Anda di halaman 1dari 5

Kadmium Dalam Tubuh 2.3.3.

1 Penyerapan ( Absorpsi ) Kadmium Logam berat kadmium bisa masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia melalui berbagai cara (Widowati, Sastiono & Rumampuk, (2008) yaitu : Dari udara yang tercemar, misalnya asap rokok dan asap pembakaran batu bara Melalui wadah / tempat berlapis kadmium yang digunakan untuk tempat makanan atau minuman Melalui kontaminasi perairan dan hasil pertanian yang tercemar kadmium Melaui jalur rantai makanan Melalui konsumsi daging yang diberi obat anthelmhithes yang mengandung kadmium. Absorpsi kadmium dalam saluran pencernaan meliputi 2 tahap yaitu : Penyerapan kadmium dari lumen usus melewati membran brush border ke dalam sel mukosa Transpor kadmium ke dalam aliran darah dan deposisi dalam jaringan terutama dideposit di hati dan ginjal. Seperti halnya Zn, kadmium memiliki afinitas yang tinggi pada testis sehingga konsentrasi pada jaringan testis jauh lebih tinggi dibandingkan pada jaringan lain. Absorpsi pada makhluk hidup air seperti ikan dibagi dalam tiga proses utama, yaitu dari air melalui permukaan pernapasan (misalnya insang), penyerapan dari air ke dalam permukaan tubuh dan dari makanan, partikel atau air
Dampak Cd terhadap Kesehatan Masyarakat Kadmium (Cd) dalam tubuh terakumulasi dalam hati dan terutama terikat sebagai metalotionein mengandung unsur sistein, dimana Kadmium (Cd) terikat dalam gugus sufhidril (-SH) dalam enzim seperti karboksil sisteinil, histidil, hidroksil, dan fosfatil dari protein purin. Kemungkinan besar pengaruh toksisitas kadmium (Cd) disebabkan oleh interaksi antara kadmium (Cd) dan protein tersebut, sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dalam tubuh (Darmono, 2001). Kadmium (Cd) merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena elemen ini berisiko tinggi terhadap pembuluh darah. Kadmium (Cd) berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu panjang dan dapat terakumulasi pada tubuh khususnya hati dan ginjal (Palar, 2004). Gejala akut dan kronis akibat keracunan kadmium (Cd) yaitu (Sudarmaji dkk, 2006): a. Gejala akut : 1) Sesak dada. 2) Kerongkongan kering dan dada terasa sesak (constriction of chest). 3) Nafas pendek. 4) Nafas terengah-engah, distress dan bisa berkembang kearah penyakit radang paru -paru.

5) Sakit kepala dan menggigil. 6) Mungkin dapat diikuti kematian. b. Gejala kronis: 1) Nafas pendek. 2) Kemampuan mencium bau menurun. 3) Berat badan menurun. 4) Gigi terasa ngilu dan berwarna kuning keemasan. Menurut Palar (2004), efek kronis akibat toksisitas kadmium (Cd) pada manusia dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok yaitu : a) Efek kadmium (Cd) terhadap ginjal Logam kadmium (Cd) dapat menimbulkan gangguan dan bahkan mampu menimbulkan kerusakan pada sistem yang bekerja di ginjal. Kerusakan yang terjadi pada sistem ginjal dapat dideteksi dari tingkat jumlah atau jumlah kandungan protein yang terdapat dalam urine. Petunjuk kerusakan yang dapat terjadi pada ginjal akibat logam kadmium (Cd) yaitu terjadinya asam amniouria dan glokosuria, dan ketidaknormalan kandungan asam urat kalsium dan fosfor dalam urine. b) Efek kadmium (Cd) terhadap paru Keracunan yang disebabkan oleh peristiwa terhirupnya uap dan atau debu kadmium (Cd) juga mengakibatkan kerusakan terhadap organ respirasi paru-paru. Kerusakan paru-paru tersebut dapat terjadi sebagai akibat dari keracunan kronis yang disebabkan oleh kadmium (Cd). c) Efek kadmium (Cd) terhadap tulang Efek keracunan kadmium (Cd) juga dapat mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Gejala rasa sakit pada tulang sehingga menyulitkan untuk berjalan. Terjadi pada pekerja yang bekerja pada industri yang menggunakan kadmium (Cd). Penyakit tersebut dinamakan itai-itai. d) Efek kadmium (Cd) terhadap sistem reproduksi Daya racun yang dimiliki oleh kadmium (Cd) juga mempengaruhi sistem reproduksi dan organorganya. Pada konsentrasi tertentu kadmium (Cd) dapat mematikan sel-sel sperma pada laki-laki. Hal inilah yang menjadi dasar bahwa akibat terpapar oleh uap logam kadmium (Cd) dapat mengakibatkan impotensi.

Daftar Referensi Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Mahkluk Hidup. UI press. Jakarta.

________. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. UI press. Jakarta.

Palar, H. 2004. Pencemaran dan toksikologi logam berat. Rineka Cipta. Jakarta.

Said, N. I. 2008. Teknologi Pengelolaan Air Minum "Teori dan Pengalaman Praktis". Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.

Sudarmaji, Mukono J, dan Corie I. P. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 Dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan, VOL. 2, NO. 2. http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-2-03.pdf. Diakses pada 15 April 2012.

Widowati W, Sastiono A, Jusuf R. R. 2008. Efek Toksik Logam Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Upaya penanganan pencemaran logam berat sebenarnya dapat dilakukan dengan menggunakan proses kimiawi. Seperti penambahan senyawa kimia tertentu untuk proses pemisahan ion logam berat atau dengan resin penukar ion (exchange resins), serta beberapa metode lainnya seperti penyerapan menggunakan karbon aktif, electrodialysis dan reverse osmosis.

Pencegahan tersebut dilakukan pada sumber pencemar kadmium yaitu pencegahan dan pengendalian pencemaran laut yang menyebabkan tingginya konsentrasi kadmium pada hasil laut terutama ikan. Dengan adanya pengendalian pencemaran laut diharapkan masyarakat Muara Angke akan aman dan terhindar dari gangguan kesehatan akibat pajanan kadmium pada ikan. Banyak cara untuk mengurangi pencemaran kadmium antara lain dengan memanfaatkan alga yaitu Chaetocerus sp, Euchema sp, Cladophora glomerata, Euchema isiforme, Sargassum sp sebagai bioindikator dan sebagai biosorben dalam pengolahan limbah logam kadmium karena alga memiliki gugus fungsi yang mampu mengikat ion logam kadmium. Sistim pengendapan dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi pencemaran kadmium di air. Sistim ini paling efektif dalam menurunkan kadar kadmium sampai dengan 100%. Dengan mengkonsumsi food supplement dari jenis mineral seperti Cu, Zn, Fe dan Mg yang berperan mampu menggantikan atau mengeliminasi kadmium dari tubuh. Serta mengkonsumsi Antioksidan, vitamin E, vitamin K dan klorofil yang mampu mengurangi toksisitas kadmium dalam tubuh.

1. Bagi industri yang menggunakan logam kadmium dan senyawanya seperti industri plastik, electroplating, industri pencelupan dan fotografi dalam mengolah limbah logam kadmium sebaiknya memanfaatkan alga yaitu Chaetocerus sp, Euchema sp, Cladophora glomerata, Euchema isiforme, Sargassum sp sebagai bio-indikator dan sebagai bio-sorben karena alga memiliki gugus fungsi yang mampu mengikat ion logam kadmium. Penanggulangan pencemaran kadmium dalam air dapat juga dilakukan dengan cara pengedapan yaitu melalui proses fisika dan kimia, dilakukan dengan menaikkan pH, yakni dengan menambahkan NOH hingga pH 8,5, sehingga logam berat berubah menjadi oksida-logam yang mudah mengendap. Sistim ini paling efektif dalam menurunkan kadar kadmium sampai dengan 100%. 2. Bagi Masyarakat Muara Angke yang telah terpapar logam kadmium dapat mengkonsumsi food supplement: a) Alfalfa yang mengandung klorofil dan vitamin K sebanyak 2000-3000 mg/hari. Suplemen ini dapat membantu mengurangi kadmium dalam tubuh. b) Kalsium (Ca) sebanyak 2000 mg/hari dan Magnesium (Mg) 1000 gr/hari. Mineral tersebut dapat membantu mengusir kadmium dalam tubuh. c) Vitamin E sebanyak 600-1000 IU/hari yang berfungsi sebagai antioksidan. d) Seng (Zn) sebanyak 50-60 mg/hari berfungsi menggantikan posisi kadmium. e) Kuprum (Cu) sebanyak 3 mg/hari berfungsi membantu Seng (Zn) mengurangi deposit kadmium. f) Besi (Fe) diberikan bersamaan dengan 100 mg vitamin C agar penyerapan lebih baik. Mineral ini tidak boleh dikonsumsi jika tidak didiagnosa menderita anemia. Upaya menurunkan kandungan logam berat pada makanan banyak dilakukan dengan penambahan bahan sekuestran (Chelating agents). Sekuestran adalah bahan yang dapat mengikat logam dalam makanan sehingga mutu makanan tetap terjaga dari cemaran logam berat. Beberapa kandungan alami makanan dapat berperansebagai bahan sekuestran antara lain asam-asam karboksilat (oksalat, succinic), asam-asam hidroksi (laktat, malat, tartarat, sitrat) asam-asam amino, peptida, protein dan porfirin (Rahayu, 2009). Hasil penelitian Armanda (2009), mengenai pemanfaatan buah jeruk nipis yang mengandung asam sitrat untuk menurukan kadar kadmium pada udang windu, menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar kadmium sebesar 56,09%. setelah perendaman selama 30 menit. Sedangkan setelah perendaman selama 60 menit terjadi penurunan sebesar 69,17%. Penambahan asam jawa dapat menurunkan kadar kadmium pada ikan tongkol yang berasal dari perairan belawan. Penambahan asam jawa yang mengandung asam hidroksi (malat, tartarat, sitrat) dengan konsentrasi 5%, 15%, 25%, 35% dan 45% selama 30 menit dapat menurunkan kadmium berturut-turut sebesar 0,175 ppm, 0,219 ppm, 0,298 ppm, 0,259 ppm dan 0,198 ppm (Nihe, 2010).
Bahemuka, T.E. and E.B. Mubofu. 1999. Heavy metals in edible green vegetables grown along the sites of the Sinza and Msimbazi rivers in Dar es

Salaam, Tanzania. J. of food Chemistry. Vol 66(1):63-66. July 1999. cc Sudarmadji, J. Mukono dan Corie I.P. 2006. Toksikologi logam berat B3 dan dampaknya terhadap kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 2, Januari 2006: 129-142

Darmono., 1999. Kadmium (Cd) Dalam Lingkungan Dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Dan Produktivitas Ternak. [online] http://peternakan.litbang.deptan.go.id/ fullteks/wartazoa/wazo81-5.pdf. [diakses 16 Juni 2012].

Gejala akut akibat keracunan Cd (cadmium). Gejala akut : o Sesak dada, kerongkongan kering dan dada terasa sesak (constriction of chest ), nafas pendek, nafas terengah-engah , distress dan bisa berkembang ke arah penyakit radang paru-paru. diserta sakit kepala dan menggigil kemungkinan .dapat diikuti kematian.

Gejala kronis: o Nafas pendek, kemampuan mencium bau menurun., berat badan menurun dan gigi terasa ngilu serta berwarna kuning keemasan. Selain menyerang pernafasan dan gigi, keracunan yang bersifat kronis menyerang juga saluran pencernaan, ginjal, hati dan tulang.