

keseimbangan lingkungan. Hal ini biasanya melibatkan penggunaan sumberdaya alam DAS, terutama lahan, air, dan vegetasi, dengan partisipasi aktif organisasinya dan dalam harmoni dengan lingkungannya, oleh masyarakat di wilayah tersebut,. Dua hal yang perlu diperhatikan, yakni : (1) penggunaan sumberdaya harus tidak melampaui potensi dan batas ekosistem alami pegunungan yang rentan, dan (2) kepentingan strategis ekosistem sungai dan aliran air (stream). Asdak (1995) memandang bahwa DAS sebagai suatu ekosistem, sehingga bisa merupakan satuan monitoring dan evaluasi (monev) karena setiap ada masukan (inputs) ke dalam ekosistem tersebut dapat dievaluasi proses yang telah dan sedang berlangsung dengan melihat keluaran (outputs) dari ekosistem tersebut. Wilayah DAS yang terdiri dari komponen tanah, vegetasi dan air/sungai berperan sebagai prosesor. Kegiatan monev yang menghasilkan informasi tentang tingkat kesehatan DAS yang bersangkutan pada sistem pengelolaan yang diterapkan bisa dipandang sebagai kegiatan diagnose. Dengan pemahaman di atas perlu dibangun sistem diagnose kesehatan DAS melalui rangkaian penyelenggaraan monev DAS. Pada akhirnya hasil Diagnose tersebut diharapkan bisa merupakan dasar dalam penyusunan perencanaan dan implementasi pengelolaan DAS sebagai suatu upaya terapi atau penyehatan. II. KERANGKA DASAR MONEV DAS A. Monev Sebagai Diagnose Dalam kenyataan lapangan, permasalahan dan kendala tidak terduga sering muncul begitu implementasi pengelolaan DAS dimulai. Segala sesuatunya tidak selalu seperti yang direncanakan; situasi bisa berubah sehingga memaksa untuk merubah perencanaan. Hal ini bukan karena perencanaan yang salah tetapi mencerminkan adanya perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu. Hal ini disadari bahwa dalam perencanaan pengelolaan DAS dijumpai adanya faktor ketidakpastian (Asdak, 1995, Brooks, et al., 1990). Monitoring dan evaluasi merupakan unsur dasar dari proyek perencanaan dan pengelolaan. Monitoring adalah menghimpun informasi tentang dunia (fakta) nyata yang dapat dibandingkan dengan dunia khayal yang diuraikan dalam rencana proyek, untuk melihat seberapa dekat apa yang direncanakan dengan apa yang berjalan dalam kenyataannya. Dengan prinsip yang tidak berbeda Becerra (1995) menyebutkan monitoring sebagai pengukuran secara sistematis dari indikator proyek untuk menetapkan hasil yang diperoleh terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan evaluasi adalah mengorganisasi dan menilai informasi yang terhimpun dalam monitoring, dibandingkan dengan informasi yang terhimpun melalui cara lain, untuk dipresentasikan kepada manajer dan perencana pada tempat dan waktu yang tepat (Brooks, dkk., 1990). Dengan hasil monev tersebut manajer (pengelola) mampu menyediakan fakta yang berupa data kuantitatif yang jelas dan obyektif atas manfaat dari aktivitas yang telah dicapai dan sejalan dengan tujuan pengelolaan yang direncanakan.

Monitoring dan evaluasi (monev) dilakukan pada fase awal proyek (pengelolaan), proyek berjalan, akhir proyek, dan pasca proyek (Becerra, 1995). Monev harus dirancang dan dilakukan sejalan dengan tujuan, karakteristik dan skala proyek. Namun demikian, untuk melakukan monev pengelolaan DAS sering dijumpai kesulitan karena adanya hal-hal sebagai berikut (Becerra, 1995) : 1. Sebagian besar manfaat diperoleh dalam jangka menengah dan jangka panjang 2. Faktor eksternal, bukan atribut pengelolaan, juga mempengaruhi pencapaian hasil 3. Manfaat tersebar luas secara geografis 4. Kegiatan perbaikan pada lahan miring tidak selalu diterjemahkan kedalam keuntungan hidrologis pada limpasan di titik keluaran (outlet) 5. Manfaat yang diperoleh sering terhapus oleh kerusakan dari aktivitas lain dalam DAS, seperti pembuatan jalan yang mengakibatkan erosi jurang dan tanah longsor. 6. Proyek sering salah dalam memberikan gambaran yang cukup untuk bisa dilakukan evaluasi yang obyektif. Di samping itu, di Indonesia agak jarang diperoleh kesinambungan proses pengelolaan (perencanaan dan pelaksanaan) secara konsisten, kecuali pada proyekproyek khusus dengan dana pinjaman (loan) atau bantuan (grant) luar negeri. Hal ini bisa disadari karena tidak adanya salah satu institusi yang memiliki otoritas penuh atas pengelolaan DAS. Berkenaan dengan kendala di atas, maka agak sulit untuk merancang sistem monev pengelolaan DAS yang mencakup empat fase seperti diutarakan Becerra (1995) di atas, kecuali fase pasca proyek yang bisa ditafsirkan sebagai monev secara periodik, misalnya setiap lima tahun. Sistem monev perodik demikian akan sama seperti disarankan oleh Walker, dkk. (1996) yakni untuk mendeteksi kecenderungan kesehatan DAS dan mengidentifikasi penyebab kerusakannya (penyakitnya). Dengan demikian penyelenggaraan monev yang dilakukan secara periodik tersebut bisa dikatakan sebagai penyelenggaraan diagnose kesehatan DAS. B. Kerangka Pikir Diagnose Dalam melakukan monev DAS Jenkins dan Sanders (1992), seperti dikutip Walker, et. al (1996), mengikuti prosedur pemeriksaan kesehatan manusia. Pada Diagnose awal, pasien (DAS) ditetapkan sehat atau sakit; kemudian diikuti diagnose lanjut untuk menemukan jenis penyakitnya, yang akhirnya diputuskan cara dan jenis pengobatannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa monev kesehatan DAS (catchment health) bisa dilakukan dalam 3 (tiga) skala yakni nasional, regional/DAS, dan usaha tani (site). Di Indonesia tingkatan skala ini bisa dipilahkan menjadi tingkat nasional/DAS, tingkat regional/kabupaten/sub-DAS, dan tingkat usaha tani/desa. Untuk menetapkan tingkat kesehatannya,

masing-masing skala memerlukan jumlah indikator berbeda; semakin tinggi tingkat skalanya semakin sederhana jumlah indikator yang digunakan. Indikator tingkat usahatani memberikan nilai angka dan sesuai untuk pemetaan distribusi spasial nilai, sedangkan indikator tingkat DAS/subDAS mengintegrasikan seluruh respon DAS, tetapi tidak mengindikasikan lokasi hotspot-nya. Indikator tersebut dibedakan dalam dua tipe, yakni : (1) indikator kondisi yang menetapkan keadaan suatu sistem terhadap keadaan yang diinginkan, dan (2) indikator kecenderungan yang mengukur bagaimana sistem tersebut berubah. Mengingat hasil akhir dari kegiatan monev DAS adalah untuk memperoleh informasi tentang tingkat capaian hasil dari suatu proses pengelolaan terhadap tujuan, maka sistem monev pengelolaan DAS dilakukan dengan prinsip dasar mengikuti alur sistem DAS seperti pada Gambar 1, namun dilakukan secara terbalik. Diagnose awal dimulai dari hasil luaran (outputs) yakni : (1) karakteristik hidrologi yang diukur pada outlet (titik pelepasan) dari DAS terukur, yang meliputi aliran air (limpasan), sedimen terangkut, dan air tanah, dan (2) produksi budidaya pertanian (pertanian, hutan, perkebunan, ternak, dll), termasuk jasa. Melalui analisis hasil luaran akan diperoleh informasi tingkat kesehatan DAS yang bersangkutan. Untuk mendeferensiasi tingkat kesehatan bagian DAS perlu ditelusuri melalui diagnose awal kondisi setiap cabang aliran sungai (sub-sub-DAS). Diagnose selanjutnya adalah melakukan observasi terhadap obyek prosesor atau sumberdaya alam DAS dan masukan (inputs) alamiah dan teknologi serta pelaku pengelolaan DAS (masyarakat dan kelembagaan) untuk memperoleh jawaban atas fenomena hasil diagnose awal. Secara skematis sistem monev atau diagnose DAS tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar 2. Indikasi yang diperoleh pada diagnose awal memiliki hubungan erat dengan kondisi dan sifat dari faktor pada diagnose lanjut dan juga memiliki hubungan antar indikator (interrelationship). Hubungan tersebut selanjutnya akan diuraikan seperi berikut :

Gambar 2. Skema Alur Monev/Diagnose Kesehatan DAS

Produksi budidaya pertanian secara umum, seperti tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, ternak dan lain-lain dalam DAS bisa mengalami kecenderungan naik, stabil maupun turun. Perubahan produksi tersebut dipengaruhi oleh perubahan pola iklim, terutama hujan, dan kondisi lahan serta pola pengelolaannya. Kondisi lahan yang mempengaruhi produksi adalah kesesuaian pengunaan lahan terhadap kemampuan atau kapabilitasnya dan tingkat kesuburan tanahnya. Pada daerah pegunungan (hulu) sering dijumpai penggunaan lahan yang melampaui kemampuannya karena tingkat tekanan penduduk terhadap lahan cukup tinggi serta lemahnya penegakan legislasi yang dibangun melalui kelembagaan yang ada. Sedangkan faktor kesuburan tanah secara umum dapat dicirikan oleh jenis tanahnya. Secara rinci kesuburan tanah bisa dimaksudkan sebagai status kerusakan lahan seperti pada Peraturan Pemerintah (PP) No.150 Tahun 2000, dimana disebutkan tentang nilai ambang kritis dari parameter kriteria baku kerusakan tanah di lahan kering. Namun demikian mengacu saran Shaxson (1999) yang memandang penurunan produktivitas atau hasil adalah berkaitan erat dengan

kualitas tanah tersisa setelah erosi, maka kesuburan tanah dapat disifatkan dari kondisi erosi tanahnya. Sementara itu pengelolaan lahan ditentukan oleh : 1. Masukan teknologi, yang berupa sarana produksi pertanian (saprotan), sistem dan pola tanam, dan teknik konservasi tanah yang diterapkan. Perubahan pola dan dan sistem tanam yang dimaksud termasuk perubahan penggunaan lahan, seperti lahan alang-alang dirubah menjadi lahan pertanian atau hutan atau perkebunan, sehingga pengaruh tanaman yang utama adalah kerapatan penutupan tanah . 2. Peran masyarakat sebagai pengelola lahan dan sistem kelembagaan yang terbangun. Faktor sosial meliputi luas pemilikan lahan, status pengelola lahan terhadap kepemilikan, tingkat ketergantungan hidup terhadap lahan, pengetahuan petani terhadap kegiatan konservasi tanah, dan kelembagaan pengelolaan DAS yang mencakup lembaga masyarakat, konflik, nilainilai, dan norma masyarakat. Jumlah dan distribusi limpasan (run-off) dari aliran sungai (stream flow) menunjukkan indikasi sifat atau karakteristik DAS di atasnya dalam memberikan respon terhadap hujan yang jatuh sebagai masukan terhadap DAS. Nilai limpasan bisa dinyatakan dalam : (1) debit aliran yang merupakan jumlah per satuan waktu, (2) koefisien variasi limpasan, dan (3) koefisien rejim sungai (KRS) yaitu nisbah debit maksimum dan minimum. Debit aliran yang penting adalah besarnya debit puncak atau banjir dan frekuensi kejadiannya sebagai indikator kemampuan DAS dalam merespon air hujan yang jatuh. Peristilahan banjir puncak sering digunakan dalam perancangan bangunan air (hidrolik); demikian juga parameter koefisien limpasan. Memperhatikan kegunaan tersebut maka nilai koefisien limpasan bisa diambil dari limpasan puncak pada kejadian hujan yang bersangkutan (rainfall event). Nilai koefisien limpasan yang dihitung dari nilai total limpasan dan hujan dalam satu tahun menunjukkan nilai neraca air tetapi bukan merupakan bentuk respon DAS secara langsung terhadap air hujan yang jatuh. Hal ini juga terlihat bahwa limpasan yang mengalir di sungai sebagai hasil respon DAS terhadap hujan tidak langsung terukur sebagai luaran tetapi masih didiversi untuk kepentingan irigasi. Memperhatikan halhal tersebut, maka nilai KRS seyogyanya menggunakan pendekatan yang sama. Sementara itu pemanfaatan limpasan untuk usaha tani bisa dinilai dalam parameter indek penggunaan air. Limpasan yang terjadi dipengaruhi oleh curah hujan yang jatuh dan karakteristik DAS yang dicerminkan oleh morfometri DAS, kondisi lahan dan pengelolaan lahan dan air. Morfometri DAS merupakan karakteristik DAS yang bersifat bawaan alamiah yang sulit untuk dimanipulasi oleh manusia yang meliputi luas dan bentuk DAS, kemiringan sungai, kemiringan rata-rata DAS, kerapatan drainase, dan ordo sungai. Sementara itu karakerisik lahan juga ada yang bersifat permanen adalah geologi (batuan), sedangkan tanah bersifat agak permanen (perubahan agak lambat), dan yang paling dinamis adalah penggunaan lahan. Undangundang No. 41 Tahun 1999 menetapkan bahwa guna optimalisasi manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan minimal 30% dari luas DAS dengan sebaran secara proporsional (Pasal 18). Sementara itu dengan tumbuhnya industri dan jumlah

penduduk yang terus bertambah telah mendorong perubahan penggunaan lahan yang kurang memiliki fungsi perlindungan atau konservasi, seperti perubahan lahan pertanian menjadi pabrik dan pemukiman atau lahan hutan menjadi lahan pertanian. Masukan teknologi untuk pengelolaan lahan, seperti jumlah dan jenis penggunaan sarana produksi pertanian (saprotan), pola dan sistem tanam, tindakan konservasi tanah, dan pembangunan jaringan irigasi dan dam, akan mempengaruhi sifat limpasannya. Pengelolaan yang terbangun tergantung dari kondisi sosial ekonomi masyarakat pelakunya seperti tingkat pengetahuan petani, kelembagaan, status pemilikan lahan dan ketergantungan hidup petani pada lahan pertanian.. Bahan yang terangkut dalam limpasan dapat berupa bahan pencemar yang bersifat fisis (partikel tanah) maupun khemis. Namun partikal tanah terangkut, sebagai produk erosi dari DAS, yang akan merupakan sedimen di tempat pengendapannya dibicarakan secara terpisah dari pencemar khemis lainnya. Besarnya erosi memiliki korelasi dengan limpasan walaupun tidak selalu sejalan. Partikel tanah yang terangkut bersama limpasan merupakan produk dari erosi permukaan (lapis dan alur) dan morfoerosi (jurang, tebing sungai dan jalan, longsoran dan lainnya). Faktor yang mempengaruhi besarnya erosi adalah hujan, topografi, tanah dan pengelolaan lahannya. Tingkat erosi tanah diidentifikasi berdasarkan kenampakan tanah akibat erosi yakni tebal solum tanah, luas batuan permukaan, dan aplikasi teknik konservasi tanah. Pengelolaan lahan yang mempengaruhi besarnya erosi tanah adalah aplikasi teknik konservasi tanah, baik vegetatif maupun teknik sipil. Namun tingkat keberhasilan teknik konservasi tanah yang dilakukan tergantung dari perilaku masyarakat dan kelembagaan yang terbangun untuk menggerakkan masyarakat pengelola tersebut. Bahan pencemar yang terangkut melalui aliran air akan menunjukkan input (masukan) teknologi yang diaplikasikan dalam pengelolaan lahan. III. KRITERI DAN INDIKATOR KESEHATAN DAS Dalam melakukan Diagnose terhadap kesehaatan DAS perlu dirancang indikator-indikator yang menunjukkan tingkat kesehatan suatu DAS. Kerangka pendekatan monev sebagai proses diagnose seperti Bab II disusun dalam bentuk pendekatan indikator masukan dan indikator keluaran yang dibangun dalam fase diagnose awal dan diagnose lanjut sehingga hasil diagnose bisa diketahui proses sebab-akibatnya. indikator yang disusun harus memenuhi dua kondisi dasar, yakni : (1) mudah diverifikasi secara obyektif, (2) terkait langsung dengan pencapaian hasil. Dengan demikian, pilihan indikator tidak saja memiliki arti, tetapi juga harus dapat dipahami oleh para pengelola DAS dan pihak lain yang terkait. Mengacu kerangka dasar pada Bab II, maka disusun kriteria dan indikator kesehatan DAS seperti pada Tabel 1.

Pemberian bobot pada setiap indikator dimulai dari pembagian bobot antara diagnose awal (40%) yang meliputu kriteria hidrologi dan produksi, dan diagnose lanjut (60%) yang mencakup kriteria morfometri DAS (hidrologi), kondisi lahan, masukan teknologi, dan kondisi masyarakat (sosial). Masing-masing indikator memiliki nilai berdasarkan atas kondisinya yang berkisar antara baik (3), sedang (2), dan buruk (1) seperti pada Lampiran 1. Nilai setiap indikator dikalikan dengan bobotnya seperti pada Tabel 1. Hasil kali ini dijumlahkan dan kemudian dibagi dengan total bobot (100) yang kemudian disebut skor tingkat kesehatan DAS. Kriteria kesehatan DAS diklasifikasi berdasarkan skor rata-rata seperti Tabel 2 berikut.

IV. KESIMPULAN Berdasarkan telaah sistem monitoring dan evaluasi (monev) pengelolaan DAS tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Monev pengelolaan DAS yang dilakukan secara periodik, setiap 5 atau 10 tahun, bisa dipandang sebagai suatu Diagnose terhadap kesehatan atau tingkat kerusakan suatu DAS. Hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar untuk perbaikan/ penyempurnaan sistem perencanaan maupun pelaksanaan pengelolaan DAS selanjutnya. 2. Diagnose awal terhadap kesehatan DAS dilakukan pada hasil keluaran (output) suatu sistem pengelolaan DAS yang meliputi aspek (kriteria) hidrologi dan produksi (ekonomi), termasuk jasa didalamnya. Melalui 11 indikator, 9 untuk kriteria hidrologi dan 2 untuk kriteria produksi, tingkat kesehatan atau kerusakan awal dari suatu DAS yang bersangkutan akan bisa dievaluasi. 3. Untuk mengetahui tempat dan penyakit (sebab kerusakan) dari DAS tersebut perlu Diagnose lanjut terhadap karakteristik DAS dan masyarakat pelaku pengelolaan. Sebanyak 17 indikator penyusun Diagnose lanjut yang dikelompokkan dalam 4 (empat) kriteria : (1) morfometri DAS (1 indikator), (2) lahan (4 indikator), (3) masukan teknologi (4 indikator), dan (4) sosial/masyarakat (8 indikator).

4. Bobot penilaian indikator secara garis besar terbagi menjadi 40% untuk Diagnose awal dan 60% untuk Diagnose lanjut dimana untuk masing-masing kriteria adalah hidrologi sebesar 35%, produksi sebanyak 5%, morfometri DAS sebesar 5%, lahan sebesar 20%, masukan teknologi sebesar 20%, dan sosial sebesar 15%. DAFTAR PUSTAKA Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada Univ. Press Becerra, E. H. 1995. Monitoring and Evaluation of Watershed Management Project Achievements. FAO Conservation Guide 24. FAO. Rome. Brooks, K. N, H. M. Gregersen, A. L. Lundgren, and R. M. Quinn. 1990. Manual on Watershed Management Project Planning, Monitoring and Evaluation . ASEAN-US Watershed Project. Philippines. BTPDAS Surakarta. 2000. Pedoman Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Departemen Kehutanan, 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Kep.Men.Hut. No.52/Kpts-II/2001. Tentang. Pedoman Penyelenggaraan Pengelolaan DAS. DitJen RLPS. Dit. RLKT. Hufschmidt, M.M., 1986. A Conceptual Framework for Analysis of Watershed Management Activities. Strategies, Approaches, and System in Integrated Watershed Management. FAO Conservation Guide 14. FAOUN, Rome. Dixon, J. A, and K. W. Easter. 1986. Intregated Watershed Management : An Approach to Resource Management, In. K. W. Easter, J. A. Dixon, and M.M. Hufschmidt. Watershed Resource Management. An Integrated Framework with Studies from Asia and the Pacific. East-West Center, Env. and Policy Institute. Honolulu, Hawaii. Shaxon, F.,1999. New Concepts and Approaches to Land Management in the Tropics with Emphasis on Steeplands. FAO Soil Bulletin 75. FAOUN, Rome. Walker, J., D. Alexander, C. Irons, B. Jones, H. Penridge, and D. Rapport. 1996. Catchment Health Indicators : An Overview. In. J. Walker and D. J. Reuter. Indicators of Cacthment Health. A Technical perspective. CSIRO. Australia.

PERTANYAAN DAN SARAN 1. Pembahasan Prof. Dr. Sutikno (Jurusan Geografi Fisik dan Lingkungan, Fakultas Geografi UGM dan Kepala Pusat Studi Bencana Alam UGM, Yogyakarta) Kerusakan pada DAS akan diikuti dengan kesulitan hidup dan kesengsaraan antara lain bencana banjir, kekeringan, longsor, dan sebagainya. DAS yang rusak sulit dipulihkan dan membutuhkan dana yang besar. Beberapa masukan untuk perbaikan: 1. Memasukkan penambangan galian C dalam Monev karena hal tersebut akan mempengaruhi kesehatan DAS. 2. Perlu penajaman dan transparansi tentang masalah yang akan dipecahkan dan tujuan yang ingin dicapai. Permasalahannya : dapatkah dan bagaimanakah membangun sistem diagnose kesehatan DAS. Tujuannya adalah mempelajari sistem kesehatan DAS melalui monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS. 3. Komponen batuan dan biota (selain vegetasi) kurang dimasukkan dalam Monev Pengelolaan DAS. Selain itu manusia merupakan pelaku dan pemanfaat sumberdaya alam pada DAS yang sangat menentukan kondisi DAS. Untuk itu perlu pemberdayaan masyarakat dan pensosialisasian pengelolaan DAS. 4. Pembahas sependapat dengan kerangka pikir diagnose DAS yaitu DAS didiagnose,

diidentifikasi jenis penyakitnya, dan selanjutnya diterapi. Tetapi perlu dicermati karakteristik DAS sehingga tidak pukul rata dalam memonev DAS. 5. Sistem pengelolaan lahan pada DAS dapat dibedakan menjadi: (1) dikelola sendiri, (2) dikelola bersama, (3) dikelola pemerintah, dan (4) dikelola secara kombinasi. Untuk itu sistem monevnya perlu diperhatikan dan dibedakan. 6. Pengelolaan DAS tergantung pada kondisi sosial ekonomi masyarakat dan perlu ditambah persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan DAS. 7. Perlu ada justifikasi untuk pembobotan dan dan dicari faktor pembatasnya. 2. Pembahasan Dr. Maksum (Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM, Yogyakarta) Makalah cukup komprehensif tetapi kurang aspek sosial ekonomi. Padahal aspek sosial ekonomi sangat berperan dalam menentukan kesehatan suatu DAS. Monev DAS agak gagal dalam melihat fenomena sosial ekonomi dan terlihat satu arah serta statis, padahal Monev DAS seharusnya dinamis. Faktor relevansi, efisiensi, efektivitas, dan sustainibilitas tidak nampak dalam makalah. Selain itu, persoalan pembobotan perlu lebih diperhatikan karena setiap daerah memiliki karakteristik yang

berbeda. Untuk itu, maka pembobotan tersebut perlu di tera setiap saat. Dalam kaitan inilah, maka para stakeholder perlu duduk bersama untuk menyamakan persepsi dan menentukan pembobotan yang sesuai. 3. Kuswaji (Fakultas Geografi UMS) Sependapat bila diagnosa DAS sama seperti diagnosa penyakit, yaitu dimulai dari diagnosa lalu dicari penyakitnya dan selanjutnya diterapi sesuai dengan penyakit DAS. Tetapi perlu hati-hati dalam terapinya, karena bisa terjadi penyakit DAS sama namun disebabkan oleh faktor yang berbeda, sehingga terapinya pun akan berbeda. Apa asumsi penentuan waktu Monev 510 tahun dan dasar penentuan pembobotannya? 4. Suharno (Fakultas Pertanian UNS) Keberatan pada diagnosa lanjut, kenapa pada aspek sosial ekonomi hanya 15 dari 60, padahal seharusnya diberi bobot lebih besar. Banyak kasus kekritisan DAS disebabkan oleh masalah sosial ekonomi. 5. Isnugroho (Balai Sungai DAS Solo) a. Institusi pelaksana Monev itu siapa?

b. Wilayah administrasi tidak sama dengan wilayah DAS. Untuk itu perlu dijadikan suatu bobot juga dalam kaitannya dengan keterpaduan pengelolaan DAS. Hal ini akan makin besar pengaruhnya pada era otonomi daerah. 6. Sumarto Gunadi (Fakultas Teknologi Pertanian UGM) Sistem Monev DAS merupakan suatu sistem yang iterkatif. Kenapa perlu dikuantifikasi dalam penilaian kesehatan DAS? Kuantifikasi terhadap peubah skor akan berdampak besar pada persoalan akurasi. Perlu diperhatikan parameter kondisi, fungsi, dan kepentingan dari masing-masing yang akan dikuantifikasi. 7. Teguh Prasetyo (BPTP Jawa Tengah) Kriteria dalam Monev DAS terlalu complicated. Pada aspek nilai hasil kenapa hanya pada awal saja, padahal di diagnose lanjut masih terdapat unsur produksi sebagai akibat masuknya teknologi. Ada perubahan produksi sebagai akibat masuknya teknologi dalam pengelolaan DAS. Perlu pula kesepakatan dalam penentuan modeling untuk menilai hasil. 8. Sukiman (BP DAS Solo)

Soal pembobotan yang disampaikan ternyata ada perbedaan dengan kriteria yang lama. Untuk itu perlu ada penegasan dan kesepakatan sistem Monev DAS versi siapa yang akan dipergunakan. 9. Hernawati (Dinas Kehutanan Semarang) Pengelolaan DAS merupakan suatu keseimbangan hidrologi dengan air sebagai faktor pengikatnya. Belum terlihat aspek geologi dalam kaitannya dengan peresapan air, untuk itu perlu dimasukkan peubah geologi dalam kaitannya dengan kemampuan peresapan air. 10. Suyamni (BAPPEDA Propinsi Jawa Tengah) Terutama pada menu utama, supaya juga memperhatikan karakteristik/sifat morfologi tanah yang akan mempengaruhi infiltrasi / limpasan permukaan (run off) juga dihitung puncak banjir. Perlu diinformasikan bahwa di Bappeda Propinsi Jawa Tengah juga pernah ada studi Monev Pengelolaan DAS utamanya pelaksanaan penghijauan yang sudah dilaksanakan + 20 tahun (Pengkajian oleh Fak. Pertanian UGM 1994/1995) di DAS Galih ds. (Kab. Temanggung) dengan penutup lahan yang karakteristik yaitu tembakau dimana akan sangat mempengaruhi menurunnya kesuburan (leaching) dan erosi. Berdasarkan studi tersebut diantaranya diperoleh rekomendasi/penukaran semacam dana kompensasi dari pengguna hasil-hasil dari komoditi tersebut (pabrik rokok) kepada pemilik-pemilik tanah yang dirugikan tersebut. Berdasarkan hal tersebut diharapkan agar nanti diskusi -diskusi Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS ini dapat menghasilkan produk yang bersifat user friendly and applicable. Untuk aspek Sosial Ekonomi juga perlu dipertimbangakan karakteristikkarakteristik dari Sosek masing-masing kawasan yang berlainan. Sebagai contoh di daerah hulu DAS Citanduy yang sepertinya telah membudaya membuang sampah batang-batang pisang ke Sungai Citanduy sehingga disamping sedimen yang tinggi juga penuhnya sampah batang-batang pisang dimuara sungai. 11. Sutrisno (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Wonosobo) Kami tertarik dengan uraian Pak Paimin dan kawan-kawan ada pertanyaan pertanyaan sebagai berikut : Siapa yang tanggung jawab MONEV tentang Pengelolaan DAS, karena bila ada musibah banjir dan longsor yang disalahkan sering Dinas Teknis terutama Kehutanan, padahal aturan / peraturan yang ada sudah jelas bahwa ada fasal-fasal menyatakan pada Undang-undang Lingkungan. Saya rasa kesemuanya dari Kebijakan yang ada khususnya bidang Pengelolaan DAS terpadu tentunya dari rasa disiplin pihak pemerintah, Swasta, masyarakat, LSM, sampai para tokoh masyarakat, baik agama, politik sampai kepemudaan untuk mentaati peraturan disiplin dalam mengelola lingkungan DAS. Membuang sampah yang tertib dan teratur. TANGGAPAN PEMAKALAH (Ir. Paimin, M.Sc.)

1. Untuk mengubah suatu yang rumit menjadi mudah dipakai dan dipahami merupakan suatu pekerjaan yang sulit dan perlu kerja keras. 2. Pengelolaan DAS merupakan suatu kegiatan yang dinamis sehingga monev pun dinamis. 3. Bagaimana kaitkan DAS dengan batas administrasi kabupaten atau propinsi bila banyak kabupaten atau propinsi yang belum tahu dengan pengelolaan DAS. sependapat akan pentingnya sosialisasi pengelolaan DAS dan Monev DAS. 4. Untuk Bapak Sutikno, cukup membingungkan untuk memasukkan unsur pertambangan karena pengelolaan tambang tidak pengaruhi tata air, selain itu pembukaan vegetasi akibat penambangan sudah menjadi salah satu indikator dalam Monev DAS. Perubahan penggunaan lahan dari yang konservatif menjadi tidak konservatif. Selain itu, memasukkan pertambangan akan membuat Monev DAS menjadi sangat complicated. 5. DAS juga oleh dipengaruhi unsur biotik dan abiotik, tetapi dalam Monev yang kami ajukan belum memasukkan unsur biotik karena akan membuat complicated dan biaya yang besar. Namun demikian, pada tahun depan BP2TP DAS sudah mulai mengarah untuk memasukkan faktor biotik dalam Monev DAS. 6. Tentang faktor pembatas memang menentukan dalam Monev DAS dan ini akan dibahas lebih lanjut dalam sidang komisi. 7. Persoalan pemberian bobot yang lebih besar fisik dibandingkan sosial. Pada saat pembuatan awal Monev sempat terjadi debat panjang tentang apa yang mau dillihat dalam DAS apakah prosesnya atau fase. Hal ini akan membuat binggung dalam hal diagnosa dan proses. Pada saat itu disepakati bahwa yang akan dilihat adalah fasenya, sehingga ada diagnosa awal dan diagnose lanjut. 8. Untuk waktu Monev yang 510 tahun, mengacu pada aspek perencanaan. Untuk itu kami

DAS Dan Pengelolaannya (2)

Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Naik Sinukaban Ketua Umum Pengurus Pusat MKTI Periode 2004 2007 Jurusan ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor

PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas topografi secara

alami sedemikian rupa sehingga setiap air hujan yang jatuh dalam DAS tersebut akan mengalir melalui titik tertentu (titik pengukuran di sungai) dalam DAS tersebut. Dalam Bahasa Inggris pengertian DAS sering diidentikan dengan watershed,catchment area atau river basin. Pengertian DAS tersebut menggambarkan bahwa DAS adalah suatu wilayah yang mengalirkan air yang jatuh di atasnya beserta sedimen dan bahan terlarut melalui titik yang sama sepanjang suatu aliran atau sungai. Dengan demikian DAS atau watershed dapat terbagi menjadi beberapa sub DAS dan sub-sub DAS, sehingga luas DAS pun akan bervariasi dari beberapa puluh meter persegi sampai ratusan ribu hektar tergantung titik pengukuran ditempatkan. Apabaila ada kegiatan di suatu DAS maka kegiatan tersebut dapat mempengaruhi aliran air di bagian hilir baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penebangan hutan secara sembarangan di bagian hulu suatu DAS dapat mengganggu distribusi aliran sungai di bagian hilir. Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering. Disamping itu kualitas air sungai pun menurun, karena sedimen yang terangkut akibat meningkatnya erosi cukup banyak. Perubahan penggunaan lahan atau penerapan agroteknologi yang tidak cocok pun dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air yang mengalir ke bagian hilir. Oleh karena itu, dari segi hidrologi, erosi dan sedimentasi, DAS dapat dianggap sebagai suatu sistem dimana perubahan yang terjadi di suatu bagian akan mempengaruhi bagian lain dalam DAS tersebut. Berbagai kegiatan dalam pengelolaan dan pengembangan DAS yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air, yang pada gilirannya kualitas seluruh lingkungan hidup, antara lain, penebangan hutan, penambangan, permukiman, lingkungan pabrik, perubahan penggunaan lahan, penerapan teknik konservasi tanah dan air, pengembangan pertanian lahan kering, termasuk tanaman pangan, tanaman perkebunan, seperti tebu, karet, kelapa sawit, dan perubahan agroteknologi.

DAMPAK KERUSAKAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Sumberdaya alam utama yang terdapat dalam suatu DAS yang harus diperhatikan dalam pengelolaan DAS adalah sumberdaya hayati, tanah dan air. Sumberdaya tersebut peka terhadap berbagai macam kerusakan (degradasi) seperti kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity), kehilangan tanah (erosi), kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah), akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran) (Rauschkolb, 1971; ElSwaify, et. al. 1993). Menurunnya kualitas air yang disebabkan baik oleh sedimen yang bersumber dari erosi maupun limbah industri (polusi) sudah sangat dirasakan di daerah aliran sungai yang berpenduduk padat.

Erosi di daerah tropika basah dengan berbagai fenomena yang bertalian erat dengannya seperti penurunan produktivitas tanah, sedimentasi, banjir, kekeringan, termasuk jenis kerusakan DAS yang memerlukan penanganan segera dengan menggunakan teknologi yang telah dikuasai maupun teknologi baru, agar degradasi lingkungan tidak berlanjut mencapai tingkat yang gawat. Dampak negatif erosi terjadi pada dua tempat yaitu pada tanah sedimen diendapkan. Kerusakan utama yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi adalah kemunduran kualitas sifat-sifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Kemunduran kualitas tanah tersebut dapat berupa kehilangan keanekaragaman hayati, unsur hara dan bahan organik yang terbawa oleh erosi, tersingkapnya lapisan tanah yang miskin hara dan sifat-sifat fisik yang menghambat pertumbuhan tanaman, menurunnya kapasitas infiltrasi dan kapasitas tanah menahan air, meningkatnya kepadatan tanah dan ketahanan penetrasi serta berkurangnya kemantapan struktur tanah. Hal tersebut pada akhirnya berakibat pada memburuknya pertumbuhan tanaman, menurunnya produktivitas tanah atau meningkatnya pasokan yang dibutuhkan untuk mempertahankan produksi. Memburuknya sifat-sifat biologi, kimia dan fisik tanah serta menurunnya produktivitas tanah sejalan dengan semakin menebalnya lapisan tanah yang tererosi (Sudirman et al 1986). Tanah dan bagian-bagian tanah yang terangkut oleh aliran permukaan diendapkan di bagian tertentu atau masuk ke sungai serta diendapkan di dalam sungai, waduk, danau atau saluran-saluran air. Disamping itu dengan aliran berkurangnya (run kapasitas infiltrasi tanah off) meningkat. yang mengalami aliran erosi akan dan menyebabkan semakin berat permukaan Peningkatan permukaan tempat erosi terjadi, dan pada tempat

mendangkalnya sungai mengakibatkan banjir semakin sering dengan tingkatan (derajat) yang pada setiap musim hujan. Terjadinya banjir sudah merupakan fenomena yang berulang setiap tahun di banyak DAS di Indonesia. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah yang mengalami erosi di bagian hulu DAS menyebabkan pengisian kembali (recharge) air di bawah tanah (ground water) juga berkurang yang mengakibatkan kekeringan di musim kemarau. Dengan demikian terlihat bahwa peristiwa banjir dan kekeringan merupakan fenomena ikutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa eropsi. Bersama dengan sedimen, unsur-unsur hara terutama N dan P serta bahan organikpun banyak yang ikut terbawa masuk ke dalam waduk atau sungai (Sinukaban 1981). Hal ini mengakibatkan terjadinya eutrofikasi berlebihan dalam danau atau waduk sehingga memungkinkan perkembangan tananam air menjadi lebih cepat dan pada akhirnya mempercepat pendangkalan dan kerusakan waduk atau danau tersebut. Meningkatnya aktivitas pertambangan dan pembanguan pabrik yang tidak diikuti dengan teknik konservasi dan penanganan limbah yang memadai, akan meningkatkan pencemaran yang luar biasa di bagian hilir. Dari gambaran tersebut telihat juga bahwa laju erosi suatu DAS dapat dijadikan salah satu indikator kecepatan proses pengrusakan (degradasi) DAS. Untuk menilai laju erosi yang terjadi di suatu DAS, petunjuk dasar yang mudah diperoleh adalah konsentrasi sedimen dalam aliran permukaan

(Sinukaban 1981). Berdasarkan konsentrasi sedimen dalam air sungai, laju erosi di beberapa DAS di Indonesia pada 30 40 tahun yang lalu sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan (Badrudin Mahbub, 1978) dan di banyak tempat sudah lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan (Sinukaban 1994). Dari perkembangan pengamatan ternyata laju erosi saat ini sudah semakin meningkat dan sudah jauh lebih gawat dari pada keadaan 30 40 tahun yang lalu, terutama pada DAS kategori prioritas I. Banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau adalah indikator utama kerusakan DAS yang sangat jelas. Pada dasarnya banjir terjadi karena sebagian besar dari hujan yang jatuh ke bumi tidak masuk kedalam tanah mengisi akuifer, tetapi mengalir di atas permukaan yang pada gilirannya masuk ke sungai dan mengalir sebagai banjir ke bagian hilir. Hal ini terjadi karena kapasitas infiltrasi tanah sudah menurun akibat rusaknya DAS. Faktor utama kerusakan DAS yang mengakibatkan menurunnya infiltrasi adalah: (1) hilang / rusaknya penutupan vegetasi permanen / hutan di bagian huilu, (2) pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya, dan (3) penerapan teknologi pengelolaan lahan / pengelolaan DAS yang tidak memenuhi syarat yang diperlukan. Penurunan infiltrasi akibat kerusakan DAS mengakibatkan meningkatnya aliran permukaan ( run off) dan menurunnya pengisian air bawah tanah (groundwateri)mengakibatkan meningkatnya debit aliran sungai pada musim hujan secara drastis dan menurunnya debit aliran pada musim kemarau. Pada keadaan kerusakan yang ekstrim akan terjadi banjir besar di musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi kehilanghan air dalam jumlah besar di musim hujan yaitu mengalirnya air ke laut dan hilangnya mata air di kaki bukit akibat menurunnya permukaan air bawah tanah. Dengan perkataan lain, pengelolaan DAS yang tidak memadai akan mengakibatkan rusaknya sumberdaya air.

PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR PADA PELESTARIAN PRODUKTIVITAS DAN SUMBERDAYA AIR
Untuk menjaga produktivitas lahan, maka penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan serta penggunaan agroteknologi harus disertai dengan penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai. Tipe teknik konservasi tanah dan air yang banyak diterapkan di seluruh dunia termasuk dalam pengelolaan DAS di Indonesia dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok utama yaitu agronomi, vegetatif, struktur, dan manajemen (WASWC, 1998). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok agronomi antara lain penanaman tanaman campuran (tumpang sari), penananam berurutan (rotasi), penggunaan mulsa, pengolahan tanah minimum, penananam tanpa olah tanah, penanaman mengikuti kontur, penananam di atas guludan mengikuti kontur, penggunaan pupuk hijau atau pupuk buatan, dan penggunaan kompos. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok vegetatif antara lain

penanaman tanaman pohon atau tanaman tahunan (seperti kopi, teh, tebu, pisang), penanaman

tanaman tahunan di batas lahan (tanaman pagar), penanaman strip rumput (vetiver, rumput makanan ternak). Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok struktur antara lain saluran penangkap aliran permukaan, saluran pembuangan air, saluran teras, parit penahan air (rorak), sengkedan, guludan, teras guludan, teras bangku, dam penahan air, dan embung pemanen air hujan. Teknik konservasi tanah dan air yang dikelompokkan ke dalam kelompok manajemen antara lain perubahan pengunaan lahan menjadi lebih sesuai, pemilihan usaha pertanian yang lebih cocok, pemilihan peralatan dan masukan komersial yang lebih tepat, penataan pertanian termasuk komposisi usaha pertanian, dan penentuan waktu persiapan lahan, penanaman, dan pemberian input. Penerapan teknik konservasi tanah dan air yang memadai di berbagai proyek pengembangan pertanian dan penelitian telah membuktikan bahwa teknik konservasi tanah dan air mampu menstabilkan produktivitas pertanian dan bahkan pada beberapa tempat mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani (Sihite dan Sinukaban, 2004). Penanaman sayuran mengikuti kontur pada tanah Andosol yang mempunyai drainase yang baik di Citere Jawa Barat mampu mempertahankan produktivitas lahan dan sangat efektif menekan erosi. Penggunaan rorak dan tananam penaung multistrata di pekebunan kopi rakyat mampu menekan erosi dan meningkatkan pendapatan petani sampai lebih dari Rp. 6.000.000 di DAS Besai Lampung barat. Untuk menjaga kelestarian sumberdaya air di suatu DAS, maka penutupan vegetasi permanen harus tetap dijaga kelestariannya, penggunaan lahan harus sesuai dengan kemampuan lahan dan teknologi pengelolaan DAS harus memenuhi kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Di DAS yang didominasi oleh daerah pertanian, penerapan teknik konservasi yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan yang pada gilirannya dapat melestarikan sumberdaya air. Hasil penelitian tentang pengaruh teknik konservasi tanah dan air yang memadai dalam pengelolaan DAS terhadap kelestarian sumber daya air di Jawa Barat dan Lampung sangat positif (Sinukaban et al, 1998, Sihite dan Sinukaban 2004). Penelitian di Jawa Barat dan Lampung Barat tersebut menunjukan bahwa teknik pengelolaan DAS yang memenuhi kaidah konservasi tanah dan air akan menurunkan aliran permukaan (quick flow) dan menaikan aliran dasar (base flow) serta memperpanjang masa aliran dasar secara substansial (Sinukaban et al, 198). Walaupun hanya sepertiga dari luas DAS yang menerapkan teknik konservasi yang memadai, teknik konservasi tersebut sudah mampu menekan koefisien aliran permukaan dari 0,72 menjadi 0,49 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,39 dua tahun setelah penerapan teknik konservasi. Disamping itu koefisien aliran dasar (base flow) meningkat dari 0,28 menjadi 0,51 pada tahun berikutnya dan menjadi 0,61 dua tahun setelah peneapan teknik konservasi (Tabel 1). Disamping adanya

peningkatan debit aliran dasar, penerapan teknik konservasi tanah dan air juga memperpanjang lamanya aliran dasar dari hanya sampai bulan Juni pada saat belum diterapkannya teknik konservasi menjadi sampai bulan Juli setelah setahun penerapannya dan menjadi sampai bulan Agustus setelah dua tahun (Gambar 1 dan 2). Bila dikombinasikan dengan peningkatan penutupan vegetasi permanen dan menempatkan penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuannya maka kelestarian sumberdaya air di DAS akan terjaga secara lestari.

Gambar 1. Jumlah, rata-rata dan minimum aliran permukaandan hujan dari Oktober 1992 - September 1995 di daerah tangkapan Citere Jawa Barat

Gambar 2. Perbandingan antara aliran maksimum, rata-rata dan minimum dari tiga musim hujan di Daerah Tangkapan Citere Jawa Barat

KONSEPSI PENGEMBANGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Pengembangan / pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup, seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari. Untuk itu maka setiap kegiatan dalam DAS harus juga memenuhi tujuan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Suatu kegiatan pembangunan dapat dikatakan berkelanjutan apabila pembangunan itu dapat mewujudkan paling sedikit tiga indikator utama secara simultan yaitu pendaatan yang cukup tinggi, teknologi yang digunakan tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan teknologi tersebut dapat diterima (acceptable) dan dapat dikembangkan oleh masyarakat (replicable) dengan sumberdaya lokal yang dimiliki. Keadaan DAS dianggap sebagai suatu sistem, maka dalam pembangunannya pun, DAS harus diperlakukan sebagai suatu sistem (Gill, 1979). Dengan memperlakukan DAS sebagai suatu sistem dan pengembangannya bertujuan untuk memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan, maka sasaran pengembangan DAS akan menciptakan ciri-ciri yang baik sebagai berikut: 1. Mampu memberikan produktivitas lahan yang tinggi. Setiap bidang lahan harus memberikan produktivitas yang cukup tinggi sehingga dapat mendukung kehidpan yang layak bagi petani yang mengusahakannya. Produktivitas yang tinggi dapat diperoleh apabila lahan tersebut digunakan sesuai dengan kemampuannya. Untuk itu harus dipilih komoditas pertanian yang cocok dengan faktor biofisik setempat dan dikelola dengan agroteknologi yang memenuhi persyaratan, sehingga produktivitas tetap tinggi dan kualitas lahan terjaga secara lestari. 2. Mampu mewujudkan pemerataan produktivitas di seluruh DAS. Perencana pengelolaan DAS harus memberikan perhatian serius pada hal ini agar seluruh stakeholders di dalam DAS memperoleh pendapatan yang dapat mendukung kehidupan yang layak. Apabila keadaan seperti ini terwujud maka DAS tersebut akan bersifat lentur, sehingga walaupn ada kegagalan produksi di salah satu bagian DAS akibat bencana alam, maka bagian lain DAS akan dapat membantu bagian yang terkena bencana. 3. Dapat menjamin kelestarian sumberdaya air. Salah satu faktor penting yang harus diwujudkan dalam setiap sistem pengelolaan DAS adalah menjaga fungsi DAS sebagai pengatur tata air yang baik. Oleh sebab itu fungsi hidrologis DAS harus dapat terjaga secara lestari yang dicirikan oleh ketersediaan sumberdaya air yang meliputi kuantitas, kualitas dan distribusi yang baik sepanjang tahun di seluruh DAS. Suatu daerah aliran sungai terdiri dari bagian hulu, tengah dan hilir. Berbagai kegiatan dapat dijumpai dalam pengembangan satu DAS, antara lain, kegiatan konstruksi seperti: pembangunan jalan,

perluasan kota / daerah permukiman, industri, pengembangan tenaga listrik, dam atau waduk untuk irigasi atau hidrolistrik, kegiatan pengerukan, pembangunan kanal, transportasi / navigasi, pertambangan, pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan serta kegiatan lainnya. Setiap kegiatan bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Dari sisi lain kegiatan tersebut mempunyai kemungkinan menghasilkan dampak negatif terhadap kegiatan lainnya. Oleh karena itu semakin banyak kegiatan dalam pengembangan suatu DAS apabila tidak dilandasi oleh suatu perencanaan yang menyeluruh dan terintegrasi, akan semakin besar terjadinya persaingan atau konflik atau benturan di antara berbagai kegiatan yang dapat menimbulkan berbagai masalah. Sebagai contoh kemungkinan terjadinya benturan berbagai kegiatan adalah pekerjaan penggalian / pembongkaran tanah selama kegiatan konstruksi dam, waduk atau jalan raya dapat mengakibatkan terjadinya sedimentasi perairan di sebelah hilir. Pengembangan pertanian di daerah berlereng, apabila tidak disertai usaha konservasi yang memadai, akan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi pada dam / waduk. Demikian pula dengan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pembangunan di bidang industri atau pertambangan. Tujuan yang lebih besar dari setiap kegiatan pembangunan dalam suatu DAS seharusnya sama, yaitu untuk menmberikan kontribusi pada: (1) pembangunan ekonomi nasional, (2) pembangunan daerah atau wilayah, (3) usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan. Untuk menghindari atau mengurangi kemungknan timbulnya masalah, benturan atau persaingan antar kegiatan dalam suatu DAS, diperlukan suatu rencana pengembangan yang komprehensif dan terpadu. Betapa pun sukarnya penyusunan rencana ini, hanya dengan cara inilah tujuan kegiatan tersebut dapat dicapai, tanpa atau dengan benturan yang minimal. Di dalam perencanaan yang demikian, berbagai aspek yang mempengaruhi pengelolaan DAS seperti sifat tanah, karakteristik hidrologi DAS, potensi yang dapat dikembangkan guna memberikan kontribusi di bidang: pangan, industri , pertambangan, penyediaaan air untuk irigasi, industri dan air minum, maupun kemungkinan terjadinya banjir, erosi, sedimentasi dan lainnya, harus diperhitungkan. Demikian pula dengan faktor sosial ekonomi seperti kependudukan, tingkat pendapatan, pemasaran hasil, kelembagaan, pelayanan di bidang pendidikan dan sebagainya juga perlu diperhatikan. Perencanaan pengembangan DAS terpadu tersebut harus dilakukan secara interdisipliner sehingga semua stakeholders menyadari atau mengetahui apa yang harus dilakukan di setiap bagian di dalam DAS tersebut agar kelestarian sumber daya lahan dan air dapat terjamin. Berbagai model sudah tersedia dan dapat dipakai dalam membuat perencanaan terpadu tersebut. secara menyeluruh dilakukan maka aktivitas pengembangan setiap stakeholderssesuai bidang, sektor, atau profesinya. Setelah perencanaan dilakukan oleh dapat

Daftar Pustaka
Badrudin M. 1978. Tingkat Erosi Beberapa Wilayah Sungai di ndonesia. Direktorat Penyediaan Masalah Air.

Gill, N. 1979. Watershed Development with Special Reference to Soil and Water Conservation. FAO. Soil. Bull. No. 44. Rauschkolb, R.S. 1971. Land Degradation. FAO Soil Bull, No. 13 Sihite, J. and Sinukaban. 2004. Economic Valuation of Land Use Cange in Besai Sub Watershed Tulang Bawang Indonesia. Sinukaban, N. 1981. Erosion Selectivity as Affected by Tillage Planting System. Ph.D Thesis University of Winconsin, Madison, USA. Sinukaban, N. 1994. Integrated Land Indonesia. Contour Vol. VI no. 1. Sinukaban, N., H. Pawitan, S. Arsyad. J.L. Amstrong and MG Nethery, 1994. Effect of Soil Conservation Practices and Slope Lengths on Run Off, Soil Loss and Yield of Vegetables in West Java. Aust, J. Soil and Water Cons. 7(3): 25-29. Sinukaban, N., H. Pawitan, S. Arsyad. and J. Amstrong. 1998. Impact of soil and Water Conservation Practiceson Stream Flows in Citere Catchment, West Java, Indonesia. Toward Sustainable Land Use. Advances in Geoecology 31:1275-1280 Sudirman, N. Sinukaban, Suwardjo dan S. Arsyad. 1985. Pengaruh Tingkat Erosi dan Pengapurn terhadap Produktivitas Tanah. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk (6)9-14. Swaify, El. S.A, S. Arsyad, dan P. Krisnalajati. 1983. Soil erosion by Water. Dalam Carpenter R.A. (Ed). 1983. Natural system for Development What Planners Need To Know, Mc, millan, Publ, Co:19161 WASWC (World Association of soil dan eater Conservation). 1998. Wocat (World Overview of Conervation Approachs and Technologies). A Frame Work for the Evaluation of Soil and water Conservation. Lang Druck AG, Bern Switzerland. Sumber: Naik Sinukaban (2007). Peranan Konservasi Tanah dan Air dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Dalam Fahmudin Agus et al (2007) (Penyunting). Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004-2007. Managementfor Sustainable Agriculture Development in Lampung. Proceed of International Seminar on Toward Harmonization between Development and Environmental Conservation in Biological Production 3 5 Dec 2004. Cilegon,

Pembangunan Daerah Berbasis Strategi Pengelolaan DAS


Oleh : NAIK SINUKABAN Sumber: http://muhtadi71.wordpress.com/2008/ Otonomi daerah (OTDA) yang secara universal dikenal sebagai desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah (UU Otonomi Daerah,1999). Desentralisasi secara efektif dan menyeluruh telah dilaksanakan di Indonesia sejak 1 Januari 2001 dengan dasar hukum pokok yaitu Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah bawahnya. Daerah. Namun Dalam prinsip Undang-undang desentralisasi tersebut bukan desentralisasi mengenai menyangkut penyerahan penyerahan wewenang wewenang pemerintahan oleh pemerintah (pusat) kepada daerah otonom yang berada pada tingkat di hanya pemerintahan, tetapi yang lebih penting lagi adalah transfer proses pengambilan keputusan (transfer of decision-making process) dari otoritas pusat kepada otoritas tingkat daerah yang paling dekat dengan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan. Pelaksanaan otonomi daerah (OTDA) yang luas dan utuh di Indonesia ditempatkan pada daerah kabupaten dan daerah kota, sedangkan OTDA di propinsi merupakan otonom yang terbatas. Penerapan desentralisasi merupakan respon atas gagalnya sistem pembangunan nasional yang sentralistik dan keinginan berbagai daerah untuk mendapatkan manfaat dan rasa keadilan dalam alokasi hasil pengelolaan sumberdaya alam. Sistem sentralistik yang diterapkan di Indonesia selama masa orde baru telah berakhir dengan kondisi antiklimaks dari pelaksanaan pembangunan jangka panjang yang ditandai oleh terjadinya krisis ekonomi, sosial, dan politik. Era sentralisasi ekonomi dan pemerintahan yang diterapkan secara nasional oleh pemerintahan orde baru selama 32 tahun (19661998) telah banyak menguras sumberdaya alam (SDA) lokal dan mengalirkan keuntungan ekonomi yang diperoleh ke pusat pemerintahan dan bisnis di Jakarta sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi dan sosial di daerah. Indikator hasil pengurasan SDA secara sentralistik di Indonesia ditunjukkan dengan terjadinya kesenjangan ekonomi antara daerah dan pusat, tingginya tingkat kemiskinan di daerah, kerusakan lingkungan hidup di daerah , dan lemahnya kelembagaan di daerah. Munculnya era reformasi menggantikan orde baru menguatkan tuntutan daerah untuk mendapatkan kewenangan yang luas dalam pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumberdaya nasional serta perimbangan keuangan pusat dan daerah secara berkeadilan. Pembangunan Dalam Era Otonomi Daerah

Desentralisasi mengasumsikan bahwa dengan semakin pendeknya rentang birokrasi, pembangunan dapat dijalankan lebih terfokus dan tepat sesuai dengan aspirasi dan perkembangan masyarakat serta dinamika pembangunan . Pelaksanaan OTDA dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan peran serta masyarakat, dan mengembangkan fungsi dan peran kelembagaan (legislatif) di daerah. Desentralisasi sebagai instrumen kebijakan pembangunan merupakan kebalikan sistem sentralistik. Suatu alat atau instrumen bisa sesuai atau bisa pula tidak sesuai dalam penggunaanya untuk mencapai tujuan. Stockmayer (1999) menyatakan bahwa desentralisasi dapat lebih mendekatkan peranan (pelayanan) pemerintah terhadap masyarakat, terutama yang menyangkut efisiensi pelaksanaan pembangunan. Sesungguhnya desentralisasi menyangkut masalah ekonomi secara keseluruhan, terutama yang menyangkut distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) yang lebih merata dan dinikmati lebih besar oleh masyarakat di daerah. Beberapa peran dan manfaat yang diharapkan dari penerapan desentralisasi antara lain adalah: (a) mempercepat terselenggaranya pelayanan publik dan pengadaan fasilitas kepada masyarakat, sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, (b) alokasi dan distribusi hasil pemanfaatan sumberdaya alam lebih adil dan merata, (c) membuka peluang berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah yang lebih merata, (d) meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih efisien, efektif, dan sesuai dengan dinamika masyarakat di daerah, dan (e) menempatkan posisi pengambil kebijakan lebih dekat dengan kepentingan masyarakat. Implementasi Otonomi Daerah Dalam Pembangunan Namun dalam perkembangan pelaksanaan OTDA, telah teridentifikasi beberapa hal yang berpotensi menimbulkan masalah atau konflik antara lain : (a) adanya daerah miskin dan kaya sebagai konsekuensi tidak meratanya distribusi sumberdaya alam (SDA) dan kesenjangan tingkat kemampuan sumberdaya manusia, (b) adanya perbedaan kepentingan antar daerah dalam pemanfaatan SDA yang dapat memicu timbulnya konflik antar daerah otonom yang berdekatan, dan (c) keberhasilan pelaksanaan otonomi tidak diukur dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development), sehingga OTDA mengeksploitasi SDA secara besar-besaran untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Daerah otonom dengan kewenangan yang diberikan sesungguhnya memiliki tanggung-jawab yang lebih besar dalam menjamin keberhasilan kinerja pembangunan di daerah. Kinerja pembangunan pada umumnya dipengaruhi oleh empat faktor penentu, yaitu sumberdaya alam (natural capital), sumberdaya manusia (human capital), sumberdaya buatan manusia (man made capital), dan kelembagaan formal maupun informal masyarakat (social capital) (Kartodihardjo, 1999). Oleh sebab itu pemahaman OTDA tidak boleh parsial, tetapi harus menyeluruh dan komprehensif di dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menjamin pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggung jawab dengan memperhatikan kelestarian fungsi ekologis,

ekonomis, dan sosial budaya. Namun hal itu tidak terjadi diseluruh OTDA. Beberapa pemerintah daerah tidak memahami prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pelaksanaan OTDA sehingga mereka memprioritaskan pemanfaatan sumberdaya alam sebagai modal utama untuk membiayai pembangunan daerah. Upaya eksploitasi SDA secara besar-besaran di beberapa daerah untuk mengejar target pendapatan asli daerah (PAD) disinyalir telah meningkatkan laju kerusakan SDA. Banyak pelaku pembangunan di daerah mengejar PAD sebesar-besarnya sebagai indikator keberhasilan pelaksanaan OTDA yang akhirnya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi pada daerah setempat (on-site effects) seperti longsor dan erosi tanah tetapi juga di luar daerah setempat (off-site effects) seperti banjir dan sedimentasi. Fenomena degradasi lingkungan seperti banjir, erosi, longsor, sedimentasi dimusim hujan serta kekeringan dimusim kemarau itu sudah terjadi dengan frekuensi yang semakin sering dan intensitas yang semakin parah. Hal ini akan mengakibatkan produktivitas pertanian semakin menurun, biaya pengelolaan lingkungan semakin tinggi, dan petani miskin menjadi semakin miskin Pembangunan Daerah dan Pengelolaan DAS Konsekuensi dari pelaksanaan OTDA juga berpengaruh terhadap kinerja pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Batas daerah otonom (Kabupaten/Kota/Propinsi) secara umum tidak berimpit dengan batas DAS. Suatu DAS dibatasi oleh topografi alami berupa punggung-punggung bukit/gunung, dimana presipitasi yang jatuh di atasnya mengalir melalui titik keluar tertentu (outlet) yang akhirnya bermuara ke danau atau laut. Wilayah DAS terdiri dari komponen sumberdaya biotik, abiotik, dan lingkungan lainnya yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem. Suatu kegiatan dibagian hulu DAS akan berpengaruh pada daerah dibagian hilir. Dengan demikian DAS menjadi integrator beragam interaksi komponen ekosistem, sehingga batas DAS sering dijadikan patokan batas bioregion. Batas bioregion dalam pembagunan daerah menjadi sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan yang menjamin keseimbangan fungsi ekologis dan ekonomi. Sungai, pada umumnya berada di tengah DAS, sering dijadikan batas terluar dari batas administratif daerah otonom. Oleh karena itu batas DAS akan bersifat lintas lokal melampaui batas-batas kekuasaan politis dan administrasi, sehingga masalah DAS pada umumnya menyangkut beberapa kabupaten dalam satu atau lebih propinsi. Pengaturan dan pengelolaan SDA dalam DAS dirasakan semakin kompleks dalam era OTDA dan berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Oleh karena itu strategi atau konsep pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah sangat diperlukan untuk menghindari konflik dan degradasi SDA dan lingkungan. Masalah pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan OTDA sebaiknya tidak diletakkan dalam perspektif perbedaan antara batas ekologis DAS dengan batas administrasi daerah otonom secara kaku. Oleh sebab itu DAS harus dipandang sebagai suatu kesatuan bio-region yang mungkin terdiri dari beberapa daerah otonom yang secara ekologis dan ekonomi saling berkaitan. Selanjutnya OTDA dijadikan alat

untuk mencapai tujuan pemanfaatan potensi SDA berkelanjutan dan bukan merupakan tujuan. Pandangan ini sejalan dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang: bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang beraneka ragam perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Wilayah DAS sebagai kesatuan bio-region harus dipahami secara holistik dan komprehensif oleh penyelenggara daerah otonom. Prinsip dasar dari DAS sebagai bio-region adalah keterkaitan berbagai komponen dalam DAS secara spasial (ruang), fungsional, dan temporal (waktu). Perubahan salah satu bagian dari bio-region atau DAS akan mempengaruhi bagian lainnya, sehingga dampak dari perubahan bagian bio-region atau DAS tersebut tidak hanya akan dirasakan oleh bagian itu sendiri (on site) tetapi juga bagian luarnya (off site). Rusaknya hutan di bagian hulu akan menimbulkan banjir, erosi, sedimentasi, dan penurunan kualitas air di bagian hilirnya. Ketidakpahaman atas implementasi prinsip keterkaitan SDA dalam bio-region atau DAS dapat menimbulkan konflik antar daerah/regional, terutama yang menyangkut alokasi dan distribusi sumberdaya. Semakin terbatas suatu SDA dibandingkan dengan permintaan masyarakat, maka kompetisi untuk memperoleh SDA tersebut semakin tinggi dan peluang terjadinya konflik makin besar. Hal ini jelas terlihat pada konflik pemanfaatan sumber daya air, hutan, dan lahan. Konflik yang terjadi dalam masyarakat selalu menimbulkan dampak negatif dalam pembangunan, dimana pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan menjadi tidak terjamin atau bahkan hancur. Oleh karena itu implementasi pengelolaan DAS dalam pelaksanaan OTDA tidak boleh mengandung potensi konflik antar wilayah. Strategi Pengelolaan DAS Lintas Daerah Penggunaan SDA yang meliputi beberapa wilayah perlu diatur oleh strategi pengelolaan DAS secara terpadu, menyeluruh, fleksibel, efisien, dan berkeadilan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Dari uraian diatas terlihat bahwa kapasitas untuk mengelola SDA atau DAS secara berkelanjutan masih sangat lemah . Untuk itu diperlukan kegiatan peningkatan kapasitas (Capacity building) yang sistematis secara terus menerus. Strategi yang dapat ditempuh dalam peningkatan kapasitas dan untuk menghindari terjadinya konflik antar-wilayah adalah : 1. Membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan DAS lintas regional 2. Membangun sistem legislasi yang kuat 3. Meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam Pengelolaan DAS

4. Meningkatkan kemampuan SDM dalam pengelolaan SDA Membangun Kesepahaman dan Kesepakatan Masing-masing daerah otonom perlu memahami mekanisme hidrologis yang berjalan secara alami dalam penggunaan SDA lintas regional. Mekanisme hidrologis menekankan adanya karakteristik ketergantungan/interdependensi (interdependency) antar spasial.Sebagai contoh terjadi penurunan penutupan lahan di bagian hulu DAS dapat mengakibatkan terjadinya banjir saat musim hujan di bagian hilir, dan meningkatnya buangan limbah di bagian hulu dapat menurunkan kualitas air aliran sungai di hilirnya. Masalah ketidakmerataan dan ketidak efisienan penggunaan alokasi SDA yang mencakup kuantitas dan kualitasnya sering memicu timbulnya konflik antar daerah. Daerah yang memiliki sumberdaya lebih dan cenderung menguasainya secara eksklusif akan mengancam daerah-daerah lainnya sepanjang DAS. Penguasaan secara eksklusif bersifat kaku akan memicu terjadinya inefisiensi sumberdaya dan meningkatkan biaya pemakaian sumberdaya serta memicu konflik. Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS selalu saling terkait, sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi, ekologis, dan sosial budaya. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing. Proses untuk mencapai komitmen bersama dapat ditempuh dengan melakukan negosiasi politik antar daerah yang didasarkan pada adanya kepentingan bersama dalam memanfaatkan SDA, sehingga alokasi dan distribusi SDA dapat ditetapkan secara adil. Kerjasama antar daerah otonom dapat diwujudkan dengan membentuk Badan Kerjasama antar Daerah (Pasal 87 ayat 2, UU No. 22/1999). Keputusan bersama yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Jika Kabupaten/Kota tidak dapat melaksanakan kerjasama antar daerah, maka kewenangan penyediaan pelayanan lintas kabupaten/kota dilaksanakan oleh Propinsi. Apabila kerjasama antar Propinsi diperlukan maka kerjasama tersebut harus dibawah koordinasi pemerintah pusat. Kewenangan propinsi juga mencakup kewenangan yang tidak dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota karena dalam pelaksanaannya dapat merugikan Kabupaten/Kota masing-masing. Jika pelaksanaan kewenangan Kabupaten/Kota dapat menimbulkan konflik kepentingan antar Kabupaten/Kota, maka Kabupaten dan Kota dapat membuat kesepakatan agar kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Propinsi. Membangun Sistem Legislasi yang Kuat

Kebijakan publik dalam aspek pengelolaan sumberdaya alam akan memiliki kekuatan untuk mengendalikan perilaku masyarakat (publik) apabila dikukuhkan oleh sistem legal (hukum) yang memadai. Legislasi dalam pengelolaan DAS sangat diperlukan terutama dalam merancang dan mendukung pelaksanaan kebijakan pengelolaan DAS. Beberapa peran legislasi dalam menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik adalah : Adanya Undang-undang, keputusan presiden, atau produk hukum lainnya yang dapat dijadikan dasar untuk membentuk institusi dan perangkat organisasi yang dibutuhkan dalam mengimplementasikan pengelolaan DAS berkelanjutan. Untuk melegalisasi mandat yang diterima oleh institusi yang dibentuk dan menjamin sahnya alokasi anggaran rutin yang diberikan oleh pemerintah Untuk mengurangi aktivitas yang menimbulkan kerusakan lingkungan dalam DAS dan memaksa publik untuk mentaati prinsip-prinsip pengelolaan DAS berkelanjutan.Legislasi lingkungan dapat mengatur perilaku manusia dalam hubungannya dengan alokasi dan pemanfaatan sumberdaya alam, seperti lahan, air, udara, mineral, hutan dan lanskap alam. Perilaku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diberi pedoman agar tidak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan.Legislasi memberikan kekuatan (power) dan kewenangan (authorities) kepada pemerintah atau lembaga yang ditunjuk berdasarkan undang-undang untuk melakukan pengaturan, penguasaan, pengusahaan, pemeliharaan, perlindungan, rehabilitasi, pemberian sanksi, penyelesaian konflik dan sebagainya, dalam mengatur hubungan manusia dengan sumberdaya alam dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pengelolaan sumberdaya alam yang dikehendaki (sustainable natural resources development) Produk legal harus menempatkan prinsip keadilan dan kemanfaatan sebagai pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan DAS. Meningkatkan Peranan Institusi Pengelolaan DAS. Institusi atau kelembagaan merupakan suatu sistem yang kompleks, rumit, dan abstrak yang mencakup ideologi, hukum, adat istiadat, aturan dan kebiasaan yang tidak terlepas dari lingkungan. Institusi mengatur apa yang dilarang untuk dikerjakan oleh individu atau dalam kondisi bagaimana individu dapat mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, institusi adalah instrumen yang mengatur antar individu (Kartodihardjo, et.al, 2000). Institusi juga berarti seperangkat ketentuan yang mengatur masyarakat, dimana masyarakat tersebut telah mendefinisikan kesempatan-kesempatan yang tersedia, bentuk-bentuk aktifitas yang dapat dilakukan oleh pihak tertentu terhadap pihak lainnya, hak-hak istimewa yang telah diberikan, serta tanggung-jawab yang harus mereka lakukan. Hak-hak tersebut mengatur hubungan antar individu dan/atau kelompok yang terlibat dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya alam tertentu (Schmid, 1987 dalam Kartodihardjo, 2000). Di Amerika Serikat dikenal adanya riparian right dan appropriation-rights dalam pengelolaan sumberdaya air. Institusi sebagai modal dasar masyarakat (social capital) dapat dipandang sebagai aset produktif yang mendorong anggotanya untuk bekerjasama menurut aturan perilaku tertentu yang disetujui bersama

untuk meningkatkan produktifitas anggotanya secara keseluruhan. Ikatan institusi masyarakat yang rusak secara langsung akan menurunkan produktifitas masyarakat dan menjadi faktor pendorong percepatan eksploitasi sumberdaya alam disekitarnya (Kartodihardjo, et. al, 2000). Perwujudan institusi masyarakat dapat diidentifikasi melalui sifat-sifat kepemilikan (property rights) sumberdaya, batas-batas kewenangan (jurisdiction boundary) masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya, dan aturan-aturan perwakilan (rules of representation) dalam memanfaatkan sumberdaya, apakah ditetapkan secara individu atau kelompok. Instansi pemerintah merupakan institusi formal yang menjadi agen pembangunan dan berperan sentral dalam menentukan perubahan-perubahan yang diinginkan. Kinerja institusi sangat tergantung dari kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Penguatan institusi dalam pengelolaan DAS dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS. Kondisi institusi yang kuat merupakan prasyarat penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Kinerja institusi pengelolaan DAS di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, bahkan Thailand. Ketergantungan terhadap sumberdaya alam yang masih tinggi dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan merupakan indikator lemahnya institusi pengelolaan DAS di Indonesia. Institusi pengelolaan DAS yang ada di Indonesia belum memiliki peranan yang kuat terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dalam DAS. Pengembangan kelembagaan masih bersifat keproyekan, sehingga intervensi penguatan institusi hanya berjalan selama proyek masih ada. Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan DAS di Indonesia sebagai institusi formal cukup beragam. Kendala yang sering dihadapi antara lain adalah masalah koordinasi program; seringkali program yang sama atau mirip diusulkan oleh instansi yang berbeda. Duplikasi program akan menyebabkan ketidak efisienan anggaran berupa pemborosan dan mark-up, ketidaksinambungan pembinaan program, serta ketidakjelasan rentang kewenangan pengelolaan DAS. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia belum menerapkan prinsip strategi satu perencanaan (one plan strategy) dengan baik, sehingga tingkat keberhasilan program pengelolaan DAS masih rendah. Prinsip one river, one plan belum di implementasikan secara menyeluruh. Meningkatkan Kualitas SDM Kualitas sumberdaya manusia untuk pengelolaan SDA secara umum masih rendah dan terdapat kesenjangan diseluruh daerah otonom. Kemampuan petani, perencana pengelolaan DAS, pejabat yang melaksanakan pengelolaan DAS masih sangat rendah untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dan menerapkan prinsip one river one plan. Petani tidak mempunyai cukup pengetahuan tentang tindakan tepat apa yang harus dia lakukan didalam usahataninya agar tidak terjadi degradasi lahan yang dapat menurunkan produktivitas

lahannya. Penyuluh pertanianpun tidak dibekali pengetahuan dan pedoman yang memadai untuk membimbing petani dalam memilih dan menerapkan agroteknologi atau teknik-teknik konservasi yang memadai. Pejabat yang berwewenang menentukan kebijakan pun tidak punya pemikiran dan konsep yang menyeluruh (holistic) untuk mengelola SDA secara berkelanjutan dalam suatu DAS. Pejabat didaerah hilir hanya mau mempertimbangkan teknologi yang diperlukan untuk mencegah banjir didaerahnya, walaupun ada teknologi pencegahan banjir yang lebih efektif dan berkelanjutan melalui pengelolaan DAS dibagian hulu/ diluar daerahnya. Padahal kalau teknologi pengelolaan DAS yang dilaksanakan dibagian hulu, maka selain banjir dapat dicegah/ dikurangi, kekeringan dimusim kemaraupun dapat diatasi. Oleh sebab itu diperlukan program pelatihan yang sistematis secara terus menerus untuk meningkatkan kapasitas individu/ SDM dalam pengelolaan SDA agar prinsip pembangunan berkelanjutan terlaksana diseluruh DAS dan daerah otonom. Kesimpulan Pelaksanaan pembangunan daerah dalam era otonomi daerah berpengaruh terhadap pengelolaan DAS. Karakteristik SDA yang bersifat lintas daerah /lokal melewati batas kekuasaan politis dan administratif berpotensi menimbulkan konflik antar daerah otonom. Potensi konflik antar daerah banyak terkait dengan alokasi dan penggunaan SDA yang menyangkut aspek ketidakluwesan (inflexible), ketidakefisienan (inefficient), ketidakadilan (inequitable). Disamping itu persepsi keberhasilan suatu daerah otonom adalah jumlah PAD mengakibatkan terjadinya pemanfaatan SDA secara berlebihan yang akhirnya menimbulkan degradasi SDA yang ditandai oleh banjir, longsor, sedimentasi dan kekeringan yang semakin sering dan parah. Strategi pengelolaan DAS dalam era otonomi daerah harus dilakukan melalui peningkatan kapasitas (capacity building) daerah yang meliputi : (a) membangun kesepahaman dan kesepakatan antar daerah otonom dalam pengelolaan SDA; (b) membangun sistem legislasi yang kuat; dan (c) meningkatkan peranan institusi (kelembagaan) dalam pengelolaan SDA dan (d) meningkatkan kapasitas SDM melalui pelatihan (training). DAFTAR PUSTAKA Kartodihardjo, H. 1999. Analisis Kelembagaan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai : Konsep, Paradox, dan Masalah, serta Upaya Peningkatan Kinerja. Makalah Lokakarya Nasional Kebijaksanaan Pengelolaan DAS. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Bogor, 18 Februari 1999. Kartodihardjo, H, K. Murtilaksono, H.S. Pasaribu, U. Sudadi, dan N. Nuryantono. 2000. Kajian Institusi Pengelolaan DAS dan Konservasi Tanah. K3SB Bogor.

UU Otonomi Daerah, 1999. Undang-undang Otonomi Daerah UU No. 22. 1999 tentang Pemerintah Daerah; UU No 25 Thn. 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah; UU No 28 Thn 1999, tentang penyelenggara yang bersih dan bebas dari KKN. Stockmayer, A. 1999. Decentralization : Global Fad or Recipe for Sustainable Local Development Agriculture + Development Vol (6) : 1

SISTEM EKOLOGI DAN MANAJEMEN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Tejowulan, R.S. dan Suwardji Pusat Pengkajian Lahan Kering dan Rehabilitasi Lahan (P2LKRL), Fakultas Pertanian Universitas Mataram ABSTRAK Daerah Aliran Sungai atau DAS adalah hamparan pada permukaan bumi yang dibatasi oleh punggungan perbukitan atau pegunungan di hulu sungai ke arah lembah di hilir. DAS oleh karenanya merupakan satu kesatuan sumberdaya darat tempat manusia beraktivitas untuk mendapatkan manfaat darinya. Agar manfaat DAS dapat diperoleh secara optimal dan berkelanjutan maka pengelolaan DAS harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Makalah ini secara singkat menyajikan pokok-pokok pikiran tentang sistim ekologi dan filosofi DAS untuk mencapai pengelolaan DAS yang berkelanjutan dan menguntungkan. PENDAHULUAN Pengertian daerah aliran sungai (DAS) adalah keseluruhan daerah kuasa (regime) sungai yang menjadi alur pengatus (drainage) utama. Pengertian DAS sepadan dengan istilah dalam bahasa inggris drainage basin, drainage area, atau river basin. Sehingga batas DAS merupakan garis bayangan sepanjang punggung pegunungan atau tebing/bukit yang memisahkan sistim aliran yang satu dari yang lainnya. Dari pengertian ini suatu DAS terdiri atas dua bagian utama daerah tadah (catchment area) yang membentuk daerah hulu dan daerah penyaluran air yang berada di bawah daerah tadah. Dalam pengelolaannya, DAS hendaknya dipandang sebagai suatu kesatuan sumberdaya darat. Sehingga pengelolaan DAS yang bijak hendaklah didasarkan pada hubungan antara kebutuhan manusia dan ketersediaan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Pengelolan sumberdaya biasanya sudah menjadi keharusan manakala sumberdaya tersebut tidak lagi mencukupi kebutuhan manusia maupun ketersediaannya melimpah. Pada kondisi dimana sumberdaya

tidak mencukupi kebutuhan manusia pengelolaan DAS dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat sebaik-baiknya dari segi ukuran fisik, teknik, ekonomi, sosial budaya maupun keamanan-kemantapan nasional. Sedangkan pada kondisi dimana sumberdaya DAS melimpah, pengelolaan dimaksudkan untuk mencegah pemborosan. Dalam makalah ini akan dibahas (1) Pengertian DAS dan DAS sebagai Sistem Ekologi, (2) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya, (3) Hakekat DAS sebagai dasar dalam pengelolaannya, (4) Dasar-dasar pengelolaan DAS, dan (5) Data dasar yang diperlukan untuk merencanakan pengelolaan DAS. PENGERTIAN DAS DAN DAS SEBAGAI SISTIM EKOLOGI Banyak definisi tentang sumberdaya (resource) seperti obtainable reserve supply of desirable thing (suatu persediaan barang yang diperlukan, berupa suatu cadangan yang dapat diperoleh) (Menard,1974). Pengetian sumberdaya selalu menyangkut manusia dan kebutuhannya serta usaha atau biaya untuk memperolehnya. Oleh karena berkaitan dengan kebutuhan manusia, maka sumberdaya mempunyai arti nisbi (relative). Atas dasar kehadirannya, sumberdaya dapat dipilahkan ke dalam dua kelompok (1) sumberdaya alam dan (2) sumberdaya buatan manusia. Ada juga yang menggolongkan sumberdaya atas dasar kemantapannya terhadap kegiatan manusia : (1) sumberdaya yang sangat mantap, (2) sumberdaya yang cukup mantap dan (3) sumberdaya yang tidak mantap. Suatu sumberdaya tertentu dapat mempunyai nilai kemantapan beragam, tergantung dari gatranya yang diperhatikan. Misalnya, tanah sebagai tubuh alam mempuyai nilai kemantapan daripada kesuburannya. Mutu air jauh lebih mudah goyah daripada jumlahnya. Manusia secara jelas tidak dapat mengubah volume udara dalam atmosfer akan tetapi dia secara nisbi mudah mencemarkannya. Selain itu, ada yang menggolongkan sumberdaya atas kemampuannya untuk memperbaiki diri (self restoring). Dalam hal ini sumberdaya dibagi ke dalam dua kategori: (1) terbarukan (renewable), seperti udara, air tanah, hutan dan ikan. Memang ditinjau secara local atau setempat, air tanah, hutan, dan ikan dapat menyusut atau habis. Akan tetapi secara keseluruhan, mereka itu tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya masih tetap berfungsi. Bahkan yang habis di suatu tempat akan dapat timbul kembali jika diberi kesempatan cukup. (2) Tak-terbarukan (non-renewable), seperti minyak bumi, panas dan cebakan mineral. DAS merupakan gabungan sejumlah sumberdaya darat, yang saling berkaitan dalam suatu hubungan interaksi atau saling tukar (interchange). DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak-sistemnya (subsystem) atau anasirnya (component). Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti, bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu (integrated). Arti terpadu di sini ialah bahwa keadaan suatu anasir ditentukan oleh dan menentukan keadaan anasir-anasir yang lain.

Yang dinamakan sistem ialah suatu perangkat rumit yang terdiri atas anasir -anasir yang saling berhubungan di dalam suatu kerangka otonom, sehingga berkelakuan sebagai suatu keseluruhan dalam menghadapi dan menanggapi rangsangan pada bagian manapun (Dent dkk. 1979; Spedding, 1979). Disamping memiliki ciri penting berupa organisasi dalam (internal organization), atau disebut pula dengan struktur fungsi (fungtional structure), suatu sistem dipisahkan batas system dari sistem yang lain. Batas ini memisahkan sistem dari lingkungannya, atau memisahkan sistem yang satu dari yang lain. Lingkungan ialah keseluruhan keadaan dan pengaruh luar (external), yang berdaya (affect) batas hidup, perkembngan dan ketahanan hidup (survival) suatu sistem (De Santo,1978). Anasir-anasir DAS ialah iklim hayati (bioclimate), relief, geologi, atau sumberdaya mineral, tanah, air (air permukaan dan air tanah), tetumbuhan (flora), hewan (fauna), manusia dan berbagai sumberdaya budaya seperti sawah, ladang, kebun, hutan kemasyarakatan (HKm), dan sebagainya. Berbagai anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam sistim DAS. Sebagai contoh, relief dapat mempengaruhi distribusi lengas tanah dan lama penyinaran matahari. Tanah dan relief mempengaruhi keadaan hidrologi permukaan, keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai peruntukan. Setiap anasir dalam DAS memerlukan cara penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak, kelakuan dan kegunaan masing-masing. Sebagai contoh, ketrampilan dan pengetahuan anasir manusia dapat menyuburkan tanah yang tadinya gersang. Namun karena berlainan kepentingan, maka dapat terjadi bahwa suatu tindakan yang baik untuk suatu anasir DAS tertentu justru akan merugikan jika diterapkan pada anasir DAS yang lain. Sebagai contoh, penanaman jalur hijau untuk melindungi tebing aliran terhadap pengikisan atau longsoran, dapat mendatangkan kerugian atas pengawetan sumberdaya air karena meningkatkan transpirasi yang membuang sebagian air yang dialirkan. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif, yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran (optimization of the combined output) dari pada pemaksimuman salah satu keluaran saja. DAS yang mempunyai gatra ruang (space) atau luas (size), bentuk (form), ketercapaian (accessibility) dan keterlintasan (trafficability). Gatra-gatra ini menyangkut nilai ekonomi penggunaan DAS, karena menentukan tingkat peluang berusaha dalam DAS, nilai hasil usaha dan kedudukan nisbi DAS selaku sumberdaya dibanding dengan DAS yang lain. Gatra-gatra ruang, bentuk, ketercapaian dan keterlintasan bersama-sama dengan harkat anasir-anasir DAS yang telah disebutkan di atas, menentukan kedudukan DAS dalam urutan prioritas pengembangan,. Keunikan dan keberagaman DAS menimbulkan berbagai pertimbangan dalam penggunaan alternatif menurut kepentingan yang berubah sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan keinginan. Macam dan jumlah kebutuhan serta keinginan merupakan fungsi waktu dan tempat. Maka dari itu pengertian tentang makna waktu dan tempat sangat menentukan ketepatan perencanaan tataguna DAS. Tanpa perencanaan tataguna yang

memadai, penggunaan DAS dapat menjurus ke arah persaingan antar berbagai kepentingan, yang akhirnya hanya akan saling merugikan, dan pada gilirannya akan menimbulkan degradasi sumberdaya DAS yang tidak terkendalikan. HAKEKAT DAS SEBAGAI DASAR DALAM PENGELOLAANNYA

Pada dasarnya DAS merupakan satu kesatuan hidrologi. DAS penampung air, mendistribusikan air yang tertampung lewat suatu sistem saluran dari hulu ke hilir, dan berakhir di suatu tubuh air berupa danau atau laut. Barsama dengan atmosfir dan laut (atau danau), DAS menjadi tempat kelangsungan daur hidrologi. Hubungan hidrologi antara atmosfir dan tubuh air bumi dapat berjalan secara langsung, atau lewat peranan DAS. Terjadi pula hubungan hidrologi lansung antara DAS dan atmosfir. Hubungan hidrologi segitiga antara atmosfir, DAS dan tubuh air bumi (laut) disajikan pada Gambar 1. Bagan ini memperlihatkan peranan DAS sebagai penghubung dua waduk air alam utama, yaitu atmosfir dan laut. Ini menjadi dasar pertama dalam pengelolaan DAS. Selaku suatu wilayah kegiatan pendauran air maka DAS merupakan suatu satuan fisik yang cocok bagi penelaahan proses-proses yang menentukan pembentukan bentang lahan (landscape) khas di berbagai wilayah bumi. Proses-proses yang berlangsung di dalam DAS dapat dikaji berdasar pertukaran bahan dan energi (Leopold dkk, 1964). Hal ini menjadi dasar kedua dalam pengelolaan DAS. Gambar 2 merupakan acuan DAS sebagai suatu system yang bertopang pada proses pertukaran bahan dan energi.

Setiap DAS cenderung memperluas diri, baik dengan jalan erosi mundur dan/atau menyamping di daerah hulu, maupun dengan jalan pengendapan di daerah hilir, termasuk pembentukan jalur berkelok (meander) di dataran pantai dan pembentukan delta di depan kuala. Dilihat dari segi ini maka DAS merupakan suatu satuan geomorfologi yang bersifat sangat dinamik, dibentuk oleh prosesproses fluvial dan memperoleh corak dan cirinya dari paduan dua proses yang saling berlawanan. Proses yang satu ialah degradasi (penurunan) di daerah hulu dan proses yang lain ialah agradasi (peningkatan) di daerah hilir. Dengan demikian ada proses perpindahan material dari hulu ke hilir. Salah satu hasil morfogenesa penting semacam ini adalah pembentukan bentang tanah atau pola agihan tanah yang khas di tiap-tiap DAS. Keadaan ini merupakan dasar ketiga dalam pengelolaan DAS. Di depan telah diuraikan tentang berbagai gatra dan keaneka ragaman pemanfaatan DAS. Hal ini merupakan dasar keempat dalam pengelolaan DAS. Dari dasar pengelolaan pertama dan kedua mengandung suatu pengertian penting, bahwa DAS merupakan suatu sistem yang terbuka (open system). Hal ini dapat dilihat dari berfungsinya interaksi luar (functioning of external interactions), yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori kedua yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. Dasar pengelolaan kedua, ketiga dan keempat menunjuk kepada suatu pengertian penting berikutnya, bahwa DAS merupakan suatu sistem peubah energi (energy transformer). Hal ini dapat dipandang adanya interaksi berfungsinya faktor-faktor internal (functioning of internal interactions). Yang menurut De Santo (1978) merupakan kategori pertama yang membentuk hakekat kehadiran suatu sistem. DASAR-DASAR PENGELOLAAN DAS

Pengelolaan DAS biasanya mengacu pada pengelolaan dua anasirnya (component) yang dianggap terpenting, yaitu sumberdaya tanah dan air. Adapun anasir yang lain, seperti iklim, vegetasi, relief dan manusia, diperlukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. Maksud pengelolaan DAS ialah mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuanya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Dalam ungkapan sesuai dengan kemampuannya tersirat pengertian selaras dan lestari. Ungkapan manfaat lengkap dan kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu mengisyaratkan bahwa (1) hasil keluaran DAS tidak boleh hanya bermacam tunggal, akan tetapi harus terdiri atas berbagai hasil keluaran yang berkombinasi secara optimum, dan (2) rencana pengelolaan harus bersifat lentur (flexible) yang berisi sejumlah alternatif. Untuk mengarahkan pengelolaan, diperlukan tiga unsur pengarah. Yang pertama diperlukan ialah variable-variabel keputusan (decision variables), yang menjadi sumber pembuatan alternatif. Yang kedua diperlukan ialah maksud dan tujuan (objectives), ini dapat sebuah atau lebih. Yang ketiga ialah kendala (constraint), yang membatasi gerak variabel-variabel keputusan dalam membuat alternatifalternatif untuk mencapai maksud dan tujuan yang ditetapkan. Khusus mengenai pengelolaan DAS, yang dapat dipakai sebagai variebel-variabel keputusan ialah (1) keempat dasar untuk pengelolaan DAS yang telah disebutkan terdahulu (DAS selaku penghubung dua waduk air alam utama, kehadiran DAS didukung oleh kegiatan pertukaran bahan dan energi, DAS berkembang melalui proses perubahan dalam dan DAS bergatra ganda yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai peruntukan), (2) pemanfaatan DAS harus dapat menimbulkan pemerataan manfaat antara daerah hulu dan hilir, dan (3) pengembangan DAS harus dapat memberikan sumbangan bagi kepentingan regional dan atau nasional. Maksud atau tujuan pengelolaan DAS telah disebutkan di atas. Yang dapat ditunjuk sebagai kendala terhadap perkembangan DAS ialah iklim, relief, tanah, air, sumberdaya mineral, vegetasi, beberapa gatra tertentu manusia, ruang/luas, bentuk, ketercapaian dan keterlindasan. Pendek kata semua anasir DAS yang dikenai atau terlibat dalam pengelolaan. Dalam rencana pengelolaannya, DAS dibagi menjadi dua satuan pengelolaan. Satuan pengelolaan hulu mencakup seluruh daerah tadah atau daerah kepala sungai. Satuan pengelolaan hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Oleh Ray dan Arora (1973) istilah watershed digunakan secara terbatas untuk menamai daerah tadah, sedang daerah bawahan mereka namakan dengan istilah commanded area. Yang dinamakan commended area ialah daerah -daerah yang secara potensial berpengairan. Di DAS yang dapat dibangun suatu bendungan atau waduk maka seluruh daerah yang terkuasai oleh bangunan tersebut (daerah yang terletak dibawah garis tinggi pintu bendungan atau waduk) merupakan commended area. Pengelolaan daerah tadah ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut ini (Roy &Arora, 1973): (1) Pengendalian aliran permukaan tanah (excess) yang merusak, sebagai usaha mengendalikan banjir, (2) Memperlancar infiltrasi air kedalam tanah. (3) Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan

untuk maksud-maksud yang berguna, (4) Mengusahakan semua sumberdaya tanah dan air untuk memaksimumkan produksi. Faktor-faktor yang berdaya (affect) atas program pengelolaan daerah tadahan atau DAS hulu ialah (Roy & Arora, 1973): (1) Bentuk dan luas daerah tadahan, (2) Lereng dan timbulan makro (3) Keadaan tanah, termasuk fisiografi dan hidrologi tanah, (4) Intensitas, jangka waktu dan agihan curah hujan (5) Rupa dan mutu vegetasi penutup, (6) Penggunaan lahan terkini. Tujuan pengelolaan DAS hilir dapat diringkas sebagai berikut: (1) Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi yang merugikan, sehingga tidak merusak dan menurunkan kemampuan lahan.(2) Memperbaiki pengatusan (drainage) lahan untuk meningkatkan kemampuannya. (3) Meningkatkan dayaguna air dari sumber-sumber air tersediakan. (4) Meliorasi tanah, termasuk memperbaiki daya tanggap tanah terhadap pengairan, dan kalau perlu juga reklamasi tanah atas tanah-tanah garaman, alkali, sulfat masam, gambut tebal, dan mineral mentah. Faktor-faktor pokok yang berdaya atas program pengelolaan daerah hilir ialah: (1) Bentuk daerah hilir dan perbandingan luasnya dengan luas daerah tadahan.(2) Perbedaan landaian (gradient) lereng umum daerah hilir terhadap landaian lereng umum daerah tadahan. (3) Timbulan makro, ketinggian muka lahan pukul rata, jeluk (depth) pukul rata air tanah, dan keadaan tanah. (4) Intensitas, jangka waktu dan agihan curah hujan.(5) Rupa dan vegetasi penutup. (6) Penggunaan lahan kini. Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS, karena hal itu akan menentukan keuntungan yang dapat diperoleh, atau kesempatan yang terbuka, dalam pengelolaan DAS hilir. Pengelolaan DAS hilir menentukan seberapa besar keuntungan yang secara potensial dapat diperoleh karena pengelolaan DAS hulu benar-benar terwujudkan. Dengan kata lain, pengelolaan DAS hilir bertujuan meningkatkan daya tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. Hubungan ini dapat digambarkan pada Gambar 3. Dari bagian ini tampak, bahwa pengelolaan DAS hulu bertujuan rangkap: (1) meningkatkan harkatnya sebagai lahan usaha dan atau lahan permukiman, dan (2) memperbaiki dampaknya atas DAS hilir untuk memperluas peluang memperbaiki keadaan DAS hilir. Pengelolaan DAS hilir berperanan melipatkan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Menurut pandangan ekologi maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) bahan dan energi, atau boleh juga disebut sebagai lingkungan pengendali (conditioning environtment). Sementara itu, daerah hilir merupakan daerah penerima (acceptor) bahan dan energi, atau lingkungan konsumsi atau lingkungan yang dikendalikan (commanded environment). Dengan demikian pengelolaan DAS harus bersifat menyeluruh dan dapat memadukan bagian hulu dan hilir menjadi satu sistem.

DATA DASAR YANG DIPERLUKAN DALAM PENGELOLAAN DAS Penanganan sumberdaya untuk pemanfaatannya memerlukan data dasar sebagai pangkal otak. Demikian pula halnya dengan pengelolaan DAS. Data dasar (baseline data) ialah sekumpulan keterangan hakiki tentang suatu masalah (matter) yang relevan dengan watak (nature) masalah itu. Data itu dapat berupa ciri (characteristic) atau terukur (measureable). Mutu tidak dapat diamati atau diukur secara langsung, karena ditentukan oleh saling tindak sejumlah sifat, dan hanya dapat diketahui, dirasakan atau dinilai dari akibat atau perwujudan (manifestation) yang ditimbulkan. Yang dimaksud dengan akibat atau perwujudan ialah tindakannya dalam mempengaruhi kecocokan sumberdaya (DAS, lahan) bagi suatu penggunaan tertentu. Taraf kepentingan nisbi tiap sifat yang menentukan suatu mutu tertentu, bergantung pada keadaan lingkungan (Brinkman dan Smyth, 1973). Misalnya, erodibilitas tanah sebagai mutu ditentukan bersama oleh faktor-faktor kemiringan dan panjang lereng, permeabilitas tanah, dan kemantapan struktur tanah. Taraf kepentingan nisbi permeabilitas tanah menjadi menonjol dalam lingkungan iklim basah. Dalam lingkungan iklim kering, yang mana erosi angin menjadi bentuk erosi pokok, tinggal kemantapan struktur tanahlah yang menjadi faktor yang menonjol. Erosivitas hujan bersama dengan erodibilitas tanah menentukan mutu lahan yang disebut kerentanan lahan terhadap erosi air. Macam mutu yang lain antara lain kesuburan tanah, iklim, kebersihan air, keterlindasan (trafficability), dan keramah tamahan penduduk. Mutu dapat diharkatkan dengan sebutan (buruk, sedang, baik) atau dengan nilai tertentu (scoring). Data dasar untuk pengelolaan DAS terdiri atas ciri dan mutu semua anasir atau gatra DAS yang penting dalam menentukan kemampuan (capability) DAS. Macam data yang sekurang-kurangnya harus dikumpulkan ialah:

1. Neraca air makro (menurut iklim) dan neraca mikro (atau neraca lengas tanah menurut hidrologi lahan). 2. Erosivitas hujan dan erodibilitas tanah, untuk daerah-daerah beriklim kering, erosivitas hujan diganti dengan erosivitas angin. 3. Keadaan iklim hayati, yang mencakup agihannya menurut tinggi tempat dan kedudukan topografi. 4. Proses fluvial dalam geomorfologi (erosi, sedimentasi, hidrolika sungai, pembentukan delta, dataran banjir, dataran interfluvial, dataran estuarin, bentukan morfologi destruktif, seperti lembah, peneplain, morfologi karst, dsb). 5. Kemampuan lahan untuk pertanian, baik produktivitas maupun potensialitasnya. 6. Tataguna lahan kini dan produktivitasnya, termasuk tataguna sumberdaya air kini. 7. Ketercapaian wilayah dan keterlintasan. 8. Kerapatan dan distribusi penduduk, laju pertambahan penduduk, mata pencaharian,

kemampuan usaha, tingkat pendapatan dan kekayaan keluarga, tingkat kesehatan, dan mobilitas penduduk. 9. Rata-rata dan distribusi luas lahan milik atau garapan dan tingkat penerapan teknologi. Dari analisa dan penilaian data dasar akan diperoleh pengetahuan, kesimpulan atau petunjuk tentang : 1. Tingkat peluang dan prospek pengembangan. 2. Beberapa alternatif arah dan bentuk pengembangan, termasuk pertimbangan kerjasama dengan DAS tetangga dengan maksud saling mengisi. 3. Macam dan jumlah masukan yang diperlukan. 4. Prioritas penanganan segi-segi persoalan, baik untuk menyiapkan keadaan dan suasana yang serasi bagi memulakan (start) pembangunan yang sebenarnya, maupun untuk pentahapan pembangunan secara bernalar menurut tempat dan waktu. Dari macam ragam data dasar yang diperlukan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan DAS harus dikerjakan secara multidisiplin. Yang diartikan dengan multidisiplin ialah suatu titik tolak pandangan atau sikap, atau kerangka pendekatan, yang memadukan berbagai bidang pengetahuan yang relevan dengan watak dan kelakuan masalah, menjadi satu sistem analitik. Agar supaya sistem analitik ini dapat berfungsi efektif, tiap-tiap bidang pengetahuan yang menjadi unsur-unsurnya diberi kedudukan tertentu di dalam kerangka kerja. Unsur-unsur tersebut dapat diurutkan pada garis gerak analisa sesuai dengan pertimbangan hirarki tertentu. Dengan jalan ini suatu unsur memperoleh masukan dari

unsur lain yang berkedudukan hirarki lebih tinggi dan pada gilirannya, unsur yang tersebut pertama tadi memberikan masukan kepada unsur berikutnya yang berkedudukan hirarki lebih rendah. Sistem analitik seperti ini mempunyai struktur bertingkat. Biasanya pengumpulan data dasar dan analisa kualitatif fisik berada pada tingkat atas (langkah kerja pertama), dan memberikan masukan kepada analisa sosial-ekonomi dan pengharkatan kuantitatif yang berada pada tingkat bawah (langkah kerja kedua). Maka system analisa seperti ini disebut pula pendekatan bertingkat dua. Dapat pula analisa semua gatra dikerjakan secara berdampingan (hirarki tunggal), dan sistemnya dinamakan pendekatan sejajar (ILRI, 1977). Kedua macam pendekatan itu masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pendekatan bertingkat atau bertahap bersifat lebih terarah, memiliki urutan kegiatan yang jelas tanpa langkahlangkah yang saling berhimpitan. Dengan demikian ia bersifat lebih fleksibel dalam hal penganggaran penghasilan kegiatan survai dan pengumpulan data pada hal-hal yang langsung diperlukan untuk analisa dan pengharkatan. Penghampiran sejajar sering menghambat analisa tuntas mengenai kemampuan menyeluruh (ultimate capability) suatu sumberdaya, karena terjerat dalam pertimbangan sosial-ekonomi yang membuat batasan tempat dan waktu. Dengan demikian prospek mutlak suatu sumberdaya tidak terungkapkan. Untuk keperluan pengharkatan lahan, FAO dan International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI), memilih pendekatan bertahap (ILRI, 1977). Penulis juga memperoleh pengalaman yang memuaskan dalam menerapkan penghampiran bertahap ini. Bidang sosial-ekonomi boleh saja ditangani pada tahap pertama kegiatan bersama-sama dengan bidang fisik, asal saja terbatas pada pengumpulan data dasar. Dalam menghubungkan asas kepaduan disiplin dengan pengelolaan DAS, Martin (1970) dalam kata pengantarnya untuk Symposium on The Interdisciplinary Aspects of Watershed Management di Montana State University mengemukakan bahwa professional from the many different disciplines will work in concert to bring about total watershed managenent. PENUTUP Maksud pengelolaan DAS adalah untuk mendapatkan manfaat lengkap yang sebaik-baiknya dari DAS sesuai dengan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam dan yang berkembang menurut waktu. Mengingat bahwa DAS merupakan suatu system yang terbentuk dari gabungan sumberdaya yang saling berkaitan dan berinteraksi, maka dalam pengelolaannya harus memperhatikan semua anasir-anasir penyusunnya. Karena DAS merupakan sumberdaya darat yang sangat komplek maka pemanfaatan DAS harus bersifat komprehensif yang lebih mementingkan pengoptimuman kombinasi keluaran daripada pemaksimuman salah satu keluaran saja. Oleh karena itu, pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara terpadu, terencana, dan berkesinambungan guna mendapatkan manfaat sebaik-baiknya. Dengan memahami DAS sebagai suatu system ekologi, diharapkan pengelolaan DAS akan dapat lebih terarah, bermanfaat, dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA Brinkman, R. dan Smith, A.J. (1979). Land evaluation for rural purpose. ILRI Publ. No. 17. Wageningen. Dawes, J.H. (1970). Influence of soil on water yield. Proc. Symp. Interdisc. Aspects Watershed Management. Mon. State University. Dent, J.B., Blackie, M.J. & Harrison, S.R.(1979). System simulation in agriculture. Appl. Sci. Publ. Ltd. London. De Santo. R.S. (1978). Concept of applied ecology. Springer-Verlag, New York. ILRI. (1977). Framework for land evaluation. Inter. Land Recl. Improv. Wageningen Leopold, L.B., Wolman, MG. Dan Miller, J.P. (1964). Fluvial processes in geomorphology. WH. Freeman and Co. San Fransisco. Martin, G.L. 1970. Introduction. Proc. Symp. Interdisc. Ascept Watershed Man. Mon. State Univ. h. 12. Amer. Soc. Civ. E. New York. Meinzer, O.E. 1942. Ground Water. Dalam: Meinzer, O.E., Editor, Hydrology. Ch. XA. Dover Publ. Inc. New York. Menard, H.W. 1974. Geology. resources, and society. W. H. Freeman and Co. San Francisco. Michigan State Univ. 1976. Design and management of rural ecosystems. ASRA Information Resosurces, National Science Foundation. Wasington, D. C. Morgan, R. P. C. 1979. Soil erosion. Logman. London. Nelson, A. & Nelson, K. D. 1973. Dictionary of water and water engineering Butterwarths & Co, Ltd. London. Notohadiprawiro, T. 1977. Suatu cara pengharkatan cepat tapak darat (land site) bagipendirian pemukiman baru. Kongres Nasional Ilmu Tanah II. Himpunan Ilmu Tanah Indonesia. Yogyakarta. _______________ 1980. Penghijauan : kontroversi yang berkepanjangan. Seminar Penghijauan P. I. P. R. / R. S. D. C. Yogyakarta. ___________, & Drajad, M. 1980. Rancangan klasifikasi kemampuan lahan untuk permukiman ketanian. Rancangan pertama. Dep. I. Tanah. Fak. Pert. UGM. Belum diterbitkan.

___________, Sukodarmodjo, S., & Drajad, M. 1980. Beberapa fakta dan angka tentang lingkungan fisik waduk Wonogiri dan kepentingannya sebagai dasar pengelolaan. Lokakarya Pengembangan dan Pelestarian Wilayah Waduk Wonogiri. Tawangmangu. Oldeman, R. A. A. 1979. Blueprints for a new tropical agroforestry tradition. Proc. 50th Symp. Trop. Agr. Bull. 303. Kon. Inst. Tropen. Amsterdam. H. 25-34. Rqy, K. & Arora, D.R. 1973. Technology of agricultural land development and water management. Satya pakashan. Tech. India Publ. New Delhi. Soepraptohardjo, M. & Robinson, G. H., editors. 1975. A proposed land capability appraisal system for agricultural uses in Indonesia. Soil. Inst. Bogor. Steele, J. G. 1967. Soil suvey interpretation and iats use. Fao Soil Bull. No. 8. Storie, R. E. 1964. Handbook of soil evaluation. Assoc. Students Store. Univ. Calif. Berkeley. Spedding, C. R. W. 1979. An introduction to agricultural systems. Appl. Sci. Publ. Ltd. London. Wassink, J. T. 1979. Agroforestry, een samenspel van land- en bosbouw ten behoeve van de mens en zijn milieu. 67e Jaarverslag Kon. Inst. Tropen Amsterdam. DISKUSI Pertanyaan : 1. Pada kenyataanya sulit sekali pengelolaan DAS didasarkan pada batas-batas administrasi. Dengan adanya Otonomi Daerah maka ada bentrok antara DAS hulu dengan DAS hilir. 2. Saran (Masyarakat yang berada di hilir membayar ke daerah hulu). 3. Yang diuraikan tadi hanya masih dalam teori-teori DAS saja, tetapi aplikasinya belum. 4. Karakteristik aliran sungai akan kita angkat sebagai variable utama. Tanggapan : 1. Memang benar, bahwa yang disampaikan hanya bersifat teoritis, tetapi ini berfungsi untuk meningkatkan kesadaran kita. 2. Saran-saran kami terima untuk dipertimbangkan.

Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai: Cakupan, Permasalahan, dan Upaya Penerapannya
C. Nugroho S. Priyono dan S. Andy Cahyono

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS, IBB. Jln. A. Yani Pabelan, Solo Email: bp2tp@indo.net.id

ABSTRAK
Pendekatan pengelolaan daerah aliran sungai yang pernah diragukan efektivitasnya kini mulai relevan kembali seiring dengan semakin lajunya degradasi sumber daya alam di daerah aliran sungai. Perubahan situasi, kondisi, dan pergeseran paradigma dalam pengelolaan daerah aliran sungai perlu diikuti dengan teknologi pengelolaan daerah aliran sungai yang sesuai. Makalah ini menguraikan cakupan, permasalahan pengelolaan sumber daya alam, dan upaya yang perlu dilakukan supaya semua pihak dapat mengacunya. Selain penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan sumber daya alam, faktor kelembagaan juga merupakan faktor penting. Untuk itu, diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan daerah aliran sungai yang disepakati. ABSTRACT The effectiveness of watershed management approach was questioned, but this approach is now becoming relevant because of the current problems related to the increasing of natural resource degradation in the watershed. Technology used in the natural resource management in the watershed is understood as parts of watershed management technology. The current change of situation, condition and new paradigm in watershed management need to be followed by updating watershed management technologies. This paper discusses the coverage, problems of natural resources management in watershed and efforts to be taken so that all stakeholders are able to refer to it. In the watershed management, the institutional aspect is also an important factor besides technology implementations. Contributions from each stakeholder are needed to formulate the common framework of watershed management

PENDAHULUAN
Persoalan sedimentasi, penurunan muka air suatu waduk atau danau serta maraknya kejadian bencana alam akhir-akhir ini seperti longsor, banjir, dan kekeringan, dapat dipandang sebagai indikator tidak optimalnya pengelolaan sumber daya (alam dan manusia) dalam daerah aliran sungai (DAS). Intervensi dan kebutuhan manusia dalam pemanfaatan sumber daya yang semakin meningkat membuat makin banyaknya DAS yang rusak dan kritis. Gambaran kerusakan DAS dan degradasi lahan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 1984 terdapat 22 DAS dalam keadaan kritis dengan luas 9.699.000 ha, kemudian meningkat menjadi 39 DAS kritis pada tahun 1994 dengan luas lahan kritis mencapai 12.517.632 ha, dan pada tahun 2000 DAS kritis berjumlah 42 DAS dengan luas lahan kritis mencapai 23.714.000 ha (Soenarno, 2000; Ditjen RRL, 1999). Saat ini diperkirakan 13% atau 62 DAS dari 470 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis, meskipun kegiatan konservasi tanah dan air dalam pengelolaan DAS sudah sejak lama dilakukan.

Di Indonesia, pentingnya konservasi tanah dan air pada satuan sistem DAS mulai disadari setelah terjadi banjir besar Bengawan Solo tahun 1966. Kesadaran tersebut ditindaklanjuti dengan upaya penanggulangan pada skala luas melalui Proyek Penghijauan Departemen Pertanian 001 pada tahun 1969. Sistem pengelolaan DAS untuk mendukung pelaksanaan konservasi tanah diformulasikan pada tahun 1972 melalui proyek Upper Solo Watershed Management and Upland Development Project (TA INS/72/006). Dari perjalanan waktu penyelenggaraan pengelolaan DAS, kegiatan pengelolaan DAS dapat diartikan sebagai pengelolaan sumber daya alam (SDA) berskala DAS berdasarkan integrasi keterlibatan masyarakat, pengetahuan teknis, dan struktur organisasi beserta arah kebijakan kegiatan. Pendekatan pengelolaan DAS menjadi relevan kembali setelah munculnya persoalan pengelolaan SDA serta dampak pengelolaan yang buruk. Sementara itu, pendekatan pengelolaan DAS juga mengalami perubahan seiring dengan adanya perubahan situasi, permasalahan, kondisi, dan pergeseran paradigma. Makalah ini menguraikan cakupan, permasalahan pengelolaan SDA, dan upaya yang perlu dilakukan agar semua pihak dapat mengacunya.

CAKUPAN PENGELOLAAN DAS


Daerah aliran sungai secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). Oleh karena itu, pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai unit pengelolaan. Pada dasarnya pengelolaan DAS merupakan upaya manusia untuk mengendalikan hubungan timbal balik antara SDA dengan manusia dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan SDA bagi manusia secara berkelanjutan. Daerah aliran sungai merupakan suatu ekosistem dimana terjadi interaksi antara organisme dari lingkungan biofisik dan kimia secara intensif serta terjadi pertukaran material dan energi. Dalam ekosistem DAS dapat dilihat hubungan antara hujan sebagai input, DAS sebagai pemroses, dan air sebagai output. Hujan sebagai input dalam ekosistem DAS bisa dianggap sebagai faktor yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. DAS sebagai faktor proses merupakan unsur yang bisa diubah atau diperlakukan untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya dan bisa menekan kerusakan yang terjadi (Priyono dan Cahyono, 2003). Karena DAS secara alamiah juga merupakan satuan hidrologis, maka dampak pengelolaan yang dilakukan di dalam DAS akan terindikasikan dari keluarannya yang berupa tata air. Terdapat hubungan yang sangat erat antara hulu dan hilir dalam DAS, dimana hulu sebagai daerah tangkapan air akan memberikan dampak dari pengelolaan yang dilakukan di hulu. Sementara itu, hilir berperan sebagai penerima dampak kegiatan pengelolaan di hulu (dampak baik atau buruk). Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya di dalam DAS perlu dilakukan secara terpadu (integrated resource management) untuk dapat mengakomodir semua kepentingan.

PERMASALAHAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DI DAERAH ALIRAN SUNGAI


Bertitik tolak dari pemahaman bahwa pengelolaan SDA dapat dikatakan bagian dari pengelolaan DAS, maka permasalahan pengelolaan DAS yang timbul sebagian besar juga bermuatan masalah pengelolaan SDA. Keberhasilan ataupun kegagalan dalam pengelolaan SDA di dalam DAS akan berimplikasi pada pengelolaan DAS.

Sumber Daya Hutan


Indonesia dikaruniai salah satu hutan tropis yang terluas dan terkaya keanekaragaman hayati serta potensinya di dunia. Namun demikian, laju kerusakan hutan dan pembentukan lahan kritis di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Gambaran umum kondisi kerusakan hutan menunjukkan bahwa dari 105 juta ha kawasan hutan di Indonesia, 57,7 juta ha (55%) diantaranya mengalami kerusakan. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (2001), laju kehilangan hutan semakin meningkat. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta ha/tahun, kemudian meningkat menjadi sekitar 1,7 juta ha/tahun pada tahun 1990-an. Saat ini laju kehilangan hutan telah mencapai 2 juta ha/tahun. Meskipun angka-angka tersebut masih diperdebatkan kesahihannya, tetapi kecenderungan tersebut perlu diwaspadai mengingat kebutuhan kayu terus meningkat dan kebakaran hutan menjadi rutin terjadi. Pada tahun 1998, kebutuhan kayu nasional adalah sebanyak 39,75 juta m3 dan diperkirakan meningkat menjadi 52,18 juta m3 pada tahun 2003. Sementara itu, kapasitas pemenuhan kebutuhan tersebut sampai saat ini hanya 18,14 juta m3, sehingga masih ada kekurangan 34,04 juta m3 (Goldammer et al., 1999). Situasi tersebut akan berdampak negatif apabila pemenuhan kebutuhan kayu tersebut tidak diikuti dengan teknik silvikultur dan pembalakan yang lestari (Priyono et al., 2000). Pengelolaan SDA hutan harus menerapkan teknologi yang mempraktekkan prinsip pembalakan dengan dampak minimum (Reduced Impact Logging/RIL). Selain itu, pengelolaan hutan juga menghadapi persoalan sosial berupa penjarahan dan perambahan hutan. Kondisi tersebut dipicu oleh kesenjangan sosial ekonomi antara masyarakat sekitar hutan dengan pengusaha hutan, selain kondisi politik dan penegakan hukum yang tidak mendukung. Untuk itu, diperlukan teknologi dan rekayasa sosial yang memberi ruang lebih luas dan penyertaan masyarakat untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan. Cukup banyak program yang bernuansa partisipatif dikembangkan untuk memberi solusi masalah tersebut, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa program yang berhasil adalah yang berasal dari masyarakat setempat.

Sumber Daya Lahan


Persoalan utama dalam pengelolaan sumber daya lahan (SDL) adalah penurunan luas lahan pertanian sebagai akibat konversi ke non-pertanian. Peningkatan konversi lahan pertanian menjadi lahan nonpertanian akan mengancam lahan hutan, karena pertanian akan merambah kawasan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. Hal tersebut disinyalir dari hasil penelitian Abbas (1997), Mulyana (1998), dan Cahyono (2001). The World Bank (1990) memperkirakan 40.000 ha/tahun lahan

pertanian dikonversi menjadi lahan non-pertanian di Indonesia. Dalam satuan DAS, konversi tersebut sebagian besar terjadi di hilir DAS. Ditinjau dari aspek kualitas, terjadi penurunan kualitas lahan sebagai akibat erosi yang semakin meningkat. The World Bank (1990) mencatat bahwa rata-rata erosi di lahan pertanian Pulau Jawa pada tanah vulkanik sebesar 6-12 t/ha/tahun dan pada tanah kapur sebesar 20-60 t/ha/tahun. Sementara itu, laju pembentukan tanah sangat lambat (30-725 tahun/mm tanah) dan ekstensifikasi pertanian sangat mahal. Hal ini ditambah lagi dengan intensifikasi pertanian yang sudah mencapai taraf levelling off apabila tidak ditemukannya teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Mencermati hal tersebut, maka diperlukan pembatasan konversi lahan dan pengendalian erosi dengan satuan pengelolaan DAS. Program tata ruang dengan pendekatan pengelolaan DAS merupakan upaya penanganan masalah konversi lahan.

Sumber Daya Air


Persoalan ketersediaan air dan distribusinya selalu menjadi permasalahan umum. Ketersediaan air di musim kemarau menjadi sangat terbatas, sementara pada musim penghujan banjir terjadi di manamana. Penurunan tinggi muka air (TMA) di beberapa danau dan waduk mengalami penurunan akibat konsumsi dan penggunaan lahan terus meningkat. Di Pulau Jawa, jumlah air tersedia mencapai 142,3 milyar m3/tahun dan kebutuhan air mencapai 77,8 milyar m3/tahun (Kananto et al., 1998). Angka tersebut merupakan jumlah total dalam setahun sementara pada bulan-bulan kering jelas penggunaan dan konsumsi lebih tinggi dari pasokannya. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, diperlukan penekanan pada jumlah pemakaian. Mengingat bahwa sektor pertanian menggunakan 80-90% dari jumlah air tersedia maka penggunaan air di sektor pertanian perlu terus ditingkatkan. Sementara itu adanya otonomi daerah yang memberi ruang lebih besar pada daerah dalam mengelola sumber daya air telah membawa beberapa konsekuensi pengelolaan sumber daya air dalam konteks DAS, yaitu: a. pemanfaatan air oleh suatu daerah berarti menghilangkan peluang pemanfaatan oleh daerah lain, padahal mungkin saja oportunity cost di daerah lain lebih tinggi; b. pencemaran pada daerah hulu akan berdampak pada bagian hilir; dan c. daerah hulu sering berfungsi sebagai daerah pelestari, tetapi penerima manfaatnya di daerah hilir. Selain itu daerah hulu kehilangan peluang pengembangan daerahnya untuk mendukung daerah hilir tanpa adanya kompensasi dari yang menerima manfaat. Pengembangan teknologi pengelolaan DAS untuk sumber daya air ditujukan pada teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air (terutama irigasi) dan konsumsi air. Selain itu perlu didukung dengan pengembangan kelembagaan tradisional seperti Subak di Bali, Karuhan di Tasikmalaya Jawa Barat, atau Pasang di Sulawesi Selatan. Dalam kaitan inilah, maka penggunaan DAS sebagai unit hidrologi dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien dalam pengembangan model dan teknologi pengelolaan sumber daya air dalam DAS.

Diversifikasi Flora Fauna Indonesia


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia luar biasa tinggi, meliputi 11% spesies tumbuhan dunia, 10% spesies mamalia, dan 16% spesies burung (Forest Watch Indonesia, 2001). Degradasi lahan, deforestrasi, konversi lahan, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan longsor mengakibatkan menurunnya keanekaragaman flora dan fauna. Dalam kaitannya terhadap perlindungan biodiversity, maka kehati-hatian sangat diperlukan. Hal ini mengingat topografi wilayah Indonesia yang sebagian besar bergunung dan berbukit yang memungkinkan tingginya endemi dan percepatan kepunahan. Bertitik tolak pada pemikiran bahwa DAS merupakan representasi ekosistem, maka satuan DAS dapat dijadikan sebagai pendekatan dalam pengelolaan flora fauna. Ekosistem dalam DAS terdiri atas beberapa subsistem yang saling terkait, berintegrasi, berinteraksi, dan bersinergi.

TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada semakin meningkatnya permintaan akan kebutuhan manusia terutama pangan. Semakin intensif dan ekstensifnya penggunaan lahan pertanian membuat banyak lahan pertanian terdegradasi, sehingga timbul kesan bahwa pertanian itu eksploitatif terhadap lahan dan mengabaikan pelestarian lingkungan. Hasil penelitian Abbas (1997), Mulyana (1998), dan Cahyono (2001) menunjukkan bahwa pembukaan areal padi mulai mengarah ke lereng-lereng DAS hulu dan lahan marjinal. Begitu pula dengan tanaman palawija, hortikultura, tembakau, dan tanaman bernilai ekonomis tinggi lainnya. Misal, kentang di Dieng Wonosobo, Tembakau di Temanggung yang sangat menguntungkan secara ekonomi (Kurnia, 2000), meskipun menyebabkan erosi (Donie, 2002). Akibatnya, terjadi penggundulan hutan, penebangan pohon, dan pemanfaatan lahan secara intensif. Untuk memaksimalkan keuntungan dan pendapatan, maka upaya konservasi diminimalkan oleh pengusaha dan petani. Menurut Arifin (1996) dan Cahyono (2002), petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi hanya jika terdapat manfaat ekonomis dari kegiatan tersebut. Petani dengan pendapatan rendah, mungkin sadar bahwa teknologi konservasi akan bermanfaat dan mengurangi erosi, tetapi mereka tidak mampu untuk menerapkan teknologi konservasi tersebut. Sebaliknya bagi petani di lereng bukit yang cenderung erosi akan enggan untuk mengadopsi teknologi konservasi jika penghasilan dari usaha taninya tidak terpengaruh oleh erosi yang terjadi. Oleh karena itu, kebijakan konservasi tanah perlu diintegrasikan dengan kebijakan pangan dan pertanian secara keseluruhan. Pertanian sering dianggap eksploitatif akibat dari pelaksanaan konservasi tanah yang belum merupakan bagian dari pengelolaan lahan maupun pengelolaan tanaman. Untuk itu, maka sistem pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan lahan dalam satuan DAS. Pertanian merupakan

suatu sistem yang menggunakan input produksi (lahan, tenaga kerja, modal, dan manajemen) melalui sebuah proses alam dan menghasilkan produk pertanian. Hal ini identik dengan pengelolaan DAS yang dapat dianggap pula sebagai sebuah sistem produksi. Pengelolaan DAS dapat dilihat sebagai sebuah sistem perencanaan produksi yang menggunakan pengelolaan input dengan input alam untuk menghasilkan output berupa barang dan jasa, dengan konsekuensi efek pada sistem alam di on-site dan off site (Gambar 1). Dari sisi ekonomi, sistem pengelolaan DAS adalah suatu cara proses produksi dengan mengeluarkan biaya untuk input dan pengelolaan serta mendapat manfaat ekonomi dari output yang dihasilkan. Gambar 1 juga menunjukkan prinsip dasar analisis manfaat biaya. Pengelolaan DAS dapat menghasilkan dampak positif berupa produksi pertanian, hasil hutan, peternakan, rekreasi, air dan sebagainya. Selain itu pengelolaan DAS dapat pula menghasilkan efek negatif berupa erosi, sedimentasi, kehilangan unsur hara, longsor, dan sebagainya. Penurunan pada dampak negatif pengelolaan DAS akan meningkatkan output. Apabila dampak positif yang dapat diperoleh dari pengelolaan DAS lebih besar dibandingkan dengan dampak negatifnya, maka pengelolaan DAS tersebut memberikan manfaat bersih yang positif. Jadi, tujuan pengelolaan DAS adalah untuk memaksimumkan manfaat sosial ekonomi bersih pada kegiatan penggunaan lahan di dalam DAS.

Gambar 1. Sistem Pengelolaan DAS secara umum

Manfaat bersih dari pengelolaan DAS akan berkelanjutan apabila disertai dengan kegiatan konservasi tanah. Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad, 2000). Konservasi tanah bukan berarti penundaan atau pelarangan penggunaan tanah, tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tanah berfungsi secara lestari. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air, sehingga usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air.

Selain penerapan teknologi dalam pengelolaan SDA dan implementasi praktek konservasi, pengelolaan DAS juga mencakup kelembagaan para pihak yang terkait dalam pengelolaan SDA. Kelembagaan tidak hanya menyangkut organisasi tetapi juga aturan main antar-organisasi, kemampuan sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi dan jejaring kerja antar-organisasi. Persoalan kelembagaan inilah yang sekarang menjadi lebih dominan daripada penerapan teknologi, mengingat adanya perubahan tatanan politik. Tumpang tindihnya kewenangan dan tidak adanya jejaring kerja yang baik membuat pengelolaan SDA tidak efisien bahkan cenderung bersifat eksploitatif. Pengelolaan DAS yang baik membutuhkan adanya jejaring kerja yang baik antar institusi pengelola SDA di DAS dalam suatu kerangka kerja yang disepakati bersama. Konsensus akan kerangka kerja tersebut perlu dibangun dari seluruh pihak yang terkait. Namun pengalaman juga menunjukkan bahwa konsensus sulit diharapkan untuk dapat terjadi secara alamiah, tetapi di banyak kasus dibutuhkan suatu tekanan dari salah satu pihak yang dominan. Yang penting dalam hal ini adalah, apabila konsensus kerangka kerja telah disepakati, semua pihak perlu meng-implementasikan secara konsisten sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

PENUTUP
Teknologi pengelolaan DAS sering disederhanakan dengan praktek konservasi tanah dan air. Pengertian ini perlu dikembalikan lagi pada pendekatan pengelolaan DAS sebagai upaya pengelolaan SDA dalam suatu ekosistem. Teknologi pengelolaan DAS ke depan sudah seharusnya menjadi bagian kebutuhan masyarakat yang berada dalam suatu DAS. Pengembangan teknologi pertanian harus merupakan bagian dari pengelolaan DAS yang memadukan produksi dan konservasi. Untuk itu konservasi lahan harus menjadi suatu kebutuhan (need) bagi petani dalam berusaha tani dalam bingkai DAS. Dengan penerapan teknologi dalam konteks pengelolaan SDA di DAS akan diperoleh penyelenggaraan pengelolaan DAS yang baik. Untuk itu diperlukan kontribusi dari banyak pihak dalam suatu kerangka kerja pengelolaan DAS yang disepakati. Keberhasilan pengelolaan DAS tidak semata-mata dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga oleh partisipasi masyarakat, kelembagaan, kebijakan, dan akses masyarakat dalam mengelola SDA yang ada dalam DAS.

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, S. 1997. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Sekretariat Badan Pengendali Bimas. Departemen Pertanian Republik Indonesia, Jakarta. Arifin, B. 1996. Kontroversi Program Konservasi Lahan. Jurnal Sosio Ekonomika 2 (3): 9-18. Arsjad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB Press. Bogor.

Cahyono, S.A. 2001. Analisis Penawaran dan Permintaan Beras di Propinsi Lampung dan Kaitannya dengan Pasar Beras Domestik dan Internasional. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Cahyono, S.A. 2002. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. Info DAS 13: 14-26. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor. Ditjen RRL (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan). 1999. Luas Lahan Kritis di Indonesia dan Statistik dalam Angka. Direktorat Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah Departemen Kehutanan. Departemen Kehutanan, Jakarta. Donie, S. 2002. Prilaku bertani masyarakat Dieng, kelestarian daerah aliran sungai dan solusinya. hlm. 121-132 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitan dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Wonosobo, 9 September 2002. Forest Watch Indonesia. 2001. Potret Kehutanan Indonesia. Forest Watch Indonesia, Bogor. Goldammer, J.G., W. Schindelle, B. Seibert, A.A. Hoffmann, and H. Abberger. 1999. Impacts of fire on dipterocarp forest ecosystems in South East Asia. pp. 15-39. In Proceeding 3rd International Symposium on Asia Tropical ForestManagement, Impact of Fire and Human Activities in the Tropic. Samarinda, 20-23 September 1999. Kananto, W. Hatmoko, dan Widayati. 1998. Konsumsi dan produksi air Pulau Jawa. hlm. 82-123 dalam Prosiding Seminar Sehari Pengelolaan Hutan dan Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. Perum Perhutani-Yayasan IMTEK. Jakarta, 23 September 1998. Kurnia, U. 2000. Penerapan Teknik Konervasi Tanah pada Lahan Usahatani Sayuran Dataran Tinggi. hlm. 47-58 dalam Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan DAS. Bogor, 2-3 September 1999. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Mulyana, A. 1998. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras di Indonesia dan Prospek Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. Disertasi Doktor. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Priyono, C.N.S dan S. A. Cahyono. 2003. Status dan strategi pengembangan pengelolaan DAS di masa depan di Indonesia. Alami 8(1):1-5. Priyono, C.N.S, Mastur dan S. Donie. 2000. DAS merupakan unit pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkeadilan. hlm. 66-79 dalam Prosiding Ekspose Hasil Penelitian BTP DAS Surakarta, Pengelolaan DAS dalam Kaitannya dengan Otonomi Daerah. Surakarta, 21 November 2000.

Soenarno. 2000. Daerah Banjir di Indonesia Bertambah. Harian Kompas tanggal 24 Oktober 2000. Jakarta. 19 hlm. The World Bank. 1990. Indonesia: Sustainable Development of Forest, Land and Water. A World Bank Country Report. Washington. Sumber:

SISTEM PENGELOLAAN LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BAGIAN HULU


Oleh: Amiruddin Syam Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Jalan A. Yani No. 70, Bogor 16161 (Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003) ABSTRAK Upaya pemerintah dalam memperbaiki pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu telah dilakukan melalui berbagai proyek. Proyek tersebut bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani, serta untuk mendorong partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usaha tani konservasi teras bangku dan teras gulud dapat meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani, serta dapat menurunkan laju erosi. Tingkat adopsi teknologi secara parsial cukup tinggi, khususnya teknologi pola tanam, varietas unggul, budi daya tanaman pakan dan usaha ternak, serta upaya tindakan konservasi tanah secara vegetatif. Hasil tersebut diduga karena evaluasi dan analisis alternatif sistem konservasi belum memberikan informasi yang komprehensif. Untuk mengadopsi paket teknologi secara utuh, para petani mengalami kesulitan karena beberapa kendala seperti keterbatasan modal dan tenaga kerja keluarga. Implikasi kebijakan pada tahapan perbaikan teknologi dan formulasi kebijakan perlu memperhatikan upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Pada tahap awal, pemerintah berperan untuk meningkatkan sumber daya manusia dan subsidi, dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. Kata kunci: Lahan kering, pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan lahan ABSTRACT Dry land management at upstream part of watershed area Government efforts in improving management of dry land in upstream part of a watershed area have been carried out through some projects. The general objectives of the projects were to increase land productivity, and farmers income, and to support farmers participation in land and water resource conservation. The results of the assessment showed that application of bench terrace and bund terrace could increase crop

productivity and farmers income, and decrease erosion rate. The level of technology adoption was partially high enough, especially cropping pattern, improved variety, fodder crop culture, animal husbandry, and vegetative land conservation. The results were assumed because the evaluation and analysis of conservation system were based on limited information. Some constraints inhibitted farmers in adopting the complete package of technology one capital and family labor. Technology improvement and policy formulation should stressed on the community participation in implementing land and water resource conservation. In early stage, the government needs to improve quality of human resources and through the provision of subsidy. At the development stage, government needs to encourage private sector in dry land investment. Keywords: Uplands, watershed management, land management PENDAHULUAN Lahan kering di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk pembangunan pertanian. Namun, produktivitas umumnya rendah, kecuali sistem pertanian lahan kering dengan tanaman tahunan/perkebunan. Pada usaha tani lahan kering dengan tanaman pangan semusim, produktivitas relatif rendah serta menghadapi masalah sosial ekonomi seperti tekanan penduduk yang terus meningkat dan masalah biofisik (Sukmana 1994). Lahan kering terutama di daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu umumnya menghadapi masalah kerusakan lingkungan yang makin parah sehingga menurunkan produktivitas lahan, meningkatkan erosi dan sedimentasi, serta memacu meluasnya banjir pada musim hujan. Masalah tersebut memerlukan perhatian serius karena dapat menghambat pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi pangan. Upaya pemerintah untuk menangani masalah kerusakan lingkungan pada lahan kering di DAS sebenarnya sudah dimulai sebelum perang kemerdekaan. Pada tahun 1950, pemerintah menganjurkan petani untuk menanam pohonpohonan secara besar-besaran, dan pada tahun 1967 mulai dianjurkan untuk membuat teras bangku (DHV Consultants 1990). Namun, upaya tersebut belum berhasil. Luas lahan kritis yang pada tahun 1980 mencapai 6.936.408 ha (Biro Pusat Statistik 1981) hanya turun menjadi 6.400.400 ha pada tahun 1994 (Biro Pusat Statistik 1994) atau turun 7,70% selama 14 tahun. Namun, perbaikan tersebut terjadi di luar kawasan hutan (hanya 32%). Di dalam kawasan hutan, luas lahan kritis justru makin meningkat (16,30%) dalam periode yang sama. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan DAS cukup serius. Sukmana et al. (1988) mengemukakan bahwa, upaya pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut dimulai pada awal tahun 1970-an melalui proyek DAS Solo, kemudian disusul Proyek Citanduy I dan II, Proyek Wonogiri, dan Proyek Bangun Desa. Pada tahun 1985 dibentuk Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama Upland Agriculture and Conservation Project (UACP) untuk menangani lahan kritis di DAS Brantas (Jawa Timur) dan DAS Jratunseluna (Jawa Tengah), kemudian National Watershed Management and Conservation Project (NWMKP) yang dimulai tahun 1995 dan berakhir bulan September 1999 (Abdurachman dan Agus 2000).

Tulisan ini bertujuan untuk membahas permasalahan DAS bagian hulu, mengemukakan program penanggulangan dan implementasinya, serta mengidentifikasi kendala pengembangan dan cara menanggulanginya. KONDISI LAHAN KERING DI DAERAH ALIRAN SUNGAI Lahan kering di DAS kawasan barat Indonesia pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi, topografi curam, dan formasi geologi lemah sehingga tanah peka terhadap erosi. Selain itu, tekanan kepadatan penduduk yang terus meningkat, pola tanam yang kurang baik, lahan usaha tani sempit, serta keadaan fisik lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat petani yang sangat heterogen menyebabkan pengelolaan lahan kering di kawasan DAS makin kompleks (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air 1985). Dalam upaya menangani lahan kering yang tergolong kritis, pemerintah telah menetapkan 80 DAS yang tergolong kritis karena erosi. Dari 80 DAS bermasalah tersebut, 36 DAS tergolong DAS prioritas, dan 11 DAS di antaranya terdapat di Pulau Jawa, seperti DAS Citarum, Cimanuk, Citanduy, Solo, Jratunseluna, dan Brantas (Sutadipradja et al. 1986). Luas lahan kritis di kawasan DAS tersebut diperkirakan meningkat rata-rata 400.000 ha/tahun jika tidak ada upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang memadai. Peningkatan luas lahan kritis terutama disebabkan oleh pengelolaan yang tidak benar, antara lain penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai dengan usaha konservasi tanah dan air. Hardianto et al. (1992) mengemukakan bahwa umumnya petani di wilayah DAS di Jawa merupakan pemilik penggarap dengan luas pemilikan lahan 0,30 2 ha. Lahan tersebut umumnya berupa areal pemukiman/pekarangan, tegalan, dan perbukitan. Tegalan sebagian besar sudah diteras bangku, sedangkan perbukitan umumnya berupa lahan tandus yang terlantar. Tegalan digunakan untuk budi daya tanaman pangan, pekarangan untuk tanaman tahunan, dan perbukitan untuk tanaman penghasil kayu. Tanaman pangan yang diusahakan adalah jagung, ubi kayu, padi gogo, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang tunggak. Di samping itu, petani menanam kacang gude, koro benguk, dan koro pedang sebagai tanaman sela. Tanaman tahunan yang dominan adalah kelapa, melinjo, petai, mangga dan pisang, sedangkan tanaman sayuran yang diusahakan adalah cabai, bawang merah, kacang panjang, mentimum, dan tomat. Selain itu, juga diusahakan tanaman penghasil bahan industri seperti kenanga dan randu, penghasil kayu seperti jati, sengon, akasia, johar, dan mahoni, serta tanaman penghasil pakan ternak seperti lamtoro, turi, kaliandra, glirisidia, lamtoro merah, dan flemingia. Lebih lanjut Hardianto et al. (1992) menjelaskan bahwa usaha ternak merupakan kegiatan yang cukup penting untuk menambah pendapatan, menyediakan tenaga kerja dalam pengolahan tanah, dan menghasilkan pupuk organik. Jenis ternak yang banyak dipelihara adalah sapi peranakan ongole (PO), kambing kacang, kambing peranakan etawa (PE), domba gibas, dan ayam buras. Jenis pakan yang diberikan berupa campuran rumput gajah, rumput setaria ditambah hijauan tanaman tahunan

dan limbah tanaman pangan. KEPAS (1985) mengidentifikasi permasalahan di daerah lahan kering sebagai berikut: 1. Upaya pemerintah dalam pembangunan pertanian di masa lampau terlalu dipusatkan pada padi sawah, sedangkan lahan kering (termasuk DAS bagian hulu) kurang mendapatkan perhatian sehingga tidak memperoleh keuntungan dari program-program pembangunan yang disponsori pemerintah. Satu-satunya program khusus untuk lahan kering adalah program penghijauan dan reboisasi untuk tanah negara. Namun, program ini pun dihadapkan kepada berbagai kesulitan yang antara lain disebabkan oleh relatif kurangnya perhatian, sehingga kondisi infrastruktur yang ada jauh lebih buruk daripada di daerah dataran rendah. 2. Di daerah lahan kering, potensi erosi cukup tinggi karena intensitas hujan cukup tinggi, lereng curam, dan pola tanam kurang baik. Erosi yang berlangsung lama telah menurunkan tingkat kesuburan tanah dan bahkan mengurangi atau menghilangkan lapisan olah tanah. 3. Modal dan motivasi penduduk terbatas akibat rendahnya pendapatan dan produktivitas lahan. Di samping itu, tipe penguasaan lahan berhubungan erat dengan sistem usaha tani dan konservasi tanah di daerah lahan kering. Pemilikan lahan yang relatif sempit serta sistem sewa dan sakap ikut memberikan dampak negatif terhadap sistem usaha tani berwawasan lingkungan. 4. Kegiatan penyuluhan dihadapkan kepada kendala sosial budaya dan prasarana/sarana perhubungan sehingga penyuluhan relatif kurang. Keterampilan petani umumnya hanya bersifat kebiasaan yang diwariskan dan berorientasi pada subsistensi, sedangkan program penyuluhan yang ada seperti penghijauan, perkebunan, dan kehutanan hanya berkaitan dengan aspek tertentu dan kurang menekankan pada partisipasi petani. USAHA KONSERVASI YANG SUDAH DILAKUKAN Upaya Departemen Terkait Upaya mengatasi masalah lahan kritis di DAS perlu memperhatikan beberapa hal, antara lain sumber terjadinya lahan kritis, tingkat kekritisan lahan, jenis tanah dan iklim, kondisi sosial ekonomi, dan tingkat bahaya erosi. Upaya itu perlu diformulasikan dengan tepat dalam tiga komponen penanganan, yaitu perbaikan teknologi, kebijakan yang tepat, dan partisipasi masyarakat secara penuh (Nelson 1991). Berdasarkan tingkat kekritisan lahan, selanjutnya ditetapkan prioritas penanganan. Dengan memperhatikan dampak yang lebih luas dan kemungkinan keberhasilan yang besar, maka prioritas utama penanganan adalah lahan dengan tingkat kekritisan ringan, yaitu lahan yang berpotensi kritis dan semikritis. Konservasi ditujukan untuk mencegah terjadinya degradasi lebih lanjut dan menghindari hilangnya lahan produktif. Prawiradiputra et al. (1995) menjelaskan bahwa pengelolaan DAS di Indonesia merupakan kegiatan multisektoral sebagaimana dituangkan dalam Program Inpres Reboisasi dan Penghijauan (Inpres No. 8/1976). Dalam Inpres tersebut dinyatakan bahwa ada enam instansi pemerintah pusat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program tersebut, yaitu Departemen Dalam Negeri (instansi

pimpinan),

Departemen

Kehutanan

(perencanaan

dan

pemantauan),

Departemen

Keuangan

(pengawas keuangan), Departemen Pertanian (bantuan teknis), Departemen Pekerjaan Umum (bantuan teknis), dan Bappenas. Pencetusan Pekan Penghijauan Nasional (PPN) di Gunung Mas, Bogor tahun 1961 ternyata tidak berhasil menghentikan perluasan lahan kritis. Pada tahun 1975, lahan kritis di Indonesia mencapai 10.751.000 ha, tah n 1988 turun menjadi 9.731.000 ha, pada tahun 1993 naik 22% (dibandingkan kondisi 1975) menjadi 13.218.970 ha, atau setara luas Pulau Jawa. Padahal program reboisasi dan penghijauan bertujuan untuk menghentikan proses pengkritisan lahan dan mengurangi jumlah lahan kritis. Untuk meningkatkan usaha reboisasi dan penghijauan, pemerintah mencanangkan Gerakan Satu Juta Pohon (Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan 1985). Penghijauan merupakan cara konservasi lahan yang efektif khususnya untuk menjaga fungsi hidrologis lahan di DAS hulu. Erosi dan aliran permukaan masing-masing dapat menurun 95,80% dan 76,90% (Pakpahan et al. 1992). Namun karena penghijauan lebih banyak bertujuan melestarikan sumber daya lahan dibanding kepentingan petani, maka pelaksanaannya banyak menemui hambatan. Menurut Pusat Pengembangan Agribisnis (1991), tingkat adopsi teras melalui rehabilitasi lahan dan konservasi tanah (RLKT) pada daerah unit pelestarian sumber daya alam (UPSA) masih rendah yaitu 33%. Sejumlah petani (20%) sudah mengadopsinya tetapi masih perlu ditingkatkan, sedangkan sisanya belum mengadopsi upaya RLKT tersebut. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah (P2LK2T) yang lebih dikenal dengan nama UACP, juga mempunyai tujuan pokok bukan semata-mata meningkatkan penghasilan petani, tetapi juga melindungi infrastruktur (waduk, saluran irigasi) di bagian hilirnya. Daerah kerja UACP meliputi lahan kering dengan kemiringan 15% dan erosi sudah mengancam produktivitas lahan. Melalui kegiatan UACP dilakukan penyempurnaan teras bangku dengan tanaman penguat teras yang selain berfungsi untuk menstabilkan lahan juga untuk menyediakan pakan ternak. Proyek tersebut dikelola secara lintas sektoral dengan Departemen Dalam Negeri selaku pelaksana utama (leading agency) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air 1985). Kebijakan pengembangan lahan kering di DAS bagian hulu berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pertanian No.175/Kpts/RC.220/4/1987 tentang Pedoman Pola Pembangunan di DAS yang dalam pelaksanaannya perlu memperhatikan kesesuaian lahan, kemiringan lahan, kultur teknis, dan asasasas konservasi yang berwawasan lingkungan (Departemen Pertanian 1987). Di Jawa Tengah, kebijakan tersebut telah dijabarkan dalam berbagai petunjuk pelaksanaan yang berisikan strategi, langkah-langkah, dan kegiatan pembinaan. Penelitian dan Pengembangan Pengelolaan lahan kering di DAS bagian hulu perlu memperhatikan konservasi tanah dan air untuk mencegah penurunan produktivitas lahan akibat erosi oleh air hujan (Suwardjo 1981). Di Indonesia yang memiliki iklim basah, pada umumnya erosi terjadi karena air hujan (Sofijah dan Suwardjo 1979).

Sehubungan dengan itu, penanganan lahan kering di DAS Brantas dan Jratunseluna bagian hulu dilakukan dengan usaha tani konservasi yang mengkombinasikan teknik konservasi secara mekanik dan vegetatif dalam suatu pola usaha tani terpadu (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air 1990). Sasarannya adalah meningkatkan produktivitas usaha tani dan pendapatan petani, menurunkan laju erosi, serta meningkatkan partisipasi petani dalam pelestarian sumber daya tanah dan air. Empat model usaha tani konservasi yang diuji yaitu: Model A: Sistem usaha tani yang dilakukan oleh petani sebagai pembanding. Model B: Sistem usaha tani konservasi teras bangku, ditanami tanaman pangan dan tahunan pada bidang olah, rumput pakan pada bibir dan tampingan teras, serta melibatkan ternak. Model C: Sistem usaha tani konservasi teras gulud, ditanami tanaman pangan dan tanaman tahunan pada bidang olah, rumput dan leguminosa pohon pada guludan, dan ternak. Model D: Sistem usaha tani konservasi teras individu, ditanami tanaman tahunan, rumput, dan leguminosa pohon, serta ternak. Kesesuaian ketiga model usaha tani introduksi (B,C,D) didasarkan pada kemiringan lahan, kedalaman tanah, kepekaan terhadap erosi, dan pola usaha tani. Model B dan C diarahkan untuk memperbaiki usaha tani di tegalan, atau kemiringan lahan 1545%, sedangkan model D untuk memulihkan lahan perbukitan yang tandus dengan kemiringan lahan lebih besar dari 45% . Tabel 1 menyajikan produksi tanaman pangan, tanaman tahunan, dan tanaman pakan pada setiap model usaha tani. Dua model introduksi (B dan C) menghasilkan produktivitas usaha tani lebih tinggi dibanding model petani (model A). Pada model B dan C, hasil panen selain diperoleh dari tanaman pangan juga dari tanaman tahunan dan pakan ternak, sehingga secara kumulatif memberikan nilai produksi dan pendapatan bersih lebih tinggi (Tabel 2). Pada usaha tani model D, hasil panen lebih mengandalkan pada tanaman tahunan (buah-buahan dan kayu-kayuan), sehingga selama tanaman tersebut belum menghasilkan, tingkat produktivitas usaha taninya masih rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan model petani.

Setelah tahun ketiga, pendapatan usaha tani dari model B dan C semakin meningkat dan stabil, sedangkan pada model petani relatif tetap. Sebaliknya pendapatan bersih model D setiap tahun berfluktuasi, karena hasil panen masih ergantung pada tanaman kayu-kayuan dan ternak kambing. Batas ambang laju erosi setiap model usaha tani konservasi sebesar 10,60 t/ha/ tahun untuk model A, 10,50 t/ha/tahun untuk model B, 8,40 t/ha/tahun untuk model C, dan 5,20 t/ha/tahun untuk model D (Tim Survei Tanah DAS Brantas 1988). Sembiring et al. (1991) mengemukakan bahwa penurunan erosi sampai pada ambang laju erosi terjadi pada dua model introduksi, yaitu model B sebesar 3,20 t/ha/tahun pada 1990/91 dan model C yang mencapai 6,40 t/ ha/tahun pada 1990/91. Pada dua model lainnya (A dan D), erosi telah menurun tetapi masih di atas ambang laju erosi, yaitu berturutturut 20,20 dan 11,40 t/ha/tahun. Penurunan erosi ini diduga karena kondisi teras yang semakin mantap, tanaman penguat teras dan tanaman tahunan sudah berkembang, serta pengelolaan tanaman dan lahan yang semakin baik. Ini terlihat dari nilai crops practice (CP) yang semakin kecil. Pemanfaatan Tanaman Tahunan

Tanaman tahunan mempunyai peran penting dalam meningkatkan pendapatan petani lahan kering di DAS. Setiap tingkat kelerengan, tebal solum dan kepekaan tanah terhadap erosi membutuhkan keberadaan tanaman tahunan dengan proporsi 25100% (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air 1987). Namun, petani umumnya kurang menyadari manfaat tanaman tersebut sehingga motivasi mereka untuk mengembangkan tanaman tahunan relatif kecil. Sebagai contoh, di Desa Sumberkembar dan Srimulyo (DAS Brantas), tanaman tahunan yang ditanam kurang mendapat perawatan sehingga banyak yang mati (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air 1988). Penelitian di Desa Kates menunjukkan bahwa keengganan petani untuk memelihara tanaman tahunan selain jeruk disebabkan oleh ketidaktahuan petani akan peran tanaman tersebut (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air 1989). Di beberapa daerah, tanaman tahunan terutama jeruk berkembang cukup pesat, seperti di Desa Sumberejo (Blitar) dan Desa Kates (Tulungagung) (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air 1988). Model analisis di atas kurang memadai untuk tanaman buah-buahan atau pada model/sistem usaha tani lain yang mempunyai komponen tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomi, seperti kayu, getah, pupuk kompos, dan makanan ternak (Syam et al. 1993). Periode evaluasi P3HTA selama 6 tahun belum menggambarkan nilai ekonomi sepenuhnya dari tanaman tahunan, karena dalam periode tersebut, baru 23 tahun tanaman tahunan memberikan manfaat. Berkaitan dengan itu, nilai investasi untuk membuat struktur teknik konservasi belum dihitung sebagai pengeluaran. Analisis proyek seharusnya dapat menjangkau periode manfaat ekonomi secara penuh, seperti diuraikan oleh Lutz et al. (1994) dan Current et al. (1995). Akan lebih sempurna bila dianalisis dari dua sisi, yaitu manfaat bagi masyarakat dan individu petani. Namun, dari sisi petani saja sudah cukup memadai karena: 1) pengambilan keputusan penggunaan lahan dilakukan oleh petani (bukan oleh pemerintah) berdasarkan tujuan, manfaat yang dapat diperoleh dan kendala yang dihadapi, dan 2) penggunaan lahan umumnya tergantung pada sifat-sifat biofisik spesifik lokasi yang bervariasi walaupun dalam luasan yang kecil. Analisis proyek perlu dilakukan mengikuti prinsip berikut ini. Pertama, pengaruh erosi terhadap produktivitas berbeda-beda pada setiap titik waktu (misalnya satu tahun) selama periode yang diinginkan. Data setiap titik waktu tersebut kemudian dipakai untuk menduga manfaat tiap tahun. Kedua, penghitungan tersebut diulangi untuk kondisi yang akan dialami jika diterapkan suatu tindakan konservasi. Ketiga, manfaat investasi penerapan teknologi konservasi diperoleh dengan mengurangi nilai kini (net present value) biaya dan manfaat tanpa dan dengan teknologi konservasi. Selanjutnya, manfaat sama lain. PROSPEK PENGEMBANGAN USAHA TANI KONSERVASI LAHAN KERING dan biaya marginal dapat dihitung dan diperbandingkan satu

Prospek Pengembangan Adnyana dan Manwan (1993) mengemukakan bahwa pengembangan usaha tani terpadu berkelanjutan ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu: 1) komitmen kebijakan dan program pemerintah; 2) dukungan eksternal (penyuluhan, kredit, subsidi, pemasaran, serta kelembagaan dan unsur pelayanan lainnya); swasta), dan 4) ketersediaan teknologi. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain sehingga memerlukan pendekatan secara terpadu dalam suatu sistem. Sehubungan dengan hal tersebut, teknologi yang diteliti di lahan kering DAS merupakan teknologi usaha tani konservasi yang dikembangkan dari hasil-hasil penelitian verifikasi teknologi, yang terdiri atas komponen teknologi ternak dan pakan, tanaman tahunan/hortikultura, konservasi tanah, dan tanaman pangan. Dalam pelaksanaannya dilakukan perbaikan secara bertahap menuju sistem usaha tani dengan produktivitas yang stabil dan lestari dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kemampuan petani. Konservasi tanah diarahkan pada penutupan lahan oleh vegetasi (konservasi vegetatif) dengan penanaman rumput di bibir dan tampingan teras, pertanaman lorong, dan tumpang sari. Hardianto et al. (1992) mengemukakan hasil pengujian teknologi usaha tani konservasi tanah selama enam tahun di Kabupaten Blitar yang termasuk kawasan DAS Brantas. Pola tanam yang diintroduksikan adalah model A: jagung + ubi kayu + kedelai/kacang tanah; model B: jagung + kacang tanah + ubi kayukedelai/ kacang tunggak, rumput setaria, rumput gajah, pisang, adpokat, pepaya; model C: jagung + kacang tanah + ubi kayu-kedelai/kacang tunggak, rumput setaria, rumput gajah, pisang, adpokat, pepaya, dan model D: jagung, sentro sema, lamtoro, pisang, adpokat, jati. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model B dan C dapat menurunkan tingkat erosi sampai di bawah batas ambang dan meningkatkan pendapatan petani, sehingga kedua model tersebut mempunyai prospek untuk dikembangkan. Tanaman pangan yang dominan dan memberikan hasil relatif stabil adalah jagung, ubi kayu, kedelai, dan kacang tanah. Tanaman tahunan seperti kelapa, pisang, dan melinjo mempunyai potensi untuk dikembangkan, demikian juga ternak kambing, karena dapat menambah dan menstabilkan pendapatan petani. Usaha tani di wilayah batuan kapur didominasi oleh tanaman pangan (Soemarno et al. 1985), dan ada kecenderungan terjadi pergeseran bertahap dari tanaman pangan yang kurang mempunyai nilai ekonomi seperti ubi kayu ke tanaman lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti kedelai, kacang tanah, cabai, dan bawang merah. Peluang pengembangan tanaman tersebut cukup besar karena memberikan keuntungan yang relatif tinggi. Analisis usaha tani empat pola tanam alternatif menunjukkan bahwa pola tanam kedelai dan kacang tanah dapat meningkatkan pendapatan usaha tani. Dari keempat pola alternatif tersebut, pola III memberikan keuntungan bersih tertinggi (Rp 1.478.350/ha), dan terendah pada pola II (Rp 120.000/ha). Pola I dan IV memberikan pendapatan hampir sama, masing-masing Rp 877.850/ ha dan Rp 873.525/ha. Pada pola III, komponen penerimaan terbesar diperoleh dari hasil penjualan kedelai dan kacang tanah. Kedua komoditas tersebut memberikan hasil cukup tinggi, dan harga

jualnyapun cukup baik. Untuk pola II, rendahnya penerimaan disebabkan hasil cabai cukup rendah, hanya 447 kg/ha karena iklim yang terlalu kering atau musim kemarau panjang (Hardianto et al. 1992 dan Sembiring et al. 1991). Di lahan kering Kabupaten Trenggalek dan Malang (Jawa Timur), pemberian pupuk kandang 1015 ton yang dikombinasikan dengan 200 kg urea, 200 kg TSP, dan 200 kg KCl/ha, memberikan hasil cabai 4,435,13 t/ha di Trenggalek dan 5,816,50 t/ha di Malang (Hendarto et al. 1991). Ditinjau dari aspek konservasi tanah, pengembangan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi mempunyai dampak positif terhadap kesuburan tanah, karena petani cenderung memberikan pupuk kandang ke lahan sehingga meringankan biaya investasi. Di samping itu, dengan makin menurunnya tingkat erosi dan sudah membudayanya pemberian pupuk kandang, kesuburan lahan akan meningkat sehingga membuka peluang untuk budi daya tanaman komersial lainnya. Selain dari tanaman pangan dan tanaman tahunan, petani model B, C, dan D juga memperoleh pendapatan dari usaha pemeliharaan ternak kambing. Ternak kambing yang diberikan pada tahun 1985 masing-masing 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk per petani telah berkembang pesat (Hardianto et al. 1992). Laju peningkatan populasi per tahun tertinggi terjadi pada petani model D, rata-rata 44%, sedangkan pada petani model B hanya 35,60% dan model C 28,90%. Laju kelahiran pada model B dan D relatif tinggi, masing-masing 105,50% dan 102,20%, tetapi pada model C dan D masih rendah masing-masing hanya 56,30% dan 12,60%. Kemampuan optimal satu rumah tangga petani, dengan ketersediaan tenaga kerja keluarga 3 orang, dalam memelihara ternak kambing berkisar antara 45 ekor. Pemeliharaan kambing di atas 7 ekor dinilai kurang efisien oleh petani, khususnya dalam penggunaan tenaga kerja keluarga, sehingga petani cenderung mengalihkan usahanya ke ternak sapi yang dianggap lebih bernilai. Jumlah petani penggaduh pada awal tahun proyek (1985) sebanyak 6 orang. Pada tahun 1988 dan 1990 jumlah penggaduh bertambah masing-masing sebanyak 4 orang, dengan ternak gaduhan berasal dari hasil pengembangan ternak kambing penggaduh pertama. Hal ini menunjukkan bahwa ternak kambing relatif lebih cepat memeratakan subsidi kepada petani lainnya. Faktor Pendukung Upaya Pengembangan Abdurachman et al. (1993) mengemukakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam

pengembangan teknologi usaha tani konservasi lahan kering adalah: 1) komitmen dan dukungan pemerintah daerah; 2) adanya keterkaitan peneliti, penyuluh dan kelompok tani; 3) tingkat partisipasi petani; 4) sistem pendukung/ pelayanan; dan 5) kelayakan teknologi anjuran dan tingkat adopsi. Dukungan pemerintah daerah dalam penerapan teknologi konservasi sangat penting karena petani kurang mampu melaksanakan teknologi konservasi secara mandiri. Selain dukungan dari atas, peran kelompok tani dan lembaga-lembaga pedesaan juga sangat penting. Abdurachman et al. (1993) menyimpulkan bahwa integrasi proyek dengan lembaga pedesaan seperti LKMD dan kelompok tani

serta adanya kerja sama antara peneliti, penyuluh, aparat desa, dan petani telah memperkuat kemampuan desa dalam pengembangan sistem usaha tani konservasi. Keterkaitan antara peneliti, penyuluh, dan kelompok tani sangat penting. Asisten lapang dan (34 orang di tiap lokasi) yang tinggal di desa memudahkan komunikasi dengan kelompok tani dan koordinasi dengan penyuluh lapangan. Partisipasi petani umumnya sangat baik pada awal proyek, tetapi selanjutnya menurun. Telah disadari bahwa peran lembaga pelayanan seperti lembaga pemasaran, perkreditan, dan penyalur sarana produksi sangat penting dalam proses adopsi teknologi usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Selain itu, adanya perbedaan faktor fisik dan sosial-ekonomi petani menyebabkan teknologi yang dianjurkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. Rachman et al. (1989) mengemukakan bahwa sistem pertanaman lorong tidak dapat diterapkan di seluruh lahan penelitian karena lahan sudah diteras. Begitu pula pola tanam tidak dapat diseragamkan di semua lokasi karena adanya perbedaan jenis tanah, curah hujan, dan keinginan petani. Di lahan kering DAS, petani banyak yang telah mengadopsi teknologi sistem usaha tani konservasi karena mereka sudah mengetahui manfaatnya. Legum penutup tanah misalnya dapat memperbaiki kesuburan tanah sehingga meningkatkan hasil ubi kayu sampai 1 ton gaplek, dan jagung 0,30 ton pipilan kering. Di samping itu, tanaman koro juga dapat menghasilkan biji sekitar 40 kg/600 m2 guludan (Sembiring et al. 1989). Selanjutnya Syam et al. (1989) menyimpulkan bahwa adopsi teknologi bukan hanya terjadi pada petani kooperator, tetapi juga pada petani nonkooperator, seperti teknologi pembuatan teras, penanaman tanaman penguat teras, pembuatan saluran pembuangan air (SPA), pola tanam, dan penggunaan varietas unggul padi gogo dan jagung. Terdapat tiga aspek pendukung yang perlu diperhatikan dalam program pengembangan/transfer teknologi usaha tani konservasi kepada petani, yaitu aspek pemasaran, aspek teknis, dan aspek sosial ekonomi. Aspek pemasaran Ketersediaan pasar diperlukan untuk mengimbangi peningkatan produksi. KEPAS (1985)

mengemukakan bahwa pemasaran merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan sistem usaha tani. Namun, masalah ini masih merupakan titik lemah bagi petani lahan kering di DAS. Dalam memasarkan hasil kelapa, adpokat, melinjo, dan jeruk, petani lebih banyak bertindak pasif dan menunggu didatangi oleh tengkulak atau pedagang pengumpul, karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan, dan desakan kebutuhan petani. Untuk mendorong petani agar aktif dalam pemasaran hasil, perlu dibentuk rantai tata niaga minimal dari produsen (petani) sampai pedagang penyalur. Untuk memasarkan hasil tanaman semusim, seperti jagung, gaplek, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang panjang dan cabai, petani umumnya tidak menemui kesulitan karena mereka dapat menjualnya langsung ke pasar desa, pasar kecamatan, atau melalui tengkulak yang datang ke desa.

Aspek teknis Sembiring et al. (1989) mengemukakan bahwa pembuatan teras bangku dan teras gulud dapat mengurangi erosi secara efektif. Hal ini karena bangunan teras berfungsi untuk: 1) mengurangi panjang lereng sehingga dapat mengurangi laju aliran permukaan, 2) mengatur aliran air ke saluran pembuangan dengan mengurangi penghanyutan; dan 3) meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah. Penerapan teknik konservasi tanah selayaknya mempertimbangkan tiga hal, yaitu curah hujan, kondisi tanah (kemiringan, ketebalan solum, sifat tanah), dan kemampuan petani (biaya, waktu dan tenaga kerja keluarga yang tersedia). Rachman et al. (1989) mengemukakan bahwa hampir seluruh petani telah menerapkan teknologi teras bangku tanpa memperhitungkan kesesuaiannya dengan jenis dan kondisi tanah. Akibatnya bangunan teras sering rusak, seperti tampingan teras runtuh, bidang teras bergeser, dan tanaman penguat teras lepas. Di samping itu, air drainase lebih terpusat sehingga dibutuhkan tenaga khusus untuk penanganan saluran air. Teknik konservasi alternatif yang lebih sesuai untuk tanah dangkal dan tanah yang didominasi liat 2:1 adalah teras gulud atau pertanaman lorong. Hal tersebut didukung oleh Fagi et al. (1988) yang mengemukakan bahwa bangunan teras bangku terbukti tidak stabil pada tanah bertekstur berat dan mengandung mineral liat 2:1 (Vertisol/Grumusol), serta tanah yang bersolum dangkal. Begitu juga Suwardjo et al. (1984) menyatakan bahwa usaha pencegahan erosi dengan pembuatan teras bangku memang cukup baik, tetapi hanya sesuai untuk tanah yang mempunyai solum dalam dengan bahan induk tanah dari bahan vulkan. Pada tanah bersolum dangkal, atau yang bersolum dalam tetapi kaya akan unsur beracun seperti Al dan Fe, pembuatan teras bangku kurang baik untuk pertumbuhan tanaman pangan. Penanganan lahan perbukitan tandus masih belum memberikan hasil memuaskan sehingga usaha tani konservasi dengan teras individu perlu disempurnakan. Alternatif perbaikan yang dapat ditempuh adalah penanaman tanaman leguminosa yang dapat tumbuh cepat sehingga cepat menutup tanah, serta tahan terhadap kondisi tanah marginal. Beberapa jenis tanaman leguminosa yang dapat digunakan untuk merehabilitasi lahan kritis dengan jenis tanah Troporthent adalah koro pedang (Canavala ensiformis), koro benguk (Mucuna pruriens), gude (Cajanus cajan), dan komak (Dilichos lablab). Koro pedang dapat berproduksi 1,80 t biji/ha dan 0,36 t pupuk hijau/ha dengan kemampuan penutupan tanah 90%. Koro benguk menghasilkan 0,51 t biji/ha dengan penutupan tanah 90%. Gude menghasilkan 0,53 t biji/ha dengan penutupan tanah 70%, serta komak menghasilkan 1,04 t biji/ha dengan penutupan tanah 90% (Sembiring et al. 1989). Produk tanaman leguminosa tersebut, selain dikonsumsi juga dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi, serta daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau. Penanaman leguminosa dapat dilakukan dengan biaya rendah. Aspek sosial ekonomi

Tingkat migrasi penduduk yang cukup tinggi merupakan gejala umum di daerah lahan kering DAS, sehingga jumlah tenaga kerja produktif di desa menjadi terbatas. Tingginya tingkat migrasi tersebut berkaitan dengan perbaikan tingkat pendidikan kaum muda dan rendahnya kesempatan berusaha di desa. Di masa mendatang, keterbatasan tenaga kerja keluarga merupakan kendala pengembangan usaha tani yang menuntut curahan tenaga lebih intensif. Modal juga merupakan kendala pengembangan, khususnya untuk budi daya tanaman komersial yang membutuhkan modal relatif besar, sehingga hanya petani mampu saja yang dapat mengusahakannya. Petani yang bermodal lemah hanya dapat mengusahakannya dalam jumlah terbatas. Hasil penelitian di DAS Jratunseluna memberikan informasi bahwa ada hubungan antara kelompok umur kepala keluarga dengan aktivitas luar usaha tani. Kepala keluarga usia muda cenderung lebih aktif bekerja di luar usaha tani, terutama pada kelompok usia 3544 tahun (Rahmanto et al. 1989). Luas penguasaan lahan yang relatif sempit menyebabkan petani tidak dapat memanfaatkan tenaga kerja secara produktif serta pendapatan yang diperoleh dari usaha tani belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya (Napitupulu 1979). Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, petani aktif pada berbagai kegiatan produktif di luar usaha tani. Menurut Kristianto (1985), dalam melakukan kegiatan usaha tani petani umumnya hanya mengandalkan tenaga kerja keluarga. Petani mengelola usaha taninya selama musim hujan, yaitu 56 bulan dalam setahun. Setelah panen selesai, lahan diberakan dan petani mencari pekerjaan lain di desanya atau di kota terdekat untuk mendapat tambahan pendapatan. Teknologi usaha tani konservasi lahan kering sudah cukup banyak, baik yang bersifat komponen tunggal maupun gabungan beberapa komponen yang saling memperkuat, misalnya penanaman rumput pakan unggul pada teras bangku dan pengelolaan pakan/limbah pertanian untuk meningkatkan produktivitas ternak. Di samping itu, tanaman pangan atau hortikultura yang ditata berdasarkan pola tanam yang sesuai dapat meningkatkan pendapatan petani dan mengurangi erosi tanah. Teknologi konservasi tersebut sudah disampaikan kepada petani oleh P3HTA melalui demonstrasi model usaha tani dan oleh Sustainable Upland Farming System (SUFS) melalui demplot. Namun, tampaknya proses adopsi teknologi hanya terjadi pada petani kooperator dan itu pun tidak secara berkelanjutan, misalnya bibir teras ditanami lagi dengan ubi kayu, varietas tanaman pangan kembali ke varietas lokal, dan sisa panen tidak dikembalikan ke dalam tanah atau dibakar (Abdurachman et al. 1993). Agar petani mau dan mampu menerapkan teknologi konservasi sederhana dan murah, P3HTA melaksanakan penelitian usaha tani dengan pendekatan bottom-up yaitu partisipasi petani diberi prioritas. Pendekatan ini sangat memperhatikan kelemahan petani dalam hal permodalan dan

pengetahuan, serta besarnya ketergantungan pada alam. Namun, tingkat adopsi teknologi oleh petani tetap disebabkan oleh: masih rendah yang antara lain

Partisipasi penyuluh masih kurang dan jumlah penyuluh terbatas, sehingga perannya masih perlu ditingkatkan Setiani et al. 1991). Penyuluhan dan pembinaan petani lebih bersifat perseorangan (bukan kelompok tani) karena lokasi petani yang berjauhan. Meskipun penelitian memperhatikan usaha tani sebagai suatu sistem, dalam kenyataannya penelitian komponen teknologi lebih menonjol, sehingga kesimpulan yang diperoleh juga bersifat komponen atau parsial.

Peneliti mendapat kesukaran dalam menganalisis data karena kurangnya ulangan/perlakuan, materi kurang seragam, data kurang lengkap (petani melakukan panen tanpa sepengetahuan peneliti, karena petak percobaan tersebar), dan sering kali peningkatan produksi tidak nyata karena masukan rendah.

Sehubungan dengan hal itu, pengembangan sistem usaha tani konservasi perlu dilakukan dengan memperhatikan tiga hal, yakni: 1) bertitik tolak dari kondisi, kebutuhan, partisipasi dan aspirasi petani; 2) berorientasi pada pemecahan masalah petani dan wilayah; dan 3) melibatkan peneliti interdisiplin yang bekerja sama dengan penyuluh, petani dan pihak terkait lainnya. Pengukuran dampak dan manfaat penerapan teknologi konservasi dilakukan dengan mengikuti pendekatan sebelum dan sesudah pengembangan (before and after approach) pada lokasi tempat teknologi dirakit. Untuk daerah lain yang memiliki kondisi yang sama digunakan pendekatan nol-satu (zero one approach) atau kooperator vs nonkooperator. KESIMPULAN Permasalahan lahan kritis terutama di DAS bagian hulu perlu mendapat perhatian yang besar, karena 45% DAS tergolong prioritas dan 27,50% merupakan superprioritas. Akumulasi permasalahan terjadi karena selama ini program rehabilitasi dan konservasi lahan kurang memadai. Petani yang umumnya miskin mempunyai lahan garapan sempit dan menggunakan lahan tidak sesuai dengan kemampuannya serta tidak disertai tindakan konservasi yang tepat. Di samping itu, program pemerintah kurang memfokuskan perhatian kepada partisipasi petani karena kendala sosial budaya, serta sarana/prasarana perhubungan. Berbagai program penelitian dan pengembangan model rakitan teknologi usaha tani konservasi dapat memberikan sumbangan besar terhadap pengelolaan DAS bagian hulu. Model yang dirancang tidak saja bertujuan meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani, tetapi juga untuk melindungi infrastruktur di bagian hilirnya. Di DAS Brantas bagian hulu, penerapan model yang tepat dapat menurunkan erosi 24 69% di bawah batas ambang erosi, selain meningkatkan produksi.

Pengembangan teknologi usaha tani konservasi perlu didukung oleh pemerintah daerah, kerja sama peneliti, penyuluh dan petani, lembaga pelayanan, dan partisipasi petani. Dukungan yang kurang optimal akan menyebabkan pengembangan atau adopsi teknologi usaha tani konservasi oleh petani menjadi terhambat. IMPLIKASI KEBIJAKAN Dalam evaluasi teknologi usaha tani konservasi perlu digunakan analisis proyek sehingga informasi yang didapat lebih sempurna. Setiap DAS mempunyai karakteristik yang spesifik sehingga memerlukan rakitan teknologi yang spesifik lokasi. Partisipasi petani dalam pengelolaan DAS perlu diperluas, tidak hanya dalam tahap pengembangan teknologi dan adopsi tetapi juga dalam pengelolaan DAS. Pada tahap perbaikan teknologi, formulasi kebijakan perlu ditekankan pada upaya mendorong partisipasi masyarakat. Pada tahap awal, peran pemerintah diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memberikan subsidi, dan pada tahap pengembangan untuk mendorong pihak swasta agar berinvestasi di lahan tersebut. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman, A., D. Lubis, dan H.M. Toha. 1993. Penelitian pengembangan sistem usaha tani konservasi di DAS bagian hulu. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. hlm. 235248. Abdurachman, A. dan F. Agus. 2000. Pengembangan teknologi konservasi tanah pasca- NWMCP. Prosiding Lokakarya Nasional Pembahasan Hasil Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Alternatif Teknologi Konservasi Tanah. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. hlm. 2538. Adnyana, M.O. dan I. Manwan. 1993. Prosedur pelaksanaan, strategi dan program penelitian pengembangan. Risalah Penelitian Pengembangan Sistem Produksi Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. hlm 117. Biro Pusat Statistik. 1981. Statistik Indonesia 1980/81. Biro Pusat Statistik. Jakarta. 125 hlm. Biro Pusat Statistik. 1994. Statistik Indonesia 1994. Biro Pusat Statistik. Jakarta. 131 hlm. Current, D., E. Lutz, and S.J. Scherr. 1995. The cost and benefits of agro-forestry to farmers. The World Bank Research Observer 10(2): 151180. Departemen Pertanian. 1987. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 175/Kpts/RC. 220/ 4/1987 Tentang Pedoman Pola Pembangunan Pertanian Di Daerah Aliran Sungai. Departemen Pertanian, Jakarta. 15 hlm.

Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan. 1985. Program pengelolaan DAS di Indonesia. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Program Studi Pengembangan DAS pada Fakultas Pascasarjana IPB, Bogor. hlm 121. DHV Consultants. 1990. Laporan Akhir Pengalaman Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Proyek Kali Konto Fase Ke-3 dan Perpanjangan Fase ke-3. Jilid I. Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda. 65 hlm. Fagi, A.M., I.G. Ismail, U. Kusnadi, Suwardjo, dan A.S. Bagyo. 1988. Penelitian sistem usaha tani di daerah aliran sungai. Risalah Lokakarya Penelitian Lahan Kering dan Konservasi. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 114. Hardianto, R., T. Hendarto, E. Masbula, dan N.L. Nurida. 1992. Status dan prospek pengembangan sistem usaha tani konservasi di lahan kering berkapur DAS Brantas. Prosiding Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 99120. Hendarto, T., Djumali, dan N.L. Nurida. 1991. Usaha perbaikan teknologi pemupukan dan peran cabai merah dalam sistem usaha tani konservasi di lahan kering DAS Brantas. Seminar Penelitian dan Pengembangan Sistem Usaha Tani Konservasi di Lahan Kering DAS Jratunseluna dan Brantas. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 185194. KEPAS. 1985. The Critical Uplands of Ecosystem in Java: An Agro-Ecosystem Analysis. 72 hlm. Kristianto, K. 1985. Peranan peternakan dan pertanian lahan kering Dalam Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. BPFE, Yogyakarta. 69 hlm. Lutz, E., S. Pagiola, and C. Reiche. 1994. The cost and bene fits of soil conservation. The Farmers Viewpoint. The World Bank Research Observer 9(2): 273295. Napitupulu, M. 1979. Meningkatkan martabat petani buruh sesuai tujuan pembangunan nasional Dalam Seminar Petani Buruh. Jakarta. hlm. 2538. Nelson, R. 1991. Managing Drylands. Finance and Development. IMF & World Bank. p. 1119. Pakpahan, A., N. Syafaat, A. Purwoto, H.P. Saliem, dan G.S. Hardono. 1992. Kelembagaan lahan dan konservasi tanah dan air. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Monograph Series No.5: 98 hlm. Prawiradiputra. B.R., S. Sukmana, A.N. Ginting, dan A. Syam. 1995. Tinjauan beberapa proyek sistem usaha tani konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu (dengan perhatian khusus pada komponen penelitian). Prosiding Lokakarya Pemantapan Rencana Penelitian 1995/96. Keragaan Teknologi Usaha Tani dan Rencana Penelitian DAS. Bagian Proyek Peningkatan Kemampuan Perencanaan Penghijauan dan Reboisasi Pusat, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. hlm. 1532.

Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air. 1985. Program Penelitian Pola Usaha Tani Terpadu dan Konservasi Tanah 1986/871990/91. Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 51 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air. 1987. Laporan Tahunan 1986/87. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 75 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air. 1988. Laporan Tahunan 1987/88. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 83 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air. 1989. Laporan Tahunan 1988/89. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 89 hlm. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah, dan Air. 1990. Petunjuk Teknis Usaha Tani Konservasi Daerah Aliran Sungai. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 85 hlm. Pusat Pengembangan Agribisnis. 1991. Layanan Konsultasi Monitoring dan Evaluasi. Proyek Lahan dan Pengembangan Agroforestry untuk Sub DAS Cimanuk Hulu. Pusat

Rehabilitasi

Pengembangan Agribisnis, Jakarta. 45 hlm. Rachman, A., H. Suwardjo, R.L. Watung, dan H. Sembiring. 1989. Efisiensi teras bangku dan teras gulud dalam pengendalian erosi. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di Daerah Aliran Sungai. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 1118. Rahmanto, B., P. Amir, dan A. Syam. 1989. Penjajagan persepsi petani terhadap nilai lahan garapan dan biaya pembuatan teras serta preferensi petani dalam menanamkan modal. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 257266. Sembiring, H., M. Thamrin, A. Farid, G. Kartono, A. Rachman, dan S. Sukmana. 1989. Pengaruh bentuk teras terhadap erosi dan produktivitas tanah aquic tropudalf di Srimulyo, Malang. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 1824. Sembiring, H., A. Farid, A. Ispandi, G. Kartono, dan H. Suwardjo. 1991. Kajian beberapa jenis tanaman legum penutup tanah untuk rehabilitasi lahan kritis. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Pertanian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 2428. Setiani, C., B. Prasetyo, dan U. Haryati. 1991. Peranan kelembagaan dalam adopsi sistem usaha tani konservasi (demplot) dan kapas (IKR), suatu tinjauan sosiologi. Prosiding Seminar Hasil Penelitian

Lahan Kering dan Konservasi Tanah di Lahan Sedimen dan Vulkan DAS Bagian Hulu. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 7790. Soemarno, M., M. Mustadjab, and I. Semaoen. 1985. Overview of Agriculture and Rural Development in East Java and The Brantas Basin. Brawidjaja University Research Center, Malang. hlm 2 131. Sofijah, A. dan Suwardjo. 1979. Pengaruh teras, sistem pengelolaan tanaman dan sifat hujan terhadap erosi dan aliran permukaan pada tanah Latosol Darmaga. Pusat PenelitianTanah dan Agroklimat, Bogor. 14 hlm. Sukmana, S. 1994. Budi daya lahan kering ditinjau dari konservasi tanah. Prosiding Penanganan Lahan Kering Marginal melalui Pola Usaha Tani Terpadu di Jambi. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. hlm. 1829. Sukmana, S., Suwardjo, U. Kusnadi, dan A. Syam. 1988. Usaha konservasi di daerah aliran sungai bagian hulu. Sistem Usaha Tani di Lima Agroekosistem. Risalah Lokakarya Penelitian Sistem Usaha Tani. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. hlm. 199222. Sutadipradja, E., A.N. Ginting, O. Satjapradja, H. Soediman, and Hadipurnomo. 1986. Watershed management approaches in Indonesia. Proceeding of Workshop on Standardization of Guidelines for Watershed Management Approaches and Research in the ASEAN Region, Chang Mai, Thailand, 2130 November 1984. hlm. 6882. Suwardjo. 1981. Peranan Sisa Tanaman dalam Konservasi Tanah dan Air pada Sistem Usaha Tani Tanaman Semusim. Disertasi Sekolah Pascasarjana, IPB, Bogor. 85 hlm. Suwardjo, N. Sinukaban, dan A. Barus. 1984. Makalah erosi dan kerusakan tanah di daerah transmigrasi. Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi, Cisarua, Bogor, 2729 Februari 1984. hlm. 1535. Syam, A., U. Kusnadi, S. Sukmana, G. Kartono, R. Hardianto, A. Ispandi, dan N.L. Nurida 1989. Tingkat Pendapatan Petani Model Usaha Tani Konservasi di DAS Brantas. Risalah Diskusi Ilmiah Hasil Penelitian Lahan Kering dan Konservasi di DAS. Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air, Badan Litbang Pertanian, Jakarta. hlm. 217224. Syam, A., Al Sri Bagyo, dan M.O. Adnyana. 1993. Perbandingan teras bangku, teras gulud dan tanpa teras: suatu analisis ekonomi. Prosiding Seminar Perakitan dan Pengembangan Teknologi Sistem Usaha Tani Tanaman Pangan. Buku-I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. hlm. 4765. Tim Survei Tanah DAS Brantas. 1988. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detail DAS Brantas Hulu, Kabupaten Malang, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek, Propinsi Jawa Timur. No.31/PPT/1988.

Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Bappeda Tingkat I Jawa TimurPusat Penelitian Tanah, Bogor. 185 hlm.

DAS Dan Pengelolaannya (1)

Daerah Aliran Sungai dan Banjir


Salah satu aspek yang kerap kali dilupakan berkaitan dengan terjadinya banjir di satu kota adalah banjir itu sangat berkaitan erat dengan kesatuan wilayah yang disebut dengan daerah aliran sungai (DAS). DAS sendiri didefinisikan sebagai satu hamparan wilayah dimana air hujan yang jatuh di wilayah itu akan menuju ke satu titik outlet yang sama, apakah itu sungai, danau, atau laut.

sumber:http://www.recycleworks.org/kids/water.html

Jadi jika air hujan yang jatuh di rumah Anda mengalir ke selokan dan menuju ke Sungai Ciliwung, maka Anda adalah warga DAS Ciliwung. Itu artinya, jika air sungai Ciliwung meluap dan menggenangi dataran banjir di sekitarnya, maka Anda (air hujan dari persil lahan Anda) punya kontribusi terhadap terjadinya banjir itu. Dengan demikian setiap kita pasti warga dari satu DAS dan setiap warga DAS berpotensi untuk memberikan kontribusi terhadap terjadinya banjir di bagian hilir DAS yang bersangkutan. Dalam perspektif ilmu lingkungan, setiap warga DAS berpotensi menghasilkan eksternalitas negatif dari sisi hidrologi. Kita, sebagai warga DAS (pemilik persil lahan), tidak menanggung akibat eksternal dari air hujan yang jatuh di persil lahan kita dan keluar dari persil kita sebagai aliran permukaan (run off). Padahal, kumpulan aliran permukaan dari persil-persil lahan di wilayah DAS itu berakumulasi dan

menyebabkan terjadinya banjir. Biaya eksternalitas itu ditanggung oleh warga yang kebanjiran antara lain dalam berbagai bentuk ketidaknyamanan, kerugian harta dan materi, bahkan jiwa. Lalu, apa yang mesti dilakukan? Dari perspektif tersebut, maka setiap warga DAS perlu melakukan apa yang dalam ilmu lingkungan disebut sebagai internalisasi, yaitu melakukan sesuatu di persil lahan yang dimiliki atau dikuasai, sehingga bagian air hujan yang jatuh di persil lahan kita menimbulkan eksternalitas negatif yang seminimal mungkin.

Pengertian Daerah Aliran Sungai (DAS)


Suatu daerah aliran sungai atau DAS adalah sebidang lahan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju parit, sungai dan akhirnya bermuara ke danau atau laut. Istilah yang juga umum digunakan untuk DAS adalah daerah tangkapan air (DTA) atau catchment atau watershed. Batas DAS adalah punggung perbukitan yang membagi satu DAS dengan DAS lainnya (Gambar 1).

Gambar 1. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS).

Karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang lereng maka garis batas sebuah DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai. Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bisa dilihat, tetapi dapat digambarkan pada peta.

Batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. Akibatnya sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi. Ada DAS yang meliputi wilayah beberapa negara (misalnya DAS Mekong), beberapa wilayah kabupaten (misalnya DAS Brantas), atau hanya pada sebagian dari suatu kabupaten. Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS. Ukurannya mungkin bervariasi dari beberapa hektar sampai ribuan hektar. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada suatu parit. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat sesudah hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun (perennial flow). Sebidang lahan dapat dianggap sebagai DAS jika ada suatu titik penyalur aliran air keluar dari DAS tersebut.

Sebuah DAS yang menjadi bagian dari DAS yang lebih besar dinamakan sub DAS; merupakan daerah tangkapan air dari anak sungai. DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen yaitu: bagian hulu, tengah dan hilir. Ekosistem bagian hulu merupakan daerah tangkapan air utama dan pengatur aliran. Ekosistem tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air, sedangkan ekosistem hilir merupakan pemakai air. Hubungan antara ekosistem-ekosistem ini menjadikan DAS sebagai satu kesatuan hidrologis. Di dalam DAS terintegrasi berbagai faktor yang dapat mengarah kepada kelestarian atau degradasi tergantung bagaimana suatu DAS dikelola. Di pegunungan, di dataran tinggi dan dataran rendah sampai di pantai dijumpai iklim, geologi, hidrologi, tanah dan vegetasi yang saling berinteraksi membangun ekosistem.

Setiap ekosistem di dalam DAS memiliki komponen hidup dan tak-hidup yang saling berinteraksi. Memahami sebuah DAS berarti belajar tentang segala proses-proses alami yang terjadi dalam batas sebuah DAS. Sebuah DAS yang sehat dapat menyediakan:

Unsur hara bagi tumbuh-tumbuhan Sumber makanan bagi manusia dan hewan Air minum yang sehat bagi manusia dan makhluk lainnya Tempat berbagai aktivitas manusia dan hewan

Beberapa proses alami dalam DAS bisa memberikan dampak menguntungkan kepada sebagian kawasan DAS tetapi pada saat yang sama bisa merugikan bagian yang lain. Banjir di satu sisi memberikan tambahan tanah pada dataran banjir tetapi untuk sementara memberikan dampak negatif kepada manusia dan kehidupan lain. Sumber: Fahmudin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktik Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering . Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Hal 3 4

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Apa Yang Dimaksud Dengan DAS?


Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh punggungpunggung bukit yang menampung air hujan dan mengalirkannya melalui saluran air, dan kemudian berkumpul menuju suatu muara sungai, laut, danau atau waduk.

Apa Yang Dimaksud Dengan Pengelolaan DAS?


Pada daerah aliran sungai terdapat berbagai macam penggunaan lahan, misalnya hutan, lahan pertanian, pedesaan dan jalan. Dengan demikian DAS mempunyai berbagai fungsi sehingga perlu dikelola. Pengelolaan DAS merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, petani dan pemerintah untuk memperbaiki keadaan lahan dan ketersediaan air secara terintegrasi di dalam suatu DAS. Dari namanya, DAS menggambarkan bahwa sungai atau air merupakan faktor yang sangat penting dalam pengelolaan DAS karena air menunjang kehidupan berbagai makhluk hidup di dalamnya.

Apa Saja Masalah Pada DAS?


Masalah pada DAS yang utama berhubungan dengan jumlah (kuantitas) dan mutu (kualitas) air.

Air sungai menjadi berkurang (kekeringan) atau menjadi terlalu banyak (banjir) menggambarkan jumlah air. Air sungai yang bersih menjadi keruh karena erosi dan hanyutnya zat beracun dari daerah perindustrian atau pertanian menggambarkan mutu air.

Apa Tujuan Pengelolaan DAS?


Pengelolaan DAS bertujuan untuk:

Mengkonservasi tanah pada lahan pertanian. Memanen/menyimpan kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau. Memacu usahatani berkelanjutan dan menstabilkan hasi l panen melalui perbaikan pengelolaan sistem pertanian. Memperbaiki keseimbangan ekologi (hubungan tata air hulu dengan hilir, kualitas air, kualitas dan kemampuan lahan, dan keanekaragaman hayati).

Bagaimana Mengelola DAS?


Sebelum mengelola DAS perlu diketahui beberapa hal:

Apa yang ada di dalam DAS (apa potensi DAS)? Apa masalah yang ada di dalam DAS? Apa yang kita inginkan dari pengelolaan DAS? Apa yang bisa diperbaiki/dirubah? Bagaimana cara memperbaikinya?

Apa dampak perbaikan tersebut terhadap masyarakat yang ada di dalam DAS?

Dengan menjawab pertanyaan tersebut di atas, akan terbentuk visi (pandangan ke depan) tentang pengelolaan DAS. Tanpa memahami visi, maka tujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas DAS menjadi tidak jelas.

Contoh Jawaban Dari Pertanyaan Tersebut

Potensi DAS: Kemiringan lahan rata-rata 40%, curah hujan tahunan 2200 mm, kesuburan sedang, luas DAS 22,000 ha, jumlah penduduk 50,000 jiwa. DAS digunakan untuk pertanian tanaman semusim secara intensif.

Masalah: Air sungai makin berlumpur dan banjir lebih sering terjadi dibandingkan dengan ketika lahan masih berupa hutan. Tujuan pengelolaaan: Air sungai bersih kembali dan banjir terkendali Perbaikan yang mungkin dilakukan: Perubahan pola tanam menjadi tanaman tahunan atau campuran tanaman tahunan dengan tanaman semusim dan pembuatan embung. Perubahan yang mungkin terjadi: Kekeruhan air sungai dan banjir berkurang, air untuk minum ternak dan menyiram tanaman tersedia lebih lama karena adanya embung.

Komponen-Komponen Dalam Pengelolaan DAS



Pengelolaan dan konservasi lahan pertanian Pembuatan dan pemeliharaan saluran air, bangunan terjunan air dan sebagainya. Peningkatan penutupan lahan melalui penerapan teknik agroforestri, hutan rakyat, hortikultura buah-buahan, penanaman hijauan pakan ternak dan perikanan darat. Pemeliharaan tebing sungai Pengembangan infrastruktur yang sesuai, misalnya pembangunan sarana irigasi.

Hutan Dan Hubungannya Dengan Pengelolaan DAS


Hutan mempunyai peranan penting dalam mengkonservasi DAS. Dengan semakin berkurangnya hutan, maka timbul berbagai masalah dalam pengelolaan DAS, karena hutan mempunyai sifat:

Meredam tingginya debit sungai pada musim hujan, dan berpotensi memelihara kestabilan aliran air sungai pada musim kemarau Mempunyai serasah yang tebal sehingga memudahkan air meresap ke dalam tanah dan mengalirkannya secara perlahan ke sungai. Selain itu, lapisan serasahnya juga melindungi permukaan tanah dari gerusan aliran permukaan sehingga erosi pada tanah hutan sangat rendah.

Mempunyai banyak pori makro dan pipa di dalam tanah yang memungkinkan pergerakan air secara cepat ke dalam tanah.

Karena sifat-sifat hutan yang mengutungkan tersebut, maka hutan perlu dipertahankan. Apabila hutan sudah terlanjur dibuka (terutama pada bagian DAS yang peka erosi), penggunaan lahannya perlu diusahakan supaya mendekati bentuk hutan. Sistem agroforestri pada dasarnya ditujukan untuk mengembalikan berbagai fungsi hutan. (J. Ruijter dan F. Agus April 2004).

Pengelolaan DAS
Dalam mengelola sumberdaya lahan suatu DAS perlu diketahui apa yang menjadi masalah utama DAS. Masalah DAS pada dasarnya dapat dibagi menjadi: a. Kuantitas (jumlah) air

o o o
b. Kualitas air Banjir dan kekeringan Menurunnya tinggi muka air tanah Tingginya fluktuasi debit puncak dengan debit dasar.

o o o
Tingginya erosi dan sedimentasi di sungai Tercemarnya air sungai dan air tanah oleh bahan beracun dan berbahaya Tercemarnya air sungai dan air danau oleh hara seperti N dan P (eutrofikasi)

Masalah ini perlu dipahami sebelum dilakukan tindakan pengelolaan DAS. Sebagai contoh, apabila masalah utama DAS adalah kurangnya debit air sungai untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA), maka penanaman pohon secara intensif tidak akan mampu meningkatkan hasil air. Seperti telah diterangkan terdahulu, pohon-pohonan mengkonsumsi air lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pertanian semusim dan tajuk pohon-pohonan mengintersepsi sebagian air hujan dan menguapkannya kembali ke udara sebelum mencapai permukaan tanah. Apabila masalah utama suatu DAS adalah kerawanan terhadap banjir maka teknik yang dapat ditempuh adalah dengan mengusahakan agar air lebih banyak meresap ke dalam tanah di hulu dan di bagian tengah DAS. Usaha ini dapat ditempuh dengan menanam pohon dan/atau dengan tindakan konservasi sipil teknis seperti pembuatan sumur resapan, rorak dan sebagainya. Apabila yang menjadi masalah DAS adalah tingginya sedimentasi di sungai maka pilihan teknik konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki fungsi filter dari DAS. Peningkatan fungsi filter dapat ditempuh dengan penanaman rumput, belukar, dan pohon pohonan atau dengan membuat bangunan jebakan sedimen (sediment trap). Apabila menggunakan metode

vegetatif, maka penempatan tanaman di dalam suatu DAS menjadi penting. Penanaman tanaman permanen pada luasan sekitar 10% saja dari luas DAS, mungkin sudah sangat efektif dalam mengurangi sedimentasi ke sungai asalkan tanaman tersebut ditanam pada tempat yang benar-benar menjadi masalah, misalnya pada zone riparian (zone penyangga di kiri kanan sungai). Apabila suatu DAS dihutankan kembali maka pengaruhnya terhadap tata air DAS akan memakan waktu puluhan tahun. Pencegahan penebangan hutan jauh lebih penting dari pada membiarkan penebangan hutan dan menanami kembali lahan gundul dengan pohonpohonan. Lagipula apabila penanaman pohon dipilih sebagai metode pengatur tata air DAS, penanamannya harus mencakup sebagian besar wilayah DAS tersebut. Jika hanya 20- 30% dari wilayah DAS ditanami, pengaruhnya terhadap tata air mungkin tidak nyata. Penyebaran tanaman kayu-kayuan secara merata dalam suatu DAS tidak terlalu memberikan arti dalam menurunkan sedimentasi. Tabel 4.1 memberikan ringkasan masalah DAS dan alternatif teknologi yang dapat dipilih untuk mengatasinya.

Sumber: Fahmudin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktik Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering . Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Hal 2628

Teknologi Pengelolaan DAS


Permasalahan pokok yang mungkin dijumpai di dalam DAS adalah erosi dan degradasi lahan, kekeringan dan banjir, penurunan kualitas air sungai, dan pendangkalan sungai, danau atau waduk. Pemilihan teknologi untuk pengelolaan DAS tergantung pada sifat DAS yang mencakup tanah, iklim, sungai, bukit dan masyarakat yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu tidak ada resep umum yang bisa diberikan dalam memecahkan permasalahan DAS.

Pertimbangan pemilihan teknologi itu adalah tercapainya sasaran konservasi lahan dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang ada di dalamnya. Berikut ini disampaikan prinsip-prinsip tindakan yang harus dilaksanakan dalam pengelolaan DAS sehingga masyarakat dapat memilih teknologi yang sesuai:

Penggunaan lahan harus disesuaikan dengan sifat dan kemampuan lahan bersangkutan. Tanah yang berlereng curam, misalnya lebih curam dari 40%, tidak aman bila digunakan secara intensif untuk tanaman semusim. Penuntun praktis kriteria kesesuaian lahan diberikan di dalam buku Djaenuddin et al. (2003). Di dalam buku tersebut diuraikan tanaman apa yang cocok ditanam pada lahan tertentu.

Memaksimalkan penutupan tanah dengan menggunakan tanaman penutup, karena dengan banyaknya tajuk dan seresah tanaman, akan semakin terlindung permukaan tanah dari terpaan air hujan dan makin terbentuk jaringan penyaring erosi.

Mempertahankan sebanyak mungkin air hujan pada tempat di mana air tersebut jatuh, sehingga mengurangi aliran permukaan. Mengalirkan kelebihan air permukaan dengan kecepatan yang aman ke kolam-kolam penampung untuk digunakan kemudian. Menghindari terbentuknya parit (gully) dan menghambatnya (menyumbat) dengan sumbat parit (gully plug) pada interval yang sesuai untuk mengendalikan erosi dan pengisian kembali air tanah

Memaksimalkan produktivitas lahan per satuan luas, per satuan waktu, dan per satuan volume air. Meningkatkan intensitas pertanaman dengan tanaman sela dan menata pola pergiliran tanaman. Menstabilkan sumber penghasilan dan mengurangi resiko kegagalan selama terjadinya penyimpangan iklim (terlalu sedikit atau terlalu banyak hujan). Meningkatkan/memperbaiki infrastruktur yang dapat membantu kelancaran distribusi, pemasaran, dan penyimpanan hasil pertanian. Untuk daerah beriklim kering, kegiatan terutama ditujukan untuk meningkatkan penyimpanan air tanah melalui peningkatan kapasitas infiltrasi dan simpanan air di permukaan tanah melalui pembuatan sumur, rorak atau embung penampung air.

Sisa tanaman perlu dikembalikan ke permukaan tanah baik secara langsung misalnya dalam bentuk mulsa atau dalam bentuk kompos. Tindakan konservasi tanah harus disesuaikan dengan keadaan sosial ekonomi setempat (misalnya status pemilikan tanah, tenaga kerja, penghasilan rumah tangga). Tindakan konservasi yang mudah diterima petani adalah tindakan yang memberi keuntungan jangka pendek dalam bentuk peningkatan hasil panen dan peningkatan pendapatan, terutama untuk petani yang status penguasaan lahannya tidak tetap.

Kegiatan konservasi yang akan diterapkan seharusnya dipilih oleh petani dengan fasilitasi penyuluh. Petani paling berhak mengambil keputusan untuk kegiatan yang akan dilakukan pada lahan mereka.

Jangan melakukan tindakan konservasi kalau belum dimengerti apa masalah yang akan dipecahkan dan apa manfaat tindakan tersebut.

Permasalahan pokok yang dijumpai dalam DAS adalah:

degradasi lahan (erosi) penurunan kualitas air kekeringan dan banjir pendangkalan sungai, danau atau (perubahan debit sungai) waduk oleh sedimen

Sumber: Fahmudin Agus dan Widianto (2004). Petunjuk Praktik Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering . Bogor: World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Hal 6 -7

PEDOMAN TEKNIS PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU


(DRAFT FINAL SEKRETARIAT TKPSDA 2003)

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam tersebut. DAS di beberapa tempat di Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya alamnya yang intensif sehingga terdapat indikasi belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun dengan indikasi meningkatnya kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Disisi lain tuntutan terhadap kemampuannya dalam menunjang system kehidupan, baik masyarakat di bagian hulu maupun hilir demikian besarnya. Sebagai suatu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi kondisi bagian hulu khususnya kondisi biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air yang di banyak tempat rawan terhadap ancaman gangguan manusia. Hal ini mencerminkan bahwa kelestarian DAS ditentukan oleh pola perilaku, keadaan sosialekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya dengan pengaturan kelembagaan (institutional arrangement). Tidak optimalnya kondisi DAS antara lain disebabkan tidak adanya adanya ketidakterpaduan antar sektor dan antar wilayah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan DAS tersebut. Dengan kata lain, masing-masing berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang kadangkala bertolak belakang. Sulitnya koordinasi dan sinkronisasi tersebut lebih terasa dengan adanya otonomi daerah dalam

pemerintahan dan pembangunan dimana daerah berlomba memacu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Permasalahan ego-sektoral dan ego-kedaerahan ini akan menjadi sangat komplek pada DAS yang lintas kabupaten/kota dan lintas propinsi. Oleh karena itu, dalam rangka memperbaiki kinerja pembangunan dalam DAS maka perlu dilakukan pengelolaan DAS secara terpadu. Pengelolaan DAS terpadu dilakukan secara menyeluruh mulai keterpaduan kebijakan, penentuan sasaran dan tujuan, rencana kegiatan, implementasi program yang telah direncanakan serta monitoring dan evaluasi hasil kegiatan secara terpadu. Pengelolaan DAS terpadu selain mempertimbangkan faktor biofisik dari hulu sampai hilir juga perlu mempertimbangkan faktor sosialekonomi, kelembagaan, dan hukum. Dengan kata lain, pengelolaan DAS terpadu diharapkan dapat melakukan kajian integratif dan menyeluruh terhadap permasalahan yang ada, upaya pemanfaatan dan konservasi sumberdaya alam skala DAS secara efektif dan efisien. 1.2 Tujuan Pedoman Teknis Pengelolaan DAS Terpadu Pedoman ini disusun dengan maksud memberikan arahan umum atau acuan dalam menyelenggarakan pengelolaan DAS dan disesuaikan dengan perkembangan dan pergeseran paradigma dalam melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan. Pedoman ini sifatnya umum yang dapat digunakan baik untuk pengelolaan DAS lintas propinsi, lintas kabupaten/Kota maupun DAS dalam satu kabupaten/Kota. Karena itu Pedoman ini diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi dan tuntutan spesifik pada masing-masing wilayah dan disesuaikan dengan kewenangan yang dimiliki masing- masing daerah. Tujuan penyusunan pedoman ini adalah terbentuknya persamaan persepsi dan langkah dalam melaksanakan pengelolaan DAS sesuai dengan karakteristik ekosistemnya, sehingga pemanfaatan sumberdaya alam dan upaya konservasinya dapat dilakukan secara optimal, berkeadilan, dan berkelanjutan. Muara dari keseluruhan upaya pengelolaan DAS yang optimal ini adalah terjaganya integritas fungsi DAS dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalamnya. 1.3 Ruang Lingkup Pengelolaan DAS Sasaran wilayah pengelolaan DAS adalah wilayah DAS yang utuh sebagai satu kesatuan ekosistem yang membentang dari hulu hingga hilir. Penentuan sasaran wilayah DAS secara utuh ini dimaksudkan agar upaya pengelolaan sumberdaya alam dapat dilakukan secara menyeluruh dan terpadu berdasarkan satu kesatuan perencanaan yang telah mempertimbangkan keterkaitan antar komponenkomponen penyusun ekosistem DAS (biogeofisik dan sosekbud) termasuk pengaturan kelembagaan dan kegiatan monitoring dan evaluasi. Kegiatan yang disebutkan terakhir berfungsi sebagai instrumen pengelolaan yang akan menentukan apakah kegiatan yang dilakukan telah/tidak mencapai sasaran.

Ruang lingkup pengelolaan DAS secara umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, implementasi/pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap upaya upaya pokok berikut: a) Pengelolaan ruang melalui usaha pengaturan penggunaan lahan (landuse) dan konservasi tanah dalam arti yang luas. b) Pengelolaan sumberdaya air melalui konservasi, pengembangan, penggunaan dan pengendalian daya rusak air. c) Pengelolaan vegetasi yang meliputi pengelolaan hutan dan jenis vegetasi terestria l lainnya yang memiliki fungsi produksi dan perlindungan terhadap tanah dan air. d) Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia termasuk pengembangan kapasitas kelembagaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana, sehingga ikut berperan dalam upaya pengelolaan DAS. 1.4 Terminologi dan Konsep Keterpaduan Pengelolaan DAS Beberapa istilah yang perlu dipahami dan disepakati bersama dalam pengelolaan DAS adalah sebagai berikut: a) Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang dibatasi oleh pemisah topografis yang berfungsi menampung air yang berasal dari curah hujan, menyimpan dan mengalirkannya melalui ke danau atau ke laut secara alami. b) Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub DAS Sub DAS. c) Satuan Wilayah Sungai (SWS) adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumberdaya air dalam satu atau lebih DAS dan atau satu atau lebih pulau-pulau kecil , termasuk cekungan air bawah tanah yang berada dibawahnya. d) Cekungan air bawah tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas hidrogeologis, temapat sema kejadian hidrologis seperti proses pengibuhann, pengaliran, pelepasan air bawah tanah berlangsung. e) Pengelolaan DAS adalah upaya manusia di dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktifitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan manfaat sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan. f) Pengelolaan DAS Secara Terpadu adalah suatu proses formulasi dan implementasi kebijakan dan kegiatan yang menyangkut pengelolaan sumberdaya alam, sumberdaya buatan dan manusia dalam

suatu DAS secara utuh dengan mempertimbangkan aspek-aspek fisik, sosial, ekonomi dan kelembagaan di dalam dan sekitar DAS untuk mencapai tujuan yang diinginkan. g) Rencana Pengelolaan DAS merupakan konsep pembangunan yang mengakomodasikan berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dijabarkan secara menyeluruh dan terpadu dalam suatu rencana berjangka pendek, menengah maupun panjang yang memuat perumusan masalah spesifik di dalam DAS, sasaran dan tujuan pengelolaan, arahan kegiatan dalam pemanfaatan, peningkatan dan pelestarian sumberdaya alam air, tanah dan vegetasi, pengembangan sumberdaya manusia, arahan model pengelolaan DAS, serta sistem monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan DAS. h) Tata air DAS adalah hubungan kesatuan individual unsur-unsur hidrologis yang meliputi hujan, aliran permukaan dan aliran sungai, peresapan, aliran air tanah, evapotranspirasi dan unsur lainnya yang mempengaruhi neraca air suatu DAS. i) Lahan kritis adalah lahan yang keadaan biofisiknya sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air. j) Konservasi tanah adalah upaya mempertahankan, merehabilitasi dan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukannya. k) Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah (RLKT) adalah upaya manusia untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan daya dukung lahan agar berfungsi optimal sesuai dengan peruntukannya. 1.5 Pentingnya Pengelolaan DAS Terpadu Pentingnya asas keterpaduan dalam pengelolaan DAS erat kaitannya dengan pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan DAS, yaitu pendekatan ekosistem. Ekosistem DAS merupakan sistem yang kompleks karena melibatkan berbagai komponen biogeofisik dan sosial ekonomi dan budaya yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Kompleksitas ekosistem DAS mempersyaratkan suatu pendekatan pengelolaan yang bersifat multi-sektor, lintas daerah, termasuk kelembagaan dengan kepentingan masing-masing serta mempertim- bangkan prinsipprinsip saling ketergantunga n. Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan DAS : a) Terdapat keterkaitan antara berbagai kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pembinaan aktivitas manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam. b) Melibatkan berbagai disiplin ilmu dan mencakup berbagai kegiatan yang tidak selalu saling mendukung.

c) Meliputi daerah hulu, tengah, dan hilir yang mempunyai keterkaitan biofisik dalam bentuk daur hidrologi. 1.6 Kerangka Pikir Pengelolaan DAS Pengelolaan DAS Terpadu pada dasarnya merupakan bentuk pengelolaan yang bersifat partisipatif dari berbagai pihak pihak yang berkepentingan dalam memanfaatkan dan konservasi sumberdaya alam pada tingkat DAS. Pengelolaan partisipatif ini mempersyaratkan adanya rasa saling mempercayai, keterbukaan, rasa tanggung jawab, dan mempunyai rasa ketergantungan (interdependency) di antara sesama stakeholder. Demikian pula masing-masing stakeholder harus jelas kedudukan dan tanggung jawab yang harus diperankan. Hal lain yang cukup penting dalam pengelolaan DAS terpadu adalah adanya distribusi pembiayaan dan keuntungan yang proporsional di antara pihak pihak yang berkepentingan. Dalam melaksanakan pengelolaan DAS, tujuan dan sasaran yang diinginkan harus dinyatakan dengan jelas. Tujuan umum pengelolaan DAS terpadu adalah : 1. Terselenggaranya koordinasi, keterpaduan, keserasian dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi DAS. 2. Terkendalinya hubungan timbal balik sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan kegiatan manusia guna kelestarian fungsi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Sasaran pengelolaan DAS yang ingin dicapai pada dasarnya adalah: 1. Terciptanya kondisi hidrologis DAS yang optimal. 2. Meningkatnya produktivitas lahan yang diikuti oleh perbaikan kesejahteraan masyarakat. 3. Tertata dan berkembangnya kelembagaan formal dan informal masyarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS dan konservasi tanah. 4. Meningkatnya kesadaran dan partisipasi mayarakat dalam penyelenggaraan pengelolaan DAS secara berkelanjutan. 5. Terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berkeadilan. Oleh karena itu, perumusan program dan kegiatan pengelolaan DAS selain harus mengarah pada pencapaian tujuan dan sasaran perlu pula disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi dengan mempertimbangkan adanya pergeseran paradigma dalam pengelolaan DAS, karakteristik biogeofisik dan sosekbud DAS, peraturan dan perundangan yang berlaku serta prinsip-prinsip dasar pengelolaan DAS. Uraian kerangka pikir tentang pengelolaan DAS terpadu disajikan secara diagramatis sebagaimana tertera pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Kerangka pikir pengelolaan terpadu DAS

BAB II KEBIJAKAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


2.1 Peraturan dan Perundang-undangan Mengkaji Daerah Aliran Sungai dewasa ini tidak mungk in hanya didasarkan kepada satu atau beberapa undang-undang yang sejenis atau sebidang. Daerah aliran sungai harus dipandang sebagai satu kesatuan wilayah yang utuh-menyeluruh yang terdiri dari daerah tangkapan air, sumber-sumber air, sungai, danau, dan waduk, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahpisahkan. Secara berjenjang, peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tersusun dengan urutan sebagai berikut: 2.1.1 Undang-Undang Dasar a) Alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. b) Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 (akan diamandemen). 2.1.2 Ketetapan MPR a) Ketetapan MPR No. IX/ MPR/ 1998 tentang Pencabutan Ketetapan MPR No. II/ MPR/ 1998 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara.

b) Ketetapan MPR No. X/ MPR/ 1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. 2.1.3 Undang-Undang a) Undang-undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. b) Undang-undang No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan. c) Undang-undang No. 9 Tahun 1969 tentang Bentuk-Bentuk Usaha Negara. d) Undang-undang No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. e) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. f) Undang-undang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. g) Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. h) Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. i) Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. j) Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. k) Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 2.1.4 Peraturan Pemerintah a) Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2001 tentang tentang Irigasi. b) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. d) Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai. e) Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peranserta Masyarakat dalam Penataan Ruang. f) Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. g) Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 2.1.5 Keputusan Presiden a) Keputusan Presiden No. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. b) Keputusan Presiden No. 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah. c) Keputusan Presiden No. 163 Tahun 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, Dan Tata Kerja Menteri Negara. d) Keputusan Presiden No. 183 Tahun 2000 tentang Susunan dan Personalia Kabinet. 2.2 Prinsip dan Kebijakan Dasar Pengelolaan DAS Prinsip-prinsip dasar pengelolaan DAS pada utamanya adalah sebagai berikut:

a) Pengelolaan DAS berupa pemanfaatan, pemberdayaan, pengembangan, perlindungan dan pengendalian sumberdaya dalam DAS. b) Pengelolaan DAS berlandaskan pada asas keterpaduan, kelestarian, kemanfaatan, keadilan, kemandirian (kelayakan usaha) serta akuntabilitas. c) Pengelolaan DAS dilakukan melalui pendekatan ekosistem yang dilaksanakan berdasarkan prinsip satu sungai, satu rencana, satu sistem pengelolaan dengan memperhatikan sistem pe merintahan desentralistik sesuai jiwa otonomi daerah secara luas, nyata, dan bertanggung jawab. d) DAS merupakan Kesatuan Wilayah Hidrologi yang mencakup beberapa wilayah administratif yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pengelolaan ya ng tidak dapat dipisah-pisahkan. e) Dalam satu sungai hanya berlaku Satu Rencana Kerja yang terpadu (program dan tujuan/sasaran), menyeluruh, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. f) Dalam satu sungai diterapkan Satu Sistem Pengelolaan yang dapat menjamin keterpaduan kebijakan, strategi perencanaan serta operasionalisasi kegiatan dari hulu sampai dengan hilir suatu DAS. Kebijakan Dasar: a) Pengelolaan DAS dilakukan secara holistik/integratif, terencana, dan berkelanjutan guna menopang kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta menjaga kelestarian lingkungan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat sesuai UUD 1945 Pasal 33 ayat (3). b) Pengelolaan DAS dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip desentralisasi dan menggunakan pendekatan DAS sebagai satuan wilayah pengelolaan. c) Pengelolaan DAS dilaksanakan berdasarkan prinsip partisipatif dan konsultatif pada setiap tingkatan pengelolaan untuk mendorong tumbuhnya komitmen bersama antar pihak yang berkepentingan. d) Masyarakat yang memperoleh manfaat atas pengelolaan DAS, baik secara langsung maupun tak langsung, wajib menanggung biaya pengelolaan secara proporsional (prinsip insentifdisinsentif). e) Sasaran wilayah Pengelolaan DAS adalah wilayah DAS secara utuh sebagai satu kesatuan ekosistem. Penentuan sasaran DAS secara utuh ini dimaksudkan agar upaya penanganan kegiatan yang direncanakan dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu berdasarkan satu kesatuan perencanaan yang utuh, sekaligus berkaitan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi DAS yang ditinjau dari aspek tata air, penggunaan lahan, sosial ekonomi dan kelembagaan. 2.3 Pengelolaan DAS dalam Konteks Otonomi Daerah Penyelenggaraan pengelolaan DAS dalam kaitannya dengan penataan ruang (wilayah) dan penatagunaan tanah dalam rangka otonomi daerah haruslah disesuaikan dengan Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagai berikut: a) Kebijakan penatagunaan tanah di tingkat pusat masih diperlukan jika terdapat kewenangan yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan yang meliputi perencanaan nasional, pengendalian

pembangunan secara makro, dana perimbangan keuangan, sistem administrasi negara, lembaga perekonomian negara, pendayagunaan sumberdaya alam, pembinaan dan pemberdayaan sumberdaya manusia, kebijakan teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan kebijakan standarisasi nasional. b) Kebijakan penatagunaan tanah di tingkat propinsi sebagai daerah otonom masih diperlukan jika ada kewenangan yang berkaitan dengan : (i ) kebijakan di bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota, serta (ii) kewenangan bidang-bidang tertentu lainnya, yaitu: perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro; pelatihan bidang tertentu, alokasi sumberdaya manusia, dan penelitian yang mencakup wilayah propinsi; pengendalian lingkunga n hidup; promosi dagang dan budaya/pariwisata; dan perencanaan tata ruang propinsi. Di samping itu juga diperlukan keberadaan kebijakan penatagunaan tanah di tingkat propinsi dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi, dimana kewenangan pemerintah pusat dilimpahkan kepada Gubernur. c) Kebijakan penatagunaan tanah pada tingkat kabupaten dan kota yang mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam kedua-dua butir di atas. Dengan kata lain, pemerintah pusat mempunyai wewenang pengaturan, pengarahan melalui penerbitan berbagai pedoman, serta pengawasan dan pengendalian berskala makro. Pemerintah propinsi mempunyai wewenang bersifat lintas kabupaten/kota, pemberian perijinan tertentu, penyusunan rencana tertentu serta pengawasan dan pengendalian berskala meso. Pemerintah kabupaten mempunyai wewenang yang bersifat pemberian perijinan tertentu, perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dan pengendalian berskala mikro. Batas DAS atau Wilayah Sungai tidak selalu bertepatan (coincided) dengan batas-batas wilayah administrasi. Oleh karena itu, perlu adanya klasifikasi DAS menurut hamparan wilayahnya dan fungsi strategisnya sebagai berikut: 1. DAS Kabupaten/Kota: terletak secara utuh berada di satu Daerah Kabupaten/Kota, dan/atau DAS yang secara potensial hanya dimanfaatkan oleh satu Daerah Kabupaten/Kota. 2. DAS Lintas Kabupaten/Kota : letaknya secara geografis melewati lebih dari satu daerah Kabupaten/Kota, dan/atau DAS yang secara potensial dimanfaatkan oleh lebih dari satu Daerah Kabupaten/Kota; dan/atau DAS lokal yang atas usulan Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan, dan hasil penilaian ditetapkan untuk didayagunakan (dikembangkan dan dikelola oleh Pemerintah Propinsi), dan/atau DAS yang secara potensial bersifat strategis bagi pembangunan regional. 3. DAS Lintas Propinsi: letaknya secara geografis melewati lebih dari satu Daerah Propinsi, dan/atau DAS yang secara potensial dimanfaatkan oleh lebih dari satu Daerah Propinsi, dan/atau; DAS Regional yang atas usulan Pemerintah Propinsi yang bersangkutan, dan hasil penilaian ditetapkan untuk didayagunakan (dikembangkan dan dikelola) oleh Pemerintah Pusat, dan/atau DAS yang secara potensial bersifat startegis bagi pembangunan nasional.

4. DAS Lintas Negara: letaknya secara geografis melewati lebih dari satu negara, dan/atau DAS yang secara potensial dimanfaatkan oleh lebih dari satu negara, dan/atau DAS yang secara potensial bersifat startegis bagi pembangunan lintas negara.

BAB III PERENCANAAN PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


3.1 Kedudukan dan Fungsi Perencanaan Perencanaan adalah suatu proses kegiatan penentuan tindakan/langkah-langkah yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan DAS dalam waktu tertentu dengan mempertimbangkan potensi, peluang dan kendala yang mungkin timbul. Perencanaan pengelolaan DAS merupakan salah satu proses dari rangkaian atau siklus penyelenggaraan pengelolaan DAS yang secara umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan (pengembangan, penggunaan/pemanfaatan, perlindungan,dan pengendalian), pemantauan dan evaluasi. Hasil pemantauan dan evaluasi akanmerupakan umpan balik untuk penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di DAS. Adapun fungsi pentng dari rencana yang disusun adalah : 1. Sebagai pedoman dan arahan dalam pelaksanaan pengelolaan DAS dan dapat memberikan komitmen kepada para pihak untuk melaksanakan kegiatan masa depan. 2. Sebagai alat untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar pihak yang terlibat dalam pengelolaan DAS 3. Sebagai alat untuk pemantauan dan evaluasi keberhasilan kegiatan pengelolaan DAS. 4. Sebagai salah satu unsur atau masukan dalam penyusunan, penijauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tat ruang wilayah. 5. Sebagai bukti akuntabilitas publik bagi instansi yang berwenang dalam penyusunan rencana pengelolaan DAS. Dengan adanya rencana pengelolaan DAS, pihak-pihak yang berkepentingan dengan pengelolaan DAS diharapkan dapat mengelola berbagai sumberdaya yang ada secara efisien, efektif dan berkelanjutan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan. 3.2 Prinsip Umum Perencanaan Pengelolaan DAS Pendekatan menyeluruh terhadap perencanaan pengelolaan DAS diperlukan dengan pertimbangan bahwa terganggunya salah satu komponen pada sistem alam sumberdaya alam akan berpengaruh terhadap komponen lainnya dalam sistem. Pendekatan menyeluruh tersebut pada hakekatnya adalah suatu kajian terpadu terhadap keseluruhan aspek sumberdaya alam DAS. Kajian tersebut mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan, sosial, politik, dan tataguna lahan. Untuk dapat

melakukan monitoring dan evaluasi dampak aktivitas pengelolaan DAS terhadap komponenkomponen lingkungan, ekosistem DAS dapat dimanfaatkan sebagai satu unit perencanaan dan evaluasi yang sistematis, logis, dan rasional dimana kondisi tata air sebagai salah satu indikatornya. Perencanaan pengelolaan DAS secara menyeluruh diharapkan dapat memberikan manfaat secara multi-guna kepada para pihak pihak yang berkepentingan. Landasan untuk pengelolaan secara menyeluruh suatu DAS berawal dari perencanaan. Oleh karena itu, tahap perencanaan menyeluruh pengelolaan DAS merupakan bagian strategis untuk tercapainya muara dari upaya aktivitas pembangunan, yaitu pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Sasaran dan tujuan fundamental perencanaan menyeluruh pengelolaan DAS adalah perbaikan keadaan sosial-ekonomi pihak pihak yang berkepentingan dengan tidak mengabaikan keterlanjutan daya dukung dan kualitas lingkungan. Karena pengelolaan DAS dilakukan untuk kepentingan masyarakat luas, maka pemerintah dan masyarakat harus bekerjasama untuk mewujudkan tujuan dilakukannya pengelolaan DAS. Tingkat dan intensitas kerjasama tersebut bervariasi dan ditentukan, antara lain, oleh struktur pemerintahan. Suatu pemerintahan, dimanapun berada, dibentuk untuk menga tur kehidupan masyarakat termasuk tingkat kesejahteraannya. Oleh karena itu, pemerintahan yang baik seharusnya dapat mengupayakan agar kesejahteraan tersebut dapat dirasakan oleh berbagai tingkatan (sosial) yang ada di masyarakat. Prinsip yang berlaku umum mempersyaratkan bahwa perencanaan yang disiapkan secara sistematis, logis, dan rasional seharusnya mengarah pada bentuk pengelolaan yang bijaksana dan implementasi yang efektif. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa proses perencanaan dan implementasi program akan berlangsung dengan efektif apabila disertai pedoman kerja yang berisi prinsip-prinsip perencanaan yang, antara lain, terdiri atas: 1. Tujuan atau sasaran utama pengelolaan DAS secara menyeluruh harus dirumuskan secara jelas dengan disertai mekanisme sistem monitoring dan evalusi yang dilakukan secara periodik. Dengan demikian, apabila ditemukan adanya dampak lingkungan yang cukup serius dapat segera ditangani. Seluruh usulan kegiatan dan hasil yang diperoleh harus berorientasi pada kepentingan jangka panjang dan capaian kesejahteraan yang berkelanjutan. 2. Perlu disiapkan mekanisme administrasi yang efisien dengan fokus perhatian pada aspekaspek sosial-ekonomi-politik dan kerjasama yang harmonis di antara lembaga-lembaga (pemerintah dan non-pemerintah) yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Proses perencanaan DAS harus dilakukan secara terkoordinasi oleh instansi yang berwenang dengan metoda partisipatif diantara para pihak yang terkait. 3. Pengelolaan menyeluruh DAS diarahkan pada penyelesaian konflik yang muncul di antara pihak pihak yang berkepentingan dalam melaksanakan pembangunan. Pada kasus ketika terjadi konflik, kompromi yang telah dicapai di antara kelompok yang mengalami konflik harus dihormati dan dilaksanakan dengan konsisten. Selain masalah penyelesaian konflik (conflict resolution), pendekatan menyeluruh pengelolaan DAS juga harus mempertimbangkan prinsip-

prinsip upaya pengendalian dan proses umpan balik yang mengarah pada proses pengambilan keputusan yang optimal. 4. Rencana yang telah tersusun harus merupakan dokumen publik yang diumumkan (bisa diakses) secara terbuka oleh masyarakat dan masyarakat berhak menyatakan keberatan atas rencana yang disusun dalam waktu tertentu. Dengan demikian instansi berwenang harus melakukan peninjauan kembali terhadap rencana pengelolaan DAS sebelum ditetapkan oelh pejabat yang berwenang. Meskipun disadari bahwa proses perencanaan pengelolaan DAS bervariasi tergantung pada karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan politik lokal, pembahasan tentang proses perencanaan untuk pengelolaan DAS mengacu pada Gambar 3.3. Dalam proses perencanaan tersebut dalam Gambar 3.3, kedudukan Pusat Perencanaan sangat penting karena akan memberikan arah pengelolaan yang akan dituju serta menunjukkan bentuk koordinasi yang dianggap efektif.

Gambar 3.3 Proses perencanaan pengelolaan DAS

Demikian pula, dipandang perlu bahwa dalam struktur organisasi pengelolaan DAS seharusnya memberikan peran lebih penting terhadap Komisi Pengelola DAS dan Komite Penasehat. Tidak kalah pentingnya adalah masukan atau informasi dari masyarakat pada tingkat lokal dalam proses

penyusunan rencana. Peran dan fungsi masyarakat dalam proses perencanaan harus dinyatakan dan diatur dengan jelas melalui suatu pedoman kebijakan dan kerangka kerja kelembagaan. Dalam konteks perencanaan pengelolaan DAS, proses perencanaan pengelolaan DAS tersebut dalam Gambar 3.3 mempunyai dasar pertimbangan sebagai berikut: pertama, dengan diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, proses perencanaan tersebut dalam Gambar 3.3 menjadi relevan karena fokus UU No. 22 adalah memberikan peranan yang lebih besar terhadap pemerintah daerah dan mitranya di daerah. Salah satu kewenangan yang dilimpahkan ke daerah dan bersifat strategis adalah penetapan kriteria penataan perwilayahan ekosistem daerah tangkapan air pada daerah aliran sungai (Bab II Pasal 2 butir ke 13, PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom). Dengan aturan seperti diamanatkan oleh PP No. 25, maka pembentukan Pusat Perencanaan seperti tersebut dalam Gambar 3.3 menjadi sangat relevan. Pertimbangan kedua adalah dengan semakin meluasnya kehendak masyarakat untuk membuat Undang-Undang tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam yang akan menaungi dan mengendalikan Undang-Undang pengelolaan sumberdaya alam sektoral yang telah berlaku, misalnya UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, dan UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, maka pola perencanaan menyeluruh pengelolaan DAS tersebut di atas juga menjadi relevan, terutama peran yang akan dimainkan oleh Komisi DAS Nasional. 3.3. Proses Perencanaan Pengelolaan DAS Hal yang penting diperhatikan dalam penyusunan rencana pengelolaan DAS adalah bahwa perencanaan adalah suatu proses berulang (iterative process). Perencanaan tersebut mengatur langkah-langkah atau aktivitas-aktivitas pengelolaan DAS yang harus dilaksanakan termasuk rencana monitoring dan evaluasi (monev) terhadap tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Dengan demikian, dapat tercipta suatu mekanisme umpan balik (feedback) terhadap keseluruhan rencana pengelolaan DAS sehingga dapat dilakukan perbaikan terhadap rencana yang telah disusun (Gambar 3.1).

Gambar 3.1 Proses berulang (iterative process) perencanaan Pengelolaan DAS

Perencanaan pengelolaan DAS terpadu mempersyaratkan adanya beberapa langkah-langkah penting sebagai berikut: 1. Pengumpulan data yang ekstensif, didukung oleh strategi pengelolaan data yang terpadu, perlu dilaksanakan sebelum rencana pengelolaan DAS dirumuskan. Pengumpulan data ini terutama identifikasi karakteristik DAS yang, antara lain, mencakup batas dan luas wilayah DAS, topografi, geologi, tanah, iklim, hidrologi, vegetasi, penggunaan lahan, sumberdaya air, kerapatan drainase, dan karakteristik sosial, ekonomi dan budaya. 2. Identifikasi permasalahan yang meliputi aspek penggunaan laha n, tingkat kekritisan lahan, aspek hidrologi, sosial ekonomi dan kelembagaan seperti terlihat pada Gambar 3.2. Prakiraanprakiraan tentang kebutuhan sumberdaya alam (dan buatan) untuk beragam pemanfaatan perlu dilakukan dan dikaji potensi timbulnya konflik di antara pihak pihak yang berkepentingan. 3. Perumusan tujuan dan sasaran secara jelas, spesifik dan terukur dengan memperhatikan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dari ekosistem DAS, peraturan dan kebijakan pemerintah, adat istiadat masyarakat dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengelolaan DAS. 4. Identifikasi dan memformulasikan beberapa rencana kegiatan sebagai alternatif. 5. Evaluasi alternatif kegiatan pengelolaan yang akan diimplementasikan sehingga dapat dihasilkan bentuk kegiatan yang paling tepat (secara teknis dapat dilaksanakan, secara sosial/politik dapat diterima, dan secara ekonomi terjangkau). 6. Penyusunan rencana kegiatan/program pengelolaan DAS berupa usulan rencana yang dianggap paling memenuhi kriteria untuk tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. 7. Legitimasi dan sosiallisasi rencana yang telah disusun kepada pihak-pihak yang terkait. Dalam Gambar 3.1, mekanisme pelaksanaan pengelolaan DAS mempersyaratkan bahwa tahap perencanaan dan implementasi tidak boleh dipisahkan karena informasi yang diperoleh dari implementasi kegiatan dapat dimanfaatkan kembali sebagai umpan balik (feedback) untuk penyempurnaan rencana yang telah dibuat. Demikian pula, untuk setiap langkah pengelolaan dari mulai alternatif kegiatan hingga implementasi kegiatan perlu dilakukan monitoring dan evaluasi (review). Hal ini diperlukan sebagai umpan balik bertahap.

Gambar 3.2 Diagram Alir Garis Besar Identifikasi Permasalahan DAS

Kegiatan yang diusulkan dalam rencana disamping mendukung pencapaian tujuan kegiatan pengelolaan DAS, juga harus memberikan gambaran yang jelas tentang: a) Fungsi dan kedudukan kegiatan dalam konteks pengelolaan DAS. b) Manfaat yang diperoleh dengan dilakukannya kegiatan. c) Kurun waktu yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan. d) Cakupan wilayah untuk pelaksanaan kegiatan. e) Pelaksana kegiatan dan kelembagaan yang diperlukan.

f) Pembiayaan termasuk sarana dan prasara yang diperlukan. g) Ketatalaksanaan/organisasi dan mekanisme pelaksanaan kegiatan. Rencana kegiatan tersebut terinci pada masing-masing program dengan skala prioritas yang jelas, dipilih sesuai dengan permasalahan yang menonjol pada DAS yang bersangkutan. Misalnya kegiatan untuk pengelolaan ruang, lahan dan vegetasi, kegiatan untuk menunjang pengelolaan sumberdaya air (water resources management), dan kegiatan untuk pemberdayaan dan partisipasi masyarakat (empowering and public participation). Dalam penyusunan rencana kegiatan pengelolaan DAS perlu mengintegrasikan dengan rencana tata ruang dan penatagunaan tanah, mempertimbangkan hubungan daerah hulu dan daerah hilir, serta aspek penanggungan biaya bersama (cost sharing). Seperti telah dikemukakan di muka bahwa batas ekosistem DAS tidak selalu sama (coincided) dengan batas administratif. Satu wilayah administratif secara geografis dapat terletak pada satu wilayah DAS atau sebaliknya. Apabila hal ini terjadi, diperlukan identifikasi tentang wilayah administratif yang termasuk/tidak termasuk dalam DAS yang menjadi kajian. Disamping itu, adanya keterkaitan biofisik antara hulu dan hilir DAS perlu juga dilakukan identifikasi, penentuan lokasi, kategori dan bentuk aktifitas pihak pihak yang berkepentingan dalam suatu DAS. Selanjutnya, dirumuskan kebijakan pengelolaan DAS yang telah mempertimbangkan mekanisme, regulasi dan pengaturan kelembagaan yang akan menerapkan prinsip-prinsip insentif dan disinsentif terhadap pihak pihak yang berkepentingan sesuai dengan kategori dan kedudukannya dalam perspektif prinsip pembiayaan bersama (cost sharing principle). Dengan demikian, pelaksanaan kegiatan konservasi tanah dan air di bagian hulu DAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan adanya biaya dari pihak pihak yang berkepentingan yang mendapat manfaat sebagai akibat adanya kegiatan tersebut. Dengan mekanisme ini terjadi interaksi di antara pihak pihak yang berkepentingan di daerah hulu, tengah dan hilir DAS. 3.4 Hirarki Perencanaan Pengelolaan DAS Perencanaan pengelolaan DAS dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu dan tujuannya ke dalam Rencana Jangka Panjang (15 tahun), Rencana Jangka Menengah (5 tahun) dan Rencana Jangka Pendek (tahunan). Rencana jangka panjang bersifat umum dan strategis yang harus menggambarkan rencana makro pengelolaan DAS terpadu dan memuat karakteristik DAS, permasalahan yang dihadapi, tujuan, sasaran umum, kebijakan, strategi penanganan pemecahan masalah secara terpadu. Rencana jangka panjang ini sebaiknya mengandung arahan umum semua sektor yang terlibat dalam pengelolaan DAS seperti arahan umum penggunaan lahan (tata ruang) berdasarkan kemampuan dan kesesuaian lahan, arahan umum rehabilitasi dan konservasi tanah, arahan umum pengelolaan sumberdaya air, urutan prioritas penanganan Sub-DAS dalam DAS yang bersangkutan serta arahan umum pengembangan

sosial ekonomi dan kelembagaan. Rencana pengelolaan DAS terpadu ini merupakan payung atau pengikat bagi rencana-rencana sektoral dalam DAS yang bersangkutan. Rencana Jangka Menengah lebih bersifat teknis pelaksanaan dari setiap sektor, misalnya Rencana Induk Pengembangan sumberdaya Air atau Rencana Teknik Lapangan Rehabilitasi hutan dan lahan (RHL). Rencana Teknik Lapangan RHL ini memiliki output yang meliputi rekomendasi teknis kegiatan RHL, proyeksi kegiatan tahunan RHL, analisis manfaat (finansial dan ekonomi), serta rencana monitoring dan evaluasi. Satuan wilayah perencanaan pada rencana jangka menengah ini bisa berupa DAS yang tidak terlalu luas atau suatu Sub DAS yang cukup luas dan dipilih sebagai Sub DAS prioritas pada DAS yang sangat luas. Rencana Jangka Pendek (tahunan) dibuat sangat rinci dan dilengkapi dengan deskripsi jenis, lokasi, volume, waktu dan biaya kegiatan secara rinci. Jenis rencana jangka pendek misalnya Rencana Teknik Reboisasi, Rencana Teknik Penghijauan yang biasanya ditindaklanjuti dengan rancangan kegiatan pembuatan tanaman, pembuatan bangunan-bangunan fisik (check dam, drop structure, terrace). 3.5 Legitimasi dan Sosialisasi Rencana Pengelolaan DAS Agar rencana yang dibuat dapat mengikat semua pihak yang berkepentingan untuk mengimplementasikannya, maka penyusunan rencana harus melibatkan semua pihak yang berkepentingan dan rencana yang dihasilkan harus berkekuatan hukum. Misalnya, rencana dibuat dalam bentuk Keputusan Presiden atau Peraturan Daerah (Perda). Jika rencana tersebut tidak dijadikan sebagai Keputusan Presiden atau Peraturan Daerah yang utuh (tersendiri), maka dalam salah satu pasalnya Rencana tersebut harus tercantum sebagai rujukan dalam pembangunan wilayah atau pengelolaan sumberdaya alam DAS. Karena Rencana merupakan salah satu dasar tahap pelaksanaan pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam DAS, maka rencana yang telah ditetapkan tersebut harus didistribusikan dan disosialisasikan kepada semua pihak yang berkepentingan agar dapat diketahui, dipahami dan kemungkinan adanya penyesuaian sebelum diimplementasikan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. 3.6 Ketidakpastian dalam Perencanaan Pengelolaan DAS Memprakirakan kondisi yang akan datang berdasarkan data dan informasi yang telah dikumpulkan telah menjadi kendala bagi para perencana pengelolaan DAS. Data atau informasi yang akan digunakan untuk menyusun rencana mungkin tidak tersedia sama sekali, atau kalau tersedia, bisa jadi telah kadaluwarsa, tidak lengkap, atau tidak relevan dengan materi perencanaan. Sejumlah ketidakpastian yang berkaitan dengan data dan informasi tampaknya harus dihadapi dalam proses penyusunan rencana pengelolaan DAS. Ketidakpastian umumnya meliputi data iklim, masalah teknis, dan ketidakpastian masalah sosial-ekonomi.

Ketidakteraturan pola iklim telah mengakibatkan ketidakpastian prakiraan iklim untuk masa yang akan datang. Pola curah hujan sangat bervariasi dari tahun ke tahun sehingga seringkali sulit untuk melakukan prakiraan curah hujan secara tepat. Meskipun sulit untuk melakukan prakiraan komponen iklim dengan akurasi yang tinggi, tetapi prakiraan pola iklim yang akan terjadi perlu diantisipasi dan dijadikan pertimbangan dalam menyusun rencana pengelolaan DAS. Hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa penyusunan rencana pengelolaan DAS sebaiknya tidak didasarkan pada keadaan rata-rata karena adanya variabilitas untuk masing- masing lokasi. Ketidakpastian yang bersifat teknis umumnya dijumpai dalam bentuk tidak memadainya pengetahuan tentang hubungan keterkaitan teknis dalam hal aktivitas pengelolaan DAS. Informasi yang akurat tentang dampak jenis vegetasi tertentu terhadap erosi di suatu daerah dengan karakteristik iklim dan tanah tertentu seringkali belum tersedia. Dengan latar belakang tersebut, dalam banyak hal, tim perencana pengelolaan DAS hanya dapat menduga keluaran apa yang akan diperoleh dari pengelolaan yang direncanakan, dan dengan demikian, mereka akan berhadapan dengan ketidakpastian. Apabila dalam masalah teknis saja dijumpai adanya ketidakpastian, maka kadar ketidakpastian dalam masalah sosial-ekonomi tentunya menjadi lebih besar. Data dan informasi yang sering dimanfaatkan untuk perencanaan sosial seperti kekayaan, kesejahteraan, pendapatan, tingkat pendidikan dan lain sebagainya, untuk tempat-tempat tertentu, boleh jadi sulit untuk memperolehnya. Dalam keadaan demikian, prakiraan variabel-variabel sosial untuk waktu yang akan datang akan menghadapi tingkat ketidakpastian yang lebih besar. Kekacauan sosial dapat menciptakan ketidakstabilan sosial dan ekonomi dari suatu masyarakat. Keadaan ini, pada gilirannya, dapat juga mengacaukan arah kebijakan dan pengelolaan sumberdaya untuk masa-masa yang akan datang. Ia juga dapat menciptakan ketidakpastian tentang peraturanperaturan yang berkaitan dengan sistem pemilikan tanah dan beberapa hak lain yang dimiliki oleh masyarakat. Perencanaan pengelolaan DAS, karena umumnya berkaitan dengan antisipasi kejadian jangka panjang, maka ia akan lebih banyak menghadapi ketidakpastian. Untuk mengatasi hal tersebut, berikut ini adalah beberapa strategi untuk menghadapi dan menangani berbagai bentuk ketidakpastian yang muncul dalam perencanaan seperti disarankan oleh Lundgren (1983): 1. Salah satu pendekatan yang relevan digunakan untuk mengatasi keadaan ketidakpastian adalah dengan cara meningkatkan pemahaman terhadap situasi dunia atau lingkungan di sekeliling kita. Strategi yang harus dilaksanakan:

Menunda keputusan sambil menunggu lebih banyak informasi yang dapat dimanfaatkan.

Melakukan analisis sensitivitas (sensitivity analysis). Dengan melakukan pengamatan terhadap pengaruh perubahan asumsi (laju inflasi, discount rate, laju erosisedimentasi) secara sistematis, dapat diketahui dengan lebih baik bagaimana

masalah ketidakpastian tersebut mempengaruhi hasil rencana/prakiraan yang dibuat. Dalam hal ini bagian-bagian kritis yang ada dalam skenario rencana yang dibuat dapat diidentifikasi, untuk kemudian dilakukan penyesuaian seperlunya.

Membuat beberapa skenario (prakiraan) mengenai hal yang diharapkan terjadi pada waktu yang akan datang serta konsekuensi yang dihadapi.

2. Cara lain untuk mengatasi ketidakpastian adalah dengan cara meningkatkan kelenturan (flexibility) pengelolaan dan organisasi sehingga tanggap terhadap adanya perubahan yang tidak terduga sebelumnya dan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Strategi yang dapat dilakukan adalah sebaga i berikut:

Monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara sistematis dan berlanjut. Dengan demikian, implementasi program pengelolaan DAS tidak terlalu terikat kaku pada rencana yang telah dibuat, melainkan tanggap terhadap variasi yang dijumpai di lapangan dan melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan.

Diversifikasi. Dalam menghadapi ketidakpastian tentang masa yang akan datang, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan diversifikasi. Sebagai contoh, daripada merekomendasi hanya satu jenis vegetasi untuk memenuhi satu tujuan pengelolaan, penanaman beberapa jenis vegetasi untuk memenuhi beberapa tujuan adalah lebih baik.

Rencana contingency. Pelaksanaan program di lapangan seringkali menyimpang dari rencana yang telah dibuat. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, perlu dilakukan identifikasi tentang hal-hal (dalam rencana) yang diperkirakan akan mengalami penyimpangan. Kemudian tentukan konsekuensi apa yang dapat terjadi dan tindakan apa yang harus diambil apabila hal tersebut betul-betul terjadi.

3. Strategi lain yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ketidakpastian dalam perencanaan pengelolaan DAS adalah dengan mendorong berkembangnya inovasi terhadap pembangunan. Cara yang dapat ditempuh adalah menempatkan personil yang inovatif terhadap program pembangunan sebagai pelaksana program sehingga mereka diharapkan mampu memotivisir masyarakat yang terkait dengan program pengelolaan tersebut untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan program pengelolaan DAS. Selain masalah tenaga pelaksana, rencana program itu sendiri harus sedemikian lentur sehingga memungkinkan berkembangnya kreativitas dan diversitas dalam pelaksanaan program di lapangan. Beberapa strategi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ketidakpastian dalam merencanakan proyek pengelolaan DAS tersebut di atas hanyalah beberapa cara yang dapat dikemukakan. Masih ada cara lain yang dapat dimanfaatkan. Namun demikian, strategi apapun yang akan digunakan untuk mengatasi masalah ketidakpastian, ada satu tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya, yaitu bagaimana caranya untuk memasukkan atau menggabungkan strategi-strategi tersebut dalam kerangka perencanaan pengelolaan DAS.

IV. PENGORGANISASIAN PENGELOLAAN DAS


4.1 Pihak pihak yang berkepentingan dalam Pengelolaan DAS Selama ini sejumlah kegiatan dan proyek yang berkaitan dengan pengelolaan DAS telah dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Departemen Pertanian, Departemen Dalam Negeri, Badan Pertanahan Nasional, Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan, Departemen Pertambangan dan Energi dan pihakpihak lainnya. Masing-masing instansi mempunyai pendekatan yang berbeda dalam kegiatan pengelolaan DAS baik dalam unit perencanaan maupun implementasinya sehingga dapat dikatakan bahwa pengelolaan DAS merupakan hal yang sangat kompleks baik ditinjau dari banyaknya pihak yang terlibat maupun aspek-aspek yang ada di dalam suatu DAS. Dengan kondisi yang demikian maka dibutuhkan suatu sistem yang dapat menciptakan percepatan dalam pengelolaan DAS secara ideal. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan tugas dan fungsinya, masing-masing lembaga tersebut cenderung bersifat sektoral, dan oleh karenanya, seringkali terjadi tabrakan kepentingan (conflict of interest) antar lembaga yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Untuk menghindari terjadinya tabrakan kepentingan, diperlukan klarifikasi dan identifikasi secara jelas tugas dan wewenang masing-masing lembaga dalam menjalankan fungsinya. Selain masalah tabrakan kepentingan, masalah lain yang umum terjadi dalam pengelolaan sumberdaya yang melibatkan banyak lembaga adalah masalah kerjasama dan koordinasi antar lembaga. Oleh karena itu, pengaturan kelembagaan dan regulasi yang mengatur mekanisme kerja antar lembaga tersebut harus disiapkan dengan matang sehingga dapat menghasilkan pola kerjasama dan koordinasi yang optimal. Menyadari adanya keterbatasan dalam hal kapasitas kelembagaan dan besarnya tingkat kesulitan dalam melaksanakan pengaturan kelembagaan dalam pengelolaan DAS, terutama dalam sistem pengelolaan yang mengandalkan pada pola kerjasama dan koordinasi antar lembaga, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah: a) Melakukan identifikasi dan membuat daftar seluruh lembaga dan pihak yang berkepentingan dalam pelaksanaan pengelolaan DAS termasuk mereka yang diprakirakan akan terkena dampak atas pelaksanaan program pengelolaan DAS. b) Melakukan identifikasi tugas dan wewenang masing-masing lembaga dan pihak pihak yang berkepentingan tersebut. c) Merumuskan bentuk lembaga atau badan pengelola DAS yang sesuai dengan karakteristik biogeofisik dan sosekbud serta letak geografis DAS. 4.2 Wilayah Tanggungjawab Lembaga-Lembaga yang Terkait

Pelaksanaan pengelolaan DAS lazimnya melibatkan lebih dari satu lembaga (pemerintah dan nonpemerintah) pelaksana. Untuk masing-masing lembaga (pemerintah) di dalamnya terbagi lagi menjadi direktorat-direktorat yang mempunyai kewenangannya masing-masing. Oleh karena itu, dalam perencanaan pengelolaan DAS harus secara jelas disebutkan fungsi pokok termasuk kewenangan dan tanggung jawab masing-masing organisasi pelaksana pengelolaan DAS. Secara spesifik, peran masing-masing organisasi/lembaga tersebut dalam implementasi program pengelolaan DAS termasuk kegiatan monitoring dan evaluasi harus secara jelas disebutkan. Penetapan kewenangan bagi masing-masing organisasi/lembaga pengelola DAS tersebut harus didasarkan pada fungsi masing-masing organisasi/lembaga. Hal ini penting untuk diperhatikan karena dalam prakteknya masalah kewenangan antar lembaga ini seringkali tumpang-tindih dan menjadi kendala bagi pengelolaan DAS yang pelaksanaannya banyak menggunakan mekanisme koordinasi antar lembaga. Dalam pengelolaan DAS, ada lembaga tertentu memiliki tanggung jawab khusus untuk suatu wilayah pengelolaan, misalnya pengurusan konservasi tanah dan air di areal hutan menjadi tanggung jawab Departemen Kehutanan dan Perkebunan (c.q. Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah). Konservasi tanah dan air di lahan-lahan milik di lokasi yang berdekatan dengan hutan menjadi tanggung jawab Departemen Dalam Negeri (Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah). Demikian pula, pembagian kewenangan dan tanggung jawab dalam satu atau lebih departemen dapat berbeda-beda, misalnya ada bagian yang menangani irigasi, pengendalian banjir, pembangkit listrik tenaga air (hydropower), perikanan, pariwisata, dan seterusnya. Misalnya, dalam program pengelolaan DAS akan dilaksanakan kegiatan-kegiatan pembuatan jalan, dam pengendali sedimen, pembuatan reservoir untuk perikanan atau pariwisata, saluran irigasi, penghijauan, dan seterusnya. Tampak bahwa kegiatan-kegiatan pengelolaan DAS tersebut di atas akan melibatkan lebih dari satu lembaga/ departemen, dan dengan demikian, juga kewenangan dan tanggung jawabnya. Oleh karenanya, penetapan kewenangan yang didasarkan pada fungsi dari masing-masing lembaga/departemen dan/atau masing-masing direktorat dalam satu departemen menjadi penting. Tidak kalah pentingnya adalah mengupayakan bentuk dan mekanisme koordinasi dan kooperasi yang dapat disepakati oleh seluruh pihak pihak yang berkepentingan, baik pada tingkat lokal, regional, dan nasional. Meskipun disadari bahwa masalah koordinasi dan kooperasi antar lembaga tidak mudah untuk dilaksanakan, butir-butir tersebut di bawah ini diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan aspek koordinasi dan kooperasi antar lembaga: a) Identifikasi seluruh lembaga/organisasi yang akan dipengaruhi dan sekaligus memainkan peran dalam program pengelolaan DAS. b) Identifikasi wilayah kewenangan masing- masing lembaga/ organisasi tersebut pada butir a).

c) Tentukan suatu mekanisme koordinasi dan kooperasi antar lembaga pengelola DAS yang bersifat menyeluruh dari hulu hingga hilir DAS serta mencakup keseluruhan lembaga/organisasi yang terlibat dalam pengelolaan DAS termasuk kewenangan masingmasing lembaga/organisasi berdasarkan fungsinya. d) Nyatakan dengan jelas tanggung jawab (termasuk aspek finansial) masing-masing lembaga/organisasi terhadap masing-masing komponen program pengelolaan DAS. 4.3 Alternatif Bentuk Pengelola DAS Bentuk lembaga pengelola DAS dalam arti mempunyai tugas operasional dapat dipilih dari tiga bentuk lembaga sebagai berikut: 1. Badan Koordinasi Sebagai koordinator adalah instansi yang berwenang mengkoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan DAS. Pelaksana operasional dan pemeliharaan dilaksanakan oleh instansi fungsional terkait. 2. Badan Otorita Badan ini dibentuk oleh pemerintah sebagai pelaksana dengan tugas mengurus dan mengusahakan pemberdayaan Daerah Aliran Sungai dengan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Dewan Air (Komisi DAS). 3. Badan Usaha Badan Usaha (dalam bentuk BUMN atau BUMD) dibentuk oleh pemerintah atau Pemerintah Daerah yang ditugasi mengusahakan DAS sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Dewan Air (Komisi DAS). 4.4 Komisi DAS Kebijakan pengelolaan DAS yang meliputi aspek planning programming controling budgeting dilaksanakan oleh suatu kelompok kerja yang berbentuk Komisi DAS di dalam struktur Dewan Sumberdaya Air (RUU Sumberdaya Air). a. Tingkatan Komisi DAS. Komisi DAS dibentuk dalam beberapa tingkatan sebagai berikut: 1. Lingkup Nasional (Komisi DAS Nasional) Berfungsi menetapkan atau merumuskan? Kebijakan, Strategi dan Program pengelolaan DAS pada tingkat Nasional.

2. Lingkup Regional (Komisi DAS Propinsi) Berfungsi menetapkan atau merumuskan? Kebijakan, Strategi dan Program pengelolaan DAS pada tingkat Regional. 3. Lingkup Lokal (Komisi DAS Daerah) Berfungsi menetapkan atau merumuskan? Kebijakan, Strategi, Program, Pelaksanaan dan Pembiayaan pengelolaan DAS pada tingkat Kabupaten/Kota. b. Keanggotaan Komisi DAS. Keanggotaan Komisi DAS tersebut terdiri atas wakil seluruh pihak pihak yang berkepentingan, yaitu: 1. Komisi DAS Nasional: Wakil Departemen dan Lembaga Tinggi Negara terkait, Pakar/Pemerhati dan wakil pemanfaat untuk tingkat nasional. 2. Komisi DAS Regional: Gubernur atau pejabat yang ditunjuk (sebagai Ketua), instansi yang mengurusi bidangbidang pengairan, kehutanan, pertanian dan pengendalian dampak lingkungan, instansi yang mengurusi perencanaan pembangunan (sebagai sekretaris), dengan anggota: Bupati/Walikota terkait, wakil pemanfaat (sesuai sektor masing-masing), pemuka masyarakat, pakar/pemerhati (dari Perguruan Tinggi) dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang relevan di tingkat DAS yang bersangkutan. 3. Komisi DAS Lokal: Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk (sebagai Ketua), instansi yang mengurusi bidangbidang pengairan, kehutanan, pertanian dan pengendalian dampak lingkungan, instansi yang mengurusi perencanaan pembangunan daerah Kabupaten/Kota (sebagai Sekretaris), dengan anggota: wakil pemanfaat (sesuai sektor masing-masing), pemuka masyarakat, pakar/pemerhati (dari Perguruan Tinggi) dan Lembaga Swadaya Masyarakat ya ng relevan di tingkat DAS. 4.5 Koordinasi dalam Pengelolaan DAS Telah disebutkan di muka bahwa argumentasi perlunya pengelolaan terpadu DAS adalah karena pengelolaan DAS mempersyaratkan pendekatan ekosistem. Pendekatan ekosistem adalah kompleks karena melibatkan multi-sumberdaya (alam dan buatan), multi-kelembagaan, multipihak yang berkepentingan, dan bersifat lintas batas (administratif dan ekosistem). Dalam konteks Indonesia, pola pengelolaan DAS yang akan diterapkan masih bertumpu pada mekanisme koordinasi dan kooperasi. Oleh karenanya, koordinasi dalam pengelolaan DAS menjadi elemen penting untuk terlaksananya pengelolaan DAS secara optimal. Pada bagian ini secara ringkas akan dikemukakan prinsip-prinsip pengembangan sistem koordinasi pengelolaan terpadu DAS.

Sistem koordinasi pengelolaan DAS sebelum taun 2001 diatur dalam Keppres no 9 tahun 1999 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Kebijaksanaan Pendayagunaan Sungai dan Pemeliharaan Kelestarian Daerah aliran Sungai. Akan tetapi Keppres tersebut diganti dengan Kepres No.123 Tahun 2001 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengelolaan Sunmber Daya Air. Dalam Keppres 123 tersebut ditentukan bahwa Ketua Tim Koordinasi adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Wakil Ketua adalah Menteri Negara Perncnaan Pembangunan Nasional dan Ketua Harian adalah Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Sedangkan anggotanya adalah Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Menteri Perhubungan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Kesehatan, Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Tim Koordinasi Sumber Daya Air bertugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan nasional sumberdya air dan berbagai perangkat kebijakan lain yang diperlukan dalam bidang sumberdaya air. Untuk melaksanakan tugas tersebut Tim Koordinasi mempunyai fungsi : a. Melakukan koordinasi perumusan kebijakan pengelolaan sumbedaya air yang meliputi konservasi, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak; b. Melakukan konsultasi internal dan eksternal dengan semua pihak baik pemerintah maupun nonpemerintah dalam rangka keterpaduan kebijakan dan pencegahan konflik antar sektor dan antar wilayah dalam pengelolaan sumberdaya air; c. Memberikan pertimbangan kepada presiden mengenai pengelolaan sumberdaya air; d. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan pengelolaan sumberdaya air; e. Menyampaikan laporan perkembangan penyelenggaraan kebijakan pengelolaan sumberdaya air kepada Presiden. Penyelenggaraan tugas dan fungsi Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air sehari-hari dilaksanakan oleh Ketua Harian dibantu oleh Sekretariat Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air yang diketuai oleh Sekretaris I Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air yaitu Deputi Bidang Produksi, Perdagangan dan Prasarana, Bappenas. Sekretariat Tim koordinasi ini terdiri dari Tim Pengarah, Tim Pelaksana dan Tim Kerja yang keanggotaannya terdiri dari unsur-unsur pemerintah dan non-pemerintah. Fungsi koordina si adalah proses pengendalian berbagai kegiatan, kebijakan, atau keputusan berbagai organisasi/lembaga sehingga tercapai keselarasan dalam pencapaian tujuan-tujuan dan sasaransasaran umum yang telah disepakati bersama. Dengan kata lain, pengertian koordinasi mencakup dua aspek penting, yaitu: (a) koordinasi kebijakan dan (b) koordinasi kegiatan atau program.

Koordinasi kebijakan secara umum menyerupai koordinasi dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Telah disinggung di muka bahwa pengelolaan DAS melibatkan beberapa departemen sektoral yang masing-masing departemen membuat kebijakan pengelolaan sumberdaya sesuai dengan kepentingan sektornya masing-masing. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya tumpang-tindih kebijakan dan bahkan tabrakan kepent ingan antar departemen sektoral. Untuk mencegah dan/atau menyelesaikan permasalahan tersebut perlu dilakukan koordinasi. Dalam hal ini, koordinasi dalam perumusan kebijakan dapat dibedakan menjadi: a) Koordinasi kebijakan preventif, yaitu pencegahan sedini mungkin kemungkinan terjadinya tabrakan kepentingan di antara berbagai instansi yang terkait. b) Koordinasi strategis, lebih diarahkan kepada upaya penyelarasan antara suatu kebijakan tertentu dengan kepentingan strategis pencapaian tujuan umum yang telah disepakati bersama. Koordinasi program secara umum lebih berkaitan dengan koordinasi kegiatan administrasi. Secara khusus koordinasi program dibedakan menjadi: a) Koordinasi administrasi prosedural, pada umumnya diarahkan untuk menciptakan keselarasan berbagai prosedur dan metode administratif. Tujuannya adalah untuk menciptakan efisiensi administrasi dan konsistensi dalam mencapai tujuan akhir yang telah disepakati bersama. b) Koordinasi adminstrasi substansial, pada umumnya diarahkan untuk menciptakan keselarasan kerja dan kegiatan (sinergi), bagi setiap unit organisasi termasuk individual dalam rangka tercapainya efisiensi, efektivitas, dan produktivitas pelaksanaan kebijakan demi tercapainya tujuan akhir yang telah disepakati bersama.

Mengacu pada Kepres No. 123 Tahun 2001 dan Rancangan Undang-Undang Sumberdaya Air (sedang disiapkan), maka koordinasi pengelolaan DAS untuk tingkat nasional adalah bagian dari fungsi dan tugas pokok Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air karena DAS dikategorikan sebagai bagian sumber air selain Waduk, Rawa, dan badan sungai itu sendiri. Dengan fungsi dan tugas serta struktur tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa Tim Koordinasi beserta pelaksananya di lapangan dapat klasifikasikan sebagai pelaksana dalam pelaksanaan pengelolaan terpadu DAS. Sedangkan menurut Rancangan Undang-Undang Sumberdaya Air, Komisi DAS Nasional secara struktural berada di bawah koordinasi Dewan Nasional Sumberdaya Air. Komisi DAS yang terdiri atas para pihak pihak yang berkepentingan merupakan gabungan dari wakil masyarakat, pakar (universitas), masyarakat industri/bisnis, anggota parlemen bersifat sebagai pengguna/pemanfaat sumberdaya air.

Dengan anggota dan kedudukan tersebut di atas, maka Komisi DAS dapat dikategorikan sebagai pengawas ?. Mekanisme kerja antara Tim Koordinasi dan Komisi DAS bersifat kemitraan dimana dalam proses penyusunan kebijakan, kriteria/standar, pedoman, Tim Koordinasi akan mendiskusikannya dengan Komisi DAS Nasional. Dengan demikian, hasil penyusunan kebijakan, pedoman, kriteria/standar dapat diterima semua pihak yang berkaitan dengan pengelolaan DAS. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kebijakan pengelolaan sumberdaya air ditingkat propinsi, Gubernur dapat membentuk Tim Koordinasi Prpinsi yang akan mengkoordinasikan hasil penyusunan kebijakan, kriteria/standar, dan pedoman yang telah dihasilkan Tim Koordinasi tingkat Nasional kepada dinas-dinas terkait di tingkat propinsi. Selain itu, tugas ketua Tim Koordinasi Propinsi adalah mengkoordinasikan mekanisme kerja pengelolaan DAS antar kabupaten/kota dalam DAS lintas kabupaten. Dalam hal ini, sesuai dengan yang diatur dalam RUU Sumberdaya Air, Gubernur dalam menjalankan tugas koordinasinya terhadap dinas-dinas di lingkungan jurisdiksinya akan bekerja sama dengan Komisi DAS Regional yang lebih berperan sebagai pengawas dari kinerja Tim Koordinasi Regional Pada tingkat kabupaten/kota, Bupati/Walikota dapat membentuk Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air Kabupaten, Bupati bisa sebagai koordinator bagi dinas-dinas terkait di tingkat kabupaten/kota dalam DAS satu kabupaten/kota. Pada tingkat ini, kinerja Tim Koordinasi Kabupaten akan dipantau oleh Komisi DAS Lokal. Hubungan kerja Tim Koordiansi Pengelolaan Sumberdaya Air Nasinal dengan Tim Koordiansi tingkat Daerah bersifat konsultatif dan koordinatif. 4.6 Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan DAS Secara sederhana partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai upaya terencana untuk melibatkan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan. Partisipasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses dimana pihak yang akan memperoleh dampak (positif dan/atau negatif) ikut mempengaruhi arah dan pelaksanaan kegiatan, tidak hanya menerima hasilnya. a) Bentuk Partisipasi Bentuk partisipasi masyarakat dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu partisipasi dalam: 1. Tahap pembuatan keputusan. Dalam hal ini, sejak awal masyarakat telah dilibatkan dalam proses perencanaan dan perancangan kegiatan serta dalam pengambilan keputusan atas rencana yang akan dilaksanakan.

2. Tahap implementasi. Keterlibatan masyarakat juga diupayakan pada tahap pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, masyarakat dapat mengontrol bagaimana kegiatan dilaksanakan di lapangan. 3. Tahap evaluasi. Evaluasi secara periodik umumnya dilaksanakan pada tahap pelaksanaan dan pada akhir pelaksanaan kegiatan. 4. Partisipasi untuk memperoleh manfaat suatu kegiatan. b). Tingkatan partisipasi masyarakat Ditinjau dari tingkatannya, partisipasi masyarakat dapat dibedakan sebagai berikut: Tingkatan Partisipasi Lingkup Keterlibatan Derajat Pembagian Wewenang 1. Manipulasi Tercatat sebagai anggota Wewenang mutlak pada initiator kebijakan 2. Menginformasikan Hak dan pilihan masyarakat diidentifikasi Wewenang dominan pada initiator kebijakan/program 3. Konsultasi Pendapat masyarakat didengar, tetapi belum tentu ditindaklanjuti Wewenang dominan pada initiator kebijakan/program 4. Kemitraan Saran/pendapat masyarakat dinegosiasikan Wewenang terdistribusikan secara proporsional di antara pihak pihak yang berkepentingan 5. Delegasi wewenang Masyarakat diberi wewenang mengelola sebagian atau seluruh bagian program Wewenang ada pada masyarakat 6. Kontrol masyarakat dominan dalam merancang dan memutuskan program Wewenang mutlak pada masyarakat. Dengan adanya tingkatan-tingkatan partisipasi masyarakat seperti tersebut pada tabel di atas, maka perlu diupayakan agar partisipasi masyarakat tidak hanya sekedar berbentuk keterlibatan semu yang dikategorikan sebagai tingkat partisipasi manipulasi, dimana pada dasarnya tidak ada partisipasi masyarakat, melainkan diupayakan untuk tercapainya tingkat partisipasi dimana masyarakat memiliki wewenang yang cukup dalam kemitraan antara masyarakat dan pemerintah/non-pemerintah sebagai initiator kebijakan/program. Untuk mencapai tingkat partisipasi yang tinggi, berikut ini adalah beberapa elemen kunci yang perlu dipertimbangkan: 1. Kompatibilitas yang didasarkan atas kepercayaan dan saling menghargai di antara partisipan. 2. Manfaat bagi seluruh partisipan yang terlibat.

3. Wewenang dan keterwakilan yang sederajat. Tingkat partisipasi akan melemah apabila ada sebagian pihak yang terlalu mendominasi, sementara sebagian lainnya tidak mempunyai wewenang sama sekali. 4. Mekanisme komunikasi yang baik harus dibangun secara internal di antara partisipan dan dengan pihak luar yang relevan. 5. Adaptif terhadap berbagai perubahan yang mungkin terjadi. 6. Integritas, kesabaran dan ketekunan harus diciptakan di antara partisipan. c) Metode Partisipasi Pengelolaan DAS dengan pendekatan partisipatif akan melibatkan beberapa pihak yang berkepentingan dalam perencanaan maupun implementasinya, diantaranya adalah masyarakat. Salah satu metode pendekatan partisipatif adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), metoda yang dirancang untuk memungkinkan masyarakat/ responden melakukan penelitian atas persoalan yang dihadapinya untuk kemudian memecahkan masalah menurut persepsi dan cara mereka sendiri dengan atau tanpa bantuan pihak lain.

BAB V IMPLEMENTASI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Pengelolaan Terpadu DAS pada dasarnya merupakan pengelolaan partisipasi berbagai sektor/sub sektor yang berkepentigan dalam pemanfaatan sumberdaya alam pada suatu DAS, sehingga di antara mereka saling mempercayai, ada keterbukaan, mempunyai rasa tanggung jawab dan saling mempunyai ketergantungan (inter-dependency). Demikian pula dengan biaya kegiatan pengelolaan DAS, selayaknya tidak lagi seluruhnya dibebankan kepada pemerintah tetapi harus ditanggung oleh semua pihak yang memanfaatkan dan semua yang berkepentingan dengan kelestariannya. Untuk dapat menjamin kelestarian DAS, pelaksanaan pengelolaan DAS harus mengikuti prinsip-prinsip dasar hidrologi. Dalam sistem ekologi DAS, komponen masukan utama terdiri atas curah hujan sedang komponen keluaran terdiri atas debit aliran dan muatan sedimen, termasuk unsur hara dan bahan pencemar di dalamnya. DAS yang terdiri atas komponen-komponen vegetasi, tanah, topografi, air/sungai, dan manusia berfungsi sebagai prosesor. Berikut ini adalah kegiatan yang relevan dengan pengelolaan DAS untuk menjamin kelestarian serta adanya peran para pengelola yang terlibat. 5.1 Pengelolaan Daerah Tangkapan Air (catchment area) Sesuai dengan rencana makro, rencana kerja jangka menengah dan tahunan konservasi Daerah Tangkapan Air (DTA/catchment area), Dinas/instansi terkait dan masyarakat, sebagai pelaksana pengelolaan sumberdaya alam di DAS melaksanakan kegiatan pemanfaatan dan konservasi DTA.

Bentuk kegiatan pemanfaatan dan konservasi sumberdaya alam di DTA diutamakan untuk meningkatkan produktivitas lahan dalam memenuhi kebutuhan barang dan jasa bagi masyarakat dan sekaligus memelihara kelestarian ekosistem DAS. Kegiatan tersebut dilakukan melalui tataguna lahan (pengaturan tataruang), penggunaan lahansesui dengan peruntukannya (kesesuaian lahan, rehabilitasi hutan dan lahan yang telah rusak, penerapan teknik-teknik konservasi tanah, pembangunan struktur untuk pengendalian daya rusak air, erosi dan longsor. Dilakukan pula kegiatan monitoring kondisi daerah tangkapan air dan evaluasi terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan DAS. 5.2 Pengelolaan Sumberdaya Air 5.2.1 Manajemen Kuantitas Air (Penyediaan Air) a. Pembangunan Sumberdaya Air Menyiapkan rencana induk pengembangan sumberdaya air termasuk di dalamnya neraca air, yang melibatkan berbagai instansi terkait serta melaksanakan pembangunan prasarana pengairan (sesuai dengan penugasan yang diberikan) dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya air. b. Prediksi Kekeringan Melakukan pemantauan dan pengolahan data hidrologis, membuat prediksi kemungkinan terjadinya kekeringan (mungkin menggunakan fasilitas telemetri dan bantuan simulasi komputer yang dihubungkan dengan basis data nasional dan internasional). c. Penanggulangan Kekeringan Secara aktif bersama Dinas/Instansi terkait dalam Satkorlak-PBA melakukan upaya penanggulangan pada saat terjadi kekeringan yang tidak dapat terelakkan. d. Perijinan Penggunaan Air Memberikan rekomendasi teknis atas penerbitan ijin penggunaan air dengan memperhatikan optimasi manfaat sumber daya yang tersedia. e. Alokasi Air Menyusun konsep pola operasi waduk/alokasi air untuk mendapatkan optimasi pengalokasian air. f. Distribusi Air

Melakukan pengendalian distribusi air bersama Dinas/Instansi terkait dengan bantuan telemetri untuk melaksanakan ketetapan alokasi air. 5.2.2 Manajemen Kualitas Air a. Perencanaan Pengendalian Kualitas Air Bersama Dinas/Instansi terkait menyiapkan rencana induk dan program kerja jangka menengah dan tahunan pengendalian pencemaran air dan peningkatan kualitas air. b. Pemantauan dan Pengendalian Kualitas Air Berdasarkan rencana induk, melakukan pemantauan dan pengendalian kualitas air yang melibatkan berbagai instansi terkait. Pemantauan dilakukan secara periodik (baik kualitas air sungai maupun buangan limbah cair yang dominan) dan melaksanakan pengujian laboratorium serta evaluasi terhadap hasil uji tersebut. Rekomendasi diberikan kepada Pemerintah Daerah (Gubernur maupun Bapedalda) dalam upaya pengendalian pencemaran air, penegakan aturan dan peningkatan kualitas air sungai. c. Penyediaan Debit Pemeliharaan Sungai Berdasarkan pola operasi waduk dan/atau kondisi lapangan, dapat disediakan sejumlah debit pemeliharaan sungai setelah mendapatkan pengesahan alokasi dari Dewan DAS Propinsi. d. Peningkatan Daya Dukung Sungai Pelaksanaan peningkatan daya dukung sungai dengan melaksanakan upaya pengendalian di instream (penggelontoran, penyediaan debit pemeliharaan, peningkatan kemampuan asimilasi sungai) dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengendalian di off-stream (pada sumber pencemar) melalui instrumen hukum maupun instrumen ekonomi di samping melaksanakan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan kontrol sosial dari masyarakat. e. Bersama dengan instansi/dinas terkait menyelenggarakan koordinasi penyiapan program dan implementasi pengendalian pencemaran dan limbah domestik, industri dan pertanian. 5.3 Pemeliharaan Prasarana Pengairan a. Pemeliharaan Preventif Melakukan pemeliharaan rutin, berkala dan perbaikan kecil untuk mencegah terjadinya kerusakan prasarana pengairan yang lebih parah.

b. Pemeliharaan Korektif Melakukan perbaikan besar, rehabilitasi dan reaktifikasi dalam rangka mengembalikan atau meningkatkan fungsi prasarana pengairan. c. Pemeliharaan Darurat Melakukan perbaikan sementara yang harus dilakukan secepatnya karena kondisi mendesak/darurat (karena kerusakan banjir dsb- nya). d. Pengamatan Instrumen Keamanan Bendungan Melakukan pengamatan instrumen keamanan bendungan (phreatic line, pore pressure dan lainlain) serta menganalisis hasil pengamatan tersebut untuk mengetahui adanya penurunan (settlement), rembesan (seepage) atau perubahan ragawi lainnya terhadap bendungan.

5.3 Pengendalian Banjir a. Pemantauan dan Prediksi Banjir Melakukan pemantauan dan pengolahan data hidrologis, membuat prediksi iklim, cuaca dan banjir dengan menggunakan fasilitas telemetri dan bantuan simulasi komputer yang dihubungkan dengan basis data nasional dan internasional. b. Pengaturan (distribusi) dan Pencegahan Banjir Menyiapkan pedoman siaga banjir yang berlaku sebagai SOP (Standard Operation Procedure) pengendalian banjir yang dipergunakan oleh seluruh instansi terkait. Pengendalian banjir dilakukan melalui pengaturan operasi waduk untuk menampung debit banjir, dan pengaturan bukaan pintu air guna mendistribusikan banjir sehingga dapat dikurangi/dihindari dari bencana akibat banjir. c. Penanggulangan Banjir Berpartisipasi secara aktif bersama Dinas/Instansi terkait dalam Satkorlak-PBA melakukan upaya penanggulangan pada saat terjadi banjir yang tidak dapat terelakkan. d. Perbaikan Kerusakan Akibat Banjir Bersama instansi terkait melakukan perbaikan atas kerusakan akibat terjadinya bencana banjir yang tidak terelakkan.

5.4 Pengelolaan Lingkungan Sungai a. Perencanaan Peruntukan Lahan Daerah Sempadan Sungai Bersama dinas/instansi terkait menyusun penetapan garis sempadan dan rencana peruntukan lahan daerah sempadan sungai sesuai dengan Rencana detail Tata Ruang Daerah dalam rangka pengamatan fungsi sungai. b. Pengendalian Penggunaan Lahan Sempadan Sungai Melakukan pengendalian dan penertiban penggunaan lahan di daerah sempadan sungai bersama dinas/instansi terkait. c. Pelestarian biota air Mengupayakan peningkatan kondisi sungai yang kondusif untuk pertumbuhan biota air. d. Pengembangan pariwisata, olah raga, dan trasnportasi air Mengembangkan pemanfaatan sungai dan waduk untuk keperluan wisata, olah raga, dan transportasi air bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. 5.6 Pemberdayaan Masyarakat a. Program penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan perdesaan, sehingga pendapatan petani meningkat. b. Program pengembangan pertanian konservasi, sehingga dapat berfungsi produksi dan pelestarian sumber daya tanah dan air. c. Penyuluhan dan transfer teknologi untuk menunjang program pertanian konservasi dan peningkatan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pengelolaan DAS. d. Pengembangan berbagai bentuk insentif (rangsangan) baik insentif langsung maupun tidak langsung, dalam bentuk bantuan teknis, pinjaman, yang dapat memacu peningkatan produksi pertanian dan usaha konservasi tanah dan air. e. Upaya mengembangkan kemandirian dan memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah, sehingga mampu memperluas keberdayaan masyarakat dan berkembangnya ekonomi rakyat. f. Memonitor dan evaluasi terhadap perkembangan sosial ekonomi masyarakat, serta tingkat kesadaran masyarakat dalam ikut berperan serta dalam pengelolaan DAS.

BAB VI MONITORING DAN EVALUASI


Selain sebagai sistem ekologi yang bersifat kompleks, DAS juga dapat dianggap sebagai sistem hidrologi. Sebagai suatu sistem hidrologi, maka setiap ada masukan (input) ke dalam sistem tersebut dapat dievaluasi proses yang telah dan sedang berlangsung dengan melihat keluaran (output) dari sistem. Dalam sistem hidrologi DAS, komponen masukan terdiri atas curah hujan sedang komponen keluaran terdiri atas debit aliran dan muatan sedimen, termasuk unsur hara dan bahan pencemar di dalamnya. DAS yang terdiri atas komponen-komponen vegetasi, tanah, topografi, air/sungai, dan manusia dalam hal ini berlaku sebagai prosesor. Ekosistem DAS, terutama DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS. Perlindungan ini, antara lain, dari segi fungsi tata air. Aktivitas perubahan tataguna lahan dan/atau cara bercocok tanam yang dilaksanakan di daerah hulu dapat memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air dan transpor sedimen serta material terlarut lainnya. Oleh adanya bentuk keterkaitan daerah hulu- hilir seperti tersebut di atas, maka kondisi biofisik dan sosek suatu DAS dapat dimanfaatkan sebagai variabel monitoring dan evaluasi pengelolaan sumberdaya air. Lebih spesifik, hubungan antara indikator masukan (a.l., curah hujan) dan indikator keluaran (a.l., debit aliran, muatan sedimen, bahan pencemar) dari suatu DAS dapat dimanfaatkan untuk analisis dampak suatu aktivitas pembangunan terhadap lingkungan (hidrologi) di lokasi berlangsungnya aktivitas pembangunan (on-site) dan, terutama pengaruhnya di daerah hilir (off-site). Monitoring didefinisikan sebagai aktivitas pengamatan yang dilakukan secara terus-menerus atau secara periodik terhadap pelaksanaan salah satu atau beberapa program pengelolaan DAS untuk menjamin bahwa rencana-rencana kegiatan yang diusulkan, jadwal kegiatan, hasil-hasil yang diinginkan dan kegiatan-kegiatan lain yang diperlukan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Karena maksud dilakukannya monitoring adalah untuk memperoleh kinerja pelaksanaan kegiatan secara efektif dan efisien, dalam hal ini merupakan bagian dari keseluruhan sistem manajemen informasi. Sedangkan evaluasi didefinisikan sebagai suatu proses yang berusaha untuk menentukan relevansi, efektivitas dan dampak dari aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dengan demikian, evaluasi kegiatan/proyek pengelolaan DAS merupakan suatu proses pengorganisasian dan alat manajemen yang berorientasi pada aktivitas-aktivitas proyek yang perlu dilaksanakan untuk memperbaiki kinerja kegiatan-kegiatan proyek yang sedang berjalan serta memperbaiki perencanaan dan proses pengambilan keputusan pada masa-masa yang akan datang. Untuk memperbaiki kinerja proyek pengelolaan DAS, komponen-komponen monitoring dan evaluasi perlu diintegrasikan dalam rencana pengelolaan DAS karena dengan cara ini kelompok sasaran (target group) dalam proyek diharapkan akan memperoleh keuntungan yang lebih besar pada waktu yang telah ditentukan. Dengan kata lain, untuk memperoleh hasil monitoring dan evalusi seperti yang diharapkan, maka kegiatan-kegiatan monitoring dan evaluasi harus dapat memenuhi persyaratanpersyaratan sebagai berikut: (1) tepat waktu, (2) efektif dalam pembiayaan termasuk keterlanjutan

dana, (3) mampu mencakup wilayah dan komponen kegiatan proyek secara maksimum, (4) kesalahan dalam prosedur monitoring dan evaluasi diusahakan seminimal mungkin, dan (5) mengurangi segala bentuk subyektivitas dalam melaksanakan monitoring dan evaluasi. Untuk memperoleh data dan informasi yang dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai perkembangan keragaan DAS, maka diperlukan kegiatan monitoring dan evaluasi DAS, yang ditekankan pada aspek tata air, perubahan penggunaan lahan dan sosial ekonomi. 6.1 Tujuan Monitoring dan Evaluasi Tujuan utama monitoring dan evaluasi adalah memperoleh data dan informasi kondisi sumberdaya DAS yang dapat dimanfaatkan dalam penetuan kebijakan, perencanaan dan pelaksanaan program pengelolaan DAS, terutama pola pengelolaan yang bersifat holistik/integratif mencakup wilayah huluhilir DAS. Program monitoring dan evaluasi juga dianggap penting mengingat bahwa masih banyak pengambil keputusan dalam pengelolaan DAS yang belum menyadari bahwa solusi bagi kebanyakan permasalahan DAS adalah dengan memanfaatkan hasil monitoring dan evaluasi dalam sistem perencanaan pengelolaan DAS. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa pada banyak kasus, kebijakan pengelolaan DAS termasuk penyusunan prioritas penanganan masalah yang timbul sebagai akibat aktivitas pengelolaan belum banyak memanfaatkan data yang berasal dari program monitoring dan evaluasi. Apabila dalam rencana program pengelolaan DAS telah disertai dengan program monitoring dan evaluasi, seringkali data/informasi yang dikumpulkan tidak secara langsung berkaitan atau menjawab pertanyaanpertanyaan yang relevan dengan kebijakan pengelolaan yang telah dan akan dirumuskan. Oleh karena itu, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi termasuk sistem manajemen data. 6.2 Monitoring dan Evaluasi Penggunaan Lahan Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan penggunaan lahan pada suatu DAS/Sub-DAS. Data yang dikumpulkan dalam monitoring penggunaan lahan adalah luas masing-masing jenis penggunaan dan penutupan lahan. Tujuan monitoring penggunaan lahan adalah untuk mengetahui perubahan pemanfaatan lahan dan perubahan luas masing-masing jenis penggunaan dan penutupan lahan. Evaluasi penggunaaan lahan terutama untuk melihat hubungannya dengan dampak terhadap erosi, sedimentasi, produktivitas lahan dan sosial ekonomi masyarakat. 6.3 Monitoring dan Evaluasi Tata Air Monitoring tata air salah satunya dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan kuantitas, kualitas dan kontinuitas aliran air dari DAS/Sub-DAS bersangkutan setelah dilaksanakan kegiatan atau program-program pengelolaan DAS. Data yang dikumpulkan, antara la in:

a) Data curah hujan; diperoleh dari stasiun pencatat hujan yang ada di wilayah kerja. b) Data besarnya aliran air sungai (debit sungai) diperoleh dari outlet DAS/Sub DAS. c) Data kualitas air terutama kandungan lumpur terlarut (suspended sediment). Evaluasi tata air didasarkan pada hasil analisis terhadap debit sungai maksimum dan minimum hingga dapat diketahui nilai koefisien rejim sungai (KRS)-nya, hasil perhitungan muatan sedimen sungai sehingga dapat dipakai untuk memperkirakan erosi yang terjadi, membandingkan antara debit sungai dengan curah hujan, sehingga dapat diketahui perubahan koefisien run-off dari tahun ke tahun. 6.4 Monitoring dan Evaluasi Sosial-Ekonomi Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh dan hubungan timbal balik antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan kondisi sumberdaya alam (tanah dan air) di dalam DAS. Data yang dikumpulkan dalam monitoring sosial ekonomi mencakup kependudukan dan aspek sosial ekonomi seperti pendapatan, perilaku, pendidikan, persepsi, dan mata pencaharian. Sasaran yang ingin dicapai adalah mengetahui perubahan kondisi sosial ekonomi sebelum ada program pengelolaan DAS dan setelah adanya kegiatan- kegiatan pengelolaan sumberdaya alam seperti rehabilitasi hutan dan lahan baik secara vegetativ maupun secara sipil teknis. 6.5 Evaluasi DAS Kegiatan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan ataupun kegagalan dan aktivitas pengelolaan DAS baik dari aspek fisik, sosial ekonomi, maupun kelembagaan. Tujuan evaluasi DAS untuk menilai tingkat kinerja dan keragaan (performance) pengelolaan DAS. Tolok ukur yang dipakai untuk penilaian adalah perubahan yang terjadi pada aspek-aspek tersebut, sejak saat perencanaan dan setelah implementasi, yang antara lain meliputi : a) Perubahan karakteristik hidrologi DAS, seperti debit rata-rata, debit puncak, maksimum dan minimum, koefisien limpasan, produksi dan kualitas air, sedimen terangkut yang keluar dari DAS. b) Perubahan tataguna lahan yang mencakup perubahan pemanfaatan lahan, dari segi produksinya dan juga tingkat konservasinya. c) Perubahan sosial ekonomi masyarakat misalnya pendapatan dan persepsi terhadap pengelolaan/konservasi sumberdaya alam tanah dan air dan partisipasi masyarakat terhadap usahausaha pengelolaan DAS.

BAB VII KRITERIA DAN INDIKATOR PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI


Kriteria pengelolaan terpadu Daerah Aliran Sungai adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian tingkat keberhasilan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian dalam optimalisasi pemanfaatan sumberdaya dalam DAS yang berkelanjutan. Indikator pengelolaan DAS yang berkelanjutan adalah alat pemantau yang dapat memberikan petunjuk untuk mengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan pengelolaannya. 7.1 Kriteria dan Indikator Kinerja DAS Dalam pedoman pengelolaan DAS, kriteria dan indikator kinerja DAS perlu ditentukan karena keberhasilan maupun kegagalan hasil program pengelolaan DAS dapat dimonitoring dan dievaluasi melalui kriteria dan indikator yang ditentukan khusus untuk maksud tersebut. Perlu ditekankan bahwa kriteria dan indikator yang diusulkan seharusnya bersifat sederhana dan cukup praktis untuk dilaksanakan, terukur, dan mudah difahami terutama oleh para pengelola DAS dan pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap program pengelolaan DAS. Tabel 7.1 menunjukkan kriteria dan indikator untuk menentukan kinerja DAS. Penetapan kriteria dan indikator kinerja DAS diupayakan agar relevan dengan tujuan penetapan kriteria dan indikator dan diharapkan mampu menentukan bahwa program pengelolaan DAS dianggap berhasil atau kurang/tidak berhasil. Dengan kata lain, status atau kesehatan suatu DAS dapat ditentukan dengan menggunakan kriteria-kriteria kondisi tata penggunaan lahan, sosialekonomi, dan kriteria kelembagaan. Tabel 7.1. menunjukkan kriteria dan indikator yang digunakan untuk menentukan status kesehatan DAS termasuk parameter yang digunakan. Pada Tabel 7.1. untuk menentukan kinerja suatu DAS dari aspek tata air, maka diperlukan indikatorindikator: debit aliran, kandungan sedimen dan bahan pencemar lainnya, dan nisbah hantar sedimen (Sediment Delivery Ratio). Untuk masing- masing indikator tersebut di atas, ditentukan parameternya, misalnya parameter untuk debit aliran sungai adalah data serial debit aliran sungai. Dengan cara yang sama, kinerja suatu DAS ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria penggunaan lahan, kriteria sosial-ekonomi, dan kriteria kelembagaan. 7.2 Kriteria Pengelolaan DAS Pengelolaa DAS yang berkelanjutan mempersyaratkan dipenuhinya criteria dan indicator untuk setiap komponen/aktivitas pengelolaan DAS yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, implementasi, da monitoring dan evaluasi (monev). Untuk masing-masing komponen pengelolaa DAS tersebut diatas, criteria yang digunakan dan dianggap relevan untuk menentukan tercapainya pengelolaan DAS yang berkelanjutan adalah : a Ekosistem b Kelembagaan

c Teknologi d Pendanaan 7.2.1. Aktivitas Perencanaan Kriteria untuk perencanaan yang disusun dalam rangka pengelolaan terpadu DAS terdiri dari : a) Telah digunakannya pendekatan ekosistem, artinya perencanaan bersifat menyeluruh dan mencakup sub komponen dalam ekosistem DAS yang dikelola. b) Telah memadukan perencanaan pengembangan hulu dan hilir, pengembangan sumberdaya air dan konservasi DAS. c) Perencanaan didasarkan pada optimalisasi teknologi, organisasi dan sumberdaya yang potensial termasuk pendanaannya. d) Telah mempertimbangkan daya dukung kelembagaan dan kebijakan baik nasional, regional maupun daerah/lokal.

Tabel 7.1 Kriteria Dan Indikator Kesehatan DAS

7.2.2 Aktivitas Pengorganisasian Pengorganisasian dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan pengelolaan DAS lebih efektif dan efisien, dalam arti masing-masing pihak yang terlibat dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan bertanggungjawab. Untuk itu diperlukan kriteria manajemennya, yaitu : a) Dikembangkan pengorganisasian yang melibatkan seluruh stakeholder. b) Dijalankannya sistem koordinasi yang efektif menurut bentuk kegiatan dan sistem informasinya. c) Dikembangkannya sistem koordinasi interdependensi sehingga tercipta kerja antar stakeholder yang bersinergis. 7.2.3 Aktivitas Implementasi Pada tahap pelaksanaan program-program yang dirancang haruslah menunjukkan adanya : a) Optimasi pemanfaatan sumberdaya secara efisien. b) Dorongan pelaksanaan konservasi sumberdaya alam dalam DAS c) Meningkatnya peran stakeholder dan kelembagaan yang terlibat. 7.2.4. Aktivitas Pengawasan/Pengendalian Pengelolaan DAS Karena pengelolaan DAS bertujuan kearah keberlanjutan pembangunan (sustainable development) dengan asas keterpaduan, maka pengendalian dapat ditunjukkan oleh : a) Pengendalian/pengawasan melekat, secara bersama (sharing control) dan kemitraan (partnership control). b) Hasil monitoring teranalisis dan evaluasi telah digunakan untuk peninjauan kebijakan dan perencanaan program lanjutan. c) Mendorong partisipasi dan pengawasan publik dalam aktivitas monitoring dan evaluasi. Uraian di atas menunjukkan bahwa kriteria dan indikator memainkan peran penting bagi tercapainya pengelolaan DAS yang berkelanjutan. Uraian kriteria dan indikator yang lebih lengkap dan menyeluruh ditunjukkan oleh Tabel 7.2.

Tabel 7.2 menunjukkan bahwa pengelolaan DAS yang berkelanjutan mempersyaratkan dipenuhinya kriteria dan indikator untuk setiap komponen/aktivitas pengelolaan DAS yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, implementasi, dan monitoring dan evaluasi (monev). Untuk masingmasing komponen pengelolaan DAS tersebut di atas, kriteria yang digunakan dan dianggap relevan untuk menentukan tercapainya pengelolaan DAS yang berkelanjutan adalah: ekosistem, kelembagaan, teknologi, dan pendanaan.