Anda di halaman 1dari 10

PERSOALAN PENDAHULUAN DALAM HPI

ISTILAH
Vorfrage Inziden Frage------ Jerman Questions Prealable---------- Prancis Incident Questions-----------Inggris Prelelabele Of Voorsequent Belanda

Pengertian Persoalan Pendahuluan


Suatu persoalan HPI yang diajukan kehadapan hakim suatu negara tergantung dari pemecahan terlebih dahulu daripada suatu persoalan lain. Persoalan yang harus dipecahkan terlebih dahulu, jika dalam suatu persoalan pokok yang diajukan ke hadapan hakim telah menjadi hukum mana yang dipergunakan untuk menyelesaiakan persoalan pokok. CASE---------Persoalan Pokok-----Persoalan Pendahuluan Dalam persoalan pendahuluan ini hukum asing yang dipergunakan bukan hukum yang sang hakim (Lex Fori)

Suatu persoalan/ masalah HPI dalam sebuah perkara yang harus dipecahkan dan/atau diterapkan terlebih dahulu sebelum putusan terhadap masalah HPI yang menjadi pokok perkara ditetapkan hakim. Persoalan pendahuluan timbul apabila keputusan tentang suatu persoalan hukum tergantung daripada ketentuan tentang sah atau tidak sahnya , atau dari sisi sesuatu berhubungan dengan hukum lain. Persoalan pendahuluan berhubungan dengan sah atau tidak sahnya peristiwa atau perbuatan hukum.

Contoh-Contoh Persoalan Pendahuluan


Persoalan HPI tentang warisan------ menurut hukum nasional Indonesia warisan diatur menurut hukum Indonesia seorang WNA Yunani meninggal di Indonesia dan meninggalkan harta berharga, maka persoalan warisan harus diselesaikan dengan hukum Yunani ( Hukun Negara Asal). Ia telah menikah dengan WNI yang dilakukan di Catatan Sipil, tetapi tidak di gereja, sedangkan sahnya perkawinan di Yunani wajib di gereja. Jadi perkawinan itu tidak sah menurut hukum Yunani. Persoalan Pokok (utama)----- warisan Persoalan Pendahuluan----Sah atau tidaknya perkawinan antara WNA dan WNI.

Konklusi/pemecahannya------ diselesaikan dengan hukum Yunani tentang sah atau tidaknya perkawinan digunakan Lex Causae (Hk dimana kasus ini berasal) Lex Fori dapat diterapkan dan mengeyampingkan Lex Causae----- Baik pokok maupun pendahuluan. Mengenai perceraian ----sah atau tidaknya perkawinan antara A dan B------persoalan pokok sebelum hal ini diselesaikan harus dipastikan apakah perceraian natara B dan C adalah sah atau tidak----- persoalan pendahuluan.

Hubungan Antara Persoalan Pokok dan Persoalan Pendahuluan Dalam HPI


Dalam suatu case/ kasus hukum baik itu warisan maupun perkawinan atau perceraian harus dipilah dahulu mana persoalan pokok dan mana persoalan pendahuluan Persoalan pokok merupakan persoalan utama, sedangkan persoalan pendahuluan sangat penting untuk diselesaikan terlebih dahulu terutama mengenai sah atau tidaknya warisan atau perkawinan itu

Untuk menentukan persoalan pendahuluan / incidental Questions harus dipenuhi 3 syarat yaitu : 1. Isu yang dihadapi dalam perkara harus merupakan masalah HPI (dua stelsel hukum asing) 2. Persoalan pendahuluan harus terdapat dalam perkara itu yang mengandung unsur asing 3. Kaidah HPI yang digunakan untuk menentukan Lex Causae akan berbeda hasilnya. Jika digunakan Lex Causae dari perkara itu. Lex Causae ----- hukum dari mana perkara itu berasal.

Cara-Cara Penyelesaian Persoalan Pendahuluan


ABSORPTION------paling banyak digunakan untuk persoalan pokok/main isue diselesaikan dengan kaidah Lex Fori, sedangkanpersoalan pendahuluan diselesaikan dengan Lex Causae (Hk. Perkara itu berasal). EXs. Warisan-----persoalan pokok----diselesaikan dengan Lex Fori, sedangkan sah atau tidak sahnya perkawinan---persoalan pendahuluan untuk mendapatkan warisan itu----Lex Causae. REPARTITION-----masalah pokok dan pendahuluan diselesaikan dengan Lex Fori saja. Lex Causae diabaikan (Penyelesaikan dengan Lex Fori).

Pendekatan Kasus (Case Approach)------incidental Questions harus dengan pendekatan kasuistis diperhatikan sifat dan hakekat perkara. Perkara HPI di bidang pewarisan benda-benda bergerak digunakan Absorption. Perkara HPI dibidang Onrechtmatigdaad sebaiknya digunakan Repartition begitu pula dengan Hukum Kontrak Dalam upaya penyelesaian persoalan pendahuluan rasa keadilan para pihak perlu diwujudkan serta kepastian hukum.