Anda di halaman 1dari 2

Curhatan Calon Dokter Pendidikan Dokter: dulu, sekarang, dan harapan masa depan

Hampir setahun saya berada di Makassar. Dan hampir setahun saya menempuh pendidikan di fakultas kedokteran. Sistem pendidikan di fk dibuat per sistem blok, yang membuat kita belajar satu keseluruhan dan berpindah ke sistem lain. Sistem sekarang canggih. Kita tidak perlu susah-susah baca buku banyak seperti fakultas kedokteran zaman jebot, yang perlu belajar anatomi bertahun-tahun. Yang perlu waktu lama untuk menjadi sarjana kedokteran. Yang tidak perlu mengulang keseluruhan jika kita hanya mengulang satu mata kuliah. [ngorek-ngorek perkuliahan zaman nyak dulu] Zaman sekarang, pendidikan kedokteran telah dipress sesingkat mungkin. Lima tahun! Bayangkan saya yang baru masuk jadi mahasiswa kedokteran 2009 akan lulus menjadi dokter di tahun 2014 [semoga. Amin]. Senangkah jadi dokter dengan cepat? Tentu saja senang. Akan tetapi, sudah tepat/efektifkah pendidikan kedokteran yang dipaket selama lima tahun itu? Nah, itu perlu ditinjau kembali. Flash back ke kehidupan saya. Selama ini, saya nyaris tidak lepas dari pendidikan formal. Dua tahun saya habiskan di TK, enam tahun di SD, tiga tahun di SMP, tiga tahun di SMA, satu tahun belajar di fakultas lain, dan sekarang di fakultas kedokteran. Kalau di total sampai lulus, 20 tahun saya menghabiskan waktu hidup saya untuk pendidikan formal. Saat saya kuliah disini, saya hampir capek dengan sistem blok yang seperti ini. Ketika berpindah, pelajaran yang sebelumnya lupa. Tidak ada yang nyangkut, pelajaran hanya lewat. Bagaimana mau nyangkut? Karena kita selalu diajarkan untuk menghafal, bukan memahami. Mengejar skor untuk lulus. Lebih takut untuk tidak lulus, walaupun itu sikap yang wajar. Kerjaan saya di perkuliahan : mengopi teori dan hafal mati supaya bisa lulus ujian sistem. Itulah yang terjadi pada saya sekarang. Saya kayak jadi calon dokter yang dikejar sistem. Mau enggak mau, harus nelen mentah-mentah meski enggak tahu persis apa ilmu yang dikunyah. Dan ternyata saya baru sadari, hal ini bukan hal yang baru bagi saya. Ini sudah saya alami sejak dulu, Percayakah? Dari dulu sampai sekarang sistem membawa kita untuk takut dengan tinta merah di rapot. Sistem membawa kita untuk terakui hanya lewat angka. Sistem membawa kita sehingga kita tidak dapat berkembang sesuai dengan kemampuan yang ada! Lihat, nyatanya teman saya mungkin hanya bisa diakui dengan angkanya yang bagus di rapot. Guru-guru tidak akan ngeh dengan abilitynya diluar akademik. Sistem di sekolah hanya mengakui jika

nilai matematikamu bagus, fisikamu lumayan, biologimu lulus. Oh Sorry, disini mereka tidak menerima nilai yang jelek-jelek. Lantas apa solusinya? Bagaimana merubahnya? Ubah sistem! Saya pernah baca di suatu situs, kalau dibandingkan dengan sistem pendidikan Negaranegara lain di Asia Tenggara, kita punya belasan mata pelajaran yang harus dikuasai. Dibandingkan dengan Malaysia yang sistemnya hanya 7-8 pelajaran, Laos, dan Singapura. Bayangkan siswa-siswa SMA di Indonesia sekarang harus memakan hampir 15 jenis pelajaran sebagai standar keberhasilan mereka di SMA. Belum lagi sekarang dengan sistem yang berubah-ubah, KBK, KTSP, dan sekarang mungkin ganti nama lagi, Kurikulum membuat kita sebagai peserta pendidikan bingung dan kita diminta untuk terus berevolusi sesuai dengan kurikulum yang ada, tanpa memperhitungkan apa yang menjadi efek bagi siswa/mahasiswanya. Kadang saya berpikir, wajarlah kalau sistem diperbaharui sesuai dengan zaman yang ada karena begitu cepatnya zaman globalisasi sekarang meminta SDM yang lebih berkualitas. Siswa/mahasiswa sekarang berlomba-lomba dipersiapkan oleh institusi pendidikan untuk menjadi SDM kualitas terbaik Akan tetapi, masalahnya, kata kualitas yang membuat kehidupan peserta pendidikan ini terbelenggu. Kualitas diartikan cetek sebagai nilainilai dari kemampuan akademik yang terpajang di ijazah. KAKU. Sistem hanya sekadar menghasilkan sumber daya impian mereka alias robot tanpa pengembangan potensi dari diri masing-masing SDM itu. Tak hanya itu, paradigma sistem pendidikan harusnya diubah. Pemahaman bukan penghafalan karena pemahaman akan memacu kita untuk aktif berpikir dan tidak buntu. Bikin siswa memahami suatu esensi, bukan hanya menggembleng mereka teori. Jangan jadikan mereka sosok yang begitu kaku di kehidupan yang sebenarnya. Dan pesan bagi guru-guru SMAku yang tercinta, jangan lupa selalu berpedoman bahwa setiap manusia itu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Maka belajarlah melihat mereka dari berbagai sisi. Tidak semuanya bisa dilihat dari sistem akademik yang ada. Jadi itulah sekilas keluhan saya tentang pendidikan. Anda tahu, kenapa saya menulis ini? Karena sampai sekarang, saya merasa jadi korban. Korban sistem!

diedit dari tulisan Ghea Arifah: edukasi.kompasiana.com